WINGS – PROLOGUE III – PART 2 — IRISH’s Story

altairish-wings-prologue-2

—  WINGS —

storyline by ALTAIR and IRISH; our winter collaboration project

action; adventure; fantasy; romance; school life

PG-17; chapterred

standart disclaimer applied

2016 © EXO Fanfiction Indonesia

[ Previous: Prologue III – Part 1 ]  —  [ Clicked: Prologue III – Part 2 ]

Suara itu… Mata itu… Seluruh tubuh Irene gemetar saat sadar jika ia memang melihat sosok itu, bibirnya bahkan begitu ragu untuk membiarkan satu kata itu lolos dari bibirnya…

PROLOGUE III – PART 2

“Kau… baik-baik saja?”

Sontak Irene mendongak, netranya membulat sempurna saat menyadari di hadapannya telah terpampang sebuah pemandangan yang begitu mengejutkan. Karai sudah ambruk tidak jauh darinya, dengan sebilah pedang menancap di kepalanya. Kedua mata Karai bahkan membuka—yang dalam pandangan Irene sarat akan kesakitan—sementara di atas kepalanya, berdiri seorang pria yang tengah membelakangi Irene.

Mengabaikan silaunya terik matahari yang mengganggu pandangannya, Irene menyipitkan mata, berusaha mengenali siluet pria yang—

“K-Kau…”

—membuat Irene kini tergugu. Sosok itu menolehkan kepalanya ke salah satu sisi tubuh, memastikan keadaan Irene sekaligus membuat pandang mereka bertemu. Sungguh, Irene tidak sedang berfatamorgana. Ia jelas kenal sosok itu, hal yang berhasil membuat mulut Irene membuka sempurna karena rasa terkejutnya.

Suara itu… Mata itu…

Seluruh tubuh Irene gemetar saat sadar jika ia memang melihat sosok itu, bibirnya bahkan begitu ragu untuk membiarkan satu kata itu lolos dari bibirnya…

“Kai?”

Ya. Kai. Sosok yang sedari tadi tidak tampak batang hidungnya, tiba-tiba saja entah bagaimana caranya bisa ada di arena ujian Irene, terlebih lagi, entah bagaimana sudah menancapkan sebuah pedang di kepala makhluk itu.

“Apa kau terluka?” pertanyaan itu lolos dari bibir Kai ketika ia membalikkan tubuh. Caranya menatap Irene sekarang, caranya menanyakan keadaan gadis itu… mengapa kini Irene tidak sanggup menahan air matanya?

“K-Kai…” bibir Irene kembali menggumamkan kata itu. Ia terisak, meluapkan seluruh ketakutan yang sudah mengukungnya selama beberapa menit terakhir. Ketakutannya akan kematian yang beberapa sekon lalu mungkin terealisasi.

Tangisan Irene kini tersendat-sendat, lantaran didengarnya langkah berat Kai mendekat ke arahnya, sebelum kemudian pemuda itu membungkukkan tubuh, menyamakan tingginya dengan Irene yang masih bersimpuh di tanah, tidak berdaya.

Kini, tangisan Irene terhenti kala ia merasakan jemari Kai mengusap pipinya, lembut. Meski Irene tahu tindakan pemuda itu hanya untuk membersihkan darah yang mengotori wajahnya, tapi jantung Irene sekarang bergemuruh. Perlahan ia beranikan diri untuk menatap kedua netra sang pemuda, mendapati dirinya kini terkunci dalam manik kelam milik Kai yang membius.

Dengan getaran ketakutan yang sama, jemari Irene bergerak menyentuh lengan pemuda itu—yang masih berada di rahangnya untuk membersihkan darah yang tersisa—seolah memastikan jika sosok Kai lah yang benar-benar berdiri di hadapannya. Tapi yang Irene rasakan justru pemberontakan dari anggota tubuhnya. Lebih tepatnya, jantung Irene telah berkhianat, karena telah berani berdegup begitu kencang setelah selamat dari ancaman kematian.

“Kenapa kau ada di sini?” Irene menggumam, tidak terdengar bertanya, tapi toh Kai berniat juga menjawab pertanyaan tersebut.

Ia tersenyum, mengusap puncak kepala Irene perlahan sebelum bibirnya berucap.

“Sudah kukatakan aku tidak akan membiarkanmu terluka, bukan?”

~

Ujian kini berubah drastis. Karena tindakan Kai yang dengan tiba-tiba menerobos masuk ke dalam arena ujian dan membunuh Karai saat ia tidak seharusnya melakukan hal tersebut—mengingat Karai bukan lah monster yang harus Kai hadapi—tidak ada phase-two dan tim yang seharusnya turut andil.

Hanya ada Kai.

Pintu masuk menuju arena lagi-lagi terbuka, menampakkan seorang lelaki melangkah keluar dari sana dengan santai. Tarikan dan hembusan nafasnya terdengar sangat rileks sementara netranya hanya melihat-lihat ke sekeliling dengan sama santainya.

Tatapannya kini terhenti pada sebuah barisan, dimana para murid yang sudah selesai melakukan ujian bertengger di sana, melihat Kai yang berdiri sendirian di tengah arena. Tidak, Kai tidak sedang melihat mereka, hanya ada satu objek yang jadi pusat perhatiannya. Irene. Gadis itu duduk di sana, menatap Kai lekat-lekat dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.

“Kau.” atensi Kai beralih saat seseorang memanggil. Pemuda itu kini menatap sosok yang mengeluarkan suara, tepat di atas salah satu gerbang dimana monster-monster keluar tampak pria berjas putih berdiri menatap Kai, dengan sebuah mikrofon di depannya.

“Biarkan aku memperkenalkan diri. Aku adalah Daniel Joe, wakil kepala sekolah di Claris. Aku bertanggung jawab atas kemampuan dan kedisiplinan para siswa. Apa kau tahu kenapa kau ada disini?” ucap pria bernama Daniel itu.

Kai menatap Daniel dingin, tapi pemuda itu masih menatap Daniel tanpa mengalihkan sedikit pun pandangannya. Tatapan Kai kini mungkin terkesan menantang pria tersebut.

“Apa kau mendengarku? Aku bertanya padamu, anak muda.” nada meninggi itu harusnya jadi peringatan bagi Kai, tapi ia masih bergeming. Sontak, membuat keributan kecil terjadi di bangku penonton. Mereka tentu membicarakan sikap Kai sekarang.

