[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 10)

Universe in His Eyes POSTER

Title                : UNIVERSE IN HIS EYES – Chapter 10

Author             : Arifia Pahlawan (Wattpad: @arifiart)

Length             : Chaptered

Genre              : AU, Friendship, Romance, School-life.

Rating             : PG 17

Main cast        :

Oh Serin (OC)

Do Kyungsoo (EXO)

Byun Baekhyun (EXO)

Park Chanyeol (EXO)

Summary         : Serin bertemu dengannya lagi, pemilik mata tajam yang selalu membayangi pikirannya selama bertahun-tahun. Ia selalu ingin menghindar dari ingatan akan lelaki itu, namun semesta justru membuat Serin semakin terjebak dengannya.Disclaimer       : Cerita ini merupakan bentuk dari imajinasi author. Jika terdapat kemiripan pada nama tokoh, tempat ataupun jalan cerita, hal itu merupakan unsur ketidaksengajaan.  Dilarang keras untuk memplagiatkan atau merepost karya ini tanpa seizin author. Please leave comment after reading. Thank you so much and happy reading! <3̶̶̶ “Ah, maksudmu dia suka padamu? Atau justru kau yang menyukainya?”̶̶_CHAPTER 10-Pengakuan-__̶

Sinar mentari menyerobot masuk melalui jendela kamar Serin. Ia terbangun, pikirannya kosong saat pertama kali ia membuka matanya.

Ini di mana? Sekarang tanggal berapa?

Butuh beberapa detik sampai otaknya mampu bekerja kembali dan memberikan jawaban dari pertanyaan-pertanyaan itu, Serin langsung terduduk di kasur. Ia menekan sebelah kepalanya, pusing. Ah, benar, semalam ia tidak sengaja meneguk alkohol sampai hilang kesadaran. Serin terus memijat keningnya yang terasa pening, berkali-kali pula ia menahan rasa mual yang ada di perutnya.

TING! Ponsel Serin berbunyi, ada sebuah pesan singkat untuknya.

‘Sudah bangun? Sepertinya kau masih mabuk, jadi kau tidak usah sekolah dulu. Aku sudah bilang pada sensei kalau kau terkena flu. Istirahatlah.’

-Do Kyungsoo

Hah? Sejak kapan Do Kyungsoo jadi perhatian seperti ini? Sebenarnya apa yang terjadi semalam? Serin menjambak rambutnya, oh, jadi begini rasanya mabuk. Tidak heran mengapa alkohol dikatakan berbahaya jika dikonsumsi secara tidak wajar, ternyata efeknya bisa sampai seperti ini. Selain karena umurnya yang belum legal untuk mengonsumsi minuman keras itu, alkohol benar-benar berbahaya hingga likuid itu mampu membuat seseorang sampai keluar dari pikirannya.

“Serin-ah! Oh Serin! Sadarlah!”

“Aku lega kau baik-baik saja.”

“Gwaenchana, kau aman bersamaku.”

Kalimat-kalimat itu muncul begitu saja dalam ingatan Serin. Ia mulai mengingat kencannya dengan Kai yang berakhir mengenaskan. Lalu muncul bayangan dirinya yang tengah memeluk Kyungsoo duluan…

Sial! Apa itu barusan? Apakah aku benar-benar mengalami itu semua? Bahkan sampai memeluk Kyungsoo? AGH!

Serin bergulat di kasurnya, ia benar-benar tidak mempercayai ingatan-ingatan yang ada di kepalanya. Bagaimana ia bisa begitu bodoh hingga mengalami semua hal itu? Ia sungguh memeluk Kyungsoo si lelaki menyebalkan itu? Yang lebih buruknya lagi, ialah yang justru memeluknya duluan, ialah yang berlari ke pria itu. Kemudian Kai… pria itu juga… telah menciumnya.

“Sial, ciuman pertamaku! Huaaa!!!” Serin meraung-raung menyesali segala perbuatannya. “Hish…” wajahnya benar-benar jelek saat ini.

