Le Dernier Arret [Chapter 2]

 

LDA.jpg

Le Dernier Arret

Kim Minseok / Oh Sehun / Reen / Runa / Park Chanyeol / Other

Minichapter / AU / Comedy / Fantasy / Friendship / Romance / Sad / School-life / Teen

anneandreas & l18hee

we own the plot

.

.

Hanya manusia kolot yang tidak sadar jika vampir benar-benar ada di sekitar mereka

.

⇓ PREVIOUS ⇓

Teaser – Chapter 1

.

.

= Chapter 2 =

.

Chanyeol melangkahkan kakinya di koridor sekolah, masih memegang kotak jus bergambar tomat yang tadi ia temukan di lantai, di dekat murid perempuan yang ia ketahui bernama Reen. Chanyeol memang bukan murid terpintar di sekolah ini, namun ia yakin semua orang akan setuju bahwa jus tomat tidak seharusnya sekental itu. Lagipula bukan pertama kalinya dia menemukan kotak jus tomat seperti yang ada dalam genggamannya saat ini. Rasa penasaran Chanyeol membuat kakinya terus melangkah menuju sebuah ruangan di ujung koridor, ruangan yang ia harap bisa memberi jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang mengganggunya sejak tadi.

“Ah, sunbae!”

Sebuah panggilan ceria yang khas menyapa rungu Chanyeol, membuat laki-laki itu menolehkan kepala ke sumber suara sebelum menyunggingkan senyum ramah, “Oh, hai, Runa.”

“Maaf sunbae, kemarin aku tidak melihat penampilan bandmu. Ada urusan yang harus kuselesaikan saat itu,” kata Runa tanpa menyembunyikan rasa sesal dalam suaranya, membuat Chanyeol tersenyum karena tingkah manis adik kelasnya ini, “Kemarin aku sempat mencarimu seusai pertunjukan lho.Tapi aku tidak menemukanmu dimanapun, saat aku ingin menghubungimu aku baru sadar jika nomormu tak ada di ponselku, akhirnya kuputuskan untuk pulang saja.”

Jinjja? Sunbae mencariku?” sahut Runa berusaha mengatur suaranya tetap terdengar tenang, meskipun ia tahu hatinya kini sedang melompat tak karuan.Kakak kelasnya ini memang selalu memiliki pesona tersendiri bagi dirinya.

“Ya, jadi berikan aku nomor ponselmu sehingga aku bisa menghubungimu lain kali,” jawab Chanyeol mantap.

Baru saja Runa hendak mengucapkan nomor ponselnya, mendadak sebuah benda berat tiba-tiba saja menimpa kepalanya. Yang setelahnya ia sadari sebagai telapak tangan Sehun. “Lain kali saja acara meminta nomor ponselnya dilanjutkan, kami sedang buru-buru.Jadi, akan kubawa gadis jelek ini pergi sekarang.” kata Sehun, ia menyeret Runa yang masih tergagap menjauh dari Chanyeol.

“Dasar vampir centil!” umpat Sehun sambil menyentakkan tangannya dari puncak kepala Runa -setelah mereka cukup jauh dari Chanyeol, membuat gadis itu mengusap kepalanya dengan kasar sambil menatap Sehun tajam, “Ya! Apa yang kau lakukan? Kau tidak bisa lihat Chanyeol sunbae sedang meminta nomor ponselku? Ini Chanyeol sunbae, Sehun! Park Chanyeol, yang tampan itu! Oh, serius, kau membuatku sangat marah sekarang!”

“Dan tidak tahukah kau bahwa sebelah tangannya sedang memegang kotak jus tomat berisi darah makan siang kita?” balas Sehun tegas. Seketika Runa mengerjap mendengar jawaban Sehun sebelum merubah intonasi bicaranya sedikit lebih pelan, “Benarkah?”

“Kau memang vampir centil yang selalu lupa arah jika melihat manusia penuh rasa ingin tahu bernama Park Chanyeol itu. Kau bahkan tidak sadar dia sedang memegang benda yang bisa membahayakan keberadaan kita di sini,” jawab Sehun panjang. Nadanya terdengar sangat menyalahkan–sekaligus menyebalkan.