“Sepertinya kau tidak mendengarku. Akan kuulang—”

“Tidak usah banyak bicara. Aku tahu kenapa aku ada disini, jadi tak perlu banyak bicara. Aku sedang kesal saat ini, jadi lebih baik jangan berbasa-basi.” kalimat yang keluar dari bibir Kai sukses membungkam semua orang termasuk Daniel sendiri. Well, Kai memang bukan orang yang suka berbasa-basi.

“Baiklah, Ezalor Muda. Sepertinya sikapmu sedikit diluar batas namun aku memakluminya, anggap saja ini semangat dari kaum muda sepertimu. Kalau begitu, akan aku jelaskan kembali pada kalian semua kenapa siswa ini ada disini sekarang, sendirian.” Daniel berucap dengan lantang.

“Siswa baru di Claris, yang saya ketahui bernama Kai ini, baru saja melanggar peraturan yang sudah kita terapkan selama beratus-ratus tahun. Dia menganggu jalannya ujian kelompok dengan melompat masuk ke arena, dengan sembrono mengambil pedang dari penjaga arena dan menggunakannya untuk membunuh Karai. Jelas ini sudah melanggar peraturan. Maka dari itu…” ucapan Daniel terhenti sejenak, seolah mengawasi ekspresi Kai yang masih menatapnya dengan cara yang sama, dingin.

“Ia akan menjalankan ujian seleksi ini sendirian tanpa bantuan siapapun. Hanya bersenjatakan sepasang katana. Itulah satu-satunya senjata yang bisa ia pakai. Silahkan, Kai, tolong ambil katana itu terlebih dahulu.” Daniel menyeringai kecil, mengejek.

Kai menghembuskan nafas panjang sebelum ia melangkah ke sisi kiri, tempat beberapa senjata terjajar rapi di pinggir arena. Lengan pemuda itu bergerak untuk mengambil pedang yang dimaksud. Dan setiap ia melangkah, banyak beberapa murid terdengar berbicara tentangnya, mencemoohnya karena ia baru saja melanggar peraturan, dan beberapa juga merasa kagum karena sikap heroiknya.

Ucapan itu hanyalah angin bagi Kai, ia bahkan tidak menggubrisnya. Ketika ia sudah mengambil pedang itu, Kai kembali melangkah ke posisinya semula di tengah arena.

“Peraturannya masih sama, sederhana saja. Kau hanya harus bertahan selama lima menit di arena dan melawan monster yang akan keluar. Jika kau mampu bertahan, itu artinya kau memang hebat seperti aksimu menyelamatkan gadis itu. Namun sepertinya… kau tidak akan bertahan dalam sepuluh detik. Silahkan, persiapkan dirimu.” Daniel bicara dengan nada sarkatis yang sarat dalam suaranya. Hal yang kemudian mengundang tawa cemooh dari penonton, juga beberapa komentar lainnya.

Tanpa bicara apapun, Kai melepas kedua sarung pedang katana tersebut. Kembali, tindakannya membuat keributan kecil lainnya, sebagian besar penonton tertawa, penyebabnya adalah posisi pedang katana pada tangan kanan Kai yang terbalik.

“Haha! Hei, anak bodoh. Apa sebenarnya yang kau pikirkan? Pedang katana tidak didesain untuk dipegang seperti itu. Kau sungguh bodoh, jika kau memegangnya seperti itu, kau pasti akan mati dalam waktu kurang dari lima detik, haha!” lagi-lagi arena dipenuhi oleh gelak tawa dan juga cemoohan yang terlontar.

Berbeda dengan cemooh tersebut, Kai justru menatap Daniel tajam. Sementara yang dipandang melempar tatapan juga senyum sinis yang bermakna apa-lagi-yang-kau-lihat padanya.

“Kalau kau yang berdiri di sini, mungkin hal itu akan terjadi padamu.” ucapan Kai berhasil melenyapkan senyum di wajah Daniel, kalimat yang Kai lontarkan secara tidak langsung menyindirnya.

“Apa katamu!?” naiknya emosi Daniel membuat Kai mengalihkan pandangannya sejenak, membiarkan orang-orang tahu jika Daniel sudah kalah berdebat dengannya, sebelum Kai kembali menatap ke arah pria itu.

“Yang harus kulakukan hanya bertahan dan melawan monster ini, bukan? Apa kau ingin aku membunuhnya juga?” Kai memandang Daniel lekat-lekat, sementara Daniel menaikkan alisnya, mengedikkan bahu seolah menantang Kai untuk melakukan apa yang baru saja ia ucapkan.

“Kalau begitu, aku akan melakukannya dengan caraku.” ucap Kai tanpa melepas tautan matanya dengan Daniel. Tak lama setelah ucapan Kai berakhir, gerbang untuk menahan monster terbuka dengan suara geraman menggelegar terdengar.

Dari kegelapan di ruang tersebut, muncul sosok besar, tinggi, yang memiliki satu mata dengan membawa palu gada. Makhluk itu adalah Cyclops. Setiap langkah yang ia ciptakan membuat tanah bergetar. Segera, matanya memandangi Kai lekat-lekat. Ia terkekeh dengan air liurnya menetes keluar dari selah-selah gigi berukuran besarnya.

“Hei! Apa yang kau lakukan sendirian disini? Apa kehidupanmu sudah membosankan?” Cyclops tersebut berucap dengan nada meremehkan, seperti Daniel, pikir Kai.

Sontak pemuda itu memutar bola mata jengah, ia gerakkan lengannya guna memposisikan katananya dengan nyaman. “Rupanya kau dan dia sama-sama banyak bicara. Kita bereskan ini sekarang, aku sedang tak ingin membuang tenagaku terlalu lama.” Kai menatap Cyclops dengan santai, sebuah senyum kemudian muncul di wajahnya, senyum yang terlihat tenang namun mengerikan.

“Kau punya nyali besar, bocah kecil! Baiklah, aku juga sudah sangat lapar dan biarkan aku memakanmu. Haha! Kalau begitu lawanlah aku!”

BAM!

Cyclops itu tertawa terbahak-bahak ketika ia memukul gadanya tepat pada sasaran, namun tawanya hilang bersamaan dengan hilangnya debu yang tercipta di tempat yang ia pukul barusan.

Kai tak ada disana.

“Untuk ukuran Cyclops, gerakanmu sangat lambat sekali. Kau ini bisa membunuh orang atau tidak?” tiba-tiba saja suara Kai terdengar. Pemuda itu tengah berdiri santai tidak jauh di belakang Cyclops, hal yang membuat Cyclops tersebut berbalik dan menyeringai pada Kai.

“Kau boleh juga, bocah. Kalau begitu rasakan ini! Ini! Dan ini!”

