[CHEN BIRTHDAY PROJECT] Not Alone

not-alone

 

NOT ALONE

.

A special Chen Birthday fanfiction presented by D.O.ssy

Contributing Artists Kim Jongdae (EXO), Bae Eun Yoo (OC) | Genre Romance, Sad, Fantasy, Supranatural | Rating PG 15 | Length One Shoot Long

Poster by cp©artposter

.

Kita dilahirkan ke dunia ini, tidak sendirian.

.

.

“Boleh aku meminta tolong padamu satu hal?”

“Apa itu?”

“Jaga gadis itu, selamanya.”

.

***

.

“Hei, Jongdae bodoh! Bisakah kau berpamitan terlebih dahulu? Sesulit itukah mengirimkan pesan singkat? Aku ini kau anggap apa, sialan?” Aku langsung menyerbu pria di hadapanku, memukul-mukul lengannya tanpa ampun sebagai bentuk pelampiasan rasa kesalku, sekaligus rasa rinduku yang bertumpuk jadi satu.

Dia … Kim Jongdae, sahabat yang telah kuanggap sebagai saudara sendiri. Delapan bulan yang lalu ia tiba-tiba pindah ke Amerika tanpa sepengetahuanku, dan selama itu pula ia tidak sekali pun memberi kabar padaku, pun aku tak dapat menghubunginya sama sekali.

Ia hanya membalasku dengan cengiran khasnya sembari meminta maaf dan mengaduh kesakitan. Sedikit pun tak paham arti air mataku yang meluncur bebas tak tertahankan ini. Betapa kukhawatirkan dirinya, betapa kurindukan tawanya, betapa perihnya hatiku kala kehilangan presensinya di sampingku, betapa kuingin dekap erat tubuhnya yang kurus itu. Lihatlah, dia pasti makan tidak teratur di sana, pipinya semakin tirus. Apa sih yang sebenarnya dia lakukan di Amerika?

“Aww, awww … sakit, Eun Yoo-ya. Hentikan! Bukannya memberi pelukan ‘selamat datang’ malah memukuliku. Kau tidak merindukanku memangnya?”

Tidak! Aku tidak merindukanmu! Tapi, sangat merindukanmu!

“Tidak! Kau jahat, Dae! Seenaknya saja meninggalkanku, lalu sekarang tiba-tiba muncul. Kenapa tidak sekalian saja pergi selamanya?” Aku terus-terusan menghujaminya dengan serentetan pukulan emosi seraya menangis sesenggukan, tak peduli dengan kedua orangtuaku yang memandang cemas di dekat pintu kamarku.

“Sudah, sudah jangan nangis begitu. Duh, sampai segitunya ya kau rindu padaku? Aku jadi ikut terharu.” Ia terkekeh, lantas menepuk-nepuk puncak kepalaku, sesuai kebiasaannya.

Selalu seperti itu, Kim Jongdae tak pernah menganggap serius segalanya, termasuk perasaanku.

“Jangan pergi tanpa mengabariku lagi bila kau tidak ingin mati muda!”

.

***

.

Aku orang Seoul asli, sedangkan Jongdae dari Ulsan. Kami saling mengenal sejak SMP. Ia tinggal sendirian di apartemen tak jauh dari tempat tinggalku. Katanya, ia ingin mengejar cita-citanya di Seoul, oleh sebab itu ia bersekolah di sini. Semenjak bertemu, hampir setiap hari Jongdae bermain di rumahku, dan dari situlah kami mulai berteman.

Ya, teman. Entah sampai kapan aku dapat menganggapnya begitu, sementara rasa di hatiku bahkan terlampau besar maknanya dibanding satu kata sederhana itu. Mungkin, hanya Jongdae saja yang akan mempertahankan ‘teman’ dalam dunianya. Tak serupa diriku yang selalu dilanda gejolak hebat di dadaku tiap kali berada di dekatnya.

Seperti saat ini, ketika kami menghabiskan jam istirahat di kantin kampus beberapa hari selepas kepulangannya kembali ke Seoul, aku dibuat salah tingkah karena mendapati ia yang memerhatikanku lebih dari biasanya.

“Apa?” tanyaku ketus, berusaha terlihat biasa-biasa saja padahal jantungku bertalu-talu tak karuan. Kuharap aku tidak tampak konyol di matanya.

“Yoo … selama aku tidak ada, apa kau memikirkanku?”

Aku tertegun dan menghentikan kegiatanku mengaduk jjajangmyun, lantas melempar pandanganku pada kedua manik hitam miliknya. Pasalnya, Jongdae yang kukenal adalah pemuda yang cuek, serampangan, kelewat humoris sampai-sampai tidak ada yang dianggapnya bukan lelucon di alam semesta ini. Bagaimana tatapan sungguh-sungguh dan suara lembut yang ia lontarkan padaku barusan, justru terdengar mengerikan di telingaku.

“Tentu saja tidak. Untuk apa memikirkanmu? Tidak ada untungnya. Lebih baik memikirkan Kim Joonmyun.” Maka candaan kuberikan sebagai jawaban.

Namun ekspresi wajah Jongdae tak berubah, seolah mengharapkan jawaban sesungguhnya dariku. Kemudian ia tersenyum kecil, menunduk, seiring menggumam, “sayang sekali. Padahal aku sungguh-sungguh merindukanmu dan tak berhenti memikirkanmu.”

