[#EXOFFIMVT2019] Friend and Dream – heybiy14

Friend and Dream

 

Ditulis oleh : heybiy14

 

Partikel awan menghiasi langit sore kota Seoul. Puluhan burung beterbangan sambil berkicau dan bersiul. Rindangnya dedaunan kuning dari pohon mulai berjatuhan. Menandakan jika musim gugur telah datang.

Seorang gadis dengan syal coklat yang melekat di lehernya tersenyum cerah. Sejenak dedaunan yang tersangkut di rambutnya membuat seseorang yang ada di sampingnya tertawa. Gadis itu, Han Seohwa, tertawa kecil sambil mengambil daun yang jatuh di kepalanya. Sementara seorang lelaki yang berjalan di sampingnya itu ikut merapikan rambut Seohwa yang sedikit berantakan. Mereka pun kembali berjalan di atas tumpukan daun kering di sepanjang taman. Menikmati setiap elusan angin sejuk pada kulit mereka.

“Seohwa,” panggil Jiwoo pada Seohwa yang fokus menatap langit senja. “Hm?” gumam Seohwa tanpa melepaskan pandangannya pada langit yang telah menjingga.

“Lo inget gak? Waktu kecil kita pernah dateng kesini pas musim semi?” tanya Jiwoo yang membuat Seohwa sekejap menatapnya lalu berpikir.

“Waktu festival bunga sakura, ya?” tutur Seohwa yang berhasil mengingat potongan memorinya. Jiwoo mengangguk.

“Gue inget waktu itu kita gak sengaja liat ada orang yang syuting drama. Terus kita tiba-tiba punya cita-cita pengen bikin drama,” ucap Jiwoo sambil terkekeh. Sementara Seohwa tersenyum lebar.

“Waktu itu gue pengen jadi penulis naskah, kan? Terus lo pengen jadi aktor masa?” ucap Seohwa diiringi tawa.

Jiwoo tersenyum. Lantas ia meraih tangan Seohwa dan memberikan selembar kertas brosur yang terlipat rapi. Seohwa menatap Jiwoo bingung, namun Jiwoo hanya tersenyum kembali. Gadis itu lantas membuka lipatan kertas itu dan membacanya dengan teliti.

Sebuah brosur mengenai audisi dari salah satu saluran televisi ternama di Korea Selatan. Audisi yang mencari sutradara remaja berbakat, penulis dan aktor muda berbakat, juga bidang lainya yang menyangkut produksi drama. Seohwa kembali menatap Jiwoo penasaran.

“Gue tau lo masih sering nulis, Hwa. Gue liat ratusan file naskah drama di laptop lo. Gue tau kalo waktu itu cita-cita lo gak sekedar omong kosong doang. Gue tau lo serius walaupun waktu itu kita masih kecil,” ungkap Jiwoo yang membuat Seohwa menatapnya terkejut.

“Kalo lo beneran pengen cita-cita lo tercapai, lo harus wujud-in itu, Hwa. Sayang ribuan kata yang lo buat kalo cuman jadi draf,” nasihat Jiwoo sambil mengelus kepala gadis yang sedang cemberut sambil menunduk itu.

“Gue gak yakin bakal kepilih, Ji. Gue juga belum nyiapin apa-apa,” ungkap Seohwa sedih.

“Jangan pesimis dulu lah, lagian kan audisinya satu bulan lagi. Pasti sempet nyiapin kok,” kata Jiwoo sambil tersenyum lembut. Menenangkan pikiran buruk Seohwa yang tengah berkecamuk. “Gue coba deh, tapi kalo gue gagal jangan kecewa, ya?” setuju Seohwa sambil menatap Jiwoo serius. Jiwoo mengangguk cepat.

“Janji?” tanya Seohwa sambil menyodorkan jari kelingkingnya. Jiwoo tertawa dan mengaitkan kelingking Seohwa dengan kelingkingnya. “Janji,” ucap Jiwoo sambil tersenyum lebar.

“Nanti waktu audisi mau gue temenin gak?” tawar Jiwoo.

“YA HARUSLAH!” sahut Seohwa dengan nyaring. Hingga beberapa pengunjung menatap mereka berdua heran.

“Malu-maluin,” cibir Jiwoo sambil tertawa bersama Seohwa.

Mereka kembali mengitari taman. Menghabiskan hari mereka dengan bercanda gurau sampai malam datang. Hingga akhirnya cahaya bulan yang diikuti ribuan bintang malam, membuat mereka hanyut dalam khayalan.

