WINGS – EPISODE III — IRISH’s Tale

altairish-wings-3

—  WINGS —

— Kai x Irene —

storyline by ALTAIR and IRISH; our winter collaboration project

action; adventure; fantasy; romance; school life

PG-17; chapterred

standart disclaimer applied

2016 © EXO Fanfiction Indonesia

[ Previous: Episode II ]  —  [ Clicked: Episode III ]

“Apa Vrogros tidak hanya membuat kekacauan di COEX dengan kita, tapi mungkinkah mereka juga membuat kekacauan di Claris?”

 “Hmm, mungkin saja begitu.”

“Omong-omong, Momo benar-benar kekasihmu, kan?”

EPISODE III

“Kau benar-benar murid Magus? Wah, aku masih tidak bisa mempercayainya.”

Taehyung tergelak mendengar ucapan Irene sekarang. Ekspresi gadis itu sungguh menunjukkan bagaimana terkejutnya ia. Sungguh, Irene sejak tadi sibuk menyebut-nyebut Taehyung sebagai murid dari kelas Azwraith, atau Crestfall karena melihat penampilan pemuda itu. Tapi ternyata dugaan Irene keliru.

“Ya, memang aku menguasai beberapa ‘aksi’ yang murid-murid Azwraith sering pamerkan, karena aku berlatih,” Taehyung terkekeh pelan sebelum ia mencondongkan tubuhnya ke arah Irene dan melanjutkan, “Murid-murid wanita pasti menyukai pria dari kelas Azwraith karena mereka kuat, bukan? Terkadang aku berpura-pura menjadi murid Azwraith untuk memikat wanita.”

Kali ini Irene yang tergelak. Alasan Taehyung terdengar sangat konyol di dalam pendengarannya, sungguh. Tapi, ya. Memang nyatanya murid-murid Azwraith seringkali menjadi buah bibir murid wanita. Irene sendiri tidak sekali dua kali mendengar nama ‘Kai’ tercetus dari murid wanita yang tidak dikenalnya.

Peristiwa di infernum sudah membuat Kai jadi seorang yang terkenal. Tidak hanya murid dari angkatannya saja, tapi para senior juga tahu siapa Kai. Banyak wanita yang menggembar-gemborkan bagaimana beruntungnya Irene karena diselamatkan oleh Kai. Sebagian kecil lain, tidak tahu—dan mungkin tidak ingin tahu—tentang siapa yang Kai selamatkan saat ujian dan hanya berfokus untuk memuji Kai saja.

Sikap heroiknya tempo hari memang berhasil menciptakan imej baru bagi pemuda itu di dalam benak Irene. Setidaknya Irene pikir, ia berhutang budi pada pemuda Kim itu. Kata orang, hutang budi harus dibayar sampai mati. Meski Irene tidak ingin berhutang sampai mati pada Kai, tapi ia juga harus memberi imbalan setimpal, bukan?

“Tapi tidak semua murid Azwraith itu menarik, kurasa.” Irene akhirnya berucap, anggap saja ia buang Kai dari jajaran murid tenar kelas Azwraith, akan muncul beberapa nama yang punya imej mengerikan juga dari kelas Azwraith.

Karena mereka punya kekuatan dan kemampuan untuk berperang, seringkali hal tersebut digunakan untuk memperluas kekuasaan dan lantas memamerkannya pada orang-orang. Dan Irene tak pernah menganggap murid-murid Azwraith semacam itu sebagai murid-murid keren, apalagi memikat.

“Mana mungkin,” Taehyung berkomentar, diseruputnya Americano yang ia pesan sembari menunggu Irene berkomentar.

“Sungguh. Kau pikir aku berbohong?” tanya Irene tidak percaya.

Taehyung menjawab dengan sebuah angguan kecil.

“Kau dekat dengan salah satu murid Azwraith yang banyak dibicarakan orang-orang. Hmm, Kai, namanya Kai bukan?” Taehyung berucap.

“Kau juga mengenal Kai?” kalimat itu lolos begitu saja dari bibir Irene.

Lantas, Taehyung memutar bola mata, seolah tidak terima karena Irene baru saja meremehkannya.

“Ayolah, sudah kubilang aku seorang murid Magus yang bisa tahu apa saja. Aku punya mata, telinga, dan mulut di seluruh penjuru Claris, Nona Bae.” Taehyung mengerling jahil pada Irene, membuat gadis itu sontak terkekeh geli dan menyarangkan pukulan kecil di lengan Taehyung.

“Mana ada kemampuan seperti itu,” gumamnya setengah menggerutu.

Alis Taehyung terangkat, lagi-lagi Irene meremehkannya. Memangnya Irene tidak tahu jika murid Magus bisa melakukan hal-hal tidak masuk akal?

“Aku bisa—”

KRIIIINGGG!

Baru saja Taehyung berkeinginan untuk menyahuti ucapan Irene, ia sudah dikejutkan oleh suara nyaring yang terdengar dari seluruh penjuru mall.

“Kebakaran, Irene, ayo keluar!” seolah paham benar keadaan yang mereka hadapi sekarang, Taehyung segera menarik tangan Irene untuk bangkit—karena gadis itu masih termangu dan berusaha meresapi apa yang terjadi—sebelum pandangan Taehyung mengelana, mencari pintu darurat.

“Apa maksudmu dengan kebakaran?” sementara mengikuti langkah Taehyung, Irene bertanya juga. Pertanyaan retoris sebenarnya, karena sudah jelas keadaan di sekitar mereka menunjukkan jika sesuatu yang buruk tengah terjadi.

Sebagai jawaban atas pertanyaan retoris tersebut, Taehyung hanya tertawa ringan.

“Aku tidak mengerti kenapa kau masih mempertanyakannya, Irene.” tutur Taehyung, sementara kini cekalannya di lengan Irene melonggar, dan bahkan—entah karena merasa telah menyentuh gadis itu seenaknya, atau karena alasan lain—Taehyung melepaskan cekalannya.

“Jalanlah duluan, Irene. Aku akan mengikutimu.” ucap Taehyung kemudian, memelankan langkahnya sementara Irene dengan cepat mendahului pemuda Kim itu. Mereka sekarang melangkah cepat mengekori gerombolan yang sudah lebih dulu berhasil melangkah melewati tangga darurat menuju lantai dasar COEX Mall.

Tumit Irene terasa sedikit nyeri sekarang. Agaknya, tumit gadis itu sekarang lecet karena ia terlalu cepat melangkah di ruang yang sempit. Belum lagi, tubuhnya juga berulang kali terhimpit oleh orang-orang yang tidak ia kenal.

Tidak, Irene tidak sedang berada dalam kepanikan meski ia sekarang berjalan dengan tergesa-gesa. Ia hanya terdesak oleh gerombolan yang terus mendorongnya dari belakang. Merekalah yang tergesa-gesa, padahal Irene yakin seratus persen keadaan yang mereka hadapi tidak semengerikan yang orang-orang bayangkan.

