[#EXOFFIMVT2019] REWRITE – KIMHYORI

REWRITE

Namanya Lee Soo Bin. Wanita itu memiliki tahi lalat kecil di pipi kanannya. Bibirnya kecil dan tipis di bagian atas. Hidungnya mancung dan dia juga memiliki rahang yang indah. Bulu matanya lentik serta memiliki bola mata bulat yang indah dan bersinar seperti bintang Sirius. Wanita itu suka sekali dengan fotografi dan seni. Setelah dia keluar dari rumah sakit, dia suka sekali mendatangi bukit yang terletak tak jauh dari rumahnya.

Disana tenang dan anginnya tidak terlalu kencang. Ada satu pohon yang tumbuh dan menjulang tinggi. Daun-daunnya sangat lebat, hingga membuat tempat itu jadi lebih rindang. Terdapat sebuah aliran sungai dangkal yang arusnya tidak terlalu kencang. Airnya juga sangat jernih hingga membuat bebatuan di dasar terlihat sangat jelas.

Soo Bin masuk ke air yang tingginya hanya sebatas betisnya. Memotret ikan-ikan kecil yang tengah menggoyangkan ekornya di dalam air. Angin yang berembus menghempas surai hitamnya dan membuat rok yang dikenakannya tersingkap. Sontak, dia menangkup roknya hingga membuat kamera yang ada di genggamannya terjatuh ke air.

“Kameraku!” pekik Soo Bin dan langsung buru-buru menyambar kameranya yang terjatuh ke air. Dia berusaha menyeka kameranya dengan roknya. Dia coba menghidupkan, tetapi kamera itu sama sekali tak menunjukkan tanda-tanda kehidupan.

Wanita berusia dua puluh tujuh tahun itu melengkungkan bibirnya kebawah. Pasalnya, kamera itu adalah kamera kesayangannya dan baru saja di beli dengan uang tabungannya sendiri.

“Pakailah kameraku jika kau masih ingin memotret,” kata seorang pria yang tiba-tiba sudah berada di sampingnya sembari menyodorkan kamera dengan merk Leica di tangan kanannya.

Soo Bin terpaku. Bukan karena ketampanan sosok pria di sampingnya ini, melainkan kamera yang tengah disuguhkan padanya. Demi ombak ganas di Samudera Pasifik, dia ingin sekali membeli kamera ini. Tetapi, uang tabungannya tidak mencukupi sehingga dia mengurungkan niatnya dan membeli kamera yang jauh lebih murah.

Pria itu mengambil kamera Soo Bin yang sudah basah dan memberikan kameranya kepada Soo Bin. “Kameramu akan aku coba perbaiki. Mungkin membutuhkan waktu tiga hari atau bahkan bisa lebih cepat. Sementara, kau bisa memakai kameraku dulu,” ujarnya dengan senyuman yang merekah di belah bibirnya.

“Serius kau ingin meminjamiku kamera ini? Maksudku, ini kamera mahal dan kita baru saja bertemu. Apa kau tidak takut jika aku membawa lari kameramu? Bahkan kamera ini harganya empat kali lipat dibanding kamera milikku,” terang Soo Bin panjang lebar.

“Aku percaya padamu,” jawabnya.

“Atas dasar apa kau bisa semudah itu mem—“

“Kau cantik. Aku memercayaimu karena kau cantik.”

 

óóó

 

Sejak pertemuannya tadi sore dengan pria itu, Soo Bin merasa ada yang tidak beres dengan dirinya. Tiap kali dia mengingat pria itu, dia selalu merasa debaran hatinya membuncah. Seperti ada sengatan listrik yang merambat dalam dirinya.

“Bodoh sekali! Kenapa aku tidak menanyakan namanya! Lalu bagaimana aku mengembalikan kamera ini padanya?” seru Soo Bin merutuki dirinya sendiri.

Hingga tiba-tiba ponselnya berdenting, menandakan ada pesan masuk.Soo Bin meraih ponselnya di nakas dan mendapati notifikasi pesan dari nomor tidak dikenal.

            “Kameramu sudah selesai kuperbaiki, Lee Soo Bin-ssi. Bisakah kita bertemu besok sore di tempat yang tadi?”