DUG

Detak kurang ajar di jantung sekali lagi membuatku canggung. Apa yang ia katakan tadi? Apa aku mendadak tuli? Atau memang otak Jongdae bergeser miring setengah senti? Seumur-umur, ini pertama kalinya aku mendengar ia mengatakan hal semanis itu, dengan vokal selunak itu.

“Ah, aku bercanda. Aku juga merindukanmu, Dae. Tanpa kamu, tidak ada teman mangkir yang asyik.” Aku berusaha mencairkan suasana kaku yang timbul menjadi, sebab jika tidak, aku bisa-bisa berbuat tindakan memalukan yang sudah pasti akan jadi bahan tertawaannya nanti. “Omong-omong, kau ada urusan apa di Amerika? Kenapa mendadak pergi ke sana?”

Masih dengan intonasi serupa Jongdae menjawab, “tak bisa kuceritakan.”

Hening.

Sepanjang sepuluh tahun pertemanan kami, suasana tidak beres macam ini jarang sekali terjadi. Kendati saling ejek dan memaki, kami tak pernah berkelahi, hanya sebatas guyonan saja. Aku dan Jongdae terbuka satu sama lain, hingga dirasa tak ada satu pun rahasia di antara kami. Yah, terkecuali untuk satu hal mengenai perasaanku padanya. Maka dari itu, sekarang aku tidak tahu apa yang mesti kulakukan untuk mengatasi ketegangan ini selain dari diam membatu seperti orang gagu.

Aigu … Lihat wajah bodohmu itu. Baiklah kalau kau penasaran. Aku dan keluarga pindah ke Amerika karena urusan pekerjaan ayahku. Maaf tidak mengabarimu dulu, sangat mendadak. Aku sampai bertengkar dengan ayah karena menolak untuk ikut. Akhirnya ibu baru mengizinkanku kembali ke Korea sekarang,” tuturnya sambil cengengesan dan aku bernapas sedikit lega karena atmosfer berubah kembali seperti sedia kala.

“Aku sampai menyusulmu ke rumah orang tuamu di Ulsan. Kau bahkan tidak meninggalkan satu pun pesan. Kau lebih-lebih dari kejam, Dae!”

“Maaf maaf, Yoo. Jangankan kau, aku saja marah karena tiba-tiba sekali harus pergi. Ah kau tahu, aku kangen kamu sampai-sampai gadis-gadis bule, cantik, seksi dan hot di kampus baruku tidak kupedulikan. Mereka semua merepotkan. Suatu ketika aku diajak ke hotel oleh salah satunya, dia punya dada dan bokong yang besar, untung aku sedang tidak bernafsu, jadi kutolak saja. Kalau tidak―”

PLETAKKKK

“―Awww!!”

“Oh, jadi ini alasanmu kenapa tidak meneleponku selama di Amerika? Kau sibuk dengan gadis bule berbokong besar, hah? Oke, aku mau pindah ke meja lain!” Aku menghentakkan sumpitku agak keras ke atas nampan, lantas beranjak.

“Hei hei hei. Kenapa marah? Eun Yoo-ya tunggu! Wah, kau jelek sekali kalau cemburu. Eun Yoo, aku bersumpah tidak menyentuh gadis itu, cuma melirik dadanya sedikit. Tunggu―”

“Aku tidak ingin dekat-dekat dengan pria cabul!”

Begitulah. Jongdae selalu bergurau, malah aku yang sungguhan cemburu ini pun ditanggapi main-main. Lihat apa yang dia lakukan di sana sementara aku mati-matian mencemaskannya hingga nyaris gila? Bagus. Sangat bagus! Pertanyaannya, kenapa aku menyukai orang sebebal dia? Agaknya aku mesti memeriksakan diri ke psikiater, semakin hari kewarasanku berkurang sepertiga.

.

***

.

Ada yang pernah mengatakan padaku bahwasanya tak ada hubungan persahabatan yang terjalin begitu lama antar insan yang berlawanan jenis tanpa adanya cinta terselip di antara keduanya. Itu tidak sepenuhnya betul, tidak juga salah, lantaran sekarang aku mengalaminya sendiri. Dan hingga detik ini pun aku masih menyimpannya seorang diri, entah sampai kapan.

Aku menyandarkan punggung di sandaran kursi. Aku duduk di deretan paling belakang, memerhatikan satu di antara sekian puluh orang, mencari satu di antara sekian vokal yang berselarasan, terkadang bersahut-sahutan. Aku menemukannya. Ia berada di baris ke-dua dari depan, orang ke-lima dari kanan. Ia menangani kontratenor.

Di tahun pertama SMA, Jongdae mengatakan padaku kalau dia ingin jadi penyanyi. Kemudian aku menggodanya dengan mengatakan suara Baekhyun satu tingkat lebih indah. Aku jelas berbohong. Jongdae yang terbaik. Namun akan lebih baik jika aku diam saja, sebab dia bisa jadi besar kepala.

