[Winter Project] For Life (Track #1) | by L.Kyo

15683148_1687046111594476_1013204439_n

Title: For Life | Author: L.Kyo | Cast: Shin Gaeun (OC/YOU), Park Chanyeol (EXO) | Artworker: ReniArt | Genre: Friendship, Fluff, Songfict | Rating: PG-15 | Lenght:  Vignette | Disclaimer: This story is mine. Don’t plagiarize or copy without my permission.

 

[ https://agathairene.wordpress.com/ ]

.

.

HAPPY READING

.

.

Kehidupan itu adalah misteri. Tapi Chanyeol akan menampisnya jika misteri itu adalah sang malaikatnya. Gadis itu berhasil membuatnya terbuang dari perasaaan jenuh kuliah dan kuliah. Itu semua karena momok skripsi yang mewajibkannya untuk mengejar deadline, membuat Chanyeol harus mengalami pusing tujuh keliling.

Tapi itu akan sirna dengan mudah saat ia datang. Mendengarkan sapaan selamat datang dari sang pujangga saja sudah membuat hati nya ter refresh mendadak dingin. Cinta pada pandangan pertama itu menjijikkan alay memang. Chanyeol awalnya menampiknya karena menurut cerita pengalaman Baekhyun yang membuatnya harus mual semangkuk.

 

Mungkin ini karma karena Chanyeol benar-benar merasakannya seperti yang Baekhyun ceritakan. Selain itu, Chanyeol akan mengucapkan seribu terimakasih bagi Sehun karena ia sudah merekomendasikan Cafe ini yang menurutnya seperti surgawi.

 

“Selamat datang, pesan apa?”

 

Oh Tuhan, Chanyeol mendengar gadis itu bertanya padanya dengan pertanyaan yang sama dalam sebulan ini.

 

“Seperti biasa”. Ucap Chanyeol gugup.

 

Americano? Sepertinya kau benar-benar menyukainya. Kau tidak ingin menikmati dessert lainnya?” Tawar sang gadis.

Jika bukan dia, mana mau Chanyeol akan memesan dessert. “Baiklah. Aku ambil americano dan dessert terbaik di sini”. Chanyeol memasang senyum termanisnya.

 

Dessert terbaik kami adalah puding dengan kreasi bunga di dalamnya. Kau ingin mencobanya?” Tanya gadis itu ramah.

 

Mungkin Chanyeol terlalu percaya diri akan keramahan gadis itu. Tapi mau dikata apalagi yang namanya jatuh cinta? Semua pernyataan manis dari gadis itu sudah membuat kedua telinga memerah.

 

“Baiklah. Aku pesan itu”. Pinta Chanyeol. Gadis itu mengangguk lalu menulis menu Chanyeol ke dalam memonya.

 

“Gaeun-ah!” Seseorang memanggil gadis itu di ruangan pojok.

 

“Iya?” Teriaknya.

 

“Jangan berlama-lama. Ada pelanggan lain yang sudah menunggu”. Ahh, pria itu sepertinya owner di sini. Chanyeol melirik sekilas gadis itu yang ia ketahui bernama Shin Gaeun.

Lucunya, gadis itu sama sekali tak mengeluh. Ia justru mengiyakan dengan nada ceria dan berlari kecil pada pelanggan lain setelah membungkukkan badannya pada Chanyeol.

Itu salah satu yang Chanyeol sukai. Tapi ada satu hal yang membuat Chanyeol penasaran seperti apa sifat Gaeun yang sebenarnya. Chanyeol sempat berpikir bahwa sifatnya dalam berkerja hanyalah sebuah kepalsuan.

 

Ada alasan kuat kenapa Chanyeol berpikir seperti itu. Kebetulan, saat Chanyeol selesai kelas sore dan melewati Cafe itu yang sudah tutup. Gaeun masih enggan untuk pulang. Masalahnya apa yang diperbuat gadis sendirian di sana pada pukul 9 malam? Chanyeol tak mengerti.

Dalam seminggu, Gaeun akan begitu beberapa kali. Chanyeol ingat, gadis itu selalu duduk di Halte depan tempat kerja paruh waktu Gaeun. Chanyeol pikir mungkin Gaeun ingin menikmati udara dingin Seoul dengan membaca buku, menunggu seseorang, atau menunggu pemberhentian bis untuk pulang.