Ciuman pertama? Serius?

Oh Serin, kau benar-benar terlihat konyol sekarang.

***

“Bogoshipooo~ (Aku rindu).” suara Baekhyun keluar dengan keras dari speaker ponsel Serin. Ia dan Baekhyun sedang melakukan panggilan video saat ini.

“Yah! Aku kan sudah bilang kau harus sering menghubungiku, kenapa kau malah baru menelepon setelah berhari-hari?” keluh Baekhyun mulai mengomel seperti biasanya.

“Mianhae, aku benar-benar sibuk dan masih berusaha beradaptasi di sini. Bagaimana dengan Chanyeol?” ujarnya bohong.

“Ah, si brengsek itu… Yah, kurasa Chanyeol benar-benar sudah gila, dia benar-benar pembuat masalah. Sejak kau berangkat ke Jepang, ia menjadi lebih sulit dikendalikan. Aku sepertinya bakal angkat tangan. Kau sungguh luar biasa bisa mengurusinya selama ini.”

Serin tersenyum. Walaupun itu bukan kabar yang baik, tapi melihat dan mendengar Baekhyun yang terus mengoceh menyebalkan, ia lega setidaknya sahabatnya dalam keadaan baik-baik saja dan hari-hari masih berjalan seperti biasanya.

“Bogoshipo.” ujar Serin masih dengan senyum di bibirnya.

“Nadooo~ (aku juga).” jawab Baekhyun dengan aegyo imut khas-nya. Kali ini Serin tidak ingin kesal melihat Baekhyun seperti itu karena ia tahu ia tak dapat memukul lelaki itu saat ini. Ia sungguh merindukannya.

Tiba-tiba Serin teringat kejadian kemarin, ia menatap layar ponselnya yang sedang menunjukkan wajah Baekhyun, ia bingung apakah harus menceritakan kejadian itu atau tidak pada sahabatnya.

“Baekhyun-ah,”

“Hm?”

“Sepertinya aku-” Serin menghentikan suaranya. Ia mendadak ragu apakah ia harus menceritakan kejadian tentang Kai atau tidak. “aniya, bukan apa-apa.”

“Eeey, kau mau bilang apa? Jangan menggantung kalimatmu jika kau tidak ingin membicarakannya, membuatku penasaran saja. Apa itu?”

“Sebenarnya, Do Kyungsoo, akhir-akhir ini aku jadi lebih dekat dengannya.” entah mengapa Serin jadi berbicara tentang Kyungsoo tanpa sadar.

“Yah wajarlah. Kan kalian hanya mengenal satu sama lain selama di sana.”

“Aniya, bukan dekat seperti itu maksudku. Itu- mmm- bagaimana bilangnya ya?”

“Ah, maksudmu dia suka padamu? Atau justru kau yang menyukainya?” semprot Baekhyun dengan santai.

Serin melotot mendengar jawaban Baekhyun. “Yah! Bagaimana kau bisa sangat blak-blakan seperti itu? Kau benar-benar luar biasa, tahu?”

Baekhyun tertawa keras. “Oh Serin, kenapa kau suka sekali bertele-tele? Aku sudah berteman denganmu sejak bayi, aku tahu betul maksudmu. Jadi kau tinggal katakan saja semuanya padaku.”

Serin menahan dirinya agar tidak tersenyum setelah Baekhyun menyadari maksudnya. Ia bingung ingin menceritakan ini atau tidak, karena sebenarnya ia sendiri belum siap. Ia bahkan tidak yakin apa yang sedang dirasakannya. Do Kyungsoo… membayangkan lelaki itu saja sudah membuat perutnya geli.

