Love Rain

Title                      : Love Rain

Author                  : KEN

Genre                             : Romance, Sad Ending

Length                  : Oneshoot

Rating                  : PG-13

Main cast              : Byun Baekhyun, Choi Yuna

Others Cast          : Cho Ahra, Han Jiyeon

 

Choi Yuna tergesa-gesa keluar dari kelasnya. Menuju taman belakang kampus yang sangat indah, jika dikunjungi pada saat cuaca sedang cerah. Tapi tidak untuk sekarang, disaat cuaca tidak bersahabat.

Sebenarnya Yuna enggan untuk mengujungi taman tersebut. Mengingat kelas yang baru saja ia ikuti berada dilantai tiga dan jarak yang harus ia tempuh untuk sampai kesana lumayan menguras tenaga serta cuaca yang tidak mendukung untuk ia mengujungi taman tersebut, membuat Yuna ingin rasanya mencekik pria yang tengah berdiri dengan tenangnya ditaman itu tanpa memperdulikan jika pada saat ini hujan sedang turun dengan sangat derasnya.

***

Yuna masih betah duduk dibangkunya tanpa melakukan apapun. Padahal kelasnya telah usai dari dua puluh menit yang lalu. Sedari tadi ia hanya memandang bosan pulpen yang ada ditangannya dan sesekali memutar-mutarkan benda tersebut. Ia coba mengalihkan pandangannya keluar jendela mencari sesuatu yang mungkin bisa menarik perhatiannya dan…. Bingo !!! sepertinya ia medapatkannya, sesuatu yang menarik perhatiannya. Terbukti dengan cara ia melihatnya. Ia membuka lebar matanya dan mendekatkan diri kearah jendela serta bergumam tidak jelas.

Yuna melihat sesosok pria yang sangat ia kenal tengah berdiri di tengah hujan tanpa perlindungan apapun. Dan tiba-tiba saja ia berlari keluar dari kelas, dan memastikan bahwa orang tersebut adalah kekasihnya.

***

“Apa yang kau lakukan ditengah hujan seperti tadi, hah ?”

Sekarang mereka sedang berada diapartemen Baekhyun yang letaknya tidak jauh dari kampus. Sesampainya ditaman tanpa basa-basi Yuna langsung menarik Byun Baekhyun kekasihnya menuju mobilnya diparkiran kampus. Selama perjalanan tidak ada salah satupun dari mereka ada yang berbicara. Baekhyun yang pada saat itu  duduk di bangku penumpang hanya bisa diam memandangi jalan. Baekhyun tahu bahwa gadisnya sedang dalam kondisi tidak baik untuk diajak bicara, bahkan pada saat Yuna menemukannya sedang melakukan kegiatan favoritnya dan menarik paksa dirinya untuk pergi ia hanya diam dan menurut, maka dari itu ia memutuskan diam hingga mereka sampai diapartemennya.

Baekhyun yang sedari tadi duduk, kemudian bangkit menghampiri gadis itu yang memilih bediri menghadap jendela. “Yuna-ya, tenanglah.”

“Bagaimana aku bisa tenang melihatmu seperti itu, Baekhyun-ah?” tanyanya lirih. Yang sebenarnya pertanyaan itu, ia tunjukkan untuk dirinya sendiri.

“Aku hanya sedang bermain-main, Jadi kau tidak perlu sekhawatir ini. Lagipula sudah lama aku tidak melakukannya.”

“Tentu saja aku khawatir!” Bentak Yuna “Kau sedang menyakiti dirimu. Bagaimana kalau tadi pingsan gara-gara kedinginan, hah? Dan apa kau bilang, bermain? Jadi kau menganggap hujan itu menarik, begitukah?” Yuna bertanya dengan nada sinis. Serta menepis kasar kedua lengan Baekhyun yang memegang bahunya.  Dan memutar tubuhnya menatap Baekhyun dengan gusar.

“Tapi kenyataannya sekarang aku baik-baik sajakan.” Baekhyun mencoba untuk memegangi kedua bahu gadis itu lagi. “Hemm… Dan aku rasa, tadi itu memang menarik.” Lanjutnya,  seolah tidak perduli dengan gadis itu yang sangat mengkhawatirkannya.

