94 (Chapter 17) – ECCEDENVY

image

Road to England

Vy‘s Story

EXO‘s Kai and Sehun | Red Velvet‘s Seulgi and Wendy | F(x)’s Sulli and Krystal | OC‘s Sharon and Michelle (Latte)

School life[Work life] | Romance | Hurt

“Berhentilah Kalian!!” -Kai

“Pilihlah satu! Kau hanya akan menyakiti mereka!” -Sehun

“Itu keputusanmu Jong!” -Seulgi

“Memang apa peduliku soal mereka?” -Wendy

“Sudah kubilang jangan memaksakan kehendak!” -Sulli

“Aku tidak akan mengusik lagi…” -Krystal

“Masalah sudah rumit! Dan kau mau bergabung di dalamnya?” -Sharon

“Setidaknya aku sudah tau perasaanmu!” -Michelle

“Baiklah, kuterima syaratmu. Tapi aku tidak jamin hasil syaratmu yang kedua sesuai dengan harapanmu.” Ucap Jongin.

“Ketiga Jong.” Ucap Seulgi.

“Ah, sama saja.” Kesal Jongin.

“I want one latte, ice americano, green tea latte, and coffee without sugar or creamer. Oh, and one red velvet please.” Sharon memesan.

“Take away?” Tanya petugas kasir di sana. Sharon mengangguk sebagai jawaban. Sembari menunggu pesanannya, pikirannya mulai melayang. Memikirkan Sehun. Lelaki itu ada di Inggris. Padahal Sharon cepat cepat pulang ke Inggris agar tidak bertemu Sehun. Sialnya lelaki itu malah pergi ke Inggris juga. Kesal sekali dia.

“Miss?” Suara petugas kasir memasuki telinganya. Membuyarkan lamunannya.

“Oh ya?” Tanya Sharon bodoh.

“Your take away.” Ujar petugas itu mengingatkan. Sharon teringat. Ia kemudian menanyakan berapa yang harus ia bayar dan memberikan beberapa lembar poundsterling pada petugas itu.

“Ayo kita pergi! Daniel pasti sudah menunggu.” Ucap Sharon.

“Sebentar. Aku butuh bicara pada Sehun.” Ucap Jongin. Sharon mengernyit tidak suka saat Jongin mngucapkan nama Sehun.

“Kami menunggu di luar.” Ucap Sharon. Ia baru saja akan berjalan sembari menarik Seulgi sebelum wanita itu menahannya.

“Aku juga butuh bicara pada Sehun.” Ucap Seulgi. Ia kemudian mengekori Jongin.

“Ada apa sih dengan mereka. Jangan jangan mereka yang membawa Sehun?!” Sebal Sharon. Tapi ia tidak mau ambil pusing dan segera keluar coffee shop tersebut.

“Sehun.” Panggil Jongin. Lelaki yang dipanggil menoleh.

“Ada apa? Kau mau memukuliku?” Tanya Sehun. Jongin tertohok. Merasa seperti dirinya adalah orang paling bersalah dan kejam di sana.

“Tidak, aku, kami maksudku, mau memintamu menjadi pengantar cincin di pernikahan kami.” Ucap Seulgi. Wanita itu memasang wajah aku-kan-sudah-membantumu.

“Pengantar cincin? Di pernikahan kalian?! Kenapa?” Tanya Sehun. Jongin mulai sebal.

“Banyak tanya sekali. Jawab saja kalau kau tidak mau! Aku juga tidak mau membantumu kambali bersama Sharon.” Kesal Jongin. Sehun mengerjap menatap Jongin.

“Kau bilang apa?” Tanya Sehun.

“Kau mau tidak? Kalau tidak mau, bilang saja.” Kesal Jongin.

“Bukan! Bukan yang itu! Yang satu lagi. Kalimat setelahnya!” Ucap Sehun.

“Oh, aku akan membantumu, salah satunya mungkin merestuimu dengan adikku bila kau mau menjadi pengantar cincin di pernikahanku dengan Seulgi.” Ucap Jongin. Seulgi tersenyum.

“Benar?!” Tanya Sehun. Jongin  berdecak.

“Iya! Jadi mau atau tidak? Kalau tidak, aku bisa mencari orang lain unt-”

“Aku mau! Terserah kau mau aku melakukan apapun” asal kau membantuku!” Ucap Sehun semangat tiba tiba.

