[#EXOFFIMVT2019] IT WAS YOU – TRIYARIN

It Was You

Nama Pena : TriyaRin

 

“Ahjumma, Annyeong. Sudah makan siang? Kubawakan buah persik kesukaanmu.” Song Na Ri menyapa Ahjumma di kamarnya. Ahjumma mengangguk dan tersenyum menyambut kedatangannya. Na Ri kembali setelah membersihkan buah persik yang di bawanya, ia mengupasnya sembari menemani Ahjumma di kamar. “Na Ri-yaa, tolong ambilkan buku catatan di dalam nakas sebelah sana.” Mata Na Ri mengikuti arah yang ditunjukan Ahjumma.

 

Ahjumma menerima buku yang di ambilkan Na Ri. Ia mengambil kalung yang diselipkan pada halaman buku tersebut. Ahjumma lalu memberikan kalung juga buku catatan pribadinya pada Na Ri. “Ige mwoya1?” kedua mata Na Ri membesar. “Na Ri sayang. Bisakah kau menjaga kedua benda ini untukku?” ucap Ahjumma lembut. Na Ri kemudian mengerutkan keningnya.

 

“Ahjumma, kau baik-baik saja? Apa ada sesuatu yang mengganggumu? Katakan padaku.” Na Ri melontarkan berbagai pertanyaan. Ia menyadari sikap Ahjumma yang aneh saat ini. Ahjumma mengenggam lembut tangan kanan Na Ri. “Na Ri-yaa, ibeon-edo jeoleul dolbwa jusyeoseo gomawo2. Baik-baiklah bersama Yeong Jae. Kuharap kalian bisa saling melengkapi. Juga berbaikanlah dengan ayahmu. Berhenti membuatnya khawatir. Kau tahu dia sangat mencintaimu.” Ucap Seo Yun Ahjumma. “Ahjumma, Yeong Jae bukan pacarku.” Ucap Na Ri. Seo Yun tersenyum melihat respon Na Ri yang tiba-tiba cemberut karena membahas Yeong Jae.

 

Kal Seo Yun kritis dua minggu kemudian. Kanker usus besar yang di derita Seo Yun lima tahun ini tak kunjung membaik. Song Na Ri sangat terpukul dengan keadaan Seo Yun. Ditemani Kim Yeong Jae yang bergantian menjaga Seo Yun di rumah sakit. Na Ri mengorbankan kuliahnya demi menemani Seo Yun. “Kau masih terjaga? Sudah makan malam?” Yeong Jae kembali ke rumah sakit setelah selesai dengan pekerjaannya. Na Ri menutup buku catatan milik Seo Yun yang sedang ia baca. Yeong Jae melepas hoodie yang di kenakannya. Menyisakan t-shirt putih menyelimuti tubuh kekarnya. Tatapan Yeong Jae sesekali menangkap Na Ri menyeka kedua matanya. Yeong Jae mendekat duduk di samping Na Ri. “Tak kusangka hidupnya begitu berat.” Yeong Jae mengikuti tatapan Na Ri yang sesekali membelai sampul buku catatan Seo Yun.

 

“Seharusnya aku lebih berusaha merawatnya. Seharusnya aku … “ Yeong Jae menangkup tubuh Na Ri untuk memeluknya. Na Ri menangis sesegukan dalam pelukan Yeong Jae. “Tenanglah, Na Ri. Jangan salahkan dirimu. Ini bukan salahmu. Kuatkan dirimu.” Ucap Yeong Jae lembut berusaha menangkan Na Ri. Na Ri menangis sejadi-jadinya saat itu. Ia teringat tulisan dalam buku milik Seo Yun yang menyadarkannya sesuatu. Membuat hatinya sakit melebihi apa pun.

 

Kal Seo Yun hanyalah satu dari sekian banyak remaja yang berusaha hidup bahagia dengan sejuta impian. Lahir di keluarga yang biasa saja, melanjutkan pendidikan ke universitas, mengambil beberapa kerja sambilan agar bisa mencukupi kebutuhannya juga mengirimkan uang tiap bulan untuk keluarganya. Pikirnya, dengan menjadi terkenal bisa membantu perekonomian ia juga keluarganya. Beruntung Seo Yun lolos audisi dan berhasil menjadi traine  di sebuah agensi. Demi mewujudkan cita-citanya Seo Yun merelakan masa muda, kesehatan juga kehidupan normalnya.

