[Oneshoot] Playboy — Sehun’s Side by ShanShoo

playboy

It’s a fanfiction by ShanShoo

Sehun x OC

hurt/comfort, fluff, romance // oneshoot // PG-15

Personal blog : http://ikhsaniaty.wordpress.com/

Disclaimer : I just own the plot!

Inspirated song : EXO – Playboy

 

-oOo-

Maybe, you have to read Eunhee’s Side before😉

Untuk kesekian kalinya, aku mendapati kegelisahan di raut wajah Park Eunhee, kekasihku. Ia menggigit bibir bawahnya, sedangkan sepasang matanya tak lelah menatapku dan juga ponselnya yang berdering di dalam tas sekolah miliknya.

Aku menghela napas, tatapan yang kudapat dari Eunhee seolah memintaku untuk membiarkannya menerima sambungan telepon. Aku hanya terdiam di tempatku, dan balas menatapnya datar.

“Abaikan, jangan diterima.” Ujarku, mengulang kembali perkataan yang sempat aku utarakan padanya beberapa menit lalu, tepat di saat ponselnya menderingkan nada klasik dua kali berturut-turut.

Dia hanya terdiam dan kali ini sepasang titik fokusnya hanya tertuju padaku.

Oh, ini memang terdengar jahat. Namun aku tak ingin seseorang yang sedang mencoba menghubungi kekasihku ini, membongkar semua rahasia terbesarku yang aku sembunyikan darinya. Karena jujur saja, dia, teman kekasihku, mengetahui semua rahasiaku ini.

Ponselnya tak lagi berdering. Dan mungkin itu pertanda bahwa seseorang di sana tak akan mencoba untuk menghubungi lagi. Mengetahui hal itu, Eunhee mendesah kecil. Mungkin ia juga merasa lega karena ponselnya telah berhenti berdering.

Kali ini aku benar-benar menatapnya tepat di manik mata. Aku semakin mempersempit jarak duduk di antara kami, lalu melingkarkan mesra tanganku di bahunya dengan gerakan perlahan. Bibirku mulai mengukir senyum manis andalanku. Senyuman yang akan selalu membuat gadis manapun tergerak untuk mendekatiku kapanpun mereka mau. Well, lagipula aku juga tidak keberatan dengan keberadaan mereka di dekatku. Terlebih jika aku menjadi bahan rebutan mereka. Bukankah itu berarti, aku memang layak untuk diperebutkan?

Eunhee mengerjap lucu, dan hal itu membuatku tak tahan untuk menyentuh pipinya dengan punggung tanganku. Aku mulai membelai lembut pipinya yang terasa begitu halus, dan masih menatapnya diiringi senyuman manis.

“Kenapa?” Aku bertanya, di saat aku merasa tubuh Eunhee membeku, tak bergerak sedikit pun.

“T-tidak,” jawabannya terdengar ragu. Ah, dia pasti sedang merasa gugup. Siapapun pasti akan merasa gugup saat berada di dekatku.

Oh, damn!

Ponsel Eunhee kembali berdering! Bagaimana ini?

Eunhee lantas memutuskan tatapan kami. Ia beralih menatap tas sekolahnya di mana terdapat ponselnya yang kembali berdering. Ia melirik ragu ke arahku ketika tangannya mulai bergerak untuk mengambil ponselnya. Oh, sepertinya ia tak bisa lagi menahan rasa penasarannya. Ia ingin segera mengetahui siapa seseorang yang terus menghubunginya saat ini.

Kulihat sepasang matanya membulat saat ia menatap nama sang penelpon. Sudah kuduga, itu pasti sahabatnya. Sahabatnya yang akan selalu berusaha memberitahunya mengenai sifatku ini. Tetapi untungnya, aku selalu bisa menggagalkan usahanya untuk memberitahu Eunhee. hingga sampai sekarang, kekasihku ini akan selalu dikelilingi perasaan heran karena sahabatnya tak kunjung memberitahu.

H-hey! Sepertinya Eunhee akan menerima sambungan telepon itu!

Tidak akan kubiarkan!

Aku segera meraih tangannya yang tengah memegang ponsel, lalu meraih tengkuknya dan.. aku mencium bibirnya secepat kilat. Saat bibir kami saling bertemu, aku memejamkan mata untuk meresapi kenikmatan di saat aku mencium bibir ranumnya yang sungguh menggoda.

Dapat kurasakan kekasihku ini terdiam dan meresapi perlakuan yang kuberikan padanya. Aku sedikit membuka mata, dan benar saja. Eunhee ikut memejamkan matanya.

