Regret [Chapter 1]

Regret

 

Title : Regret | Chapter 1

Author : SehunBee [@Nurul_Hunie]

Cast :
Oh Sehun [EXO]
Khaza Hanna [OC]
Xi Luhan [EXO]
Byun Baekhyun [EXO]

Other Cast : Find by yourself

Genre :
Angst || Sad || Romance || Marriage Life || Action

Rating : PG-17 or Mature

Lenght : Series/Chapter

Disclaimer :
Semua alur murni hasil imajinasiku jangan copy paste seenaknya dan jadilah reader yang baik.

Credit Poster by @lulubeib

Note : Perhatikan ratingnya…!!! Fanfic ini juga di post di blog pribadi https://sehunbee.wordpress.com

 

Regret

Summary

Oh Sehun. Dia suamiku tapi hampir setiap hari aku melihatnya membawa wanita lain pulang ke rumah dan kemudian menidurinya.

Regret
Aku masih tidak tahu kenapa ini semua menjadi kesalahanku. Semuanya terjadi begitu saja dan kenapa harus aku yang menjadi pihak yang disalahkan disini? Aku tidak pernah mengharapkan kehidupan yang seperti ini. Sampai kapan aku harus bertahan? Hatiku terus memberontak ingin pergi tapi kenapa otakku terus memerintahkan kerja tubuhku untuk tetap bertahan.

Aku baru saja pulang sehabis berbelanja membeli kebutuhan pangan di supermarket yang berada tidak jauh dari tempat tinggalku. Dan sekarang aku hanya bisa diam mematung di depan pintu masuk rumahku sendiri. Sudah cukup lama aku hanya berdiam diri disini sambil menatap hampa kearah daun pintu berwarna coklat tua itu.

Haruskah aku masuk sekarang? Apakah Sehun sudah selesai dengan kegiatannya?
Hanya dua pertanyaan itu yang terus berputar-putar di otakku.

Tadi sore sepulang kerja, Sehun kembali membawa wanita lain ke rumah kami. Jadi aku memutuskan untuk keluar membeli persediaan makanan yang sebenarnya masih tersedia banyak di dalam kulkas. Aku pergi hanya karena tidak ingin mendengar suara desahan wanita yang tengah Sehun permainkan. Itu sangat memuakkan.

Sesungguhnya aku sudah tidak tahan lagi dengan semua ini. Ini sudah berjalan terlalu lama, selama satu setengah tahun pernikahan kami selama itu pula Sehun mempermainkan perasaanku. Dia sangat membenciku, dia menganggap bahwa aku adalah perusak kebahagiaannya, dia menganggap akulah yang pantas disalahkan atas semua yang sudah terjadi, dia selalu menyalahkanku atas kesalahan yang tidak pernah aku perbuat. Tapi apa yang bisa aku lakukan? Aku hanya bisa diam menikmati cacian yang ia berikan.

Ceklek

Tiba-tiba pintu di depanku terbuka dan menampilkan sosok wanita cantik yang aku tahu adalah sekertaris Sehun di kantornya. Bisa aku lihat ia tersenyum meremehkan ke arahku, kemudian ia pergi melewatiku begitu saja, tanpa menaruh rasa hormat sedikitpun padaku. Entah untuk yang keberapa kalinya, aku merasakan ada pisau tajam yang mengiris-iris hatiku. Perih. Sangat Perih.

Tuhan berikan aku kekuatan untuk bertahan lebih lama lagi.

Aku mulai melangkahkan kakiku untuk masuk ke dalam rumah. Aku terus berjalan sambil menundukan kepalaku meratapi takdirku yang begitu menyedihkan. Sungguh aku sangat ingin menangis tapi air mataku sudah kering karena sudah terlalu sering menangisi pria brengsek itu.

“Darimana saja kau?”

Aku refleks menghentikan langkah kakiku ketika aku mendengar suara seseorang yang sangat aku kenal. Nada dingin dan menusuk selalu pria itu tunjukkan padaku, membuatku hanya bisa diam tanpa berani menjawab pertanyaannya. Perlahan aku mengalihkan perhatianku untuk menatap ke arahnya. Dia sedang menuruni anak tangga dengan tubuh yang topless ia hanya mengenakan celana jeans hitam dan membiarkan tubuh bagian atasnya terekspos. Bahkan aku bisa melihat dengan jelas beberapa kiss mark yang tertinggal di tubuh putih susunya itu.

“Supermarket”
Jawabku singkat. Aku langsung melangkahkan kakiku kembali. Sebisa mungkin aku menghindari kontak dengannya karena semakin lama aku melihatnya maka akan semakin lama pula rasa sakit yang aku rasakan.

Sesampainya di dapur. Aku langsung meletakan semua barang belanjaanku di counter dapur dekat lemari pendingin. Aku mengeluarkan satu persatu barang belanjaanku dari dalam kantung, tapi kegiatanku terhenti ketika aku merasakan langkah kaki Sehun yang semakin mendekat.

