[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 14)

universe-in-his-eyes-poster1

Title                : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 14

Author             : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating             : PG 17

Main cast        :

Oh Serin (OC)

Do Kyungsoo (EXO)

Byun Baekhyun (EXO)

Park Chanyeol (EXO)

Additional cast:

Yeri (Red Velvet) as Kim Yeri

Lee Soo Man

Summary         : Serin bertemu dengannya lagi, pemilik mata tajam yang selalu membayangi pikirannya selama bertahun-tahun. Ia selalu ingin menghindar dari ingatan akan lelaki itu, namun semesta justru membuat Serin semakin terjebak dengannya.Disclaimer       : This story was come from author’s imagination. All cast are belong to God, parents, and agencies. OC and the whole story were come from author’s mind. Don’t plagiarize and repost this story without any permission. Also don’t forget to leave comment after reading and your like is really appreciate me. Thank you so much and happy reading! <3—Previously:Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12Chapter 13 “Tapi… yang kulihat hubungan mereka tidak seperti itu. Bukankah mereka terlalu dekat sebagai seorang teman?”CHAPTER 14-SM Entertainment-

Kyungsoo memerhatikan sebuah kartu nama yang baru saja diberikan oleh seorang pria dewasa kepadanya. Kartu itu bertuliskan Han Semin, SM Entertainment. Dahinya terenyit. SM? Bukankah itu adalah perusahaan hiburan terbesar di Korea Selatan? Batin Kyungsoo.

“Ahjussi nuguseyo?” tanya Kyungsoo tidak mengerti.

Pria itu tersenyum. “Aku? Aku adalah orang yang akan membantu membesarkan namamu.”

“Ne?”

“Datanglah ke alamat itu hari Sabtu akhir pekan ini, kutunggu kedatanganmu di kantor.” jawab pria itu singkat lalu berbalik pergi meninggalkan Kyungsoo yang masih berdiri terpaku sambil memandanginya pergi.

Kyungsoo menatap kartu di tangannya sekali lagi. Apa maksud pria itu barusan? Apakah ini artinya… ia tak sengaja untuk diundang audisi? Kyungsoo tertawa kecil mendengar jawaban dari pikirannya barusan.

Audisi? Yang benar saja.

Ia meremas kartu nama itu dan segera memasukkannya ke dalam saku celananya.

***

“Apakah harimu menyenangkan?” tanya Serin lewat telepon.

Kyungsoo tersenyum sambil memutar-mutar bolpoinnya. “Tentu saja.”

Malam itu Serin dan Kyungsoo sedang bercakap-cakap melalui panggilan telepon. Sudah lewat beberapa hari sejak kepulangan mereka dari Tokyo, namun keduanya belum sempat menghabiskan waktu bersama. Bahkan untuk curi-curi waktu untuk berdua saja sudah susah karena selain Kyungsoo yang kembali menjalankan tugasnya sebagai ketua kedisiplinan di sekolah, Serin juga tak kunjung lepas dari kedua sahabatnya Baekhyun dan Chanyeol, sehingga Kyungsoo enggan mencuri momen berdua dengan gadis itu.

“Kau sedang apa?” tanya Serin.

“Hanya… belajar.” jawab Kyungsoo sambil menaruh goresan pada buku catatannya. Ia berbohong, sebenarnya ia tidak sedang belajar, melainkan sedang menggambar sketsa wajah Serin. Awalnya ia memang sedang belajar, namun ketika Serin menelepon ia jadi tidak bisa fokus pada catatannya dan kini otaknya hanya tertuju pada gadis itu.

“Aku mengganggu ya? Maaf.”

“Tidak kok,” Kyungsoo tertawa. “malah kebetulan aku memang sedang suntuk, untung kau menelepon disaat yang tepat.”

“Cih, bohong.”

Kyungsoo tertawa lagi mendengar respon Serin. Entah kenapa suara gadis itu selalu terdengar menyenangkan baginya. Andai saja Serin sedang berada persis di hadapannya, Kyungsoo yakin netranya sudah pasti tak akan pernah lepas dari sosok gadis itu.

