[#EXOFFIMVT2019] Kita – Riana Fadriani

Kita

Oleh Riana Fadriani

 

Hwang Junho mendengar sayup-sayup suara derap langkah kaki yang seharusnya tidak membangunkannya. Namun Junho yang tidak sepenuhnya tidur justru dapat mendengar suara tersebut bagaikan gedoran di pintu kayu. Begitu lantang, begitu kencang.

 

Junho tidak ingin membuka mata. Lelaki itu ingin sosok yang kini memasuki kamar rawat inap tempatnya mendekam selama enam bulan terakhirlah yang membangunkannya dengan sebuah sentuhan.

 

Tetapi sentuhan yang Junho tunggu-tunggu tidak kunjung tiba. Suara langkah kaki terhenti dan kini sunyi. Meskipun ingin sekali bersbar, kedua mata Junho sudah gatal ingin membelalak untuk melihat pemandangan di depannya.

 

Maka lelaki itu segera membuka mata dan mendapati sesosok gadis dengan rambut hitam sebahunya berdiri di samping kasurnya, dengan kue mangkuk yang begitu mungil di kedua tangannya. Dua batang lilin yang menyala terang tertancap di tengah kue tersebut.

 

“Kenapa kau sudah terbangun?! Seharusnya ‘kan aku bernyanyi dulu dan itu akan membangungkanmu!” seru gadis tersebut yang membuat Junho tertawa.

 

Junho lalu menegakkan tubuhnya yang berbaring di kasur.

 

“Tidak apa-apa Ahra. Aku tetap terkejut kok,” ucap Junho dengan senyuman.

 

Tetapi Ahra jelas tidak percaya. Gadis itu mengerucutkan bibirnya karena sebal.

 

“Ya sudah. Selamat ulang tahun Hwang Junho. Selamat berumur 21 tahun. Ck. Kau sudah tua ya,” tutur Ahra yang segera mendapat tepukan ringan di lengannya oleh Junho.

 

“Kau tidak sadar diri hah? Ulang tahun kita kan bersamaan! Itu tandanya kau juga bertambah semakin tua!”

 

Ahra terkekeh. Ucapan Junho memang benar. Kedua orang tersebut yang sudah saling mengenal sejak kecil memang memiliki hari lahir yang sama. Hampir setiap tahunnya mereka merayakan ulang tahun bersama. Tidak terkecuali tahun ini.

 

“Ya sudah, ayo buat permintaan sebelum meniup lilin.”

 

Ahra lalu mendekatkan kue tersebut ke arah Junho. Lelaki itu lalu menutup mata dan mengatupkan kedua tangannya. Ahra memperhatikan lelaki tersebut sejenak. Wajah Junho yang pucat, hidung bangirnya, bibir tipisnya, rambutnya yang sudah memanjang, hingga bulu matanya yang entah bagaimana menarik perhatian Ahra. Semuantya gadis itu pandangi sebelum akhirnya ia ikut menutup mata untuk memanjatkan permintaan.

 

Setelah beberapa saat, Ahra membuka matanya dan mendapati Junho tengah memandanginya.

 

Keduanya tersenyum dan dalam satu gerakan, Ahra dan Junho meniup lilin di kue hingga padam.

 

Ahra meletakkan kue tersebut di atas meja di samping kasur Junho dan bertepuk tangan. Ia lalu mencondongkan tubuhnya untuk mengecup kening lelaki itu.

 

“Selamat ulang tahun, kekasihku. Aku berdoa banyak sekali untukmu,” desis Ahra pelan.

 

Ujung bibir Junho terangkat dan ia membalas ucapan Ahra. “Mari kita lihat, permintaan siapa yang lebih dulu terwujudkan.”

 

Ahra tertawa. “Kenapa kau yakin sekali permintaan kita akan terwujudkan?”

 

Junho melirik kedua tangannya yang juga berwarna sama dengan kulit wajahnya.

 

“Karena selama ini, permintaanku saat ulang tahun selalu terwujudkan. Aku percaya, kali ini pun begitu.”

 

Ahra memiringkan kepalanya. Ia ingin sekali membalas ucapan Junho. Namun perkataan lelaki itu justru membuatnya larut dalam pikiran dan juga permintaan yang baru saja ia pinta kepada Tuhan.

 

 

Ahra berjalan tergesa-gesa di lorong rumah sakit. Beberapa menit yang lalu, Junho baru saja meneleponnya. Lelaki itu bilang, ada sesuatu yang begitu genting terjadi padanya.

