What Should I do, I Love You (Chapter 1)

Chanyeol

 

What Should I do, I Love You

 

Main Cast : Park Chanyeol, Seo Ahrin(OC), Go Hyeji (OC)

Support Cast : Park Chansuk (Chanyeol’s Dad) ӏ Park Yumi (Chanyeol’s Mom) ӏ Park Yura (Chanyeol’s Sister) ӏ Go Sangjun (Hyeji’s Dad)

Genre : Married-Life, Family, Drama, Angst

Lenght :

Rating : PG-17

Disclaimer : Para tokoh dalam Fanfic ini hanya milih tuhan. Cerita dan alur adalah hasil imajinasi saya.

Dari sekian banyak pria yang kutemui, kenapa hanya pria ini yang selalu membuat hatiku berdebar. Orang yang sedang berada di sampingku. Orang yang sedang berjalan beriringan denganku. Orang yang sedang menggenggam tanganku dengan tangannya yang terasa begitu hangat di hatiku.

Author’s POV

“Chanyeol-ah, sekarang kita mau pergi kemana?” tanya Ahrin yang antusias dengan kencannya hari ini dengan Chanyeol. Ahrin memasang seltbelt, dan Chanyeol yang sibuk dengan alat GPS yang terpasang di dashboard mobilnya.

“Mmm, aku ingin pergi ke tempat yang tidak terlalu banyak orang. Bagaimana jika ke sungai Han?” pilih Chanyeol.

“Geurae” Ahrin menjawabnya singkat.

            Setiap akhir minggu Chanyeol selalu mengajak Ahrin kencan. Sebenarnya tidak ada alasan mengapa Chanyeol jarang absen mengajak Ahrin kencan. Ia hanya ingin menyempatkan waktunya untuk bersama dan menghabiskan waktu dengan Ahrin – kekasihnya.

Dalam perjalanan, Chanyeol menyempatkan diri untuk membeli hot coffe. Karena udara hari ini begitu dingin menurut Chanyeol. Setelah membeli coffe, Chanyeol melanjutkan perjalanan ke tempat yang mereka tuju. Tidak butuh waktu yang lama, setelah 30 menit mereka – Chanyeol dan Ahrin sudah sampai di sungai Han. Chanyeol memilih tempat yang terlihat sepi, lalu menepikan mobil sedan hitamnya di tempat itu.

“Ja, kita sudah sampai Ahrin-ah” ucap Chanyeol. “ Kajja, kita keluar dan menikmati udara dan ketenangan ini” ajak Chanyeol seraya mengambil dua cup coffe dan membuka pintu mobil.

“Mm,” jawab Ahrin manis.

Chanyeol memberikan satu cup coffe itu pada Ahrin. Dan menyender di depan mobil sedannya. Dalam beberapa detik Chanyeol menatap kosong sungai yang terlihat tenang dan damai itu lalu menghembuskan nafas beratnya, bagaikan ia melepas beban berat yang ia rasakan. Ahrin hanya menatapnya. Ahrin tahu pasti Chanyeol sedang memiliki masalah, tapi Ahrin tidak ingin menanyakannya. Yang terjadi mungkin Chanyeol tidak akan memberitahukan apa masalah yang ia miliki sekarang. Chanyeol hanya tidak ingin memberi beban pada Ahrin atas masalahnya.

Ahrin mendekat dan merangkul lengan kiri pria tinggi di sebelahnya itu – Chanyeol. Kemudian meletakkan kepala kecilnya di bahu lebar Chanyeol. Chanyeol yang merasakan ada sesuatu yang berada di bahunya, mulai mengalihkan perhatiannya pada kekasihnya yang dengan manja merangkul lengannya. Chanyel tersenyum lalu mengecup kening gadis itu dan merangkul tubuh gadis itu agar tidak ada jarak lagi diantara mereka.

“Ahrin-ah, bagaimana dengan kuliahmu? Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Chanyeol yang memecah keheningan malam di pinggir sungai yang dingin itu.

“Begitulah, aku hanya menjalaninya dan semua baik-baik saja” jawab Ahrin tidak melepas dekapan Chanyeol dari tubuhnya.

“Syukurlah”. Chanyeol menyesap coffenya yang mulai mendingin.

“Chagi, bagaimana dengan pekerjaanmu?” sekarang bagian Ahrin yang bertanya.

