Arsip Tag: Victoria

[LAY BIRTHDAY PROJECT] Dispute-sherly.rn

[LAY BIRTHDAY PROJECT] Dispute-sherly.rn
Zhang Yixing & Victoria Song || Alternative Universe || G

Victoria diam memandangi sang suami yang telah menikahi dirinya dua minggu yang lalu. Lay menyesap teh hangatnya dengan tenang dipagi hari minggu ini. Bibir Victoria sudah gatal ingin membicarakan satu hal pada suaminya itu.

Lay yang merasa diperhatikan pun menengok pada istrinya dan mengernyitkan dahinya bingung,

” Vic? Kau kenapa memperhatikanku seperti itu? ” Victoria yang tersadar langsung memalingkan wajahnya karena malu ketahuan oleh suaminya sendiri.

Lay terkekeh melihat sang istri yang masih malu-malu padanya. Lay menghampiri sang istri lalu mendudukkan dirinya disamping Victoria.

” Ada yang ingin kau bicarakan? ” tanya Lay memeluk pundak istrinya.

” Eum, sebenarnya ada. ” jawab Victoria ragu.

” Katakan saja. Aku akan mendengarmu. ” ujar Lay menatap mata cantik sang istri.

Victoria menatap balik mata Lay tidak yakin. Ia takut jika ia mengatakannya Lay akan marah padanya. Huh, ia jadi bingung sendiri.

” Jangan takut. Kita suami istri kan? Jangan menyembunyikan sesuatu dariku. Okay? ” Victoria mengangguk lalu tersenyum.

” Eum, kau tahu kan sebelum kita menikah aku sangat mengidolakan Park Chanyeol. Kau juga lihatkan kamarku penuh dengan foto dan poster Chanyeol? ” ujar Victoria menatap mata Lay yang mulai mendingin. Tatapan mata Lay sungguh memancarkan aura yang mencekam bagi Victoria saat ini.

” Ya. Lalu? ” sahut Lay menaikkan sebelah halisnya. Victoria mulai kesulitan hanya untuk menelan air liurnya.

” B-bolehkah aku memajang poster Chanyeol dikamar kita? ” Lay membulat mendengar pertanyaan dari mulut sang istri.
Victoria mulai merasakan aura menyeramkan dari sang suami pun hanya bisa menundukkan kepalanya. Lanjutkan membaca [LAY BIRTHDAY PROJECT] Dispute-sherly.rn

Last Generation [ FINAL CHAPTER] – Story By Christy Wu

Last generation 2

O R I G I N A L POSTER BY IRISH ART

Last Generation [ FINAL CHAPTER ]

Cast : Krystal Jung ( Krystal Gremory ), Oh Sehun ( Sehun Rouler), Kim Jongin ( Kai Ozera)

Additional Cast : Kris Wu ( Kevin Gremory), Kim Junmyeon ( Suho Ozera), Park Hanna (OC), Park Chanyeol ( chanyeol Vandersmith), Irene RV (Irene Hathway/ Kim Juhyeon), Xi Luhan ( Luhan Rouler), Cheon Sera Sanders/ Sera Rouler ( OC),Sellena Gremory/ Lenna ( OC), Tiffany Hwang ( Tifanny Loudy), Freya alexander (OC ), Do Kyungsoo (Do Kyungsoo Alexander )

Genre : Fantasy, Romance, Family, Friendship, Sad| Rating : PG17+ | Lenght : Chaptered

[Original Story By Christy Wu]

Disclaimer :

ff ini murni dari pemikiran Christy jadi jangan ada yang mencoba mengcopy atau menyebar luaskannya untuk kepentingan pribadi.

Chapter 1Chapter 2Chapter 3Chapter 4Chapter 5Chapter 6Chapter 7Chapter 8Chapter 9Side story Hanna ProblemChapter 10Chapter 11Chapter 12Chapter 13Chapter 14Chapter 15Chapter 16The Moment With YouMoonlight –

Chapter 17

 

 

Lanjutkan membaca Last Generation [ FINAL CHAPTER] – Story By Christy Wu

Last Generation [ Chapter 17 ] – Story By Christy Wu

Last generation 2

O R I G I N A L POSTER BY IRISH ART

Last Generation [ Chapter 17 ]

Cast : Krystal Jung ( Krystal Gremory ), Oh Sehun ( Sehun Rouler), Kim Jongin ( Kai Ozera)

Additional Cast : Kris Wu ( Kevin Gremory), Kim Junmyeon ( Suho Ozera), Park Hanna (OC), Park Chanyeol ( chanyeol Vandersmith), Irene RV (Irene Hathway/ Kim Juhyeon), Xi Luhan ( Luhan Rouler), Cheon Sera Sanders/ Sera Rouler ( OC),Sellena Gremory/ Lenna ( OC), Tiffany Hwang ( Tifanny Loudy)

Genre : Fantasy, Romance, Family, Friendship, Sad| Rating : PG17+ | Lenght : Chaptered

[Original Story By Christy Wu]

Disclaimer :

ff ini murni dari pemikiran Christy jadi jangan ada yang mencoba mengcopy atau menyebar luaskannya untuk kepentingan pribadi.

Lanjutkan membaca Last Generation [ Chapter 17 ] – Story By Christy Wu

Side story Last Generation ( Hanna problems)

h2

Cast : Hanna Vandersmith & Vandersmith Family

Genre : fantasy, comedy | Rating : G | Length : Ficlet

Disclaimer : Ini hanya story selingan aja, penjelasan tiap chapter yang gag bisa Christy jelasin ditiap chapter Last generation. Hampir sama seperti Kai – Hanna kemarin tapi kali ini kita akan mengulik tingkah aneh Hanna dan keluarganya. Dan siapkan penilaian kalian untuk Hanna kekasih Jongin dan keluarganya di kolom komentar.

“ pemadaman listrik semalam bukankah karena salah satu Tower tersambar petir ? bukankah petir sangat dahsyat ?“ Hanna menaik turunkan alisnya membuat Chanyeol memutar bola matanya malas.

Lanjutkan membaca Side story Last Generation ( Hanna problems)

BEST LUCK (Chapter 2)

Displaying PicsArt_1440140052149.jpg

BEST LUCK (Chapter 2)

Author : Hida Cronics

Main Cast : Huang Zitao (Z.Tao / Soloist)

Jung Soo Jung (Krystal / f(x))

Support Cast : Song Qian (Victoria / f(x))

Park Chanyeol (Chanyeol / EXO)

Kang Seulgi (Seulgi / Red Velvet)

Genre : Romance, School Life, Sad, Bit Family

Lenght : Chaptered

Rating : General

Recommended Song : Chen (EXO) – Best Luck

Krystal (f(x)) – All of Sudden

Zhoumi & Victoria (f(x)) – Loving You

Disclaimer : Semua Cast milik Allah SWT & keluarganya. Tapi kalo Huang Zitao udah hak paten saya. Hehe #Borgol_Tao Ff ini pernah ku publish digrup facebook.

Author’s Note : Anyeong… Aku balik lagi bawa ff abal-abal. Ini adalah ff ketigaku yang ku publish disini. Don’t be silent reader. Happy reading

Lanjutkan membaca BEST LUCK (Chapter 2)

Love Contract

Judul : Love Contract

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Kris Wu (EXO-M)

Song Lian(OC)

Supporting Cast :  Song Qian (F(x))

Zhou Mi (Super Junior)

Zhang Yixing/Lay (EXO-M)

Byun Baekhyun (EXO-K)

Christian Bautista

Michelle Wu (OC)

Arlyna Lee (OC)

Han Min Ah (OC)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Lian, berapa usiamu?  Kenapa kau tidak menikah juga seperti jiejie-mu.. Lihat sekarang.. Bahkan dia sekarang sudah memiliki anak..” Seorang gadis hanya bisa menunduk saat kedua orang tuanya sedang bicara serius tentang masa depannya.

“Mama, sudahlah… Mungkin Lian masih mau berkarir dan belajar…” Seorang wanita yang duduk di sampingnya terlihat membelanya.

“Tidak bisa begitu, Qian! Dia sudah dua puluh lima tahun, sudah waktunya dia menikah!  Bahkan kau saja menikah di usia yang sama kan?”

“Dan aku menikah karena perjodohan kalian kan?” Qian masih terlihat membela adiknya yang duduk di sampingnya.

“Tapi kalian bisa hidup bahagia seperti sekarang kan? Bahkan kalian dianugerahi seorang putera.”

“Mama, Papa, beri Lian kebebasan.. Mungkin saja dia masih mau mendalami dunianya sendiri…”  Sambung Qian.

“Jiejie… Kenapa dia mati-matian membelaku?”  Lian hanya bisa menatap kakaknya yang terus membelanya.

“Ini tidak bisa! Kau, Lian.. harus menikah!  Papa sudah punya calon suami yang tepat untukmu! Dan lusa, kalian akan bertemu!”

“Papa, aku… aku masih mau melanjutkan kuliah pasca sarjanaku!” Bantah Lian.

“Kuliahmu itu masih bisa dilanjutkan kan?  Tidak masalah jika kau menikah sekalipun!”

“Tapi, Pa..”

“Tidak ada tapi-tapian! Ini keputusan papa!”

“APA YANG SEBENARNYA KALIAN BERDUA PIKIRKAN?!! PERNAHKAH KALIAN MEMIKIRKAN KEBAHAGIANKU SEBAGAI ANAK?! YANG KALIAN PIKIRKAN HANYALAH PERUSAHAAN, PERUSAHAAN, DAN PERUSAHAAN! KALIAN MENGINGINKAN AKU MENIKAH DENGANNYA KAN?!! DEMI PERUSAHAAN KALIAN KAN?!! ADA APA DENGAN KALIAN?!! APA KALIAN SANGAT SENANG MELIHAT KEDUA ANAKNYA MENIKAH DENGAN PILIHAN KALIAN, HAH?!!” Lian terlihat meluapkan seluruh amarahnya, rasa kesalnya dengan aliran air mata yang tidak dapat terbendung lagi. Setelah mengatakan hal itu, gadis itu pun meninggalkan ruang keluarga dan menaiki anak tangga menuju kamarnya.  Bunyi pintu yang berdebam terdengar hingga sang kakak pun menyusulnya ke kamar.

Rumah keluarga Song yang berada di kawasan Seoul itu memiliki empat orang anggota keluarganya. Pasangan itu memiliki dua orang puteri yang sangat cantik.  Terlahir dari pasangan Song Baolai dan Kim Yunra, anak pertama mereka adalah Song Qian, wanita kelahiran Qingdao pada tahun 1987 yang berprofesi sebagai seorang model papan atas yang memiliki banyak uang. Namun, ia tidak dapat membantah keinginan orang tuanya. Di usianya yang ke dua puluh lima tahun, ia harus menikah dengan seorang pria kelahiran Wuhan, provinsi Hubai pilihan ayahnya. Zhou Mi, pria yang bekerja sebagai pengacara itu adalah anak dari teman dekat Song Baolai, ayah Qian.  Zhou Mi sendiri juga tertarik dengan Qian karena sikapnya yang sederhana.  Walaupun sebelumnya Qian sama sekali tidak tertarik dengan Zhou Mi, lambat laun sikapnya meluluh terhadap pria itu yang kini menjadi suami dan ayah dari anak mereka Zhou Yingzie. Entah kenapa, Qian sangat tidak setuju dengan keinginan orang tuanya untuk menjodohkan Lian-adiknya-juga dengan seorang pria pilihan ayahnya. Qian berpikiran kalau jodoh harus ditemukan sendiri dengan jalan masing-masing.

“Ck, kenapa Papa masih berpikiran sangat primitive?” Dengus Qian kesal. Beruntung saat itu, Qian menemukan jodohnya yang kebetulan tepat dengan Zhou Mi.

“Lian, buka pintunya.. ini jiejie…” Qian dengan sabar mengetuk pintu kamar adiknya dari luar. Ia tahu saat seperti ini, adiknya pasti membutuhkannya.

Dan benar saja, pintu itu terbuka dari dalam. Seorang gadis dengan mata sembab dan aliran air mata yang masih belum kering berada di ambang pintu.

“Don’t cry, dear..” Qian menghapus air mata adiknya dengan ibu jarinya. Lian pun hanya memeluk kakaknya yang masih berdiri di depan pintu kamarnya.

“Jiejie..hiks..hiks..” Isaknya.

“Wǒ zhīdào (aku tahu)…” Qian mengusap punggung adiknya agar tangisnya berhenti.

“Wèi (kenapa)… Kenapa Papa seperti itu pada kita, jiejie? Apa kau yang seorang model terkenal tidak cukup dimatanya? Apa aku yang lulusan luar negeri tidak pantas dimata Papa hingga aku pun harus dijodohkan dengan pria pilihannya?” Lian menangis.

Song Lian, gadis kelahiran Seoul dua puluh lima tahun silam ini sebenarnya tipikal gadis penurut dan mudah bergaul. Ia juga dikenal sebagai gadis yang cerdas. Pendidikannya yang lulusan dari New York juga tidak diragukannya lagi. Profesinya yang kini bekerja sebagai jurnalis merupakan impiannya sejak ia masih berada di bangku SMA. Karena ia masih mau memperdalami bidang yang sedang digelutinya, ia belum mau menikah. Selain itu juga ia masih ingin meneruskan sekolah pasca sarjananya yang hanya tinggal menyusun tesisnya saja.

“Aku mengerti perasaanmu, Lian… Aku juga dulu seperti itu..” Ujar Qian.

“Tapi jiejie sekarang bahagia bersama Mimi gege.. Bahkan sekarang jiejie punya Yingzie kan..” Lirih Lian.

“Kita tidak pernah tahu kehidupan kedepan kalau tidak menjalankannya, Lian…”

“Kenapa sekarang jiejie bicara seperti itu? Jiejie sudah membela Mama dan Papa ya..”

“Bùshì (tidak), bukan begitu maksud jiejie… Maksud jiejie, yaa… mau bagaimana lagi kalau mereka berdua yang menyuruhmu? Kita wanita, Lian.. hanya bisa menurut kan kalau dalam keluarga kita? Beda halnya dengan pria yang bisa memberontak seenaknya saja. Jiejie mengerti, tapi cobalah kau berdamai dengan takdirmu. Jalani ini semua..” Lanjut Qian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Saat ini aku membuka laptopku dan memutuskan untuk menjelajahi dunia maya. Aku teringat dengan temanku saat aku di New York. Uncle Chris! Aku harus menceritakannya ini padanya. Kuputuskan untuk mengirim e-mail pada uncle Chris.

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Shūshu Chris!! Hey, how’s your life, huh? You never ever give me your news hhahaha..  Still remember me, huh?

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Hey! Lian! Ah, how can I forget you huh my little girl! I’m sorry, I’m too busy  so…sigh.. you know, I just have little spare time in my life L What about your life, huh? Where do you live now? By the way, what is “Shūshu”?

 

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Shūshu is uncle kkkkk… woah! Don’t forget to have your meal, uncle Chris >_< I’m in Seoul now.. but in terrible problem! 😥

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Thanks for your caring, dear J Shushu is uncle? Oh, c’mon! Don’t call me with that word.. just Chris..that’s enough for me…Seoul? Terrible? What do you mean? I’m in Seoul now too… Can we meet? *poke*

 

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Haha, allright, I will call you with Chris…Are you kidding me? You are in Seoul now????? >_< Sure! We can meet.. but, when? L I will get married, Chris 😥

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Really?! You gave me heart attack! But, why you look sad?

 

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Because I will married with the man who I never meet before L And two days more I will meet him… Please let me out from this situatioonnn!!! *cry*

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Don’t be sad, dear… Okay, when we can meet? And where?

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Can you kidnap me? Hiks… Chris help me…. 😥

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Bad idea, dear.. What about tomorrow? Wanna hang out with me tomorrow at 3PM?

 

To: christiantista_fantastic@yahoo.com

From: liansong_lockheart@yahoo.com

Yes.. I will… I’ll text you about where we will meet…

 

From: christiantista_fantastic@yahoo.com

To: liansong_lockheart@yahoo.com

Okay, see ya for tomorrow dear! Don’t be sad anymore J

“Chris… seandainya saja kau bisa menculikku lusa nanti… Aku lebih baik ikut denganmu, uncle!” Aku berteriak dalam batinku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Sudah lama menungguku?” seorang pria tiba-tiba saja duduk di sampingku saat aku sibuk dengan ponsel yang kupegang. Ish! Menyebalkan! Jiejie sudah kembali ke Hongkong, sedangkan aku harus tetap di sini dan akan bertemu pria yang dijodohkan denganku! Argh! Dan sekarang ada lagi pria gila yang tiba-tiba… Mwo?!!

“Hi! Are you okay?” Tanyanya lagi yang kemudian duduk di sampingku.

“Uncle Chris!” Aku memeluknya tanpa ragu saat melihatnya. Sungguh tak kupercaya! Penampilannya, bahkan gaya bicaranya masih seperti lima tahun silam saat aku masih di New York.

