[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 17)

Title                 : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 17

Author             : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length             : Series/Chaptered

Genre              : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating             : PG 17

Main cast         :

Oh Serin (OC)

D.O. / Do Kyungsoo (EXO)

Baekhyun (EXO)

Chanyeol (EXO)

Additional cast:

Wendy (Red Velvet)

Summary         : Serin tanpa sengaja menyelamatkan seorang penyanyi terkenal yang sedang diganggu penggemar fanatiknya, namun ia sama sekali tak menduga bahwa orang yang ditolongnya itu ternyata merupakan mantan kekasihnya saat masih di bangku sekolah.

Disclaimer       : All casts belong to God, parents, and agencies but OC and the whole story are purely comes from author’s imagination. Please don’t plagiarize or repost this story without any permission, and don’t forget to leave a comment after reading since your comment and suggestion are really help. Happy reading!

Previously:

Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12Chapter 13Chapter 14Chapter 15Chapter 16

“Maafkan aku karena sudah menyakitimu, tapi aku benar-benar tidak bisa melepasmu, Oh Serin.”

CHAPTER 17

(Try To Understand)

Baekhyun menatap gadis berambut pirang yang baru saja ia ketahui namanya beberapa menit yang lalu. Gadis itu sedang berdiri di depannya sambil terus mengusap lengannya dengan gelisah karena sedikit risih dengan tatapan Baekhyun yang terus memandanginya dari ujung kepala sampai ujung kaki. Gadis itu yakin sekali pria kecil di depannya ini sedang mengatakan sesuatu dalam benaknya, namun Wendy sama sekali tak ingin menebak apa yang dipikirkan lelaki itu.

Selepas mengamati Wendy dengan mata misteriusnya, Baekhyun mengalihkan pandangannya ke ujung gang kecil dari tempat ia berdiri. Di sana terlihat Serin sedang berdiri sambil melipat tangannya, seolah tidak ingin membuka diri terhadap lelaki bertubuh pendek di depannya. Mata Baekhyun kembali mengarah ke tempat lain, ia meraih kedua saku celananya sambil berpura-pura menatap sekeliling agar tampak sedang berjaga.

Di ujung gang kecil itu Serin merapatkan kedua lengannya. Matanya mengarah ke aspal jalan. Ia bahkan enggan sekali menatap lelaki di hadapannya sekarang. Tak ada gunanya bicara dengannya saat ini.

“Kau marah padaku?” tanya Kyungsoo dengan suara yang sangat pelan.

“Bagaimana kau bisa menanyakan sesuatu yang sudah jelas kau ketahui jawabannya?” balas Serin dengan enggan.

“Kau marah soal aku yang jadi trainee atau karena Wendy?”

Serin menaikkan pandangannya. Matanya terlihat berputra-putar ke atas, namun sebisa mungkin tetap menghindari sosok Kyungsoo.

“Aku kecewa padamu, kau tahu?”

Kyungsoo tidak menjawab kalimat Serin. Matanya menatap lurus ke bawah, sementara Serin masih tak ingin menatap wajah Kyungsoo.

“Maafkan aku.” ujar Kyungsoo sangat pelan. Matanya ingin menatap Serin tapi ia terlalu ragu.

Serin mulai melirik Kyungsoo pelan-pelan karena takut tangisnya akan pecah jika terlalu memaksakan diri untuk tidak menatap wajah lelaki itu.

“Aku sebenarnya sangat marah padamu. Aku sungguh ingin memaki jika aku bertemu denganmu. Aku bahkan benar-benar ingin menamparmu. Tapi kau mengenalku dengan baik, Kyungsoo-ya, semua pikiran itu tak akan mungkin benar-benar kulakukan.

”Kyungsoo akhirnya memeberanikan diri menatap Serin. Wajah Serin yang biasanya selalu cerah dan ceria entah kenapa terlihat sangat suram dan gelap. Kantung matanya terlihat membengkak. Apakah gadis itu banyak memikirkannya selama ini? Apakah tidurnya cukup? Apakah ia makan dengan baik?