“Bogoshipo.” kata Serin tiba-tiba.

“Kan sudah ketemu di sekolah.”

Aniya, aku belum pernah punya kesempatan untuk bertemu dan mengobrol berdua denganmu, apalagi kita beda kelas. Kau tahu kan teman-temanku itu selalu menempel padaku. Chanyeol sih tidak seberapa, tapi Byun Baekhyun… ah, dia itu seperti permen karet.”

“Dia itu hanya terlalu terbiasa denganmu.” Kyungsoo sangat memahami kedekatan Serin dan Baekhyun. Setelah mendengar cerita Serin bahwa ia dan Baekhyun sudah mengenal sejak kecil, ia sangat percaya bahwa hubungan di antara keduanya memang benar-benar murni hanya sebagai sahabat. “Kalau begitu coba carikan dia pacar.” usul Kyungsoo tiba-tiba.

Heol, kau tidak tahu saja sudah berapa kali aku coba mendekatkan dia pada gadis lain, tapi entah kenapa dia tidak pernah bisa pacaran lama. Lebih buruknya lagi, aku sudah berkali-kali dilabrak mantan-mantan Baekhyun karena mereka bilang akulah penyebab putusnya mereka karena cemburu melihatku terlalu akrab dengannya.”

“Kenapa begitu?” tanya Kyungsoo sambil tersenyum, berharap Serin akan bercerita panjang mengenai hal itu.

Serin menceritakan semuanya pada Kyungsoo, sedangkan lelaki itu hanya memejamkan matanya, tersenyum sambil mendengarkan suara gadis itu baik-baik. Ia tidak peduli bagaimana cerita tersebut dapat terjadi, yang ia inginkan saat ini hanyalah berharap dapat mendengar suara Serin bercerita seperti ini sepanjang malam.

“Kyungsoo-ya, kau tidur ya?” panggil Serin karena tidak mendengar respon Kyungsoo selama ia bercerita.

“Tidak, aku mendengarkanmu kok.” jawab Kyungsoo dengan mata masih terpejam.

“Nyanyikan sebuah lagu untukku.” pinta Serin.

“Kenapa tiba-tiba sekali?”

“Hanya… ingin saja.”

Kyungsoo menuruti permintaan gadisnya tersebut. Ia bernyanyi dengan suara pelan, namun suara yang keluar dari tenggorokan Kyungsoo benar-benar merdu, sampai Serin tak berhenti tersenyum saat mendengarnya. Siapa sangka, Kyungsoo selalu punya sisi lain yang sulit ditebak, selain otaknya yang pintar, ia juga memiliki suara yang bagus, seolah Serin mudah tersihir dengan suara beratnya tersebut.

“Aku jadi rindu saat-saat masih di Tokyo.” ujar Serin tiba-tiba.

Kyungsoo membuka matanya, kenangan-kenangan selama di Tokyo kembali muncul dalam ingatannya. Kota itu benar-benar sangat berkesan, bahkan sebelumnya ia tak pernah berpikir bahwa gadis menyebalkan dan arogan seperti Oh Serin sekarang bisa menjadi pacarnya.

“Aku juga.”

Mendadak Kyungsoo teringat saat dimana ia melihat Serin menangis di pelukan Chanyeol. Entah kenapa tiba-tiba saja adegan itu muncul di kepalanya. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang Serin dan Chanyeol sedang bicarakan waktu itu, tapi ia yakin sebelumnya mereka sempat ada masalah karena sebelumnya Serin jarang terlihat bersama lelaki itu dan hanya terus berdua bersama Baekhyun. Entah ada masalah apa di antara mereka. Yang jelas Kyungsoo tidak mau tahu dan tidak ingin bertanya mengenai hal itu pada Serin. Ia tidak ingin menjadi pacar yang mengurusi hal-hal pribadi seperti hubungan pertemanan pasangannya. Tapi tetap saja ia tak bisa berbohong kalau sebenarnya ia sedikit terganggu dengan itu.