Dan Yuna lagi-lagi menghempaskan tangan Baekhyun. Ketika mendengar respon yang diberikan oleh pria itu. “Apa? Oke, sekarang beritahu aku dimana letak menariknya, hah? kau berdiri ditengah benda bening yang turun dari langit bernama hujan itu tanpa perlindungan apapun membuat seluruh tubuhmu basah karenannya dan lebih parahnya lagi, benda yang kau sebut menarik itu, bisa berpotensi membuatmu sakit bahkan mati kedinginan!” bentaknya dengan suara keras. Ia tidak tahan lagi, ia menumpahkan semua kekesalannya pada Baekhyun yang sudah ditahannya sejak lama.

Selama ini ia hanya diam berpura-pura tidak tahu dan tidak perduli dengan kegemaran Baekhyun yang satu ini. Ia hanya tidak mau jika Baekhyun mengingat masa lalunya.

Awalnya Yuna tidak mengacuhkan hobi kekasihnya itu, karena ia pikir suatu saat nanti ia bisa membuat kekasihnya itu meninggalkan hobinya yang aneh tersebut. Tapi sekarang ia berpikiran lain. Ia menyerah, ia tidak bisa membuat Byun Baekhyun, meninggalkan hobinya tersebut. Choi Yuna tahu mengapa Baekhyun bisa sangat begitu menyukai hujan. Bahkan Yuna sudah tahu sebelum ia dan Byun Baekhyun menjadi sepasang kekasih. Dan itu semua karena Cho Ahra. Gadis yang tidak akan pernah ia bisa gantikan posisinya baik dalam kehidupan maupun hati Byun Baekhyun. Choi Yuna mengambil tas tangannya yang ada di sofa dan berjalan menuju pintu utama apartemen pria itu. Setelah menumpahkan kemarahannya, Ia memutuskan untuk pergi. Ia rasa tidak ada gunanya lagi ia berlama-lama di apartemen pria itu. sebaiknya ia pulang kerumahnya, menenangkan dirinya yang sedang dilanda emosi.

Dan Baekhyun pun berpikir demikian. Baekhyun pikir mungkin Yuna butuh waktu untuk menenangkan diri. Baekhyun sudah sangat hafal dengan sifat gadis itu. Jika gadis itu kesal atau merajuk, gadis itu pasti akan mengomel. Setelah itu gadis itu akan menyendiri selama beberapa hari. Kemudian dengan sendirinya tanpa diminta Yuna akan menemuinya dan gadis itu akan kembali seperti semula, seolah-olah kemarin itu tidak terjadi apa-apa. Maka dari itu ia hanya mendengarkan dan menjawab seadanya bila diperlukan, ketika Yuna mengomelinya. Dan itu juga mengapa ia tidak mencegah Yuna pergi dari apartemennya. Bahkan ketika gadis itu tidak mengucapkan sepatah katapun, keluar dari apartemennya. Baekhyun hanya diam memandangi kepergian gadis itu. Kerena ia pikir, besok gadis itu pasti sudah membaik dan melupakan kejadian ini. Namun, walaupun demikian ia sedikit bingung. Dan bertanya-tanya. Ini kali pertama Yuna menemukannya, bermain-main dengan hujan. Tetapi kenapa gadis itu bisa sampai semarah tadi? Tidak mungkin hanya karena ia melakukan hobinya tersebut Yuna bisa semarah itu. Apakah ia melakukan kesalahan? Sepertinya tidak, ia bahkan belum bertemu gadis itu dari pagi tadi. Jadi tidak mungkin. Terus kenapa Choi Yuna bisa semarah itu? Ahh… Terserahlah ia tidak terlalu perduli, mungkin saja gadis itu memang sedang dalam kondisi yang tidak baik, makanya bisa semarah itu tadi. Ya, mungkin saja begitu. Pikir Baekhyun.

***

“Apa kau menyukai hujan?”

“Tidak, bagaimana denganmu?

“Aku menyukainya.”

“Kenapa kau bisa begitu menyukai hujan?”

“……”

“Tidak ada menarik-nariknya sama sekali”

“……”

“Aku tidak suka hujan, tapi aku menyukai gerimis dan aku juga menyukai suasana setelah hujan. Bau tanah yang menguar setelah hujan reda membuat aku merasa tenang. Apalagi jika setelahnya muncul pelangi, pasti akan sangat indah.”

“……”

“Hei! Kau, kenapa diam?”

“Apa?”

“Ya! Aku bertanya padamu!”

“Apa?”