Kuakhiri ciuman kami yang hanya sebatas saling menempel saja. Setelah itu, Eunhee membuka matanya. Kedua pipinya mulai memunculkan rona merah yang sungguh menggemaskan. Aku kembali membelai lembut salah satu pipinya seraya tersenyum samar.

“Tolong, abaikan. Aku tak ingin siapapun mengganggu kita berdua sekarang.” Ujarku padanya, terdengar pelan dan memohon. Karena sungguh, aku tak ingin Eunhee mengetahui semua kelakuanku selama ini di belakangnya.

Eunhee pun akhirnya menganggukkan kepalanya pelan-pelan. Manik matanya menatap pada kedua tangannya, enggan untuk balas menatapku. Aku menghela napas lega saat Eunhee mau mendengarkan keinginanku.

Tanganku kini turun dan menggenggam satu tangannya, sementara kedua mataku masih menatapnya lekat.

“Apa kau ada acara malam ini?” aku mengalihkan pembicaraan sambil mendekatkan wajahku padanya. Berharap Eunhee tak lagi memikirkan pembicaraan apa yang ingin disampaikan oleh sahabatnya itu.

Eunhee sedikit terperanjat begitu aku bertanya. Ia tersenyum kikuk lalu sedikit menjauhkan jarak wajah di antara kami, dan membalas, “U-umm, yaa.”

Aku tertawa kecil mendengar jawabannya yang terdengar gugup. “Benarkah?” tanganku kini beralih mengusap lembut surai kecoklatannnya. “Memangnya kau mau ke mana?” tanyaku kemudian.

Setitik peluh mengucur perlahan dari pelipisnya, dengan lembut, kuusap peluhnya dengan ibu jari. Ia terhenyak begitu mendapati sentuhan lembut dari jariku, lalu tersenyum ragu.

“A-aku … aku harus menyelesaikan pekerjaan rumahku malam ini.” kata Eunhee pelan. Aku hanya mengangguk mengerti.

“Baiklah. Mungkin aku akan mengajakmu pergi berkencan di lain waktu.” Aku membalas, dan tak lupa aku kembali tersenyum manis padanya.

Well, sebenarnya aku merasa lega mengetahui jika malam ini aku tak bisa pergi berkencan dengan Eunhee. karena malam ini, aku akan pergi bersama dengan Park Hyerim. Dia adalah salah satu gadis yang saat ini tengah aku dekati. Dan kau tahu? Eunhee sama sekali tak mengetahui hal ini. gila saja jika dia tahu, mungkin dia akan membakarku hidup-hidup—oh ayolah! Itu berlebihan!

“Maafkan aku. Mm.. mungkin, besok aku akan ada waktu luang.” Eunhee berujar. Ia tersenyum lembut padaku, membuatku turut membalas senyumannya.

“Oh? Baiklah kalau begitu. Besok kita pergi berkencan, okay?” kataku. Dan Eunhee membalasnya dengan anggukan mengerti.

Setelah kami selesai membicarakan mengenai acara untuk besok malam, aku melirik jam tanganku yang telah menunjukkan pukul empat sore. Kemudian aku menoleh menatap Eunhee, “Ah, sudah sore.” Ujarku.

“Aku pulang sekarang,” lanjutku seraya mengacak kecil rambutnya.

Kami lantas beranjak dari kursi sofa. Setelah aku mengenakan tas punggungku, aku mencubit kedua pipi Eunhee dengan gemas saat kedua pipi tirus itu merona merah. “Ingat, aku akan menjemputmu besok malam.”

“Umm, aku akan menunggumu.” Jawabnya tanpa bisa menahan senyuman manis di bibirnya itu.

Kami berdua mulai melangkah menuju ke pintu rumah. Eunhee membukakan pintu untukku, dan mempersilakanku untuk melangkah keluar lebih dulu. Saat kami berada di teras, aku membalikkan badan ke arah Eunhee, lantas memeluknya seraya mengusap lembut puncak kepalanya.

Aku sedikit menundukkan kepalaku pada salah satu telinganya, berbisik pelan. “Sampai bertemu besok!”

Eunhee membenamkan wajahnya di dadaku, entah apa yang ia bicarakan. Namun aku pastikan jika Eunhee tengah berbicara padaku. Ah, entahlah. Aku tak terlalu memikirkan apa yang dia katakan padaku.

***

“Ya … ya … aku akan datang. Kau tunggu di sana!”

