EVENING SKY – Slice #6 – FINAL — IRISH’s Story

irish-evening-sky

   EVENING SKY  

  EXO`s Chanyeol & OC`s Sarang  

   with EXO & Lovelyz Members  

  dystopia, fantasy, romance story rated by T served in chapterred length  

Disclaim: this is a work of fiction. I don’t own the cast. Every real ones belong to their real life and every fake ones belong to their fake appearance. Any similarity incidents, location, identification, name, character, or history of any person, product, or entity potrayed herein are fictious, coincidental, and unintentional. Any unauthorized duplication and/or distribution of this art and/or story without permission are totally restricted.

2016 © IRISH Art & Story all rights reserved

Reading list:

〉〉 TeaserSlice #1Slice #2Slice #3Slice #4Slice #5 〈〈

Slice #6

██║ ♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ │█║♪ ♫ ║▌♫ ♪ ║██

In Sarang`s Eyes…

Jam 8. Aku seharian ini tidak keluar kamar sama sekali setelah menemui Jin tadi. Aku tidak bernafsu untuk makan apapun, atau untuk menengok keadaan di luar. Suara Jiae yang berkeliling masih terdengar jelas di telingaku, suara petugas yang lain juga terdengar di dekatku.

Benarkah akan ada hal besar malam ini? Tapi Mijoo, Jisoo, Jin, mereka seolah yakin bahwa akan ada hal besar yang membebaskan mereka malam ini.

Jangan berdekatan dengan manusia-manusia itu nanti malam Sarang, kami tidak ingin melukaimu,

Apa maksud ucapan Jisoo itu? Aku menghela nafas panjang, lalu berbaring di tempat tidurku, memandang langit-langit kamarku yang berwarna putih. Aku diam dan memperhatikan langit-langit kamar, sampai aku melihat sesuatu seolah fatamorgana di sana!

Langit-langit kamarku retak! Aku bangkit dari tempat tidurku, memastikan bahwa aku hanya salah melihat. Tapi aku salah! Kini runtuhan langit-langit berjatuhan seperti serpihan. Aku memandang sekitarku, dan aku terperanjat melihat ada tumbuhan menjalar di tembok kamarku, tumbuhan itu bergerak menyelimuti tembok kamarku.

Sesuatu yang buruk sedang terjadi.

██║│█║║▌ Evening Sky │█║║▌║██

  Slice 6

Aku berlari keluar kamar, kurasa semua orang menyadari hal yang sama denganku.

NGGIIIIIIINNGGGG! NGIIINNNGG!

Alarm darurat berbunyi dengan sangat keras, memekakkan telingaku.

“Kita harus pergi Sarang! Sesuatu terjadi di gedung ini!” Jongin menarikku, aku mengabaikan rasa sakit yang mencekikku lalu aku berlari mengikuti Jongin.

“Kita akan kemana? Ini malam hari,” kataku saat kami berlari.

“Gedung darurat, beberapa kilometer dari gedung ini,” Jongin menarik dokter Soojung bersama kami, dan aku terkejut melihat kobaran api di gedung yang menjadi gudang obat dan persenjataan kami.

“Apa yang terjadi?” tanyaku.

Vampire itu menyerang dari luar,” kata dokter Soojung.

Mereka benar-benar menyerang?

“Kita harus keluar!” Jongin menarikku dan dokter Soojung keluar gedung.

Aku terpana. Bukan hanya karena melihat gedung yang menjadi hancur secara perlahan. Juga bukan karena banyaknya vampire yang kulihat menyerang kami. Tapi aku terpana melihat langit malam.

Seindah inikah malam? Benda bulat berwarna putih kekuningan bersinar terang dan di dekatnya ada banyak noktah berwarna putih yang berkilauan.

“Sarang! Merunduk!” Jongin berteriak padaku.