“Teman-temanmu baik-baik saja kan?” tanya Kyungsoo tiba-tiba. Tanpa sadar Kyungsoo jadi menanyakan teman-teman Serin karena baru saja kepikiran mengenai hal itu.

“Hm, mereka baik-baik saja.” jawab Serin tidak menambahkan kalimat lain di belakang.

Mungkin Serin memang tidak ingin menceritakannya.

“Baguslah, akur-akur ya.”

Tidak terasa mereka sudah mengobrol lebih dari satu jam dan jam di dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam, sementara Kyungsoo bahkan belum menyelesaikan PR-nya.

“Serin-ah, sudah dulu ya. Aku harus menyelesaikan tugasku.”

Serin mengangguk, namun sedetik kemudian ia sadar bahwa Kyungsoo tidak dapat melihat anggukannya. “Oh, araseo Kyungsoo-ya.”

“Serin-ah?”

“Hm?”

“Saranghae.” ujar Kyungsoo pelan. Sangat pelan seperti berbisik. Tapi Serin yakin sekali sudah mendengarnya.

“Mwo?” pancing Serin agar Kyungsoo mengulangi ucapannya.

Tidak ada jawaban, yang terdengar hanyalah suara nafas Kyungsoo yang sedang berusaha menahan tawanya. Namun Kyungsoo masih terdiam dan tidak mengulangi kata-katanya lagi.

“Aku juga.” jawab Serin akhirnya.

“Juga apa?”

“Saranghae.”

Kyungsoo menahan nafasnya, ia sungguh ingin tertawa keras sekarang. Serin benar-benar mudah terpancing permainannya. Sementara Serin menggigit bibirnya malu setelah mengatakan itu.

“Aku juga.” jawab Kyungsoo akhirnya. “Selamat tidur.” sapanya di akhir.

Suara berat nan lembut milik Kyungsoo mengakhiri panggilan panjang tersebut. Wajah Serin sangat memerah saat ini, ia langsung menjerit gemas dan berguling-guling di kasurnya.

“KYAAAAAA!!! EOTTEOKHAEEE!” jeritnya malu-malu. Benar-benar sangat malu tapi ia juga senang di saat yang bersamaan.

Selamat tidur juga, Do Kyungsoo.

 

***

Kelas 2-3 baru saja mengakhiri pelajaran olahraga. Beberapa siswa dari kelas itu mulai memasuki koridor dan berjalan menuju kelas, begitupun dengan Serin, Baekhyun dan Chanyeol. Setelah permasalahannya dengan Chanyeol berakhir, mereka bertiga kini mulai selalu bersama-sama lagi.

Mereka bertiga menaiki tangga di sisi timur gedung sekolah sambil tertawa. Baekhyun dan Chanyeol bercanda sambil menendang bokong masing-masing yang kemudian disambut tawa keras dari Serin yang tidak kuat melihat kedua sahabatnya bertingkah konyol seperti itu.

Yah, yah, aku ke toilet dulu sebentar ya. Kalian berdua ke kelas duluan saja.” ujar  Baekhyun tiba-tiba sambil memegangi kantung kemihnya.

“Oh-hoh, jangan lama-lama ya.” jawab Serin. Kemudian Baekhyun segera berlari cepat menuju toilet.

“Bocah itu, habis minum sedikit langsung ke toilet. Dasar burung.” kata Chanyeol meledek Baekhyun setelah lelaki itu menghilang.

Serin tertawa geli mendengarnya. “Yahahahaha burung.”

Beberapa meter di depan Serin dan Chanyeol, terlihat Kyungsoo yang sedang berjalan ke arah berlawanan dengan mereka. Serin kemudian menoleh ke ruangan yang ada di sebelahnya yang merupakan ruang kelas Kyungsoo. Ia tidak sedang di kelas.

“Habis pelajaran olahraga ya?” tanya Kyungsoo basa-basi, padahal ia sudah jelas tahu setelah melihat Serin dan Chanyeol yang masih memakai seragam olahraga.

