Arsip Tag: Wu Yifan

Eternally Love_Sequel Love Contract

Judul : Enternally Love_Sequel Love Contract

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Kris Wu (EXO-M)

Song Lian(OC)

Supporting Cast :  Zhang Yixing/Lay (EXO-M)

Byun Baekhyun (EXO-K)

Michelle Wu (OC)

Arlyna Lee (OC)

Genre : Romance, Marriage life

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram : @seu_liie

Pin : 24D7E4E6

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Lanjutkan membaca Eternally Love_Sequel Love Contract

Love Contract

Judul : Love Contract

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Kris Wu (EXO-M)

Song Lian(OC)

Supporting Cast :  Song Qian (F(x))

Zhou Mi (Super Junior)

Zhang Yixing/Lay (EXO-M)

Byun Baekhyun (EXO-K)

Christian Bautista

Michelle Wu (OC)

Arlyna Lee (OC)

Han Min Ah (OC)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Lian, berapa usiamu?  Kenapa kau tidak menikah juga seperti jiejie-mu.. Lihat sekarang.. Bahkan dia sekarang sudah memiliki anak..” Seorang gadis hanya bisa menunduk saat kedua orang tuanya sedang bicara serius tentang masa depannya.

“Mama, sudahlah… Mungkin Lian masih mau berkarir dan belajar…” Seorang wanita yang duduk di sampingnya terlihat membelanya.

“Tidak bisa begitu, Qian! Dia sudah dua puluh lima tahun, sudah waktunya dia menikah!  Bahkan kau saja menikah di usia yang sama kan?”

“Dan aku menikah karena perjodohan kalian kan?” Qian masih terlihat membela adiknya yang duduk di sampingnya.

“Tapi kalian bisa hidup bahagia seperti sekarang kan? Bahkan kalian dianugerahi seorang putera.”

“Mama, Papa, beri Lian kebebasan.. Mungkin saja dia masih mau mendalami dunianya sendiri…”  Sambung Qian.

“Jiejie… Kenapa dia mati-matian membelaku?”  Lian hanya bisa menatap kakaknya yang terus membelanya.

“Ini tidak bisa! Kau, Lian.. harus menikah!  Papa sudah punya calon suami yang tepat untukmu! Dan lusa, kalian akan bertemu!”

“Papa, aku… aku masih mau melanjutkan kuliah pasca sarjanaku!” Bantah Lian.

“Kuliahmu itu masih bisa dilanjutkan kan?  Tidak masalah jika kau menikah sekalipun!”

“Tapi, Pa..”

“Tidak ada tapi-tapian! Ini keputusan papa!”

“APA YANG SEBENARNYA KALIAN BERDUA PIKIRKAN?!! PERNAHKAH KALIAN MEMIKIRKAN KEBAHAGIANKU SEBAGAI ANAK?! YANG KALIAN PIKIRKAN HANYALAH PERUSAHAAN, PERUSAHAAN, DAN PERUSAHAAN! KALIAN MENGINGINKAN AKU MENIKAH DENGANNYA KAN?!! DEMI PERUSAHAAN KALIAN KAN?!! ADA APA DENGAN KALIAN?!! APA KALIAN SANGAT SENANG MELIHAT KEDUA ANAKNYA MENIKAH DENGAN PILIHAN KALIAN, HAH?!!” Lian terlihat meluapkan seluruh amarahnya, rasa kesalnya dengan aliran air mata yang tidak dapat terbendung lagi. Setelah mengatakan hal itu, gadis itu pun meninggalkan ruang keluarga dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.  Bunyi pintu yang berdebam terdengar hingga sang kakak pun menyusulnya ke kamar.

Rumah keluarga Song yang berada di kawasan Seoul itu memiliki empat orang anggota keluarganya. Pasangan itu memiliki dua orang puteri yang sangat cantik.  Terlahir dari pasangan Song Baolai dan Kim Yunra, anak pertama mereka adalah Song Qian, wanita kelahiran Qingdao pada tahun 1987 yang berprofesi sebagai seorang model papan atas yang memiliki banyak uang. Namun, ia tidak dapat membantah keinginan orang tuanya. Di usianya yang ke dua puluh lima tahun, ia harus menikah dengan seorang pria kelahiran Wuhan, provinsi Hubai pilihan ayahnya. Zhou Mi, pria yang bekerja sebagai pengacara itu adalah anak dari teman dekat Song Baolai, ayah Qian.  Zhou Mi sendiri juga tertarik dengan Qian karena sikapnya yang sederhana.  Walaupun sebelumnya Qian sama sekali tidak tertarik dengan Zhou Mi, lambat laun sikapnya meluluh terhadap pria itu yang kini menjadi suami dan ayah dari anak mereka Zhou Yingzie. Entah kenapa, Qian sangat tidak setuju dengan keinginan orang tuanya untuk menjodohkan Lian-adiknya-juga dengan seorang pria pilihan ayahnya. Qian berpikiran kalau jodoh harus ditemukan sendiri dengan jalan masing-masing.

“Ck, kenapa Papa masih berpikiran sangat primitive?” Dengus Qian kesal. Beruntung saat itu, Qian menemukan jodohnya yang kebetulan tepat dengan Zhou Mi.

“Lian, buka pintunya.. ini jiejie…” Qian dengan sabar mengetuk pintu kamar adiknya dari luar. Ia tahu saat seperti ini, adiknya pasti membutuhkannya.

Dan benar saja, pintu itu terbuka dari dalam. Seorang gadis dengan mata sembab dan aliran air mata yang masih belum kering berada di ambang pintu.

“Don’t cry, dear..” Qian menghapus air mata adiknya dengan ibu jarinya. Lian pun hanya memeluk kakaknya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.

“Jiejie..hiks..hiks..” Isaknya.

“Wǒ zhīdào (aku tahu)…” Qian mengusap punggung adiknya agar tangisnya berhenti.

“Wèi (kenapa)… Kenapa Papa seperti itu pada kita, jiejie? Apa kau yang seorang model terkenal tidak cukup dimatanya? Apa aku yang lulusan luar negeri tidak pantas dimata Papa hingga aku pun harus dijodohkan dengan pria pilihannya?” Lian menangis.

Song Lian, gadis kelahiran Seoul dua puluh lima tahun silam ini sebenarnya tipikal gadis penurut dan mudah bergaul. Ia juga dikenal sebagai gadis yang cerdas. Pendidikannya yang lulusan dari New York juga tidak diragukannya lagi. Profesinya yang kini bekerja sebagai jurnalis merupakan impiannya sejak ia masih berada di bangku SMA. Karena ia masih mau memperdalami bidang yang sedang digelutinya, ia belum mau menikah. Selain itu juga ia masih ingin meneruskan sekolah pasca sarjananya yang hanya tinggal menyusun tesisnya saja.

“Aku mengerti perasaanmu, Lian… Aku juga dulu seperti itu..” Ujar Qian.

“Tapi jiejie sekarang bahagia bersama Mimi gege.. Bahkan sekarang jiejie punya Yingzie kan..” Lirih Lian.

“Kita tidak pernah tahu kehidupan kedepan kalau tidak menjalankannya, Lian…”

“Kenapa sekarang jiejie bicara seperti itu? Jiejie sudah membela Mama dan Papa ya..”

“Bùshì (tidak), bukan begitu maksud jiejie… Maksud jiejie, yaa… mau bagaimana lagi kalau mereka berdua yang menyuruhmu? Kita wanita, Lian.. hanya bisa menurut kan kalau dalam keluarga kita? Beda halnya dengan pria yang bisa memberontak seenaknya saja. Jiejie mengerti, tapi cobalah kau berdamai dengan takdirmu. Jalani ini semua..” Lanjut Qian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Saat ini aku membuka laptopku dan memutuskan untuk menjelajahi dunia maya. Aku teringat dengan temanku saat aku di New York. Uncle Chris! Aku harus menceritakannya ini padanya. Kuputuskan untuk mengirim e-mail pada uncle Chris.

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Shūshu Chris!! Hey, how’s your life, huh? You never ever give me your news hhahaha..  Still remember me, huh?

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Hey! Lian! Ah, how can I forget you huh my little girl! I’m sorry, I’m too busy  so…sigh.. you know, I just have little spare time in my life L What about your life, huh? Where do you live now? By the way, what is “Shūshu”?

 

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Shūshu is uncle kkkkk… woah! Don’t forget to have your meal, uncle Chris >_< I’m in Seoul now.. but in terrible problem! 😥

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Thanks for your caring, dear J Shushu is uncle? Oh, c’mon! Don’t call me with that word.. just Chris..that’s enough for me…Seoul? Terrible? What do you mean? I’m in Seoul now too… Can we meet? *poke*

 

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Haha, allright, I will call you with Chris…Are you kidding me? You are in Seoul now????? >_< Sure! We can meet.. but, when? L I will get married, Chris 😥

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Really?! You gave me heart attack! But, why you look sad?

 

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Because I will married with the man who I never meet before L And two days more I will meet him… Please let me out from this situatioonnn!!! *cry*

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Don’t be sad, dear… Okay, when we can meet? And where?

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Can you kidnap me? Hiks… Chris help me…. 😥

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Bad idea, dear.. What about tomorrow? Wanna hang out with me tomorrow at 3PM?

 

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Yes.. I will… I’ll text you about where we will meet…

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Okay, see ya for tomorrow dear! Don’t be sad anymore J

“Chris… seandainya saja kau bisa menculikku lusa nanti… Aku lebih baik ikut denganmu, uncle!” Aku berteriak dalam batinku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Sudah lama menungguku?” seorang pria tiba-tiba saja duduk di sampingku saat aku sibuk dengan ponsel yang kupegang. Ish! Menyebalkan! Jiejie sudah kembali ke Hongkong, sedangkan aku harus tetap di sini dan akan bertemu pria yang dijodohkan denganku! Argh! Dan sekarang ada lagi pria gila yang tiba-tiba… Mwo?!!

“Hi! Are you okay?” Tanyanya lagi yang kemudian duduk di sampingku.

“Uncle Chris!” Aku memeluknya tanpa ragu saat melihatnya. Sungguh tak kupercaya! Penampilannya, bahkan gaya bicaranya masih seperti lima tahun silam saat aku masih di New York.

“Hey, stop calling me uncle, Lian..” Oh Gee! Bagaimana bisa dia, seseorang yang lahirnya sepuluh tahun lebih dahulu dariku bisa masih tetap awet muda seperti ini?? Usianya yang sudah menginjak kepala tiga bahkan masih terlihat seperti dua puluhan.

“Hahaha, so I call you with ahjussi… Chris ahjussi~~” Ucapku.

“Well, terserah kau mau memanggilku apa saja… haaahh~~” Aku terkejut mendengarnya. Sejak kapan dia bisa berbahasa Korea? Wah! Keajaiban!

“Kau bisa berbahasa Korea? Sejak kapan? Hyaaaa!!!” Aku memekik hingga akhirnya ia membekap mulutku.

“Kau lihat? Semua orang memperhatikan kita. Mereka menyangka kalau aku menyakitimu tahu!” Chris mengucapkannya dengan nada kesal.

“Huuh! Kau datang-datang marah padaku.. Menyebalkan sekali, ahjussi!”

“Bagaimana tidak? Kau saja tiba-tiba berteriak seolah-olah aku ini penguntit..”

“Mianhae~” Ucapku dengan membentuk kedua jariku berbentuk huruf V.

“Ahjussi, belikan aku ice cream… Seperti waktu di New York kan kau selalu membelikanku ice cream..”

“Harusnya kau yang membelikanku, Lian.. Hhaha…” Ujarnya yang kemudian tertawa lepas.

“Huhh! Ahjussi pelit..” Aku mengerucutkan bibirku.

“Kau ini masih unik seperti dulu, Lian…” Ia mencubit kedua pipiku.

“Aww! Ahjussiiiii~~~”

“C’mon, let’s buy some ice cream!” Ajaknya padaku.

“Zhēn de ma(benarkah)?” Chris hanya menarik tanganku dan aku mengikutinya.

Di salah satu café ice cream kami mulai saling bercerita. Dan ternyata aku baru mengetahui kalau sekarang ia adalah seorang pebisnis. Namun sayangnya, ia baru saja putus dengan kekasihnya. Haah~~ Bodoh sekali gadis itu kalau benar-benar melepaskan Chris!

“Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak suka jika kau menikah?” Tanyanya yang kemudian membuyarkan lamunanku.

“Apa kau mau kalau kau menikah bukan dengan orang yang tidak kau cintai? Ah! Tidak, maksudku dengan orang yang tidak kau kenal sama sekali…” Ucapku sambil mengaduk ice cream dalam cup-ku.

“Hhm.. ya.. sudah pasti aku tidak mau.. Lalu, apa kau akan menentang orang tuamu?” Tanyanya kemudian.

“I don’t know…” Aku hanya menjawabnya dengan lesu.

“Hey, cheer up! Ck, kenapa wajahmu masih saja seperti itu?” Aku pun tersenyum di depannya. Padahal sebenarnya aku sedang tidak ingin tersenyum. Bagaimana aku bisa tersenyum sementara besok aku harus bertemu dengan orang itu? Sigh~!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Gadis yang terbalut mini dress tanpa lengan dengan panjangnya diatas lutut, gadis itu mengikuti langkah kedua orang tuanya. Sepatunya yang berwarna pink terlihat senada dengan mini dress yang dipakainya. Mini dress dengan aksen renda yang melingkar dan bersusun itu terlihat sangat cocok membalut tubuhnya yang seperti mannequin. Sebuah meja bundar dengan enam kursi telah tersedia. Dua diantaranya telah terisi oleh sepasang suami istri. Ia kemudian duduk di samping ibunya. Di sisi kirinya terlihat masih kosong karena itu adalah kursi yang seharusnya diduduki oleh pria yang akan dijodohkan dengannya.

“Dia belum datang atau memang tidak datang? Ya Tuhan, semoga ia tidak datang…” Harap Lian.

Kedua pasang suami istri paruh baya itu tengah asik berbincang sementara Lian hanya duduk diam sesekali menanggapi pembicaraan mereka. Tak lama pemimpin keluarga Wu tersebut meminta izin untuk menjawab panggilan dari ponselnya. Sedangkan mereka bertiga kembali melanjutkan pembicaraannya dan Lian pun kembali mendengus kesal karena ia pikir semuanya akan berakhir. Pemimpin dari Emperor Group-Xianji Wu kembali bergabung dengan mereka.

“Wèi (kenapa)?” Tanya istrinya.

“Bùshì (tidak), Kris hanya memberitahukan kalau ia terlambat karena hujan jalanan sedikit tersendat. Padahal dia sudah di dekat restaurant sini…” Lian tidak menggubris pembicaraan mereka.

“Masa bodoh dia mau datang atau tidak, terkena macet atau tidak!” Batin gadis itu.

Saat mereka terlarut dalam pembicaraan, tiba-tiba datang seorang pria dengan rambut basah dan terlihat jas hitam yang ia kenakan sedikit basah. Ia kemudian duduk di samping gadis yang tengah duduk terdiam. Sekilas ia tersenyum pada gadis itu.

“Jeosonghamnida semuanya.. aku terlambat karena…”

Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, ayah dari Lian menyambung kalimat itu “Karena hujan dan macet kan?” Pria itu hanya tersenyum.

Kris Wu adalah pewaris tunggal dari Emperor Group yang menaungi lima perusahaan yang telah dirintis oleh ayahnya lama. Dan kini diusianya ke dua puluh enam tahun, ia sudah menjabat sebagai presiden direktur dari salah satu perusahaan yang berada di bawah Emperor Group.

“Kris, bagaimana pekerjaanmu?” Tanya ayahnya.

“Semuanya terkendali dengan baik, Dad..”

“Kris bagaimana kalau kau mengajak Lian untuk jalan atau kau bisa mengeringkan rambutmu itu dengan handuk kecil yang berada di dalam mobil Daddy..” Ujar ibunya.

“Ne, Mom.. I will… Tapi…” Kris menggantungkan kalimatnya.

“Lian, kau temani Kris..” Lian hanya mengangguk dan berdiri dari duduknya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kau itu… sengaja kan menyetujui perjodohan ini?” Pria ini berbicara sinis padaku. Apa-apaan dia?!!

“Maksud oppa?” Tanyaku berusaha sabar.

“Cih! Bahkan sekarang kau memanggilku dengan sebutan ‘oppa’? Sangat menjijikan!” Ráole wǒ ba(yang benar saja)! Dia benar-benar muka dua! Di depan orang tua dia sangat sopan, tapi ternyata…. Errrr!!!

“Kenapa kau diam? Kau terkejut aku mengetahui niat busukmu?”

“Jaga ucapanmu!! Aku menyetujui ini karena aku bukan tipikal orang yang senang membantah perkataan orang tua!” Aku langsung meninggalkan dia begitu saja.

“Hey, kau! Mau kemana?”

“Cih! Untuk apa dia bertanya hal seperti itu?! Dasar tiang listrik! Ishh!!” Aku terus melanjutkan langkahku. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menarik tanganku.

“Lepaskan!!” Aku berusaha melepaskan tanganku. Tapi saat aku melihat kearah belakangnya, kulihat kedua orang tuaku dan orang tuanya berjalan keluar restaurant.

“Kau lihat kan? Jadi, jangan terlalu percaya diri kalau aku benar-benar menahan kepergianmu.” Dengan kesal aku akhirnya membiarkannya menggenggam tanganku. Sejujurnya aku ingin menendangnya sampai ujung dunia!!!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kami pikir, semakin cepat pernikahan mereka, semakin baik Tuan Song…”

“A..apa?!! Apa pernikahanku akan dipercepat?!!” Batin Lian.

“Ya, saya pikir juga begitu… Sebenarnya saya sudah tidak sabar menimang cucu dari Lian..”

“What the…. Apa-apaan mereka?!! Aku tidak sudi memiliki istri seperti dia apalagi punya anak dari dia!” Batin Kris yang menatap sinis Lian.

“Lian, ayo kita pulang… Mama tahu kau masih mau terus bersama Kris.. Tapi ini sudah malam, Lian…”

“C’mon, Ma! Aku juga sudah mengantuk.” Jawab Lian antusias.

“Tapi….” Wanita paruh baya itu melirik pada kedua tangan mereka yang masih bertautan. Dan mereka pun langsung melepaskan tangan mereka dengan saling menghentak. Dengan gusar, Lian langsung memasuki mobil ayahnya tanpa sepatah kata pun.

“Bagaimana Kris? Tampan bukan?” Tanya ibunya saat gadis itu berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang.

“Hhmm…” Jawab Lian singkat.

“Kau mau kan menikah dengannya?” Sambung ayahnya.

“Kalau aku bilang tidak, apa kalian akan menghentikan perjodohan gila ini?” Ucap Lian ketus.

“Kami melakukan ini untukmu juga, Lian..”

“Untukku? Wow! Apa untungnya buatku? Kalian menjodohkanku dengan seseorang yang tak kukenal, dan aku harus tinggal bersamanya, menjalin kehidupan di bawah satu atap dengan menikah, lalu aku harus memiliki anak darinya? Apa baiknya untukku? Kalian selalu memaksakan pikiran dan kehendak kalian tanpa memikirkan keinginan anaknya!!”

“Jaga ucapanmu, Lian!”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Hari terus kulewati menunggu aku yang akan mengubah marga keluargaku. Sangat menyedihkan! Untuk apa aku kuliah di New York kalau akhirnya aku hanya bisa menurut, menurut, dan menurut pada orang tua yang berdalih melakukan ini karena untuk kebaikanku. Dua hari lagi aku akan menikah dengan orang yang seperti tiang listrik itu. Sigh~! Tapi, tenang saja, kupastikan dia tidak akan menyentuhku sedikit pun karena ini…. Kontrak pernikahan ini!

“Sigh~! Lama sekali dia datangnya!” Dengusku kesal karena harus menunggunya datang di sebuah café. Tak lama kulihat pria itu yang tengah berjalan masuk ke dalam café.

“Langsung saja, apa maumu? Aku tidak punya banyak waktu untukmu.” Ucapnya dingin.

“Kau pikir aku punya banyak waktu, hah?! Ini, tanda tangani ini!” Aku menyodorkannya dua lembar kertas dengan pulpen di atasnya.

“Apa ini?” Tanyanya dengan dahi mengernyit.

“Perjanjian. Kita hanya melaksanakan pernikahan ini selama dua tahun, setelah itu kita harus cerai!” Ucapku tegas.

“Tsk! Semudah itu kah kau memutuskan?” Tanyanya yang kemudian bersandar pada sandaran bangku café.

“Tentu saja! Karena aku tidak akan sanggup tinggal satu atap denganmu!” Aku membuat beberapa point dalam perjanjian itu. Masa bodoh dia mau terima atau tidak. Tapi kurasa dia akan menerimanya dengan mudah.

“Apa ini? Kenapa ada point seperti ini? Memperbolehkan pasangan masing-masing untuk bebas melakukan apa saja di rumah kita yang baru?” Ia membaca salah satu point yang kubuat.

“Ne, wae?” Tanyaku.

“Bagaimana kalau ketahuan oleh orang tua kita? Kau tidak memikirkan dampak buruknya, eoh? Apa otakmu dangkal?”

“Yaa!! Kau…!! Sigh~!” Aku berusaha meredam amarahku karena ini tempat umum. Kalau saja tempat ini tidak ramai, sudah kubunuh pria ini!!

“Ternyata dugaanku benar… Hanya gelarmu saja yang berasal dari New York, tapi pemikiranmu sungguh kampungan!” Ejeknya.

“Oh Tuhan… Berikanlah aku kesabaran menghadapinya…” Batinku.

“Jadi seperti ini tuan Kris Wu yang terhormat…” Aku mengela nafasku dan kemudian melanjutkan perkataanku “Kita bisa saling menutupinya kan? Kalau aku bawa pasanganku ke rumah, kau bisa menutupi kedatangannya. Begitu pula denganku. Jika pasanganmu yang datang, maka aku akan menutup mata dan telinga dan akan menutupinya dari orang tua kita.”

“Well, aku setuju.. karena ini juga menguntungkanku karena aku juga memiliki kekasih…”

“Kalau begitu, kau tanda tangani!”

“But, wait.. Kurasa harus ada point tambahan.. Karena menurutku ini tidak adil karena semua perjanjian ini kau yang membuatnya tanpa ada campur tanganku. Bukankah aku harus turut andil juga, eoh?” Ujarnya yang kemudian menatap selembar kertas itu dengan seksama.

“Sigh~ Baiklah… Apa maumu?” Tanyaku.

“Aku mau dalam perjanjian ini kau tidak hamil. Baik denganku atau pun dengan pria yang menjadi kekasihmu. Yaaa… itu juga bisa mempermudah proses perceraian kita kan setelah dua tahun?”

“Ada benarnya juga orang ini… Kalau aku hamil, pasti proses perceraian jauh lebih sulit karena ada anakku nanti..” Pikirku.

“Baiklah… Aku setuju.” Jawabku kemudian.

Menyebalkan! Di saat seperti ini, Chris ahjussi tidak ada karena dia terlalu sibuk. Kalau aku mau mengadu pada Qian jiejie, aku tidak enak karena jiejie kan juga harus mengurus suami dan anaknya… Huuh!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Dua hari kemudian, dilangsungkanlah pernikahan itu yang dilandasi dari suatu perjodohan kedua orang tua mereka. Pengantin pria sudah menunggu di altar sementara sang pengantin wanita berjalan bersama ayahnya menuju altar. Gaun pengantinnya yang panjang membuatnya semakin terlihat anggun. Terlebih lagi dengan bucket bunga yang berada di tangannya. Dengan senyum yang terpaksa, ia berusaha terlihat bahagia di depan para tamu undangan.

“Kau harus tahan ini selama dua tahun, Lian…” Batin Lian saat dirinya kini sudah bersanding dengan pria keturunan Canada-China tersebut.

Kedua mempelai pun saling mengucapkan janji suci pernikahan mereka yang akan mengikat mereka dalam sebuah rumah tangga. Seseorang yang membawa cincin pernikahan mereka pun kini sudah berdiri di hadapan mereka berdua. Sepasang suami istri yang baru saja resmi beberapa menit yang lalu pun saling memasangkan cincin.

“Sebagai bentuk rasa kasih sayangnya, pengantin pria bisa mencium pasangannya..” Ucapan itu membuat Lian sedikit tersentak kaget. Tidak mungkin ia menyerahkan ciuman pertamanya begitu saja pada pria yang tidak ia cintai.

Kris yang tengah menggenggam tangan Lian pun sedikit menarik tangan gadis itu hingga gadis itu menghadapnya. Dengan gelengan kecil, Lian berusaha memberitahu pada Kris kalau ia tidak ingin dicium. Pria itu kemudian menarik istrinya mendekat padanya dan mencium sudut bibir gadis itu. Lengannya ia lingkarkan pada bahu gadis itu dan sebelah tangannya ia gunakan untuk menangkup wajah gadis itu seolah ia akan menciumnya. Dan cara itu cukup berhasil untuk mengelabui para tamu kalau ia telah mencium bibir wanita yang sudah resmi menjadi istrinya tersebut. Lian pun sedikit bernafas lega.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kau mandi duluan..” Terlihat Kris yang melepas dasinya dan membuka jas yang ia kenakan saat acara pernikahan tadi. Sementara Lian tanpa menjawab hanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Bunyi gemericik air pun terdengar dari dalam kamar mandi. Sementara itu seorang pria kini menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang berhadapan langsung dengan sebuah tv. Ia pun mengambil remote tv tersebut dan mulai mencari saluran tv yang setidaknya menghibur perasaannya yang sedang kesal karena harus menikah. Namun, karena faktor kelelahannya, rasa kantuk pun mulai menyerangnya. Berkali-kali ia duduk dengan kepala terkulai karena rasa kantuknya. Walaupun tangannya menopang dagunya, keinginan untuk tidur baginya pun tidak dapat dilawan lagi. Perlahan, ia pun mulai memasuki alam bawah sadarnya dan tertidur pulas.

“Aku sudah selesai, sekarang kau yang man…” Seorang gadis yang baru saja mengganti marganya tersebut mendapati lelaki yang kini sudah menjadi suaminya tengah tertidur di atas sofa dengan posisi kaki yang terjuntai sementara setengah badannya terkulai.

“Ommo… bodoh sekali orang ini…” Terlintas dipikiran Lian untuk membangunkan pria bermarga Wu tersebut. Namun rasa ibanya karena ia juga merasakan hal yang sama-lelah-maka ia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Kris. Ia memilih untuk mengangkat kaki Kris ke sofa meskipun berat dan menyelimutinya dengan selimut yang ia ambil dari dalam kamarnya.

“Ugh! Kakinya saja berat!” Dengus Lian kesal.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Karena bosan, aku mengambil ponselku dan memutuskan untuk online di salah satu situs sosialku, weibo. Aku langsung mengirim pesan untuk teman cyberku yang sangat dekat. Michelle Wu. Ya, dia dan kekasihnya Zhang Yixing juga termasuk orang yang tahu tentang latar belakang pernikahanku selain Christian. Namun, sayangnya Michelle tidak tahu dengan siapa yang aku menikah.

To: @chellwuchell_mi

From: @lianlian_song

Chell…. L

 

To: @lianlian_song

From:@chellwuchell_mi

Waaaa!!! Jiejie?? Tumben sekali kau online di weibo!

 

To: @chellwuchell_mi

From:@lianlian_song

Aku sedang bosan.. Kapan kau ke Seoul? Kau betah sekali di Hongkong! Apa kuliahmu sudah selesai?

 

To: @lianlian_song

From: @chellwuchell_mi

Sudah kok, Jie… Aku hanya tinggal menunggu wisuda saja… Papa dan Mama akan kuberitahu tentang jadwal wisudaku. Karena itu mungkin tiga bulan lagi aku akan kembali ke Seoul.

 

To: @chellwuchell_mi

From:@lianlian_song

Zhēn de ma (benarkah)? Aku akan menunggumu ya!

 

To: @lianlian_song

From: @chellwuchell_mi

Tenang saja, Jie! Aku pasti akan datang… Oh ya, bagaimana dengan pernikahanmu?

 

To: @chellwuchell_mi

From: @lianlian_song

Biasa-biasa saja… Kami tidak saling menyapa dan sibuk dengan urusan kami masing-masing… Ah! Aku tidak sabar menunggu kau datang>_<

 

To: @lianlian_song

From: @chellwuchell_mi

Jiejie… kenapa seperti itu? Dia kan suamimu… Aku juga tidak sabar pulang ke Seoul, Jie! Kau tahu, aku rasanya ingin membunuh gege-ku karena dia menikah tanpa menunggu adiknya pulang! Padahal dia mau aku kenalkan dengan jiejie… eh, dia menikah dengan orang lain! Sighh!! Aku sungguh ingin mencekiknya!

 

To: @chellwuchell_mi

From: @lianlian_song

Ah! Masa bodoh! Aku tidak peduli dengannyaaaaaaaaa \>o</

Yaaakkk!! Kau seram sekali! Kau seperti psikopat, Chell! Bahkan kau mau mencekik kakakmu sendiri… kasihan sekali orang yang menjadi kakakmu itu… kkkkk

 

To: @lianlian_song

From: @chellwuchell_mi

Aku kesal dengannya, Jie >_<

Padahal aku juga sudha bilang pada Mama dan Papa untuk menungguku…. Tapi mereka malah…. Aaaaaaaakkkkkhhh!!!!

 

To: @chellwuchell_mi

From: @lianlian_song

Well, kalau begitu pulanglah cepat ke Seoul, lalu kau bisa leluasa mencekik kakakmu itu.. Hahaha…

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Sementara itu seorang pria tengah mendengarkan dari balik pintu kamar seorang wanita yang sudah menjadi pendamping hidupnya kemarin.

“Pada siapa dia bisa bertingkah seperti orang gila? Tertawa lepas sendiri tidak jelas..” Batin Kris.

“Haaahh~~~ Lebih baik aku bertemu Chris…” Lian meregangkan otot-ototnya yang kaku. “Ah! Bùshì (tidak) Christian.. Cih! Kenapa nama Chris harus sama dengan pria gila itu?!!” Lanjutnya ketika menyadari ada persamaan nama pada saat pengucapan diantara dua pria itu.

“Apa dia bilang?! Aku pria gila?” Batin Kris kesal yang mendengarkan ocehan istrinya sendiri.

Lian pun bersiap bahkan dia memakai make up meskipun itu terlihat tipis di wajahnya. Kulitnya yang putih tidak memerlukan lagi bedak untuk menutupi wajahnya. Ia hanya memakai lipgloss dan sedikit eyeliner untuk memberikan efek lebar pada kelopak matanya. Dengan pakaian yang casual dan dipadukan dengan tas cokelat yang ia sampirkan ia mematut dirinya di cermin. Sneakersnya yang berwarna hitam yang senada dengan t-shirt yang ia pakai pun menambah kesan sporty pada Lian terlebih lagi rambutnya yang dikuncir satu.

Mendengar langkah Lian yang sepertinya akan keluar kamarnya, Kris pun buru-buru membalikkan badannya dan berpura-pura baru keluar dari dapur.

“Mau kemana kau?” Tanya Kris dengan segelas air di tangannya.

“Bukankah diperjanjian disebutkan kalau kita tidak boleh mencari tahu kegiatan kita masing-masing, eoh? So, tidak usah bertanya aku akan pergi kemana! Jalani saja kehidupanmu sendiri.” Jawab Lian. Kris pun hanya diam dan memilih tidak melanjutkan kalimatnya.

Namun, tanpa sepengetahuan Lian, Kris mengikuti gadis itu dengan mobilnya. Meskipun ia hanya memakai celana selutut dan t-shirtnya ia mengendarai mobilnya menyusuri jalan. Lebih tepatnya mengikuti taksi yang ditumpangi Lian.

Sebuah café adalah tujuan dari taksi yang diikuti Kris siang itu. “Café?” Batin Kris dengan dahi mengernyit.

Tak lama, Lian kemudian bertemu dengan seorang pria yang kemudian menarik pinggang gadis itu dan mencium pipi kiri dan kanannya.

“What the….!! Apa dia lupa dengan statusnya?” Tanpa ia sadari, Kris terlihat kesal melihat pandangan di depannya.

“Sigh~ Apa yang kulakukan di sini? Kenapa juga aku membuntutinya? Bukankah ada di perjanjian kalau boleh mempertahankan hubungan dengan kekasih masing-masing? Tiān nǎ (astaga), Kris! Kau juga sudah memiliki Min Ah yang menjadi kekasihmu…” Batin Kris lagi yang kemudian memutar arah untuk kembali ke rumah.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Beberapa bulan kemudian, aku berusaha berdamai dengan kenyataan. Kenyataan kalau ternyata aku memang benar-benar istri dari orang gila ini. Sabar Lian, hanya tinggal satu tahun sembilan bulan lagi aku menjadi istrinya.

“Ya, ada apa?” Kudengar Kris bernada lembut dengan seseorang yang diteleponnya.

“Duìbùqǐ, gege ada meeting…Nanti gege kirimkan supir saja ya untuk menjemputmu..” Oh, kekasihnya mungkin. Masa bodoh, ah!

“Ya sudah, kalau nanti kau mau ke kantor gege, datang saja…” Ujar Kris lagi pada saat aku sedang membuat susu untukku.

“Oh ne, nanti kabari saja kalau mau datang..” Sepertinya dia mendekat. Suaranya terlihat jelas. Ah! Peduli sekali!

“Ommmoo!!” Aku nyaris saja menumpahkan susu di kemejanya. Beruntung dia segera mundur hingga susu itu tumpah ke lantai.

“Sorry..” Ucapku. Dia terlihat menahan emosinya karenaku dan lebih memilih mengambil cangkir tehnya. Aku pun tidak mempedulikannya dan memutuskan untuk ke ruang tengah menonton tv.

“Iya, nanti gege akan mengirim supir untuk menjemputmu… Sudah dulu ya, gege mau berangkat kerja ini…bye~”

“Aku berangkat kerja dulu…Lian…”

“Hah? Apa?? Dia bicara padaku?” Batinku. Aku masih terus menatap layar tv sambil meminum susu yang kubuat.

“Lian…” Aku pun menoleh.

“Hng?”

“Aku berangkat kerja..”

“Hhm..” Jawabku yang kembali mengalihkan pandanganku pada tv. Apa dia kerasukan sampai-sampai ia pamitan kerja padaku. Hah! Mollaso~!

Karena bosan aku berniat untuk masak untuk sarapan dan makan siangku. Aku menuju dapur dan… eh? Apa ini? Sebuah berkas? Bukankah ini berkas yang tadi dia bawa-bawa? Ah! Biar sajalah… untuk apa aku memberitahunya? Nanti juga dia akan pulang sendiri kalau ingat.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Kris yang sedang bekerja di ruangan kantornya tiba-tiba teringat dengan berkasnya. Ia mencari di dalam tasnya, tapi dia tidak menemukannya.

“Oh damn! Dimana berkas itu?” Batin Kris.

“Ah!!” Tiba-tiba dia mengingat sesuatu tentang berkas kerjanya itu. “Aku tidak mungkin pulang, karena supirku sedang menjemput Michelle… Kalau aku suruh orang lain, Lian bukan tipikal orang yang mudah percaya. Ah, biarkan sajalah.. Aku suruh orangku saja.” Ujarnya lagi.

Sementara itu, Lian terlihat sibuk memasak. Saat ia di rumah sendiri, dia sibuk mencoba berbagai menu masakan untuk dimasaknya. Tak jarang dapur berantakan karena ulahnya yang terkadang ceroboh menumpahkan bahan makanan. Sudah hampir satu jam ia sibuk di dapur. Bahkan ia lupa untuk sarapan karena dia sibuk bereksperimen dengan masakan.

Ting! Tong!

“Hee? Siapa datang siang-siang seperti ini? Mengganggu saja!” Gerutu Lian yang kemudian segera menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

“Jeosonghamnida… Saya diperintahkan Wu sajangnim untuk mengambil berkas yang tertinggal.” Ujarnya setelah membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Lian.

“Neo nuguya?”

“Saya assistant-nya Wu sajangnim. Beliau sendiri yang menyuruhku mengambil berkas itu untuk beliau rapat nanti setelah jam makan siang.”

“Dengar ya, aku tidak percaya pada siapa pun terlebih lagi aku harus menyerahkan berkas kantor milik suamiku padamu!” Lian kemudian menutup pintunya rapat. Orang yang dipekerjakan sebagai assistant-nya Kris pun segera menelpon Kris.

“Mwoya?! Dia tidak percaya?” Kris memijat pelipisnya setelah mendapat telepon dari assistant-nya.

“Ne, sajangnim.. Apa yang harus saya lakukan?”

“Berikan ponselmu padanya.” Perintah Kris.

“Geundae… istri sajangnim sudah menutup pintunya rapat.”

“Assshh~!! Ya sudah, nanti saya yang bicara padanya.” Ujar Kris kemudian yang kemudian menelpon Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ini ada apa tiba-tiba Kris menelpon?” Batinku saat melihat ponselku bertuliskan ‘tiang listrik’.

“Ne…” Jawabku malas.

“Kenapa kau tidak memberikan berkasku pada orang yang sudah kusuruh, hah? Itu berkas pentingku! Kau memperlambat saja!”

“Hey! Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku tidak sembarangan memberikan itu pada orang itu!” Balasku. Cih! Dasar tidak tahu terima kasih!

“Well, kau sekarang sudah mengetahuinya kan? Kenapa tidak kau kasih?” Tanya Kris lagi.

“Bagaimana kalau dia membelot? Kau itu bodoh atau apa sih? Kau bisa-bisanya percaya pada orang lain padahal itu berkas penting kan katamu?!”

“Arrghh!!! Song Liann!!! Kenapa tidak sekalian kau ikuti saja dia hah?!!” Ahahaha kenapa dia terdengar frustasi?

“Ikuti bagaimana maksudmu?” Tanyaku santai.

“Kalau kau tidak percaya dengannya, kau ikuti dia! Aku tidak punya banyak waktu, Lian.. Berkas itu harus kupelajari…”

“Mwo? Aku ke kantormu? Lalu bagaimana aku pulang? Kau pikir tidak lelah, eoh?!”

“Sigh~! Kau pulang denganku!”

“Oh..” Jawabku lagi.

“Liannn!! Argh!! Kau harus mengantar berkasku itu!”

“Ne..ne.. cerewet sekali!” Ujarku yang kemudian memutus percakapan kami. But wait! Kenapa aku jadi mau mengantarkan berkas ini??? Argh!!!!!! Song Lian!! Neo pabbo yaaa!!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Lian pun untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di kantor itu. Dengan sedikit bingung, ia bertanya di meja receptionist dimana ruangan Kris.

“Wu sajangnim?”

“Ne…” Jawab Lian.

“Wu sajangnim baru saja keluar.” Karyawan itu menunjuk kearah pintu keluar. Lian pun menoleh dan memperhatikan arah yang ditunjuk karyawan itu. Kris sedang bersama seorang wanita. Kris melingkarkan lengannya di bahu wanita itu dan sesekali mengacak rambut wanita itu. Saat itu juga, Lian yang melihat mereka berdua entah kenapa merasakan kalau dadanya terasa sesak. Tiba-tiba saja ia seolah kesulitan bernafas padahal ia sering sekali bertengkar dengan Kris.

“Bisa tolong nanti berikan ini untuk Kris? Dia bilang ini berkas penting untuk meeting-nya…” Ujar Lian yang bicara pada karyawan yang ada di meja receptionist tersebut.

“Baik, agasshi…” Lian pun segera meninggalkan kantor itu.

Di lain tempat Kris yang sedang makan siang bersama adiknya yang baru saja pulang dari Hongkong karena studinya terus mendengarkan cerita adiknya sambil memilih menu makanan.

“Gege, kau itu sebenarnya harus bertemu dengan jiejie yang kupunya itu. Dia sangat baik, ge… perhatian lagi!”

“Well, sekarang waktunya makan siang, Chell… Cepat pilih makananmu…” Ujar Kris.

“Ish! Gege dari tadi tidak mendengarkanku…” Michelle adiknya mengerucutkan bibirnya kesal.

“Ck, aku mendengarnya. Kau bercerita tentang kuliahmu yang membosankan, tugas-tugas kuliahmu yang menumpung, pengerjaan skripsimu yang benar-benar membuatmu gila, bahkan kau bercerita tentang jiejie cybermu itu kan? See, aku mendengarkan semuanya kan?” Kris melipat tangannya di atas meja.

“Baiklah, kalau begitu aku pilih makanan..” Ujar Michelle yang kemudian membuka buku menu makanannya.

