[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife – (Chapter 5)

Poster secret wife.jpg

Tittle            : SECRET WIFE

Author         : Dwi Lestari

Genre          : Romance, Friendship, Marriage Life

Length         : Chaptered

Rating         : PG 17+

Main Cast :
Park Chan Yeol (Chanyeol), Kim Jung Hae (Junghae)

Support Cast :

Kim Jung Ra (Jungra), Oh Se Hun (Mickle Oh/Sehun), Kim Jong In (Kai), Kim Jong Dae (Chen), Cho Young Rin (Youngrin), and other cast. Cast dapat bertambah atau menghilang seiring berjalannya cerita.

 

Summary:

Junghae adalah putri terakhir dari pemilik Jeguk Group. Karena dijebak oleh seseorang, terpaksa dia harus menikah secara diam-diam dengan sesorang yang baru dikenalnya.

Disclaimer         : Cerita ini murni buatan saya, jika ada kesamaan nama, tokoh, dan lainnya itu adalah unsur ketidak sengajaan.

Author’s note       : Mian jika alurnya gj. No kopas, no plagiat. Jangan lupa komennya. Gomawoyo. Sorry for Typo. Happy Reading.

 

 

 

 

Chapter 5 (Reason)

 

 

 

Pagi itu Junghae dan Chanyeol menikmati sarapan mereka. Ini bukan pertama kalinya mereka makan bersama, namun ini kali pertama mereka sarapan berdua. Ya hanya berdua, tak ada pengusik maupun pengganggu. Mereka sangat menikmati kebersamaannya. Chanyeol bahkan memuji Junghae tiap mencicipi masakan yang dibuatkan olehnya. Bahkan sesekali dia menyuapi istrinya itu.

“Ah aku lupa. Sebenarnya tadi Baekhyun menghubungimu”, kata Chanyeol disela-sela makannnya.

“Apa yang dia katakan”, tanya Junghae.

“Dia mencarimu karena semalam kau tak pulang”.

“Ck, pasti eonni yang menyuruhnya. Kenapa dia tak menghubungiku saja, kenapa justru menyuruhnya”, keluh Junghae.

“Kenapa kau tak menghubunginya saja”, Chanyeol memberi sarannya. Dia melihat istrinya begitu kecewa. Dia juga memberikan posel milik Junghae.

Junghae menerima ponselnya, dia segera menghubungi entah siapa. Cukup lama dia menunggu panggilan tersebut diangkat. “Ow, oppa. Ada apa kau menelfonku?”, kata Junghae setelah yakin sambungannya diangkat.

“Kau ada dimana? Kenapa semalam tak pulang? Kau tahukan bagaimana cerewetnya eonnimu itu. Dia terus menelfonku menanyakan keberadaanmu”, kata orang yang ditelfon Junghae yang tak lain adalah sepupunya sendiri, Baekhyun.

“Biarkan saja, dia memang seperti itu. Jika dia benar-benar mengkhawatirkanku, suruh saja di menelfonku. Lagipula aku bukan anak kecil yang harus selalu pulang tepat waktu”, kata Junghae dengan nada kesalnya.

“Katakan kau ada dimana sekarang, aku akan menjemputmu”.

“Aku sedang sarapan sekarang, di rumah Chanyeol oppa. Kau tidak usah menjemputku aku akan pulang setelah selesai”.

Mwo? Untuk apa kau ke rumah Chanyeol?”, kata Baekhyun sedikit kaget.

“Untuk apa lagi, seharusnya kau tahu”.

Arra, arra. Cepatlah pulang, sebelum dia benar-benar marah”.

Arraseo. Aku akan pulang sebentar lagi”.

Junghae mengakhiri sambungannya. Dia membuang nafas kesalnya setelah meletakkan ponselnya di meja.

Waeyo?”, tanya Chanyeol. Dia melihat raut wajah Junghae yang begitu kesal.

Aniyo. Hanya saja…’, Junghae tak melanjutkan kata-katanya. Dia diam sesaat memikirkan kemungkinan yang akan terjadi jika ia mengatakan hal tersebut. “Ah, bukan apa-apa”, lanjut Junghae. Chanyeol hanya mengangguk paham.