Cyclops tersebut meluncurkan serangan bertubi-tubi, membuat seluruh arena bergetar karenanya. Namun sebanyak apapun ia memukul ia sama sekali tak bisa mengenai Kai. Sekarang berbagai spekulasi muncul di benak penonton, Cyclops itu yang lambat seperti kata Kai, atau Kai yang terlalu cepat?

Melihat Cyclops yang mulai kewalahan karenaya, Kai akhirnya tersenyum mengejek. “Kau sudah bersenang-senang? Kalau begitu aku yang akan bersenang-senang sekarang.” Kai mengucapkannya dengan penuh penekanan di tiap kata.

Pemuda itu mengeratkan pegangannya pada kedua pedang di tangannya sebelum ia mulai berlari. Dengan lincah ia menghindari setiap pukulan Cyclops yang dilayangkan untuk menghentikannya.

SRASH!

Argh!!”

Begitu cepatnya gerakan Kai hingga hampir tidak seorang pun menyadari bagaimana pemuda itu bisa melukai kedua pergelangan kaki Cyclops, luka yang cukup dalam hingga membuat Cyclops tersebut ambruk, darahnya pun mewarnai arena.

Sekali lagi, Cyclops berusaha meraih Kai dengan palu gadanya saat Kai lagi-lagi terlepas dari jangkauannya dengan cepat—ralat, terlalu cepat.

SRASH!

Aaargghh!!! Mataku!!!” Cyclops mengerang kesakitan ketika matanya di butakan oleh Kai. Pemuda itu baru saja menciptakan luka menyilang di bola mata Cyclops, makhluk itu ambruk ke tanah, tidak berdaya.

Kini, Kai berdiri di atas kepala makhluk itu, tertawa mengejek dengan suara cukup keras, seolah sengaja agar suaranya terdengar oleh Daniel.

“Apa kau tahu kalau kau ini terlalu berlebihan? Aku sudah katakan, aku sedang malas membuang tenagaku. Jadi akan kuakhiri permainan konyol kita sekarang.”

Kai kini dengan melompat tinggi dan melemparkan kedua pedangnya hingga menancap di tengah punggung tangan Cyclops.

Aarrgghh!!” arena lagi-lagi dipenuhi erangan kesakitan Cyclops tersebut. Kekuatan yang dikerahkan Kai saat melempar pedang tersebut rupanya tidak main-main. Terbukti dengan bagaimana Cyclops tersebut memilih membiarkan tangannya dalam keadaan seperti itu daripada memaksakan diri untuk menarik kedua tanganya agar terlepas.

Kai berbalik arah dan kini ia menghadap Cyclops, ia berjalan pelan ke arah makhluk itu. “Suaramu bahkan begitu mengganggu. Jadi sebaiknya kau diam. Aku ingin ujian ini segera berakhir jadi aku bisa kembali ke kamarku dan tidur.” Kai berucap dengan santai, ia kini mundur beberapa langkah, meletakkan tangannya beberapa sentimeter di depan Cyclops tersebut.

Verbrennen!”

Kabut berwarna jingga kini muncul dari telapak tangan Kai, sebelum kobaran api tiba-tiba saja muncul di sekujur tubuh Cyclops dan membakarnya dalam hitungan detik, mengubah makhluk raksasa tersebut menjadi abu.

Tidak perlu digambarkan lagi bagaimana reaksi dari semua orang yang menyaksikan adegan itu. Semuanya ternganga, terlalu tidak percaya untuk percaya bahwa beberapa sekon lalu seorang pemuda telah membakar habis Cyclops.

Dengan kasar, Kai membuang ludah ke tanah. Cyclops telah berubah menjadi abu, satu-satunya yang ada di hadapan Kai hanyalah kedua katananya yang masih menancap ke tanah. Agaknya, kedua pedang itu sekarang tidak lagi tampak sebagai senjata karena apa yang sudah Kai lakukan terekam jelas dalam benak setiap orang.

Daniel sendiri tidak sanggup berkata-kata, bahkan saat Kai melempar senyum mengejek padanya, pria itu tidak bisa merespon. Ia terlalu terkejut. Kai juga tidak tampak ambil pusing pada semua ekspresi yang menyambutnya, tidak juga memikirkan apa yang akan terjadi padanya nanti, tatapan pemuda itu mengelana, ia lebih penasaran pada reaksi dari gadis yang telah membuatnya berakhir sendirian di arena ini.

Irene, gadis itu mematung di tempat duduknya, dengan kedua tangan menutupi mulut dan pandangan membola. Gadis itu baru menggerakkan tubuhnya—dengan berjengit kaget—saat Kai melempar sebuah senyum padanya.

Well, semuanya terpana, semua orang kini mungkin akan mengelu-elukan nama Kai, terkecuali bagi satu orang. Ya, satu orang yang duduk di bangku penonton dan kini memasang sebuah seringai mengerikan di wajahnya, menatap Kai lekat-lekat dengan pandangan seolah ingin membunuh.

“Ah, kau ternyata orangnya. Kau datang juga kemari? Kai? Akan kuingat namamu.”

~

Kai melangkah tenang melewati deretan pohon pinus yang berjajar di jalan setapak yang menghubungkan gedung utama Claris dengan infernum. Sesekali ia terkekeh dan menggelengkan kepala saat mengingat kejadian yang ia alami beberapa menit yang lalu. Yah, ia tak bisa melupakan ekspresi bodoh sang wakil kepala sekolah—Daniel—dan orang-orang yang menontonnya.

Mereka sungguh terlihat konyol dengan mata membulat dan mulut ternganga. Kai ingat jelas ekspresi mereka. Mungkin jika Kai tidak bisa menahan tawanya sekarang, ia akan tertawa sampai berguling di lantai mengingat kejadian konyol tadi.

“Oh, sungguh… Wajah mereka sangat konyol, haha! Apalagi wajah…” Kai terhenti saat akan menyebutkan nama terakhir. Well, sepertinya Kai tidak perlu menyebut nama Daniel juga dalam ucapannya, bukan?

Kai termenung untuk sejenak dan menghentikan langkahnya. Ia belum melangkah terlalu jauh dari infernum, dan sekarang ia berdiri di bawah sebuah pohon. Di pikirannya, terbayang wajah gadis yang membuatnya diam-diam merasa khawatir hingga akhirnya mengalami hukuman dengan menjalani ujian sendirian.

Irene, ya. Gadis itu… Kai bahkan tidak mengerti mengapa ia bisa bertindak seperti itu saat melihat Irene berada dalam bahaya. Seperti… sesuatu dalam dirinya langsung bereaksi saat melihat nyawa Irene terancam.