Tidak, rasanya tidak seperti saat bersama Kai, hanya saja ini terasa berbeda. Serin tidak pernah merasa berdebar sama sekali saat bersama Kai walau pria itu sangat tampan dan sering menggodanya. Ia hanya merasa senang, tapi tak ada perasaan gugup saat sedang berdua bersamanya. Berbeda dengan Kyungsoo, walaupun ia tak pernah terjebak momen romantis bersamanya, namun kehadiran lelaki itu saja sudah membuat kupu-kupu di perutnya berterbangan.

“Kupikir aku menyukainya.”

“Kau pikir? Eey, ayolah, jujurlah pada dirimu sendiri. Apa yang kau rasakan saat bersama pria itu?”

Serin terdiam. Bagaimana menjelaskannya ya?

“Entahlah, hanya saja ia membuatku nyaman.”

“Aku dan Chanyeol juga selalu membuatmu nyaman kan?” canda Baekhyun.

“Hahaha, terserah.”

Baekhyun tertawa. Serin benar-benar buruk dalam mengungkapkan perasaannya. Baekhyun tahu gadis ini pasti memiliki perasaan tertentu pada lelaki bernama Do Kyungsoo itu. Bagaimana tidak, mereka sudah berteman sejak kecil. Baekhyun tahu betul apa yang sedang dirasakan Serin walaupun gadis itu enggan mengakuinya.

“Bukankah ia selalu sinis padamu?”

Serin tersenyum. “Ya, dulu. Tapi setelah aku mengenalnya, ternyata ia orang yang baik. Ia selalu melindungiku, Baekhyun-ah.”

“Melindungimu dari apa misalnya?”

Serin tidak menjawab. Ia benar-benar belum siap jika harus menceritakan hal yang melibatkan Kai waktu itu. Urusannya akan semakin panjang, dan ia jadi harus menceritakannya lebih panjang lagi. Tidak, tidak, nanti saja sampai tiba waktu yang tepat untuk menceritakannya.

“Serin-ah?” panggil Baekhyun dari seberang sana.

“Oh?” Serin tersadar dari lamunannya. “Yah, nanti akan kuceritakan lagi.” Serin hampir saja menutup teleponnya namun ia mendadak teringat akan satu hal. “Oi, Byun Baekhyun! Jangan katakan ini dulu pada Chanyeol, mengerti?”

“Wae?”

“Aku tahu dia pasti akan mengejekku habis-habisan jika ia mengetahui ini. Nanti akan kuceritakan lengkapnya saja saat kita membuat panggilan video bertiga, oke?”

“Araseo. Jaga dirimu baik-baik, eo?”

Kemudian Baekhyun mengakhiri panggilannya.

***

Serin keluar dari kamarnya, ia baru saja menyelesaikan makan malamnya di dorm namun rasa laparnya tak kunjung hilang. Serin merekatkan jaketnya, entah kenapa cuaca di sini masih saja dingin padahal sudah memasuki musim semi. Ia melangkah melewati dorm siswa laki-laki, menoleh sebentar ke arah gedung itu dan berpikir sebentar. Apakah ia harus mengajak Kyungsoo keluar?

‘Keluarlah. Ayo beli camilan, aku sudah di depan dorm.’

-Sent

Lima menit kemudian Kyungsoo keluar dari dorm dan mendapati gadis Oh itu sedang menunggunya di tengah cuaca dingin.

“Yah! Lama sekali, sih!” gadis itu memarahi Kyungsoo hanya karena membuatnya menunggu selama lima menit. Siapa suruh begitu mendadak? Tahu-tahu sudah menunggu begitu saja di depan dorm.

Kyungsoo menatap malas Serin dengan tatapan menyebalkan seperti biasa. Serin berdehem, langsung berpaling karena ia tak suka jika mata Kyungsoo menatapnya dengan cara seperti itu. Lihatlah, tatapan lelaki itu sudah tak sehangat kemarin.

“Lain kali jangan mendadak seperti ini. Aku bisa saja sedang sibuk.” ujar Kyungsoo setengah jengkel karena Serin sama sekali tidak bersikap hangat padanya.