Well, mungkin Irene seorang yang berpikiran seperti itu. Karena meskipun ia terluka, ia bisa menyembuhkan dirinya sendiri, bukan? Berbeda dengan manusia biasa yang takut terluka dan juga takut mati.

“Tae—” Irene menghentikan langkahnya saat mereka sudah keluar dari pintu darurat. Kata yang sempat akan terucap keluar dari bibir si gadis kini tertahan di tenggorokan. Pasalnya, sosok Taehyung—yang Irene perkirakan ada di belakangnya—justru tidak tampak dimanapun.

“Kemana dia? Apa dia tertinggal di belakang?” kini kepala Irene melongok kesana-kemari, berusaha menerobos keramaian dengan kedua netranya sementara tungkainya masih berpijak di tempat yang sama.

Taehyung benar-benar tidak terlihat dimanapun. Dan Irene mulai merasa—

“Eh?”

—kebingungan. Ya, setidaknya Irene tadinya sudah panik mencari Taehyung ketika kemudian netranya menangkap bayangan yang sangat familiar. Dari pintu darurat lain di seberang tempatnya berdiri, ia bisa melihat dua orang pria berjalan cepat—hampir bisa Irene kategorikan sebagai berlari—keluar.

“Dia seperti Kai.” Irene menggumam, alih-alih mencari Taehyung ia justru berusaha menemukan bayangan dua pria tadi. Bedanya, kali ini tungkai Irene ikut bergerak. Ia bawa dirinya melangkah ke arah munculnya dua pria tadi, sementara ia masih berusaha menemukan dua sosok tersebut di antara keramaian.

Decakan kesal lolos dari bibir Irene ketika ia tidak berhasil menemukan apa yang ia inginkan. Langkah gadis itu juga terhenti, sementara ia menatap berkeliling. Orang-orang masih berlarian panik, dan sebagian lain berdiri di dekatnya, menatap ke langit.

Tunggu.

Irene diam-diam ikut menatap ke langit, menyadari jika langit bukanlah subjek yang tengah dipandangi oleh sebagian besar orang yang sekarang ada di sekitarnya, bibir Irene kini ternganga.

Kobaran api terlihat dari lantai atas, entah lantai berapa Irene tidak sempat lagi berpikir jernih untuk menghitungnya. Yang jelas, kobaran api itu terlihat sangat mengerikan di mata Irene.

Tanpa sadar, tangan Irene menengadah. Kini, tidak hanya butiran salju yang jatuh ke telapak tangannya, melainkan titik hitam—abu dari kebakaran di atasnya—yang juga memenuhi udara.

Ya. Debu hitam dan putih sekarang beradu di udara, menciptakan nuansa sangat aneh sekaligus unik di kota Seoul, setidaknya malam ini.

Kembali pada kesadarannya, Irene menatap berkeliling. Sekali lagi memastikan keberadaan Taehyung, dan sedikit berharap bisa menemukan dua orang yang salah satunya mirip dengan sosok yang dikenalnya tadi.

Nihil. Irene tidak menemukan satupun yang ia inginkan. Malah, ia sudah dipaksa mundur oleh petugas kepolisian yang bergerak mengamankan area. Sirine dari mobil pemadam kebakaran juga terdengar mendekat. Irene tahu, ia seharusnya pulang karena tak ada hal menarik lagi yang bisa ia tonton di sini.

Meski demikian, pertanyaan masih memenuhi benak Irene. Sungguh, ia yakin benar sosok itu terlihat sama seperti—

“Kau pasti dari Seoul.”

—Kai.

Sunbae?” Irene membulatkan matanya, tersadar dari lamunan yang sedari tadi terus terulang dalam benaknya. Sudah dua hari berlalu sejak terbakarnya COEX Mall dan Irene belum mendapat kabar apapun dari Taehyung. Tambahan, Irene juga tidak mendengar kabar apapun dari Kai.

Ugh, sekarang Irene tidak tahu mana yang lebih membuatnya kesal. Taehyung yang tidak membalas pesannya tempo hari atau Kai yang sama sekali tidak ia ketahui kabarnya.

Sementara itu Nayeon, tampak memperhatikan Irene dan tingkah anehnya. Gadis Im itu tampil manis dengan mengenakan rok putih sebatas lutut dan balutan pakaian berwarna peach dari bahan wool. Nayeon kemudian membenarkan lengan jaket jeans biru tua yang ia kenakan sebelum akhirnya menggeret kopernya mendekat ke arah Irene.

Merasa jika Nayeon mungkin akan duduk di dekatnya, Irene akhirnya menggeser duduknya, menyisakan ruang kosong yang bisa—

“Aku tidak akan duduk di sebelahmu, Irene. Aku tidak suka terlihat berdekatan dengan hoobae.”

—Nayeon duduki.

Yah, ucapan Nayeon jelas menunjukkan pada Irene bagaimana Nayeon menjunjung tinggi asas senioritas yang dibanggakannya. Terbukti dengan bagaimana gadis itu lebih memilih untuk duduk di sudut terjauh gerbong dibandingkan duduk dengan teman sekamarnya.

Lagipula, memangnya Irene mengharap-harapkan Nayeon untuk duduk di sampingnya? Tentu saja tidak.

“Wah, kebetulan macam apa ini?” Irene tersadar ketika sebuah suara terdengar menyapa. Di ujung gerbong, berdiri seorang pemuda yang tadi sempat membuat Irene hanyut dalam lamunannya.

“Taehyung.” Irene menyapa, menyunggingkan sebuah senyum ramah pada Taehyung sebelum ia melongokkan kepalanya ke belakang Taehyung, siapa tahu dia bisa bertemu seseorang yang dikenalnya lagi.

Well, meski Irene tidak kenal banyak orang tapi kedatangan Nayeon dan Taehyung saja sudah jadi sebuah kebetulan yang cukup fantastis baginya. Mungkin juga, dua orang itu saling mengenal—meski kemungkinannya sangat kecil karena keduanya toh tidak saling melemparkan sapaan.

“Boleh aku duduk di sini?” atensi Irene segera beralih pada pemuda yang sudah berdiri di sebelahnya, menatap dengan senyum terpasang di wajah.

“Oh, tentu saja.” jawab Irene, mengambil tas yang sejak tadi bertengger di kursi kosong yang ada di seberangnya, mempersilahkan Taehyung untuk duduk di sana.

Akhirnya, Taehyung duduk di seberang Irene. Entah mengapa, Irene lagi-lagi merasa canggung karena kehadiran Taehyung kali ini nyatanya tidak juga membuat Irene bisa bicara dengan lancar.

Padahal, tempo hari mereka sempat membicarakan banyak hal yang bahkan belum selesai karena kebakaran yang terjadi.

Hey, Taehyung.” Irene menyapa, diiringi sebuah senyum ramah yang pikir Irene bisa mengurangi kecanggungan yang tercipta tanpa sadar di antara dirinya dengan Taehyung.

Umm, soal—”

“—Oh, ya, aku belum sempat membalas pesanmu hari itu. Maaf.” baru saja Irene berusaha membuka konversasi, Taehyung sudah lebih dulu memotongnya.