“Kenapa kau begitu menyukai hujan? Dan bahkan kau merelakan tubuhmu basah kuyup, demi berdiri dibawahnya. Kenapa?”

“Oh, itu. Aku hanya menikmati ciptaan tuhan.”

“Maksudmu, aku tidak mengerti?”

“Nanti kau juga akan tahu.”

“Hei! Beritahu aku apa maksudmu?”

“Kau ingin tahu?”

“Iya, tentu saja”

“Maka cari tahulah.”

“Cih… Mencoba mengajakku bertaruh, oh? Baiklah, akan aku ikuti permainanmu. Tapi jika aku tahu jawabannya, bagaimana?”

“Apa yang kau minta?”

“Bagaimana kalau kau menjadi kekasihku.”

“Tapi kalau kau tidak menemukannya”

“Aku rela menjadi kekasihmu.”

“Cih… Sepertinya, keduanya hanya mengutungkanmu saja. Tapi baiklah,”

“Apanya? Kau menjadi kekasihku atau aku menjadi kekasihmu?”

“Bukankah, keduanya sama?”

“Tentu saja berbeda. Jika aku yang menjadi kekasihmu, itu berarti aku yang menerima pernyataan cinta darimu. Tapi jika kau yang menjadi kekasihku, aku yang menyatakan cinta kepadamu. Jadi kau memilih yang mana?”

“Sepertinya aku menyukai opsi yang kedua. Jadi kau mau melakukannya sekarang?”

“Oke. Tapi, apakah aku masih harus mencari tahu jawabannya pertanyaanku tadi?”

“Tentu saja kau masih harus mencari tahu jawabannya.”

“Seperti yang kau katakan tadi, bukankah jika aku tahu tau tidak, kau akan tetap menjadi kekasiku. Jadi buat apa aku mencari tahunya lagi?”

“Jadi seperti itu? Aku kira kau benar-benar ingin mengetahuinya, ternyata ini hanya sebuah alasan.”

“Baiklah, Aku akan tetap mencari tahu jawabannya nona Cho. Kau puas?”

“Good.”

“ Ahra-ya, aku memang ingin tahu apa yang membuatmu begitu tertarik dengan hujan. Ingin tahu apa yang kau suka atau tidak. Ingin tahun dirimu lebih dari orang lain. Ingin memahamimu lebih dari aku memahami diriku sendiri. Tapi, bahkan lebih dari sebuah keinginan aku menjadikanmu kekasihku. So, would you be my girlfriend?”

“Heemmm… Sepertinya tidak ada buruknya menjadi kekasihmu. Baiklah, aku mau.”

***

Setelah Choi Yuna pulang, Baekhyun memutuskan untuk masuk kekamarnya. Dan ia sekarang tengah duduk di ranjangnya sambil tersenyum geli, memandangi figura yang memajang fotonya bersama seorang gadis yang dulu, mungkin hingga sekarang masih ada dihatinya. Mengingat bagaimana ketika ia meminta gadis itu untuk menjadi kekasihnya. Byun Baekhyun benar-benar merindukan gadis tersebut. Ia sangat berharap bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Selama ini hanya gadis itu yang ada dipikirannya. Bahkan seorang Choi Yuna pun masih belum bisa menggantikan posisi gadis itu. Walaupun kini Choi Yuna sudah menyandang status sebagai kekasihnya. Tapi gadis itu masih menempati posisi yang terpenting dihatinya.

Baekhyun berbaring diranjangnya. Ia memejamkan matanya sambil memeluk figura tersebut. “aku merindukanmu.” gumamnya sebelum ia benar-benar terlelap.

***

Byun Baekhyun tampak gelisah, Lagi-lagi ia terlihat tidak fokus mengikuti kelasnya. Bahkan ia tidak memeperhatikan dosennya yang sedang menerangkan materi didepan. Itu semua disebakan oleh Choi Yuna. Bagaiamana tidak gadis itu, hampir dua bulan tidak pernah menemui dan menghubunginya. Baekhyun tidak menyangka pertengakarannya waktu itu, bisa berdampak seburuk ini.