“Aku haus. Berikan aku minum.”

Aku menghela nafasku pelan setelah mendengar perintah darinya. Dan aku langsung menuruti perintahnya tanpa menjawabnya terlebih dahulu. Aku membawa kakiku untuk lebih mendekat kearah lemari pendingin, mengambil sebotol air mineral yang tersedia disana. Sebelum akhirnya aku memberikannya pada Sehun.

Aku kembali membalikan tubuhku untuk melanjutkan kembali kegiatanku yang sempat tertunda.

~Author POV~

“Orang tuaku ingin bertemu denganmu. Mereka mengajak kita untuk makan malam bersama besok.”
Ujar Sehun setelah ia bangkit dari kursi yang sejak tadi ia duduki.

“Aku harap, kemampuan aktingmu tidak berubah Hanna. Mainkan peranmu dengan baik.”
Lanjutnya. Membuat Hanna benar-benar muak kali ini.

“Ajak saja sekertarismu itu Sehun-ssi” Balas Hanna dingin.

Sehun tersenyum miring kearah Hanna yang saat ini tengah membelakanginya.

“Kau cemburu?”

“Jangan harap!” Jawab Hanna dengan nada yang sama.

“Lantas?”
Emosi Sehun mulai terpancing mendengar Hanna berbicara seperti itu. Dan perlahan ia melangkahkan kakinya mendekati Hanna yang masih dalam posisinya.

“Tidakkah kau merasa bosan dengan permainan ini Sehun-ssi. Aku sudah muak dengan semuanya. Kita selalu berperan selayaknya suami dan istri di depan keluargamu dan menutupi semua kebenaran yang terjadi diantara kita.” Jawab Hanna, ia sudah tidak tahan dengan semua perlakuan Sehun terhadapnya. ” Aku sudah muak, aku ingin mengakhiri semuanya. Ceraikan saja aku sekarang!” Lanjut Hanna. Membuat Sehun membelalakan matanya samar.

Sudah cukup ia bersabar, Hanna mulai berani padanya. Dengan penuh emosi Sehun membalikan tubuh Hanna dan mendorongnya cukup keras, membuat Hanna meringis ketika punggungnya terbentur pada lemari es yang ada di belakangnya.

“Katakan sekali lagi”
Ujar Sehun dingin dan penuh penekanan disetiap kata-katanya. Kedua tangannya ia letakan di samping kepala Hanna, untuk mengunci pergerakan gadis itu.

Hanna menatap takut wajah penuh emosi di depannya, ia merutuki dirinya sendiri karena sudah memancing amarah Sehun. Dari dulu topik perceraian sangat sensitif di telinga Sehun dan tidak seharusnya ia kembali membahas itu. Sekarang yang bisa Hanna lakukan hanya menundukan kepalanya dalam, ia tak kuasa menatap kilatan amarah pada mata elang Sehun lama-lama.

“Jawab aku”
Kali ini Sehun mencengkram rahang Hanna dengan tangan kirinya membuat Hanna mau tidak mau mendongakkan kepalanya dan bertatap mata dengan Sehun.

“Maafkan aku.”
Tubuh Hanna begetar, air mata mulai tertahan di plupuk matanya dan siap meluncur kapan saja. Ini adalah alasan kenapa Hanna tetap bertahan, hanya membicarakan perceraian saja sudah membuat Sehun semarah ini. Dulu ia sempat melarikan diri darinya tapi Sehun berhasil menemukannya. Membuatnya harus rela berakhir di tempat tidur dengan amukan Sehun terhadapnya.

“Kau yang membuat hidupku menderita Hanna. Jangan harap aku akan membiarkanmu hidup tenang setelah apa yang sudah kau perbuat. Jadi jangan pernah berpikir untuk pergi dari ku..!! ARRASEO..!!!”
Bentak Sehun, membuat Hanna refleks menutup matanya rapat.

“Ar..ra arraseo.”
Jawab Hanna gemetar. Lututnya benar-benar terasa lemas. Ia merasa sudah tidak sanggup lagi menopang berat tubuhnya sendiri.

“Bagus. Sekarang layani aku.”

Hanna membelalakan mata jernihnya ketika mendengar Sehun mengatakan itu. Tangannya refleks mendorong bahu Sehun ketika namja itu semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Hanna.

“eumph”

Air mata kembali lolos menuruni pipinya. Hanna benar-benar merasa tidak punya harga diri di hadapan Sehun. Ia hanya bisa pasrah menerima perlakuan buruk suaminya itu. Sehun pernah menidurinya sekali dan ia tidak ingin hal itu terjadi lagi, meskipun Sehun berstatus sebagai suaminya.

Ciuman Sehun terasa semakin menuntut bahkan tubuhnya semakin menjepit tubuh Hanna yang memang sudah terjepit diantara tubuhnya dan lemari es. Hanna merasa semakin sesak ketika Sehun terus merapatkan tubuhnya dan mengeratkan pelukannya di pinggang rampingnya, membuat titik tubuh mereka saling bersentuhan dan terlihat semakin intim.