Tanpa sadar Kai tersenyum kecil, pikirannya melayang menuju kejadian beberapa menit yang lalu, saat ia sudah meninggalkan arena ujian dan berniat mendatangi Irene yang menunggu di barisan bersama murid-murid lain saat Irene lebih dulu menghampirinya.

“Hei, sudahlah. Semuanya sudah selesai, kau aman sekarang.”

“A-Aku…” Irene terbata saat ingin mengucapkan sesuatu dalam tangisnya.

Kai menatap Irene dengan pandangan yang sama, tak bisa diartikan. Tapi, melihat gadis di depannya ini menangis… tanpa dikomando tangan Kai bergerak untuk menenangkan si gadis dengan cara mengusap lembut puncak kepala gadis itu—meski Kai sendiri tidak yakin jika cara ini bisa berhasil.

“Hei, Irene. Kau bersamaku sekarang. Jadi berhentilah menangis. Umm, kau tahu? Kau terlihat jelek jika seperti ini.” Kai berusaha menyindir Irene sedikit, belakangan Kai sadari Irene begitu sensitif dan peka pada semua sindiran, meski secara halus. Dan ya, rupanya cara itu selalu berhasil.

“Kau menyebalkan! Aku memang sudah tidak takut lagi. Aku hanya… aku hanya terus menangis karena aku tak bisa berhenti menangis…” Irene membalas ucapan Kai dengan ekspresi yang membuat lelaki itu menatapnya aneh dan menjauhkan tangannya dari kepala Irene.

Tanpa sadar, Kai tidak bisa menahan senyumnya ketika mengingat tingkah konyol Irene. Mungkin, Irene tidak merasa tindakannya konyol. Tapi bagi Kai, meskipun tingkah Irene selalu mengganggu tapi setidaknya, Kai bisa tersenyum karenanya.

Diam-diam, Kai kini menghela nafas panjang.

“Dimana gadis itu sekarang? Sepertinya ia sedang bersama temannya dan—”

“Kai!” sontak, Kai menoleh saat mendengar suara melengking itu masuk ke dalam pendengarannya. Senyum juga muncul di wajah Kai tanpa ia sadari, Irene ada di sana, berdiri tak jauh darinya.

“Sepertinya ia mengingat jasaku karena telah menyelamatkannya.” Kai menggumam, akhirnya sebuah senyum lebar ia pamerkan menyambut si gadis yang sekarang berlari ke arahnya.

Hey, Kai!” Irene memekik begitu ia sampai di hadapan Kai, dengan nafas yang terengah-engah karena berusaha dengan cepat menghampiri Kai. Padahal, Irene tidak perlu repot-repot berlari, Kai menunggu kedatangannya.

“Kenapa kau tidak cerita?” lanjut Irene dengan deru nafas yang masih sama. Segera, Kai menyatukan alisnya dan menatap Irene tenang saat akan menjawab pertanyaan gadis itu.

“Cerita? Cerita apa?” tanya Kai tidak mengerti.

“Jika kau seseorang yang handal dalam mengayun pedang dan mempunyai kekuatan untuk mengendalikan api. Aku sampai terkejut saat melihat api yang sangat besar keluar dari tanganmu.” celotehan Irene membuat ekspresi Kai berubah menjadi sedikit kesal. Tadinya ia pikir Irene akan mengucapkan terima kasih padanya, tapi Irene malah membahas hal yang tidak penting—bagi Kai.

“Untuk apa aku menceritakannya padamu? Tidak ada keuntungannya sama sekali.” Kai berucap tenang, disandarkannya tubuh dengan santai di salah satu batang pohon pinus sementara kedua tangannya kini terlipat di depan dada.

Irene mengerucutkan bibirnya saat mendengar jawaban yang terlontar dari mulut Kai. Namun sekon kemudian ekspresi wajahnya seolah mengatakan ia baru mengingat sesuatu. Ya, Irene seringkali begitu.

“Ah ya. Kai, aku ingin bertanya sesuatu.” lagi-lagi Irene berucap.

“Apa itu?”

“Kau tidak apa-apa kan? Tubuhmu terluka? Apa tulangmu tak ada yang retak? Matamu tidak terkena debu kan? Apa jarimu terkena pedang tadi? Apa tanganmu terbakar? Apa—”

“He-Hey!” Kai berteriak kecil saat Irene meluncurkan pertanyaan bertubi-tubi itu sambil memeriksa semua bagian tubuhnya. Tolong! Siapapun ingatkan Irene kalau ia sedang dengan lancang menyentuh beberapa bagian tubuh Kai tanpa seizin pemiliknya.

Dengan tatapan tidak mengerti, Irene memandang pemuda itu. Sekon kemudian, tangannya kembali bergerak membolak balik tubuh Kai sementara bibirnya menggumam. “Apa? Kenapa? Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja. Coba lihat wajahmu, apa ada luka gores? Wajahmu—”

GREP!

Ucapan Irene terhenti saat tangan Kai mencekal kedua pergelangan tangannya. Ia baru saja menyentuh wajah Kai, hal yang membuat pemuda itu refleks mencekal tangan Irene, menatap si gadis dengan pandangan tidak percaya.

Kai bahkan belum bisa menemukan kalimat yang tepat untuk ia ucapkan pada si gadis, sehingga yang bisa Kai lakukan hanya menjauhkan tangan Irene dari wajahnya.

“Irene, aku baik-baik saja. Kau tidak perlu mengkhawatirkanku.”

Irene terdiam kali ini, bukan karena Kai menggenggam tangannya—walaupun itu salah satu alasannya—melainkan Irene baru saja mendengar Kai berucap dengan nada yang sangat berbeda untuk pertama kalinya.

Kelembutan. Kai baru saja membuat jantung Irene kembali memberontak dari pemiliknya karena nada bicara pemuda itu kini sangat lembut, menggema dalam rungu Irene hingga berhasil membuat Irene sejenak lupa pada semua kalimat yang ingin ia ucapkan pada si pemuda.

Dengan kaku, Irene mengalihkan pandangan, membiarkan netranya bertumbuk terlalu lama dengan milik Kai tidak lagi jadi hal yang nyaman untuk Irene saat ini.

“A-Ah, baiklah. Tapi, aku ingin bertanya satu hal lagi.” Irene menatap Kai dengan tatapan memelas yang… ah, apa yang Kai bisa lakukan selain mengabulkannya?

“Baiklah. Tanyakan saja.” ucap Kai, menyunggingkan sebuah senyuman kecil.

“Kenapa… Umm… Kau…” Kai menatap Irene dengan tenang, mengerti jika gadis yang ada di hadapannya ini sedikit ragu untuk memberikan pertanyaan padanya.