Aku melempar ponsel ke bagian kursi mobil di sampingku. Tatapanku fokus ke arah jalan raya yang tengah dilalui oleh mobilku. Sial! Aku sama sekali tak menduga jika Park Hyerim memintaku untuk menjemputnya pergi ke sekolah! Dia pikir dia siapa bisa menyuruku seenaknya, huh? Apa dia pikir aku adalah sopir pribadinya? Tapi, jika aku tidak datang, dapat kupastikan ia akan mendatangi Eunhee, dan mengatakan bahwa aku sedang menjalin hubungan dengan gadis itu. Sialan!

Tanpa membuang waktu, aku kembali mengambil ponselku tadi. Lalu menekan tombol panggilan cepat untuk menghubungi Eunhee.

“Halo?” ujarku begitu Eunhee menerima sambungan telepon.

“Umm.. begini, Sayang. Maafkan aku, aku tak bisa menjemputmu untuk pergi ke sekolah bersama. Pagi ini ibu memintaku untuk mengantarnya ke supermarket. Apa tidak apa-apa?” aku menjelaskan semua kebohongan ini dengan nada tenang. Karena dengan begitu, Eunhee akan percaya pada apa yang kukatakan padanya.

Terdengar sebuah helaan napas darinya, “Ya, tidak apa-apa. Sampai ketemu nanti.” Balasnya kemudian.

Selesai berbicara, aku langsung memutuskan sambungan telepon. Dan kembali memfokuskan tatapanku ke arah jalan raya. Ck, gadis itu. jika saja ia tak memintaku untuk menjemputnya, pasti aku akan datang ke rumah Eunhee, lalu pergi ke sekolah bersama seperti biasanya.

***

Aku tiba di depan pagar rumah Hyerim. Segera aku keluar dari mobil, dan mendapati Hyerim yang baru saja keluar dari pekarangan rumahnya. Setelah ia menutup pintu pagar, ia segera menghampiriku dan memelukku begitu saja. Pelukannya begitu erat, membuatku sedikit kesulitan untuk bernapas.

“Hei, hei … lepaskan!” ujarku seraya berusaha melepaskan pelukannya.

Ya, Oh Sehun! Kau tidak merindukanku?” tanya Hyerim. Bibirnya mengerucut lucu.

Aku mendesah kecil. “Kita sering bertemu, bukan?” ujarku sedikit malas, memutar bola mataku karena jengah.

“Hei, kemarin kita tidak bertemu!” ujarnya sedikit kesal.

Oh? Tentu saja kemarin kita tidak bertemu, karena aku harus bertemu dengan kekasihku, Park Eunhee.

“Kemarin aku ada urusan.” Jawabku sekenanya.

“Benarkah? Kau tidak bertemu dengan Eunhye?”

“Park Eunhee.” aku membenarkan ucapannya. Sungguh, ia memang tak bisa menyebutkan nama Eunhee dengan benar.

“Aku tak peduli.” Dia berujar sambil mengibaskan rambut panjangnya ke belakang.

Selesai berbicara, kamipun segera memasuki mobil, dan aku mulai melajukannya menuju sekolah Park Hyerim. Gadis ter-glamour yang kutemui selama ini.

***

Sekarang adalah jam istirahat di sekolahku. Aku benar-benar menyesal karena pagi tadi aku tak bisa pergi ke sekolah bersama dengan Eunhee. ini semua gara-gara Park Hyerim!

Aku hanya bisa menghubunginya kembali, dan mengatakan tempat di mana kami akan bertemu sekarang. Di atap sekolah.

Aku berdiri di atap rumah dengan kedua tangan bertumpu pada dinding pembatas setinggi dadaku. Mataku menatap hamparan langit cerah kota Seoul, lalu beralih menatap ke bawah, pada hiruk pikuk kota dengan banyaknya kendaraan yang berlalu lalang. Saat aku mulai terbawa suasana, ponselku yang kusimpan di dalam saku celana seragamku, bergetar. Lekas aku merogoh saku celana untuk mengambil ponselku.

Han Sojin.

Oh, ini adalah gadis yang dua hari lalu aku temui di taman kota. Tepat sebelum besok malamnya aku pergi mengunjungi rumah Eunhee. diiringi senyuman manis, aku segera menerima teleponnya.

“Halo, Sayang.” Sapaku dengan nada yang dibuat menggoda. Aku mendengar Sojin tertawa manis, ia lalu membalas.

“Hai, Oh Sehun.”

“Kau memanggilku Oh Sehun?” ujarku, lalu mendesah pelan.

“Lalu, kau ingin aku memanggilmu apa?” tanyanya kemudian.

Aku tertawa ringan, “Ya sudah, tidak apa-apa jika kau memanggilku seperti itu. Ah, ya.” aku menjeda perkataanku sejenak, sebelum kembali melanjutkan.