“Ah, ya, tidak masalah.” akhirnya Irene mengangguk-angguk paham. Lagipula, dia tidak perlu merasa tersinggung karena Taehyung tidak membalas pesannya, bukan?

Pikir Irene, mungkin Taehyung punya kesibukan lain yang lebih penting dan mendesak dibandingkan dengan membalas pesan darinya. Bukannya merasa kesal, Irene justru merasa lega karena setidaknya pemuda Kim itu berinisiatif untuk membahas perkara pesan tempo hari.

“Bagaimana liburanmu?” sebuah tanya diutarakan Taehyung. Terdengar sedikit konyol memang, karena nyatanya mereka tidak benar-benar berlibur karena pengumuman mendesak yang didapatkan.

Tapi setidaknya, Irene sendiri menghabiskan beberapa hari dengan menyenangkan. Tidak sepenuhnya, tentu saja.

“Ya, cukup menyenangkan, kurasa. Aku pergi ke beberapa tempat untuk berlibur.” Irene menyahut, diam-diam dia merasa tenang karena tidak harus memikirkan bahan pembicaraan apapun, Taehyung selalu berhasil menemukan topik yang bagus.

“Oh, ya? Wah, kau ternyata sempat menikmati liburan, aku jadi iri.”

“Kau tidak berlibur?” Irene kemudian bertanya, dipandanginya Taehyung dengan tatapan sarat akan rasa kasihan, pikirnya Taehyung benar-benar tidak bisa menghabiskan liburan selama beberapa hari ini.

Melihat ekspresi Irene, Taehyung akhirnya terkekeh geli.

“Aku hanya bercanda, Irene, kau pikir aku tidak bersenang-senang selama beberapa hari ini?” tanyanya dengan tawa yang masih terselip di antara untaian kalimat tersebut.

Irene sendiri mengerjap tidak mengerti. Agaknya, Irene sedikit kesulitan menarik kesimpulan dari kalimat Taehyung yang sebenarnya bermakna cukup lugas.

Pemuda itu juga bersenang-senang.

“Jadi, sebenarnya kau berlibur atau—” kalimat Irene terhenti ketika dilihatnya seseorang berdiri di luar gerbong.

Irene juga sadar, jika sejak ia memulai konversasi dengan Taehyung tadi, kereta ternyata sudah membawanya ke destinasi lain. Tapi kali ini, Irene tidak terhenti karena sadar kereta mereka sudah berjalan, melainkan karena sosok yang dilihatnya di luar gerbong adalah seseorang yang sangat dikenalnya.

Sedikit berharap-harap cemas, Irene toh berharap jika Kai akan berbelok ke gerbong tempatnya sekarang duduk meski Irene tahu, tidak banyak kursi kosong yang tersisa.

“Kai.” cicitan pelan itu lolos dari bibir Irene kala sosok tersebut benar-benar masuk ke dalam gerbong.

Ya, Kai memang masuk ke dalam gerbong yang sama dengan Irene, bersama dengan beberapa orang murid lainnya yang langsung duduk di kursi kosong yang ada di gerbong. Irene sendiri masih terpaku, menatap Kai yang berdiri di ujung gerbong dengan setelan serba hitam yang memesona.

Sepersekian sekon, Irene sempat terpaku melihat penampilan Kai yang di matanya terlihat begitu mencolok—ralat, sebenarnya Irene rasa kali ini Kai benar-benar terlihat tampan. Tapi deru mesin kereta yang terdengar kemudian menyadarkannya. Pemuda Kim itu agaknya juga merasa jika pertemuannya dengan Irene di gerbong ini bukanlah sebuah kebetulan melainkan sebuah takdir.

Diuntainya langkah mendekati gadis itu tanpa sadar jika si gadis tidak duduk sendirian—mengingat Taehyung duduk di sisi sebelah dalam kursi yang letaknya membelakangi Kai—dan memahami kemana Kai akan pergi, Irene sontak bangkit dan berdiri.

“Kai, kau bisa—” tawaran konyol hampir saja Irene utarakan ketika dia sadar bahwa Taehyung tengah menatap ke arahnya. Mungkin, pemuda itu sadar jika Irene sempat melupakan eksistensinya karena kemunculan Kai.

Menyadari orang ketiga yang sudah lebih dulu muncul di antara dirinya dan Irene, Kai agaknya tak bisa untuk tidak menyembunyikan ekspresi dongkolnya. Rahang pemuda itu segera terkatup rapat, sementara lengannya bergerak menepuk bahu Irene.

“Duduklah.” ucap Kai kemudian, ditahannya usaha Irene untuk mempersilahkannya duduk di sana, bertiga.

Tolong, bagi Kai, kemarin-kemarin tak ada hal yang lebih mengesalkan selain celotehan nonstop Irene. Tapi sekarang, entah mengapa keberadaan murid pria yang disadarinya duduk bersama Irene sepanjang perjalanan tadi adalah sumber kekesalan yang lain.

Melihat Irene yang masih membeku, Kai kemudian mendorong pelan bahu gadis itu—memaksanya duduk di kursi sementara Kai sendiri memandang sekeliling, berharap jika mungkin ada kursi lain yang masih kosong—sebelum akhirnya pemuda itu menghembuskan nafas panjang.

“Tapi Kai, sebentar lagi kereta akan—

“—Aku tahu. Sebentar lagi kereta akan berjalan. Jadi duduklah dan jangan menkhawatirkanku. Kau tidak mau jadi orang buangan, bukan?” Kai memotong ucapan Irene, pemuda itu tentu tidak mau jika Irene mengutarakan kalimat konyol yang sama seperti saat itu.

Dan tentu, Irene sekarang mengingat jelas bagaimana dirinya dulu mengenal Kai karena kepercayaan yang Irene dengar tempo hari. Herannya, bagaimana bisa pemuda Kim itu masih mengingat hal yang sama?

~

Kalau ada murid di Claris yang pernah bicara soal murid buangan karena tidak mendapat kursi di gerbong kereta, maka hari ini agaknya sebuah sejarah baru akan tercipta di Claris.

Pasalnya, seorang Kim Kai jadi satu-satunya murid yang berdiri di tengah gerbong sepanjang perjalanan mereka menuju Claris. Setelah usahanya mencari kursi kosong di gerbong gagal, dan harga diri juga menekannya untuk tak mengalah pada Taehyung dan tidak memilih untuk duduk berhimpitan dengan Irene atau Taehyung, Kai akhirnya memilih untuk berdiri sendirian di sudut terjauh gerbong.

Dua tas besar diletakkannya di dekat kaki, sementara sebuah ransel hitam dijadikannya sandaran ke pintu gerbong, manik pemuda itu sejak tadi lekat tertuju pada dua orang yang hari ini sudah berhasil merusak moodnya tanpa alasan yang jelas.

