[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 12)

draftnew.jpg

Tittle: DRAFT
Author: nakashinine
Length: Chapter | Genre: School life, Friendship, Romance | Rating: T
Cast: Oh Sehun – Bae Irene – Kim Kai – Kang Seulgi
With SM Artists.
Disclaimer: Cerita ini murni terlahir dari otak nakashinine yang rada geser.
#Beberapa plot terinspirasi dari potongan-potongan drama korea.

A/N: Mohon maklum yah chapter sebelumnya filenya terjadi sesuatu dan tanda petiknya jadi pada ngilang entah kemana wkwkwk. Kalau masih penasaran pengen baca ulang (kali aja), atau chapter ini juga terjadi sesuatu (semoga engga), silahkan mampir aja di [nakashinaka.wordpress.com]. Wpku selalu terbuka lebar untuk para reader di dunia ini(?) Wkwk. Enjoy^

List: [Prolog | Chapter 1 – Chapter 11]

-12-

Kaki Kai melangkah santai menelurusuri koridor sekolah saat jam istirahat. Semua orang masih sering memperhatikannya, namun dia selalu berusaha tak menghiraukan. Yang ada di pikirannya saat ini adalah Sehun. Entah kenapa, langkahnya semakin lama semakin mendekat dengan kelas Sehun. Kemudian ujung matanya akan melirik ke dalam kelas itu, menatap seisi ruangan dengan kilat secepat kakinya melintas. Tidak ada, Sehun tak disana. Tapi tunggu dulu, Kai tiba-tiba berhenti, setelah ia yakin merasa ada sesuatu yang janggal, dia mundur dan menengokkan kepalanya di depan pintu. Lalu memperhatikan bangku Sehun. Kosong. Ia tak melihat jejak buku, atau bahkan ransel yang biasa bertengger di samping meja itu.

“Cari siapa?” Tanya seseorang dengan intonasi ketus. Kai pun menoleh ke sumber suara dan menemukan Baekhyun yang baru melangkah masuk ke dalam kelas dengan malas.

“Sehun? Dia –“

“Kalian masih musuhan? Temanmu itu sakit, katanya. Dia tidak masuk hari ini.”

Kai diam mematung. Sehun? Sakit?

“Kau masih peduli padanya?” Tiba-tiba pertanyaan menyebalkan itu terdengar di telinga Kai. Dia tak tertarik membalas, selain menatap Baekhyun yang kini sedang tersenyum kecut.

xxxxx

Jadi itulah alasan kenapa tadi siang Kai penasaran sekali dan merasa harus mengecek sesuatu. Firasatnya tak bisa berbohong kalau sesuatu tengah terjadi pada sahabatnya itu. Sakit bukanlah hal yang biasa terjadi pada Sehun, namun ia yakin Sehun akan baik-baik saja.

Pukul 5 sore, Kai masih di sana. Di dalam ruangan klub dance bersama musik yang berdentum. Biasanya apartemen Sehun selalu menjadi tujuan paling menyenangkan untuk pelarian. Tapi tidak untuk saat ini. Kai memilih datang ke tempat itu dan menggerakan seluruh tubuhnya mengikuti hentakan musik. Menari sesuka hati, atau mengulang kembali setiap gerakan yang pernah digunakan untuk kompetisi. Tubuhnya ada di tempat itu namun pikirannya melayang ke tempat lain.

Kai tidak pernah mengerti apa-apa tentang perasaan buruk yang selama ini bersarang dalam dirinya. Rasa iri begitu menggelapkannya dan membuatnya mengkesampingkan banyak hal seperti tentang Sehun, Irene, bahkan kompetisi dance. Dia bingung dengan dirinya sendiri. Di sisi lain, Kai merasa sudah sangat egois karna telah membiarkan persahabatan mereka hampir bobrok tak bersisa. Ia ingin memperbaikinya, hanya saja tidak tau caranya. Hanya sekedar menghampiri Sehun dan berkata maaf tidaklah cukup. Bukan, bukan hanya tidak cukup. Bahkan dia sendiripun tak punya banyak keberanian untuk itu. Setiap ia ingin kembali pada Sehun, bagian sisi lain dari dirinya menolak, ia akan mengingat Seulgi secara otomatis. Membuatnya ingin cepat-cepat memusnahkan perasaannya meski sulitnya minta ampun.

Setiap kali Irene berhasil menghampirinya, gadis itu selalu membahas hal yang sama dan mengomelinya yang terlalu berlebihan. Kadang-kadang, jika Kai sedang tidak mood. Ia akan kesal kenapa Irene malah menyalahkannya? Dia pikir, Sehun terlalu mandiri dan hebat untuk dibela orang lain. Tidak ayahnya, tidak Irene, yang mereka bahas hanyalah Sehun dan Sehun.

Dengan setengah sadar, sesuatu dalam dirinya telah mengotori sistem akal Kai, Sehun adalah manusia paling sempurna yang bisa melakukan semua hal sendirian. Pikiran absurd seperti itulah yang akhir-akhir ini sering mengganggunya. Benar-benar labil.

“Argh!”