“Terima kasih untuk kemarin malam.”

Ada sebuah tawa kecil yang bersumber dari gadis itu. membuatku ikut tertawa.

“Terima kasih? Untuk jalan-jalan pertama kita, eh?” tanya Sojin di sela tawanya. “Apa sekarang kita bisa pergi berjalan-jalan lagi?” gadis itu kembali bertanya.

Aku sedikit terhenyak mendengar permintaannya. Ah, ingin sekali aku pergi bersama dengan gadis manis ini. namun sayang, aku tak bisa. Karena malam ini, aku ada janji dengan Eunhee, kekasihku. Dengan hembusan napas pelan, aku menjawab. “Malam ini? maaf, aku tak bisa. Aku ada janji. Mungkin … besok kita bisa bertemu lagi, Sayang.”

“Oh Sehun …”

Deg

 

Kudengar ada suara seorang gadis yang begitu familiar di indera pendengaranku. Suaranya bersumber dari arah belakang. Aku terdiam sejenak, mencoba menebak suara itu, meskipun aku tahu siapa pemiliknya.

Refleks aku membalikkan tubuhku ke belakang. Di sana ada Park Eunhee. dia berdiri tak jauh dari tempatku berpijak. Mataku seketika membelalak begitu aku mendapati seraut wajah dihiasi dengan cairan bening yang menganak di kedua bola matanya. Segera aku memutuskan sambungan pembicaraanku dengan Sojin, lalu memasukkan ponselku ke dalam saku celana.

Oh, Ya Tuhan! Bagaimana bisa aku tak mengetahui keberadaan Eunhee di sini? Bahkan aku sama sekali tak mendengar derap langkahnya, seperti saat di mana kami akan bertemu di atap sekolah ini, aku akan langsung mengetahui kedatangan Eunhee kemari, terdengar dari langkah kakinya yang begitu cepat.

Baru saja aku akan berujar, jika Eunhee tak lekas menyela. “Siapa seseorang yang akan kau temui?” tanyanya setelah ia mengusap air matanya dengan gerakan kasar.

“I-itu … itu saudaraku.” Terkutuk! Aku tak bisa menjawab dengan tenang seperti biasanya! Aku takut hal ini akan menimbulkan lagi kecurigaan dalam diri Eunhee.

“Saudara? Lalu, apa maksudmu memanggilnya ‘Sayang’?” lagi-lagi Eunhee bertanya. Membuatku merasa semakin tersudutkan karena pertanyaannya itu. aku mengerjap perlahan, mencoba menenangkan detakan jantungku.

Cukup lama aku terdiam untuk mencari jawaban yang tepat untuk gadis di hadapanku ini. “Itu karena hubungan kami begitu dekat. Kau tak percaya?” ujarku saat aku berhasil menemukan jawaban yang sedikit pas.

Kulihat Eunhee mengangguk seraya tertawa mendengus. Aku benar-benar tidak tahu apa maksudnya. Namun aku yakin jika Eunhee tidak mempercayai perkataanku sepenuhnya.

Eunhee lekas merogoh saku seragamnya. Entah apa yang ia cari. Tetapi sepertinya ia ingin menunjukkan sesuatu padaku. “Lalu, apa kau bisa menjelaskan tentang foto ini?”

Lagi-lagi aku dibuat kaget karenanya. Eunhee menunjukkan satu foto di dalam ponselnya. Itu fotoku bersama Hyerim saat tadi pagi!

Hei, siapa yang memotretku? Bagaimana bisa aku tidak tahu akan hal ini?

Aku benar-benar membeku di tempat. Jantungku seolah tak lagi berfungsi dengan normal, terus berdetak kencang. Sejenak aku menundukkan kepalaku, menatap kedua sepatuku yang sedikit berdebu. Lalu perlahan, aku mendongak untuk menatap Eunhee dan menyentuh kedua bahunya.

“Itu saudaraku,” jawabku. Aku terus berusaha untuk meyakinkannya lewat tatapan mataku, dan juga senyumanku yang dibuat semanis mungkin. Tolong, percayalah padaku, Park Eunhee!

Eunhee tertegun menatapku. Manik matanya masih dihiasi oleh cairan bening. “Benarkah itu saudaramu? Bukan kekasihmu yang lain?”

Aku tertawa kecil mendengarnya. “Hey, kekasihku hanya kau. Kaupikir aku ini lelaki macam apa yang memiliki banyak kekasih?” tanyaku kemudian.