 

Sampai suatu hari Seo Yun tengah dalam perjalanan menuju Itaewon untuk mengunjungi keluarganya. Ia bertemu dengan pria yang berhasil menggoyahkan hatinya. Model fashion, actor, juga idola anak remaja Song Ki Joon. Seo Yun mengira pertemuannya dengan Ki Joon merupakan sebuah takdir. Mereka menjalin hubungan kekasih. Wajah yang tampan, tubuhnya yang tinggi dan atletis, dan di idolakan banyak remaja tak membuat Ki Joon goyah terhadap Seo Yun. Ia memperlakukan Seo Yun istimewa. Seo Yun mencintai Ki Joon dengan segala perlakuan yang di dapat. Seo Yun merasa sangat dicintai dengan tulus. Namun semua itu tidak lah seindah cerita dalam negeri dongeng. Malapetaka itu menghantam hidup Seo Yun seolah ia menginjak ranjau yang salah.

 

“Jauhi anakku. Kau melakukan ini karena uang, bukan? Sebutkan berapa yang kau inginkan?” wanita di hadapan Seo Yun bicara dengan nada ketus. Hati Seo Yun tak hanya sakit dengan ucapannya melainkan juga dengan perlakuan yang di dapat. “Anakku harus mendapatkan yang terbaik. Juga wanita dari keluarga yang baik. Sadarkan dirimu, kau ini bukan apa-apa. Mencukupi kehidupanmu dan keluargamu saja kau tak mampu. Kau ingin menjadikan Ki Joon budak uang mu, eohh!!!” ucap wanita itu lagi dengan nada bicara yang semakin meninggi. Seo Yun tak mampu berkata apa pun dengan serangan yang semakin membuat hati juga harga dirinya jatuh. Ia hanya menundukan pandangannya.

 

PAKKK!!! Wajah Seo Yun di tampar keras. Rambutnya di tarik kasar. Seo Yun melindungi area perutnya. Menghalangi wanita muda itu memukul tubuhnya. “Masih berani kau bersama Ki Joon Oppa. Tinggalkan dia atau kau ingin kubuat hidupmu lebih hancur,” ucap wanita itu penuh penekanan sebelum akhirnya meninggalkan Seo Yun yang tersungkur kesakitan setelah puas melampiaskan amarahnya.

 

Kejadian itu menyadarkan Seo Yun banyak hal. Ia sudah hancur. Cita-cita, harapan maupun cintanya lenyap tak tersisa. Ia tak berhasil dalam pendidikan juga impiannya menjadi penyanyi. Seo Yun mulai menghindari Ki Joon. Ia tak ingin Ki Joon melihat wajahnya yang lebam dan membiru. Seo Yun meninggalkan agensi, pindah rumah, berhenti dari pekerjaan paruh waktu, dan mengganti nomor handphone-nya. Ki Joon dibuat gila dengan kepergian Seo Yun. Ia berusaha mencari tahu keberadaan Seo Yun sampai menyewa detektif untuk mencari keberadaannya.

 

Detektif itu berhasil menemukan keberadaan Seo Yun. Ia membeberkan fakta yang didapat. Di suap bahkan direndahkan oleh ibunya sendiri, kekerasan oleh teman wanitanya, juga keadaan Seo Yun yang saat ini tengah mengandung sembilan bulan. Ki Joon frustasi mendapati kenyataan tersebut. Ia mengutuk dirinya yang tak bisa melindungi Seo Yun. Ia menyalahkan dirinya yang bodoh dan tak berguna. Sejak saat itu Ki Joon meminta detektif itu untuk terus mengawasi Seo Yun. Sesekali ia menyelipkan bantuan untuk Seo Yun lewat orang disekitar Seo Yun.

 

Bunga-bunga yang mekar saat itu menandai kelahiran buah hati Seo Yun tercinta. Ia menangis haru atas berkah yang masih di takdirkan untuknya. Dalam keadaan yang sulit Seo Yun berusaha merawat buah hatinya dengan penuh cinta dan kasih sayang. Hingga suatu malam saat Seo Yun menatap wajah buah hatinya lekat. Ia terpkirkan sesuatu yang membuatnya termenung semalaman. Sampai akhirnya Seo Yun membuat keputusan yang harus mengorbankan dirinya lagi.

