[EXOFFI FREELANCE] Forecast the Series (Chapter 3)

Tittle                : Forecast the Series

Author             : Moully Jung

Length             : Chaptered- Ficlet

Genre              : fantasy, Persahabatan,

Rating             : T

Main Cast        : All Exo member, ot12

Summary         : sebuah ramalan tentang kehancuran bumi membuat Suho harus terlibat dalam sebuah misi besar untuk menyelamatkan bumi atau nyawanya yang akan jadi penggantinya.

Disclaimer       : cerita ini sudah pernah dipublikasikan di

https://www.wattpad.com/user/Moulidia

Forecast the Series

Chapter 3: Game’s

Lampu jalan masih berwarna merah. Begitu pula dengan warna hamparan diatas sana. Semilir angin berhembus, menenpuk lembut tengkuk putih pria berambut biru. Ia menatap lekat langit, mata sipitnya terpejam untuk sesaat. Mengucap selamat tinggal pada mentari.

Pria bernama Byun Baekhyun itu masih hikmat dan menikmati semilir angin pembawa musim, sambil menanti merah menjadi hijau. Senyumnya perlahan menghilang sesaat sipit hitam maniknya terbuka dan tertangkap kilau manik biru milik pria yang ternyata sudah menatapnya sejak tadi.

Ya, di seberang sana, sekitar 25 meter dari posisinya. Seorang pria berambut pirang yang tengah duduk di bangku taman depan caffe shop menatapnya. Sorot matanya memancarkan kilau berbeda. Seolah ia adalah pria belasan tahun yang menanti kekasihnya.

“Apa yang di lihatnya?” Baekhyun celingukan, melihat ke kanan kiri. Mencari seseorang yang mungkin saja pria itu tatap.

“Mungkinkah dia menatapku? Eyyy… ssshhh…” Baekhyun sedikit memiringkan kepalanya ke kanan, lalu pria disana tersenyum. Sedang pria itu tersenyum geli.

“Cantik…”

Glupp… Baekhyun menelan ludah, saat membaca gerak bibir pria tadi.

“What… huaahhh… Sepertinya dia gila… Ah, aku tidak peduli lagi, lagi pula aku tidak tertarik pada hubungan seperti itu.” Baekhyun menarik nafas. Menyiapkan langkah.

Mereka semakin dekat, sayang firasat Baekhyun tak enak akan pria itu. Bukan. Bukan karena tatapan atau kata yang di ucapkannya, bukan pula karena ia seraya berdiri seolah menanti Baekhyun sampai kepelukannya. Hanya saja, aura dan atmostfer di taman terasa berbeda. Ia merasa diawasi.

Tanpa aba-aba. Tangan kanannya mengeluarkan sebercah cahaya. Siap menyerang pria itu atau siapapun yang dirasa berbahaya. Entahlah, firasatnya kuat akan hal seperti ini, pria di hadapannya pasti bukan manusia biasa. Namun, belum sempat menyerang, pemuda berambut coklat meraih tangan pria tadi.

“Hyung.” Kata pemuda itu, lalu pergi.

***

“Sshhh… Sebenarnya siapa mereka? Jika mereka hanya manusia biasa lalu kenapa aku harus mengeluarkan kekuatanku? Eyyssshhhh….” Katanya kesal sambil menendang angin. Menepuk tangan kanannya.

“Bagaimana dengan pose keren ku ini? Oyss… Sia-sia aku berpose keren.” Tambahnya mengingat tadi ia berpose seperti detektif yang menunggu penjahat. Tangan kirinya dimasikkan ke kantung celana sedang yang kanan memegang pistol kecil. Hanya pistol tersebut digantinya menajdi kilatan cahaya abstrak tanpa bentuk yang siap membutakan siapapun.

Sshshhshh…. whishper… whishper…

Baekhyun menggaruk kepala yang tak gatal menyadari orang-orang di sekitar berbisik, membicarakan tingkah konyolnya.