Musim telah berganti menjadi musim dingin. Ribuan butir salju turun menutupi jalanan dengan kepingan dingin. Seluruh orang menggunakan jaket tebal dan syal mereka, namun berbeda dengan gadis kelebihan kalor seperti Seohwa. Ia nekat menerobos hujan salju hanya dengan bermodalkan kemeja putih yang dilapisi sweater bermotif yang tipis.

Langkah kakinya memasuki sebuah kedai sup yang cukup ramai. Matanya mengamati setiap sudut kedai, hingga akhirnya ia menemukan sosok Jiwoo yang sedari tadi ia cari. Seohwa mendekatinya perlahan dan mengejutkan Jiwoo dengan tak sabaran. Sementara Jiwoo yang merasa diusili hanya mampu memberikan tatapan tajamnya.

“Heh! Traktir makan dong,” ucap Seohwa sambil cengengesan. Benar-benar menguji kesabaran Jiwoo jika saja lelaki itu tidak mengingat jika hari ini merupakan hari yang cukup penting untuk Seohwa.

“Pesen aja apa yang lo mau, gue traktir,” balas Jiwoo yang membuat Seohwa membulatkan matanya. Terkejut dengan sikap Jiwoo yang tiba-tiba menjadi baik kuadrat.

“Beneran nih?! Gak boong, kan?! Gak lagi sakit, kan?!” tanya Seohwa sambil memeriksa suhu badan Jiwoo lewat telapak tangannya. Namun suhu badan Jiwoo normal-normal saja.

“Ya beneran lah! Lo kan abis ini mau berangkat audisi, jadi gue traktir aja biar lebih semangat gitu,” jawab Jiwoo yang membuat Seohwa mengerutkan dahinya.

“Emang audisinya hari ini, ya?” tanya Seohwa yang membuat Jiwoo menghentikan aktivitas makannya.

“Jangan bilang lo lupa?” tanya Jiwoo balik dengan serius. Keringat dingin mulai bercucuran dari pelipis keduanya.

“Gue gak cuman gak inget, tapi gue juga belum selesai bikin naskah!” ungkap Seohwa setelah meneguk air liurnya susah payah.

Refleks Jiwoo melemparkan sendoknya ke atas meja. Membuat bunyi yang cukup nyaring hingga pengunjung kedai menatap mereka terkejut. Seohwa dan Jiwoo saling pandang sejenak. Mereka lalu bergegas bangkit dan bergegas pergi dari kedai. Beruntung Seohwa sempat mengingatkan Jiwoo untuk membayar makanannya.

Mereka berdua berlari secepat mungkin ke rumah Seohwa. Dengan ganas mereka menekan bel dan menggedor pintu hingga membuat ibu Seohwa sedikit panik karena kegaduhan yang ditimbulkan Jiwoo dan Seohwa.

“Lo selesaiin naskah, biar gue yang nyiapin perlengkapan lo buat ikut audisi,” tutur Jiwoo cepat yang dipatuhi Seohwa.

Dengan cepat keduanya melakukan tugasnya masing-masing. Seohwa yang fokus pada laptopnya sementara Jiwoo yang sibuk memasukkan keperluan Seohwa ke dalam tote bag. Sejenak ibu Seohwa heran melihat tingkah kedua anak itu hingga akhirnya memutuskan untuk membantu Jiwoo yang telah ia anggap seperti anak kandungnya itu.

Waktu terus berjalan, menyisakan Seohwa yang masih sibuk berkutat dengan keyboard laptop di hadapannya. Sementara Jiwoo yang telah selesai lebih dulu menunggu Seohwa tak sabar sambil terus melirik ke arah jam tangannya.

“Berapa jam lagi?” tanya Seohwa yang akhirnya menghentikan keheningan dengan nada gugupnya. “Satu jam,” jawab Jiwoo tak kalah gugup.

“Masih banyak, ya?” tanya Jiwoo pelan. Takut mengganggu konsentrasi Seohwa.

“Dikit lagi, tinggal penutup,” jawab Seohwa.

Keadaan hening kembali. Yang terdengar hanya suara hentakan jari Seohwa pada keyboard dengan cepat. Beberapa menit telah berlalu. Jiwoo terus menatap Seohwa dan jam tangannya bergantian dengan risau.

“SELESAI!!” teriak Seohwa sambil bernapas lega. Jiwoo tersenyum lebar.