“Sibuk apanya, cih.” Serin mendengus kesal. “Aku masih lapar, ayo temani aku makan oden.” ajak Serin langsung menarik tangan Kyungsoo.

Kyungsoo terkejut karena gadis itu tiba-tiba menarik tangannya. Sepertinya kecanggungan di antara mereka berdua benar-benar sudah memudar, bahkan gadis itu sekarang sudah berani mengajaknya keluar bersama.

Dua anak muda itu pergi mengelilingi kota Tokyo yang ramai dan begitu banyak akan jajanan pinggir jalan. Mereka akhirnya menemukan sebuah kedai truk makanan yang diinginkan Serin. Kedai itu sangat kecil namun begitu ramai dan banyak orang yang rela mengantri di sana.

“Aku yakin oden di sini enak, lihat saja antriannya!” ujar Serin menunjuk kerumunan itu.

Butuh beberapa waktu bagi mereka untuk mengantri di barisan yang lumayan panjang itu. Kyungsoo yang biasanya pendiam kini sudah pandai bercanda dengan Serin. Gadis itu bahkan tidak mampu berhenti tersenyum di samping lelaki itu. Sepertinya mereka berdua benar-benar sudah dekat sekarang.

Diam-diam Kyungsoo merasa senang melihat gadis itu yang terlihat bahagia bersamanya. Ia tersenyum, Serin terlihat sangat cantik malam ini. Kyungsoo terus memandanginya, ia suka melihat wajah gadis itu. Mata Serin terlihat begitu kecil ketika sedang tertawa, bibirnya yang kecil, dagunya yang lancip dan sedikit menonjol keluar. Wajahnya begitu unik dan sebenarnya tidak terlalu cantik menurut standarnya, tapi Kyungsoo menyukainya.

Ia tak hanya menyukai wajah gadis itu, tapi sepertinya ia benar-benar telah jatuh cinta padanya.

“Ah, aku kenyang sekali.” ujar Serin sambil menghembuskan napasnya karena kekenyangan. Bagaimana tidak, malam ini tidak hanya makan oden, tapi ia bahkan juga membeli takoyaki, yakitori dan makan dua porsi taiyaki. Serin duduk dan menyandarkan tubuhnya di sebuah kursi taman. Ia dan Kyungsoo memutuskan untuk beristirahat sebentar sebelum mereka pulang ke dorm.

Kyungsoo sedikit takjub melihat kepasitas perut gadis itu yang luar biasa. Ia sendiri bahkan tidak akan mampu makan sebanyak itu meskipun ia adalah seorang pria. Tapi senang rasanya melihat seorang gadis bisa makan sebanyak itu di saat banyak gadis di luar sana yang justru rela menahan lapar karena ingin diet.

“Aku yakin setelah ini kau akan marah-marah sendiri karena gemukan.” ujar Kyungsoo sambil sedikit tertawa melihat Serin terus mengelus perutnya yang kekenyangan.

Serin menggeleng, “Sebenarnya aku bukan tipe yang mudah gemuk. Beratku tidak akan bertambah walau makan sebanyak apapun, sebaliknya aku mudah kurus. Jika aku tidak makan sehari saja, beratku bisa langsung turun banyak.”

“Beruntung sekali.” puji Kyungsoo.

“Hampir semua keluargaku memiliki tubuh yang kurus. Kau sudah lihat adikku, kan? Dia hanya tumbuh ke atas tapi tubuhnya sangat kurus seperti tiang…” Serin terus saja mengoceh dan tidak sadar bahwa Kyungsoo terus memerhatikannya bicara. Mata lelaki itu tidak setajam biasanya, bayangan gadis itu memantul di netranya, seperti ada cahaya teduh dari pupil matanya.

Kyungsoo hanya memerhatikan bagaimana Serin terus bercerita padanya. Lelaki itu bukan tipe yang selalu merespon perkataan orang karena ia memang pendiam. Namun tiba-tiba Serin berhenti berbicara, sepertinya ia mulai menyadari lelaki itu terus menatapnya sedari tadi.