“Maafkan aku,” Runa tertunduk, ia menyadari keteledorannya kali ini. Tapi nada yang Sehun gunakan benar-benar membuat dirinya semakin merasa bersalah saja.

Melihat gadis yang biasa ceria itu tertunduk sedih membuat hati Sehun dirundung iba, ia segera mengangkat lagi tangannya dan mengusap puncak kepala Runa, kali ini dengan lembut, “Tidak apa-apa, hanya saja kita harus semakin waspada pada manusia itu.”

“Aku tahu, Oh Sehun. Tapi….”

“Hmm?”

“Tapi kau harus menjauhkan tanganmu dari kepalaku secepatnya. Jika menurutmu aku adalah vampir centil, maka menurutku kau adalah vampir paling menyebalkan yang pernah ada di bumi!” kata Runa sambil menyentakkan tangan Sehun dari puncak kepalanya dan berbalik menjauhi si lelaki.

Ya! Nona jus, kau masih marah padaku karena masalah nomor ponsel tadi? Tunggu aku! Hei, Nona jus!” seru Sehun seraya mengambil langkah lebar untuk mengejar Runa.

-0-

Kim Junmyeon sedang menyibukkan diri dengan cairan-cairan di dalam beberapa tabung kecil ketika pintu laboratorium sekolah berdecit, menandakan seseorang mendorongnya ke dalam. “Park Chanyeol? Apa yang kau lakukan di sini?”

Chanyeol tersenyum kikuk, meskipun ia belajar di kelas yang sama dengan Junmyeon, tetapi pada kenyataaannya mereka memang tidak sedekat itu untuk saling menghampiri seperti saat ini. “Aku tahu kau murid terpandai di sekolah ini, Junmyeon. Karena itu aku hendak meminta bantuanmu untuk meneliti benda ini,” jawab Chanyeol sambil mendekati meja penelitian Junmyeon. Bau tidak sedap sedikit mengganggu penciumannya, tapi untunglah tidak cukup menyengat untuk membuatnya lari kocar-kacir keluar dan muntah sembarangan.

“Benda apa?” tanya Junmyeon, tampak tertarik dengan sesuatu yang dibawa oleh Chanyeol.

Chanyeol meletakkan kotak jus bergambar tomat itu di atas meja. Membiarkan Junmyeon mengambil kotak minuman itu sebelum mengeluarkan sedikit isinya ke atas meja. “Sepertinya ini terlalu kental untuk ukuran jus tomat,” komentar Junmyeon sontak disambut semangat oleh Chanyeol. “Kau juga merasa seperti itu, ‘kan?” Tampaknya Chanyeol telah menemukan satu orang yang bisa dijadikan sebagai pendukung hipotesisnya.

Junmyeon mengangguk, “Dari mana kau mendapatkannya? Mengapa kau ingin aku meneliti minuman ini?”

“Aku menemukannya di jalan dan… yah, aku hanya sekadar penasaran,” sebuah jawaban spontan terlontar dari bibir Chanyeol yang selanjutnya justru membawa kerutan di dahinya. Diam-diam menyadari Junmyeon pasti tidak akan percaya dengan jawaban bodoh yang baru saja ia lontarkan. Bagus Park Chanyeol, lain kali berpikirlah lebih cerdik.

Ada jeda sedikit lama sebelum Junmyeon membuka katup bibirnya, “Baiklah, aku akan meneliti minuman ini. Tapi aku tidak janji bisa menemukan jawabannya dalam waktu dekat.” Respon yang sanggup membuat sebuah kurva melengkung lebar di bibir Chanyeol. Ia lalu menepuk pundak laki-laki putih yang akrab dengan laboratorium itu, “Aku percayakan kepadamu, kawan!”

-0-

“Sudah kubilang Park Chanyeol itu benar-benar mencurigakan. Iya ‘kan?” Entah yang keberapa Sehun menggumam bimbang. Saat ini ia dan ketiga kawannya sedang berkumpul di atap gedung flat Minseok. Tadinya sih bermaksud mengisi waktu libur dengan melakukan sesuatu yang menarik. Tapi pada akhirnya hal yang menarik hanya berujung pada duduk-duduk seraya menatap langit dan bertukar cerita. Oh, astaga, seperti reuni keluarga.