“Eukhh”
Desah Hanna di sela-sela ciumannya saat Sehun meremas dadanya kasar.
Sehun meraih kembali bibir Hanna yang sempat terlepas saat mendesah. Ia melumat kasar bibir cherry itu dan membiarkan nafsu kembali menguasainya.

Sebenarnya hal inilah yang paling Sehun hindari selama ini. Ia selalu menahan nalurinya sebagai seorang pria saat bersama Hanna, karena ia tidak ingin meniduri wanita yang sudah menghancurkan hidupnya itu. Tapi kali ini, ia kembali lepas kendali. Hasratnya untuk kembali menikmati tubuh Hanna benar-benar menyiksanya, sehingga ia sudah tidak perduli lagi dengan resikonya nanti. Sehun hanya takut membuat gadis yang menurutnya pembawa sial itu hamil karenanya dan sekarang ia tidak perduli lagi.

Persetan dengan apapun yang akan terjadi nanti. Batinnya

“Malam ini aku menginginkanmu Hanna. Aku merindukan desahanmu.”
Ujar Sehun setelah melepaskan pautannya, membuat tubuh Hanna merinding seketika saat mendengarnya. Ingatannya kembali berputar saat Sehun menidurinya dulu, Sehun sangat kasar dan ia takut mendapat perlakuan yang sama seperti waktu itu. Hanna, ia hanya trauma. Tubuhnya semakin menggigil saat bayang-bayang itu terus berputar-putar di otaknya. Air matanya semakin lancar mengalir menuruni pipinya, ia ingin melawan tapi akibatnya bisa sangat fatal, tidak hanya berakibat pada dirinya tapi juga keluarganya. Membuatnya hanya bisa pasrah menerima perlakuan buruk Sehun terhadapnya.

Sehun kembali meraup bibirnya dengan posisi yang masih sama, ia terus menekan tubuhnya membuat tubuh Hanna semakin terjepit padahal jarak antara mereka sudah tidak terbatas.