Jongdae itu hiperaktif, super berisik, pita suaranya elastis. Bila sudah teriak, mampu merobek kuping gajah. Mulutnya tidak pernah kehabisan serangkaian kalimat banyol, bagai sebuah simfoni acak-acakan yang anehnya justru membawa nuansa tersendiri bagiku. Tidak melulu warna-warni, kadang monokrom, kadang menyala kontras, kadang biru tenang. Cih, inikah yang dinamakan cinta? Picisan sekali.

Aku memejamkan mata sejenak, masih terfokus pada vokal yang sama dengan si ‘lelaki yang suka membuat kegaduhan di kelas’ itu. Percaya atau tidak, diantara puluhan warna suara yang bersatu-padu, aku mampu membedakan miliknya. Suaranya terlalu legit, terlalu pulen, terlalu gurih. Serupa penyedap rasa. Yang kian banyak dibubuhkan dalam makanan, semakin merusak kesehatan.

Aku membuka mata, dan hey! Tak tahu mengapa kulihat dia nampak gelisah. Dia bahkan tidak lagi memerhatikan sang dirijen. Kepalanya terangkat, memindai bangku penonton dari kiri ke kanan, bawah ke atas, seolah kehilangan sesuatu. Barangkali ini berlebihan, atau barangkali aku yang terlalu kege’eran, akan tetapi gerakan kepalanya berhenti persis satu garis lurus ke arahku. Apa ia mencariku? Ah mustahil, mana mungkin ia menemukanku ditengah-tengah lautan penonton ini. Tapi tapi tapi, hey dia terus melihat kemari. Ia menatapku, bola matanya berpendar lugu terbiaskan lampu sorot panggung, dan ia melempar senyum. Oh, ayolah Kim Jongdae, berhenti membuatku salah tingkah! Berhenti membuatku berharap yang tidak-tidak!

Penampilan paduan suara berakhir, disusul dengan drama musikal. Acara baru berlangsung seperempat jalan―belum masuk ke puncak―namun aku sudah bosan. Kurapatkan mantelku, bergegas untuk segera pulang ke rumah lantaran suhu udara yang semakin turun. Aku benci musim dingin, omong-omong.

Kakiku menggigil, aku melirik arloji berkali-kali. Pukul delapan malam. Setengah jam aku menunggu, bis belum juga datang. Apesnya, mantelku sangat tipis dan ponselku ketinggalan. Sungguh tidak elit rasanya bila aku mati kedinginan di halte ini. Akhirnya dengan penuh keterpaksaan, kuputuskan untuk berjalan kaki hingga pemberhentian selanjutnya. Hitung-hitung menghabiskan malam pertama di bulan Desember―yang seharusnya indah ini. Bagus sekali!

Belum lepas kesialanku yang satu, datang kesialan baru. Aku melintas ke sebuah gang sempit, bermaksud mencari jalur tercepat sampai tujuan, namun aku justru bertemu laki-laki mabuk yang sempoyongan mendekat ke arahku seperti orang yang haus cumbuan.

“Hai, gadis manis. Sedang apa malam-malam begini sendirian? Mau ditemani?”

Sesungguhnya aku telah berniat untuk melarikan diri seandainya saja lelaki bau alkohol itu tidak menyentak paksa lenganku tiba-tiba. Dan sebenar-benarnya aku pun telah mengepal kuat-kuat tanganku yang lain, hendak segera menghadiahi pria paruh baya itu dengan sebuah tinju, sekiranya saja aku tidak kedahuluan oleh seorang pemuda yang menarik pinggangku dari samping. Merapatkanku pada tubuh tinggi yang agak kurus.

“Maaf Tuan. Dia kekasihku―”

Oh God. Kesialan apa lagi ini? Telingaku seakan ditimpuki oleh lelehan karamel madu. Orang itu adalah Kim Jongdae, yang memelukku semakin erat, berusaha melindungiku. Meski pada nyatanya aku sama sekali tak butuh perlindungan ataupun bala bantuan.

“―Aku tak akan segan menghajarmu sampai mati jika kau berani menyentuhnya!”

“Cih. Anak muda zaman sekarang.”

Tanpa basa-basi, si pemabuk angkat kaki setelah mendelik meremehkan. Aku bernapas lega. Untunglah tidak perlu ada keributan yang berarti, atau pertumpahan darah yang mengerikan seperti di drama-drama yang sering kusaksikan. Akan tetapi … kondisi saat ini malah lebih gawat, ketika Jongdae tak kunjung melepas dekapannya. Ya, sangat gawat, ketika aku jadi ketagihan sentuhannya.

“D-Dae, l-lepaskan aku …” Aku gelisah bukan main.

“Ah, maaf. Kau tak apa? Dasar orang tua zaman sekarang. Sudah bau tanah tapi masih suka mabuk-mabukkan.” Ia mendesis jengkel sementara aku menunduk sambil memegangi dadaku yang serasa mau meledak. Apa hanya aku yang merasakannya? Apa Jongdae tidak merasakan debaran serupa? “Yoo, kenapa? Kau terluka?” Ia tampak panik melihatku.

Aku menggeleng sesudah dirasa jantungku tenang kembali. “Aku cuma kaget. Kukira aku akan mati.”

Jongdae tersenyum lebar menampilkan deretan giginya yang besar. “Untung sang pahlawan datang menyelamatkan.”

Aku mengeluh dalam hati. Yang membuatku hampir mati bukan pria mabuk tadi, melainkan kau hey Tuan-tidak-peka!

