[Vignette] Afraid – Honeybutter26

afraid

Afraid

Presented by Honeybutter26

Minseok x Song Jieun [OC]

Sad, Romance

PG -15

Vignette

Soundtrack : Mad Clown ft Kim Nayoung – Once Again (Descendants of The Sun OST)

“Pernahkah kau merasa takut? Takut untuk mencintai, dan takut untuk melepaskan.”

***

Cinta sejatinya memang suci. Cinta sejatinya memang menabur warna baru dalam hidup. Itulah cinta. Penuh petuah hidup. Menghidupkan hidup, atau mematikan hidup.

Mereka mencintai, di antara batas perbedaan yang mengantarai. Mereka mencintai, berbalut perasaan takut satu sama lain. Mereka mencintai, hidup dan mati.

Minseok tahu dia terlalu pengecut. Lari, hanya itu yang selalu menggerayangi pikiran. Pergi, sugesti yang menghantui setiap waktu. Tak peduli, kepura-puraan yang membawanya menuju mati.

Jieun adalah manusia paling egois di dunia. Tak pernah mau kalah, tak juga mau mengalah. Bahkan ketika itu bersangkutan dengan hatinya. Apa yang ia mau harus ia dapatkan, begitulah Jieun hidup. Tapi Minseok, adalah keinginan tersulit untuk didapat. Terlalu banyak pengorbanan, terlalu banyak rasa sakit dan air mata.

“Jangan menjauh lagi.” Jieun berdiri di hadapan Minseok. Menghadang pria itu yang hendak membawa tumpukan makalah ke ruang dosen. Mereka bertatapan tanpa aksara. Hanya coba merangkai makna lewat cahaya netra. Minseok dengan pandangannya yang sedingin es, Jieun dengan pandangan yang mengobarkan harapan agar setidaknya Minseok melihatnya sedikit saja.

“Baiklah, baik. Aku pergi.”

Namun pada akhirnya Jieun menyerah. Dinding es di antara mereka terlalu sukar untuk dicairkan.

***

Awal mula itu sejatinya bukanlah awal untuk memulai. Pertemuan itu seharusnya tak menjadi garis takdir yang menyiksa mereka dengan cambuk rindu tiap detik waktu. Pertemuan pertama itu, harusnya jadi akhir untuk mereka berdua. Agar tak ada tangis ataupun teriakan rindu yang memaksa untuk dipuaskan.

Rinai hujan hari ini membawanya kembali ke masa silam. Di pertemuan pertama mereka yang membawa pada jalan takdir yang sama.

“Ah, Ya Tuhan. Kenapa hujan harus turun sembarangan? Oh, tidak! Prada baruku! Ah, dasar hujan sialan.”

 

Minseok memperhatikan gadis yang heboh dengan dunianya sendiri itu. Dalam hati Minseok bertanya-tanya, kenapa ada orang yang memaki hujan? Sedangkan jika hari terlalu panas kadang mereka berharap turunnya hujan.

 

Entah karena terlalu heboh dengan pakaiannya yang nyaris basah kuyub, atau karena terlalu heboh pada hujan, hak setinggi tujuh senti yang awalnya congak menopang tubuhnya itu kini justru mengkhianatinya dengan tergelincir dan membuat gadis itu nyaris jatuh. Iya, nyaris jatuh jikalau Minseok tak sigap dengan menangkap tubuh mungil itu dengan lengannya.

 

“Kau baik?” tanya Minseok memastikan. Kecanggungan terjadi beberapa saat setelah Minseok melepas lengannya dan membantu gadis itu untuk berdiri. Minseok masih memperhatikan, menunggu gadis itu memberi kepastian tentang keadaannya.

 

“Terimakasih,” ujarnya sedikit salah tingkah. Ada sesuatu yang salah pada kerja jantungnya saat mata mereka saling bersirobok tadi. Sesuatu yang keras namun menyenangkan. Memacu hormonnya untuk memberikan sensasi menggelitik di bagian perut.

 

“Pakai sepatu ini, memang tidak sebagus sepatu milikmu, tapi setidaknya kau tidak akan tergelincir lagi.”

 

Gadis itu berkedip kala Minseok menyodorkan sepatu usang miliknya. Dengan telaten Minseok melepaskan pengait pada simpul rumit dari sepatu tumit tinggi gadis itu dan mempersilakan si gadis untuk memakai sepatu usang miliknya. Selesai dengan itu Minseok berdiri dan berujar, “Hujannya pasti akan lama. Segera hubungi supirmu untuk menjemput.”

