WINGS – EPISODE IV — IRISH’s Tale

altairish-wings-3

—  WINGS —

— Kai x Irene —

storyline by ALTAIR and IRISH; our winter collaboration project

action; adventure; fantasy; romance; school life

PG-17; chapterred

standart disclaimer applied

2017 © EXO Fanfiction Indonesia

[ Previous: Episode III ]  —  [ Clicked: Episode IV ]

“—Jangan lupa, Ezalor Muda. Siapkan diri kalian akhir bulan depan. Karena di uji semester ini, semua kelas akan diuji secara bersama-sama apapun tingkatan mereka. Tidak peduli kalian akan melawan senior, kalian harus mempersiapkan diri.”

EPISODE IV

Di sekolah berbasis asrama yang lain, mungkin acara makan malam jadi kegiatan menyenangkan dimana murid-murid bisa saling bertukar cerita tentang hari yang sudah mereka lalui—terutama karena mereka baru saja melewati satu liburan singkat.

Tapi kata santai itu seolah tidak ada di jam makan malam yang sekarang ada di Claris. Sungguh. Hampir semua murid—yang masih punya nafsu makan setelah melewati satu jam berisi ceramah, tentunya—terlihat makan dalam diam, tanpa niatan. Mungkin, perut mereka memang meronta kelaparan, tapi pikiran mereka tampaknya sudah enggan untuk digunakan berkegiatan apapun.

Irene sendiri jadi salah seorang yang makan dalam diam. Bukan main kekhawatiran yang sekarang meneror batinnya. Ujian dengan tiba-tiba sudah menghadang di depan mata, sementara menguasai kekuatannya saja Irene belum bisa.

Ugh, situasi buruk mana yang bisa menyaingi keadaan Irene sekarang?

“Aku bahkan tak bisa membayangkan hal buruk lain selain ujian.” tiba-tiba saja Wendy terdengar bersuara. Gadis itu tampaknya berbagi pemikiran dengan Irene. Sayang, Irene memilih untuk berdiam sementara Wendy tak bisa menahan diri untuk tak menguarkan rasa frustasi.

“Setidaknya aku sudah punya persiapan yang cukup.” kalimat berikutnya yang terlontar dari bibir Nayeon adalah teror lain yang sama mengesalkannya.

Bagaimana tidak, mereka tentu sama-sama ingat kalau ujian yang akan dihadapinya nanti ini adalah sebuah ujian terbuka dimana mereka bisa berhadapan dengan siapapun.

Untung-untung kalau harus berhadapan dengan teman satu angkatan yang sama-sama tidak tahu apa-apa. Bagaimana kalau harus berhadapan dengan senior yang sudah berada di tingkat atas? Bisa-bisa ujian mereka akan berubah menjadi skenario bunuh diri.

“Apa mereka berusaha menekan jumlah murid yang masuk ke Claris?” sebuah hipotesa akhirnya tercetus dari bibir Irene.

Memang, memikirkan kemungkinan apa saja yang mungkin akan jadi alasan di balik ujian mendadak ini, upaya menekan jumlah murid baru di Claris tampaknya bisa menjadi alasan paling logis.

Tapi bukankah mereka semua adalah orang-orang pilihan? Jika mereka saja tidak diterima di Claris, lantas bagimana mereka harus menjalani kehidupan mereka nantinya?

“Tidak mungkin.” setelah sepersekian sekon dua pendengar di hadapan Irene berpikir, akhirnya satu kesimpulan mereka utarakan hampir bersamaan.

“Kalau mau, mereka pasti sudah menolak kalian semua di depan gerbang.” Nayeon mengimbuhkan pendapatnya. Well, tak ada yang salah dari perkataan masuk akal yang baru saja Nayeon ucapkan, tapi mengapa Irene dan Wendy diam-diam justru merasa kesal?

“Lalu apa alasan yang kau pikirkan, sunbae? Mereka pasti tidak sekedar ‘mempersiapkan mental’ seperti yang dikatakan tadi. Kupikir mereka berusaha membunuh semua murid baru.” Wendy berkelakar.

Nayeon, terdiam sejenak—memperhatikan mangkuk serealnya tanpa minat—sebelum akhirnya ia mengangguk-angguk yakin.

“Memangnya kalian pikir semua murid baru tidak tahu apa-apa? Seperti di kehidupan normal, di sini juga ada segelintir murid yang tak tahu apa-apa. Kupikir, mereka akan lebih ketakutan daripada kalian.

“Lagipula, mempersiapkan mental Ezalor baru agaknya alasan yang cukup masuk akal. Bukankah kehidupan manusia sekarang telah berubah? Bagaimana jika tiba-tiba saja sesuatu terjadi di kehidupan manusia?

“Kita semua tidak mungkin memasang kalimat ‘belum siap’ saat hal terburuk itu terjadi, bukan?”

Wah, agaknya sekarang Nayeon sudah berubah menjadi si jenius yang baru saja membuka wawasan dua orang tak tahu apa-apa yang jadi pendengarnya. Well, bukannya Wendy tidak tahu apa-apa—semua orang hanya belum tahu bagaimana kebiasaan Wendy yang membuatnya jadi serba tahu—tapi penjelasan Nayeon mengenai kemungkinan terburuk yang kapan saja bisa mereka hadapi, memang benar adanya.

Tak ada yang bisa menduga-duga apa yang akan terjadi pada manusia di kehidupan yang akan datang. Bagaimana jika sesuatu tiba-tiba saja terjadi? Mana bisa Irene gunakan kata tidak siap saat kemungkinan terburuk itu benar-benar ia hadapi?

Baru saja, Irene membuka mulut—hendak melontar frasa untuk menyahuti ucapan Nayeon—atensinya sudah direnggut oleh dua orang pemuda yang melangkah masuk ke ruang makan. Jangan ditanya siapa sosok yang Irene lihat, salah satunya adalah Kai—tentu saja.

Oh, ingatkan Irene kalau dia sudah menyimpan ratusan kalimat untuk dilontarkan pada pemuda Kim itu, terutama soal insiden di gerbong yang sampai detik ini belum sempat dijelaskannya.