Awalnya Baekhyun tidak menghiraukannya. Ia pikir Yuna mungkin perlu waktu yang sedikit lebih lama dari biasanya untuk menenangkan dirinya. Maka dari itu ia tidak menghubungi ataupun menemui gadis itu. Tapi setelah sebulan lewat pertengkaran itu terjadi Choi Yuna masih saja belum menghubungi ataupun menemuinya. Baekhyun sudah mencoba menghubungi  gadis itu tetapi tidak bisa. Sepertinya gadis tidak mengaktifkan ponselnya atau ia memang sengaja mengganti nomor ponselnya. Karena aneh sekali, setiap Baekhyun menghubungi nomor gadis itu, selalu dijawab oleh operator yang mengatakan bahwa nomor yang ia tuju sedang tidak aktif. Setiap hari Baekhyun mencari gadis itu ke kelas-kelas yang Yuna ikuti. ia juga bertanya pada setiap orang-orang yang ia temui di fakultas desain. Tetap saja tidak menemukan gadis itu. Ada yang mengatakan terakhir kali melihat Yuna sebulan yang lalu. Setelah itu Yuna tidak masuk dan semenjak itu mereka tidak pernah melihat Yuna lagi dikampus. Bahkan Baekhyun juga mendatangi apartemen Yuna. Tapi hasilnya nihil. Ia masih saja tidak menemukan gadis itu. Baekhyun pernah sempat bertanya kepada salah satu teman terdekat Yuna, Han Jiyeon. Gadis itu hanya mengatakan bahwa Yuna sedang berlibur dan sedang tidak ingin diganggu. Ia bahkan tidak mau memberi tahu tahu Yuna berlibur kemana.

Byun Baekhyun sangat khawatir memikirkan keadaan Yuna, ia takut terjadi sesuatu terhadap gadis itu. Banyak pikiran buruk yang melintas dalam benaknya. Bagaimana kalau gadis itu diculik? Baekhyun buru-buru menggeleng mengenyahkan gagasannya itu. Jangan berpikiran yang aneh-aneh siapa tahu saja ia memang berlibur untuk menenangkan diri. Iya mengangguk-anggukkan kepalanya. Membenarkan gagasannya yang satu ini.

Tetapi, tetap saja Baekhyun takut jika terjadi sesuatu terhadap gadis itu. Setelah hampir setahun menjadi sepasang kekasih, baru kali inilah Baekhyun terlihat begitu khawatir dengan kondisi Yuna. Padahal jika dilihat selama ini Choi Yuna lah yang mendominasi hubungan mereka. Ia selalu saja memberikan perhatiannya terhadap Baekhyun. Tidak jarang Baekhyun membentaknya karena perhatiannya yang dianggap Baekhyun terlalu berlebihan.

***

Byun Baekhyun menyadarkan punggungnya ke sandaran sofa sambil memijit-mijit kepalanya. “Kau dimana?” gumamnya.

Baekhyun merogoh saku celananya, mengambil ponselnya. Ia mengusap layar benda persegi panjang tersebut. Dan memandangi wallpapernya yang menampilkan foto Choi Yuna yang tengah tersenyum manis memamerkan deretan gigi putihnya. Entah sejak kapan ia mengganti wallpapernya dengan foto gadis itu. Padahal dulu ia akan marah jika gadis itu dengan seenaknya mengganti wallpaper ponselnya dengan foto mereka berdua. Tapi justru sekarang ia menjadikan foto gadis itu sebagai wallpapernya. Mungkinkah ia sekarang sudah mulai menganggap dan melihat Choi Yuna?

Entahlah Baekhyun sendiri tidak mengerti dengan dirinya. Ia hanya merasa ada sesuatu yang hilang. Semenjak gadis itu tidak ada. Ia hanya merasa mulai terbiasa dengan adanya gadis itu di hidupnya. terbiasa dengan keberadaan gadis itu disekitarnya. Terbiasa dengan perhatian yang gadis itu berikan. Terbiasa dengan sifat manja gadis itu. Dan terbiasa dengan omelan gadis itu.

Omong-omong soal omelan, Baekhyun jadi merindukan omelan gadis itu. Ia tersenyum mengingat bagaimana ketika Choi Yuna mengomelinya jika ia tidak menghabiskan makanannya. Melihat apartemennya beratakan dan kotor. Yuna juga akan mengomelinya jika ia tidak mengangkat telpon dari gadis itu. Dan bisa dipastikan gadis itu akan mengomelinya habis-habisan, jika melihat keadaannya sekarang. Bagaimana tidak, Yuna sangat suka dengan kebersihan dan kerapian. Dan jika dilihat apartemennya sekarang. Sangat jauh dari yang namanya bersih dan rapi. Piring dan baju kotor bertumpuk. Kertas-kertas yang bertebaran dimana-mana. Dan lantai yang tidak pernah dipel. Serta debu menempel dimana-mana.