 

***

 

Junghae merebahkan tubuhnya di ranjang king sizenya setelah mendapat beberapa pertanyaan menyebalkan dari kakak perempuannya. Dia memejamkan matanya sebentar untuk mengurangi rasa kesalnya pada kakannya. Ya, dia memilih pulang ke rumah setelah sarapan dengan suaminya. Cukup lama dia menikmati posisinya. Dia ingat jika dia harus berangkat ke Busan hari itu juga untuk mengecek pembangunan gedung baru perusahaan ayahnya. Itupun atas perintah kakak pertamanya yang masih menikmati bulan madunya.

Deringal ponselnya membuatnya harus terusik dari istirahat sejenaknya. Dia segera mencari letak ponselnya yang ternyata di meja rias dekat ranjangnya. Dia meraih ponselnya, melihat layarnya sebentar untuk mengetahui siapa gerangan yang mengganggu istirahatnya sebelum menggeser layar hijau di ponselnya. “Yeobseyo. Ada apa nona Kang?”, kata Junghae memulai pembicarannya.

“Apakah anda jadi datang ke Busan?”.

Ne, aku sedang bersiap-siap akan berangkat”.

“Baiklah! Semoga selamat di jalan nona Kim”.

Ne, Gamshamnida”.

Junghae melempar sembarangan ponselnya di ranjangnya. Segera saja dia berganti pakaian dan bersiap-siap berangkat. Tak butuh waktu lama Junghae telah siap. Dengan memakai minidress selutut dengan blazer yang pas di tubuhnya. Rambut hitamnya di biarkan terurai. Setelah memakai heelsnya dia segera meraih tas dan ponselnya. Menganbil kunci mobilnya dan segera meninggalkan kamarnya.

“Kau mau kemana sayang?”, tanya ibunya Junghae. Junghae bertemu eommanya di ruang keluarga.

“Aku akan ke Busan eomma, untuk mengecek pembangunan gedung baru perusahaan. Eomma tahu sendirikan jika Jongdae oppa masih berbulan madu”. Junghae menghampiri ibunya.

“Kau akan membawa mobil sendiri?”, tanya ibunya kembali. Junghae menggangguk. “Kau yakin? Apa kau sudah menghafal jalannya?”, saran ibunya.

“Ah, eomma benar. Aku belum menghafal sepenuhnya Korea”, jawab Junghae.

“Memintalah Lee ahjussi untuk mengantarkanmu”.

“Emmh. Aku berangkat dulu eomma”.

“Hati-hati sayang”.

Junghae mencium pipi kanan dan kiri ibunya sebelum meninggalkan rumah. Dia bahkan melambaikan tangannya pada ibunya. Ibunya tersenyum melihat kepergian putri bungsunya.

 

***

 

“Kau belum memberitahu Park ahjumma?”, tanya Baekhyun. Dia meletakkan kembali cangkirnya ke meja.

Chanyeol menggeleng, dia bahkan membuang nafas beratnya. “Aku selalu tak menemukan waktu yang tepat untuk memberitahu eomma”, Chanyeol kembali meminum latte kesukaaannya.

“Sampai kapan kau akan merahasiakannya? Bukankah kau bilang jika ibumu menyukainya. Dia pasti mengerti, Chanyeol”, kata Baekhyun.

“Kau benar, sampai kapan aku akan merahasiakannya?”, Chanyeol diam sejenak, entah apa yang dipikirkannya. “Dan lagi eomma menyukainya sebagai seorang putri, bukan menantu”, lanjutnya.

Baekhyun justru tertawa mendengar penuturan Chanyeol.

Wae?”, tanya Chanyeol.

Baekhyun belum bisa menghentikan tawanya, dan itu membuat Chanyeol sedikit kesal. “Ekmm, ekmm”, Baekhyun berusaha menghentikan tawanya saat melihat wajah sahabatnya yang begitu kesal. “Bukankan itu sama saja”, tanya Baekhyun setelah berhasil mereda tawanya.

“Tentu saja berbeda”, jawab Chanyeol antusias.

“Berbeda? Memang bedanya apa?”, tanya Bekhyun kembali.