“Tapi, waktu itu kau bilang kau resmi jadian dengan Michelle.” Ucap Jongin.

“Itu hanya sebuah test saja. Aku ingin tau apa reaksi Sharon saat kubilang aku sudah pacaran drngan sahabatnya sendiri. Dan itu Michelle sendiri yang menyarankan. Aku tidak tau kalau akan seperti itu reaksinya.” Ucap Sehun. Tiba tiba ia terlihat sedih.

“Dasar! Ia tidak terpengaruh olehmu berarti!” Ucap Jongin.

“Jadi kau mau bukan?” Tanya Seulgi. Sehun mengangguk.

“Kami akan menginap di rumah Sharon. Mau ikut?” Tanya Seulgi. Sehun mengernyit.

“Dia tidak akan mau.” Ucap Sehun.

“Pengantar cincin? Lagipula, kita akan melangsungkan pernikahan di sini saja.” Ucap Jongin.

“Di sini? Memangnya kita berapa lama di sini?!” Ucap Seulgi kaget.

“Kau bilang mau menikah di sini. Lagipula kita tidak akan langsung menikah Seul, banyak yang harus di urus. Kau buru buru sekali ingin menikah denganku!” Jongin menggoda Seulgi di akhir kalimatnya.

“Tidak, bukan! Ah! Maksudku… Ah, sudahlah! Lupakan!” Wajah Seulgi merona. Sehun terkekeh.

“Kau mau ikut tidak?!” Desak Jongin. Kan kalau ia membawa Sehun, bisa lebih cepat lelaki itu dan adiknya bersama lagi. Lebih cepat juga ia bisa menikahi Seulgi. Ckck, dasar kau kkamjong. Picik, ternyata ada maunya.

“Kalau dia marah bagaimana?” Tanya Sehun. Ia ragu.

“Aku bisa bilang kau juga membantuku dalam hal ‘pernikahan’, jadi ia tidak bisa menolak.” Ucap Jongin.

“Lebih baik kita keluar, tapi… Ngomong ngomong, kau sudah mereservasi sebuah kamar hotel belum?” Tanya Jongin.

“Tadinya aku ingin pergi ke rumah kenalanku di pinggir London. Tapi kalian mengajakku, ya sudah. Pilihan yang kalian berikan terdengar lebih menarik.” Ucap Sehun.

“Kalau begitu mari kita pergi.” Tarik Jongin kemudian.

“Tunggu tunggu! Aku ingin beli kopi!” Ucap Sehun. Ia ke arah kasir dan memesan segelas kopi. Dengan Bahasa Inggris yang pas-pasan, ia memesan kembali satu cup Pure Coffee.

“Baiklah, kalian yang jelaskan! Jangan melibatkanku!” Ucap Sehun. Sepasang kekasih itu mengangguk. Mereka berjalan beriringan keluar Coffee Shop. Sehun menarik kopernya.

“Maafkan kami lama. Sharon, bolehkan aku minta tolong padamu, sekali ini saja. Kumohon!” Seulgi memelas. Sharon mengangkat satu alisnya.

“Apa, ah, bisakah kita berbicara sembari berjalan? Daniel pasti menunggu dan minuman ini mulai berubah suhu.” Ucap Sharon. Ia mengangkat minuman dan kue di tangannya.

“Tentu.” Ucap Jongin.

“Nah, jadi apa yang kalian inginkan?” Tanya Sharon. Tidka menyadari bahwa sedari tadi Sehun bergabung di belakang mereka. Walau masih memberi jarak.

“Bisakah Sehun ikut ke rumahmu?” Tanya Jongin enteng.

“Apa?!” Sewot Sharon. Mencoba bertanya lagi untuk memastikan pendengarannya.

“Membawa Sehun ke rumahmu! Seulgi sudah menjawab lamaranku. Tapi pernikahan kita melibatkan Sehun, dan kita benar benar harus membicarakannya dengan Sehun. Dan, kita akan menggelarnya di sini. Di Inggris.” Ucap Jongin.

“Tapi kalian bisa menemuinya juga kalau ia tinggal di hotel.” Ucap Sharon. Ugh, ia ingin mengindari Sehun! Dan kedua orang yang sengaja ia tarik ke Inggris ini malah mendekatkannya dengan Sehun. Hei, jangan bilang mereka memang sengaja.

