Another Half by Heena Park

another-half

Heena Park Present

.

ANOTHER HALF”

.

Kim Jongin-Shin Heera

 

.

Romance-Fluff-Oneshot-G

.

Author Notes : FF ini aku bikin tahun 2014 dan udah pernah aku share di blog pribadi.

.

Follow me on WATTPAD

Add me on FACEBOOK

.

 

Stay With Me

 

Lagu tersebut terdengar nyaring di dalam cafe minimalis di pusat kota Seoul. Di balik meja kasir terlihat seorang wanita sedang menghitung uang sambil mengangguk-angukkan kepalanya seirama dengan nada yang ia dengar.

 

Tring..

 

Ponsel gadis itu berbunyi, secepat kilat ia segera meraih benda kecil bewarna putih itu dan mendapati pesan dari seseorang. Gadis itu tersenyum simpul ketika membuka pesan yang ia terima.

 

 

 

Fr : Jongin

 

“Ya! Shin Heera, berhenti sibuk dengan cafe, cepat nyalakan TV sekarang, kau tidak rindu padaku?”

 

 

 

Heera mendengus kesal, pria ini selalu bertindak semaunya sendiri. Mentang-mentang dia sudah menjadi artis terkenal lalu ia bisa menyuruh Heera untuk menonton dirinya di televisi hanya karena alasan ‘rindu’ ? Tidak akan.

 

Ia menaruh ponselnya dan kembali menghitung uang yang menganggur di tangannya. Sesekali Heera mengganti lagu yang sedang diputar, ia memutar lagu sesuai dengan mood-nya, dan percayalah bahwa hari ini mood Heera sedang baik sehingga sedari tadi ia memutar lagu-lagu jatuh cinta.

 

Entah, ia bahagia karena mendapat hasil yang banyak hari ini atau karena Jongin telah kembali dari Cina dan menyelesaikan promosi album terbaru EXO.

 

Tring…

 

Ponsel Heera kembali berbunyi ketika ia hendak memasukan uang tersebut ke wadahnya, dengan malas Heera meraih ponselnya, kemudian sekali lagi melihat nama Jongin yang tertera di layar

 

 

 

Fr : Jongin

 

“Ya! Shin Heera, berhenti mengacuhkan pesanku. Cepat nyalakan TV atau aku akan berlari ke depan cafemu sekarang!”

 

 

 

Heera hanya mengerucutkan bibirnya dan melempar kecil ponselnya ke atas meja lalu menyimpan uang yang ada di tangannya. Tidak lama kemudian ia membalas pesan Jongin sebelum pria itu bertindak nekat.

 

 

 

To : Jongin

 

“Apa? Berlarilah jika kau mau.”

 

——

 

Fr : Jongin

 

“Kau menantangku? Lihat ke pintu cafemu sekarang juga!”

 

 

 

Dok..

 

Dok..

 

Heera menaruh ponselnya takjub, ia menghela napas panjang dan berjalan ke arah pintu kaca di cafe-nya. Apa ini sebuah lelucon? Jongin sudah berdiri di sana dengan jaket hitam tebal, masker, dan topi yang membuat sebagian wajahnya hampir tertutup.

 

“Buka pintu!” Jongin memerintah.

 

Heera menggeleng dan mengibas-kibaskan tangannya untuk menolak permintaan Jongin. Bukannya apa, sejujurnya Heera hanya sedang menggoda Jongin. Ia tidak benar-benar bermaksud untuk menutup pintu itu terus-menerus, ia hanya ingin melihat apa yang akan dilakukan Jongin selanjutnya jika Heera bersikeras tidak akan membukakan pintu untuk pria itu. Lagipula Jongin adalah orang yang nekat. Ia akan melakukan apapun untuk menemui Heera. Bahkan di malam musim dingin yang cukup membuat tubuh menggigil seperti inipun Jongin tetap menemuinya—Benar-benar pria keras kepala.

 

Ya! Kau ini mau aku mendobrak pintu kacamu ya, Shin Heera?”

 

Jongin menekan keras setiap kata yang keluar dari mulutnya. Ia mengambil ancang-ancang ke belakang dan bersiap untuk menendang pintu kaca tersebut. Heera yang tidak akan pernah membiarkan pintu itu rusak hanya gara-gara hal bodoh yang dilakukan Jongin-pun segera membuka pintu dan mendesah berat.

 

“Kau ini benar-benar keras kepala sekali,” ujarnya yang kemudian keluar dari cafe dan menutup pintu kaca di belakangnya “Ada apa?” tanya-nya sambil menyilangkan tangan.