“Entahlah!”, jawab Chanyeol. Dia terdiam kemudian memikirkan jawaban yang masuk akal untuk ia katakan. “Tapi itu memang berbeda”, dan hanya kalimat itu yang berhasil ia utarakan. Dia kembali meminum lattenya.

Mwoya? Jawaban apa itu? Bagaimana bisa kau mengatakan berbeda jika kau sendiri tak tahu perbedaannya”, kata Baekhyun dengan nada sedikit kesal.

“Sebenarnya itu yang dikatakan eomma. Katanya berbeda antara menjadi seorang putri dan menantu”.

Baekhyun hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sambil menikmati minumannya.

“Coba kau pikir, jika kau punya seorang putri kau pasti akan rela melakukan apapun untuk membuatnya bahagia. Tapi bagaimana dengan menantu, bukankah kau hanya melakukan sesuatu untuknya jika itu membuat anakmu bahagia”, jelas Chanyeol panjang lebar.

Baekhyun terlihat sedang berfikir, menimang-nimang pendapat sahabatnya tersebut. “Kau memang benar. Aku paham sekarang”. Mereka terdiam cukup lama setelahnya. Entah apa yang mereka pikirkan.

“Aku tahu kau begitu mengkhawatirkan kesehatan Park ahjumma, tapi kau juga harus memikirkan posisi Junghae. Keluarganya akan selalu salah paham jika dia tak berada di rumah untuk waktu yang lama. Kau tahu sendirikan jika dia putri bungsu, tentu dia yang paling diperhatikan di keluarganya. Terlebih lagi dia baru kembali ke Korea. Aku bahkan tidak yakin berapa lama aku akan sanggup menyimpan rahasia ini”, tutur Baekhyun panjang lebar. Dia melirik jam tangannya sebentar. “Sepertinya aku harus pergi. Pikirkan itu semua baik-baik. Aku pergi!”, lanjutnya.

Eoh”, jawab Chanyeol singkat.

 

***

 

Junghae melangkah kaki menuju gedung yang baru setengah jadi. Atas perintah kakak tertuanya dia harus mengecek langsung pembanguna gedung baru perusahaannya. Dengan langkah hati-hati dia mendekati pegawai yang ada di sana. Ya, karena memang banyak material bangunan yang berserakan. Dia disambut oleh salah satu karyawannya.

“Nona Kim, anda sudah datang”, kata seorang gadis cantik yang dia tahu bernama Kang Seulgi.

Ne”, jawabnya singkat.

Gadis itu menjelaskan dengan seksama tentang tahap pembangunan gedung tersebut, juga untuk apa saja gedung itu didirikan. Sembari menjelaskan, dia juga mengajak berkeliling area pembangunan tersebut. Dia juga memperkenalkan beberapa staff yang bertanggung jawab untuk pembangunan gedung tersebut. Junghae hanya mengguk, saat dia telah paham dengan penjelasan gadis itu. Dia juga tersenyum ramah pada pegawai yang ia temui sepanjang perjalanannya.

“Disana ada manajer Jeon, mari kita kesana nona Kim”, kata Seulgi.

“Manajer Jeon juga kemari?”, tanya Junghae.

Ne”.

Junghae terdiam, dia membuang nafas beratnya. Dia juga tengah sibuk menata perasaannya. ‘Kenapa aku harus bertemu dengannya disaat seperti ini’, kata Junghae dalam hati. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya, dan itu membuat Seugi merasa heran.

“Anda baik-baik saja nona Kim?”, tanya Seulgi.

Junghae tersadar dari lamunannya, “Ah, ne. Aku baik-baik saja nona Kang”, jawabnya bohong. Bagaimana dia baik-baik saja jika dia masih membeci namja itu. Mereka berdua berjalan mendekati manajer Jeon yang tengah sibuk berdiskusi dengan salah satu kontraktor pembangunan gedung tersebut.

Manajer Jeon menoleh saat lawan bicaranya memberitahukan kedatangan Junghae dan Seulgi. “Anda sudah datang nona Kim”, tanyanya dengan senyum khasnya. Ya, senyum yang selalu ia lihat semasa SMAnya. Suaranya bahkan masih sama seperti terakhir mereka bertemu.