“Ahemm..” Ia berdehem, membenarkan kerah kemejanya lalu melanjutkan perjalanan.

***

 

“Xiumin-ah… Bagaimana?” Katanya sambil menepuk punggung Xiumin.

“oh… Suho. Haha, aku rasa dia orang yang menarik. Lihat saja tingkahnya.” Ia menunjuk ke arah Baekhyun yang saat ini berjalan cepat sambil menyembunyikan wajahnya menggunakan tangan.

“Ada apa dengannya? Apa yang kalian lakukan?” Tanya Suho.

“Entah.. haha…” Xiumin mengangkat bahu.

“Kita akan tahu setelah mendengar cerita Kris dan Sehun nanti. Ayo kita pulang, aku tidak sabar mendengar cerita mereka!! Karena meski hanya sesaat aku merasa Kris akan mengkhianatimu. Hahahaha….” Xiumin bangkit dari tempat duduknya, berjalan sambil tertawa mengingat Kris yang tadi terpana melihat calon penghuni rumah mereka.

“Mengkhianati? Apa maksudnya? Sshh..” Suho melihat ke arah jendela sebelum mengikuti Xiumin, berpikir kejadian apa yang bisa membuat Xiumin berkata demikian.

***

Disisi lain, Baekhyun yang baru saja sampai apartemen langsung menghela nafas berat. Seperti biasa, semua barang bawaan akan langsung ia lempar kemana saja, sedang tubuhnya ia lempar ke sofa coklat tak jauh dari balkon.

“Haaa… Sungguh hari yang melelahkan.” Katanya. Sesaat ia menutup wajahnya dengan bantal, lalu  memeluknya.

Pikiran Baekhyun sedang tidak karuan. Perusahaan tempatnya bekerja selama hampir 2 tahun terakhir bisa saja bangkrut, sponsor dan klien yang mulai berkurang. Bila ia sebagai pembuat game tidak dapat memenuhi target serta keinginan para klien maka entah esok atau lusa bisa saja ia di keluarkan.

Lampu ruang tengah tempatnya bermanja ria dengan bantal belum menyala. Tak dinyalakan lebih tepatnya. Ia menikati pancaran cahaya lain di luar sana. Bulan tampak amat cerah, purnama merah menyala yang disukainya.

Baekhyun berjalan ke depan balkon, membuka pintu kaca dan di sambut hembusan angin. Ia berjalan menuju ujung, menggenggam erat pembatas besi yang bertautan membentuk pola-pola abstrak. Warna-warni jalan dan lampu kota menghiasi, pemandangan indah yang membuatnya memilih apartemen lantai 10 ini menjadi tempat tinggal.

Ia menatap langit. Mencari satu diantara milyaran bintang. Menunjuk cahaya kecil yang mungkin adalah planet asalnya. Atau yang biasa di sebut manusia sebagai kampung halaman. Benar Byun Baekhyun si pembuat game bukanlah manusia. Ia merupakan seorang penyusup yang berencana memusnahkan penghuni asli planet dengan milyaran kehidupan itu. Hingga game membuatnya berpaling dan memutuskan berkhianat.

Baginya game adalah dunia impian. Ia dapat menciptakan karakter apapun dan cerita yang bagaimana pun. Game merupakan pengalihan tugas utamanya datang ke bumi. Mengawasi dan mencoba mencari celah kelemahan manusia bumi, ia terjebak sebagai pecinta game. Lalu di buatnya sendiri karakter-karakter unik, berjalan cerita tak terduga yang di tunggu para pengembang.

Awalnya hanya sebagai sarana mengenal makhluk bumi, lama bersama membuatnya berakhir tak mengirimkan kabar pada atasan dengan harap bumi dan isinya akan tetap ada. Persetan dengan  tugasnya menginvasi atau memusnahkan manusia. Peduli apa atasannya di luar planet sana, hilangnya ia tentu tak berarti apapun pada alien lain. Planet mereka masih dapat memenuhi apa yang mereka butuhkan.

