Turn Off the Light | D.O.ssy

12301562_878251535625565_3859520612729974372_n

TURN OFF THE LIGHT

Author D.O.ssy | Cast Chanyeol and D.O of EXO | Genre FAILED! Horror Comedy, Brothership, School-Life | Length Ficlet (<1300 words) | Rating PG-13

http://chocolate46.wordpress.com/

Also posted in here with the different casts.
This story is purely mine. Please, don’t claim it as yours!

“Jangan matikan lampunya, kak.”

—***—

“PARK CHAN YEOL, SUDAH PUAS TIDURNYA?”

Vokal melengking guru paling galak se-antero sekolah menggaung di telinga sang pemilik nama, ditambah bunyi gebrakan penggaris besi yang dipukulkan ke meja sebagai pengiring, membuat si empunya telinga hampir melompat dari tempat duduk saking kagetnya. Lagi-lagi, Chanyeol tertangkap basah terlelap saat kelas tengah berlangsung. Maka, ia tidak perlu menerka-nerka apa yang akan terjadi selanjutnya ketika sepasang netranya―yang masih diserang kantuk berkepanjangan―menangkap figur menyeramkan yang berdiri sambil berkacak pinggang di samping bangkunya.

Hukuman menghormat bendera di lapangan selama setengah hari pelajaran pun harus Chanyeol terima sebagai konsekuensi.

Bagi Chanyeol, bukan hanya hukuman itu yang menyebabkan ia merasa dipermalukan setengah mati. Tapi, tatapan mengejek para murid dari kelas sebelah yang beramai-ramai menyaksikannya itulah yang menjadi beban terberatnya. Belum lagi latar belakang Chanyeol yang berasal dari kalangan yang diidolakan hampir semua gadis se-sekolah, menambah poin derita tersendiri. Mungkin setelah ini, fansnya akan berkurang setengahnya. Mungkin fanclub-nya akan menjadi sepi karena mereka pindah. Dan mungkin fandom Jongin, saingan beratnya di klub basket, akan bertambah jumlah anggotanya. Oke, satu hukuman dengan berjuta akibat mesti Chanyeol telan bulat-bulat.

Ah, sial. Sang matahari begitu bersemangatnya hari ini, padahal kemarin mendung sekali. Lihat! Bahkan cuaca pun tidak bersahabat dengannya. Bisa-bisa Chanyeol harus menyisihkan uang jajan untuk membeli losion dan lulur mandi jikalau kulitnya terbakar terik siang ini.

*

“Aku sudah mencoba membangunkanmu berkali-kali, Yeol.” Baekhyun, teman sebangku Chanyeol, tersenyum penuh rasa bersalah sepulangnya mereka dari sekolah. “Tapi bukannya bangun, kau malah menjambak rambutku.”

Laki-laki bertubuh jangkung, bersurai hitam, dan berbibir imut itu mencebik. Chanyeol memang dilahirkan tampan, dan selamanya akan tetap tampan, meskipun dengan kulit yang dekil (akibat menerima hukuman seonsaeng berjemur hampir tiga jam), dan rona kehitaman di sekitar matanya (akibat kurang tidur selama empat hari), namun hal itu semua tidak menghalangi garis ketampanan yang dimilikinya sejak kecil. Seperti saat ini sekali pun. Ya, setidaknya itulah anggapan Chanyeol―untuk menghibur dirinya sendiri tentang penampilannya yang sekarang serupa monyet yang tidak pernah mandi.

“Lagi pula, berani-beraninya kau tidur di kelasnya Kim seonsaeng.”

Chanyeol menghela napas panjang. “Ini semua gara-gara Kyungsoo!” gerutunya. Kesal bukan kepalang.

Masih hangat terekam di otak Chanyeol ketika Kyungsoo, adiknya yang masih duduk di bangku kelas tiga sekolah dasar, mengetuk pintu kamarnya tiap malam selama empat hari berturut-turut. Merengek-rengek dan meminta untuk tidur bersama, dengan alasan takut karena ada monster di kamarnya. Alasan bodoh macam apa itu? Di dunia ini mana ada monster?

Laki-laki itu mengacak rambut lepeknya frustasi. Padahal keluarga Park baru saja pindah ke rumah itu seminggu yang lalu (lantaran rumah dinas yang biasa ditempati sudah habis masa kontraknya). Tak bisakah Chanyeol menikmati kamar barunya tanpa sang adik yang mengganggunya tiap malam?

Ini bukan masalah Kyungsoo yang selalu membasahi bantalnya. Bukan pula karena Kyungsoo suka mengigau dan terkadang mendengkur, sebab Chanyeol pun sama, sering mendengkur keras hingga nyaris terdengar sampai ruang tamu (sesama orang berisik tidak akan saling mengganggu, kan?).

Tapi ini perkara…. Kyungsoo yang selalu menolak mematikan lampu!