“Tck. Lalu kenapa kau ada di sini? Kau mengikutiku? Bukankah semestinya kau di auditorium? Penampilan kedua paduan suara tinggal lima belas menit lagi.”

Jongdae mengendikkan bahu. “Tidak akan ada yang tahu aku tidak ada. Lagipula posisi kontratenor ada lima orang. Tidak akan pengaruh.”

“Ya, terserah sajalah.”

“Omong-omong, tumben kau datang. Bukannya tidak suka pentas seni kampus?”

Aku mendelikkan mata, sebal. Padahal tiap tahun aku datang, hanya untuk menyaksikan penampilan paduan suara, dianya saja yang tidak pernah sadar. “Iseng saja. Aku cuma ingin lihat pidato ketua BEM kita yang tampan,” jawabku asal.

Jongdae memanyunkan bibir. “Apa bagusnya sih si Kim Joonmyun itu? Sudah culun, pendek, kaca mata tebal. Heran, kenapa dia punya banyak sekali pendukung di pemilihan ketua BEM.”

“Kau seharusnya bercermin dulu sebelum mengatakan itu, Dae!”

Aishh … seleramu payah sekali!” cibirnya. “Ah. Dinginnya. Temani aku sebentar, Yoo.” Ia menarik tanganku tanpa persetujuan.

.

.

.

Tuts-tuts piano yang kutekan dengan lihai mengalun meresonansikan perasaanku. Dia duduk damai di sana. Di kursi pelanggan tak jauh dari piano. Ia menyeruput cappuccino panas yang ia pesan, sembari sesekali bersenandung mengikuti irama.

Tiga jam berlalu tanpa terasa, aku masih bersamanya. Di tempat yang sering kami kunjungi berdua, sebuah kafe lima blok jaraknya dari kampus. Aku selalu menyukai tempat ini, karena selain menjadi tempat satu-satunya sahabatku itu bisa duduk tenang―tak berisik seperti biasa―di tempat ini pula aku dapat menikmati suaranya yang bernyanyi hanya untukku seorang.

Jongdae memang sering bernyanyi di paduan suara, tetapi untuk bisa mendengarnya menyanyi sendirian di sinilah tempatnya. Vokalnya merdu, semanis cokelat susu, serenyah biskuit keju. Namun pada waktu yang bersamaan dapat berubah jadi ekstasi, heroin, morfin, yang mampu membuat siapa saja kecanduan, termasuk aku.

Dia masih bersenandung seraya memejamkan mata dan tersenyum, tak menyadari bahwa aku mengamatinya sedari tadi seiring bermain piano. Jongdae menyukai berbagai macam kopi. Nyaris tiap hari ia mampir kemari, dan aku sama sekali tak keberatan untuk menemani.

.

.

.

Walau sering berbuat gaduh dan jarang serius, Jongdae itu perhatian dan setia kawan. Ia selalu membawa sapu tangan sebagai antisipasi bila aku menangis suatu hari. Ia tidak pernah marah meski aku sering membuatnya kerepotan. Ia selalu membawa jaket tambahan karena tahu aku alergi udara dingin, seperti saat ini―

“Kenapa mantelmu tipis sekali sih? Mau berlagak kuat? Kujamin besok pasti kulitmu bintik-bintik seperti macan tutul kena cacar air.” Ia menyampirkan jaketnya ke tubuhku. Mengambil kedua tanganku untuk ditiupkan nafasnya yang hangat, lantas mengusap-usapnya lembut.

“Ayo cepat pulang. Sebelum kau betul-betul berubah mengerikan.” Jongdae memasukkan sebelah tanganku dalam sakunya untuk ia genggam erat-erat.

Hangat.

Ya, tangan Jongdae selalu hangat. Bahkan hangatnya kurasakan hingga mencapai hatiku. Aku sadari ini hanya bentuk perhatian ia pada sahabatnya, namun terkadang justru membuatku salah tingkah dan berharap pada sesuatu yang aku tak pernah tahu; hati Jongdae.

Benar. Aku terlalu pengecut untuk menanyakan ataupun menyatakan secara langsung padanya, padahal hampir tiap waktu ia berada di sisiku.

Bis malam yang kami tumpangi sepi, hanya ada seorang ajusshi yang tengah membaca surat kabar di deretan depan. Tanpa melepas genggaman, Jongdae mengoceh sepanjang perjalanan. Mengomentari bangunan-bangunan kota Seoul yang tampak ada perubahan meski baru ia tinggalkan delapan bulan. Sementara aku cuma diam, pura-pura menyimak obrolan padahal asyik mengagumi tiap lekuk wajahnya yang tampan. Aroma tubuhnya yang khas. Serta tawanya yang ceria.

Ada satu titik aku dibuat tak berkutik, ketika Jongdae tiba-tiba menanyakan, “kau sesuka itu ya pada Joonmyun?”

“Ng ….” Aku gelagapan. “M-memangnya kenapa?”

Ia bergeming selama puluhan sekon sebelum kembali berbicara, “yah baguslah. Setidaknya kau menyukai orang baik.”

Aku mengerutkan dahi. Bukankah baru beberapa jam kebelakang ia mengatai bahwa seleraku payah? Kenapa ia berubah? Ia cemburu? Bolehkah aku menyimpulkan begitu?

