[EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 1)

cymera_20160723_094653

 

Title | Let Me In  [Sequel Hold Me Tight]

Author | RahayK

Lead Cast |Byun Baekhyun x Baekhyun / Dellion Foster

Yoon So hee  x Baek Eun Ha

Irene Bae  x   Park Ae Ri

Song Yun Hyeong  x  Yun Hyeong

Kim Jong In  x   Kai Kim

Support Cast | Kim Dahyun  x   Dahyun

Wang Jackson  x  Jackson

Length |Chapter -Sequel

Genre | AU x Dark x Drama x Friendship x Sad x Bromance x Marriage -Life  x Revenge

Disclaimer |

Poster | RahayK Poster

 

Summary  this  Chapter |

Sequel of Hold Me Tight~~

Ketetapan diputuskan, ketukan tiga kali  itu terdengar menggema memenuhi ruangan yang hanya terdiri dari beberapa manusia yang begitu mengerti dengan apa yang namanya hukum.

Dua manusia itu menghela nafasnya berat, tak ada yang saling beradu tatap, walau keduanya telah sama-sama usai menyelesaikan permasalahan mereka, hanya salah satu darinya yang bangkit, kemudian berlalu keluar ruang sidang.

Yang lain masih ditempat yang sama, menundukkan kepala dalam,tanpa seorang yang tahu ia menjatuhkan likuid bening dari dua panca inderanya dalam diam,dadanya begitu sesak hingga bernafas saja rasanya sulit, hatinya seperti habis dikoyak-koyak hingga hancur.

 

Setelah derap langkah yang beradu dengan porselen tak terdengar lagi, ia baru berjalan keluar dari ruang yang begitu besar itu.

Ia bertanya dalam kalbu, kiranya hanya dirinya dan Tuhan yang tahu.

Apa keputusan yang sekarang sudah tepat?

Apa tak dapat lagi, tangan itu menggenggam tangannya ketika ia letih dan terjatuh

Seberapa besar kekecewaan dan sakit yang orang itu rasa hingga keyakinannya begitu bulat untuk mengambil keputusan ini

 

Dirinya masih ingat, bagaimana terakhir kali mereka beradu tatap. Tatapannya begitu kecewa, dan kini dirinya sendiri begitu menyedihkan.

 

“Ini tidak benar, Ae Ri..”

“Menurutmu ini tidak benar, lalu sampai kapan?Aku lelah denganmu.”

“Bukan seperti ini penyelesaian masalahnya. Tetap tinggal disisiku, genggamlah tangan ini..”

“Jika melepas genggaman tanganmu adalah pilihan yang terbaik, Apa yang akan kau lakukan?—apa kau bisa untuk tidak membuat semua ini jadi tak sesulit sekarang?apa kau bisa mengembalikan Joo Eun padaku?Apa kau bisa mengembalikan waktu dimana kau seharusnya memanggilku untuk datang ke rumah sakit lebih cepat?–huh?!Lihat!kau tidak bisa ‘kan?”

“…sampai kapan aku harus menderita karenamu?–”

 

Kala itu, pada semilir angin musim gugur pertama dibawah hujan lebat dia pergi meninggalkan apa yang ada dibelakangnya. Ia melepas genggaman tangan lain yang seharusnya dikuatkan, yang seharusnya bisa saling membangkitkan diri dari keterpurukan.

Ini memang mimpi buruk untuk mereka.

Namun, jika akhir dari mereka harus seperti ini sungguh tidak benar.

Mengapa harus perpisahan? Mengapa harus seperti itu?

Lelaki itu berpikir bahwa tak mungkin akhirnya jadi seperti ini.

Mengapa Tuhan menguji dirinya tanpa henti, seakan-akan hanya dirinya mahluk yang paling menderita tanpa tahu orang lain juga mengalami hal yang sama walau tak diwaktu yang sama.

 

Dan, kemana ia harus berkeluh kesah?

Minum?Itu bukan waktu yang tepat untuk melakukan hal seperti itu.

Ia benar-benar putus asa, tak hentinya nafas frustasi keluar dari sistem pernafasannya.

Ia bukan orang religius ketika merasa putus asa akan berdo’a pada Tuhannya.