“Apa yang kau makan di Hongkong sampai kau seperti ini, Chell?” Kris tertawa sambil mengacak rambut adiknya yang merupakan kebiasaannya yang juga mengganggu gadis itu.

“Aaa! Jangan diacak-acak gege… Nanti rusak rambutku!” Protes Michelle.

“Eh, hey bagaimana hubunganmu dengannya?” Tanya Kris tiba-tiba.

“Hubungan?” Tanya Michelle balik.

“Dengan Yixing… Bukannya kalian dekat?”

“Iya dekat sih… Tapi sebenarnya yang lebih dekat itu jiejie… Jiejie itu teman dekatnya Yixing… Huuh… aku iri dengannya..”

“Loh, memangnya kau tidak ada bicara sedikit pun dengan Yixing? Katamu, kau dengan Yixing menjalin hubungan kan? Hhm.. maksudku, kalian pacaran kan?”

“Iya sih.. Tapi, apa seperti ini dinamakan pacaran? Hubungan yang belum terlalu intens..” Jawab Michelle.

“Belum intens atau kau yang tidak peka?” Kris menaikkan sebelah alisnya mengingat sifat adiknya yang tidak peka dengan keadaan sekitar terutama dengan orang yang berada di dekatnya.

“Maksud gege?” Tanya Michelle lagi.

“Asshh~~” Kris menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku restaurant.

“Wo bu zi dao (aku tidak tahu).” Jawab Michelle.

“Haahh… maksudku, kau tidak menyadari kalau sebenarnya Yixing memiliki perasaan cinta?” Kris menggidikkan bahunya. Michelle pun terlihat bingung.

“Akh sudahlah! Kau benar-benar tidak peka rupanya…” Kris terlihat frustasi menjelaskan maksudnya pada adiknya.

“Ish~ Gege juga begitu kan?” Balas Michelle.

“Sudahlah… Makanan sudah datang…” Kris menghentikan perdebatannya dengan adiknya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Baekhyunnie, bisa bertemu sekarang tidak?” Aku menelpon Baekhyun, hoobae aku di New York. Aku dengannya sama-sama satu club music. Dan dia adalah

“Noona, wae? Kau terdengar seperti menangis?”

“Aku ingin kita bertemu.. bisa kan?” Tanyaku di sela isakkanku.

“N..ne.. Noona kau dimana sekarang?”

“Sungai Han..”

“Baiklah, kebetulan aku juga berada didekat Sungai Han. Aku akan ke sana.. Uljimma noona…” Aku tidak menjawabnya dan memutus sambunganku.

Kenapa aku menangis? Kenapa aku merasa sesak? Padahal ini semua keinginanku kan? Ada apa denganku? Air mata ini mengalir begitu saja saat aku melihatnya.

Saat aku tengah menangis tiba-tiba ponselku berbunyi. Di layar itu tertulis nama ‘tiang listrik’. Kenapa dia harus menelponku sekarang??!! Aku langsung menyentuh tulisan ‘reject’ pada layar ponselku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Huh? Direject?!! Kenapa dia mematikan panggilanku?” Kris terlihat bingung memandangi ponselnya.

Tok Tok Tok! Suara pintu ruangannya yang diketuk pun terdengar membuat pria dengan tinggi 190 cm itu menoleh.

“Comin’..” Ujar Kris.

“Sajangnim, ini ada titipan dari istri anda. Beliau mengatakan kalau ini berkas anda untuk meeting.”

“Gamsahamnida..” Jawab Kris menerima berkas itu.

“Kenapa dia tidak menemuiku? Aneh sekali.. bukankah dia bilang tidak percaya pada siapa pun untuk memberikan berkas ini kan?” Pikir Kris.

Di Sungai Han, Baekhyun terlihat sedang menenangkan seorang gadis yang berada di sebelahnya. “Uljimma, noona.. Aku bingung.. sebenarnya apa yang terjadi?” Lian hanya bisa menangis meskipun Baekhyun memeluknya untuk menenangkannya.

“Noona, cerita padaku.. Kau kenapa? Aku tidak mengerti kalau kau terus menangis seperti ini…”

Byun Baekhyun adalah hoobae yang paling dekat dengannya diantara beberapa temannya. Bahkan jika dibandingkan dengan Christian pun Baekhyun masih lebih dekat dengan Lian. Kehadirannya di Seoul karena pekerjaan ayahnya. Ia dipanggil ayahnya untuk kembali ke Seoul setelah menyelesaikan studinya di New York.

“A..aku..hiks.. kenapa..hiks..kenapa aku sakit, Baekhyunnie… huhuhuu…” Tangisnya.

“Sakit?” Tanya Baekhyun.

“Aku sakit melihatnya… hiks… Dia jalan dengan wanita lain..huhuhu…”

“Kris hyung?” Tebak Baekhyun. Lian pun mengangguk dalam pelukan Bekhyun yang masih mengusap kepalanya.

“Noona, kau jatuh cinta padanya?”

Lian pun langsung mendorong Baekhyun dan menghapus air matanya. “Jatuh cinta apa? Aku tidak jatuh cinta padanya. Tidak mungkin aku cinta dengan tiang listrik itu!”

“Tapi kenapa noona menangis kalau bukan karena jatuh cinta, hm? Aaaa~~ Kau sudah mulai mencintai Kris hyung rupanya…” Baekhyun menyenggol bahu Lian.

“Yak! Itu tidak akan pernah terjadi!”

“Waahh… noonaku sudah besar rupanya!” Seru Baekhyun.

“Yaak!! Aku lebih tua darimu, tahu!”

“Ah! Aku lupa, kalau noona lebih TUA dariku..” Ujar Baekhyun yang menekankan pada kata ‘tua’ yang merupakan kata senstitif bagi Lian. Lian pun menjitak kepala pria itu yang bisa kembali membuatnya tertawa meskipun dia kesal padanya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Agh! Kau ini kenapa menghubungiku lagi?! Bisa kan tidak usah menghubungiku dulu?! Aku jenuh!” Aku mendengar suara Kris yang baru saja pulang dan terlihat mengomel dengan ponselnya. Kenapa dia? Bukannya baru tadi siang dia bermesraan?

Dukk! Sebuah benda mengenai bahuku dari belakang saat aku sedang menonton tv di ruang tengah.

“Aww!! Appo!!” Aku memekik dan melihat benda itu. Sebuah ponsel? Ini bukannya milik Kris.

“Yaak!! Tiang listrik! Apa kau tidak lihat kalau ada orang di sini, hah?!! Kau pikir tidak sakit?!” Aku meneriakkinya dari ruang tengah. Dia yang sedang melepas dasinya dan membuka kancing atas kemejanya pun tidak menggubrisku malah masuk ke dalam dapur. Aku hanya meletakkan ponselnya di atas meja ruang tengah. Tanpa sengaja aku menyentuh layar ponselnya yang menampilkan foto dirinya dengan seorang wanita.

“Oh, jadi ini kekasihnya…” Pikirku.

Brukk! Aku menoleh ke samping. Ternyata dia duduk di sebelahku dengan segelas air di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memijat pelipisnya. Terlihat banyak pikiran sekali orang ini. Ponselnya pun terlihat menyala menandakan ada seseorang yang menelponnya. Tapi dia sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Ia hanya meletakkan gelasnya dan kembali menyandarkan kepalanya pada sofa.

“Ini, mungkin kau butuh hiburan..” Ujarku pada akhirnya yang menyerahkan remote tv padanya.

“Tidak usah..” Ucapnya.

“Eoddi appo?” Tanyanya kemudian.

“Hng?” Aku tidak mengerti maksudnya.

“Tadi kena lemparan ponselku kan?” Tanyanya lagi.

“Wǒ méiyǒu shé me (aku tidak apa-apa).”

“Duìbùqǐ (maaf)…” Ucapnya.

“Ne… Sudahlah… kau sekarang mungkin lebih butuh tv ini.. Kau terlihat suntuk sekali..” Ujarku.

“Aku tidak butuh… Yang kubutuhkan hanya…ketenangan..” Aku langsung mematikan tv itu dan beranjak pergi.

“Kau mau kemana?” Tanyanya kemudian.

“Bukankah kau butuh ketenangan? Aku mau masuk kamar supaya kau bisa lebih tenang.” Jawabku.

“Tidak usah…” Aneh sekali dia. Kenapa aku tidak boleh ke kamar? Aku hanya menurut duduk di sampingnya tanpa melakukan apa-apa. Aku hanya memainkan ujung rambutku yang terlihat sedikit tidak terawat. Oh bagaimana mungkin rambutku ini tidak terawat?!!

“Lian…” Panggilnya.

“Hhm?” Aku menyahutinya tanpa mengalihkan pandanganku dari rambutku.

“Bagaimana kau mengatasi rasa bosanmu pada pasanganmu?” Hah?! Kok dia bertanya seperti itu? Bagaimana aku tahu kalau aku sendiri tidak berpacaran dengan siapa pun.

“Molla..” Jawabku asal.

“Kau tidak pernah merasa bosan dengannya?” Tanyanya lagi. Siapa yang dia maksud?

“Maksudmu?”

“Lupakan..” Ujar Kris yang kemudian berdiri dan meninggalkanku di ruang tengah.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Noona, ayo kita bertemu Lay hyung!” Di hari libur pagi itu Baekhyun sudah menelpon Lian yang tengah sarapan di meja makan.

“Lay? Memang dia di Seoul?” Tanya Lian sambil mengunyah rotinya. Tanpa disadarinya, seorang pria yang tengah membaca koran sambil sesekali menyesap tehnya tengah mendengarkannya bicara.

“Noona, kau ini benar-benar out of date! Lay hyung baru saja datang ke Seoul…”

“Jinja?? Lay ke Seoul mau apa? Kenapa bukan ke Changsa? Bukankah rumahnya di sana?” Tanya Lian berturut-turut.

“Ada keperluan… Itu loh.. dia berniat untuk… Agh! Nanti kau memberitahunya… Malas aku memberitahu noona!” Ujar Baekhyun kemudian.

“Huh? Maksudmu? Memberitahu siapa?”

“Ituuu.. teman cyber noona…”

“Oh ne… Maksudnya?” Tanya Lian lagi.

“Dia… Dia mau melamarnya!”

“Bhuffftttt!!!” Lian menyemprotkan teh yang diminumnya. Tanpa sengaja mengenai lengan kiri Kris yang saat itu sedang berada di dekatnya untuk mengoleskan selai pada rotinya.

“YAAA!!!! Jorok sekali kau ini!! Agh!! Apa kau tidak lihat, ini mengenai bajuku!!”

“Baekhyunnie, nanti aku telepon lagi yaaa… Bye!” Lian buru-buru memutuskan sambungan telepon.

“Duìbùqǐ (maaf)… Duìbùqǐ (maaf)….” Lian mengambil tissue dan berusaha mengeringkan baju tersebut.

“Tsk! Sudah, tidak usah!” Kris menepis tangan Lian dan masuk ke kamarnya.

“Issh~~ Aku berusaha baik dia seperti itu.. Dasar tiang listrik!!” Dengus Lian kesal. Ia pun kembali menelpon Baekhyun.

“Noona, tadi kau kenapa? Aku sempat mendengar Kris hyung berteriak… Kau baik-baik saja?” Tanya Baekhyun.

“Nan gwaenchana, Baekki… Tadi bagaimana maksudmu? Lay mau melamar?” Tanya Lian yang memilih halaman belakang rumah yang ia dan Kris huni.

Lay adalah panggilan khusus untuk Zhang Yixing dari Lian dan Baekhyun. Alasan mereka hanya satu. Karena wajah Yixing yang selalu terlihat lelah meskipun dia sedang bahagia. Karena itu, mereka berdua memberikan nama itu untuk Yixing.

“Lay hyung menelponku. Dia mengatakan kalau dia sekarang berada di Seoul. Dia ingin menyatakan perasaannya sekaligus ingin melamarnya.”

“Really? Selama ini dia terlihat santai saja… Asshh~~ Ternyata dia memperhatikan Michelle juga.. Hahaha…” Tawa Lian.

“Hhmm dia pintar sekali menyembunyikan perasaannya, noon.. hahaha…”

“Lalu, kapan dia akan melamar?”

“Molla… Ayolah, noon…Kita bertemu dengannya…” Rengek Baekhyun.

“Ah, kajja! Kapan? Hari ini?”

“Boleh… Kau tidak sibuk, noon?” Tanya Baekhyun.

“Anni.. Mau jam berapa?”

“Nanti aku kabari lagi… Oh ya, jangan noona beritahu ini pada Michelle ya.. Biar ini jadi surprise!” Ucap Baekhyun.

“Okay… Semua rahasia terjamin!”

“Oh, noona mau aku jemput nanti?”

“Apa tidak merepotkanmu?”

“Anni…”

“Baiklah… Kalau tidak merepotkanmu, kau bisa menjemputku, Baekki-ya~”

“Okay, wait me then!” Seru Baekhyun.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Ting! Tong! Sore itu, Baekhyun sudah berada di rumah Lian dan Kris. Kris membuka pintu dan melihat ada seorang pria bermata kecil yang tengah berdiri di hadapannya.

“Ada apa?” Tanya Kris dingin.

“Lian noona ada?”

“Mau apa?” Tanya Kris lagi. Saat itu juga Baekhyun merasa nyalinya berkurang menghadapi pria di hadapannya.

“A…ak..aku…”

“Baekhyunniee~~ Ah! Rupanya kau sudah datang!” Lian tiba-tiba saja datang dan memeluk Baekhyun yang tengah mematung.

“Aku bisa mati lama-lama di sini! Kris hyung saja menatapku sudah seram, ditambah noona yang memelukku… Akh! Noona, tidak kah kau menyadari kalau suamimu itu tengah cemburu padamu??” Batin Baekhyun.

“Kajja, kita langsung saja pergi!” Ajak Lian.

“Ge..geundae…” Baekhyun merasa tidak enak hati pada Kris.

“Kajja…” Lian langsung menarik Baekhyun. Baekhyun hanya menundukkan kepalanya pada Kris untuk berpamitan.

“Tiān nǎ (astaga)! Dia tidak memperhatikanku yang ada di sini? Apa aku dianggap dinding, huh?” Batin Kris. Ia mengambil kunci mobilnya dan berniat mengikuti Lian dari belakang. Lian yang kini sudah menaiki mobil Baekhyun sedan yang berwarna hitam itu tidak menyadari kalau sebuah sedan berwarna silver tengah mengikutinya. Kris sengaja memberikan celah mobil lain agar mobilnya tertutupi. Kris juga sengaja menghafal plat nomor mobil yang dikendarai Baekhyun.

“Well, rupanya dia hobi sekali berganti pasangan… Wanita macam apa dia? Cih!” Umpat Kris memukul setir mobilnya.

Ternyata, mobil yang dikendarai Baekhyun memasuki kawasan perhotelan. Dan sontak Kris semakin curiga dengan tingkah Lian.

“Hotel? Bagaimana kalau Mama dan Papa tahu ini?” Batin Kris.

Rupanya Baekhyun memanfaatkan fasilitas valley untuk memarkirkan mobilnya. Ia tidak mau repot-repot mencari parkir untuk mobil mewahnya. Pria itu memberikan kunci mobilnya pada petugas valley. Takut kehilangan jejak Lian, Kris pun melakukan hal yang sama. Ia juga memberikan kunci mobilnya pada petugas valley hotel tersebut.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Liaaaann!!”

“Kyaaaaa~~~~~ Laayyy~~~” Dengan riang aku memeluk pria bermarga Zhang itu melepas rasa rinduku padanya. Terakhir kami bertemu pada saat pernikahanku dengan Kris. Setelah itu, Lay kembali ke New York melanjutkan studi pasca sarjananya di bidang ekonomi. Hah! Pasti aku dimarahi dia karena tidak melanjutkan pasca-ku. Ya, semenjak menikah aku kehilangan semangatku untuk melanjutkan studiku. Semua ini gara-gara tiang listrik ituu!!!

“Jadi hanya noona yang dipeluk?” Baekhyun menginterupsi kami.

“Ah! Baekki-ya~ Bogoshipoo~~” Ujar Lay memeluk Baekhyun.

“Nado, hyung…” Jawab Baekhyun kemudian.

“Wait, sebelumnya aku ingin memarahi Lian! How dare you! Bagaimana bisa kau tidak melanjutkan kuliahmu! Hey, bahkan proposal tesismu sudah disetujui professor kan?” Tuh kan! Benar kan kataku… Pasti Lay memarahiku. Huh!

“Aku jadi malas kuliah, Lay…” Aku mengerucutkan bibirku.

“Kau bahkan masih terlihat menyeramkan, noona!”

“Yakk!!”Aku memukul bahu Baekhyun.

“Apppoo~~ Hyung~ Noona memukulku.. Padahal kan aku hanya mengatakan kenyataan. Noona itu tidak pantas ber-aegyo!”

“Diam kau atau sepatuku ini melayang ke wajahmu!” Ucapku ketus.

“Sudah… sudah… hey, bagaimana kalau kita ke lounge hotel ini?”

“Kajja!”

“Huuhh! Kalau makan kau pasti duluan..” Ejekku pada Baekhyun.

Di lounge, kami hanya memesan cake untuk camilan kami. Seperti biasa, aku hanya memesan strawberry short cake dan segelas cappuchino menu favorite-ku.

“Jadi, apa yang membawa kalian sekarang menemuiku?” Tanya Lay.

“Molla, noona…” Baekhyun melemparnya padaku. Sial anak ini!

Lay yang kemudian menatapku penuh selidik. “Well, sebenarnya kita penasaran.” Ujarku singkat.

“Penasaran akan?” Tanya Lay lagi padaku.

“Kau katanya mau melamar Michelle…” Ucapku polos.

Saat itu juga kulihat Lay memberikan tatapan membunuh pada Baekhyun. “Mworago?” Tanya Baekhyun santai.

“Kenapa kau memberitahunyaaaaaa?!!!” Lay terlihat kesal dengan Baekhyun. Apa sebenarnya hal ini tidak boleh kuketahui?

“Hyung tidak memberitahuku kalau hal ini tidak boleh dikasih tahu noona…”

“Argh! Kau iniiiii…”

“Okay, okay… Bisa kau jawab pertanyaanku Zhang Yixing?” Aku menginterupsi pertengkaran mereka.

“Ya, itu benar… Aku akan melamar Michelle..” Lay meminum espresso-nya. “Tapi kau jangan bilang padanya!” Ia kemudian kembali bicara dan hampir membuatku tersedak cake yang sedang kumakan.

“Aish~! Iyaa..”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Akh! Kenapa pria itu tidak terlihat?! Sigh~ Kenapa juga dia harus duduk di kursi itu?” Kris kesal.

“Hng? Itu bukannya Kris hyung?” Baekhyun melihat kearah belakang Lian dan Yixing. Lebih tepatnya pada dua meja di belakang mereka. Meskipun terhalang beberapa orang, Baekhyun masih bisa melihat kalau itu adalah Kris. Kris sengaja memakai kacamata hitam untuk penyamarannya. Namun, bentuk wajah Kris yang terlihat mencolok dibandingkan orang Korea lainnya, Baekhyun dengan mudah menyadarinya karena ia terus memperhatikan pria itu.

“Sepertinya Baekhyun menyadariku..” Kris kemudian keluar dari lounge itu setelah membeli minuman.

Di dalam mobilnya, entah kenapa batin pria itu sangat kesal ketika melihat Lian. “Jadi dia jalan dengan dua pria? Ah, bùshì (tidak)! Tiga pria! Gila! Aku menikahi wanita…. Oh damn!” Kris kembali menghela napasnya.

Tak lama kemudian, ponselnya yang berada di dashboard mobilnya berbunyi. Nama Min Ah lah yang muncul di layar ponselnya. Han Min Ah adalah wanita yang menjadi kekasih Kris empat bulan ini. Ya, sebelum ia menikah dengan Lian, dirinya sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan Min Ah. Pada saat Kris menikah, Min Ah berniat bunuh diri karena ia harus mengakhiri hubungannya. Namun, niat itu berhasil digagalkan oleh Kris yang berjanji pada Min Ah akan segera menceraikan Lian setelah dua tahun pernikahannya dan kembali padanya.

“Oppa, eoddiseo?” Tanyanya saat Kris sudah memasang earphone-nya dan menyentuh layar ponselnya.

“Di jalan. Wae?” Tanya Kris balik.

“Oppa, hari ini jalan yuk!” Ajak Min Ah.

“Mau kemana?” Tanya Kris malas.

“Bagaimana kalau nonton? Aku baru saja browsing kalau ada film bagus, oppa!” Seru Min Ah.

“Kapan?

“Filmnya sih mulai jam tujuh malam…” Ujar Min Ah.

“Kalau begitu aku ke rumahmu sekarang. Sekarang sudah hampir jam lima.” Ujar Kris.

“Baiklah, kalau begitu aku siap-siap.”

Setibanya di rumah Min Ah, tanpa banyak bicara Kris langsung melajukan mobilnya ke salah satu pusat perbelanjaan dimana ada theater yang dimaksud kekasihnya. Selesai membeli tiket, Min Ah langsung mengajak Kris ke lounge theater itu untuk membeli popcorn dan minuman. Kris hanya memberikan black card miliknya pada gadis itu untuk membayar semuanya. Entah dimana sekarang pikiran Kris. Berkali-kali Min Ah mengajaknya bicara, Kris hanya seperlunya saja dalam menjawabnya.

“Oppaa!! Kau dengar aku tidak sih?!” Min Ah terlihat kesal.

“Hng? Mianhae… Aku sedikit banyak pikiran Minnie…” Ujar Kris yang memanggil gadis itu dengan panggilan kesayangannya.

“Huuhhh!!”

“Kajja, kita langsung masuk saja.” Ujar Kris berusaha menghibur Min Ah yang kesal padanya.

Saat film berlangsung pun Kris sama sekali tidak menontonnya. Memang kedua matanya memperhatikan tiap adegan film bergenre romance tersebut, tapi entah kemana pikirannya berjalan. Sesekali ia menguap menahan rasa kantuknya. Ya, selain tidak suka dengan genre film tersebut, Kris memang sedang memikirkan sesuatu. Lian, istrinya. Dengan tangan yang menopang dagunya, Kris menonton film itu bosan.

“Argh! Dua jam lama sekali!”, Batinnya.

Tanpa terasa, film pun berakhir. Kris berdiri merenggangkan punggungnya.

“Oppa tunggu!” Ujar Min Ah.

“Ppali..” Ujar Kris kemudian.

“Oppa, lapar…”

“Kau lapar?” Tanya Kris yang dijawab dengan anggukkan Min Ah. Mereka pun menuju salah satu restaurant yang berada di dalam pusat perbelanjaan tersebut.

Min Ah terlihat sedang memilih menu makanan. Sementara Kris hanya memesan teh hangat saja tanpa makanan. Dia merasa kalau dirinya sedang kehilangan selera makannya.

“Oppa tidak makan?”

“Anni…” Jawab Kris yang kemudian memainkan ponselnya.

“Oppa tadi filmya romantis sekali ya!” Ujar Min Ah antusias.

“Hhm…”

“Lain kali kita nonton lagi ya, oppa..”

“Hhm…” Jawab Kris.

“Tapi oppa suka tidak filmnya?”

“Hhm…”

“Opppaaaa!!!!” Min Ah menarik ponsel Kris dari tangan besar itu.

“Minnie, kembalikan ponselku…”

“Oppa dari tadi tidak memperhatikanku! Bahkan kau bosan kan menonton! Oppa waeyoo??” Tanya Min Ah dengan wajah kecewa.

“Mianhae, Minnie… Aku… Aku sepertinya tidak enak badan..” Ujar Kris berbohong. Tidak mungkin dia mengatakan pada Min Ah kalau dia sedang memikirkan Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Sepulangnya ia mengantar Min Ah, Kris tidak langsung pulang ke rumah. Namun ia kini memasuki kawasan club malam. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dalam club itu, aroma rokok yang bercampur dengan minuman keras tercium sangat kental. Kris yang memiliki kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan ini selalu memilih club malam sebagai pilihan akhir untuk melepaskan pikirannya sejenak. Ia pun duduk di bar dalam club itu. Seketika itu pula banyak wanita yang mendekatinya. Ya, memang bukanlah hal sulit bagi Kris untuk menjerat banyak wanita dengan pesona dan wajahnya yang tampan. Tapi untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi, Kris hanya ingin melakukannya dengan wanita yang benar-benar menyita pikiran, waktu bahkan rasa sayangnya. Kris pun meminum minuman keras itu yang entah sudah keberapa botol. Wajahnya sudah terlihat merah karena mabuk. Dalam keadaan setengah sadar, ia menyuruh bartender itu untuk menelpon siapa saja yang bisa mengantarnya pulang melalui ponselnya.

“Nomor dua…. Kau telepon seseorang…” Ujar Kris yang dalam keadaan mabuk. Bartender itu pun segera menelpon sesuai instruksi dari Kris. Nama Lian lah yang muncul dalam layar ponsel tersebut.

“Yeobseo~”

“Ada apa kau menelponku malam-malam hah?! Bukankah kau sudah memiliki kunci rumah sendiri?!!” Lian terdengar membentak.

“Jeosongmianhamnida… Apa anda yang bernama Lian?”

“Hah? Kok bukan suara Kris?” Lian memeriksa ponselnya dan tulisan ‘tiang listrik’ lah yang tertera. “Ini Kris, tapi kok…”

“Neo nuguya?” Tanya Lian.

“Saya bartender di club malam. Ada seorang pria tinggi dengan alis tebal yang tengah mabuk di sini. Apa anda kenal dengan orang ini? Ia meminta untuk dijemput.”

“Mworago?!”

“Bisa anda menjemputnya?”

“Ne… kirimkan saja alamatnya.” Ujar Lian.

“Baik, gamsahamnida…”

“Ne… Maaf merepotkan anda..” Jawab Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Gaaahh!!!! Malam-malam seperti ini dia menggangguku!! Mau tidak mau aku harus membangunkan ahjussi untuk menjemput tiang listrik itu. Cih!

Tring~ Ponselku berbunyi pertanda kalau sebuah alamat yang dikirimkan oleh bartender itu masuk.

“Mianhae membangunkanmu, ahjussi…” Aku membungkuk berkali-kali meminta maaf padanya karena hal ini.

“Tidak apa-apa, nyonya Wu… Ini sudah kewajiban saya…” Jawabnya.

Sementara itu aku menunggu di rumah sambil menyiapkan air hangat. Argh! Sebenarnya apa yang kulakukan sampai-sampai aku menyiapkan air hangat seperti ini.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Satu setengah jam, Lian menunggu. Akhirnya mobil itu pun tiba. Lian yang sedari tadi mondar-mandir, langsung menuju arrah pintu dan melihat Kris yang dipapah oleh supir mereka. Tubuh Kris yang jauh lebih tinggi dan besar itu membuat supir mereka kesulitan. Mau tidak mau, Lian ikut membantu memapahnya hingga ke kamar pria itu. Mereka membaringkan Kris di ranjangnya.

“Gamsahamnida, ahjussi…”

“Cheonmaneyo, nyonya Wu…” Ucapnya yang kemudian keluar dari kamar Kris. Karena kasihan, Lian melepaskan sepatu yang dikenakan Kris.

“Kamarnya lumayan rapi juga untuk ukuran namja…” Batin Lian.

Gadis itu berniat membasuh tubuh Kris dengan air hangat. Ia ke dapur untuk mengambil air hangat itu yang di dalamnya sudah terdapat washlap untuk membasuh wajah Kris.

“Sigh~ Malam-malam bisanya merepotkan orang saja!” Batin Lian yang memeras washlap yang sudah ia basahi dengan air hangat sebelum ia usapkan ke wajah Kris.

Tiba-tiba saja tangan Kris menahan gerak tangan Lian. Keduanya menatap wajah Lian meskipun dengan pandangan sayu.

“Du…duì…bùqǐ…” Kris tiba-tiba saja menarik gadis yang berada di hadapannya hingga jatuh menimpanya.

“Le..le..lepaskan aku…!!” Lian meronta. Hal itu akan menjadi sia-sia karena saat ini Kris sudah mengunci gadis itu dalam pelukannya. Dibalikkannya posisi gadis itu di bawahnya hingga kini Kris bisa mencium bibir gadis itu dengan kedua tangan yang menahan pergelangan gadis itu. Kini tubuh gadis itu terjebak diantara tempat tidur dan tubuh Kris di atasnya. Meskipun Kris menciumnya berkali-kali, tidak sekali pun Lian membalasnya. Ia terus meronta dari cengkeraman tangan Kris.

“Lepaskaan!! Ini tidak ada dalam perjanjian kita, Kris!! Lepaskaannn!!!” Lian berusaha menendang Kris, namun dengan cepat, kedua kaki Kris menahan kakinya.

“KRISS!!! Eumphh…!!”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Apa yang kulakukan dengannya… Kenapa malah jadi seperti ini…” Aku menangis mengeratkan selimut yang menutupi tubuhku yang tanpa busana. Aku mengambil pakaianku dan memakainya kembali.

“Kris tidak boleh tahu kejadian yang semalam…” Aku juga memakaikan baju yang ia pakai semalam padanya. Aku kembali ke kamarku.

Karena tidak bisa tidur, akhirnya aku memutuskan untuk memasak sarapan untukku sendiri. Hanya empat puluh lima menit aku memasak, makanan itu pun kini tersaji di meja makan untukku.

Saat aku menyantap sarapanku, kudengar suara langkah di belakangku. Sontak saja aku menegang mendengarnya. Namun aku berusaha semuanya terjadi normal seperti biasa. Dan benar saja. Apa yang ada dipikiranku ternyata sama dengan apa yang terjadi. Kulihat Kris yang berjalan menuju kulkas untuk mengambil segelas air. Ia kemudian duduk di hadapanku, di bangku yang berada di seberangku saat di ruang makan.

“Jam berapa semalam aku pulang?” Tanyanya.

“Molla.” Jawabku singkat. “Aku langsung tidur setelah kau menelpon.” Lanjutku berdusta.

“Xièxiè (terima kasih) atas bantuanmu semalam.”

“Hhm..” Gumamku. Selera makanku hilang. Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya seperti kata Baekhyun. Beruntung saat itu ponselku berbunyi. Kulihat, nama jiejie lah yang tertera.

“Ne, jie?” Sapaku.

“Aku? Aku di rumah… Wèishéme (kenapa)?” Tanyaku lagi.

“Aku di rumah Mama sekarang… Bisa aku ke sana?” Tanya Qian jiejie.

“Hng? Jiejie mau ke rumah? Apa jiejie bersama Mimi gege?” Tanyaku.

“Bahkan aku akan membawa Yingzie… Kau dan Kris tidak kemana-mana kan?”

“Bùshì (tidak), jam berapa kalian ke rumah?”

“Ini aku mau berangkat ke rumahmu.. Oh ya, Mama dan Papa titip salam untuk kalian.”

“Ne, jiejie… Kalau begitu aku akan masak yaa..”

“Tidak perlu repot-repot, Lian…” Ujar Qian jiejie.

“Kewajibanku, jie…” Ujarku mengakhiri pembicaraan.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Makanan apa yang kau suka?” Lian bertanya pada Kris.

Kris yang sedang membaca koran pun menoleh dengan menatap Lian heran. “Kenapa kau bertanya itu?”

“Cepat jawab aku…” Perintah Lian.

“Apa saja, asal jangan ikan.”

Lian pun mulai memasak. Ia membuka kulkasnya dan berdiam sejenak di depannya dengan tangan yang menopang dagunya, berpikir makanan apa yang akan dimasaknya.

“Hhm..baiklah, aku akan memasak itu saja!” Gumamnya yang kemudian mengeluarkan beberapa daging, beserta sayur-sayuran yang akan dimasaknya. Sementara Kris, sempat melihatnya dari belakang dan kemudian kembali melanjutkan membaca korannya. Namun, lama-lama, Kris yang selesai membaca koran, merasa ingin tahu apa yang dilakukan Lian di dapur. Gadis itu memilih berkutat sendiri di sana bersama bahan makanannya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Ommo!! Tiān nǎ (astaga)! Kenapa kau mengagetkanku?!” Lian hampir saja mengiris jarinya.

“Aku hanya bertanya, apa yang kau lakukan? Dan kenapa juga kau seperti terlihat memasak banyak makanan?” Ujar Kris mengulang pertanyaannya.

“Qian jiejie, Mimi gege, dan Yingzie mau datang…”

“Zhēn de ma (benarkah)?” Kris menaikkan sebelah alisnya saat ia berdiri di ambang pintu dapur dan melipat kedua tangannya di dada.

“Uhm..” Jawab Lian singkat sambil memasukkan beberapa sayuran ke dalam panci.

“Jam berapa?” Tanya Kris.

“Dia bilang tadi dia sedang dalam perjalanan dari rumah Mama…”

“Kalau tidak macet, dari rumah Mama ke sini butuh waktu satu setengah jam. Dan kau sudah berkutat di sini setengah jam.”

“Zhēn de ma (benarkah)? Aku harus cepat-cepat kalau begitu!” Ucap Lian yang kemudian kembali mengiris daging.

“Sini, aku bantu… Kau kerjakan yang lain saja..” Kris meminta pisau yang dipegang oleh Lian.

“Kau bisa melakukannya?” Tanya Lian ragu sebelum memberikan pisau itu.

“Aku pernah membantu adikku memasak.” Tanpa ragu, Lian pun memberikan pisau itu pada Kris.

“Wait! Tadi dia bilang apa? Adik? Kris punya adik?” Batin Lian.

Kris pun sibuk mengirisi daging yang ada di hadapannya. Sementara Lian, mengaduk soup yang ada di panci itu. Sesekali ia menuangkan setetes di atas telapak tangannya dan mencicipinya.

“Zhège wèidào (cicipi ini).” Lian menyodorkan sesendok soup yang dibuatnya dan meniupnya sebentar agar tidak panas saat Kris mencicipinya. “Yòu shì zěnyàng de zīwèi (bagaimana rasanya)?” Tanyanya lagi.

Kris terdiam sejenak dan Lian pun seperti takut kalau rasa masakan yang dibuatnya tidak enak.

“Apa rasanya tidak enak?” Tanya Lian pelan.

“Bùshì (tidak), itu enak. Kau bisa masak rupanya…” Ujar Kris yang meletakkan pisau itu karena ia sudah selesai dengan pekerjaannya. “Apa lagi yang bisa kukerjakan?” Tanya Kris lagi setelah ia mencuci tangannya dan mengeringkannya pada lap yang menggantung di dinding dapur.

“Apa kau bisa menempatkan soup ini?” Tanya Lian.

“Mana mangkuknya?” Tanya Kris kemudian.

“Chakkaman, aku ambilkan..” Ucap Lian yang kemudian berjinjit berusaha membuka lemari piring yang berada di atasnya. Namun karena Lian yang memiliki tubuh kecil, ia tidak sampai dan harus bertopang sambil berjinjit meraih handle lemari itu.

“Biar aku yang ambil.” Kris membuka lemari itu dengan mudah karena postur tingginya lah yang memudahkannya. “Yang warna putih?” Tanya Kris.

“Apa mangkuk itu besar? Soup ini banyak, jadi kurasa perlu mangkuk besar.”

“Seperti ini…” Ujar Kris yang mengambil mangkuk itu dan menunjukkannya pada Lian. Lian menggelengkan kepalanya.

“Itu masih kurang..” Ujar Lian. Ia kemudian keluar dari dapur dan menarik kursi untuk ia naiki dan mengambil mangkuk itu sendiri.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kris heran.

“Aku yang mengambilnya…” Tanpa banyak bicara, Kris menyingkirkan kursi itu dan menggendong Lian.

“Kyaaaa!! Apa yang kau lakukaaann????!!!!”

“Shut up (diam).. just pick up the bowl that you mean (ambil saja mangkuk yang kau maksud)!”

“Ck!” Jujur saat itu jantung gadis itu tidak karuan. Wajahnya sedikit memerah ketika Kris menggendongnya. Terlintas di pikiran dia tentang semalam. Malam dimana Kris yang tidak sadar telah mengambil keperawanannya.

“Pakai ini..” Ujar Lian yang memberikan mangkuk soup pada Kris. Dia berusaha setengah mati untuk bicara normal.

“Kenapa aku jadi bertindak konyol seperti ini? Kenapa aku malah menggendongnya sementara dia juga sebenarnya ada kursi untuk dia naiki kan?” Batin Kris.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Ting! Tong! Aku mendengar suara bel rumah yang berbunyi.

“Biar aku saja..” Ucapku pada Kris. Sebenarnya ini adalah alasan untuk menjauh dari Kris dan menormalkan detak jantungku yang aneh ini.

“Liaaann~~~” Qian jiejie langsung memelukku. Oh! Aku rindu padanyaaaa!! Aku juga langsung memeluk jiejie.

“Nampaknya kau habis memasak… Sudah kubilang jangan repot-repot!”

“Wǒ méiyǒu shé me (aku tidak apa-apa), jiejie…” Aku kemudian melihat di samping jiejie ada Mimi gege yang sedang menggendong Yingzie.

“Hǎojiǔ bùjiàn (lama tak bertemu), gege!” Seruku.

Mimi gege pun tersenyum. “Nî hâo ma (bagaimana kabarmu)?” Tanyanya.

“Wǒ hěn hǎo, nǐ ne (kabarku baik, kau)?” Tanyanya balik.

“Wǒ hěn hǎole (aku juga baik), gege… Ayo masuk..” Ajakku.

“Ooh, jiejie dan gege sudah datang?” Kulihat Kris yang baru saja keluar dari dapur.

“Apa yang kau lakukan di dapur, Kris?” Tanya Mimi gege.

“Tentu saja aku membantu istriku memasak, gege..” Jawab Kris. Aku kemudian masuk ke dalam dapur. Dan rupanya Kris mengikutiku.

“Kau mengerti maksudku?” Tanyanya.

“Wǒ zhīdào (aku tahu)…” Jawabku singkat.

Aku kemudian kembali keluar dari dapur dan menata piring untuk empat orang. Ya, empat orang. Karena pastinya Yingzie memiliki tempat makan sendiri dan makanan bayi.

“Ah! Aku harus memberi Yingzie makan dulu..” Qian jiejie kemudian mengeluarkan makanan bayi dari dalam tas bayi yang ia bawa. Ia juga mengeluarkan tempat makan Yingzie yang berwarna biru. Sementara Mimi gege, dia memangku Yingzie sambil berbincang dengan Kris.

“Lian, aku minta air hangatnya yaaa..”

“Ne, jiejie.. ambil saja sesukamu..” Jawabku. Aku hanya memperhatikan cara jiejie membuat makanan untuk Yingzie.

“Ah! Jadi seperti itu…” Batinku.

“Jiejie, bagaimana kau bisa tahu takarannya?”

“Hanya kira-kira saja…” Jawabnya.

“Susah juga ya kalau tidak mengerti…” Ucapku.

“Kau akan mengerti setelah kau memiliki anak nanti… Itu terjadi karena nalurimu sebagai mama, Lian..”

Zhēn de ma (benarkah)?” Tanyaku. Qian jiejie hanya mengangguk. Kami pun kembali ke ruang tengah menghampiri Mimi gege dan Kris yang berada di sana. Yingzie terlihat menangis karena lapar. Kalau aku jadi jiejie, pasti aku sudah panic karena anakku yang terus menangis. Sementara jiejie, dia bisa tenang menghadapinya. Apa ini karena naluri seorang ibu juga?

Jiejie kemudian meletakkan tempat makan Yingzie di meja dan kemudian mengambil anaknya dari gendongan Mimi gege. Ia kemudian duduk sambil memangku Yingzie.

“Cup.. cup… cup… jagoan mama tidak boleh nangis.. Apa kau tidak malu pada Kris shūshu dan Lian gūmā?” Jiejie juga menyuapi Yingzie dengan sabar.

“Jiejie… aku mau mencobanya…” Rajukku.

“Boleh… Yingzie mau kan di gendong Lian gūmā?” Ucap Qian jiejie.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Kris hanya bisa memperhatikan Lian yang sedang menggendong Yingzie. Dia berpikiran kalau Lian adalah tipe wanita yang sangat penyayang dengan anak kecil.

“Jiejie, ini bagaimana? Kalau dia nangis bagaimana?” Tanya Lian pada Qian kakaknya.

“Tidak kok… asal dia nyaman saja… ini, suapi Yingzie lagi…” Qian membantu Lian yang memang terlihat seperti amatiran.

“Kau tidak mau menyusul kami untuk punya anak?” Pertanyaan itu sukses membuat Kris terhenyak.