Tiba-tiba sesuatu terjadi pada kaki kanan Kai. Ia terkilir hebat hingga terjatuh. Bibirnya meringis kesakitan sambil memegangi kakinya yang ngilu. Lelaki itu berdiri dengan susah payah dan mencoba berjalan, tangannya menopang pada cermin di hadapannya, berusaha menahan rasa sakit di kakinya.

“Gawat! Berjalan saja sulit begini.” Rintihnya.

Sunbae!” Mengejutkan, tiba-tiba Seulgi sudah berada di hadapannya dengan tatapan cemas.

“Apa yang terjadi?” Tanyanya sambil berjongkok, meraba pergelangan kaki Kai.

“Arrh..”

“Kau terkilir hebat. Aku harus membawamu ke rumah sakit.” Ia segera berdiri kembali, mengeluarkan ponselnya dan hendak menekan nomor taksi. Namun tangan Kai yang satunya mencegahnya dengan menggenggam pergelangan Seulgi.

“Tidak usah… Aku tidak apa-apa.“

Seulgi hening tak bersuara. Ketika menyadari jarak yang kini amat dekat antara dia dengan seniornya. Sementara Seulgi memunggungi cermin, tangan lelaki itu masih erat mengenggam pergelangan kurusnya. Sebelum ia semakin tenggelam dalam manik mata hitam milik Kai, dia memalingkan pandangan. Seraya melihat ke daerah pintu ruangan itu, takut-takut orang yang sama tengah siap beraksi kembali memotretnya dan semakin menghancurkan nama mereka.

“Seulgi,” Tiba-tiba Kai bersuara. Memanggilnya dengan sedikit berbisik. Dalam jarak sedekat dan sesenyap itu, suara seberbisik apapun akan tetap sampai ke telinga Seulgi.

Gadis itu tak kuasa untuk tidak menoleh dan kembali mendapatkan mata Kai tengah menelusuri wajahnya.

Neo,” Bisik Kai menggantungkan kalimatnya. Setelah puas menelusuri wajah yang ada di hadapannya, tatapan Kai kini berakhir di mata hitam itu. Menggalinya sebelum ia benar-benar melontarkan pertanyaan. “Menyukainya?”

“Eh?” Sistem otak Seulgi bekerja lebih lambat dari biasanya. Ia sulit mencerna 2 kata terputus yang keluar dari mulut Kai beberapa detik lalu.

“Kau. Aku harus tau apa kau menyukai Sehun?”

Akhirnya pertanyaan itu meluncur juga dari mulut Kai. Kalimat yang Seulgi tunggu-tunggu. Kalimat yang seharusnya Kai tanyakan sejak beberapa hari yang lalu. Gadis itu mengangkat sebelah ujung bibirnya, tersenyum singkat.

“Tidak.” Jawabnya yakin seraya menggeleng pelan.

Beberapa detik setelahnya Kai malah diam. Membalas tatapan meyakinkan Seulgi yang kini sama-sama diam. “Jinjja?

“Hm. Aku tidak sedang menyukainya. Menyukaimu. Atau siapapun itu.” Balasnya pelan.

Lawan bicara Seulgi kembali diam. Tanpa melepaskan cengkramannya, Kai menurunkan tangan Seulgi. Kemudian sesuatu mendorongnya untuk semakin mendekati wajah cantik gadis itu. Terus merapat tak menyisakan jarak. Membuat Seulgi terkesiap was-was. Gadis itu menelan ludah, “S-sunbae?” Gumamnya tak karuan. Tubuh mungilnya yang terhimpat diantara dinding cermin dan tubuh Kai, membuatnya tak bisa berbuat apa-apa, terlebih lagi tangannya masih dalam genggaman lelaki itu. Lantas dengan cepat, tangan Seulgi yang satunya naik. Menahan tubuh Kai dengan menyentuh dada lelaki itu.

Kai menghentikan gerak lambat tubuhnya, ketika telapak tangan Seulgi tepat menyentuh dadanya. Sedikit-sedikit kesadaran yang baru saja hilang, datang kembali ke dalam dirinya. Saat ini telinganya bisa mendengar samar-samar nafas Seulgi yang tercekat-cekat.

Mian.” Kai pun sedikit membungkukkan badannya, menjatuhkan dagunya di pundak Seulgi. Memandangi wajahnya sendiri yang kusut dalam cermin di hadapan mata, sambil menikmati harum rambut Seulgi yang samar-samar tercium hidung. Meski kini tangannya mulai pegal menopang tubuhnya yang tak bisa seimbang.

“Kau –” Seulgi menelan ludah, mencoba mengembalikan nafasnya yang gugup agar kembali seperti semula, “Kau yakin tidak apa-apa, sunbae? Kakimu –“

“Maafkan aku.” Kai memotong kalimat Seulgi, mengalihkan pembicaraan, “Aku sangat kekanakkan. Iya, kan?”

“Hm. Kau bahkan tidak mau mendengar penjelasan siapapun.”

“Kecuali kau.”

“Sangat kekanakkan. Kau membuatku terlihat seperti perusak persahabatan orang.” Seulgi menghela nafas berat, mulai tidak nyaman dengan posisinya.

“Hn. Lihat, itu adalah salah satu dari puluhan alasan kenapa kau tidak bisa menyukaiku.”