Chanyeol sengaja memesan sebuah hamburger dan bersembunyi di pojokan sana untuk memperhatikan Gaeun di kejauhan. Tapi Chanyeol langsung tak berselera menghabiskannya. Dalam sejam lebih lamanya, gadis itu tak melakukan apapun kecuali duduk terdiam dan melamun.

 

Tak menunggu siapapun dan tak menaiki bis yang sudah melewatinya beberapa kali. Chanyeol menurunkan hamburger ke dalam mulutnya sata gadis itu memilih jalan pulang bahkan bis terakhir pun. Chanyeol tak mengerti, bahkan raut wajah Gaeun terlihat begitu pilu.

Chanyeol memainkan cangkir americano nya yang sudah kosong. Mata nya melirik Gaeun yang sibuk membersihkan meja di sebelah sana.

‘Mungkin malam ini Gaeun akan seperti itu lagi‘ Pikir Chanyeol.

***

 

 

Gaeun meremat tubuhnya dengan jaket tebalnya yang sudah usang termakan usia. Tentu saja tua karena ini adalah milik Ibunya. Ia terlalu miskin untuk membeli jaket baru walau jaket itu tidak sedikit membantunya dari cuaca dingin.

Tangan kanan Gaeun meremat sakunya, bukan karena dingin. Itu karena ada beberapa lembar uang tersisa di dalamnya. “Apa ini cukup untuk membeli obat Ibu ya?” Ucap Gaeun lirih. Pasalnya uangnya pas-pas an sekarang. Masih pertengahan bulan dan uang gajian Gaeun semakin menipis.

Ia ingin membeli makan malam dan membeli beberapa bahan makanan. Tapi ia baru ingat jika persediaan obat Ibunya sudah hampir habis. Gaeun mengigit bibir bawahnya, masih berdiri di depan pintu Cafe yang sudah gelap karena tutup. Sama seperti sebelumnya, yang ia lakukan hanya berdiam diri.

 

Setetes butiran salju mengenai hidung Gaeun membuat Gaeun menengadahkan kepalanya. Sepertinya ini salju pertama. Apakah dengan adanya salju pertama bisa mengabulkan semua permintaan? Entahlah, Gaeun harus percaya atau tidak.

 

Jika itu benar, ia akan memohon agar Ibunya segera pulih. Ibu Gaeun mengalami stroke selama setahun ini pasca jatuh menjemur pakaian di rumah majikan. Dan tulang punggung saat itu berubah. Ayah Gaeun adalah seorang penjudi dan selalu bersenang-senang akan duniawi yang Gaeun anggap adalah hal menjijikan.

 

Menjijikan karena sang Ayah bersenang-senang menikmati lekuk tubuh wanita muda yang menggodanya, bermain judi dan mengutang kesana kemari hingga Gaeun harus bekerja pontang-panting. Tanpa sadar Gaeun menutup matanya, doanya bahkan meminta Ayahnya mati saja daripada membuat Ibunya semakin menderita.

 

Ini doa yang kejam bagi seorang anak. Tapi perasaan alami bukan, jika Gaeun merasa jenuh akan semua ini? Tanpa sadar air mata Gaeun mengalir walaupun matanya masih tertutup.

 

“Apa kau sedang meminta harapan yang menyedihkan?” Gaeun terperanjat dan membuka matanya lebar.

 

Gaeun mengenal pria itu. Dan pria itu memayunginya sembari melindungi dari turun salju. “Apa kau tidak pulang? Cuaca semakin dingin”.

 

“Ahh, ha … halo. Senang bertemu denganmu!” Gaeun segera membungkukkan badan karena ia tahu jika pria itu adalah pelanggan tetapnya.

 

“Aku Park Chanyeol!” Pria yang bernama Chanyeol itu mengulurkan tangannya. Namun gadis itu masih terdiam. “Shin Gaeun!” Ucap Gaeun tanpa membalas salam Chanyeol.