“Hng? Gege tadi bilang apa?” Tanya Kris.

“Kapan kau akan memiliki anak?”

“Entah, gege… Aku merasa belum siap memiliki anak.”

“Kau ini… seharusnya Lian yang berkata seperti itu. Hhaha…” Kris hanya tersenyum kecil.

“Ah, rupanya Lian sudah bisa menggendong bayi dengan baik!” Seru Qian.

“Kalian, segeralah punya anak… Supaya Yingzie tidak kesepian saat bermain nanti..” Ujar Qian menatap Lian dan Kris bergantian.

“Hhm, mungkin kami akan merencanakannya, jie..” Ujar Kris kemudian.

“Baguslah kalau begitu… Aku tidak sabar melihat anak kalian nanti…” Ujar Qian lagi sambil membersihkan bibir anaknya dari makanan bayi.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Hari terus berlanjut. Semenjak datangnya Qian jiejie ke rumah, aku jadi takut hamil. Bukan karena aku tidak suka anak kecil. Tapi, karena aku terikat perjanjian itu kan. Bagaimana kalau aku hamil?

“Kau tidak ikut, besok?” Tanya Kris yang membuyarkan lamunanku. Aku menggelengkan kepalaku.

“Sepertinya aku tidak enak badan. Aku titip salam saja untuk adikmu yang akan wisuda di Hongkong.

Ting! Tong! Bel rumahku berbunyi. Aku segera keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Mommy dan Daddy, orang tua Kris.

“Tiān nǎ (astaga)! Lian, kenapa kau pucat?” Mom membingkai wajahku dengan kedua tangannya.

“Wǒ méiyǒu shé me (aku tidak apa), Mom.. Mungkin hanya kelelahan.. Ayo, masuk Mom, Dad..” Jawabku tersenyum.

“Dimana Kris?” Tanya Daddy.

“Mungkin di pekarangan belakang, Dad…” Jawabku. Daddy pun segera melangkahkan kakinya kearah yang kumaksud. Sedangkan Mommy bersamaku. Aku ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.

“Mom, mau minum apa?” Tanyaku.

“Nanti, biar Mom ambil sendiri, Lian..”

“Bùshì (tidak), biar aku buatkan…”

“Kalau begitu, teh saja… tanpa gula…”

“Baiklah, aku akan membuatkan itu untuk Mom dan Dad..” Aku ke dapur, tapi ternyata Mommy mengikutiku.

“Lian, kau benar tidak ikut ke Hongkong?”

“Duìbùqǐ (maaf), Mom… Aku agak tidak enak badan…” Ucapku pelan.

“Wǒ zhīdào (aku tahu), Mom tidak mau nanti kau bertambah parah sakitnya… Mom pikir, karena kau membenci adiknya Kris..”

“Bùshì (tidak). Sama sekali tidak, Mom… Aku malah senang kalau ternyata Kris memiliki adik. Dan itu patut dibanggakan kan?” Ucapku.

“Ini, Mom.. tehnya…” Ucapku.

“Xièxiè (terima kasih), Lian..” Aku hanya tersenyum.

“Aku ke belakang dulu, memberikan teh ini untuk Daddy…” TErnyata di belakang, Dad sedang membicarakan perusahaannya dengan Kris. Ya, tentang Emperor Group.

“Maaf mengganggu… Daddy, ini tehnya… Silahkan diminum..” Ucapku meletakkan cangkir teh di meja hadapan Daddy.

“Oh, xièxiè (terima kasih), Lian..”

Aku tersenyum dan beranjak kembali ke dalam. Namun tiba-tiba Kris menahan tanganku. “Kau mau kemana?” Tanyanya.

“Ke dalam… Mau menemani Mommy…”

“Tidak usah… Mom di sini kok…” Tiba-tiba Mommy keluar dan duduk di samping Daddy. Kris kemudian menyuruhku duduk di sampingnya. Dia melingkarkan lengannya pada bahuku.

“Kau sudah minum obat?” Tanyanya yang memegang kening dan leherku memeriksa suhu tubuhku. Aku menggelengkan kepalaku.

“Kris, bolehkah aku berharap kalau perhatianmu ini bukan pura-pura?” Batinku. Ah! Kenapa aku berharap demikian?!! Tidak! Aku tidak boleh seperti ini!

“Kau ini… Tunggu sini, aku akan mengambilkan obat untukmu.”

“Ta.. tapi aku sudah minum vitamin…” Aku mengelak. Aku tidak suka obat!

“Mom, bukankah dulu waktu hamilnya Kris juga seperti itu?” Ujar Daddy tiba-tiba.

“Oh, ya… Mom juga dulu seperti itu. Lian, jangan-jangan kau…. Hamil…” Ujar Mommy. Aku kesulitan menjawab. Tidak, aku tidak mungkin hamil!

“Mom, aku dan Lian sengaja menunda untuk mempunyai anak..” Ujar Kris kemudian.

“Wèishéme (kenapa)? Mom dan Dad kan sudah sangat ingin menimang cucu..”

“Tapi kami juga ingin menikmati masa-masa kita berdua, Mom…” Ujar Kris.

Keesokan harinya, aku benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku pusing sekali. Ya Tuhan, aku kenapa?

Tok! Tok! Tok! Pintu kamarku diketuk dari luar.

“Lian, kau sudah bangun?” Suara berat itu terdengar. Ya, suara Kris. Aku bahkan tidak sanggup menjawabnya. Ada apa dengan tubuhku? Lama tak terdengar suara. Mungkin dia sudah pergi. Entahlah…

Aku bisa bangkit setelah rasa pusingku hilang setelah dua jam aku terbaring. Aku berusaha merelaxkan pikiranku dan perlahan duduk di ranjangku. Aku keluar dari kamarku dan menuju kulkas untuk mengambil minum. Saat aku akan membuka kulkas, aku melihat ada memo yang tertempel di pintu kulkas tersebut. Isi memo itu adalah…

 

Karena sepertinya tadi kau masih tidur, aku meninggalkan memo ini. Aku berangkat jam enam. Aku akan menjemput Mom and Dad dulu baru ke bandara. Kau, jangan lupa minum obat dan cepat sembuhlah… besok kami akan pulang dan pulang bersama adikku.

 

Setelah membaca memo itu, aku mengerti kenapa tadi dia tidak membuka pintu kamarku saja. Aku kemudian menjalankan aktifitasku seperti biasa di rumah. Membereskan rumah walaupun sebentar, dan terkadang membaca koleksi buku milik Kris di perpustakaan kecilnya. Ternyata dia sangat senang membaca. Tapi tiba-tiba aku merasa sangat pusing. Benar-benar pusing. Tunggu! Ini sudah hampir empat bulan aku tidak menstruasi. Ah! Sudahlah, besok saja aku membeli testpack.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Keesokan paginya, aku keluar kamar dan mecari pelayanku. “Ahjumma…” Aku memanggil pelayanku. Ia adalah orang yang sudah dianggap ibu kedua bagi Kris.

“Ne, nyonya muda..”

“Temani aku ke apotek ya…” Ucapku.

“Nyonya mau beli apa? Nanti saya yang belikan..”

“Anni, biar aku saja.. Tapi aku mau ditemani ahjumma.. Mau kan?”

Ia tersenyum. “Tentu saja…”

“Kajja, kalau begitu sekarang saja…”

Kami pun ke apotek terdekat yang berada di ujung jalan. Aku membeli tiga testpack yang berbeda merk untuk memeriksa air seniku. Sungguh, aku takut kalau aku hamil sekarang!

Setelah dari apotek, aku pulang dan beristirahat sejenak. Namun saat aku mau ke kamar mandi, aku langsung menyambar testpack yang sudah aku beli tadi. Semoga ketiganya memiliki hasil negative.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ti..tidak mungkin!! Ini tidak mungkin!!” Lian menatap ketiga testpack itu sambil menangis di kamar mandi.

“Hiks… aku tidak mungkin hamil… aku tidak mungkin hamil… aku tidak mau hamil dengannya..” Isak Lian.

Ia memukul-mukul perutnya sambil menangis. Ia juga melempar ketiga testpack itu ke sembarang arah di kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya. Ia terus menangis hingga akhirnya tertidur karena kelelahan menangis.

Pelayannya terlihat bingung karena seharian itu Lian tidak mau keluar kamarnya. Bahkan ia tidak menyentuh makanan sama sekali. Ia kemudian menelpon Kris yang berada di Hongkong.

“Ya, ahjumma?” Sapa Kris.

“Ma..maaf.. tuan… nyonya Lian…”

“Ada apa dengan Lian?” Tanya Kris.

“Nyonya… dari tadi tidak mau keluar kamar setelah dari apotek… saya.. juga mendengar tangisan… Dia tidak mau makan..” Ucapnya.

“Apotek? Apa yang ia beli?”

“Saya tidak tahu, tuan…” Saat itu juga, Kris berwajah panic dan pucat.

“Gege, wèishéme (kenapa)?” Tanya Michelle. Kris hanya menyilangkan telunjuknya di depan bibirnya menyuruh untuk gadis itu diam.

“Ahjumma, tolong bujuk dia untuk makan… bagaimana pun caranya! Aku akan segera pulang setelah acara wisuda Michelle selesai…Jangan lupa memberitahuku perkembangannya.” Kris mengakhiri pembicaraannya.

“Gege, ada apa? Kenapa panic?” Tanya Michelle lagi.

“Tidak ada apa-apa, Chell… Ayo..” Ajak Kris menarik tangan gadis itu.

Acara wisuda gadis itu pun berlangsung. Namun, berkali-kali Kris yang duduk di samping orang tuanya untuk menyaksikan perhelatan adiknya menjadi seorang sarjana muda, Kris sering melihat ponselnya.

“Ada apa, Kris?” Tanya ayahnya.

“Tidak ada apa-apa, Dad..” Jawab Kris.

“Kau yakin?” Kris menganggukkan kepalanya.

“Apa terjadi sesuatu pada Lian?” Ayahnya menebak apa yang ada dipikiran Kris.

“Dad, bisakah aku pulang duluan nanti setelah wisuda Michelle?”

“Ne, pulanglah… Kalau kau mau, kau bisa pulang sekarang…Lian membutuhkanmu, Dad pikir…”

“Tapi Michelle…”

“Dia pasti mengerti…”

“Biar barang-barangmu, kami yang urus nanti…” Ujar ibunya.

“Xièxiè (terima kasih), Dad, Mom…” Ujar Kris kemudian. Dia kemudian berpamitan untuk pulang pada ayah dan ibunya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Kris yang beberapa jam kemudian telah tiba di Seoul, langsung menghentikan taksi untuk pulang. Kris menyuruh supir taksi itu mengemudi cepat. Di saat yang bersamaan, Min Ah menelponnya. Kris sengaja mematikan ponselnya. Entah kenapa ia mengabaikan kekasihnya tersebut.

Setibanya di rumah, Kris menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Lian. Tidak ada suara yang terdengar dari dalam.

“Lian, buka pintunya..” Kris mengetuk pintu kamar itu. Tidak ada jawaban dari dalam. Sudah tiga kali ia memanggil, hasilnya sama. Lian tidak menjawab. Ia kemudian mendobrak pintu kamar itu. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tapi ia mendengar suara shower dari dalam kamar mandi yang terdapat di kamarnya.

“Lian..” Kris memanggilnya. Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Kris kemudian membuka pelan pintu kamar mandi tersebut dan mendapati seorang wanita yang terduduk lemah di bawah air yang berasal dari shower.

“Tiān nǎ (astaga)! Sejak kapan dia di sini?!!” Batin Kris yang kemudian menggendong Lian dan membaringkannya di tempat tidurnya.

“Ahjummaa~~” Kris memanggil pelayannya tersebut. Ia memintanya untuk menggantikan pakaian istrinya.

“Apa yang bisa membuatnya seperti ini?” Kris memijat pelipisnya. Ia kemudian menelpon seorang dokter yang merupakan dokter pribadi keluarganya.

“Tuan, saya menemukan ini berserakan di kamar nyonya…” Pelayannya menyerahkan tiga buah testpack pada Kris.

“Ah, gamsahamnida, ahjumma..” Ujar Kris setelah menelpon dokter.

“Positif? Lian hamil?? Dengan siapa Lian hamil?” Saat itu juga rahang pria itu mengeras dan terlihat gusar. Ia teringat dengan tiga pria yang pernah jalan dengan Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Dia terlalu banyak pikiran… Dia harus banyak istirahat… Dan… selamat.. dia hamil. Kandungannya sudah empat bulan…”

“Empat bulan?” Tanya Kris.

“Ya, empat bulan… Kau harus menjaga istrimu. Kandungannya lemah. Saya akan memberikan obat untuk menguatkan kandungannya.”

“Oh, ne…ne.. gamsahamnida…” Ucap Kris yang kemudian mengantar dokter itu keluar rumahnya.

Ia kemudian kembali ke kamar Lian dan menunggunya tersadar. Sambil menunggu, ia membaca buku di samping Lian.

“Nghh..” Lian yang mulai tersadar membuka matanya perlahan.

“Kau sudah sadar?” Lian menoleh dan mendapati Kris duduk di sampingnya dengan sebelah tangannya yang memegang sebuah buku. Ia memilih untuk memalingkan wajahnya dari Kris.

“Kka..” Usir Lian pelan.

“Apa maksudmu?” Tanya Kris.

“Aku bilang keluar! Kau sudah melanggar perjanjian kita! Ini kamarku!” Ucap Lian.

“Oh ya? Bukannya kau sudah melanggarnya duluan?” Tanya Kris sarkatis meletakkan bukunya di atas nakas tempat tidur Lian.

“Cih! Melanggar katamu?!”

“Ya.. Kau hamil kan?”

“Bùshì (tidak)! Aku tidak hamil!” Bantah Lian yang kemudian mendudukkan dirinya bersandar pada headboard tempat tidurnya.

“Huh! Kau yakin? Lalu ini apa?” Kris menunjukkan tiga testpack yang telah digunakan Lian. “Masih menyangkal kalau kau hamil?” Kris menaikkan sebelah alisnya, menyedekapkan kedua tangannya di dadanya.

“Kalau kau masih menyangkal, aku punya satu bukti lagi.” Ujar Kris yang kemudian mengeluarkan selembar kertas resep dokter yang baru saja memeriksa Lian. “Ini…resep dari dokter.” Kris meletakkan kertas itu di pangkuan Lian. “Di situ tertulis nama obat penguat kandungan untukmu. Kau tahu, kandunganmu itu sangat lemah. Entah apa yang membuatnya lemah. Kau seharusnya bisa merawat bayi itu lima bulan lagi, Lian…” Ujar Kris. Lian yang sudah tidak bisa mengelak, hanya menundukkan kepalanya.

“Anak siapa itu?” Tanya Kris dingin. Lian tak kunjung menjawab.

“Anak siapa, Lian?” Ulang Kris.

“Anak… Chris.. Christian…”

“Christian?” Lian mengangguk meskipun ia sebenarnya membohongi pria yang ada di hadapannya. Tanpa sepengetahuan wanita yang kini menyandang nama Wu, pria itu menatapnya dengan rasa kecewanya. Ia kemudian keluar dari kamar itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Duìbùqǐ (maafkan aku), aku harus membohongimu. Aku tidak mau kau tahu kalau ini anakmu…” Batinku yang kemudian mengeluarkan surat perjanjian. Perjanjian ini… Kenapa aku sendiri yang melanggarnya?

Cklek! Aku menoleh kearah pintu kamarku. Kulihat ia kembali masuk dengan sebuah berkas di tangannya.

“Apa yang kau pegang?” Tanyanya.

“Pe..perjanjian.. kita.. Aku berniat memperbaruinya.” Ia kemudian merebutnya dari tanganku. Ia menyatukan surat perjanjian itu dengan berkas miliknya.

“K…Kris! Apa yang kau lakukan??!!” Aku berusaha mengambil perjanjian itu dari tangannya. Namun ia mengangkatnya tinggi ke udara hingga aku tidak dapat meraihnya.

“Kris, jangan!! Kau mau apa dengan perjanjian kita itu?!!” Aku berjinjit bahkan naik ke tempat tidurku demi mendapatkan perjanjian itu. Dia kemudian mengeluarkan pemantik api dari dalam saku celananya dan menyalakannya.

“Kyaaa!! Andwaeee!!!” Teriakku. Terlambat! Kertas perjanjian itu sudah terbakar.

“Perjanjian itu sudah tidak ada. Perjanjian milikmu, juga perjanjian milikku.” Ujarnya datar.

“Dan itu berarti, kau harus menurut padaku, karena aku ini kepala keluarga di sini!” Titahnya.

“Ta..tapi..”

“Tidak ada kata tapi-tapian! Sampai bayi itu lahir, kau harus menuruti perintahku. Kita akan test DNA setelah bayi itu lahir!” Ia kemudian keluar dari kamarku meninggalkan kertas yang sudah terbakar hingga menjadi abu itu di kamarku.

“Oh, kamarmu biar dibersihkan ahjumma nanti. Dan mulai sekarang, kau harus pindah ke kamarku!” Apa dia bilang?! Aku harus ke kamarnya?!!  Wǒ bùxiǎng (aku tidak mau)!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Michelle, kau mau kemana malam-malam seperti ini? Istirahatlah… besok saja ke rumah gegemu..”

“Tidak mau! Aku mau sekarang! Aku mau bertemu istrinya gege yang katanya lagi sakit!” Ujar Michelle yang keras kepala saat dilarang orang tuanya.

“Tapi…” Belum selesai ibunya bicara, gadis itu sudah keluar rumahnya. Ia ke rumah Kris dengan diantar supirnya.

Menempuh perjalanan satu jam, ia tiba di depan rumah Kris, kakaknya. Dia segera menelpon kakaknya untuk membukakan pintu rumahnya.

“Tiān nǎ (astaga)! Kenapa kau malam-malam seperti ini ke rumah gege?” Ujar Kris yang membuka pintu setelah mendapat telepon dari Michelle kalau ia berada di teras rumahnya.

“Jiejie mana? Katanya Mom, jiejie sakit?” Ujar Michelle yang langsung masuk ke rumah Kris tanpa dipersilahkan.

“Ck, dimana sopan santunmu, Chell? Gege masih di depan kau masuk ke dalam tanpa izin!”

“Apa harus aku meminta izin pada gege? Ah, ini… Buah-buahan untuk jiejie.. Tadi aku sempat membelinya.”

“Xièxiè (terima kasih)..” Ujar Kris.

“Mana jiejie?? Dia sakit apa?”

“Dia tidak sakit…” Tepat di saat itu, Lian yang baru saja keluar dari kamar Kris melihat seorang wanita. Meskipun dari belakang, Lian ingat kalau itu adalah wanita yang pernah jalan bersama Kris saat Lian ke kantornya.

“Ke…kenapa dia di sini?” Batin Lian. Ia pun kembali masuk ke dalam kamar Kris berniat untuk tidur. Belum sempat pintu itu terbuka, Kris sudah mendapatinya yang akan kembali masuk kamar.

“Lian…” Panggil Kris.

“Hng?” Lian menoleh.

“Lian? Sepertinya aku pernah dengar nama itu..” Batin Michelle. Ia pun memutar tubuhnya dan melihat wanita di hadapannya.

“Jie… Jiejie?!!!” Pekik Michelle kaget dengan kelopak matanya yang melebar.

“Ka… kau…”

“Kyaaaaa!!!!!! Lian jiejieeee!!!” Michelle langsung memeluk Lian yang masih kaget. Ia tidak menyangka kalau adik Kris adalah Michelle, adiknya dari dunia maya.

“Kyaaa!! Ini benar Lian jiejie kan?? Kyaaa!!”

“Aa..aa..aaa… i..ini.. aku… Michelle…”

“Hey! Kau jangan seperti itu dengannya!” Larang Kris.

“Wèishéme (kenapa)?” Tanya Michelle.

“Jiejie-mu sedang hamil…” Ucap Kris.

“Děngdài (tunggu)!  Jadi istrinya gege itu Lian jiejie?? Kyaaa!! Aku tidak perlu repot-repot menjodohkan kalian! Ternyata kalian menikah! Malah sekarang jiejie hamil! Kyaaaaa!!!” Serunya.

“Apa maksudmu, Chell?” Tanya Kris.

“Jiejie, orang yang kumaksud itu… ingat tidak?”

“Oh..” Jawab Kris singkat yang kemudian ke dapur untuk menghilangkan dahaganya. Michelle pun segera menarik Lian ke ruang tengah.

“Jiejie… kau tahu, mimpiku kini terwujud! Aaaahh~~!! Bahagianya!” Serunya.

Lian hanya bisa tersenyum menanggapi Michelle yang kini ternyata adalah adik iparnya. “Aku buatkan minum untukmu ya… Tunggu sini..”

“Eeehh.. Tidak usah!” Michelle menarik Lian untuk kembali duduk. “Kris gegeeeeee~~~ Buatkan aku syrup yaaaa~~~” Teriak Michelle.

“Apa katamu? Cih! Buat saja sana sendiri!” Ujar Kris lagi yang masuk ke kamarnya.

“Ck, si tiang listrik itu!” Dengus Michelle kesal.

“Kau memanggilnya itu juga?” Tanya Lian.

“Iya, itu panggilan dari kecil..”

“Zhēn de ma (benarkah)? Aku juga menamainya itu..” Mereka pun tertawa. Dan malam itu Lian yang mengantuk, langsung tidak mengantuk karena bisa bercanda langsung dengan Michelle.

Dalam batinnya, sebenarnya ia menyimpan sebuah rahasia yang sangat ingin diungkapkannya.  Rahasia kalau Yixing akan melamar Michelle. Ia sangat ingin mengatakan hal itu pada Michelle. Namun, Yixing berpesan kalau Lian harus menyimpan rahasia itu sampai ulang tahun Michelle tanggal 09 Maret nanti. Ia harus bersabar menunggu dua bulan lagi untuk itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Oh ya, bagaimana kau dengan Lay?” Tanyaku.

“Lay? Yixing gege?” Tanyanya.

“Uhm… bagaimana kau dengannya?”

“Wǒ bù zhīdào (aku tidak tahu)… Dia tiba-tiba saja menghilang…” Ucapnya murung.

“Kau benar-benar cinta padanya ya?” Aku menggodanya.

“Jiejieee… Aaaahh jiejieee~~~” Dia memukul lenganku dengan bantal sofa.

“Tebakkanku benar kan?” Ledekku lagi. Ahahaha rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajahnya yang kini seperti kepiting rebus!

“Jadi kapan kalian akan menikah?” Tanyaku tiba-tiba.

“Ehh? Menikah? Jiejie… kau bercanda! Dia saja tidak pernah menemuiku…”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Setelah Michelle pulang, untuk pertama kalinya Lian masuk ke kamar Kris untuk tidur. Meskipun peristiwa itu pernah terjadi secara tidak sengaja karena tidak sadar, tetap saja saat ini membuat Lian gugup. Lian yang masih berdiri di pintu melihat Kris yang masih duduk bersandar di headboard tempat tidurnya yang berukuran king size. Dengan buku yang masih di tangannya, dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, ia masih membalik halaman demi halaman bukunya.

“Aku harus tidur di sampingnya? Hyaaa… Bagaimana ini?!!” Batin Lian yang tanpa sadar memainkan ujung bajunya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kris yang menginterupsi pikiran Lian.

“A..aku..”

“Tidurlah.. Sudah malam…” Kris beranjak dari tempat tidurnya. Lian perlahan membaringkan tubuhnya setelah Kris yang bangkit dari tempat tidurnya setelah meletakkan buku di atas nakasnya. Lian menarik selimut yang akan digunakan berdua dengan Kris.

Tlek! Lampu kamar itu dimatikan oleh Kris karena pria itu terbiasa tidur dengan lampu yang mati.

“Kyaaaa!! Huwwaaa!!! Mati lampuuu!!!!! Huhuhuhu…” Lian kembali terduduk dan mulai menangis.

Tlek!

“Bùyào kū (jangan menangis). Aku menyalakan lampu nakas kalau kau tidak bisa tidur..” Kris menghapus air mata Lian. Kris kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping Lian dengan memunggungi istrinya. Meskipun ada penerangan, Lian tidak kunjung tidur juga. Kris kemudian menyalakan lampu yang berada di nakasnya karena berpikir Lian masih belum bisa tertidur karena masih terlalu gelap. Walaupun dirinya sedikit terganggu karena penerangan lampu tersebut, Kris lebih baik mengalah untuk Lian yang sedang mengandung.

Lian masih saja tetap tidak bisa tidur. Berkali-kali ia berganti posisi tidurnya dan membuat ranjang it uterus berdecit karenanya. Begitu pun dengan Kris. Meskipun ia memunggungi Lian, sejujurnya ia tidak bisa tidur karena pikirannya. Lebih tepatnya rasa cintanya. Pria itu merasa kini ia berdiri diantara dua persimpangan. Mana jalan yang harus ia pilih? Meneruskan hidup dengan Lian yang mengandung bukan anaknya, atau memilih Min Ah yang sudah menjadi kekasihnya sebelum ia menikah dengan Lian?

Karena kesal dengan dirinya sendiri, Lian kembali bangun dan duduk bersandar pada ranjang itu dengan selimut yang menutupi bagian perut hingga ke bawahnya. Pergerakan dirinya membuat ranjang itu bergerak hingga Kris akhirnya membalikkan tubuhnya.

“Ah, duìbùqǐ (maafkan aku), kau jadi terbangun…” Ucap Lian.

“Kau masih tidak bisa tidur karena gelap?” Tanya Kris yang kemudian ikut mendudukkan tubuhnya. Lian hanya menggeleng pelan.

“Lalu?” Tanya Kris lagi yang kemudian Lian menjawab dengan menggidikkan bahunya tidak mengerti.

Cukup lama mereka terhanyut dalam keheningan. Sampai akhirnya Lian mengeluarkan suaranya. “Kris…”

“Hhm?”

“Bagaimana kalau Michelle menikah?”

“Michelle?”

“Uhm… Ia akan dilamar seseorang nanti saat ia ulang tahun. Kau menyetujuinya?”

“Tergantung..” Ucapnya singkat.

“Maksudmu?”

“Tergantung pria itu baik dan bisa membimbing Michelle atau tidak…”

“Kurasa bisa…”

“Kau tahu dari mana, eoh? Kau bukannya tahu hanya dari cerita Michelle?”

Lian menggelengkan kepalanya. “Dia temanku. Jadi aku tahu bagaimana sifat dia, dan background-nya dia..”

“Yixing? Yixing temanmu?”

Lian mengangguk. “Dia dekat denganku… Lihat ini…” Lian mengambil ponselnya dan menunjukkannya pada Kris.

“Ini Lay… Bùshì (tidak), Yixing maksudku…” Kris mengernyitkan dahinya.

“Dia?” Tanya Kris. Lian mengangguk.

“Waktu itu aku dan Baekhyun bertemu dengannya di hotel. Kau tahu, dia sampai rela mempersiapkan semuanya di Seoul, padahal dia kan tinggal di Changsa.” Ujar Lian.

“Sepertinya aku salah menduga… Rupanya mereka bertemu untuk membicarakan acara lamaran Yixing untuk Michelle…” Batin Kris.

“Hhm.. Sudah kuduga..” Ujar Kris.

“Shénme (apa)?” Tanya Lian.

“Michelle tidak peka…” Ucapnya lagi.

“Hng?” Lian terlihat tidak mengerti.

“Yixing menaruh perasaan padanya, tapi dia tidak menyadarinya.”

“Wǒ zhīdào (aku tahu)…” Jawab Lian singkat.

“Ràng wǒmen shuìjiào (mari kita tidur)! Sudah terlalu malam untukmu..” Ujar Kris kemudian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Aku terbangun karena suara air. Wait! Aku baru ingat kalau aku semalam tidur di kamar Kris. Aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan menguncir rambutku asal. Jam berapa sekarang? Aku harus buat sarapanku!

“Eoh, Yǐjīng xǐngle ma (sudah bangun)?” Aku melihat Kris yang masih dalam keadaan basah. Sepertinya baru selesai mandi.

“Ne…” Ucapku.

“Kau mau kemana?” Tanyanya yang masih mengeringkan rambutnya dengan mengusap-usapkan handuk ke rambutnya.

“Buat sarapan..”

“Tidak usah, ahjumma sudah membuatkan sarapan kita.” Kita? Kenapa kita? Aku mengangguk singkat.

Tok! Tok! Tok! Aku membuka pintu kamar dan ternyata ahjumma yang berada di depan pintu kamar ini.

“Ahjumma?” Tanyaku.

“Saya hanya mau mengantar ini… Handuk nyonya muda dan juga pakaian nyonya muda…”

“Aigo, ahjumma…. Jangan seperti ini… Aku masih bisa mengambilnya sendiri…”

“Sudah kewajiban saya nyonya..” Ia kemudian membungkukkan tubuhnya dan berjalan mundur perlahan meninggalkanku.

“Kau yang menyuruhnya?” Tanyaku pada Kris.

“Tidak, aku tidak pernah menyuruhnya seperti itu..” Ujarnya.

“Tapi…”

“Sudahlah, lebih baik kau mandi…”

Saat sarapan, ponselku tiba-tiba berbunyi. “Ini, baca ini….” Ucapku menunjukkan ponselku pada Kris.

“Hhm?” Dia melihat ponselku yang masih kugenggam.

“Yixing?” Tanyanya.

“Dia mau bertemu aku nanti siang…”

“Ya sudah, bertemu saja dengannya.” Ucapnya singkat. Kenapa aku sedikit terbuka padanya? Harusnya kan aku langsung pergi saja.

“Zhēn de ma (benarkah)?”

“Biasanya juga seperti itu kan?” Tanyanya sambil mengunyah makanan. Aku hanya membisu.

“Uhm..” Jawabku singkat.

“Nanti siang, aku senggang… Nanti aku jemput.”

“Hng?”

“Kau mau bertemu Yixing kan?”

“Kau mengantarku?” Tanyaku heran.

“Menemanimu.” Jawabnya singkat.

“Ne… “ Jawabku melanjutkan sarapanku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Dimana tempatnya?” Tanya Kris sambil mengemudi setelah menjemput Lian di rumah.

“Aku tidak tahu nama tempatnya. Lay hanya memberikan alamat ini…” Ujar Lian yang menunjukkan ponselnya.

“Lian, kau mau kita kecelakaan?” Ujar Kris yang kemudian menepikan mobilnya. Ia kemudian mengambil ponsel Lian dari tangannya dan membaca alamat yang dikirimkan Yixing pada Lian. Ia kemudian menggunakan GPS untuk mengetahui letak kondominium tersebut. Ya, Yixing membeli sebuah kondominium mewah di kawasan elite Nonhyeondong, Gangnam, Seoul.

Kondominium ini sendiri merupakan salah satu dari 10 apartemen termewah berharga tinggi di Korea Selatan. Komplek apartemen mewah ini terdiri dari 18 rumah yang dibangun oleh pengembang terkenal Samsung Heavy Industries. Hunian mewah ini juga terkenal dengan sistem keamanannya yang sangat tinggi, dilengkapi dengan berbagai macam sensor pengamanan serta CCTV yang tak pernah berhenti memantau. Tak hanya itu kondominium ini juga dilengkapi dengan ruangan pesta, bioskop mini, dan ruangan fitness.

“Kris…”

“Ne?”

“Aku mau es krim…” Pinta Lian tiba-tiba.

“Shénme (apa)?”

“Es krim…”

“Nanti saja…” Kris kembali melanjutkan mengemudi mobilnya.

“Krriiisss~~~ Aku mau es krimm!!!” Rajuk Lian.

“Nanti, sepulang dari tempat Yixing.”

“Aku mau sekaraaangg!! Sekarang! Pokoknya sekarangg!!!” Teriak Lian yang merajuk seperti anak kecil. Tak hanya itu, ia bahkan memukuli Kris hingga pria itu sempat kehilangan konsentrasi untuk menyetir.

TIIINN!!! Klakson mobil pengemudi lain terdengar memekakkan telinga karena laju mobil yang dikemudikan Kris keluar jalur.

“Hey! Lian, kita bisa mati!” Kris berusaha menghentikan tingkah istrinya dengan sebelah tangannya.

“Aku mau es kriiiimm!!!!”

Dengan menghela nafas, Kris akhirnya kembali menepikan mobilnya di depan mini market. “Děnghòu zài zhèlǐ (tunggu sini)!” Ujar Kris yang kemudian melepaskan sabuk pengamannya.

Sementara Lian menunggu di dalam mobil sambil memainkan game yang ada di ponselnya, Kris masuk ke dalam mini market untuk membelikan es krim untuk Lian.

“Rasa apa yang harus aku beli? Aku tidak tahu kesukaannya…” Batin Kris menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dan akhirnya Kris mengambil dengan asal es krim rasa cokelat dan strawberry untuk Lian. Setelah membayarnya, Kris kembali ke dalam mobilnya dan meletakkan kantung plastic yang berisikan dua es krim itu di pangkuan Lian.

“Kok dua?” Tanya Lian.

“Memang kau mau berapa, eoh? Itu saja belum tentu kau habis.”

“Aku mau lima…” Ucap Lian.

“Ráole wǒ ba (yang benar saja)! Kau mau makan lima es krim?” Tanya Kris heran sambil memasang kembali sabuk pengamannya.

“Belikan lagiiii~~~~” Lian kembali merajuk pada Kris sambil menggoyang-goyangkan lengannya.

“Wǒ bùxiǎng (aku tidak mau)!”

“Kriisss~~~ Qǐng (kumohon)…” Rajuk Lian. Kris pun kembali membuka sabuk pengamannya dan membelikan tiga es krim lagi untuk Lian.

“Ck, susahnya menghadapi orang hamil seperti dia…” Batin Kris saat berada di antrian mini market tersebut.

Kris kembali meletakkan kantung plastic yang berisi es krim itu di pangkuan Lian. “Ada lagi yang mau kau beli, tuan puteri Lian?” Sindir Kris yang kemudian memasang sabuk pengamannya.

Lian menggelengkan kepalanya semangat sambil memakan es krimnya. “Xièxiè (terima kasih), Kris…” Ucap Lian yang memijat pelan lengan kanan Kris yang memegang kemudi. Itu adalah cara berterima kasih Lian pada Kris karena telah membelikan lima es krim untuknya.

Setelah satu jam perjalanan, mereka tiba di kondominium tersebut. Lian pun menelpon Yixing untuk memberitahunya kalau dia sudah tiba.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Lay!” Seruku saat melihat dia dari kejauhan. Kulihat dia langsung berjalan menemuiku. Tersenyum juga pada Kris dan menjabat tangannya.

“Gege ikut juga?” Tanyanya.

“Ne…”

“Kajja kita masuk..” Ajak Lay pada kami.

“Tiān nǎ (astaga)! Lay sudah menyiapkan tempat seperti ini? Luar biasa!” Batinku saat memasukinya. Bagaimana tidak? Luasnya ini  kurang lebih sekitar 330 ㎡. Kondominium ini memiliki lima kamar dan empat kamar mandi. Di dalamnya terdapat beberapa fasilitas yang kurasa dapat menunjang kehidupan seorang Michelle. Di dalam sini terdapat layar sebesar 100 inch dan sebuah projector dengan speakers BOSE,  3 kulkas, 2 set televisi, mesin pencuci piring, oven, mesin cuci, sirkulasi udara yang baik setiap kamarnya, 2 ruang ganti, ruang bermain untuk anak, ruang fitness. Selain memiliki taman yang dapat dipergunakan untuk pesta BBQ,  kondominium ini juga memiliki ruang karaoke yang terletak di basement. Bahkan setiap ruangannya juga memiliki sistem pemanas dan juga camera CCTV dengan sistem pengamanan 24 jam.

“Lay, kau sudah menyiapkan ini?” Tanyaku kaget. Ia mengangguk. “Kamar anak ini juga?” Tanyaku lagi. Dan lagi, ia mengangguk.

Lay kemudian mengajak kami berdua ke taman dari kondominium tersebut. Kulihat Lay menelpon seseorang melalui ponselnya. “Tolong bawakan minuman ke taman belakang..” Ujar Lay. Perusahaan yang berada di bawah tangan Lay rupanya sanggup menunjukkan keberhasilannya. Terbukti dari kondominium ini yang bisa dibeli olehnya.

“Apa yang harus kulakukan dulu, Lian?” Tanya Lay yang terlihat bingung.

“Kenapa tidak kau coba bicara pada kakaknya saja?” Usulku.

“Kakaknya?” Tanya Lay.

“Kakaknya kan di sini..” Aku melirik Kris.

“Shénme (apa)?!!” Lay terlihat kaget. “Michelle adiknya gege?” Tanya Lay lagi.

“Ne..” Jawab Kris singkat.

“Tapi, waktu kalian menikah…”

“Michelle tidak ada?” Lanjut Kris. “Michelle di Hongkong, kuliah..” Jelas Kris.

“Kau mengerti kan sekarang, Lay… Waktu Michelle ke rumah juga tadinya aku kaget.” Ucapku kemudian.

“Jadi kau yang berniat menikahi Michelle?” Tanya Kris sarkatis.

“Ne..”

“Kau yakin bisa melindunginya dan membahagiakannya?”

“Ne…”

“Dengan kekayaanmu ini?” Kris bertanya dengan nada sinis.

“Bagiku, kebahagiaan itu bukan dari kekayaannya. Tapi karena kualitas waktu bersama, menghabiskan waktu bersama dengan orang yang dicintai.”

“Aku tidak yakin kalau Michelle bersamamu bisa merasa aman terlindungi. Kau ini sangat sibuk mengurusi bisnismu, kan? Bagaimana kau bisa melindungi Michelle?” Kris bertanya seolah menginterogasi seorang penjahat. Benar-benar menyebalkan dia!

“Dengan semua fasilitas keamana yang ada. Dan tentunya aku juga akan menelpon Michelle menanyai kabarnya.”

“Over protective sekali kau ini..” Komentar Kris tajam.

“Aku bukan over protective, tapi hal itu menunjukkan rasa sayangku kan? Ya, bisa dikatakan… bentuk perhatian. Seperti gege yang lakukan sekarang kan?” Tanya Lay.”Mengantar, bahkan menemani Lian jalan seperti saat ini…” Lanjut Lay. Kulihat Kris sudah tidak mengeluarkan kalimat pedasnya pada Lay.

“Sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang. Terima kasih untuk undangannya ke sini..” Ujar Kris yang kemudian menarik tanganku.

“Hey! K..Kris.. aku belum… Kriss!!” Aku berusaha meronta. Tapi dia tidak menghiraukanku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kenapa pulang sih?!” Lian memprotes tindakan Kris.

“Tidak baik kau pulang terlalu malam.”

“Tapi aku belum bicara banyak dengan Lay!” Protes Lian lagi.

“Sudahlah… diam!” Ujarnya dengan nada dingin. Kris kemudian melajukan mobilnya membaur dengan kendaraan lain di jalan raya. Tapi kemudian ia memasuki pelataran parkir sebuah restaurant.

“Kenapa ke sini?” Tanya Lian.

“Aku lapar. Kau juga harus makan, kau tidak kasihan dengan bayimu, eoh?” Lian hanya bisa menurut.  Seorang waitress menyambut kedatangan kami di restaurant tersebut.

“Untuk dua orang, saya minta mejanya yang tidak terlalu ramai.” Waitress itu pun menunjukkan tempat untuk mereka berdua. Kris mempersilahkan Lian untuk berjalan di depannya. “Qǐng, qǐng biàn (silahkan, jalan duluan)..”

Mereka berdua pun memesan makanan dan minuman. Sambil mereka menunggu pesanan datang, Kris memainkan ponselnya. Sedangkan Lian duduk, meletakkan dagunya di atas tangannya yang bertumpu pada meja. Sebelah tangannya memegangi perutnya yang terasa sakit di bawah meja.

“Kenapa perutku sakiitt??” Batin Lian yang memejamkan kedua matanya menahan sakit.

“Wèishéme (kenapa)?” Tanya Kris yang mendapati Lian bertingkah aneh. Lian pun membuka kedua matanya. Ia hanya menggeleng pelan.

“Nǐ hái hǎo ma (kau baik-baik saja)?” Tanya Kris lagi.

“Uhm..” Jawab Lian singkat.

“Apa perlu kita ke rumah sakit?” Tanya Kris.

Lian menggelengkan kepalanya. “Méiguānxì (tidak apa).”

“Kalau kau sakit, lebih baik kita periksa ke dokter.”

“Bùshì (tidak)…” Jawab Lian.

“Kris, menurutmu… Lay bagaimana?” Tanya Lian kemudian.

