[EXOFFI EVENT 50K] – COMING OUT – GHOSTCHO_

[EXOFFI EVENT 50K] – COMING OUT – GHOSTCHO_

SEHUN, BEBERAPA MEMBER EXO, IRENE BAE
PSYCHO-FIC, THRILLER, ROMANCE

Ha Naeun (6), bocah kecil itu masih belum bisa ditemui akibat shock berat. Statusnya sebagai minor mempersulit kesaksian yang ditemukan di tempat kejadian perkara (tkp) mengenai penemuan mayat perempuan yang tergeletak begitu saja di semak-semak itu.
Miris. Ketika ditemukan, kondisinya sudah membusuk. Mungkin sudah ada di sana sekitar tiga hari. Darah kering kelihatan di bagian perut dan dada. Dipastikan telah mengenai organ vitalnya.

Tepat pukul 12 siang, Kapten Oh Sehun, sampai di tkp untuk memeriksa lokasi bersama timnya—Kim Jongin, Kim Jongdae dan Park Chanyeol (detektif) setelah mendatangi keluarga Ha. Naeun melewati salah satu peristiwa yang dapat membentuk traumatik bagi seorang anak. Melihat mayat dalam kondisi mengenaskan, mengingatkan Sehun akan kematian kedua orang tuanya ketika mereka dibunuh di depan matanya. Tidak banyak memori yang tersisa, hanya sepotong demi sepotong potret kisah buram yang kemungkinan sengaja dikubur. Jauh, begitu dalam. Tidak ingin diingatnya. Ingatan masa lalu singkat itu ditepisnya dalam perjalanan kembali ke markas kepolisian setelah forensik mengambil sampel-sampel penting, tidak lama setelahnya hasil menunjukkan bahwa luka tersebut jelas diakibatkan oleh tusukan benda tajam.

“Beda,” celetuk Jongin, “Polanya jelas berbeda. Pelakunya bukan orang yang sama, bukan? Meskipun cara mereka sama-sama bersih dan tidak meninggalkan jejak.”

“Pembunuhan Pak Jung minggu lalu jelas uang, tapi kematian Nona Yoon? Tidak menunjukkan adanya indikasi kearah sana,” timpal Jongdae.

Andong bukan kota besar, hampir seluruh kota saling mengenal satu sama lain meskipun mereka tidak benar-benar saling mengenal. Lantas siapa yang melakukan ini semua?
Kasus pembunuhan Nona Yoon menjadi viral lantaran hadir ditengah-tengah kasus Pak Jung yang bahkan belum tuntas karena keluarga menolak melakukan visum. Kasus ditarik begitu saja, tanpa ada kejelasan, kabarnya Mayor Suho Kim sendiri yang mencabutnya. Para anggota tahu persis adanya isu penggelapan dana yang mengekor dibelakang keputusan tersebut. Belum tenang, kasus serupa terjadi lagi, tentu semua pihak jadi gusar. Menyalahkan Sehun, kepala tim yang saat itu menangani kasus Pak Jung karena dianggap lalai membiarkan pelaku pembunuhan bebas berkeliling sesuka hati dan membuat masyarakat khawatir. Ketidakadilan belakangan menenggelamkannya. Ketika telah mencapai bagian terdalam, ia seakan lupa segalanya.
Laki-laki berparas menawan itu segera mengambil pena dan mencorat-coret di atas kertas yang ditarik dari meja kerja Jongdae. Ia menyodorkan sebilah skema, “Belum tentu. Bagaimana jika begini?” tanyanya.

Blown Up. Sebuah kereta kejadian yang tampak rapi dan masuk akal memaksa ketiga rekannya untuk setuju. Tidak ada pilihan yang kelihatannya tidak lebih gila dari skema laki-laki itu. Bagaimana bisa ia yang seperti ini bisa dikalahkan oleh Suho Kim pada saat kenaikan jabatan? Terjebak dengan Irene Bae yang tidak lain adalah mantan kekasih dari sang mayor, membuat posisinya semakin rumit.

Sehun yang berstatus sebagai ketua tim ini memang tanpa celah, pikir mereka. Tampan, berwibawa, dan penuh responsibilitas tinggi sampai bisa menemukan semua informasi tersebut dalam waktu yang singkat meskipun dibawah tekanan kasus penculikan kekasihnya sendiri. Ya, Irene diculik oleh orang yang sama. Informasi datang sejam setelah ia kembali ke markas.