“Hey, stop calling me uncle, Lian..” Oh Gee! Bagaimana bisa dia, seseorang yang lahirnya sepuluh tahun lebih dahulu dariku bisa masih tetap awet muda seperti ini?? Usianya yang sudah menginjak kepala tiga bahkan masih terlihat seperti dua puluhan.

“Hahaha, so I call you with ahjussi… Chris ahjussi~~” Ucapku.

“Well, terserah kau mau memanggilku apa saja… haaahh~~” Aku terkejut mendengarnya. Sejak kapan dia bisa berbahasa Korea? Wah! Keajaiban!

“Kau bisa berbahasa Korea? Sejak kapan? Hyaaaa!!!” Aku memekik hingga akhirnya ia membekap mulutku.

“Kau lihat? Semua orang memperhatikan kita. Mereka menyangka kalau aku menyakitimu tahu!” Chris mengucapkannya dengan nada kesal.

“Huuh! Kau datang-datang marah padaku.. Menyebalkan sekali, ahjussi!”

“Bagaimana tidak? Kau saja tiba-tiba berteriak seolah-olah aku ini penguntit..”

“Mianhae~” Ucapku dengan membentuk kedua jariku berbentuk huruf V.

“Ahjussi, belikan aku ice cream… Seperti waktu di New York kan kau selalu membelikanku ice cream..”

“Harusnya kau yang membelikanku, Lian.. Hhaha…” Ujarnya yang kemudian tertawa lepas.

“Huhh! Ahjussi pelit..” Aku mengerucutkan bibirku.

“Kau ini masih unik seperti dulu, Lian…” Ia mencubit kedua pipiku.

“Aww! Ahjussiiiii~~~”

“C’mon, let’s buy some ice cream!” Ajaknya padaku.

“Zhēn de ma(benarkah)?” Chris hanya menarik tanganku dan aku mengikutinya.

Di salah satu café ice cream kami mulai saling bercerita. Dan ternyata aku baru mengetahui kalau sekarang ia adalah seorang pebisnis. Namun sayangnya, ia baru saja putus dengan kekasihnya. Haah~~ Bodoh sekali gadis itu kalau benar-benar melepaskan Chris!

“Lalu bagaimana denganmu? Kenapa kau tidak suka jika kau menikah?” Tanyanya yang kemudian membuyarkan lamunanku.

“Apa kau mau kalau kau menikah bukan dengan orang yang tidak kau cintai? Ah! Tidak, maksudku dengan orang yang tidak kau kenal sama sekali…” Ucapku sambil mengaduk ice cream dalam cup-ku.

“Hhm.. ya.. sudah pasti aku tidak mau.. Lalu, apa kau akan menentang orang tuamu?” Tanyanya kemudian.

“I don’t know…” Aku hanya menjawabnya dengan lesu.

“Hey, cheer up! Ck, kenapa wajahmu masih saja seperti itu?” Aku pun tersenyum di depannya. Padahal sebenarnya aku sedang tidak ingin tersenyum. Bagaimana aku bisa tersenyum sementara besok aku harus bertemu dengan orang itu? Sigh~!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Gadis yang terbalut mini dress tanpa lengan dengan panjangnya diatas lutut, gadis itu mengikuti langkah kedua orang tuanya. Sepatunya yang berwarna pink terlihat senada dengan mini dress yang dipakainya. Mini dress dengan aksen renda yang melingkar dan bersusun itu terlihat sangat cocok membalut tubuhnya yang seperti mannequin. Sebuah meja bundar dengan enam kursi telah tersedia. Dua diantaranya telah terisi oleh sepasang suami istri. Ia kemudian duduk di samping ibunya. Di sisi kirinya terlihat masih kosong karena itu adalah kursi yang seharusnya diduduki oleh pria yang akan dijodohkan dengannya.

“Dia belum datang atau memang tidak datang? Ya Tuhan, semoga ia tidak datang…” Harap Lian.

Kedua pasang suami istri paruh baya itu tengah asik berbincang sementara Lian hanya duduk diam sesekali menanggapi pembicaraan mereka. Tak lama pemimpin keluarga Wu tersebut meminta izin untuk menjawab panggilan dari ponselnya. Sedangkan mereka bertiga kembali melanjutkan pembicaraannya dan Lian pun kembali mendengus kesal karena ia pikir semuanya akan berakhir. Pemimpin dari Emperor Group-Xianji Wu kembali bergabung dengan mereka.

“Wèi (kenapa)?” Tanya istrinya.

“Bùshì (tidak), Kris hanya memberitahukan kalau ia terlambat karena hujan jalanan sedikit tersendat. Padahal dia sudah di dekat restaurant sini…” Lian tidak menggubris pembicaraan mereka.

“Masa bodoh dia mau datang atau tidak, terkena macet atau tidak!” Batin gadis itu.

Saat mereka terlarut dalam pembicaraan, tiba-tiba datang seorang pria dengan rambut basah dan terlihat jas hitam yang ia kenakan sedikit basah. Ia kemudian duduk di samping gadis yang tengah duduk terdiam. Sekilas ia tersenyum pada gadis itu.

“Jeosonghamnida semuanya.. aku terlambat karena…”

Belum sempat pria itu menyelesaikan kalimatnya, ayah dari Lian menyambung kalimat itu “Karena hujan dan macet kan?” Pria itu hanya tersenyum.

Kris Wu adalah pewaris tunggal dari Emperor Group yang menaungi lima perusahaan yang telah dirintis oleh ayahnya lama. Dan kini diusianya ke dua puluh enam tahun, ia sudah menjabat sebagai presiden direktur dari salah satu perusahaan yang berada di bawah Emperor Group.

“Kris, bagaimana pekerjaanmu?” Tanya ayahnya.

“Semuanya terkendali dengan baik, Dad..”

“Kris bagaimana kalau kau mengajak Lian untuk jalan atau kau bisa mengeringkan rambutmu itu dengan handuk kecil yang berada di dalam mobil Daddy..” Ujar ibunya.

“Ne, Mom.. I will… Tapi…” Kris menggantungkan kalimatnya.

“Lian, kau temani Kris..” Lian hanya mengangguk dan berdiri dari duduknya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kau itu… sengaja kan menyetujui perjodohan ini?” Pria ini berbicara sinis padaku. Apa-apaan dia?!!

“Maksud oppa?” Tanyaku berusaha sabar.

“Cih! Bahkan sekarang kau memanggilku dengan sebutan ‘oppa’? Sangat menjijikan!” Ráole wǒ ba(yang benar saja)! Dia benar-benar muka dua! Di depan orang tua dia sangat sopan, tapi ternyata…. Errrr!!!

“Kenapa kau diam? Kau terkejut aku mengetahui niat busukmu?”

“Jaga ucapanmu!! Aku menyetujui ini karena aku bukan tipikal orang yang senang membantah perkataan orang tua!” Aku langsung meninggalkan dia begitu saja.

“Hey, kau! Mau kemana?”

“Cih! Untuk apa dia bertanya hal seperti itu?! Dasar tiang listrik! Ishh!!” Aku terus melanjutkan langkahku. Tapi tiba-tiba ada sesuatu yang menarik tanganku.

“Lepaskan!!” Aku berusaha melepaskan tanganku. Tapi saat aku melihat kearah belakangnya, kulihat kedua orang tuaku dan orang tuanya berjalan keluar restaurant.

“Kau lihat kan? Jadi, jangan terlalu percaya diri kalau aku benar-benar menahan kepergianmu.” Dengan kesal aku akhirnya membiarkannya menggenggam tanganku. Sejujurnya aku ingin menendangnya sampai ujung dunia!!!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kami pikir, semakin cepat pernikahan mereka, semakin baik Tuan Song…”

“A..apa?!! Apa pernikahanku akan dipercepat?!!” Batin Lian.

“Ya, saya pikir juga begitu… Sebenarnya saya sudah tidak sabar menimang cucu dari Lian..”

“What the…. Apa-apaan mereka?!! Aku tidak sudi memiliki istri seperti dia apalagi punya anak dari dia!” Batin Kris yang menatap sinis Lian.

“Lian, ayo kita pulang… Mama tahu kau masih mau terus bersama Kris.. Tapi ini sudah malam, Lian…”

“C’mon, Ma! Aku juga sudah mengantuk.” Jawab Lian antusias.

“Tapi….” Wanita paruh baya itu melirik pada kedua tangan mereka yang masih bertautan. Dan mereka pun langsung melepaskan tangan mereka dengan saling menghentak. Dengan gusar, Lian langsung memasuki mobil ayahnya tanpa sepatah kata pun.

“Bagaimana Kris? Tampan bukan?” Tanya ibunya saat gadis itu berada di dalam mobil untuk perjalanan pulang.

“Hhmm…” Jawab Lian singkat.

“Kau mau kan menikah dengannya?” Sambung ayahnya.

“Kalau aku bilang tidak, apa kalian akan menghentikan perjodohan gila ini?” Ucap Lian ketus.

“Kami melakukan ini untukmu juga, Lian..”

“Untukku? Wow! Apa untungnya buatku? Kalian menjodohkanku dengan seseorang yang tak kukenal, dan aku harus tinggal bersamanya, menjalin kehidupan di bawah satu atap dengan menikah, lalu aku harus memiliki anak darinya? Apa baiknya untukku? Kalian selalu memaksakan pikiran dan kehendak kalian tanpa memikirkan keinginan anaknya!!”

“Jaga ucapanmu, Lian!”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Hari terus kulewati menunggu aku yang akan mengubah marga keluargaku. Sangat menyedihkan! Untuk apa aku kuliah di New York kalau akhirnya aku hanya bisa menurut, menurut, dan menurut pada orang tua yang berdalih melakukan ini karena untuk kebaikanku. Dua hari lagi aku akan menikah dengan orang yang seperti tiang listrik itu. Sigh~! Tapi, tenang saja, kupastikan dia tidak akan menyentuhku sedikit pun karena ini…. Kontrak pernikahan ini!

“Sigh~! Lama sekali dia datangnya!” Dengusku kesal karena harus menunggunya datang di sebuah café. Tak lama kulihat pria itu yang tengah berjalan masuk ke dalam café.

“Langsung saja, apa maumu? Aku tidak punya banyak waktu untukmu.” Ucapnya dingin.

“Kau pikir aku punya banyak waktu, hah?! Ini, tanda tangani ini!” Aku menyodorkannya dua lembar kertas dengan pulpen di atasnya.

“Apa ini?” Tanyanya dengan dahi mengernyit.

“Perjanjian. Kita hanya melaksanakan pernikahan ini selama dua tahun, setelah itu kita harus cerai!” Ucapku tegas.

“Tsk! Semudah itu kah kau memutuskan?” Tanyanya yang kemudian bersandar pada sandaran bangku café.

“Tentu saja! Karena aku tidak akan sanggup tinggal satu atap denganmu!” Aku membuat beberapa point dalam perjanjian itu. Masa bodoh dia mau terima atau tidak. Tapi kurasa dia akan menerimanya dengan mudah.

“Apa ini? Kenapa ada point seperti ini? Memperbolehkan pasangan masing-masing untuk bebas melakukan apa saja di rumah kita yang baru?” Ia membaca salah satu point yang kubuat.

“Ne, wae?” Tanyaku.

“Bagaimana kalau ketahuan oleh orang tua kita? Kau tidak memikirkan dampak buruknya, eoh? Apa otakmu dangkal?”

“Yaa!! Kau…!! Sigh~!” Aku berusaha meredam amarahku karena ini tempat umum. Kalau saja tempat ini tidak ramai, sudah kubunuh pria ini!!

“Ternyata dugaanku benar… Hanya gelarmu saja yang berasal dari New York, tapi pemikiranmu sungguh kampungan!” Ejeknya.

“Oh Tuhan… Berikanlah aku kesabaran menghadapinya…” Batinku.

“Jadi seperti ini tuan Kris Wu yang terhormat…” Aku mengela nafasku dan kemudian melanjutkan perkataanku “Kita bisa saling menutupinya kan? Kalau aku bawa pasanganku ke rumah, kau bisa menutupi kedatangannya. Begitu pula denganku. Jika pasanganmu yang datang, maka aku akan menutup mata dan telinga dan akan menutupinya dari orang tua kita.”

“Well, aku setuju.. karena ini juga menguntungkanku karena aku juga memiliki kekasih…”

“Kalau begitu, kau tanda tangani!”

“But, wait.. Kurasa harus ada point tambahan.. Karena menurutku ini tidak adil karena semua perjanjian ini kau yang membuatnya tanpa ada campur tanganku. Bukankah aku harus turut andil juga, eoh?” Ujarnya yang kemudian menatap selembar kertas itu dengan seksama.

“Sigh~ Baiklah… Apa maumu?” Tanyaku.

“Aku mau dalam perjanjian ini kau tidak hamil. Baik denganku atau pun dengan pria yang menjadi kekasihmu. Yaaa… itu juga bisa mempermudah proses perceraian kita kan setelah dua tahun?”

“Ada benarnya juga orang ini… Kalau aku hamil, pasti proses perceraian jauh lebih sulit karena ada anakku nanti..” Pikirku.

“Baiklah… Aku setuju.” Jawabku kemudian.

Menyebalkan! Di saat seperti ini, Chris ahjussi tidak ada karena dia terlalu sibuk. Kalau aku mau mengadu pada Qian jiejie, aku tidak enak karena jiejie kan juga harus mengurus suami dan anaknya… Huuh!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Dua hari kemudian, dilangsungkanlah pernikahan itu yang dilandasi dari suatu perjodohan kedua orang tua mereka. Pengantin pria sudah menunggu di altar sementara sang pengantin wanita berjalan bersama ayahnya menuju altar. Gaun pengantinnya yang panjang membuatnya semakin terlihat anggun. Terlebih lagi dengan bucket bunga yang berada di tangannya. Dengan senyum yang terpaksa, ia berusaha terlihat bahagia di depan para tamu undangan.

“Kau harus tahan ini selama dua tahun, Lian…” Batin Lian saat dirinya kini sudah bersanding dengan pria keturunan Canada-China tersebut.

Kedua mempelai pun saling mengucapkan janji suci pernikahan mereka yang akan mengikat mereka dalam sebuah rumah tangga. Seseorang yang membawa cincin pernikahan mereka pun kini sudah berdiri di hadapan mereka berdua. Sepasang suami istri yang baru saja resmi beberapa menit yang lalu pun saling memasangkan cincin.

“Sebagai bentuk rasa kasih sayangnya, pengantin pria bisa mencium pasangannya..” Ucapan itu membuat Lian sedikit tersentak kaget. Tidak mungkin ia menyerahkan ciuman pertamanya begitu saja pada pria yang tidak ia cintai.

Kris yang tengah menggenggam tangan Lian pun sedikit menarik tangan gadis itu hingga gadis itu menghadapnya. Dengan gelengan kecil, Lian berusaha memberitahu pada Kris kalau ia tidak ingin dicium. Pria itu kemudian menarik istrinya mendekat padanya dan mencium sudut bibir gadis itu. Lengannya ia lingkarkan pada bahu gadis itu dan sebelah tangannya ia gunakan untuk menangkup wajah gadis itu seolah ia akan menciumnya. Dan cara itu cukup berhasil untuk mengelabui para tamu kalau ia telah mencium bibir wanita yang sudah resmi menjadi istrinya tersebut. Lian pun sedikit bernafas lega.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kau mandi duluan..” Terlihat Kris yang melepas dasinya dan membuka jas yang ia kenakan saat acara pernikahan tadi. Sementara Lian tanpa menjawab hanya masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya.

Bunyi gemericik air pun terdengar dari dalam kamar mandi. Sementara itu seorang pria kini menghempaskan tubuhnya ke atas sofa yang berhadapan langsung dengan sebuah tv. Ia pun mengambil remote tv tersebut dan mulai mencari saluran tv yang setidaknya menghibur perasaannya yang sedang kesal karena harus menikah. Namun, karena faktor kelelahannya, rasa kantuk pun mulai menyerangnya. Berkali-kali ia duduk dengan kepala terkulai karena rasa kantuknya. Walaupun tangannya menopang dagunya, keinginan untuk tidur baginya pun tidak dapat dilawan lagi. Perlahan, ia pun mulai memasuki alam bawah sadarnya dan tertidur pulas.

“Aku sudah selesai, sekarang kau yang man…” Seorang gadis yang baru saja mengganti marganya tersebut mendapati lelaki yang kini sudah menjadi suaminya tengah tertidur di atas sofa dengan posisi kaki yang terjuntai sementara setengah badannya terkulai.

“Ommo… bodoh sekali orang ini…” Terlintas dipikiran Lian untuk membangunkan pria bermarga Wu tersebut. Namun rasa ibanya karena ia juga merasakan hal yang sama-lelah-maka ia mengurungkan niatnya untuk membangunkan Kris. Ia memilih untuk mengangkat kaki Kris ke sofa meskipun berat dan menyelimutinya dengan selimut yang ia ambil dari dalam kamarnya.