“Kenapa apanya?”

“Jika dengan Michelle.”

“Terserah Michelle-nya yang mau menjalankan hidupnya.”

“Jadi kau setuju?” Tanya Lian antusias.

“Apa aku mengatakan kalau aku setuju?” Balas Kris.

“Tapi Michelle mencintainya, kan?”

“Lalu?”

“Kau bilang terserah Michelle. Michelle pasti akan menikah dengan Lay.”

“Oppaa~!” Tiba-tiba ada seorang wanita yang menginterupsi pembicaraan Lian dan Kris. Wanita itu langsung memeluk Kris bahkan akan menciumnya. Namun, Kris menghindar saat wanita itu akan menciumnya.

“Oppa, wae?? Kenapa kau bisa di sini?” Tanya Min Ah. Wanita itu kemudian melemparkan pandangannya pada Lian.

“Oh.. Aku mengerti sekarang… Oppa mengajak dia ke sini hanya untuk memberitahukannya kan kalau kau mencintaiku. Buktinya saja kau mengajaknya ke restaurant favorite kita..” Lian yang mendengar penuturan Min Ah hanya bisa diam menerima rasa sakitnya di hati.

“Oppa, ayo kita pergi…” Min Ah menarik Kris berdiri.

“Min Ah, aku mau bicara…” Ujar Kris kemudian.

“Kajja, aku juga tidak sabar membicarakan tentang pernikahan kita kelak.” Susah payah Lian menahan air matanya.

Kris pun mengikuti Min Ah. Ia sekarang memang harus benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Min Ah.

“Oppa, apa tidak lebih baik kita jalan-jalan saja?” Min Ah merajuk pada Kris.

“Aku tidak bisa.”

“Waee??”

“Kau minta jalan-jalan saja dengan pacar barumu itu.”

“Mwo?!!” Min Ah membulatkan kedua kelopak matanya.

“Jangan kau pikir aku tidak tahu semua aktifitasmu, Min Ah…” Kris tidak lagi memanggil wanita itu dengan nama kesayangannya.

“O..oppa.. aku bisa menjelaskannya..”

“Kau mau menjelaskan apa? Menjelaskan kalau dua hari yang lalu menginap di rumah seorang pria dalam keadaan mabuk dan berciuman? Kau tidak perlu menjelaskannya lagi, Min Ah. Aku sudah mengetahui kelakuanmu itu. Terima kasih karena kau sudah pernah mengisi waktuku. Good bye!” Ujar Kris kemudian yang meninggalkan Min Ah di luar restaurant.

“Oppa! Kalau kau meninggalkanku, aku akan bunuh diri!” Kris menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya menatap Min Ah. Dalam batin gadis itu, ia terlihat puas karena bisa mengubah pikiran Kris.

“Kau mau bunuh diri?” Tanya Kris. Sementara Min Ah hanya terdiam. “Silahkan, aku memperhatikanmu dari sini..” Ujar Kris kemudian dengan kedua tangan bersedekap. Dalam pikiran Kris, tidak mungkin Min Ah, seorang gadis yang penakut akan berani bunuh diri. Pria itu baru menyadari kalau itu hanyalah bentuk gertakan saja. Tak lama ia kemudian melihat Lian yang keluar dari restaurant dengan wajah memerah dan mata yang berair.

“Lian!” Panggil Kris. Tapi anak bungsu dari keluarga Song itu tidak menoleh. “Ck!” Decak Kris kesal. Ia kembali ke dalam restaurant itu membayar semua makanan yang tidak dimakannya, dan keluar restaurant terburu-buru mengejar Lian. Sudah tidak dipikirkannya lagi Min Ah yang berniat bunuh diri.

“Lian!” Kris mengejar istrinya yang mengambil langkah lebar untuk menghindari Kris. Wanita out menyetop sebuah taksi dan membuka pintunya. Brak! Kris memegangi lengan istrinya dan menutup pintu taksi itu.

“Mianhamnida, ahjussi.. Tidak jadi..” Ujar Kris meminta maaf pada supir taksi tersebut.

“Lepaskan aku!!” Lian berusaha melepaskan tangan Kris yang mencengkeramnya.

“Lian, Tīng wǒ shuō (dengarkan aku)!” Ujar Kris.

“Wǒ bùxiǎng (aku tidak mau)! Lagipula apa yang harus dijelaskan? Itu bukan urusanku, aku tidak peduli! Lepaskan aku!” Tangis Lian.

“Lian, jangan buat aku terlihat seperti orang jahat seperti ini…” Kris menyadari banyak pasangan mata yang mengarah mereka berdua.

“Lepaskan aku!!” Lian menghentakkan tangannya dan pergi dari Kris yang saat itu cengkeramannya terlepas. Belum sempat Lian berlari meninggalkan Kris, Kris kembali menariknya, memeluk pinggang istrinya dan mencium bibirnya di tempat umum. Lian saat itu terkejut dengan tindakan Kris ini.

“Bùyào kū (jangan menangis)…” Kris menghapus air mata yang mengalir di pipi Lian dengan ibu jarinya dan mencium keningnya. “Ayo, kita pulang saja dan kita telepon delivery untuk makan malam kita..” Seolah terhipnotis, Lian yang sebelumnya terlihat enggan bersama Kris, kali ini menurut dengan semua ucapan pria itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Tidurlah… Kau ini sering sekali tidur malam…” Ucapan Kris menghentikan lamunanku. Ia kemudian menaiki ranjangnya dan duduk bersandar pada headboard ranjang kami dengan selimut yang menutupi sebatas pinggang.

“Mau kunyalakan lampunya?” Aku menggeleng.

“Lalu kenapa tidak juga tidur?” Aku menggidikkan bahuku. Aku merasa ada sebuah tangan yang melingkar di belakangku dan merengkuh bahu kiriku. Direbahkannya kepalaku pada dadanya yang bidang. “Duìbùqǐ (maafkan aku), Lian…” Ia mengusap kepalaku bahkan ia mencium puncak kepalaku.

“Untuk apa?” Tanyaku.

“Untuk semuanya.” Jawabnya lagi. Ia kemudian mengusap perutku. Ia melepaskan rangkulannya dan mencium perutku. “Meskipun ini bukan anakku, aku akan merawatnya dan menjaganya layaknya anakku sendiri.” Aku juga merasa sedikit merasa bersalah karena sudah membohongi Kris. Aku membohongi Kris mengatakan kalau anak ini adalah anak Christian. Padahal yang dikandungku adalah darah daging Kris.

“Xièxiè (terima kasih)…” Jawabku singkat.

“Ràng wǒmen shuìjiào (mari kita tidur)…” Kris merebahkan tubuhku dan menata bantalnya agar nyaman untukku. Kenapa dia bisa perhatian seperti ini? Entahlah… perlahan aku mulai menjelajahi alam bawah sadarku dan tertidur.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ne, appa… Aku akan segera ke sana…” Terlihat seorang pria yang sedang menuruni anak tangga gedung kampusnya dengan sebelah tangannya yang membawa tumpukkan buku.

“Iya… Aku tahu hari ini adalah ulang tahun, eomma…” Ujarnya lagi dengan terburu-buru.

“Aku akan membelikan bunga untuk eomma… Tunggulah aku, app..”

BRUK!!

“Aaaww!!!” Baekhyun memekik keras bersama seseorang yang tanpa sengaja bertabrakan dengannya. Semua buku yang dibawa gadis itu berantakan.

“Appa, nanti kutelepon lagi.” Baekhyun memutus sambungan.

“YAA!!! Apa kau buta, eoh?!!!” Baekhyun menuding seseorang yang baru saja menabraknya.

“HEY!! Seharusnya kau yang lihat jalan!! Kau menuruni tangga kan?! Sedangkan aku naik tangga!”

“Apa hubungannya?!” Baekhyun semakin kesal.

“Kau seharusnya melihat arah jalanmu, pabbo!! Lihat ini! Semuanya berantakkan!!!!” Gadis itu menendang tulang kering Baekhyun setelah sudah membereskan buku-bukunya.

“YAAA!!!! Appoo!!! YAA!! Yeoja gilaa!!!!” Baekhyun meneriaki gadis itu yang kemudian berlari.

“Sigh! Rasakan itu! Dasar mata eyeliner!” Gerutu gadis itu yang bernama Arlyna Lee.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Ponsel gadis itu berbunyi saat dirinya sedang menonton tv di ruang tengah rumahnya. “Yeobseo?”

“Chell..” Gadis itu memeriksa layar ponselnya. Nomor Seoul.

“Siapa ini?” Batin Michelle.

“Neo nuguya?” Tanya Michelle.

“Nǐ wàngle wǒ ma (kau melupakanku)?” Michelle terlihat bingung karena orang yang menelponnya ternyata tidak berbahasa Korea.

“Chell, ini aku… Yixing..”

“Shénme (apa)?!” Puteri bungsu keluarga Wu itu langsung menegakkan posisi duduknya.

“How’s your life (bagaimana kabarmu)?”

“Pretty good (cukup baik)..” Jawab Michelle kemudian.

“Kau sibuk hari ini?”

“Bùshì (tidak)…”

“Bisa kita bertemu?” Tanya Yixing.

“Untuk apa?” Michelle sebenarnya kesal dengan Yixing. Karena meskipun mereka berpacaran, tapi nyatanya hubungan mereka menggantung.

“Wǒ…xi…xiǎngniàn nǐ (aku merindukanmu)..” Ujar Yixing terbata-bata.

“Zhēn de ma (benarkah)?”

“Ne.. karena itu… bisakah kita bertemu?” Ujar Yixing lagi.

“Aku tidak bisa kalau sekarang. Mungkin nanti malam bisa.”

“Tadi kau bilang kau tidak sibuk…” Ujar Yixing.

“Ne, tapi aku baru saja melihat jadwalku ternyata aku ada urusan.” Ujar Michelle berkilah.

“Baiklah, kalau begitu…. Nanti malam?” Tanya Yixing.

“Okay..” Jawab Michelle mengakhiri pembicaraan. Gadis itu langsung menelpon Lian melalui ponselnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Haahh… apa yang harus kubeli untuk ulang tahun Michelle besok?” Aku mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jariku. Tring! Lampu ponselku menyala. Kulihat ada pesan dari Kris.

 

From : Tiang Listrik

To : You

Nanti jadi kita mencari kado untuk Michelle? Mau dijemput jam berapa?

 

From : You

To : Tiang Listrik

Terserah… Selesai pekerjaanmu saja.

 

From : Tiang Listrik

To : You

Okay, nanti jam satu aku akan menjemputmu. Jangan terlalu banyak melakukan kegiatan di rumah. Istirahat.

From : You

To : Tiang Listrik

Ne…

Saat aku akan kembali ke kamar, ponselku kembali menyala. Kali ini bukan sebuah pesan. Tapi panggilan masuk. Nama yang sudah sangat familiar. Michelle.

“Jiejieeee!!!!!!!” Teriaknya. Aaa!! Ada apa dengan anak ini sampai berteriak seperti ini. Membuatku menjauhkan ponselku dari telingaku.

“Jiejie sedang apa? Dirumah tidak? Aku bisa ke sana tidak?” Tiān nǎ (astaga)! Apa anak ini kerasukan?

“Ka..kau kenapa Chell?” Tanyaku.

“Kyaaaaaa!!!!” Lagi-lagi dia berteriak.

“Michellleee!! Aku bisa tuliiiiii~~~”

“Jiejieeee… Bāng bāng wǒ (tolong aku)!”

“Kau kenapa sih?” Tanyaku heran.

“Aaaaa!!! Yǒurén jiào yīshēng (seseorang panggilkan dokter)!”

“Someone call the doctor!” Ulangku terkekeh mengikuti ucapan Michelle dalam bahasa Inggris. “Tenang saja, Chell… Aku akan menelpon rumah sakit jiwa untukmu. Ahahahaha..”

“Jiejieee~~~ Pokoknya aku mau ke rumahmu!”

“Tidak boleh! Nanti aku tertular gila! Ah iya.. Nanti bayiku juga gila!” Ujarku dengan nada bercanda.

“Jiejieeee~~~ Wait me, there!” Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil mengusap perutku yang sudah membuncit. Haah.. Michelle mau ke rumah.. berarti… jam berapa aku nanti pergi? Sudahlah, lebih baik aku menelpon Kris.

Nada sambung pun terdengar. Tak lama suara beratnya menyapaku. “Ya?”

“Michelle mau ke rumah…” Ujarku langsung.

“Really?”

“Iya.. Entahlah.. dia tiba-tiba histeris saat menelponku, dan dia bilang mau ke rumah..”

“Aish~ Anak itu…”

“Jadi kita bagaimana? Apa mau malam saja?” Tanyaku.

“Jangan! Kau tidak boleh keluar malam!”

“Lalu kapan??”

“Kau bilang padanya kalau kau tidak bisa lama-lama..”

“Aku tidak enak hati…” Ujarku.

“Kenapa kau tidak enak hati? Dia adikmu kan?”

“Tapi….tetap saja kan…”

“Ya sudah, nanti aku saja yang bicara. Aku akan pulang lebih awal.”

“Ta..tapi pekerjaanmu?”

“Baik-baik saja. Orang yang dari perusahaan Papa bisa diandalkan untuk proyek ini.”

“Papa?” Tanyaku.

“Kau tidak tahu kalau aku dan Papa sedang mengerjakan proyek?”

“Bùshì (tidak)..”

“Sudahlah, kujelaskan juga kau tidak akan mengerti. Sepertinya kau keberatan perutmu itu.”

“Kriisss!!” Aku mengerucutkan bibirku. Ya, walaupun aku tahu kalau dia tidak bisa melihatku sih…

“Sudah dulu, aku sedang mempelajari berkas untuk aku tanda tangani. Setelah itu aku langsung pulang.”

“Kris… belikan aku sesuatu…”

“What’s that?” Tanyanya.

“Ayam goreng..”

“Ck, bisakah kau tidak memakan makanan fastfood?” Tanyanya.

“Pleasee….” Ujarku lirih.

“Chicken isn’t my style. So, I will not buy it for you!”

“Kriss~~” Rajukku.

“Yang lain saja, Lian…”

“Tidak mau! Huh! Kalau kau tidak mau membelikan, aku juga bisa beli dari delivery order dari rumah!” Aku langsung mematikan ponselku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Lian membuka pintu rumahnya dan dilihatnya seorang Michelle yang langsung menghambur ke pelukannya.

“Aaaa…” Lian sedikit memundurkan tubuhnya agar tidak mengenai kandungannya.

“Jiejieee… dia… diaaa… Kyaaaa~~~”

“Masuk dulu, baru kau cerita…” Ujar Lian.

Setelah memberikan minum dan duduk dengan nyaman di sofa, Michelle baru menceritakannya.

“Yixing menelponku, jie… Dia minta bertemu..”

“Lalu, kau kenapa kau tidak bertemu dengannya?”

“Aku masih kesal karena dia menggantung hubungan kita!”

“Lalu kau tidak mau bertemu dengannya?”

Michelle menggelengkan kepalanya. “Aku akan bertemu dengannya kok…”

“Zhēn de ma (benarkah)? Shénme shíhou (kapan)?” Tanyaku lagi.

“Nanti malam…”

“Waaa!! Itu bagus!” Ucap Lian antusias.

“Wait, Lay bilang mau melamar Michelle tepat saat ulang tahunnya, tapi kenapa ini sehari sebelum ulang tahunnya?” Batin Lian.

“Jiejie… Why?” Lian menggelengkan kepalanya.

Lama mereka mengobrol, Kris pun pulang. Lian membukakan pintu setelah mendengar suara mobil yang terparkir di pelataran parkir yang bisa memuat empat mobil tersebut.

“Michelle sudah datang?” Tanyanya.

“Sudah.. di dalam..” Ujar Lian yang membawakan tas laptop milik Kris dan juga jas yang sudah dibuka pria itu. Pria itu berjalan sambil membuka dasinya dan melepaskan satu kancing kemejanya.

“Oh, kau di sini?” Ujar Kris.

“Gege tumben sekali pulang siang…”

“Ne… Kau sudah lama?”

“Lumayan…” Jawab Michelle.

“Dalam rangka apa kau kemari?” Tanya Kris.

“Urusan wanita!” Ujar Michelle.

“Oh… Sebenarnya sebentar lagi kita mau pergi.. Kau bagaimana?” Tanya Kris.

“Kalian mau kemana?” Tanya Michelle.

“Mau jalan-jalan berdua…”

“Chell, aku tinggal dulu tidak apa kan?” Tanya Lian. “Aku mau siap-siap… lagi pula kan ada Kris..” Ujar Lian lagi.

“Tapi sepertinya aku langsung pulang saja deh.. aku kan juga harus bersiap-siap untuk nanti malam.”

“Nanti malam memangnya ada apa?” Tanya Kris.

“Yixing mengajakku bertemu..”Ujar Michelle.

“Yixing? Oh… Akhirnya kau dihubungi dia ya… Dia menghubungimu tiba-tiba apa kau tidak curiga?”

“Maksud gege?”

“Bisa saja dia menghubungimu minta bertemu tapi ternyata ingin memutuskan hubungan?” Seketika itu juga, Lian memukul bahu Kris dari belakang. “Aww!! Apa yang kau lakukan?”

“Kalau kau mau bicara, pikirkan dulu perasaan orang!” Ujar Lian. Michelle terlihat murung. Padahal sebelumnya ia sangat ceria.

“Benar juga, kata gege…” Batin Michelle.

“Michelle, tidak usah didengar ucapannya Kris… Kau harus tampil cantik malam ini..”

“Jiejie, aku pulang ya… gege, aku pulang..” Ujar Michelle lesu.

“Lihat kau sekarang? Tsk! Bisa-bisanya kau seperti itu pada adikmu sendiri! Huh! Aku tidak mau pergi denganmu!” Brakk!! Lian membanting pintu kamar. Kris hanya menghela nafasnya dan menyesali ucapannya pada adiknya. Padahal sebenarnya ia ingin mengerjai adiknya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Dengan malas-malasan Michelle bersiap karena Yixing menjemputnya. Gadis itu terlihat enggan untuk menuruni anak tangganya dan menemui Yixing yang sudah menunggu di bawah ditemani oleh kedua orang tua Michelle. Namun akhirnya gadis yang hanya dengan menggunakan baju lengan panjang berwarna hitam dengan luaran berwarna putih dan dikombinasi dengan celana jeans, Michelle menuruni tiap anak tangga. Di bahunya terdapat tas berwarna cokelat yang menggantung.

Sesuai dengan penampilan Michelle, Yixing juga tanpa sengaja memakai pakaian bertemakan casual. Hanya dengan t-shirt berwarna putih dengan jaket berwarna hitam dengan celana jeans, pria itu menemui Michelle. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Michelle, mereka pun pergi.

“Kita kemana?” Tanya Michelle.

“Nanti saja kau lihat.” Michelle hanya menurut.

Yixing yang malam itu menjemput Michelle dengan supirnya, hanya terlihat melihat layar ponselnya sementara Michelle hanya melihat kearah luar jendela mobilnya. Ternyata mobil itu mengantar mereka ke daerah Sungai Han.

Sungai Han atau yang kerap disebut dengan Hangang river adalah sungai yang mengalir melewati Seoul dan bergabung dengan sungai Imjin hingga akhirnya bermuara ke Laut Kuning. Di sepanjang sungai Han ini terdapat bermacam-macam café yang menjadi tempat muda mudi di Korea. Mereka mengunjungi café yang paling populer-Seonyu Café-yang berada di dekat jembatan Yanghwa. Café ini terletak di sisi barat jembatan dengan menu ala western dan oriental.

Bersantai di Seonyu Café mereka mencicipi masakan-masakan barat dan melihat dari kejauhan beberapa landmark kota seperti taman Seonyudo, jembatan Seonsan dan beberapa panorama lain. Dari titik ini juga mereka bisa sambil melihat National Assembly Building, jembatan Dangsan Cheolgyo dan kawasan Yeouido.

Tidak puas berjalan-jalan di satu tempat, Yixing kembali mengajak Michelle untuk menghabiskan malam dengan singgah di Outlook Cafe Gureum yang letaknya cukup tinggi hingga mereka berdua dapat melihat jembatan Banpo dan Hangang dari sudut ini. Dari Outlook Cafe Gureum kita bisa sambil melihat pertunjukan air mancur pelangi yang dihelat di jembatan Banpo.  Namun, satu hal yang membuat Michelle heran adalah tidak adanya pengunjung dalam café ini. Café ini sangatlah ternama. Hal yang mustahil bagi café ini untuk kekurangan pengunjung.

“Gege, apa café ini tutup? Kok tidak ada orang?” Tanya Michelle.

“Café ini buka. Kalau café ini tutup tidak mungkin ada pekerjanya, bukan?” Ujar Yixing.

“Aku ke toilet dulu, ya..” Ujar Yixing. Michelle hanya mengangguk menikmati minumannya.

Saat Michelle menikmati minumannya, tiba-tiba kedua mata gadis itu dikejutkan oleh pertunjukan air mancur yang berwarna-warni dari jembatan Banpo tersebut. “Sekarang kan bulan Maret. Bukannya pertunjukkan ini bulan April hingga Oktober?” Batin Michelle. Tak hanya itu, terdapat banyak balon yang diterbangkan dari bawah. Melihat banyak balon yang terbang, Michelle mendekati jendela café tersebut dan melihat ke bawah meskipun tidak jelas.

“Apa malam ini ada acara ya?” Gumam Michelle.

“Aku tidak tahu, kau suka dengan semua ini atau tidak..” Suara itu mengagetkan gadis itu hingga ia menoleh.

“Maksud gege?”

“Kau suka tidak?” Tanya Yixing.

“Suka, itu indah..” Ujar Michelle yang kembali melihat pada air mancur warna-warni itu.

Yixing yang berdiri di samping gadis itu kemudian meraih tangan Michelle dan menautkan kelima jarinya pada Michelle.

“Gege, wèishéme (kenapa)?” Tanya Michelle.

“Duìbùqǐ (maafkan aku)…” Ucap Yixing. Saat itu juga Michelle teringat dengan ucapan Kris yang mengatakan kalau Yixing akan mengakhiri hubungan mereka.

“Hey, kenapa kau menangis?” Tanya Yixing bingung, mengusap air mata gadis itu.

“Hiks… Kalau gege mau kita selesai, aku akan menerimanya..” Isaknya.

“Aku tahu, selama ini aku memang tidak layak untuk gege. Masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih baik dari aku.” Ucap Michelle di sela tangisannya.

“Yaaahh… Memang aku ingin mengakhiri ini semuanya…. Aku lelah…” Ujar Yixing yang masih menggenggam sebelah tangan Michelle. Sebelah tangannya, masuk ke dalam saku celananya dan merogoh sesuatu dari dalam sakunya.

“Aku ingin mengakhiri masa pacaran kita….” Michelle hanya menangis dan menundukkan kepalanya.

Tlek! Sebuah kotak berwarna merah terbuka di depan gadis itu. “Aku mau kita memasuki masa berkeluarga. Aku ingin kau menjadi pendamping hidupku selamanya hingga akhir hayatku. Aku ingin kau menjadi seorang ibu dari anak-anakku kelak. Will you marry me, Michelle Wu?”

“Aku tidak meminta jawabanmu dari tangisan, Chell..” Yixing menghapus air mata gadis itu.

“Gege… kau yang sudah membuatku seperti ini..” Rajuk Michelle.

“Duìbùqǐ (maafkan aku)…” Ujar Yixing lagi.

“Kenapa tidak dipasangkan? Gege niat tidak sih?”

Yixing hanya tertawa kecil sambil memasangkan cincin itu melihat tingkah Michelle yang dari dulu tidak berubah.

“Wǒ huì bǎohù nǐ wǒ de lìliàng (aku akan melindungimu dengan kekuatanku)… Wǒ de àirén (sayangku)..” Batin Yixing yang kemudian memeluk Michelle dan mencium keningnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Pesta pertunangan Yixing dan Michelle pun dilakukan dua hari kemudian dengan mengundang banyak kolega dan rekan bisnis kedua orang tua mereka dan juga teman-teman mereka sendiri.

“Hyaaa~~~ Eonni! Haah~~ Kenapa kau tidak sekalian menikah sajaa?? Kenapa harus ada pesta pertunangan?” Ujar Arlyna. Arlyna Lee adalah adik kelas Michelle saat masih SMA. Namun, hingga kini mereka masih menjalin komunikasi dengan baik.

“Menikah? Kami akan segera menikah. Tapi mungkin tahun depan..”

“Wae??” Tanya Arlyna.

“Karena Yixing gege harus ke Indonesia…”

“Untuk apa?” Tanya Arlyna lagi.

“Untuk perjalanan bisnisnya…”

“Lalu kau hubungan jarak jauh? Huwwaaa!! Berapa lama?”

“Yaaaa sekitar lima bulan..” Ucap Michelle.

“Micheeellleee~~~” Lian yang saat itu datang, menghampiri gadis yang menggunakan dress berwarna biru itu.

“Jiejie? Kris gege mana?”

“Di depan sama Daddy..”

“Eonni, dia siapa?” Tanya Arlyna.

“Dia kakak iparku..” Ujar Michelle.

“Annyeonghaseyo…” Sapa Arlyna.

“Ah, annyeong…” Sapa Lian balik.

“Oh, jiejie.. ini adik kelasku…” Ujar Michelle memperkenalkan Arlyna.

“Arlyna Lee imnida…” Arlyna mengulurkan tangannya.

“Lian Wu imnida…” Balas Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Saat sedang menikmati hidangan yang ada, aku meminta pada Kris untuk bergabung bersama Michelle dan juga temannya Arlyna. Tapi ternyata, Kris malah mau ikut denganku. Alasannya karena di sana juga ada Yixing juga Baekhyun. Sejak kapan dia jadi dekat dengan mereka berdua?

“Kris, itu Baekhyun di sana… Kau temani saja dia..”

“Apa aku salah menemani istriku sendiri?” Oh Tuhan! Ucapannya…. Well, aku cukup merona karena ucapannya. Beruntung dia tidak melihatnya karena aku memalingkan wajahku.

Kami pun bergabung. Tapi ternyata Baekhyun menelponku. “Noona, kau dimana?”

“Aku sedang bersama Michelle dan Lay… Oh, temannya Michelle juga…”

“Kalau begitu, aku ke sana ya..”

“Ya sudah, cepat ke sini..”

“Who?” Tanya Kris padaku.

“Baekhyun..” Ujarku yang kemudian menyimpan ponselku dalam tas kecilku. Tak lama, Baekhyun pun menghampiriku.

“Noona, kau tiba-tiba menghilang sihh..”

“Siapa yang menghilang? Kau saja yang sibuk dengan makanan…” Cibirku.

“AAAA!!!!!! YEOJA GILAAA!!!!” Teriak Baekhyun. Aku sontak kaget mendengarnya hingga aku terhentak.

“IGE MWOYA?!!!” Arlyna tak kalah kagetnya. Oh Tuhan! Apa mereka berdua ini sangat hobi berteriak?!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Sudah…sudah… Kau tidak baik marah terus…” Michelle menasehati Arlyna yang selalu memunggungi Baekhyun.

“Iya… Nanti lama-lama kau bisa jatuh cinta loh dengannya…”

“Tidak akan!” Ucapnya.

Di saat yang sama, Baekhyun yang terlihat kesal pun juga memunggungi Arlyna.

“Haaahh~~ Kau ini sangat seperti anak kecil…” Ujar Yixing.

“Kau tahu, hyung? Kakiku ini masih sakit sampai sekarang! Mungkin tulangku retak karena yeoja gila itu!”

“Jangan berlebihan… Kalau tulangmu retak, mana mungkin kau bisa sampai sini..” Ujar Kris datar.

“Aku setuju dengan gege..” Ujar Yixing.

“Ish! Kalian ini!”

“Huwaaaa!!” Lian terdorong seseorang hingga dirinya tanpa sengaja menabrak Arlyna yang punggungnya juga menabrak Baekhyun.

“Lian! Kau tidak apa-apa?” Kris langsung menarik lengan istrinya.

“I’m okay..”

“Tsk! Kau ini punya mata tidak sih?!!!” Baekhyun berbalik dan mengatakan kata-kata tajam pada Arlyna.

“Yaakk!! Aku juga tidak sengaja, pabbo! Kau pikir aku mau bertabrakan padamu untuk kedua kalinya?!! Sangat MENJIJIKAN tahu!” Ujar Arlyna menekankan pada kata ‘menjijikan’ pada Baekhyun.

“Apa kau bilang?!! Kau…!!!”

“SHUT UP!!!” Kris berteriak pada kedua orang itu. Beruntung mereka semua berada di belakang hingga tidak ada tamu yang terganggu akibat teriakan Kris.

“Sudahlah, lebih baik kalian menikah saja sana!” Ujar Yixing dan Michelle bersamaan.

“SHIREO!!” Jawab Baekhyun dan Arlyna bersamaan.

Sambil mengusap perutnya, Lian bergumam. “Anakku, jangan kau tiru mereka berdua ini yaa…”

THE END

EXO Private School The Series (1)

exo private school

The 4 boys in the third year (Persiapan Wisuda)

Kris, EXO, jurusan IPA kelas 3-A, Scorpio, tinggi, dingin, manga-like-face

Kai, EXO, jurusan IPA kelas 3-B, Capricon, manis, cuek, pintar, atletis, perhatian

Chanyeol, EXO, jurusan IPS kelas 3-A, Sagitarius, tinggi, cerewet, moody

Luhan, EXO, jurusan IPS kelas 3-B, Taurus, tampan, ramah, selalu tersenyum, sensibel

Nata, jurusan IPS kelas 3-C, Gemini, galak, ambisius, cerewet, tinggi (OC)

EXO private school the series-The 3rd year

Author: Crazyfinder ( @yaniesbee )

Length: oneshoot

Genre: comedy-romance, school-life, friendship Lanjutkan membaca EXO Private School The Series (1)

Secret Love

Judul : Secret Love

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Huang Zi Tao (EXO-M)
Xi Seu Chi (OC)
Wu Yifan (EXO-M)

Supporting Cast : Xi Luhan (EXO-M)
Zhu Lien (OC)
Park Gi Na (OC)

Genre : Complicated, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin: 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku melihatnya, setiap kali aku baru pulang kuliah inilah kegiatanku. Melihatnya latihan wushu di ruang club wushunya. Dimataku dia terlihat sempurna. Gerakannya terlihat lincah saat dia menghunuskan pedang wushunya.

Lanjutkan membaca Secret Love

℠ƩΧ◊ Dormitory

Judul : ℠ƩΧ◊ Dormitory

Author : Seu Liie Strife

Main Cast: Kris Wu/Wu Yi Fan (℠ƩΧ◊-M)
Kim Suho (℠ƩΧ◊-K)
Xi Luhan (℠ƩΧ◊-M)
Baekhyun/Byun Baekhyun (℠ƩΧ◊-K)
Chanyeol/Park Chanyeol (℠ƩΧ◊-K)
Lay/Zhang Yi Xing (℠ƩΧ◊-M)
D.O/Do Kyungsoo (℠ƩΧ◊-K)
Kai/Kim Jongin (℠ƩΧ◊-K)
Sehun/Oh Sehun (℠ƩΧ◊-K)
Tao/Huang Zi Tao (℠ƩΧ◊-M)
Chen/Kim Jongdae (℠ƩΧ◊-M)
Xiumin/Kim Minseok(℠ƩΧ◊-M)

Genre : Brothership, Family

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Cuap2 Penulis: Yooohoooo~~~ Gw kembali lagi setelah sekian lama hiatus mengendap(?) Nah berhubung moment’y pas natal & tahun baru, gw kembali buat ff yang gw persembahkan bwt erpe bebe ℠ƩΧ◊ Dorm tercintaahh*hallah* Berhubung kita2 belom punya ff yang bener2 berdua belas, jd gw buat ini. Di ff ini ada 1 moment yang bwtnya gx sengaja sama exoshowtime. Gw bwt scene tukeran kado di ff ini tanggal 17. Sedangkan scene tukeran kado di exoshowtime epi 4, muncul tanggal 20-an. Apa krn gw punya ikatan batin sm mreka?*plak* Dan..satu lagi, nie ff juga sebagai kado natal gw bwt erpe Lay ℠ƩΧ◊ Dorm…daripada banyak cingcau(?)Mending langsung baca yaaa~ cekidoott chingudeuls!

images cake22
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Bruuk!!

“Akh!”

“Ah! Mianhamnida, saya tidak hati – hati…” Pria berwajah imut itu membantu lelaki yang ditabraknya untuk berdiri.

“Gamsahamnida…aku yang berjalan sambil melamun..”

“Itu dia!! Tangkap Luhan!!”

“Oh no!” Pemilik nama itu langsung berlari kembali menghindari dua pria yang mengejarnya.

“Sepertinya, orang itu dalam bahaya…” Batin Jongin, pria yang baru saja bertabrakan dengan Luhan. Ia kemudian ikut mengejar untuk membantu Luhan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Akh! Sial! Jalan buntu!” Batin Luhan yang terperangkap dalam jalan buntu. Sedangkan tepat di belakangnya terdapat dua orang yang siap menangkapnya.

“Kau tidak bisa mengelak lagi tuan Xiao. Kau…”

Buagh!! Tiba – tiba saja salah satu dari mereka tersungkur di hadapan Luhan.

“Tian na (astaga)! Siapa yang…hee? Dia??”

Buagh! Duakh! Dalam sekejap, kedua pria yang mengejar Luhan sudah tidak berkutik.

“Kajja! Kita pergi sebelum mereka bangun!” Ajak Jongin.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Gamsahamnida..kau sudah menolongku… Xiao Lu…kau bisa panggil aku Luhan..” Pria itu mengulurkan tangannya.

“Jongin..Kim Jongin..panggil saja Kai..” Jawabnya.

Mereka berdua kini berada di sebuah cafe. Sebagai rasa terima kasihnya, Luhan mentraktir Jongin ke sebuah cafe.

“By the way, kenapa kau dikejar oleh mereka?” Tanya Jongin.

“Mereka ingin membunuhku.”

“Mwo?! Kenapa tidak lapor polisi?”

“Tidak bisa.. Boss mereka orang yang memegang jabatan tinggi di negaraku. Dan untuk relasi disini, kurasa sama saja. Polisi akan patuh dengan perintahnya.” Papar Luhan.

“Itu hanya oknum..”

“Sayangnya oknum itu sangat banyak..” Ucap Luhan lagi.

“Tapi, kenapa kau ingin dibunuh?”

“Karena aku saingan bisnisnya.”

“Mwo?? Kau sudah kerja? Ah! Maksudku…gege.. Aku pikir kau..ehm..maksudku gege lebih muda dariku..” Ucap Jongin yang tidak mengira usia Luhan lebih tua darinya.

Luhan hanya tersenyum, “Aku sudah bekerja dua tahun yang lalu.. Bagaimana denganmu?”

“Aku masih kuliah, ge.. Semester keempat.” Jongin menunjukkan empat jarinya.

“Wah! Daebak!”

“Daebak ya…aku tak merasa demikian…kalau saja kedua orang tuaku masih ada…”

“Hng… Orang tuamu kemana, Kai?” Tanya Luhan.

“Sudah di surga, ge…” Jawab Jongin tersenyum tipis.

“Mianhae…aku tidak bermaksud menyinggungmu..”

“Gwaenchana, ge…”

“Uhm…lalu kau tinggal dimana Kai?”

“Di rumah ahjumma ku. Tapi aku berniat untuk keluar..”

“Wae?”

“Aku tidak betah..aku sudah mengumpulkan uang untuk membeli apartment.”

“Simpan saja uangmu.. Kita bisa tinggal bersama kan?” Ajak Luhan.

“Geundae….”

“Gwaenchana…aku juga kan tinggal sendiri..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tanpa mereka sadari waktu yang terus berputar, membuat mereka yang semula hanya berdua, kini tinggal bersama sepuluh pria lainnya. Rata – rata hal yang membuat mereka tinggal terpisah dari lingkungan mereka dan keluarganya adalah sama. Sama – sama ingin menenangkan pikiran. Namun, lambat laun mereka berdua belas hidup saling ketergantungan layaknya keluarga.

Suho, pria yang bernama asli Kim Junmyeon ini memiliki banyak uang dari beberapa perusahaan yang banyak membuka cabang di berbagai belahan dunia. Namun hidupnya terus tertekan karena tuntutan keluarganya yang mengharuskannya mencari pasangan hidup. Pria yang tidak suka dengan situasinya, memilih menghilang dari keluarganya.

Kris, pria berkebangsaan China-Canada yang bernama asli Wu Yi Fan ini juga berasal dari golongan atas. Hidupnya yang serba mewah membuatnya bosan dan ingin hidup sederhana dengan uang secukupnya. Tak hanya itu, kedua orang tuanya yang bercerai juga turut menjadi pemicunya untuk hidup mengasingkan diri.

Lay, pria asal China yang bernama Zhang Yi Xing ini sering mengalami depresi akibat penyakitnya. Hemofilia. Itu yang membuat hidupnya penuh ketakutan. Tak hanya itu, keluarganya pun seolah membuangnya. Mereka tak peduli lagi dengan keberadaan Lay. Namun, sejak bertemu teman – teman lainnya dan tinggal bersama kesebelas pria itu, hidupnya pun menjadi semangat seolah rasa takut itu menguap begitu saja.

Chanyeol-Park Chanyeol, pria yang tingginya nyaris menyamai tinggi Kris sering mengalami tekanan batin. Dibalik wajahnya yang selalu terlihat ceria, tertawa, dia menyimpan rasa kekecewaan yang terpendam terhadap keluarganya. Hanya dengan sebelas pria yang sudah dianggap kakak dan adiknya lah ia bisa terbuka dengan masalahnya.

Lelaki yang memiliki mata kecil yang bernama Byun Btaekhyun ini juga hampir memiliki kesamaan situasi dengan Chanyeol. Hanya, bedanya, ia masih sedikit mengungkapkan rasa emosinya dengan marah.

Do Kyungsoo, pria kecil yang memiliki hobi memasak ini juga merasa kecewa dengan keluarganya. Keluarganya tidak setuju jika ia berkarir di dunia kuliner sesuai hobinya dan lebih menyukai Kyungsoo meneruskan bisnis ayahnya di bidang teknologi.

Kim Jongdae, sering dipanggil Chen oleh teman – temannya sejak tinggal bersama. Ia terus menerus mendapatkan terror yang entah dari mana asalnya. Lelaki yang sering dipanggil ChenChen oleh Kris ini dekat dengan pria yang memiliki pipi yang sering dipanggil Baozi.

Kim Minseok, ia mengubah namanya menjadi Xiumin sejak ia merasa terusir dari rumahnya sendiri akibat ulah kekasihnya. Karena itulah ia memilih pergi dari rumah. Pria ini sering dipanggil Baozi dan paling dekat dengan Chen.

Tao, pria bermarga Huang ini pernah dikalahkan dalam tournament wushu. Dan karena itu ia merasa sangat terpuruk terlebih lagi keluarganya yang selalu memakinya karena kekalahan tersebut. Pasca kekalahan tersebut, niatnya untuk bunuh diri sempat terlintas dibenaknya. Namun, adanya Kris yang saat itu sedang berlibur di pantai di malam hari, berhasil menggagalkan niat buruk pria dengan kedua lingkar mata hitam di matanya itu untuk bunuh diri. Dan sejak itu Tao diajak Kris untuk bergabung dengan yang lainnya.

Sehun, pria termuda diantara kedua belas pria lainnya ini memiliki wajah yang sangat digandrungi banyak wanita. Namun karena hal itulah ia sering mendapatkan ancaman dari beberapa wanita yang mengiriminya surat ancaman yang membahayakan kehidupannya. Ia diajak oleh Luhan untuk bergabung dalam rumah itu.

Kedua belas pria itu memiliki nama sendiri untuk tempat yang mereka tinggali bersama. ‘EXO Dormitory’, begitulah mereka sering menyebutnya. Nama EXO sendiri, mereka ambil dari nama planet terbaru di galaxy. Dan kenapa mereka menyebut tempat tinggal itu sebagai ‘dorm’, karena rumah itu seperti sebuah asrama bagi mereka. Peraturan demi peraturan mereka buat bersama untuk mengatur kehidupan mereka. Dan mereka pun sering menyebut Kyungsoo sebagai ‘eomma’ mereka karena sering memasakkan makanan untuk mereka. Dan juga Suho sebagai ‘appa’ mereka karena tak jarang Suho memberikan uang bagi mereka yang masih berkuliah seperti Jongin, Sehun, Baekhyun, dan Tao.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kalian tidak makan? Ini makanan sudah siap..” Ujar Kyungsoo malam ini. Suho pun melangkah menuju ruang makan meninggalkan Kris dan Chen yang sedang bermain game di ruang tengah.