“Hm iya, panas sekali di luar. Ngomong-ngomong kau habis dari mana?” tanya Serin heran karena Kyungsoo tidak ada di dalam kelas.

“Aku habis dari ruang guru, laporan seperti biasa.” jawab Kyungsoo yang langsung direspon anggukan dari Serin. Untuk ke sekian kalinya ia lupa bahwa Kyungsoo adalah ketua kedisiplinan sekolah.

“Kalau begitu aku masuk dulu ya.” ujar Serin hendak berjalan kembali. “Hwaiting!” bisik Serin pelan ketika melewati tubuh Kyungsoo. Lelaki itu hanya menjawab dengan senyum manisnya.

Mata Kyungsoo terus mengikuti sosok Serin dan Chanyeol yang baru saja melewati punggungnya. Namun lelaki bernama Park Chanyeol itu tiba-tiba saja melingkarkan lengannya di bahu Serin ketika mereka sedang berjalan meninggalkan Kyungsoo. Chanyeol menoleh ke belakang, ia sadar bahwa Kyungsoo pasti sedang memerhatikannya sedang merangkul Serin. Ia menoleh ke arah Kyungsoo lalu tersenyum mengejek kepadanya. Sedangkan Kyungsoo hanya mendengus tidak percaya, ia hanya berdiri di sana sambil matanya yang tajam menatap kesal pada Chanyeol. Tingkah lelaki itu barusan mirip sekali dengan Kai saat di Jepang beberapa waktu lalu. Jika saja lelaki itu bukan teman baik Serin, dirinya pasti sudah habis di tangan Kyungsoo saat ini karena dia sudah berhasil membuat Kyungsoo kesal.

Kyungsoo mengepalkan tangannya dengan kuat, kemudian memasukkan kepalannya ke dalam saku celana. Tanpa sadar tangannya menyentuh sebuah objek dari balik saku celananya. Ia mengambil benda itu kemudian melihat sebuah kartu nama yang sudah lecek karena telah ia remas sebelumnya.

“Datanglah ke alamat itu hari Sabtu akhir pekan ini, kutunggu kedatanganmu di kantor.”

Hari Sabtu pekan ini. Kalau begitu… itu artinya besok.

***

Keesokan harinya, Kyungsoo sudah bangun pagi-pagi sekali. Sejak ia bangun tidur, Kyungsoo tak hentinya terus mempertimbangkan bahwa ia akan pergi ke SM Entertainment atau tidak. Pasalnya, ia sama sekali tidak memberitahu Serin tentang dirinya yang tiba-tiba didatangi seorang pria asing dan menyuruhnya untuk datang ke sebuah agensi hiburan yang sangat terkenal itu. Jujur ia sedikit gugup mengenai hal itu, sudah pasti dirinya diminta untuk mengikuti audisi di sana, tapi ia sendiri tak tahu kenapa ia yang dipilih. Ia pun tidak tahu bakat apa yang dimilikinya. Jadi bagaimana ia bahkan bisa masuk ke agensi yang disebut-sebut sebagai perusahaan hiburan terbesar di Korea itu?

Kyungsoo melirik ke arah jam dinding. Jam telah menunjukkan pukul sebelas. Sudah hampir siang. Ia masih ragu ingin datang atau tidak, hingga akhirnya ia memutuskan untuk tiduran saja. Kyungsoo mencoba memejamkan matanya, berusaha untuk tertidur sejak menghabiskan waktu paginya yang sibuk dengan berberes rumah. Namun sayangnya matanya sama sekali tidak mau terpejam, ia bahkan tidak merasa begitu lelah. Omongan ahjussi itu terus saja mengganggu pikirannya. Ia terus gelisah sambil memerhatikan jam, sampai akhirnya ia bangun dari posisi tidurnya dengan gusar dan berjalan masuk ke kamar untuk mengganti pakaiannya.