Ketika Baekhyun hendak mengantongi ponselnya kembali. Tiba-tiba saja benda tersebut bergetar. Ia merasa terkejut dan senang secara bersamaan, melihat tulisan yang muncul dilayar. Choi Yuna menghubunginya.

Dengan gemetar ia menempelkan ponselnya ditelinga dan menjawab telpon itu. “Halo, Yuna-ya.”

“…….”

“Halo…” lagi-lagi Yuna hanya diam.

“………”

”Yuna-ya, aku mohon biacaralah.” Mohon Baekhyun.

“Baekhyun-ah…”

“Yuna-ya kau dimana, hah? Apa kau baik-baik saja?” Setelah mendengar suara Yuna, Baekhyun buru-buru menanyakan kabar dan keberadaan gadis itu. Sekarang ia benar-benar ingin tahu kondisi gadis itu. Apakah gadis itu sehat? Apakah dia makan dengan terartur? Apakah dia hidup dengan baik? Begitu banyak pertanyaan yang ia tanyakan kepada Yuna. Tapi belum sempat ia mengutarakannya semua pertanyaannya, Yuna langsung mengatakan….

“Aku baik-baik saja, kau tidak perlu khawatir. Aku hanya berlibur dan baru saja pulang. Sekarang aku sudah tiba dirumah.” Jelas Yuna.

“Benarkah? Syukurlah kalau begitu.” Balas Baekhyun. “Tapi, kau berlibur kemana? Kenapa kau tidak memberitahuku? Kau bahkan tidak menjawab telpon dariku.” Tanya Baekhyun lagi.

“Hihihihii….” Yuna terkikik geli, mendengar Baekhyun yang bertanya dengan nada merajuk. Seperti anak kecil yang meminta dibelikan permen oleh ibunya.

“Ya! Kenapa kau tertawa?”

Yuna berhenti terkikik dan menjawab “Tidak. Baiklah, aku akan menceritakannya, tapi besok. Dan ada sesuatu juga yang ingin kukatakan padamu. Apa kau bisa?”

“Kenapa harus besok? Apa tidak bisa sekarang saja?”

“Tidak. Ini sudah malam. aku baru saja sampai, aku sangat lelah. Aku ingin istirahat. Jadi apa kau bisa?”

“Ah… ya, jam berapa? Kalau pagi aku tidak bisa. Aku ada kelas. Tapi kalau jam satu sampai seterusnya aku free.”

“Kalau begitu besok jam tiga. Di Coffee Shop dekat kampus, bagaimana?”

“Oke. Tidak masalah.”

“Baiklah, kalau begitu. Aku tutup telponnya. Aku sangat lelah, butuh istirahat.”

“Istirahatlah, dan… Yuna-ya… Selamat malam. semoga kau mimpi indah.”

“Selamat malam juga Baekhyun.”

Baekhyun menutup telponnya, ketika ia mendengar sambungan telponnya sudah diputus oleh Yuna. Ia tidak menyangka akhirnya besok bisa bertemu dengan gadis itu lagi. Setelah hampir dua bulan gadis itu tidak menampakkan dirinya didepan Baekhyun.

***

“Hai, kau apa kabar?” Sapa Baekhyun. Ia sangat senang, bisa bertemu lagi dengan Choi Yuna. Setelah hampir dua bulan mereka tidak bertemu. Sekarang mereka sedang berada di coffee shop. Tempat mereka berjanji akan bertemu.

Coffee Shop ini adalah tempat favorit Choi Yuna. Walaupun Yuna tidak menyukai kopi. Tetapi setelah pulang kuliah, ia akan selalu mengunjungi tempat ini. Sekedar duduk dan menikmati segelas jus yang dijual oleh Coffee Shop ini. Sebenarnya tidak ada bedanya Coffee Shop ini dengan Coffee Shop yang lain. Hanya saja Yuna menyukai konsep dari Coffee Shop ini. Sangat simple menurutnya. Dan juga karena letak Coffee Shop ini, yang berada tepat dipinggir jalan dekat dengan rambu penyeberangan, sehingga jika rambu penyeberangan berwarna hijau, ia bisa melihat betapa ramainya orang yang beralalu lalang di jalan itu untuk menyeberang.