“Perusahaan sekarang sedang mengalami pemerosotan saham.” Chanyeol menunduk seraya menatap coffenya yang tidak mengeluarkan asapnya lagi. “Dan sekarang Appa sedang kesusahan mencari investor-investor baru yang ingin bergabung dengan perusahaan”.

‘Mungkin ini yang menyebabkan perasaan Chanyeol buruk hari ini’ ucap Ahrin dalam hati. “Chagi, jika kamu membutuhkan bantuan. Aku akan membantumu sekuat tenagaku jika aku bisa”.

Chanyeol tertawa mendengar pernyataan gadisnya itu dan mengecup keningnya untuk yang kedua kalinya. “Asalkan aku dapat melihat dan mendengarmu seperti ini, kamu sudah membantuku sayang”  Chanyeol berbicara dengan senyum yang menenangkan hati Ahrin.

‘Chanyeol-ah, akhirnya kamu tersenyum juga’ batin Ahrin. Ahrin juga merasa tersanjung dengan perkataan Chanyeol tadi. Ahrin berjinjit dan mengecup pipi Chanyeol dengan lembut. Chanyeol yang juga senang dengan perlakuan Ahrin – mengecup.

Perasaan Chanyeol sekarang sudah membaik berkat gadis yang ada di dekapannya. Sikap manja Chanyeol akhirnya keluar. Setelah mendapat kecupan di pipi, Chanyeol meminta yang lebih dari itu. Ia menujuk bibirnya.

“Mwoya”. Ahrin mencubit kecil perut Chanyeol. Chanyeol pun sempat sedikit menringis – kesakitan. Tapi Chanyeol malah memaksa dan melakukan aegyo, manja.

Akhirnya Ahrin menyerah dan mengecup bibirnya. Chanyeol tersenyum saat bibirnya bertemu dengan bibir Ahrin. Entah mengapa Chanyeol sangat menyukai semua yang ada pada diri Ahrin. Dengan cepat Ahrin melepas bibirnya dengan milik Chanyeol. Tersirat tatapan Chanyeol yang bingung ‘kenapa kamu menghentikannya?’ pertanyaan itu tertulis di wajahnya – masih bingung.

Mengerti dengan tatapan Chanyeol, kemudian Ahrin berbicara sedikit berbisik. “Aku takut ada orang yang melihat kita, malu”. Chanyeol sedikit kecewa pada ucapan Ahrin. Apa dia merasa malu berciuman dengan pria setampan dirinya?

Lalu Chanyeol mendekatkan wajahnya dengan milik Ahrin dan menciumnya tanpa persetujuan pemiliknya. Chanyeol melumat setiap bagian bibir Ahrin. Ahrin juga menikmati perlakuan Chanyeol padanya tanpa melawan dan membalas setiap lumatan bibir Chanyeol. Sesekali Chanyeol menggigit bibir bagian bawah Ahrin. Ahrin yang merasa kaget langsung melepas bibirnya. “ Appo” Ahrin meringis kesakitan.

“Ahh, Mian” ucap Chanyeol yang melihat Ahrin kesakitan akibat ulahnya. Tapi Chanyeol tidak melepaskan bibir Ahrin sampai disitu. Chanyeol kembali melahap dan memperdalam ciuman itu dengan lembut. Dalam kegiatan itu, keduanya – Chanyeol dan Ahrin sesekali tersenyum bahagia karena merasa nyaman satu sama lain.

**A**

Setelah menyelesaikan kencannya, Chanyeol mengantar Ahrin ke apartemennya. Chanyeol tidak pernah membiarkan Ahrin pulang larut malam, ia tidak ingin merusak reputasi Ahrin sebagai mahasiswa yang pintar dan baik. Chanyeol tidak ingin membuat alasan karena Ahrin tinggal di apartemen sendiri ia dapat seenaknya mengajak Ahrin.

“Terima kasih atas kencannya Chagiya. Aku sangat senang hari ini” ucap Ahrin setelah sampai di depan apartemennya.

Chanyeol tertawa dan mengusap kepala gadisnya dan memelukanya. Kebiasaan yang selalu dilakukan sebagai salam perpisahan. Kemudian Ahrin keluar dari mobil mewah Chanyeol dan sedikit menurunkan kepalanya agar dapat melihat Chanyeol dalam mobil.