“Yaak! Gege curang!” Seru Chen.

“Anniyaa~~” Bantah Kris tertawa.

“Eommaaa~~ Kenapa masak sebanyak ini??” Tanya Suho.

“Aku ingin saja…” Jawab Kyungsoo.

“Kau tidak ingat?” Tanya Lay pada Suho. Suho pun mengernyitkan dahinya. Ia kemudian menggelengkan kepalanya.

“Anniversary kita?” Sambung Luhan yang tanpa mereka sadari berada di dapur dengan tangan yang memegang gelas berisi juice jeruk.

“Yup!” Jawab Kyungsoo dan Lay bersamaan. Kedua pria itu masih tampak sibuk dengan makanan yang mereka buat. Tidak terasa malam ini adalah malam dimana mereka tepat setahun hidup bersama, di lingkungan yang sama meski pun terpisah dari tiap keluarga mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku pulaaangg~~~”

“Waseoo, Kaiii~~~” Teriak mereka bersamaan dari posisinya masing – masing.

“Kajja kita makan..”

“Makan? Aku terlambat ya?” Tanya Kai.

“Ppali Kai, kau ganti baju dulu..” Ujar Kyungsoo.

“Kris, Chen, ppali…nanti lagi main game-nya. Yeolliiee~ Baekkie~ Hunn~ Tao~” Kyungsoo memanggil mereka satu per satu.

“Aah~ Aku laparr~~” Xiumin bergegas menuju ruang makan.

Tanpa menunggu waktu lama mereka semua telah berkumpul di ruang makan untuk santap malam bersama. Tapi ada satu keanehan di saat itu. Baekhyun dan Chanyeol tidak saling bertegur sapa. Karena sifat ekspresif Baekhyun, mereka semua menebak dari raut wajah Baekhyun kalau ia sedang kesal. Sementara Chanyeol, seperti biasa, ia selalu tertawa bahkan meledek lainnya meski pun tidak bicara dengan Baekhyun.

“Kenapa mereka?” Batin Kris.

“Kris ge, nanti temani aku mandi..” Tiba – tiba Tao mengeluarkan suaranya setelah sejak tadi diam.

“Uhuk..uhuk..uhuk..” Kris yang namanya disebut langsung terbatuk – batuk mendengar permintaan Tao.

“Ommoo…” Lay langsung memberikan segelas air untuk Kris.

“Xie-xie, Lay…” Lay hanya tersenyum menunjukkan lesung pipinya.

“Tao, tidak bisakah kau mengatakan itu setelah makan malam?”

“Kan aku mau mandinya setelah makan ini, ge..” Ujar Tao.

“Haiishh.. Terserah kau lah..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah semuanya beristirahat, entah kenapa Kris yang sekamar dengan pria yang memiliki lingkar mata hitam ini tidak bisa tidur. Perlahan ia menurunkan kedua kakinya, menapaki karpet kamarnya yang menutupi lantai. Dibukanya pintu kamarnya dengan hati – hati agar Tao tidak terbangun.

Gelap. Itulah yang ada di hadapan Kris saat ini. Ya, memang apartment itu semua lampunya dimatikan dikala semua pria itu tertidur. Dengan seberkas sinar yang berasal dari ponselnya lah ia keluar apartmentnya meskipun hanya memakai baju lengan panjang dengan kerah ‘turtle neck’.

“Haish! Mantelku…” Kris menghentikan langkahnya sejenak setelah ia berada di depan lift. “Akh! Sudahlah…” Batinnya lagi. Ia pun menuruni lantai demi lantai apartment itu dengan lift hingga akhirnya ia berada di lobby gedung apartmentnya. Seorang petugas keamanan menyapanya dan dibalas oleh lelaki itu.

“Oh man! It’s too cold!” Batinnya saat berada di depan gedung apartmentnya. Tapi dengan nekat, Kris berjalan keluar menikmati turunnya salju malam itu. Serpihan salju, udara dingin yang ditemani cahaya lampu berwarna warni untuk menyambut natal pun berada di hadapannya. Ia kemudian memilih untuk duduk di bangku taman gedung apartment tempat ia tinggal dengan kesebelas pria lainnya. Dingin yang serasa menusuk tulang itu diabaikannya saat ia menduduki bangku walau pun salju sudah banyak menutupi kepalanya.

Pria itu hanya duduk diam menatap lurus arah depannya seolah menerawang benaknya sendiri.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Rasa dahaga pria itu mendorongnya untuk keluar kamar dan menuju dapur. Dituangnya air hangat ke dalam gelasnya.

“Gelap sekali sih…buka saja sedikit jendelanya..” Batinnya. Ia pun menyibakkan tirai yang menutupi jendela apartmentnya itu.

“Hah? Gege??” Gumamnya ketika melihat sosok pria yang dikenalnya sedang duduk di bangku taman halaman gedung apartmentnya. Tanpa ragu ia meletakkan gelasnya di counter dapur, kembali ke kamarnya untuk mengambil jaket, dan menyambar mantel milik Chanyeol yang memang berada di gantungan mantel dekat pintu apartment.

“Ck! Bagaimana gege bisa keluar tanpa mantel sedangkan saat ini dinginnya bisa mencapai minus lima derajat.” Gumamnya sambil menunggu di dalam lift.

Sementara itu, Kris masih betah berdiam diri meskipun jemarinya yang panjang terlihat semakin memutih karena dinginnya suhu.

Sret~! Sesuatu dilempar ke arahnya saat pria itu sibuk dengan lamunannya.

“Lay..??” Ucapnya saat menoleh dan melihat lelaki dengan lesung pipi itu berada di belakangnya.

“Kenapa gege tidak pakai mantel? Pakailah, ge…”

Kris hanya menarik sedikit kedua sudut bibirnya, “Xie xie, Lay..”

“Buxie, ge… Apa gege ada masalah?” Tanyanya yang berdiri di samping Kris yang terduduk sambil memakai mantelnya untuk menghangatkan tubuhnya.

“Tidak ada.. Aku hanya ingin berdiam diri saja..” Dalih Kris yang mencoba menyembunyikan pikirannya. Karena sebenarnya, ia rindu dengan ibunya namun ia masih kesal dengan permasalahan rumah tangga kedua orang tuanya.

“Kalau begitu, bagaimana kalau gege berdiam dirinya di dalam saja?” Tawar Lay.

“Aku hanya ingin di sini..”

“Baiklah..” Jawab Lay yang kemudian ikut duduk di samping Kris.

“Kenapa kau duduk di sini? Masuk ke apartment..nanti kau sakit.”

“Aku memang sudah sakit kok, ge…” Ujar Lay terkekeh.

“Bicara apa kau?” Kris menanggapinya dingin.

“Kalau gege di sini, aku juga akan di sini. Hatchi~” Pria itu kemudian bersin setelah menuntaskan ucapannya.

“Kajja, kita masuk..” Kris akhirnya mengajak Lay kembali memasuki gedung apartmentnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kris yang menyadari Lay sakit, ia memberikan air hangat untuk minum Lay.

“Jangan sampai kau flu..” Pria itu memberikan segelas air hangat pada Lay.

“Xie xie, ge…”

“Ne, cepat sana kau tidur..” Suruh Kris pada Lay.

“Tidak mau!” Bantah Lay.

“Kau….ck, kau ini…”

“Aku tidak mau, karena kurasa gege ada masalah…” Ujar Lay.

“Tidak ada kok, Lay…”

“Bohong, mata tidak bisa berbohong, ge…”

Kris kemudian mengambil duduk di samping pria yang memegang gelas tersebut, “Baiklah, aku menyerah..” Kris hanya menghela napasnya. “Aku rindu keluargaku, tapi aku tidak bisa pulang.” Lanjut Kris.

“Maksud gege?” Tanya Lay yang menoleh pada Kris.

“Kau tahu kan kondisi keluargaku yang…mereka sudah bercerai.” Ujar Kris dengan wajah yang tampak ekspresi.

“Lalu? Apa hubungannya? Tidak ada salahnya kan kalau kau menjenguk ibumu, ge? Atau mungkin ayahmu…”

“Dad…aku tidak tahu dimana Dad berada sekarang sejak cerai dengan Mom. Hanya tas itulah yang menjadi peninggalan terakhir dari Dad.” Tutur Kris.

“Hhmm kalau begitu, kau jenguk saja ibumu, ge.”

“Haahh~~ Mungkin lain waktu.. Sudahlah Lay, kita tidur saja..” Kris bangkit dari duduknya di atas sofa dan beranjak ke kamarnya. Begitu juga dengan Lay, ia menuju kamarnya dimana Suho juga tidur di sana.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Matahari pun sudah terbit, Kyungsoo yang sudah selesai memasak dengan ditemani oleh Suho segera membangunkan kesepuluh kakak-adiknya. Suho kembali ke kamarnya dan membangunkan teman sekamarnya, Lay.

“Irreona…Lay.. Yi Xing, irreonaaa~” Suho menepuk – nepuk bahu pria itu.

Sementara itu, Kyungsoo mengetuk kamar Luhan dan Sehun, kamar Baekhyun dan Chanyeol, kamar Kris dan Tao, Kamar Xiumin dan Chen, dan ia kembali ke kamarnya untuk membangunkan Jongin untuk kuliah.

“Hunnie, irreonaa~” Ujar Luhan dengan malas dan berusaha melawan rasa kantuknya.

“Hng gege…nanti saja…” Ucap Sehun.

“Memangnya kau tidak kuliah, eoh? Sana kau mandi…” Luhan menarik tangan Sehun.

“Ne, gege…”

“Gegeeee~~ Banguunn!!” Tao menarik – narik lengan Kris.

“Diamlah..masih tengah malam.. Tidur saja lagi..” Kris menarik selimutnya kembali.

“Yaaa!! Ini sudah jam tujuh, ge…”

“Beluum…jangan ganggu gege tidur…” Ujar Kris malas.

Tidak habis akal, Tao menarik kaki Kris hingga pria itu jatuh dari tempat tidurnya.

Bruukk!!

“Yaaa!!” Sontak Kris yang tidak suka tidurnya diusik berteriak pada Tao.

“Habisnya kau susah dibanguni sih, ge..haha..”

“Haish! Anak ini..” Batin Kris yang hanya melempar bantal ke wajah Tao dan berjalan keluar kamar.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hoaahhmm~~” Chanyeol keluar kamarnya dengan menutup mulutnya yang terbuka karena masih mengantuk.

“Yang mau kuliah, cepat mandi!” Suho berkata sambil menuangkan susu di gelasnya.

“Aku duluan deh mandi..” Ujar Chanyeol.

“Eh, tidak bisa hyung! Aku duluan! Aku hanya setengah jam mandinya, sedangkan Yeol hyung satu jam kan?” Ujar Jongin.

“Annii~~ Aku hanya dua puluh lima menit! So, aku lebih sebentar mandinya.” Sela Baekhyun yang sudah dengan handuk yang tergantung di lehernya.

“Annii~~ Aku dulu!” Jongin terlihat menghalangi pintu kamar mandi dari Baekhyun.

“Kau mengalahlah dengan yang lebih tua..” Ujar Baekhyun.

“Annii~~ Hyung yang harusnya mengalah denganku!” Balas Jongin.

“Annioo~~ Yakk! Kai, kenapa kau tidak mau mengalah sih?!”

“Aku ada ujian, hyuungg~~”

“Kau pikir kau saja yang ada ujian? Aku juga adaaa~~” Baekhyun tidak mau mengalah.

Saat Jongin dan Baekhyun berdebat, Kris dengan santainya masuk ke dalam kamar mandi.

Ckrek! Kedua pasang mata itu pun langsung menoleh ke arah pintu kamar mandi yang tertutup.

“Omoo!!! Siapa di dalam??” Tanya Baekhyun.

“Kris ge sepertinya…” Ujar Xiumin.

“MWORAGO?!!!” Jongin dan Baekhyun melebarkan kelopak matanya.

Dan detik itu juga Jongin dan Baekhyun mengetuk pintu kamar mandi itu dengan keras, “Yaaakkk!!! Kris geee!! Cepat keluaarrr!!! Yaaakkk!!!! Gegeeee!!! Jangan mandiii!! Kita ada ujiaaaann!!! Kris geee!!! Gegeee!!!” Selain Chanyeol yang terhitung lama saat mandi, Kris pun demikian. Dan terkadang ia menghabiskan waktu dua jam untuk mandi.

“Ck! Kalian ini berisik tahu tidak?!” Kris keluar dari kamar mandi. Pria itu mengalah untuk mandi untuk mereka yang sudah dianggap adiknya sendiri.

Bukannya mereka mandi, tapi kedua lelaki itu kembali berdebat di depan pintu kamar mandi. Dan ini dimanfaatkan oleh Sehun yang juga harus kuliah. Ia melenggang dengan santainya ke kamar mandi.

“YAAAAK!!!! HUNNIEE!!! Keluar kau, maknaee!!!” Jongin berteriak dari luar.

“Sehunnaaa~~~ Ppali keluaarr!!” Baekhyun tak mau kalah.

“Sepuluh menit lagi hyuuunnngg~~” Teriak Sehun dari dalam.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara Baekhyun, Chanyeol, Sehun, dan Jongin pergi kuliah, Kris dan Suho sibuk di kamar masing – masing. Suho walau pun jarang keluar apartment itu, tapi ia masih tetap mengerjakan tugas kantornya via online. Begitu juga dengan Kris. Ia menjalankan sebagian anak perusahaan ayahnya sebagai harta peninggalan pasca perceraian kedua orang tuanya.

Sedangkan Luhan, ia memang mengerjakan tugas kantornya, tapi ia lebih suka membawa laptopnya ke ruang tengah dan mengerjakannya di sana. Sementara Lay sibuk membuat lagu ditemani oleh Chen yang ikut bernyanyi dengan iringan petikan gitar dari Lay. Kyungsoo dan Xiumin sibuk di dapur. Sesekali terdengar teriakan Kyungsoo yang menyuruh Xiumin berhenti memakan masakannya sebelum jadi semua. Sementara mereka semua sibuk dengan aktifitas masing – masing, Tao memilih menonton film kesukaannya, kung fu panda.

“Hah? Audisi menyanyi?” Kris yang senang menjelajahi internet, melihatnya dan tiba – tiba teringat dengan Chen. Kemudian, ia segera membawa laptopnya keluar kamarnya dan segera menunjukkannya pada Chen.

“ChenChen~”

“Tao~”

Sontak Suho dan Kris terpaku pada posisi mereka masing – masing dengan laptop di kedua tangan mereka.

“Chen, lihat ini..tak mau kah kau ikut audisi ini?” Tanya Kris pada Chen.

“Gege, aku takut tidak lolos..” Ujar Chen.

“Pabbo! Suaramu bagus..kau coba saja dulu!” Ujar Kris.

“Geundae…” Chen terlihat ragu.

“Okay, paling tidak kau kuliah. Meneruskan pendidikanmu? Sama dengan Lay.” Kris terlihat sibuk meneliti layar laptopnya menelusuri deretan kalimat.

“Hah? Kok aku?” Tanya Lay.

“Kau lebih baik kuliah, Lay.. Jurusan musik tidak buruk kan untuk kalian berdua?” Lanjut Kris.

“Ta..tapi, ge..”

“Biaya kuliah?” Tanya Kris. Kedua pria itu hanya terdiam karena tebakan Kris ada benarnya. “Aku yang akan menanggungnya.” Lanjut Kris.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Dan kurasa Tao juga perlu kuliah.” Lanjut Suho.

“Shireo.” Tolak Tao cepat.

“Ya, itu ada benarnya juga kok. Aku saja ingin kuliah lagi.” Sambung Luhan sambil mengetik.

“Kalau begitu, Luhan ge saja yang kuliah.” Ujar Tao lagi.

“Kalau aku sudah pernah kuliah, Tao..kau belum kan?” Sambung Luhan.

“Sudah.. Dua semester..” Jawab Tao.

“Haish! Panda ini..” Suho menepuk keningnya. “Hyung tidak mau tahu, kau, kau, dan kau harus kuliah!” Tunjuk Suho pada Chen, Lay, dan Tao.

“Mworago?!!” Ketiga pria itu terkejut mendengarnya.

“Anni..annii.. Aku..kami tidak mau merepotkan kalian. Kris ge, Suho hyung, dan Luhan ge sudah membiayai Chanyeol, Kai, Baekhyun, dan Sehun kuliah semenjak kita tinggal bersama kan?.” Memang ketiga pria itu lah yang berkewajiban menanggung semua pengeluaran mereka setelah mereka memutuskan untuk keluar dari keluarga mereka. Bukan berarti karena ketiga pria itu menanggung kehidupan mereka berdua belas tanpa perdebatan. Mereka semua tetap bersikukuh untuk bekerja. Namun, sebagai jalan tengah, Kris dan Suho memutuskan, mereka boleh bekerja jika mereka sudah lulus dari universitas.

“Kau mau keluar dari kesepakatan kita, Chen? Kau lupa dengan kesepakatan kita? Dulu, kau minta waktu untuk menenangkan diri dari terror yang terus menghampirimu. Dan mau sampai kapan kau tidak bangkit dan menghalau rasa takutmu?” Tanya Suho.

“Dan kau, Lay.. Aku salut dengan rasa beranimu melawan penyakitmu. Tapi, kurasa pendidikan juga perlu untukmu. Ah! Satu lagi, Tao.. Apa yang sebenarnya kau takuti? Kau hanya tinggal duduk di kelas, dan mendengarkan pelajaran layaknya kau sekolah dulu.” Lanjut Suho.

“Sudahlah..kalian tidak usah membantah.. Sangat disayangkan kalau kalian yang masih muda tapi tidak punya pendidikan yang tinggi..” Sambung Luhan.

“Baiklah… Kalau begitu tidak ada masalah! Nanti aku dan Suho yang mengurusnya.” Ujar Kris.

“Oh ya, hyung..tadi apa yang mau hyung bicarakan tadi?” Tanya Tao pada Suho.

“Hhng..ini..Tao, kau ikut tournament ya!” Tiba – tiba Suho menunjukkan layar laptopnya pada Tao.

“Mwo?!!” Raut wajah Tao terlihat malas dan kesal saat Suho menyinggung kata ‘tournament’

“Oh, God! Tao kan sedikit sensitif kalau disinggung masalah pertandingan…” Batin Kris.

“Wushu..kau kan jago!” Suho menepuk bahu Tao. Tapi pria itu menepisnya dan segera ke kamarnya tanpa sepatah kata pun.

“Hyung…dia kan…” Chen menggantungkan kalimatnya.

“Mwoya?! Aku lupa..mianhae…” Suho terlihat menyesal.

“Bagaimana ini…” Gumam Lay.

“Kris saja yang bicara dengannya.” Ujar Luhan.

“Wae?” Tanya Kris.

“Karena gege, room mate nya..” Sambung Chen.

“Ck, aku juga yang turun tangan..” Batin Kris.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Cklek! Cklek! Kris berusaha membuka pintu kamarnya. Tapi sepertinya pintu kamarnya terkunci dari dalam.

“Ya! Tao, buka pintunya!” Tapi pria yang ada di dalam kamar itu tidak menyahut sekali pun.

Prang! Terdengar suara pecahan kaca di dalam kamarnya.

“Tian na (astaga)! Semoga ia tidak bertindak konyol seperti dulu…” Batin Kris.

“Yaa! Buka pintunya, Tao!!”

“Ge, ada apa?” Tanya Kyungsoo yang masih menggunakan apron dan membawa spatula-nya. Terlihat Xiumin juga masih memakai apronnya.

“Ada apa Kris?” Tanya Xiumin.

“Hng..itu.. Kurasa Tao hanya salah paham dengan Suho.” Jawab Kris.

“Tapi kudengar ada suara sesuatu yang pecah?” Ujar Xiumin memastikan.

“Ya, mungkin saja ada yang jatuh? Sudah..dia tidak apa – apa..” Ujar Kris lagi. Xiumin dan Kyungsoo akhirnya kembali ke dapur.

“Tao, buka pintunya!”

Tak lama kemudian, pintu pun dibuka dari dalam. Bantal, figura keluarganya yang ada di nakas, selimut, dan beberapa barang berserakan di lantai.

“Kenapa berantakan seperti ini?” Kris mengambil bantal dan selimut yang kemudian ia lemparkan ke ranjang Tao. Ia kemudian membereskan pecahan – pecahan kaca dari figura foto milik Tao.

“Simpan fotonya..” Ujar Kris yang memberikan bingkai foto tanpa kaca itu pada Tao.

“Ge, aku mau keluar dari sini..” Tao berkata pelan disela tangisannya.

“Kau tahu, kau pria terpayah yang pernah kutemui… Dan kau sangat membuatku malas bicara denganmu.” Ujar Kris tajam. Dan sepertinya semakin membuat pria dengan lingkar hitam di mata itu semakin menangis.

“Hanya dengan satu kata, kau bisa separah ini? Kau gila, eoh? Apa kau tidak bisa jadi kuat seperti dulu?” Tao hanya bisa diam.

“Dari yang kutahu, namamu dulu selalu muncul di berbagai pemberitaan olahraga. Kau pernah menang juara tiga di International Wushu Competition dan mendapatkan juara pertama di Qingdao Broadcasting Wushu Sword Competition. Tapi, kenapa sekarang tidak? Kau menyerah hanya baru sekali kalah? Dalam pertandingan, pasti ada yang menang dan ada yang kalah. Kalau kau kalah, itu seharusnya menjadi pemicu untukmu agar lebih baik lagi. Bukan menyerah seperti ini.” Lanjut Kris.

“Pikirkan ucapanku. Dan minta maaf pada Suho.”

“Mianhae, gege…” Lirihnya.

“Bukan denganku, tapi dengan Suho. Kau tidak sopan dengannya tadi!” Kris kemudian meninggalkan Tao di kamar sendirian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hyung~”

“Tao, mianhae…” Ujar Suho cepat.

“Anni..aku yang salah..mianhae, hyung..” Ujar Tao.

“Baiklah, aku tidak akan memaksamu untuk ikut itu..” Lanjut Suho.

“Tapi, kurasa aku ingin ikut, hyung..bagaimana cara mendaftarnya?”

“Jeongmal?! Kau mau ikut?!!” Suho terlihat antusias. Terlebih lagi, Tao menjawabnya dengan anggukan kepalanya.

“Baiklah.. Kita daftar, lalu kita atur jadwal latihanmu.” Lanjut Suho.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hyung, kau marah dengan Baekki hyung?” Tanya Jongin di sela – sela waktu istirahatnya di kampus. Jongin, Chanyeol, Baekhyun, dan juga Sehun berada di satu kampus meski pun mereka memilih jurusan mereka masing – masing.

“Marah? Annio..kau ini ada – ada saja Kai!” Ujar Chanyeol yang berbohong.

“Tapi, sudah dari kemarin sepertinya kalian tidak bertegur sapa..”

“Jeongmal?” Chanyeol hanya membaca buku sambil bersandar di bawah pohon yang beralaskan rerumputan yang hijau.

“Hyung…”

“Wae Kai?” Tanya Chanyeol.

“Hyung bohong kan?” Desak Jongin.

“Anni…”

“Walau pun kau bisa menyembunyikannya, tapi tidak dengan Baekki hyung. Dia terlihat jelas marah denganmu, hyung. Kau ada masalah dengan Baekki hyung kan?” Jongin terus mendesak Chanyeol.

“Haha kau ini…lebih baik kau tanya sendiri saja dengan hyung mu itu… Hhmm, Kai mianhae, sepertinya aku harus ke ruang musik. Bertemu di dorm saja ya. Bye!” Chanyeol pun beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jongin di taman kampusnya.

“Sebenarnya mereka berdua kenapa?” Batin Jongin.

Tanpa Jongin sadari, seorang pria berdiri di belakangnya. Seolah bisa membaca pikiran Jongin, pria itu berkata, “Dia berniat keluar dari dorm kita.”

“Mwo?!!”

“Kau janji tidak akan bilang pada siapa pun, Kai.” Ujar Baekhyun.

“Ta..tapi..Yeol hyung..wae? Kenapa dia mau keluar?”

“Mollaso~ Sangat tidak beralasan. Ya, kau tahu sendiri kan, Chanyeol sering memendam masalahnya sendiri?” Baekhyun sedikit menghela napasnya.

“Hyung sudah bertanya padanya?” Tiba – tiba Sehun yang baru datang menyela pembicaraan. Ya, Sehun sengaja menunggu waktu yang tepat untuk ikut dalam perbincangan ini.

“Hunnie…da..dari mana kau tahu?” Baekhyun sedikit kaget menlihat kedatangannya.

“Aku pernah melihat Yeollie hyung menangis sendirian. Dia mengeluhkan keadaannya sendiri.” Ujar Sehun yang kemudian duduk di samping Jongin yang masih betah berlama – lama duduk di atas rerumputan dengan menyandarkan punggungnya pada pohon rindang di belakangnya.

“Apa yang dikatakannya?” Tanya Baekhyun penasaran.

“Tekanan finansial.” Sehun hanya mengeluarkan kata itu. “Kurasa..” Tambah Sehun.

“Maksudmu?” Tanya Baekhyun.

“Aku juga tidak tahu pastinya, hyung. Yang kudengar, Yeol hyung menyesali perbuatannya, karena dia, noona-nya harus menikah dengan seorang ahjussi..”

“Untuk membayar hutang?” Tanya Jongin.

Sehun hanya menggidikkan kedua bahunya, “Molla, bisa saja..”

“Lalu apa hubungannya dengan keluar dorm?” Tanya Jongin lagi.

“Dia tidak mau membebanni Kris ge, Luhan ge, dan Suho hyung, dan dia akan berhenti kuliah…”

“Keluar dorm dan bekerja..” Sambung Sehun dari ucapan Baekhyun.

“Tepat!” Baekhyun menjentikkan jarinya.

“Ini tidak bisa dirahasiakan dari semuanya, hyung..” Ujar Jongin.

“Paling tidak kita harus memberitahukannya pada gege..maksudku, Luhan ge, Kris ge, dan Suho hyung. Karena mereka yang menanggung kita semua…” Lanjut Jongin.

“Geundae….bagaimana kalau mereka..aku takut beban pikiran mereka bertambah…” Baekhyun terlihat khawatir.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah pulang kuliah, mereka bertiga sepakat untuk bertemu dengan Kris, Suho, dan Luhan di sebuah cafe.

“Kalian ini ada apa sih kenapa minta kita ke sini? Kenapa kalian tidak pulang dan membicarakan ini di rumah?” Tanya Suho.

“Hng.. Ini sebenarnya…” Jongin ragu mengutarakannya.

“Terkait dengan Chanyeol…” Ujar Baekhyun. Kris yang sedang membaca menu cafe itu terdiam dan tangannya berhenti menelusuri deretan huruf pada menu itu dan mengangkat kepalanya.

“Ada apa dengan Chanyeol?” Tanya Kris.

“Chanyeol…dia mau keluar dorm.” Kris dan Suho langsung menatap Baekhyun tidak percaya, sementara Luhan hanya menghela napasnya dan perlahan bersandar pada sandaran kursi cafe tersebut.

“Aku tidak kaget…” Ujar Luhan.

“Maksudmu?” Tanya Kris pada Luhan.

“Aku sudah mengira ini akan terjadi.” Ujarnya singkat dengan memasukkan kedua tangannya ke dalam saku jaketnya dimana terdapat kantung hangat untuk musim dingin. Penuturan Luhan membuat Kris dan Suho mengernyit berusaha menela’ah maksud Luhan.

“Karena finansial kan, Baekki?” Luhan memastikannya pada Baekhyun.

“Sehun sih menebaknya seperti itu.” Ujar Baekhyun.

“A..aku tidak sengaja mendengar Yeol hyung menangis.” Sambung Sehun.

“Jadi seperti ini… Chanyeol, dulu sangat ingin sekolah musik. Namun, keinginannya ditentang oleh orang tuanya yang berkeinginan Yeol masuk ke bidang ekonomi. Dan Chanyeol, disekolahkan khusus di bidang tersebut dengan uang hasil pinjaman. Kalian tahu kan sifat Chanyeol? Dia selalu menurut dan tersenyum meski pun tidak suka. Chanyeol menuruti orang tuanya dengan sekolah di bidang ekonomi. Tapi, akhirnya Chanyeol tidak bisa menahan tekanan itu dan akhirnya pergi dari rumah, menghilang dari keluarganya dan datang pada kita. Belakangan ini, noona-nya menelponnya untuk memberitahukan pernikahannya. Dan ternyata, noona-nya akan menikah dengan orang yang meminjamkan uang untuk Chanyeol sekolah itu. Noona-nya menelpon sambil menangis karena dia bilang usia mereka terpaut lima belas tahun dari usia noona-nya. Dari situ lah, Chanyeol berniat untuk membebaskan keluarganya dari hutang itu. Oh, aku lupa memberitahukan, Chanyeol bekerja part time di beberapa cafe untuk tabungannya. Karena itu lah ia selalu pulang larut malam dengan alasan kuliah.” Jelas Luhan panjang lebar.

“Jadi dia kuliahnya tidak pulang malam?” Tanya Suho.

“Anni, dia bekerja.” Ujar Luhan.

“Dan kau menutupi masalah ini dari kita, Lu? Kalau kita tahu, kita kan bisa memberikan uang untuk menutupi hutang keluarga Yeol…” Ujar Kris.

“Yeol memintaku untuk merahasiakan ini. Aku juga sudah menawarkan bantuan padanya. Tapi dia tetap tidak mau menerimanya. Dia mau hasil kerjanya sendiri.” Jawab Luhan.

“Ck, anak itu benar-benar…” Kris terlihat kesal.

“Lalu, apa yang harus kita lakukan, hyung, ge?” Tanya Sehun.

“Ya, Luhan harus bicara padanya.” Ucap Suho.

“Aku sudah berkali – kali bicara padanya, Suho..tapi dia seolah menutup telinga dan matanya..”

“Kapan terakhir gege bicara?” Tanya Suho pada Luhan.

“Dua hari yang lalu…”

“Kalau kita berempat bagaimana? Aku, Suho, Luhan, dan dia..” Usul Kris.

“Boleh, nanti malam? Yeol juga sudah di dorm kan?” Tanya Luhan.

“It’s up to you..” Ujar Kris.

“Aku sih okay..” Ujar Suho.

“Baiklah..kalau begitu nanti malam..”

“Oh ya, sebenarnya aku tidak suka dengan Yeol yang seolah bermuka dua seperti itu. Karena itu lah kami bertengkar.. Kalian bisa bicarakan itu pada Yeol juga?” Tanya Baekhyun.

“Tentu saja, jika masalah ini sudah selesai Baekki…” Ucap Luhan tersenyum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu di dorm yang terdapat Kyungsoo, Xiumin, Tao, Chen, Lay, Yeol terlihat asik berkumpul membicarakan sesuatu.

“Aku ingin sekali kado natal di tahun ini..” Ujar Lay.

“Memangnya kau tidak pernah dapat, ge?” Tanya Tao. Lay pun hanya menggelengkan kepalanya.

“Ya..siapa tahu ini untuk pertama dan terakhirnya aku mendapatkan kado natal…”

Pletakk!

“Aww!! Yaakk!! Baozi ge! Kenapa menjitakku??!” Lay meringis kesakitan sembari mengusap kepalanya.

“Kau pantas mendapatkan itu! Mungkin kau akan mendapatkan kado pertama. Tapi tidak untuk terakhir!” Ujar Xiumin.

“Setuju dengan gege!” Sahut lainnya.

“Hey, bagaimana kalau kita tukar kado?” Usul Chen.

“Maksudnya?” Tanya Kyungsoo.

“Chakkaman..chakkaman!” Chen kemudian berlari ke kamarnya. Ia mengambil kertas, penggaris, dan juga pulpen.

“Untuk apa Chennie?” Tanya Xiumin.

“Begini, kita tulis nama kita berdua belas di sini..lalu kita undi. Kita ambil satu kertas. Dan nama yang ada di kertas itu lah orang yang harus kalian beri kado. Tapi, kalian tidak boleh menyebutkan namanya.” Jelas Chen.

“Tapi kalau nama kita yang keluar?” Tanya Tao.

“Ya kita ambil lagi sampai nama yang kita ambil bukan nama kita..” Ujar Chen lagi.

“Nanti saja..lebih baik kita berdua belas langsung mengambilnya.. Bagaimana?” Usul Lay.

“Great idea!” Ujar Chanyeol.

“Kajja, kita buat sekarang..” Ajak Kyungsoo.

Xiumin sibuk memotong kertas kecil dengan penggaris sedangkan Lay dan Chen sibuk menulis nama di potongan – potongan kertas kecil itu. Tao dan Chanyeol menggulung kertas itu sedangkan Kyungsoo membuat wadah untuk tempat kertas – kertas itu. Di saat mereka sedang membuat, keenam pria lainnya datang. Kris, Suho, Luhan, Jongin, Baekhyun, dan Sehun datang bersamaan.

“Waahh~~ Kok tumben sekali kalian datang bersamaan?” Sapa Lay.

“Tadi bertemu di bawah..” Ujar Luhan.

“Kalian sedang buat apa?” Tanya Suho.

“Ini hyung..kita tukar kado yuk saat natal nanti. Jadi, nanti kita ambil nama di sini, dan kita harus kasih kado padanya.” Jelas Lay sambil menulis di kertas itu.

“Ohh arraa..arra…undian begitu ya?” Luhan memastikan.

“Ne..” Ucap Lay dan Chen bersamaan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chaa! Masukkan ke sini semua!” Ujar Kyungsoo.

“Siapa dulu nih?” Tanya Xiumin.

“Leader duluaan~” Sahut Luhan menunjuk Kris.

“Anni…Suho saja dulu..” Ujar Kris.

“Hah? Aku?”

“Ppali~”

Suho pun mengambil lebih dulu. Lalu Kris pun mengambilnya.

“Eoh? Lay ya?” Batin Kris.

“Oh, kado apa untuk Xiumin ge? Bakpao?” Batin Suho.

“Tao? Kasih dia apa? Boneka panda? Tongkat wushu? Film barbie? Double sticks? Topi? Haihh~” Luhan menepuk dahinya.

“Wae, Han ge?” Tanya Baekhyun.

“A..anni..” Jawab Luhan tersenyum.

“Untuk Luhan ge…hmm..apa ya?” Batin Tao yang memperhatikan Luhan melihat barang apa yang sering dipakainya.

“Oh ya! Nanti saat natal, kita harus menebak dari siapa kado yang kita terima!” Tiba – tiba Chen menginterupsi.

“Hah?! Harus?” Tanya Kris.

“Harus dong, ge!” Sahut Baekhyun.

“Well, kalau begitu kita bisa menabung dari sekarang! Masih ada dua minggu lagi sebelum hari natal tiba.” Ujar Sehun.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yeol..kau sibuk tidak?” Kris bertanya pada pria bermata besar itu saat ia di dapur mengambil minum.

“Annio, ge..wae?”

“Kita bisa bicara berempat?”

“Empat?” Tanya Chanyeol dengan dahi berkerut.

“Ne, di kamarmu saja. Baekki juga tidak di kamar kan?”

“Ne, kajja…” Ajak Yeol.

Setelah itu, Luhan dan Suho pun ikut masuk ke kamar Yeol.

“Yeol, langsung saja… Aku mau kau jujur dengan kita..” Ujar Kris yang duduk di tepi ranjang Baekhyun yang bersebelahan dengan ranjang Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jujur apa ge?”

“Kalau kau ada masalah, cerita pada kita, Yeol..” Suho menepuk bahu Chanyeol.

Chanyeol menatap Luhan seolah menuntut penjelasan darinya.

“Yeol, kau tidak bisa seperti ini terus..” Ucap Luhan.

“Oh, aku ingat sekarang! Karena masalah keluargaku yaa?? Gwaenchana, ge..hyung..haha..” Chanyeol tertawa.

“Yeol! Hentikan sandiwaramu!!” Kris membentak Chanyeol yang memulai kebiasaan buruknya.

“Gege…kenapa gege…”

“Dengar Yeol, kita disini untuk membantumu! Kita tinggal di sini untuk saling membantu keluar dari masalah! Tapi kenapa kau sangat menutup dirimu dari kami? Untuk apa?!!” Emosi Kris keluar setelah ia berusaha menahannya.

“Untuk apa kau bilang, ge?!! Ini semua agar kalian tidak susah!! Aku tidak mau menyusahkan kalian!! Cukup aku saja!! Dan kau tidak berhak mencampurinya!!” Chanyeol bangkit dari duduknya dan menunjuk ke arah Kris dengan tidak sopan.

“Jelas berhak! Kau memilih tinggal dengan kita, dan kau menganggap kita semua keluarga, apa kau pikir di keluaarga saling tertutup hah?!!”

“Kau bukan keluargaku!!!” Chanyeol membentak Kris. Beberapa detik kemudian, ia menutup mulutnya seolah merasa kalau ia mengeluarkan kata yang salah.

Sementara Kris hanya bisa memandang Chanyeol dengan tidak percaya, “Jadi ini kau yang sebenarnya, Yeol…” Kris tersenyum miris. “Kau hebat! Benar – benar hebat!” Lanjut Kris yang kemudian keluar dari kamar Chanyeol.

“Astaga dduizzang itu…” Suho menghela napasnya.

“Tidak seharusnya kau seperti itu dengan Kris…” Ujar Luhan yang kemudian keluar kamar Chanyeol.

“Yeol, kenapa kau seperti ini…” Suho menepuk bahu Chanyeol. Mata lelaki itu sontak berkaca – kaca dan pandangannya buram karena air matanya yang mendesak keluar.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kris.. Boleh aku masuk?” Luhan mengetuk kamar Kris yang ditempatinya dengan Tao juga dari luar.

“Masuk saja..”

“Kau kenapa?” Tanya Luhan setelah masuk.

“Aku lelah dengan ini…” Jawab Kris.

“Kris, mungkin kata – kata aku keterlaluan. Tapi, bisakah kau tidak langsung emosi jika ada masalah? Kau bilang, kau lelah? Kau tahu, aku jauh lebih lelah darimu! Setiap hari aku selalu mendengarkan keluh kesah mereka, memikirkan keluargaku yang kutinggal, memikirkan perusahaan, tapi apa pernah aku mengeluh? Apa pernah kau mendengar keluh kesah ku? Aku tidak menganggap diriku hebat, aku hanya minta kau tidak emosi setiap ada masalah. Kita semua memang lelah. Kau, Suho, aku..semuanya lelah menghadapi mereka. Hanya itu Kris..hanya itu… Maaf kalau aku menyinggungmu..” Luhan mengatakan itu dengan air mata yang sudah mendesak pelupuk matanya. Sementara Kris hanya diam dan membelakangi Luhan. Tak lama terdengar suara pintu tertutup oleh Kris. Pria itu menebak kalau Luhan sudah pergi dari kamarnya.

“Apa aku paling bersalah disini? Yeol membentakku, dan Luhan..”

“Kalau begini…apa lebih baik aku enyah dari dorm ini?” Batin Kris. Pria itu kemudian memasukkan pakaiannya ke dalam tas dan kopernya. Mungkin dipikirannya, ia lebih baik pergi dari dorm itu.

“Gege…?? Gege mau kemana?” Tiba – tiba Tao masuk ke kamarnya dan memergokinya yang sedang memasukkan pakaiannya. Tapi Kris tidak menjawabnya.

“Gege mau keluar ya?”

“Gege…gege ingat waktu aku ingin keluar dari sini? Gege bilang kalau gege malas bicara padaku kan? Aku juga malas, ge.. Aku malas menghadapi gege seperti ini. Aku kini merasakan itu juga, ge. Kalau dipertahankan, akan semakin ingin keluar kan? Aku hanya punya satu permintaan, aku ingin kita semua kompak dan setia. Tidak ada yang keluar dari sini..” Kris tertegun mendengar ucapan Tao. Kedua tangannya yang semula memasukkan bajunya ke dalam kopernya, berhenti mendengar penuturan pria yang sedang berdiri di belakangnya.

Setelah membereskan barang-barangnya, Kris keluar kamarnya dengan tas dan kopernya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kris..Kris kau mau kemana?” Luhan berusaha menahan pria berambut blonde itu. Tapi ia tidak menjawabnya. Semua yang ada di ruang tengah malam itu langsung beranjak dari duduknya dan berusaha mencegah kepergian Kris.