“Jangan terlalu banyak berharap padaku. Membalikkan hati bukanlah hal yang mudah, ingat? Kau yang mengatakannya sendiri padaku. Dan bagiku, jatuh cinta tak bisa semudah yang kau rasakan.”

“Setidaknya, terima aku dalam hidupmu, Seulgi.”

“Selalu ada sekat setiap aku mencoba menerimamu dalam hidupku, sunbae. Kau yang tidak pernah bisa menganggapku teman, mungkin itu salah satu yang menjadi sekatnya.”

“Pertemanan antara laki-laki dan perempuan hanyalah mitos.”

“Lalu apa namanya hubungan kau dengan Irene sunbae jika bukan teman?”

“Kau cemburu?”

Seulgi mulai gemas. Selain posisinya yang tak bisa berubah, Kai mulai mempermainkan percakapan. Telinganya tiba-tiba mendengar helaan nafas panjang di sampingnya. Kemudian lelaki itu pun akhirnya menegakkan punggung, mengangkat kepalanya dari pundak Seulgi.

Gomawo.” Ucapnya lalu tersenyum getir. Seulgi tak menjawab, tidak yakin ntuk apa Kai berterima kasih?

“Karna secara kebetulan, kau datang. Dan akhirnya aku bisa berbicara denganmu. Aku rasa, aku harus segera membersihkan otakku yang berantakan ini.” Lanjutnya. Kemudian tertawa pelan, lebih terdengar terpaksa.

Setelah mendengar itu, Seulgi menghela nafas. “Ne.

“Kau pulang duluan saja. Aku akan menelepon supirku.” Lelaki itu melepaskan cengkraman dari tangan Seulgi sambil mengalihkan pandangan. Masih dengan tangan kanan menopang pada cermin, tangan kirinya mengambil ponsel dari saku dan menekan nomor supirnya. Mengalihkan tingkah karna ia mulai merasa tak karuan dan masih sedikit kalut. Tindakannya beberapa menit yang lalu pastilah paling teramat tidak nyaman bagi Seulgi.

Gadis itu mengusap leher belakangnya, berusaha melepas sisa gugup yang ada pada dirinya. Dan tanpa mengatakan sepatah kata tambahan pun, ia segera pergi dari sana. Mengikuti permintaan Kai untuk pulang lebih dulu. Untuk apa berlama-lama lagi, pikirnya. Situasi itu sudah cukup membutnya sedikit merinding.

xxxxx

Ini hari kedua Sehun tidak masuk sekolah dengan alasan sakit. Rasanya, dia mulai merasa tergiur dengan itu. Menghabiskan waktu di apartemen di hari-hari biasa selalu memiliki sensasi yang berbeda dibanding sabtu, minggu, ataupun liburan semester. Itu artinya, ini sudah hari ketiga dimana Irene memasak untuk Sehun. Membuat sarapan, membelikan makan siang, juga memasak lagi untuk makan malam. Saat ini dia tengah duduk di hadapan jendela besarnya, pelan-pelan tersenyum. Sembari mengenggam secangkir coklat panas di tangannya. Mengingat kembali ekspresi penasaran Irene yang lucu setiap ia membuat sesuatu meski hanya bermodalkan nekat dan resep dari internet. “Aku mulai merasa kalau ini cukup menyenangkan.” Begitu katanya. Naluri kewanitaan Irene nampaknya mulai muncul. Dan entahlah, Sehun suka itu.

Ajaibnya, hanya sekedar ingatan sederhana seperti itu, mampu membuat Sehun tersenyum diam-diam. Tanpa diketahui siapapun. Sehun mulai mengerti, dia mulai bisa tersenyum untuk dirinya sendiri. Disaat-saat tak satupun sedang bersamanya, atau sedang tak memperhatikannya. Rasanya, ia mulai menemukan caranya. Lelaki itu kembali menyeruput coklat panas di tangan, kemudian menghela nafas. Tidak masalah baginya, meski hanya bisa tersenyum di balik layar.

Entah sejak hari apa lebih tepatnya. Yang ia ingat, ketika 2 hari yang lalu sewaktu Irene datang dan merawatnya. Ia merasa lebih dari sekedar nyaman berada di dekat Irene. Pun, entah sejak hari apa tepatnya. Setiap inci dari diri Irene adalah hal yang menyenangkan untuk dipandang. Mulai dari rambut ikal coklatnya yang selalu setia terikat kusut, dan menyisakan helaian tebal poni panjang di kedua samping wajahnya. Atau melihatnya terkantuk-kantuk nyaris tertidur saat mengerjakan PR sekolah. Melihat Irene memakai apron, melipat baju lengannya dan mulai serius memasak sesuatu. Dan memperhatikan bagaimana gadis itu akan tertawa terbahak-bahak pada acara komedi TV yang menurutnya selama ini tidak ada lucu-lucunya sama sekali. Banyak sekali. Banyak hal pada diri Irene yang senang sekali ia pandangi. Dan sesuatu yang paling menjadi favoritnya adalah memandangi Irene dari belakang saat gadis itu duduk di kursi tempat duduknya sekarang, melakukan hal persis seperti yang ia lakukan detik ini. Dengan tenang, memandangi langit Seoul bersama segelas coklat atau kopi. Irene semakin terlihat manis dimatanya, entah apapun itu yang dilakukannya. Berisik, atau diam sekalipun.