 

~~~Regret~~~

Seorang namja tampan dengan setelan kemeja hitam dipadukan dengan jas berwarna biru gelap terlihat baru saja turun dari dalam mobil mewahnya. Ia berjalan dengan angkuhnya memasuki sebuah toko bunga kecil yang terlihat sederhana tapi tertata rapi. Ia masuk ke dalam toko itu, matanya lincah berkeliling mencari seseorang yang ingin ia temui di dalam sana.

“Kau sibuk?”
Tanyanya kepada seorang namja yang memiliki mata rusa yang indah.

“Kau. Ada perlu apa kau datang kemari?”
Nada tidak bersahabat justru ditunjukan padanya ketika orang yang ia ajak bicara menyadari kehadirannya.

“Seperti itukah caramu menunjukan rasa hormatmu pada adik iparmu ini, heum?”
Tanyanya meremehkan.

“Jangan basa-basi. Ada perlu apa kau kemari?”

“Tidak bisakah kita bicara sambil meminum teh?”

Kesabaran Luhan habis. Ia begitu muak dengan sosok namja yang berada di hadapannya ini. Ia menaruh kasar pot bunga yang berada di tangannya, kemudian ia membalikan badannya dan melangkah meninggalkan namja itu.

Sedangkan Sehun, ia dengan santainya mengekor di belakang Luhan, mengikuti kemana arah perginya namja itu.

“Kapan kau akan mengakhirinya, hah?”
Tanya Luhan geram pada Sehun yang duduk di hadapannya. Saat ini mereka tengah berada di sebuah taman kecil di belakang toko bunga milik Luhan.

Sehun tidak langsung menjawabnya, dengan santainya ia mengambil teh yang berada di hadapannya, kemudian meneguknya pelan.

“Tentu saja sampai aku berhasil menemukan ayahmu dan kemudian membunuhnya.”
Jawab Sehun santai setelah selesai meneguk tehnya.

Sungguh demi apapun yang ada di dunia ini, Luhan sangat ingin membunuh orang yang berstatus sebagai mantan sahabat sekaligus suami dari adik kesayangannya itu. Ia sangat geram, tapi sebisa mungkin ia menahan emosinya.

“Oh ya, tubuh adikmu sangat nikmat hyung. Aku menyukainya.”

Bugh

Luhan tiba-tiba bangkit dari duduknya dan dengan gerakan tiba-tiba pula, ia melayangan tinjunya pada Sehun, membuat Sehun langsung terjatuh dari duduknya dan tersungkur di tanah. Luhan, ia tidak lagi kuasa menahan emosinya yang memuncak, ia hanya tidak suka melihat adiknya terus-terusan dipermainkan oleh namja brengsek itu. Sudah cukup lama ia bersabar melihat adiknya selalu di perlakukan buruk olehnya dan kali ini kesabarannya sudah benar-benar sampai di titik batasnya.

“Brengsek.” Umpatnya pada Sehun yang kini tengah tersungkur di tanah.

“Hey aku suaminya. Aku berhak menidurinya kapanpun aku mau.”
Jawab Sehun enteng. Ia mengusap darah kecil yang keluar dari sudut bibirnya.

“Aku akan membayar semua hutang-hutang keluargaku. Dan jangan kau sentuh lagi dia, Hanna terlalu baik untuk seorang pembunuh sepertimu.”

“Dengan apa kau membayarnya, heum? Karirmu sudah berakhir hyung. Kau bukan lagi seorang detective handal dengan bayaran yang mahal. Bahkan kau hanya memiliki sebuah toko bunga kecil untuk menghidupi tubuh ringkihmu itu.” Perlahhan Sehun bangkit dan membersihkan celananya yang sedikit kotor.

“Dan aku yakin, kau membiayai biaya pengobatan aboejimu dengan uang yang aku berikan pada Hanna. Sebenarnya aku sangat heran pada kalian berdua. Kenapa kalian tidak mengaku saja dan memberitahukannya padaku dimana aboeji berada, agar aku bisa langsung membunuhnya dan dengan begitu penderitaan kalian berdua pun akan berakhir.”
Lanjutnya disertai smirk iblisnya.

Luhan semakin geram tapi ia sadar diri dengan kondisinya saat ini. Semua yang diucapkan Sehun memang benar, ia bahkan tidak sanggup untuk membiayai biaya rumah sakit appanya yang kini tengah dirawat karena koma. Luhan, ia sudah tidak punya uang lagi untuk itu, kehidupannya dan adiknya sudah berubah. Dan sekarang semua biaya rumah sakit appanya pun secara tidak langsung di tanggung oleh Sehun.

“Kau yang sudah membuat appaku koma, jadi aku rasa kau memang harus membiayai biaya pengobatannya sampai ia sembuh.”

“Dan kemudian membiarkannya menjebloskanku kedalam penjara? Sudahlah hyung, aku sedang tidak ingin berdebat denganmu. Aku datang kemari hanya untuk menawarkan pekerjaan yang lebih baik untukmu. Tinggalkan saja toko bunga ini dan bekerjalah untukku.”

“Menjadi seorang pembunuh sepertimu? Aku rasa tidak. Kau sudah terlalu baik padaku dan keluargaku Sehun, jadi aku rasa, aku sudah tidak membutuhkan tawaran baikmu lagi.”
Ujar Luhan dengan senyuman kecut di bibirnya.

“Kau yakin? Bahkan jika ini menyangkut adikmu?”

“Sudah kubilang jangan bawa-bawa dia lagi..!!”
Emosinya kembali terpancing. ‘Iblis macam apa kau ini Sehun’

“Lebih baik kau pirkan dulu baik-baik hyung!” smirk iblis kembali tercetak di wajah tampannya. “Sekarang buatkan aku rangkaian bunga kesukaan Hanna, aku ingin memberikannya kejutan.” Lanjutnya sambil melangkahkan kakinya keluar dari taman belakang itu.

“Hanna maafkan oppa. Oppa tidak bisa menolongmu sekarang.”
Gumam Luhan pelan diiringi dengan liquid bening yang kini telah sukses menjebol pertahanannya.

~~~Regret~~~

Hanna tengah menyandarkan tubuhnya pada dashboard tempat tidur, ia menggunakan selimut untuk menutupi tubuh polosnya. Tatapan matanya kosong tapi air matanya terus mengalir dari mata indahnya. Ia sudah seperti mayat hidup sekarang.

Beberapa tanda kemerahan bahkan terlihat sangat kontras di leher, bahu sampai di atas dadanya. Dan kulit putih susunya itu kini semakin terlihat pucat karena terus dibiarkan diterpa udara dingin yang berasal dari AC yang berada di ruangan itu tanpa menggunakan sehelai pakaianpun.

Hanna, ia sudah berada di titik terendahnya. Ia merasa sudah tidak sanggup lagi menerima perlakuan buruk Sehun terhadapnya. Ia sangat ingin mengakhiri semuanya, tapi nyawa appanya yang akan menjadi taruhannya.

Ceklek

“Kau sudah bangun?”

Hanna mengarahkan fokusnya pada seorang pria yang baru saja datang dan memasuki kamarnya. Tatapan dingin dan benci ia tunjukkan pada pria itu. Tapi tak lama Hanna kembali mengalihkan fokusnya, ia hanya muak melihat wajah itu lama-lama.

Sekarang bisa Hanna rasakan tempat tidurnya sedikit menurun saat Sehun mendudukan tubuhnya di hadapannya.

“Lihatlah, aku membawakan bunga kesukaanmu.”
Hanna masih enggan menatap orang yang tengah mengajaknya berbicara. Ia sangat membencinya di tambah dengan apa yang sudah Sehun lakukan padanya semalam. Sehun menidurinya di meja makan sebelum akhirnya ia kembali melanjutkannya di kamar. Jika mengingat hal itu, membuat Hanna benar-benar merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia benci kenapa ia hanya diam saja dan tak bisa melawan pria itu.