“Ugh! Kakinya saja berat!” Dengus Lian kesal.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Karena bosan, aku mengambil ponselku dan memutuskan untuk online di salah satu situs sosialku, weibo. Aku langsung mengirim pesan untuk teman cyberku yang sangat dekat. Michelle Wu. Ya, dia dan kekasihnya Zhang Yixing juga termasuk orang yang tahu tentang latar belakang pernikahanku selain Christian. Namun, sayangnya Michelle tidak tahu dengan siapa yang aku menikah.

To: @chellwuchell_mi

From: @lianlian_song

Chell…. L

 

To: @lianlian_song

From:@chellwuchell_mi

Waaaa!!! Jiejie?? Tumben sekali kau online di weibo!

 

To: @chellwuchell_mi

From:@lianlian_song

Aku sedang bosan.. Kapan kau ke Seoul? Kau betah sekali di Hongkong! Apa kuliahmu sudah selesai?

 

To: @lianlian_song

From: @chellwuchell_mi

Sudah kok, Jie… Aku hanya tinggal menunggu wisuda saja… Papa dan Mama akan kuberitahu tentang jadwal wisudaku. Karena itu mungkin tiga bulan lagi aku akan kembali ke Seoul.

 

To: @chellwuchell_mi

From:@lianlian_song

Zhēn de ma (benarkah)? Aku akan menunggumu ya!

 

To: @lianlian_song

From: @chellwuchell_mi

Tenang saja, Jie! Aku pasti akan datang… Oh ya, bagaimana dengan pernikahanmu?

 

To: @chellwuchell_mi

From: @lianlian_song

Biasa-biasa saja… Kami tidak saling menyapa dan sibuk dengan urusan kami masing-masing… Ah! Aku tidak sabar menunggu kau datang>_<

 

To: @lianlian_song

From: @chellwuchell_mi

Jiejie… kenapa seperti itu? Dia kan suamimu… Aku juga tidak sabar pulang ke Seoul, Jie! Kau tahu, aku rasanya ingin membunuh gege-ku karena dia menikah tanpa menunggu adiknya pulang! Padahal dia mau aku kenalkan dengan jiejie… eh, dia menikah dengan orang lain! Sighh!! Aku sungguh ingin mencekiknya!

 

To: @chellwuchell_mi

From: @lianlian_song

Ah! Masa bodoh! Aku tidak peduli dengannyaaaaaaaaa \>o</

Yaaakkk!! Kau seram sekali! Kau seperti psikopat, Chell! Bahkan kau mau mencekik kakakmu sendiri… kasihan sekali orang yang menjadi kakakmu itu… kkkkk

 

To: @lianlian_song

From: @chellwuchell_mi

Aku kesal dengannya, Jie >_<

Padahal aku juga sudha bilang pada Mama dan Papa untuk menungguku…. Tapi mereka malah…. Aaaaaaaakkkkkhhh!!!!

 

To: @chellwuchell_mi

From: @lianlian_song

Well, kalau begitu pulanglah cepat ke Seoul, lalu kau bisa leluasa mencekik kakakmu itu.. Hahaha…

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Sementara itu seorang pria tengah mendengarkan dari balik pintu kamar seorang wanita yang sudah menjadi pendamping hidupnya kemarin.

“Pada siapa dia bisa bertingkah seperti orang gila? Tertawa lepas sendiri tidak jelas..” Batin Kris.

“Haaahh~~~ Lebih baik aku bertemu Chris…” Lian meregangkan otot-ototnya yang kaku. “Ah! Bùshì (tidak) Christian.. Cih! Kenapa nama Chris harus sama dengan pria gila itu?!!” Lanjutnya ketika menyadari ada persamaan nama pada saat pengucapan diantara dua pria itu.

“Apa dia bilang?! Aku pria gila?” Batin Kris kesal yang mendengarkan ocehan istrinya sendiri.

Lian pun bersiap bahkan dia memakai make up meskipun itu terlihat tipis di wajahnya. Kulitnya yang putih tidak memerlukan lagi bedak untuk menutupi wajahnya. Ia hanya memakai lipgloss dan sedikit eyeliner untuk memberikan efek lebar pada kelopak matanya. Dengan pakaian yang casual dan dipadukan dengan tas cokelat yang ia sampirkan ia mematut dirinya di cermin. Sneakersnya yang berwarna hitam yang senada dengan t-shirt yang ia pakai pun menambah kesan sporty pada Lian terlebih lagi rambutnya yang dikuncir satu.

Mendengar langkah Lian yang sepertinya akan keluar kamarnya, Kris pun buru-buru membalikkan badannya dan berpura-pura baru keluar dari dapur.

“Mau kemana kau?” Tanya Kris dengan segelas air di tangannya.

“Bukankah diperjanjian disebutkan kalau kita tidak boleh mencari tahu kegiatan kita masing-masing, eoh? So, tidak usah bertanya aku akan pergi kemana! Jalani saja kehidupanmu sendiri.” Jawab Lian. Kris pun hanya diam dan memilih tidak melanjutkan kalimatnya.

Namun, tanpa sepengetahuan Lian, Kris mengikuti gadis itu dengan mobilnya. Meskipun ia hanya memakai celana selutut dan t-shirtnya ia mengendarai mobilnya menyusuri jalan. Lebih tepatnya mengikuti taksi yang ditumpangi Lian.

Sebuah café adalah tujuan dari taksi yang diikuti Kris siang itu. “Café?” Batin Kris dengan dahi mengernyit.

Tak lama, Lian kemudian bertemu dengan seorang pria yang kemudian menarik pinggang gadis itu dan mencium pipi kiri dan kanannya.

“What the….!! Apa dia lupa dengan statusnya?” Tanpa ia sadari, Kris terlihat kesal melihat pandangan di depannya.

“Sigh~ Apa yang kulakukan di sini? Kenapa juga aku membuntutinya? Bukankah ada di perjanjian kalau boleh mempertahankan hubungan dengan kekasih masing-masing? Tiān nǎ (astaga), Kris! Kau juga sudah memiliki Min Ah yang menjadi kekasihmu…” Batin Kris lagi yang kemudian memutar arah untuk kembali ke rumah.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Beberapa bulan kemudian, aku berusaha berdamai dengan kenyataan. Kenyataan kalau ternyata aku memang benar-benar istri dari orang gila ini. Sabar Lian, hanya tinggal satu tahun sembilan bulan lagi aku menjadi istrinya.

“Ya, ada apa?” Kudengar Kris bernada lembut dengan seseorang yang diteleponnya.

“Duìbùqǐ, gege ada meeting…Nanti gege kirimkan supir saja ya untuk menjemputmu..” Oh, kekasihnya mungkin. Masa bodoh, ah!

“Ya sudah, kalau nanti kau mau ke kantor gege, datang saja…” Ujar Kris lagi pada saat aku sedang membuat susu untukku.

“Oh ne, nanti kabari saja kalau mau datang..” Sepertinya dia mendekat. Suaranya terlihat jelas. Ah! Peduli sekali!

“Ommmoo!!” Aku nyaris saja menumpahkan susu di kemejanya. Beruntung dia segera mundur hingga susu itu tumpah ke lantai.

“Sorry..” Ucapku. Dia terlihat menahan emosinya karenaku dan lebih memilih mengambil cangkir tehnya. Aku pun tidak mempedulikannya dan memutuskan untuk ke ruang tengah menonton tv.

“Iya, nanti gege akan mengirim supir untuk menjemputmu… Sudah dulu ya, gege mau berangkat kerja ini…bye~”

“Aku berangkat kerja dulu…Lian…”

“Hah? Apa?? Dia bicara padaku?” Batinku. Aku masih terus menatap layar tv sambil meminum susu yang kubuat.

“Lian…” Aku pun menoleh.

“Hng?”

“Aku berangkat kerja..”

“Hhm..” Jawabku yang kembali mengalihkan pandanganku pada tv. Apa dia kerasukan sampai-sampai ia pamitan kerja padaku. Hah! Mollaso~!

Karena bosan aku berniat untuk masak untuk sarapan dan makan siangku. Aku menuju dapur dan… eh? Apa ini? Sebuah berkas? Bukankah ini berkas yang tadi dia bawa-bawa? Ah! Biar sajalah… untuk apa aku memberitahunya? Nanti juga dia akan pulang sendiri kalau ingat.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Kris yang sedang bekerja di ruangan kantornya tiba-tiba teringat dengan berkasnya. Ia mencari di dalam tasnya, tapi dia tidak menemukannya.

“Oh damn! Dimana berkas itu?” Batin Kris.

“Ah!!” Tiba-tiba dia mengingat sesuatu tentang berkas kerjanya itu. “Aku tidak mungkin pulang, karena supirku sedang menjemput Michelle… Kalau aku suruh orang lain, Lian bukan tipikal orang yang mudah percaya. Ah, biarkan sajalah.. Aku suruh orangku saja.” Ujarnya lagi.

Sementara itu, Lian terlihat sibuk memasak. Saat ia di rumah sendiri, dia sibuk mencoba berbagai menu masakan untuk dimasaknya. Tak jarang dapur berantakan karena ulahnya yang terkadang ceroboh menumpahkan bahan makanan. Sudah hampir satu jam ia sibuk di dapur. Bahkan ia lupa untuk sarapan karena dia sibuk bereksperimen dengan masakan.

Ting! Tong!

“Hee? Siapa datang siang-siang seperti ini? Mengganggu saja!” Gerutu Lian yang kemudian segera menuju pintu untuk melihat siapa yang datang.

“Jeosonghamnida… Saya diperintahkan Wu sajangnim untuk mengambil berkas yang tertinggal.” Ujarnya setelah membungkukkan tubuhnya memberi hormat pada Lian.

“Neo nuguya?”

“Saya assistant-nya Wu sajangnim. Beliau sendiri yang menyuruhku mengambil berkas itu untuk beliau rapat nanti setelah jam makan siang.”

“Dengar ya, aku tidak percaya pada siapa pun terlebih lagi aku harus menyerahkan berkas kantor milik suamiku padamu!” Lian kemudian menutup pintunya rapat. Orang yang dipekerjakan sebagai assistant-nya Kris pun segera menelpon Kris.

“Mwoya?! Dia tidak percaya?” Kris memijat pelipisnya setelah mendapat telepon dari assistant-nya.

“Ne, sajangnim.. Apa yang harus saya lakukan?”

“Berikan ponselmu padanya.” Perintah Kris.

“Geundae… istri sajangnim sudah menutup pintunya rapat.”

“Assshh~!! Ya sudah, nanti saya yang bicara padanya.” Ujar Kris kemudian yang kemudian menelpon Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ini ada apa tiba-tiba Kris menelpon?” Batinku saat melihat ponselku bertuliskan ‘tiang listrik’.

“Ne…” Jawabku malas.

“Kenapa kau tidak memberikan berkasku pada orang yang sudah kusuruh, hah? Itu berkas pentingku! Kau memperlambat saja!”

“Hey! Seharusnya kau berterima kasih padaku karena aku tidak sembarangan memberikan itu pada orang itu!” Balasku. Cih! Dasar tidak tahu terima kasih!

“Well, kau sekarang sudah mengetahuinya kan? Kenapa tidak kau kasih?” Tanya Kris lagi.

“Bagaimana kalau dia membelot? Kau itu bodoh atau apa sih? Kau bisa-bisanya percaya pada orang lain padahal itu berkas penting kan katamu?!”

“Arrghh!!! Song Liann!!! Kenapa tidak sekalian kau ikuti saja dia hah?!!” Ahahaha kenapa dia terdengar frustasi?

“Ikuti bagaimana maksudmu?” Tanyaku santai.

“Kalau kau tidak percaya dengannya, kau ikuti dia! Aku tidak punya banyak waktu, Lian.. Berkas itu harus kupelajari…”

“Mwo? Aku ke kantormu? Lalu bagaimana aku pulang? Kau pikir tidak lelah, eoh?!”

“Sigh~! Kau pulang denganku!”

“Oh..” Jawabku lagi.

“Liannn!! Argh!! Kau harus mengantar berkasku itu!”

“Ne..ne.. cerewet sekali!” Ujarku yang kemudian memutus percakapan kami. But wait! Kenapa aku jadi mau mengantarkan berkas ini??? Argh!!!!!! Song Lian!! Neo pabbo yaaa!!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Lian pun untuk pertama kalinya menginjakkan kakinya di kantor itu. Dengan sedikit bingung, ia bertanya di meja receptionist dimana ruangan Kris.

“Wu sajangnim?”

“Ne…” Jawab Lian.

“Wu sajangnim baru saja keluar.” Karyawan itu menunjuk kearah pintu keluar. Lian pun menoleh dan memperhatikan arah yang ditunjuk karyawan itu. Kris sedang bersama seorang wanita. Kris melingkarkan lengannya di bahu wanita itu dan sesekali mengacak rambut wanita itu. Saat itu juga, Lian yang melihat mereka berdua entah kenapa merasakan kalau dadanya terasa sesak. Tiba-tiba saja ia seolah kesulitan bernafas padahal ia sering sekali bertengkar dengan Kris.

“Bisa tolong nanti berikan ini untuk Kris? Dia bilang ini berkas penting untuk meeting-nya…” Ujar Lian yang bicara pada karyawan yang ada di meja receptionist tersebut.

“Baik, agasshi…” Lian pun segera meninggalkan kantor itu.

Di lain tempat Kris yang sedang makan siang bersama adiknya yang baru saja pulang dari Hongkong karena studinya terus mendengarkan cerita adiknya sambil memilih menu makanan.

“Gege, kau itu sebenarnya harus bertemu dengan jiejie yang kupunya itu. Dia sangat baik, ge… perhatian lagi!”

“Well, sekarang waktunya makan siang, Chell… Cepat pilih makananmu…” Ujar Kris.

“Ish! Gege dari tadi tidak mendengarkanku…” Michelle adiknya mengerucutkan bibirnya kesal.

“Ck, aku mendengarnya. Kau bercerita tentang kuliahmu yang membosankan, tugas-tugas kuliahmu yang menumpung, pengerjaan skripsimu yang benar-benar membuatmu gila, bahkan kau bercerita tentang jiejie cybermu itu kan? See, aku mendengarkan semuanya kan?” Kris melipat tangannya di atas meja.

“Baiklah, kalau begitu aku pilih makanan..” Ujar Michelle yang kemudian membuka buku menu makanannya.

“Apa yang kau makan di Hongkong sampai kau seperti ini, Chell?” Kris tertawa sambil mengacak rambut adiknya yang merupakan kebiasaannya yang juga mengganggu gadis itu.

“Aaa! Jangan diacak-acak gege… Nanti rusak rambutku!” Protes Michelle.

“Eh, hey bagaimana hubunganmu dengannya?” Tanya Kris tiba-tiba.

“Hubungan?” Tanya Michelle balik.

“Dengan Yixing… Bukannya kalian dekat?”

“Iya dekat sih… Tapi sebenarnya yang lebih dekat itu jiejie… Jiejie itu teman dekatnya Yixing… Huuh… aku iri dengannya..”

“Loh, memangnya kau tidak ada bicara sedikit pun dengan Yixing? Katamu, kau dengan Yixing menjalin hubungan kan? Hhm.. maksudku, kalian pacaran kan?”

“Iya sih.. Tapi, apa seperti ini dinamakan pacaran? Hubungan yang belum terlalu intens..” Jawab Michelle.

“Belum intens atau kau yang tidak peka?” Kris menaikkan sebelah alisnya mengingat sifat adiknya yang tidak peka dengan keadaan sekitar terutama dengan orang yang berada di dekatnya.

“Maksud gege?” Tanya Michelle lagi.

“Asshh~~” Kris menghela nafasnya dan menyandarkan punggungnya pada sandaran bangku restaurant.

“Wo bu zi dao (aku tidak tahu).” Jawab Michelle.

“Haahh… maksudku, kau tidak menyadari kalau sebenarnya Yixing memiliki perasaan cinta?” Kris menggidikkan bahunya. Michelle pun terlihat bingung.

“Akh sudahlah! Kau benar-benar tidak peka rupanya…” Kris terlihat frustasi menjelaskan maksudnya pada adiknya.

“Ish~ Gege juga begitu kan?” Balas Michelle.

“Sudahlah… Makanan sudah datang…” Kris menghentikan perdebatannya dengan adiknya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Baekhyunnie, bisa bertemu sekarang tidak?” Aku menelpon Baekhyun, hoobae aku di New York. Aku dengannya sama-sama satu club music. Dan dia adalah

“Noona, wae? Kau terdengar seperti menangis?”

“Aku ingin kita bertemu.. bisa kan?” Tanyaku di sela isakkanku.

“N..ne.. Noona kau dimana sekarang?”

“Sungai Han..”