“Tanyakan saja, aku akan menjawabnya.” ucap Kai meyakinkan Irene. Sontak Irene menatap pemuda itu. “Eh? Baiklah… Kai, kenapa… Kau… Saat aku ujian, kenapa kau menolongku dengan terjun ke dalam arena?”

Kini, Kai yang terdiam, tak bisa menjawab pertanyaan dari gadis yang ada di hadapannya ini. Tapi, bukan Kai namanya jika ia tak bisa mengontrol ekspresi wajahnya. Berbeda dengan Irene yang cenderung mengutarakan apa yang ingin ia katakan lewat ekspresi, Kai cenderung bisa memasang ekspresi tenang.

“Bukankah aku sudah bilang? Aku tidak akan membiarkanmu terluka.” jawab Kai, berharap jawabannya kali ini bisa diterima Irene. “Benarkah? Pasti bukan hanya itu saja, pasti ada yang membuatmu seperti itu, bukan?” lagi-lagi Irene bertanya penuh selidik, membuat tatapan Kai sedikit membulat.

“T-Tidak ada,” Kai terhenti sejenak, berdeham pelan agar Irene tidak sadar jika ia baru saja merasa gugup. “Aku melakukannya secara sukarela.” sambung Kai, mengelak.

“Benarkah? Aku tidak percaya.” bantah Irene masih penuh dengan nada selidik. Akhirnya, Kai memasang raut datarnya kembali, menatap gadis itu sebelum ia menghela nafas panjang.

“Terserah kau saja.” ucapnya menyerah, percuma berdebat dengan Irene, gadis itu sulit dibuat mengalah. Akhirnya, Kai mengalihkan pandangannya ke arah yang lain, lantaran Irene masih terus menatapnya dengan pandangan yang sama.

“Kai…”

“Apa lagi?” tanya Kai, rasa kesal sepertinya muncul karena ia dicerca pertanyaan yang tak henti-henti. “Bisakah… Kau melepas tanganku? Kau belum melepasnya sejak tadi.”

Demi Tuhan, kini Kai membeku. Dengan kaku pandangannya mengarah pada tangannya, menyadari jika ia sudah melakukan hal yang memalukan. Akhirnya, Kai dengan kaku melepaskan kedua tangan Irene dari genggamannya, mengalihkan pandang untuk menyembunyikan rasa malu sementara kedua tangannya ia sembunyikan di dalam saku celana.

Umm… Aku lapar. Kau tidak ada kegiatan lain?” Kai secepat mungkin berusaha mengalihkan pembicaraan. Walaupun sebenarnya ia berkedok untuk menyembunyikan wajah malunya.

“Tidak juga, tapi sepertinya aku akan ke kamar.” Irene menuturkan, bodohnya, Irene bisa dengan mudah mengikuti alur pembicaraan yang Kai ciptakan.

“Oh ya! Mulai sekarang aku akan mengurusmu, karena aku khawatir kau akan terluka. Jadi setiap kau terluka, aku akan berada di sampingmu untuk menyembuhkannya.” lagi-lagi Irene bertutur, kalimat yang membuat Kai kemudian membelalakkan matanya.

“A-Apa yang kau—”

“Aku harus pergi ke kamarku. Yang jelas aku akan mengurusmu mulai sekarang. Sampai jumpa, Kai.” Irene dengan cepat memotong ucapan Kai, sementara ia berjinjit kecil berusaha menyamai tinggi Kai karena sekarang tangannya bergerak mengacak rambut si pemuda pelan sebelum ia melenggang pergi.

Jangan ditanya bagaimana keadaan Kai sekarang. Ia mematung di tempat. Berusaha mencerna kalimat yang baru saja ia dengar. Saat ia tersadar, pemuda itu sontak membalikkan tubuh, memperhatikan punggung Irene yang melangkah pergi, menyusul beberapa orang gadis lain yang berjalan tak jauh di depannya.

Tangan Kai tanpa sadar bergerak menyentuh kepalanya, bagian yang disentuh Irene tadi. Sementara netranya lekat tertuju pada Irene. Tak lama, Irene—yang sudah berjalan bersama beberapa orang gadis—menoleh ke belakang, mempertemukan pandangnya dengan Kai dan melemparkan sebuah senyum yang membuat Kai makin membeku.

Ia mungkin telah menganggap tubuhnya berkhianat dan melakukan kudeta atas perasaannya. Tapi bagaimana desiran di dadanya dan juga senyum yang muncul di wajahnya jelas bukanlah tuduhan pada tubuhnya yang merespon berlebihan terhadap sentuhan seorang gadis.

Perasaan Kai telah berubah, titik beku dalam kalbunya telah disentuh oleh seseorang yang tidak pernah diduganya akan memberi perubahan begitu besar terhadap dirinya. Dan ya, gadis itu adalah Irene.

Gadis yang tanpa sadar telah Kai tandai sebagai miliknya.

~

Suara tangis terdengar memenuhi aula, menggema sampai ke koridor-koridor panjang menuju asrama. Irene tampak berdiri di salah satu sudut aula, dengan kedua telapak tangan menutupi wajah. Kai berdiri di sampingnya, tidak menatap dengan pandangan dingin yang biasanya mendominasi kedua netra pemuda tersebut. Justru, ada kesedihan tersirat yang hinggap dalam pandangnya.

Son Wendy, gadis itu tengah bersimpuh di lantai, dengan suara tangis keras yang ikut berbaur bersama suara tangisan lain yang juga serupa. Bukannya mereka tengah meratapi kegagalan, tapi mereka tengah merasa berduka.

“Aku sungguh berusaha menyelamatkannya, Kai.” isakan Irene terdengar. Kai sendiri hanya melirik sekilas. Meski ia juga merasa geram pada tingkat keseriusan ujian yang tadi mereka hadapi, ia tak punya pilihan.

Bagaimanapun, kedepannya mereka akan menghadapi musuh yang benar-benar mengancam nyawa mereka. Tak ada kata main-main yang musuh mereka ketahui. Dan Kai tahu benar, secara tidak langsung ada nyawa manusia juga ada di tangan mereka. Nyawa adalah taruhan utama yang sudah jelas akan dipermainkan saat mereka berhadapan dengan musuh.

“Aku tahu kau bersungguh-sungguh.” Kai berucap, sejak tadi Irene berusaha untuk mengikis rasa bersalah yang hinggap di dalam dirinya. David—rekan satu tim Irene—tidak berhasil diselamatkan dan kini tubuh pemuda blasteran Spanyol itu ada di tengah aula, bersama beberapa tubuh lain yang juga tidak terselamatkan.