“Sekarang, kita tidak memiliki banyak waktu. Kita harus bergerak dalam waktu singkat karena keselamatan Irene yang paling utama. Aku tidak tahu apa Irene hanya untuk menekanku atau—”

“KAMU PIKIR KAMU MASIH BISA MENANGANINYA SETELAH MELIBATKAN IRENE, BODOH?” Entah darimana Suho mendobrak pintu.

Apa kalian berpikir jika seorang polisi mendapati kekasihnya dalam keadaan genting lantas dia tidak panik? Tidak mungkin! Sehun-sangat-mengkhawatirkan-Irene. Sampai tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, namun ia harus mempertahakan pikiran jernihnya.

“BAGAIMANA BISA DIA JUGA MENCULIK IRENE??” teriak Suho, ia mencekram kerah Sehun.

Satu pukulan mendarat di wajah pucat pasi Sehun sejak ia menerima berita mengenai Irene. Sehun tidak melawan, ia tahu kurang lebih ia adalah alasan Irene menjadi target. Irene adalah orang terpenting bagi hidupnya dan jika ia kehilangan Irene untuk selama-lamanya bahkan tidak ada alasan baginya untuk bertahan hidup. Begitu pukulan itu tepat mengenai pelipisnya, tubuh Sehun jatuh menghantam lantai. Darah terciprat ke lantai. Dalam beberapa detik ia terbatuk. Jongin, Jongdae dan Chanyeol hendak membantu, namun langkah mereka terhenti ketika Sehun berbalik tajam menatap atasannya itu dengan bengis. Baku hantam tidak terelakkan. Pukulan bertubi-tubi ia lancarkan tanpa pengampunan bahkan setelah yang lainnya ikut merelaikan. Markas kacau, beginilah jika melibatkan problem hati.

“Who you think you’re beating me, brengsek!” bisik Sehun menyeka darah dari dahinya.

“Bodoh, seharusnya kita memeriksa video yang dikirim Nona Son!!” pekik Jongdae melerai keadaan.

Jongdae segera memasukkan data rekaman itu sementara yang lain melingkar dibelakangnya, tak terkecuali Suho. Mereka menonton video, menampilkan dua wanita muda yang sedang mengobrol satu sama lain. Keadaan tampak baik-baik pada awalnya, sampai mereka melihat seorang laki-laki mengenakan hoodie bertudung berdiri di ujung jalan tampak memerhatikan kafe. Sementara Irene dan Son Wendy keluar dari kafe. Mereka berpisah di ujung tempat parkir namun video masih dapat melihat dari angle yang tepat bahwa Irene diikuti.

Keempatnya merasa aneh karena muncul gejolak perasaan familiar pada gesture sosok tersebut walau dalam beberapa alasan yang kurang pasti, agak berbeda dari gaya orang yang mereka kenali itu biasanya.

“Bukannya itu kamu, Se—” ucapan Jongdae terputus. Mereka saling menatap, hanya ada empat orang, bukan berlima. Tidak ada Oh Sehun. Apakah tidak ada yang bilang kalau ia pulang sendiri dari tkp?

Rambut hitamnya acak-acakan. Luka di pelipis telah mengering. Ia berdiri di depan sebuah kaca besar, di dalam gedung yang kelihatan kumuh nan jelas tak terawat. Penglihatannya, meski buram tapi masih dapat menatap siapa yang duduk terikat di tengah-tengah tempat itu. Sehun menatap pantulan dirinya, tidak lagi mengenakan seragam kebanggaannya, melaikan dalam balutan hoodie berwarna hitam berlengan panjang.

“Ti-Tidak mungkin aku yang melakukan semua… ini?” monolognya frustrasi, menggenggam erat rambut-rambut kepalanya. Diiringi tangis Irene terdengar seperti backsound. Gadis itu menatapnya bengis, “Berhenti berpura-pura, Wilis! Kamu cuma alter ego dari masa lalu, Sehun. Dia harus mendapatkan tempatnya!”
Laki-laki itu berdiri tegak meninggalkan kepalsuannya, “How’d you know, sweetheart? Nona Son, ya?”

Dan bergantilah tatapan mengejek itu menjadi dua bola mata yang tajam, lurus menatap Irene di ujung sana, kemudian tersenyum tipis. “Kamu mencari Sehun?” ucapnya tenang, “He’s dead. Actually, i help him, tho. Maaf kalau caranya barbar tapi membunuh mereka juga menguntungkanku. Hei, aku punya harga diri ya daripada harus mengambil uang dari rekeningnya. Boy just wanna have fun.”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s