Setengah jam sudah berlalu sejak Kyungsoo meninggalkan rumahnya di daerah Jamsil yang memang berseberangan dengan Cheongdam-dong di distrik Gangnam. Kini Kyungsoo telah berdiri di depan sebuah gedung delapan lantai. Ia mengamati gedung bagus itu sampai ke puncaknya. Oh, jadi ini gedung yang sudah menghasilkan puluhan idol dan aktor ternama seantero nasional. Kyungsoo melongo, ia benar-benar tidak percaya bahwa dirinya hanya berjarak sedekat itu dengan gedung SM.

Kyungsoo mencoba masuk ke dalam gedung, ia memperlihatkan kartu nama yang sudah lecek tersebut kepada resepsionis. “Ahjussi pemilik kartu nama ini yang memberikannya padaku, ia memintaku untuk datang kemari.” kata Kyungsoo. Setelah melihat nama dari pemilik kartu itu, dengan cepat resepsionis tersebut mengangguk dan memintanya untuk ke lantai tiga.

Ia mengamati sekeliling lorong gedung tersebut dengan perasaan kagum dan beberapa kali ia mendengar suara musik keras dari sebagian ruangan tertutup yang kemungkinan adalah tempat para idol atau trainee yang sedang latihan. Ketika Kyungsoo telah sampai di lantai tiga, seorang wanita yang terlihat berusia di atasnya langsung memberikannya sebuah nomor kemudian memintanya masuk ke sebuah ruangan.

Di dalam ruangan itu ada banyak orang dan hampir semuanya sedang sibuk masing-masing. Kyungsoo mengamati mereka satu per satu. Ada yang sedang berlatih menyanyi, latihan menari, bahkan ada yang terlihat sedang menghafalkan beberapa baris dialog. Apakah orang-orang ini juga akan mengikuti audisi seperti dirinya? Kyungsoo berpikir sejenak, ia sendiri bahkan tidak sempat mempersiapkan apapun untuk menghadapi orang-orang di perusahaan ini. Ia hanya mampu berdiri di antara orang-orang itu. Ia bahkan baru sempat terpikir untung datang ke sini beberapa saat yang lalu, jadi bagaimana ia sempat menyiapkan sebuah penampilan?

Setelah duduk berjam-jam dan menunggu di sana, akhirnya nomor antrian Kyungsoo dipanggil. Dengan perasaan gugup dan ide kosong di kepalanya, ia hanya masuk ke dalam ruangan itu. Ruangan itu kosong dan tidak ada banyak perabotan di sana. Yang ada hanyalah dua buah meja dengan dua orang pula yang sedang duduk di belakangnya.

“Oh, kau datang.” sapa salah seorang diantaranya. Itu adalah ahjussi yang ditemui Kyungsoo beberapa hari lalu. Kyungsoo langsung membungkuk pada kedua orang itu dengan sopan.

“Kau yang membawanya?” tanya seorang pria yang lebih tua dari ahjussi tersebut. Kyungsoo dengan yakin orang yang dilihatnya barusan adalah Lee Sooman, pendiri sekaligus pemilik utama dari SM Entertainment yang terkenal itu. Ia terkagum-kagum, tidak menyangka dirinya sedang berhadapan langsung dengan orang paling berpengaruh di Korea Selatan.

Dalam hati Kyungsoo mengutuk dirinya sendiri. Apa yang telah dipikirkannya sampai ia berani datang ke tempat seperti ini, bersama orang-orang hebat tersebut tanpa mempersiapkan apa-apa?

“Nama?” tanya Lee Sooman padanya.

“A-ah, sa-saya Kyungsoo. Nama saya Do Kyungsoo.” jawab Kyungsoo terbata-bata karena tegang.

“Aku suka tatapanmu itu.” kata Lee Sooman sambil menunjuk padanya. “Baik, Do Kyungsoo, apa yang akan kau tunjukkan pada kami?” tanyanya kemudian.

Kyungsoo hanya melongo, ia sungguh tidak tahu harus berbuat apa saat ini juga. Ia melihat ke arah pria yang diketahui bernama Han Semin tersebut, namun ahjussi itu hanya tersenyum padanya.

“A-aku tidak mempersiapkan apa-apa. Ahjussi itu yang tiba-tiba memintaku untuk datang kemari.” jawab Kyungsoo sambil menunjuk ke arah Han Semin.