Ia hanya berfikir sejenak, ditengah langkahnya tanpa tujuan, kemudian netranya menerawang langit yang tampak mendung.

Lalu, hanya mencoba mengukir senyum walau itu hanyalah senyum palsu.

“Ayah merindukanmu, rindu padamu sangat-sangat–Joo eun-i”

<><><>

Lagi, ia hanya memandang foto puteri kesayangannya dalam sebuah lemari kaca, begitu manis dan lucu. Ia mengingat bagaimana sulitnya terjaga saat tengah malam disaat ia harus terlelap–dan saat itu keadaan benar-benar sulit.

Meski begitu, kala itu ia dapat begitu mudahnya menyunggingkan sebuah senyum bahagia tanpa beban.

Setidaknya, ia dapat melupakan masalahnya sementara waktu karena sibuk mengurusi putri kecilnya yang menangis dengan banyak alasan diumurnya yang masih sangat kecil.

Bersama seorang lain, yang adalah ibu dari Joo Eun.

Mereka telah menjadi orang tua disaat umur mereka masih muda.

Namun, mereka telah yakin karena keduanya mempunyai komitmen kala itu.

“Maafkan Appa–jika semua ini terjadi karena kesalahanku putriku..aku mohon jangan membenci Appa.”

“…seandainya kau tidak sakit, seharusnya aku pulang pada malam itu.. semuanya tidak akan menjadi sesulit ini..sepertinya, ini benar-benar salah Appa, keuchi –Joo Eun -i’

 

Entah siapa yang mendengar keluh kesahnya, hanya saja ia merasa lega. Netranya terpejam, kembali mengingat ulang apa yang terjadi tepat sebelum hari ini, di dua musim sebelumnya.

Ia mengukir senyum yang seharus tak terukir sekarang.

Apa sekarang ia harus menjadi manusia pokerface?

Kemudian ia mengusap wajahnya hari ini begitu muram untuknya, bagaimana hari esok, minggu depan bahkan musim berikutnya?

 

Pepatah bilang, Ada pelangi setelah badai.

 

Benar. Setidaknya, lelaki itu harus mengakhiri semuanya hari ini.

Begitu sebuah benda persegi panjang bergetar tak henti dibalik saku celananya. Ia segera mengeluarkannya dan mulai membuka dirinya untuk orang lain.

–Incomming Calls–

잭 손 이

“Halo?Kau ada dimana–Hyung?” ia sudah bersuara bahkan sang penerima telpon baru menarik nafas.

“Bersama Joo Eun..jangan coba-coba kesini.” tukasnya dengan nada candaan, namun tidak dengan ekspresi wajahnya.

“Tapi kau baik-baik saja ‘kan?” tanya si penelpon meyakinkan.

“hmm,jangan cemas.Aku masih ingin hidup asal kau tahu saja.” ia kembali terkekeh, ia merasa benar-benar bermuka dua sekarang.

‘Ya!berikan padaku, aku ingin bicara.’ suara lain terdengar diseberang, mendengar itu lelaki itu hanya menggeleng dan berjalan keluar dari rumah abu.

“Hyung, Da Hyun ingin bicara..”

“Baekhyun Oppa~kau tidak salah–jangan merasa seperti itu.Ini adalah keputusan dia. Soal Joo Eun, jangan merasa bersalah juga–pokoknya temui kami jika kau sudah merasa baikkan.”

Baekhyun terdiam sejenak, bahkan disaat ini masih ada orang yang benar-benar perduli padanya, keputusannya benar, Ia harus hidup. Setidaknya harus lebih baik dari sekarang.

“Ng, baiklah..” sahutnya singkat dan kembali berjalan.

“Hyung–jangan berbuat macam-macam!kau bisa membalas–‘ omongan Jackson terpotong begitu saja,sepertinya terjadi perebutan ponsel antara Dahyun dan Jackson.

“Tentu saja bodoh.Omong -omong, aku akan ke sungai Han sejenak.” jawab Baekhyun terkekeh.

‘Apa sih yang kau katakan!matikan!Oppa,baterainya habis nanti kita bicara lagi.’