“Kau mungkin tidak tahu, aku sekelas dengan Joonmyun sewaktu SD. Kami cukup dekat. Ia jenius, baik hati, dan dewasa. Kalau soal ketampanan sih, ia masih jauh di bawahku. Tapi kurasa ia cocok untukmu. Siap-siap saja bersaing dengan puluhan gadis yang tergila-gila padanya.”

Apa sih yang sebetulnya Jongdae pikirkan? Aku secuil pun tak paham.

“Setidaknya, kalau kau bersama dia. Aku tenang.”

Hah? Apa?

Bis berhenti. Aku dan Jongdae lanjut berjalan kaki kurang lebih beberapa ratus meter lagi untuk sampai ke rumah.

“Kami sering bersaing dalam berbagai hal. Mata pelajaran, olahraga, dan―”

“Dae …” tegurku pada pemuda yang masih saja sibuk menceritakan Joonmyun.

“Intelegensinya tinggi, namun kalau soal lawan jenis ia kaku sekali―”

“Kim Jongdae …” Aku mulai gusar. Kenapa pembicaraan jadi ke arah sini? Aku tak peduli apapun soal Joonmyun. Satu-satunya yang kupedulikan hanya Jongdae seorang.

“Tak perlu khawatir, kalau sudah akrab dia orangnya menyenangkan kok. Kau tidak akan bosan mengobrol dengannya―”

“KIM JONGDAE!” Kutahan tangannya. Otomatis ia pun berhenti berjalan seraya berbalik. “Bagaimana kalau aku tidak ingin bersamanya? Bagaimana kalau aku ingin bersamamu?”

Jongdae terkejut, sedangkan aku jauh lebih terkejut. Tak menyangka akhirnya aku mengatakannya juga. Oh Tuhan, lari ke mana akal sehatku sekarang? Untuk sepersekian detik, kupikir aku sedang bermimpi. Namun udara yang semakin dingin dan tubuhku yang mulai menggigil mengingatkanku kembali. Aku masih di sini, berhadapan dengan realita bukan mimpi belaka. Dan Jongdae ada di sana persis di hadapanku, masih berdiri mematung, tercengang.

“Aku tahu apa yang kau katakan pada ajusshi mabuk tadi cuma demi melindungiku. Tapi … bisakah itu jadi kenyataan?” Aku menggigit bibir bawahku, luar biasa gugup.

“Dae, aku―”

TES

Kugantungkan luncuran prosa dari tenggorokan kala kurasakan sesuatu yang dingin jatuh dari langit tepat mengenai puncak kepalaku. Aku menengadahkan kepala. Ini ….

Salju pertama.

Yang semakin banyak berjatuhan menyapu permukaan kulit wajahku. Aku menurunkan pandangan. Kuberanikan diri untuk menatap kedua berlian bening lelaki yang paling kusayangi di dunia. Bola matanya yang hitam nampak bercahaya di bawah lampu penerangan jalan. Kami saling mengamati satu sama lain, saling menyelami perasaan masing-masing. Dan aku berani bersumpah ini adalah pemandangan terindah yang pernah kujumpai seumur hidupku, lantaran sebelumnya aku selalu berada di dalam rumah kala salju pertama mulai turun.

Aku maju dua langkah. “Kim Jongdae … aku … aku―”

“Jangan katakan!”

Aku tersentak. “D-dae ―”

“Jangan katakan apapun mengenai perasaanmu padaku, Yoo. Kumohon.”

“T-tapi k-kenap―”

“Aku tidak ingin mendengarnya.”

DUG

Waktu seolah mati suri detik itu juga. Apa-apaan? Aku ditolak bahkan sebelum menyatakan?

Senyap berlangsung dua menit atau tiga, kami diam seribu bahasa, kemudian Jongdae membalikkan badan. “Pulanglah, Yoo,” ucapan terakhirnya lalu berjalan menjauh, meninggalkanku.

Aku memegangi dadaku yang bergemuruh hebat. Tubuhku bergetar, bukan karena kedinginan. Apa kisahku cuma akan berakhir menyedihkan seperti ini? Setelah lebih dari enam tahun kusimpan, aku malah tidak bisa menyatakan perasaanku sendiri? Kenapa? Kenapa Kim Jongdae? Aku tidak mengerti.

“Hey Kim Jongdae bodoh!” teriakku sekuat tenaga, menghentikan ayunan tungkainya. “Kalau kau tidak ingin mendengarnya. Baik. Aku tidak akan mengatakannya. Tapi … aku akan menunjukkannya!”

Panggil aku bodoh, atau idiot, atau tidak tahu malu, atau apapun itu. Aku tidak peduli. Aku mengejarnya. Menarik tubuhnya. Meraih tengkuknya. Mempersatukan bibirku dengan miliknya. Ia berjengit kaget. Sekali lagi, aku tidak peduli. Aku cuma ingin menyampaikan padanya, bahwa apa yang ada di hatiku untuknya terlalu berat kupikul seorang diri.