Han Semin hanya tersenyum kemudian setengah berbisik ke Lee Sooman, “Anak ini auranya sangat bagus. Ia benar-benar memiliki pesona seorang selebriti yang sedang kita cari selama ini.”

“Jadi kau ingin membentuknya sebagai apa?” tanya Lee Sooman padanya.

“Sejujurnya, aku masih belum tahu. Tapi untuk saat ini, mari kita persiapkan kelas akting dan kelas vokal, sepertinya itu cocok untuknya.”

“Jangan bilang kau ingin mendebutkannya sebagai idol? Aku sungguh tidak ingin produk asal-asalan sampai masuk dalam daftarku.” kata Lee Sooman serius.

“Kita lihat bakatnya dulu saja, seonsaengnim.” jawab Han Semin penuh percaya diri. “Kyungsoo-ya, bisakah kau menyanyikan sebuah lagu pada kami?” tanya pria itu lagi kali ini pada Kyungsoo.

Kyungsoo berpikir cepat, lagu apa yang akan ia bawakan tanpa sempat berlatih apapun. Namun beberapa detik kemudian ia langsung menemukan sebuah lagu yang akan ia nyanyikan saat ini. Ia memejamkan matanya dan menarik nafas dalam-dalam.

Kyungsoo akhirnya menyanyikan sebuah lagu seperti yang diminta Lee Sooman pada peserta-peserta sebelumnya. Ia menyanyikan lagu My Story dari Brown Eyed Soul. Tanpa diduga ternyata Kyungsoo memiliki suara yang indah seperti malaikat. Selama ini tidak ada seorang pun yang mengetahui bakatnya. Mata Lee Sooman langsung berbinar sejak Kyungsoo menyanyikan bait pertama, dan setelah itu ia langsung tersenyum puas. Lee Sooman menatap Han Semin lega, ia sudah menduga bahwa pilihan orangnya tersebut memang tidak pernah salah. Anak ini sungguh berbakat.

“Sekarang mari kita lihat kemampuan aktingmu.” ujar Han Semin kemudian.

***

Kyungsoo meneguk botol air mineral yang dipegangnya dengan cepat. Ia memegangi dadanya, ia sama sekali tidak pernah segugup ini sebelumnya. Ia sudah sempat berpikir bahwa dirinya akan mati gugup saat berada di dalam ruangan tadi. Beberapa saat kemudian, Lee Sooman dan Han Semin keluar dari ruangan tersebut. Sepertinya ia benar-benar peserta terakhir yang telah mengikuti audisi.

Lee Sooman berjalan ke arahnya. “Kau sudah berusaha dengan baik.” katanya sambil menepuk bahu Kyungsoo dan tersenyum ke arahnya. Orang ini tidak seperti kelihatannya, ia sangat ramah dan baik hati. Kyungsoo membalas dengan membungkuk rendah kepada pria itu. Di belakangnya ahjussi bernama Han Semin tersebut ikut tersenyum dan mengedipkan sebelah mata padanya, memberi kode bahwa ia telah memberikan usaha bagus di depan mereka.

Kyungsoo melirik jam tangannya, tidak terasa waktu sudah menunjukkan pukul empat sore. Sepertinya ia sudah cukup terlalu lama menghabiskan waktu di gedung ini. Tanpa menunggu apapun lagi, Kyungsoo langsung menekan tombol elevator. Ketika pintu itu terbuka, seorang gadis bertubuh mungil tak sengaja menabraknya karena sedang buru-buru.

“Ah, jwesonghamnida.” kata gadis itu sambil sedikit membungkuk, kemudian tatapan mereka tidak sengaja bertemu. “Oh? Kau?”

Melihat reaksi gadis tersebut, Kyungsoo langsung melihat ke arahnya. Gadis itu berwajah cantik, rambutnya digulung ke atas, tubuhnya yang kecil sedang berbalut hoodie putih dan sebuah celana training pendek serta sepasang sneakers melekat di kedua kakinya yang mungil. Penampilannya seperti trainee perusahaan. Tidak kenal.