Sambungan terputus dari seberang sana. Tentu, itu bukan Jackson yang memutus tapi Dahyun.

Setelah itu, ia memutuskan untuk mematikan ponselnya.

<><><>

Gadis itu hanya melangkah dengan gontai begitu ia usai melihat hasil ujiannya yang sebaris kertas bertabel dengan no. peserta ujian dan nilai yang tertera yang bertengger bisu di papan pengumuman.

“Ya Tuhan, jika dulu kau memberi takdir untuk memiliki umur pendek —bisakah aku mati sekarang saja?”

Ia berdecak dan berkeluh kesah sendiri, tak perduli pada siapa yang mendengarnya, bagaimana statusnya, itulah yang membuat gadis itu merasakan kepenatan yang amat sangat membuatnya frustasi.

Intinya, ini bukanlah tempatnya harus berada.

Keadaan yang membuatnya begini.

Tak lama, terdengar sebuah getar halus dari kantong seragamnya. Sebuah panggilan masuk dengan nama seseorang yang nama belakangnya berbeda dengannya. Namun, karena wanita itu, gadis itu bisa berada di dunia.

Ia ragu, bertanya dalam kalbunya, haruskah ia menggeser tombol hijau itu dan mendengarkan ambisinya yang membuat hidupnya harus memikul beban yang sangat mengganggu itu, atau — haruskah ia abaikan apa yang terjadi sekarang dan memilih tempat untuk melaksanakan pesta untuk menjamu malaikat maut mencabut nyawanya?

Getarannya tak terdengar lagi selang beberapa detik. Gadis itu hanya membuang nafasnya kasar, ia sungguh benci dengan apa yang ada disekitarnya —bukan ia membenci alam atau mahluk hidup seperti hewan dan tumbuhan. Ia hanya membenci para manusia. Hanya manusia. Meski begitu, bukan berarti ia menganggap dirinya sendiri bukan manusia, ia hanya tak mengerti dengan dirinya sendiri, sebagai seseorang yang berjiwa yang ada dalam tubuh seorang gadis berambut hitam pucat dan mata yang sederhana tanpa ada daya tarik sedikitpun dengan apa yang namanya hidup dan bernama Baek Eun Ha ia hanya merasa kalau hidupnya 18 tahun ini hanyalah kesia -siaan belaka.

 

Sama sekali tak berguna.

Getar itu kembali terdengar, ia menghentikkan langkah gontainya dan menggeser tombol virtual hijau dengan cepat ia menempelkan benda itu ditelinganya.

Ia bersumpah, kali ini biarkan ia juga bersuara agar —wanita diseberang sana mengerti, bertapa lara hidupnya selama ini.

“Hei!Eun Ha.Apa kau disana?”

Gadis itu hanya menjawabnya dengan deheman. Ia hanya berjalan menuju tempat sepi, dimana tak ada seorangpun yang menatapnya dengan cara hina.

“Kau benar -benar anak kurang ajar! Dengar. kalau kau pulang dengan nilai yang sama –aku akan menghabisimu. Tidak. Jangan pulang sampai nilaimu memenuhi keinginanku.Mengerti!?”

Wanita itu berteriak -teriak, gadis itu sudah sangat -sangat biasa mendengarnya.Bahkan, yang ia harap agar gendang telinganya pecah saja sekalian dari pada harus mendengarkan suara wanita itu. Memuakkan.

“Sama.Tak perduli sebaik apapun aku dalam pelajaran –ilmuku tak akan berarti apapun selama tidak ada uang. Untuk itu –jika kau ingin nilaiku seperti yang lain maka berikanlah uang -uang sialan itu pada guru kelasku, eomma!!”

Ia benci pada Ibunya, temannya, gurunya bahkan sekolah.Ia benci pada semuanya termasuk dirinya sendiri. Untunglah, ia mengumpat setelah ia menginjakkan kakinya 20 meter lebih diluar gerbang sekolah, jadi, siapa perduli?.

“Apa!Uang?!Kau bilang uang!?Kau juga tahu –aku tak perduli denganmu. Kau harus berhasil agar bisa menghidupi ibu dan adikmu. Kau tahu?!Hanya kau yang bisa ibu andalkan!Baek Eun Ha!”