“Itu artinya aku harus menambah jam belajarku.” Wendy terdengar bersuara, tapi Irene tidak lagi menaruh ketertarikan pada topik pembicaraan mereka saat ini.

Bicara dengan Kai adalah prioritasnya sekarang.

Namun, seolah paham jika si gadis tengah mencari-cari dirinya, Kai rupanya tidak menaruh perhatian yang sama seperti Irene. Menyadari keberadaan si gadis—melalui kontak mata tanpa sengaja barusan—telah membuat Kai kehilangan nafsu makannya.

Ingatan tentang bagaimana gadis Bae itu tadi tertawa bersama Taehyung di kereta berhasil mengenyangkan Kai tanpa sadar. Pemuda itu bahkan tak segan mengalihkan pandang dari Irene yang sejak tadi memasang raut harap-harap cemas.

“Kai, apa yang kau tunggu? Ayo ma—”

“—Aku kehilangan nafsu makan.” Kai tiba-tiba saja memotong.

Kalimat pemuda itu berhasil memancing sebuah kerutan di dahi pemuda di sebelahnya. Si pemuda—yang merupakan teman sekamar Kai lainnya, Kyungsoo—menatap tak mengerti, pasalnya beberapa menit lalu Kai lah yang jadi oknum pencetus ide ‘makan malam’ tapi sekarang pemuda itu juga yang kehilangan nafsu makan.

“Lalu untuk apa kita ke sini?” tanya Kyungsoo kemudian.

“Kau makan saja, hyung. Aku akan kembali ke asrama.” ucap Kai kemudian, mengabaikan tatapan tak mengerti dari Kyungsoo—sekaligus umpatan yang mungkin akan didapatnya nanti—pemuda itu membalik tubuh dan melangkah pergi.

Kai tahu, Irene masih memandangnya. Ia juga tahu, besar kemungkinannya Irene akan mengikuti, tapi kali ini Kai justru merasa tidak tertarik.

Mungkin, sekarang sebuah frasa patut dipasang di atas kepala Kai karena dia baru saja menunjukkan emosi paling dasar dari sebuah kedekatan dalam hubungan: cemburu.

“Aku pergi dulu.” tak ingin kalah langkah, Irene juga mengambil keputusan yang sama.

“Kau mau kemana?” tanya Wendy, tidak mengerti dengan sikap diam Irene yang tiba-tiba berujung pada keinginan untuk pergi.

“Menemui seseorang.” tanpa malu-malu Irene mengungkapkan.

Toh, semua orang agaknya sudah tahu tentang kedekatannya dengan Kai meski hanya berstatus teman. Lagipula—jika saja Wendy atau Nayeon sedang tidak peka—siapa lagi di Claris yang mungkin akan Irene temui dengan terang-terangan, kecuali Kai?

“O—Baiklah. Kami akan menunggu di kamar.” ucap Wendy menyetujui.

Nayeon sendiri memilih acuh, melanjutkan aktivitasnya—menghabiskan semangkuk menu makan malamnya—dan tidak tampak ambil pusing pada kepergian Irene sekarang.

Alih-alih meneruskan perhatiannya pada Irene yang menjauh, Wendy justru mencari alternatif kegiatan lain. Well, keberadaan Nayeon di sebelahnya tentu saja tak akan sekedar jadi kesempatan yang terlewat bagi Wendy.

Gadis itu cepat-cepat menaruh atensi pada Nayeon, sebelum ia mengukir senyum dan lantas melontarkan pertanyaan untuk membuka konversasi baru.

“Jadi, sunbae. Apa kau ada saran untukku di ujian ini?”

~

Nafas Irene kini terengah-engah. Bukan karena hal yang wajar, sebenarnya. Jarak dari tempat Irene tadi makan malam sampai ke asrama laki-laki sebenarnya tidak jauh. Tapi karena gadis itu sudah kehilangan jejak Kai saat keluar dari pintu, dia terpaksa harus berlari.

Hasilnya? Nihil juga. Pemuda Kim itu tidak terlihat dimana pun, sementara Irene sendiri sudah berdiri di ujung koridor asrama.

“Kau mencari siapa?” sebuah pertanyaan terlontar menyambut Irene.

Gadis itu akhirnya mengedarkan pandang, menatap ke arah seorang pemuda yang duduk di balik kursi kayu di dalam bilik kecil yang ada di dekat gerbang asrama.

“Apa aku boleh masuk?” tanya Irene sekon kemudian.

Well, Irene memang tidak tahu dimana kamar Kai, atau dimana dia harus menemui Kai. Pertanyaan yang baru saja dilontarkannya adalah sebuah pertanyaan mematikan, sebenarnya.

Kalau dijawab ya, dia sendiri tidak sanggup menghadapi puluhan murid pria yang mungkin ada di dalam sana. Dan ujung-ujungnya, Irene pasti membawa malu karena tidak juga menemui yang dicarinya. Masih untung kalau Kai tiba-tiba saja muncul, bagaimana kalau tidak?

Nah, kalau pertanyaannya dijawab tidak, Irene sudah yakin akan ada pertanyaan lain yang mengekori. Mana mungkin dia menjawab semua pertanyaan-pertanyaan yang nanti dilontarkan dengan kebohongan? Tidak, berbohong bukanlah kebiasaan Irene. Lalu, apa dia harus berkata jujur kalau dia sedang mencari Kai? Ugh, membayangkannya saja sudah membuat Irere merasa malu.

“Kau tidak takut masuk ke dalam sarang penyamun?” kali ini suara lain terdengar.

Bukan suara penyelamat yang Irene harap-harapkan, sebenarnya. Tapi setidaknya suara itu juga bukan milik pemuda yang dihindarinya tanpa sadar.

Segera, Irene melempar pandang. Senyum tanpa sadar mengembang di wajahnya saat ia dapati pemuda jangkung bermarga Park yang jadi teman sekamar Kai lah yang baru saja bersuara.