“Baiklah, kebetulan aku juga berada didekat Sungai Han. Aku akan ke sana.. Uljimma noona…” Aku tidak menjawabnya dan memutus sambunganku.

Kenapa aku menangis? Kenapa aku merasa sesak? Padahal ini semua keinginanku kan? Ada apa denganku? Air mata ini mengalir begitu saja saat aku melihatnya.

Saat aku tengah menangis tiba-tiba ponselku berbunyi. Di layar itu tertulis nama ‘tiang listrik’. Kenapa dia harus menelponku sekarang??!! Aku langsung menyentuh tulisan ‘reject’ pada layar ponselku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Huh? Direject?!! Kenapa dia mematikan panggilanku?” Kris terlihat bingung memandangi ponselnya.

Tok Tok Tok! Suara pintu ruangannya yang diketuk pun terdengar membuat pria dengan tinggi 190 cm itu menoleh.

“Comin’..” Ujar Kris.

“Sajangnim, ini ada titipan dari istri anda. Beliau mengatakan kalau ini berkas anda untuk meeting.”

“Gamsahamnida..” Jawab Kris menerima berkas itu.

“Kenapa dia tidak menemuiku? Aneh sekali.. bukankah dia bilang tidak percaya pada siapa pun untuk memberikan berkas ini kan?” Pikir Kris.

Di Sungai Han, Baekhyun terlihat sedang menenangkan seorang gadis yang berada di sebelahnya. “Uljimma, noona.. Aku bingung.. sebenarnya apa yang terjadi?” Lian hanya bisa menangis meskipun Baekhyun memeluknya untuk menenangkannya.

“Noona, cerita padaku.. Kau kenapa? Aku tidak mengerti kalau kau terus menangis seperti ini…”

Byun Baekhyun adalah hoobae yang paling dekat dengannya diantara beberapa temannya. Bahkan jika dibandingkan dengan Christian pun Baekhyun masih lebih dekat dengan Lian. Kehadirannya di Seoul karena pekerjaan ayahnya. Ia dipanggil ayahnya untuk kembali ke Seoul setelah menyelesaikan studinya di New York.

“A..aku..hiks.. kenapa..hiks..kenapa aku sakit, Baekhyunnie… huhuhuu…” Tangisnya.

“Sakit?” Tanya Baekhyun.

“Aku sakit melihatnya… hiks… Dia jalan dengan wanita lain..huhuhu…”

“Kris hyung?” Tebak Baekhyun. Lian pun mengangguk dalam pelukan Bekhyun yang masih mengusap kepalanya.

“Noona, kau jatuh cinta padanya?”

Lian pun langsung mendorong Baekhyun dan menghapus air matanya. “Jatuh cinta apa? Aku tidak jatuh cinta padanya. Tidak mungkin aku cinta dengan tiang listrik itu!”

“Tapi kenapa noona menangis kalau bukan karena jatuh cinta, hm? Aaaa~~ Kau sudah mulai mencintai Kris hyung rupanya…” Baekhyun menyenggol bahu Lian.

“Yak! Itu tidak akan pernah terjadi!”

“Waahh… noonaku sudah besar rupanya!” Seru Baekhyun.

“Yaak!! Aku lebih tua darimu, tahu!”

“Ah! Aku lupa, kalau noona lebih TUA dariku..” Ujar Baekhyun yang menekankan pada kata ‘tua’ yang merupakan kata senstitif bagi Lian. Lian pun menjitak kepala pria itu yang bisa kembali membuatnya tertawa meskipun dia kesal padanya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Agh! Kau ini kenapa menghubungiku lagi?! Bisa kan tidak usah menghubungiku dulu?! Aku jenuh!” Aku mendengar suara Kris yang baru saja pulang dan terlihat mengomel dengan ponselnya. Kenapa dia? Bukannya baru tadi siang dia bermesraan?

Dukk! Sebuah benda mengenai bahuku dari belakang saat aku sedang menonton tv di ruang tengah.

“Aww!! Appo!!” Aku memekik dan melihat benda itu. Sebuah ponsel? Ini bukannya milik Kris.

“Yaak!! Tiang listrik! Apa kau tidak lihat kalau ada orang di sini, hah?!! Kau pikir tidak sakit?!” Aku meneriakkinya dari ruang tengah. Dia yang sedang melepas dasinya dan membuka kancing atas kemejanya pun tidak menggubrisku malah masuk ke dalam dapur. Aku hanya meletakkan ponselnya di atas meja ruang tengah. Tanpa sengaja aku menyentuh layar ponselnya yang menampilkan foto dirinya dengan seorang wanita.

“Oh, jadi ini kekasihnya…” Pikirku.

Brukk! Aku menoleh ke samping. Ternyata dia duduk di sebelahku dengan segelas air di tangan kirinya sedangkan tangan kanannya memijat pelipisnya. Terlihat banyak pikiran sekali orang ini. Ponselnya pun terlihat menyala menandakan ada seseorang yang menelponnya. Tapi dia sama sekali tidak bergerak dari posisinya. Ia hanya meletakkan gelasnya dan kembali menyandarkan kepalanya pada sofa.

“Ini, mungkin kau butuh hiburan..” Ujarku pada akhirnya yang menyerahkan remote tv padanya.

“Tidak usah..” Ucapnya.

“Eoddi appo?” Tanyanya kemudian.

“Hng?” Aku tidak mengerti maksudnya.

“Tadi kena lemparan ponselku kan?” Tanyanya lagi.

“Wǒ méiyǒu shé me (aku tidak apa-apa).”

“Duìbùqǐ (maaf)…” Ucapnya.

“Ne… Sudahlah… kau sekarang mungkin lebih butuh tv ini.. Kau terlihat suntuk sekali..” Ujarku.

“Aku tidak butuh… Yang kubutuhkan hanya…ketenangan..” Aku langsung mematikan tv itu dan beranjak pergi.

“Kau mau kemana?” Tanyanya kemudian.

“Bukankah kau butuh ketenangan? Aku mau masuk kamar supaya kau bisa lebih tenang.” Jawabku.

“Tidak usah…” Aneh sekali dia. Kenapa aku tidak boleh ke kamar? Aku hanya menurut duduk di sampingnya tanpa melakukan apa-apa. Aku hanya memainkan ujung rambutku yang terlihat sedikit tidak terawat. Oh bagaimana mungkin rambutku ini tidak terawat?!!

“Lian…” Panggilnya.

“Hhm?” Aku menyahutinya tanpa mengalihkan pandanganku dari rambutku.

“Bagaimana kau mengatasi rasa bosanmu pada pasanganmu?” Hah?! Kok dia bertanya seperti itu? Bagaimana aku tahu kalau aku sendiri tidak berpacaran dengan siapa pun.

“Molla..” Jawabku asal.

“Kau tidak pernah merasa bosan dengannya?” Tanyanya lagi. Siapa yang dia maksud?

“Maksudmu?”

“Lupakan..” Ujar Kris yang kemudian berdiri dan meninggalkanku di ruang tengah.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Noona, ayo kita bertemu Lay hyung!” Di hari libur pagi itu Baekhyun sudah menelpon Lian yang tengah sarapan di meja makan.

“Lay? Memang dia di Seoul?” Tanya Lian sambil mengunyah rotinya. Tanpa disadarinya, seorang pria yang tengah membaca koran sambil sesekali menyesap tehnya tengah mendengarkannya bicara.

“Noona, kau ini benar-benar out of date! Lay hyung baru saja datang ke Seoul…”

“Jinja?? Lay ke Seoul mau apa? Kenapa bukan ke Changsa? Bukankah rumahnya di sana?” Tanya Lian berturut-turut.

“Ada keperluan… Itu loh.. dia berniat untuk… Agh! Nanti kau memberitahunya… Malas aku memberitahu noona!” Ujar Baekhyun kemudian.

“Huh? Maksudmu? Memberitahu siapa?”

“Ituuu.. teman cyber noona…”

“Oh ne… Maksudnya?” Tanya Lian lagi.

“Dia… Dia mau melamarnya!”

“Bhuffftttt!!!” Lian menyemprotkan teh yang diminumnya. Tanpa sengaja mengenai lengan kiri Kris yang saat itu sedang berada di dekatnya untuk mengoleskan selai pada rotinya.

“YAAA!!!! Jorok sekali kau ini!! Agh!! Apa kau tidak lihat, ini mengenai bajuku!!”

“Baekhyunnie, nanti aku telepon lagi yaaa… Bye!” Lian buru-buru memutuskan sambungan telepon.

“Duìbùqǐ (maaf)… Duìbùqǐ (maaf)….” Lian mengambil tissue dan berusaha mengeringkan baju tersebut.

“Tsk! Sudah, tidak usah!” Kris menepis tangan Lian dan masuk ke kamarnya.

“Issh~~ Aku berusaha baik dia seperti itu.. Dasar tiang listrik!!” Dengus Lian kesal. Ia pun kembali menelpon Baekhyun.

“Noona, tadi kau kenapa? Aku sempat mendengar Kris hyung berteriak… Kau baik-baik saja?” Tanya Baekhyun.

“Nan gwaenchana, Baekki… Tadi bagaimana maksudmu? Lay mau melamar?” Tanya Lian yang memilih halaman belakang rumah yang ia dan Kris huni.

Lay adalah panggilan khusus untuk Zhang Yixing dari Lian dan Baekhyun. Alasan mereka hanya satu. Karena wajah Yixing yang selalu terlihat lelah meskipun dia sedang bahagia. Karena itu, mereka berdua memberikan nama itu untuk Yixing.

“Lay hyung menelponku. Dia mengatakan kalau dia sekarang berada di Seoul. Dia ingin menyatakan perasaannya sekaligus ingin melamarnya.”

“Really? Selama ini dia terlihat santai saja… Asshh~~ Ternyata dia memperhatikan Michelle juga.. Hahaha…” Tawa Lian.

“Hhmm dia pintar sekali menyembunyikan perasaannya, noon.. hahaha…”

“Lalu, kapan dia akan melamar?”

“Molla… Ayolah, noon…Kita bertemu dengannya…” Rengek Baekhyun.

“Ah, kajja! Kapan? Hari ini?”

“Boleh… Kau tidak sibuk, noon?” Tanya Baekhyun.

“Anni.. Mau jam berapa?”

“Nanti aku kabari lagi… Oh ya, jangan noona beritahu ini pada Michelle ya.. Biar ini jadi surprise!” Ucap Baekhyun.

“Okay… Semua rahasia terjamin!”

“Oh, noona mau aku jemput nanti?”

“Apa tidak merepotkanmu?”

“Anni…”

“Baiklah… Kalau tidak merepotkanmu, kau bisa menjemputku, Baekki-ya~”

“Okay, wait me then!” Seru Baekhyun.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Ting! Tong! Sore itu, Baekhyun sudah berada di rumah Lian dan Kris. Kris membuka pintu dan melihat ada seorang pria bermata kecil yang tengah berdiri di hadapannya.

“Ada apa?” Tanya Kris dingin.

“Lian noona ada?”

“Mau apa?” Tanya Kris lagi. Saat itu juga Baekhyun merasa nyalinya berkurang menghadapi pria di hadapannya.

“A…ak..aku…”

“Baekhyunniee~~ Ah! Rupanya kau sudah datang!” Lian tiba-tiba saja datang dan memeluk Baekhyun yang tengah mematung.

“Aku bisa mati lama-lama di sini! Kris hyung saja menatapku sudah seram, ditambah noona yang memelukku… Akh! Noona, tidak kah kau menyadari kalau suamimu itu tengah cemburu padamu??” Batin Baekhyun.

“Kajja, kita langsung saja pergi!” Ajak Lian.

“Ge..geundae…” Baekhyun merasa tidak enak hati pada Kris.

“Kajja…” Lian langsung menarik Baekhyun. Baekhyun hanya menundukkan kepalanya pada Kris untuk berpamitan.

“Tiān nǎ (astaga)! Dia tidak memperhatikanku yang ada di sini? Apa aku dianggap dinding, huh?” Batin Kris. Ia mengambil kunci mobilnya dan berniat mengikuti Lian dari belakang. Lian yang kini sudah menaiki mobil Baekhyun sedan yang berwarna hitam itu tidak menyadari kalau sebuah sedan berwarna silver tengah mengikutinya. Kris sengaja memberikan celah mobil lain agar mobilnya tertutupi. Kris juga sengaja menghafal plat nomor mobil yang dikendarai Baekhyun.

“Well, rupanya dia hobi sekali berganti pasangan… Wanita macam apa dia? Cih!” Umpat Kris memukul setir mobilnya.

Ternyata, mobil yang dikendarai Baekhyun memasuki kawasan perhotelan. Dan sontak Kris semakin curiga dengan tingkah Lian.

“Hotel? Bagaimana kalau Mama dan Papa tahu ini?” Batin Kris.

Rupanya Baekhyun memanfaatkan fasilitas valley untuk memarkirkan mobilnya. Ia tidak mau repot-repot mencari parkir untuk mobil mewahnya. Pria itu memberikan kunci mobilnya pada petugas valley. Takut kehilangan jejak Lian, Kris pun melakukan hal yang sama. Ia juga memberikan kunci mobilnya pada petugas valley hotel tersebut.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Liaaaann!!”

“Kyaaaaa~~~~~ Laayyy~~~” Dengan riang aku memeluk pria bermarga Zhang itu melepas rasa rinduku padanya. Terakhir kami bertemu pada saat pernikahanku dengan Kris. Setelah itu, Lay kembali ke New York melanjutkan studi pasca sarjananya di bidang ekonomi. Hah! Pasti aku dimarahi dia karena tidak melanjutkan pasca-ku. Ya, semenjak menikah aku kehilangan semangatku untuk melanjutkan studiku. Semua ini gara-gara tiang listrik ituu!!!

“Jadi hanya noona yang dipeluk?” Baekhyun menginterupsi kami.

“Ah! Baekki-ya~ Bogoshipoo~~” Ujar Lay memeluk Baekhyun.

“Nado, hyung…” Jawab Baekhyun kemudian.

“Wait, sebelumnya aku ingin memarahi Lian! How dare you! Bagaimana bisa kau tidak melanjutkan kuliahmu! Hey, bahkan proposal tesismu sudah disetujui professor kan?” Tuh kan! Benar kan kataku… Pasti Lay memarahiku. Huh!

“Aku jadi malas kuliah, Lay…” Aku mengerucutkan bibirku.

“Kau bahkan masih terlihat menyeramkan, noona!”

“Yakk!!”Aku memukul bahu Baekhyun.

“Apppoo~~ Hyung~ Noona memukulku.. Padahal kan aku hanya mengatakan kenyataan. Noona itu tidak pantas ber-aegyo!”

“Diam kau atau sepatuku ini melayang ke wajahmu!” Ucapku ketus.

“Sudah… sudah… hey, bagaimana kalau kita ke lounge hotel ini?”

“Kajja!”

“Huuhh! Kalau makan kau pasti duluan..” Ejekku pada Baekhyun.

Di lounge, kami hanya memesan cake untuk camilan kami. Seperti biasa, aku hanya memesan strawberry short cake dan segelas cappuchino menu favorite-ku.

“Jadi, apa yang membawa kalian sekarang menemuiku?” Tanya Lay.

“Molla, noona…” Baekhyun melemparnya padaku. Sial anak ini!

Lay yang kemudian menatapku penuh selidik. “Well, sebenarnya kita penasaran.” Ujarku singkat.

“Penasaran akan?” Tanya Lay lagi padaku.

“Kau katanya mau melamar Michelle…” Ucapku polos.

Saat itu juga kulihat Lay memberikan tatapan membunuh pada Baekhyun. “Mworago?” Tanya Baekhyun santai.

“Kenapa kau memberitahunyaaaaaa?!!!” Lay terlihat kesal dengan Baekhyun. Apa sebenarnya hal ini tidak boleh kuketahui?

“Hyung tidak memberitahuku kalau hal ini tidak boleh dikasih tahu noona…”

“Argh! Kau iniiiii…”

“Okay, okay… Bisa kau jawab pertanyaanku Zhang Yixing?” Aku menginterupsi pertengkaran mereka.

“Ya, itu benar… Aku akan melamar Michelle..” Lay meminum espresso-nya. “Tapi kau jangan bilang padanya!” Ia kemudian kembali bicara dan hampir membuatku tersedak cake yang sedang kumakan.

“Aish~! Iyaa..”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Akh! Kenapa pria itu tidak terlihat?! Sigh~ Kenapa juga dia harus duduk di kursi itu?” Kris kesal.

“Hng? Itu bukannya Kris hyung?” Baekhyun melihat kearah belakang Lian dan Yixing. Lebih tepatnya pada dua meja di belakang mereka. Meskipun terhalang beberapa orang, Baekhyun masih bisa melihat kalau itu adalah Kris. Kris sengaja memakai kacamata hitam untuk penyamarannya. Namun, bentuk wajah Kris yang terlihat mencolok dibandingkan orang Korea lainnya, Baekhyun dengan mudah menyadarinya karena ia terus memperhatikan pria itu.