“Kau mengenalku?” tanya Kyungsoo bingung.

“Tentu saja! Kau sunbae yang kemarin ikut pertukaran pelajar ke Jepang kan?”

“Oh?”

“Aku junior di sekolahmu, sunbae! Aku Kim Yeri!” jawab gadis mungil tersebut.

“Hah?”

Siapa itu Kim Yeri?

“Aku pacarnya Park Chanyeol, temannya Serin eonni.” tambahnya lagi menjelaskan.

Pacarnya Park Chanyeol? Sejak kapan, sih?

“Chanyeol-i yeochin?” tanya Kyungsoo ragu dengan perkataan gadis itu. Namun Yeri mengangguk dengan percaya diri.

“Ngomong-ngomong sunbae sedang apa di sini?” tanya Yeri penasaran sedang apa Kyungsoo berada di gedung yang bahkan tidak bisa dimasuki orang sembarangan selain staff dan para trainee.

“Oh, aku-”

“Jangan bilang sunbae trainee di sini juga?” potong Yeri disaat Kyungsoo bahkan belum sempat menjawabnya. Sepertinya gadis ini tidak butuh jawaban Kyungsoo, melihat lelaki itu berada di sini saja sudah bisa ditebak dengan jelas apa statusnya di gedung ini.

Dahi Kyungsoo mengernyit. “Bukan begitu, aku baru saja bertemu tuan Lee Sooman.”

Yeri langsung menutup mulutnya. “Heol, kau bahkan bertemu direktur?”

“Ah… haha, yah, begitulah.” jawab Kyungsoo sekenanya.

Sunbae, berhubung kita berasal dari sekolah yang sama dan trainee dari perusahaan yang sama, bagaimana jika kita ngobrol-ngobrol sebentar?” ajak Yeri langsung menyambar tangan Kyungsoo. Kyungsoo sangat terkejut dengan sikap Yeri dan melirik pergelangan tangannya yang tiba-tiba saja disambut gadis itu. Padahal sebenarnya ia sudah malas dan benar-benar ingin segera pulang ke rumah.

Wow, gadis ini semangat sekali.

Akhirnya Kyungsoo dan Yeri duduk di sebuah kafe di dekat perusahaan. Kyungsoo hanya memesan segelas Ice Americano sedangkan Yeri memesan Strawberry Frappe lengkap dengan whipped cream dan topping buah di atasnya. Dengan semangat Yeri langsung meneguk minumannya.

Sadar bahwa Kyungsoo sedang memerhatikan tingkahnya, Yeri langsung membenarkan posisi duduk dan menaruh kembali minumannya. “Sunbae, jangan bilang-bilang yang lain kalau aku minum ini. Sebenarnya aku harus diet.” ujar Yeri pelan dengan nada sedikit memohon.

Kyungsoo hanya menatap gadis itu dari atas sampai bawah, melihat tubuhnya yang kurus dan kecil itu aja sudah terlihat memprihatinkan. Bagaimana bisa ia masih harus menjalani diet?

“Aku tidak akan mengatakannya pada siapapun.” jawab Kyungsoo singkat.

Gomawoyo.” Yeri tersenyum, namun pandangannya tertunduk. Ia sungguh tidak tahu bahwa seniornya itu mempunyai tatapan mata yang sedikit membuatnya tidak nyaman alias terlalu jutek.

“Aku tidak tahu kalau ada siswa sekolah kita yang menjadi trainee di perusahaan ini.” ujar Kyungsoo basa-basi.

“Sebenarnya kebanyakan siswa di sekolah sudah tahu bahwa aku seorang trainee, tapi aku tidak pernah memberi tahu mereka di perusahaan mana, karena terkadang beberapa siswa laki-laki terlihat sering mengikutiku.”

“Ooh.”

“Ngomong-ngomong sunbae dekat sekali ya dengan Serin eonni?” tanya Yeri tiba-tiba mengubah topik pembicaraan.

“Serin? Wae?” tanya Kyungsoo bingung. Kenapa mendadak Serin?