“Kenapa kau terus mencurigai Chanyeol sunbae sih?” Runa mengambil jeda sejenak untuk menandaskan isi cairan merah dalam gelasnya, “Bisa saja ‘kan dia itu hanya ingin membantu tukang bersih-bersih membuang sampah. Lihat, betapa baiknya dia.”

“Jika kau ingin membela, setidaknya beri pembelaan yang masuk akal,” sungutan Sehun memancing Runa untuk mendelik kesal. Sedikit tak terima dengan wajah mengejek yang Sehun pasang. Sebelum keributan kembali pecah, untunglah Minseok segera berucap jengah, “Oh Sehun, Kwon Runa, daripada ribut seperti ini, pacaran saja sana!”

Sontak pemilik kedua nama yang disebut memberi delikan super kesal pada Minseok.

“M-mana mungkin kami akan pacaran!” Yang ini Sehun.

“Aku hanya mau pacaran dengan Park Chanyeol!” Yang ini Runa.

Ya! Bisa-bisanya kau akan memacari lelaki seperti itu!” Sehun menunjuk Runa dengan jarinya, suaranya semakin lama semakin keras saja. Sedang Runa menjulurkan lidah bermaksud mengejek, “Biar saja!” Gadis ini beranjak dari duduknya, “Kalau cemburu bilang dong. Sudah ah, aku mau telepon kantor pusat dulu.” Dia bergegas pergi, meninggalkan Sehun yang tergagu sendiri, “Ah, gadis itu benar-benar…”

Minseok memasang tampang malasnya memandang dua vampir terberisik di dunia–menurutnya. Mari tinggalkan pemandangan Sehun yang mengumpat sendirian perihal Chanyeol dan Runa. Selanjutnya Minseok beralih pada Reen yang justru sibuk memainkan gelas tak jauh dari tempatnya duduk. Dia mengembus napas pelan menyadari pastilah Reen yang paling merasa bersalah sekarang. Setelah mencebik sebentar, Minseok beranjak dan menempatkan dirinya di samping sang gadis.

“Tidak diminum? Atau masih kenyang?”

Reen menoleh, mendapati Minseok memandang ke depan sana. Bukannya menjawab, Reen masih setia dalam diamnya. Membuat lelaki di sampingnya ikut menggandeng hening. Hingga dua puluh lima detik kemudian Reen mau angkat bicara, “Apa Chanyeol akan curiga?”

Nah, tepat seperti apa yang Minseok kira. Reen memang sedang gundah memikirkan kotak jusnya yang berada dalam genggaman Chanyeol. Mengedik bahu sekilas adalah yang Minseok lakukan, “Entahlah.” Jawaban tak pasti ini semakin menarik wajah Reen ke bawah, mau tak mau si lelaki terkekeh sejenak, “Astaga kau jelek sekali dengan wajah itu.”

Oppa!” Satu pukulan di lengan sang lelaki Reen layangkan. Dipukul begitu, Minseok hanya mengaduh sebentar, “Tidak apa-apa. Sejelek apa pun yang jelas aku tetap suka.” Segera saja dengan wajah memerah Reen melayangkan pukulan kedua, “Yang serius sedikit!”

“Lho, itu serius, tahu!”

“Ah, tidak tahu deh.” Daripada ketahuan sedang malu, lebih baik Reen menekuk wajah lagi saja. Langsung saja Minseok menggeser duduknya lebih dekat agar bisa merangkul gadisnya, “Tidak perlu risau begitu. Nanti mendung loh.” Dia menunjuk langit dengan dagu.

“Gombal!”

Lagi-lagi Minseok terkekeh, “Kau tenang saja. Aku bisa mengatasi itu jika saja benar-benar terjadi.” Reen terdiam, teringat pada Minseok yang pernah terkena hukuman Ahn chi. Diam-diam dia ingin menangis juga mengingatnya. Jika Chanyeol mencurigai mereka, ini akan menjadi beban berat yang akan Reen tanggung. Serius, bisakah masalah datang lain kali saja? Saat mereka sedang bosan menikmati hidup di dunia yang itu-itu saja, misalnya.