Irene, tampaknya sudah lupa benar kalau beberapa menit lalu dia menaruh kekhawatiran pada Kai dan tak ingin pemuda itu berdiri sendirian untuk kemudian berubah menjadi orang buangan di Claris. Nyatanya, gadis itu sekarang sibuk bercengkrama dengan murid lain di depannya—seseorang, ingatkan Irene untuk memperkenalkan Taehyung nanti pada Kai.

Meski tak bisa mendengar pembicaraan apa yang terjadi, tapi Kai setidaknya bisa melihat bagaimana Irene sesekali terkekeh geli—dan bahkan menyarangkan pukulan kecil di lengan lawan bicaranya.

Kalau saja Kai tidak ingat harga diri dan alasan menggila tak masuk akal yang sekarang membuatnya merasa kesal, mungkin pemuda Kim itu sudah mendatangi Irene dan menarik si gadis untuk berdiri bersamanya, atau setidaknya menyingkirkan Taehyung dengan cara apapun.

“Astaga! Kau lucu sekali, Taehyung-ah.”

Jadi, namanya adalah Taehyung? Diam-diam Kai membatin kesal. Suara Irene kali ini terdengar agak keras karena mereka tengah melewati ladang hampar yang kosong, dan juga, tak banyak konversasi yang tercipta di gerbong.

Kecuali pembicaraan bernada rendah yang muncul dari beberapa orang di sana tentang Kai yang berdiri di gerbong.

Oh, tentu Irene sebenarnya hanya memaksakan diri untuk terlihat nyaman. Gadis itu tentu bukan gadis bodoh, yang tidak paham—dan tidak sadar—jika sedari tadi manik Kai terus mengawasinya.

Bisa dibilang, mereka sebenarnya tidak sedang ada di dalam situasi yang kaku, atau dingin, tapi Irene merasa seolah ia berbuat kesalahan sampai-sampai Kai menghadiahinya tatapan seperti itu.

Dan demi Tuhan, tiap kali pandang Irene bertemu dengan Kai, gadis itu ingin mengumpat saja lantaran jantungnya yang bekerja tidak normal karena netranya menangkap paras pemuda itu.

Ugh, kalau saja Irene punya kemampuan lebih selain menyembuhkan seseorang, mungkin dia ingin mengomel pada jantungnya saja. Tapi tidak, rasanya bukan Irene seorang yang mengalami keadaan seperti sekarang ini.

Jika Irene perhatikan lagi, beberapa orang gadis di gerbong yang sama dengannya juga beberapa kali sempat melempar pandang pada Kai.

“Kenapa kau melamun?” atensi Irene kembali berhasil direnggut oleh seorang Kim Taehyung saat pertanyaan itu terlontar.

Bukannya Irene tak lagi merasa nyaman karena duduk bersama Taehyung sedangkan Kai berdiri sendirian di sudut sana. Bukan juga salah Irene kalau Kai tidak duduk, Irene cukup yakin tadi ada beberapa kursi kosong yang ada di sana, jika saja Kai memilih untuk duduk.

Tapi pemuda itu berdiri atas keinginannya sendiri. Oh, bolehkah Irene sekarang merasa sedikit percaya diri? Bagaimana jika ternyata Kai ingin duduk di dekatnya?

“Irene?”

“Ah, ya?” tanpa sadar Irene menyahuti ucapan Taehyung dengan sebuah senyum terulas, hal yang—tanpa Irene sadari, tentu saja—membuat Kai melengos, memilih untuk menatap jalanan di luar sana yang bergerak begitu cepat—yang artinya Kai sebenarnya tak bisa menikmati pemandangan apapun di sana—daripada memperhatikan konversasi membosankan lainnya yang bisa dilihatnya.

Irene sendiri, tanpa sengaja melihat sikap pemuda Kim itu dan lagi-lagi berpikir jika ia telah berbuat salah—meski ia tidak tahu dimana letak kesalahan itu sebenarnya—dan akhirnya, meski dengan senyum yang dipaksakannya, mau tak mau Irene harus berbalas kata juga dengan Taehyung.

“Irene, kau melamun lagi?”

~

Tak ada kesempatan bagi Irene untuk bicara pada Kai setelah mereka sampai di Claris. Pemuda Kim itu sudah lebih dulu keluar dari gerbong—meninggalkan Irene sendirian—sementara Taehyung juga tampak tidak ambil pusing dengan kesendirian Irene.

Harusnya, menurut Irene Taehyung bisa saja menawarkan bantuan padanya, atau mnimimal menawarkan diri untuk menemani Irene sampai ke asrama. Tapi yang terjadi justru sebaliknya. Begitu mereka sampai di Claris, Taehyung justru tanpa ba-bi-bu lagi mengambil barang-barangnya dan meninggalkan ucapan ‘sampai jumpa’ pada Irene.

Ugh, tahu begitu Irene lebih memilih untuk berdiri saja bersama Kai supaya bisa berbicara lebih banyak dengan pemuda itu daripada menontonnya berdiri sepanjang perjalanan.

Tapi tunggu, bukankah Irene sekarang harus membuktikan hipotesanya? Apa Kai akan menjadi orang buangan karena ia tadi berdiri di dalam kereta?

“Wendy, menurutmu—”

“—Irene, kau tinggal di Seoul bukan? Apa kau tidak mendengar berita apapun tentang kebakaran yang terjadi di COEX?” baru saja Irene berusaha memulai konversasi tentang Kai—dan kemungkinan bahwa pemuda itu akan jadi orang buangan—Wendy justru lebih dulu memulai.

Umm, ya. Aku tinggal di Seoul—dan sebenarnya, aku ada di COEX Mall saat kebakaran itu terjadi—tapi aku tidak mendengar berita apapun. Memangnya kenapa?” dasarnya, Irene memang begitu mudah dipengaruhi, sehingga gadis itu tidak merasa kesal atau marah jika seseorang berusaha membelokkan arah pembicaraan yang sebenarnya dia inginkan.

“Kau ada di sana?!” agaknya Wendy sekarang tengah terpekik, karena tiba-tiba saja nada bicara gadis itu naik setidaknya dua oktaf, saat mendengar bagaimana Irene menjelaskan keberadaannya di COEX tempo hari dengan tenangnya.

“Kau melihat kebakaran itu?” pertanyaan lain tiba-tiba saja meluncur, dari bibir Nayeon yang sejak tadi menyibukkan diri menata barang-barangnya di lemari.

“Ya, tapi kenapa? Memangnya ada apa dengan kebakaran itu?” Irenne kini mendesak Wendy, seolah tahu jika gadis Son itu pasti punya banyak issue yang bisa dia sampaikan setidaknya pada Irene—jika Nayeon tak mau mendengar.

“Oh, benar. Aku pasti belum bercerita padamu tentang apa yang sudah kudengar dari anak-anak. Nayeon sunbae, kau juga ingin mendengarnya?” sempat Wendy memberikan tawaran pada gadis Im itu sebelum dia menatap Irene dan Nayeon bergiliran, menunggu.

“Terserah kau saja, aku sudah mendengar beberapa gosip yang ingin kau bicarakan.” Nayeon menyahut acuh, dan sahutan gadis itu agaknya sudah menjadi sebuah alarm bagi Wendy untuk memulai ceritanya.