Jongdae diam terpaku. Tidak menolak, tidak pula membalasku. Akan tetapi ia justru membuatku bingung kala kurasakan ia terisak, tersedu, di sela ciumanku. Terhitung dua menit berlalu, aku mengakhiri tautan bibir kami, ia berlinang air mata. Tanpa sepatah pun kata, ia menjatuhkan kepalanya di pundakku, lantas menumpahkan tangisannya di sana. Ingin aku bertanya mengapa, namun aku lebih memilih untuk membisu, supaya ia tenang terlebih dahulu.

“Maaf, Yoo. Maaf …” Itu yang terus-terusan ia rapalkan. Dan aku hanya dapat menepuk-nepuk punggungnya yang sesenggukan, lantaran aku sama sekali tak paham situasi yang terjadi saat ini.

Jongdae melepas dekapanku setelah dirasa cukup tenang, menyisakan sedikit isakkan dan tanda tanya yang bergerombol di kepalaku.

“Eun Yoo … Maaf. Aku … tidak bisa.” Ia menatap ke dalam manik mataku. “Tolong jangan tanyakan kenapa.”

Untuk kedua kalinya ia melangkah pergi, meninggalkanku, lagi.

Tuhan, apa ini? Ke mana perginya oksigen di sekelilingku? Mengapa rasanya ada sebongkah batu besar menghimpit dadaku, yang kian lama menyesakkan nafasku?

“J-Jongdae-ya …”

Laki-laki itu tidak berbalik, maupun menghentikan langkahnya.

“Tunggu, Dae! Kumohon …”

Ia tidak mengindahkan panggilanku. Bahkan hingga ia masuk ke dalam apartemennya, di ruangan nomor 124, sedikit pun ia tidak menghiraukanku kendati ia tahu aku terus mengikutinya sambil menggigil kedinginan.

“Setega inikah kau Kim Jongdae? Setidaknya berikan aku penjelasan! Kau anggap aku ini apa?” teriakku sekeras-kerasnya dari balik pintu, tak lagi memedulikan tetangga di ruangan sebelah yang pasti akan terganggu.

Jongdae tetap pada pendiriannya.

.

.

.

Aku mengingat-ingat kembali, kala itu, dalam kesunyian, hanya debaran jantungku sendirilah yang menggema begitu keras, aku tidak merasakan milik Jongdae saat memeluknya. Apa ia tidak memiliki perasaan yang sama padaku? Apa cuma aku yang jatuh cinta? Ya, mungkin memang itu jawabannya.

Pukul dua pagi, aku baru bisa memejamkan mata selepas satu setengah jam lamanya memendamkan wajah pada bantal untuk meredam raung tangisku. Aku tidak benar-benar tidur, sebab pendengaranku masih dapat menangkap suara pintu kamarku dibuka. Aku pun mampu merasakan seseorang masuk, dan duduk di tepian ranjang, kemudian mengusap puncak kepalaku.

Mama, kau kah itu? Kau mendengar aku menangis barusan?

“Bae Eun Yoo …”

DUG

Suara ini … Suara Kim Jongdae?

“Maaf …”

Walau terkejut bukan main, aku urung membuka mata. Tetap pada posisiku, berpura-pura tertidur.

“Maafkan aku. Tapi―” Vokal Jongdae yang teramat lirih dan perih, seakan menusuk gendang telingaku. “―dia mencintaimu. Lebih dari aku.”

A-apa katanya tadi?

Tak lama, kurasakan bibirnya yang dingin menyentuh permukaan kulitku. Ia mengecup keningku, cukup lama. Dan dari sinilah aku menyadari satu hal: Jongdae bukannya tidak menyukaiku, tapi ia menyerah pada orang lain. Lantas, siapa orang itu? Siapa yang Jongdae maksudkan dengan dia?

Mungkinkah ….

Aku membuka mata ketika suara pintu menggema. Kutendang selimutku. “Kim Jongdae!” panggilku. Aku berlari menuju pintu, berniat mengejarnya, namun …

Tidak ada orang di sana!

Kembali, aku berlari menuruni tangga rumahku dengan terburu-buru. Tetap, tidak ada orang sama sekali. Mama dan Papa sudah tidur di kamar utama. Pintu depan rumah pun terkunci. A-apa ini? Dari mana Jongdae datangnya tadi? Apa aku berdelusi? Aku yakin ini bukan mimpi!

.

***

.

Hari berikutnya aku sengaja berangkat ke kampus pagi-pagi sekali, namun ternyata Jongdae tidak masuk kuliah, ponselnya pun sulit kuhubungi. Apa ia tidak mau lagi menemuiku?

Aku melangkah pasti menuju fakultas Teknologi Informasi. Puluhan pertanyaan memukul-mukulku semenjak dini hari. Aku mencari ruangan kelas jurusan Infomatika, kelas di mana Joonmyun berada. Aku menemukannya dengan mudah, ia tengah duduk di deretan bangku paling pojok sembari membaca buku setebal lima senti. Aku mendekati kursinya, dan ia memandangku heran.

“Kau, Bae Eun Yoo dari fakultas Ekonomi, ya? Ada apa?” sapanya ramah.

“Kim Joonmyun, kau menyukaiku?” tanyaku blak-blakan, membuang jauh-jauh harga diri.

Ia terkejut. “Ng?”

“Jongdae bilang kau menyukaiku.”

“Jongdae? Siapa?”

“Kau mengenalnya. Ia teman sekelasmu waktu SD di Ulsan.”