 

Tanpa pikir panjang, Ahra yang seharusnya bekerja harus meninggalkan pekerjaannya dan bergegas ke rumah sakit untuk melihat keadaan Junho.

 

Begitu Ahra sampai di daun pintu ruang rawat inap tempat Junho berada, Ahra tertegun.

 

Junho berdiri di dekat kasurnya. Bukannya terbaring seperti biasa, Junho berdiri dengan gagahnya. Dengan balutan kemeja berwarna putih yang tangannya ia gulung hingga ke siku dan celana jeans berwarna hitam. Lelaki itu tampak sangat rapih dan rupawan.

 

“Junho?” panggil Ahra hati-hati sambil melangkah masuk.

 

“TA RAAA! Apa kau terkejut?” Tanya Junho merentangkan kedua tangannya dan berputar.

 

Ahra memicingkan mata. “Kenapa kau tidak berbaring di kasur?” Tanya Ahra yang masih tidak mengerti keadaan di depannya.

 

Junho mendecakkan lidah. “Apa kau masih tdiak paham juga?”

 

Ahra jelas tidak paham. Gadis itu bahkan sangat bingung. Seharusnya ia bertemu dengan keadaan genting yang berurusan dengan nyawa lelaki itu. Tentang hidup dan mati, tentang keselamatannya.

 

Tetapi berbanding terbalik dengan apa yang sudah Ahra persiapkan untuk ia lihat, Junho justru tampak baik-baik saja.

 

Junho lalu menarik napasnya dan berujar. “Dokter tadi baru saja datang untuk mengecekku. Ia bilang, aku sudah boleh pulang. Malah, dokter bilang, aku sudah membaik!”

 

Kedua mata Ahra membuka lebar. “Kau tidak bercanda kan?!”

 

Junho menggeleng. “Tentu saja tidak. Aku serius!”

 

Dengan cepat, Ahra menghambur ke dalam pelukan Junho. Lelaki itu mengangkat tubuh kekasihnya dan membiarkan perempuan itu menetap dalam rengkuhannya sejenak.

 

Ahra sudah memimpikan momen ini. Berharap sekeras mungkin untuk Junho, agar lelaki itu cepat sembuh. Agar lelaki itu tidak harus menetap di rumah sakit dalam waktu yang lebih lama lagi.

 

Kini, segala penantian Ahra maupun Junho telah berakhir.

 

“Kau tahu kan, apa artinya semua ini?” Tanya Junho ketika keduanya kini melepaskan pelukan mereka.

 

“Apa?” ujar Ahra yang menggenggam kedua tangan Junho.

 

“Ini artinya, aku bisa kembali mengajakmu berkencan.”

 

Deretan gigi Junho yang dipamerkan lewat senyuman itu membuat Ahra ikut tersenyum.

 

“Ahra, maukah kau menghabiskan waktumu denganku? Berjalan-jalan memutari Seoul, makan dan minum hal-hal yang enak, menatap langit malam, apakah kau bersedia?”

 

Ahra menoleh ke arah jam tangan yang melingkar di pergelangan tangan kanannya.

 

“Sekarang?” tanyanya melihat waktu yang menunjukkan pukul 10 pagi. Seharusnya sekarang ia berada di kantornya, berkutat dengan pekerjaan yang memusingkan.

 

“Tentu saja. Aku tidak ingin menunda-nunda selebrasi keluarnya diriku dari tempat mengerikan ini,” ujar Junho sambil melirik ke arah sekitarnya dan bergidik.

 

Ahra tahu ia memiliki banyak tanggung jawab sebagai pegawai kantor. Tetapi ia juga memiliki hak untuk berlibur sejenak dan seperti kata kekasihnya sendiri, ia juga tidak ingin menunda sebuah perayaan atas keluarnya Junho dari rumah sakit.

 

“Oke. Lebih baik kita berangkat sekarang, sebelum jalanan semakin padat,” ucap Ahra dengan anggukan.

 

Keduanya pun berlalu keluar dari rumah sakit dengan satu tujuan pasti, bersenang-senang dan hanya bersenang-senang.

 

Hyehwa menjadi destinasi pilihan kedua insan terebut. Hal pertama yang ingin Junho lakukan adalah makan Budae Jjigae. Maka keduanya pergi ke salah satu restoran yang menyajikan makanan tersebut.

 

“Setelah ini, apa yang ingin kau lakukan?” Tanya Ahra setelah menyuap sendok terakhir makanannya. Ia merasa puas melihat Junho yang makan dengan lahap.

 

Junho lalu menyandarkan tubuhnya ke kursi dan berpikir sejenak.