Ne”, hanya kata itu yang Junghae mampu ucapkan. Dia masih termangu menatap namja yang tengah berdiri dia hadapannya. Dengan balutan jas yang pas di tubuhnya. Dia bahkan jauh terlihat lebih dewasa dari sebelumnya.

“Nona Kang, kenapa kau membiarkan nona Kim tak memakai helm. Kau tahukan tempat ini cukup berbahaya”, kata manajer Jeon.

Ya, Junghae baru menyadari kalau hanya dirinyalah yang tak memakai helm.

Jeoseonghamnida, aku lupa. Akan aku ambilkan sebentar”, kata Seulgi. Dia segera berlalu pergi meninggalkan mereka berdua. Bahkan kontraktor yang tadi berbicara dengan manajer Jeon sudah berlalu pergi. Suasana canggung menyelimuti mereka berdua.

“Bagaimana kabarmu, nona Kim?”, tanya manajer Jeon untuk mengurangi rasa canggung mereka. Ya, ini pertama kalinya mereka bertemu secara langsung setelah memutuskan hubungannya setelah lulus dari masa SMAnya.

“Aku baik-baik saja. Kau sendiri?”, jawab Junghae. Setidaknya Junghae masih bisa mengendalikan perasaannya, meskipun sebenarnya dia begitu membenci namja itu.

“Aku juga baik”, jawab manajer Jeon. Dia terlihat biasa saja, berbeda dengan Junghae, meski tak mengungkapkannya namun sikapnya menunjukkan kalu dia masih canggung dengan namja itu.

Mereka terdiam setelahnya. Hanya mengamati pegawai yang berlalu lalang di hadapan mereka. Suara dering ponsel menyadarkan mereka. “Aku akan mengangkat telfon sebentar”, kata Junghae. Dia segera berlalu, dia bahkan berjalan cukup jauh. Dia sangat berterima kasih kepada siapapun yang menghubunginya karena sudah menyelamatkannya dari situasinya tadi.

Yeobseyo”, jawabnya memulai percakapan.

Hello miss Kim. How are you?”.

Junghae merasa tak asing dengan suara tersebut, dia melihat layar ponselnya. Tertulis Kris Wu. “Ow, Mr. Wu. I’m fine. How about you?”.

Fine too”.

What happen?”.

Where are you?”.

“Korea”.

“Korea? Really!”.

Yes”.

Sementara junghae sibuk dengan panggilan yang diterimanya, Seulgi telah kembali membawa helm untuk Junghae. Dia bertanya pada manajer Jeon dimana keberadaan Junghae. Dia hanya mengangguk paham setelah manajer Jeon menunjukkan keberadaannya. Dia membiarkan Junghae menyelesaikannya.

It’s good idea Mr. Wu. Okay. See you. Bye”, Junghae mengakhiri percakapannya. Dia menoleh ke arah manajer Jeon yang ternyata Seulgi telah ada di sampingnya. Dia berjalan mendekati mereka. Baru dipertengahan jalan, keningnya tertimpan sesuatu yang membuatnya terduduk. “Akh”, rintih Junghae. Pusing tiba-tiba menimpanya, bhkan setitik darah mengalir dari keningnya.

Manajer Jeon dan Seulgi segera berlari menghapirinya. “Anda baik-baik saja nona Kim?”, tanya Seulgi yang membantunya berdiri.

“Aku baik-baik saja”, jawab Junghae. Dia masih memegang keningnya yang sakit.

Manajer Jeon melepas tangan Junghae yang menutupi keningnya. “Baimana anda berkata baik-baik saja jika kening anda berdarah nona Kim”, kata manajer Jeon. Ada nada kekhawatiran di setiap ucapannya.

Junghae melihat tangannya yang tadi ia gunakan untuk menutupi keningnya. Dan benar saja noda darah terdapat di telapak tangannya.

“Nona Kang, cepat ambilkan kotak P3K”, perintah manajer Jeon.

“Ne”, kata Seulgi. Dia menuruti perintah atasannya tersebut.