“Kalau begitu lakukan saja. Tampar aku sekarang.” kata Kyungsoo mendekatkan dirinya pada Serin. Ia mengangkat wajahnya, namun matanya masih belum berani bertemu dengan bola mata gadis itu.

Serin mulai merasakan sesak di dadanya, nafasnya terlihat mulai terengah-engah dan matanya mulai merasa panas. Ia ingin teriak sekencang-kencangnya di telinga Kyungsoo, mengeluarkan semua sesak di dadanya karena lelaki itu sudah berbohong padanya selama ini. Kyungsoo menaikkan pandangannya, dilihatnya mata Serin yang mulai memerah karena menahan tangis.

Kyungsoo meraih tangan Serin dengan gemetar. Ia seperti ingin menangis bersama gadis itu setelah melalu hari-hari yang berat sebagai trainee. Ia ingin mengeluh sebanyak mungkin pada gadis itu. Tapi ia tahu bahwa posisinya saat ini sedang tidak berhak untuk melakukan semuanya.

Hawa panas yang telah memenuhi kelopak mata Serin sejak tadi akhirnya berbuah tetesan air mata. Matanya yang merah karena menahan panas akhirnya berubah basah dengan air mata yang keluar dari sudut matanya dan mengalir melalui kedua pipinya.

“Serin-ah…” ujar Kyungsoo lemah. Raut wajah Serin membuatnya tersadar penuh bahwa gadis itu selalu menahan kecewanya sendiri selama ini. Do Kyungsoo, kau benar-benar pria brengsek.

“Aku sangat mengkhawatirkanmu, tahu? Aku bahkan tak mendengar apapun darimu sepanjang libur musim panas ini. Aku… aku sangat merindukanmu…” ujar Serin sambil terisak-isak di tengah tangisnya.

Tak ada hal yang dapat dilakukan Kyungsoo saat ini selain menarik Serin ke dalam pelukannya. Tak ada kalimat yang pantas diucapkannya untuk mengobati rasa kecewa Serin padanya. Kyungsoo tak pernah merasa jadi sebodoh ini sebelumnya.

“Maafkan aku…” bisik Kyungsoo sambil merapatkan tubuhnya pada Serin.

Tak ada reaksi dari gadis itu selain tangisannya yang semakin deras. Kyungsoo bisa merasakan Serin sedang meremas kemeja longgar yang dipakainya, dan air mata gadis itu kini telah merembes sampai ke kaos dalamnya hingga Kyungsoo bisa merasakan air mata hangat Serin yang telah menyentuh kulitnya. Ia membelai kepala Serin dengan lembut agar tangisnya mereda.

Mianhae, Serin-ah. Aku sama sekali tidak berniat untuk menjauh darimu. Maaf kalau aku tidak mengatakan apa-apa soal kegiatanku sebagai trainee. Semuanya begitu mendadak dan aku tidak punya waktu untuk menjelaskannya padamu. Aku sangat egois. Ya Tuhan, maafkan aku…” entah siapa yang sedang Kyungsoo ajak bicara saat ini. Yang jelas, ia benar-benar terdengar sangat menyesal.

Serin melepaskan tautannya dari Kyungsoo. Matanya benar-benar sudah bengkak dan pipinya sangat basah. Ia bisa melihat dengan jelas jejak air matanya di kemeja Kyungsoo, dan mata lelaki itu kini……memerah.

Kyungsoo menangis.

Serin tidak pernah menyangka bahwa seorang Do Kyungsoo bisa menangis sampai hidungnya memerah. Ia tidak tahu bahwa ia dan Kyungsoo sama-sama menyimpan semuanya dalam diri mereka masing-masing. Hati mereka terlalu lemah untuk membiarkan orang yang disayang merasakan apa yang sedang mereka rasakan.