            Tunggu. Soo Bin merasa tidak pernah memberikan nomornya pada pria tadi. Dia juga tidak merasa telah menyebutkan namanya. Karena, ketika pria itu mengatakan bahwa dirinya cantik, dia malah langsung berlari pergi. Dia merasa pipinya sangat memerah dan debaran jantungnya tidak berdetak dengan normal.

“Terimakasih sudah memperbaiki kameraku. Tapi, darimana kau tahu nomorku dan juga namaku?”

            Hingga lima belas menit, Soo Bin menunggu balasan pesan dari pria itu. Tetapi, ponselnya sama sekali tak menandakan adanya pesan balasan. Entah mengapa, dia merasa sangat kesal karena pria itu yang tak kunjung membalas pesannya.

“Kenapa tidak dibalas, sih? Padahal aku langsung membalas pesanmu. Dasar laki-laki tidak tahu diri,” kesalnya dengan merutuki ponselnya sendiri.

Pada akhirnya, dia melempar asal ponselnya di nakas, meraih tabung obat dan mengambil satu pil yang setiap malam selalu dikonsumsinya dengan air putih yang sudah disediakan olehnya tadi. Rasa kantuk mulai merangsek dalam dirinya hingga perlahan, mata itu terpejam.

Sore itu, Soo Bin kembali mendatangi puncak bukit sesuai dengan permintaan pria kemarin yang membetulkan kameranya. Sial sekali, Soo Bin mendadak merasa seperti seorang gadis yang sedang jatuh cinta ketika pria itu muncul dengan kaus putih serta baret hitam dengan merk Ellioti.

Ada apa dengan dirimu Soo Bin? Kenapa kau aneh seperti ini?

            “Sudah lama menunggu?” ucap pria itu sembari mengeluarkan kamera dari dalam ranselnya dan tak lupa melemparkan senyuman yang membuat Soo Bin selalu saja blushing.

“Ti-tidak. A-aku baru saja sampai.”

Astaga! Sebenarnya ada apa dengan diriku? Kenapa mendadak seperti orang bodoh begini?

Pria itu menyodorkan kamera Soo Bin dan Soo Bin langsung menerimanya sembari mengucapkan terima kasih.

“Ohya, ini kameramu. Aku sam—“

“Tidak perlu, kau bisa memilikinya. Asalkan kau mau menjadi kekasihku. Jika kau belum tahu namaku, kau bisa memanggilku dengan Tae Ryeong. Kim Tae Ryeong.”

 

óóó

 

Sudah satu minggu mereka menjalin hubungan. Soo Bin sendiri juga heran kenapa dia begitu saja mengiyakan perkataan Tae Ryeong waktu itu. Tetapi, jujur dari dalam lubuk hatinya, Soo Bin sangat mencintai pria Kim ini. Hanya dalam waktu kurang dari satu minggu, perasaan yang tumbuh dalam benak Soo Bin seakan tidak bisa dikendalikan dan terus saja merambat dan berbuah banyak.

Dan memang, selama mereka berkencan selama seminggu, Tae Ryeong memperlakukan Soo Bin dengan sangat baik. Pria itu hangat dan lembut. Bahkan, hal yang membuat Soo Bin masih bertanya-tanya, darimana Tae Ryeong tahu rumahnya, bagaimana Tae Ryeong tahu jika setiap malam Soo Bin mengonsumsi pil sebelum tidur, bagaimana Tae Ryeong tahu tentang luka gores pada punggungnya, bagaimana Tae Ryeong tahu bahwa Soo Bin menyukai seni selain fotografi. Semua hal itu, Soo Bin tidak pernah mengatakannya pada Tae Ryeong. Tetapi, setiap kali Soo Bin bertanya, pria itu selalu mengalihkan pembicaraannya.

“Tae Ryeong-ah. Kenapa kau selalu melarangku kerumahmu? Sebenarnya ada apa?”

Tae Ryeong malah tersenyum dan semakin mengeratkan genggaman tangannya pada tangan Soo Bin. Mereka baru saja pulang dari Daegu Art Museum.

“Tidak ada apa-apa. Pokoknya, kau jangan pernah datang kerumahku dulu. Biar aku saja yang selalu datang kerumahmu jika kau membutuhkanku.”

Perkataan itu sukses membuat Soo Bin semakin curiga pada Tae Ryeong. Memang selama satu minggu mereka dekat, Tae Ryeong tidak sepenuhnya terbuka pada Soo Bin. Soo Bin bisa merasakan ada sesuatu yang tengah ditutupi oleh Tae Ryeong.