“Wae?” tanya Serin.

Kyungsoo membelalakkan matanya, berubah canggung saat Serin menangkap basah dirinya yang terus memerhatikan gadis itu. Kyungsoo langsung mengubah arah pandangannya ke sudut lain.

“Ngomong-ngomong, Kyungsoo-ya,”

Kyungsoo menoleh, matanya kembali menatap Serin. Hening sesaat.

“Aku- minta maaf soal kejadian beberapa hari yang lalu.”

Kyungsoo tidak menjawab. Wajahnya berubah serius.

“Seharusnya waktu itu aku mendengarkanmu.”

Kyungsoo mengalihkan pandangannya. Ia menatap lurus ke depan, matanya kembali mengeluarkan kilatan tak bersahabat. Kenapa juga Serin harus membahas hal itu lagi? Entah kenapa Kyungsoo benar-benar menjadi kesal tiap kali memikirkan kejadian itu. Amarahnya seperti belum diluapkan sepenuhnya saat ia memukul Kai, ia sungguh ingin menghabisi lelaki itu, kalau perlu ia ingin membunuhnya karena telah berbuat kurang ajar pada gadis yang disukainya.

 “Kyungsoo-ya,”

Lelaki itu masih tidak menjawab.

“Kyungsoo-ya, kau dengar aku tidak?” panggil Serin lagi karena lelaki itu tetap tidak berbicara.

Kyungsoo menatap Serin tajam. Serin kembali dapat merasakan aura tidak enak dari tatapan itu. Sinar dingin mata itu telah kembali.

“Yah-”

“Aku tidak ingin membahasnya.” potong Kyungsoo cepat. Matanya kembali menghindari tatapan Serin.

“Kau ini mendadak kenapa?” Serin bingung karena suasana hati Kyungsoo tiba-tiba saja berubah dingin seperti ini.

“Hanya- tidak ingin membicarakannya. Hal itu sedikit menggangguku.” Kyungsoo menatap Serin, wajahnya benar-benar serius. Ia terlihat hendak mengatakan sesuatu tapi seperti ditahannya.

“Wae?” tanya Serin mulai khawatir.

Kyungsoo benar-benar ingin meluapkan semuanya. Ia ingin memberi tahu gadis itu bagaimana ia sungguh membenci hal yang telah dilakukan pria asing itu pada dirinya. Ia ingin memberi tahu gadis itu bagaimana ia sungguh merasa bersalah karena telah gagal melindunginya. Tiba-tiba saja ia teringat kejadian saat di bandara beberapa waktu lalu sebelum ia dan Serin berangkat ke Jepang.

Chanyeol menarik lengan Kyungsoo ketika Serin sudah pergi dan check-in lebih dulu. Ia menatap tajam lelaki yang lebih pendek beberapa inci darinya itu sambil setengah berbisik.

“Oh Serin, kau harus menjaga gadis itu, mengerti?”

Pandangan Kyungsoo sedikit mengarah ke atas karena jeda yang ada di antara ia dan tinggi lelaki Park itu. Ia menatap Chanyeol tidak suka. Memang siapa dirinya sampai meminta Kyungsoo melakukan hal itu?

“Dengar, kalau Serin sampai kenapa-kenapa atau terjadi sesuatu yang buruk padanya, aku akan membunuhmu, ingat itu.”

Kyungsoo tidak menjawab dan langsung menarik kasar lengannya yang dicengkram Chanyeol. Ia tidak mengindahkan perkataan si lelaki Park dan segera masuk ke ruang tunggu. Ia sungguh tidak peduli. Kenapa juga ia harus menuruti ancaman lelaki itu yang bahkan tidak bisa melindungi temannya sendiri? Park Chanyeol, kau sungguh menyebalkan.