Playboy …”

H-hey, apakah Eunhee mengetahui kebenarannya? Apakah Eunhee tahu jika aku …

Playboy?” tanyaku dengan nada geli.

“Ya.” jawabannya begitu singkat. Sepertinya Eunhee masih ragu akan penjelasanku.

Tidak! Aku harus terus berusaha untuk membuat Eunhee memercayaiku!

Tanpa menjawab ucapannya, aku segera merengkuh tubuh mungilnya ke dalam pelukanku. Lekas aku menempelkan telinganya di dadaku, aku ingin ia mendengarkan debaran jantungku yang sudah tak karuan ini.

“Kau dengar?” aku bertanya ketika Eunhee hanya terdiam membisu.

Eunhee benar-benar diam, sepertinya ia tengah mendengarkan detakan jantungku. Aku mulai yakin, Eunhee akan kembali memercayaiku!

“Kau mendengarnya, bukan?” aku mengulang kembali pertanyaanku. Aku melepaskan pelukan kami, lalu menyentuh bahu Eunhee dan menatap matanya.

“Jantung ini …” tanganku kini mulai menuntun tangannya untuk menyentuhkannya ke dadaku tepat di bagian jantung. Sorot mataku masih tertuju pada manik matanya.

“… akan selalu berdetak cepat setiap kali aku berada di dekatmu. Tidakkah kau merasakan hal ini?” perkataanku terdengar semakin dalam padanya. Aku benar-benar menatapnya lekat. Sungguh demi apapun, aku ingin Eunhee mempercayai perkataanku.

Eunhee meneteskan cairan bening dari kedua pelupuk matanya, segera aku mengusap cairan bening itu agar tak menyentuh pipinya.

Tanpa kuduga sama sekali, Eunhee memegang pinggangku, berjinjit, lalu mencium singkat bibirku yang mengatup rapat. Aku hanya terdiam begitu ia tersenyum manis padaku.

“Maafkan aku,” katanya pelan dan sedikit serak.

Aku tersenyum lebar mendengarnya. Bukankah itu berarti, Eunhee telah mempercayaiku lagi?

“Kau tak perlu meminta maaf, di sini aku yang bersalah karena aku tak menjelaskan yang sebenarnya padamu.” Ujarku seraya mengusap lembut surai coklatnya.

Tanganku lalu beralih menyentuh tengkuknya, lalu mempertemukan bibirku dengan bibirnya. Aku melumat bibir ranumnya perlahan, menikmati setiap inci bibirnya yang sungguh menggoda. Aku dapat merasakan Eunhee membalas ciumanku. Kamipun sama-sama memejamkan mata. Menikmati setiap semilir angin yang menerpa tubuh kami saat ini.

***

Semenjak jam pelajaran terakhir dimulai hingga berakhir, ponselku tak henti-hentinya bergetar, pertanda ada pesan singkat yang masuk. Setelah guru pengajarku keluar ruangan, aku segera mengambil ponselku dari dalam saku celana, lalu melihat siapa seseorang yang mengirimku pesan.

Oh, ini dari Sojin. Dia bilang jika siang ini ia ingin pergi berjalan-jalan bersamaku.

Aku tersenyum, lalu segera membalas pesan tersebut untuk menerima ajakannya.

Tapi, bagaimana dengan Park Eunhee? aku sudah berkata padanya bahwa pulang sekolah nanti aku akan mengantarnya pulang. Apa aku harus kembali beralasan lagi padanya? Membohonginya? Astaga! Tapi sungguh, di sisi lain aku juga ingin sekali pergi bersama gadis yang baru-baru ini kudekati, Han Sojin.

Baiklah. Hanya satu hari ini saja! Maafkan aku, Park Eunhee.

Aku menekan tombol panggilan cepat untuk nomor Park Eunhee. setelah aku mendengar dia menyapaku di seberang sana, aku segera berkata.

“Maafkan aku, aku tak bisa mengantarmu pulang. Ada suatu hal yang harus aku selesaikan. Apa tidak apa-apa?” suaraku terdengar seperti seseorang yang didesak oleh masalah. Karena hanya dengan cara itulah, Eunhee akan percaya pada perkataanku.

“Y-ya.. tidak apa-apa. Aku bisa pulang sendiri.” Jawabnya. Suaranya terdengar pelan, dan ada sedikit nada kecewa dalam setiap kata-katanya.

“Terima kasih, Sayang. Sampai ketemu nanti malam.” aku tersenyum lega. Segera aku memutuskan sambungan pembicaraan kami, lalu berlari keluar kelas menuju area parkir sekolah

***

Akhirnya aku tiba di tempat yang dituju. Aku menunggu kedatangan Sojin di sekitar jalan Gwanggi-do, karena di sanalah ia tinggal. Aku berdiri bersandar pada sisi pintu kemudi, sementara mataku memerhatikan ke sekitar, mencari sosok gadis yang saat ini aku tunggu.