Berkali-kali Serin mengatakan dalam hatinya bahwa Kyungsoo adalah pria yang tidak punya hati, namun setelah melihat lelaki itu ikut menangis dengannya, Serin jadi tidak tega. Ia adalah tipe yang rela menahan unek-uneknya daripada menyesal kemudian karena telah membuat orang lain kecewa. Tak terkecuali saat ini. Dalam sekejap Serin menyesali kalimatnya karena sudah menyinggung Kyungsoo. Ia tak bisa terus memikirkan dirinya sendiri. Apakah ia pernah memposisikan dirinya sebagai Kyungsoo? Ia merasa bahwa Kyungsoo juga tidak kalah punya beban yang sama sepertinya. Kerja keras sebagai trainee dan tekanan yang dihadapinya… pasti tidak mudah juga bagi Kyungsoo.

“Pasti berat sekali untukmu.”

Kini keduanya saling memeluk dan saling menenangkan satu sama lain.

Setelah keduanya lebih tenang, Kyungsoo mulai menceritakan dari awal bagaimana ia bisa berakhir dalam situasi saat ini. Dan juga alasan-alasan kenapa ia tidak pernah mencoba menghubungi Serin selama ini.

“Sebenarnya ada hal lain yang ingin kusampaikan…” ujar Kyungsoo sedikit ragu. Serin mencoba menatap mata Kyungsoo namun wajah lelaki itu terlihat sangat serius. Jelas sekali ada sedikit kekhawatiran yang terpancar dari raut wajahnya.

“Apa itu?”

Kyungsoo menelan salivanya. Wajahnya terlihat sangat gugup sampai nafasnya sedikit berat. Ia menarik nafas panjang dan mulai menatap Serin dengan serius.

“Aku akan debut dalam waktu dekat.”

Serin mematung. Ia baru saja menenangkan hatinya beberapa saat yang lalu. Tapi… apa ini? Ia bahkan tidak tahu harus merasa senang atau sedih. Entah harus senang karena itu merupakan sebuah pencapaian untuk kerja keras Kyungsoo, dan sedih karena… entahlah. Pikirannya terlalu rumit untuk menggambarkan semuanya.

Ch-chukhahae.” jawab Serin dengan singkat dengan senyum yang dipaksakan. Ia bahkan tidak tahu bagaimana harus merespon.

“Serin-ah, dengarkan aku baik-baik,” Kyungsoo memegang kedua bahu Serin dan menatapnya dengan serius. “Karena waktu debutku sudah dekat, kemungkinan untuk kita saling berkomunikasi akan sulit. Aku tidak akan diizinkan untuk memakai ponsel karena harus fokus dengan persiapan debutku. Jadi tunggulah aku, nanti aku yang akan datang padamu, mengerti?”

Serin terdiam. Apa ini? Padahal Serin sudah sempat berpikir bahwa ia harus menghentikan hubungannya dengan Kyungsoo sampai sini. Namun barusan Kyungsoo memintanya untuk menunggu. Apakah Kyungsoo berniat untuk tetap mempertahakan hubungan mereka?

“A-aku… tidak yakin apakah bisa…”

“Serin-ah, maaf karena aku sudah menyakitimu, tapi aku benar-benar tidak bisa melepasmu, Oh Serin.”

Aku juga. Aku juga tak bisa melepasmu, Do Kyungsoo.

Serin tersenyum tipis.

“Kau… mencintaiku?”Kyungsoo meraih jemari Serin sambil tersenyum teduh.

“Tentu saja. Aku… saaangat mencintaimu.”

***

Wendy berjalan sedikit agak di belakang Kyungsoo. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan pada lelaki itu, namun nyatanya ia hanya bisa memandangi bahu Kyungsoo yang terlihat sedikit agak menurun. Ia berjalan sambil memerhatikan Kyungsoo yang sedang berjalan di depannya sambil sedikit tertunduk. Ia ingin sekali menarik tangan Kyungsoo yang sedang disembunyikannya di dalam saku celana, namun Wendy benar-benar mencoba untuk menahan keinginannya tersebut.

“Tadi itu pacarmu?” tanya Wendy dengan hati-hati.

“Hm.” jawab Kyungsoo singkat tanpa menoleh ke arahnya.