Aku tersadar dan terbelalak melihat bola api besar mengarah padaku. Aku merunduk, bola api itu melesat di atasku, panasnya terasa di punggungku, aku memandang ke belakang, bola api itu sudah bersarang di salah satu mesin besar yang berusaha di selamatkan petugas.

Aku memandang ke sekitarku, keadaan jadi sangat kacau. Banyak vampire menyerang kami. Aku takut. Aku tidak mengenal wajah vampirevampire itu. Mereka bukan pasien, mereka vampire yang menyerang kami.

“Dimana pasien?” tanyaku pada dokter Soojung.

“Mereka di dalam. Biarkan saja mereka terbakar.”

“Berikan kunci gerbang padaku!” kataku padanya, aku tahu, Dialah yang menyimpan kunci gerbang pasien.

“Tidak Sarang! Sudah banyak vampire yang menyerang kita! Kita bisa mati jika mereka yang di dalam juga menyerang!” dokter Soojung membentakku.

Dulu aku berpikir dokter Soojung adalah seorang yang sangat bijaksana. Tapi sekarang aku melihat sisi aslinya.

“Mereka harus di bebaskan.” aku merebut tas mungil yang ada di tangan dokter Soojung. “Tidak Sarang! Jangan bertindak bodoh! Kau membahayakan kami semua!”

Aku tersadar. Tidak ada pertolongan untuk kami yang ada disini. Jika vampire di dalam gedung terbebas, kami akan mati dalam sekejap.

Aku dilema.

Gedung ini punya pengamanan otomatis yang akan sangat sulit di tembus vampire. Itulah kunci utama kamar di gedung ini. Saat vampire menyerang pertahanan kamar, gedung ini akan mengeluarkan racun vampire yang akan membakar mereka.

“Rasa pedulimu pada vampirevampire itu harus dihentikan Sarang.” dokter Soojung merebut kembali tas nya

Aku tidak bisa membiarkan vampirevampire itu disana. Mereka bisa mati. Di gedung ini terlalu banyak obat pemusnah vampire.

Sepuluh truk baja besar datang, dan membawa kami, manusia yang masih selamat dari serangan vampire. Truk itu akan cukup kuat melindungi mereka.

“Ayo pergi Sarang,” dokter Soojung menggamit lenganku dengan lembut

Aku bergeming.

“Tidak, pergilah dengan yang lainnya,” kataku sambil mengalihkan tangannya.

“Sarang!” ia tampak marah sekarang.

“Maaf dok, nyawa mereka juga berarti bagiku,” aku untuk kedua kalinya merebut tas dokter Soojung lalu berlari menembus kekacauan di sekitarku.

Semuanya tampak seperti kilatan-kilatan cahaya. Teriakan kesakitan. Tangisan. Jeritan. Semuanya tampak sama di mataku sekarang. Yang jadi tujuanku hanya satu, pintu darurat.

BRAK!

Aku menendang pintu darurat. Asap berkobar di aula, begitu besar dan menyeramkan. Aku berlari sekuat tenaga, menghindari kobaran api yang nyaris menyentuh tubuhku.

Dugaanku benar. Vampirevampire itu masih terkurung di perbatasan gerbang. Kekuatan mereka tidak bisa menembus gerbang itu. Aku berlari ke arah gerbang, dan berhenti disana.

“Kau kesini?” Mijoo memandangku tak percaya, ia baru saja gagal dengan usahanya. “Demi kalian,” kataku sambil membongkar tas dokter Soojung.

Kunci berwarna merah. Sial. Kunci itu tidak ada. Bagaimana ini? Seharusnya dokter Soojunglah yang punya kuncinya! Ada alasan aku menyelamatkan mereka! Park harabeoji. Dia yang memesankan padaku untuk menjaga vampire disini.

Dan dulu … dia yang memberiku gelang perlindungan ini, karena gelang ini dulu miliknya.