“Baiklah, Irene, dengarkan aku. Saat di kereta, aku mendengar banyak desas-desus aneh tentang kebakaran itu. Dan kau tahu apa? Ada yang mengatakan kalau kebakaran itu terjadi karena orang-orang dari Vrogros.” penuturan penuh keyakinan yang sekarang Wendy ucapkan, entah mengapa justru membuat Irene menahan sebuah tawa kentara.

Bagaimana tidak, sekarang Wendy terdengar sama persis seperti ibunya saat wanita paruh baya itu baru selesai menonton film horor dan kemudian mencurigai semua hal di rumah sebagai benda-benda yang sama persis seperti dalam film.

“Astaga, Wendy, kupikir gosip apa yang ingin kau bicarakan. Kebakaran itu karena kecelakaan, asal kau tahu. Lagipula, ceritamu akan lebih meyakinkan jika kau katakan kalau di sana ada beberapa orang Vrogros yang muncul.” sahutan dari Irene sekarang justru membuat Wendy bersungut-sungut.

Aneh, tidak biasanya Irene bisa menolak argumen tidak masuk akal seperti ini. Ya, tapi mau bagaimanapun, Irene juga bisa berpikir logis. Tentu saja, keadaannya tentang—

“Oh!” tiba-tiba saja Irene tersadar, kalau boleh, dia malah ingin menarik ucapannya kembali. Ingatannya samar-samar kini berputar pada pemandangan cukup mencurigakan yang sempat ditangkapnya sewaktu dia berada di COEX.

Kai. Gadis itu cukup yakin dia melihat seseorang yang terlihat mirip dengan Kai di sana. Tapi sampai saat ini gadis itu belum bisa memastikannya.

“Ada apa?” tanya Wendy melihat ekspresi terkejut yang sekarang terpasang di wajah Irene.

“Tidak, kupikir aku harus menemui seseorang.” Irene menggeleng pelan, sementara ia sibuk mencari mantelnya yang tadi sudah dia lemparkan entah kemana.

Sekarang, Irene ingat benar apa tujuannya menemui Kai, ia ingin bicara pada pemuda itu dan menuntut kejelasan tentang rasa penasaran yang mengganggunya.

“Kau mau kemana? Tidak ingat kalau kita harus ada di aula?”

Langkah Irene mendadak terhenti saat mendengar Nayeon bicara. Bukannya Irene merasa takut pada gadis itu, tapi dia juga baru ingat kalau mereka hanya punya waktu beberapa jam di asrama sebelum diperintahkan untuk berkumpul di aula saat jam makan malam tiba.

Memang, Irene tidak tahu agenda apa lagi yang akan didapatnya dari pengumuman malam ini, tapi keinginannya untuk bertemu Kai sekarang sudah begitu mendesak.

“Aku hanya akan keluar sebentar saja.” akhirnya Irene memutuskan, diuntainya langkah menuju langkah sebelum ucapan Nayeon lagi-lagi menghentikan usahanya.

“Kalau kau mau bertemu seseorang, mengapa tidak bertemu saja di aula? Bukankah dia juga akan pergi ke sana?”

Ah, benar. Irene kini tersadar, kalau Kai pasti akan datang ke aula juga. Setahu Irene, Kai memang seorang yang terkesan cuek pada peraturan, tapi pemuda Kim itu belum terlibat dalam pelanggaran apapun—kecuali dalam ujian itu tentu saja.

“Memangnya kau mau bertemu dengan siapa?” pertanyaan lain diutarakan Wendy, karena rasa penasaran, dan ketidak mengertian.

Tentu saja dia tidak mengerti, bagaimana dua kalimat yang Nayeon ucapkan berhasil mengikis keinginan Irene yang tadinya terlihat begitu yakin untuk keluar dari kamar.

“Kai,” Irene menjawab pasti, dan sekon kemudian Nayeon terlihat menyunggingkan senyum samar. Pastinya gadis itu sudah menduga tentang ‘siapa yang akan ditemui’ Irene ini. Dan herannya, Irene bisa mengutarakan nama itu dengan cukup lantang.

“Jangan katakan kalau kau mau memeriksa keadaannya karena apa yang terjadi di kereta tadi. Kau mau melihat apa dia jadi orang buangan di sini bukan?”

Ya, sebenarnya, poin utama yang ingin Irene ketahui adalah itu.

~

“Aku benar-benar tidak tahu, Kyungsoo. Dan juga, bukan aku yang menciptakan api itu.” dua kalimat meluncur dari bibir Chanyeol, sebagai pembelaan atas pertanyaan menyudutkan yang baru saja diterimanya dari teman sekamar yang lain, Kyungsoo.

Harusnya, sekarang mereka ada di aula untuk mendengarkan pengumuman dari Claris tentang alasan yang membuat mereka dipaksa kembali ke sekolah saat mereka bahkan belum menghabiskan waktu satu minggu untuk berlibur di musim dingin.

Tapi Kai dan Chanyeol justru ditahan oleh Kyungsoo, karena kecurigaan—dan sebenarnya, dugaan yang cukup tepat sasaran—dari pemuda Do itu.

Chanyeol ingat benar, bagaimana pemuda Do itu mengutarakan pertanyaan cukup mengejutkan ketika mereka masuk ke dalam kamar.

“Apa yang sudah kau lakukan?”

Dan tentu saja, Kai memilih untuk bungkam. Karena sesungguhnya masalah yang mereka hadapi adalah masalah Chanyeol—yang sampai detik ini belum juga ingin diceritakannya pada dua orang yang diam-diam telah berstatus sebagai sahabatnya—tapi tidak juga berusaha disembunyikannya.

Seringkali, Chanyeol menyelinap keluar dari kamar—padahal mereka baru beberapa hari menjadi murid di Claris—dan saat Kyungsoo menangkap basah tindakan ilegal itu, dia berkata kalau menyelinap di malam hari dilakukannya karena ada ‘urusan keluarga’ yang mendesak.

Bukan hal sulit bagi Kyungsoo untuk menarik kesimpulan tentang masalah keluarga yang Chanyeol bicarakan dan penyerangan—juga ledakan—yang terjadi di COEX Mall hingga membuat semua murid Claris ditarik kembali ke sekolah.

Ada yang salah, Kyungsoo tahu itu.

Tapi semua fakta yang dikumpulkannya masih menjadi mozaik-mozaik kecil yang tak juga bisa didefinisikannya menjadi sebuah kesimpulan. Yang ada, dia semakin dibuat bingung karena keterangan sepenggal-sepenggal yang diberikan dua orang informannya, Kai dan Chanyeol.

“Jadi, Kai, kenapa kau harus membuat kebakaran seperti itu?” kali ini pertanyaan Kyungsoo ditujukannya pada pria Kim yang sedari tadi asyik membaringkan tubuh di atas kasur tanpa mau ikut campur pada konversasi serius yang ada di ruangannya.