 

Jongin melepas topi beserta syalnya, kemudian memakaikan kedua barang tersebut pada Heera. “Kau sendiri juga keras kepala. Beraninya kau keluar di malam sedingin ini dengan kaos seperti itu, kau mau membeku?” Ia menarik napas sebentar. “Bagaimana mungkin aku bisa menjadikan gadis bodoh ini pacarku?” lanjutnya dengan suara lebih pelan.

 

Heera mengerutkan keningnya setelah mendengar suara pelan Jongin barusan, dan tidak lama kemudian melayangkan sebuah pukulan kecil di dada pria itu.

 

Ya! Kau menyesal berpacaran denganku?”

 

Ah..” Jongin melengus, ia menarik badan Heera mendekat padanya sehingga wajah gadisnya tersebut berada tepat di depan leher Jongin dan sedetik kemudian menenggelamkan Heera dalam pelukannya. “Kau ini sensi sekali. Mana mungkin aku menyesal menjadi kekasihmu, dasar bodoh,” jawabnya sambil terus membelai rambut panjang Heera yang terurai.

 

Heera tersenyum kecil mendengar perkataan Jongin. Ia tahu Jongin sangat mencintainya, begitupun sebaliknya, dirinya sangat mencintai Jongin. Entah, apa yang telah dilakukan Jongin pada Heera sehingga ia benar-benar jatuh terlalu dalam pada hati Jongin.

 

Pria itu seperti oksigen bagi Heera, setiap tarikan napas yang masuk ke dalam paru-parunya selalu disertai dengan nama Jongin. Dia sendiri tidak tahu apa jadinya jika hubungan keduanya kandas di tengah jalan.

 

Jongin memang bukan pria romantis dan melankolis apalagi puitis. Jongin tidak bisa melakukannya—Dia adalah pria mesum dengan seribu ide di dalam otaknya yang selalu berusaha membuat Heera tersenyum dalam keadaan apapun. Ia juga adalah pria keras kepala yang selalu berlaku seenaknya dan bahkan bisa dibilang nekat.

 

Contohnya saja hari ini. Dia baru kembali dari Cina untuk menyelesaikan promosi album terbaru EXO, bukannya memilih untuk istirahat, ia malah pergi ke cafe Heera dan menemui gadis itu dengan alasan ‘rindu’ .

 

“Aku tahu itu, makanya aku berlari ke sini dan menemuimu, lagipula aku lebih rindu padamu,” ujarnya.

 

Heera melonggarkan pelukannya dan menatap Jongin, ia baru sadar bahwa daritadi napas pria di depannya ini terengah-engah.

 

“Kau..berlari?”

 

“Kaupikir jam berapa sekarang?”

 

Mendengar pertanyaan Jongin barusan, Heera langsung melihat jam tangan bewarna kuning yang melingkar di tangannya. 23.24 . Matanya membulat, ia menatap Jongin sebentar dan kembali menatap jam tangannya.

 

“Mana mungkin ada bus semalam ini? Lagipula jika aku naik taksi, maka para sasaeng itu akan mengikutiku,” jelas Jongin tanpa diminta oleh Heera. Tangannya yang semula hanya terdiam di pinggul Heera kini sudah mulai naik untuk mengusap bibir kecil bewarna merah cherry milik kekasih yang sangat ia rindukan

 

“Mau pergi denganku?”

 

“Ke mana?”

 

“Ikut saja.”

 

Jongin menarik kedua ujung bibirnya dan sedetik kemudian telah menggenggam tangan Heera, bermaksud untuk mengajaknya berlari. Ini gila, sudah semalam ini dan mereka masih berkeliaran dalam keadaan udara yang begitu dingin. Tapi apalah arti dingin jika pada akhirnya jiwa Jongin terasa hangat karena kehadiran Heera. Memandang Heera di musim dingin seperti ini sudah cukup membuat tubuh Jongin berkeringat. Semakin ia melihat, semakin ia berbicara, semakin membuat Jongin jatuh cinta. Sebuah cinta yang tulus, bahkan lebih besar dari awal hubungan mereka dimulai.

 

Jongin terus berlari bersama Heera. Mereka berbelok di pertigaan yang cukup jauh dari cafe Heera, mungkin sekitar setengah kilo dari pertigaan tersebut dan mereka berhenti tepat di depan sebuah bangunan bersejarah yang telah menyatukan keduanya.

 

“Welcome to our school!”

 

Jongin membuka lebar kedua lengannya dan berjalan mundur ke arah sekolahnya dan Heera. Dulu mereka suka pergi ke sekolah pada malam hari. Terutama di taman. Cahaya lampu bewarna-warni yang berpadu dengan indahnya sinar bintang di langit selalu membuat mereka terlena.