Wendy sendiri menangis sesenggukan bukan karena masalah sepele. Well, alasannya cukup sepele memang ‘karena tidak ada keluarga yang menangis untuk mereka’ tapi menurut Irene alasan Wendy menangis cukup masuk akal.

“Soobin adalah anak dari sepasang penyihir, aku sudah yakin ia pasti menguasai kekuatan sihir. Seharusnya ia bisa menyerang lawannya tanpa harus menyentuh, iya kan Kai? Tapi bagaimana bisa keadaannya justru yang paling parah?” Irene berucap pelan, suaranya bergetar menahan tangis yang entah mengapa begitu enggan ia keluarkan—khususnya karena ada Kai di hadapannya.

Karena tidak mendengar adanya jawaban dari Kai, akhirnya Irene mendongak. Mata sembapnya jelas terlihat, sementara jemari kurusnya bergerak mengusap sisa air mata yang membekas di wajahnya selagi Kai masih memperhatikan gerak-geriknya dalam diam.

“Dia melawan Medeia, Irene. Medeia adalah seorang penyihir. Kau tahu kan para penyihir tidak perlu menyentuh lawan mereka untuk mengirimkan serangan? Melawan penyihir pemula lainnya bukanlah sebuah masalah bagi Medeia. Di arena, jika kau tidak bisa memikirkan strategi apapun selain mengandalkan kekuatan dasarmu saja, kau juga bisa berakhir seperti itu.”

Irene terdiam sejenak, sebelum ia kemudian menatap Kai dengan pandangan penuh arti. “Apa kau juga menyelamatkanku karena alasan itu?” pertanyaannya berhasil membuat Kai mengerjap terkejut.

“Apa maksudmu?”

“Karena kau tahu, kemungkinan besar aku akan mati juga di arena. Jadi kau menyelamatkanku dan bahkan menerima hukuman karenaku.” gelak tawa kini terdengar lolos dari bibir Kai. Sebuah tawa yang terdengar kontras dengan duka yang sebenarnya mendominasi di ruangan tersebut.

“Jangan bercanda. Ketua timmu sebenarnya mampu menyelamatkanmu juga. Tapi kupikir, jika aku tidak menyelamatkanmu kau nantinya akan mengomel terus padaku. Kau sendiri yang awalnya ingin berada di tim yang sama denganku, bukan?

“Aku tahu alasanmu adalah supaya kau bisa berlindung di belakang punggungku tanpa harus merasa takut atau harus melawan monster-monster di arena. Aku menyelamatkanmu untuk menepati janjiku. Sudah kujelaskan itu padamu sebelumnya.”

Penuturan panjang lebar yang Kai utarakan sekarang membuat Irene terdiam. Ya, mungkin Kai memang menyelamatkannya karena ingin menepati janji. Meski kalau dipikir-pikir, alasan Kai sedikit tidak masuk akal. Tapi anggap saja Irene percaya jika Kai adalah seorang yang paling pantang mengingkari ucapannya.

“Daripada kau terus memikirkan tentang masalah sepele seperti itu, kenapa kau tidak pikirkan hal lain saja?” pertanyaan Kai sekarang berhasil merenggut perhatian Irene.

“Apa maksudmu?” tanyanya tidak mengerti.

Kai menyunggingkan senyum kecil.

“Memangnya kau tidak penasaran, tentang teman sekamar barumu? Kurasa kau akan sekamar dengan seseorang yang menarik.”

~

“Aku akan sekamar dengan kalian?”

Sebenarnya, Irene boleh merasa bangga karena ia adalah seorang yang pendiam—dan kadangkala dituduh sebagai seorang yang angkuh—tapi baru kali ini, Irene merasa bulu kuduknya meremang hanya karena kehadiran seseorang dan sungguh, Irene benar-benar bangga karena ia harus bereaksi ‘diam’ pada ucapan yang baru saja diterimanya.

“Y-Ya. Aku Wendy dari kelas Magus, dan dia Irene, dari Furion. Kau… dari kelas apa?” Wendy memberanikan diri untuk buka suara.

Well, dari penampilannya sebenarnya Irene bisa berpikir jika gadis yang berdiri di hadapannya ini mungkin berasal dari kelas yang sama dengan Kai. Yang jelas dia pasti tidak berasal dari kelas yang sama dengan Irene.

Sungguh. Irene seratus persen yakin tentang hal itu. Melihat bagaimana gadis berambut sebatas pangkal bahu itu sekarang menarik kopernya dan tanpa izin siapapun duduk di atas kasur Irene—kasur yang berada paling dekat dengan jendela—dan mengabaikan pertanyaan Wendy barusan, bisa Irene simpulkan kalau gadis itu akan menguasai kamar mereka.

“Aku akan menempati kasur ini.” ucap si gadis, terdengar seperti sebuah kalimat perintah bagi Irene—yang sebelumnya menempati kasur tersebut—untuk membereskan barang-barangnya dari atas kasur karena pemilik barunya sudah datang.

Baik Irene, maupun Wendy, keduanya bergeming. Membuat teman sekamar mereka lantas menatap dengan pandangan menyipit. Sekon kemudian sebuah tawa kasar lolos dari bibir si gadis.

“Oh. Sungguh konyol. Apa kalian menunggu aku menjawab pertanyaan tadi? Baiklah. Namaku Nayeon, Im Nayeon. Kita mungkin seusiaan tapi aku adalah seorang master di kelas Azwraith.” gadis itu—Nayeon—memperkenalkan diri.

Baiklah, dugaan Irene benar. Nayeon berasal dari kelas Azwraith. Dengan tambahan, ia adalah seorang murid yang ada di level master. Bisa Irene duga apa alasan Nayeon merasa jika ia berhak menentukan ini-itu di kamar mereka.

Melihat tidak adanya reaksi dari rekan sekamarnya, Nayeon berdeham sementara tatapannya tertuju pada barang-barang yang ada di atas tempat tidur, lirikan serupa juga ia lemparkan kearah Irene dan Wendy. Sebuah isyarat, yang beruntungnya bisa Irene pahami dengan mudah.

“Ah, maaf. Aku akan bereskan barang-barangku.” dengan setengah hati Irene melangkah ke arah kasur lamanya.  Sejujurnya, Irene paling suka kasur tersebut karena dekat dengan jendela dan membuatnya bisa melihat pemandangan di luar asrama.