“Tidak ada apa-apa sih,” jawab Yeri dengan nada menggantung lalu menyeruput kembali minumannya. “Begini, sunbae tahu tidak bagaimana hubungannya dengan Baekhyun oppa?” lanjut Yeri.

“Mereka teman baik.” jawab Kyungsoo.

Yeri menggumam lalu meletakkan kedua sikunya di atas meja. “Tapi… yang kulihat hubungan mereka tidak seperti itu. Bukankah mereka terlalu dekat sebagai seorang teman?”

“Itu karena mereka sudah berteman sejak kecil.”

“Dan lagi, aku kesal kenapa Chanyeol oppa juga dekat sekali dengannya.”

“Tenang saja, mereka juga hanya teman kok.”

Sunbae tahu banyak tentang Serin eonni ya?” tanya Yeri curiga melihat respon kilat Kyungsoo yang selalu menjawab perkataan Yeri.

“Tentu saja, aku kan pacarnya.” jawab Kyungsoo kelepasan.

Tanpa diduga Kyungsoo melontarkan kalimat itu dengan sendirinya. Kyungsoo menggigit bibir bawahnya, merasa menyesal saat itu juga kenapa ia harus mengatakan hal itu pada Yeri.

Dari sisi yang berlawanan, wajah Yeri benar-benar terlihat mematung. Matanya terbuka lebar menatap Kyungsoo yang sedang salah tingkah sambil menyedot Ice Americano miliknya.

“Oh… jadi pacarnya.” ujar Yeri pelan sambil menaikkan sudut bibirnya. “Aku tidak tahu kalau Serin eonni punya pacar. Selama ini aku selalu melihatnya bersama si lelaki Byun, kukira ia pacaran dengannya.”

“Tidak, Serin dan Baekhyun hanya sebatas teman. Benar-benar murni hanya sebatas teman. Mereka dulu tetangga dan sudah hidup berdampingan sejak kecil.” jelas Kyungsoo memastikan karena sebenarnya ia sudah cukup gerah bahwa gadis bernama Kim Yeri itu terus saja berbicara hal aneh mengenai hubungan Serin dan teman-temannya.

“Ah, begitu.” Yeri mulai menyandarkan bahunya di kursi. “Padahal tadinya kupikir ia selingkuh dari Baekhyun oppa dengan berpura-pura berteman dengan Chanyeol oppa.” tiba-tiba saja Yeri mulai bicara ngelantur.

“Maksudmu?”

“Aku tahu kalau Chanyeol oppa dan Serin eonni sebenarnya saling suka.”

Apa?

Melihat reaksi wajah Kyungsoo, Yeri langsung setengah tertawa. “Sunbae tidak tahu?”

Kyungsoo ingin menggeleng, namun berhasil ditahannya. Alisnya merapat, ditatapnya Yeri dengan tajam.

“Kau ini sebenarnya ingin bicara apa sih?!” tanya Kyungsoo tanpa sadar telah menaikkan sedikit volume suaranya. Apa sih mau perempuan ini? Tiba-tiba saja dan entah dari mana datangnya ia mendekat dan mulai berbicara hal-hal aneh padanya. Kyungsoo benar-benar tidak mengerti. Namun tiba-tiba bayangan saat Chanyeol memeluk Serin dan merangkulnya di depan Kyungsoo waktu itu kembali muncul dan terus berulang-ulang di dalam kepalanya. Dan sedetik kemudian Kyungsoo mulai merasa ragu dengan dirinya sendiri.

Chanyeol dan Serin saling suka? Apa maksudnya ini?

-To be Continued-

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 14)”

  1. Baekhyun sama aq saja..pasti awet…hehe.., si cacing kepanasan alias yeri ngapain tuh deket2 kyungsoo..hadeuh..mulai deh cari perkara nih yuri..semoga kyungsoo g termakan sama omongan si yeri.thor..konfilknya jangan muncul dulu dong..masih pingin liat kemesraan antara kyungsoo ama serin.., semangat ya thor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s