“Cih.” Sehun terkekeh pelan, ia rasa harga dirinya sudah amat jatuh saat ini. Sejak kapan dia membuat list tingkah apa saja yang Sehun sukai dari Irene? Itu memalukan dan menggelikan jika disadari dengan cepat. Sehun menggelengkan kepala, “Apa yang kupikirkan, aish.” Gumamnya gemas, seraya meneguk isi cangkirnya.

Suara alarm pintu apartemen berbunyi, diikuti suara pintu terbuka kemudian tertutup. Membuat kening Sehun mengkerut. Ia melirik jam di dinding, jam pulang sekolah masih 5 menit lagi. Lantas ia menoleh ke belakang dan menemukan Kai sudah berdiri di dekat sofa. Kakinya dibalut perban coklat dan sebuah tongkat bertengger di bawah lengannya. Melihat pemandangan itu, Sehun terkejut. Ia lalu memandangi Kai yang kini memasang ekspresi kaku.

“Se-Sehun-ah.” Sebutnya ragu. Hatinya kini berkecamuk tak karuan, antara malu dan perasaan bersalah semua jadi satu. “Kau sudah membaik?” Tanyanya basa-basi.

O-oh.” Jawab Sehun, masih merasa terkejut. “Apa yang terjadi?” Tanyanya, penasaran.

Masih dalam posisi yang sama, Kai melirik kebawah kemudian menyunggingkan bibirnya kaku. “Ini.. Aku terkilir kemarin.”

Hening beberapa saat. Sementara Sehun masih memandanginya dengan penasaran. Kai malah sibuk memandangi kakinya sendiri lalu memperhatikan seisi apartemen Sehun. Benaknya susah payah mencari kalimat pertama untuk memulai percakapan inti. Ah tidak, dia sudah menyiapkan itu. Tapi entah kenapa rasanya sulit sekali, tenggorokannya tiba-tiba kering dan sesuatu seperti menahan pita suaranya.

Kai kemudian memilih mendekati sofa dan duduk disana. Ia menghela nafas, “Maafkan aku.” Kalimat pendek itu akhirnya dapat keluar juga dari mulutnya. Sebelum Sehun merespon, ia kembali melanjutkan, “Aku terlalu egois dan kekanakkan. Satu minggu adalah waktu yang berlebihan untuk pertengakaran seperti ini, benar?”

“Pertengakaran, katamu? Ini kesalah pahaman yang buntu penjelasan, lebih tepatnya.” Balas Sehun santai.

“Ah.. Memalukan sekali. Kau tau? Butuh keberanian yang banyak untukku bisa sampai kesini.”

“Ingat pertengakaran terakhir kita? Itu sudah lama sekali.” Balas Sehun memalingkan pembicaraan, mencoba membuka memori lama. “Itu saat kita masih kelas 1 SMP, saat kedua orang tuaku masih ada.”

“Hm. Sudah lama sekali.” Kai tersenyum kecil, mulai mengingatnya lamat-lamat.

“Sepertinya itu juga bisa dibilang kesalah pahaman, iya kan? Kau pikir aku merusak sepedamu sampai stangnya bengkok. Padahal bukan aku. Tapi kau keras kepala sekali sampai 3 hari tidak mau bicara denganku. Sampai kemudian supirmu bilang kalau itu bukan aku yang melakukannya.”

Kai tertawa pelan, “Astaga, sudahlah. Itu memalukan. Jangan diingat lagi.”

“Jadi? Kau sudah berbicara dengan Seulgi, benar?”

Kai mengangguk pelan, “Ya. Dan aku lagi-lagi membuatnya tidak nyaman.”

Ya! Kau sudah membuat kita semua tidak nyaman, kau tau?”

Ne.. Ne.. Aku minta maaf.” Kai menoleh ke arah Sehun, melempar senyum. Sahabatnya itu lantas menghembuskan nafas lega.

“Sehun-aaah aku pulang.” Tiba-tiba pintu apartemen kembali bersuara diikuti dengan seruan Irene.

“Oh?” Gadis itu berhenti dengan terkejut saat mendapati Kai tengah duduk di sofa. Ketiganya saling bertatapan tak jelas. Kemudian Irene berlari kecil ke arah Sehun. Tangan kurusnya segera meraih kening Sehun. Lelaki itu terkesiap, tak mengerti apa yang sedang di lakukan Irene.

“Panasmu turun, akhirnya.” Ucapnya lembut lalu tersenyum sembari menepuk dua kali kepala Sehun dengan pelan. Sehun tak membalas apapun selain menatap gadis di depannya dengan datar, meski degupan cepat melintas beberapa detik dalam dadanya.

Pemandangan itu membuat Kai curiga. Dia mengerutkan keningnya dan tak berpaling dari kedua temannya itu dengan tatapan menebak-nebak. Dia bersumpah, itu adalah pemandangan paling berpotensi untuk di sebut pacaran, “Ya!” Serunya gemas.