Itulah awal mula game ke tiga yang dirilisnya setahun lalu. Game yang menceritakan alien yang bekerja sama dengan manusia, saling mengisi kekurangan masing-masing. Meskipun membutuhkan perang yang cukup lama untuk mendapat ending tersebut.

Baekhyun hanya tak ingin dunia kecil tempatnya bermain di renggut….

“Baiklah hentikan pemikiran lama ini. Sadar Baekhyun. Yoshhh….” Baekhyun menampar kedua pipinya, berharap dapat sadar dan bersemangat kembali.

“Lupakan yang terjadi hari ini lalu mulai lagi esok.” Lanjutnya lalu menuju kamar mandi.

Piyama merah dengan corak bulan, bintang, matahari juga planet-planet membalut tubuhnya. Ia berjalan menuju ruang tamu yang kini sudah terang. Sejenak berpikir lagi tentang pria yang menatapnya tadi.

Bila dipikirkan lagi saat bertemu, tanda berbentuk cahaya di punggung kanan Baekhyun terasa panas.

“Lalu darimana pemuda yang menarik tangan pria itu datang? Jika saja ia tidak datang mungkin aku sudah membuat pria itu pingsan. Mungkinkah mereka adalah apa yang disebut Tao sebagai makhluk lain selain manusia yang menghuni bumi? Makhluk asing atau spesies lain, sepertiku…” pikir Baekhyun. Lama memikirkan kemungkian-kemungkinan lain, tanpa sadar ia terlelap di sofa.

***

Di waktu yang bersamaan, di tempat lain. Sehun yang berekor dan bertelinga serigala jongkok di atas bangku taman depan rumah, memandang bulan sambil mengaum.

“Hyaaa….. Apa yang kau lakukan bocah?” Kriss melempar sendalnya tepat ke arah Sehun yang telak mengenai belakang kepalanya. Kuping Sehun naik turun, menoleh ke belakang, lalu membersihkan kepala menggunakan tangan kirinya, sekali lagi menoleh kebelakang melihat Kriss. Namun mengabaikannya dan kembali mengaum ke arah bulan. Saat ini Sehun dalam mode setengah sadar, nalurinya sebagai serigala muncul melihat bulan purnama yang cerah.

Auuuuu….. Auuuuu……….

“Kau akan mengganggu tetangga bodoh!” Lanjut Kriss merasa teriakannya tadi tak di dengar.

Auuuuu…..

“Hya…. Kubilang hentikan!!” Teriakan Kriss semakin keras karena kesal. Sehun hanya melirik lalu lanjut mengaum lagi dan kali ini lebih keras.

“Sudah, sudah. Biar aku yang mengurusnya. Tetangga akan lebih memperhatikan bila kau terus berteriak seperti itu Kriss..” Suho amat geram mendengar teriakan Kriss dan Sehun yang saling bersaut.

“Pffttt… hahaha… Kau teriaki sekeras apapun Sehun yang sedang dalam mode Puppy tidak akan mendengarmu.” Kata Xiumin melepaskan tawa yang sudah tak tertahan.

Di saat seperti ini Sehun perlu melakukan ritual untuk menghentikan aumannya. Bila tidak selama bulan masih bersinar terang maka mereka harus melalui malam ditemani auman Sehun. Atau bila memang sang purnama tertutup Sehun tetap akan menunggu di luar. Ia aman berjalan layaknya serigala dengan 4 kaki. Sejenak berputar-putar besama ekor dan telinga lucunya menyamankan posisi dan tempat untuk tidur. Hingga bulan bersinar lagi baru ia bangun dengan auman yang tentu saja lebih keras dan mengganggu hingga pagi menjelang.

Hypnoterapi yang akhirnya harus di pelajari ketiga kakak serigala kekanakan itu. Beda dengan Xiumin, ia berhenti mengaum di terapi pertamanya. Entah apa yang salah, Sehun harus melakukan terapinya setiap bulan purnama. Hal ini lah yang kadang membuat Xiumin dan tentu saja Kriss geram.

