[#EXOFFIMVT2019] Deep Brown Eyes – Gyutoprak

Deep Brown Eyes


By Gyutoprak

 

Satu cita-citaku kembali tercapai setelah tahun lalu berhasil membeli sebuah rumah minimalis di Gangnam. Tenang, aku bukan pria tajir melintir dengan kekayaan super fantastis yang punya satu lembar kartu hitam yang sering kalian sebut sebagai black card. No, aku hanya seorang Wakil Direktur CSY Grup, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang properti. Perusahaan nomor satu di Korea—bahkan kudengar tahun ini berhasil memimpin Asia.

Ya ya, aku Wakil Direktur. Namun tidak sampai bulan lalu. Karena mulai sekarang, aku akan mewujudkan cita-citaku yang sesungguhnya. Cita-cita yang hampir lima tahun ini selalu aku perjuangkan. Dan untung saja, Ayah berhasil luluh setelah aku meyakinkannya habis-habisan.

“Kalau kamu sudah puas berkenala dengan cita-cita aneh kamu itu, pulang! Ayah tetap akan kosongkan posisi kamu. Semoga Tuhan segera menyadarkanmu dari segala pemikiran gila yang ada di otakmu itu.”

Aku tergelak begitu mengingat pernyataan Ayah bulan lalu. Halo, memang ada yang salah dengan cita-citaku? Memang ada Undang-Undang yang melarang seorang pria lajang yang tampan dan mempesona menjadi—

“Cho Doheon?”

Aku tersentak mendengar suara berat di belakangku. Pria separuh baya itu tersenyum sebelum mengulurkan tangannya tepat di hadapanku. Dan tentu saja, kuraih uluran tangan tersebut tanpa berpikir dua kali.

“Selamat pagi, Pak Kim,” sapaku. Beliau mengangguk sambil menepuk punggungku hangat.

“Sudah siap untuk hari pertama?” tanyanya yang langsung kubalas anggukan. “Bagus. Ayo ikut saya, biar saya kenalkan ke yang lainnya.”

“Siap, Pak.”

Pak Kim memimpin, berjalan persis di depanku tanpa ragu. Namun setelah langkah kelima, pria itu membalikkan badan hingga matanya bertemu dengan mataku lagi. Aku terdiam sejenak sambil menunggunya bicara.

“Kalau sampai tempat ini gempar karena ada kamu, kamu harus angkat kaki dari sini,” katanya serius. Sontak aku mendelik.

“Ya? Maksud Bapak?”

“Siapa tahu banyak ibu-ibu memaksa masuk ke kantor hanya untuk melihat kamu. Mohon izin Pak Kepala Sekolah, saya mau lihat wali kelas anak saya yang ganteng itu. Boleh, kan? Satu foto saja, setelah itu saya pergi deh,” jawabnya sambil menirukan suara khas ibu-ibu centil yang biasa aku lihat di TV. Aku mengerjap. Maksudku…

“Itu…”

Pak Kim tergelak, mengejek. “Bercanda! Jangan tegang-tegang wajahnya. Guru ganteng boleh, guru tidak berkompeten baru tidak boleh ada di sini.”

Jawabannya berhasil membuatku tertawa sedikit canggung. Yeah, aku harap tidak akan menemukan ibu-ibu centil itu di sekolah ini. Karena aku di sini untuk bekerja, bukan untuk menjual tampangku yang…ya, sebelas dua belaslah dengan member boygrup. Ganteng.

 

∞ ∞ ∞

 

Aku menatap gerombolan bocah di depanku antusias. Beberapa dari mereka bahkan melambaikan tangannya padaku sebelum benar-benar pergi mengikuti langkah kaki orang tuanya. Melihat tawa mereka membuatku ikut merasa bahagia. Perasaanku menghangat. Aku sangat menyukai anak kecil. Tidak salah memang bekerja di sekolah ini. Yeah, kecuali fakta kalau ada beberapa wali murid super centil yang suka tebar pesona. Sebagai guru yang baik, aku hanya bisa tersenyum pasrah menanggapi rayuan mereka.

“Pak Doheon!”

Seorang bocah berkuncir kuda berlari ke arahku dengan imutnya. Sebelum dia sampai di hadapanku, tubuh ini dengan sigap langsung berjongkok untuk menyamakan tinggiku dengan tingginya. Dia tersenyum cerah, memamerkan gigi depannya yang hilang dua.

“Yemi belum pulang?” tanyaku sedikit ragu, takut salah melafalkan namanya. Maklum, baru pagi tadi aku bergaul dengan bocah-bocah ini. Sedikit sulit mengingat satu persatu nama mereka hanya dengan waktu empat jam.

“Yemi nungguin Ara.”

Aku mengernyit. Ara? Siapa lagi Ara? Apa dia salah satu murid yang belum sempat berkenalan denganku? Ah, atau adiknya?

“Ara-nya mana?” tanyaku. Yemi menggeleng lucu.

“Katanya di jalan.”

Okay, sampai di sini aku hanya mampu tersenyum. Kalimat apa yang harus aku lontarkan? Pertama, aku tidak tahu siapa Ara. Kedua, aku tidak kenal siapa Ara. Ketiga, aku—

“Yemi!”