Chanyeol menutup payungnya sungkan. Tentu saja, Gaeun ternyata orang yang kaku. Sepertinya gadis itu sulit beradaptasi dengan orang yang baru dikenal. “Aku tidak tahu apa yang ada di pikiranmu. Saat aku menyebut namaku, itu sama artinya dengan ayo kita berteman!”

 

Gaeun menoleh, menatap Chanyeol yang memandang di depan sana. “Teman?” Chanyeol mengangguk. “Sesungguhnya aku sering melihatmu melamun di sini dan sedang berpikir keras. Aku tidak tahu. Bukankah jika kau mengalami kesulitan, seharusnya kau harus menceritakan pada seorang teman?” Asal kalian tahu, Chanyeol mencoba dengan sebuah penawaran.

Penawaran supaya Gaeun menjadikannya sebagai sandaran. “Aku tidak punya teman”. Ucap Gaeun singkat. “Karena mereka bisa saja menjatuhkanmu lebih sakit daripada orang yang tidak dikenal”. Lanjut Gaeun tanpa ekspresi.

“Bahkan kau tidak bisa menghapus airmatamu di sana. Kau butuh orang lain untuk menghapusnya”. Chanyeol mencoba bersantai tanpa membuat Gaeun malu karena bekas tangisan Gaeun masih begitu kentara di sana. Gadis itu segera menghapusnya lalu berjalan pergi tanpa mengatakan apapun.

 

Tapi bukan Chanyeol untuk menyerah. Sekarang mana ada pria yang tega membiarkan hujan salju lebat turun mengenai tubuh Gaeun? Membiarkan gadis itu berjalan dengan bekas air mata di sana?

 

Chanyeol cukup peka dengan hal itu. Chanyeol membuka payungnya lalu berlari, memanyungi Gaeun dari belakang dan menarik tangan kanan Gaeun untuk memegangi payungnya. “Bawalah! Dan kembalikan besok padaku! Jangan lupa aku memesan americano dan dessert spesial besok! Jika kau kesal padaku, kau tidak perlu bertanya lagi karena aku sudah memesannya sekarang”.

Gadis itu terdiam, menatap Chanyeol yang berjalan menjauh. Jika tahu ini hujan lebat dan ini adalah payungnya, kenapa ia memberikan padanya? Bahkan permintaan pertemanan itu pun masih terasa ganjil. “Apa dia kuliah psikologi?” Gaeun mana tahu, karena yang ia tahu ia memang tak punya teman.

 

Biarlah, Gaeun akan mengembalikannya besok. Gadis itu berbalik dan betapa terkejutnya ia saat sisi payung lain menampakkan sebuah kertas mika persegi panjang yang jatuh begitu saja bagai sebuah magic, digantung dengan untaian tali merah.

‘Teman itu seperti seseorang yang penuh hadiah layaknya pohon natal’

 

Sebuah kalimat itu yang berhasil membuat Gaeun tersentuh. Jika seorang teman seperti pohon natal yang penuh hadiah, lalu apakah dengan berteman bisa meminta apapun dan membuatnya bahagia? Entahlah, yang jelas hidupnya selalu begini-begini saja. Apa dengan sebuah teman dapat merasakan itu?

 

Gaeun menoleh, menatap Chanyeol yang berjalan jauh di sana. Tanpa sadar Gaeun tersenyum. Tidak tahu tersenyum karena apa, yang jelas payungnya itu seperti hadiah pertama dari orang asing. Orang asing yang dengan polosnya memintanya untuk berteman dan menawarkan sebuah sandaran padanya.

 

-FIN-

 

L.Kyo kembali dengan membawa project winter dari tracklist album EXO For Life yah^^ Mencoba tak meng hiatuskan diri dan kembali melebarkan sayap /bhaks/ Mumpung tugas ngadmin sedang libur, jadi puas-puasin kirim FF sendiri di sini. kkkk~

 

Next tracklist #2 –> Twenty Four [25/12/16] special by Oh Sehun Kang Seulgi. 

One thought on “[Winter Project] For Life (Track #1) | by L.Kyo

  1. Ping-balik: [Winter Project] Twenty Four (Track #2) | by L.Kyo | EXO FanFiction Indonesia

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s