“Oppamu yang merangkainya.”
Hanna melirik sekilas rangkaian bunga yang Sehun letakkan di atas pangkuannya ketika ia mendengar Sehun menyebut kata oppa.

Sehun menyeringai ketika melihat Hanna yang mulai bereaksi. Tangannya bergerak untuk menyentuh lebam di sudut bibir Hanna dan perlahan kepalanya ikut bergerak untuk lebih mendekat ke arah objek yang ia inginkan.

Basah. Itu yang Hanna rasakan saat lidah Sehun terus menyapu permukaan bibirnya. Tidak ada reaksi yang Hanna tunjukkan, ia hanya diam seperti patung dan menatap tanpa ekspresi ke arah wajah yang saat ini tengah menikmati bibirnya itu.

Sehun menangkup kedua sisi wajah Hanna menggunakan tangannya, ia mulai melumat bibir manis itu dengan tidak sabaran. Tapi Hanna tetap tidak bereaksi dengan apa yang tengah Sehun lakukan terhadapnya. Ia hanya sudah terlalu lelah untuk melawan, tidak hanya fisik tapi hatinya juga sudah berteriak kelelah. Diam, adalah pilihan yang jauh lebih baik untuknya, setidaknya Sehun tidak akan menggunakan kekerasan lagi jika ia tidak melawan. Tangan Sehun mulai bergerak turun menelusuri leher, bahu, sampai ke atas dadanya, dan perlahan Sehun menurunkan selimut yang menutupi bagian atas tubuh Hanna.

“Aku sangat menyukai ini Hanna!” Ucapnya setelah ia melepaskan pautan bibirnya, sebelum akhirnya ia menurunkan kepalanya menelusuri ceruk leher Hanna sampai ia terhenti dan berhasil memasukan salah satu dada Hanna ke dalam mulutnya. Sedangkan yang satunya lagi ia mainkan dengan tangannya.

Hanna hanya diam, ia menutup matanya rapat dan menggigit bibir bawahnya kuat, mencoba sebisa mungkin untuk menahan desahannya. Tangannya mulai bergerak mencengkram bahu Sehun, ia meremas kuat jas yang Sehun kenakan.

“eukhm..”

Sehun tersenyum iblis di sela-sela kegiatannya, ia berhasil membuat Hanna kembali meloloskan desahannya. Tak lama ia menjauhkan kepalanya dan berhenti mempermainkan Hanna karena ia merasa sudah cukup untuk hari ini, walaupun sesungguhnya ia masih menginginkan hal yang lebih dari ini.

“Aku tidak suka kau acuhkan. Dan itu hukuman untukmu! Sekarang bergegaslah untuk mempersiapkan dirimu bertemu dengan kedua orang tuaku.”

Hanna masih diam, ia kesulitan untuk mengatur nafasnya yang sedikit terengah. Tangannya bergerak untuk meraih selimut dan menutupi bagian atas tubuhnya. Ia sama sekali tidak berniat untuk menyahuti perintah Sehun.

“Aku tunggu di bawah.”
Perlahan Sehun mengangkat tubuhnya, ia bangkit dan melenggang keluar dari kamar Hanna.

 

¤

¤

¤

 

Suasana tentram dan nyaman yang tercipta di ruangan yang terlihat begitu megah dan mewah itu membuat siapapun betah berlama-lama untuk tetap tinggal disana. Terkecuali seorang gadis yang sejak tadi hanya diam mematung di kursi yang tengah ia duduki. Ia ingin cepat pergi dari tempat itu dan mengakhiri semua sandiwara yang tengah ia perankan. Bahkan ia sama sekali tidak tertarik untuk menyentuh makan malamnya yang sudah tertata rapi di hadapannya itu.

“Apa kau sedang tidak enak badan, An? Dari tadi kau hanya diam saja..!!”
Tanya seorang wanita paruh baya yang terlihat cantik dan awet muda itu lembut pada seorang gadis yang duduk di hadapannya. Ia hanya merasa sedikit khawatir dengan sikap yang di tunjukkan oleh menantunya itu.

Pertanyaan Nyonya Oh pada Hanna membuat seluruh mata tertuju padanya, tak terkecuali Sehun yang duduk di sampingnya.
Sedangkan Hanna hanya menjawabnya dengan senyuman tipisnya saja, ia sama sekali tidak berniat untuk membuka suara.

Boneka hidup itu kembali hanyut dalam pikirannya, ia sama sekali tidak memperdulikan tatapan khawatir dari orang-orang di sekitarnya. Perlahan ia merasakan sesuatu tersangkut di bahunya membuat punggungnya yang memang sedikit terbuka tidak lagi merasakan dinginnya udara AC di ruangan itu. Hanna melirik Sehun yang ternyata membuka jasnya untuk ia kenakan. Namja itu tersenyum begitu manis kepadanya dan Hanna hanya bisa menanggapinya dengan senyum kecut di wajahnya. Selalu seperti ini. Batinnya.