“Dia cantik.”

Kyungsoo tersenyum tipis dan sedikit melirik ke Wendy.

“Tentu saja.” bisiknya pelan sambil melanjutkan langkah. Walau ia tahu, Wendy pasti sedikit kecewa mendengar jawabannya.

 

***

 

Tentu saja. Aku… saaangat mencintaimu.”

Serin tak bisa tidur dengan tenang. Sudah satu jam ia hanya berbaring dan terus mengubah posisinya dengan gusar. Kejadian tadi siang masih membuatnya berpikir macam-macam. Entah kenapa ia merasa tidak ada penyelesaian yang benar saat ia bertemu Kyungsoo tadi. Ada banyak hal yang sebenarnya ingin ia katakan. Ada banyak hal pula yang ingin ia tanyakan pada Kyungsoo. Namun semuanya terasa tidak cukup. Rasanya hanya tidak tepat. Memang seharusnya saat itu ia membawa kabur Kyungsoo saja, tanpa Baekhyun atau adanya gadis berambut pirang yang bersama Kyungsoo sebelumnya.

“Jangan berpikir yang macam-macam soal Wendy, aku tidak memiliki hubungan apapun dengannya. Malah dia itu teman sesame trainee yang paling dekat. Percayalah, aku terlalu sibuk dengan latihanku, aku bahkan tidak punya waktu untuk dekat-dekat dengan wanita lain.”

Kalimat Kyungsoo yang menjelaskan soal Wendy masih saja terngiang-ngiang di kepala Serin. Benarkah yang dikatakan Kyungsoo? Benarkah gadis itu hanyalah rekan satu perusahaan yang telah banyak membantu Kyungsoo dalam kegiatan trainee-nya? Entah mengapa sejak Kyungsoo berbohong dan tiba-tiba mendadak hilang darinya, Serin jadi mulai meragukan kejujuran Kyungsoo. Kau tahu, jika kau pernah sangat percaya pada orang lain dan dia pernah berbohong padamu, akan sulit bagimu untuk mempercayainya lagi. Begitupun yang sedang dirasakan Serin saat ini. Entah Kyungsoo bohong atau memang ia mengatakan yang sebenarnya, namun jika ia sudah mengatakan demikian, yang harus Serin lakukan ini hanyalah percaya padanya, bukan?

Kyungsoo benar-benar akan debut. Kyungsoo yang pendiam dan tipikal murid teladan mendadak akan jadi idol. Kyungsoo yang sangat pemalu dan tidak suka keramaian akan dihadapkan dengan ribuan fans yang berusaha mendapatkan tanda tangannya. Seluruh pasang mata negeri ini akan tertuju padanya. Semua orang akan mengenalnya dan ia akan dicintai banyak orang. Bukannya iri, malahan sebenarnya Serin cukup senang dengan kesuksesan Kyungsoo. Namun menyadari fakta bahwa Kyungsoo harus membagi cintanya antara pekerjaan, fans, dan dirinya, membuat Serin sedikit merasa insecure terhadap dirinya sendiri.

Bagaimana jika nanti Kyungsoo sangat disibukkan dengan pekerjaannya sampai tidak bisa bertemu dengannya, bahkan jika itu hanya sekali dalam seminggu? Atau lebih buruknya ia hanya akan bisa bertemu sekali dalam sebulan? Bagaimana jika nanti sikap Kyungsoo padanya berubah setelah ia menjadi artis? Bagaimana jika nanti perasaan Kyungsoo padanya mulai memudar dan ia bertemu wanita lain yang jauh lebih cantik dari dirinya? Beragam pikiran tidak berguna mulai memenuhi kepala Serin karena perasaan mindernya.

Jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Serin ingin menentang aktivitas Kyungsoo sebagai trainee. Entah kenapa ia berpikir jika ia mendukung Kyungsoo, seperti sama halnya dengan memberikan jarak di antara mereka. Ia tahu betul bahwa menjadi seorang idola di negara ini tidak mudah, apalagi setelah melihat fakta bahwa banyak siswa perempuan di sekolahnya yang mampu bertingkah sangat ‘gila’ terhadap idola favorit mereka. Jika saja idola mereka ada yang kedapatan berkencan atau terkena skandal, mereka–para penggemar–bisa menjadi lebih dari ‘gila’. Itu berarti Kyungsoo tak akan lagi sepenuhnya untuk dirinya. Ia harus memprioritaskan pekerjaan dan fansnya. Jika nanti Kyungsoo memiliki penggemar dan mengetahui bahwa idola mereka berkencan dengan dirinya, apa yang akan ia lakukan? Ia tak punya pilihan selain menerima kenyataan bahwa orang-orang di atas Kyungsoo mungkin saja akan memintanya untuk mengakhiri hubungan asmaranya. Sulit, ini benar-benar sulit.

Serin menghela nafas panjang. Ia tarik selimut sampai menutupi kepalanya. Jangan menguras otakmu dengan hal-hal tidak berguna, Oh Serin. Semua pasti akan baik-baik saja.

Serin memejamkan matanya dan kemudian terlelap dalam beberapa detik.

 

***

 

Musim baru. Semester baru. Serin melihat bayangannya di cermin sambil memakai seragam musim dingin miliknya. Ya, tidak terasa musim gugur sudah datang dan ia sudah harus mengucapkan selamat tinggal pada seragam musim panas yang paling digemarinya. Hari sudah mulai dingin akhir-akhir ini. Pepohonan juga sudah mulai berguguran hingga daunnya berserakan di jalan. Kata orang, musim gugur adalah musim yang paling menyedihkan karena kita mulai bersiap menghadapi cuaca dingin yang panjang. Curah hujan juga akan semakin sering dan langit akan selalu menampakkan warna keabu-abuannya. Terdengar menyedihkan, tapi jika kau melihat betapa indahnya warna kemerahan dari dedaunan yang jatuh berguguran di jalan saat ini, kau akan menyadari bahwa masih ada keindahan di musim gugur meskipun kau dihujani aura kelam darinya.

Serin melewati kelas Kyungsoo dan melihat lelaki itu sedang duduk sambil membaca buku. Ia berhenti sebentar sambil memandanginya. Beberapa detik kemudian Kyungsoo menoleh ke arahnya seperti baru mendapatkan telepati. Mata keduanya bertemu dan saling tersenyum satu sama lain.

“Kau sudah sarapan?” tanya Serin setengah berbisik sambil menggunakan gestur tangannya sebagai isyarat sebab Kyungsoo mungkin tak dapat mendengar suaranya dari dalam sana. Kyungsoo mengangguk dan tersenyum. “Kalau begitu aku ke kelas dulu, ya.” Serin melambaikan tangannya dan pergi menuju ruang kelasnya.

 

Chanyeol melempar pesawat kertas dan tidak sengaja menabrak kepala Serin.

“Kau mau mati?” kata Serin setengah berbisik sambil mengepalkan tangan ke arahnya.

Tahun akhir di SMA sudah hampir dimulai. Serin mulai harus belajar mati-matian agar dapat diterima di universitas impiannya. Tidak ada waktu untuk terus-terusan bermain dengan kedua sahabatnya yang seperti tidak punya masa depan ini. Yah, kalau Baekhyun mungkin masih ada sedikit harapan, tapi Chanyeol… ah, Serin hanya bisa geleng-geleng kepala. Mungkin sepanjang tahun ini sahabatnya itu akan terus dipukuli kakak perempuannya agar mau belajar.

Segera setelah bel istirahat berbunyi, Serin langsung keluar dari ruang kelas dan menghilang dengan cepat bahkan sebelum Baekhyun dan Chanyeol sempat memanggil untuk mengajaknya makan siang bersama.

“Sudah, sudah biarkan saja, lagi akur sama pacarnya.” kata Baekhyun sambil menyikut lengan Chanyeol. “Kita makan berdua saja tanpa Serin.”“Tidak mau.” jawab Chanyeol cepat dengan muka datarnya dan langsung keluar dari ruang kelas dengan kecepatan yang luar biasa.