…jika terjadi sesuatu yang buruk beberapa tahun lagi, kau harus ingat Sarang, jangan lepaskan gelangmu, atau menukarnya, di dalam gelang ini aku menaruh kunci gerbang pasien. Kau tahu kapan harus menggunakan kunci ini, jaga mereka baik-baik Sarang … Jaga dan rawat mereka seperti saat harabeoji menjaga dan merawatmu selama ini …

Aku terkesiap. Kuncinya ada di gelangku. Park harabeoji dulu yang membangun pertahanan gedung ini. Dan dia salah satu orang yang sangat tidak setuju dengan mereka yang menyiksa vampire ini.

Aku membuka sambungan gelangku. Ujungnya berbentuk kunci. Aku mencoba kunci itu di lubang kunci gerbang.

KLIK

Benar. Gelangku benar-benar kuncinya.

“Sarang! Kau berhasil!”

Aku membuka gerbang itu, mereka bebas sekarang. Benar-benar bebas. Aku terkesiap saat seseorang menarik lenganku. Jin.

“Kita harus pergi Sarang,” aku terkejut mendengar kata-kata kita itu.

“Kau bagian dari kami,” katanya sambil menarik lenganku.

“Aku … Aku manusia Jin, tidak akan pantas jika aku bersama kalian,” kataku.

“Kau tidak pantas bersama manusia kejam itu,” seorang pemuda muncul di samping kami.

Aku heran bagaimana mereka bisa berjalan tenang di tengah kobaran api ini.

“Karena api ini sudah di kendalikan oleh Chanyeol, dan api ini tidak akan bisa menyentuh kita,” kata Jin menjawab pertanyaan di benakku.

“Memang tidak berpengaruh pada kita, tapi asapnya berpengaruh pada Sarang. Kita harus membawanya dulu keluar,” kata pemuda itu.

Arraseo Kyungsoo-ya.”

Ada satu hal yang baru kusadari, banyak dari vampire ini yang punya sayap. Dan sayap mereka sangat indah.

“Biar kubawa kau keluar,” Kyungsoo menarik lenganku, lalu menggendongku.

Aku meringis, leherku terasa sakit, sangat sakit.

“Tahan sebentar rasa sakitmu,” kata Kyungsoo sambil membawaku terbang melewati bangsanya yang tampak menghancurkan bagian dalam gedung.

Kurasa mereka sangat membenci gedung itu. Dan menghancurkan gedung jadi impian mereka. Aku sampai di luar gedung. Langit malam langsung menyambut kami, dan aku masih terpana melihat langit yang begitu indah.

“Tunggu disini Sarang,” Kyungsoo menurunkanku, aku menahan lengannya.

“Terima kasih …”

Kyungsoo tersenyum. Dan melesat pergi.

Aku terdiam. Keadaan jadi sangat kacau sekarang. Aku melihat truk-truk penyelamat kami berjalan tak jauh dari tempatku berdiri. Vampire itu masih menyerang mereka.

Aku memandang gedung yang kini sudah mulai runtuh. Park harabeoji, gedung ini runtuh pada akhirnya. Saat aku melihat banyak vampire yang tidak kukenal, saat itu aku sadar mengapa malam sangat berbahaya bagi kami.

Di malam hari vampire itu bisa membunuh kami lebih mudah!

Aku terkesiap saat seorang vampire terbang melesat ke arahku. Aku bergerak mundur, tapi ia bergerak lebih cepat dariku. Dalam hitungan detik ia berada di depanku, dan aku terpana.

“Sarang-ah …”

Suara lembut itu … membiusku. Wajah itu, wajah sempurna yang membuatku tidak mampu mengalihkan tatapanku darinya. Chanyeol. Ia berdiri di hadapanku sekarang.

“K-Kau—”

Aku tidak sempat menyelesaikan kalimatku saat ia memelukku, menyelimuti kami dengan sayapnya.

Ia meninggalkanku setahun yang lalu, dan ia kembali dalam sosok yang sama sempurnanya seperti saat dulu ia meninggalkanku.

“Sudah kukatakan aku akan kembali,” ia melepaskan pelukannya, lalu memandangku.