 

Setelah Na Ri sadar dan tenang dari mimpi buruknya. Ia mulai menceritakan tiap kejadian dalam mimpinya pada Yeong Jae. Seolah Seo Yun mendatagi Na Ri lewat mimpi. Seo Yun memberikan gambaran segala hal yang tak bisa ia katakan langsung kepada Na Ri. Yeong Jae terkejut mendengar penjelasan Na Ri. Semua terasa tak masuk akal dalam pikirannya. “Aku tak tahu bagaimana denganmu. Menurutku sebaiknya kau minta beliau kesini. Aku merasa Seo Yun Ahjumma benar-benar membutuhkan beliau saat ini.” Yeong Jae menatap kedua mata Na Ri lekat berusaha meyakinkannya.

 

Setelah menunggu beberapa waktu. Lelaki yang tubuhnya masih prima di usia lima puluhan itu muncul dari balik pintu ruangan dimana kehadirannya telah di tunggu-tunggu. Ia melihat Na Ri yang menggenggam jemari seorang wanita yang tengah sekarat. Yeong Jae menyadari keberadaan lelaki tersebut dan memintanya mendekat dengan sopan.

 

Lelaki itu mendekat perlahan dengan gugup dan perasaan kacau lainnya. “Ahjumma, Appa sudah disini,” Bisik Na Ri pelan di telinga Seo Yun. Ia tersenyum sambil berusaha menahan tangisnya. Na Ri menoleh pada Appa. Appa yang tak lain Song Ki Joon lelaki yang di cintai Seo Yun kini mereka bertemu.  Na Ri meraih tangan Appa menuntunnya menggenggam tangan Seo Yun. Ki Joon gemetar dalam genggamannya. Setelah bertahun-tahun, baru sekarang ia bisa menyentuh langsung jemari wanita yang di cintainya.

 

Ki Joon menangis seketika. Ia teringat segala penyesalan terhadap Seo Yun yang membuatnya semakin menderita. Ki Joon menundukan punggungnya mendekat pada Seo Yun. Ia membelai wajah Seo Yun lembut. Betapa ia merindukan Seo Yun. Senyuman cantiknya, omelannya, sikap tangguhnya juga kasih sayang yang tak ia lihat dari wanita lain. “Mianhae, Seo Yun. Jeongmal Mianhae,” ucap Ki Joon lirih.

 

“Kumohon sadarlah, Eomma,” bisik Na Ri dengan penuh harapan di hatinya. Air mata sudah membasahi pipinya. Mata Ki Joon membesar mendengar bisikan Na Ri. “Mari kita hidup dan bahagia bersama. Aku akan selalu bersamamu. Mari habiskan sisa hidup kita bersama.” Na Ri semakin menitikkan air mata. Yeong Jae menyentuh bahu Na Ri berusaha menenangkannya. Ki Joon yang kini mendengar dengan jelas ucapan putrinya kini sadar bahwa Na Ri sudah mengetahuinya. Song Na Ri, Song Ki Joon, juga Kim Yeong Jae mungkin tak menyadari  kalau Seo Yun saat itu menitikkan air mata dalam kondisinya yang koma. Ia dapat merasakan kembali kehangatan, kebahagiaan, juga cinta seutuhnya seperti yang ia impikan selama ini.

 

Sejak malam itu Ki Joon tak pernah kembali ke rumah. Ia menghabiskan waktunya merawat Seo Yun. Sesekali Na Ri dan Yeong Jae datang untuk menemani. “Neo gwaenchana?” Yeong Jae dan Na Ri memperhatikan Ki Joon yang tengah membasuh tubuh Seo Yun dengan handuk hangat dari balik pintu ruangan Seo Yun. Kini Na Ri dapat tersenyum lepas seolah seluruh beban di hatinya menghilang. “Aku senang akhirnya mereka bisa kembali bersama. Awalnya memang mengejutkan. Tapi setelah kupikir kembali, aku bersyukur Seo Yun Eomma melahirkanku ke dunia ini,  walau harus berpisah demi masa depanku, aku bersyukur Appa menepati janjinya pada Seo Yun Eomma agar hidupku jauh lebih baik darinya, dan… mereka menutupinya dengan baik,” Na Ri membayangkan hal bahagia yang diperolehnya selama ini.