Satu jam sudah Suho menerapi Sehun. Setelah selesai, Sehun yang sedikit lemas langsung mandi untuk menyegarkan tubuhnya. Sedang Suho duduk di ruang makan menemani Kriss yang sedang duduk manis sambil memakan sebuah apel.

“Ngomong-ngomong, hyung benarkah pria yang kami temui tadi sore adalah calon penghuni rumah ini?” Tanya Kriss pada Suho yang baru saja akan meminum kopi hangat buatan Xiumin tadi.

“Ehm.. benar. Kenapa memangnya?”

“Lalu bagaimana bila dia tidak mau dan memilih melajutkan misinya hyung? Ah, tapi bila di lihat dari wajahnya kurasa ia alien yang baik. Mana bisa pria berparas secantik itu memusnahkan bumi. Aey… tidak mungkin.” Katanya.

“Ohokk… Cantik? Apa maksudmu?” Suho tersedak karena kaget akan ucapan Kriss.

“Hyung, ku peringatkan kau, jangan pernah jatuh cinta padanya! Aku tidak peduli bila kau tertarik dalam hubungan seperti itu, tapi ku mohon jangan dia! Baru bertemu saja dia sudah menggunakan kekuatannya.” Sehun menyela pembicaraan setelah keluar dari kamar mandi.

“What? Jatuh cinta? Apa ini yang di maksud Xiumin bahwa Kriss bisa saja mengkhianatiku.” Suho masih tercengang, Xiumin yang sejak tadi mendengar dari jauh hanya dapat tertawa kecil.

“Apa maksudmu jatuh cinta? Hoy, aku masih menyukai wanita. Tidak sepertimu yang tidak pernah berpacaran, aku lebih berpengalaman. Lagipula mengapa aku tidak boleh mencintainya? Jika aku tertarik dalam hubungan seperti itu aku bebas memilih siapapun, dan aku pasti memilihnya dari pada bocah yang selalu megaum  sepertimu…”

“Apa maksudmu selalu mengaum? Aku hanya melakukannya saat bulan purnama!!” tegas Sehun.

“Okay guys. Kurasa ini saatnya kalian menceritakan apa yang terjadi tadi sore! Sehun kau tidak bisa melarang Kriss untuk menyukai siapapun, dan kau Kriss tidak baik memperlakukan adikmu seperti itu. Sehun kau duduklah, Xiumin kau juga sebaiknya bergabung disini dari pada tertawa disana.”

“Emmm…” Xiumin dan Sehun mengiakan. Suho yang sedang marah tidak akan bisa di kalahkan oleh siapapun.

Mereka duduk di tempat masing-masing. Mulai menceritakan kejadian tadi. Dari posisi mengawas mereka, Kriss di taman depan caffe tempat Sehun duduk serta Xiumin yang mengawasi dari jauh dengan teropongnya. Atau Kriss yang terpesona akan kecantikan Baekhyun dan hampir diserang karena melebarkan tangan menunggu Baekhyun datang kepelukannya. Sampai bagaimana Sehun menyadarkan Kriss dari pesona tersebut. Juga cerita dari pandangan Xiumin yang melihat bahwa Baekhyun mungkin hanya waspada karena setelah mereka pergi Baekhyun seperti alien biasa yang tak bisa diam.

“Hmmm… Baiklah, mungkin dia bukan orang yang jahat tapi untuk berjaga-jaga kalian ku perbolehkan untuk menggunakan kekuatan bila dirasa berbahaya. Apa kalian siap melanjutkan misi sesuai rencana awal kita?”

“Ya.” Kata mereka serempak. Demi bumi, tidak demi diri mereka sendiri, rencana ini harus berhasil.

“Aku sudah mengurus semua berkas pembelian perusahaan dan segala yang dibutuhkan. Ku rasa besok kita sudah dapat memulai rencana kita.”

