[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 21)

Universe in His Eyes (New)

Title : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 21

Author : Arifiart (Wattpad: @arifiart)

Length : Series/Chaptered

Genre : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating : PG 17

Main cast :

D.O. / Do Kyungsoo (EXO)

Oh Serin (OC)

Baekhyun (EXO)

Chanyeol (EXO)

Additional cast:

Kim Yoojung

Sehun (EXO)

Summary : Serin tak sengaja menyelamatkan seorang penyanyi terkenal bernama Dio dari kejaran penggemar fanatiknya. Dioㅡatau yang lebih ia kenal sebagai Do Kyungsoo, mantan kekasihnya saat SMA.

Disclaimer : OC, places and incidents are either products of author’s imagination or are used fictiously. The other characters belong to God, their company, and their families.

Previously:

Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9Chapter 10Chapter 11Chapter 12Chapter 13Chapter 14Chapter 15Chapter 16Chapter 17 Chapter 18Chapter 19Chapter 20

CHAPTER 21

(Throwback Bitter Memories)

“Jangan… Kumohon… jangan pergi.” Kyungsoo tertunduk, digenggamnya tangan gadis itu dengan erat. Matanya mulai memerah dan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya. “Aku mencintaimu.” lanjutnya dengan suara yang sedikit gemetar.

“Maafkan aku.” sahut gadis itu tidak ingin berbalik menatap Kyungsoo. “Aku tidak ingin terluka lagi. Aku… kau… Pokoknya tidak boleh ada yang terluka lagi.” gadis itu ikut meneteskan air mata. “Maaf, aku juga mencintaimu. Tapi…”

“Kalau kau pergi, aku akan mati!” teriak Kyungsoo. “Kau… kalau sampai kau melepaskan tangan ini, aku bersumpah, aku akan mati!” air mata Kyungsoo jatuh semakin deras. Napasnya mulai tidak beraturan. Dadanya begitu sesak. Dalam hatinya ia terus berteriak, ia bersumpah akan membunuh dirinya sendiri jika gadis ini sampai meninggalkannya.

Gadis itu mulai membalikkan tubuhnya. Wajahnya basah, begitupun lelaki di hadapannya. Keduanya terlihat sama-sama begitu terluka. Ia ingin meninggalkan lelaki itu, ia tak ingin ada yang tersakiti lagi karena hubungan mereka. Tapi jika perpisahan ini justru malah menyakiti mereka, lalu apa gunanya?

“Kenapa…”

“Aku mencintaimu. Jangan tinggalkan aku.” itu kalimat terakhir yang diucapkan Kyungsoo sebelum gadis itu lompat ke pelukannya.

Kemudian gadis itu mengecup bibir Kyungsoo. Kyungsoo membalasnya dengan lembut namun bergairah. Begitu dalam, rasanya seperti seluruh oksigen yang ada langsung lenyap di dalam mulutnya sampai tak ada napas yang tersisa. Sepasang bibir itu bergelut mesra hingga mengeluarkan suara mengecap. Gadis itu mulai melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Kyungsoo, sementara Kyungsoo mulai menyentuh tengkuk gadis itu, mengunci bibirnya seakan tak ada yang mampu memisahkan mereka.

“CUT!”

Glek. Kyungsoo langsung melepas kedua tangannya yang menempel di tengkuk gadis itu. Ia melepas bibirnya dengan cepat, ekspresinya langsung kembali normal hanya dalam waktu sepersekian detik.

“Yoojung-ssi, kau terlalu pasif. Cobalah untuk sedikit lebih agresif, harusnya kau bisa lebih dominan dari karakter prianya,” keluh Sutradara untuk kesekian kalinya. “kalau begitu semuanya istirahat dulu sepuluh menit!”

Jwesonghamnida. Jwesonghamnida.” Yoojung berulang kali membungkuk kepada kru atas kesalahan yang dibuatnya. Saat para kru bubar untuk jeda, ia tak sengaja menangkap Kyungsoo sedang melirik sinis ke arahnya dan langsung berbalik begitu saja.