 

Dia tak memperhatikan dengan baik apa yang Minseok katakan. Atensinya kini fokus pada tungkai Minseok yang telanjang bercumbu dengan tanah. “Kakimu ….”

 

Tak sempat menyelesaikan rangkaian aksara yang hendak terucap, kaki telanjang yang sedari tadi menjadi fokusnya bergerak menjauh menerjang hujan.

 

“Tuan, namaku Song Jieun. Kau harus ingat itu saat kita bertemu lagi.”

Pada tiap rinai hujan yang jatuh membasahi bumi, Minseok menghitung seberapa banyak rindu yang membelenggu jiwanya. Pada tiap embusan angin yang membelai pori kulitnya, Minseok merasakan hempasan kuat yang melemparnya ke masa silam. Menyiksanya antara hidup dan ajal. Membuatnya sekarat tiap harinya.

***

Rindu itu perlahan membusuk dan tinggalkan racun tanpa penawar dalam dirinya. Tumbuh dengan sejuta rasa sakit yang menusuk setiap inci tubuhnya bak sel kanker. Rindu itu membawanya mendaki kematian, kemudian menghidupkannya kembali dalam sakitnya siksa bak di neraka.

Apa cinta memang sesakit ini? Apa mencintai memang harus merasakan sakit yang seperti ini? Tak tertahankan, tak mau diajak berdamai barang sebentar. Kala rindu itu semakin membuncah, candu yang tak pernah terpuaskan itu meraung nestapa.

Jieun selalu mencoba berdamai dengan dirinya, dengan hidupnya, dengan apapun. Namun kala memori kecil dalam otaknya kembali mengilas balik kenangan mereka, perlahan-lahan air mata itu menggenang di pelupuk, jatuh tanpa tahu malu.

Minseok bukan hanya sekedar adiksi, dia adalah napas. Keterdiamannya membuat ia mati kehabisan napas. Berlari mengejar membuat ia mati tersengal. Jieun selalu memaksa setiap sel dalam tubuhnya untuk menerima hal baru dan melupakan eksistensi pria itu yang pernah berada di hidupnya. Semua Jieun lakukan, hingga membuatnya nyaris jadi pendosa.

Orang bilang terkadang kau hanya harus hidup dan tak perlu repot mencari kebahagiaan karena bahagia itu akan datang dengan sendirinya. Lalu bagaimana jika bahagia itu menjauh darinya, atau … dijauhkan darinya? Bagaimana dia hanya ‘harus hidup’ sementara setiap hari rasanya seperti kematian kala pagi menjemput yang Jieun ingat di luar kepala adalah tarikan di kedua sudut bibir Minseok yang sehangat mentari?

Jieun lelah, memaksa seluruh makanan itu masuk lambungnya tapi ia justru dipaksa untuk mengeluarkannya kembali. Ini bukan pertama kali, sejak Minseok memilih berakhir, Jieun telah kehilangan lebih dari separuh kehidupannya.

Rindu yang bertumpuk dari hari ke hari itu merubahnya menjadi sosok penakut. Takut esok datang dan ia masih merindu. Takut untuk merasa sakit terlalu banyak, dan … takut untuk kehilangan. Meski nyatanya Minseok tak lagi ada dalam genggaman.

***

Sebut Minseok seorang pecundang. Pecundang yang berteriak lantang tentang kekalahannya. Minseok selalu menyesali setiap detik yang berlalu sejak kata menyerah itu terucap dari belah bibirnya. Perlahan tapi pasti penyesalan itu membesar, membentuk satu kubangan lumpur hisap yang siap menenggelamkannya ke dasar neraka.

Kekosongan masih ia rasakan kala menatap pada kedua telapak tangan dan menyadari tangan mungil nan hangat itu tak lagi ada dalam genggaman. Menekan perasaan rindunya dan membohongi dunia, berkata bahwa ia baik-baik saja. Ia bisa hidup dengan baik tanpa pernah nyaris sekarat. Berkata sering-sering pada dewa batinnya bahwa ini adalah pilihan terbaik. Namun, ia mendapati sakit itu menghimpit di sela-sela dinding jantungnya hingga membuat ia sesak.

Cinta, harta dan tahta. Memang benar bahwa itu adalah hal paling berbahaya di dunia. Membutakan siapa saja yang berhasil terjerumus ke dalamnya. Ini benar-benar klise, kisah cinta antara si miskin dan si kaya. Mereka bilang tak ada batasan untuk mencintai, lalu bagaimana dengan dirinya sekarang?