“Oke. Kita hanya perlu melakukannya sesuai rencana.” Suho mengakhiri pembicaraan dan membubarkan mereka. Ini sudah cukup larut dan mereka perlu istirahat.

***

Hari ini masih secerah kemarin. Lebih cerah dan panas lebih tepatnya, sepanas tempat kerja Barhyun yang saat ini sedang kacau. Perusahaan yang sudah berdiri selama lima tahun itu bankrut begitu saja. Semua karyawan di berbagai divisi ter-PHK tanpa pesangon. Termasuk Baekhyun. Tidak peduli sebesar apa jasanya menyelamatkan perusahaan, mereka tetap tak memberi apapun sebagai balasan.

Angin semilir yang biasa dinikmati oleh Baekhyun menjadi angin dingin yang menusuk. Rasanya ia ingin pulang saja ke tempat asalnya. Jauh sebelum hari ini ia tahu bahwa manusia itu makhluk yang jahat. Namun, ia baru sadar bahwa mereka tidak hanya jahat, tapi amat-amat kejam. Hanya terhitung sehari. Ah tidak, hanya beberapa jam lebih tepatnya semenjak matahari menepati janji. Ia kehilangan segalanya. Apartemen mewah, pekerjaan juga semua manusia yang pernah di anggapnya sebagai teman.

Tepat hari ini, 15 hari sudah Baekhyun menunggak pembayaran apartemennya. Tentu saja karena ia tak mendapatkan gaji maupun pesangon ia harus keluar dan meninggalkan apartemen tersebut. Pemilik tidak memberi sedikitpun kesempatan padanya. Barang berharga yang ia miliki sudah di jual dengan hanya menyisakan baju-bajunya.

“Hoa…. Ini benar-benar hari yang buruk. Tao-ya aku merindukanmu sobat. Bagaimana aku bisa bertemu denganmu saat aku menjadi pengkhianat seperti ini. haahhh…” Baekhyun menarik nafas mengingat sahabat satu divisi di planet asalnya.

Baekhyun menyusuri taman sambil membawa koper. Ia kembali menikmati angin.

“Ya, biarlah hari buruk ini pergi bersama semilir angin. Esok kita hanya perlu memulai semua dari awalkan!” Katanya menyemangati diri.

kyuyukkl.. perut Baekhyun bunyi.

Sekali. Dua tiga kali bahkan lebih. Baekhyun berhenti sebentar. Mencari kepingan logam dan beberapa lembar uang untuk membeli burger di truck food yang kebetulan sedang ada di sana.

“Hamburger 1 dan cola 1.” Pesannya pada si penjual.

“Baik. Tunggu sebentar. Anda bisa duduk di bangku sebelah sana bila lelah. Saya akan mengantarnya ke sana.” Katanya sambil menunjuk bangku taman dekat air mancur. Di angguki oleh Baekhyun.

“Selamat menikmati.” Pelayan tadi memberikan pesanan Baekhyun.

“Hm.. maaf tapi aku tidak memesan kentang goreng ataupun ayam goreng ini.” Tanya Baekhyun.

“Ah… karena anda adalah pelanggan terakhir kami dan setelah ini foodtrucknya akan tutup maka kami berikan servise kentang goreng dan ayam goreng. Anda juga tidak perlu membayar burger tadi. Terimakasih dan selamat menikmati.” Jawabnya.

“oh… begitukah? Orang yang aneh. Bukankah bahan masakannya dan antrian pembeli masih panjang? Ah, entahlah.” Baekhyun heran. Tentu saja ia berterima kasih karena ia di beri makanan gratis, tapi bagaimana dengan pelanggan yang mengantri sejak tadi dan tak mendapatkannya. Namun karena lapar ia tak mempedulikannya lagi. Biarlah itu menjadi urusan mereka.

Perut telah terisi penuh, masih ada sisa ayam goreng yang sengaja di sisakannya. Ini bukan pertama kali ia menggelandang tak ada tujuan, jadi ia tahu benar bagaimana cara bertahan. Sekarang ia punya cukup uang untuk menyewa kamar kecil, ia hanya perlu mencari tempat yang sesuai. Hanya itu.