Keduanya menoleh. Membalas Kai dengan tatapan tak berdosa. Kemudian, Irene merunduk dan mendekatkan kepalanya pada Sehun, “Apa dia sudah minta maaf?” Bisiknya. Namun itu cukup terdengar sampai telinga Kai.

Sehun mengangguk, “Hm.”

“Apa dia sudah berjanji tidak akan seperti itu lagi?”

Sehun memiringkan kepalanya dan tampak berpikir sedikit, “Aku tidak yakin.”

“Apa dia sudah berbicara dengan Seulgi?” Tanya Irene lagi pura-pura berbisik, sambil melirik Kai dengan tatapan mencurigai.

“Aish. Apa yang kalian lakukan.” Gerutu Kai sebal.

“Begitu, dong. Kim Kai! Harusnya kau sadar dari kemarin-kemarin.” Irene lalu menegakkan tubuhnya kembali sambil tersenyum lebar. Gadis itu berjalan menuju sofa dan duduk di samping Kai.

“Apa yang terjadi pada kalian selama seminggu tanpa aku?” Sergah Kai. Sembari melepas ransel dan jas seragamnya, Irene menoleh dengan ekspresi tak mengerti.

“Kita?”

“Hm. Kalian. Kau dan Sehun.”

“Tidak ada.” Jawab Irene dan Sehun bersamaan.

“Tidak ada?” Tanya Kai, semakin penasaran. Ia menoleh cepat pada Sehun yang kini sudah duduk di sofa lain di dekatnya.

Ya. Lalu yang tadi itu apa?”

“Yang tadi?” Sehun mengangkat kedua alisnya, tak mengerti.

“Yang tadi… Irene dan kau. Kalian terlihat seperti –aish jinjja.” Kai menggeleng kepalanya, ia tak percaya hal seperti itu terjadi begitu saja. Ia ingat sekali Sehun berkata bahwa dia tak mungkin menyukai cewek sinting seperti Irene.

“Kau kenapa, sih?” Tanya Irene ikut bingung. Gadis itu kemudian berdiri sambil menggulung kedua lengan seragamnya sampai sikut. Dia berjalan santai menuju dapur sambil mengalungkan apron di lehernya.

Kai menatap Sehun dengan serius, matanya seolah melontarkan banyak sekali pertanyaan yang wajib dijawab. Sahabatnya itu diam sejenak, mencoba mencari apa maksud yang di pertanyakan Kai. Matanya sesekali melirik Irene yang sedang mencuci sesuatu di wastafel dapur.

“Ah…” Sehun tak menemukan ide. Ia menyerah, “To the point saja jika kau memang penasaran.”

“Astaga. Bagaimana bisa –“ Kai menghembuskan nafas cepat, “Kalian pacaran, oh? Kalian terlihat seperti orang pacaran, tau?” Seru Kai gemas.

Mwo?!” Balas Sehun dan Irene.

“Eeii. Itu tidak mungkin,” Gadis itu menoleh beberapa detik lalu kembali menyahut dengan nada kurang meyakinkan. Kemudian ia membuka kulkas.

“Kita berteman seperti biasanya, kok.” Sambung Sehun, mencoba santai.

“Pertemanan antara perempuan dan laki-laki itu cuma mitos, kau tau?” Kai menggelengkan kepalanya, mengulangi kalimat yang pernah ia katakan pada Seulgi.

Kini Irene benar-benar menoleh pada keduanya sambil berkacak pinggang, “Mitos, kau bilang? Lalu kita ini apa, oh?”

“Yah. Aku lupa kalau kau itu perempuan Bae Irene.”

“Apa kau bilang?!” Irene mengangkat sayuran di tangannya dan hampir melemparnya begitu saja pada Kai. Setelah itu Irene kembali membuka kulkas, “Mari kita lihat. Apakah ada 2 porsi untuk makan malam enak, dan 1 porsi makan malam beracun untuk Kim Kai?”

“Apa yang baru saja dikatakannya?” Kai lagi-lagi menatap Sehun dengan ekspresi penasaran. “Dia bukan akan memasak, kan?”

“Dia akan memasak.”

“Kau yakin? Dia memasak?”

“Hm. Semenjak aku sakit dia memasak untukku.”

“Untukmu? Ya!  Kenapa kalian jadi terlihat seperti suami istri, astaga.”

“Aku tidak bohong. Tapi masakannya lumayan.” Balas Sehun lagi, tanpa tertarik membahas kalimat ‘terlihat seperti suami istri’.

“Kai-ssi.” Panggil Irene ketus. “Jika kau terus mengomel, aku benar-benar tidak akan memberimu bagian untuk makan malam.”

“Terserah saja. Aku tinggal pulang dan makan malam enak di rumah.” Kai mengedikkan bahu lalu menjulurkan lidahnya pada Irene.

Ya!” Sehun berseru gemas, saat kedua temannya itu saling melempar hinaan dan mulai perdebatan tak penting seperti biasanya. Namun tak satupun di antara mereka mau mendengar Sehun. Lelaki itu pun menyerah, mulai terbiasa dan menyaksikan pemandangan yang sudah seminggu ini hilang dari apartemennya. Ia pun mengubur dalam-dalam niatnya untuk meredamkan suasana berisik itu.

xxxxx

Bae sajangnim turun dari mobil mewahnya seraya merapihkan posisi jas yang melekat elegan di tubuhnya. Wajahnya yang memiliki sedikit garis-garis kerutan, menunjukkan ekspresi tegas. Kakinya melangkah mantap ke dalam sebuah restoran bersama seorang supir sekaligus asisten kepercayaan di belakangnya.