“Hati-hati dijalan ya Chagi,” ucap Ahrin padan Chanyeol.

“Ya sayang, cepat masuk udara di luar dingin”. Dengan suara beratnya ia mengkhawatirkan kekasihnya.

“Eoh, geurae. Anyeong” Ahrin melambaikan tangannya yang dibalas oleh Chanyeol dan segera masuk ke apartemennya.

**A**

Setelah melihat Ahrin masuk – ke apartemennya. Chanyeol melajukan kembali mobilnya menuju rumahnya. Dalam perjalanan, tersenyum mengingat kencannya dengan Ahrin hari ini. Tapi, dengan seketika fikirannya itu tergantikan dengan perkataan ayahnya –  sebelum Chanyeol pergi menemui Ahrin yang sangat menyesakkan bila diingat kembali.

Flashback On

            “Chanyeol-ah, kamu tahu kan perusahaan sekarang sedang mengalami krisis,” di sela-sela pembicaraannya, ayah Chanyeol menghembuskan nafas berat, yang sebenarnya ia tidak ingin mengorbankan anaknya dalam masalah perusahaan. “Ayah ingin kamu membantu perusahaan Chanyeol-ah.”

“Tentu saja appa. Aku akan selalu membantu appa kapanpun.” Perkataan Chanyeol begitu menenangkan ayahnya, tapi tetap saja ayah Chanyeol sulit untuk membicarakan masalah ini pada Chanyeol.

Sambil tersenyum, ayah Chanyeol memulai perkataannya. “Begini Chanyeol-ah, ada seorang calon investor yang ingin bergabung dengan perusahaan kita. Tetapi dia juga meminta bantuan kepada kita, khususnya kepada kamu Chanyeol-ah”

Dengan senyuman canggung Chanyeol bertanya apa yang bisa ia lakukan untuk investor itu. “Bantuan apa itu ayah?”

“Dia ingin kamu menikah dengan putrinya.”

Senyuman Chanyeol menghilang dari wajah tanpannya. Ia tahu bantuan itu sebenarnya tidak bisa benar-benar ia lakukan. Chanyeol dapat merasakannya sejak awal ayahnya bicara. Ayah Chanyeol akan sulit untuk mengucapkannya jika ia tahu Chanyeol juga akan sulit mewujudkannya. “Ayah bercanda, kan? Ayah tahu aku mempunyai hubungan dengan Ahrin.”

Ayah Chanyeol membenarkan letak kaca matanya. Ia bingung dengan apa yang akan ia katakan selanjutnya mendengar pernyataannya dari anak laki-lakinya ini. “Kumohon Chanyeol-ah. Appa sangat membutuhkanmu. Semuanya berada di tanganmu. Bukan saja keluarga. Para investor dan perusahaan produk yang sudah mempercayakan produknya untuk diiklankan lewat perusahaan kita akan merasakan akibat buruknya jika kita bangkut  Chanyeol-ah”

Baru kali ini Chanyeol mendengar ayahnya begitu memohon padanya. Dan semua yang dikatakan ayah Chanyeol sebenarnya memang benar. Ia juga tidak ingin melepaskan tanggungjawabnya sebagai CEO dan mengecewakan ayahnya. Tapi, di sisi lain, ia juga tidak ingin mengorbankan rasa cintanya yang begitu besar pada Ahrin. Chanyeol menghela nafasnya berat.

“Baiklah ayah, akan ku fikirkan kembali” setelah mengucapkan itu Chanyeol pamit untuk pergi – kencan pada ayahnya.

Flashback Off

            Fikiran itu terus berkecamuk di kepala Chanyeol. Ia tak habis fikir, alasan yang dipakai sang calon investor itu benar-benar tak masuk akal. Chanyeol harus menikah dengan orang yang tidak ia kenal bahkan bertemu pun tidak.

Dalam perjalanan pulangnya Chanyeol terus memikirkan bagaimana ia dapat menyelesaikan masalah yang ia hadapi sekarang tanpa harus mengorbankan orang lain, entah itu keluarganya, Ahrin, ataupun dirinya sendiri.