Gadis itu hanya mengepal tangan kirinya begitu mendengar perkataan wanita itu, yang seharusnya tak pantas dikatakan oleh seseorang yang disebut Ibu. Bibirnya bergetar, lidahnya kelu untuk berkata, seberkas embun keluar dari mulutnya ketika ia menghela nafas.

Ia berlari sekencang -kencangnya, ia hanya mendengarkan wanita itu berteriak -teriak diseberang sana tanpa ada balasan darinya. Kali ini, ia rasa, dirinya benar -benar harus mati.

“Aku lelah!Cukup!” teriak gadis itu terisak.

Krak!

Benda itu terpisah menjadi beberapa bagian, kacanya retak parah, layarnya tak lagi menyala dan gadis itu hanya memandangnya dengan putus asa. Ia mengusap wajahnya perlahan, lalu menoleh kearah sungai yang membentang luas dimana cakrawala akan menunjukkan rona senjanya yang menakjubkan.

Apa ini adalah waktu yang tepat untuk mati?

 

Eun Ha berbisik dalam kalbunya. Semesta begitu indah dimusim gugur dengan angin semilir yang begitu menusuk tulang rusuk, benar -benar waktu yang tepat untuk melakukan hal -hal menyedihkan seperti perpisahan, minum ataupun —mati.

 

Setidaknya, disungaipun ia pasti akan mati karena hiportemia.

Tidak akan ada yang menolongnya. Walaupun ibu sekalipun. Dengan begini, tidak akan ada yang merasa tersakiti karena kehilangan. Lagi juga, siapa yang akan merasakan hal itu?

Tidak ada.

Gadis itu menaiki besi, dan berdiri diatasnya.

“Tuhan, tidak akan ada yang merasakan kehilangan ketika aku mati nanti. Jika hidupku masih panjang lalu aku akan mati juga –bukankah jika aku mati sekarang sama saja?

 

Tapi, aku mohon —semoga jika aku bereinkarnasi, orang itu —tidak akan memiliki hidup yang sama sepertiku.”

Gadis itu bergumam pelan dengan mata terpejam.Tidak ada yang ia dengar kecuali suara kendaraan yang jauh dari jangkauannya. Angin berhembus dan juga suara lain yang berada dalam ingatannya.

 

“Kau tidak bisa mati sekarang. Hidupmu itu masih panjang.”

Sebuah suara asing yang baru masuk ketelinganya membuat gadis itu menyentakkan kepala dan menoleh kearah orang itu berdiri.

“…sangat panjang.” imbuhnya lagi seraya menatap gadis itu dengan sendu dan mengulas sebuah senyum palsu yang samar.

 

Keduanya merasa sakit yang sama dengan sebab yang berbeda, dilangit senja pada musim gugur, dengan angin gugur yang bertiup dalam diam menjadi saksi bisu dari dua insan yang memendam rasa buruk bak iblis dalam kalbunya.

 

Bersambung •••

 

 

Iklan

17 pemikiran pada “[EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 1)

  1. Halloo. Udah update sampe 6 rupanya. Baca dari awal lagi deh,
    Bener banget baek, kau harus hidup untuk bertemu joo eun mu yang lain😉😉

  2. Ping balik: [EXOFFI FREELANCE] Let Me In (Chapter 6) | EXO FanFiction Indonesia

  3. Wahh kasian baekhyun kok aku sedih yah bacanya jadi kasian sama baekhyun kaya kebanyakan beban udah cerai ditinggalin putri nya lagi kan baekhyun jadi duda T T
    Aduh baekhyun kok komplit banget masalah lu emang orang ganteng banyak masalah yah thour

  4. Sukaaaaa banget sama ceritanya
    Baek eun ha sama baek hyun sama sama tersakiti
    Ceritanya bakal saling suka mereka?
    terus ae ri gimana?
    Lanjutt kak

    • well sengaja aku buat eunha masih anak sekolah karena bakal ada setting waktu berlalu cukup panjang, dan aku pengen buat sesekali kisah cinta beda umur yg agak jauh yaa hehehe

      tapi, bukan ngikutin goblin sih soalnya penulisan let me in udh dari bulan juli

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s