Hingga suatu pagi saat Soo Bin berolah raga pagi, dia tidak sengaja mendengar pembicaraan sekumpulan ahjumma tentang seorang ayah muda yang tampan.

“Kau tahu, Tuan Kim Tae Ryeong dan putrinya sering kemari di akhir pekan untuk membeli kue stroberi. Putrinya sangat cantik. Tetapi selama ini, aku sama sekali tak pernah melihat istrinya.”

Perkataan itu sukses membuat Soo Bin tertegun dan mendadak dadanya sesak. Dengan sekuat tenaga, Soo Bin berlari pulang. Air mata itu sudah mengalir deras hingga membasahi pipi tembamnya. Dia ingat ketika Tae Ryeong selalu saja melarangnya datang kerumahnya. Apa yang sebenarnya disembunyikan oleh Tae Ryeong?

Maka tak perlu waktu lama, Soo Bin buru-buru membersihkan diri dan bersiap mengunjungi toko kue yang tadi sempat dilewatinya. Membeli beberapa kue sebelum dia pergi ke suatu tempat. Ya, dia akan mendatangi rumah Tae Ryeong. Tae Ryeong memang tidak pernah menunjukkan alamat rumahnya, tetapi Soo Bin tahu karena dia pernah diam-diam mengikuti Tae Ryeong pulang kerumahnya tanpa sepengetahuan Tae Ryeong.

Soo Bin menghela napas beberapa saat sebelum menekan bel rumah Tae Ryeong. Seorang wanita paruh baya yang membukakan pagar rumah itu tampak terkejut dengan kehadiran Soo Bin.

“A-ada perlu apa Nyonya kemari?” ucapnya sopan.

“Maaf, apakah Tae Ryeong ada dirumah? Aku perlu membicarakan hal penting.”

Soo Bin tegah duduk di sofa ruang tamu menunggu Tae Ryeong yang sedang mandi. Bibi Moon tadi menyuruhnya untuk menunggu disini. Hingga akhirnya, sosok Tae Ryeong keluar dan terkejut dengan kehadiran Soo Bin.

“S-Soo Bin-ah.

“Maaf aku tidak memberitahumu tentang kedatanganku. Aku memba—“

Appa…

Sosok gadis kecil berusia sekitar tiga tahun itu keluar dari dalam ruangan dengan mata sayu dan rambut berantakan persis seperti bangun tidur. Sontak, Soo Bin langsung menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Air matanya lolos membasahi pipinya. Dia segera bangkit dan berlari keluar dengan berderai air mata.

“Tunggu, Soo Bin-ah!” teriak Tae Ryeong sembari berlari mengejar Soo Bin dengan putri kecilnya yang berada di gendongannya.

Tae Ryeong berhasil merengkuh pergelangan tangan Soo Bin, hingga membuat gadis itu menoleh.

“Jadi,ini alasanmu melarangku kerumahmu? Kau sudah memiliki anak. Sekarang lepaskan aku. Biar—“

Eomma, Tae Lin melindukan eomma,” lirih gadis kecil itu. Matanya sayu dan tampak berkaca-kaca.

Eomma kenapa balu datang? Eomma tidak melindukan Tae Lin, ya?”

Mendadak Soo Bin merasa pening luar biasa menghantam kepalanya saat bibir kecil itu memanggilnya dengan sebutan ‘eomma’, hingga membuatnya memekik kesakitan. Ingatan-ingatan dalam memori otaknya berputar-putar. Telinganya berdengung dan membuatnya berjongkok menahan sakit di kepalanya.

Tae Ryeong ikut berlutut dihadapan Soo Bin yang tengah kesakitan dan menunduk—berusaha menguatkan Soo Bin. Tae Ryeong tahu jika hal ini akan terjadi dan bisa memperburuk keadaan Soo Bin. Maka dari itu dia selalu melarang Soo Bin kerumahnya untuk menghindari Soo Bin bertemu dengan Tae Rin hingga Soo Bin benar-benar pulih. Hanya satu permintaan Tae Ryeong pada Tuhan kali ini. Angkat segala kesakitan Soo Bin dan kembalikan Soo Bin seperti sedia kala. Sampai tiba-tiba, Soo Bin mendongak dan memeluk dua orang dihadapannya. Tae Rin sudah menangis kala melihat eomma-nya menangis.