Sementara itu Junghae sudah dituntun manajer Jeon menuju tempat yang aman. Namun baru beberapa langkah, Junghae melihat material bangunan yang akan menimpa mereka. “Manajer Jeon, awas”, dengan sigap dia menarik tubuh manajer Jeon menjauh. Bruk, mereka jatuh ke tanah dengan posisi yang tak menguntungkan untuk Junghae. Bahu kanannya membentur cukup keras hingga mengakibatkannya tak sadarkan diri.

Kang Seulgi yang memang belum terlalu jauh berjalan menoleh saat mendengar sura benda yang jatuh. Dia segera berlari menghampiri mereka yang diikuti beberapa pegawai yang melihat hal itu.

Manajer Jeon yang juga terjatuh ke tanah segera bangkit. Tak ada cidera serius yang dialaminya. Dia melihat Junghae yang masih terdiam dalam posisinya. Dia mengangkat kepala Junghae untuk emnyadarkannya. “Nona Kim, nona Kim. Anda baik-baik saja? Nona Kim, sadarlah? Nona Kim”, namu nihil. Junghae tetap tak membuka matanya.

“Manajer Jeon apa yang terjadi pada nona Kim?”, tanya Seulgi yang telah sampai di dekatnya.

“Cepat panggil ambulans. Nona Kim tak sadarkan diri”, perintah manajer Jeon.

 

***

 

“Junghae belum pulang eomma?”, tanya Jongin yang berjalan mendekati ibunya. Tangan kanannya menbawa secangkir kopi favoritnya.

Ibunya yang tengah sibuk membaca majalah kesukaannnya menoleh. “Sudah. Dia pergi ke Busan sekarang”, jawab ibunya singkat.

“Ke Busan”, tanya Jongin kembali untuk memastikan pendengarannya tak salah. Dia ikut duduk di sofa sebelah ibunya.

Ibunya hanya mengangguk, dia kembali fokus membuka lembar demi lembar majalah yang dia pegang.

“Ah, pasti untuk mengecek langsung pembangunan gedung baru”, kata Jongin kemudian pada dirinya sendiri. Dia kembali meminum kopi yang ia bawa tadi.

Di atas meja juga terdapat secangkir teh yang memang nyonya Kim persiapkan untuk dirinya. Dia berniat mengambil cangkirnya, namun pandangannya masih terfokus pada majalah yang di pegangnya. Dan itu membuanya menyenggol cangkir tersebut, hingga jatuh ke lantai. Prang, bunyi hasil gesekan cangkir dengan lantai marmer rumahnya. Cangkir itu kini talah pecah menjadi beberapa bagian, teh yang terdapat didalamnyapun mengalir membasahi lantai.

Eomma, kau baik-baik saja?”, tanya Jongin yang melihat hal itu.

Eoh”, raut wajahnya begitu terkejut. Namun sepertinya bukan karena cangkir yang terjatuh, perasaannya menjadi tak enak. Seperti sesuatu yang buruk akan menimpanya. Dia segera membersihkan kekacauan yang dia buat.

“Biar aku saja eomma”, tawar Jongin.

Namun tak diindahkan oleh ibunya. Nyonya kim tetap mengambil satu per satu pecahan cangkir tersebut. Hingga tak sengaja jari telunjuknya tergores oleh pecahan cangkir. “Akh”, rintinya.

“Sudah ku bilang, biar aku saja yang membersihkannya eomma”, protes Jongin. “Tanganmu jadi terlukakan”, kata Jongin dengan khawatir. “Ahjumma”, dia memanggil pelayannya. Dari arah lain datanglah pelayan Song.

Ne, ada apa tuan muda”, kata pelayan Song.

“Tolong bersihkan ini”, Jongin menunjuk ke arah pecahan cangkir. “Aku akan mengobati luka eomma”, lanjutnya.

Ne”, pelayan Song segera berlalu mengambil sapu.

Sementara itu, Jongin segera berlari mengambil kotak P3K setelah menyuruh ibunya duduk. Tak butuh waktu lama Jongin telah kembali dengan kotak P3K di tangannya. Syukurlah, luka di jari telunjuk nyonya Kim tak terlalu dalam. Setelah membersihkan lukanya, Jongin membalutnya dengan plester. Dia menutup kembali kotak P3Knya. “Eomma tidak sedang melamun kan?”, tanya Jongin kemudian.