Menekan diri sekuat tenaga untuk tidak menjawab panggilan kala ponselnya berdering oleh satu nama yang sama. Mengalihkan pandang saat tanpa sengaja tatapan mereka saling bersirobok. Berpura-pura tidak peduli meski kenyataannya Minseok tahu bahwa ia tidak pernah bisa benar-benar tidak peduli pada Song Jieun barang hanya sedetik saja.

Pagar di antara mereka terlalu tinggi. Tidak seperti pagar beton yang ada di hadapannya kini. Itu kasat mata, biarpun Minseok menyewa alat berat untuk menghancurknnya, itu tidak akan mempan. Dering ponselnya membangunkan Minseok dari lamunan. Lagi-lagi nama yang sama. Lagi-lagi Minseok harus berperang dengan perasaannya. Menimang apakah harus menjawab atau kembali menolak. Berhenti jadi pecundang atau kembali membusuk dalam kubangan penyesalan.

Pip.

“Minseok. Halo, Minseok. Ya Tuhan.”

Suara di seberang sana masih sama, masih pula ia rindukan dengan begitu dalam.

“Minseok, ini kau, ‘kan? Aku tahu kau di sana. Kenapa hanya diam saja? Ayo katakan sesuatu, Minseok.”

“Ya, ini aku, Jieun.”

“Ah, Ya Tuhan. Melegakan sekali karena akhirnya kau menjawab panggilanku. Aku merindukanmu.”

“Aku lebih merindukanmu.”

“Tunggu! Apa semuanya baik? Kenapa tiba-tiba kau mengangkat panggilanku? Apa terjadi sesuatu?”

“Semua baik kecuali hatiku. Dia terus mengeluarkan darah karena merindukanmu.”

“Tentu saja semua baik, kecuali hatimu. Dia pasti kehilangan banyak darah karena merindukanku, bukan? Aku baik-baik saja, jadi kau jangan terlalu khawatir.”

“Tapi tubuhmu hanya tinggal tulang berbalut kulit. Bagaimana bisa kau baik-baik saja?”

“Aku sungguhan baik. Aku akan makan dengan baik setelah ini karena kau sudah menjawab panggilanku.”

“Ya, kau harus makan dengan baik. Hiduplah dengan lebih baik lagi.”

“Ah, Ibu mengenalkanku dengan beberapa anak temannya. Mereka bilang aku cantik, semua orang selalu mengatakan aku secantik bidadari tapi hanya kau yang tidak mau mengakui kecantikanku. Tapi aku suka, karena aku menyukai Kim Minseok.”

“Kau cantik, bidadari bahkan menangis karena iri dengan itu. Dan harus kau tahu aku lebih menyukaimu. Setiap detik, sebanyak yang aku bisa.”

“Kau mendengarku? Biarkan aku setidaknya mendengar napasmu jika kau mendengarku. Tidak apa, meski kau tidak mau bicara atau menjawab pertanyaanku. Karena yang aku hanya perlu tahu bahwa ini Minseokku.”

Bibirnya bergetar. Semua kalimat itu pada akhirnya kembali ia telan. Dilebur bersama dengan asam lambungnya. Tak ada satu pun frasa yang dapat ia ucapkan. Sama seperti sebelumnya, sebanyak apapun Jieun bertanya, Minseok tak akan pernah menjawab.

***

Pagi ini suhu langit terlalu dingin dan awan tak lagi dapat membendung titik-titik air. Titik air yang terkondensasi hasilkan rinai hujan basahi setiap sudut kota. Minseok menyandarkan tubuhnya pada tiang besar, menunggu kedatangan seseorang sambil menghirup aroma hujan.

Dia datang. Kaki dengan sepatu usang yang begitu ia kenal melangkah ke arahnya. Minseok tak mengerti kenapa Jieun masih saja memakai sepatu usang itu meski ukurannya tidak sesuai dengan ukuran kaki gadis itu. Pandangannya naik ke atas, sedikit meringis saat mendapati lagi tubuh Jieun yang sudah selayak tengkorak berjalan.