“Aku baik-baik saja.” Sahut Yuna. Ia meletakan gelas jusnya kembali, setelah menyeruput sedikit isinya. “Kau sendiri apa kabar?” Tanyanya sedikit canggung.

“Baik, aku baik-baik saja.” Sahut Baekhyun.

“Syukurlah.” Gumam Yuna.

“Tapi, buruk, bahkan sangat buruk ketika kau pergi.” Aku Baekhyun.

“Benarkah? Hihihihihii….” Yuna Terkikik geli. Dan menutup mulutnya dengan tangan kanannya. mendengar pengakuan Baekhyun.

Baekhyun mengerutkan keningnya. Ia heran mendengar Yuna terkikik “Kenapa kau tertawa?”

“Hihihi… tidak, hanya saja kau lucu sekali.”

Baekhyun masih tidak mengerti. “Apanya yang lucu?”

“Ya, Lucu saja. Bagaimana bisa, keadaanmu buruk ketika aku pergi? Apa aku sebegitu berpengaruhnya dalam hidupmu? Sampai-sampai aku pergi kondisimu berubah menjadi buruk.” Jelas Yuna.

“Tentu saja! Kau tahu, aku bahkan tidak makan dengan baik sejak kau pergi. Terkadang dosen memarahiku, karena aku melupakan tugas kuliahku. Bahkan apartemenku tidak aku perdulikan, aku biarkan begitu saja, tidakku bersihkan sama sekali. Dan kau tahu, aku juga sempat hampir jatuh sakit. Sebenarnya kau kemana? Kenapa aku tidak bisa menghubungimu? Kenapa kau juga tidak menghubungiku? Kau tahu, aku sangat khawatir.” Kata Baekhyun lagi dengan menggebu-gebu. Seolah-olah ia ingin Yuna tahu betapa hidupnya tersiksa 2 bulan yang lalu. Ketika gadis itu menghilang, tanpa kabar.

Walau sebenarnya Yuna cukup terkejut dengan pengakuan dari Baekhyun. Tapi Yuna menanggapi santai pengakuan Baekhyun tersebut. “ Bukankah sudah kukatakan semalam, jika aku kemarin berlibur dan baru tiba tadi malam.” Yuna diam sejenak. “Dan, aku tidak menyangka keadaanmu akan seburuk itu, ketika aku tidak ada. Aku pikir, malah kau hidup dengan baik ketika aku tidak berada didekatmu.” Katanya skeptis.

Baekhyun  mengerjapkan matanya beberapa kali. Ia tidak menyangka Yuna akan menanggapi pengakuannya sesantai itu. “Apa maksudmu?” Tanya Baekhyun heran.

Yuna menyadarkan punggungnya ke kursi yang sedang ia duduki. Serta menjawab. “Bukankah kau yang mengatakannya sendiri. Jika aku ini terlalu cerewet dan  selalu saja merecokimu hidupmu. Bahkan aku lebih cerewet daripada ibumu. Kau juga bilang kalau aku ini terlalu mengatur hidupmu serta mencampuri urusanmu. Dan…. kau tidak menyukai itu.” Jelas Yuna.

Baekhyun tersentak kaget, mendengar penjelasan Yuna. Ia mencoba menyanggahnya “Itu dulu, maksudku, sebenarnya aku tidak bermaksud seperti itu. Aku hanya….”

“Hei!” Yuna beseru. “Sudahlah kau tidak perlu menjelaskannya, aku mengerti. Sebernarnya aku mengajakmu bertemu disini, karena ada yang sesuatu yang ingin aku katakana kepadamu” Yuna mencoba mengalihkan pembicaraan ke topik yang sebenarnya menjadi tujuannya mengajak Baekhyun bertemu disini.

“Apa? Apa itu sesuatu hal yang penting?”

“Penting, sangat penting. Ini tentang hubungan kita. Aku rasa sebaiknya kita…….”

Yuna mencoba mengutarakan maksudnya mengajak Baekhyun bertemu disini. Tapi belum sempat ia menyelesaikannya.  Tiba-tiba saja Baekhyun menyela.“Tunggu…. Apa maksudmu dengan sebaiknya kita? Memangnya ada apa dengan hubungan kita? Aku rasa kita selama ini baik-baik saja. Tidak ada masalah.”