“Cepetan siap-siap, waktunya tinggal 45 menit lagi,” ucap Jiwoo sambil menenteng tote bag Seohwa dan keluar dari kamar. Seohwa mengangguk.

Gadis bersurai panjang itu dengan segera mengganti bajunya dan menyemprotkan parfum ke sekujur tubuhnya. Lantas ia berdandan dengan secepat kilat dan segara bergegas menghampiri Jiwoo yang telah siap menunggunya di dalam mobil. Seohwa pun menyempatkan diri untuk pamit dan meminta doa ibunya sebelum berangkat.

“Naskahnya gak dikirim lewat email aja, Nak?” tanya ibunya yang digelengi Seohwa.

“Pemimpin perusahaannya pengen wawancarain masalah sama alur dramanya langsung sama penulisnya, Ma. Jadi kita wajib dateng ke kantornya,” jawab Seohwa cepat ibunya mengangguk.

“Aku pamit, ya?” ucap Seohwa sambil bergegas keluar dari rumah. Sekejap Seohwa dapat mendengar ibunya yang berkata untuk berhati-hati.

Melihat Seohwa yang telah siap di kursi penumpang disampingnya, Jiwoo pun segera menginjak pedal gasnya dan mengemudikan mobilnya dengan cepat membelah jalanan Seoul. Keduanya akhirnya sampai di lokasi tujuan dengan tepat waktu walaupun harus mengantri sedikit lebih lama karena nomor urutan Seohwa yang terbilang cukup jauh.

Keduanya tak banyak meminta, mereka hanya berharap semuanya berjalan dengan lancar dengan hasil yang memuaskan.

Satu bulan telah berlalu dan malam ini adalah hari pengumuman audisi yang Seohwa ikuti dulu. Seohwa, Jiwoo, ibunya, dan adik Jiwoo yang masih berumur 5 tahun duduk berjejer di sofa dan menghadap langsung ke arah handphone Seohwa. Mereka menunggu pesan maupun telepon dari seseorang yang akan mengabarkan hal baik pada mereka.

            Drrt drrt drrt

Handphone Seohwa bergetar cukup lama. Tanda ada seseorang yang menelfonnya. Dengan cepat Seohwa pun segera menerima panggilan itu dan menyalakan speaker agar yang lain juga bisa mendengarnya.

“Ya, halo?” sapa Seohwa sopan.

“Han Seohwa! Lo menang audisi gak?!” tanya seseorang dari ujung sana dengan antusias.

Kening Seohwa berkerut. Dengan cepat ia memeriksa dari siapa panggilan tersebut. Dan Seohwa menghela napas saat mendapati nomor Yoon Jina, sahabatnya yang sedang menelponnya.

“Belum tau, Yoon Jina. Kalo lo nelfon gue mana gue bisa ngecek pengumumannya,” ucap Seohwa menahan kesal. Terdengar kekehan halus Jina.

“Yaudah, gue matiin, ya? Gak mau ganggu, tapi kalo udah keluar hasilnya jangan lupa kabarin gue. Jangan lupa traktir juga kalo lo menang nanti,” ucap Jina antusias. “Iya-iya bawel so much lo!” cibir Seohwa lalu mematikan sambungan teleponnya.

Seohwa kembali menaruh handphonenya ke atas meja. Namun hingga larut malam ia menunggu, tak ada satupun pesan maupun telepon yang masuk dari perusahaan. Seohwa menghela napasnya. Ia menatap mata mengantuk ibunya dan juga adik Jiwoo, Jinwoo, telah tertidur lelap bersandar pada ibunya.

“Ma, masuk kamar gih. Mama ngantuk, kan? Tidur aja,” ucap Seohwa sambil menggoyangkan lengan ibunya pelan.

“Terus pengumuman audisi kamu gimana?” tanya ibunya khawatir.

“Kayaknya Seohwa gak diterima deh, Ma. Kita tidur aja yuk? Kasian Jinwoo udah ketiduran,” jawab Seohwa pelan. Ibunya itu tersenyum lembut lalu mengelus kepala Seohwa.

“Gapapa, Ma,” ucap Seohwa yang seolah mengerti kekhawatiran ibunya itu.

Ibu Seohwa pun mengangguk dan mengajak Jinwoo untuk tidur di kamar tamu di rumahnya. Menyisakan Seohwa dan Jiwoo di ruang keluarga. Seohwa memandang Jiwoo yang kini tengah menatapnya sambil tersenyum kecil. Seohwa dapat melihat kesedihan, kekhawatiran, dan tatapan lembut dari manik mata abu gelap milik Jiwoo. Seohwa tersenyum menenangkan.