Tak terasa saat Chanyeol sibuk dengan fikirannya dan menyetir mobil tentunya. Ia sudah sampai di Pyeongchang-dong – rumahnya. Chanyeol memasukan mobilnya ke dalam garasi lalu keluar dari mobilnya dan masuk ke dalam rumahnya. Ia berharap orang rumah sudah terlelap, agar ayah, ibu, atau kakak tidak membahas tentang masalah pernikahannya – Chanyeol.

Benar saja dugaan Chanyeol, keadaan dalam sudah gelap. Menandakan orang di dalamnya sudah terlelap. Chanyeol menaiki tangga yang mengarahkan ia ke ruangannya – kamar. Tetapi saat ia dalam perjalanan menuju pintu kamarnya, ia melihat sosok ayahnya di balik celah pintu ruang kerjanya. Chanyeol mendekati pintu itu dan melihat ayahnya di celah pintu yang terbuka dalam remang-remang lampu yang berada di meja kerja ayahnya, mereka hanya menampakan sedikit cahaya. Walaupun dalam keadaan remang Chanyeol dapat melihat bahkan merasakan ekspresi ayahnya yang terlihat resah. Chanyeol tahu keresahannya karena perusahaanya yang merosot.

Melihat keadaan ayahnya, Chanyeol merasa bersalah dan prihatin. Ia tidak bisa melihat ayahnya lebih jauh lagi. Chanyeol segera membalikkan badannya, berjalan meraih pintu kamarnya dengan wajah yang tidak jauh berbeda dengan ayahnya tadi. Chanyeol berjalan menuju kasur terbaiknya. Ia merabahkan seluruh tubuhnya di atas kasur itu. Chanyeol mengusap wajahnya kasar dan sedikit menggeram, melepas rasa stresnya meskipun hanya sedikit.

Chanyeol melepas jaketnya sembarang. Ia tak ada perasaan untuk sekedar membersihkan dirinya. Yang mengisi tubuh dan fikirannya hanya rasa lelah yang hanya bisa diselesaikan dengan istirahat. Ya, istirahat adalah hal terbaik bagi Chanyeol sekarang.

**A**

Chanyeol’s POV

Sesuatu di balik tirai yang menyilaukan itu membuatku terbangun dari tidur singkatku. Ya, malam kemarin walaupun aku memjamkan mataku, itu tak membuatku terlelap tidur. Terlalu banyak hal yang harus ku fikirkan, yang membuat ku terjaga sepanjang malam.

Aku mengangkat beban tubuhku paksa dan berjalan menuju kamar mandi yang terhalang oleh satu pintu dan masuk ke dalam untuk membersihkan diri. Semalam saat aku terjaga aku banyak berfikir dan menimbang-nimbang apa hal terbaik untuk diriku dan orang-orang di sekitarku. “Ya, mungkin itu yang terbaik untukku saat ini” aku bergumam di sela-sela kegiatanku membersihkan diri.

Saat selesai – mandi. Aku memakai kemeja tak lupa jas yang melekat pas dengan tubuhku. Aku keluar dari ruanganku dan menuruni tangga menuju meja makan. Di sana sudah ada ayah, dan kakak perempuanku – Park Yura yang duduk di tempatnya. Aku pun duduk di sebelah Yura. Dan tak lama kemudian ibu muncul dengan sepanci sup di tangannya dan meletakannya di tengah meja.

Walaupun ada pembantu rumah tangga yang tugasnya mengerjakan semua pekerjaan rumah tangga di rumah, tapi ibu tak ingin menyerahkan masalah dapur pada Ahjumma. Saat itu juga ibu bergabung dengan kami dan duduk di satu meja yang sama. Sarapan dilalui tanpa ada di antara kami yang mengeluarkan suara. Hanya suara dentingan sendok dengan piring yang saling beradu.

Aku memberanikan diri untuk berbicara di tengan kegiatan – sarapan kami. “Appa, aku setuju dengan pernikahan itu”. Saat kata-kata itu terucap, ketiga orang – Ayah, Ibu, dan Yura menghentikan kegiatan sarapannya sejenak.

“Chanyeol-ah, apa kamu serius?” seru ibu penasaran.

“Emm”. Aku berusaha mengeluarkan senyuman terbaikku pada ibu dan ayah.

“Kamu memilih keputusan yang baik Chanyeol-ah. Terima kasih.” Ibu menatapku penuh kasih sayang.