Dia di sambut hangat oleh pelayan tamu restoran yang kini menuntunnya ke sebuah ruangan khusus.

“Bae sajangnim!” Sambutan hangat kembali ia terima ketika memasuki ruangan itu.

“Kim sajangnim! Apa kabar?” Balasnya tak kalah ramah, sembari membalas jabatan tangan rekan kerjanya itu.

“Baik, kabarku baik. Silahkan duduk.”

Keduanya pun duduk di kursi dan meja bergaya santai namun elegan. Dua orang bawahan mereka masing-masing pun di persilahkan duduk mendampingi.

“Akhirnya aku bisa langsung berkunjung ke restoran istrimu ini. Tempatnya sangat bagus, menarik dan nyaman untuk dijadikan tempat makan malam.” Pujinya.

“Ya. Sekali-sekali kau harus mengajak keluargamu makan malam di tempat ini. Makanan ciptaan istriku adalah yang terbaik.” Laki-laki yang di panggil Kim sajangnim itu pun tertawa lebar, diikuti dengan ayahnya Irene.

Tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka, seorang pemuda dengan setelan merah marun khas pelayan restoran itu masuk sambil membawa senampan yang terdapat beberapa jenis hidangan di atasnya, khusus disajikan untuk pertemuan itu.

“Naah, kenalkan, ini anakku. Kim Junmyeon.” Ujar tuan Kim. Pemuda itu tersenyum ramah dan membungkukkan badannya dengan hormat setelah menyimpan semua hidangan di atas meja.

“Selamat malam, Bae sajangnim. Senang bisa bertemu denganmu.”

“Selamat malam, Junmyeon-ssi. Kau benar-benar mirip dengan ayahmu. Apa yang sedang kau lakukan? Membantu bisnis keluarga?” Balasnya dengan senyum yang masih mengembang.

Ne. Setiap aku memiliki waktu senggang, ibu selalu memintaku membantu di sini.”

“Anakku bilang, dia berada di sekolah yang sama dengan putrimu?” Sambung tuan Kim, penasaran.

“Ah, benarkah?”

“Ya. Kita bahkan satu kelas. Aku baru mengetahui Irene ternyata anakmu saat kau secara tiba-tiba datang ke sekolah waktu itu.”

“Ah…” Tuan Bae mengangguk-anggukkan kepala, mengingat saat hari itu. Jelas, sepertinya seisi sekolah itu kini tau bahwa Irene adalah putrinya. Pria paruh baya itu kembali memasang senyumnya, “Apakah dia sangat menyebalkan di sekolahnya, Junmyeon-ssi?”

Pemuda itu semakin mengembangkan senyumnya, menyembunyikan taring tajam yang siap menikam kapan saja. Dia terkekeh pelan, “Itu hal yang biasa terjadi pada anak SMA jaman sekarang, sajangnim. Tapi aku rasa dia berteman sangat baik dengan kedua teman barunya.”

“Teman baru?”

“Oh? Irene tidak pernah bercerita padamu, sajangnim? Hampir satu semester ini Irene sangat dekat dengan Kai dan Sehun, mereka berdua adalah laki-laki paling populer di sekolah kami. Keduanya berasal dari club yang sama seperti Irene, dan laki-laki bernama Sehun itu adalah siswa paling pintar di sekolah. Aaah.. Aku sangat iri pada Irene yang bisa selalu belajar bersama dengannya.” Jelas Junmyeon panjang lebar, tanpa perasaan mengganjal apapun. Senyumnya mungkin terlihat mengembang ramah dan biasa bagi orang lain. Namun sebenarnya, itu adalah senyum jahat yang dia punya.

“Sepopuler itukah mereka sampai-sampai kau mengetahuinya dengan detail seperti itu?” Gurau ayahnya seraya tertawa pelan kemudian meraih segelas wine dari atas meja.

Junmyeon ikut terkekeh pelan, “Tentu saja appa. Aku adalah seorang wakil ketua osis. Hal seperti itu mana mungkin aku tidak tau.”

Tuan Bae diam, merasa jatuh harga dirinya di depan tuan Kim karna selama ini tak satupun rekan bisnisnya mengetahui bagaimana putrinya selama ini. Dan yang paling membuatnya merasa kecewa adalah mengenai Irene yang tidak pernah memberitaunya bahwa teman jenius yang waktu lalu di sebutnya adalah seorang teman laki-laki. Dia juga merasa aneh, seharusnya kepala sekolah melaporkan itu sedetail penjelasan Junmyeon barusan. Namun, untuk menyembunyikan perasaan kecewa, ia kembali mengembangkan kedua ujung bibirnya dengan sedikit berat hati.

“Aku harap anakku itu belajar dengan lebih baik lagi.” Jawabnya singkat.

“Aku harap. Juga begitu.” Balas Junmyeon pelan, masih dengan senyum puasnya.