Lamunan Reen tiba-tiba saja dirusak oleh Minseok yang bertingkah usil; menggunakan telunjuk dan ibu jarinya untuk menarik dua sudut bibir si gadis ke samping. “Yang ceria, nona. Senyum sedikit biar cantik.”

Oppa!” Sepertinya pukulan ketiga tak dapat dicegah.

Di sisi lain, Sehun di sudut paling tak di pedulikan di sana hanya mendengus jengah, “Bagus, single tampan sepertiku terjebak di situasi romansa seperti ini.”

Oh, ada yang iri rupanya.

.

Oke, tinggalkan para vampir itu sebentar. Di tempat lain, terlihat Chanyeol yang terburu melangkahkan kaki jenjangnya di koridor sekolah. Dia hanya perlu mengarang alasan dengan mengatakan ada yang barang yang tertinggal hingga dapat diizinkan masuk sekolah di hari libur. Pokoknya dia tidak bisa menunggu sampai hari Senin nanti untuk penjelasan Junmyeon yang menelponnya siang ini.

“Bagaimana?” Rasa ingin tahunya begitu meluap-luap saat mendapati Junmyeon di ruang laborat.

“Bagaimana menjelaskannya, ya?” Junmyeon meraih kertas penelitiannya dan mengambil langkah lebih dekat pada Chanyeol, “Aku jadi penasaran, di mana kau mendapatkan kotak jus itu?” Sejenak ia mengamati kembali hasil penelitiannya, sebelum mengulurkannya pada Chanyeol.

“Memangnya aneh kenapa?” ujar Chanyeol seraya menerima uluran kertas Junmyeon.

“Semua isinya adalah darah hewan.”

Langsung saja Chanyeol membelalakkan mata tak percaya.

-0-

“Aku melihat Chanyeol membawa kotak berisi darah makan siang kita.”

Kalimat yang diucapkan Sehun akhir pekan kemarin─saat mereka berkumpul di atap gedung flat Minseok─terus menggema di telinga Reen. Bohong jika gadis ini tidak merasa khawatir sedangkan ia sendiri tahu benar dirinyalah penyebab kotak jus berisi darah hewan itu berpindah ke genggaman Chanyeol. Jika saja tempo hari ia tidak terlalu cemburu dengan kehadiran gadis-gadis yang mengerubungi Minseok, atau jika saja ia lebih berhati-hati, pasti benda itu akan aman. Jadi sudah jelas ‘kan siapa yang harus menanggung kesalahan itu?

Pikiran yang terus mengerubungi hatinya ini membuat libur akhir pekannya berubah tidak nyaman, membuatnya tidak bisa tidur nyenyak. Berdampak pada area kehitaman di bawah matanya yang tampak sayu. Tidak cukup sampai di situ, pikiran menyebalkan tersebut bahkan masih menggerogotinya sampai sekarang, saat Reen berjalan di sepanjang koridor sekolahnya dengan kepala tertunduk.

“Aww!”

Reen memekik pelan sambil mengusap dahinya yang baru saja membentur sesuatu, atau mungkin seseorang. Enggan mengangkat kepalanya, Reen hanya mundur selangkah lalu membungkukkan badannya singkat, berniat meninggalkan apapun atau siapapun yang baru saja bertubrukan dengan dirinya.

“Kau sakit leher?” kalimat tanya dari suara yang sangat dikenalnya ini menghentikan langkah Reen, membuatnya menengadah demi melihat Minseok yang tengah berdiri tepat satu langkah di hadapannya. Reen hanya menggeleng ringan guna menjawab pertanyaan laki-laki itu. Melihat gadisnya tidak menjawab dan tampak sedikit pucat, Minseok tidak menyarangkan pertanyaan selanjutnya, melainkan segera mengangkat tangannya untuk ditempelkan ke dahi Reen. Persis seperti yang manusia sering lakukan. Membuat Reen mengerjap dan membeku sesaat di tempatnya berdiri.

“Apa yang kau lakukan?”