Ini seperti mimpi.

“Aku tidak sedang bermimpi kan?” kataku pelan.

“Tidak, kau tidak bermimpi,” ia mengusap leherku pelan, mengusap luka itu, dan rasa sejuk kembali muncul disana, seperti saat dulu ia menyentuhnya.

“Maaf tanda ini membuatmu tersiksa selama setahun ini,” ia tersenyum.

Aku berusaha menyadarkan diriku, entah dari apa. Aku memandang gedung yang kini sudah hangus, seorang vampire mengeluarkan air dari tubuhnya dan menumpahkan air besar itu ke gedung. Sementara ku lihat, Jin, Kyungsoo, Mijoo, Jisoo, dan vampire lain nya terbang di langit malam, seolah menikmati kebebasan mereka.

“Sudah lama mereka menginginkan hal ini,” kata Chanyeol.

“Aku tidak mengerti,” kataku pelan.

“Kenapa?” Chanyeol memandangku.

Aku bingung. Benar-benar tidak bisa kumasukkan dalam akal sehat karena pada akhirnya aku bersama mereka dan bukannya bangsaku.

“Rasanya seharusnya aku tidak ada disini,” ucapku membuat Chanyeol tertawa.

“Tidak, ada banyak alasan yang membuatmu harus berada disini bersama kami para vampire,”

“Apa itu?” aku memandangnya.

“Baiklah, pertama, karena kau sudah kutandai dan artinya kau harus jadi milikku, aku vampire, dan kau harus hidup bersamaku, bersama vampire. Dua, karena siapapun akan menilai bahwa kau memihak pada kami dalam peperangan bangsa ini, kau menyelamatkan bangsaku, itu alasan kedua yang membuatmu lebih pantas bersama kami. Ketiga, karena kurasa semua vampire yang pernah terkurung di gedung tolol itu menginginkanmu untuk bersama kami.” kata Chanyeol membuatku terdiam.

“Alasan kedua membuatku merasa seolah aku pengkhianat bangsaku,” kataku, aku jahat pada bangsaku sendiri, itulah fakta buruknya.

“Kau benar-benar masih ingin bersama mereka?” kata Chanyeol.

Aku memandangnya. Ia tidak sedang marah, ia … sedih.

“Chanyeol-ah … Kita berbeda, dan fakta bahwa kau menandaiku membuat segalanya semakin tidak masuk akal,” kataku.

“Kau bisa kuubah menjadi sepertiku,” kata Chanyeol.

Aku bergidik membayangkan diriku menjadi seorang vampire. Menjadi vampire bukan sebuah pandangan hidup bagiku.

“Aku … tidak siap untuk menjadi seperti kalian, aku suka hidupku sebagai manusia,” kataku, jujur.

“Kau selalu menghargai perbedaan,” kata Chanyeol mengingatkanku.

“Memang, tapi, bukan perbedaan yang seperti ini, kita tidak bisa memaksakan perbedaan seperti ini Chanyeol-ahMianhae …” kataku.

Chanyeol duduk di batu besar yang ada disana. Aku berdiri di hadapannya. Aku tidak bisa mendapatkan semua kebaikan ini, aku sudah membahayakan bangsaku, dan aku … setelah aku membuat mereka dalam bahaya, aku tidak pantas untuk merasa aman bersama Chanyeol dan bangsanya.

“Jadi … keputusanmu?” ia memandangku.

Aku merekam siluet wajahnya, dia cinta pertamaku, kuakui perasaanku pada Jongin hanya perasaan suka karena aku merasa bahwa hidupku tidak kosong. Tapi perasaanku pada Chanyeol yang hanya kukenal beberapa hari berbeda.

Aku merekam siluet wajahnya dalam pikiranku, berharap bahwa aku tidak akan lupa wajah sempurna ini nantinya.

“Kembalikan aku ke bangsaku …”

“Sarang!” ia menatapku tajam, aku tahu ia tidak suka keputusanku.