“Kris, aku tahu kau emosi. Tapi tolong kau pikirkan baik – baik keputusanmu, Kris. Aku tahu kau marah denganku dan Yeol. Yeol tidak jadi pergi, Kris.. Aku juga minta maaf padamu. Kita butuh kamu, kenapa kau tega meninggalkan kita?” Luhan menghalangi jalannya Kris.

“Aku tidak dalam keadaan emosi, Lu. Mungkin sudah saatnya aku pergi..” Jawab Kris tenang.

“Kris, tolong jangan seperti ini..” Ujar Luhan lagi.

“Gege mianhae..” Chanyeol juga turut serta.

“Kris, kita tinggal di sini, saling membutuhkan. Kau membutuhkan kami, kami membutuhkanmu.” Xiumin pun angkat bicara.

“Mianhae…” Kris menyingkirkan Luhan yang menghalanginya dan pergi menarik kopernya.

“Gege!!!” Panggilan itu tidak digubris oleh Kris sedikit pun.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hampir seminggu apartment itu tanpa kehadiran Kris. Entah kenapa Lay jadi menolak makan terus menerus.

“Shireo~” Ucapnya yang kemudian berbalik badan saat Suho yang berusaha menyuapi pria yang terbaring di kamar itu.

“Lay, jangan seperti ini… Kau sudah dari kemarin belum makan.” Ujar Suho. Lay tetap diam dan memilih untuk memejamkan matanya.

Sementara itu di kamar yang ditempati oleh Xiumin dan Chen, Chen terlihat menangis pada Xiumin, “Rencana yang aku buat gagal, ge…hiks..hiks…”

“Tidak.. Tidak akan gagal..kita masih mencari Kris kan?” Ujar Xiumin yang menenangkan Chen.

“Tapi Kris ge tidak bisa dihubungi…” Isak Chen.

“Kan kita masih mencobanya..”

Di ruang tengah, Luhan terlihat masih terus mencoba menghubungi Kris kesekian ratus kalinya. Tapi selalu non aktif. Hal sama pun dilakukan Yeol pada nomor Kris yang lainnya.

“Bagaimana?” Tanya Luhan. Chanyeol hanya menggelengkan kepalanya.

“Lay…Lay, kau mau kemana? Hei! Kau harus makan dulu!” Suho mengikuti langkah Lay di belakangnya.

“Aku mau beli hadiah, hyung…” Lay masih ingat dengan acara tukar kado mereka.

“Tapi kau belum makan.. Makan lah dulu.. Sesuap saja ne?” Bujuk Suho.

“Anni, hyung.. Toko itu sangat ramai. Jadi harus cepat – cepat..”

“Lay ge, kau tidak boleh pergi!” Chanyeol menghalangi pintu dengan tubuh jangkungnya.

“Sstt~ Kau ini.. Awas..” Lay berusaha mendorong Chanyeol.

“Makan dulu, Lay.. Nanti kau sakit..”

“Minggir…!!” Lay menarik Chanyeol dari pintu dan keluar. Karena tidak mau menunggu lift, Lay melalui tangga pintu darurat.

Drap! Drap! Drap! Lay menuruni satu per satu anak tangga gedung apartment itu.

“Lay! Chakkaman!” Suho mengikutinya dan di belakangnya terlihat Chanyeol yang ikut berlari mengejarnya.

Namun, karena terburu – buru, Lay tersandung dan jatuh terguling hingga kepalanya membentur dinding dan berdarah hingga pingsan.

“Ommo! Lay!! Chanyeooll!!!!” Suho yang tepat di belakang Lay berteriak memanggil Chanyeol yang tertinggal di belakangnya.

“Astaga! Hyung! Apa yang terjadi?!” Chanyeol bergegas menghampiri mereka. Suho terlihat menopang kepala Lay dengan tangannya.

“Gendong dia, Yeol! Kita harus ke rumah sakit!” Suho terlihat cemas dan menelpon Xiumin.

“Yeobseo?” Sapa Xiumin.

“Gege, cepat ambil kunci mobilku, dan segera turun ke lantai delapan, tangga darurat! Lay jatuh!”

“Mworago?!! Ne..ne…aku segera mengambilnya!” Xiumin segera memasuki kamar Suho dan Lay untuk mengambil kunci mobil Suho.

“Xiu, weisheme (kenapa)?” Tanya Luhan.

“Lay jatuh di lantai delapan tangga darurat. Aku harus ke rumah sakit.”

“Aku ikut!”

“Jangan..di sini saja…biar aku, Suho, dan Chanyeol yang membawanya.”

“Baiklah, segera beritahu kabar secepatnya.” Pinta Luhan.

“Ne..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Xiumin pun melajukan sedan berwarna hitam itu menuju rumah sakit. Sementara Chanyeol masih dengan cemas sesekali menoleh kebelakang melihat Suho yang tengah memangku kepala Lay yang terbaring. Kepala itu terus mengeluarkan darah meski sweater milik Chanyeol membalutnya.

“Lay.. Ayo sadar.. Dengar aku kan??” Suho menepuk – nepuk pipi pria berlesung pipi itu. Tapi mata itu tetap terpejam.

“Gege, tidak bisa kah kita lebih cepat?” Suho menaikkan nada bicaranya.

“Kau mau kita semua mati kecelakaan, eoh?! Dan tolong diam! Jangan membuatku panik!” Hardik Xiumin.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Dia kehilangan banyak darah. Rumah sakit kehabisan darah yang bergolongan sama dengannya..” Ujar dokter.

“Golongan darah Lay A kan? Golongan darah saya sama dengannya. Ambil darah saya saja!” Chanyeol bersedia mendonorkan darahnya.

“Baiklah, ikut saya..” Ujar dokter itu.

Seusai pengambilan darah, Chanyeol kembali pada Xiumin dan Suho. Ia hanya duduk dengan wajah menunduk.

“Kau terlihat pucat..” Ujar Suho.

“Nan gwaenchana, hyung..” Jawab Chanyeol.

“Kita cari makanan dulu..kau pucat, Yeol..”

Xiumin menoleh pada Chanyeol dan Suho, “Lebih baik kau makan dulu ditemani Suho. Biar Lay aku yang menungguinya.” Ujar Xiumin. Chanyeol dan Suho pun pergi mencari makanan.

Tak lama, Luhan menelpon Xiumin, “Ne, Lu?”

“Bagaimana Lay?” Tanya Luhan.

“Dia kehilangan darah banyak. Tapi Yeol sudah mendonorkan darahnya. Hanya saja…” Xiumin menggantungkan kalimatnya.

“Hanya saja apa, Xiu?” Tanya Luhan cemas.

“Dia…Lay…masih koma..”

“Mworago?!!! Lay koma?!!” Ponsel yang dipegang Luhan terlepas dari genggamannya dan membuat Sehun menoleh padanya.

“Ge, gege kenapa?” Tanya Sehun. Ia kemudian mengambil ponsel Luhan yang masih menyala. Nama Xiumin tertera di layarnya.

“Ge, gege dimana?” Tanya Sehun.

“Aku di rumah sakit, Hun..” Jawab Xiumin.

“Sedang apa? Siapa yang sakit?”

“Lay sakit, Hun.. Dia koma..datanglah kemari.. Nanti kukirim alamatnya.” Ujar Xiumin.

“Lay ge koma?! Ne..kita segera ke sana ge! Cepat kirim alamatnya!”

Luhan hanya duduk tertunduk menangis memegangi kepalanya. Ia benar – benar bingung. Belum beres masalahnya dengan Kris, kini masalah baru datang. Lay yang masuk rumah sakit.

“Gege, ayo ke rumah sakit.. Xiu ge sudah memberikan alamatnya nih..” Ajak Sehun.

“Kalian duluan saja. Ajak Tao, Kai, Kyungsoo, Chen, dan Baekki.”

“Gege bagaimana?”

“Nanti aku akan kesana sendiri. Tulis saja alamatnya.” Jawab Luhan.

“Gege, gwaenchana?” Tanya Sehun khawatir.

“Ne..pergilah kalian..” Jawab Luhan lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah mereka pergi, tak lama Luhan pun pergi. Tapi tidak ke rumah sakit. Ia menuju sungai Han. Sesekali ia memang sering mengunjungi sungai itu. Udara dingin yang menyelimutinya ditemani dengan turunnya salju tidak mengurungkan niatnya. Di luar dugaan, di sana justru ia menemukan Kris yang duduk di salah satu bangku yang menghadap ke sungai Han. Disampingnya terdapat paper bag yang berisikan hadiah natal untuk Lay. Ya, dia berniat untuk meletakannya di depan pintu apartment tepat malam natal untuk menepati janjinya.

“Kris?” Batin Luhan.

“Kau tidak kedinginan tanpa syal di lehermu?” Luhan kemudian duduk di samping Kris. Pria itu menoleh untuk memastikan siapa yang mengajaknya bicara dan kembali menghadap ke sungai Han.

“Kau belum memaafkanku?” Tanya Luhan lagi dengan kedua mata yang menghadap sungai Han dan kedua tangan yang masuk ke dalam saku mantelnya.

“Kau tidak salah.” Jawab Kris.

“Lantas, kenapa kau tidak kembali?” Tanya Luhan. Kris memilih diam tidak menanggapi Luhan.

“Kau tahu, Lay sekarang koma..” Kris spontan menengok pada Luhan.

“Kau tidak membohongiku kan?!”

“Untuk apa? Kalau kau tidak percaya, telepon Xiumin sekarang.” Luhan memberikan ponselnya.

“Dimana?” Tanya Kris.

“Kau mau kesana? Kebetulan aku mau ke sana sekarang.” Luhan bangkit dari duduknya. Dan Kris pun mengikutinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di rumah sakit kedelapan pria lainnya terlihat menunggu di ruang tunggu depan ruang ICU. Sementara Suho berada di ruang ICU menemani Lay.

“Itu Luhan ge..” Baekhyun berbisik pada Jongin.

“Mwo?!! Kris ge?!!” Baekhyun membulatkan kelopak matanya melihat Kris di belakang Luhan.

“Gege!!” Baekhyun dan lainnya bergantian memeluk pria yang datang dengan paper bag merah di tangannya itu.

“Mana Suho?” Tanya Kris.

“Di dalam..dengan Lay ge..” Ujar Jongin.

“Lay belum sadar?” Tanya Kris lagi. Mereka menggelengkan kepalanya kompak.

“Masuk saja ke dalam untuk bertemu Lay..” Ujar Luhan.

“Kau?”

“Aku nanti saja.. Kau saja dulu..”

“Baiklah..” Kris kemudian berjalan menuju ruang ICU dan memakai pakaian khusus ruang ICU. Di sana terlihat Suho yang berdiri di samping Lay yang terbaring dengan alat – alat rumah sakit. Berbagai selang terpasang ditubuhnya. Aroma khas obat – obatan menyeruak di indera penciuman pria berambut blonde itu.

“Gege?” Suho menoleh ketika pintu dibuka. Pria itu memeluk Kris melepas rindu sosok yang dewasa tersebut.

“Bagaimana Lay? Kenapa dia seperti ini?” Tanya Kris.

“Dia jatuh di tangga gedung apartment kita ge. Beberapa hari sejak kau pergi, dia tidak mau makan. Dan tadi, dia mau keluar membeli kado untuk malam natal itu. Kita semua tidak mengizinkannya keluar tanpa makan. Chanyeol sudah menghalangi pintu, tapi Lay menarik Chanyeol dan keluar melalui tangga darurat. Tapi, di lantai delapan, dia jatuh terguling hingga membentur dinding. Setelah itu dia tidak sadarkan diri sampai sekarang. Padahal ia sempat transfusi darah dari Chanyeol..” Jelas Suho.

Ada perasaan bersalah pada diri Kris. Secara tidak langsung ia yang menyebabkan ini semua terjadi.

“Aku tinggal kalian berdua ya, ge…” Ujar Suho. Kris hanya mengangguk.

Kris hanya menatap wajah pucat itu. Alat kardiografi yang terpasang berbunyi cepat. Seolah merasakan kehadiran orang yang ditunggunya, “Tenanglah Lay..kenapa jantungmu berdetak begitu cepat? Kau marah denganku atau kau senang melihatku?” Ujar Kris.

“Cepatlah sadar…atau kau tidak mendapatkan kado natal dariku..” Kris mengusap kepala pria itu.

“Kau ini sangat nekat. Kau tidak makan, tapi kau nekat keluar membeli kado. Jangan kau pikir aku tidak tahu kelakuan burukmu ini..aku tahu semua dari Suho.”

“Duibuqi (maafkan aku), Lay.. Aku janji tidak seperti kemarin lagi. Oh ya, kau tahu alasanku menyuruhmu cepat bangun? Kau harus membeli kado kan? Masa nanti ia tidak mendapatkan kado darimu? Itu tidak adil kan?” Kris terus mengajak Lay bicara meski pun pria itu tidak menjawabnya. Namun ia yakin, kalau pendengaran Lay meresponnya meski pun ia dalam keadaan koma.

“Kado natal untukmu, kuletakkan di bawah tempat tidur ini. Cepat sembuh Lay..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Untuk hari ini yang menjaga Lay, Suho dan Sehun saja dulu.. Bagaimana?” Tanya Xiumin.

“Aku sih tidak masalah..” Jawab Suho.

“Kalau begitu kita ambil baju, hyung..” Ujar Sehun pada Suho.

“Kalau begitu aku kembali ke hotel mengambil mobil dan baju..” Ujar Kris.

“Aku juga deh..” Ujar Luhan.

“Kalau begitu sama – sama saja?” Ajak Suho. Luhan dan Kris pun setuju.

Kris pun turun di hotel tempat ia menginap setelah keluar dari dorm. Namun karena ia sudah janji dengan Lay, ia akan kembali ke dorm. Ia membereskan pakaiannya, dan segera check out dari hotel tersebut mengendarai mobilnya untuk kembali ke rumah sakit. Sambil mengendarai mobilnya, Kris yang menggunakan earphone menelpon Suho.

“Ne, ge?” Sahut Suho setelah Kris menunggu beberapa detik sebelum panggilan dijawab.

“Nanti kau kembali lagi ke rumah sakit kan? Tolong bilang pada Luhan, untuk segera menjemput yang lainnya di rumah sakit.”

“Ne, ge…nanti kubilang..”

Panggilan pun diputus oleh Kris setelah mendapatkan jawaban yang diinginkan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mobilku dibawa Xiu ge saja.. Karena di sini Luhan ge dan Kris ge bawa mobil juga, bagaimana kalau kalian semua ikut mereka?” Suho bicara sambil memberikan roti untuk Sehun yang belum makan malam itu.

“Ya sudah…kalau begitu, kita langsung pulang saja..” Ujar Baekhyun.

Di dalam mobil Suho yang dikendarai Xiumin, ikut Chanyeol, dan juga Chen. Di dalam mobil pria yang berwajah layaknya remaja-Luhan ini ditumpangi oleh Tao, Jongin dan Kyungsoo. Sedangkan Baekhyun dan Sehun ikut di mobil berwarna hitam milik Kris.

Setelah mereka semua kembali ke dorm, tinggal lah Sehun dan Suho di rumah sakit untuk menjaga Lay yang masih koma. Karena ICU merupakan ruang isolasi yang hanya di jam – jam tertentu saja keluarga pasien masuk, Sehun dan Suho menunggu di ruang tunggu keluarga pasien.

“Sudah sebulan lebih anak kita tidak sadarkan diri, appa..bagaimana..hiks..hiks…” Sehun sontak menoleh pada seorang wanita paruh baya yang sedang menangis di bahu pria yang kira – kira berusia sama dengan wanita tersebut.

“Tenang saja, eomma…dia pasti akan sadar…” Sehun hanya menatap pasangan suami-istri itu dengan iba.

“Vonis dokter sudah seperti itu… kalau anak kita tidak selamat bagaimana, appa?!! Bagaimana?!!” Wanita itu menangis histeris dalam pelukan suaminya.

“Jeosongmianhamnida.. Bukannya saya bermaksud lancang, tapi, umur seseorang adalah kehendak Tuhan. Bukan berdasarkan vonis dokter..” Sehun berusaha menenangkan wanita itu juga.

“Kau dengar yeobo? Anak muda ini benar!” Tapi, tak lama kemudian, terlihat dokter yang berlari – lari menuju ruang ICU dengan beberapa perawatnya hingga Suho yang berdiri di lorong pun ikut menyingkir memberikan jalan.

“Hyung…” Sehun memanggil Suho cemas.

“Gwaenchana…gwaenchana…” Suho menepuk bahu Sehun.

Jauh di pikiran Sehun, ia juga sedikit memiliki perasaan seperti wanita yang tengah menangis pada suaminya yang berada di sebelahnya. Ia juga takut kejadian yang sama menimpa Lay. Namun, ia buru-buru membuang pikiran buruk itu.

Saat Sehun berkutat dengan pikirannya, terdengar suara dari seorang perawat yang berada di ambang pintu ruang ICU tersebut, “Apa di sini ada keluarga tuan Kim? Tuan Kim?”

“Ne, saya..” Ujar pria yang sedari tadi menenangkan istrinya.

Seorang dokter yang keluar dengan wajah lesu dan tertunduk segera mendapatkan serbuan pertanyaan dari pria tersebut, “Bagaimana keadaan anak saya, uisa-nim? Anak saya baik – baik saja kan? Kapan anak saya boleh pulang?”

Dokter itu hanya mengeluarkan satu kalimatnya, “Mianhamnida, tuan Kim…” Bersamaan dengan itu wanita itu menangis menghampiri dokter itu. Memncengkeram kerah lehernya sambil menangis, “Apa maksudmu?!! Apaaa?!!!”

“Anak kalian…tidak tertolong lagi.. Anak anda mengalami pendarahan hebat. Karena penyakit hemofilianya, nyawanya tidak tertolong lagi..” Dokter itu tertunduk.

“Hemofilia??” Sehun hanya menunduk dan menutup wajahnya dengan kedua tangannya.

“Hunnie..?? Gwaenchana yo?” Tanya Suho. Sehun hanya beranjak dari bangku itu. Karena cemas, Suho mengikutinya.

“Hunnie..eoddiga yo?” Tanya Suho.

“Hyung…aku takut hyung…aku takuutt..aku takut Lay ge sama seperti anak mereka…” Air mata Sehun tidak tertahankan.

“Anni…Lay tidak akan seperti dia.. Kita harus banyak – banyak berdoa..” Ujar Suho. Tapi Sehun masih menangis menunduk. Suho pun memeluknya dan menenangkannya. Ia tak peduli bahunya basah karena air mata pria kelahiran tahun ’94 itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hari terus dilalui oleh kesebelas pria itu menunggu sadarnya Lay. Hingga tak terasa ini hari ketiga Lay koma. Mereka semua sudah membeli kado untuk saling ditukarkan, terkecuali Lay yang sebenarnya akan memberikan kado untuk Sehun. Sedangkan Baekhyun dan Chanyeol baru akan membeli kado hari ini.

“Baekki-ya, kajja..” Ajak Chanyeol pada Baekhyun.

“Ne…” Jawab Baekhyun sambil memakai sepatunya berjalan keluar apartment.

“Kalian mau kemana?” Tanya Luhan.

“Dating?” Jawab Chanyeol tertawa.

“Mworago?!”

“Kita hanya jalan – jalan kok, ge…” Baekhyun menambahi.

“Jangan lama – lama kalian… Salju sedang lebat turunnya.” Pesan Luhan.

“Ne, gege…” Jawab Chanyeol dan Baekhyun serempak.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Menurutmu, untuk Kris ge, aku memberikan apa?” Tanya Baekhyun pada Chanyeol saat berjalan – jalan.

“Apa ya? Jaket? Kacamata hitam? Tas? Atau…” Chanyeol menggantungkan kalimatnya.

“Alat lukis!” Seru mereka bersamaan.

“Yup! Tepat sekali, Baekki-ya! Untuk si Picasso itu!”

“Ne, kajja kita beli..” Ajak Baekhyun.

Aa! Chakkaman! Untuk hemat waktu, bagaimana kalau kita beli untuk…”

“Untuk Kai maksudmu?” Potong Chanyeol.

“Oh, orang yang akan kau kasih itu Kai?” Tanya Baekhyun.

“Ne…”

“Kajja kita beli saja…” Ajak Baekhyun lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di rumah sakit, kini giliran Xiumin dan Luhan yang menjaga Lay di rumah sakit.

“Sudah jam menjenguk, kau tidak ke dalam Lu?” Tanya Xiumin.

“Kau saja dulu. Aku akan tunggu di luar sementara.”

Xiumin pun masuk ke dalam ruang ICU dengan mengenakan baju khusus ruang ICU. Dilihatnya Lay masih memejamkan kedua matanya. Wajahnya terlihat tenang meski pun selang oksigen, dan alat yang tersambung pada alat kardiografi yang memonitori kerja jantungnya terpasang pada tubuhnya.

“Lay, kenapa belum sadar juga? Kurasa hanya kau yang belum membeli kado. Kau tidak ingin kembali pada kami?” Dan lagi, alat kardiografi itu menimbulkan suara yang nyaring dan cepat seolah mengisyaratkan jawaban pria yang terbaring lemah tersebut.

“Jangan hanya seperti ini, Lay. Buka matamu, bangunlah..” Ujar Xiumin lagi.

Pria itu masih tidak meresponnya. Namun jemarinya bergerak perlahan. Xiumin terus memandang Lay yang perlahan bergerak.

“Buka matamu, Lay..” Batin Xiumin. Tapi dilihatnya Lay masih belum membuka matanya. Karena ingat dengan Luhan di luar, ia harus bergantian masuk ke sini.

“Lu… Kalau kau mau melihat Lay…” Xiumin membuka pintu dan melepas baju khusus orang yang menjenguk di ruang ICU.

Luhan pun memakai baju yang terlihat hanya seperti kain berwarna hijau dan masuk ke dalam ruang ICU.

Luhan hanya memperhatikan Lay yang masih koma, “Kau tahu, tidak ada kau, dorm sepi.. Tidak ada yang bermain gitar, Baekki dan Yeol yang biasanya usil pun jadi tidak usil karena tidak

Luhan hanya memperhatikan Lay yang masih koma, “Kau tahu, tidak ada kau, dorm sepi.. Tidak ada yang bermain gitar, Baekki dan Yeol yang biasanya usil pun jadi tidak usil karena tidak ada kau.”

Jari Lay pun kembali bergerak. Namun, kali ini diikuti dengan terbukanya kedua kelopak mata Lay.

“Lay…” Luhan pun segera menekan tombol untuk memanggil perawat. Tak lama perawat pun berdatangan dengan seorang dokter.

“Jeosongmianhamnida, silahkan anda tunggu di luar.” Ujar salah satu perawat.

“Lu, Lay kenapa? Kenapa banyak perawat dan dokter? Dan kenapa kau keluar??” Tanya Xiumin berturut – turut pada Luhan.

“Lay…” Luhan menggantungkan kalimatnya.

“Lay kenapa, Lu??”

“Lay sadar, Xiu…dia membuka matanya tadi..”

“Jeongmal?!! Kau tidak bohong kan?!”

“Untuk apa, Xiu?! Lebih baik kita beritahu mereka besok saja. Ini sudah malam.”

“Ne..ne…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu malam hari di apartment, Kris yang sudah kembali tinggal di sana, memilih di kamar, menyandarkan diri pada headboard ranjangnya sambil membaca bukunya sambil mendengarkan musik melalui earphonenya yang terpasang di kedua telinganya. Tanpa disadarinya, Tao-pria yang sekamar dengan Kris-masuk ke dalam kamar itu. Ia berdiri di samping ranjang pria itu yang juga bersebelahan dengan ranjangnya. Kris yang menyadari itu melepas salah satu earphonenya dari telinganya.

“Eum ge..?”

“Wae?” Tanya Kris.

“Mianhae..”

“Untuk?” Tanya Kris lagi.

“Waktu itu Tao sudah marah pada gege dan bilang seperti itu.. Mianhae..” Ujar Tao lagi.

“Gwaenchana. Gege yang salah.” Jawab Kris.

“Hmm, tapi Tao juga merasa bersalah pada gege…”

“Sudah…sudah..tidak usah dipermasalahkan.” Ujar Kris dengan nada datar.

“Ne..ne.. Tapi, kenapa gege bisa seperti itu? Gege tidak mau cerita padaku?”

“Cerita apa?” Tanya Kris.

“Kenapa gege bisa punya pikiran untuk keluar.” Ujar Tao yang duduk di tepi ranjang miliknya.

“Hhhh…mungkin itu karena gege terlalu pusing. Dan bisa kau tidak usah membahasnya lagi?” Hela Kris yang kemudian kembali memasang earphonenya.

“Iya deh, Tao tidak akan membahasnya lagi…”

Sesaat di kamar itu sunyi, tapi kemudian Tao pindah duduknya di samping pria berambut blonde itu. Hingga tanpa sadar Kris yang sedang asik membaca buku sambil mendengarkan lagu itu menggeser posisinya untuk Tao.

“Emm..Kris ge…” Tao menepuk kaki pria itu.

“Mwo?” Kris menurunkan buku yang sedang dibacanya tanpa melepas earphonenya. Namun karena Tao tidak kunjung bicara, ia kembali membaca bukunya.

“Kris ge…” Lagi. Tao kembali menepuk kaki pria itu.

“Ck, apa sih? Kau ini…sudah sana tidur!” Kris menendang bokong Pria itu untuk menyingkirkannya dari tempat tidurnya.

“Gege, kau jahat sekalii~~”

Setelah itu Kris meletakkan bukunya di atas nakas yang berada diantara ranjangnya dengan ranjang Tao dan mematikan lampu bacanya.

“Matikan lampu kamarnya, Tao.” Ujar Kris yang kemudian menarik selimutnya.

“Jumuseyo~” Ujar Tao setelah mematikan lampu kamarnya dan menuju tempat tidurnya.

“Ne, jumuseyo, Tao..” Jawab Kris.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Siang harinya, kesembilan pria itu menuju rumah sakit untuk menjenguk Lay dengan mobil Suho dan Kris menyusul Xiumin dan Luhan yang ada di rumah sakit.

Setibanya di rumah sakit, Xiumin yang menunggu mereka di lobby rumah sakit itu segera membawa mereka semua menuju ruang rawat.

“Ge, kok…bukan di ICU?” Tanya Sehun.

“Anni, dia sudah dipindahkan ke ruang rawat biasa tadi pagi..” Jawab Xiumin.

“Di sini..” Ujar Xiumin menunjukkan ruang rawat Lay.

Tanpa menunggu waktu lagi, mereka semua langsung masuk bersamaan ke ruang itu, “Lay geeee!!!”

Pria berlesung pipi itu menoleh ke arah pintu saat ia sebelumnya berbincang dengan Luhan. Ia hanya tersenyum pada mereka semua.

“Kalian…” Lay berkata lirih sambil menyunggingkan senyum tipisnya. Lay memperhatikan mereka semua. Tapi mereka hanya berjumlah sembilan termasuk Xiumin. Lay terlihat murung dan kemudian bertanya, “Kris ge mana?” Tanya Lay.

“Dia…” Chanyeol menggantungkan kalimatnya.

Suara pintu yang terbuka kemudian membuat Lay mengalihkan pandangannya ke pintu di belakang mereka. Ia berharap Kris lah yang masuk. Tapi ternyata seorang perawat yang akan memberikan obat dan mengganti botol infuse milik Lay.

“Kenapa Kris ge tidak datang?” Batin Lay.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Perawat itu pun keluar dan pintu pun tertutup kembali. Tanpa mereka ketahui, Kris masuk bersamaan dengan perawat itu keluar.

“Kok Kris ge tidak ada??” Tanya Lay.

“Siapa yang bilang?” Suara berat yang tidak asing terdengar di telinga Lay pun sukses membuat pria itu tersenyum kembali.

“Kris ge…” Lirihnya.

“Ni hao ma?” Sapa Kris.

“Ni hao, Kris ge..” Jawab Lay.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Pasca sadarnya Lay dari koma, ia dirawat selama lima hari untuk pemulihan. Setelah itu, dokter memperbolehkan pria itu untuk rawat jalan. Kris dan Suho lah yang bertugas menjemput Lay di rumah sakit. Sedangkan yang lainnya, bersiap memberikan pesta kejutan untuk merayakan kembalinya Lay ke apartment mereka.

“Hati-hati..” Suho membantu Lay untuk duduk di kursi rodanya, sementara Kris menahan kursi roda itu saat memasuki gedung apartment sambil membawa sebuah paper bag yang berisikan kado untuk Lay yang ia sembunyikan di belakangnya.

“Haish~ Aku tidak mau pakai benda ini… Aku seperti orang lumpuh saja sih!” Lay terlihat kesal.

“Kau ini…hanya untuk sementara kan? Ini kan karena kau koma tiga hari juga, makanya sendi – sendi mu kaku.” Ujar Kris.

“Ya, karena itu aku harus fisioterapi.”

“Salahmu kan, Lay..haha..” Ucap Suho.

“Welcome, Lay ge!!!!” Sambut mereka bersembilan saat membuka pintu apartment mereka.

Xiumin langsung mengambil alih kursi roda dan mendorong Lay yang duduk di kursi roda itu ke dalam apartment. Begitu masuk ke dalam apartment, Lay disambut layaknya seorang tamu kehormatan
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tidak lupa dengan janjinya, Lay berniat membelikan sesuatu untuk Sehun. Ia menyalakan laptopnya dan menjelajahi dunia dengan sistem internet. Ia membuka situs jual-beli untuk memesan barang yang diinginkannya sebagai kado untuk Sehun.

“Ah! Aku beli ini saja…” Batin Lay. Berdasarkan perjanjian, pesanan Lay akan tiba dua hari lagi dengan dalam keadaan sudah terbungkus rapi dengan kertas kadonya.

Berkat kemajuan teknologi, ia pun mentransfer sejumlah uang melalui ponselnya untuk pembayaran pesanannya. Tak lama, pintu kamarnya pun terbuka. Seorang pria masuk ke dalam kamar itu.

“Lay ge, kajja, gege harus makan dulu.” Ujar Kyungsoo masuk membawa bubur yang baru saja dimasak.

“Bubur lagi?” Tanya Lay.

“Gege sakit kan? Jadi, ya harus bubur.”

“Eommaaa~ pencernaanku kan tidak apa – apa.. Aku bosan tahu..” Keluh Lay.

“Oh! Kali ini buburnya berbeda. Aku mencampurkan kaldu ayam di bubur ini. Jadi, rasanya pasti enak! Kalau Lay ge bosan, aku juga buat soup iga untukmu.”

“Jeongmal?! Aku mau itu, eomma!”

“Chakkaman, biar aku ambilkan..” Ujar Kyungsoo. Ia kemudian kembali dengan semangkuk soup iga buatannya untuk Lay.

“Cha! Ayo makan..” Kyungsoo mengambil mangkuk bubur itu dan menyuapi Lay.

“Aku serasa punya eomma sungguhan..kkkk..” Ujar Lay terkekeh.

“Haha..oh ya Lay ge… Kau masih ingat acara untuk malam natal kita kan?”

“Aku ingat kok..”

“Lay ge tidak membeli kadonya?”

“Sudah..”

“Kapan? Kan Lay ge belum keluar dorm ini..” Ujar Kyungsoo.

“Haruskah aku keluar sementara aku bisa membelinya dari sini? Hahahaa~”

“Aigoo Lay ge..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Dua hari kemudian, pesanan Lay pun tiba. Kondisi Lay sekarang sudah bisa berjalan meskipun harus pelan – pelan. Seseorang datang di apartment mereka. Lay pun keluar untuk melihatnya yang ternyata orang yang mengirim pesanannya.

“Nugu, Lay ge?” Tanya Jongin di belakangnya.

“Ah, anni..hanya orang yang mengantarkan pesananku.” Ucap Lay yang menandatangani tanda terima pesanan itu.

“Gamsahamnida..” Ucap Lay pada orang itu.

“Lay ge, itu apa?” Tanya Sehun yang melihat Lay membawa sebuah paper bag. Lay langsung menyembunyikannya di belakang tubuhnya.

“Lay ge, itu apa?” Tanya Sehun yang melihat Lay membawa sebuah paper bag. Lay langsung menyembunyikannya di belakang tubuhnya.

“Oh ini? Ini pesananku yang kubeli secara online.” Jawab Lay yang kemudian ke kamarnya.

“Fuuhh~~ Nyaris saja ketahuan!” Lay menghela napasnya lega.

“Gegeee~~ Ppalii~ Pohon natalnya belum selesai dihiass~~” Panggil Jongin dari ruang tengah yang masih menghias pohon natal.

“Neee~~ Chakkamaann~~”

Malam harinya terlihat terdapat dua kado di masing – masing pintu yang ada di apartment itu. Di kamar yang ditempati Sehun dan Luhan, di kamar Jongin dan Kyungsoo, di kamar Kris dan Tao, di kamar Suho dan Lay, di kamar Xiumin dan Chen, dan di kamar Baekhyun dan Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“BANGUUUUNNN!!!!! BANGUUNNN!!!!” Chanyeol mengetuk tiap pintu kamar dengan keras untuk membangunkan semuanya.

“Hoahmm…apaan sih Yeol??” Kris terlihat menguap dengan tangan yang menutup mulutnya. Sedangkan di belakangnya terlihat Tao yang berdiri dengan mata yang masih terpejam dan memeluk pintu kamarnya.

“Yeol berisik nihh..” Lay ikut protes.

“MERRY CHRISTMAS!!!” Teriak Chanyeol yang membuat mereka yang masih memejamkan mata sontak membuka matamnya.

“YAAKK!!! Yeol hyung!!” Tao melepas slippersnya dan melemparnya pada Chanyeol.

“Ya! Ya! Ya! Sopan sekali kau panda China!” Chanyeol hendak memukulkan slippers itu pada Tao.

“Yaa…Yaaa..Yaaa.. Geumanhae! Sudah..sudaah…” Kris menghalangi Chanyeol yang akan memukul Tao.

“Aku haus, mau minum dulu ah.” Ujar Kris kemudian. Tapi kakinya tersandung sebuah kado besar yang tingginya mencapai lutut pria berambut blonde itu.

“Ommoo!! Kadonya Kris ge besar sekalii!!” Seru Jongin.

“Sebelum buka kado, kita harus mandi dulu.” Ujar Kyungsoo. Sontak mereka berdua belas langsung berebut kamar mandi dan saling menghalangi satu sama lainnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yaaakk!! Aku dulu!!” Tao mendorong Sehun.

“Yaaa!! Shireo! Aku dulu!” Jongin ikut mendorong.

“No way!! Me first!” Ujar Chanyeol.

“Andwaee andwaeee~~” Baekhyun ikut serta.

“Yang muda mengalah lah dengan yang tua~” Luhan juga ikut.

“Kalian semua harus mengalah denganku.” Kris pun tidak mau kalah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah berkutat dengan masalah mandi di pagi hari, pukul sepuluh mereka semua menyelesaikan semuanya dan membuka kado mereka.

“Kai dulu deh yang buka kadonya.” Ujar Kris. Jongin pun membuka kadonya.

“Eitss! Chakkaman! Aku sudah menyiapkan ini kalau kalian salah menebak!” Kyungsoo mengeluarkan sebuah palu mainan.

“Waa!! Dipukul pakai itu kah kalau salah?!” Tanya Luhan. Kyungsoo pun mengangguk.

“Woaahh!! Sneakers! Bisa kupakai untuk latihan dance aku.” Seru Jongin. Sejenak pria itu terdiam, “Ini dari….” Jongin memperhatikan kesebelas pria lainnya satu per satu.

“Ini dari…hhmm…kalau tidak Kris ge, ini dari Yeol hyung.. K…anni! Ini dari Yeollie hyung!” Teriak Jongin.

“Ne…” Jawab Chanyeol singkat dan memeluk bantal sofanya.

“Okay, sekarang Yeol.” Ujar Luhan. Chanyeol pun membukanya.

“Haish~ Kenapa keras sekali?” Chanyeol membuka paksa bungkus itu.

“Hng?” Chanyeol mengerutkan dahinya berpikir isi kadonya. “Topi coboy? Hyung~ Belikan aku kudaaa~” Chanyeol merajuk pada Suho.

“Waa! Kau gila..ahahaha..”

“Aku rasanya ingin menari seperti PSY ahjussi. Oppa gangnam stylee~” Chanyeol menirukan tarian itu sambil memakai topi coboy nya. Sontak semuanya tertawa melihat kelakuan Chanyeol. Terlebih lagi, Baekhyun pun berdiri dan ikut menirukan gerakan Chanyeol dan tak lama Sehun pun ikut berdiri dan mengikutinya.

“Ahahaha.. Ahaha…hahaha…” Lay tertawa sambil memegangi perutnya.

“Yak! Yeol hyung, kau tidak mengulur waktu untuk menebak siapa yang memberikanmu itu kan?” Tao menunjuk topi yang dipakai Chanyeol.

“Kau ini..kenapa kau ingatkan, eoh?”

“Oops!” Tao kemudian menutup mulutnya sendiri.

“Cepat tebak, Yeol hyung!” Kyungsoo sudah menyiapkan palu mainannya.

“Hng..ini..ini dari…Luhan ge..?”

“DDING!!” Kyungsoo pun memukul kepala Chanyeol.

“Mwo?! Salah?!!” Tanya Chanyeol.

“Salaahh!!”

“Lalu?” Tanya Chanyeol lagi.

“Itu dari aku, pabbo!” Xiumin melempar bantal kearah Chanyeol.

“Waaa~ Mianhae gegee~” Ucap Chanyeol.

“Okay..okay..sekarang Baozi yang buka kadonya..” Ujar Kris.

Pria itu pun membuka kotak kecil yang dipegangnya. Sebuah jam tangan berantai emas pun terlihat.

“Wooaahh!! Jam tangan mahal!” Semuanya langsung melirik ke arah Suho.

“Hah? Mwo?” Tanya Suho.

“Siapa lagi yang bisa memberikan ini kecuali kau? Ini dari kau kan?” Tanya Xiumin. Suho hanya tertawa dan mengangguk.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Okay, Suho sekarang.” Ujar Xiumin.

“Sepatu kerja?”

“Sepatu kerja? Wow!” Baekhyun menyahut.

“Ini..dari…Kris?”

“DDING!!” Kyungsoo langsung memukul kepala Suho setelah Kris menggelengkan kepalanya.

“Itu aku, hyung..” Ujar Sehun pelan.

“Mwo?! Kau?! Kau yang membelikannya?” Sehun mengangguk.

“Gomawo ne!”

“Sehunniee~ ppali buka kadonya!” Sehun pun merobek kertas kado yang membungkus kotak panjang dan lebar itu.

“Ommoo!!” Sebuah kacamata hitam nyaris jatuh ke lantai.

“Kacamata hitam…”

“Hunn ini keren!” Tao mengambil kacamata hitam itu dan memakainya.

“Anni, ge..ini punyaku..” Sehun mengambil kacamata itu dari Tao.

“Ini..dari Lay ge! Aku sempat melihat warna kertas kadonya.”

“Haish~ Ketahuan!”

“Lay..Lay..Lay ge ppallii~~” Lay tidak sabar membuka kadonya.

“Mantel dan syal.” Ujar Lay yang menunjukkan mantel berwarna hitam putih dengan syal yang berwarna senada.

“Ini…Kris ge?” Tanya Lay.

“Ne~” Kris mengambil kadonya dan akan membukanya.

“Ge, mau dibuka sekarang?” Tanya Chanyeol meledeknya.

“Sstt~ Dari tadi aku penasaran ini apa.” Kris mulai membukanya.

“Woaa!” Serunya kaget karena terdapat sebuah kanvas kosong. Keterkejutannya pun belum berakhir. Ia juga kaget melihat satu set kuas lukis beserta cat minyak juga palletnya.

“Kris Picasso~ Haha..” Ujar Xiumin.

“Wait..ini tidak murah loh.. Siapa yang membelikan ini..” Batin Kris.

“Baekki-ya!” Seru Kris.

“Mwo?! Dari mana gege tahu?”

“Dari wajahmu yang seperti pencuri yang sedang ketakutan..ahahaha..” Kelakar Kris.

“Your turn..” Ujar Kris pada Baekhyun.

“Kenapa kado ku kecil sekali?” Batin Baekhyun.

“Mwoya?!! Eyeliner??” Baekhyun menunjukkannya dan membuatnya semua tertawa terbahak – bahak.

“Ahahaha apa karena matamu kecil, Baekki? Ahahaha..” Chanyeol tertawa lepas.

“Yaakk! Siapa yang memberikanku iniii??” Kyungsoo orang yang memberikannya juga ikut tertawa.