Tak lama kemudian aku mendapati seorang gadis berperawakan ramping, berwajah cantik, serta memiliki lesung pipi saat ia tersenyum padaku. Lekas aku menegakkan posisi berdiriku, aku tersenyum ceria begitu mendapati ia melangkah mendekatiku. Segera saja aku lingkarkan kedua tanganku di pinggangnya, memeluknya hangat sambil mengecup singkat pipi tirusnya.

“Akhirnya kita bertemu lagi.” ujarku tanpa menghilangkan senyuman.

“Hei, tidak sopan menciumku seenaknya!” kata Sojin dengan nada geli.

“Dan kau lebih tidak sopan karena telah mengajakku pergi berkencan. Kita baru saja kenal, Nona.”

“Oh, ya?” Sojin menatapku dengan satu alis yang dinaikkan. “Bagaimana dengan sebutan ‘Sayang’ pada seseorang yang baru kau kenal? Bukankah itu lebih tidak sopan lagi?” lanjutnya, seolah ia tak ingin kalah kata dariku.

Okay, okay. Aku kalah.” Aku mengacak gemas rambutnya yang terasa lembut.

“S-Sehun-a …” lagi-lagi aku mendengar suara gadis yang begitu familiar di telingaku.

Apa? T-tidak mungkin! S-suara ini bukanlah suara… Eunhee, bukan? Tidak! Tidak mungkin!

Seketika aku membalikkan tubuhku ke belakang, dan sepasang titik fokusku kembali mendapati sosok Eunhee dengan air mata berlinang yang menghiasi kedua pipinya. Bibirnya bergetar menahan tangisannya yang akan membuncah kapan saja.

Oh, God! Lemme die!

“Eunhee-ya …” aku menyerukan namanya. Namun ketika aku ingin melanjutkan berbicara, bibirku seolah membeku dan mati rasa begitu saja.

Sepertinya, Eunhee sudah mengetahui semuanya …

Eunhee tertawa hambar saat dia mendengarku memanggilnya, “Jadi, ini yang kaulakukan selama ini di belakangku, huh?” bentaknya dengan suara yang sedikit serak. Membuatku diam dan tertegun mendengarnya.

“Eunhee-ya … aku … aku …”

“Sudah cukup! Ternyata aku memang salah menilaimu! Aku tak mau melihatmu lagi!”

Rasanya seperti ada petir yang menyambar hatiku.

Hatiku terasa begitu sakit, pedih, dan ngilu di saat yang bersamaan.

Memang benar. Semua yang dikatakan Eunhee adalah benar. Memang sudah seharusnya, dan sudah sedari dulu Eunhee tak memercayaiku begitu saja.

Aku  tak bisa membalas ucapannya, seluruh persendianku mendadak melemas. Terlebih lagi ketika aku mendengar isak pelan Eunhee di hadapanku. Aku mendongak hanya untuk kembali menatap Eunhee dan berusaha untuk kembali menjelaskan semuanya. Namun semuanya terlambat. Eunhee telah berlalu dari hadapanku. Dia pergi dengan berjuta rasa sakit yang menghujam batinnya.

“Park Eunhee, aku bisa menjelaskan semuanya!” aku memekik begitu Eunhee memasuki taksi yang akan membawanya pergi entah ke mana. Aku terus menyerukan nama Eunhee, tapi semuanya terasa percuma saja. Dia tak mau mendengarku.

“Sehun-a, siapa dia?” kudengar Sojin berujar di belakangku, aku menoleh menatapnya lewat bahu.

“Dia?” manikku memicing pada Sojin yang menatapku penuh tanda tanya. “Dia adalah kekasihku.” Jawabku pelan, namun terdapat nada kejujuran pada kalimat yang kuutarakan padanya.

Karena memang benar, bahwa Eunhee adalah kekasihku.

***

Seharusnya, malam ini adalah malam bagiku dan juga Eunhee untuk berkencan. Tetapi setelah kejadian tadi siang, Eunhee tak mau menerima telepon dariku sekedar untuk berbasa-basi seperti biasanya. Aku mendesah pelan. Ya, aku tahu, kencan kami batal.

Aku berdiri di depan pagar rumah kekasihku, Park Eunhee. ini adalah yang ke sekian kalinya Eunhee tak menjawab panggilan dariku. Aku segera menjauhkan ponselku dari telinga seraya mengembuskan napas panjang.