Yoojung melengos. “Wah, gila. Sombong sekali dia.” mata Yoojung melotot. “Heh, kau lihat tidak? Barusan dia mengejekku!” katanya pada sang manajer.

“Yoojung-ah, ayo kita perbaiki riasanmu dulu.” jawab si manajer tanpa menyahut kalimat Yoojung barusan.

Eonni, lelaki itu barusan mengejekku! Dia menatapiku dengan sinis. Hah, sombong sekali dia, hanya karena aktingnya dipuji lalu ia merasa sudah jadi aktor hebat, hah? Dia itu harusnya ngaca, sebagus apapun aktingnya, pekerjaan utama dia tetap hanya sebagai penyanyi, bukan aktor!” Yoojung lanjut marah-marah kepada manajer dan seorang wanita yang sedang membetulkan riasannya.

Gadis bernama Kim Yoojung itu melipat kedua tangannya. Ia ingat sekali bagaimana si lelaki Do langsung melepaskan tubuhnya dari Yoojung segera setelah sutradara memotong adegannya. Menyebalkan sekali, ia benar-benar merasa direndahkan seakan-akan lelaki itu habis menyentuh kuman.

Sementara Kyungsoo menekuk wajahnya, suasana hatinya sedang buruk karena syuting hari ini tak kunjung selesai. Berkali-kali ia melirik jam di ponselnya. Sudah pukul delapan malam dan ia gelisah karena ia harus bertemu Serin malam ini. Sementara gadis itu bahkan tidak juga merespon pesannya.

“Ini jadwal terakhir hari ini?” tanya Kyungsoo pada manajernya.

“Benar.”

Hari ini terasa panjang sekali. Tenaganya benar-benar sudah terkuras habis karena seharian bekerja. Ditambah lagi, dia tadi bangun lebih pagi dari biasanya demi bertemu Serin. Pemotretan hari ini juga membuang waktu banyak karena mitranya datang terlambat ke lokasi. Dan sekarang… syuting drama juga ikut terasa lama karena akting pemeran wanita yang sangat buruk.

Kyungsoo menghela napas. “Sial, kalau begini terus bisa-bisa baru selesai tengah malam.” kegelisahannya mulai bertambah. Terlebih lagi ia tak ada jadwal lagi untuk hari ini. Harusnya syuting ini tak perlu diburu waktu, tapi karena urusan pribadi yang satu ini, semuanya jadi terasa mendesak baginya.

Melihat Kyungsoo yang terus gelisah sambil melihat ponselnya, sang manajer jadi gatal ingin bertanya. “Kau ada janji?”

“Ya, sebenarnya aku ada urusan yang sangat penting, tapi sepertinya syuting hari ini tidak akan selesai dalam waktu dekat.” jawab Kyungsoo sambil memijat lehernya.

Bumjae hanya menepuk bahu Kyungsoo, memintanya untuk bersabar sedikit lagi.

“Ngomong-ngomong, hyung, lain kali kalau ada pekerjaan dengan gadis itu lagi, langsung tolak saja. Aktingnya buruk sekali, waktuku jadi terbuang banyak karena dia.”

***

Serin menatap layar ponselnya yang sedang menunjukkan pesan dari Kyungsoo. Pesan itu belum sempat dibalasnya seharian ini. Ia merapatkan mantelnya. Malam ini terasa lebih dingin dari biasanya. Kenapa beberapa tahun belakangan ini musim gugur lebih terasa seperti musim salju, sih? Udaranya menusuk sekali sampai membuat jari-jarinya kaku.

Ia melihat sebuah toko kelontong beberapa meter di depannya. Sepertinya ia akan mampir ke toko itu sebentar untuk menyapa Chanyeol sembari meneguk sekaleng bir untuk menghangatkan diri.

“Selamat datang. Oh? Nunim!” sapa seorang siswa laki-laki yang juga kerja paruh waktu di toko itu. Siswa itu sudah kenal dengan Serin karena gadis itu sering sekali datang saat pergantian shift.

“Loh? Kau yang jaga?”

“Chanyeol-i hyung dapat giliran shift pagi karena ahjussi yang biasa jaga pagi sedang sakit.”