“Aku yakin Ryuto akan menjawab pertanyaanmu dengan kata ‘ya’ karena dia ingin menjahilimu.” pemuda itu—Chanyeol—lagi-lagi berucap, melirik pemuda yang tadi menanyai Irene.

Kekehan kecil lolos dari bibir si pemuda bernama Ryuto itu, sekon kemudian dia mengibas-ngibaskan tangannya di depan wajah seolah ucapan Chanyeol adalah sebuah fitnah.

“Aku tidak sekejam itu.” komentarnya singkat, ia kemudian menatap Irene, bergiliran dengan si pemuda Park yang  kini bicara dengan Irene.

“Diakah gadis yang dekat dengan Kai?” pertanyaan Ryuto berhasil membuat Chanyeol melebarkan pandang tanpa sadar.

Sepertinya, ada satu-dua masalah yang seharusnya tidak melibatkan eksistensi Irene tapi sekarang justru terkuak.

“Dia tidak sedekat itu dengan Kai, Bung. Irene, ayo ikut aku. Bukankah sejak tadi kau sudah mencariku?” cepat-cepat mencari solusi, Chanyeol akhirnya meluncurkan satu kalimat penuh strategi.

Tanpa menunggu persetujuan dari Irene, pemuda itu lekas merajut langkah dengan menggamit Irene di sisinya. Tentu saja, Irene dibawanya masuk melewati gerbang asrama yang seharusnya tidak boleh dilewati Irene di jam-jam ini.

Tapi apa boleh buat, Chanyeol tak ingin melibatkan Irene dalam masalah, bukan?

“Jangan sering-sering menyahuti ucapan Ryuto kalau kalian bertemu. Hampir setiap hari dia membuat masalah dengan Kai.” Chanyeol berucap saat mereka sampai di sisi koridor yang sepi.

“Ah… Benarkah? Padahal dia tidak terlihat seperti murid bermasalah.” Irene berucap, mengingat-ingat paras innocent pemuda bernama Ryuto itu sementara tatapannya mengelana, masih berharap jika saja Kai tiba-tiba muncul.

“Kai tidak ada di asrama, omong-omong.” kalimat berikutnya yang Chanyeol ucapkan berhasil merenggut atensi Irene.

“Dia tidak ada?”

“Hmm.”

“Lalu kenapa kau tidak bilang dari tadi?” Irene kini bersungut-sungut.

“Kau tidak bilang kalau kau mencari Kai. Aku hanya membawamu masuk ke sini tanpa harus melewati celotehan jahil dari Ryuto, ingat?” Chanyeol mengingatkan.

Irene lantas menelan kalimat sarat akan kekesalan yang tadi hendak dilontarkannya pada Chanyeol dan kelancangannya membawa Irene ke dalam sarang penyamun—ralat, asrama laki-laki, maksudnya.

Lagipula, Irene juga tidak mengatakan apapun tentang menemui Kai. Bukan salah Chanyeol kalau—tunggu. Darimana Chanyeol tahu kalau Irene tengah mencari Kai?

Hey, aku tidak bilang kalau aku mencari—”

“—Kalian seperti sepasang kekasih saja. Yang satu berpura-pura tidak mencari yang lain, satu lagi berpura-pura tidak ingin bertemu.” Chanyeol memotong ucapan Irene.

Tentu saja dia tahu kalau Irene akan berkelakar acak demi menghindari konversasi mengenai dia yang mencari Kai. Tapi Chanyeol bukan anak kemarin sore yang tidak tahu apa-apa.

Gelagat Kai sudah bisa dibacanya dengan jelas—rutinitasnya hari ini yang dipenuhi dengan helaan nafas panjang dan terkadang umpatan penuh kekesalan—juga gelagat Irene yang begitu kentara. Keduanya tengah bermain petak-umpet dari permasalahan yang sebenarnya Chanyeol juga tidak tahu.

“Dia ada di perpustakaan.” ucap Chanyeol sekon kemudian.

Sebenarnya, dia ingin tergelak karena kelakuan dua orang itu. Tapi mau bagaimana lagi, sahabatnya belum mengatakan apapun soal Irene, dan Irene juga tampak tidak ambil pusing.

Keduanya hanya berputar-putar dalam siklus hubungan yang monoton tapi mengesalkan untuk ditonton. Dan ya, Chanyeol bisa apa selain membantu dua orang itu untuk saling mendekat satu sama lain?

“Dia ada di perpustakaan?” Irene menggemakan perkataan Chanyeol.

“Hmm, periksa saja ke sana kalau kau tidak percaya. Heran sekali kenapa dia mengeluh kelaparan tapi justru berakhir di perpustakaan. Mungkin dia pikir dia bisa kenyang hanya karena memandang ribuan buku.” Chanyeol berkelakar.

Tidak salah juga, sebenarnya. Seseorang yang merasa lapar seharusnya mengatasi keluhannya itu dengan cara yang wajar. Tapi tadi saat tidak sengaja berpapasan dengan Chanyeol, Kai justru mengatakan kalau dia mau mengusir rasa lapar dengan membaca buku.

Aneh, bukan?

Tentu saja aneh bagi Chanyeol tapi tidak demikian bagi Irene. Gadis Bae itu tahu Kai sedang menghindarinya. Dan sebelum keadaan berubah menjadi tambah buruk, Irene sebaiknya lekas menemui pemuda Kim itu dan bicara.

“Baiklah, kalau begitu aku akan ke sana.” Irene akhirnya memutuskan.

Seperti biasa, gadis yang tak pandai bersosialisasi itu hanya bisa mengucap satu kalimat berisi terima kasih pada Chanyeol sebelum ia meninggalkan pemuda itu sendirian.

Herannya, Chanyeol justru jadi mengulum senyum.

“Melihat Irene yang seperti ini, mana bisa aku tidak bertaruh kalau Kai akan takluk pada gadis itu?”

~

Ini sudah kedua kalinya Irene menyusuri lorong Claris dengan langkah hampir berlari. Dan terhitung, tenaga yang dikumpulkannya dari makan malam tadi lambat laun sudah menguar.