“Kau sakit? Kita pulang duluan saja. Bagaimana?”

Hanna hanya menggelengkan pelan kepalanya. Ia hanya malas membalas perlakuan manis pria itu.

“Kau yakin An?”
Tanya Nyonya Oh semakin khawatir.

“Aku baik-baik saja eommonim.”
Akirnya Hanna membuka suaranya, ia hanya tak kuasa untuk bersikap buruk kepada eommonimnya yang sudah begitu baik padanya. Senyum tipis juga Hanna tunjukan kepadanya, mencoba untuk meyakinkannya.

“Apa kau sedang hamil? Makannya kau tidak berselera untuk memakan makananmu?”

Pertanyaan terakhir Nyonya Oh membuat Hanna refleks kembali menatap ke arahnya. Dari awal, topik ini adalah topik pembicaraan yang paling Hanna dan Sehun hindari. Karena keduanya memang sama sekali tidak berniat untuk memiliki keturunan, kehidupan rumah tangga mereka begitu berantakan, bahkan keduanya tidak saling mencintai. Masing-masing dari mereka sama-sama sudah memiliki orang lain yang sudah mengisi hati masing-masing.

Hanna yang memiliki wajah secantik boneka belum mampu membuat Sehun jatuh hati padanya begitupula dengan Sehun yang memiliki wajah tampan dan sempurna, ia juga belum mampu membuat Hanna jatuh dalam pesonanya. Selama ini mereka hanya hidup di bawah atap yang sama, tanpa ada tiang kokoh (Cinta) yang menyangganya. Selama ini keduanya hidup dalam sandiwara dan benci yang mereka ciptakan sendiri, demi kepentingan masing-masing. Hanna demi keluarganya dan Sehun demi harta warisan serta dendamnya. Itu adalah alasan kenapa mereka tetap bersama memainkan peran suami dan istri.

“Maaf eommonim.”
Jawab Hanna pelan, seolah penuh penyesalan.

“Bersabarlah eomma. Salahkan saja appa yang terlalu membebankan pekerjaannya padaku, sehingga aku tidak memiliki banyak waktu untuk menghabiskan waktuku berdua dengan Hanna. Bahkan aku tidak bisa bercinta dengannya setiap malam karna lelah dengan pekerjaan di kantor.”
Jawab Sehun datar, seolah tidak sadar dengan apa yang ia ucapkan. Sedangkan Hanna, hanya bisa menatap tidak suka ke arahnya. Bodoh. Batinnya.

“Anak kurang ajar!”
Laki-laki paruh baya yang sejak tadi hanya diam saja sekarang ikut bicara ketika mendengar jawaban anaknya yang menurutnya sangat terang-terangan. Tuan Oh hanya tersenyum kecil setelah mengatakan itu, sebelum akhirnya ia kembali memasukan sesendok makanan ke dalam mulutnya.

“Bagaimana? Apa kau berhasil menarik banyak investor setelah kau melakukan kerjasama dengan CJ group?”
Lanjut Tuan Oh setelah terdiam cukup lama.

“Tentu saja. Itu bukan hal sulit untukku.” jawab Sehun enteng.
Ayah dan anak itu sekarang sibuk dengan pembicaraan mereka. Sedangkan Nyonya Oh, ia masih sibuk memperhatikan gerak-gerik Hanna. Ia menelusuri wajah cantik menantunya itu, dan bisa ia lihat sedikit noda kebiruan yang tidak terlalu terlihat jelas di sudut bibir Hanna karena tertutupi oleh make up tipisnya. ‘Bibir bawah Hanna juga terlihat pecah. Apa Sehun sekasar itu saat berciuman?’ Tanyanya dalam hati. Mungkin bagian dalam bibirnya juga luka akibat gigitan Sehun, sehingga ia enggan menyentuh makanannya. Pikrinya dengan segala hipotesa yang ia lihat.

“Sayang. Ayo makan makananmu! Selagi masih panas.”
Pinta Nyonya Oh yang hanya ditanggapi dengan anggukan kecil dan senyum tipis Hanna. Sehun kembali mengalihkan perhatiannya pada gadis yang berada di sampingnya itu.

“Kau harus makan Hanna.”
Perintah Sehun lembut, tangannya mulai bergerak untuk memotong daging yang berada di hadapan Hanna. Kemudian ia menusuk potongan kecil daging yang sudah ia potong itu dan mengarahkannya ke mulut Hanna.