“Aku pikir kau demam.”

Mengingat seorang vampir tidak mungkin mengalami demam membuat sebuah kekehan pelan keluar dari bibir Reen. Lelaki kesayangannya itu lagi-lagi melakukan hal yang biasa dilakukan oleh manusia, yang sebenarnya tidak perlu dilakukan oleh kaum vampir seperti mereka. Ia ingat Minseok berkata bahwa manusia seringkali melakukan hal-hal aneh yang mereka sebut romantis, dan laki-laki itu senang mempraktekkannya pada Reen. Seperti saat ini, misalnya.

“Nah! Akhirnya kau tersenyum juga. Kan jadi terlihat cantik,” kalimat berselip rayuan ini membuahkan satu pukulan ringan di lengan Minseok, membuat laki-laki itu tersenyum senang. “Ayo, aku akan mengantar nona pipi merahku ke kelasnya!” Secepat cahaya Minseok mengambil tas yang dijinjing Reen di sebelah tangannya sebelum mengambil langkah mendahului si gadis.

-0-

“Reen!” Runa melangkah riang ke arah karibnya yang sedang bersandar di dinding luar kelas mereka. Sesaat kemudian menyadari bahwa karibnya ini ternyata tengah melamun. Menyadari ini, dia mendengus pelan.

“Reen!” panggil Runa lagi, kali ini dengan volume yang lebih keras, ditambah sebuah guncangan ringan di lengan sang karib. Cukup berhasil menarik Reen untuk mengerjap kaget, “E-eoh?”

“Apa yang kau lamunkan di siang bolong seperti ini, huh?”

Yang ditanya hanya memberikan gelengan singkat sebagai jawaban.

“Ini. Kau harus makan siang,” kata Runa sambil menyodorkan sekotak jus makan siang mereka.

Reen mengambil kotak jus yang disodorkan Runa, namun tidak melakukan apapun pada benda yang seharusnya menjadi makan siangnya itu. “Kenapa kau tidak langsung meminumnya? Bagaimana jika aku juga ikut makan siang di sini bersamamu?” ucap Runa lagi, kali ini sambil memasukkan sedotan ke dalam kotak jus yang ada di genggamannya sendiri sebelum menyesap cairan yang ada di dalamnya.

“Aku tidak lapar, Runa. Nanti aku akan makan,” jawab Reen singkat.

“Kau mulai lagi, deh. Hei, jangan seperti ini. Aku tidak suka kau begini, mengingatkanku pada kejadian sewaktu Minseok dulu─” kalimat panjang Runa berhenti mendadak karena suara jeritan menyebalkan terdengar dari ujung koridor, “Nona jus! Berikan makan siangku!”

“Dasar vampir sialan.” Terang-terangan Runa mengumpat di depan Reen. Biasanya Reen akan terbahak kala mendengar umpatan Runa, sebelum berakhir dengan segunung ledekan pada gadis itu untuk berpacaran dengan si vampir sialan.Tapi anehnya tidak kali ini. Reen masih diam, membuat Runa semakin mengkhawatirkan karibnya itu.

“Nona jus! Aku belum makan siang. Aku lapar. Lihat! Sudah jam berapa ini? Kau ini seharusnya melakukan tugasmu dengan benar.” Sehun mengetuk-ngetuk telunjuk kanannya di atas pergelangan tangan kiri, seolah ada jam tangan yang bertengger di sana. Runa sungguh berusaha menahan dirinya agar tidak melayangkan tinju tepat ke wajah vampir laki-laki menyebalkan yang ada di hadapannya ini. “Kau harus membujuk Reen supaya ia mau meminum jusnya dulu, baru aku akan memberikan jatah makan siangmu,” jawab Runa tak acuh.

“Baiklah kalau kau tidak mau memberikan jatah makan siangku, maka aku akan meminum jatah makan siangmu,” sahut Sehun ringan. Dan Runa masih belum selesai memproses maksud kalimat Sehun ketika laki-laki itu langsung membungkukkan dirinya tepat di depan Runa, mengarahkan bibirnya menuju sedotan yang sudah tertusuk dalam kotak jus yang ada di genggaman sang gadis, sebelum akhirnya berhasil menyesap cairan makan siang si gadis.