“Untuk melindungi diri, tentu saja. Mana aku tahu kalau api itu akan berubah menjadi ledakan yang menghancurkan Mall?” nah, pembelaan Kai sekarang juga terdengar separuh benar, meski caranya salah, tapi dia hanya berusaha melindungi diri dari serangan.

Hanya saja, baik Kai maupun Chanyeol sama-sama menutup mulut dan enggan memberitahu Kyungsoo tentang bagaimana keduanya sempat dibawa ke dimensi kehidupan lain sebelum keduanya sadar kalau mereka sudah dibawa kembali ke dunia nyata.

Satu hal yang jadi pertanyaan di benak Kai sekarang, apa dia benar-benar sosok yang bertanggung jawab atas kebakaran yang terjadi? Karena sebenarnya, Kai cukup yakin kalau dia tidak mengeluarkan serangannya saat mereka ada di dunia nyata.

“Kalian berdua berhutang penjelasan padaku.” Kyungsoo berucap dengan penuh penekanan. Meski dia tidak tertarik untuk ikut campur dalam masalah keluarga yang Chanyeol hadapi, tapi Kyungsoo punya firasat jika masalah Chanyeol ini akan membawa masalah lain yang justru berdampak lebih besar pada Claris.

Menyerah pada sikap bungkam keduanya, Kyungsoo akhirnya hanya bisa menggeleng pasrah. Ditarik dan dihembuskannya nafas panjang sebelum pemuda itu bangkit dan melirik dua orang sahabatnya bergiliran.

“Sungguh. Aku akan menagih penjelasan kalian setelah makan malam.”

~

Kai!”

Pekikan familiar itu segera menyapa rungu Kai ketika pemuda itu melangkahkan kaki sepanjang koridor menuju aula. Sempat, langkah Kai terhenti, sementara netra pemuda itu menatap sekeliling, mencari-cari sumber suara yang nyatanya tidak ada.

Oh, apa baru saja Kai berilusi tentang suara gadis berparas cantik itu?

“Kenapa denganmu?” pertanyaan itu menyadarkan Kai dari kegiatan monoton yang dia lakukan barusan—menggeleng-geleng tak percaya sementara dia lupa kalau dirinya tengah bersama dengan dua orang teman sekamarnya.

“Tidak ada,” lekas Kai menyahut, ditepuknya bahu dua temannya itu bergiliran, sebelum ia sendiri memberi isyarat pada dua orang itu untuk kembali melangkah.

Diam-diam, Kai mencuri pandang satu kali lagi, ingin memastikan kalau dia benar-benar berilusi tentang suara si gadis. Tapi yah, agaknya kali ini Kai memang tengah berilusi. Karena nyatanya, gadis itu tidak ada dimanapun.

Jangankan keberadaan Irene, Kai dan Chanyeol—juga Kyungsoo, teman sekamarnya—adalah tiga orang tersisa yang belum masuk ke aula. Samar-samar, bisa Kai dengar suara pembicaraan pelan dari dalam ruangan yang pintunya terbuka sedikit di ujung koridor tempatnya sekarang melangkah.

Sesekali terdengar suara mengeluh tak setuju, tapi tak ada kalimat jelas yang bisa masuk ke dalam pendengaran pemuda Kim itu.

Setibanya dia di aula, Kai sadar kalau dia dan dua temannya baru saja menjadi sebuah highlight di tengah pertemuan lantaran mereka jadi tiga orang terakhir yang datang—terlambat, tentu saja.

Bukannya menyibukkan diri untuk mencari kursi seperti yang dilakukan Chanyeol dan Kyungsoo—yang sekarang sibuk melongokkan kepalanya ke kiri dan kanan mencari celah kosong di tengah lautan murid baru Claris—Kai justru sibuk mencari keberadaan seseorang.

Ya, Irene adalah sosok itu.

Agaknya, Irene juga sudah sibuk mencari-cari Kai di tengah lautan murid saat dia akhirnya dengan jelas melihat pemuda Kim itu berdiri di ujung pintu aula. Butuh beberapa sekon lainnya bagi Kai untuk menyadari bahwa gadis Bae itu tengah memandang ke arahnya saat sekon kemudian pandang mereka bertemu.

Secercah senyum sempat Kai selipkan di wajah saat sadar jika gadis itu juga tengah mencari-cari keberadaannya. Tapi segera Kai telan senyum itu kembali saat Irene dilihatnya hendak bangkit dari tempat duduknya.

Gelengan kecil Kai berikan pada Irene saat gadis itu hendak mengambil langkah. Well, Kai tahu gadis itu sudah menahan diri dan ingin bertemu dengannya. Bukannya Kai percaya diri, tapi dia bisa memahami.

Dan sejujurnya, pemuda itu juga sangat ingin bertemu dengan Irene. Buktinya, dia sampai berilusi tentang Irene yang memanggilnya tadi.

Tapi tunggu, bukankah tujuannya ke aula bukan untuk menemui Irene saja?

“—Jangan lupa, Ezalor Muda. Siapkan diri kalian akhir bulan depan. Karena di uji semester ini, semua kelas akan diuji secara bersama-sama apapun tingkatan mereka. Tidak peduli kalian akan melawan senior, kalian harus mempersiapkan diri.”

Tunggu. Apa yang sekarang sudah Kai lewatkan?

tbc

~

~

~

ALTAIR’s Fingernotes:

Well, agak kurang sreg ya sama episode 3 ini (Irish: apa ini karena kita kebanyakan perang?). Emang disini itu banyak sedikit kebingungan. Tapi kami berdua berusaha menyeimbangkan beberapa alur. Mungkin banyak yang bakal engga ngerti pada awalnya tapi poin utama dari ep ini adalah kurikulum Claris di percepat. Tahu kelas akselerasi? Ya, semacam itu, cuma bedanya satu sekolah, bukan satu kelas doang. Dan disini juga udah mulai keliatan perasaan KaiRene dan juga siapa yang bakal ganggu mereka ya kan? Wkwk

~

IRISH’s Fingernotes:

Sesungguhnya, ada banyak yang mau ane ketik di sini. Utamanya, tentang gimana ane yang selama dua bulan terakhir terlibat perang-jungkir-balik sama Al, huhu. Tau enggak kalo karena kesibukan ane jadi nyuekin Al—sekaligus ngebuat publish Wings jadi kepending—dan semalem si Al semacem murka, gitu (sebenernya udah beberapa kali dia murka tapi ane melarikan diri). Dan ane jadi merasa sebagai pendosa, lebih merasa berdosa daripada demen sama om-om yang seumuran emak, greget kan ya.

Sempet, saking sebelnya, si Al bilang Wings dihiatusin dulu tapi ane ogah, ntar kalo si Al ilang gimana? Kan dosa ane menumpuk, padahal ane engga punya kupon diskon dosa T.T

Yang paling greget itu, insiden sakitnya Violet yang ane sembunyiin, kan ane semakin merasa jadi orang enggak bertanggung jawab ya karena kejar-kejaran sama deadline, huhu.