“Apa maksudmu sayang?”, tanya nyonya Kim yang tak paham dengan ucapan putranya itu.

“Bagaimana bisa eomma menjatuhkan cangkir itu, jika eomma tidak melamun”, jelas Jongin.

“Entahlah! Tiba-tiba saja perasaan eomma tak enak”, tutur nyonya Kim.

Dering ponsel Jongin menghentikan obrolan mereka. Jongin segera mengangkat panggilan tersebut. “Yeobseyo”. Entah apa yang dibicarakan oleh si penelfon, karena tiba-tiba saja Jongin berteriak, “Apa? Bagaimana keadaannya?”, dia kembali terdiam mendengar pernyataan si penelfon. “Baiklah, aku akan segera kesana”, jawab Jongin sebelum menutup sambungan telfonnya.

Nyonya Kim melihat raut wajah putranya yang begitu khawatir. Dia bertanya untuk mengusir rasa penasarannya, “Ada apa sayang?”.

“Junghae eomma”, Jongin terdiam.

“Ada apa dengannya?”, tanya nyonya Kim.

“Dia hampir tertimpa material bangunan. Syukurlah dia bisa menghindar, tapi tetap saja dia tak sadarkan diri karena benturan keras yang didapatnya saat menyelamatkan diri”, jelas Jongin.

“Apa?”, raut wajah nyonya Kim menjadi cemas.

“Aku akan segera kesana untuk melihatnya”, Jongin berniat pergi namun lengannya ditahan oleh ibunya.

Eomma ikut”, kata ibunya.

Eomma di rumah saja”, Jongin berusaha melepaskan genggaman ibunya, namun ibunya justru memperkuat genggamannya. “Iya baiklah, eomma boleh ikut”, seketika itupula genggaman ibunya terlepas. Mereka segera bersiap berangkat.

 

***

 

“Bagaimana keadaannya nona Kim dokter?”, tanya manajer Jeon setelah melihat dokter selesai memeriksa Junghae.

“Benturan di lengan kanannya cukup keras hingga mengakibatkan klavikula pada tulang selangkangnya sedikit retak. Syukurlah retaknya tak terlalu parah. Kami sudah memasang perpan di lengannya. Dia tak boleh menggerakkan lengannya terlalu keras untuk beberapa hari. Pastikan dia tetap memakai perbannya, dan jangan lupa untuk meminum obatnya”, jelas dokter tersebut.

“Bagaimana dengan luka di keningnya dokter?”, tanya manajer Jeon lagi.

“Ah, lukanya tak terlalu parah. Jadi jangan khawatir. Dia akan sadar sebentar lagi. Saya permisi dulu?”, pamit dokter tersebut.

Ne. Gamsamnida dokter”, manajer Jeon membungkuk hormat pada dokter tersebut. Dia segera melihat kondisi Junghae. Dia melihat Junghae yang terbaring lemas di ranjang rumah sakit dengan infus yang menancap di tangan kanannya. Manajer Jeon memilih duduk di kursi sebelah Junghae. Dia menatap lekat wajah Junghae. Wajah yang sebenarnya sangat ia rindukan beberapa tahun ini. “Kenapa harus kau yang menolongku? Kenapa harus kau yang terbaring disini?”, dia berkata pada Junghae meski Junghae tak dapat mendengarnya.

Cukup lama manajer Jeon terdiam dengan tangannya menggenggam tangan Junghae. Dia merasakan jika tangan yang tengah ia genggam bergerak, bahkan perlahan mata Junghae terbuka. “Kau sudah sadar?”, tanyanya pada Junghae.

“Kookie?”, Junghae berkata cukup lirih namun masih dapat didengar olehnya.

Ne, ini aku. Kookie”, jawabnya.

“Aku ada dimana?”, tanya Junghae kembali.

“Kau ada di rumah sakit”.

