[EXOFFI EVENT 50K] I’ve Been Hurt – Anhhi P

[EXOFFI EVENT 50K] I’ve Been Hurt – Anhhi P

Cast :
Kim Joon Myeon (Suho EXO)
Xi Luhan (Luhan EXO)
Bae Joo Hyun (Irene Red Velvet)
Genre : Romance, Drama, Angst
Rating : G

Suho’s POV

Kau pernah sangat terluka karena kepergian seseorang?

“Hentikan!!!”
Mata gadis itu menatapku, terlihat terkejut karena ucapanku barusan. Tatapan itu, aku sangat benci tatapan itu. Menyuguhkan sebuah kenangan lama. Mengingatkanku dengan keras tentang kepergian seseorang untuk selamanya.

“Aku sudah bilang kan?”, suaraku bergetar, “Jangan mendekat. Harus berapa kali aku bilang? Jangan mendekat!!!”

“Tapi…”, ia terlihat sangat hati-hati memilih kata, “Aku…hanya ingin membantumu…”

Aku berusaha mengatur nafasku yang berantakan. Sesak. Berat. Seperti ada beban yang menahan paru-paruku. Suho, puluhan tahun hidup dengan asma, kapan kamu bisa mengendalikannya? Aku mengambil nafas beberapa kali sebelum mendesis, “Aku nggak butuh, dan nggak akan butuh bantuanmu”
Dari balik helaian rambut yang menutup mataku, di tengah pandanganku yang sedikit kabur, aku bisa melihat rona terluka di wajahnya. Di wajahnya yang selalu lembut menatapku. Sudah berapa kali aku menghapus senyum di wajah itu?

“Pergilah”

Satu kata singkat dariku membuat gadis itu menarik tangannya yang selalu siap membantuku.

Kehadiranmu di hadapanku tidak membantu apa-apa. Sungguh. Sebaiknya kamu pergi sebelum aku melukaimu lebih jauh lagi.

“KUBILANG PERGI DARI SINI!!!!”

***

Aku menghirup dalam-dalam oksigen dari inhaler di tanganku. Rasanya seperti melepas tali yang mengikat paru-paruku. Aku mengambil nafas berkali-kali, membiarkan udara segar memenuhi tubuhku, melepas semua sesak dan sakit yang kurasakan.

“Kau baik-baik saja?”

“Ya”, ujarku lirih, “Makasih”
Entah gimana jadinya kalau Luhan, teman baikku, tidak buru-buru datang setelah tahu asmaku kambuh.

“Sudah tahu punya asma, kemana-mana bawa inhaler dong!!”
Aku menunduk, memperhatikan rumput di sebelah sepatuku.
Dia benar. Sebagai seseorang yang terlahir dengan asma, seharusnya aku membawa alat bantu pernafasan kemanapun aku pergi. Sehingga aku tidak menyusahkan orang lain jika kambuh seperti sekarang. Tapi aku tak melakukannya. Aku pernah punya seseorang yang selalu membawakan inhaler untukku. Dan kini seseorang itu telah tiada.

“Bawa obatmu kan?”, Luhan membuka ranselku dan mengaduk-aduk isinya. Ia mengeluarkan plastik dengan beberapa obat di dalamnya.

“Yang mana? Yang putih ini—tunggu. Apa ini?”, ia membaca sekali lagi tulisan di atas plastik. “Obat anti depresi??”

“Iya”, jawabku enteng.
Luhan menatapku seakan aku gila. Tidak, mungkin aku memang sudah gila. “Kau ke psikiater? Sudah dua tahun, Suho. Kau masih belum merelakan kepergian—”

“DIAM!!!”

Aku menatap Luhan yang terkejut. Aku sendiri juga kaget karena tiba-tiba membentak, tapi aku benci. Aku benci kalau Luhan atau orang lain membahas dia yang sudah meninggalkanku.

“Kenapa kau harus mengingatkan aku soal itu? Setiap hari aku ingat. Setiap hari aku dipaksa untuk ingat. Jangan sekalipun kau sebut namanya di depanku. Itu sangat melukaiku. Ia sudah tiada. Sudah cukup aku tersiksa karena teringat setiap hari, sekarang aku masih juga harus mendengarnya darimu? Cukup! Biarkan aku sendiri!!!”

Aku memutar badanku, siap pergi dari tempat ini.

“Kau masih jahat pada Irene, iya kan??”

Aku diam. Langkahku berhenti mendengar nama itu.