 

“Bukankah sehabis makan yang berat, kita perlu makanan penutup dan kopi?”

 

Ahra terkikik senang. Ternyata Junho tidak berubah sedikitpun. Ia masih gila makanan manis. Ahra juga tahu betapa rindunya lelaki itu dengan kue-kue berkrim vanilla yang pastinya mengalahkan puding dan agar-agar buatan rumah sakit.

 

Ahra segera menyetujui keinginan lelaki itu. Bagaimana pun juga, untuk Ahra, ini adalah hari milik Junho. Ahra sudah bertekad untuk menuruti apapun yang kekasihnya mau hari itu.

 

“Apa kau tahu kedai kopi paling terkenal di dareah ini?” Tanya Junho dan Ahra yang bergandengan menyusuri jalanan.

 

Ahra menggeleng. “Aku tidak begitu sering berkelana di daerah ini.”

 

“Ah, baguslah. Karena aku akan mengajakmu ke Raccoon Café.”

 

Ahra yang mendengar hal itupun melompat-lompat di tempatnya berdiri.

 

Raccoon Café? Kedai dengan rakun di dalamnya?! Aaaaaaa! Pasti akan sangat menyenangkan!”

 

Junho tertawa melihat tingkah Ahra yang kelewat bahagia. Junho tentu saja ingat dengan Ahra yang sangat menyukai binatang. Ahra sendiri sudah pernah mendatangi berbagai kedai kopi dengan binatang di dalamnya seperti kucing, anjing, bahkan burung hantu. Junho bersyukur bahwa gadis itu belum pernah mendatangi kedai rakun yang akan mereka kunjungi ini.

 

Benar saja, tebakan Junho sangatlah akurat. Ahra tidak bisa melepaskan matanya dari para rakun yang bekeliaran.

 

“Aww, aku rasanya ingin membawa pulang mereka!” pekik Ahra gemas. “Kalau tahu begini, saat berulang tahun, aku seharusnya memohon untuk mendapatkan rakun sebagai hewan peliharaan saja!”

 

“Memangnya, saat ulang tahun, kau memohon apa?”

 

Ahra mengalihkan pandangannya kepada Junho.

 

“Apa kau penasaran?” Tanya Ahra jahil.

 

Tetapi Junho serius dengan pertanyaannya. Junho lalu mengangguk.

 

Ahra mengaduk-aduk isi es kopi yang ia pesan. Ia lalu berkata. “Aku memohon agar permintaanmulah yang terkabulkan oleh Tuhan.”

 

Ahra tidak dapat memandang Junho ketika mengatakan hal tersebut. Ia merasa, permintaannya itu sangatlah kekanakan dan aneh, tidak pantas untuk dijadikan sebagai permohonan.

 

Ahra lalu mendongak, mendapati Junho yang memandangnya dengan senyuman tipis di wajah.

 

“Maka dari itu, semoga saja kau tidak memohon yang aneh-aneh ya!” ujar Ahra menambahkan.

 

Senyum Junho yang tadinya mengembang, perlahan memudar. Menimbulkan kerutan heran di wajah Ahra.

 

Tetapi perempuan itu tidak memiliki nyali untuk bertanya. Entah bagaimana, ia merasa jika ia mempertanyakan perubahan di air muka Junho, hal itu akan merusak hari bahagia mereka.

 

Keduanya pun terdiam dan segera mengalihkan topik pembicaraan. Ahra dan Junho kembali tertawa dan bergurau, tanpa mengetahui apapun itu yang akan terjadi kepada mereka.

 

 

“Jangan pulang, di sini saja.”

 

Junho berbaring di kasurnya. Menatap Ahra yang juga berbaring di sampingnya.

 

Setelah puas makan dan minum segala hal yang Junho rindukan, bermain-main di Raccoon Café, hingga berfoto-foto mengabadikan keindahan mural di Ihwa, Junho tidak bisa menampik kekuatan fisiknya yang belum sepenuhnya pulih.

 

Hari sudah semakin gelap sejak Ahra mengantarkan Junho ke apartemennya. Namun lelaki itu terus menolak kepergian Ahra, yang berakhir dengan keduanya kini beristirahat di kamar tidur Junho, menatap langit-langit kamar yang gelap.

 

Satu-satunya cahaya yang ada hanyalah kerlap-kerlip lampu jalanan dan kendaraan yang melintas dan dapat terlihat dari jendela kamar Junho.

 

“Aku rindu saat-saat seperti ini,” ucap Junho lagi, setelah sunyi mengisi jeda kalimatnya.