Setelah itu Junmyeon pamit dengan sopan dari ruangan itu, meninggalkan rekan kerja ayahnya dengan perasaan puas.

“Uwaakh. Itu pasti menyakitkan. Benar kan, sajangnim?” Gumamnya setelah menutup pintu.

xxxxx

Sehun melirik jam kecil di atas nakas, tepat pukul 11 malam. Dan matanya masih terjaga entah kenapa. Dia sudah berbaring di ranjang sejak tadi. Namun kantuk tak kunjung menghampirinya juga. Ketika ia merasakan kering di tenggorokannya. Sehun berjalan menuju pintu, keluar dan hendak menyalakan lampu apartemen, namun ia mengurungkan niatnya saat mengingat Irene tengah tertidur lelap di sana. Saat ini rasanya berbeda. Sewaktu hari pertama Irene menginap di sana, Sehun tak peduli apakah menyalakan lampu akan membuat gadis itu terbangun atau tidak. Tapi hari ini ia memilih untuk tidak menyalakannya. Membiarkan ruangan itu remang-remang dalam pencahayaan lampu malam yang minim.

Dia pun berjalan melewati sofa, mendekati dapur dan meminum segelas air putih dengan sekali tenggak. Lelaki itu kemudian kembali ka arah sebelumnya, menuju kamar. Namun langkahnya terhenti kala matanya tak sengaja melirik Irene yang damai dalam tidurnya. Sehun diam di tempat. Menatap wajah amat cantik itu dalam hening, Sesuatu membuatnya menarik diri untuk mendekat, menghampiri Irene untuk merapatkan selimutnya yang melonggar dari tubuh gadis itu.

Lelaki itu kemudian duduk di hadapan sofa, memandangi wajah Irene yang polos. Kepalanya pelan-pelan bergerak, menidurkannya di atas meja yang ada di sampingnya, dengan menjadikan lengan sebagai alasnya. Kini wajah mereka saling berhadapan, sangat dekat sampai Sehun bisa merasakan hembusan nafas Irene yang teratur. Dia menyukainya. Menyukai setiap sudut wajah yang ada di depan matanya saat ini. Menyukai setiap helaian coklat yang menjuntai berantakan di sekitar wajahnya. Sehun diam-diam tersenyum. “Apa aku gila?” Gumamnya, masih dalam posisi yang sama.

Irene adalah hal yang paling baru dalam hidupnya selama hampir 17 tahun ia terlahir di dunia. Sehun tidak pernah berada sedekat ini dengan perempuan, tidak pernah memperhatikan bagaimana wajah-wajah anak perempuan di sekitarnya, bahkan melirik pun ia tak pernah tertarik. Sampai Irene masuk ke dalam hidupnya pelan-pelan. Membuatnya melakukan hal-hal ajaib yang tak masuk akal. Seperti sekarang. Wajah damai Irene yang terlelap tanpa terusik sedikitpun, adalah hal yang paling membuat Sehun merasa… Berbeda.

Hampir 30 menit dia berada dalam posisi itu. 30 menit yang paling lambat yang pernah dirasakannya selama ini. Ia pun memutuskan untuk mengangkat kepalanya, berdiri dan hendak meninggalkan Irene sendiri. Sambil mengusap belakang lehernya, ia hendak melangkah menuju kamarnya. Namun tiba-tiba ponsel Irene bergetar di atas meja. Ia meliriknya dan menemukan nama ‘appa’ tertera di sana. Sehun diam, tak berniat melakukan apapun selain memandanginya sampai berhenti berdering. Kali ini terlihat notifications yang terdapat di layar, 4 panggilan tidak terjawab. Dan semuanya dari ayah Irene.

Sehun berpikir sejenak, itu artinya, sejak tadi ayah Irene sudah menelpon. Sampai semalam ini. Apakah sesuatu yang penting terjadi? Entahlah. Laki-laki itu mengedikkan bahu seraya berjalan menuju kamarnya. Menyimpan baik-baik rekaman detail wajah Irene dalam memorinya.

–To be continued—

Sssttt. Kamensiders, saatnya bertransformasi meninggalkan jejak :p

63 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] DRAFT (Chapter 12)”

  1. akhrnya kai sadar juga kalo salah, dan gue suka waktu irene bilang “sehun-aaah aku pulang” gue ngerasa mereka bener2 manis.
    semangat thor buat lnjut 😀

  2. Aduhhh ayah irene jadi taunnih ini semua karena kim junmyeon , serem sih ayahnya , bakal di apain ya irene semoga gak di pindahin!! Semangat terusya buat cerita selanjutnya , thank you!!!