“Maafkan aku. Maafkan aku.”

“Soo Bin-ah. Kau…?”

“Aku mengingat semuanya, Tae. Maafkan aku. Sungguh.”

Tae Ryeong langsung memeluk Soo Bin kembali dengan erat. Air matanya sudah lepas kendali hingga membasahi kedua pipinya.

“Terimakasih, Sayang. Terimakasih kau sudah mengingat kami.”

Tae Ryeong merenggangkan pelukannya dan menatap Tae Rin yang masih menangis dalam gendongannya.

“Ini anak kita. Ini Kim Tae Rin. Kau yang memberikan dia nama saat kita tahu bahwa janin dalam kandunganmu adalah perempuan.”

Jadi, ini alasan Soo Bin selalu mengonsumsi pil perangsang otak setiap malam. Soo Bin mengalami kecelakaan saat Tae Rin masih berusia delapan setengah bulan. Soo Bin menjalani serangkaian operasi dan berhasil menyelamatkan Tae Rin. Akan tetapi, pendarahan hebat di kepala Soo Bin membuatnya koma selama tiga tahun. Dokter juga mengatakan bahwa Soo Bin akan kehilangan sebagian memori ingatannya.

Dan, itu benar terjadi. Saat Soo Bin tersadar dari koma, gadis itu tak mengenali Tae Ryeong sama sekali. Bahkan ketika dia menemui Soo Bin di tepi sungai waktu itu, Soo Bin tak mengingat wajahnya sama sekali.

Dokter juga sempat berkata untuk menyimpan semua foto-foto kenangan Soo Bin dan Tae Ryeong terlebih dahulu sebelum Soo Bin membaik. Hal itu dianjurkan dokter, supaya Soo Bin tidak mengalami guncangan dan memperburuk keadaan.

Dan, alasan Tae Ryeong belum menunjukkan Tae Rin pada Soo Bin, Tae Ryeong khawatir jika Soo Bin akan mengalami guncangan dan berakhir pada kinerja otaknya yang akan melemah kembali.

Dokter mengatakan bahwa satu-satunya kunci ingatan Soo Bin adalah putrinya, Kim Tae Rin. Tetapi, dokter juga mengatakan ada dua kemungkinan yang akan terjadi ketika nanti Soo Bin bertemu putrinya. Mengalami guncangan dan membuat sistem kerja otaknya kembali melemah, ataukah Soo Bin akan bisa mengingat kembali memori ingatannya yang hilang sebagian.

Dan sekarang, Tae Ryeong sangat bersyukur karena kemungkinan terburuk itu tidak terjadi. Setap hari dia berdoa untuk kesembuhan istri sekaligus ibu dari putri kecilnya. Berharap keajaiban menyambangi keluarga kecilnya yang bahkan masih seumur jagung. Kini, dia tahu. Keajaiban itu benar-benar ada di setiap harinya. Hanya butuh kesabaran dan doa yang tulus.

“Aku sangat mencintaimu, Lee Soo Bin.”

“Aku juga sangat mencintaimu, Kim Tae Ryeong. Dan, untuk Tae Rin, maafkan eomma karena sudah pergi terlalu lama meninggalkan Tae Rin. Eomma sangat menyayangi Tae Rin.”

Soo Bin tersenyum menatap Tae Rin dalam gendongannya yang sudah berhenti menangis dan beralih menatap suaminya sebelum berkata lirih.

“Tae Ryeong, Tae Rin. Ayo kita mulai semuanya dari awal. Aku akan menebus semua waktu berharga kita yang terbuang sia-sia. Kita tulis kembali cerita kita bertiga mulai dari awal. Ayo kita mencetak kenangan-kenangan indah bertiga. Eomma,  Tae Rin, dan appa. Aku sangat mencintai kalian.”

Dan, waktu berharga yang telah hilang itu, kini akan terisi dengan kenangan-kenangan baru bagi keluarga kecil Kim. Waktu yang hilang, akan kembali terukir. Hal buruk sudah terlewati dan akan berganti dengan jutaan kenangan indah bagi Kim Tae Ryeong, Lee Soo Bin, dan putri kecilnya, Kim Tae Rin.

 

-END-

Note :

Appa                : ayah dalam bahasa Korea.

Eomma            : ibu dalam bahasa Korea.

Ahjumma         : sebutan untuk wanita yang lebih tua di Korea.

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s