“Ku mohon … aku ingin memperbaiki keadaan bangsaku, tempatku bukan disini Chanyeol-ah, tempatku bersama mereka, mereka memang kejam pada kalian, tapi tetap saja, mereka bangsaku,” kataku.

Ia mendesah pelan.

“Mintalah izin pada mereka,” kata Chanyeol sambil memandang ke arah para vampire yang tengah menikmati kebebasan mereka.

“Sarang, jangan,” kata Jin, ia melesat ke arahku dan memelukku, ia terisak, tapi saat aku memandangnya, ia tidak menangis.

“Kami tidak bisa menangis Sarang, dan jika aku bisa menangis, aku akan menangis, kumohon, jangan kembali pada mereka, Sujeong dan Yein juga sudah menjadi bagian dari kami,” kata Jin.

“Mereka jadi vampire?” tanyaku.

Chanyeol mengangguk.

“Ya, mereka yang memilih itu,” kata Chanyeol.

“Aku sudah mengembalikan kalian semua, tidak ada vampire yang di tahan oleh bangsaku, kalian juga tidak boleh menahan manusia disini,” aku tertawa pelan.

“Itu pilihannya, kita tidak bisa memaksa,” seorang vampire muncul di sampingku.

Hyung,” Chanyeol terlihat tidak senang dengan ucapan vampire itu.

“Hilangkan tandamu Chanyeol. Dia bukan takdirmu,” kata vampire itu.

Chanyeol berdecak pelan, kemudian mendekatiku.

“Ternyata aku menandai seseorang yang salah,” katanya pelan sebelum akhirnya mengusap leherku, perih, tapi rasa perih itu hanya sebentar.

Mianhaeyo Chanyeol-ah …” kataku pelan.

Gwenchana, selamat tinggal Sarang,” ia mendorongku pelan.

“Jongdae, bawa dia,” kata Chanyeol.

Seorang pemuda berdiri di sampingku. Chanyeol melebarkan sayapnya dan melesat pergi. Jin, Mijoo, dan beberapa dari mereka yang ku kenal juga berangsur-angsur meninggalkanku.

Apa aku melakukan sesuatu yang salah? Tidak.

Pemuda itu memegang bahuku dan aku sudah berdiri di tanah kosong.

“Berhati-hatilah, semoga hidupmu jadi lebih baik,” pemuda itu tersenyum padaku, lalu dalam hitungan detik ia menghilang.

Aku terduduk di tanah. Dadaku terasa sesak. Salahkah keputusan ini? Aku tidak ingin meninggalkan bangsaku. Aku tidak ingin takdir tidak masuk akal ini terjadi. Hidupku akan terlalu sempurna jika aku bersama Chanyeol.

“Sarang?” aku kaget melihat Jongin berdiri di hadapanku.

“Jongin-ah …” kataku pelan.

“Kau kemana saja? Sudah dua hari kami mencarimu, kajja, disini tidak aman Sarang, vampire itu bisa membahayakan kita,” Jongin menarik lenganku untuk berdiri.

Dua hari?

“Maksudmu … dua hari?” kataku bingung.

“Saat kebakaran itu kau menghilang, sudah dua hari ini kami tinggal di tempat bangsa peralihan Sarang, mereka manusia yang pernah di gigit vampire, dan mereka punya tujuan yang sama dengan kita,” Jongin menuntun langkahku.

“Dimana yang lainnya?” tanyaku.

“Di gedung bangsa peralihan, kita akan aman disana Sarang, itu gedungnya,” Jongin menunjuk sebuah gedung besar berwarna putih.

Aku masih termenung. Dua hari? Bagaimana bisa ada permainan waktu seperti ini?

Aku masuk ke gedung besar itu, banyak penghuni Gedung Penyembuhan ada di sana, dan mereka tersenyum lega melihatku.

“Ah, inikah Sarang yang kemarin hilang?” seorang gadis cantik mendekatiku.