Ya’! Apa yang kau lakukan! Aku sudah memakai sedotan itu untuk minum tadi!” Runa tidak tahan untuk menjerit tepat di wajah Sehun, ketika laki-laki itu sudah menegakkan kepalanya kembali. “Tidak apa-apa, aku mau kok minum jus dari sedotan yang sama denganmu,” jawab Sehun ringan lalu mencipta langkah menjauhi Runa dan Reen yang masih berdiri dalam diam di sana.

Ya’! Tunggu! Aku harus memberimu pelajaran tata krama! Dasar kau!” Runa sempat menoleh ke arah Reen sebentar dan berkata, “Reen, ingat kau harus meminum makan siangmu itu, ya!” sebelum mengejar Sehun yang sudah mulai menjauh.

“Hei! Sehun! Kembali ke sini!”

Sepeninggal Runa dan Sehun, kebisingan yang tadi ada di sekitar Reen kini menghilang sedangkan ia masih betah bersandar di sini sendirian. Reen memandang kotak jus yang masih utuh di genggamannya tanpa ada niat untuk menyesap isinya.

“Reen-ssi?” sebuah panggilan asing menyapa rungunya. Sedikit enggan namun Reen tetap menengadahkan kepalanya, dan matanya terbelalak kaget melihat siapa yang kini sedang berdiri di hadapannya.

“Namamu Reen, ‘kan? Aku sunbae-mu, Park Chanyeol. Bisakah kita ngobrol sebentar?”

.

.

.

to be continued.

42 tanggapan untuk “Le Dernier Arret [Chapter 2]”

  1. TBC nya diiringi instrumen(?) gledek2 :v
    Duo vangsath ceritanya musuhan toh? musuhan gegara mbak Runa toh? /disambit kaknida 😀

    Cuss 3 😀

    1. instrumen geledek siyal ngakak xD
      iyooo entah kenapa mereka gak bersatu di sini wkwk aku gamao sambil kamu nad
      cuss lanjot yah, aku sama kaknean menunggumuh ❤ eyaak

  2. Telat bgt br bc lanjutan ff ini >< suho anak IPA ya? maen di laborat aja krj'ny. Drh hwn apa tuh menu lunch'ny para vampire di sklh? Runa-Sehun couple brisik, bikin iri! Umin-Reen, xan nih umbar romansa mulu, bikin mupeng! Chan penuh selidik, pengen jd temen mrk ya mk-ny kepo bingits. Trus klo dah tau bhw mrk tuh vampire, kamu mau apa hah? Mau lapor sm guru? Mau kamu usir atau musuhin? Or, malah tambah kepo! Dsr Chan mo tau urusan org aja. Mind ur own business ga bs ya? Atau krn pny bnyk wkt luang mk-ny menyibukan diri dg kepoin genk vampire di sklh? Mm.. apa dsr dr smw curiosity’ny Chan krn rasa tertarik dy ke Runa? Tp di Chap 1 kan spt’ny Chan tau Sehun da rasa ke Runa & kyny ga da niat bwt jd rival. *so tau bgt*

    1. gak telat koooook 😉
      iya si junmen jadi anak ipa yang tongkrongannya di lab, auranya menyilaukan sangat/gak
      darah hewan bukan cuma menu makan siangnya, itu emang makanan sehari2 mereka hehe cuman, kalok di lingkungan manusia mereka nyamarin darah itu ke kotak jus wkwk
      dua kapel yang beda aliran ya :’v sama sama nggemesin kan?/dibalang
      nha itu dia, canyol mah keponya bangetan sih, tauk uh tujuannya apa/plak
      canyol ada rasa gak ya….. masih ketutup kabut ya?/dibalang lagi/ lama lama akan kami kuaak kok ;D

  3. ini chanyeol apa gk takut apa pake nyelidikin itu jus tomat segala, chan inget mereka itu vampire nanti darahmu dijadiin jus lagi tapi aku suka tuh moment chan-runa-sehun hihi bikin gemes