Tapi apa boleh buat, ia sudah merasa terintimidasi perilaku teman sekamar barunya ini. Heran juga, setelah Soobin—yang juga terlihat sama tertutupnya—pergi, mengapa mereka justru mendapatkan teman sekamar yang jauh lebih menakutkan?

“Ah, untuk sekedar informasi. Aku salah seorang Ezalor bermasalah yang sempat diberi skorsing karena pelanggaran yang aku lakukan. Itulah mengapa aku mengikuti beberapa pelajaran yang ada di tahun kalian. Tapi tetap saja, kalian tahu benar makna senioritas bukan?”

Ya, setidaknya Irene tahu benar semua dugaannya—tentang siapa yang berkuasa di kamar mereka setelah Soobin pergi—benar adanya. Tapi tunggu, seingat Irene Kai pernah mengatakan jika ia akan sekamar dengan seseorang yang menarik.

Apa mungkin Kai sudah tahu jika Irene akan berada di kamar yang sama dengan seseorang seperti Im Nayeon?

tbc

FINGERNOTES

by Altair:

Ah, cie cie, baper tidak kalian? Al kasih tau ya, Kak Irish itu sampe mau lempar piso ke Al karena udah bikin dia ga fokus, cuma gara2 scene KaiRene doang~

Oh ya, curhatan nih gays. Al sebenernya takut buat ngetik adegan action itu, takutnya ya takut ga sama sama apa yang ada di otak Al ini .-.

by Irish:

EH TEGA INI ANAK YA LORD. TEGA NGEBAHAS MASALAH BAPER DI SINI. Itu enggak bisa jadi rahasia perusahaan aja? Lama-lama ane mengundurkan diri dari jajaran tim sukses Wings nih -________- ente aja ane bahas good kisser kaga seneng, apa salahnya dengan berbaper ria sama bagian KaiRene? APA SALAHNYA?

YA PLIS, ingetan ane terbang ke momen ketika Al suatu hari maksa ane buat nonton offline yutub yang berujung kuota ane abis gegara ane terpana sama video berdurasi sepuluh menit yang keplay tanpa buffering saking dahsyatnya sinyal saat itu. AL MEMANG KEJAM!

TEMUKAN JODOH KALIAN (?) DI SINI → HELP! I NEED YOUR VOTE [4]

| MY SHOW |

| Instagram | Line | Twitter | Wattpad | WordPress |

50 thoughts on “WINGS – PROLOGUE III – PART 2 — IRISH’s Story

  1. Pliiis!! Al kamu jago amat sih bikin scene baper-able macem ituu..
    Serius deh, padaha aku gan nfebiasin kai saaammaa sekalii.. tapi dicerita ini kenapa aku menganggap kai sangat tampan??
    Al atau kak irish.. kalian tanggung jawab ya kalo aku bener” pindah hati dari tiang listrik internasional ke abang tem-item sexy~~

    Halaah ngemeng apa sih saya!!
    Oke al n kak rish, ku tunggu chap 1 nyaaa.

    • Baperable anjir baru lagi ini bahasanya😄 wkwkwkwk ini ente menyapa Al tapi ane yang nyaut :p wkwkwkwkwk
      PLIS, AKU JUGA ENGGA BIASIN KAI TAPI MENDADAK MASUKIN DIA DI LIST BIAS. WKWK. Gapapa deh, mending pindah hati ke Kai aja udah tinggalin Cahyooo ~~

  2. kenapaa gitu ka?? sukaa why gitu. kenapa pas update tuh pas aku sama sekali ga punya kuota. pas aku punya kuota banyak, ga update update😥 sedih akutu /plak /alahnyurhat /maapin. okee…. YEAAAAAYY!!! AKHIRNYA UPDATE UGHAAAA. BAPER KAAA BAPERR :’ APA BANGET ITU SI KAI UDAH SUKA AJA. PLIS INI BARU PROLOG. UDAH TERANG TERANGAN AJA SUKANYA. TAPI BIARLAHH. POKOKNYA BAGIAN INI BAAGIAN CHAPTER INI, BAPERYA KENA. OKE PIKS. AKU KEJANG KEJANG TIAP BACANYA. DAN SIAPA PULA IM NAYEON ITU. PLIS IDUP KAIRENE UDH PERFECT GAUSH GANGGU MEREKA. /plak/ AKU SELESE.

  3. Yak yak, cie kai yg malu malu meong :V eum unnncchh bgt dah ama moment kairene, aku suka jg sma adegan actionnya. Jeongmal mianhe authornim baru comment d part 2 ini hehe makluk d kebut bacnya, see you next chap and don’t be late in next chap 😂👏👏

  4. ciee yang baper sama KaiRene dan aku pun juga baper huaaaa eoteokke it’s like something(butterfly) flying in my stomach *absurdenglish *abaikanthor tp q emg selalu baper sm couple2 airin unni..
    aku kira nih ff romance cm sekitar 10% aja ehh ternyata malah bikin baper nih.. menurutku si nayeon ini emg bakal jd antagonis tp yg ga nappeun2 bgt.kayanya prolog2 aja pun juga udh puas tapi yaa tetep butuh chap 1 so… ditunggu !!

  5. Akhirnya apdet juga setelah sekian lama bolak balik cek blog buat ngecek nasib si kai bakal kayak gimana,
    biasanya liat ff irene dipasangin sama sehun, dan disini irene dipasangin sama si item kai ternyata cocok lho,
    ini prolognya mau sampai kapan sih? udah greget nih pengen liat cerita sebenarnya kayak gimana,

    • Sepertinya ane sudah banyak bikin orang nunggu, maapkeun.-. Ini prolog terakhir kok, seriusan, hehe. Kalo mau lebih seru, baca lagi dari coming soon, soalnya ada beberapa clue yang bakal berhubungan~ See you on chapter ^^

  6. KEREEEENNNNN!!!
    Nggak tau lagi harus komen apa lagi. Pokoknya moment kai irene nya banyakin plisss… Kok kai tau nayeon bakal sekamar sama irene sih? Akhirnya ini prolog nya terakhir*yeyy!!
    Keep writing loh kak Al & kak Rish

  7. Aaaaa,akhirnya WINGS Update yeaahh. Moment KaiRine makin banyak ciee,bukan cuman kak irish doang yg baper tapi aku jugaaaaaa❤
    btw,Itu im nayeon siapa? Kok kai cem kenal? Jahat apa baik buat irine? Moga baik dong. Hahaahaha

  8. Akhir nya kakak update juga ni ff, udh lama banget nunggu nya 😀😀.
    Eheem, sepertinya benih-benih cinta sudah mulai tumbuh diantara mereka.
    Dan siapa yang menyeringai, apakah nanti dia musuh kai. Ditunggu next cerita nya kakak

    • Siap aman, kekeke. Sampai ketemu di chapter 1, dan Al sarankan untuk baca kembali dari Coming Soon 1, 2 dan ketiga prolog sebelumnya. Karena itu semua memiliki hubungan(?)