Kini, gadis itu melangkahkan tungkai kakinya memasuki perpustakaan besar Claris, ini kali pertama bagi Irene datang kemari. Sebelumnya, Wendy selalu mengajaknya untuk kemari tapi ia enggan untuk mengabulkannya, ia lebih tertarik untuk beristirahat di kamar atau mengisi perut di kantin. Tapi kali ini ia memberanikan diri untuk datang kemari, hanya untuk menemui Kai.

Ia berjalan menyusuri satu persatu rak-rak buku yang berisi bermacam-macam buku tentang dunia nyata maupun dunia pararel ini, Irene sedikit takjub kepada Wendy sekarang. Ia yakin jika ia menerima ajakan Wendy, ia pasti akan muntah karena banyaknya informasi yang ia baca.

Akhirnya, Irene temukan dirinya tersesat di salah satu labirin—anggap saja Irene melihat lorong-lorong perpustakaan sebagai labirin buku—dan melihat sebuah buku tentang kehidupan hutan di dekat Claris—dan disadarinya buku itu berjajar rapi sampai belasan buku—hanya untuk membahas sebuah hutan.

Bergidik ngeri lantaran membayangkan berapa ribu buku yang ada di dalam perpusatakaan ini sementara bahasannya hanya itu-itu saja, Irene akhirnya mengalihkan pikirannya pada keberadaan sosok yang sedari tadi dicarinya.

“Dimana dia?” Irene bergumam setelah sekian lama tak menemukan keberadaan Kai. Irene berdiam diri dan mulai berpikir, kira-kira dimana tempat yang akan dikunjungi oleh Kai ketika ia datang ke perpustakaan.

“Hmm… Obat-obatan verbal? Ah, dia membenci itu. Hewan-hewan campuran? Ah, Kai tidak suka, ia bilang ia bosan dengan pelajaran itu. Sejarah? Dia pasti tidak suka. Hm…”

Cukup lama gadis Bae itu terdiam sampai bibirnya mengembang, sepertinya ia sudah tahu dimana Kai akan datang.

Bagian Pertempuran.

Irene mempercepat sedikit langkahnya, mengikuti petunjuk untuk ke ‘Bagian Pertempuran’ , melewati beberapa murid yang sedang membaca buku di selasar antara rak buku.

Cukup lama ia berjalan-jalan di area ‘Bagian Pertempuran’ sampai langkahnya tanpa sadar membawa Irene menuju bagian rak paling belakang dan sekaligus membuatnya menemukan sosok yang ia cari sejak kembali ke Claris.

“Kai!” Irene lantas berjalan ke arah pemuda Kim itu, di sisi lain, Kai hanya menatap sekilas ke arah Irene dan kembali mengalihkan atensinya pada buku yang sedang ia baca.

Whoah. Aku beruntung karena mengetahui kesukaanmu. Aku sempat kebingungan dimana keberadaanmu di perpustakaan sebesar ini.” ucap Irene saat sampai di sebelah Kai.

Berkebalikan dengan reaksi antusias Irene saat menemuinya, Kai justru memasang ekspresi datar.

“Ada apa?” tanya pemuda itu.

Um, aku hanya ingin memastikan sesuatu.” jawab Irene dengan senyuman yang terukir di wajahnya.

Memastikan sesuatu?” tanya Kai kembali, sambil memposisikan tubuhnya dengan bersandar di rak buku. Sedangkan Irene bergerak untuk memposisikan tubuhnya agar berhadapan dengan Kai.

“Iya. Ada banyak hal yang aku ingin tanyakan padamu.” ujar Irene mengawali ‘wawancara’-nya. Kai mendengus pelan dan kembali membaca bukunya.

“Pertama, tentang COEX Mall, kau tahu kan mall itu terbakar? Aku ada di sana saat kebakaran itu terjadi dan aku rasa aku melihat samar-samar kau ada di sana, apa—”

“—Kau pikir aku ada di sana?” potong Kai membuat Irene tergeragap. Ia bahkan belum sempat menyelesaikannya saat Kai berucap.

“Hmm, ya. Kupikir begitu.” ucap Irene.

“Kau pikir semua orang di Seoul terlihat sepertiku?” tanya Kai kemudian.

“Apa?” Irene menatap tak mengerti.

“Aku ada di rumah.”

Sahutan singkat Kai terdengar sebagai sebuah jawaban sekaligus keinginan untuk mengakhiri konversasi di telinga Irene. Meski Kai memang biasanya selalu dingin, tapi kali ini ada aura tidak bersahabat yang pemuda Kim itu pamerkan.

Mungkin, Irene juga sudah salah membuka konversasi. Harusnya tadi dia tidak tergesa-gesa dan menanyakan saja kemana Kai berlibur kemarin. Bukankah begitu?

“Benarkah? Tapi kupikir aku—”

“—Aku tak akan mengulangi penjelasanku untuk kedua kalinya.”

Untuk kedua kalinya, Kai memotong perkataan gadis itu. Hal yang kemudian membuat Irene mengerucutkan bibirnya kesal. Kai mulai bersikap seperti dulu, saat mereka pertama kali bertemu.

Gadis itu kemudian melipat kedua tangannya di dada dan memperhatikan Kai. Sejenak Irene berpikir, ia ingat benar jika Kai adalah tipe orang yang konsisten dan sedikit keras kepala. Jika ia sudah mengatakan A, maka selamanya akan A.

Tanpa sadar si gadis akhirnya menghembuskan nafas panjang, percuma jika ia terus menanyakan pertanyaan yang sama kepada Kai, lelaki itu sudah pasti tidak akan mengubah jawabannya.

“Baiklah. Kalau begitu aku akan menanyakan hal lain. Saat di kereta, kenapa kau lebih memilih berdiri daripada duduk? Bukannya kau tahu jika kita tidak dapat tempat duduk, kita akan jadi ‘murid buangan’?”

Berbeda dengan reaksinya pada pertanyaan pertama Irene. Kali ini Kai justru memasang ekspresi kelewat dingin. Entah mengapa, tadi tanpa sadar dia berharap Irene tidak akan membahas perkara ‘kereta’ barang sepatah kata pun.