Aku hanya membalasnya dengan senyuman yang dibuat-buat. Aku menunggu reaksi ayah, yang sudah memerintahkan aku untuk melakukan ini.

Ayahku membuka kata-katanya “(mendehem) Keurae, Chanyeol-ah terima kasih atas keputusan kamu beri. Dan maafkan ayah yang mencampuri kehidupan pribadimu dengan perusahaan”.

Aku menundukan kepalaku setelah mendengan kalimat terakhir ayah. Aku tahu maksud ayah, ayah yang tahu sebaik apa hubunganku dengan Ahrin, dan ayah merasa bersalah telah menghapus kebahagiaan ku karena dirinya.

Dan aku baru sadar, orang disebelahku belum bergeming dari lamunannya. Aku menatapnya bingung “Noona, kau kenapa?”

Yura terlihat kaget dengan pertanyaanku.”Eoh?” masih dengan wajah kagetnya. Setelah beberapa saat Yura pun akhirnya tenang dan melanjutka pertanyaannya. “Appa, apa dia akan menikah secepat itu?”

“Iya” ucap ayah yang mulai melanjutkan sarapannya.

“Kenapa secepat itu. Itu artinya Chanyeol akan mendahuluiku. Padahal aku tidak ingin berpisah dengan adik manisku secepat ini”

“Sudahlah Noona, aku tahu Noona tidak ingin didahului – menikah oleh adikmu ini, karena kau belum menemukan lelaki yang cocok dengan denganmu, kan?” godaku.

Bagaikan orang tertangkap sedang berbohong, Yura menjawab gelagapan “B..Bagaimana kau bisa tahu isi fikiranku?” sekarang wajanya sudah memerah.

“Itu sudah tertulis di wajahmu, kak.” Aku tertawa hambar. “Jika saja anak dari investor itu pria, aku akan menyelamati kakak secepatnya.” Sindirku seraya menundukan kepalaku dan melanjutkan sarapan dengan keadaan yang hening kembali.

**A**

            Setelah menyelesaikan sarapanku, aku berpamitan pada ayah dan ibu. Kakakku yang tidak ada jadwal airing – kakakku bekerja sebagai penyiar berita di salah satu stasiun teve di Seoul memutuskan untuk tinggal di rumah dan membantu ibu mempersiapkan pernikahanku.

“Kenapa secepat ini?” gumamku pada diri sendiri saat masuk ke dalam mobil mewahnya. Aku masih belum bisa menerima kebenaran bahwa aku akan berpisah dengan Ahrin – secepat ini. Ku lajukan mobilku keluar dari kawasan rumah.

Aku melakukan pekerjaanku seperti biasa. Walaupun sebenarnya otakku tidak benar-benar bekerja karena berbagai masalah yang ku hadapi saat ini. Di tengah pekerjaanku aku menyempatkan diri untuk menghubungi Ahrin. Sambungan telepon ku sambungkan pada nomor Ahrin.

“Ahrin? Kamu sedang ada dimana sekarang?” aku langsung berbicara saat orang di seberang sana menerima panggilannku.

“Aku, sekarang aku sedang berada di cafe tempatku bekerja. Wae?”

“Ah, tidak. Aku hanya ingin menghubungimu saja” aku tertawa pada handphone yang ku genggam sekarang.

Terdengar, Ahrin juga tertawa. “Kenapa kamu begitu cepat merindukannku Chanyeol-ssi?” candanya, yang terdengar begitu manis untuk didengar.

Tawaku terdengar untuk yang kedua kalinya. “Begitulah, kamu tahu sendiri kan. Sehari saja aku tidak mendengar suaramu, aku merasa begitu kesepian.

Tak ada respon dari alat yang ku genggam saat ini. Aku memastikan sambungan. Dan saat melihatnya, nomornya masih tersambung. “Ahrin-ah? Kamu masih di sana?”

“Em, Chanyeol-ah”. Ahrin kembali diam. Setelah beberapa saat, Ahrim membuka suaranya kembali “Chanyeol-ah, kamu tidak boleh kesepian walaupun kamu tidak bisa mendengar suaraku. Aku akan selalu berada di hatimu, kan?”

“Tentu saja Chagi. Ada apa denganmu? Mengapa kamu mengatakan hal aneh seperti itu?” aku merasa bingung dan tidak mengerti apa yang sedang Ahrin bicarakan.