Dan sesungguhnya semalem Al sempet betmut (sampe banget ga, Al? Enggak kan ya) gitu, lagi-lagi ane merasa berdosa. Ane sampe dapet goldenways dari Al yang umurnya aja bulan depan baru jadi tujubelas. Bayangkan betapa nistanya diri ini… /ambilwudhu/ /ambil tayamum/

Mungkin setelah ini ane kudu beli kupon diskon dosa…

Dan kemudian, masih ada banyak kata yang pengen ane tuliskan tapi takut operdosis :” jadi cukup sekian, deh. Maapkeun daku, sesungguhnya publishnya ep. 3 ini molor karena daku :”

Al, maapkeun diriku yang udah jadi kakak enggak bertanggung jawab yang kelakuannya gak patut dicontoh. Semoga ente masih dikasih kesabaran sama Tuhan YME buat ngehadepin ane. Maaciw karena udah bersabar selama dua bulan. Sini ane peluk sampe sesek napas :””

EH BTW INI JADI 5000 KATA. WKWK. LOL.

~

~

~

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

42 thoughts on “WINGS – EPISODE III — IRISH’s Tale

  1. Baru aja di eps sebelumnya daku tanya reaksi orang2 di COEX. Ternyata gedebak gedebuk rusuh gitu ye. Si Momo gk muncul? Padahal penasaran jadi siapa dia disini. Tapi bukan pacarnya Kai deh kayaknya. Kak Al (btw tuaan Al 9/10 bulan) daku kagum pada dikau *apaansehh
    Jarang loh author cowok bikin cerita se emejing ini. Masuk banget deh jadi author favorit aku. Dan kenapa klo baca author note kak Irish selalu aja bahas kak Al yg ngambek lah, betmut, keliatan bangey ababil nya yekan? wkakaka

  2. Ping-balik: WINGS – EPISODE IV — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  3. Akhhh.. Gemes sama kelakuannya Irene, Kai jga ishh cuek tapi peduli banget sama irene. Taehyung emang cocok buat orang ketiga haha..
    Kelakuannya kyungsoo kayak detektif.
    Kwkwkwkw.. saking senengnya liat Irene Kai ampe lupa dengerin pengumuman.

    D tunggu kelanjutannya😆😆😆
    Stay health!! Yang akrab sama Am ya haha

  4. Irene ma kai cepeet pacaran donk kebelet mau liat(?) mereka pacaran aaakkkkkkhhh
    makin penasaran ma alur ceritanya misterinya banyak bangeeet momo juga belum muncul
    Munculin momo donk kak hehe sama banyakin scene kai x irene nya donk hehe
    Semangat kak 💪💪💪🙆🙆🙆

    • 😄 masih lama dan masih banyak perjuangan mereka ini 😄 wkwkwkwkwkwkwkkwk momo nanti muncul insya Allah /tanya ke Al ae kapan Momo muncul bikos ane udah lupa/ thanks a lot komennya 😄

  5. Lama2 kok si taehyung jdi sosok misterius sih. Keseringan ninggalin irene, terus balik lgi ke irene. Apa mungkin taehyung punya maksud lain? Apa taehyung jg mulai suka sm irene. Rasanya nge-fly sndiri liat kai cemburu irene brduaan sm taehyung. Next chapter ada apa hayo?? Gr2 kai cm fokus sm irene aja sih, jd greget kan. Ada pengumuman apa itu?? Ada hubungannya sm vrogos? Entahlah…
    Semangat kakak2..,kalo kalian masih perang dunia, mending berantemnya cepet2an buat next chapternya Wings aja, kan seru/😄/😅/🙇/🙏🙏/abaikanaja

    • Entahlah. Mungkin si Tae semacam siswa yang sebenarnya seorang debt collector? Mungkin aja😁. Wkwk, tolong ingatkan Kai kalo dia cemburu, kadang emang dia suka ga ngaku. Wkwk. Wkwk siap siap. Thanks for reading and please look forward to next episode😉

  6. EKHM
    FIRST OF ALL/PLAKK/BAHASANYA ALAMAK–/
    OKEH, POKOKNYA PERTAMA” ANE MAU MINTA MAAF AMA AL, BHUAKAKA. JAA YA ANE JANJI BACA INI? ANE LUPA SUMPAH, UDAH BEBERAPA HARI LEWAT DAN ANE BARU BISA BACA SEKARANG. WOKEH. IMI TERKESAN NYARI ALASAN, TAPI AL, CIUA DEH, PERCAYA SAMA EKI. ENTE GAK TAU RASANYA SETELAH ABSENT SEKOLAH SELAMA SEMINGGU LANGSUNG DISUGUHIN ULANGAN HARIAN, KERJA KELOMPOK DAN PR NUMPUK YG NGEBUAT ANE BEGADANG, DAN ANE JUGA LUPA INI UPDATE KARENA BEBERAPA EKI BLM CEK EXOFFI. LAH, ORANG TUGAS PRILEN AJA ANE BLM POST INI /PLAKK/😂
    SO, MAAPKEUN AL, ANE BAHKAN SADAR KARENA BARU AJA BACA JAPRI ENTE DAN BERHUBUNG GURU ANE BLM MASUK ANE BACA (*NASIB ANAK FULLDAY INI MAH –)

    KAK RISH, KOK AKU NGEKEK BAGIAN DEMEM OM SEUMURAN EMAK? KOK KITA SAMAAN? LIRIK OM GONGYOO AH/PLAKK/😂

    DAN DI CERITA INI ANE TAU, CY PASTI PUNYA RAHASIA, KELUARGA DIA PASTI ORANG BESAR INI, KALO GAK KELUARGA PENGKHIANAT/PLAKK/😂
    KAIRENE KOK GEMESIN GITU? ANE JITAK JUGA ENTE BERDUA BENERAN DAH —
    TAEHYUNG JAN JADI ORANG KETIGA AH, SAMA EKI AJA SINI/DIGAMPAR CY/NGAREP/😂

    WOKEH, INI GREGET KOKZ, SUMPAH. EKI TUNGGU NEXT CHAPNYA, DAN BUAT AL, INI UDAH FICLET PAN?/DIBALANG/😂

    • Siap aman. Wkwkwk. Selow ae dah wkwk. Mungkin aja si CY adalah keluarga diktator? Wkwk. Mau kaya KaiRene ente sama CY?😂😂😂😂 SIAP SIAP. Thanks for reading anyway and please look forward to next episode😉

  7. wah. akhirnya update juga. udah nunggu lama loh kak. hmm jd penasaran, jangan2 chanyeol itu dulunya satu komunitas sama vrogros. tp dia udah insaf duluan sambil membawa rahasia besar kaum vrogros. #mengarang
    semangat yak kak al dan kak irish, semoga tdk ada keterlambatan lagi 🙂