“Aku tidak lapar.”
Jawab Hanna terdengar lembut. Ia mencoba untuk kembali memainkan perannya.
“Baiklah. Jika kau tidak mau.”
Sehun memasukan potongan daging kecil itu ke dalam mulutnya dan dengan gerakan tiba-tiba Sehun meraih kepala Hanna dan mencium bibirnya untuk memindahkan potongan daging kecil yang berada dalam mulutnya itu ke dalam mulut Hanna. Hanna yang terkejut hanya bisa membelalakkan matanya, ia merasa sedikit mual setelah ia merasakan daging yang berada dalam mulut Sehun berpindah ke dalam mulutnya.

“Aku akan melakukannya lagi jika kau tidak kunjung menyentuh makananmu.”
Smirk iblis tercetak jelas di wajah pria itu. Sedangkan orang tua Sehun yang menyaksikan apa yang baru saja Sehun lakukan hanya bisa menggelengkan kepalanya pelan.

Wajah Hanna memerah karena malu. Bagaimana tidak, Sehun menciumnya di depan kedua orang tuanya. Tapi apa yang bisa ia lakukakan sekarang, selain menuruti perintah pria itu.

“Aigo zaman benar-benar sudah berubah ya.” Nyonya Oh terkekeh dengan kata-katanya sendiri. Dan Sehun hanya tersenyum menanggapinya.