“Begitu ya. Ya sudah, tidak apa, lagipula aku memang ingin jajan, kok, hehe.”

Serin duduk di dekat jendela. Ia sebenarnya ingin duduk di luar tapi cuacanya terlalu dingin. Terlebih lagi ia sedang sendirian saat ini, kesannya seperti lagi galau saja duduk sendirian di tengah udara dingin sambil meneguk bir sampai mabuk seperti di drama-drama. Ia segera meneguk sisa kuah ramen yang sudah mendingin. Ah, rasanya ingin menyuruh Chanyeol dan Baekhyun ke sini, tapi sepertinya lain kali saja.

Ia menatap orang-orang yang berlalu-lalang dari balik kaca tersebut. Ia melamun, tanpa sadar pikirannya mulai terbang kembali ke beberapa tahun lalu.

.

.

“Nuna! Temannya datang, nih!” panggil Sehun dari luar pintu kamarnya. Namun Serin tidak menghiraukan panggilan adiknya. Ia tetap berbaring di kasur, menutupi wajahnya dengan bantal agar suara tangisnya tidak terlalu terdengar.

“Serin-ah, kau tidak apa-apa?” suara Baekhyun terdengar agak khawatir.

Serin masih tidak menjawab. Dadanya sesak sekali, hatinya hancur. Ia masih belum bisa melupakan sosok Kyungsoo yang ia lihat di tv tadi siang. Brengsek! Ia kesal sekali. Rasanya ingin sekali meninju wajah yang dipoles makeup tersebut. Wajah yang dulu pernah ia suka. Wajah yang dulu selalu ia rindukan. Wajah yang selalu ia bayangkan saat berbicara dengannya melalui telepon. Wajah itu… senyum itu… kini tak lagi hanya untuknya. Senyum itu kini milik orang-orang di luar sana. Tidak hanya kau yang mencintai dia, Oh Serin. Dia sudah bukan milikmu lagi.

Setidaknya itulah yang waktu itu ia pikirkan. Asumsi-asumsi sederhana dari seorang gadis remaja.

“Yah! Buka pintunya! Kalau tidak, akan kudobrak.” kali ini terdengar suara Chanyeol menyahut dari balik pintu. Suaranya yang serak terdengar seperti sedang mencancam.

“Yaah, kau tidak membuat keadaan semakin membaik.” ujar Baekhyun sedikit mendorong Chanyeol. “Serin-ah, kalau ada apa-apa panggil kami saja. Kami akan menemanimu, oke?”

“Dasar bodoh! Ngapain kau tangisi laki-laki pengecut macam begitu?!” teriak Chanyeol lagi yang langsung ditarik keluar oleh Baekhyun dan Sehun.

Suasana berubah hening. Sepertinya kedua sahabatnya itu kini sudah pergi.

Kreeettt…

Sehun melihat pintu kamar Serin sedikit terbuka. Disikutnya lengan Baekhyun, memberi kode bahwa Serin terlihat sudah mulai membuka diri.

“Nuna?” Sehun mengintip sedikit dari balik pintu. Ia menjulurkan kepalanya dengan hati-hati, takut tiba-tiba Serin akan melempar sesuatu dari sana. Ajaibnya, tak ada satupun benda yang akhirnya mendarat mengenai kepalanya, ia hanya melihat Serin sedang duduk lemas di kasurnya, lalu membiarkan kakaknya di sana sendirian.

Namun tidak dengan Baekhyun dan Chanyeol, mereka langsung mengerubung masuk dan memeluk Serin dengan erat.

Sama sekali tak ada sepatah katapun keluar dari mulut mereka. Yang terdengar hanyalah suara napas Serin yang terpotong-potong karena habis menangis.

Baekhyun memijat-mijat tangan Serin dengan pelan untuk menenangkannya. “Aku tidak akan meninggalkanmu seperti laki-laki itu. Aku janji.”

“Kami sangat menyayangimu.”

.

.

“Boleh ikutan?”

Sebuah suara serak menyadarkan Serin lamunan kilas baliknya. Tiba-tiba Chanyeol sudah muncul di sebelahnya sambil menggenggam sekaleng bir yang sama dengan yang dipegang Serin. Gadis itu tertawa. Benar-benar sebuah kebetulan. Sepertinya mereka kini sudah saling terhubung telepati.