“Rumah sakit?”, tanya Junghae kembali memastikan jika ia tak salah dengar. Manajer Jeon mengangguk. Junghae baru teringat dengan kejadian yang menimpanya beberapa waktu lalu. Dia masih merasa sedikit pusing. Dia ingin memegang kepalanya, namun saat menggerakan lengan kanannya dia merasa kesakitan “Akh”, rintihnya.

“Jangan gerakan dulu lenganmu. Setidaknya itu yang dokter katakan. Kau butuh sesuatu?”, kata manajer Jeon.

Aniyo. Aku hanya ingin duduk”, jawab Junghae. Manajer Jeon segera membantunya. Dengan hati-hati manajer Jeon membantu Junghae untuk duduk. “Bagaimana denganmu Kookie, apa kau baik-baik saja?”, tanya Junghae. Kookie, nama itu adalah panggilan sayang yang ia berikan pada namja itu.

“Emh, aku baik-baik saja karena kau telah menolongku”, jawab manajer Jeon.

Junghae hanya terdiam setelahnya dia hanya memandang lekat manajer Jeon.

Waeyo?”, tanya manajer Jeon yang sadar jika Junghae menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Aku selalu ingin tahu kenapa kau meninggalkanku begitu saja setelah pesta perpisahan sekolah dulu?”, jawab Junghae.

Manajer Jeon hanya menghela nafas beratnya. “Haruskah aku mengatakannya?”, dia justru balik bertanya.

“Tentu saja. Kau tahu seberapa bencinya aku terhadapmu, setelahnya? Mungkin jika kau memberitahukan alasan yang masuk akal, rasa benciku akan hilang”.

Manajer Jeon terdiam. Dalam otaknya masih bergelut antara memberitahukannya atau tidak. Ya, mungkin inilah saatnya dia memberitahukan hal yang sebenarnya, mengapa dia pergi begitu saja dulu. “Karena dunia kita berbeda, Alice”, jawab manajer Jeon.

Alice, ya itu adalah panggilan sayang dari namja yang ada dihadapannya. Dia sangat menyukai panggilan itu jika yang mengatakan adalah namja itu. Namun dia membenci nama itu setelah namja itu meninggalkannya. Itulah sebabnya dia selalu marah tiap kali Sehun memanggilnya dengan nama itu.

“Aku tidak mengerti dengan perkatanmu?”, ya Junghae memang tidak paham dengan maksud dari perkataan manajer Jeon.

“Kau adalah putri seorang konglomerat sedang aku, aku hanya putra dari seorang pemilik rumah makan yang bahkan pelanggannya dapat dihitung dengan jari”.

Junghae menghela nafas beratnya. “Apa hanya karena itu?”.

“Eoh”.

“Kau tahu, aku tak pernah mempermasalahkan hal itu. Aku, aku bahkan tak peduli dengan semua itu. Yang aku perdulikan hanya aku sedang jatuh cinta pada pria baik yang selalu ada untukku”, jelas Junghae.

“Mungkin kau memang tak mempermasalahkannya, tapi bagaimana dengan keluargamu Alice? Apa mereka akan sependapat denganmu?”, tanya manajer Jeon kembali.

Junghae terdiam. Memang ada benarnya apa yang dikatakan namja itu, tapi tetap saja ibu bukan alasan yang masuk akal menurutnya.

“Dengarkan aku”, namja itu berkata dengan nada yang cukup serius. Junghae kemudian menatapnya dengan lekat. “ Maaf karena aku meninggalkanmu begitu saja dulu. Sekarang ku harap kau dapat melepaskanku. Lupakan semua hal yang pernah terjadi diantara kita. Mulailah hidupmu yang baru, tanpa aku di dalamnya. Jika kita bertemu lagi nanti, anggaplah aku sebagai orang lain, atau sebagai karyawan di perusahaanmu. Eoh. Dan jangan panggil aku dengan nama itu lagi. Aku Jeon Jungkook, dan aku hanyalah kepala bagian Perencanaan dan Pengembangan Proyek di perusahaanmu tidak lebih”.

Junghae hanya terdiam. Dia tak dapat berkata apa-apa. Dia hanya bisa menahan air matanya agar tak jatuh, namun tampaknya ia gagal. Karena setetes cairan bening kini telah mengalir di pipinya.