“Haha, tidak, tidak lupakan saja. Aku hanya meracau tadi. Jangan dipikirkan ucapanku tadi Chagi.” Terdengar tawa hambar yang keluar dari mulut Ahrin. “Chanyeol-ah, nanti aku menghubungimu lagi. Bos-ku akan datang sebentar lagi. Annyeong!” dengan cepat aku Ahrin memutuskan sambunganku.

Sebenarnya aku sedikit kecewa, karena aku tak bisa berbicara berlama-lama dengan Ahrin. Mungkin Ahrin sedang sibuk sekarang. Ahrin memang wanita pekerja keras. Ia bekerja di sela-sela waktu kuliahnya untuk mencukupi kehidupan dirinya sendiri. Ayahnya meninggal 1 tahun yang lalu, dan ibunya sudah tiada sejak Ahrin masih di SMA.

Pernah aku melarangnya untuk bekerja dan fokus pada kuliahnya saja. Dan masalah biaya hidup, aku bisa menanggungnya. Tapi, Ahrin menolak. Ia tidak ingin aku terbebani karenanya. Aku hanya bisa pasrah. Aku tidak bisa menghalangi Ahrin melakukan hal yang ia kehendaki.

Aku terbangun dari lamunanku karena hanphone yang sedang ku genggam mengeluarkan suara yang cukup nyaring untuk membangunkan orang yang sedang terlelap. Aku menatap layar handphone, yang menampilkan nama ‘ayah’. Lalu aku menjawab panggilan ayah. “Yeoboseyo. Appa? Ada apa?”

“Chanyeol-ah, ayah sudah berbicara pada investor itu.”

“Benarkan?”

“Ah ya dia bernama Go Sangjun. Besok ia mengajak kamu dan ayah untuk makan siang bersama, bagaimana? Kau ada waktu?”

“Baiklah aku akan menghadirinya, yah!”

Keurae, besok ayah tunggu di restoran xxx”

“Ne”.

Ahrin’s POV

Setelah memutuskan sambungan hanphone dengan Chanyeol, aku merutuki diriku karena mengatakan hal yang begitu aneh. Mengapa aku bisa mengatakan hal yang tak masuk akal itu pada Chanyeol. Bodoh! Semua itu karena mimpi buruknya semalam tentang Chanyeol yang terus berputar layaknya sebuah film pendek di kepalaku. Dalam mimpi itu, aku sedang berada di sungai Han. Kejadian itu sangat mirip kencannya kemarin. Tetapi yang berbeda adalah, saat kami menyelesaikan acara taut menautkan bibir kami. Raut wajah Chanyeol berubah menjadi sedih. Padahal sebelum itu ia tersenyum bahagia kepadaku.

            Raut sedih Chanyeol masih terlukis di wajahnya. Tiba-tiba di depan kami sudah ada seorang wanita cantik yang memanggil-manggil nama Chanyeol. Lalu Chanyeol menolehkan wajahnya dariku. Chanyeol menghampiri wanita itu, kemudian pergi menjauh dariku dengan wajah yang semakin memburuk.

            “Ya tuan, apa yang akan anda pesan? 2 Caramel Macciato. Baiklah silahkan menunggu sebentar, tuan.”

Aku kaget Mina tiba-tiba menggeser tubuhku dan berbicara dengan Ahjussi di depanku. “Mina-ya, ada apa?” tanyaku polos.

“Omo, apa yang sedang kamu pikirkan tadi Ahrin? Sampai kau tidak mendengar pelanggan yang ada di hadapanmu tadi?” sembur Mina, teman sekaligus pekerja di Cafe tempatku bekerja.

“Benarkah?” aku malu sekaligus tidak percaya dengan apa yang terjadi padaku. Aku tak percaya mimpi itu bisa mengganggu fikiranku sampai sejauh ini. “Mianhae, Mina-ya.”

Hyeji’s POV

Aku sedang berada di ruang apartemenku, tepatnya sedang duduk di sebuah sofa dan sibuk dengan kuku kakiku yang sedang kuberi cat. Aku menghidupkan teve tanpa kulirik sedikitpun.