“Baekhyun-ah, bisakah kau tenang. Tolong dengarkan aku dulu, jangan menyela, ketika aku berbicara. Aku bahkan belum selesai berbicara. Bisakah kau biarkan aku menyelesaikan kata-kataku dulu?”

“Oke, bicaralah. Aku tidak akan menyelamu.”

“Baekhyun, sebaiknya kita sampai disini saja. Aku rasa….”

“Tidak! Aku tidak bisa.”

“Baekhyun-ah!” Yuna sedikit menaikkan nada bicaranya. Ketika Baekhyun menyelanya lagi. “Kau sudah berjanji kalau kau tidak akan menyela, sampai aku selesai berbicara.” Lajutnya.

“Maaf, kali ini aku tidak bisa diam. Bagaimana bisa kau melakukan ini. Setelah hampir dua bulan kau menghilang. Tiba-tiba saja kau muncul dihadapanku dan meminta putus!” Baekhyun menyerukan  keterkejutannya atas perkataan Yuna dengan nada kesal.

“Maafkan aku Baekhyun-ah.” Yuna meraih tangan Baekhyun dan menggenggamnya.

Baekhyun membalas genggaman tangan Yuna “Yuna-ya, aku tidak bisa. Aku mohon, tolong jangan pergi lagi. Kau tahu betapa tersiksanya aku kemarin, ketika kau tidak ada? Aku mohon kali ini jangan tinggalkan aku lagi.”

“Maaf  Baekhyun, aku tidak bisa. Aku menyerah. Aku tidak bisa berada disismu lagi. Dulu aku pikir, aku bisa membuatmu melupakannya tapi aku salah. Selamanya hanya Cho Ahra yang ada dihatimu. Dan sekeras apapun aku berusaha aku tetap saja tidak bisa menggantikan posisinya.”

“Cho Ahra?” Baekhyun terkejut ketika Yuna mengucapkan nama itu. Bagaimana gadis ini bisa tahu tentang ChoAhra?

Yuna melepas genggaman tangan Baekhyun. Dan mengalihkan pandangannya ke gelas kaca yang ada didepannya. “Ya, Cho Ahra. aku sudah tahu tentangnya. Aku tahu tentang  hubunganmu dengannya. Dan aku juga tahu kecintaamu terhadap hujan itu disebabkan olehnya. Bahkan aku sudah mengetahuinya jauh sebelum kita bersama.”

Baekhyun semakin terkejut, mendengar pengakuan Yuna. “Kau! Tapi bagaimana bisa, Yuna-ya? Bahkan aku yakin sekali tidak pernah memberitahumu tentang ini. Dan aku juga tidak pernah menyebut namanya didepanmu.”

“Kau memang tidak pernah memberitahuku tentang ini. Tapi apakah kau ingat, pertama kali kita bertemu? Kau menjatuhkan sebuah buku. Dari buku itulah aku tahu semuannya, Baekhyun-ah. Dari buku itu juga kita saling mengenal, bahkan sekarang  menjadi sepasang kekasih. Dan dari buku itu aku bisa mengetahuimu. Kau yang awalnya tidak menyukai hujan. Menjadi sangat mencintai benda bening itu, dikarenakan Cho Ahra sangat menyukainya.”

Baekhyun mengingat pertemua pertamanya dengan Yuna. “Tapi, bukannya kau bilang, kau hanya melihat fotoku yang terselip dibuku itu. Dan tidak melihat isi dalam buku itu? Maka dari itu kau mengira, buku itu milikku. Jadi kau…..”

“Maaf Baekhyun-ah, aku telah berbohong padamu. Aku tidak hanya melihatnya tapi aku juga membacanya. Maafkan aku. Aku tahu kau pasti marah, jika mengetahui yang sebenarnya. Dan sekali lagi aku minta maaf atas kelancanganku waktu itu. Dan sekarang kau berpikiran aku adalah gadis yang bodoh. Memang, aku mengakui itu.

“Yuna-ya.”

“Aku adalah gadis yang bodoh. Karena aku mencoba merebutmu darinya. Padahal aku tahu itu semua mustahil. Tapi aku masih saja melakukannya. Maka dari itu aku menyerah. Aku tidak mau kau selalu merasa terbebani dengan adanya aku dihidupmu. Sudah cukup setahun ini, aku selalu membebanimu. Memaksamu berubah, menjadi seseorang yang bukan dirimu. ” sesal Yuna.