“Sepertinya Baekhyun menyadariku..” Kris kemudian keluar dari lounge itu setelah membeli minuman.

Di dalam mobilnya, entah kenapa batin pria itu sangat kesal ketika melihat Lian. “Jadi dia jalan dengan dua pria? Ah, bùshì (tidak)! Tiga pria! Gila! Aku menikahi wanita…. Oh damn!” Kris kembali menghela napasnya.

Tak lama kemudian, ponselnya yang berada di dashboard mobilnya berbunyi. Nama Min Ah lah yang muncul di layar ponselnya. Han Min Ah adalah wanita yang menjadi kekasih Kris empat bulan ini. Ya, sebelum ia menikah dengan Lian, dirinya sudah lebih dulu menjalin hubungan dengan Min Ah. Pada saat Kris menikah, Min Ah berniat bunuh diri karena ia harus mengakhiri hubungannya. Namun, niat itu berhasil digagalkan oleh Kris yang berjanji pada Min Ah akan segera menceraikan Lian setelah dua tahun pernikahannya dan kembali padanya.

“Oppa, eoddiseo?” Tanyanya saat Kris sudah memasang earphone-nya dan menyentuh layar ponselnya.

“Di jalan. Wae?” Tanya Kris balik.

“Oppa, hari ini jalan yuk!” Ajak Min Ah.

“Mau kemana?” Tanya Kris malas.

“Bagaimana kalau nonton? Aku baru saja browsing kalau ada film bagus, oppa!” Seru Min Ah.

“Kapan?

“Filmnya sih mulai jam tujuh malam…” Ujar Min Ah.

“Kalau begitu aku ke rumahmu sekarang. Sekarang sudah hampir jam lima.” Ujar Kris.

“Baiklah, kalau begitu aku siap-siap.”

Setibanya di rumah Min Ah, tanpa banyak bicara Kris langsung melajukan mobilnya ke salah satu pusat perbelanjaan dimana ada theater yang dimaksud kekasihnya. Selesai membeli tiket, Min Ah langsung mengajak Kris ke lounge theater itu untuk membeli popcorn dan minuman. Kris hanya memberikan black card miliknya pada gadis itu untuk membayar semuanya. Entah dimana sekarang pikiran Kris. Berkali-kali Min Ah mengajaknya bicara, Kris hanya seperlunya saja dalam menjawabnya.

“Oppaa!! Kau dengar aku tidak sih?!” Min Ah terlihat kesal.

“Hng? Mianhae… Aku sedikit banyak pikiran Minnie…” Ujar Kris yang memanggil gadis itu dengan panggilan kesayangannya.

“Huuhhh!!”

“Kajja, kita langsung masuk saja.” Ujar Kris berusaha menghibur Min Ah yang kesal padanya.

Saat film berlangsung pun Kris sama sekali tidak menontonnya. Memang kedua matanya memperhatikan tiap adegan film bergenre romance tersebut, tapi entah kemana pikirannya berjalan. Sesekali ia menguap menahan rasa kantuknya. Ya, selain tidak suka dengan genre film tersebut, Kris memang sedang memikirkan sesuatu. Lian, istrinya. Dengan tangan yang menopang dagunya, Kris menonton film itu bosan.

“Argh! Dua jam lama sekali!”, Batinnya.

Tanpa terasa, film pun berakhir. Kris berdiri merenggangkan punggungnya.

“Oppa tunggu!” Ujar Min Ah.

“Ppali..” Ujar Kris kemudian.

“Oppa, lapar…”

“Kau lapar?” Tanya Kris yang dijawab dengan anggukkan Min Ah. Mereka pun menuju salah satu restaurant yang berada di dalam pusat perbelanjaan tersebut.

Min Ah terlihat sedang memilih menu makanan. Sementara Kris hanya memesan teh hangat saja tanpa makanan. Dia merasa kalau dirinya sedang kehilangan selera makannya.

“Oppa tidak makan?”

“Anni…” Jawab Kris yang kemudian memainkan ponselnya.

“Oppa tadi filmya romantis sekali ya!” Ujar Min Ah antusias.

“Hhm…”

“Lain kali kita nonton lagi ya, oppa..”

“Hhm…” Jawab Kris.

“Tapi oppa suka tidak filmnya?”

“Hhm…”

“Opppaaaa!!!!” Min Ah menarik ponsel Kris dari tangan besar itu.

“Minnie, kembalikan ponselku…”

“Oppa dari tadi tidak memperhatikanku! Bahkan kau bosan kan menonton! Oppa waeyoo??” Tanya Min Ah dengan wajah kecewa.

“Mianhae, Minnie… Aku… Aku sepertinya tidak enak badan..” Ujar Kris berbohong. Tidak mungkin dia mengatakan pada Min Ah kalau dia sedang memikirkan Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Sepulangnya ia mengantar Min Ah, Kris tidak langsung pulang ke rumah. Namun ia kini memasuki kawasan club malam. Waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Dalam club itu, aroma rokok yang bercampur dengan minuman keras tercium sangat kental. Kris yang memiliki kebiasaan buruk yang sulit dihilangkan ini selalu memilih club malam sebagai pilihan akhir untuk melepaskan pikirannya sejenak. Ia pun duduk di bar dalam club itu. Seketika itu pula banyak wanita yang mendekatinya. Ya, memang bukanlah hal sulit bagi Kris untuk menjerat banyak wanita dengan pesona dan wajahnya yang tampan. Tapi untuk melakukan hal yang lebih jauh lagi, Kris hanya ingin melakukannya dengan wanita yang benar-benar menyita pikiran, waktu bahkan rasa sayangnya. Kris pun meminum minuman keras itu yang entah sudah keberapa botol. Wajahnya sudah terlihat merah karena mabuk. Dalam keadaan setengah sadar, ia menyuruh bartender itu untuk menelpon siapa saja yang bisa mengantarnya pulang melalui ponselnya.

“Nomor dua…. Kau telepon seseorang…” Ujar Kris yang dalam keadaan mabuk. Bartender itu pun segera menelpon sesuai instruksi dari Kris. Nama Lian lah yang muncul dalam layar ponsel tersebut.

“Yeobseo~”

“Ada apa kau menelponku malam-malam hah?! Bukankah kau sudah memiliki kunci rumah sendiri?!!” Lian terdengar membentak.

“Jeosongmianhamnida… Apa anda yang bernama Lian?”

“Hah? Kok bukan suara Kris?” Lian memeriksa ponselnya dan tulisan ‘tiang listrik’ lah yang tertera. “Ini Kris, tapi kok…”

“Neo nuguya?” Tanya Lian.

“Saya bartender di club malam. Ada seorang pria tinggi dengan alis tebal yang tengah mabuk di sini. Apa anda kenal dengan orang ini? Ia meminta untuk dijemput.”

“Mworago?!”

“Bisa anda menjemputnya?”

“Ne… kirimkan saja alamatnya.” Ujar Lian.

“Baik, gamsahamnida…”

“Ne… Maaf merepotkan anda..” Jawab Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Gaaahh!!!! Malam-malam seperti ini dia menggangguku!! Mau tidak mau aku harus membangunkan ahjussi untuk menjemput tiang listrik itu. Cih!

Tring~ Ponselku berbunyi pertanda kalau sebuah alamat yang dikirimkan oleh bartender itu masuk.

“Mianhae membangunkanmu, ahjussi…” Aku membungkuk berkali-kali meminta maaf padanya karena hal ini.

“Tidak apa-apa, nyonya Wu… Ini sudah kewajiban saya…” Jawabnya.

Sementara itu aku menunggu di rumah sambil menyiapkan air hangat. Argh! Sebenarnya apa yang kulakukan sampai-sampai aku menyiapkan air hangat seperti ini.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Satu setengah jam, Lian menunggu. Akhirnya mobil itu pun tiba. Lian yang sedari tadi mondar-mandir, langsung menuju arrah pintu dan melihat Kris yang dipapah oleh supir mereka. Tubuh Kris yang jauh lebih tinggi dan besar itu membuat supir mereka kesulitan. Mau tidak mau, Lian ikut membantu memapahnya hingga ke kamar pria itu. Mereka membaringkan Kris di ranjangnya.

“Gamsahamnida, ahjussi…”

“Cheonmaneyo, nyonya Wu…” Ucapnya yang kemudian keluar dari kamar Kris. Karena kasihan, Lian melepaskan sepatu yang dikenakan Kris.

“Kamarnya lumayan rapi juga untuk ukuran namja…” Batin Lian.

Gadis itu berniat membasuh tubuh Kris dengan air hangat. Ia ke dapur untuk mengambil air hangat itu yang di dalamnya sudah terdapat washlap untuk membasuh wajah Kris.

“Sigh~ Malam-malam bisanya merepotkan orang saja!” Batin Lian yang memeras washlap yang sudah ia basahi dengan air hangat sebelum ia usapkan ke wajah Kris.

Tiba-tiba saja tangan Kris menahan gerak tangan Lian. Keduanya menatap wajah Lian meskipun dengan pandangan sayu.

“Du…duì…bùqǐ…” Kris tiba-tiba saja menarik gadis yang berada di hadapannya hingga jatuh menimpanya.

“Le..le..lepaskan aku…!!” Lian meronta. Hal itu akan menjadi sia-sia karena saat ini Kris sudah mengunci gadis itu dalam pelukannya. Dibalikkannya posisi gadis itu di bawahnya hingga kini Kris bisa mencium bibir gadis itu dengan kedua tangan yang menahan pergelangan gadis itu. Kini tubuh gadis itu terjebak diantara tempat tidur dan tubuh Kris di atasnya. Meskipun Kris menciumnya berkali-kali, tidak sekali pun Lian membalasnya. Ia terus meronta dari cengkeraman tangan Kris.

“Lepaskaan!! Ini tidak ada dalam perjanjian kita, Kris!! Lepaskaannn!!!” Lian berusaha menendang Kris, namun dengan cepat, kedua kaki Kris menahan kakinya.

“KRISS!!! Eumphh…!!”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Apa yang kulakukan dengannya… Kenapa malah jadi seperti ini…” Aku menangis mengeratkan selimut yang menutupi tubuhku yang tanpa busana. Aku mengambil pakaianku dan memakainya kembali.

“Kris tidak boleh tahu kejadian yang semalam…” Aku juga memakaikan baju yang ia pakai semalam padanya. Aku kembali ke kamarku.

Karena tidak bisa tidur, akhirnya aku memutuskan untuk memasak sarapan untukku sendiri. Hanya empat puluh lima menit aku memasak, makanan itu pun kini tersaji di meja makan untukku.

Saat aku menyantap sarapanku, kudengar suara langkah di belakangku. Sontak saja aku menegang mendengarnya. Namun aku berusaha semuanya terjadi normal seperti biasa. Dan benar saja. Apa yang ada dipikiranku ternyata sama dengan apa yang terjadi. Kulihat Kris yang berjalan menuju kulkas untuk mengambil segelas air. Ia kemudian duduk di hadapanku, di bangku yang berada di seberangku saat di ruang makan.

“Jam berapa semalam aku pulang?” Tanyanya.

“Molla.” Jawabku singkat. “Aku langsung tidur setelah kau menelpon.” Lanjutku berdusta.

“Xièxiè (terima kasih) atas bantuanmu semalam.”

“Hhm..” Gumamku. Selera makanku hilang. Aku tidak mungkin jatuh cinta padanya seperti kata Baekhyun. Beruntung saat itu ponselku berbunyi. Kulihat, nama jiejie lah yang tertera.

“Ne, jie?” Sapaku.

“Aku? Aku di rumah… Wèishéme (kenapa)?” Tanyaku lagi.

“Aku di rumah Mama sekarang… Bisa aku ke sana?” Tanya Qian jiejie.

“Hng? Jiejie mau ke rumah? Apa jiejie bersama Mimi gege?” Tanyaku.

“Bahkan aku akan membawa Yingzie… Kau dan Kris tidak kemana-mana kan?”

“Bùshì (tidak), jam berapa kalian ke rumah?”

“Ini aku mau berangkat ke rumahmu.. Oh ya, Mama dan Papa titip salam untuk kalian.”

“Ne, jiejie… Kalau begitu aku akan masak yaa..”

“Tidak perlu repot-repot, Lian…” Ujar Qian jiejie.

“Kewajibanku, jie…” Ujarku mengakhiri pembicaraan.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Makanan apa yang kau suka?” Lian bertanya pada Kris.

Kris yang sedang membaca koran pun menoleh dengan menatap Lian heran. “Kenapa kau bertanya itu?”

“Cepat jawab aku…” Perintah Lian.

“Apa saja, asal jangan ikan.”

Lian pun mulai memasak. Ia membuka kulkasnya dan berdiam sejenak di depannya dengan tangan yang menopang dagunya, berpikir makanan apa yang akan dimasaknya.

“Hhm..baiklah, aku akan memasak itu saja!” Gumamnya yang kemudian mengeluarkan beberapa daging, beserta sayur-sayuran yang akan dimasaknya. Sementara Kris, sempat melihatnya dari belakang dan kemudian kembali melanjutkan membaca korannya. Namun, lama-lama, Kris yang selesai membaca koran, merasa ingin tahu apa yang dilakukan Lian di dapur. Gadis itu memilih berkutat sendiri di sana bersama bahan makanannya.

“Apa yang kau lakukan?”

“Ommo!! Tiān nǎ (astaga)! Kenapa kau mengagetkanku?!” Lian hampir saja mengiris jarinya.

“Aku hanya bertanya, apa yang kau lakukan? Dan kenapa juga kau seperti terlihat memasak banyak makanan?” Ujar Kris mengulang pertanyaannya.

“Qian jiejie, Mimi gege, dan Yingzie mau datang…”

“Zhēn de ma (benarkah)?” Kris menaikkan sebelah alisnya saat ia berdiri di ambang pintu dapur dan melipat kedua tangannya di dada.

“Uhm..” Jawab Lian singkat sambil memasukkan beberapa sayuran ke dalam panci.

“Jam berapa?” Tanya Kris.

“Dia bilang tadi dia sedang dalam perjalanan dari rumah Mama…”

“Kalau tidak macet, dari rumah Mama ke sini butuh waktu satu setengah jam. Dan kau sudah berkutat di sini setengah jam.”

“Zhēn de ma (benarkah)? Aku harus cepat-cepat kalau begitu!” Ucap Lian yang kemudian kembali mengiris daging.

“Sini, aku bantu… Kau kerjakan yang lain saja..” Kris meminta pisau yang dipegang oleh Lian.

“Kau bisa melakukannya?” Tanya Lian ragu sebelum memberikan pisau itu.

“Aku pernah membantu adikku memasak.” Tanpa ragu, Lian pun memberikan pisau itu pada Kris.

“Wait! Tadi dia bilang apa? Adik? Kris punya adik?” Batin Lian.

Kris pun sibuk mengirisi daging yang ada di hadapannya. Sementara Lian, mengaduk soup yang ada di panci itu. Sesekali ia menuangkan setetes di atas telapak tangannya dan mencicipinya.

“Zhège wèidào (cicipi ini).” Lian menyodorkan sesendok soup yang dibuatnya dan meniupnya sebentar agar tidak panas saat Kris mencicipinya. “Yòu shì zěnyàng de zīwèi (bagaimana rasanya)?” Tanyanya lagi.

Kris terdiam sejenak dan Lian pun seperti takut kalau rasa masakan yang dibuatnya tidak enak.

“Apa rasanya tidak enak?” Tanya Lian pelan.

“Bùshì (tidak), itu enak. Kau bisa masak rupanya…” Ujar Kris yang meletakkan pisau itu karena ia sudah selesai dengan pekerjaannya. “Apa lagi yang bisa kukerjakan?” Tanya Kris lagi setelah ia mencuci tangannya dan mengeringkannya pada lap yang menggantung di dinding dapur.

“Apa kau bisa menempatkan soup ini?” Tanya Lian.

“Mana mangkuknya?” Tanya Kris kemudian.

“Chakkaman, aku ambilkan..” Ucap Lian yang kemudian berjinjit berusaha membuka lemari piring yang berada di atasnya. Namun karena Lian yang memiliki tubuh kecil, ia tidak sampai dan harus bertopang sambil berjinjit meraih handle lemari itu.

“Biar aku yang ambil.” Kris membuka lemari itu dengan mudah karena postur tingginya lah yang memudahkannya. “Yang warna putih?” Tanya Kris.

“Apa mangkuk itu besar? Soup ini banyak, jadi kurasa perlu mangkuk besar.”

“Seperti ini…” Ujar Kris yang mengambil mangkuk itu dan menunjukkannya pada Lian. Lian menggelengkan kepalanya.

“Itu masih kurang..” Ujar Lian. Ia kemudian keluar dari dapur dan menarik kursi untuk ia naiki dan mengambil mangkuk itu sendiri.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kris heran.