Tapi mau bagaimana lagi, bukan Irene namanya kalau dia tidak terus bertanya dan bertanya.

“Bukan urusanmu.” jawab Kai—lagi-lagi membuat Irene mengerucutkan bibirnya.

Sebenarnya apa yang terjadi dengan Kai?

Kai yang Irene kenal tak pernah berbicara seperti ini.

“Kau ini sebenarnya kenapa? Tidak biasanya kau seperti ini.” Irene kini bertanya. Tanpa sadar gadis Bae itu sedikit menaikkan nada bicaranya, sedangkan yang ditanya tak mengindahkan sama sekali.

Hey, Kim Kai. Kenapa kau dingin sekali hari ini?”

Kebisuan yang kemudian mendominasi membuat Irene kembali berpikir keras. Apa yang sudah dia lakukan sampai membuat Kai seperti ini? Pikir Irene, dirinya tidak melakukan kesalahan yang fatal sampai membuat Kai seperti ini selain saat dia di—tunggu, apa jangan-jangan—

“Kai, apa kau cemburu?”

Kalau saja Kai tadi memilih untuk mendengarkan celotehan Irene sambil makan malam, mungkin dia sudah tersedak karena terkejut. Untung saja dia memilih perpustakaan sebagai pelarian.

“Apa?”

“Kau cemburu karena saat di kereta aku duduk dan mengobrol dengan Taehyung?”

BINGO!

Irene kini tersenyum penuh kemenangan tatkala pertanyaannya berhasil membuat Kai berhenti mengacuhkannya. Buktinya, lelaki itu mengadahkan wajahnya untuk menatap Irene.

Irene sendiri sepertinya merasa senang, setidaknya ia tahu hal lain yang bisa membuat Kai seperti ini selain sikapnya yang selalu berceloteh tidak penting pada si pemuda.

“Tidak. Aku tidak cemburu.” Kai membalas dengan tenang.

Jujur saja, jika sekarang Irene bisa tertawa, maka ia akan tertawa sangat kencang. Bagaimana tidak? Irene mendengar sangat jelas bagaimana perubahan nada bicara Kai sebelum dan sesudah ia menanyakan pertanyaan tentang Taehyung. Tapi sepertinya, Irene akan mengurung niat itu, ia harus mengontrol ekspresinya untuk saat ini.

“Ah… Kau yakin? Aku rasa kau berbohong.” goda Irene dengan penekanan nada di kalimat terakhir.

“Tidak, aku tidak berbohong.”

“Benarkah? Aku tidak percaya? Aku rasa kau berbohong.” Irene kini tersenyum puas melihat ekspresi dari wajah Kai.

“Aku tidak berbohong.” balas Kai tak mau kalah.

“Ya, kau bohong.”

“Tidak.”

“Bohong.”

“Tidak.”

“Bohong.”

“Tidak.”

“Bohong.”

BUF!

Kai menutup bukunya dengan kasar dan menaruhya sembarang di rak. Ia menatap Irene dengan lekat dan mulai berjalan mendekati gadis itu.

“K-Kai?”

Kai tidak lagi peduli pada ucapan Irene, ia tetap berjalan mendekati Irene. Membuat Irene terpaksa mundur beberapa langkah.

“Kai, a-apa yang ka-kau lakukan?” tanya Irene tergeragap.

Kai masih tetap tak mendengarkan dan ia terus melangkah mendekati Irene, sampai gadis Bae itu menghentikan langkahnya karena posisinya sudah tertahan oleh rak buku di belakangnya sedangkan Kai masih berusaha mengikis jarak dengannya.

“Kai!” Irene refleks memejamkan mata, menguar sudah keberanian si gadis yang tadi dengan percaya diri menatap Kai dengan pandang menantang.

Kini, gadis itu cukup yakin kalau sekarang wajah Kai sangat dekat dengan wajahnya. Irene yakin karena sekarang ia bisa merasakan hembusan nafas Kai di permukaan kulitnya.

Keheningan yang lagi-lagi mendominasi membuat Irene mendapatkan keberaniannya untuk membuka mata—hanya untuk memastikan ia sedang terjebak dalam situasi seperti apa—tapi kemudian si gadis menyesali tindakannya.

Hal yang menyambutnya begitu netra terbuka adalah sepasang manik kelam Kai yang menatapnya penuh dominasi. Begitu membius hingga membuat Irene mengabaikan ruang beberapa inch yang membatasinya dengan Kai. Gadis itu bahkan mengabaikan kungkungan lengan kanan Kai di sisi kiri tubuhnya.

“Kai?”

Kai mengerjap saat mendengar Irene bersuara. Sekon kemudian, pemuda itu membuka mulut dan bicara.

“Dengar. Aku katakan sekali lagi. Aku tidak cemburu.” kali ini nada bicara Kai kembali seperti Kai yang dulu, tenang dan pelan.

Apa Kai baru saja menciptakan situasi mengerikan ini hanya untuk menekankan pada Irene tentang dirinya yang sama sekali tidak cemburu?

“B-Baik. Aku mengerti.” jawab Irene dengan sedikit gugup.

Irene kini sedikit kesusahan menelan salivanya, kedua netranya berhadapan langsung dengan manik kelam milik Kai. Yang mana membuat detak jantungnya sedikit memberontak untuk bekerja lebih cepat dari biasanya.

Ia posisikan tangan kirinya untuk menutupi suara detak jantungnya. Irene akui jika penampilan Kai kali ini sedikit membuat ia ‘terpesona’, rambut Kai yang berwarna hitam benar-benar membuat Irene merasa jika Kai sangat tampan.

“Ternyata kau memang cantik.” kalimat berikutnya yang Kai ucapkan berhasil membuat tangan Irene tak lagi berguna untuk menahan degup jantungnya.

Gadis itu terpaku, untuk beberapa saat dia yakinkan dirinya kalau dia tidak sedang berhalusinasi karena mendengar Kai berkata seperti itu.