Suara tegas di belakang Yemi berhasil menyentak kami hingga aku memilih untuk bangkit. Pemilik suara itu segera menarik tangan Yemi lalu menyembunyikan tubuh kecilnya di balik tubuhnya yang juga kecil. Kepalanya terangkat tinggi-tinggi hingga matanya bisa bertemu dengan mataku.

Aku memilih membalas tatapannya lebih intens.

“Kamu siapa?” tanyanya dingin.

Aku diam, masih sambil membaca arti tatapannya.

“Ara, itu guru Yemi. Namanya Pak Doheon.”

Bahkan ketika Yemi bersuara pun, mata ini masih enggan beranjak dari tatapannya. Aku tertawa pelan, mengejek perempuan kecil di depanku ini. Atau tidak?

“Siapapun kamu, jangan dekati Yemi.”

Dan pada titik ini, aku terpesona. Pada mata coklatnya yang dalam.

 

∞ ∞ ∞

 

Tiga hari kemarin, semesta sedang mempermainkan hatiku. Namun detik ini, kurasa semesta ingin aku membawaku ke jalan yang seharusnya aku lalui. Takdir, semesta dan Tuhan. Aku tahu, mereka memang baik.

Pemilik mata coklat itu menatapku, sedikit terkejut. Terima kasih pada statusku yang masih guru baru sehingga jadwalku tidak sepadat guru lainnya. Sehingga aku bisa bertemu dengannya di halaman sekolah yang sepi ini.

“Aku rasa aku pernah bilang untuk jangan dekati Yemi,” katanya. Aku memasukkan tanganku ke dalam saku celana lalu mengangguk.

“Jangan dekati Yemi, bukan jangan dekati Ara. Benar, bukan?”

Dia terlihat cukup terkejut dengan pertanyaanku. Tangannya bahkan meremas buku tebal yang entah sejak kapan berada di dekapannya.

“Kamu—”

“Mahasiwi sastra? Semester berapa?” tanyaku begitu sadar buku apa yang sedang dia dekap. Begitu puas menatap buku tebalnya, akupun kembali menatap mata coklat miliknya. “Hm?”

“Urusan kamu?”

Aku tergelak. Tanganku terlipat di depan dada, mulai tertarik dengan obrolan tak terduga ini. “Hari ini bukan urusanku. Besok, siapa yang tahu?”

“Apa maksudmu?”

Senyum tipis kembali tersungging dari bibirku, sedangkan dia masih betah memasang wajah super jutek yang…jujur, sangat cantik. “Aku akan sangat berterima kasih kalau kamu bisa bicara sedikit sopan. Aku lebih tua dari kamu.”

“Aku tidak butuh terima kasihmu.”

Lagi-lagi aku tertawa. Apa dia tidak sadar? Sikap dingin dan galaknya justru buat rasa penasaranku kian menjadi-jadi.

“Setidaknya ajari Yemi memanggilmu Kakak. Kamu tahu, kan, kalau Yemi bisa terus memanggilmu Ara sampai dia besar nanti?” tanyaku sedikit serius.

Yap, jujur, itu menjadi salah satu kekhawatiranku sejak pertama kali bertemu Ara dan Yemi. Bagaimana bisa Yemi memanggil Ara tanpa embel-embel ‘Kak’? Jadi, bukan salahku kan kalau aku salah mengira—

“Aku bukan kakaknya,” ujar Ara, memotong segala monolog panjangku. Aku menaikkan salah satu alisku penasaran. “Aku ibunya.”

 

∞ ∞ ∞

 

Semesta kembali mempermainkan hatiku. Setelah takdir mempertemukan, semesta lagi-lagi menjauhkan Ara dari pandanganku. Bukan hanya tiga hari, tapi hampir satu minggu. Yemi yang sering aku jumpai di kelas hanya menggeleng saat bibir ini mulai menanyakan keberadaan Ara.

“Yemi harus diam. Nanti Ara marah,” begitu katanya.

Bahkan ketika tubuh ini duduk di ruang guru yang sepi, otak dan hatiku masih sejalan untuk tetap memikirkan perempuan bernama Ara yang sudah seenak jidat bergerilya di pikiranku. Entah atas dasar apa aku jadi makin penasaran dengan dirinya. Mungkin…aku mulai gila?

Klek!

Seseorang di ujung sana berhasil membuatku tersentak saat dirinya membuka pintu ruang guru yang tertutup. Kukira sosok Pak Jungin atau Bu Seri yang akan memenuhi indera pengelihatanku. Nyatanya bukan. Tubuhku bahkan reflek bangkit begitu melihat dirinya berdiri di ambang pintu dengan raut wajah yang tidak jauh beda denganku.

“Aku kira Bu Gina ada di dalam.”

“Beliau sedang keluar,” jawabku. Dia mengangguk paham.

“Kalau begitu—”

“Ara,”  potongku dengan cepat. Mata coklat itu kembali menatapku, kali ini dengan sedikit polos. Aku tersenyum tipis sebelum kembali bersuara. “Mau secangkir kopi?”