“Dia bilang dia akan tinggal di rumah kenalannya tap-”

“Bagus, kenapa tidak di rumah kenalannya itu?” Tanya Sharon.

“Aku belum selesai bicara. Tapi yang jadi masalah adalah, dia tidak begitu mengenal Inggris, kamipun begitu, dan kau bilang di telponmu waktu itu bahwa kau memiliki jadwal penuh di hari kerja dan hanya free pada sabtu dan minggu.” Ucap Jongin panjang lebar.

“Lalu?” Tanya Sharon menuntut.

“Kami butuh kau untuk membantu kami di Inggris. Kau bilang akan memandu kami di sini!!” Marah Seulgi. Kesal dengan kelakuan Sharon.

“Daniel bisa mengantar kalian!” Ucap Sharon lagi. Terus mencari alasan untuk menghindari Sehun.

“Komunikasi! Seperti yang kau lihat tadi, walaupun ia bisa berbahasa Korea, ia sulit mengerti ucapan kami. Hanya kau yang bisa kami andalkan di sini!” Paksa Jongin. Apapun demi menikahi Seulgi secepatnya.

“Baiklah. Mana Sehun sekarang?” Sharon mengibarkan bendera putih tanda menyerah.

“Aku di sini.” Sehun muncul setelah melihat perdebatan panjang ketiga manusia tadi. Mengangguk anggukkan kepalanya atas usaha sepasang kekasih itu.

“Kau tidak membuat mereka berdua berusaha membawamu ke rumahku bukan?” Tanya Sharon tajam. Sehun menggeleng. Wajahnya datar.

“Aku memang mau membicarakan pernikahan dengan mereka, sebenarnya aku hanya ingin berlibur ke sini. Inggris salah satu tempat impianku, seseorang pernah mengajakku ke sini.” Sindir Sehun. Ia ingat saat Sharon mengajaknya ke Inggris. Dan bersedia menjadi tour guide pribadi Sehun.

“Baiklah kakau begitu, Daniel menunggu. Dia akan mengomel nanti. Jadi langkahkan kakimu lebar lebar!” Ucap Sharon. Ia berjalan lebih dulu setelah memberikan minuman dan kue pada pemiliknya.

“Oho Tuan Oh. Kau pandai juga berbicara.” Ledek Jongin.

“Kau memujiku atau meledekku tuan kulit hitam?” Tanya Sehun. Ia menyesap kopinya. Menutup matanya menikmati sensasi pahit, manis, dan gurih pada kopi itu.

“Tentu saja memuji, kejar dia bodoh!” Suara Jongin dimaniskan sesaat, lalu dengan kejam ia menggeplak kepala bagian belakang milik sahabatnya. Membuat yang menjadi korban meringis sembari memberi tatapan tajam. Tapi tetap mengejar seperti yang diperintahkan.

“Gomawo, Seulgi-ya..” Ucap Jongin.

“Aku tau Jongin, kau sudah memilih yang terbaik untuk dirimu dan orang lain. Walaupun kau berfikir terlalu lama!” Ucap Seulgi.

“Aku terlalu egois pada diriku sendiri. Mungkin karena aku hidup tanpa keluarga kandungku sejak kecil. Yeah, meski Sehun dan keluarganya baik padaku, itu terasa seperti keluarga semu bagiku. Aku senang Sharon adalah saudaraku. Walau ia sedikit menyebalkan, ia tetap adikku. Satu satunya keluarga yang kupunya, selama ini ia telah baik mau membantu hidupku. Giliran aku yang membalas kebaikkannya, membuatnya bahagia.” Ucap Jongin. Lelaki dengan kulit gelap itu menatap di mana Sehun berjalan tepat di belakang Sharon.

“Entah kenapa itu terdengar seperti Sharon tidak pernah bahagia seumur hidupnya.” Ucap Seulgi.

“Aku pernah merasakan keutuhan keluarga selama tujuh tahun hidupku di dunia, dan yang diceritakan Sharon, ia bahkan hanya bisa merasakannya selama tiga bulan. Aku tetap menyayanginya, meski aku tau dia anak selingkuhan ayahku. Dia tetap adikku. Apapun yang terjadi, aku tetap kakaknya.” Ucap Jongin. Terdengar mengahrukan memang. Kisah kakak adik yang tragis ini.