“A-Apa?” Irene bertanya, sekedar memastikan kalau tadi pendengarannya tidak salah menangkap.

“Kau benar-benar cantik. Aku rasa aku baru menyadarinya saat melihatmu sedekat ini. Apalagi dengan rambut burgundy seperti ini.”

“A-Apa?” lagi-lagi Irene jadi orang bodoh karena mengulang pertanyaan yang sama. Tapi mau bagamana lagi, dia terlanjur terpaku karena kalimat Kai. Dan hey, apa Kai aru saja memujinya?

Tawa pelan kemudian lolos dari bibir Kai saat melihat ekspresi terkejut yang Irene pamerkan.

“Lupakan saja ucapanku—” pemuda itu berkata, hitung-hitung memberi celah bagi jantung Irene untuk bekerja dengan normal. “—Oh ya, sekarang sudah hampir jam malam. Kau sebaiknya pergi ke kamar.” ucap Kai sembari mengacak-acak rambut Irene pelan dan tak lupa memberikan senyuman pada gadis Bae itu.

Apa Kai baru saja tersenyum dari jarak begitu dekat dengan wajah Irene? Ugh, Irene harus pastikan kesehatan jantungnya setelah ini. Sungguh, dia tidak mencari Kai dengan niat membuat jantungnya terkena gangguan.

“Pergilah dan jangan tidur terlalu larut.” Kai lagi-lagi berkata.

Mengabaikan gadis yang sekarang mematung karena ucapannya, pemuda Kim itu menarik tubuhnya menjauh, memperhatikan Irene sejenak sebelum dia membalik tubuh dan melangkah meninggalkan Irene.

Sungguh, Irene yakin kalau dia tidak akan bisa tidur dengan nyenyak malam ini.

~

Berbeda dengan keadaan Irene yang sulit tidur malam ini, salah satu kamar di asrama pria justru mengalami hal sebaliknya. Malam sudah larut, tapi dua penghuninya masih sama-sama terjaga. Satu sibuk dengan buku, satu lagi berbaring dengan kedua tangan sebagai bantal di atas kasur.

“Kau membuat masalah lagi dengannya?”

Sebuah pertanyaan terlontar, dari bibir pemuda berpakaian gelap yang tengah duduk di tepi jendela kamar sambil membaca buku tebal di pangkuan.

“Aku hanya menguji cobakan jebakanku saja, dan ternyata dia bisa masuk perangkap dengan sangat mudah.” suara lain terdengar menyahut.

Tawa pelan lolos dari bibir pemuda yang menyibukkan diri dengan buku itu. Sekon kemudian, dia lemparkan pandangan ke arah rekan sekamarnya yang sedari tadi bercerita tentang kegiatannya hari ini.

“Jangan mencari masalah dengan wanita, kau tahu kau tidak pantas menyakiti wanita, bukankah begitu?”

“Ayolah, Baekhyun. Kau bicara seolah kau tidak sedang mempermainkan wanita saja.” pemuda yang membaringkan tubuh di tempat tidur itu berkata, sedikit menyindir si pemuda berpakaian gelap di tepi jendela—Baekhyun.

“Kau menyindirku, huh?” tanya Baekhyun, menatap sekilas lawan bicaranya dari sudut mata sebelum dia menyibukkan diri dengan untaian kata yang ada di dalam buku—lagi.

“Aku tidak sedang bermain-main dengan wanita. Aku hanya menggunakannya sebagai umpan. Sisanya? Kau akan lihat sendiri bagaimana jebakanku akan bermain.”

Baekhyun, hanya menggeleng-geleng pelan mendengar penuturan teman sekamarnya itu. Baru saja, dia mendapat cerita tentang bagaimana teman sekamarnya itu merencanakan hal jahil dengan wanita sebagai umpannya.

Dan tentu saja, Baekhyun tidak setuju. Bukannya dia senang melibatkan wanita dalam urusan tetek-bengek pria yang menurutnya akan berujung pada persaingan tidak dewasa dan konyol. Tapi, melibatkan wanita dalam masalah benar-benar tidak jadi favorit Baekhyun.

Pemuda itu lebih suka berhadapan langsung dengan orang yang bermasalah dengannya di lapangan, saling beradu kekuatan dan saling mengakui kemenangan juga kekalahan.

Namun perkara kali ini agaknya sedikit membuat Baekhyun bimbang. Pasalnya, sosok yang tengah berurusan dengan teman sekamarnya adalah sosok yang Baekhyun tahu juga.

“Kau tahu aku tak akan memberi dukungan apapun kalau kau sudah melibatkan wanita dalam permasalahnmu, bukan?” akhirnya Baekhyun memperingatkan.

Dia sudah menekankan berulang kali, kalau dia bersedia melepaskan seseorang dari masalah dengan give and take yang sama. Asal tidak berurusan dengan wanita, Baekhyun bahkan tak peduli jika rekannya membunuh seseorang.

“Baiklah. Aku sudah tahu jelas resiko apa yang akan kuhadapi kalau aku melibatkan wanita, Baekhyun. Jadi, apa yang kau ingin aku lakukan kali ini?” pertanyaan tanda persetujuan akhirnya terucap.

Senyum samar tanpa sadar muncul di wajah Baekhyun.

“Cari tahu semua hal tentang murid baru bernama Wendy.”

Tawa kemudian pecah di ruangan bernuansa gelap itu. Hal yang kemudian membuat Baekhyun menatap tak senang.

“Ada apa?”

Hey, Baekhyun. Kau berurusan dengan wanita?” sindir lawan bicaranya.

Baekhyun kemudian memutar bola mata jengah.

“Tidak berurusan dengannya karena perihal tak penting seperti yang kau lakukan. Gadis ini berbeda.”

“Baiklah, apa perbedannya?”

Diam-diam, Baekhyun teringat pada murid berkelakuan nyentrik yang sudah beberapa hari ini mengusik ketenangannya itu.