“Aish… si kampret itu!”

 

***

 

“Nasinya tidak dihabiskan?” tanya Serin heran melihat Kyungsoo yang menyisakan nasi di wadah makannya. Ia hanya makan setengah dari porsi yang diambilnya.

“Aku sedang diet.” jawab Kyungsoo sambil memasukkan kimchi ke dalam mulutnya.

“Diet?” Serin benar-benar heran dengan apa yang baru saja dikatakan Kyungsoo. Baru kali ini ia melihat laki-laki mengatakan secara terang-terangan bahwa ia sedang diet. Tidak, lebih tepatnya ia baru lihat ada laki-laki yang diet.

“Aku harus menurunkan berat badanku agar lebih mudah bergerak saat menari.”

Serin mengerutkan alisnya. Matanya mengobservasi Kyungsoo dengan seksama. Ia baru sadar bahwa Kyungsoo sudah banyak kehilangan berat badannya selama liburan kemarin. Tentu saja ia tidak terlalu menyadarinya karena ia lumayan sering bertemu dengan Kyungsoo. Serin melamun, ia masih melihat Kyungsoo yang sibuk mengunyah sayurannya dengan lahap. Lelaki itu makan dengan lahap, tapi ia terlihat sangat kelaparan. Apa lagi yang perlu dikurangi dari tubuhnya? Tubuh Kyungsoo sudah terlihat begitu kecil. Ia tidak terlalu tinggi, namun jika ia masih harus mengurangi berat badannya, apa lagi yang akan tersisa dari tubuhnya?

Serin meletakkan daging ayam di atas nasi yang masih tersisa di piring Kyungsoo. “Makanlah, habiskan nasimu. Kau sudah mengambil sedemikian banyak porsi di piringmu, jadi kau bertanggungjawab untuk menghabiskannya.”

Kyungsoo tertegun melihat Serin yang sedang memerhatikannya.

“Makanlah selagi kau bisa. Aku menyuruhmu makan demi otakmu, agar kau bisa fokus belajar. Energimu sudah dikuras terlalu banyak karena latihan.”

Kyungsoo tersenyum. Ia senang bahwa Serin masih memerhatikan hal-hal kecil padanya. Ia pun mulai menyendoki nasi itu ke dalam mulutnya. Serin bilang ini makanan untuk otaknya, ada atau tidaknya tenaga saat latihan sebagai trainee itu adalah tanggung jawabnya sendiri. Yang penting, ia bisa mengikuti pelajaran di sekolah dengan baik.

“Ngomong-ngomong, Kyungsoo-ya,”

“Hm?”

“Kau ingat besok hari apa?”

Kyungsoo terdiam. Ia melihat Serin sedang menatapnya dengan serius. Apa? Ada apa? Wajah Kyungsoo terlihat sangat bingung. Lihat, lihat, mata Kyungsoo terlihat sangat bulat dan alisnya naik. Ia benar-benar tidak tahu apa-apa.

Serin menghela nafasnya. Ia kembali menyuapi makan siangnya.

“Kau benar-benar tidak tahu?!”

“Apa?”

“Dasar pria jahat. Besok itu hari jadi kita yang ke-dua ratus!”

Kyungsoo membuka mulutnya. “Ah…”

“Ah???” ulang Serin kecewa karena Kyungsoo benar-benar tidak mengingatnya.

“Ah– maksudku, kita sudah cukup lama pacaran ternyata.” Kyungsoo mengelak sambil terkekeh kecil untuk menutupi rasa tidak enaknya.Serin berdecak tidak percaya.

Kyungsoo tersenyum geli melihat reaksi Serin yang kesal padanya. Serin imut sekali.

“Kalau begitu, kita kencan saja besok?”

–To Be Continued–

One thought on “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 17)”

  1. bisa g ya, hub serin dan kyungsoo lancar,aman bebas hambatan? Aq kok g yakin ya sama serin mau nunggu atau nggak. Lanjut aja deh thor

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s