“Do Kyungsooo~~~ Kau yang memberikan ini kan?” Baekhyun melempar bantal kearahnya.

“Ahahaha biar matamu tidak kecil sekali hyung!” Ujar Kyungsoo. Ia pun segera membuka kado miliknya.

“Apron?”

“Kai..??” Tanya Kyungsoo.

“DDING!!” Chanyeol langsung merebut palu mainan itu dan memukulkannya pada kepala Kyungsoo.

“Yaaa! Appo hyung~”

“Itu yang kurasakan tadi!”

“Itu darikuuu~~” Chen bersuara. Ia pun kemudian membuka kadonya.

“Dompet..” Chen menunjukkan dompet berwarna hitam yang bergambar tengkorak.

“Dari..L…anni! Kai!”

“Ne…”

“Tinggal Luhan ge dan Tao. Kalian bertukar kado? Ah! Tidak seru! Kalian sudah sama – sama tahu.” Ujar Lay.

“Topi koala? Topi panda?” Ujar Luhan yang bersamaan dengan Tao.

“Kalian tidak beli di toko yang sama kan?” Tanya Sehun.

“Annii~ Lihat saja bungkusnya bedaaa~” Ujar Tao.

“Tadi yang salah menebak, eomma, Suho hyung, dan Chanyeol hyung. Bagaimana kalau mereka yang memasak untuk tahun baru nanti?” Usul Sehun.

“Ya! Itu bagus!”

“Mereka juga yang belanja!” Sambung Xiumin.

“Noooo!!” Suho menolak.

“Yeeesss~~~!!!” Seru lainnya serempak.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Dalam seminggu ini mereka harus mempersiapkan semuanya. Kris dan Luhan sengaja bicara dengan pemilik gedung apartment dengan ukuran suite itu untuk menyewa rooftop gedung apartmentnya untuk merayakan acara tahun baru. Setelah bernegosiasi dengan pihak mereka, akhirnya mereka menemukan kesepakatan.

Sementara Suho, Chanyeol, dan Kyungsoo pergi berbelanja, Sehun, Jongin, Chen membeli peralatan untuk acara barbeque party. Sedangkan Tao, Xiumin, Lay, dan Baekhyun malah asik menghias apartment mereka dengan pernak – pernik penyambutan awal tahun. Saat Kris dan Luhan pulang, mereka berdua kaget melihat tulisan ‘Happy New Year’ yang terpasang di depan pintu dan berbagai ornamen-ornamen lainnya.

“Uwooo~!” Luhan kaget saat memasuki apartment mereka.

“Oo waseoo~~” Ucap Baekhyun.

“Aigoo kalian yang membuat ini semua?” Tanya Kris. Dan mereka berempat pun mengangguk.

“Karena yang lainnya belum pulang, kita menghias ini..” Ujar Lay.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Enam hari berlalu, dan kini adalah tanggal dimana akhir tahun ini akan berakhir.

“Tao, ayo kita bawa barang – barangnya ke rooftop.”

“Ge, yang mana saja?” Tanyanya pada Kris.

“Eommaaa~~ Ini yang mana saja?” Kris berteriak memanggil Kyungsoo.

“Semua yang ada di depan, ge…” Teriak Kyungsoo dari dapur.

“Sebanyak ini?” Gumam Tao yang menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

“Kajja, aku bantu…” Suho kemudian mengangkat beberapa plastik menuju lift yang akan digunakan ke rooftop gedung apartment mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Baekki-ya, ppaliii~” Chanyeol menunggu Baekhyun yang keluar terakhir sedangkan kesepuluh temannya sudah berada di rooftop.

“Chakkaman…chakkaman! Yeol, pakai ini!” Baekhyun memakaikan topi tahun baru pada Chanyeol.

“Ppalii~”

“Waiitt~~ Terompetnya belum!” Baekhyun kembali masuk ke dalam. Baekhyun kemudian keluar dengan berbagai macam bentuk terompet di tangannya.

“Hyaaa!! Tungguu!! Jangan tutup dulu! Kamera ketinggalan!” Lay berteriak dari depan lift.

“Sudah ge..” Chanyeol menunjukkan kamera.

“Ponselku…” Ujar Lay lagi.

“Aku juga tidak bawa. Kan kita mau tidak ada gangguan..” Ujar Chanyeol.

“Oh iya juga sih..” Mereka bertiga pun menuju lift dan bergabung dengan lainnya di rooftop.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yakk!! Jangan dimakan dulu!” Kyungsoo menepuk tangan Baekhyun yang sedari tadi mengambil daging panggang.

“Eomma jahat sekali..aku kan lapar..”

“Tunggu nanti..”

Sementara itu, Kris, Tao, dan Chanyeol sedang mempersiapkan kembang api untuk meramaikan suasana.

“Yak! Jangan dinyalakan dulu, Tao!” Chanyeol melarang pria dengan lingkar mata hitam itu. Namun terlambat. Api sudah dinyalakan di sumbu kembang api itu. Suara memekakkan telinga pun terdengar. Dan dalam hitungan detik, kembang api itu melesat ke udara dan membuat bunga – bunga api yang berwarna – warni di langit malam.

“Woaaa!!!! Lagi..lagi!” Sehun ikut bergabung dengan tiga pria yang paling tinggi diantara mereka berdua belas tersebut.

“Andwaee~” Larang Chanyeol.

“Gwaenchana, kita punya banyak kok..” Ujar Kris.

Suho, Xiumin, Chen, dan Lay menyalakan kembang api kecil. Dan pijaran api pun menyala. Mereka menggantungkan kembang api yang menyala itu di pagar pembatas rooftop itu seolah itu adalah lampu

“Hyung, itu sudah habis kembang apinya.” Seru Baekhyun.

“Ganti ini, Baekki..” Suho menyalakan kembang api yang baru.

“Hoiii~~ Sepuluh detik lagi niiihh~~” Teriak Xiumin yang melirik ke arah arlojinya.

“10…9…8…7…6…” Terdengar suara riuh dan sorak sorai dari sekitar gedung apartment itu yang semakin banyak melepas beberapa kembang api ke udara.

“5..4..3..2..1..HAPPY NEW YEAR!!!” Seru mereka yang diiringi bunyi terompet dan banyaknya bunga – bunga api yang menyala menghiasi langit malam. Wangi khas daging panggang yang semakin menggoda indera penciuman pun membuat kedua belas pria itu berpesta merayakan tahun baru dengan semarak.

Chanyeol kemudian memasang tripod cameranya untuk meletakkan camera digitalnya untuk mengabadikan moment pergantian tahun tersebut. Langit malam yang berlatarkan pijaran api yang berwarna warni menjadi background mereka berdua belas dalam moment itu di dalam camera digital mereka.

THE END

[Drabble] Egoism

egoism-poster-

cr image :kris-hae.tumblr.com

Egoism

Wu Yi Fan/Kris (EXO-M) | Jung Soora (OC/You)

Drabble (234w) | Hurt, Sad | PG

fyaminwoo

.

.

It’s always going to be okay, ‘Cause you did something right

***

Jam terus berganti, berpuluh menit berlalu, dan detik demi detik jam dinding dipojok ruang terus berjalan. Jung Soora juga tidak menghitung berapa kali sesapan yang ia habiskan. Lanjutkan membaca [Drabble] Egoism

Switch Love

switch love3

Judul : Switch Love

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Wu Yi Fan/Kris (℠ƩΧ◊-M)
Kim Seu Na/Wang Lulu (OC)
Kim Jongin/Kai (℠ƩΧ◊-K)
Park Ga Eum (OC)

Supporting Cast: Choi Seunghyun/T.O.P (Bigbang)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6 (Jangan kaget kalo ternyata namanya KRIS WU. Ak soal’y RP jg ♉(‾⌣‾)♉ . Kalo invite&udaah ak confirm, langsung kasih tau ak ya, kalian siapa. Soalnya mau dimasukin ke kategori  )
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Noona, pokoknya noona harus lihat aku di tv! Aku tidak mau tahu!” Tiba – tiba saja seorang pria terdengar memaksa terhadap orang yang diteleponnya. Kakaknya sendiri.

“Mwoo?? Aku sibuk Jonginnie.. Kau tahu kan deadline novelku berikutnya?” Ucap Seu Na-kakaknya.

Kim Jongin dan Kim Seu Na adalah kakak beradik yatim piatu yang sama – sama berjuang untuk menghidupi kehidupannya. Kim Seu Na adalah seorang penulis novel yang novelnya sendiri sudah diterbitkan dengan cetakan berbagai bahasa di luar Korea.

Sedangkan adiknya, Kim Jongin adalah salah satu penyanyi di dalam boyband bernama EXO. Pria yang memiliki nama panggung Kai ini adalah seorang ‘dancing machine’ di EXO-K yang merupakan sub-grup dari EXO.

Kesibukan mereka berdua membuat mereka tinggal terpisah. Jongin kini dengan terpaksa tinggal di dorm EXO. Sedangkan Seu Na tinggal di rumahnya seorang diri. Hanya dengan ponsel dan jejaring sosial lah mereka berkomunikasi. Tak jarang mereka saling menggunakan ‘web cam’ untuk saling bertatap muka melepas rindu mereka.

Untuk bertemu, mereka hanya bisa tiga bulan sekali. Itu pun dengan waktu kurang dalam 24 jam. Karena itu, Jongin sering memberikan ‘free pass card untuk kakaknya, Seu Na secara diam – diam untuk menambah frekuensi bertemu mereka. Namun, belakangan ini Seu Na sangat sibuk karena tenggat waktu novel terbarunya yang harus diserahkan ke penerbit.

“Jebaaall noona…ini kan comeback stage ku. Aku sudah mengalah kalau kau tidak mau datang ke sini, tapi kau harus melihatku!”

“Ya ya ya Jonginnie aku akan menonton tv.. Jam berapa memang?” Tanya Seu Na.

“Sekarang, noona! Setengah jam lagi. Kau tahu, aku sedang persiapan dengan yang lainnya.”

“Okay, good luck Jonginnie!”

“Gomawo, noonaaaa~~ Tapi kau harus melihatku..”

“Haih, ne! Aku akan menontonmu! Puas kau, eoh?” Ucap Seu Na kesal karena desakan adiknya. Terdengar suara gelak tawa pria itu dari tempatnya.

“Ya sudah, bye noona!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ga Eum, kau sudah makan belum?” Gadis belia itu tidak menanggapi pria yang sedang mengajaknya bicara.

“Ga Eum…???” Masih tidak ditanggapinya pria itu. Ia masih asik membaca yang dipegangnya.

“Ini gege belikan makanan untukmu. Cepat makan sebelum makanannya dingin.” Hingga pria itu meletakkan makanan itu di hadapannya, ia masih tidak menggubrisnya.

“Yaa!! Park Ga Eum!!” Pria itu mengambil paksa buku itu dari tangan gadis berambut hitam sebahunya.

“Yaaa!! Gegeeee~~~ Kembalikan!!” Seketika gadis itu menjerit.

“Buku apa sih yang kau baca sampai kau begitu fokus membaca?” Pria itu melihat sampul novel itu dan membolak – balik halaman demi halamannya.

“Romance novel? Heey, kau masih kelas tiga SMP.. Kau tahu itu, eoh?” Pria itu menyilangkan kedua tangannya di dada dan menutup novel itu.

“Yi Fan gege, kembalikan..itu kubeli dengan uang jajanku, kau tahu! Aku rela tidak jajan demi novel best seller itu!”

“I don’t care.. Atau aku telepon ahjumma saja?” Pria itu mengambil ponselnya yang tergeletak di samping makanan untuk Ga Eum.

“Nooo!! Jangan telepon eommaa!!” Ga Eum berusaha mengambil ponsel itu dari tangan pria berambut blonde itu. Karena postur pria itu yang jauh lebih tinggi dari Ga Eum, meskipun gadis itu terus melompat – lompat, ia tidak bisa meraih ponsel itu.

“Gegeeee~~ Jebaaaalll~~~ Jangan telepon eommaaa…” Ga Eum terlihat merajuk pada pria yang memiliki nama panggung Kris yang merupakan leader dari sub grup EXO-M.

“Okay, tapi kau harus makan malam ini. Aku bisa dibunuh ahjumma kalau kau sakit, tahu!”

Ya, memang kini Yi Fan sedang dititipi Ga Eum, sepupunya yang masih belia. Orang tua gadis itu sedang berada di Canada untuk ekspansi bisnisnya bersama kedua orang tua pria bermarga Wu itu. Karena tidak mau repot menyewa pembantu rumah tangga, Yi Fan selalu membawa Ga Eum kemana pun ia pergi seolah gadis itu adalah ‘ekor’-nya. Kecuali jika gadis itu sekolah, maka Yi Fan akan membiarkannya dan hanya menyuruh supir pribadinya untuk menjemput Ga Eum dan mengantarkannya ke tempat dia bekerja.

Demi Ga Eum, ia rela mengeluarkan uang pribadinya untuk menyewakan apartment yang letaknya dekat dengan dormnya hingga ia bisa memantau Ga Eum. Ga Eum pernah dijadikan sasaran sasaeng fans karena ia selalu dekat dengan Yi Fan.

Dan lewat akun pribadi jejaring sosialnya, Yi Fan mengutuk semua perbuatan sasaeng fans yang sangat mengganggunya. Tidak hanya itu, SM Entertainment harus sampai membuat konferensi pers untuk EXO demi penjelasan tentang keberadaan Ga Eum.

“Kris-ssi, sudah saatnya EXO tampil.”

“Well, kau ditinggal sendiri tidak apa – apa kan, Geummie?” Panggilan kecil untuk gadis itu pun selalu terlontar ketika ia memanggil Ga Eum.

“Gwaenchana, gege…” Jawab Ga Eum yang mulai memakan makanan yang dibelikan Yi Fan untuknya.

“Hehehe, kalau si tiang listrik itu tidak ada, aku kan bisa baca novelnya Wang Lulu eonni…” Batin Ga Eum.

“Baiklah…kalau begitu, kau makan yang benar, ne?”

“Ne, gege…” Bersamaan dengan jawaban Ga Eum, Yi Fan meninggalkan gadis itu sendirian.

“Hehehe…akhirnya aku bisa baca novel lagi..” Batin Ga Eum yang kemudian berjalan ke salah satu meja rias tempat buku itu berada.

Cklek! Seorang pria menyembulkan kepalanya ke dalam ruangan itu.

“Huaaa!! Ommoo!! Ge…gege..!!” Ga Eum terlonjak kaget dan menatap ke arah pintu dengan mata membulat.

“Hahaha, got you! Kau pasti mau membaca novel itu lagi kan?” Pria itu kembali masuk ke ruangan itu. “Novel ini, gege sita! Kau masih terlalu kecil untuk membaca novel ini!” Ia kemudian mengambil novel itu dan dibawanya keluar.

“Makan yang benar yaa..” Pesan Yi Fan.

“Gegeee!!!!!!!” Dan sukses membuat Ga Eum berteriak histeris ketika novelnya diambil.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tata lampu panggung digelapkan saat show dimulai. Kedua belas pria itu berdiri beraturan membentuk sebuah pohon. Seiring berjalannya musik, pohon yang terbentuk dari dua belas pria yang berdiri berdekatan mulai berpencar satu per satu. Dimulai dari keluarnya Chanyeol yang mulai menyanyikan lagu yang berjudul Wolf, teriakan para gadis yang menonton mereka pun mulai terdengar semakin keras. Pria dengan sepasang alis tebal pun melanjutkan lagu yang dinyanyikan Chanyeol sebelumnya. Kai yang kemudian keluar dari posisinya seolah menjadi patokan untuk member lainnya untuk saling berpencar.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di rumahnya, Seu Na yang menonton acara comeback stage adiknya, Jongin merasa sedikit tercengang melihat adiknya yang seolah berubah menjadi sosok pria dewasa.

“Apa aku tidak salah liat? Itu Jongin kan? Sudah lama aku tidak melihat wajahnya…” Batin Seu Na.

Tiba – tiba ponselnya berbunyi. Gadis itu berusaha menggapai – gapai ponselnya yang terdapat di atas meja di hadapannya. Tapi kedua matanya tidak terlepas dari tv yang menampilkan acara musik.

“Ash! Siapa sih? Mengganggu saja!” Seu Na hanya mengabaikan pemberitahuan di ponselnya yang menunjukkan pada twitter pribadinya.

“Aigooo..aigooo…aku cinta padamu Jonginniee~~” Tiba – tiba saja kepribadian Seu Na berubah layaknya fan girl – fan girl EXO lainnya.

Selesai menonton, gadis itu kembali berkutat dengan notebooknya mengetik novel terbarunya.

“Ommoo!! Tadi ada yang ‘mention’ twitterku kan!” Seu Na kembali meraih ponselnya.

“Eonniii~~ Novelku diambil gege…huweee~~~” Seu Na membaca ‘mention’ twitter untuknya dari Ga Eum.

“Ga Eum? Kalau tidak salah, Ga Eum yang sering memberikanku desain – desain gambar untuk cover novelku.” Batinnya.

“Ah! Sepertinya aku punya nomor ponselnya.” Gadis itu pun segera mencari nama Ga Eum di daftar nomor ponselnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Eonnii~~ Huweeee~~~ Novel eonni…” Ga Eum mengadu pada Seu Na yang menelponnya.

Ga Eum dan Seu Na memang sangat dekat. Mereka berteman sejak sebelum novel karangan Seu Na terkenal seperti sekarang. Bahkan Seu Na sendiri sudah menganggap Ga Eum sebagai adiknya sendiri. Walau pun mereka belum pernah bertemu sekali pun, salah satu dari mereka pasti akan saling menghubungi dulu hanya untuk sekedar menanya kabar saja.

“Hee? Waeyo?” Tanya Seu Na.

“Gege tidak membolehkanku baca novel eonni…”

“Wae?” Tanya Seu Na lagi.

“Alasannya karena aku…aku masih SMP… Dan aku…”

Tiba – tiba ponsel yang dipegang oleh Ga Eum ditarik paksa hingga ia terhentak kaget.

“Gege!!!” Ga Eum kembali berteriak.

“Hey kau! Kau yang menulis novel, eoh? Kau mau meracuni pikiran polos adikku dengan kisah – kisah romance yang kau buat, hah?!! Dan kau, entah siapa kau! Berhenti berhubungan dengan adikku! Kau hanya menimbulkan dampak buruk bagi Ga Eum! Arraseo?!!!” Yi Fan merebut ponsel Ga Eum dari tangan gadis itu dan terlihat dengan nada emosi ia memarahi orang yang sedang menelpon Ga Eum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mwo??!!!! Siapa dia?!! Tiba – tiba mengomeliku seenaknya!” Seu Na terlihat gusar.

“Yaa!!! Nuguseyo?!! Kenapa kau marah – marah denganku?!!” Bentak Seu Na.

“Cih! Kau tidak perlu tahu aku! Aku hanya menyuruhmu berhenti meracuni pikiran Ga Eum!”

“Siapa yang meracuninya, hah?!!! Kalau kau tidak tahu isi novel itu, lebih baik diam!” Balas Seu Na.

“Yaa!! Aku tahu isi novel itu! Jangan pernah menyuruh Ga Eum membeli novel – novelmu!”

“Oh ya? Aku tidak pernah menyuruhnya. Dia yang senang membaca. Lagi pula, apa kau lahir di zaman penjajahan, eoh? Kau tidak memiliki kisah cinta saat remaja? Kasihan sekali kau!” Sindir Seu Na pada Yi Fan.

“Hey! Kenapa kau menyinggung kehidupan pribadi?!”

“Ahahaha apa tebakanku benar? Kau sungguh kasihan! Hey, tuan…Ga Eum dan orang tuanya juga tidak pernah komplain tentang novelku. Lalu, kenapa tiba – tiba melarangnya untuk tidak membaca novelku?”

“Kau…sigh! Sudahlah, aku tidak mau Ga Eum membaca semua novelmu! Karena sekarang, Ga Eum tanggung jawabku selama kedua orang tuanya di Canada!”

“Kau membatasi pergerakan seorang remaja, tuan! Sangat tidak pantas!” Seu Na berkata pedas terhadap pria yang tidak diketahuinya sebagai anggota dari EXO.

Sementara Yi Fan dan Seu Na sibuk berdebat, Jongin memasuki ruangan itu dan melihat Ga Eum yang terlihat seperti ingin menangis. Karena baru saat itulah ia melihat Yi Fan marah setelah kejadian sasaeng fans itu. Ia tidak mau jika Seu Na dimarahi oleh Yi Fan.

“Hey…” Tegur Jongin pada Ga Eum yang langsung menoleh padanya dengan wajah sedih.

“Ayo keluar..” Ajak Jongin yang menggandeng tangan Ga Eum. Gadis itu pun beranjak dari duduknya. Jongin membukakan pintu untuknya dan bersama mereka keluar dari ruangan itu meninggalkan Yi Fan yang masih berdebat dengan Seu Na melalui ponsel Ga Eum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppaa…huhuhu…” Tangis Ga Eum sontak tak terbendung lagi. Ia hanya bersandar di dinding dan menutupi wajahnya yang tengah menangis.

“Wae guraeyo?” Tanya pria yang berkulit exotis itu. Namun, Ga Eum tidak kunjung menjawab pertanyaannya. Hingga akhirnya, Jongin mengulang pertanyaannya, “Kau kenapa? Uljimma…” Tangan pria itu menghapus aliran air mata yang mengalir dari pipi gadis itu.

“Gege marah – marah..hiks..hiks…”

“Dengan?” Tanya Jongin yang meminta penjelasan Ga Eum lebih lanjut.

“Dengan eonni-ku…”

“Eonni?” Ulang Jongin. “Bukankah kau anak tunggal? Dan setahuku, kau tinggal di sini dengan Kris gege.” Tambah Jongin kemudian.

“Ne, ini seseorang yang sudah kuanggap seperti eonniku..seseorang yang dekat denganku..”

“Nugu?”

“Wang Lulu eonni..”

Kedua mata Jongin terkesiap mendengar nama itu, “Wang Lulu?” Tanya Jongin.

“Ne..penulis novel terkenal itu looh..kau tahu, aku sudah menghabiskan uang jajanku untuk novel terbarunya. Dan gege seenaknya saja menyitanya dariku..huhuhu…dia juga memarahi Seu Na eonni..”

“Aigoo, Gannie harusnya kau bilang padaku, jadinya kau bisa dapat novel itu cuma – cuma.” Batin Jongin.

“Seu Na?” Tanya Jongin seolah tidak tahu.

“Itu nama asli dari Wang Lulu eonni..hiks..hiks..”

“Sudahlah, nanti kita beli novel itu lagi ya..”

“Tapi kan tabungan dan kartu ATM ku dipegang gege…”

“Kau bisa pakai uangku..” Ujar Jongin.

“Annio, oppa..aku menyusahkan oppa..” Jawab Ga Eum lesu.

“Okay, judul novel itu apa?” Tanya Jongin yang kemudian mengeluarkan ponselnya untuk mencatat judul novel itu.

“Behind The Growl Forest. Itu salah satu novel yang kusuka. Aku sedang baca yang itu..”

“Oh, itu..apa cover novel itu sebuah hutan berlatarkan bulan purnama dengan dua ekor serigala dan vampirenya?” Tanya Jongin.

“Ne..dari mana oppa tahu?”

“Aku pernah melihatnya sewaktu aku jalan – jalan. Itu best seller kan? Tapi kupikir itu sama sekali tidak bermutu!”

“Oppa sekarang mau ikut – ikut seperti Yi Fan gege?” Ga Eum berkata lirih.

“Ah! Bukan begitu… Aku suka kok. Terutama dengan cover novel itu. Aku sangat menyukai orang yang membuat cover itu.” Ucap Jongin yang sebenarnya punya maksud tertentu pada Ga Eum.

“Oppa….” Di wajah Ga Eum terlihat sedikit semburat merah. “Cover itu..aku yang buat untuk eonni…” Lanjutnya dengan wajah tertunduk.

“Aku tahu. Makanya aku bilang ‘aku menyukai si pembuat cover’ itu.” Ucap Jongin tersenyum.

“Oppa, bercandamu keterlaluan sekali..” Ga Eum tidak berani menatap Jongin di hadapannya.

“Apa aku terlihat bercanda? Lihat aku..” Jongin mengangkat dagu gadis itu dengan telunjuknya. “Apa aku terlihat main – main saat mengucapkan kalimat tadi padamu?” Tanya Jongin lagi.

“Ge..geun..geundae…” Ga Eum terlihat gugup di hadapan Jongin. “Dari mana oppa tahu kalau aku yang membuat cover itu?” Tanya Ga Eum.

“Tentu saja aku berusaha mencari tahunya dengan jaringan internet. Hey, apa kau hidup di zaman megalitikum, Gannie? Zaman sudah maju loh!” Ga Eum masih tidak berani menatap Jongin.

“So, I think I love you. What should we do now?” Tanya Jongin. Ga Eum hanya mengangguk kecil dan mengulum senyumnya.

“Haish! Kenapa kalimat itu harus terlontar sekarang?” Ujar Jongin sambil memeluk Ga Eum.

“Maksud oppa?” Tanya Ga Eum melepaskan pelukan Jongin.

“Aku berencana melakukan ini saat kita makan malam bertiga. Aku, kau, dan kakakku.”

“Kakakmu? Oppa punya kakak juga?”

“Tentu saja! Tapi belum saatnya kau tahu. Itu akan menjadi sebuah kejutan untukmu.” Jongin mengerlingkan sebelah matanya pada Ga Eum.

“Kejutan?” Batin Ga Eum penuh tanya.

“Gannie, can I…” Wajah Jongin mendekat dengan wajah gadis itu. Ga Eum sendiri juga tidak mengelak karena ia juga menaruh hati padanya
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ckrek!

“Yaa!! Kai! Apa yang mau kau lakukan?!!” Tiba – tiba saja Yi Fan keluar dari ruangan itu dan mendapati Jongin yang hendak mencium Ga Eum.

“Sini, kau Ga Eum!” Yi Fan menarik tangan Ga Eum.

“Ge..geundae..gege…Jongin oppa…nae namjachingu..” Ujar Ga Eum pelan.

“WHAT??!!! Your boyfriend?! Tahu apa kau? Kau masih kelas 3 SMP, Geummie!”

“So what? Aku mencintai Gannie, dan dia juga mencintaiku.” Timpal Jongin.

“Kau tidak memikirkan karir kita? Kalau kau berpacaran, EXO akan diterpa gosip lagi! Terlebih lagi…keberadaan sasaeng fans itu! Aku tidak mau Ga Eum celaka seperti dulu!”

“Gege..aku akan menjaga diriku.. Lagipula, kita kan tidak mempublikasikan hubungan kita..” Bela Ga Eum.

“Tidak boleh! Kau hanya harus belajar Geummie!” Larang Yi Fan yang kemudian meninggalkan mereka berdua.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ting! Tong! Suara bel rumah Seu Na berbunyi malam itu.

“Siapa yang malam – malam seperti ini datang? Jonginnie tidak bilang mau datang..” Seu Na langsung melihat pada interkom yang tersambung keluar rumahnya. Seorang pria bertubuh tinggi memakai kacamata hitam dan masker terlihat pada layar monitor.

“Nuguseyo?” Ucap Seu Na yang tersambung keluar.

“It’s me honey..” Seu Na buru – buru keluar untuk bertemu pria itu.

“Seunghyun!” Gadis itu memeluk tubuh kekasihnya, Choi Seunghyun. Pria yang dikenal sebagai rapper dalam boyband BigBang.

“Bogoshipoo…” Lanjut Seu Na.

“Nado bogoshipo, honey..” Balas pria yang memiliki nama panggung T.O.P sambil memeluk erat kekasihnya.

Pertemuan mereka bermula saat Seunghyun yang memiliki hobi membaca buku pergi ke salah satu toko buku tempat dimana Seu Na menggelar acara fan meetingnya. Sangat klasik. Seunghyun jatuh cinta ketika melihat Seu Na yang sibuk menandatangani buku dan foto bersama dengan fansnya dengan wajah yang sabar meski pun ia kelelahan.

Saat itu Seunghyun yang ada dalam penyamarannya menerobos alur fans Seu Na yang dikenal sebagai Wang Lulu untuk berada di depan gadis itu langsung. Para petugas keamanan pun berusaha mengusirnya. Namun, Seu Na membelanya dan menyuruh menemuinya nanti setelah fan meeting.

Dan semenjak itulah mereka mulai melakukan pendekatan dan beberapa bulan kemudian mereka resmi berpacaran tanpa media dan fans BigBang sendiri mengetahuinya. Bahkan Jongin dan anggota BigBang lainnya pun tidak tahu kalau Seu Na dan Seunghyun berpacaran.

“Kajja kita masuk, chagi..” Ucap Seu Na yang membawa Seunghyun masuk ke dalam rumahnya. Pria itu pun menurut.

“Chagi mau minum apa?” Tanya Seu Na.

“Apa saja honey..” Jawab Seunghyun yang mengikuti Seu Na ke dapur.

“Oh ya! Aku punya ice cream. Kau mau?” Seu Na kemudian meninggalkan sebotol sirup dan gelas yang akan disuguhkan untuk Seunghyun.

“Honey, kau buatkan aku minum saja. Aku bisa ambil sendiri..” Ujar Seunghyun.

“Kau bisa? Baiklah..”

“Kau pikir aku anak SD, eoh? Hahaha…” Kelakar Seunghyun. Ia kemudian mengambil ice cream yang berada di bucket itu dan juga sendok. Pria itu berdiri bersandar pada meja dapur di samping Seu Na. Ia menyuapi ice cream pada kekasihnya yang sedang membuatkan minuman untuknya.

“Anni, chagi..sudah malam..”

“Sesekali tidak apa kan? Tidak akan membuat tubuhmu langsung menggemuk kalau baru hari ini kau makan ice cream malam – malam.” Bujuk Seunghyun. Dan akhirnya Seu Na memakan ice cream itu berdua dengan Seunghyun.

Malam itu, mereka menghabiskan waktu berdua dengan menonton dvd di ruang tengah ditemani dengan se-bucket ice cream. Seolah melupakan deadline novelnya, Seu Na bersandar pada dada bidang Seunghyun dengan manja sambil menonton film itu. Sementara Seunghyun hanya mengusap – usap kepala kekasihnya sambil sesekali ia membuka mulutnya menerima suapan ice cream dari Seu Na.

“Chagi, tinggal satu suap..”

“Kau saja honey yang habiskan..aku sudah banyak..” Ucap Seunghyun.

“Benar tidak mau niihhh??” Seu Na menggoda Seunghyun dengan makanan favorite-nya.

“Annio, honey..makanlah..” Senghyun tersenyum mencubit pipi Seu Na gemas.

Seu Na pun menyuap ice cream terakhir ke dalam mulutnya. Belum semua tertelan, tiba – tiba Seunghyun menarik dagu Seu Na dan mencium bibirnya.

“Kurasa ice cream itu terus menggodaku, honey. Dan sepertinya rasa ice cream itu lebih manis jika di mulutmu.” Ucapnya.

“Kyaaaaa!! Dasar kau mesuuumm!! Seunghyun mesuumm!! T.O.P mesuuummm!!!” Seu Na memukuli pria itu.

“Ssstt! Berhenti memanggilku dengan nama palsuku. Atau aku akan melakukan hal tadi.” Seunghyun memegangi kedua tangan Seu Na.

“Kyaaaaaa!!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku harus buat apa iniiii??” Seorang gadis terlihat bingung di kamarnya. Di tempat tidurnya tergeletak sebuah boneka Angrybird berwarna merah di dalam boxnya.

“Cover novel lagi? Ah! Tidak berkesan, sudah terlalu sering aku buat. Apa yaaaa?”

Tok! Tok! Tok!

“Geummie, kau sudah tidur?”

“Ck! Mau apa sih gege ke sini? Mentang – mentang dia tahu password apartment ini..”

“Belum, ge..” Teriak Ga Eum dari dalam kamarnya.

Pria itu pun masuk ke dalam kamar Ga Eum, “Oh, kau sedang belajar ya?” Tanyanya saat mendapati Ga Eum di depan meja belajarnya.

“Ng….I..itu…uhm..aku..”

“Boneka siapa ini?” Tanya Yi Fan lagi.

“To Seu Na eonni..” Baca Yi Fan pada kartu ucapan yang tertempel di box boneka itu.

“Nugu Seu Na?” Tanya Yi Fan.

“Aku beritahu tidak ya..” Batin Ga Eum.

“Geummie?” Yi Fan menuntut penjelasan.

“Se…Seu Na..eonni…” Yi Fan tampak menunggu kelanjutan kalimat Ga Eum. “Dia..penulis novel yang gege ambil..” Lanjut Ga Eum ragu.

“Mworago?!!” Ia berjalan ke arah Ga Eum yang terduduk di kursi depan meja belajarnya.

“Oh, bagus sekali kau! Bukannya belajar, kau membuat yang tidak – tidak!” Yi Fan melihat ke arah laptop milik Ga Eum.

“Matikan itu, dan ambil buku pelajaranmu!” Perintah Yi Fan.

“Gege…” Ga Eum berusaha memelas padanya.

“Cepat ambil!” Pria yang berkepribadian tegas itu mengambil boneka yang berada di dalam box-nya keluar.

“Gege, itu mau dibawa kemana??”

“Kubuang.”

“Gegeeeee!!! Jebaaall!! Jangan dibuaaaannggg!!!” Ga Eum menghalangi pintu kamarnya menghentikan Yi Fan.

“Kau itu bandel sekali Geummie.. Sudah kubilang kan, kau harus fokus belajar. Untuk apa kau mengeluarkan uang banyak untuknya?”

“Gege..kau jahat sekali…” Ucap Ga Eum sedih.

“Bayangkan jika EXO tidak ada fans-nya! Apa yang mau kau lakukan? Kau tahu, fans-fansmu lebih banyak mengeluarkan uang untuk kalian! Satu orang fansmu, bisa membeli lima atau enam album terbaru kalian demi mendongkrak popularitas kalian! Demi nama kalian terkenal dimana – mana…” Yi Fan pun tertegun mendengarnya.

“I don’t care! Kau harus tetap belajar! Boneka ini akan aku simpan sampai kau selesai ujian!” Ujarnya lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di saat yang sama, Jongin berusaha menghubungi kakakny, Seu Na.

“Noona!!” Serunya.

“Yak! Kau tidak bisa bicara pelan, eoh?” Seu Na menjauhkan ponselnya dari telinga kanannya.

“Kkkk mianhae… Noona, aku boleh minta tolong?”

“Mwo? Tidak biasanya kau bernada memelas seperti ini..” Ungkap Seu Na.

“Aku minta novelmu yang judulnya, Behind The Growl Forest dan juga tanda tanganmu, yaaaa…”

“Are you my fans?” Ledek Seu Na pada Jongin.

“Anni, bukan untukku. Tapi untuk seseorang yang special!”

“Special?” Ulang Seu Na.

“Ne, special.. Kenapa noona kaget?”

“Kau memiliki orang yang special?” Tanya Seu Na penuh selidik.

“Ne, namanya Ga Eum. Park Ga Eum.”

“GA EUM??!!!” Teriak Seu Na.

“Yak! Kau tidak bisa bicara pelan, eoh?” Jongin meniru kalimat Seu Na sebelumnya.

“Mianhae..da..dari mana kau kenal dia? Dia fansku Jonginniieee~~ Dia juga bisa dibilang…”

Belum selesai Seu Na bicara, Jongin menyambungnya cepat, “Si pembuat cover novelmu. Am I right?”

“Ne! Itu benar! Terakhir dia bilang, novelnya diambil oleh gegenya, dan dia terdengar seperti mau menangis. Kau tahu, gegenya itu marah – marah denganku!”

“Kris gege maksudmu?” Tanya Jongin.

“Molla, aku tidak tahu namanya. Katanya sih seperti itu, Jongin..”

“Okay..okay..aku tidak mau bahas itu. So, noona mau kan memberikan novel itu cuma – cuma?” Tanya Jongin lagi.

“As your wish, Kkamjong!” Ledek Seu Na dengan julukan adiknya itu.

“Kkamjong? Oohh…noona mengakui ke-eksotis-an kulitku kan? Hahaha…”

“Aigoo…sudahlah, lebih baik kau istirahat sana!” Seu Na hanya bisa mengeluarkan kata itu dengan desahan kesalnya.

“Oh ya, noona!” Seru Jongin lagi.

“Apa lagi, eoh?”

“Aku berencana mempertemukan kalian..”

“Hee?? Nugu??” Tanya Seu Na.

“Kau dan Ga Eum. Hingga kini ia tidak tahu kalau kekasihnya yang tampan ini adalah adik dari seorang Wang Lulu.”

“That’s great idea, Jonginnie! Aku juga ingin sekali bertemu dengannya.”

“Bagaimana kalau minggu depan? EXO sedikit senggang jadwalnya. Aku juga bisa pulang dan bertemu kamar tercintaku.”

“Jeongmal? Kau mau pulang??”

“Tentu saja! Bagaimana rencanaku?”

“Okay Jongin, I count on you!” Jawab Seu Na.

“Baiklah..sudah cukup bertelepon. Tidur sana!” Suruh Seu Na.

“Ah! Noona!” Seru Jongin lagi untuk ketiga kalinya.

“Apaaan siiihh?!!” Seu Na gusar.

“Saranghae, noona..” Ucapnya lembut.

“Mwoo?! Tiba – tiba pendengaranku tuli sesaat! Sudah sana tidur!” Seru Seu Na yang kemudian terkekeh.

“Noona belum menjawabnya…”

“Nado saranghae, Jongin…” Seulas senyum pun terkembang di bibir tipis gadis itu meskipun Jongin tidak melihatnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“T.O.P-ssi apa benar kau menjalin asmara dengan seorang penulis?” Pria bermata tajam itu terus menghindari para awak media tanpa berkomentar sedikit pun. Sementara teman – temannya yang tergabung dalam boyband BigBang juga bingung tiba – tiba mereka yang sedang bersantai menikmati waktu luang mereka, dihampiri oleh banyak wartawan.

“Kenapa mereka bisa tahu? Dan dari mana mereka tahu?” Batin Seunghyun.

“Hyung, kau benar menjalin hubungan?” Tanya Ji Young yang sering dipanggil sebagai G-Dragon.

Seunghyun hanya membisu. Pria itu masih sedang berpikir siapa yang membocorkan rahasianya ini.

“Hyuunggg!!!” Kali ini empat pria meneriaki Seunghyun meminta penjelasan.

“Haish! Kalian apa – apaan sih?” Gerutu Seunghyun.

“Hyung, dengan siapa kau berpacaran?” Tanya Seungri, pria termuda di dalam BigBang.

“Wang Lulu. Kim Seu Na.” Jawab Seunghyun.

“Mwoo?!!! Penulis novel itu??” Keempat pria itu terlihat menuntut Seunghyun untuk menjelaskan lebih lanjut.

“Ya, sudah hampir satu tahun kami menjalin hubungan.” Ujar Seunghyun.

“Eottohke! Hyung, keterlaluan sekali kau! Kenapa kau tidak memberitahu kami?!” Taeyang angkat bicara.

“Aku hanya tidak suka kehidupan pribadiku diusik.” Jawab Seunghyun datar.

“Setidaknya kita bisa membantumu menyimpan ini..” Sambung Daesung.

“Mianhae…” Hanya kata itu yang keluar dari mulut Seunghyun.

“Sebaiknya aku beritahukan ini pada Seu Na, agar dia lebih berhati – hati…” Batin Seunghyun yang kemudian mengirimkan gadis itu pesan singkat.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Satu minggu setelah diketahuinya Seunghyun yang menjalin hubungan, frekuensi bertemu antara Seunghyun dengan Seu Na pun berkurang. Seunghyun terpaksa membuat klarifikasi di media massa tentang bantahan hubungan itu. Tentu saja ini membuat Seu Na yang biasanya selalu ceria, terlihat murung. Beberapa kali ia mendapatkan teguran dari pihak penerbit karena novelnya belum juga selesai. Dan ia yang sudah terlanjur membuat jadwal bertemu dengan Jongin yang akan membawa Ga Eum, harus memasang wajah cerianya.

Ponsel pun berbunyi di atas mejanya, dengan malas ia menjawabnya, “Ne…”

“Noona, kau kenapa?”

“I’m okay..aku hanya baru bangun tidur.” Jawab Seu Na berbohong.

“Aku dan Ga Eum sudah berangkat menuju cafe tempat kita janjian.”

“Ne, aku akan siap – siap Jonginnie~”

“Perlu kujemput?”