“Dia kelewat tertarik padaku. Setidaknya aku harus tertarik padanya juga, bukan?”

tbc

IRISH’s Fingernotes:

Ane merasa berdosa karena enggak sempet nagih Al buat bikin fingernotes ;~~; mungkin besok ane edit ini post buat masukin fingernotes bagian Al /YAAMPUN ANE INI NISTA SANGAT YA/

Anggep aja ini fingernotes private buat ane ;~; /kemudian dibalang sandal/ bikos diri ini sadar kalau Wings molor karena kesibukan tiada henti yang mengejar bahkan di hari minggu dan tanggal merah.

Al sampe sempet mengucap kata hiatus hiks ;~~~;

Alhamdulillah semangat ane buat ngetik ngebut semalam juga masih ada. Al mianek karena Wings molor, huhuhu. Doakan saja Juni cepat berlalu, gaes.

P.s: mungkin di EP 4 ini ada typo bertebaran karena engga sempet ngebaca ulang ;~~; dan pasti ada beberapa kata yang lupa engga di italic.

P.p.s: Al mianek egen kalo chapter ini engga sesuai sama ending yang ente harepin ;~~;

~

~

~

[    IRISH SHOW    ]

Iklan

36 pemikiran pada “WINGS – EPISODE IV — IRISH’s Tale

  1. Ping balik: WINGS – EPISODE V — IRISH’s Tale | EXO FanFiction Indonesia

  2. Scene apa ini?? bikin jantungku dag-dig-dug seeerrr…. Sumpah!!! aku senyum2 sendiri baca adegan Kai-Irene di perpus. Finally, Wendy sepertinya bakal muncul lbih banyak. Nggak nyangka couple-nya si cabe Baekhyun…
    wkwkwkwk… emang sih, Wendy kebanyakan ngegosipin si Baek.

  3. pertama aku mahu bagi 100 bintang untuk poster kk irish cantk banggat aku sukaaa,,,, kai lucu cemburu dengan v,ak ingatkan kan d episod ini akan ada scen kiss nya kai sama irene tp teryanta enggak ada… wahhh baekhyun tetarik sama wendyyy,tapi temannya baekhyun jahat banggat guna perempuan sebagai umpan,jgn2 pemuda itu kiyoto dan cwek yg jadi umpan irene kejam sekaliii,,,

  4. Cie cie cie kai cemburu tuuh 😌😌😌
    udah berharap ad kiss scene eh ternyata ga jadii yaaah
    Padahal dikit lagiiii gemess kak irish aaah
    Tapi langsung seneng lagi pas kai bilang irene cantik hehe
    Kak irish saya mau nebak yg ngomong ma baekhyun itu ryuto kan??
    Moga bener hehe

  5. Deg deg ser waktu adegan kai ngacak2 rambut irene
    Akhirnyaaaaaa kyaaa seneng banget maaf ya mbak krystal aku nge shipin kai sama irene sebentar doang cuman buat ff ini kkk
    Lanjut thor

      • Kemarin dah ngetik panjang eh ngak masuk. Sebel.
        Aku suka gaya bahasanya, mudah di pahami juga, ada typo satu tok, ‘baru’ eh bener ngak. Aku mau baca ulang lagi aja. Hehehehe
        Signal juga jelek ujan mulu, curhat weee.
        Greget sama moment Irene-Kai, pas wajah deketan itu, ngarep kiss tau aku. Hahahahaha
        Cie Baekhyun sama Wendy, udah kelihatan sih di part sebelumnya pas tiga cewek itu ngobrol di koridor itu. Taehyun kan yg lagi ngomong sama Baekhyun.
        Kayanya Irene bakal jadi kekuatan sekaligus kelemahan Kai, si Baekhyun kenal Kai, begitupun dengan Naeyeon, konflik belum muncul, jangan yg berat berat ya. Huhuhu
        Moment Kai sama Irene banyakin ya kk. Hehehe
        Ngak sabar next partnya.

      • Al palinh suka komen dari dirimu, sungguh:” hihi. Beberapa spekulasi darimu ada beberapa yang bener dan ada juga yang salah wkwk😂. Jangan lupa buat terus baca wings ya? Anyway, thanks for reading😉

  6. uhuyyy kairene moment kurang greget mungkin karena mereka msh belum peka atau gengsi ama perasaan masing2. kamjjong bilangnya ga cemburu bilangnya juga si irene cantik ahhh kelihatan bgt deh lu dan neng irene knp ga pernah ksh tahu gimana perasaanya lewat pov atuh .. oh ayolah baek ga sePD gitu kali ,mungkin cowok yg bilang bakal mainin manfaatin cewek itu bakal balik kena sendirinya maksudku yg tadinya main2 jd bakal suka beneran dan cowok itu udh pasti taehyung

    • Oalah, dikau harus baca ep 5 berarti, uhuhu😏😏😏😏 dan kenapa dirimu juga mengira kalo orang yang ngomong sama baek itu taehyung?😂😂😂 Anyway, thanks for reading😉

  7. Akhirnya keluar juga…
    Yah mw gimana dunia nyata tak seindah dunia khayalan.
    Jd Baekhyun ama Wendy ni? Another couple? Seneng deh si bebek dpt part wlw sedikit…
    Tp aku lbh ngeship Baekhyun ama Seulgi. Sejak dia jd tamu di acaranya lol Baekhyun ngerasa cucok aja tu org berdua, vocalis plus dancer center(Baekhyun jd dancer keempat exo wkwkkw cie yg keempat(eh umin dikemanain??)). Jd sempet mikir gimana klo Baekhyun ama Seulgi duet di panggung nyanyi plus ngedance sama lagunya The chainsmokers (lupa judulnya) kayaknya keren (– tp kayaknya englishnya Baekhyun kacau deh drpada Seulgi). Ditambah lg mereka couple dance di sweet Monster, meskipun cuma CF tpi keren bgt konsepnya. Bebek Benyak dpt fokus lg…aaaa jawlinenya tegas bgt…(dibikin versi mv kayaknya keren deh..)