  8. alhamdulillah wasyukurillah bersyukur padamu ya allah~ kau jadikan kmren kmren ff wings update~ jadi aku bisa baca lagi~ aku maafkan atas keterlambatan update yang sebenarnya kaka kaka ini ga perlu ‘iya’ dari permintaan maaf kalian. dan entahlaah~. eak mppphiii gusti ganggu hubungan org ae. jan jadi pho lhaaa. jan jadi kek temen gua. masa temen gua ada yg pho-in pcr temennya sendiri dan dia gatau diri. okeh gua jadi curhat. nahloh si kai ngelewatin apaan? temsek sih mikirin irene mulu gua kali kali dipikirin elaaah~

  9. Akhirnya oh akhirnya up juga episode 3nya /terharu/ ceritanya udh ada rasa gejolak asmara kaya lagu nassar dia antara kai dan irene uwawawawawaw /abaikan juseyong/ 🙏🙏
    Semangat ngetiknya buat episode selanjutnya’^’)9

  10. Akhirnya share juga, setiap hari cek sejak tgl 15, hahahaha.
    Ini aku yg bacanya kecepatan apa emang pendek, berasa kurang, habis ngak ada moment irene-kai yg gimana gitu, hahahaha, masa mau moment terus, ngak kok bercanda. Gaya bahasanya itu loh yg aku suka bnget, mudah dipahami juga, ngalir seperti biasa fell nya, kerasa jadi irene. 😂😂😂 semoga di next part banyak moment yg bikin melinting, mereka itu lucu, bener2 karakter Kai, Irene, bahkan yg lain berasa beneran hidup. Baca berulang2 pun ngak bosen sambil nunggu lanjutannya. Kai itu ezalor yg tangguh, pinter, nah irene ini yg tar obatin kalau luka, kan pasangan yg wow. Kebawa terimakasih semoga. Hehehe terimakasih dah update. 😂

    • Ini menurut Al komen dikau paling membuat semangat dan senyum-senyum sendiri😂. Makasih sudah menunggu. Wkwk, ya aslinya untuk episode ini cuma sekitar 14 hal, kalau yang sebelum-sebelumnya lebih dari 15 halaman. Ini Al kasih tau aja kalo momen KaiRene itu dikit, tapi pas sekalinya ada langsung gigit jari 😂😂😁. Siap, tunggu aja ep selanjutnya, kita berdua berusaha sebaik mungkin hehe. Thanks for reading and please wait for next episode😉

      • Sip sip, di tunggu. Semangat!! Jaga kesehatan juga buat kk Irish sama AL, musimnya gini banyak orang sakit. 😂 jangan banyak berantem, banyak makan aja. 😂😂
        Btw update 2minggu kan setiap partnya, makanya aku cek mulu sejak tgl 15, hahahaha, tapi gpp, pengorbanan donk ya, buat ff aja ngak gampang kok, semangat pokoknya, next part beneran kai-irene moment yg bikin gigit jari. Pengen moment mereka. 😂😂

  11. Wuih~ akhirnya Wings apdet jugaa😂😂 heh Taehyung, lu sapa si? Jgn ganggu KaiRene yak, wks. Kok w jd curiga sm Tae? Apa dia Vrogros? Momo jg siapa? Dia pacarnya Kai to bukan? Aing penasaran huhuhu 😂 btw, cieh yg cemburu~ #toeltoelKai. Aing sama kyk lu kok, aing jg kesel krn Irene nyuekin lu demi seorang makhluk misterius yaitu Taehyung. Ya, walau sebenernya w suka sih. Hehe. Btw part 2, si ami Dyo serem ya hahaha :3 Udah deh, lanjut yaa Bang Al sm Rish-eon~~~ penasaran sm ntu uji semester, nasib KaiRene, Tae, sm Momo kkk. Udahin dong perang-jungkir-baliknya, wkwkwk~

    • Cie penasaran alahhhhh😂😂😂😂. Tunggu saja ep selanjutnya wkwk. Dikau sepertinya #teamKai ya? Hahaha. Tapi ente begimana jadinya suka yang mana? Wkwk, siapppp. Tunggu aja ya. Thanks for reading and please wait for next episode😉

  12. Akhirnya di update juga, udah lama nunggu nya.
    Sepertinya kai udah mulai sadar tentang perasaan nya bukti nya kai mulai cemburu irene dekat dengan taehyung dan taehyung yang akan ngganggu hubungan mereka.
    Kak, update nya jangan lama-lama ya.

  13. Syukaaa beudd loh ya kaa:*
    Kaka kakak v keknya misterius ya? Ngerasa curiga sama v. Yg mulai dia ngilang di mall, trus gabales pesannya irene. Ane curiga ni sama si emphi. Gasabar ngett.. Ngen tauk. hihi
    Goodlck ya qaqa muah. Jngan sering brantem” dongss ka *takutwings gakdilanjutin^^pisshehev

    • Wkwk. Baca terus WINGS makannya biar tau siapa si mphi sebenernya wkwk. Ya siap, semoga kak Rish baca ini wkwk. Thanks for reading and please wait to next episode😉

  14. Perasaan Kai masih diantara (cemburu) mulai suka atau emang ga suka manusia yang selalu cerewet padanya tertawa lepas dengan alien kim /ditabok/
    Atensi Kai sama kek ane ketika guru ngumpulin seluruh murid dan berceramah panjang, ane malah perhatikan doi sampe ceramah selesai. Cuma kalimat terakhir yang dengar 😂😂😂

    • Kayanya sama aja deh, soalnya si Kai udah panas orang yang sering bawel sama dia ga bawel lagi😂😂😂 Ternyata ente ga jauh beda sama si Kai ya? Haha. Thanks for reading and please wait to next episode😉

  15. Kyaaaaa~~~~ akhirnya setelah sekian lama di update juga. Kangen sama ff ini, kangen juga sama authornya/plak/:v tau ga, ff ini semakin keren, makin buat aku penasaran. Emang aku belum gitu ngeh, tapi daebak lah buat ff ini. KaiRene moment dibanyakin lagi ya kak. Eh tapi, aku masi penasaran sama momo, dia beneran pacarnya kai? Ciee, Kayaknya taehyung bakal jadi pengganggu KaiRene deh. Bener ga? Aku asal nebak hehe,, next chapter, i’m waiting you. semangat kakak,,,,!!!! Fighting.

    • Alah siah kangen sama authornya, author yang mana ini?😁😁😁 Biar ga penasaran stay tune aja ya wkwk. Thanks for reading and please wait for next episode😉

  16. kyaaaaa kai bikin gemes deh
    .. huehehe,, pke cemburu cemburuan irene duduk ma taehyung… toh akhirnya dy sndri yg kegerahan… *sini tak kipasin abang kai-nya… prsn emg kgk bsa dboongin sih klo kai udh demen ma irene… smpe berilusi dpnggil2 ma irene… jgn molor2 updateny donk ka irish… kasian Al ampe murka gtu… klo udh bli kupon diskon dosa,, jgn lupa dpke ya… wkwkwk

    • Iya nih, tolong spam ig ataupun twitternya supaya tidak molor huhu:” Yep, si Kai mulai puanas wkwkwk😂😂😂. Thanks for reading and please wait the next episode😉

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s