“Ya Seulgi, dia orangnya, aku menemukan nya di luar,” kata Jongin.

“Ah! Sarang!” Jiae memelukku.

“Sarang, kami butuh sedikit bantuanmu,” kata dokter Soojung.

“Apa?” kataku bingung, aku baru datang dan mereka sudah meminta tolong padaku?

“Ada beberapa vampire disini, vampire liar, kurasa, umm, kau bisa meluluhkan mereka,” kata dokter Soojung.

“Dimana?” kataku.

“Ini Sarang yang sejak kemarin kalian bicarakan?” seorang pemuda mendatangiku, ia tampan, sangat tampan, seperti … vampire.

“Ya hyung, Sarang, ini Sehun, dia yang menemukan kami kemarin,” kata Jongin

“Senang bertemu denganmu,” aku tersenyum.

“Sarang bisa bicara dengan vampire itu dan biasanya ia meluluhkan semua vampire di Gedung Penyembuhan, kurasa ia bisa bicara dengan vampirevampire itu,” kata dokter Soojung.

“Oh, benarkah? Kau akan sangat membantu Sarang, kami kesulitan mencari informasi dari mereka,” kata Sehun.

Apa aku sekarang menjadi senjata mereka untuk menyiksa vampire?

“Ikutlah dengan Sehun, Sarang,” kata dokter Soojung.

Arraseo,”

Aku berjalan dalam diam dengan Sehun. Dia tidak banyak bicara, seperti vampire. Tapi dia manusia, sama sepertiku. Kami berjalan menuju ruang bawah tanah. Ada banyak jeruji disana, seperti penjara.

“Disana mereka Sarang, cobalah untuk bicara, jangan segan-segan memanggilku jika mereka menyentuhmu,” kata Sehun.

“Ya,” kataku.

“Aku akan menunggu di ujung tangga,” kata Sehun sambil meninggalkanku.

Aku mengangguk dan berjalan ke jeruji yang paling dekat denganku. Ada banyak vampire disana. Bangsa Chanyeol. Aku lagi-lagi terkurung bersama penyiksa vampire. Mengapa takdir tidak membiarkanku hidup normal?

Vampirevampire ini benar-benar liar. Tidak seperti mereka yang ada di Gedung Penyembuhan yang rata-rata diam. Mereka yang ada disini berdesis saat aku lewat, mereka benar-benar tidak menyukaiku. Inilah vampire yang benar-benar … menakutkan.

“Um, hai …” sapaku pada vampire yang ada di tempat paling ujung, ia vampire yang tidak mendesis saat aku berada disini.

Ia hanya memandangku. Dingin. Lalu membelesakkan dirinya di pojok penjaranya. Aku duduk di tembok dekat pintu jerujinya. Ia memandangku aneh.

“Apa yang kau inginkan?” katanya dingin

Akhirnya ia bicara.

“Kakimu sakit?” aku menunjuk kakinya yang di borgol.

“Sudah dua tahun borgol ini ada di kakiku.” jawabnya.

Aku tidak punya kuasa apa-apa disini. Aku tidak akan bisa membuka borgol mereka. Dan itu membuatku sedih.

“Siapa namamu?” tanyaku.

“Jangan jawab dia.” kudengar suara vampire yang ada di sebelah jerujinya.

Vampire yang kutanyai melirik ke sumber suara itu, lalu menatapku, dan ia kembali diam.

“Kalian keluarga?” tanyaku.

“Bagian dari pemimpin vampire disini.” aku terkesiap.

…kau beruntung karena Chanyeol menandaimu, dia salah satu pemimpin bangsa kami,” ucapan Jisoo kembali terngiang di pikiranku.

“Mereka akan datang kesini, membunuh kalian. Tunggu saja.” kata pemuda yang ku ajak bicara. Chanyeol dan yang lain akan kesini, menyerang kami … lagi?

Sekarang aku cukup yakin, perang ini … belum berakhir.