“Anni, kau kesana saja duluan.”

“Ne, ppali wa. Jangan lupa novelmu ya..”

“Ne..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppaa, kenapa aku tidak boleh bicara dengan eonni?” Tanya Ga Eum yang berada di sebelah kanan Jongin yang sedang mengemudikan mobilnya.

“Tidak boleh…karena nanti dia akan memberikan kejutan untukmu, chagi…”

“Kejutan apa?” Tanya Ga Eum.

“Bukan kejutan namanya jika aku memberitahukannya sekarang, chagi…hahaha…”

Tanpa disadari mereka, seseorang mengikuti lajunya mobil milik Jongin yang sudah lama terparkir di pelataran parkir dorm-nya.

“Mau dibawa kemana Geummie?” Batin seorang pria yang duduk di belakang kemudinya. Pria itu berusaha menghubungi sepupunya, namun ponselnya tidak aktif.

Pria bermarga Wu itu terus membuntuti sedan silver milik Jongin. Dan akhirnya mobil itu berhenti di sebuah cafe, “Cafe?? Mau apa dia mengajak Geummie ke cafe? Apa mereka kencan?”

Jongin dengan wajah yang ditutupi sebuah masker dan mengenakan sebuah topi pun keluar. Ia membukakan pintu untuk Ga Eum dan berjalan memasuki cafe itu.

“Ada yang bisa kami bantu? Untuk berapa orang tuan?”

“Saya sudah pesan ruangan khusus di sini atas nama Ga Eum.

“Atas nama Ga Eum untuk tiga orang?”

“Ne..” Jawab Jongin.

“Baik, kesebelah sini tuan..” Ujar pelayan cafe itu. Jongin sengaja memesan ruangan khusus cafe itu dengan atas nama Ga Eum agar keberadaannya tidak diketahui media.

“Mwo?!! Kenapa mereka memesan ruangan yang terpisah dari keramaian?!” Pria yang memakai kacamata hitam dan topi itu terlihat khawatir.

“Jeosongmianhamnida…anda tidak bisa masuk karena ruangan khusus sudah dipesan semua.” Salah satu pelayan cafe melarang Yi Fan masuk.

“Saya ada urusan di dalam.”

“Tapi maaf tuan..anda tidak bisa masuk..”

Yi Fan kemudian mengeluarkan kartu identitasnya. Pelayan itu terlihat akan berteriak. Tapi, belum sempat ia berteriak, Yi Fan menempelkan telunjuknya di bibir waitress itu. “Ssst… Aku tahu kau EXOstan. Akan kuberikan tanda tangan untukmu dan kita berfoto di belakang, setelah kau bekerja. Bagaimana?” Tawar Yi Fan kemudian.

“Annio! Sekarang, dan kau bisa langsung masuk ke dalam.” Ucapnya. Yi Fan tampak menimbang – nimbang, “Baiklah. Aku tidak punya waktu banyak.” Ujar Yi Fan yang kemudian mengajaknya berfoto di belakang.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa…kau benar – benar adiknya Seu Na eonni?”

“Kau pikir aku bercanda?”

“Anni..bukannya begitu..geundae…”

“Nanti bisa kau lihat sendiri, chagia…” Ucap Jongin.

“Ne, oppa…” Jawab Ga Eum menurut.

“Chagi, ada apa di matamu itu?” Tiba – tiba Jongin menunjuk pada mata kanan Ga Eum.

“Hng? Ada apa? Oppa ada apa di mataku?” Gadis itu seketika panik dan berusaha mengambil cermin kecil yang selalu dibawanya kemana – mana di dalam tasnya.

“Coba sini aku lihat dulu..” Ucap Jongin yang mendekatkan wajahnya pada Ga Eum. Sebenarnya yang tadi adalah alasan pria itu untuk mencium Ga Eum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Haihh! Well, kau harus mengatur ekspresimu, Seu Na!” Gumam gadis itu sendiri.

“Ada yang bisa saya bantu, agasshi?”

“Saya minta diantarkan ke ruangan khusus atas nama Ga Eum.”

“Baiklah, sebelah sini agasshi..” Jawab pelayan itu ramah.

Gadis itu kini sudah berada di ambang pintu ruangan itu. Pelahan ia membuka pintu itu dan menyembulkan kepalanya.

“Hoi!” Gadis yang di dalam ruangan itu bersama Jongin sontak mendorong Jongin menjauh darinya dan menolehkan kepalanya kaget ke arah pintu.

“E..eon…eonnii..!! Seu Na eonniii!!!” Seru Ga Eum saat melihat kakak dari Jongin itu datang.

“Annyeonggg~~” Sapa Seu Na dengan senyuman.

“Huuwwaaa!! Seu Na eonni!! Aku tidak percaya bisa bertemu Seu Na eonni langsung!!” Ga Eum langsung memeluk erat wanita kelahiran ’91 itu hingga paper bag yang dibawanya terjatuh.

“Waakk!! Ses…sesaakk~~” Ucap Seu Na terbata – bata.

“Argh!! Noona! Kau merusak suasana tahu!” Tiba – tiba Jongin yang sedari tadi memperhatikan mereka berdua akhirnya angkat bicara.

“Mwooo?? Aku??”

“Ne! Hampir saja tadi aku menciumnya! Dan kau datang disaat yang tidak tepat!” Gerutu Jongin.

“Yaakk!! Jadi oppa membohongiku tadi?!!” Ga Eum memukul Jongin dengan tas tangan miliknya.

“Hehehe mianhae, chagia…”

“Oh ya, kudengar novelmu diambil ya? Ini, aku bawakan yang baru untukmu, Gummy.”

“Gummy?” Tanya Ga Eum.

“Namamu susah diucapkan, tahu! Jadi aku menyingkatnya jadi Gummy. Tidak apa kan? Hehehe…” Seu Na seenaknya saja memberikan nama pada Ga Eum.

“Aku terima deh eonni..pemberian nama darimu..kkk~”

“Oh, ini..nanti aku lupa memberikan novel ini..”

“Behind The Growl Forest!!” Seru Ga Eum senang. “Kyaaa ada tanda tangan eonni juga..!!” Lanjutnya.

Gadis itu kemudian mengeluarkan ponselnya dan memberikannya pada Jongin, “Oppa, tolong foto kita yaaa…jebaaall~”

“Ahahahaha~” Seu Na tak sanggup menahan tawanya melihat Jongin yang seorang penyanyi terkenal disuruh – suruh oleh seorang gadis.

“Jangan tertawa kau, noona!”

“Sudahlah…foto saja kita…” Ujar Seu Na menahan tawanya.

Saat mereka berfoto – foto, Seu Na juga memotret Ga Eum dengan Jongin. Dan sukses mereka berdua dijadikan bahan ledekan oleh Seu Na. Namun, tiba – tiba saja…
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
BRAAKK!!

“Ge…gege?!!” Ga Eum membulatkan kelopak matanya melihat Yi Fan sepupunya di depannya.

“Bagus ya, aku sudah pernah bilang kan, kau tidak boleh berpacaran, Geummie! Ayo pulang!” Yi Fan menarik Ga Eum hingga ia meringis kesakitan.

“Gege, appo…shireo! Aku tidak mau!” Ga Eum berusaha melepaskan tangannya.

“Yaahh!!! Kenapa kau jadi orang kasar sekali dengan wanita?!! Kau siapa hah?!!” Seu Na mengambil Ga Eum dari Yi Fan dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.

“Noona…dia Kris ge…” Bisik Jongin lirih. Namun, tampaknya Seu Na tidak menggubris ucapan Jongin adiknya.

Yi Fan melepas tangan Ga Eum dan berjalan pada Seu Na, “Kau tidak tahu aku, eoh?” Yi Fan mengurung Seu Na diantara tubuhnya dan dinding.

“Yang kutahu kau hanyalah seorang pria pemaksa, kasar, dan tidak pernah memikirkan perasaan orang!” Jawab Seu Na.

“Kau bilang apa?!!” Pria itu memukul dinding tepat di sebelah kepala Seu Na hingga gadis itu hanya bisa menutup matanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Buakh!! Sebuah tinjuan membuat dagu pria itu lebam.

“Se…Seunghyun…” Seu Na terkejut dengan adanya kekasihnya di hadapannya.

“Jangan pernah kasar dengannya!!!!”

“Oh, ada member BigBang yang sedang digosipkan itu ya?” Yi Fan berujar dengan angkuh.

“Kudengar, kau menjalin hubungan dengan penulis. Dengan gadis ini kah?” Lanjut Yi Fan menunjuk Seu Na.

“Ya! Dan kau, jangan pernah mengganggunya atau kau mati di tanganku!!!” Seunghyun menunjuk wajah Yi Fan. Sontak saja pengakuan Seunghyun yang sedang berada di cafe itu bersama anggota BigBang lainnya langsung mendapatkan kilatan flash light dari pengunjung cafe yang banyak menggunakan ponselnya.

“Hyung….kau…” Taeyang merasa kalau BigBang akan mendapatkan masalah besar.

“Kau berani juga ya hyung mengungkap semuanya di tempat umum.” Ujar Yi Fan.

BUAGH!!! Sebuah tinjuan didaratkan di pelipis pria berdarah Canada itu hingga tubuhnya tersungkur. Tak hanya itu, Seunghyun terus memukul Yi Fan dengan mengangkat kerah bajunya.

“Oppaa!! Geumanhae..oppaaa!!” Seu Na berusaha menarik Seunghyun dari Yi Fan.

“Andwae, honey! Dia harus diberi pelajaran!” Kembali Seunghyun melayangkan tinjuannya. Tidak terima dengan perlakuan Seunghyun, Yi Fan pun membalas tinjuan Seunghyun.

“Oppaaa!!!! Hentikaaann!!!” Seu Na berteriak ketika melihat darah yang sudah mulai keluar dari kedua tubuh pria itu.

“Gege! Sudah!!” Jongin dan Ga Eum juga melerai. Tak tertinggal, anggota BigBang juga melakukan hal yang sama.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Begitu cepatnya berita menyebar ke media massa tentang perkelahian Yi Fan dengan Seunghyun. Seu Na menawarkan pada Seunghyun untuk diobati lukanya terlebih dahulu. Sedangkan Ga Eum pulang bersama Yi Fan meski pun bekas darah yang masih terlihat di wajah pria itu.

Seunghyun dan anggota BigBang lainnya setuju untuk ke rumah Seu Na sementara. Jongin yang membawa mobil, pulang bersama kakaknya, Seu Na. Di belakangnya terlihat mobil milik Seungri yang mengikuti mobil Jongin.

“Noona, kau harus menjelaskan semuanya padaku!” Jongin menuntut kakaknya untuk memberikan penjelasan.

“Mianhae, Jonginnie… Noona tidak memberitahumu soal ini…”

“Wae, noona? Selama ini kupikir tidak ada yang disembunyikan diantara kita. Tapi kenapa noona…argh!!” Pria itu memukul setir mobilnya.

“Mianhae…mianhae…aku..aku takut kau marah…”

“Aku tidak mau kau kenapa – kenapa, noona! Jauhi Seunghyun hyung! Wajahmu, dan namamu sudah tersiar sebagai kekasihnya. Aku tidak mau kau kena serangan sasaeng fans, noona!”

“Geundae….”

“Jebal, noona…” Seu Na memilih untuk tidak bicara lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kedua management itu saling tuding. Management yang menaungi EXO dan BigBang itu saling membela artist – artist yang digawanginya. Dan karena itulah Seunghyun yang didampingi managementnya membuat konferensi pers untuk yang kedua kalinya.

“Saya…minta maaf…yang sebesar – besarnya untuk para VIP. Saya…memang menjalin hubungan dengan penulis berinisial SN itu. Dan…demi profesionalisme saya…kami berdua sudah…” Seunghyun tampak menarik nafasnya dalam dan membuangnya perlahan. “Kami berdua…sudah mengakhiri hubungan kami…” Lanjutnya. Seunghyun kemudian langsung meninggalkan meja konferensi pers setelah mengucapkan kalimat itu seolah tidak memberikan kesempatan bagi para awak media. Tidak bisa ia sembunyikan lagi, wajahnya menunjukkan raut kesedihannya.

“Mianhae honey…” Batin pria itu yang tanpa sadar mengeluarkan air matanya meski pun wajahnya terlihat garang. Berkali – kali ia menengadahkan kepalanya berusaha tidak meneteskan air matanya. Ia juga menelpon Seu Na melalui ponselnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di saat yang sama, dirumahnya, Seu Na yang berniat menonton tv, melihat tayangan itu secara live. Tayangan dimana Seunghyun yang memutuskan hubungannya sepihak. Detik itu juga air matanya mengalir dari kedua kelopak matanya. Gadis itu meraih ponselnya dan menekan angka 1 untuk panggilan cepat pada adiknya, Jongin.

Nada sambung pun terdengar. Tapi panggilannya tak kunjung dijawab Jongin. Seu Na pun mencoba lagi dan kini adiknya menjawabnya.

“Hiks..hiks…Jonginnie…huhuhuhu…”

“Noona? Wae??? Kau dirampok? Kau terjatuh? Kau kenapa noona?” Jongin langsung khawatir mendengar kakaknya menangis.

“Bisa kau ke rumah sekarang? Aku membutuhkanmu…hiks..hiks..” Ucapnya disela tangisnya.

“Akan kucoba noona. Kau di rumah saja, ne?”

“Ne…” Jawab Seu Na lirih.

Jongin pun meminta izin untuk pulang hari ini dan esok hari. Beruntung pria itu mendapatkan izin dari manager karena jadwal EXO yang belum terlalu padat.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Noona..?? Noona…?? Noona kau dimana??” Jongin berteriak – teriak setelah tiba di rumah.

Pria itu pun ke kamar kakaknya dan mendapati kakaknya yang mencoba menyayat nadinya, “Noona…!!!” Jongin langsung menghampirinya dan melempar pisau yang digenggamnya.

Tatapan kedua mata sembab gadis itu kosong. Seolah setengah nyawanya hilang. Ia hanya menatap lurus pandangan di depannya. Sontak adiknya langsung merengkuh wajah kakaknya untuk menatapnya.

“Noona, apa yang terjadi padamu? Kau kenapa?” Tanyanya. Tapi, Seu Na tidak menjawabnya sama sekali.

“Noona kumohon jangan seperti ini…” Jongin memeluk kakaknya erat. Tak lama, bahu pria itu basah. Jongin melepaskan pelukannya dan menggenggam kedua tangan Seu Na, “Noona ada masalah apa?”

“Seunghyun…” Hanya nama itu yang terlontar dari bibir Seu Na.

“Wae?” Tanya Jongin yang terus menghapus air mata yang mengalir di pipi Seu Na.

“Aku putus..” Lirihnya.

“Putus? Kau dan Seunghyun hyung?” Seu Na mengangguk pelan.

“Sudahlah, noona…aku tahu kau sedih. Tapi bunuh diri adalah pilihan buruk, noona. Kau mau meninggalkanku sendirian di dunia?”

“Kau terlalu berharga untuk mati di usia muda. Terlebih lagi karena cinta. Kau harus bangkit noona..” Jongin terus memberikan energi positif bagi kakaknya.

“Aku mencintainya..dan aku merasa cocok dengannya…”

“Anni, noona..kalau kalian putus berarti kalian berdua tidak cocok. Tuhan sudah merencanakannya, noona..”

“Ayolah noona..kau tidak boleh seperti ini..ada banyak fans mu yang menunggu karya terbarumu. Ada Ga Eum yang terus menantikan novelmu. Apa kau tidak memikirkan perasaan Ga Eum kalau kau meninggalkannya?”

“Ga Eum sudah memilikimu, Jongin..”

“Anni! Bagaimana denganku? Aku tidak sanggup hidup kalau noona tidak ada.. Kau tidak memikirkanku, noona?”

“Kau sudah dewasa, Jongin..” Seu Na tersenyum masam pada adiknya.

“Noona, aku tidak pernah memohon padamu. Aku hanya ingin noona terus menjalani hidup. Move on! Kata itu pernah kudengar dari Ga Eum yang membaca dari novelmu. Keep move on, noona…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hubungan mereka berakhir? Apa ini salahku?” Yi Fan hanya menatap layar ponselnya saat ia mencoba menjelajahi media sosial.

“Oh, c’mon Yi Fan! It isn’t your mistake!” Pria itu mendoktrin dirinya sendiri.

“Mwo? Oppa serius? Bagaimana kalau aku ke sana?” Tiba – tiba Ga Eum keluar dari kamarnya dengan kondisi menelpon seseorang. Sementara Yi Fan yang sedang membaca buku di ruang tengah, mengalihkan kedua matanya dari buku bacaannya untuk memperhatikan kemana gadis itu melangkah.

“Eottohkee~~~ Terus Seu Na eonni??” Ucapnya lagi.

“Seu Na? Kenapa dia?” Batin Yi Fan yang mencuri dengar ucapan Seu Na.

“Ne, oppa…nanti aku akan ke sana deh menjenguk Seu Na eonni…”

“Seu Na sakit?” Seketika Yi Fan langsung mematung mendengarnya.

“Gege…” Panggilan Ga Eum membuat Yi Fan yang mematung langsung berusaha tenang.

“Hng?” Yi Fan mengalihkan perhatiannya pada Ga Eum.

“Aku boleh ke rumah Seu Na eonni ya…”

“No.” Jawab Yi Fan singkat.

“Gege…jebaaall…”

“I said no, Geummie…” Ucap Yi Fan.

“Gege, Seu Na eonni sakit!”

“Sakit?” Ulang Yi Fan.

“Anni, lebih tepatnya depresi!” Jawab Ga Eum.

“Hng? Depresi?”

“Ne… Gege tidak tahu kalau Seu Na eonni putus?”

“Dari berandalan itu?”

“Yaa!! Dia biasku, gege!” Ga Eum terlihat tidak terima dengan ucapan sepupunya.

“Eonni depresi karena putus dari Seunghyun oppa. Dan semuanya karena gege!”

“Loh kenapa aku?”

“Karena gege buat keributan dengannya!” Jawab Ga Eum.

“Pokoknya, walau pun gege tidak mengizinkan aku pergi, aku akan tetap pergi!” Ga Eum berdiri dengan dua tangan yang terlipat di depan di hadapan Yi Fan yang masih duduk di sofa sambil memegang buku bacaannya.

“Apa – apaan kau, Geummie?”

“I don’t care!” Ucap Ga Eum yang menyingkir dari hadapan Yi Fan.

“Cepat kau siap – siap! Aku akan mengantarmu.”

“Mengantar? Yi Fan gege mau mengantarku?”

“Aku khawatir kau akan pergi berdua dengan Kai!” Dalih Yi Fan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Noona, ayolah..kau harus makan…” Ini sudah kesekian kalinya Jongin membujuk Seu Na untuk makan. Tapi selalu tidak berhasil.

“Noona…jebaaall…satu suap saja…” Jongin menyodorkan sendok yang berisikan soup cream itu di depan mulut Seu Na.

“Aku tidak lapar, Jongin…”

“Noona…..please noona…”

“Sudah kubilang, aku tidak lapar!!!!” Bentak Seu Na.

“Noona, kau….” Di wajah Jongin sangat terlihat raut wajah kecewanya.

Ting! Tong! Ting! Tong! Jongin meletakkan mangkuk soup cream itu dan keluar untuk melihat siapa yang datang.

“Ga Eum..” Jongin langsung memeluk gadis itu. Namun, belum sempat pria itu memeluknya, Yi Fan langsung menarik Ga Eum mundur.

“Oh…gege?? Tumben sekali gege mengantar Ga Eum.”

“Takut terjadi seperti tadi.” Jawab Yi Fan enteng.

“Kajja, masuk..masuk…”

“Oppa, eonni dimana?” Tanya Ga Eum.

“Di kamarnya. Dari tadi dia tidak mau makan. Bisa kau bujuk dia makan?” Pinta Jongin.

“Akan kucoba, oppa…”

“Jonginnie….” Tiba – tiba Seu Na keluar dari kamarnya.

“Noona? Lihat, siapa yang datang..Ga Eum datang, noona…” Ujar Jongin yang menarik tangan Ga Eum.

Seulas senyum pun terkembang dari bibir tipis Seu Na ketika melihat Ga Eum. Namun, raut wajahnya langsung berubah saat melihat lelaki di belakang Ga Eum. Matanya terlihat penuh kebencian melihat Yi Fan yang berdiri di sana.

“Pergi kau!!! Pergii!!!” Seu Na melempar benda di sekitarnya. Ia bahkan sudah memegang vas bunga yang akan dilemparkannya.

“Noona! Andwae!” Jongin dengan sigap menahan tangan Seu Na dan perlahan mengambil vas itu dari tangan Seu Na.

“Andwae, noona…bahaya…kalau kena Ga Eum bagaimana?” Tanya Jongin pelan.

“Aku tidak mau ada dia!!!!!!!” Seu Na berteriak menunjuk Yi Fan.

“Apa dia se-depresi itu?” Batin Yi Fan yang melihat perubahan Seu Na.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa minggu setelah Seu Na mengalami masa depresinya, kini gadis itu perlahan memulai aktifitasnya kembali. Ga Eum lah yang sangat berperan dalam hal ini untuk membantu Seu Na melupakan Seunghyun.

“Eonniii~~~ Eonniii~~~” Ga Eum berlari – larian dari halaman depan dengan setangkai bunga mawar di tangannya.

Belakangan ini Ga Eum memang sering menginap bersama Seu Na. Ini karena Ga Eum terus menyalahkan Yi Fan yang secara tidak langsung telah membuat Seu Na depresi. Karena itu lelaki yang memiliki darah Canada mengizinkan Ga Eum untuk menginap di rumah Seu Na.

“Gummy? Wae? Kenapa lari?” Tanya Seu Na heran.

“I..ini..” Ga Eum menyerahkan setangkai bunga mawar itu pada Seu Na.

“Lagi?” Tanya Seu Na.

“Sepertinya begitu, eonn…ini sudah seminggu kan eonn?”

“Benar tidak ada pengirimnya?”

“Tidak ada, eonniii…” Jawab Ga Eum. Ga Eum terdiam sejenak, dan kemudian dia melanjutkan kalimatnya, “Ah! Eonni! Bagaimana kalau ini dijadikan ide novel? True story mungkin?” Usul Ga Eum.

“Hhmm…bisa sih…geundae…”

“Wae eonni?”

“Hng? Anni..nan eopseo.” Jawab Seu Na yang kemudian melangkahkan kakinya keluar rumahnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Bagus. Ini bunga ketujuh yang kuletakkan, tapi kenapa dia tidak keluar juga? Apa dia tidak penasaran?” Batin seorang pria dari balik dinding pagar rumah Seu Na. Pria yang mengenakan jaket kulit hitam yang senada dengan warna celana dan t-shirtnya, dipadukan dengan kacamata hitam juga topi yang menutupi kepalanya.

“Eonnii~~ Eonnii~~ Eonni mau kemana?” Tanya Ga Eum yang kemudian mengikuti Seu Na keluar.

“A..aigoo! Dia keluar!” Pria itu lantas sibuk mencari tempat persembunyian yang lebih baik.

“Yaaa!!! Nugu ya!!” Seu Na sepertinya mendapati gerakan yang mencurigakan di depan rumahnya.

“Mati kau!” Batin pria itu yang kemudian berlari menuju mobilnya yang terparkir di ujung jalan.

“Yaa!! Waiitt!!” Seu Na berusaha mengejarnya.

“Damn!” Rupanya Seu Na kehilangan jejak pria itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Eonniii~~ Eottohkee~~ Apa yang eonni kejar?” Ga Eum menyusul Seu Na.

“Ng..a..anni…” Jawab Seu Na. Namun Ga Eum tetap melihat ke belakang Seu Na.

“Sepertinya aku kenal mobil itu…” Batin Ga Eum.

“Gummy, ayo bantu aku masak.”

“Hng..aku saja yang masak, eonn..”

“Begitu kah? Kau yakin?” Tanya Seu Na. Ga Eum mengangguk mantap.

“Baiklah, kalau begitu aku akan menyiram tanaman.” Ujar Seu Na lagi.

Sementara Ga Eum memasak, Seu Na menyiram tanaman di halaman depan rumahnya. Tanpa disadarinya sebuah mobil terparkir tak jauh dari rumahnya.

“Sepertinya, dia sudah tidak terlalu depresi..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sebuah sedan sporty berwarna merah berhenti tepat di depan rumah keluarga Kim saat dimana putri keluarga Kim tengah menyirami tanamannya. Seorang pria masuk ke halaman rumah yang terbilang besar tersebut.

“Honey…” Panggilan itu sudah lama tak didengar oleh telinga gadis itu. Dan kini, ia mendengarnya kembali. Gadis itu segera masuk ke dalam rumahnya. Belum sempat ia masuk, tangan pria itu menahannya.

“I need to talk, honey…” Seunghyun membuka kacamata hitamnya dan menatap Seu Na.

“Lepaskan! Tidak ada yang perlu dijelaskan! Kita sudah tidak ada hubungan!”

“Honey, dengarkan aku dulu. Jebal.” Seunghyun kini memeluk tubuh ramping Seu Na tidak peduli ia terus memberontak. Pria itu semakin berani dan kini ia berusaha mencium Seu Na.

Srett! Bhuakh!! Tubuh Seunghyun tertarik ke belakang dan beberapa detik kemudian ia tersungkur karena tinjuan seseorang. Sementara Seu Na hanya menutup mulutnya dengan kedua tangannya melihat Seunghyun.

“Kuperingatkan kau! Jangan dekati seorang wanita jika dia sudah muak denganmu!” Entah kapan Yi Fan masuk ke halaman rumah Seu Na.

“Heh, bocah tengik! Tahu apa kau, hah?! Seu Na masih milikku!” Seunghyun mencengkeram tangan gadis itu.

“Appo..” Seu Na berusaha melepaskannya. Melihat Seu Na terus ingin melepaskan diri, Seunghyun melonggarkan cengkeramannya. Tanpa ia sadari, ia kini berdiri di belakang tubuh Yi Fan seolah meminta perlindungan darinya.

“Honey, kau…”

“Kau lihat? Dia tidak ingin melihatmu di sini, hyung.” Yi Fan bicara dengan menghormati Seunghyun yang lebih tua darinya.

Dengan kasar Seunghyun menarik tubuh Yi Fan dan mendorongnya ke dinding. Ia menahan tubuh Yi Fan dengan tangannya yang besar pada leher pria berdarah Canada-China itu tidak peduli dengan erangan dari Yi Fan, “Kau menang. Tapi kalau sampai terjadi sesuatu pada Seu Na, aku tidak segan – segan merebutnya darimu.”

“Apa dia mengira Seu Na itu kekasihku?” Batin Yi Fan.

“Dengar kau, Wu Yi Fan?!” Seunghyun mendesak leher Yi Fan dengan tangannya.

“N..ne..” Perlahan Seunghyun melepaskan tangannya.

“Dan… Seu Na.. Can I hug you for a moment?” Seunghyun beralih lembut pada Seu Na. Gadis itu menurut.

“Saranghae. Aku membuat keputusan ini karena terdesak. Tapi kalau sudah tidak ada cinta darimu untukku, aku terima itu.” Ucap Seunghyun yang memeluk Seu Na.

“Mianhae…oppa…” Lirih Seu Na.

“Jaga dirimu… Perhatikan pola makanmu, Seu Na…” Seunghyun perlahan melepaskan pelukan hangatnya dan mengusap pipi gadis itu sebelum pergi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kalau kau masih mencintainya, kejar dia..” Ujar Yi Fan. Tapi Seu Na sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Dia hanya menatap punggung Seunghyun yang kemudian masuk ke dalam mobilnya.

“Eonniii~~ Eoh? Gege?” Suara Ga Eum memecah keheningan yang meliputi atmosfer di sekitar Seu Na dan Yi Fan.

“Gege..gege kenapa kesini?” Tanya Ga Eum.

“Aku…” Yi Fan menggantung kalimatnya.

“Apa yang harus kukatakan? Tidak mungkin kan aku mengatakan kalau aku kesini untuk meletakkan bunga mawar itu?” Batin Yi Fan.

“Ge..??”

“Aku ingin menengokmu saja, Geummie. Apa tidak boleh?”

“Oooohh~~ Kupikir ada maksud lain…” Ucap Ga Eum terkekeh.

“Oh ya, eonn… Makanannya sudah siap. Kajja makan.. Oh ya, gege pasti belum makan juga kan? Ayo makan!” Ajak Ga Eum.

“Geundae…” Yi Fan terlihat ingin menolak.

“Eon, boleh kan??”

“Hng? Ne…” Jawab Seu Na.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tak terasa waktu berjalan dengan cepat. Hubungan Jongin dengan Ga Eum nampaknya semakin serius.

“Oppa, bosaaann~~” Rajuk Ga Eum manja pada Jongin.

“Bagaimana kalau ke tempat Seu Na noona fan meeting?”

“Oppa tahu?”

“Tahu dong!”

Mereka berdua saling memandang dan tiba – tiba terbesit sebuah ide. Mereka berdua sama – sama mengeluarkan smirknya, karena dalam pikiran mereka terdapat sebuah ide yang sama.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ayolah geeee~~~ Jebaaall sekali sajaaaa~~~” Ga Eum merajuk pada Yi Fan sepupunya saat di kamar pribadinya yang terdapat di apartment Ga Eum.

“Anni~” Jawabnya singkat dan masih memunggungi Ga Eum.

“Ge, aku tahu rahasiamu loh!” Jongin turut serta dalam hal ini.

“Rahasia apa, eoh? Aku merasa tidak punya rahasia tuh.” Jawab Yi Fan acuh.

“Waah~ Mawar merah ini masih segar! Kau mau memberikannya pada siapa, Ge?” Jongin mendapati sebuah mawar merah di atas nakas sebelah ranjang Yi Fan. Lelaki berambut blonde itu sontak membalikkan tubuhnya dan duduk bersandar di ranjangnya.

“Wae, Ge? Kelihatannya kau tegang sekali?” Tanya Ga Eum.

“Hng? Itu…dari..fans.” Jawab Yi Fan yang berusaha menutupinya.

“Ge..masih mau berdalih juga? Aku melihat mobilmu loh waktu kau meletakkan bunga itu di depan rumah eonni…” Sontak Yi Fan berkeringat karena dia panik. Namun tidak dengan wajahnya. Ia berusaha setenang mungkin.

“Kita hanya mau membantu kookk~ Perasaan itu tidak boleh disembunyikan terus…” Sambung Jongin.

“Cih! Tahu apa kau?” Yi Fan menggerutu.

“Kalau kau mau ikut, cepat siap – siap, Ge.. Kita mau ke tempat Seu Na eonni fanmeeting…” Ujar Ga Eum.

“Siapa juga yang mau ke sana..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa menit kemudian, Yi Fan tidak kunjung keluar kamarnya.

“Gege, ikut tidaakk??” Teriak Ga Eum dari luar kamarnya.

“Anni~” Jawab Yi Fan.

“Chagi, kalau begitu tidak ada cara lain..” Ujar Jongin.

Dan mereka berdua langsung berbicara dengan suara lantang dan keras tentang alamat tempat Seu Na fanmeeting.

“Jeongmal?? Oppaaa~~ Kalau begitu ayo kita segera ke tempat ituu~~~” Ucap Ga Eum bersuara lantang.

Mau tidak mau, Yi Fan yang ada di dalam kamarnya mendengar percakapan mereka berdua.

“Aku kesana tidak ya?” Pria itu sibuk dengan batinnya.

Merasa tidak ada orang di luar, Yi Fan keluar kamarnya. Ia kemudian kembali lagi ke kamarnya, mengganti bajunya dan menyambar kunci mobilnya. Ia melajukan mobilnya menuju toko bunga. Ia membeli sebuah bucket bunga cantik dan juga kartu ucapan.

Ia pun menulisnya di dalam mobil, “Mungkin aku hanya seorang pengecut yang tidak bisa menghadapimu secara langsung. Aku hanya bisa menulis ini untuk menunjukkan perasaanku padamu. Selamat untuk semua prestasi yang sudah kau raih. Setelah kau baca ini, kau bisa membuangnya atau bahkan kau menginjaknya terlebih dahulu. Aku tahu kau membenciku, Na~ Love..”

Setelah menulis itu dan menyelipkannya diantara bucket bunga, Yi Fan melajukan mobilnya menuju tempat fanmeeting Seu Na yang diketahuinya dari percakapan Jongin dan Ga Eum.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, kau yakin gege akan datang?”

“Yakin dong!” Jawab Jongin.

Dan benar saja, tak beberapa lama mereka menunggu di dekat ruangan khusus Seu Na beristirahat, ia melihat pria itu meskipun dalam penyamarannya.

“Terlihat seperti stalker ya…kkkk..” Kekeh Ga Eum pada Jongin.

“Atau sasaeng fans?” Sambung Jongin.

Yi Fan mengenakan topi dan kacamata hitam serta maskernya yang menutup wajahnya. Ia terlihat menengok kiri dan kanan seperti memastikan tidak ada orang.

“Ayo kita hampiri..” Ajak Jongin. Ga Eum pun menurut.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kuletakkan di sini saja. Sepertinya acaranya telah selesai. Ah! Pasti dia di dalam.” Batin Yi Fan.

“Yaa!! Siapa kau?!!” Jongin memergoki Yi Fan.

“Mati kau, mr Wu!” Batin Yi Fan yang terpergok oleh Jongin. Yi Fan berusaha mendorong Jongin untuk melaluinya. Tapi tidak dengan Jongin. Dia terus menahan Yi Fan dan mendorongnya masuk hingga kacamata Yi Fan terlepas. Pria itu masih berusaha menutupi kedoknya dengan menunduk menyembunyikan wajahnya dibalik topinya.

“Neo nuguya?!!” Jongin membentak Yi Fan seolah ia adalah pria jahat. Bahkan Ga Eum kini membuka topi Yi Fan. Jongin pun menurunkan masker yang dikenakan.

“Gege…???” Jongin berpura – pura kaget.

“Ada apa ini?!! Ka..kau…” Seu Na keluar dari ruangannya dan melihat Yi Fan. Yi Fan sudah tidak bisa berkutik lagi.

“Eonnii~~ Ini dari gege~~” Ga Eum menyerahkan bucket bunga pada Seu Na. Dengan wajah heran Seu Na menerima bucket bunga itu.

“Itu bukan dariku!” Yi Fan berusaha mengelak.

“Aku melihat gege meletakkannya depan pintu.” Sambung Jongin.

“I..itu dari fans dia. Fans itu mengira aku…”

“Sudahlah, Ge.. Perlu kujelaskan soal mobil itu?” Ga Eum memotong ucapan Yi Fan. Sementara Seu Na hanya memperhatikan mereka.

“Well, checkmates!” Batin Yi Fan.

“Kau akui saja, Ge..” Jongin mendorong Yi Fan dan menarik Ga Eum pergi.

“Yaa!! Jongin! Geummie!”

“Kau selesaikan urusanmu, Ge!” Ujar Jongin.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Seu Na hanya menggigit bibir bawahnya dengan wajah tertunduk. Sementara Yi Fan berdiri di hadapannya.

“Keluarkan satu kata saja, pabbo!” Batin Yi Fan.

“Hmm..kau…kau sudah selesai acaranya?” Pertanyaan bodoh keluar dari mulut Yi Fan yang mengusap belakang kepalanya.

“Hng..ne..” Jawab Seu Na.

“Ada apa denganmu, Seu Na? Kenapa kau gugup seperti ini?? Bukankah aku membencinya?” Batin gadis itu.

“Jadi…bagaimana…” Yi Fan menggantung kalimatnya.

“Hng…”

“Aku mengakuinya. Aku…aku yang sudah meletakkan bunga di rumahmu, dan yang kau pegang juga.. Sepertinya…kau… Mulai mengubah rasa benciku menjadi rasa…cinta… Would you be…my girlfriend?” Ucap Yi Fan.

“Hng..aku…” Dengan wajah tersipu, Seu Na mengangguk kecil. Karena sejujurnya hatinya mulai terbuka saat Yi Fan membelanya sewaktu Seunghyun ingin menciumnya lagi.

Anggukkan kepala Seu Na sontak langsung membuat Yi Fan memeluknya dan mencium kening gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Apa gege akan menciumnya?” Ga Eum berbisik pada Jongin saat mereka bersembunyi memantau Yi Fan dan Seu Na.

“Kurasa iya.. Seperti kita..”

Ga Eum langsung menoleh dan meminta penjelasan dari pria itu tentang kalimatnya. Namun, belum sempat ia mengeluarkan ucapannya, Jongin mencium bibirnya seolah mencuri ciumannya.

“Oppaa~!” Ga Eum mendorong Jongin.

“Sstt~ Nanti kita ketahuan, chagi..” Ujar Jongin yang akan mencium Ga Eum lagi.

“Waaa! Oppa lihat!” Ga Eum menunjuk ke arah Seu Na dan Yi Fan yang berciuman.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“You’re not my first kiss but you’ll be the last for me…” Ucap Yi Fan pada Seu Na.

“Apa kubilang!” Yi Fan dan Seu Na kaget mendengar ucapan itu.

“Jongiinnn!!” Seu Na menatap Jongin kesal.

“Aku lebih setuju kau dengan gege, noona..” Ujar Jongin.

“Akhirnya kalian saling memiliki..” Sambung Ga Eum.

“Ne, bahkan mereka berciuman depan pintu.. Astagaaa!!” Jongin semakin mendapatkan tatapan maut dari kakaknya.

“Okay…karena kalian berdua sudah berpacaran, aku dan Ga Eum mau pergi jalan – jalan dulu ya.. Kalian juga lebih baik begitu.. Tapi, hati – hati dengan sasaeng fans.” Pesan Jongin sebelum pergi dengan Ga Eum. Sementara Yi Fan dan Seu Na hanya bisa tersenyum dengan tangan yang saling bertautan melihat mereka.

THE END

Wonderful Live_Sequel Our Lives

Judul : Wonderful Live_Sequel Our Lives

Author : Seu Liie Strife

Main Cast: Kris Wu/Wu Yi Fan (℠ƩΧ◊-M)
Kim Suho (℠ƩΧ◊-K)
Xi Luhan (℠ƩΧ◊-M)
Baekhyun/Byun Baekhyun (℠ƩΧ◊-K)
Chanyeol/Park Chanyeol (℠ƩΧ◊-K)
Lay/Zhang Yi Xing (℠ƩΧ◊-M)
D.O/Do Kyungsoo (℠ƩΧ◊-K)
Kai/Kim Jongin (℠ƩΧ◊-K)
Sehun/Oh Sehun (℠ƩΧ◊-K)
Tao/Huang Zi Tao (℠ƩΧ◊-M)
Chen/Kim Jongdae (℠ƩΧ◊-M)
Xiumin/Kim Minseok(℠ƩΧ◊-M)

Supporting Cast : Jung Qia Lie (OC)
Han Hyo Yoo (OC)
Kim Yoo Ra (OC)
Lee Ai Chi (OC)
Zhang Meilin (OC)
Kim Hyena (OC)

Genre : Brothership, Family, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6

Cuap2 Penulis: Sekali lagi, ini adalah FF yang dibuat khusus untuk ℠ƩΧ◊ Dorm tercintah*hallah* Ini adalah kejadian2 yang terjadi di ℠ƩΧ◊ Dorm RP(thanks all of my besties)dan juga untuk Kris Wu Fams RP*kiss&hug* Dan ff ini juga untuk menyambut ultahnya Kris Wu(06 Nov). Mianhae buat anak ℠ƩΧ◊ Dorm yang part ngomongnya dikit*plak*
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, aku pokoknya tidak mau tahu…kau harus menyempatkan diri untuk ke sini!”

“Hyo, aku ada meeting, sayang~”, Ucap Suho.

“Kalau oppa tidak kesini, kita batal menikah!”

“Mworago?!! Hyo, kenapa kau…aissh~ Baiklah, aku akan ke sana.” Ucap Suho akhirnya. Lanjutkan membaca Wonderful Live_Sequel Our Lives

Happy End Life

Judul : Happy End Life

Author : Seu Liie Strife

Main Cast: Kris Wu (EXO-M)
Jung Shiera/Shiera Wu (OC)

Supporting Cast: Park Chanyeol (EXO-K)
Rie Hanaki (OC)
Kim Jongdae/Chen (EXO-M)
Song Ye Eun (OC)

Genre : Married Life, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
ff8
Tok! Tok! Tok!

“Hey, kau tidak sekolah? Cepat bangun!” Pagi ini aku dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamarku.

Tok! Tok! Tok!

“Shieraaa!!” Lanjutkan membaca Happy End Life