Demi apa pun, Chanyeol tidak pernah bisa tidur dengan lampu yang menyala terang. Oh ayolah, Chanyeol tidak bodoh―meskipun tidak terlalu pintar. Ia sudah melakukan berbagai cara. Mulai dari menutup wajahnya dengan bantal agar sinar lampu tak mengganggu matanya, namun berakhir dengan sesak napas. Lalu mencoba mematikan lampu saat Kyungsoo sudah terlelap, namun sialnya adiknya selalu berhasil menggagalkan segala usaha. Hingga terakhir, ia mengendap keluar kamar untuk tidur di sofa ruang tengah, namun baru sekejap Chanyeol memejamkan mata, bayi besar itu merengek tidak ingin ditinggal. Alhasil Chanyeol hanya bisa pasrah, terjaga sepanjang malam, menemani adik yang luar biasa penakutnya.

Maka, jangan heran jika perjalanan pulang kali ini dihiasi dengan serentetan keluh kesah yang meluncur dari bibir Chanyeol tiada henti, ibarat senapan tempur yang memuntahkan banyak peluru. Kyungsoo yang kinestetik dalam tidurnya hingga kerap kali menendang bokong Chanyeol, Kyungsoo yang merajuk minta diantarkan ke toilet tengah malam, juga Kyungsoo yang badannya bau hasil bermain seharian namun enggan untuk membasuh diri karena takut pergi ke kamar mandi sendirian di malam hari. Baekhyun takjub. Mereka tidur di kasur yang sama baru empat hari, tapi sudah menghasilkan cerita layaknya mereka sudah tidur bersama selama ratusan tahun.

Tetapi, dari setumpuk kisah menyedihkan yang dilantunkan Chanyeol sepanjang jalan, bila Baekhyun simpulkan, intinya hanya satu. “Chanyeol tidak akan membiarkan Kyungsoo menang lagi!”

–***–

“Jangan matikan lampunya, kak!” sergah Kyungsoo tatkala melihat gerak-gerik Chanyeol yang hendak mematikan lampu kamarnya malam ini.

“Kak Chan, jangan… Kyungsoo takut.” Kyungsoo mulai berbuat ulah. Ia menarik selimut bergambar doraemon milik Chanyeol dan memakainya hingga menutupi belakang kepala. Mengeluarkan ekspresi se-memelas mungkin dengan memanfaatkan matanya yang besar. “Monster itu suka tempat gelap,” tuturnya gelisah sambil menggigiti bibir bawahnya yang kemerahan. Ayolah, kakak mana yang tega melihat adik unyunya ketakutan seperti itu? Ditambah lagi Kyungsoo memanggilnya dengan nama kesayangan (“kak Chan”), yang membuat hati Chanyeol terenyuh dan mendadak iba.

Tapi tidak!

Tidak mau!

Demi keberlangsungan fanclub-nya, Chanyeol tidak boleh terhasut lagi oleh tampang Kyungsoo dan segala jenis aegyo-nya!

Oleh karena itu, dengan berat hati Chanyeol katakan, “Kalau tidak mau lampunya di matikan, tidur di kamarmu atau di kamar ayah dan ibu sana!” sentaknya setengah berteriak, menyebabkan si adik yang terpaut usia lima tahun darinya itu memberengut.

KLIK

Kegelapan menyambut. Chanyeol senang, akhirnya ia bisa berbaring dengan tenang. Namun entah mengapa ada perasaan lain yang menyertainya. Perasaan sesak dan merinding! Ah, apa pun itu Chanyeol tak mau ambil pusing. Baginya sekarang, semua dirasa tidak penting. Bahkan Kyungsoo yang memeluk lengannya sangat erat karena ketakutan pun tak terlalu dihiraukan. Keinginannya hanya satu: segera menandaskan rasa kantuknya.

Dingin.

Chanyeol menggigil saat udara dingin yang tak tahu dari mana menggelitik kakinya. Padahal selama seminggu belakangan di kamar selalu terasa gerah, tapi kenapa sekarang dingin sekali? Dengan mata yang masih terkatup―terlalu malas untuk sekadar mengangkat kelopak, tangan Chanyeol meraba-raba sekitar, mencari selimut doraemon kesayangan yang selalu diklaim Kyungsoo, lantas menariknya kasar.

Tanpa diduga, rupanya sang adik tak mau kalah. Ia rebut kembali selimut yang telah menutupi tubuh Chanyeol.

“Tsk, ini selimutku, Kyungsoo! Pakai selimutmu sendiri!” decak laki-laki kelas dua SMP itu jengkel, kala Kyungsoo sama sekali tak mau mendengarkan. “Kembalikan!” Chanyeol berusaha mengambil kembali miliknya.

Namun, sekali lagi selimut malang yang jadi korban tarik-tarikan itu berhasil Kyungsoo amankan. Chanyeol jadi heran, tak biasanya Kyungsoo sekeras kepala ini. Juga, tenaganya sewaktu merebut selimut itu, kuat sekali. Ada apa dengan Kyungsoo? Setakut itukah pada kegelapan? Ah, kalau tahu bakal terganggu begini, rasanya Chanyeol menyesal dulu telah memaksa orangtuanya agar memberikan adik baru.