***

Sudah tiga lembar tisu basah masuk ke tong sampah. Kyungsoo mengambil selembar lagi dan kembali menggosok bibirnya dengan tisu basah tersebut.

“Brrrph… rasanya bibirku hampir sobek.”

“Bibirmu benar-benar akan sobek jika terus kau gosok seperti itu.”

Lembaran tisu itu akhirnya ikut berakhir ke tempat sampah sama seperti tiga lembar sebelumnya. Kyungsoo meraih arloji miliknya, ia sempat melirik angka jam yang tertera di arloji sebelum ia lingkarkan di tangan kirinya. Sudah hampir jam sepuluh, ia harus segera pergi dari sini. Ada satu hal paling mendesak dan hal itu harus ia lakukan malam ini juga. Ia merasa mungkin ini satu-satunya kesempatan yang tersisa sebelum semuanya terlambat.

Tapi ia tahu bahwa dirinya sebenarnya sudah terlambat jauh. Sangat jauh.

“Kau betulan mau pergi?”

“Hm.” lelaki bermarga Do itu memakai mantelnya dengan cepat sebelum mengadahkan tangannya ke wajah Bumjae, sang manajer. “Aku pinjam mobilmu.”

“Hah? Lalu aku gimana pulangnya?”

Kyungsoo segera mengeluarkan dompetnya dan memberikan tiga lembar uang pecahan lima puluh ribu won kepada manajernya. “Pulang naik taksi saja, aku yang bayar.”

“Ooo-kaaay.” jawab Bumjae setengah puas kemudian memberikan kunci mobilnya pada Kyungsoo.

Thanks!” Kyungsoo menyambar kunci mobil dengan cepat dan langsung pergi terburu-buru.

“Oh, Do Kyungsoo-ssi! Do Kyungsoo-ssi!” tuan produser berusaha memanggil Kyungsoo namun pria itu tidak dengar, ia melangkah begitu cepat sebelum para kru sempat melihatnya. Terkecuali Yoojung yang diam-diam sempat memerhatikan Kyungsoo yang pergi dengan tergesa-gesa.

“Loh? Bumjae-ssi, kupikir setelah ini kita ada acara makan-makan bersama para kru dan aktor.” tanya salah satu produser.

“Sayang sekali, sepertinya Kyungsoo tidak bisa ikut.” Bumjae tersenyum. “Ia punya hal mendesak yang harus dilakukan.”

Dengan cepat Kyungsoo langsung pergi meninggalkan lokasi syuting. Sebenarnya ia sendiri tidak tahu harus pergi ke mana, pun Serin sedang ada di mana ia juga tak tahu. Terserah, lah, yang penting ia segera meninggalkan tempat ini sebelum terjebak dengan orang-orang di sana lebih lama lagi.

Mobil milik Bumjae melaju di tengah kota Seoul. Jalanan masih ramai, walau tidak seramai di sore hari sebab jam pulang kantor sudah lewat beberapa jam yang lalu. Kyungsoo hanya menyetir begitu saja, ia bahkan tidak memasang navigasi sebab ia sendiri belum tahu harus ke mana.

Apa aku ke rumahnya saja? Atau jangan-jangan dia belum pulang? Bagaimana jika Serin masih di kampus? Tapi ini kan sudah malam.

Kyungsoo terus bertanya sendiri di dalam hati. Jika Serin yang sekarang adalah Serin empat tahun lalu, kira-kira ia ada dimana saat ini?

Oh Serin, kau lagi dimana?

Mobil mini van tersebut tanpa sadar mulai memasuki daerah menuju rumah Serin. Tanpa sadar pikiran Kyungsoo membawanya ke tempat ini. Bagaimanapun juga, gadis itu pasti akan pulang ke rumah, kan?