Apakah Eunhee benar-benar tak mau menemuiku lagi?

Apakah dia benar-benar membenciku?

Apa yang harus aku lakukan sekarang?

Aku tidak tahu.

Aku tidak tahu sama sekali.

Tiba-tiba, bayangan Eunhee dengan air mata yang berlinang, melintas dalam benakku. Aku menggeleng cepat, mencoba mengenyahkannya. Rasanya begitu sakit setiap kali aku harus mendapati Eunhee menangis.

Aku ingin Eunhee kembali seperti dulu.

Aku tak mau melihatnya menangis lagi.

Tanpa membuang banyak waktu, aku memberanikan diri untuk melangkah menuju pekarangan rumahnya. Di halaman utama, aku melihat eomeoni tengah duduk bersantai pada salah satu kursi di sana sambil meminum secangkir minuman hangat. Dengan senyuman tipis, aku mendekatinya lalu menyapanya lembut.

“Selamat malam, Eomeoni.”

Dia mendongak dan refleks tersenyum manis begitu ia menatapku berdiri tak jauh di hadapannya.

Aku segera membungkukkan badan untuk menghormatinya, lalu kembali berdiri tegak.

“Apakah Park Eunhee ada di dalam?”

Pertanyaan bodoh! Tentu saja dia ada di dalam! Tapi, sungguh, aku bingung harus memulai pembicaraan mana dengan ibunya ini.

“Eunhee? Tentu saja dia ada di dalam. Biar aku panggilkan.” Katanya lembut tanpa memudarkan senyumannya sedikitpun. Aku hanya mengangguk, dan duduk di samping kursi yang ia duduki tadi.

Cukup lama aku menunggu Eunhee menghampiriku. tapi aku tak boleh menyerah! Aku harus menjelaskan semuanya! Harus!

“Untuk apa kau kemari?” suara Eunhee sontak membuyarkan lamunanku. Aku menoleh ke arahnya seraya bangkit berdiri. Dia berjalan ke arahku, dan kini kami berdua saling berdiri berhadapan, dengan tatapan Eunhee yang terasa menusuk jantungku.

Hei, ada jejak air mata yang terlihat jelas di kedua pipinya. Apakah Eunhee baru saja menangis?

Aku menundukkan kepala, belum mau balas menatapnya, lalu berdeham pelan. “Aku.. aku ingin meminta maaf padamu.” Ujarku ragu.

Eunhee mengembuskan napas pendek, “Maaf? Untuk apa?” tanyanya dengan kedua tangan dilipat di depan dada.

“Untuk kejadian tadi siang. Aku sungguh minta maaf.” Kuberanikan untuk menatap manik matanya walau terasa sulit. Kudapati tatapan datar dan juga ekspresi dingin yang terpancar di wajahnya.

Eunhee tertawa mendengus, “Aku sudah bilang padamu, jangan pernah kau tampakkan lagi

wajahmu di hadapanku! Aku membencimu!”

Rasa sakit itu kembali menghujam hatiku. Sungguh, perkataan Eunhee begitu menyakiti hatiku.

“Apa lagi yang kautunggu? Cepatlah pergi!” Eunhee membentakku. Dan aku semakin terdiam karenanya.

Aku menggenggam tangan Eunhee, begitu ia akan pergi meninggalkanku sendirian. “Tolong, maafkan aku. Aku memang bersalah. Tapi, ada satu hal yang harus aku beritahu padamu.” Ujarku dengan nada memohon. Menatap surai coklatnya yang melambai tertiup angin malam.

Kedua tanganku bergerak untuk menyentuh kedua bahunya agar ia mau menghadap ke arahku lagi. aku mendapati tatapannya yang sungguh sendu, manik matanya pun mulai memburam karena terhalang oleh cairan beningnya.

“A-apa itu?” tanyanya terbata.

Bibirku tergerak untuk membentuk sebuah smirk yang membuatnya sedikit kebingungan. Aku mendekatkan wajah perlahan-lahan ke telinganya, membisikkan sebuah kalimat yang kuharap dapat membuatnya percaya padaku.

“Meskipun kau telah mengetahui semuanya, hatiku tetaplah milikmu. Hanya milikmu. Percayalah padaku.”

Aku beralih untuk memeluk tubuhnya erat. Kedua mataku terpejam sambil meletakkan daguku pada salah satu bahunya. Aku menghirup dalam aroma lembut mint yang menguar dari tubuhnya. “Di luar sana, memang banyak gadis-gadis yang lebih cantik dan lebih seksi darimu. Namun asal kau tahu saja, sampai kapanpun, tak akan ada siapapun yang bisa menggantikan posisimu di hatiku. Kau tetaplah kekasihku.”