 

∞ ∞ ∞

 

Ada rasa bahagia sekaligus bingung saat Ara menerima ajakanku tanpa berpikir dua kali. Maka di sinilah kami, duduk di halaman belakang dengan secangkir kopi instan yang sengaja aku buat di pantry. Ara menyesap kopi di tangannya dalam diam, pun denganku yang lebih memilih merasakan kenyamanan di tempat ini. Suara burung, tawa anak-anak dari dalam kelas dan tentu saja, Ara. Tiga komponen luar biasa.

“Aku—”

“Benar, aku Ibu Yemi. Kamu tidak salah mengira. Kamu tidak buta, kamu tidak tuli, kamu masih waras.”

Ara menyela begitu saja kalimat yang bahkan belum aku tuntaskan. Matanya yang menjadi candu bagiku itu menatapku untuk yang kesekian kali. Dan untuk yang kesekian kalinya pula, aku jatuh dalam pesonanya.

“Kamu benar, aku masih kuliah. Usiaku baru delapan belas saat melahirkan Yemi. Ya, aku hanya pendosa keji yang bahkan tidak bisa mengenalkan siapa sosok ayah pada Yemi. Aku hanya anak durhaka yang berhasil mencoreng nama baik keluarga hingga orang tuaku membuangku dari rumah. Ya, aku seberdosa itu.”

Tidak ada setetespun air mata jatuh dari matanya. Dalam hati aku mulai memanjatkan serangkaian puji syukur pada Tuhan. Karena asal kalian tahu, aku benci melihat apa yang aku suka menjadi rusak apalagi sakit. Termasuk Ara dan mata coklatnya yang begitu dalam menatap mataku.

“Terima kasih sudah mempercayakan aku untuk tahu,” ujarku, tak lupa diiringi senyum tipis. Bibirku mulai menyesap kopi di tanganku. Panasnya sedikit berkurang, tapi masih enak.

“Aku tahu, alasanmu mengajakku ke sini bukan untuk menikmati secangkir kopi di siang hari. Sekarang kamu tahu betapa busuknya aku. Jadi aku minta satu hal lagi padamu.”

Aku masih menyesap kopiku tanpa menatapnya. Bukannya aku cenayang, hanya saja, kurasa aku mulai tahu kalimat apa yang akan keluar dari bibir tipis Ara. Aku mulai tahu arah pembicaraan ini.

“Anggap kita tidak saling kenal. Jangan sapa aku, jangan dekati Yemi. Tahun depan dia mulai masuk sekolah dasar, jadi tahan sampai waktu itu tiba.”

Seutas senyum kutunjukkan pada Ara. Kurasa benar, aku memang cenayang. “Aku masih belum tahu di mana letak kebusukanmu. Menjadi ibu bukan kejahatan. Ya, kan?”

“Tapi—”

“Karena kamu sudah minta satu—tidak, itu bahkan ada tiga. Baik, sekarang giliran aku yang minta satu permintaan saja dari kamu,” selaku. Ara hanya diam tanpa suara, seakan menungguku kembali bicara. “Kamu bilang kamu hanya pendosa keji yang tidak bisa mengenalkan sosok ayah pada Yemi, kan?”

Ara mematung persekian detik sebelum membuang pandangannya dariku. “Ya, aku hanya pendosa.”

“Kalau begitu, biar aku bantu kamu mengurangi penyesalanmu itu.”

“Maksud kamu?” tanyanya dengan alis menyatu. Aku mengangkat bahuku cuek.

“Bilang pada Yemi kalau aku ayahnya.”

Benar saja, pernyataanku berhasil membuat Ara kaget bukan kepalang. “Kamu mabuk?”

“Ayolah, mana ada orang mabuk karena kopi?”

“Ada. Kamu buktinya.”

Aku tergelak pelan. “Kamu tahu? Masa lalu, masa sekarang, bahkan masa depanmu dan Yemi, tidak ada satupun yang pantas kamu hakimi. Semesta memang kadang suka jahil, tapi percayalah, tidak ada takdir buruk di dunia ini.”

Ara menggeleng dengan tawa mengejeknya. “Tidak ada takdir baik dalam kamus hidupku.”

“Ada,” yakinku. “Pertemuan kita.”

“Mabuk kamu,” katanya sebelum meminum habis kopi di tangannya.

“Omong-omong,” kugantungkan kalimatku sambil menatapnya yang terlihat sedikit kesal namun menggemaskan itu. “Alasanku mengajakmu ke sini memang bukan untuk menikmati secangkir kopi di siang hari. Tapi setidaknya, dengan secangkir kopi aku bisa menahanmu lebih lama di sini.”

“Doheon—”

“Kamu boleh sebut aku mabuk. Tapi serius, kamu bisa memperkenalkan aku sebagai ayah Yemi. Aku tidak keberatan. Tidak. Aku bahkan menyukainya.”

Ya, aku menyukainya. Ara dengan segala cerita hidupnya. Terutama mata coklatnya yang berhasil membuatku jatuh semakin dalam.

∞ ∞ ∞

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s