Jalanan mulai menyempit seiring ia semakin dekat dengan kawasan rumah Serin. Ia hanya tinggal belok kiri setelah lampu merah. Tapi jalanan ini hanya punya dua jalur untuk masing-masih arah, terlebih lagi jalanan ini agak sedikit macet karena jalan yang mulai menyempit ditambah adanya lampu merah di pertigaan depan. Mobil-mobil bergerak sangat lambat, bahkan kalah cepat dengan langkah kaki orang. Sementara di luar cukup dingin dan Kyungsoo mulai merasa lelah.

“Hoaaaam…” Kyungsoo menguap lebar, ia mengerjap-ngerjapkan matanya. Laju mobil yang lamban membuatnya semakin mengantuk. “Aku butuh kopi.”

Mata Kyungsoo melihat sekeliling di tengah-tengah kemacetan. Sepertinya ia harus beli kopi kalengan untuk mengatasi kantuknya. Beruntung, di dekat pertigaan lampu merah itu ada toko kelontong yang buka dua puluh empat jam, dan ia memutuskan untuk berhenti di sana sebentar.

Setelah mobil terparkir di pinggir jalan, Kyungsoo berjalan sedikit cepat sambil merekatkan mantelnya. Namun langkahnya harus terhenti sebab ia melihat wajah yang tak asing dari balik kaca toko itu.

Itu Serin… dan Park Chanyeol.

Kyungsoo mematung. Diam-diam ia mengamati keduanya yang sedang tertawa di dalam sana. Tiba-tiba ia merasa tidak asing dengan kejadian ini. Pikirannya pun mulai terbang kembali ke masa-masa itu.

.

.

BRUK!

Terdengar seperti suara orang jatuh dari salah satu sudut pagar sekolah. Pagi itu Kyungsoo sedang menjalankan tugasnya sebagai ketua kedisiplinan sekolah. Biasanya ia akan menyusuri sudut-sudut sekolah yang rawan dijadikan jalur keluar-masuk rahasia para siswa yang terlambat atau bolos sekolah. Ia tersenyum puas. Bagus, tertangkap sudah kau kali ini.

Benar-benar sebuah kejutan, Kyungsoo tidak sengaja menangkap basah siswa laki-laki dan perempuan sedang dalam posisi berbaring dan posisi si gadis berada di atas tubuh laki-laki itu. Butuh beberapa detik bagi Kyungsoo untuk menyadari bahwa orang itu adalah Serin dan Chanyeol. Sedang apa mereka?!

“Huk!” pekik Chanyeol karena merasa sesak akibat beban tubuh Serin yang mendarat dengan tiba-tiba di atas tubuhnya. Dengan cepat Serin langsung bangun dan membersihkan roknya sambil tertawa lucu melihat wajah kesal Chanyeol yang masih berada dalam posisi terlentang akibat terjatuh tadi.

Oh Serin, kau… tertawa?

“Ugh!” bukannya berterima kasih, Chanyeol malah menjitak kepala Serin setelah mendapatkan bantuan darinya. Chanyeol langsung berlari setelah mendaratkan kepalannya di ubun-ubun Serin.

Kyungsoo mengambil tiga langkah ke depan, sengaja memergoki mereka yang baru saja melompati tembok sekolah.

“Eh? Kyungsoo-ya…”

.

.

“Aku sebenarnya menyukaimu, Oh Serin.”

Kyungsoo tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. Park Chanyeol… mengutarakan perasaan pada gadisnya.

“Yah– kau…”

Santai saja,” potong Chanyeol cepat. “kau tak perlu memikirkannya, kau juga tak harus membalas perasaanku. Aku tahu kau sudah menjadi milik Kyungsoo.”

“Chanyeol-ah, maafkan aku.”

Chanyeol maju selangkah dan segera memeluk Serin. “Sssshhh…” bisiknya pelan. Tangannya mengusap kepala Serin dengan lembut. Sementara tangan yang lain menepuk punggung Serin dengan lembut, begitu pelan seperti sedang menenangkan anak bayi.