Tlek.. Zrassss….

Hujan tiba-tiba turun. Deras. Semua orang di taman berlarian mencari tempat berlindung.

“Hanya perasaanku saja atau memang ada yang sengaja mendatangkan hujan ini? Sesaat tadi aku seperti mendengar jentikan jari sebelum hujan turun. Ukhhh…” Kata Baekhyun sambil memegangi punggungnya. Tiba di salah satu toko untuk berteduh, tanda dipunggu Baekhyun terasa panas.

“Hmmm… Kau mencari kami?” Seseorang entah di sebelah mana berkata demikian. Tanda di punggung Baekhyun terasa semakin panas.

kruyukk….

Suara perut seekor anjing yang terlihat seperti serigala itu memecah kepanikan Baekhyun. Bulu coklat yang basah dan kotor itu duduk di depan Baekhyun. Sayang di tempat seramai ini tak ada satupun yang peduli, mereka hanya berbisik tanpa memberi solusi. Mereka malah menjauh.

“Apa kau lapar? Dimana pemilikmu?” Tanya Baekhyun sambil jongkok hingga dapat menatap mata anjing itu.

“ounngg…” Tangannya menungkup kedepan, kupingnya sayu menutupi mata sedang ekor panjangnya melingkari tubuh. Sesekali ia mengintip saat kupingnya tegap. Membuat Baekhyun tak tahan dan tertawa geli.

“Oke, karena kau lucu ku beri sesuatu sebagai imbalan. Aku hanya punya satu chicken. Kau suka? Bila ingin kau bisa memilikinya.” Baekhyun menunjukkan ayam goreng yang tadi di bungkus dan di taruh di saku mantelnya. Dengan cepat anjing itu menggigit makanan tersebut.

“SShhh… kau tidak perlu buru-buru memakannya.” Baekhyun sibuk mencari handuk kecil dalam koper. Mengelap bulu-bulu halus anjing di hadapannya.

Hujanpun reda, tampa permisi anjing tersebut berlari meninggalkan Baekhyun sendirian. Tapi beberapa menit sebelum Baekhyun pergi, anjing tersebut kembali dengan sesuatu di mulutnya dan pergi setelah meletakannya di depan Baekhyun yang masih bingung.

“Hmm… Apa ini untukku? Burung origami? Ahaaha… terimakasih!” Teriak Baekhyun menyadari anjing telah jauh.

***

Lima jam sudah Baekhyun berkeliling mencari rumah atau kamar seharga uang yang ia miliki. Namun belum jua menemukannya. Tinggal di Soul tentu saja sangat mahal. Ia duduk di depan toko toserba, memainkan origami pemberian anjing tadi. Lalu iseng membongkarnya, membentuknya kembali menjadi bentuk yang berbeda. Begitu terus selama hampir 15 menit tanpa sadar kertas tersebut merupakan sebuah selembaran promosi tempat kos yang dicarinya.

Segera setelah ia menyadarinya, ia langsung membaca dan mencari tempat tersebut. Berdasarkan peta yang ada, rumah tersebut tak jauh dari tempatnya duduk sekarang. Meski peta tersebut sudah tidak terlalu jelas, Baekhyun tetap optimis mencari tempat tersebut.

Ia terus berjalan. Entahlah seperti ada angin yang menuntunnya kesana, tak sampai 15 menit ia sudah sampai di pintu gerbang. Tidak seperti kosan lain, tempat ini berhalaman luas yang penuh tanaman. Sedangkan bangun rumahnya terlihat sederhana namun elegan.

“Ughh…” tanda di punggungnya panas lagi. Tapi seolah tubuhnya di tarik, kakinya terus melangkah. Seseorang berambut silver membuka pintu, mempersilahkan masuk.