    1. canyol mungkin punya sudut pandang yang beda dari cara dia mandang vampir wkwk
      eyaaak momen momen nggemesin lain bakal makin muncul loh kedepannya dari masing2 pemain/plak

  4. jadi baper mikirin minseok yang so sweet abis disini…
    #kapanakudisosweetinsamadia???? (abaikan thor)
    okeee chanyeol sudah curigaaa… fineeee ada yang kepo juga ternyataaa

    1. iya manisnya si minseok bikin ngiri banget yak? ahaha
      nha iya tuh, udah mulai curiga curiga gimana gitu, jadi rumit, kami yang nulis aja bingung/gak

    1. oh oh oh oh oh ciyusan dia bakal nyinggung itu?/nid…/ditabok
      siap, nextnya udah keluar yah, aku aja yang latereply 😦 maafkan 😦

  5. apa yang akan dilakukan reen dan teman temannya? apa yang akan chanyeol lakukan? apa ia jga ingin menjadi vampir? what? kita tunggu di chapter 3. bhuahahahaha bhauauau /ketawajahat

    1. kamu kayak pembawa acara riz, gapapa lumayan aku gak perlu sewa jadinya/gakgitu
      chap 3 is up lho riz, aku aja yang latereply 😦

  6. Tidakkkkk Chanyeol dah curiga… Gregetan weh…
    Sehun Runa ribut mulu dah, minta dinikahin tuh duo bocah
    Ditunggu nextnya! Fighting thor!

    1. iya canyol curiga 😦 kan ngeselin da kepo banget :(/digampar/
      lho? kamu mau nikahin sehun apa runa? satu aja dong/plis abaikan/
      sip makasih yaaa dan maaf latereply 😦 btw chap 3 up up up

  7. chanyoel udh curiga deh….
    si sehun koq brisik bgt sih kyk si cabe 🙂
    minseok-runa sweet bgt disini…
    tp aq lebih suka sehun yg cool dan misterius 🙂

    1. iya nih dia udah criga masa 😦
      ahaha sehun kadang kumat karna dia bosen diem terus selama ini/lah?
      heheh boleh kok suka sama yang mana aja 😉 makasih yah udah mampir ❤

  8. Tuh kan chanyeol curiga..
    Pake d teliti sgala..
    Minseok oppa aduh so sweet..kkk
    Sehun sma runa kok ya ribut aja, eh tpi gpp deng itu malah bkin aku ktawa..wkwkwk
    Duh duh smoga chanyeol gx nanya tntang jus tomat/ralat darah hewan ke reen, tpi kyanya sih bneran nanya tentang jus itu dehh.. aduhh bisa gawat nantinya..
    Next kakk dtunggu klanjutanya 🙂

    1. iya chanyeol sih kepo banget jadi orang/digeplak
      iya minseok mah emang dari lahir langsung soswit/gakgitujuga/ apalagi kalok sama reen/eyaaaak
      kalok mereka diem-dieman takutnya gak dapet jatah dialog entar di ff ini/nid/
      nah nah nah… tanya apa cobaa wkwk aku tunggu kamu di chap 3 ya, udah rilis lhooooo 😉

  9. Waduh bahaya ini. Si PCY udah curiga. Aku suka bgt karakter sehun yg usil gini. Biasanya si sehun kan slalu wajah datar. Lanjut ya

    1. alarm tanda bahaya udah kedap kedip ceritanya, chanyeol serius curiga niiiii wkwk
      iya sehun lelah gak berekspresi terus jadi dia jahil di sini wkwk
      aku tunggu kamu di chap 3 yaaaa… udah rilis loh 😉

  10. Hahaha runa~sehun bikin greget deh ribut mulu, udh jadian aja lah.. hahha.. apa yg mau dibicarain chanyeol sma reen jgn” tentang jus itu? Huh.. chanyeol mah diem” menghanyutkan..

    Next thor!! Fighting

    1. runa-sehun belum menemukan waktu yang tepat untuk jadian/uhuk/
      hayohloh tentang apa cobaaa wkwk liat chap 3 yang udah rilis ya 😉 makaish banyak udah ninggalin komentar, peluk ciyum ({}) ❤

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s