“Aku yang mengambilnya…” Tanpa banyak bicara, Kris menyingkirkan kursi itu dan menggendong Lian.

“Kyaaaa!! Apa yang kau lakukaaann????!!!!”

“Shut up (diam).. just pick up the bowl that you mean (ambil saja mangkuk yang kau maksud)!”

“Ck!” Jujur saat itu jantung gadis itu tidak karuan. Wajahnya sedikit memerah ketika Kris menggendongnya. Terlintas di pikiran dia tentang semalam. Malam dimana Kris yang tidak sadar telah mengambil keperawanannya.

“Pakai ini..” Ujar Lian yang memberikan mangkuk soup pada Kris. Dia berusaha setengah mati untuk bicara normal.

“Kenapa aku jadi bertindak konyol seperti ini? Kenapa aku malah menggendongnya sementara dia juga sebenarnya ada kursi untuk dia naiki kan?” Batin Kris.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Ting! Tong! Aku mendengar suara bel rumah yang berbunyi.

“Biar aku saja..” Ucapku pada Kris. Sebenarnya ini adalah alasan untuk menjauh dari Kris dan menormalkan detak jantungku yang aneh ini.

“Liaaann~~~” Qian jiejie langsung memelukku. Oh! Aku rindu padanyaaaa!! Aku juga langsung memeluk jiejie.

“Nampaknya kau habis memasak… Sudah kubilang jangan repot-repot!”

“Wǒ méiyǒu shé me (aku tidak apa-apa), jiejie…” Aku kemudian melihat di samping jiejie ada Mimi gege yang sedang menggendong Yingzie.

“Hǎojiǔ bùjiàn (lama tak bertemu), gege!” Seruku.

Mimi gege pun tersenyum. “Nî hâo ma (bagaimana kabarmu)?” Tanyanya.

“Wǒ hěn hǎo, nǐ ne (kabarku baik, kau)?” Tanyanya balik.

“Wǒ hěn hǎole (aku juga baik), gege… Ayo masuk..” Ajakku.

“Ooh, jiejie dan gege sudah datang?” Kulihat Kris yang baru saja keluar dari dapur.

“Apa yang kau lakukan di dapur, Kris?” Tanya Mimi gege.

“Tentu saja aku membantu istriku memasak, gege..” Jawab Kris. Aku kemudian masuk ke dalam dapur. Dan rupanya Kris mengikutiku.

“Kau mengerti maksudku?” Tanyanya.

“Wǒ zhīdào (aku tahu)…” Jawabku singkat.

Aku kemudian kembali keluar dari dapur dan menata piring untuk empat orang. Ya, empat orang. Karena pastinya Yingzie memiliki tempat makan sendiri dan makanan bayi.

“Ah! Aku harus memberi Yingzie makan dulu..” Qian jiejie kemudian mengeluarkan makanan bayi dari dalam tas bayi yang ia bawa. Ia juga mengeluarkan tempat makan Yingzie yang berwarna biru. Sementara Mimi gege, dia memangku Yingzie sambil berbincang dengan Kris.

“Lian, aku minta air hangatnya yaaa..”

“Ne, jiejie.. ambil saja sesukamu..” Jawabku. Aku hanya memperhatikan cara jiejie membuat makanan untuk Yingzie.

“Ah! Jadi seperti itu…” Batinku.

“Jiejie, bagaimana kau bisa tahu takarannya?”

“Hanya kira-kira saja…” Jawabnya.

“Susah juga ya kalau tidak mengerti…” Ucapku.

“Kau akan mengerti setelah kau memiliki anak nanti… Itu terjadi karena nalurimu sebagai mama, Lian..”

Zhēn de ma (benarkah)?” Tanyaku. Qian jiejie hanya mengangguk. Kami pun kembali ke ruang tengah menghampiri Mimi gege dan Kris yang berada di sana. Yingzie terlihat menangis karena lapar. Kalau aku jadi jiejie, pasti aku sudah panic karena anakku yang terus menangis. Sementara jiejie, dia bisa tenang menghadapinya. Apa ini karena naluri seorang ibu juga?

Jiejie kemudian meletakkan tempat makan Yingzie di meja dan kemudian mengambil anaknya dari gendongan Mimi gege. Ia kemudian duduk sambil memangku Yingzie.

“Cup.. cup… cup… jagoan mama tidak boleh nangis.. Apa kau tidak malu pada Kris shūshu dan Lian gūmā?” Jiejie juga menyuapi Yingzie dengan sabar.

“Jiejie… aku mau mencobanya…” Rajukku.

“Boleh… Yingzie mau kan di gendong Lian gūmā?” Ucap Qian jiejie.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Kris hanya bisa memperhatikan Lian yang sedang menggendong Yingzie. Dia berpikiran kalau Lian adalah tipe wanita yang sangat penyayang dengan anak kecil.

“Jiejie, ini bagaimana? Kalau dia nangis bagaimana?” Tanya Lian pada Qian kakaknya.

“Tidak kok… asal dia nyaman saja… ini, suapi Yingzie lagi…” Qian membantu Lian yang memang terlihat seperti amatiran.

“Kau tidak mau menyusul kami untuk punya anak?” Pertanyaan itu sukses membuat Kris terhenyak.

“Hng? Gege tadi bilang apa?” Tanya Kris.

“Kapan kau akan memiliki anak?”

“Entah, gege… Aku merasa belum siap memiliki anak.”

“Kau ini… seharusnya Lian yang berkata seperti itu. Hhaha…” Kris hanya tersenyum kecil.

“Ah, rupanya Lian sudah bisa menggendong bayi dengan baik!” Seru Qian.

“Kalian, segeralah punya anak… Supaya Yingzie tidak kesepian saat bermain nanti..” Ujar Qian menatap Lian dan Kris bergantian.

“Hhm, mungkin kami akan merencanakannya, jie..” Ujar Kris kemudian.

“Baguslah kalau begitu… Aku tidak sabar melihat anak kalian nanti…” Ujar Qian lagi sambil membersihkan bibir anaknya dari makanan bayi.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Hari terus berlanjut. Semenjak datangnya Qian jiejie ke rumah, aku jadi takut hamil. Bukan karena aku tidak suka anak kecil. Tapi, karena aku terikat perjanjian itu kan. Bagaimana kalau aku hamil?

“Kau tidak ikut, besok?” Tanya Kris yang membuyarkan lamunanku. Aku menggelengkan kepalaku.

“Sepertinya aku tidak enak badan. Aku titip salam saja untuk adikmu yang akan wisuda di Hongkong.

Ting! Tong! Bel rumahku berbunyi. Aku segera keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Mommy dan Daddy, orang tua Kris.

“Tiān nǎ (astaga)! Lian, kenapa kau pucat?” Mom membingkai wajahku dengan kedua tangannya.

“Wǒ méiyǒu shé me (aku tidak apa), Mom.. Mungkin hanya kelelahan.. Ayo, masuk Mom, Dad..” Jawabku tersenyum.

“Dimana Kris?” Tanya Daddy.

“Mungkin di pekarangan belakang, Dad…” Jawabku. Daddy pun segera melangkahkan kakinya kearah yang kumaksud. Sedangkan Mommy bersamaku. Aku ke dapur membuatkan minuman untuk mereka.

“Mom, mau minum apa?” Tanyaku.

“Nanti, biar Mom ambil sendiri, Lian..”

“Bùshì (tidak), biar aku buatkan…”

“Kalau begitu, teh saja… tanpa gula…”

“Baiklah, aku akan membuatkan itu untuk Mom dan Dad..” Aku ke dapur, tapi ternyata Mommy mengikutiku.

“Lian, kau benar tidak ikut ke Hongkong?”

“Duìbùqǐ (maaf), Mom… Aku agak tidak enak badan…” Ucapku pelan.

“Wǒ zhīdào (aku tahu), Mom tidak mau nanti kau bertambah parah sakitnya… Mom pikir, karena kau membenci adiknya Kris..”

“Bùshì (tidak). Sama sekali tidak, Mom… Aku malah senang kalau ternyata Kris memiliki adik. Dan itu patut dibanggakan kan?” Ucapku.

“Ini, Mom.. tehnya…” Ucapku.

“Xièxiè (terima kasih), Lian..” Aku hanya tersenyum.

“Aku ke belakang dulu, memberikan teh ini untuk Daddy…” TErnyata di belakang, Dad sedang membicarakan perusahaannya dengan Kris. Ya, tentang Emperor Group.

“Maaf mengganggu… Daddy, ini tehnya… Silahkan diminum..” Ucapku meletakkan cangkir teh di meja hadapan Daddy.

“Oh, xièxiè (terima kasih), Lian..”

Aku tersenyum dan beranjak kembali ke dalam. Namun tiba-tiba Kris menahan tanganku. “Kau mau kemana?” Tanyanya.

“Ke dalam… Mau menemani Mommy…”

“Tidak usah… Mom di sini kok…” Tiba-tiba Mommy keluar dan duduk di samping Daddy. Kris kemudian menyuruhku duduk di sampingnya. Dia melingkarkan lengannya pada bahuku.

“Kau sudah minum obat?” Tanyanya yang memegang kening dan leherku memeriksa suhu tubuhku. Aku menggelengkan kepalaku.

“Kris, bolehkah aku berharap kalau perhatianmu ini bukan pura-pura?” Batinku. Ah! Kenapa aku berharap demikian?!! Tidak! Aku tidak boleh seperti ini!

“Kau ini… Tunggu sini, aku akan mengambilkan obat untukmu.”

“Ta.. tapi aku sudah minum vitamin…” Aku mengelak. Aku tidak suka obat!

“Mom, bukankah dulu waktu hamilnya Kris juga seperti itu?” Ujar Daddy tiba-tiba.

“Oh, ya… Mom juga dulu seperti itu. Lian, jangan-jangan kau…. Hamil…” Ujar Mommy. Aku kesulitan menjawab. Tidak, aku tidak mungkin hamil!

“Mom, aku dan Lian sengaja menunda untuk mempunyai anak..” Ujar Kris kemudian.

“Wèishéme (kenapa)? Mom dan Dad kan sudah sangat ingin menimang cucu..”

“Tapi kami juga ingin menikmati masa-masa kita berdua, Mom…” Ujar Kris.

Keesokan harinya, aku benar-benar tidak bisa bangun dari tempat tidur. Aku pusing sekali. Ya Tuhan, aku kenapa?

Tok! Tok! Tok! Pintu kamarku diketuk dari luar.

“Lian, kau sudah bangun?” Suara berat itu terdengar. Ya, suara Kris. Aku bahkan tidak sanggup menjawabnya. Ada apa dengan tubuhku? Lama tak terdengar suara. Mungkin dia sudah pergi. Entahlah…

Aku bisa bangkit setelah rasa pusingku hilang setelah dua jam aku terbaring. Aku berusaha merelaxkan pikiranku dan perlahan duduk di ranjangku. Aku keluar dari kamarku dan menuju kulkas untuk mengambil minum. Saat aku akan membuka kulkas, aku melihat ada memo yang tertempel di pintu kulkas tersebut. Isi memo itu adalah…

 

Karena sepertinya tadi kau masih tidur, aku meninggalkan memo ini. Aku berangkat jam enam. Aku akan menjemput Mom and Dad dulu baru ke bandara. Kau, jangan lupa minum obat dan cepat sembuhlah… besok kami akan pulang dan pulang bersama adikku.

 

Setelah membaca memo itu, aku mengerti kenapa tadi dia tidak membuka pintu kamarku saja. Aku kemudian menjalankan aktifitasku seperti biasa di rumah. Membereskan rumah walaupun sebentar, dan terkadang membaca koleksi buku milik Kris di perpustakaan kecilnya. Ternyata dia sangat senang membaca. Tapi tiba-tiba aku merasa sangat pusing. Benar-benar pusing. Tunggu! Ini sudah hampir empat bulan aku tidak menstruasi. Ah! Sudahlah, besok saja aku membeli testpack.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Keesokan paginya, aku keluar kamar dan mecari pelayanku. “Ahjumma…” Aku memanggil pelayanku. Ia adalah orang yang sudah dianggap ibu kedua bagi Kris.

“Ne, nyonya muda..”

“Temani aku ke apotek ya…” Ucapku.

“Nyonya mau beli apa? Nanti saya yang belikan..”

“Anni, biar aku saja.. Tapi aku mau ditemani ahjumma.. Mau kan?”

Ia tersenyum. “Tentu saja…”

“Kajja, kalau begitu sekarang saja…”

Kami pun ke apotek terdekat yang berada di ujung jalan. Aku membeli tiga testpack yang berbeda merk untuk memeriksa air seniku. Sungguh, aku takut kalau aku hamil sekarang!

Setelah dari apotek, aku pulang dan beristirahat sejenak. Namun saat aku mau ke kamar mandi, aku langsung menyambar testpack yang sudah aku beli tadi. Semoga ketiganya memiliki hasil negative.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ti..tidak mungkin!! Ini tidak mungkin!!” Lian menatap ketiga testpack itu sambil menangis di kamar mandi.

“Hiks… aku tidak mungkin hamil… aku tidak mungkin hamil… aku tidak mau hamil dengannya..” Isak Lian.

Ia memukul-mukul perutnya sambil menangis. Ia juga melempar ketiga testpack itu ke sembarang arah di kamarnya. Ia menghempaskan tubuhnya ke ranjangnya. Ia terus menangis hingga akhirnya tertidur karena kelelahan menangis.

Pelayannya terlihat bingung karena seharian itu Lian tidak mau keluar kamarnya. Bahkan ia tidak menyentuh makanan sama sekali. Ia kemudian menelpon Kris yang berada di Hongkong.

“Ya, ahjumma?” Sapa Kris.

“Ma..maaf.. tuan… nyonya Lian…”

“Ada apa dengan Lian?” Tanya Kris.

“Nyonya… dari tadi tidak mau keluar kamar setelah dari apotek… saya.. juga mendengar tangisan… Dia tidak mau makan..” Ucapnya.

“Apotek? Apa yang ia beli?”

“Saya tidak tahu, tuan…” Saat itu juga, Kris berwajah panic dan pucat.

“Gege, wèishéme (kenapa)?” Tanya Michelle. Kris hanya menyilangkan telunjuknya di depan bibirnya menyuruh untuk gadis itu diam.

“Ahjumma, tolong bujuk dia untuk makan… bagaimana pun caranya! Aku akan segera pulang setelah acara wisuda Michelle selesai…Jangan lupa memberitahuku perkembangannya.” Kris mengakhiri pembicaraannya.

“Gege, ada apa? Kenapa panic?” Tanya Michelle lagi.

“Tidak ada apa-apa, Chell… Ayo..” Ajak Kris menarik tangan gadis itu.

Acara wisuda gadis itu pun berlangsung. Namun, berkali-kali Kris yang duduk di samping orang tuanya untuk menyaksikan perhelatan adiknya menjadi seorang sarjana muda, Kris sering melihat ponselnya.

“Ada apa, Kris?” Tanya ayahnya.

“Tidak ada apa-apa, Dad..” Jawab Kris.

“Kau yakin?” Kris menganggukkan kepalanya.

“Apa terjadi sesuatu pada Lian?” Ayahnya menebak apa yang ada dipikiran Kris.

“Dad, bisakah aku pulang duluan nanti setelah wisuda Michelle?”

“Ne, pulanglah… Kalau kau mau, kau bisa pulang sekarang…Lian membutuhkanmu, Dad pikir…”

“Tapi Michelle…”

“Dia pasti mengerti…”

“Biar barang-barangmu, kami yang urus nanti…” Ujar ibunya.

“Xièxiè (terima kasih), Dad, Mom…” Ujar Kris kemudian. Dia kemudian berpamitan untuk pulang pada ayah dan ibunya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Kris yang beberapa jam kemudian telah tiba di Seoul, langsung menghentikan taksi untuk pulang. Kris menyuruh supir taksi itu mengemudi cepat. Di saat yang bersamaan, Min Ah menelponnya. Kris sengaja mematikan ponselnya. Entah kenapa ia mengabaikan kekasihnya tersebut.

Setibanya di rumah, Kris menghentikan langkahnya di depan pintu kamar Lian. Tidak ada suara yang terdengar dari dalam.

“Lian, buka pintunya..” Kris mengetuk pintu kamar itu. Tidak ada jawaban dari dalam. Sudah tiga kali ia memanggil, hasilnya sama. Lian tidak menjawab. Ia kemudian mendobrak pintu kamar itu. Kosong. Tidak ada siapa-siapa. Tapi ia mendengar suara shower dari dalam kamar mandi yang terdapat di kamarnya.

“Lian..” Kris memanggilnya. Tapi tidak ada sahutan dari dalam. Kris kemudian membuka pelan pintu kamar mandi tersebut dan mendapati seorang wanita yang terduduk lemah di bawah air yang berasal dari shower.