Akhirnya pandangan mereka bertemu. Jieun melempar senyum yang seperti biasa selalu membuat Minseok lemas dan candu. Namun sedetik kemudian senyuman itu luntur bersama hujan kala Jieun tak mendapatkan balasan dari prianya. Ah, apakah ia masih bisa menyebut Minseok seperti itu? Apa Minseok masih menginginkan dirinya? Saat pertanyaan-pertanyaan itu bergelayut manja dalam benak, secara otomatis pula ruang-ruang di jantungnya membesar dan membuatnya sesak oleh perasaan sakit yang teramat sangat namun kasat mata.

Jadi Jieun enyahkan pikiran itu jauh-jauh, biar saja ia merasa memiliki Minseok untuk dirinya sendiri kendati Minseok bahkan tak lagi menginginkannya. Biarkan ia hidup dengan sikap keras kepala dan egonya yang setinggi langit untuk memberikan klaim atas Minseok secara sepihak. Tidak apa, terkadang cinta memang begitu.

Jieun merasakan tangannya digapai oleh seseorang dan betapa ia hampir saja kehilangan detak jantungnya saat Minseok berkata, “Jika kali ini aku berlari lagi, apa kau akan mengejarku? Atau kau akan membiarkanku?”

Jieun tak mengerti dengan kalimat Minseok. Itu terlalu ambigu. Kenapa Minseok mengatakan kalimat dengan makna yang membuat ia seperti disiram harapan?

“Jawab aku, Jieun. Kau akan mengejar, atau melepasku?” tanya Minseok lagi. Mata mereka masih saling beradu, menggali makna.

“Kau sudah tahu jawabannya. Kenapa kau masih bertanya? Aku adalah wanita egois yang selalu merepotkan hidupmu. Aku akan selalu mengejarmu meski kau berlari menjauh. Aku akan selalu bertanya padamu meski kau tak mau menjawabku. Tidak peduli seberapa jauh jarak kita, meski tersengal,  aku akan terus berlari untukmu.

“Maaf … karena aku tidak bisa melepaskanmu meskipun aku tahu apa yang menghalangi kita. Aku menyesal saat aku harus melepas tanganmu. Harusnya aku menggenggamnya dengan erat. Tidak, harusnya aku memelukmu dengan erat. Kau harus tahu bahwa … bahwa aku menyesal telah melepasmu saat itu. Maaf, karena aku masih ingin memelukmu dengan sepenuh hati. Maaf … karena aku masih mencintaimu.”

Linangan air mata jatuh sederas rinai hujan dari pelupuk mata Jieun. Sesakit itu? Sepedih itu? Minseok tak tahu jika sikap pengecutnya telah menyakiti Jieun jauh lebih dalam dari palung di samudra. Menarik tangan yang ada di genggamannya, Minseok bawa Jieun ke dalam dekapannya yang erat.

“Jangan meminta maaf untuk itu. Karena aku yang seharusnya melakukan itu. Maaf sudah membuatmu terluka. Maaf karena bersikap seperti pengecut. Maaf karena aku tak bisa membuatmu tersenyum. Maaf. Sekarang biar aku yang melakukan semuanya. Aku akan menggenggammu, memelukmu dengan sepenuh hati, bertanya apa yang sedang kau lakukan, bagaimana kabarmu, apa yang kau rasakan. Aku akan melakukan semua yang sudah kau lakukan untukku. Jika kau menjauh, aku yang akan berlari mengejarmu. Karena aku mencintaimu. Lebih banyak dari kau mencintaiku.”

Mereka menumpahkan semuanya sederas hujan pagi ini. Peduli setan dengan semua mata yang tertuju pada mereka kini. Minseok hanya ingin memeluk Jieun dengan erat sekarang, esok, dan kelak. Minseok ingin mengeyahkan ketakutan yang membelenggunya erat. Minseok akan menjadi berani untuk Jieun. Tidak peduli apa yang akan ia hadapi di masa depan, Minseok akan selalu mempertahankan Jieun dalam genggaman.

FIN

gajelas, as always.

 

salam jandanya Mas Luhan

Miranda Kerr

5 tanggapan untuk “[Vignette] Afraid – Honeybutter26”

  1. Pemilihan kata nya keren bangeett!!
    Tapii… Buat aku, kurang nge-feel niih..
    Tapi gak papa udah keren kokk!!
    Hwaiting!!

  2. Mam… mameehhh…. AYEM HIYER…. Bisa bilangin sama Jieun? Aku bisa nyariin dia odoh. Nggak baik bergantung sama satu orang yang nggak pasti didapetin. Mendi Jieun ikut biro jodohku ntar ada aliando and the genk yang siyap membantu *ini apaan*

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s