[#EXOFFIMVT2019] The Miracle is You – Ainun Mas

The Miracle is You

Oleh Ainun Mas

“Kau tahu tidak kenapa masyarakat kita banyak yang bunuh diri?” Pertanyaan itu melesat keluar bersama cegukan kecil—efek soju[1] yang mulai menguasai tubuh. “Aku merasa sangat sedih, Yeon. Sediiih sekali setiap mendengar berita orang yang bunuh diri di televisi, surat kabar, bahkan di sns[2].

Joyeon hanya menggeleng-gelengkan kepala ketika indra pendengarannya terlalu lelah menerima racauan Seungjin. Ada tiga botol soju di atas meja; satu berada di genggaman Seungjin yang terus mengoceh dan berusaha menjaga kesadaran, dan dua botol lainnya sudah kosong di hadapan Joyeon. Rasanya Joyeon ingin memesan satu botol lagi, tapi Seungjin pasti akan ikut-ikutan meminta alkoholnya. Lelaki itu sungguh sok kuat dan tak mau terkalahkan, padahal satu botol saja sudah membuatnya kewalahan.

“Joyeon… hik…. Aku sangat menyukai pekerjaanku, ta-tapi…,” gumaman Seungjin membuahkan helaan napas panjang dari Joyeon. Dalam hati, ia mulai menghitung dari angka satu sampai tiga.

Satu

Dua

Tiga

“Hatiku sakit tiap mendengar cerita menyedihkan mereka,” lanjut Seungjin bersama satu tetes air mata, dua tetes… dan berakhir menjadi isakan kecil.

“Jangan menangis lagi dong. Orang-orang mengira aku berbuat jahat padamu,” keluh Joyeon sembari menepuk-nepuk punggung lebar Seungjin dan tersenyum tak enak pada segelintir orang yang berada di pojangmangcha[3] langganan mereka. Tapi bukannya berhenti, tangisan Seungjin semakin menjadi. Dia bahkan tak segan untuk menenggelamkan kepalanya pada ceruk leher Joyeon.

“Dia masih berusaha melukai diri sendiri. Aku merasa tidak berguna sebagai seorang konselor.”

“Kubilang juga apa? Alihkan saja panggilannya pada konselor lain jika kau bosan mendengar celotehan siapa itu… Ae—Ae—”

“Aera,” Seungjin membenarkan dengan tetap memeluk air matanya.

Joyeon mengangguk-angguk saat kembali mengingat nama itu. Nama yang selalu membuat hari-hari Seungjin menggelap bersama malam. Nama yang Seungjin anggap sudah menjadi bagian dari kehidupannya, tanggung jawabnya.

“Aku tidak bisa menolak panggilan dari orang yang sedang membutuhkan teman bicara. Aku juga tidak tahu kenapa sambungan telepon Aera selalu kuangkat, kenapa bukan konselor yang berjaga lainnya.”

Isakan Seungjin mulai mereda ketika mulutnya kembali merangkai cerita. Perlahan, ia mengangkat wajahnya dari bahu Joyeon. Kedua lengannya bergerak terburu-buru untuk menghapus sisa-sisa air mata di pipi. Yang mana, hal itu membuat Joyeon tertawa kecil. Rasanya seperti melihat bayi raksasa.

“Ya sudah, anggap saja Aera sebagai temanmu. Dia akan sedih jika melihat temannya ternyata merasa terbebani dengan semua kisah hidupnya,” celetuk Joyeon dengan tangan yang ikut bernaung di wajah Seungjin—membantu mengusir lelehan kristal cair yang masih bersemayam di sana.

“Bagaimana bisa kau menjadi konselor jika hatimu serapuh ini? Bisa-bisa kau yang mati bunuh diri karena tertekan mendengar kisah sedih mereka,” gerutu Joyeon, tak habis pikir. “Memangnya seperti apa kehidupan Aera hingga membuatmu sangat frustrasi?” tanyanya kemudian.

“Terlalu menyedihkan… dia…,” Seungjin menggantungkan ucapannya, mengambil napas dalam-dalam sebelum kembali membuka suara, “dia korban pelecehan seksual oleh kakaknya sendiri.”

Joyeon menggenggam ujung kemejanya begitu mendengar cerita itu. Dan entah bagaimana, selaput matanya ikut berkabut seperti Seungjin.