Uljima?”, manajer Jeon menghapus air mata tersebut.

“Bolehkan aku bertanya sesuatu?”, kata Junghae kemudian setelah meredam tangisannya.

“Emh, Mwonde?”.

“Apa kau masih mencintaiku?”.

Manajer Jeon hanya terdiam. Bohong jika dia mengatakan kalau dia tak mencintai gadis yang kini ada di hadapannya. Tapi apa mau dikata, dia berfikir jika dia tak memiliki hak mengatakan hal tersebut. Dia menghela nafas sejenak sebelum mengatakannya.

Brak, pintu ruangan tersebut tiba-tiba terbuka. “Junghae-ya”, kate seseorang yang masuk ke ruang tersebut. Ibunya telah datang bersama kakaknya. Dan itu membuat manajer Jeon harus menghentikan niatnya mengatakan hal yang sebenarnya ia rasakan.

Eomma”, kata Junghae.

Manajer Jeon berdiri dan membungkuk memberi salam hormat pada mereka. Nyonya Kim segera mendekati Junghae yang diikuti olek kakaknya, Jongin.

“Kau baik-baik saja sayang”, tanya ibunya yang terlihat begitu khawatir.

“Emh, ini semua berkat manajer Jeon”.

Terlihat raut bingung di wajah manajer Jeon. Dia bahkan menatap dengan tatapan penuh tanya pada Junghae. Junghae hanya tersenyum menanggapinya.

“Dia yang sudah menyelamatkanku eomma”, lanjut Junghae kemudian.

Jeongmalyo?”, tanya ibunya memastikan. Junghae hanya mengangguk. “Terima kasih banyak manajer Jeon”, lanjut ibunya.

“Ah, animnida. Sebenarnya…”, belum sempat dia melanjutkan Junghae sudah mengalih kan perhatian ibunya. “Jika tidak ada dia, entah apa yang akan terjadi padaku eomma”, kata Junghae.

“Apa yang dokter katakan manajer Jeon?”, tanya Jongin.

“Karena lengan kanan nona Kim terbentur cukup keras, klavikula di tulang selangkangnya sedikit retak. Dia tidak boleh menggerakkan lengannya cukup keras, dia harus selalu memakai perpan yang tadi dipasang oleh dokter, dan juga harus teratur minum obatnya”, jelas manajer Jeon.

Jongin mengangguk paham. Dia kembali berterima kasih pada manajer Jeon.

 

 

 

— TBC —

 

 

Hai, jumpa lagi dengan saya. Bagaimana menurut kalian? Semoga tetep suka dengan ff ini. Terima kasih untuk semuanya.

24 thoughts on “[EXOFFI FREELANCE] Secret Wife – (Chapter 5)

  1. Eh muncul masa lalu junghae tuh. Chanyeol mana gerakannya nih ? Kapan mau ngomong ke park ahjuma sama mertuanya *eh* itu junghae hamil enggak yah. Hahaha.
    Next thor. Keep fighting!!

  2. Suka banget sama Cerita nya dr chap awal hingga skrng. Alurnya sangat apa adanya tanpa diburu-buru. Bagus banget thor! Hwaiting! Gamsahamnida

  3. eohhh jadi gitu critanya..ya ampun pelik banget kisah cinta mereka berdua ini..huuuuuu mewek kan jadinya…kookie kookie
    kalo chanyeol gk segera bilang ke eommanya,,,bakal ada bencana besar..

  4. suka ma ceritanya. mian author bacanya rapelan.. jadi d part ini baru koment.. alurnya ngalir. nggak kebayang hidup jadi junghae santae banget..
    masa lalu balik.. oh no.. eotteokhe ma suami.. kadang disinilah kita perlu dispacth biar ke ungkap hubungan junghae ma chanyeol.. manajer jeon jeball jang goda junghae lagi.. 😆😆😆😆😅😅😅

  5. Masa lalu yg muncul kembali. Masihkah ada cinta d hati junghae untuk sang mantan?? Akankah ada orang ketiga dalan pernikahan rahasia chanyeol & junghae??? 😂😂😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s