“Iya aku tau Jongin, kau dan Sharon kakak adik. Jangan mengulanginya lagi! Aku bosan!” Canda Seulgi. Mencoba mencairkan suasana yang menurutnya terlalu menyayat hati untuk didengar. Cukup sampai di situ dirinya tau. Ia tidak ingin lebih tau tentang kisah itu. Terlalu sulit dibayangkan.

“Baiklah! Ayo!” Tarik Jongin. Mereka sedikit berlari menuju sebuah Audi hitam mengkilat dengan atap terbuka terparkir di depan mata mereka. Jongin berdecak kagum.

“Eh? Di mana Sharon?” Tanya Seulgi begitu tidak melihat Sharon di sana.

“Dia mengambil mobilnya sendiri.” Ucap Daniel dengan pelafalan yang aneh. Tapi cukup unik menurut Seulgi. Oh, Nona Kang, hati hatilah drngan serigala di sampingmu!

“Dia juga membawa mobil?” Tanya Jongin. Daniel mengangguk.

“Lalu kita harus naik mobil yang mana?” Tanya Sehun. Ia cukup mengerti bagaimana Daniel dari cerita Sharon. Jadi ia berbicara perlahan

“Kalian naik mobilku. Mobilnya tidak cukup membawa lebih dari dua orang termasuk pengemudi.” Daniel berbicara pelan pelan. Masih sulit melafalkan huruf huruf Korea yang ribet.

“Kau bersamanya saja Hun! Aku ingin naik audi itu!” Ucap Seulgi tersenyum penuh makna.

“Bilang saja ingin mengaguminya lagi kan?” Sebal Jongin. Cemburunya keluar.

“Ooh, Uri Jongin cemburu….” Goda Seulgi.

“Jangan menggodaku!” Jongin berdecak sebal.

“Kalau begitu, mari naik.” Ajak Daniel sambil membukakan pintu mobil. Seulgi dengan senang hati masuk diikuti Jongin yang duduk di depan bersama Daniel.

“Tunggu saja Sharon di sini. Nanti dia akan datang. Barangmu kubawa saja.” Ucap Daniel. Sehun mengangguk. Ia berdiri di sana sembari menyesap kopinya.

“Semoga kau mau menerimaku lagi. Sudah cukup drngan semua sandiwara perasaan ini. Aku tidak suka.” Ucap Sehun pada dirinya sendiri. Tak berapa lama, mobil porsche putih terparkir di depannya. Kaca pengenmudia turun.

“Kemana mereka?” Tanya Sharon kelewat datar.

“Sudah duluan. Barangku di sana, Daniel bilang aku bersamamu saja.” Ucap Sehun. Sharon mengangguk sekali. Lalu lelaki itu masuk di kursi penumpang tepat di samping Sharon.

“Kau tidak memaksa mereka untuk melakukannya bukan?” Tanya Sharon sembari menjalankan mobilnya.

“Tidak! Di mana rumahmu?” Tanya Sehun mengalihkan topik. Kenapa Sharon jadi selalu menaruh curiga padanya?

“Manhattan.” Jawab Sharon singkat.

“Ooh, apa kau melanjutkan kuliahmu di sana? Manhattan?” Tanya Sehun. Sharon mengangguk.

“Aku…”

“Diam dan jangan banyak berbicara Sehun. Kau bukankah tipe lelaki cool yang jarang menggerakan mulut?” Tanya Sharon. Ia hanya terlalu gugup ditanyai terus oleh Sehun.

“Baiklah.” Sehun akhirnya tidak jadi berkata, ‘aku merindukanmu’. Sharon mungkin saja terlihat kejam, tapi dirinya hanya tidak mau mereka menjadi seperti dulu lagi. Ia tidak mau membuat kenangan lagi bersama Sehun. Kisahnya dengan Sehun berhenti di sini, tanpa adanya sebuah happy ending. Mereka bisa menemukan happy ending mereka masing masing nantinya, teguh Sharon. Tapi dirinya hanya tidak sadar bahwa ia tidak akan menemukan kata happy ending dimanapun tanpa Sehun.

TBC

One thought on “94 (Chapter 17) – ECCEDENVY”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s