“Tiān nǎ (astaga)! Sejak kapan dia di sini?!!” Batin Kris yang kemudian menggendong Lian dan membaringkannya di tempat tidurnya.

“Ahjummaa~~” Kris memanggil pelayannya tersebut. Ia memintanya untuk menggantikan pakaian istrinya.

“Apa yang bisa membuatnya seperti ini?” Kris memijat pelipisnya. Ia kemudian menelpon seorang dokter yang merupakan dokter pribadi keluarganya.

“Tuan, saya menemukan ini berserakan di kamar nyonya…” Pelayannya menyerahkan tiga buah testpack pada Kris.

“Ah, gamsahamnida, ahjumma..” Ujar Kris setelah menelpon dokter.

“Positif? Lian hamil?? Dengan siapa Lian hamil?” Saat itu juga rahang pria itu mengeras dan terlihat gusar. Ia teringat dengan tiga pria yang pernah jalan dengan Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Dia terlalu banyak pikiran… Dia harus banyak istirahat… Dan… selamat.. dia hamil. Kandungannya sudah empat bulan…”

“Empat bulan?” Tanya Kris.

“Ya, empat bulan… Kau harus menjaga istrimu. Kandungannya lemah. Saya akan memberikan obat untuk menguatkan kandungannya.”

“Oh, ne…ne.. gamsahamnida…” Ucap Kris yang kemudian mengantar dokter itu keluar rumahnya.

Ia kemudian kembali ke kamar Lian dan menunggunya tersadar. Sambil menunggu, ia membaca buku di samping Lian.

“Nghh..” Lian yang mulai tersadar membuka matanya perlahan.

“Kau sudah sadar?” Lian menoleh dan mendapati Kris duduk di sampingnya dengan sebelah tangannya yang memegang sebuah buku. Ia memilih untuk memalingkan wajahnya dari Kris.

“Kka..” Usir Lian pelan.

“Apa maksudmu?” Tanya Kris.

“Aku bilang keluar! Kau sudah melanggar perjanjian kita! Ini kamarku!” Ucap Lian.

“Oh ya? Bukannya kau sudah melanggarnya duluan?” Tanya Kris sarkatis meletakkan bukunya di atas nakas tempat tidur Lian.

“Cih! Melanggar katamu?!”

“Ya.. Kau hamil kan?”

“Bùshì (tidak)! Aku tidak hamil!” Bantah Lian yang kemudian mendudukkan dirinya bersandar pada headboard tempat tidurnya.

“Huh! Kau yakin? Lalu ini apa?” Kris menunjukkan tiga testpack yang telah digunakan Lian. “Masih menyangkal kalau kau hamil?” Kris menaikkan sebelah alisnya, menyedekapkan kedua tangannya di dadanya.

“Kalau kau masih menyangkal, aku punya satu bukti lagi.” Ujar Kris yang kemudian mengeluarkan selembar kertas resep dokter yang baru saja memeriksa Lian. “Ini…resep dari dokter.” Kris meletakkan kertas itu di pangkuan Lian. “Di situ tertulis nama obat penguat kandungan untukmu. Kau tahu, kandunganmu itu sangat lemah. Entah apa yang membuatnya lemah. Kau seharusnya bisa merawat bayi itu lima bulan lagi, Lian…” Ujar Kris. Lian yang sudah tidak bisa mengelak, hanya menundukkan kepalanya.

“Anak siapa itu?” Tanya Kris dingin. Lian tak kunjung menjawab.

“Anak siapa, Lian?” Ulang Kris.

“Anak… Chris.. Christian…”

“Christian?” Lian mengangguk meskipun ia sebenarnya membohongi pria yang ada di hadapannya. Tanpa sepengetahuan wanita yang kini menyandang nama Wu, pria itu menatapnya dengan rasa kecewanya. Ia kemudian keluar dari kamar itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Duìbùqǐ (maafkan aku), aku harus membohongimu. Aku tidak mau kau tahu kalau ini anakmu…” Batinku yang kemudian mengeluarkan surat perjanjian. Perjanjian ini… Kenapa aku sendiri yang melanggarnya?

Cklek! Aku menoleh kearah pintu kamarku. Kulihat ia kembali masuk dengan sebuah berkas di tangannya.

“Apa yang kau pegang?” Tanyanya.

“Pe..perjanjian.. kita.. Aku berniat memperbaruinya.” Ia kemudian merebutnya dari tanganku. Ia menyatukan surat perjanjian itu dengan berkas miliknya.

“K…Kris! Apa yang kau lakukan??!!” Aku berusaha mengambil perjanjian itu dari tangannya. Namun ia mengangkatnya tinggi ke udara hingga aku tidak dapat meraihnya.

“Kris, jangan!! Kau mau apa dengan perjanjian kita itu?!!” Aku berjinjit bahkan naik ke tempat tidurku demi mendapatkan perjanjian itu. Dia kemudian mengeluarkan pemantik api dari dalam saku celananya dan menyalakannya.

“Kyaaa!! Andwaeee!!!” Teriakku. Terlambat! Kertas perjanjian itu sudah terbakar.

“Perjanjian itu sudah tidak ada. Perjanjian milikmu, juga perjanjian milikku.” Ujarnya datar.

“Dan itu berarti, kau harus menurut padaku, karena aku ini kepala keluarga di sini!” Titahnya.

“Ta..tapi..”

“Tidak ada kata tapi-tapian! Sampai bayi itu lahir, kau harus menuruti perintahku. Kita akan test DNA setelah bayi itu lahir!” Ia kemudian keluar dari kamarku meninggalkan kertas yang sudah terbakar hingga menjadi abu itu di kamarku.

“Oh, kamarmu biar dibersihkan ahjumma nanti. Dan mulai sekarang, kau harus pindah ke kamarku!” Apa dia bilang?! Aku harus ke kamarnya?!!  Wǒ bùxiǎng (aku tidak mau)!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Michelle, kau mau kemana malam-malam seperti ini? Istirahatlah… besok saja ke rumah gegemu..”

“Tidak mau! Aku mau sekarang! Aku mau bertemu istrinya gege yang katanya lagi sakit!” Ujar Michelle yang keras kepala saat dilarang orang tuanya.

“Tapi…” Belum selesai ibunya bicara, gadis itu sudah keluar rumahnya. Ia ke rumah Kris dengan diantar supirnya.

Menempuh perjalanan satu jam, ia tiba di depan rumah Kris, kakaknya. Dia segera menelpon kakaknya untuk membukakan pintu rumahnya.

“Tiān nǎ (astaga)! Kenapa kau malam-malam seperti ini ke rumah gege?” Ujar Kris yang membuka pintu setelah mendapat telepon dari Michelle kalau ia berada di teras rumahnya.

“Jiejie mana? Katanya Mom, jiejie sakit?” Ujar Michelle yang langsung masuk ke rumah Kris tanpa dipersilahkan.

“Ck, dimana sopan santunmu, Chell? Gege masih di depan kau masuk ke dalam tanpa izin!”

“Apa harus aku meminta izin pada gege? Ah, ini… Buah-buahan untuk jiejie.. Tadi aku sempat membelinya.”

“Xièxiè (terima kasih)..” Ujar Kris.

“Mana jiejie?? Dia sakit apa?”

“Dia tidak sakit…” Tepat di saat itu, Lian yang baru saja keluar dari kamar Kris melihat seorang wanita. Meskipun dari belakang, Lian ingat kalau itu adalah wanita yang pernah jalan bersama Kris saat Lian ke kantornya.

“Ke…kenapa dia di sini?” Batin Lian. Ia pun kembali masuk ke dalam kamar Kris berniat untuk tidur. Belum sempat pintu itu terbuka, Kris sudah mendapatinya yang akan kembali masuk kamar.

“Lian…” Panggil Kris.

“Hng?” Lian menoleh.

“Lian? Sepertinya aku pernah dengar nama itu..” Batin Michelle. Ia pun memutar tubuhnya dan melihat wanita di hadapannya.

“Jie… Jiejie?!!!” Pekik Michelle kaget dengan kelopak matanya yang melebar.

“Ka… kau…”

“Kyaaaaa!!!!!! Lian jiejieeee!!!” Michelle langsung memeluk Lian yang masih kaget. Ia tidak menyangka kalau adik Kris adalah Michelle, adiknya dari dunia maya.

“Kyaaa!! Ini benar Lian jiejie kan?? Kyaaa!!”

“Aa..aa..aaa… i..ini.. aku… Michelle…”

“Hey! Kau jangan seperti itu dengannya!” Larang Kris.

“Wèishéme (kenapa)?” Tanya Michelle.

“Jiejie-mu sedang hamil…” Ucap Kris.

“Děngdài (tunggu)!  Jadi istrinya gege itu Lian jiejie?? Kyaaa!! Aku tidak perlu repot-repot menjodohkan kalian! Ternyata kalian menikah! Malah sekarang jiejie hamil! Kyaaaaa!!!” Serunya.

“Apa maksudmu, Chell?” Tanya Kris.

“Jiejie, orang yang kumaksud itu… ingat tidak?”

“Oh..” Jawab Kris singkat yang kemudian ke dapur untuk menghilangkan dahaganya. Michelle pun segera menarik Lian ke ruang tengah.

“Jiejie… kau tahu, mimpiku kini terwujud! Aaaahh~~!! Bahagianya!” Serunya.

Lian hanya bisa tersenyum menanggapi Michelle yang kini ternyata adalah adik iparnya. “Aku buatkan minum untukmu ya… Tunggu sini..”

“Eeehh.. Tidak usah!” Michelle menarik Lian untuk kembali duduk. “Kris gegeeeeee~~~ Buatkan aku syrup yaaaa~~~” Teriak Michelle.

“Apa katamu? Cih! Buat saja sana sendiri!” Ujar Kris lagi yang masuk ke kamarnya.

“Ck, si tiang listrik itu!” Dengus Michelle kesal.

“Kau memanggilnya itu juga?” Tanya Lian.

“Iya, itu panggilan dari kecil..”

“Zhēn de ma (benarkah)? Aku juga menamainya itu..” Mereka pun tertawa. Dan malam itu Lian yang mengantuk, langsung tidak mengantuk karena bisa bercanda langsung dengan Michelle.

Dalam batinnya, sebenarnya ia menyimpan sebuah rahasia yang sangat ingin diungkapkannya.  Rahasia kalau Yixing akan melamar Michelle. Ia sangat ingin mengatakan hal itu pada Michelle. Namun, Yixing berpesan kalau Lian harus menyimpan rahasia itu sampai ulang tahun Michelle tanggal 09 Maret nanti. Ia harus bersabar menunggu dua bulan lagi untuk itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Oh ya, bagaimana kau dengan Lay?” Tanyaku.

“Lay? Yixing gege?” Tanyanya.

“Uhm… bagaimana kau dengannya?”

“Wǒ bù zhīdào (aku tidak tahu)… Dia tiba-tiba saja menghilang…” Ucapnya murung.

“Kau benar-benar cinta padanya ya?” Aku menggodanya.

“Jiejieee… Aaaahh jiejieee~~~” Dia memukul lenganku dengan bantal sofa.

“Tebakkanku benar kan?” Ledekku lagi. Ahahaha rasanya aku ingin tertawa terbahak-bahak melihat wajahnya yang kini seperti kepiting rebus!

“Jadi kapan kalian akan menikah?” Tanyaku tiba-tiba.

“Ehh? Menikah? Jiejie… kau bercanda! Dia saja tidak pernah menemuiku…”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Setelah Michelle pulang, untuk pertama kalinya Lian masuk ke kamar Kris untuk tidur. Meskipun peristiwa itu pernah terjadi secara tidak sengaja karena tidak sadar, tetap saja saat ini membuat Lian gugup. Lian yang masih berdiri di pintu melihat Kris yang masih duduk bersandar di headboard tempat tidurnya yang berukuran king size. Dengan buku yang masih di tangannya, dan kacamata yang bertengger di hidung mancungnya, ia masih membalik halaman demi halaman bukunya.

“Aku harus tidur di sampingnya? Hyaaa… Bagaimana ini?!!” Batin Lian yang tanpa sadar memainkan ujung bajunya.

“Apa yang kau lakukan?” Tanya Kris yang menginterupsi pikiran Lian.

“A..aku..”

“Tidurlah.. Sudah malam…” Kris beranjak dari tempat tidurnya. Lian perlahan membaringkan tubuhnya setelah Kris yang bangkit dari tempat tidurnya setelah meletakkan buku di atas nakasnya. Lian menarik selimut yang akan digunakan berdua dengan Kris.

Tlek! Lampu kamar itu dimatikan oleh Kris karena pria itu terbiasa tidur dengan lampu yang mati.

“Kyaaaa!! Huwwaaa!!! Mati lampuuu!!!!! Huhuhuhu…” Lian kembali terduduk dan mulai menangis.

Tlek!

“Bùyào kū (jangan menangis). Aku menyalakan lampu nakas kalau kau tidak bisa tidur..” Kris menghapus air mata Lian. Kris kemudian ikut membaringkan tubuhnya di samping Lian dengan memunggungi istrinya. Meskipun ada penerangan, Lian tidak kunjung tidur juga. Kris kemudian menyalakan lampu yang berada di nakasnya karena berpikir Lian masih belum bisa tertidur karena masih terlalu gelap. Walaupun dirinya sedikit terganggu karena penerangan lampu tersebut, Kris lebih baik mengalah untuk Lian yang sedang mengandung.

Lian masih saja tetap tidak bisa tidur. Berkali-kali ia berganti posisi tidurnya dan membuat ranjang it uterus berdecit karenanya. Begitu pun dengan Kris. Meskipun ia memunggungi Lian, sejujurnya ia tidak bisa tidur karena pikirannya. Lebih tepatnya rasa cintanya. Pria itu merasa kini ia berdiri diantara dua persimpangan. Mana jalan yang harus ia pilih? Meneruskan hidup dengan Lian yang mengandung bukan anaknya, atau memilih Min Ah yang sudah menjadi kekasihnya sebelum ia menikah dengan Lian?

Karena kesal dengan dirinya sendiri, Lian kembali bangun dan duduk bersandar pada ranjang itu dengan selimut yang menutupi bagian perut hingga ke bawahnya. Pergerakan dirinya membuat ranjang itu bergerak hingga Kris akhirnya membalikkan tubuhnya.

“Ah, duìbùqǐ (maafkan aku), kau jadi terbangun…” Ucap Lian.

“Kau masih tidak bisa tidur karena gelap?” Tanya Kris yang kemudian ikut mendudukkan tubuhnya. Lian hanya menggeleng pelan.

“Lalu?” Tanya Kris lagi yang kemudian Lian menjawab dengan menggidikkan bahunya tidak mengerti.

Cukup lama mereka terhanyut dalam keheningan. Sampai akhirnya Lian mengeluarkan suaranya. “Kris…”

“Hhm?”

“Bagaimana kalau Michelle menikah?”

“Michelle?”

“Uhm… Ia akan dilamar seseorang nanti saat ia ulang tahun. Kau menyetujuinya?”

“Tergantung..” Ucapnya singkat.

“Maksudmu?”

“Tergantung pria itu baik dan bisa membimbing Michelle atau tidak…”

“Kurasa bisa…”

“Kau tahu dari mana, eoh? Kau bukannya tahu hanya dari cerita Michelle?”

Lian menggelengkan kepalanya. “Dia temanku. Jadi aku tahu bagaimana sifat dia, dan background-nya dia..”

“Yixing? Yixing temanmu?”

Lian mengangguk. “Dia dekat denganku… Lihat ini…” Lian mengambil ponselnya dan menunjukkannya pada Kris.

“Ini Lay… Bùshì (tidak), Yixing maksudku…” Kris mengernyitkan dahinya.

“Dia?” Tanya Kris. Lian mengangguk.

“Waktu itu aku dan Baekhyun bertemu dengannya di hotel. Kau tahu, dia sampai rela mempersiapkan semuanya di Seoul, padahal dia kan tinggal di Changsa.” Ujar Lian.

“Sepertinya aku salah menduga… Rupanya mereka bertemu untuk membicarakan acara lamaran Yixing untuk Michelle…” Batin Kris.

“Hhm.. Sudah kuduga..” Ujar Kris.

“Shénme (apa)?” Tanya Lian.

“Michelle tidak peka…” Ucapnya lagi.

“Hng?” Lian terlihat tidak mengerti.

“Yixing menaruh perasaan padanya, tapi dia tidak menyadarinya.”

“Wǒ zhīdào (aku tahu)…” Jawab Lian singkat.

“Ràng wǒmen shuìjiào (mari kita tidur)! Sudah terlalu malam untukmu..” Ujar Kris kemudian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Aku terbangun karena suara air. Wait! Aku baru ingat kalau aku semalam tidur di kamar Kris. Aku menyibakkan selimut yang menutupi tubuhku dan menguncir rambutku asal. Jam berapa sekarang? Aku harus buat sarapanku!