Dengan sangat terpaksa, Chanyeol bangkit, mencari saklar lampu, lalu…

KLIK

Lampu menyala terang, diikuti dengan bulu kuduk Chanyeol yang meremang ketika menemukan kenyataan bahwa yang berbaring di sampingnya dan berebut selimut dengannya tadi, bukan Kyungsoo.

—***—

Kening Kyungsoo mengernyit tatkala ia dapati Chanyeol di meja makan pagi ini. “Kakak kenapa?” tanyanya bingung melihat sang kakak, yang tampak sangat pucat layaknya mayat, hanya memandang kosong pada roti panggang selai cokelat, sarapannya, tanpa sedikit pun menyentuhnya.

Chanyeol tidak menyahut.

Kyungsoo mengendikkan bahu, lalu mulai mengoleskan selai strawberry kesukaan pada roti miliknya. “Omong-omong, tadi malam Kyungsoo tidur di kamar ayah dan ibu, kak. Habis, Kyungsoo takut monsternya datang.”

Laki-laki berseragam sekolah dasar itu terkesiap ketika Chanyeol melempar tatapan nyalang padanya dengan tiba-tiba. Bola mata hitam si kakak yang menyeramkan itu seolah memancarkan kilatan-kilatan listrik yang membuat Kyungsoo bergidik ngeri. “KENAPA KAU BILANG ITU MONSTER PADAHAL HANTU? AKU TAKUT SEKALI SAMPAI NGOMPOL, TAHU!”

END

Iklan

4 pemikiran pada “Turn Off the Light | D.O.ssy

  1. Hai penulis, salken yak aku saras, mau komen ttg tulisan kamu menurut sudit pandangku.

    Title (4/5)
    Aku pribadi suka sama judul yang antimainstream. Terus pemilihan judul ff ini pas banget kok sama isinya. Good!

    Poster (4/5)
    Duh pemilihan gambarnya juga bagus. Yang unyu2 bedua gituu.. Aku kira pas awal liat gambar mereka berdua tuh mereka karakternya temenan gitu, ternyata kaka adeek.

    Foreword (4/5)
    “Jangan matikan lampunya, kak.”

    Satu kalimat yg bakal readers penasaran. Kenapa? Kenapa ga boleh matiin lampu?

    Plot, flow (4/5)
    Alur dan jalan ceritanya runtut, rapih juga.

    Characterization (3/5)
    Karakternya chanyeol di sini keliatan banget walaupun ini cuma ficlet, yaitu kakak yg peduli sama adeknya, terus dia jaim juga kalo dihukum terus. Pokoknya karakterisasinya kece lah..

    Spelling, diksi (4/5)
    Aku belum nemuin typo. Terus diksi yang digunakan ringan. Enak bgt pas baca, ga bikin bosen. Terus aku pribadi lebih suka penggunaan ‘kak’ disini karena terkesan lebih unyu..

    Overall (9/10)
    Sukaaaak banget ama tulisan ini. Walaupun belum bisa bikin ketawa tapi seenggaknya udah menggelitik. Karakterisasinya bagus, diksi juga. Sukses buat penulisnya ya, keep writing!!

  2. Chanyeol kagak di real life maupun di ff selalu mengagumi diri sendiri 😂 cogan mah bebas:v Beli losion dan lulur demi keberlangsungan fanclubnya 😂😂 mana pake jambak rambut baek lagi? Sadis bat 😀

    Suka sama penyampaiannya. Meskipun gak sampai bikin ngakak, tapi cukup menghibur. Biasanya pas aku baca ff lain yang comedy, kadang suka garing. Tapi ini rapi cara penulisannya. Santai tapi gak berlebihan.

    Paling lebih ditingkatkan lagi EYD nya, juga cara biar comedy nya lebih fresh dan hidup.

    Betewe, itu si ceye kayaknya kualat ngusir adeknya :v kena kan? 😁

    Semangat terus thor ^^

  3. Holaaa, D.O.ssy. Terima kasih untuk cerita kamvret ini. Chanyeol udah segedhe gitu sampe ngompol karena hantu. :v
    Itu hantunya ane kok, Yeol. Kenapa takuuuttt??? Uuuuuu ~(0-0~)

    Di saat fanfiksi lain ber-genre menye-menye, ini satu-satunya cerita yang kamvret. Hahahaha :v

    Sebenernya idenya sudah cukup bagus, ceritanya pun bagus, EYD dan diksi mumpuni laaahh … tapi belum bisa membuat ngakak ya, kayak kurang dapet genre-nya *namanya juga failed horor comedy Ping, ngmong diri sendiri. :v

    Lain kali, dicoba lagi ya. Kamu tinggal memberikan rasa pada cerita kamu. Ide, penokohan, dll sudah bagus loh. Semangat menulis!! ^-^

    Salam kasih,
    WhitePingu95

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s