 

“Aku juga,” ucap Ahra.

 

Ahra merasa enggan untuk beranjak. Meski tanpa permintaan Junho pun, rasanya Ahra ingin terus menetap di kediaman Junho.

 

Untuk perempuan itu, perasaannya saat ini lebih dari sekadar rindu. Ia tidak hanya enggan untuk pergi, ia juga enggan untuk melepaskan momen saat ini. Berdua dengan Junho, berdiam diri dan berharap waktu ikut terhenti. Hanya ada alunan napas dan bunyi klakson dari kejauhan yang menambahkan keramaian di kepala.

 

Tetapi apa daya. Ahra tahu ia tidak bisa merasakan ini semua selamanya. Karena tiap napas yang gadis itu tarik, waktu ikut berlalu.

 

“Junho, aku tahu ini akan terdengar aneh. Tapi, aku bersyukur dilahirkan di hari yang sama denganmu. Aku rasa, takdir telah membawa kita bersama. Dengan anehnya, dengan ajaibnya, kita bisa bersanding seperti ini.”

 

Hening.

 

Kepala Ahra terasa berputar dan benaknya tidak bisa berhenti berjalan. Ia mengedipkan mata dan ketika tidak ada balasan terdengar, Ahra menoleh.

 

Gadis itu tersenyum. Junho telah memejamkan mata dan terlelap.

 

“Ah, kau pasti lelah,” bisik Ahra.

 

Ahra lalu mendekatkan tubuhnya ke arah Junho. Menyandarkan kepalanya di dada lelaki itu.

 

“Selamat malam, Hwang Junho. Aku menyayangimu, selalu.”

 

 

Ahra terbangun dan mendapati ia masih berada di apartemen Junho. Tepatnya, di kamar lelaki itu.

 

Matahari masih terlihat malu-malu dan bersembunyi di balik awan. Namun sinarnya, sudah mulai menelusup dan oranye indah mulai mewarnai kamar Junho, memberikan sliuet cantik di ruang berukuran sedang tersebut.

 

Ahra mendudukkan dirinya, dan mendapati Junho masih berbaring di posisi yang sama.

 

“Junho…bangun,” ujar Ahra sambil menggoyangkan tubuh lelaki itu.

 

Tetapi nihil, Junho tidak bergerak.

 

Ahra lalu menyentuh tangan lelaki itu dan ia terkejut.

 

Dingin. Tangan Junho terlalu dingin.

 

Perasaan Ahra tidak enak. Ia kembali menggoyangkan tubuh Junho untuk membangunkan lelaki itu.

 

Tetapi tidak ada respon barang seidkitpun.

 

Kini Ahra meletakkan tangannya di dada sebelah kiri milik Junho, dan ia tdiak merasakan apapun.

 

Ahra beralih ke leher leleki itu dan menyentuhnya, lagi-lagi tidak ada denyut yang terasa.

 

Ahra merasakan ada dorongan dari dalam pelupuk matanya. Ia tidak bisa menahan dorongan itu, air mata yang akhirnya tumpah begitu saja.

 

“Junho…Junho!!”

 

Tapi Ahra tahu, Junho telah tiada.

 

Hanya saja, perempuan itu menolak kenyataan yang ada.

 

Ahra menangis sejadi-jadinya di atas tubuh yang terbujur kaku itu. Meraung-raung, memanggil nama Junho seakan-akan hal itu dapat membangunkan Junho.

 

Ahra tidak mengerti, bagaimana bisa Junho meninggalkannya secepat itu?

 

Mengapa Junho harus pergi meninggalkannya? Bukankah ia sudah sembuh? Bukankah seharusnya mereka menjalani hari hingga tua renta, bersama-sama?

 

Ahra terus menangis. Isak tangisnya menggema di dalam ruangan yang kosong.

 

Perempuan itu tidak tahu, dan tidak akan pernah tahu, bahwa permintaan kedua insan tersebut telah dikabulkan oleh Tuhan.

 

Ketika Ahra mengucap doa kepada Tuhan untuk mewujudkan permohonan Junho di hari ulang tahun mereka, saat itu juga Junho berharap kepada Tuhan untuk menghentikan penderitaannya. Lelaki itu berharap, ia dapat menghabiskan waktu terakhirnya di dunia ini dengan Ahra.

 

Kalau saja Ahra tahu apa yang Junho harapkan, mungkin gadis itu akan merubah permohonannya. Karena satu-satunya hal yang Ahra ingin di dunia ini adalah untuk hidup besama-sama dengan Junho, selamanya.

 

-END

 

 

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s