Kyungsoo mengepalkan tangannya dengan kuat. Ia geram sekali, ia benar-benar marah saat melihat si lelaki Park memeluk gadisnya. Okelah, mereka memang bersahabat, tapi Kyungsoo tahu betul tatapan yang dilontarkan Chanyeol pada Serin bukanlah tatapan seorang teman. Laki-laki itu tidak sedang melihat Serin sebagai temannya. Ia sedang menatap Serin sebagai seorang wanita, sebagai lawan jenisnya, sebagai gadis yang ia suka. Dan Kyungsoo sebisa mungkin menahan amarahnya agar tidak melompat dengan ceroboh ke arah mereka berdua. Ia memutuskan untuk menahannya, tetap mengawasi dibalik pepohonan yang berderet di pinggir itu.

***

“Hahahahaha. Ingat tidak, waktu itu aku lihat kakimu gemetaran luar biasa saat hampir dipukul Han Gongtae.” Chanyeol tertawa keras. Dia teringat kejadian saat ia berkelahi dengan si preman sekolah Han Gongtae.

Yah! Masih mending lah, daripada kau cuma duduk sembunyi karena takut.”

“Aku tidak takut!”

“Iya! Kau takut, buktinya kau diam saja saat Gongtae mau memukulku. Berdiri saja tidak.”

“Hey! Waktu Gongtae hampir mengarahkan tinjunya padamu, sebenarnya waktu itu aku nyaris berdiri mau menahannya.”

“Cih, mana ada.”

“Serius! Kalau saja waktu itu Baekhyun tidak datang lebih cepat, mungkin aku yang sudah menyelamatkanmu waktu itu.”

“Lebih tepatnya aku yang menyelamatkanmu dari Han Gongtae.”

“Terserah.”

Mereka terdiam sesaat. Saling mencari bahan untuk diceritakan. Masa-masa SMA memang masa yang paling indah untuk diceritakan kembali. Saat itu masalah yang kau miliki hanyalah sebatas belajar, tugas, dan cinta monyet. Belum ada drama-drama kehidupan yang realistis ketika sudah menginjak usia dewasa.

“Aku jadi rindu masa sekolah.” ujar Chanyeol tiba-tiba.

Serin tersenyum mendengarnya. “Aku juga.”

Tiba-tiba penglihatan Serin menangkap sesosok manusia yang sangat ia tidak ingin lihat. Ia mendapati sosok Kyungsoo sedang berdiri di luar sana, beberapa meter agak jauh dari balik kaca tebal tempat ia duduk saat ini. Kilas balik masa sekolah membuatnya jadi ikut teringat kenangan-kenangan pahit yang seharusnya ia lupakan saat ini.

“Andai saja seseorang tidak melaporkan kita waktu itu, kita pasti tidak akan kena hukum.” Serin sebenarnya mengatakan itu ke Chanyeol, tapi nada bicaranya seolah ia sedang berbicara sendiri.

“Benar. Andai saja orang itu tidak mengganggu kita…” Chanyeol hampir saja menyebut nama itu. Sebuah nama yang hampir tidak pernah keluar dari mulut mereka selama bertahun-tahun. Seseorang yang tidak boleh disebut namanya seperti Voldemort. Ia melirik Serin, gadis itu kini terdiam, memandang kosong ke arah luar.

“Chanyeol-ah,” panggil Serin masih menatap lurus ke luar. Ia bahkan tidak menoleh kepada Chanyeol.

“Hm?”

“Kurasa aku mulai mabuk.”

Chanyeol melirik kaleng-kaleng bir yang sudah kosong di meja. Tanpa sadar Serin sudah menegak habis tiga kaleng bir. Dan parahnya, gadis ini sebenarnya tidak kuat minum sama sekali. Chanyeol memegang wajah sahabatnya, “Hey, sepertinya kau benar-benar mabuk.”

“Benar, kan? Sebab aku mulai berhalusinasi.”

Chanyeol mengerutkan alisnya.

“Gara-gara habis cerita tentang masa sekolah, aku jadi seperti melihat Kyungsoo.”

“Apa?”

“Di sana.”

Serin kembali menoleh. Chanyeol mengikuti arah pandangan gadis itu dan mematung. Serin tidak berhalusinasi. Ia benar-benar melihat Kyungsoo, di luar sana, sedang berdiri menatap mereka.

–To Be Continued–

2 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 21)”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s