Saat aku sibuk dengan kegiatanku – mencat kuku. Appa menelponku. Aku menjawab dengan nada malas. “Yeoboseyo”

“Hyeji-ah, ayah sudah menemukan calon suami untukmu.” Ucap ayah tegas.

“Benarkah? Selamat ayah”. Aku tertawa tanpa niat.

“Apa selamat? Bukannya kau yang harus aku selamati? Seharusnya kamu berterima kasih pada ayah yang sudah repot-repot mencarikan calon suami mu.” Amarah mulai naik karena tawa hambar-ku yang menggambarkan ketidaksopanan ku pada ayah.

“Oh, ayah repot ya? Padahal ayah tidak usah repot-repot. Toh aku tidak meminta bantuan ayah mencarikan seorang pria yang bisa kunikahi. Aku bisa mencarinya sendiri!” nada bicaraku juga naik karena ayah yang menyalahkanku karena ayah merasa direpotkan olehku. Padahal aku tidak pernah menyuruh Appa untuk repot dengan masalahku.

“YA! Tutup mulutmu, Hyeji! Kamu bisa mencarinya sendiri? Siapa? Seorang bajingan bernama Woobin itu, hah?” sekarang kemarahan ayah sudah dipuncak. “Aku tidak akan menikahkanmu dengan bajingan yang tidak bermoral itu. Apa yang bisa ia janjikan untuk masa depanmu?! Sudahlah! Ayah tak ingin memperpanjang masalah ini. Pokoknya besok kamu harus datang. Nanti akan ayah kirim mobil untuk menjemputmu.” Dengan terengah-engah ayah menambahkan. “Jangan coba-coba untuk kabur!” tanpa menunggu jawabanku, ayah langsung memutuskan sambungan.

Aku meringis mendengar berbagai ancaman yang dilontarkan ayah. Bagaimana aku bisa kabur, karena setiap kali aku mencobanya. Pasti orang suruhan ayah sudah menemukanku. Ayah adalah orang yang menakutkan menurutku.

Jika bukan karena keadaanku sekarang, aku tidak akan pernah mau menuruti permintaan ayah. Dan sekarang aku tidak bisa apa-apa lagi selain menurutinya.

**A**

Author’s POV

Keesokan harinya, Chanyeol bersiap untuk menemui ‘calon mertua’ nya. Meskipun begitu, Chanyeol masih menyempatkan dirinya untuk bekerja di pagi hari karena pekerjaannya yang kemarin banyak yang belum selesai.

Akhirnya, waktu makan siangpun tiba. Chanyeol segera melajukan mobilnya ke tempat yang ayahnya janjikan padanya. Tibanya Chanyeol di restoran, ia menanyakan tempat atas nama ayahnya. Sang pelayan memeriksa daftar tamu dan segera menunjukan tempat tertutup ala jepang. Pelayan itu membukakan pintu dan mempersilahkan Chanyeol masuk. Chanyeol melihat ayahnya duduk dengan tenang di kursinya. Chanyeol merasa bingung, kenapa ayah memesan tempat semahal dan tertutup seperti ini hanya untuk makan siang? Chanyeol masuk dan bertanya pada ayahnya “Ayah, aku kira kita akan makan di tempat terbuka biasa? Mengapa kita memesan tempat VIP seperti ini?”

“Nanti juga kamu akan mengerti, Chanyeol-ah.” Ayah Chanyeol tak menjawab dan malah menggantungkan jawabannya.

Setelah 10 menit menunggu, pintu ruangan itu terbuka. Dan masuklah seorang pria paruh baya yang kira-kira berumur 50 tahunan. Yang diketahui Chanyeol bernama Go Sangjun. Ayah Chanyeol dan Chanyeol segera berdiri memberi hormat dan saling menjabat tangan satu sama lain. Saat mereka  sedang berbasa-basi dengan saling mengenalkan putra-putrinya. Chanyeol tersadar, ada seorang wanita yang masuk mengikuti tuan Go Sangjun.

‘dia pasti purtinya’ ucap Chanyeol dalam hati.

“Eo? Dia kan..”

TBC

35 tanggapan untuk “What Should I do, I Love You (Chapter 1)”

  1. kyaaa>< ada ff Chanyeol seru bgt.. 😀
    hadeehh,konfliknyaa seruu bgt,jd penasaran sm kelanjutannya deh.. :))
    daebakk! 😀

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s