Joonmyun membetulkan letak kacamatanya, mengingat-ingat. “Aku tidak punya teman yang bernama Jongdae sewaktu SD, lagipula aku bukan berasal dari Ulsan.”

.

.

.

Lelucon macam apa ini Kim Jongdae, bodoh? Berani-beraninya mempermainkanku! Aku baru ingat bahwa hari ini adalah ulang tahunku. Ia pasti menertawaiku di belakang. Ini keterlaluan! Sama sekali tidak lucu! Awas kalau aku menemukannya! Akan kurobek mulutnya supaya dia tidak bisa tertawa lagi!

Aku menghentak-hentakkan kakiku, kesal bukan kepalang. Kabut tipis yang mengepul dari pernafasan, pertanda hari sangat dingin, sedikit pun tidak mempengaruhi niatanku untuk memberi Jongdae pelajaran.

“Kim Jongdae sialan keluar kau! Aku tahu kau ada di dalam, jangan bersembunyi!” Aku menggedor-gedor pintu bernomor 124 dengan tidak sabaran. Ratusan kalimat cacian telah kupersiapkan.

Pintu terbuka setengah, aku melancarkan kutukan pertama. “Hei ulat bulu, kau membuatku gatal sekali ingin merontokkan semua gigimu―”

“Ng … Anda siapa? Ada perlu apa?” Empunya kamar bertanya keheranan.

Kuhentikan umpatanku. Yang muncul dari balik pintu bukan Jongdae, melainkan pemuda asing yang tak kukenal, yang nyaris saja aku pukul-pukuli karena mengira itu Jongdae. “Ah. Maaf, aku mencari Kim Jongdae. Apa ada di dalam?”

“Di sini tidak ada yang bernama Kim Jongdae. Barangkali Anda salah alamat.”

Aku mengerutkan kening. “Aku yakin temanku tinggal di sini. Mana mungkin aku salah alamat. Kemarin aku melihatnya masuk ke ruang 124 ini.”

Ia menggaruk tengkuknya, bingung. “Tapi saya sudah tinggal di sini sejak delapan bulan yang lalu. Dan saya tidak tahu siapa Kim Jongdae.”

.

.

.

Ini sangat sangat sangat aneh. Aku bukan perempuan gila yang menanyakan wujud makhluk kasat mata, namun semua yang kutanyai di gedung apartemen tidak ada yang mengaku pernah melihat Jongdae akhir-akhir ini. Malah pengurus di sana mengatakan bahwa pemuda itu sudah pindah delapan bulan lalu dan tak pernah kembali.

Apa aku berdelusi selama dua minggu terakhir ini? Aku dengan jelas menatap matanya kemarin. Aku berbicara dengannya kemarin. Aku memeluknya kemarin. Aku menciumnya kemarin. Dan aku melihatnya memasuki gedung apartemen nomor 124 kemarin. Aku bukan orang yang mempunyai gangguan jiwa, atau orang yang tidak bisa membedakan antara mimpi dan dunia nyata.

Tanganku gemetaran ketika kutekan nomor panggilan cepat untuk yang kesekian puluh kali. Yang kudapat hanya kebuntuan saat operator yang menjawab telepon. Aku menghempaskan diri di sandaran bangku bis yang kutumpangi menuju Ulsan. Panik, kalut, cemas, tak terdefinisikan. Aku telah mencari kemanapun tempat yang biasa Jongdae datangi, akan tetapi sosoknya tak kunjung kutemui.

Ini tidak sama seperti dulu, ‘kan? Kejadian itu tidak akan terulang lagi, ‘kan? Aku tidak akan kehilangan dirinya untuk yang kedua kali, ‘kan?

Aku hanya mampu berdoa dalam hati. Detik ini, aku … sungguh takut sekali.

Sedikit perasaan lega tatkala aku menginjakkan kaki di rumah Jongdae yang berpenghuni, tidak kosong seperti terakhir kali aku kemari, ini artinya keluarganya ada di dalam. Yah, barangkali Jongdae tengah berkunjung ke rumah orang tuanya.

Pintu kuketuk tiga kali. Tak perlu menunggu lama, sang pemilik rumah menampakkan batang hidungnya.

“Tante.” Aku memberi hormat, menyapa ibu Jongdae dengan ramah. “Aku kemari mencari Jongdae. Apa ia ada di dalam?”

Berkebalikan denganku, raut wajah tante justru berubah redup, dan tampak sangat sedih. Ia memalingkan wajahnya, tak kuasa melakukan kontak mata. “J-Jongdae, ada … di taman belakang,” lirihnya.

.

.

.

Aku masih ingat kali pertama Jongdae mengajakku mampir ke Ulsan, sewaktu kelas satu SMA dulu. Di belakang rumahnya terdapat hamparan ladang luas, ditumbuhi oleh semak, bunga dandelion dan ilalang tinggi, karena itulah kami menamai tempat ini ‘taman ilalang’. Kala itu, ia mengenggam erat tanganku, mengajakku bermain dan berlari, mengejar pelangi atau menyongsong terbenamnya matahari. Dan setelah lelah, kami berdua akan duduk merebahkan diri di tepi, di batang pohon maple yang sudah mati. Semenjak hari itu, sungguh, tempat ini selalu menjadi tempat favorit kami.