“Dan tahu bagian yang paling menyedihkan?” tanya Seungjin. Joyeon menggeleng. “Orang tuanya tidak peduli. Mereka tahu, tapi bersikap seolah-olah Aera yang bersalah, Aera yang menggoda lebih dulu, padahal dia masih SMA  dan dia hanya korban.”

“Suaranya tidak didengar, bahkan oleh orang tuanya sendiri. Dia tidak tahu harus menceritakannya pada siapa, hingga akhirnya dia menelepon layanan konseling. Dan di sanalah aku menemukannya. Dia bercerita padaku, Yeon. Dia bercerita bagaimana rasa sakit di hatinya menghilang setiap pisau menyayat kulit tangannya.”

Joyeon mengerti kesakitan Seungjin. Pasti rasanya ia menjadi manusia yang paling tidak berguna jika tidak bisa menyelamatkan seseorang yang tengah terluka seperti Aera. Seungjin adalah laki-laki berhati air. Jooyeon sudah menduganya saat dua tahun yang lalu menemukan Seungjin menangis di atap gedung apartemen. Itu adalah kali pertama mereka bertemu. Jooyeon bahkan harus menenangkan Seungjin hingga tiga puluh menit hingga ia tahu jika Seungjin baru saja putus dengan kekasihnya.

“Lebih baik kau keluar saja dari tempat itu dan jadi konselor di tempat lain jika kau tidak kuat mendengar cerita Aera,” ucap Joyeon setelah keheningan beberapa waktu. Seungjin sontak menggeleng heboh.

“Tidak bisa. Layanan konseling via telepon adalah satu-satunya harapan bagi masyarakat kita yang terlalu malu untuk pergi ke psikolog secara langsung. Walau aku hanya bisa mendengar cerita mereka, setidaknya aku bisa membuat beban yang mereka pendam sedikit membaik.”

“Kalau begitu kuatlah. Kau adalah keajaiban bagi mereka.”

Senyum kecil Seungjin terulas ketika mendengar penuturan Joyeon. tangannya bergerak untuk mengelus pucuk kepala perempuan itu.

“Oh ya, Hyerin kemarin datang lagi ke apartemenmu lagi. Dia bahkan mendobrak apartemenku karena mengira kau sembunyi di dalam. Aku bisa gila karenanya. Lebih baik cepat terima perasaannya,” ucap Joyeon dengan kerutan di dahi yang berlipat-lipat.

Seungjin hanya tertawa dan kembali mengusak rambut Joyeon dengan gemas. “Untuk apa aku punya kekasih jika sudah memiliki sahabat seperti Yoon Joyeon.”

Dan Joyeon hanya menanggapi dengan mata yang merotasi malas.

***

“Masih tidak ada telepon dari Aera?” Seungjin bertanya untuk ketiga kali kepada Hanwoo yang duduk tepat di sampingnya dan gelengan kepala kembali ia dapatkan sebagai jawaban.

Aneh. Terhitung sudah delapan hari tidak ada satu konselor pun yang menerima panggilan dari Aera, bahkan Seungjin. Akhirnya ia kembali pulang dengan segala tanya dan kekhawatiran yang semakin memuncak.

“Ada masalah apa lagi di kantor?” Joyeon menyapa ketika Seungjin akan memasuki gedung apartemen. Seperti biasanya, mereka memang selalu memiliki jam pulang kerja yang sama hingga berakhir mengobrol terlebih dahulu sebelum benar-benar mengisitirahatkan badan.

“Aera tidak menelepon.”

“Bagus dong. Artinya kau tidak perlu mabuk-mabukan lagi dan menangis seperti orang gila setiap mendengar kisahnya.”

“Tidak bagus, Joyeon. Sangat tidak bagus.”

“Kenapa?”

Karena bisa saja dia sudah tiada.

Tapi Seungjin menahan jawaban itu hanya dalam hati. Ia memilih melanjutkan langkah dan memasuki lift, diikuti Joyeon. Setibanya di lantai tujuh—tempat apartemen mereka berada, Joyeon harus menghentikan langkahnya ketika melihat seorang lelaki berdiri di depan pintu apartemennya.

“Oh, Hyung[4]. Apa kabar?” sapa Seungjin sambil melambaikan tangan. Lelaki tadi menoleh dan tersenyum lebar. “Menjenguk Joyeon ya?” tanyanya kemudian.