Baekhyun terpana melihat setiap sudut rumah yang artistik dan lebih besar dari perkiraannya. Kamar tidur, kamar mandi, ruang makan, dapur, juga semua yang dikiranya akan sesederhana apa yang tertera di selebaran ternyata amat mewah termasuk ruang bawah tanah mereka lebih besar lagi. Terdapat banyak fasilitas lain seperti bar kecil, ruang tengah, gym, ruang gaming dan lai-lain.

“hoaa… apa kau yakin dengan harga yang kau tawarkan?” tanya Baekhyun.

“Yapz. Kau bisa saja tinggal gratis sampai kau menemukan pekerjaan yang baru. Ah, aku lupa. Kau pasti sadar bahwa aku berbedan bukan? Hmm.. Kau bisa memanggilku Xiumin. Penghuni rumah lainnya akan segera datang. Kurasa kau pernah bertemu dengan mereka.”

“A-apa maksudmu?”

“Haha.. santai saja. Kau tidak perlu takut! Suho, pemilik tempat ini akan menjelaskan detailnya nanti.”

Satu persatu penghuni rumah berdatangan, dan ya dua diantaranya pernah ia lihat. Siapa mereka? Semua pertanyaan yang memenuhi kepala Baekhyun terjawab setelah Suho menjelaskan, mulai dari siapa mereka, tujuannya, alasan memperbolehkan Baekhun tinggal dengan cuma-cuma sampai misi mereka selanjutnya.

Meski memang tak sepenuhnya ia mengerti, untuk saat ini ia hanya perlu tinggal dan tanpa membuat onar. Sesimple itu. Abaikanlah pria berambut pirang yang sikapnya absurd itu, atau pemuda berambut coklat yang ternyata anjing yang dia temui, oh mungkin lebih tepatnya serigala. Xiumin dan Suho kurasa terbilang cukup normal bagi Baekhyun.

“Well, untuk saat ini aku tak punya pilihan lain. Toh mereka tak memiliki niat jahat.” Pikir Baekhyun

Malam ini akhirnya Baekhyun memutuskan untuk tinggal di tempat barunya. Tampa tau takdir apa yang akan membawanya di massa depan Bersama keempat penghuni rumah tersebut.

#Berlanjut di Chapter Selanjutnya

 

=========================================================

 

Hey hey. Forecast the series chapter 3 udah Selesai. Makasih atas dukunganya, tampa kalian aku ga akan semangat ngelanjutin cerita ini. Semoga cerita ini bisa menghibur kalian.

Owh iya aku juga mau ngasih tau bahwa ketertarikan atau rasa suka antar karakter dalam cerita ini hanya sebatas mengagumi tidak akan menjadi BL atau sejenisnya. Maaf membuat kalian berfikir yang iya iya. Tapi aku pastiin klo semua karakter dalam cerita ini masih normal atau suka cewe, Cuma otaknya aja yang aga sengkle.

Aku akan sangat berterimakasih kalo kalian mau komen tentang cerita ini, atau mungkin memberi saran tentang cerita ini. Karena aku udah ga sabar buat bisa kenalan sama kalian.

Terimakasih semua 🙂 :-*

Salam Hormat (Moully Jung)

 

4 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Forecast the Series (Chapter 3)”

  1. Baekhyun kekuatannya pengendali cahaya. Termasuk menghilangkan cahaya. Alias bikin orang buta.
    Tapi dia juga punya pedengaran super tajam Kaya Suho. Makanya dia bisa denger suara jentikan jari. Pas suho lagi bikin ujan. Kira Kira gitu.
    Tapi semua kekuatan mereka akan ter upgrade ko seiring berjalanya waktu.
    Gitu deh pokonya

    Tugu penghuni selanjutnya minggu depan

  2. My baeky kenapa jadi miskin..kasian..,baekhyun kekuatannya cuma cahaya,gpp yang penting bukan serigala..wkwkw.cuma disini kekuatan baekhyun belum terlalu ditonjolkan ya thor.lanjut ya thor..penghuni selanjutnya..

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s