Aku menjejakkan kaki di taman ilalang ini lagi setelah tiga tahun. Semuanya persis sama. Bunga dandelion menyambutku dengan kelopaknya yang berterbangan tertiupkan angin petang. Sang surya melambaikan tangan berpamitan pulang ke peraduan. Dan ilalang-ilalang menunjukkan jalan menuju batang pohon maple tua.

Jongdae ada di sana. Tertidur, bersandar dengan damai, seolah tidak menyadari aku ada di sini.

“Hei tukang tidur, bangunlah. Sudah berapa lama kau tidur di situ, hah?” Aku tersenyum getir. “Kau tidak mau memberikan ucapan selamat datang? Aku sudah jauh-jauh menyusulmu ke Ulsan sampai membolos di kelasnya Jung seonsaeng.”

Aku menjatuhkan diri di sampingnya. Sekujur tubuhku bergetar amat sangat hebat. Aku terisak, tapi urung untuk menangis keras. “Berhenti membuat lelucon, Dae! Ini tidak lucu! Ini sama sekali tidak lucu!”

Namun air mataku tumpah dengan lancang, ketika tanganku mengusap tulisan di batu nisan. Benar. Aku tidak salah membaca, atau mendadak lupa cara membaca. Nama Kim Jongdae tercetak tebal di sana, beserta tanggal yang menunjukkan tepat dua minggu yang lalu.

“Kau pembohong besar, Dae! Mengapa kau merahasiakan penyakitmu? Mengapa kau tidak pernah bercerita kalau kau pergi ke Amerika untuk berobat? Mengapa kau meninggalkanku begitu saja? Padahal kau berjanji padaku untuk menyusuri taman ini bersama-sama lagi.” Tangisku akhirnya pecah, menggaung terpantulkan pepohonan yang menunduk, turut berduka.

“Sekarang, bangunlah! Aku ingin menamparmu kuat-kuat. Aku ingin mengatakan padamu rahasia terbesarku, bahwa aku mencintaimu!” Aku menenggelamkan wajahku pada lipatan lengan. Menangis sejadi-jadinya. Memanggil-manggil namanya.

“Bae Eun Yoo―”

DUG

Aku mengangkat kepala begitu kutangkap vokal yang tak asing di telinga. Bulu kudukku berdiri meremang. Luar biasa tercengang, saat mataku menemukan sosok itu. “K-kau. K-Kim Jong―”

“Jangan takut. Aku bukan setan atau arwah penasaran.” Ia tersenyum hangat. “Di mulai dari dua minggu yang lalu, dan seterusnya, aku yang akan menggantikan Jongdae di sisimu.”

Aku menggeleng tak percaya. “L-lelucon apa lagi ini?”

Laki-laki itu berjongkok, menyejajarkan tubuhnya denganku. “Aku teman Jongdae.”

“T-teman? Omong kosong! Bagaimana seorang teman bisa tampak serupa? Wajah, suara, sifat, kebiasaan? J-jangan bermain-main denganku, kumohon,” ucapku nanar.

“Kita dilahirkan ke dunia tidak sendirian. Selain dua malaikat yang menjagamu, ada satu teman dari dimensi yang berbeda, yang akan mengiringi seumur hidupmu.” Ia menghela napas. “Dan aku adalah teman Jongdae sejak lahir.”

Aku tertawa dan menangis bersamaan. “Kalian semua penipu! Kau membohongiku dan berpura-pura jadi Jongdae? Keterlaluan! Kau pikir aku bahan guyonan?”

Ia mengusap air mata di pipiku. Bahkan sentuhannya pun … tidak berbeda. “Maaf, Yoo. Kau tidak mengerti. Kau adalah satu-satunya orang yang Jongdae cemaskan bahkan ketika kondisinya sedang kritis. Ia tidak ingin membuatmu khawatir. Oleh sebab itu, aku tak dapat memberitahumu yang sesungguhnya.”

Pemuda itu memalingkan muka, menyembunyikan bulir bening di pelupuk mata. “Kau yang terus-terusan Jongdae panggil sepanjang malam, di hari terakhirnya di dunia. Ia ketakutan. Bukan karena ia akan mati, namun takut kalau kau sendirian.”

“Maka darinya Jongdae berpesan padaku, untuk menjagamu.” Ia menahan rintihan. “Kemudian ia bilang, ia ingin dimakamkan di taman ilalang, supaya bisa terus mengingatmu. Ia mencintaimu. Sangat. Lebih dari aku.”

Aku tersenyum pilu. “Jadi yang kau maksudkan dengan dia kemarin malam, adalah Jongdae?”

Ia mengangguk. “Hiduplah dengan bahagia, Yoo. Ia tidak suka melihat air matamu. Katanya, kau jelek sekali kalau menangis.”

“Dan juga … selamat ulang tahun.”

.

END

.

Haloooo. Kenalkan, saya admin baru, sebut saja namanya D.O.ssy😄

Fanfic Chen birthday ini adalah fanfic debut saya di blog ini, sekaligus comeback fanfic setelah hiatus berbulan-bulan dari dunia tulis-menulis. Maaf kalo bahasanya kaku, alay dan amburadul. Mohon kritik dan saran🙂

Salam, D.O.ssy

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s