“Iya, Eomma[5] juga menitipkan beberapa makanan,” jawab lelaki itu sambil menunjukkan dua kantong tas besar di tangannya. Seungjin menoleh ke samping dan mendapati Joyeon masih termenung di dalam lift sehingga ia harus menyeret perempuan itu untuk kembali berjalan.

“Kalau begitu selamat malam, Hyung.” Seungjin berpamitan sebelum menenggelamkan dirinya ke dalam apartemen miliknya yang terletak tepat di sebelah milik Joyeon. Dan di dalam ruang kamarnya, pikirannya kembali dipenuhi oleh Aera.

***

Keesokan harinya, Seungjin tengah berkutat di depan komputer bersama Hyejong—teman lama yang sengaja ia temui demi Aera. Dan di saat itu ponselnya terus berdering dan memunculkan nama ‘Joyeon’ di dalam layar.

Seungjin mengerut dahi bingung begitu mengetahui Joyeon menelponnya, karena yang ia tahu jika Joyeon pernah berkata dia mengidap telephonophobia[6]. Rasa-rasanya baru pertama kali ini ia mendapat panggilan dari Joyeon.

“Halo, Joyeon? Ada apa? Tumben sekali menelepon.”

“Mmm…”

Mata Seungjin masih terfokus pada komputer yang di otak-atik Hyejong. “Kumatikan dulu ya? Aku sedang sibuk. Hyejong mau membantu untuk melacak keberadaan Aera.”

“Ketemu!” pekikan Hyejong membuat Seungjin menjauhkan ponsel.

“Benarkah? Di mana dia?” tanyanya, terburu-buru.

“Di jembatan Mapo,” jawab Hyejong yang membuat napas Seungjin tertahan.

“A-apa? Aku punya firasat buruk. Kita harus segera menemukannya,” ucap Seungjin yang diangguki Hyejong. Saat ia akan memanggil teman kerjanya yang lain demi meminta bantuan, ia sadar jika panggilan telepon dengan Joyeon masih berlangsung.

“Oh ya, Joyeon bisa bantu kami menemukan Aera. Cari saja di sekitar jembatan Mapo, anak SMA. Tapi tunggu—kau di mana? Apa aku tidak merepotkanmu?”

“Tidak, lagipula aku juga sedang berada di jembatan Mapo.”

Untuk kedua kalinya, Seungjin merasa pernapasannnya bermasalah. Suara itu…

“Ae—Aera?” Seungjin bertanya takut-takut.

“Tapi aku tidak menemukan anak SMA di sini. Anak SMA seperti bagaimana ciri-cirinya? Berambut pendek?”

“Joyeon… Aera…”

Seungjin sangat yakin jika suara ini milik Aera. Hampir tiap hari ia mendengar suara ini di telepon, kenapa… kenapa suara Joyeon bisa mirip dengan Aera saat di telepon?

“Tidak ada seorang pun selain aku di sini.”

Hyejong yang masih berdiri di samping Seungjin menatapnya tak mengerti, tapi Seungjin dengan cepat menarik tangannya untuk berlari ke dalam mobil.

“Cepat!” serunya pada Hyejong yang memegang kemudi, dan dalam hitungan detik mobil itu membelah jalanan Seoul.

Di saat itu, semua pecahan memorinya bersama Joyeon berhamburan keluar. Tentang Joyeon yang suka termenung di atap apartemen, Joyeon yang tidak pernah menceritakan kisah hidupnya, tidak pernah membawa temannya ke apartemen, tidak pernah mengenakan pakaian berlengan pendek meski di musim panas. Astaga, kenapa ia baru menyadari semua itu?

“Maaf karena selama ini merepotkanmu.”

“Tidak. Tidak, Joyeon—”

Aku bahagia bisa bercerita denganmu, meski harus dengan nama lain. Karena kau terlalu sibuk untuk seorang Yoon Joyeon.”

Tangan kanan Seungjin yang terbebas dari ponsel mengepal marah. Ia marah pada dirinya sendiri yang terlalu bodoh untuk memahami seseorang yang begitu dekat dengannya. Kini, ia mengerti kenapa Joyeon sering mengirimi pesan untuk sekadar bertanya kesibukannya. Harusnya ia bisa meluangkan waktu untuk Joyeon.