FIN

.

.

.

Cuap-cuap by IRISH:

FINAL.

FINAL.

FIN. ASTAGFIRULLAH.

FINAL BENERAN. BAHAGIANYA AKU.

AKHIRNYA CERITA INI BERAKHIR.

Di hari Senin, jauh dari ekspektasi aku tentang posting ini cerita di hari Rabu emang, maaf ya. Berhubung staffs sekarang postingnya hari Jum’at sampai Senin, jadi terpaksa maju dua hari. BERTERIMA KASIHLAH, PADA blog ini.

Kemudian, haruskah cerita ini saya lanjutkan?

Kalau iya, silahkan simak TEASER 2ND STORY YANG ADA DI SINI → #KLIKSayaKLIKSayaWOIayoKLIKsaya

Kalau kalian enggak berminat sama cerita lanjutannya, silahkan hentikan perjalanan Anda di sini dan terima kasih karena sudah menemani saya selama enam chapter.

Oh ya, sekedar promosi saja, mungkin-mungkin rindu pada cerita astral semacem ini yang sudah rampung, bisa klik di sini → #KLIKAkuDong

Terima kasih, salam, IRISH.

Catch Me On:

askfm facebook gmail instagram line soundcloud twitter wattpad wordpress

136 tanggapan untuk “EVENING SKY – Slice #6 – FINAL — IRISH’s Story”

  1. kenapa finalnya kayak begini kak??? kenapaa???
    d season 2 sarang sama mas ceye harus bahagia!! wajib!! /reader maksa//digampar kak irish/PLAKK//

  2. SARANG, LO MAU GK KLO GW BUNUH?!!!
    kenapa sarang gk tinggal sama Chanyeol aja sih? Kenapa sih? Kenapa? Sih?

    Kenapa aku merasa ending nya gantung? Kenapa? Dan lagi lagi aku mengutarakan kata “Kenapa”
    Vampire punya sayap? Keren juga. Boleh bagi sayap nya? Boleh kan?

    Aih… Aku gedek (?) banget sama Sarang. Kan enak tau tinggal sama Vampire yg rata rata isinya cogan semua. Klo Sarang gk mau, mendingan tuker tempat sama aku aja deh. Mau gk?

    Kali ini aku komen nya pendek kannn… Jadi kak irish gk perlu capek capek baca komen ku yg kadang gk beres. See yaa kak..

    1. XD ASTAGFIRULLAH, YA ALLAH, SELAMATKAN SARANG YA ALLAH.
      PLIS JANGAN DIBUNUH SEKARANG, SARANG MASIH HARUS MAIN DI SEASON II BTW XD XD WKWKWKWKWKKWKWK

      aku antara pengen ngakak sama gimana gitu pas baca ‘vampire yg rata rata isinya cogan semua’ itu XD wkwkwkwk

  3. Tak kira Sarang bakal hidup bahagia sama mas Ceye.. enggak ya? agak kecewa sihh, lagi seneng-senengnya ngelihatin Sarang-mas Ceye berduaan. ehh Sarang lebih milih jadi manusia. tapikan Sarang bisa aja hidup sama vampire itu tanpa berubah jadi vampire. ya hanya kak Irish dan Sarang yang tau, aku mah bisa apa. huhuhu
    kak nggak ada sequelnya? kok aku ngerasa endingnya nggantung..
    .
    Keep writing ya kak!!!

  4. knpa sih si sarang ga mau jadi vampire kan enak bisa sma ceye :*
    hai ka irish kapan season 2 nya???, waiting for season 2 💦

  5. Sarang mengecewakan… kupikir dia bakal ikut sama Chanyeol…
    Bagian ini paling bikin nyesek… Dan penasaran. Untung masih ada lanjutannya jadi gak mati penasaran 😂😂
    Karena walaupun bisa berimajinasi sendiri lanjutannya, tetep aja lebih asik baca hasil imajinasi orang. Bikin greget 😂😂

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s