Hanna mulai menusuk daging yang ada di hadapannya. Ia terlihat malas memasukan potongan daging itu ke dalam mulutnya, selera makannya benar-benar sudah hilang.

~~~Regret~~~

Tiittt Tiittt Tiittt

Suara alat pendeteksi detak jantung terdengar begitu menggema di dalam ruangan yang terlihat serba putih itu. Tapi seorang namja yang saat ini tengah meringkukkan tubuhnya di sofa yang berada di samping tempat tidur pasien itu sama sekali tidak terganggu. Matanya terus terfokuskan pada seseorang yang tengah tertidur pulas di atas ranjangnya. Air matanya terus mengalir seiring dengan bayang-bayang masa lalunya yang terus melintas dalam angannya. Masa-masa bahagia saat mereka hidup bersama dengan suara tawa di setiap kegiatan yang mereka lakukan. Ia begitu merindukan masa-masa itu, ia begitu merindukan senyum ceria adik kecilnya, tawa menggema appanya dan senyum tulus ibunya. Ia merindukan semuanya, ia merindukan semua yang telah Tuhan ambil darinya.

“Tuhan berikan kesembuhan untuk appaku dan berikanlah ketabahan untuk adikku. Dan berikanlah kekuatan untukku menghadapi semua ini, ah tidak, tapi berikan kami kekuatan untuk menghadapi semua cobaan yang Kau berikan, dan biarkan keluarga kecil kami kembali bersama walau eomma sudah tidak ada bersama kami. Biarkan kami bersatu dan bersama seperti dulu.”

 

 

 

~~TBC~~

 

Setelah baca jangan lupa comment. Di Chapter 4 ff ini diprotect dan untuk mendapatkan pwnya mesti mengisi daftar absen comment terlebih dahulu. Terima kasih sebelumnya buat yang udah mau baca dan comment. Oh ya ff ini punya alur maju-mundur, akan banyak flashback di chapter depan nanti.

My Blog
https://sehunbee.wordpress.com

 

 

BYE SARANGHAE

 

 

 

sehunbee

52 tanggapan untuk “Regret [Chapter 1]”

  1. Temenku dari dulu udah suka ini. Dan pas aku baca, masih Ep. 1 udah sukak banget kak, udah langsung keliatan letak permasalahan nya😆

  2. annyeong.. kak, aku baru disini. tahu ff kakak “regret” juga dikasih tahu temen. katanya kerenn. ternyata bener. alur ceritanya dapet banget fell nya, bikin kepo lanjutannya. tapi waktu aku mau baca di blog kakak kok diprivt semua ya kak? pw nya gimana? waktu aku tanya temenku, dulu nggak di pw.

  3. Annyeong ^^
    New Reader disinii
    Suka banget sama karakter sehun disini, dingin, cuek, jahat” gimana gitu. Baru baca chap 1 udh lgsg penasaran bgt sama nextnya ^^

  4. Sehun, tetep dingin seperti biasa. Suka banget sama karakternya sehun yang kaya gini. Dingin. Sadis. Pas banget sama mukanya.
    Kasihan hana, ttep semangat ya. Sebenernya udh pernah baca, cuman belum sampe end chapter. Jadi pengen baca lagi.

  5. Sehun kok jahat banget ya ama hanna jadi kasihan ama hannanya
    Sehun knp sih kayak gitu?
    Eonni keren deh ffny next izin thor😊

  6. Sehun ko jahat gitu:( bang, biasanya situ romance:( Akhirnya nemuin ff yg karakter sehunnya beda!!! Suka thor suka!! Jarang ada typo jugaaaaaa!! Keep writing thor buat mbak hana yg tabah yaaaaa:3 wkwk

  7. ini kerennn,aku suka pakek bgt,bisa deh bayangin karakter sehunya kyk gtu wlaupun dia maknae tpi bisa ngena bgt feelnya aihh suka,part selanjutnya dmn kakak?

    1. Suka, ff yang selalu terngiang dan menghantui untuk terus baca ff ini. Terlalu bagus eonni

  8. feel cerita ini udah kena banget
    karakter sehun di ff ini sumpah bikin gemes.. mungkin karena kebiasa baca karakter sehun d ff pada umumnya yg mesti jadi cold guy tapi sangat romantis dan baik hati kali ya makanya begitu baca karakternya dy disini yg soo kasar dan jahat sama hanna itu jadi gemes banget dan pengen ngeliat dy kenak karmanya
    sumpahh ceritanya sama konfliknya kenakkk
    ditunggu chapter selanjutnya yaa
    keep writng ^^

  9. Nggak nyangka sehun kasar di ff ini. Bagus min, pnsaran konflik apa yg trjadi antara sehun dg ayahnya hanna.
    Next chapter aku tunggu yaa.

  10. aigoo sehun nya jahat bngt ._. tpi bagus kok , baca ff ini pas bngt sambil denger lagu nya Sam Smith I’m not the only one ._. mencelos bngt waktu baca bagian yg sehun sering bawa wanita (?) ke rmh pas ada hanna nya ^^
    bagus bngt deh ff nya wkwkwk like it like it ^0^ semoga ff selanjutnya bisa lebih seru lg wkwkw ^0^b

  11. Aku readers baru..
    Nggak nyangka baru part 1 udah keren kayak gini, bikin penasaran. karakter hanna sama sehun dapet banget feelnya..daebak.

  12. wah,,ini cerita di chap pertama udah ngaduk2 emosiiiii…
    emosi bangettt ini sama sehunnn,,,
    omg,,,jahat banget diaaa…
    tapi bikin penasaran sama chap selanjutnya karena masih banyak misteri yang belum terungkap…hehehe…
    lanjut ya chingu..
    gomawoyo…

  13. Thor, aku udah sampe capter 3, untuk dapet pw chapter 4 gimana yaa? Aku suka banget sama ff nyaaa,beda dari yang lainn keren bangett bikin penasarann♡

  14. Wkwk, ga bisa bayangin karakternya Sehun disini, Bad boy bgt, beda sama wajah dinginnya.
    Di awal cerita malah kirain karakternya Sehun disini pendiem
    Trus juga penasaran sama konflik yang sebenarnya
    Bagus thor, lanjut terus oke 😀

  15. Kutunggu lanjutannya. Serius.
    Tapi aku mau min perhatikan tanda baca sama huruf besar kecilnya biar lebih greget ini kualitaa ceritanya. ♡.♡♡.♡

    사랑해요 아우터-님~
    후ㅏ이팅!!♡.♡

  16. Omooooo.. Napa si sehun itu. Padahal waktu sama aku dia baik-baik aja. Ish ish ish. Tak patut lahh. Kasian sang OC.(━▽━)/(━▽━)/

    Love it _(≥▽≤)/

  17. Daebakk eon..
    Sehun kok jahat banget ya? 😥 semoga Sehun cepet”sadar deh.. Kasian Hanna sama Luhan..

    Ditunggu chapter selanjutnya eon..
    😀

  18. Wahh, baru chapter 1 aja tapi udah keliatan complicated banget yaa masalahnya,
    Kayanya ada masalah gede deh antara sehun sama ayahnya hanna.
    Menurutku, sehun punya alasan kuat deh kenapa dia bisa kaya gitu,,, eehh ini menurutku lohhh hehehe
    Fast update ya! Jjang1

  19. huwa huwa huwa sehunnya jahat banget yakk :((((
    btw, ditunggu chapter selanjutnya ya thorrr bagus banget ffnyaaa 🙂
    semangat author !!!!
    aku sampe comment dimana mana nih biar dpt pw trs baca kelanjutan ceritanya ToT

  20. Keren banget >< feelnya dapat pula meskipun aku rada – rada gimana gitu bacanya. Sehun jahat benget terus kenapa dia mau bunuh appanya Hanna? Baekhyun di sini belum muncul. Penasaran, ditunggu lanjutannya
    Keep writing ^^

  21. Ff ini sedih banget ksihan hanna sehun jahat ya semoga di chapther selanjutnya sehun udah jatuh cinta sama hanna amien…

  22. wahh part 1 nya aja udh bagus gmana part slnjutnya ya? hhihihii aku suka nih sma ff yg konflik batin kayak gini. lebih ngena gtu. ehm feelnya dpt bgt.
    kasian hanna disiksa terus. fisik maupun batin:((
    lanjut ya thorr.. 😉

  23. Memang nya ada masalah apa sih thor antara sehun dan appa nya hana?next chap nya jangan lama-lama ya thor udah kemal binggo nih

  24. Keren banget alur ceritanya dapet bgt fell nya,Sehun oppa sadis bgt kasian kan Hannanya, ditunggu ya thor kelanjutan ff nya annyeong 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s