“Gapapa elah, lo natep gue udah kayak gue divonis kanker gitu,” ucap Seohwa sambil tertawa karena tak tahan melihat wajah Jiwoo yang seolah memelas itu.

“Kagak ngerti amat lo! Gue lagi khawatir nih,” omel Jiwoo sambil menoyor jidat Seohwa dengan jari telunjuknya.

“Gapapa kali, baru audisi doang loh ini. Udah sana tidur!” ucap Seohwa sambil berjalan menuju kamarnya dan meninggalkan Jiwoo yang tengah menatap miris punggungnya.

Malam ini terasa kelam bagi mereka.

Cahaya terang matahari membangunkan Seohwa. Ia segera bangkit dan menatap gorden kamarnya yang sedikit terbuka. Langit pagi Seoul tampak cerah. Namun sayang tak secerah suasana hatinya.

Seohwa menghela napas. Dengan malas ia menuju dapur dan mendapati ibunya dan Jiwoo yang telah melahap sarapan bersama. Seohwa ikut duduk di samping ibunya. Kepalanya ia sandarkan pada bahu tegar ibunya. Matanya terpejam mencari kehangatan. Tak lama ia merasa kepalanya dielus. Seohwa membuka matanya.

“Katanya malem tadi ‘gapapa kali, baru audisi doang loh ini’ tapi sekarang malah murung,” cibir Jiwoo.

“Enggak tuh, gue emang lagi males aja,” kilah Seohwa sambil membenarkan posisi duduknya dan hendak mengambil sepotong roti. Namun segera dicegah Jiwoo. “Cuci muka dulu sana!” titahnya yang dipatuhi Seohwa dengan setengah hati.

Ting tong

Bel rumah yang berbunyi membuat Seohwa yang baru saja hendak duduk selepas menyuci mukanya berdiri lagi. Ia dengan malas membuka pintu dan mendapati seorang pria tegap yang berjas rapi tersenyum ramah ke arahnya.

“Maaf saya bertamu pagi-pagi, saya hanya ingin mengabarkan sesuatu yang tak sempat bawahan saya katakan kepada Nona Seohwa,” ucap pria itu saat semuanya telah berkumpul di ruang tamu. Seohwa yang masih mengenakan piyamanya mati-matian menutupi badannya dengan jaket milik Jiwoo.

“Malam tadi bawahan saya telah menelepon Nona, namun sayangnya saluran telepon Nona sedang sibuk hingga tak bisa dihubungi,” ceritanya yang diangguki Seohwa. Pasti mereka gagal menghubungi karena Jina yang lebih dulu menghubunginya tadi malam, pikir Seohwa.

“Saya disini ingin memberitahukan jika Nona Han Seohwa terpilih sebagai pemenang audisi penulisan naskah drama yang akan diproduksi dua bulan lagi,” ungkapnya yang membuat Seohwa, Jiwoo, dan ibunya sukses terkejut.

“YA?”

Bulan-bulan telah berlalu dan kini drama yang naskahnya ditulis oleh Seohwa telah rampung dan mendapat rating tertinggi drama yang pernah di tonton. Drama itu sukses besar hinga nama Seohwa kini telah dikenal ke seluruh Korea Selatan bahkan mancanegara.

Seohwa yang kini tengah menggunakan dress anggun yang membalut tubuhnya, turun dari mobil dengan dibantu Jiwoo. Mereka tengah menghadiri ajang penghargaan paling ternama di negeri ginseng. Begitu keduanya berjalan di karpet merah, seluruh lensa kamera segera tertuju pada mereka. Karena dua orang ternama dari sebuah drama telah hadir di lokasi acara.

Perlu diketahui jika Jiwoo juga ikut audisi bersama Seohwa. Ia dipilih dan direkrut langsung oleh staf yang tak sengaja melihat Jiwoo yang tengah menunggu Seohwa dan merekomendasikannya untuk ikut audisi. Dan berakhirlah Jiwoo yang membintangi drama yang naskahnya ditulis langsung oleh sahabat tersayangnya, Han Seohwa.

Kini mereka tak risau lagi. Mimpi yang mereka harapkan sejak kecil kini bisa terwujud dengan pengorbanan kecil.

Dan kini mereka diberi sebuah penghormatan yang tak pernah mereka bayangkan

Seohwa sebagai penulis naskah drama terbaik tahun ini dan Jiwoo sebagai aktor junior terbaik tahun ini.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s