 “Kemarin kakakku datang lagi. Kau juga bertemu dengannya kan di lorong apartemen? Haha! Padahal aku ingin bersembunyi tapi kau malah menyeretku untuk bertemu dengannya.”

Air mata Seungjin sepenuhnya tak bisa ditahan. Ia memang manusia paling tidak berguna.

 “Dia melakukannya lagi. Aku pikir, setelah aku pergi dari rumah dan mencari kehidupan di tempat lain, lembaran baru akan terbuka untukku tapi… tidak.”

“Joyeon, maafkan aku.”

Hyejong yang sejak tadi berusaha memfokuskan pada kemudi, harus melirik keadaan Seungjin secara berkala ketika tangisan temannya itu semakin menjadi. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tapi yang pasti adalah ia harus melajukan mobil ini lebih cepat lagi.

Harusnya aku sudah mati dua tahun yang lalu. Di atap gedung apartemen kita, tapi aku menemukanmu di sana. Kau menggagalkan rencanaku. Dan sejak itu, kau terus menggagalkan rencanaku. Aku yang masih hidup hingga detik ini adalah sebuah keajaiban.

“Terima kasih, Seungjin. Terima kasih sudah menjadi teman berbicara untuk Aera dan menjadi sahabat terbaik untuk Joyeon.”

“Kumohon berhenti berbicara! Dan jangan matikan teleponnya, aku akan datang.”

Tapi Joyeon tak mengindahkan ucapan Seungjin—panggilan itu telah berakhir, tepat saat mobil berhenti di tepi jalan dan menemukan Joyeon sudah berdiri di ambang jembatan. Seungjin segera keluar dari mobil. Saat Joyeon bersiap melompat, Seungjin terlebih dahulu menarik tubuhnya hingga membuat mereka berdua terjatuh di tepian jalan.

“Kau menggagalkannya lagi,” ucap Joyeon dengan suara yang terlampau lirih. Seungjin mengeratkan dekapannya pada Joyeon dengan menahan isakannya.

“Ya, dan aku akan terus mengagalkan rencana kematianmu,” sahut Seungjin sembari berusaha bangkit dan menangkup wajah kuyu Joyeon dengan kedua tangannya. Satu air mata lolos dari pertahanan Joyeon.

“Aku ingin hidup. Aku ingin tetap hidup, tapi rasanya terlalu berat, Seungjin. Aku tidak sanggup…”

“Kau bisa, buktinya Tuhan masih memberimu kesempatan lagi untuk hidup sekarang. Teruslah hidup. Seperti yang kau katakan, satu hari yang kau jalani adalah sebuah keajaiban karena membuktikan betapa keras kau sudah berjuang.”

Kepala Joyeon menunduk dalam. Ia memilih kembali tenggelam dalam rengkuhan Seungjin. “Terima kasih sudah membawa keajaiban itu untukku, karena kau yang telah menyelamatkanku,” bisiknya di sela tangis.

“Tidak. Keajaiban itu adalah dirimu sendiri. Terima kasih sudah bertahan.”

Joyeon pikir, hidupnya akan benar-benar berakhir hari ini, tapi takdir kembali mempermainkannya—atau memang Tuhan mendengar keinginan kecil yang berbisik di sudut hatinya yang menginginkan untuk terus bertahan hidup.

Seungjin mengira jika ia akan menjadi seorang tak berguna karena gagal menyelamatkan Joyeon. Namun, Tuhan memberinya kesempatan untuk memperbaiki kesalahan dengan terus menemani perempuan itu berjuang. Ia ingin menjadi sosok yang bisa sepenuhnya ada untuk Joyeon, tempat bersandarnya, rumahnya.

“Sekarang ayo kita pulang, dan mari jalani kehidupan ini bersama-sama.”

Keajaiban itu… Seungjin ingin memberikan sepenuhnya kepada Joyeon, perempuan yang selama ini memiliki tempat paling istimewa di hatinya.

Selesai

 

[1] Minuman distilasi asal Korea.

[2] Social networking site atau layanan jejaring sosial

[3] Tempat kaki lima di Korea yang biasanya buka di malam hari.

[4] Panggilan kakak yang ditujukan kepada laki-laki yang lebih tua oleh laki-laki yang lebih muda.

[5] Ibu

[6] Ketakutan untuk menerima telepon dan juga menelepon seseorang.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s