    Mian yee ini ffnya bangkai tp ngomongin bebek, ya gimana lg bebek yg jd bias…

    Oh ya Irene lagi gk bisa tidur tw Kai cemburu gegara Taehyun…(jd inget gossip mereka dating…) ada satu alasan lg kenapa Irene gk bisa tidur,
    Lookie2 My supa lookie2, (dia harap2 cemas comeback rv yg baru dpt hasil yg bagus gak???)
    #apasih gak jelas bgt…

    Yg penting aku support rv, mereka sapu habis semua chart musik Minggu kemarin, tp Minggu ini????
    Dr hasil music Bank sementara mereka beti2 ama nct dream, next week mungkin bakalan di gusur BTS yg lg heboh2nya ampe pada jebol (Semoga waktu EXO comeback lbh parah jebolnya…Exo saranghaja!!!!) Kemudian ada Twice ama knock2 (entahlah dibanding Twice aku lbh suka Black pink, secara mereka perwakilan big 3 yg lg hits, kyknya terpengaruh ucapan netizen… tp aku suka cheer up enak lagunya tp buat TT??? Lbh bagus russian roulattenya rv deh..(rv stan ya iyalah)) lalu kemudian kemudian….
    Apapun yg terjadi kita tetap dukung red Velvet…dan EXO dan Kairene wlw lbh ngeship hunrene..
    Fighting alrish…(mian ngespam)

    • Buakakakaka lama ya menunggunya ff ini 😄 😄 😄
      Antara sedih dan seneng juga karena dunia enggak seindah dunia khayalan. Senengnya ya karena di dunia khayalan itu hal2 yang engga masuk akal bisa jadi masuk akal sekaligus jadi bencana wkwk 😄
      Why harus Seulgi why… aku ga seneng Seulgi di-ship-in sama siapapun kecuali Krystal 😄 wkwkwkwkwk sayang sekali jalan kita berbeda…..
      Biasku juga bebek kok sayang dia udah kuselingkuhin sama bias-bias lainnya yang lebih bening lagi 😄 wkwkwkwk miane bek ~
      Sek sek kenapa Taehyung jadi Taehyun… mereka dua orang yang berbeda kalau dirimu typo 😄 wkwkwkwkwkwkwkwkwk
      Ini komen kamu kenapa lebih panjang ngebahas music bank daripada ff? 😄 apa aku doang yang ngerasa begitu?

  8. hwuaahhh….. knpa baru sekarang ya saya lihat ff sebagus ini 🙂
    keren thor … (y)
    next…>>
    KEREN PAKEK BGT…..!!!! >__<
    #cory_thor_baru_bisa_cmnt

  9. Hadeuh… Seneng banget baca episode 4. Membayangkan Kai senyum manis didepan mata itu rasanya nge-fly. Ah, makin lama ceritanya makin seruuu…
    Mnurutku yang sekamar sama baekhyun itu taehyung kan?
    Tetap semangat ya kakak2…

    • Jangan-jangan si Kai ini semacam narkoba, bisa ngebuat fly 😂😂😂😂 kenapa semua pada ngira yang temen sama baek itu taehyung ya?😶 Wkwk. Anyway, thanks for reading and please look forward to wings😉

  10. Kim kai kau sangat lucu saat ketahuan cemburu dengan irene. Kai memang sudah mulai menyukai irene tapi dia belum mau mengakui perasaan nya begitu juga dengan irene. Siapa yang bicara dengan baekhyun apa itu taehyung ya ? Apa disini taehyung jadi saingan kai untuk dapatin hatinya irene atau nanti taehyung yang kadi musuh nya ?
    Next nya jangan lama-lama kak soalnya nggak sabar nunggu kelanjutan nya lagi.

    • Kenapa dikau juga ngira kalo yang ngomong sama baek itu si Tae juga? 😥😥 Mungkin aja sih si Tae orang ketiga dan jadi saingan si Kai😏. Anyway, thanks for reading and please look forwad to Wings😉

  11. Irene, ente anti mainstream yak, disaat ane mikir ente bakal pergi gitu aja dari hadapan kai terus nangis bombay diem-diem karena kebanyakan nonton film melankolis, ente malah dengan pedenya ngemeng ke kai’cemburu?’
    Asiquueee, Irene to the point amattt..😂
    Dan kai, ane tampol boleh? Ane pikir ente bakal ngerebut kesucian bibir Irene disudut perpustakaan/plakk/😂
    Chan, awas ntar ente yg suka sama irene, gak ane Kasih masuk rumah ntar/plakk/paandah/😂
    Well, baekhyun, ente pikir apaam nyari info wendy cuman gegara wendy tertarik? Asemm ente, sok baek ngasih harapan -,-
    Dan, kamar sekamar baekhyun siapa? Tebakan ane si taehyung/plakk/😂
    Wokeh, ditunggu next chapnya kak, al, hehe, ane kalem pan kali ini? Gak pake kepslok😂😂

    • Ki, sepertinya ente sudah terkotori pikirannya wkwkwk. Tunggu saja, ada saatnya dimana Kai jadi ganas dan merebut kesucian si Irene /plak/ 😂😂😂 Dan kenapa dikau menebak temen sekamar Baek si Tae?😶😶😶 Hihi. Anyway, thanks for reading and maapkeun cuma segini balesnua ya, ki😉

  12. KAK IRISH, EPISODE INI YANG TERBAIK BAGI ANE!!! KAI LUCU SEKALE PAS KETAHUAN CEMBURUAN DENGAN IRENE WKWKWK /CAPS JEBOL/
    Gemeeesss Kai tersenyum dan bilang Irene cantik KYAAA!!! /yang dibilang cantik siapa yang baper siapa/
    Itu manusia yang ‘mainin cewek’siapa ya? Ngincar Irene dan Kai? Taehyung kah?
    Sekian kehebohan dri Mori Moi😂😂😂

    • Pertama, maapkeun karena Al yang jawab. Kak Rish lagi sibuk dengan urusan kerjanya 😁.
      Kedua, maapkeun baru balas.
      Ketika Kai ngebuat seseorang baper, wkwk. Yang ngincar? Mungkin saja, wkwk. Murid Claris banyak, masih mister disini. Anyway, thanks for reading😁

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s