Eunhee mendesah pelan, tetapi ia membiarkanku untuk memeluk tubuhnya hingga saat ini. “Lalu, apa maksudmu pergi berkencan dengan gadis lain, huh? Bukankah itu berarti kau telah mengkhianatiku?”

Aku tertawa pelan mendengar celotehannya yang terdengar nyaring namun tetap membuat kedua telingaku merasa nyaman. Aku melepaskan pelukanku, lalu menyentuh kedua bahunya dan membalas, “Itu benar. Tetapi kalimat terakhir yang kau ucapkan, itu salah.”

“Emm … pergi berkencan dengan gadis-gadis kaya, bukankah itu menyenangkan? Lagi pula, aku tak pernah mengeluarkan uangku untuk membayar semua makanan-makanan mahal yang kudapat di setiap restoran …” ujarku dengan senyuman kecil yang terpatri di wajahku.

Eunhee membelalakkan matanya begitu ia mendengar ucapanku barusan. “Apa? Oh Sehun! kaupikir ini lucu? Aku sungguh tak menyangka! Aku membencimu, Oh Sehun!”

Lagi, aku tertawa pelan. Sungguh, mendengar celotehan gadis ini benar-benar memberikan hiburan tersendiri bagiku. “Benarkah kau membenciku?” tanyaku sedikit menggodanya sambil mencubit gemas hidung mancungnya.

“Ya, aku sangat membencimu!” jawabnya kemudian. Ah, aku merasa jika Eunhee tidak sungguh-sungguh saat mengatakan hal itu padaku.

Eng … kupikir ..” aku kembali berbisik ke telinganya, “Kau sedang berbohong, bukan? Kau tidak membenciku.”

Entah apakah ini hanya pikiranku atau bagaimana. Tetapi saat ini aku merasa Eunhee berdiri diam di hadapanku. Bibirnya mengatup rapat seolah enggan untuk kembali membalas perkataanku. Tanpa Eunhee sadari, aku kembali menaikkan satu sudut bibirku, tersenyum miring.

“Sudah kuduga,” aku kembali bersuara, “Kau tak akan pernah bisa membenciku.” Ujarku. Satu tanganku terangkat untuk membelai lembut pipinya yang merona merah—ah, dia selalu seperti ini, menggemaskan.

“Begitupun aku, yang tak akan pernah bisa berpaling pada gadis manapun. Karena aku hanya mencintaimu.”

Ini bukanlah sebuah rayuan belaka! Ini bukanlah sebuah kebohongan untuk menutupi semua sifat burukku.

Ini kenyataan. Aku mencintainya. Hanya Eunhee gadis yang aku cintai. Tidak peduli seberapa banyak gadis yang gencar aku dekati dan pada akhirnya aku kencani, aku akan tetap memilih dan menjadikan Eunhee sebagai gadisku, kekasihku di dalam hati. Tidak ada siapapun yang boleh menggeser posisinya di dalam hatiku. Tidak ada.

Perlahan, aku mendekatkan wajahku ke wajahnya. Aku mengecup bibirnya perlahan sebelum aku melumatnya dengan lembut. Semua kasih sayangku, kusalurkan lewat ciuman hangat ini. kedua mataku mulai terpejam, begitupun Eunhee. sepertinya, ia memaafkanku, ia mulai memercayaiku lagi. Aku merasa sangat senang begitu mengetahui kenyataan ini.

.

.

.

.

.

.

.

.

Aku harus terus seperti ini. Mengatakan semua kebohongan padanya, hanya agar semua rahasiaku tak terbongkar begitu saja.


Apakah aku jahat?


Ya, aku memang jahat.


Tapi aku harus melakukannya.


Karena aku tak ingin kehilangan Park Eunhee. Kekasihku yang sesungguhnya.

-oOo-

At least, FF ini terlihat sangat… err.. absurd😀

Gaje >.<

Bikin sakit kepala dan ujung-ujungnya muntah/? *Lebay!

FF ini aku buat tanpa dicek lagi apa ada typo-nya atau ngga. Efek maleees :3

Thanks for reading, and review are allowed, Guys! 😉

8 thoughts on “[Oneshoot] Playboy — Sehun’s Side by ShanShoo

  1. Aahhhh othorrrr
    Pas baca versi eunhee sumpah dahhh pngen nyulik othor trus minta d balikin ade guuee jd unyu2 laggiii
    Huhu othor kau apakan sehun

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s