“Harus berapa kali aku bilang, Irene tidak ada hubungannya dengan kecelakaan itu!!”

“Dan harus berapa kali aku bilang, ini bukan urusanmu! Jangan ikut campur!!”
Luhan tertawa tidak percaya. “Sebenarnya kau ini siapa? Kau bukan lagi Suho yang kukenal”
Ya, aku ini siapa? Jangankan kamu, Luhan. Aku pun tidak lagi mengenal diriku sendiri setelah kepergian kekasihku. Aku yang sekarang jahat sekali. Aku yang sekarang tega membentak bahkan mengusir seorang gadis yang ingin membantuku. Aku yang sekarang bukan lagi diriku sendiri.

“Kalau memang kau tidak suka dengan Irene, katakan saja padanya. Jangan malah kau lampiaskan pada dia yang jelas tak tahu apa-apa! Pengecut!!”, Luhan menutup pembicaraan kami dengan makian. Tanpa menunggu balasanku, ia langsung pergi meninggalkanku.

***

Ucapan Luhan berbekas dalam pikiranku. Aku terus membayangkannya. Irene gadis yang sangat baik, itu benar. Ia dikenalkan orangtuaku yang khawatir melihatku nyaris gila setelah kepergian kekasihku dua tahun yang lalu. Ia baik tapi seujung jari pun aku tak merasa bisa menyukainya.
Memang benar selama ini aku selalu melampiaskan kesedihanku pada Irene. Padahal sudah jelas dia tidak ada hubungannya dengan kecelakaan yang menimpa kekasihku. Irene yang baik, yang tidak pernah membalas satupun ucapan kasarku, yang hanya selalu menatapku dengan tatapannya yang sendu.

“Suho”

Perlahan aku membuka mata. Di depanku berdiri Irene, entah sejak kapan, memandangku seperti biasa. Lembut. Khawatir. Seperti seorang ibu pada anaknya. “Kenapa? Kamu baik-baik saja?”

Siapapun pasti curiga melihatku duduk sendirian di bawah pohon dengan mata terpejam seakan siap bunuh diri. Tapi dari semua orang, kenapa harus Irene yang menegurku? Aku menatapnya tajam. “Ada yang ingin kukatakan padamu”

“Apa—”

“Aku minta mulai sekarang jangan pernah muncul di hadapanku”
Irene diam. Bukan karena kusela, tapi karena ucapanku barusan.

“Aku akan jujur padamu. Kehadiranmu benar-benar menggangguku. Aku sangat benci melihatmu bahkan hanya dengan mendengar namamu. Aku muak. Aku tak peduli apa yang orangtuaku katakan padamu. Jangan pernah menyapaku, menyebut namaku, atau bahkan terlihat di sekitarku”
Irene tidak mengatakan apa-apa. Tapi kini setetes air mata perlahan menuruni pipinya. Kau baik, Irene. Kau sangat baik. Dosa apa kamu sampai harus diperlakukan seperti ini oleh pria sepertiku? Tidak, kau tidak salah apa-apa.

“Aku hanya ingin membantumu, Suho…”, ucapnya perlahan dengan suara bergetar.

“Apa pernah aku minta bantuanmu? Kamu sama sekali tidak membantu apa-apa. Kalau memang ingin membantuku, maka lakukan yang kuminta. Jangan pernah muncul lagi di depanku. Pergilah, Irene. Pergi. Kumohon”

“…baiklah”, Irene memaksakan senyum di wajahnya, “Maafkan aku”
Tanpa mengatakan apapun lagi ia berjalan pergi. Mataku tak lepas mengikutinya hingga ia tak terlihat lagi. Ya, benar. Lakukan seperti itu, Irene. Tinggalkan saja aku sendirian dan jangan pernah menoleh lagi. Kau tak sepantasnya terluka karena orang sepertiku.

Irene yang baik. Kamu bisa mendapatkan pria lain daripada aku. Yang memperlakukanmu dengan lembut, tidak dengan bentakan. Yang mencintaimu, bukan malah membencimu. Jangan terbebani dengan apapun perkataan orangtuaku. Pergilah.
Aku memejamkan mataku. Berharap apa yang kulakukan ini benar. Aku tak tega melihat Irene terluka karena diriku setiap hari. Lebih baik aku jahat. Lebih baik ia mengingatku sebagai pria tak berhati sekalian. Sebelum aku menyakitinya semakin jauh lagi.

Kau pernah sangat terluka karena kepergian seseorang?
Ya, aku pernah.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s