 

“Kau ingat janjiku tentang tempat ini?” Jongin menaikan kedua alisnya dan menatap Heera penasaran. Apakah Heera masih mengingat tentang perjanjian mereka?

 

“Janji?” Begitu mendengar pertanyaan Jongin, Heera langsung mengerutkan kening. Otaknya berpikir jauh ke masa lalu yang hanya terlintas samar dalam benaknya. Seingatnya Jongin memang memiliki janji di tempat ini, tapi ia tidak ingat apa yang Jongin katakan waktu itu.

 

“Kau benar-benar tidak mengingatnya?”

 

“Entahlah.”

 

“Bodoh.”

 

“Apa?”

 

Seketika Jongin menarik tubuh Heera dan menciumnya lembut. Ia sudah tidak tahan lagi pada sifat pelupa Heera. Lagipula, bagaimana mungkin Heera bisa melupakan perjanjian yang telah Jongin buat satu tahun lalu itu? Kenapa gadis ini benar-benar memiliki ingatan yang buruk? Apa nanti ia akan cepat tua? Menyedihkan sekali.

 

Buru-buru Heera mendorong Jongin agar menghentikkan adegan brutal yang hampir membuat Heera mati memanas karena perasaannya yang tak karuan tadi. Jongin benar-benar penuh kejutan. Setiap kelakuannya hampir tidak bisa ditebak oleh Heera, seperti ciuman tadi, benar-benar mengejutkan.

 

Happy 2nd Anniversary.” Jongin berjongkok. Ia mengeluarkan sebuah kotak bewarna merah. Heera benar-benar yakin bahwa di dalam kotak tersebut berisi cincin, dan memang pada kenyataannya begitu, sebuah cincin bewarna silver yang cantik.

 

“Kita memang tidak mungkin menikah sekarang, tapi bisakah kau menyimpan cincin ini sebagai tanda bahwa suatu hari nanti aku akan menikahimu, Shin Heera?” Jongin melanjutkan. Ia mengambil cincin itu dari wadahnya dan berdiri untuk menarik tangan Heera.

 

Sungguh, suatu kejutan yang sangat hebat karena Jongin bisa seromantis ini. Rasanya Heera ingin menangis sekarang  juga, ia sudah tidak tahan lagi dengan hal yang dilakukan oleh Jongin hari ini. Mulai dari berlari ke cafe miliknya, mengajaknya pergi ke sekolah lama, memberikan cincin dan tunggu.. Heera mengingatnya, ia benar-benar mengingatnya sekarang!

 

“Jongin kau? Aku mengingatnya.”

 

Setelah memasang cincin indah tersebut pada jari manis Heera, Jongin segera menenggelamkan Heera dalam pelukannya kembali karena akhirnya Heera mengingat apa yang ia janjikan pada saat itu.

 

“Katakan padaku, apa yang kau ingat?”

 

Heera mendongakkan kepalanya, “Kau akan melamarku tepat di depan sekolah kita, benar begitu?”

 

Jongin tertawa kecil dan mengacak-acak rambut Heera, “Jadi, kau menerimaku atau tidak?”

 

Heera terdiam sebentar, pipinya merona penuh rasa senang. Ah, haruskah ia menerima Jongin? Tentu, Heera pasti akan menerimanya, tapi tidak dengan cara yang biasa.

 

Ia melepaskan diri dari pelukan Jongin dan mulai berlari ke belakang. “Aku akan menerimamu jika aku bisa mengalahkanmu bermain basket!” teriak Heera

 

Jongin tertawa, ia berkacak pinggang sebentar sebelum akhirnya mengikuti Heera berlari. “Baiklah kuanggap kau sudah menang melawanku bermain basket. Jadi? Kau menerimaku kan?!” balasnya berteriak

 

Heera berhenti tepat di tengah lapangan basket, bibirnya mengerucut. “Apa? Kau ini, kita bahkan belum memulainya.”

 

“Tak masalah, yang penting aku sudah mengaku kalah darimu.” Tangannya kembali menarik tubuh Heera mendekat. “Jadi, bagaimana?”

 

Heera tersipu, ia menggigiti bibir bawahnya lembut. Jadi begini rasanya dilamar? Ah, memalukan sekali, kenapa Heera jadi berasa terbang, sih?

 

“Shin Heera?” Sekali lagi Jongin mengeluarkan suaranya, sudah tak sabar untuk mendengar jawaban Heera.

 

Ketika akhirnya janji menjadi kenyataan, perasaan saling menyatukan, dan jiwa saling mengikat. Mungkin inilah saat yang tepat. Heera mendongak, kedua matanya menatap intens seseorang yang tengah menunggu harapan di depannya, lalu mengangguk. “Ya, aku mau, Kim Jongin.”

 

 

FIN-

Iklan

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s