 

“Bahagia itu sederhana. Melihat orang yang kita cintai tumbuh bahagia dan menjadi dirinya sendiri ialah hadiah terbesar untuknya. Mencintai pria itu juga hadiah yang tak akan ia sesali seumur hidup. Keinginan terbesarnya saat ini ialah hidup bersama orang-orang yang ia cintai. Ia sudah terlalu lama dalam penantian. Ahjumma mengatakan hal itu sambil membayangkan sesuatu. Awalnya aku tak menyadari. Aku tak paham yang ia maksud. Kini aku menyadari alasan ia memberikan kedua benda itu.” Yeong Jae merangkul pundak Na Ri. “Kau melakukan hal yang benar,” ucap Yeong Jae.

 

Terlintas sesuatu dalam benak Na Ri. Membuat Na Ri ragu untuk mengatakannya. “Boleh kutanya sesuatu?” Na Ri sedikit menggigit bibir bawahnya. Yeong Jae menoleh pada Na Ri dan menanggangguk kan kepalanya.

“Melon atau semangka?”

“Semangka.”

Chocolate atau lemon tea?”

Lemon tea.”

Pink atau Blue?”

Blue.”

“Semangka, lemon tea, dan blue kenapa kau memilih itu?”

“Song Na Ri sampai kapan kau mau mengujiku? Aku memilih hal yang kau sukai. Sama halnya aku menyukaimu. Sangat sangat menyukaimu.” Yeong Jae mencubit sebelah pipi chubby Na Ri. Gemas tiap kali Na Ri mengerjainya. Yeong Jae sadar telah melakukan banyak hal untuk Na Ri. Walau terkadang Na Ri menolak dan mengatakan ia hanya merepotkan. Yeong Jae tak pernah berhenti berharap bahwa Na Ri akan menerimanya. Ia berharap Na Ri sadar segala yang ia lakukan tulus untuk Na Ri. Karena Na Ri sangat berarti untuknya.

 

“Kau tak lelah? Aku bahkan tak pernah bersikap manis padamu. Kenapa kau tak berpaling saja dengan wanita berambut pirang itu.”

“Akan kulakukan jika kau menginginkannya,” ledek Yeong Jae.

“YA!! Aishh, menyebalkan.” Na Ri spontan berteriak mendengar ucapan Yeong Jae.

“Lihat dirimu. Aigoo…. Kau tak suka aku dengan wanita lain tapi kau tak mau membuka hatimu untukku. Menurutmu siapa yang lebih menyebalkan?” Yeong Jae mengacak rambutnya frustasi. “Bohong jika kukatakan aku tak lelah. Tapi aku lebih lelah jika harus mencari yang lain yang seperti dirimu.” Ucap YeongJae sebelum ia beranjak meninggalkan ruangan itu. Na Ri masih terdiam di tempatnya. Hatinya berkata untuk tak membiarkan Yeong Jae pergi. Namun kedua kakinya masih terlalu takut untuk mengejar Yeong Jae.

 

“Kim Yeong Jae!” teriak Na Ri. Na Ri mengumpulkan seluruh keberanian dalam dirinya dan berlari menghampiri Yeong Jae.

Tatapan Na Ri dan Yeong Jae bertemu, “Membuatmu menungguku selama ini, mianhae. Aku tak mau kehilangan seseorang yang telah melakukan banyak hal dan tulus padaku. Bukan aku tak menyukaimu, aku hanya takut salah memilih. Aku terlalu lelah bermain-main dalam suatu hubungan,” Na Ri menjeda ucapannya. Menarik nafas panjang dan menghembuskan perlahan. Na Ri berusaha mengontrol perasaannya saat ini.

 

“Mari kita menikah? Aku ingin bahagia bersamamu.” Raut wajah Na Ri berseri-seri. Hatinya terasa lega setelah ia mengungkapkan perasaannya. Yeong Jae terkejut mendengar pengakuan Na Ri. Yeong Jae memeluk Na Ri erat. Meluapkan rasa bahagianya. Yeong Jae sangat bersyukur perasaannya terbalaskan.

 

Kita semua memiliki jalan hidup masing-masing. Takdir yang mempertemukan juga memisahkan bukanlah tanpa alasan. Waktu tak pernah berputar mundur. Kita yang terus melangkah ke depan. Yang bersama dan yang kita miliki saat ini syukuri dan jagalah sebelum segalanya pergi meninggalkan dan melupakan. Entah untuk kembali nantinya atau menghilang selamanya.

 

 

1 Apa ini?

2 Terima kasih sudah merawat juga menemaniku selama ini.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s