Kyungsoo memandang Serin dengan tatapan yang sulit dijelaskan. Ia sungguh tak mengerti kenapa dirinya kini bisa menyukai gadis itu. Ia juga tidak ingat sejak kapan mulai tertarik padanya. Entah pula sejak kapan ia jadi sangat ingin melindungi gadis itu. Oh Serin, Kyungsoo menyukainya, tapi ia tak berani mengatakannya. Ia benar-benar buruk dalam menjelaskan perasaannya.

Ia benar-benar tidak suka jika Serin harus membicarakan lagi kejadian yang benar-benar ingin ia lupakan. Apakah gadis itu sama sekali tidak merasakan apa-apa saat mengatakannya? Padahal dialah korbannya!

“Bagaimana kau bisa membicarakan hal itu lagi? Apa kau benar-benar tidak memiliki rasa takut? Apa kau pernah membayangkan yang akan terjadi jika aku tidak datang menyelamatkanmu waktu itu? Pernahkah kau merenungkannya?!” Kyungsoo berusaha kuat menahan napasnya agar emosinya tidak meledak-ledak.

“Tidak, maksudku-”

“Kau itu hampir saja menjadi korban pelecehan, Oh Serin!” bentak Kyungsoo keras. Akhirnya ia sudah tidak sanggup menahan kalimat itu di benaknya. Sesekali gadis itu harus dikerasi agar ia mengerti bahwa dunia ini tidak selalu berada dalam kendalinya.

Kyungsoo berdiri dari duduknya. Mood-nya jadi hilang karena pikirannya juga menjadi rumit karena masalah ini. Ia terlalu banyak berpikir, tentang Kai, tentang Serin, dan tentang perasaannya pada gadis itu…

“Kyungsoo-ya,”

“Aku sungguh tidak suka jika kau dalam bahaya-” ujar Kyungsoo pelan, entah Serin mendengarnya atau tidak. Sebaliknya, Kyungsoo menjerit di dalam hati.

Iya, aku sungguh tidak suka!

 “Ayo kita pulang saja. Sudah malam.” Kyungsoo mulai melangkahkan kakinya, hampir meninggalkan gadis itu yang duduk sendirian menatap punggungnya.

Serin menatap lirih Kyungsoo, matanya mulai berkaca-kaca. Ditatapnya punggung kecil lelaki itu. Kenapa… ia malah jadi seperti ini? Entah kenapa Serin merasakan sesak yang amat luar biasa di dadanya seakan-akan jantungnya akan meledak. Jujur saja, sebenarnya hatinya agak sakit melihat Kyungsoo yang sinis begitu padanya. Serin tidak ingin Kyungsoo menjauh. Ia sungguh ingin lelaki itu selalu berada di dekatnya. Tidak, Serin tak mau kehilangannya.

“Do Kyungsoo,” panggil Serin keras, namun tak berhasil membuat Kyungsoo menghentikan langkahnya. “aku menyukaimu!”

Langkah Kyungsoo terhenti.

̶̶_

-To Be Continued-

7 tanggapan untuk “[EXOFFI FREELANCE] Universe in His Eyes (Chapter 10)”

  1. Yaaa TBC datang disaat suasana mau romantis…,bagus serin,kamu akhirnya menyatakan duluan..tinggal kyungsoo nih ngomong apa? Wah kalo chanyeol tau gimana nih reaksinya?.disalip sama kyungsoo..ditunggu lanjutannya thor

  2. Eiiiii apa apaan iniii…malah saling syuka huahahahahahahahaa
    Udaahhh ngaku ajaaaa soo klo juga sukaaaa ga usah jaim yaaaa klo jaim noona culik nti huahahahahahah

  3. Loh? Perasaan aku baru submit tadi siang tau-tau udah dipublish aja, padahal biasanya update tiap selasa-rabu-kamis sesuai jadwal😂
    Ini ada kesalahan atau gimana kah admin-nim?

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s