  9. AKHIRNYA DIAPDET JUGA YA GUSTI ;-; DUH GUE BAPER EON GIMANA NIH ;;;;;-;;;;; JADI MULAI CINTA SM KAI PADAHAL KAI UDAH PUNYA MBA’ ITAL ;-; ITU SIAPA YG NGELIATIN KAI??? KAPAN KAIRENE JADIAN EON??? KAPAN KEPSLOK INI BERAKHIR/?
    BTW ITU ONE AND ONLY KAPAN LANJUTNYA EON? KU DAH LUMUTAN ;-; KANGEN SI CABE INTERNASIONAL SAMA SI YERI EON ;-;
    TERUS BERKARYA YA, EON (9’3′)9

    • Tolonglah, kepslok ini di kondisikan kakak 😂😂😂 Tak ada kata terlambat untuk suka sama Kai, Al masih kesemsem sama performance EXO di MMA kemarin huhu:” Segera teror lah twitter Kak Rish biar One And Only di apdet, soalnya kenapa? Al liat Baek di Claris kemarin, deket kantin.-.

      • Beneran ada baek di claris/? o.O ku juga kesemsem ama si kai, dia gans mana rambutnya di cat abu-abu gitu/? duh dd terpana :3 sayangnya dia punya mba’ ital padahal ku menunggunya disini ;3; (duh gak deh ntar aing dibunuh canyul/?) #plak

        Itu nayeon siapa kok gue gasuka dia sekamar sm irene/? terus ini ff fast apdetlah bang, jadilah DirUt cerita yg baik untuk ff ini ;;;;-;;;;

        Udah ah gue banyak bacot -_- makasih ya bang, dapet salam dari irish eonni dari liang kubur/?
        #kemudianguehilangdariperababan ;-;

        (ps : bang, ku lebih muda bertahun-tahun/? darimu wqwq/?)

  10. Cie cie,, kai udah mulai suka ni ye sama irene. Authornim, banyakin kaiRene moment yah?*winkgagal kai kai, emang ya ga jauh dr situ kai pasti udah nandain orang yg disuka tanpa permisi.*ups semangat kai! Jadikan irene milikmu secara resmi #apaini entah kenapa, rasa rasanya aku ga suka sama nayeon. Keknya nayeon punya niat yg jahat. *soktau #digamparauthor eh, btw mianhae authornim bru komen di chap ini, aku ngebut bacanya. Next chapter im waiting you. Authornya semangat yah! Fighting.

    • Lebih baik telat daripada tidak sama sekali, huahaha. Sepertinya Nayeon engga jahat deh, dia lagi happy, soalnya ‘Cheer Up’ jadi Song Of The Year di MMA 2016. (Kenapa jadi kesini?) Kkk, see you on chapter 1~

  11. Aaaaa~~~~ Aku baperrrr…. Kak irish dan kak altair, tanggungjawablah engkau berdua karena sukses membuat aku berbaper ria di tengah ujian semester ini #ehcurhat
    Entah selain baper, kok aku penasaran ya? Pembawaan kalian ke bagian actionnya itu …. bikin aku tutup buku pelajaran! Wkwkwkw ….
    Ini baru prologue , kok udah seru aja ya -.- Kapan nih, update chapter 1? Jiwa ini sudah tidak sabar dan bertanya-tanya kapan itu akan terjadi….
    Mangat terus kak Irish dan kak al! ^o^

    • Cie baper cie baper cie baper /kemudian di lempar sendal-.-/ wkwk, maapkeun sudah membuatmu baper menjelang ujian akhir semester. Sesungguhnya, Al juga akan mengalami UAS, dan sungguh pelajaran IPA itu memuakkan, padahal Al anak IPA (loh?) Hmm, dikau sudah baca prolog sebelumnya belum? Hehe. Chapter 1? Pokoknya sebelum dikau UAS hehehe👿

  12. azek azek.. kairene mkin dket… kai mlh pke senyum2 sndri… udh mlai gk waras nih abang kainya… hueheheh… pas bca klimat yg blg kai mnandai irene scra gk sdar sbg mliknya… kyany ini kairene bntr lgi couplean dah… ampe baper authornya… hahah

  13. Finnaly, ya Lord thankseuu.. akhirnya kak Irish sama kak Al update WINGSeuu.. setelah menanti sekian lama, penasaran sama nasib kaii, dan akhirnya baper baca part kairene hikss~ luvluvluv kak irish, Al dehh.. btw, im nayeon.. dia bakal jadi cast antagonis ya kak? jangan-jangan dia orang ketiga? /BUNUH NAYEON/ (efek menunggu wings) /ampuni diriku/ kkkkk~
    keep writing kakk! fighting! ditunggu next postnyaa yihaaa

    • Maapkeun sudah membuatmu menunggu /hiks/kkk. Dan terima kasih sudah baper sama KaiRene huahahaha😂 Nayeon cast antagonis? Hmm… Gatau.-. /nah loh/ wkwk, masih ada banyak cast yang belum keluar. Jadi mungkin aja peran antagonis yang asli itu belum keluar. Last but not least, see you on chapter 1~

      • yesss kak Al kasih kodee wkwkwk /HUG/ kkk~ masih banyak cast yang disembunyikan ternyata hmmmm… dan baru inget ini masih prologue ._.

  14. YANG BENER AJA INI MASIH PROLOG? PROLOGNYA AJA KEREN APALAGI YANG BIKIN CERITANYA*eh EPEP MAKSUDNYA😂
    GILAA KA, BANG KEREEENN, DI SINI IRINE COCOK SAMA KAI*padahal pengennya BOGUM-IRENE:3
    btw ka irish, maapkan diriku karena baru bisa ngekomeng sekarang, padahal diriku sudah mengikuti epep mu sejak dulu, tapi sekarang diriku sudah tobat, tolong terima aku apa adanya*eh terima maap ku ini 😂
    btw(lagi) FIGHTING NULIS EPEP NYA KA,BANG!! SEMOGA LANCAR!!🙆🙆

    • Serius, ini masih prolog. Wkwk. Prolog terakhir kok, tenang aja😂 Dan, kamu adalah orang kesekian yang berhasil baper sama KaiRene, hahaha😂😂 Kak Rish gabisa jawab, abis kuota dia jadi Al yang jawab, wkwk. See you on chapter 1~

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s