  3. Syenang kai udah baikan sama kai~~
    Jadi si waketos itu junmyeon? Ugh bad junmyeon! Moga ga terjadi apa2 sama hubungan Sehun-Irene. Buruan kek pacaran wkwkwkwk lanjut baca next chapter ah~

  4. Tuh kan bener Junmyeon! Hah.. Dasar malaikat bersayap iblis /dikroyok suho stan/
    aduh, masalahnya di HunRene udah mulai muncul nih. Haaa kapan mereka pacarannyaaa T_T udah ah, pelan-pelan tapi pasti, semua akan indah pada waktunya :v eh btw, scene pegang-pegangan tangan pas sehun sakit itu bikin melted beneran XD scene favorit ih 😀
    cus, lanjuuuut

  5. Kapan seulkai bisa senyaman hunrene 😥
    Aku suka seulkai di sini, suka banget, setidaknya seulgi gak menjauhi kai segitunya. Kasian kai hiks, kapan coba dia bisa bersama seulgi heuheuheu

  6. baru kali ini loh baca FF yg kai sama taemin tengkaran bukannya sahabatan trus suho sama irene nya bukannya di pairing tp malah di buat musuhan wkwk
    suka hunrene moment nya huhuhu :”
    sedih lucu gemes jd satu lah :”

  7. baper banget nih aku 😦
    kapan HunRene akhirnya pacaran 😦
    kapan Seulgi akhirnya jatuh cinta sama Kai 😦
    kapan Junmyeon sama Baekhyun di tenggelamkan 😦 .g
    aku pikir Kim sajangnim itu tadi ayahnya Kai, trus Kai-Irene di jodohin /plakkk
    sinetron sekali pemikiranku :'(((

    1. Kapan-kapan wkwkwkwkwkwkk 😂
      Astogeh malahan tadinya si suho yg mau dijodohin sama irene /ngaco/
      Makasiyaaa selamat menunggu 😂

  8. Kurasa setelah ini ada chapter yang banjir air mata #lebayy..
    Duh authornya jangan kejam-kejam ya buat story HunRenenyaa huhuhu #poorsehun. Btw aku baru nyadar kalo sikap kai di FF ini kaya sikap kyuhyun ke seulgi di dunia nyata wkwk :p secara si evilkan dulu pernah ada rasa ke seulgi tapi ditolak #poorkyu… Komenku nyampah thor sorry ye. Keep writing ^_^

    1. Suho sama appanya irene tuh yg kejam bukan aku /apaini/ wkwkwk :v astogeh kalo inget kyuhyun seulgi jdi pengen ketawa gatau kenapa 😂 gaada komen nyampah ko disini komenlah sesuka hati hihi makasiyaaaaa 😀

  9. Suho keknya licik deh. Anjrit lah sebel ihh.
    Itu appa irene psti mau marahin irene. Urghh thor makin seru ae dn bnyak rhasia2 blom kebongkar nih. Daebak!! Banyakin hunren moment ya thor *pupoy eyes*/g. Haha fighting buat kelanjutanny thor!!!

  10. Daebak kak….
    Ntu si Sehun polos bener, lo tuh jatuh cinta Hun!!😂
    Akhirnya kita tau kalau junmyeon yg moto, dicabik juga tuh orang..(*gak deng, gak rela nyabik leader exo yg satu ntu, /plakkl/digampar author )😂
    Ini satu kamensidersnya udah bertransformasi kak, 😊
    Ditunggu next chapternya kak..😀

  11. Uwaaa aq br tau ini udh apdet, joonmyeon ssi jhat bgt si am airin..
    Chap depan keknya tmbh konflik nih.. Andwaeee jan pisahkan airin ama sehunna… Kasian sehun udh bnran jatuh cinta ama airin… Huweee

  12. Uahhh sehun diam² tertarik sama irene x)
    Aku suka kai berani ngaku salah dan minta maaf padahal sifat dia yg kaya gitu udah buat sehun frustasi

  13. Sehun sehun km lucu bgt sih,, hahaha
    Kayany bakal ada masalah baru nih d chapter berikutnya,, ngak sabat buat baca kelanjutanny thor,,,next chapter semoga lebih cepat, aku slalu menantikany thor,, semangaaaat….

  14. Tiar noona, ckck. Baru beres konflik udah dimasukkin konflik baru lagi. Kkk, emang harus muter otak baca ‘draft’ itu. See you in the next chapter!

  15. sehun dan irene makin sweet, suka deh 🙂
    tapi aq takut sesuatu yg buruk bkal terjadi antara sehun dan irene, jngan” ntr appa nya irene marah trus bikin sehun dan irene mnjauh gitu???
    andwee….jangan pisahin sehun dan irene dong !!!!
    eh tp akhirnya kai sadar dan baikan ma sehun ya, syukurlah….

  16. Gue kira ceritanya gak seru😂 makannya gak pernah baca dari chapter 1 HAHA maafkan aku ya kak. Tapi ternyata setelah nyoba iseng baca chapter ini, seru bangedd.

  17. ya ya apakah chapter selanjutnya akan jd sesuatu yg buat iren sehun sedihkah!,,huhuhuhh,, tak sangka,,joonmyeon pelakunya,!
    ** kyaaaa Sehun,,,mulai jatuh cinta ma Iren,, tp apa iren jg mengetahui itu,?? penasaran penasaran,penasaran,! suka bnget tiap part d chapter ini,,sehuniren,Kaiseul,,dan HunKaiRen!
    Naka Jjang !!!!!!!!
    lope lope lope DRAFT!

  18. Kak naka 😀 akhirnya, aku selalu menunggu ff-mu ini kakak 😀 /aduh alaynya/ Ceritanya bikin aku penasaran terus :v semangat kak, aku akan terus menunggu ff tercinta ini 😀 HunRene jaya!! Kai-gi amin!! 😀 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s