“Ya, Yuna-ya!” seru Baekhyun. “Aku memang marah padamu. Dan kau benar, aku memang berpikir kau adalah gadis yang bodoh. Tapi kau salah, jika aku merasa terbebani dengan adanya dirimu. Tidak pernah sedetikpun, aku merasakannya. Justru aku bersyukur kau datang dihidupku. Memang dulu aku berpikir bagaimana caranya agar kau tidak tersakiti, jika mengetahui yang sebenarnya. Dan jika suatu saat kita berpisah, kita masih bisa menjadi teman. Tapi, sekarang aku berpikiran lain. Sekarang aku ingin kau tetap bersamaku, menjadi kekasihku.”

“Jangan coba menghiburku, Byun Baekhyun. Karena itu tidak akan berhasil. Aku sudah mengetahui semuanya dan…….”

”Aku tidak mencoba menghiburmu ataupun membohongimu. Aku mengatakan yang sebenarnya.” Jelas Baekhyun dengan menggebu. “Aku….. Aku sudah mulai menatapmu, Choi Yuna. Maka dari itu, tolong jangan pergi, tetaplah disisiku.” Lanjut Baekhyun.

“Maaf Baekhyun-ah, Aku tidak bisa.” Yuna berdiri, sambil menahan air matanya yang akan tumpah.

Baekhyun pun bangkit dari duduknya. Dan dengan secepat kilat ia menarik Yuna kedalam pelukannya. “Jangan pergi. Aku mohon, jangan pergi Yuna-ya.”

Choi Yuna terkejut. Ketika Baekhyun tiba-tiba memeluknya dengan sangat erat. Hangat, itulah yang ia rasakan sekarang. Sebenarnya ia ingin membalas pelukan pria itu. Namun ia takut, jika ia membalasnya, ia tidak akan mampu melepaskan pria itu. Seperti janjinya dulu, ketika ia sedang menenangkan dirinya. Akhirnya ia hanya diam tidak membalas pelukan Baekhyun. Tetapi ia menangis. Ia tidak mampu lagi menahan air matanya agar tidak tumpah. Ia menangis dalam diam.

Baekhyun tidak mendengar jawaban apa-apa dari mulut Yuna. Gadis itu hanya diam dalam pelukannya. “Saranghae.” Bisik Baekhyun.

Tubuh Yuna menegang ketika Baekhyun membisikkan kata itu ke telinganya. Namun itu tidak lama, karena setelah tubuh Yuna kembali normal.

Yuna meloloskan dirinya dari dekapan Baekhyun. Ketika ia merasa pelukan pria itu menegendur dari tubuhnya. Dan memegang kedua lengan pria itu. “Itu pertama kalinya aku mendengar kau mengucapkannya. Aku sangat senang mendegarnya. Aku tidak perduli, jika itu hanya sebuah kebohongan yang kau buat agar aku tetap disampingmu. Tapi terimakasih karena kau  telah mengucapkannya. Karena kau sudah sangat sering mendegar aku mengucapkannya dulu. Maka anggaplah ini terakhir kalinya aku mengucapkannya.” Choi Yuna diam sejenak, ia menarik napas dan mengatakan, “Aku juga mencintaimu, Byun Baekhyun.”

Yuna melangkahkan kakinya menjauh dari pria itu. Tetapi Baekhyun mencegahnya. Ia memegang tangan gadis itu. “Jangan pergi.”

Choi Yuna memutarkan tubuhnya dan melepaskan tangannya dari genggaman Baekhyun sambil menggelengkan kepalanya. Setelah itu, Yuna kembali melangkahkan kakinya menuju pintu keluar. Dan Baekhyun membatu ditempatnya. Baru beberapa langkah ia berjalan, ia menghetikan langkah kakinya sejenak, seraya berkata “Selamat tinggal Byun Baekhyun.”

 

END….

 

10 tanggapan untuk “Love Rain”

  1. nyeseeekkkkk…
    bnran thor nyesek bgt jd yuna..
    baekhyun br merasa kehilangan setelah dua bulan, setahun kmn aja…
    😥 😥
    daebak bgt ffnya, feelnya dapet bgt..
    sequel adakah..?

  2. Nyesek thor sumpah.. Kenapa si Cabe baru sadar kalau Choi Yuna Itu sangat Berarti *geram ala sinetron :v
    Need Sequel Please!

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s