“Eoh, Yǐjīng xǐngle ma (sudah bangun)?” Aku melihat Kris yang masih dalam keadaan basah. Sepertinya baru selesai mandi.

“Ne…” Ucapku.

“Kau mau kemana?” Tanyanya yang masih mengeringkan rambutnya dengan mengusap-usapkan handuk ke rambutnya.

“Buat sarapan..”

“Tidak usah, ahjumma sudah membuatkan sarapan kita.” Kita? Kenapa kita? Aku mengangguk singkat.

Tok! Tok! Tok! Aku membuka pintu kamar dan ternyata ahjumma yang berada di depan pintu kamar ini.

“Ahjumma?” Tanyaku.

“Saya hanya mau mengantar ini… Handuk nyonya muda dan juga pakaian nyonya muda…”

“Aigo, ahjumma…. Jangan seperti ini… Aku masih bisa mengambilnya sendiri…”

“Sudah kewajiban saya nyonya..” Ia kemudian membungkukkan tubuhnya dan berjalan mundur perlahan meninggalkanku.

“Kau yang menyuruhnya?” Tanyaku pada Kris.

“Tidak, aku tidak pernah menyuruhnya seperti itu..” Ujarnya.

“Tapi…”

“Sudahlah, lebih baik kau mandi…”

Saat sarapan, ponselku tiba-tiba berbunyi. “Ini, baca ini….” Ucapku menunjukkan ponselku pada Kris.

“Hhm?” Dia melihat ponselku yang masih kugenggam.

“Yixing?” Tanyanya.

“Dia mau bertemu aku nanti siang…”

“Ya sudah, bertemu saja dengannya.” Ucapnya singkat. Kenapa aku sedikit terbuka padanya? Harusnya kan aku langsung pergi saja.

“Zhēn de ma (benarkah)?”

“Biasanya juga seperti itu kan?” Tanyanya sambil mengunyah makanan. Aku hanya membisu.

“Uhm..” Jawabku singkat.

“Nanti siang, aku senggang… Nanti aku jemput.”

“Hng?”

“Kau mau bertemu Yixing kan?”

“Kau mengantarku?” Tanyaku heran.

“Menemanimu.” Jawabnya singkat.

“Ne… “ Jawabku melanjutkan sarapanku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Dimana tempatnya?” Tanya Kris sambil mengemudi setelah menjemput Lian di rumah.

“Aku tidak tahu nama tempatnya. Lay hanya memberikan alamat ini…” Ujar Lian yang menunjukkan ponselnya.

“Lian, kau mau kita kecelakaan?” Ujar Kris yang kemudian menepikan mobilnya. Ia kemudian mengambil ponsel Lian dari tangannya dan membaca alamat yang dikirimkan Yixing pada Lian. Ia kemudian menggunakan GPS untuk mengetahui letak kondominium tersebut. Ya, Yixing membeli sebuah kondominium mewah di kawasan elite Nonhyeondong, Gangnam, Seoul.

Kondominium ini sendiri merupakan salah satu dari 10 apartemen termewah berharga tinggi di Korea Selatan. Komplek apartemen mewah ini terdiri dari 18 rumah yang dibangun oleh pengembang terkenal Samsung Heavy Industries. Hunian mewah ini juga terkenal dengan sistem keamanannya yang sangat tinggi, dilengkapi dengan berbagai macam sensor pengamanan serta CCTV yang tak pernah berhenti memantau. Tak hanya itu kondominium ini juga dilengkapi dengan ruangan pesta, bioskop mini, dan ruangan fitness.

“Kris…”

“Ne?”

“Aku mau es krim…” Pinta Lian tiba-tiba.

“Shénme (apa)?”

“Es krim…”

“Nanti saja…” Kris kembali melanjutkan mengemudi mobilnya.

“Krriiisss~~~ Aku mau es krimm!!!” Rajuk Lian.

“Nanti, sepulang dari tempat Yixing.”

“Aku mau sekaraaangg!! Sekarang! Pokoknya sekarangg!!!” Teriak Lian yang merajuk seperti anak kecil. Tak hanya itu, ia bahkan memukuli Kris hingga pria itu sempat kehilangan konsentrasi untuk menyetir.

TIIINN!!! Klakson mobil pengemudi lain terdengar memekakkan telinga karena laju mobil yang dikemudikan Kris keluar jalur.

“Hey! Lian, kita bisa mati!” Kris berusaha menghentikan tingkah istrinya dengan sebelah tangannya.

“Aku mau es kriiiimm!!!!”

Dengan menghela nafas, Kris akhirnya kembali menepikan mobilnya di depan mini market. “Děnghòu zài zhèlǐ (tunggu sini)!” Ujar Kris yang kemudian melepaskan sabuk pengamannya.

Sementara Lian menunggu di dalam mobil sambil memainkan game yang ada di ponselnya, Kris masuk ke dalam mini market untuk membelikan es krim untuk Lian.

“Rasa apa yang harus aku beli? Aku tidak tahu kesukaannya…” Batin Kris menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Dan akhirnya Kris mengambil dengan asal es krim rasa cokelat dan strawberry untuk Lian. Setelah membayarnya, Kris kembali ke dalam mobilnya dan meletakkan kantung plastic yang berisikan dua es krim itu di pangkuan Lian.

“Kok dua?” Tanya Lian.

“Memang kau mau berapa, eoh? Itu saja belum tentu kau habis.”

“Aku mau lima…” Ucap Lian.

“Ráole wǒ ba (yang benar saja)! Kau mau makan lima es krim?” Tanya Kris heran sambil memasang kembali sabuk pengamannya.

“Belikan lagiiii~~~~” Lian kembali merajuk pada Kris sambil menggoyang-goyangkan lengannya.

“Wǒ bùxiǎng (aku tidak mau)!”

“Kriisss~~~ Qǐng (kumohon)…” Rajuk Lian. Kris pun kembali membuka sabuk pengamannya dan membelikan tiga es krim lagi untuk Lian.

“Ck, susahnya menghadapi orang hamil seperti dia…” Batin Kris saat berada di antrian mini market tersebut.

Kris kembali meletakkan kantung plastic yang berisi es krim itu di pangkuan Lian. “Ada lagi yang mau kau beli, tuan puteri Lian?” Sindir Kris yang kemudian memasang sabuk pengamannya.

Lian menggelengkan kepalanya semangat sambil memakan es krimnya. “Xièxiè (terima kasih), Kris…” Ucap Lian yang memijat pelan lengan kanan Kris yang memegang kemudi. Itu adalah cara berterima kasih Lian pada Kris karena telah membelikan lima es krim untuknya.

Setelah satu jam perjalanan, mereka tiba di kondominium tersebut. Lian pun menelpon Yixing untuk memberitahunya kalau dia sudah tiba.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Lay!” Seruku saat melihat dia dari kejauhan. Kulihat dia langsung berjalan menemuiku. Tersenyum juga pada Kris dan menjabat tangannya.

“Gege ikut juga?” Tanyanya.

“Ne…”

“Kajja kita masuk..” Ajak Lay pada kami.

“Tiān nǎ (astaga)! Lay sudah menyiapkan tempat seperti ini? Luar biasa!” Batinku saat memasukinya. Bagaimana tidak? Luasnya ini  kurang lebih sekitar 330 ㎡. Kondominium ini memiliki lima kamar dan empat kamar mandi. Di dalamnya terdapat beberapa fasilitas yang kurasa dapat menunjang kehidupan seorang Michelle. Di dalam sini terdapat layar sebesar 100 inch dan sebuah projector dengan speakers BOSE,  3 kulkas, 2 set televisi, mesin pencuci piring, oven, mesin cuci, sirkulasi udara yang baik setiap kamarnya, 2 ruang ganti, ruang bermain untuk anak, ruang fitness. Selain memiliki taman yang dapat dipergunakan untuk pesta BBQ,  kondominium ini juga memiliki ruang karaoke yang terletak di basement. Bahkan setiap ruangannya juga memiliki sistem pemanas dan juga camera CCTV dengan sistem pengamanan 24 jam.

“Lay, kau sudah menyiapkan ini?” Tanyaku kaget. Ia mengangguk. “Kamar anak ini juga?” Tanyaku lagi. Dan lagi, ia mengangguk.

Lay kemudian mengajak kami berdua ke taman dari kondominium tersebut. Kulihat Lay menelpon seseorang melalui ponselnya. “Tolong bawakan minuman ke taman belakang..” Ujar Lay. Perusahaan yang berada di bawah tangan Lay rupanya sanggup menunjukkan keberhasilannya. Terbukti dari kondominium ini yang bisa dibeli olehnya.

“Apa yang harus kulakukan dulu, Lian?” Tanya Lay yang terlihat bingung.

“Kenapa tidak kau coba bicara pada kakaknya saja?” Usulku.

“Kakaknya?” Tanya Lay.

“Kakaknya kan di sini..” Aku melirik Kris.

“Shénme (apa)?!!” Lay terlihat kaget. “Michelle adiknya gege?” Tanya Lay lagi.

“Ne..” Jawab Kris singkat.

“Tapi, waktu kalian menikah…”

“Michelle tidak ada?” Lanjut Kris. “Michelle di Hongkong, kuliah..” Jelas Kris.

“Kau mengerti kan sekarang, Lay… Waktu Michelle ke rumah juga tadinya aku kaget.” Ucapku kemudian.

“Jadi kau yang berniat menikahi Michelle?” Tanya Kris sarkatis.

“Ne..”

“Kau yakin bisa melindunginya dan membahagiakannya?”

“Ne…”

“Dengan kekayaanmu ini?” Kris bertanya dengan nada sinis.

“Bagiku, kebahagiaan itu bukan dari kekayaannya. Tapi karena kualitas waktu bersama, menghabiskan waktu bersama dengan orang yang dicintai.”

“Aku tidak yakin kalau Michelle bersamamu bisa merasa aman terlindungi. Kau ini sangat sibuk mengurusi bisnismu, kan? Bagaimana kau bisa melindungi Michelle?” Kris bertanya seolah menginterogasi seorang penjahat. Benar-benar menyebalkan dia!

“Dengan semua fasilitas keamana yang ada. Dan tentunya aku juga akan menelpon Michelle menanyai kabarnya.”

“Over protective sekali kau ini..” Komentar Kris tajam.

“Aku bukan over protective, tapi hal itu menunjukkan rasa sayangku kan? Ya, bisa dikatakan… bentuk perhatian. Seperti gege yang lakukan sekarang kan?” Tanya Lay.”Mengantar, bahkan menemani Lian jalan seperti saat ini…” Lanjut Lay. Kulihat Kris sudah tidak mengeluarkan kalimat pedasnya pada Lay.

“Sudah hampir malam, sebaiknya kita pulang. Terima kasih untuk undangannya ke sini..” Ujar Kris yang kemudian menarik tanganku.

“Hey! K..Kris.. aku belum… Kriss!!” Aku berusaha meronta. Tapi dia tidak menghiraukanku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Kenapa pulang sih?!” Lian memprotes tindakan Kris.

“Tidak baik kau pulang terlalu malam.”

“Tapi aku belum bicara banyak dengan Lay!” Protes Lian lagi.

“Sudahlah… diam!” Ujarnya dengan nada dingin. Kris kemudian melajukan mobilnya membaur dengan kendaraan lain di jalan raya. Tapi kemudian ia memasuki pelataran parkir sebuah restaurant.

“Kenapa ke sini?” Tanya Lian.

“Aku lapar. Kau juga harus makan, kau tidak kasihan dengan bayimu, eoh?” Lian hanya bisa menurut.  Seorang waitress menyambut kedatangan kami di restaurant tersebut.

“Untuk dua orang, saya minta mejanya yang tidak terlalu ramai.” Waitress itu pun menunjukkan tempat untuk mereka berdua. Kris mempersilahkan Lian untuk berjalan di depannya. “Qǐng, qǐng biàn (silahkan, jalan duluan)..”

Mereka berdua pun memesan makanan dan minuman. Sambil mereka menunggu pesanan datang, Kris memainkan ponselnya. Sedangkan Lian duduk, meletakkan dagunya di atas tangannya yang bertumpu pada meja. Sebelah tangannya memegangi perutnya yang terasa sakit di bawah meja.

“Kenapa perutku sakiitt??” Batin Lian yang memejamkan kedua matanya menahan sakit.

“Wèishéme (kenapa)?” Tanya Kris yang mendapati Lian bertingkah aneh. Lian pun membuka kedua matanya. Ia hanya menggeleng pelan.

“Nǐ hái hǎo ma (kau baik-baik saja)?” Tanya Kris lagi.

“Uhm..” Jawab Lian singkat.

“Apa perlu kita ke rumah sakit?” Tanya Kris.

Lian menggelengkan kepalanya. “Méiguānxì (tidak apa).”

“Kalau kau sakit, lebih baik kita periksa ke dokter.”

“Bùshì (tidak)…” Jawab Lian.

“Kris, menurutmu… Lay bagaimana?” Tanya Lian kemudian.

“Kenapa apanya?”

“Jika dengan Michelle.”

“Terserah Michelle-nya yang mau menjalankan hidupnya.”

“Jadi kau setuju?” Tanya Lian antusias.

“Apa aku mengatakan kalau aku setuju?” Balas Kris.

“Tapi Michelle mencintainya, kan?”

“Lalu?”

“Kau bilang terserah Michelle. Michelle pasti akan menikah dengan Lay.”

“Oppaa~!” Tiba-tiba ada seorang wanita yang menginterupsi pembicaraan Lian dan Kris. Wanita itu langsung memeluk Kris bahkan akan menciumnya. Namun, Kris menghindar saat wanita itu akan menciumnya.

“Oppa, wae?? Kenapa kau bisa di sini?” Tanya Min Ah. Wanita itu kemudian melemparkan pandangannya pada Lian.

“Oh.. Aku mengerti sekarang… Oppa mengajak dia ke sini hanya untuk memberitahukannya kan kalau kau mencintaiku. Buktinya saja kau mengajaknya ke restaurant favorite kita..” Lian yang mendengar penuturan Min Ah hanya bisa diam menerima rasa sakitnya di hati.

“Oppa, ayo kita pergi…” Min Ah menarik Kris berdiri.

“Min Ah, aku mau bicara…” Ujar Kris kemudian.

“Kajja, aku juga tidak sabar membicarakan tentang pernikahan kita kelak.” Susah payah Lian menahan air matanya.

Kris pun mengikuti Min Ah. Ia sekarang memang harus benar-benar mengakhiri hubungannya dengan Min Ah.

“Oppa, apa tidak lebih baik kita jalan-jalan saja?” Min Ah merajuk pada Kris.

“Aku tidak bisa.”

“Waee??”

“Kau minta jalan-jalan saja dengan pacar barumu itu.”

“Mwo?!!” Min Ah membulatkan kedua kelopak matanya.

“Jangan kau pikir aku tidak tahu semua aktifitasmu, Min Ah…” Kris tidak lagi memanggil wanita itu dengan nama kesayangannya.

“O..oppa.. aku bisa menjelaskannya..”

“Kau mau menjelaskan apa? Menjelaskan kalau dua hari yang lalu menginap di rumah seorang pria dalam keadaan mabuk dan berciuman? Kau tidak perlu menjelaskannya lagi, Min Ah. Aku sudah mengetahui kelakuanmu itu. Terima kasih karena kau sudah pernah mengisi waktuku. Good bye!” Ujar Kris kemudian yang meninggalkan Min Ah di luar restaurant.

“Oppa! Kalau kau meninggalkanku, aku akan bunuh diri!” Kris menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya menatap Min Ah. Dalam batin gadis itu, ia terlihat puas karena bisa mengubah pikiran Kris.

“Kau mau bunuh diri?” Tanya Kris. Sementara Min Ah hanya terdiam. “Silahkan, aku memperhatikanmu dari sini..” Ujar Kris kemudian dengan kedua tangan bersedekap. Dalam pikiran Kris, tidak mungkin Min Ah, seorang gadis yang penakut akan berani bunuh diri. Pria itu baru menyadari kalau itu hanyalah bentuk gertakan saja. Tak lama ia kemudian melihat Lian yang keluar dari restaurant dengan wajah memerah dan mata yang berair.

“Lian!” Panggil Kris. Tapi anak bungsu dari keluarga Song itu tidak menoleh. “Ck!” Decak Kris kesal. Ia kembali ke dalam restaurant itu membayar semua makanan yang tidak dimakannya, dan keluar restaurant terburu-buru mengejar Lian. Sudah tidak dipikirkannya lagi Min Ah yang berniat bunuh diri.

“Lian!” Kris mengejar istrinya yang mengambil langkah lebar untuk menghindari Kris. Wanita out menyetop sebuah taksi dan membuka pintunya. Brak! Kris memegangi lengan istrinya dan menutup pintu taksi itu.

“Mianhamnida, ahjussi.. Tidak jadi..” Ujar Kris meminta maaf pada supir taksi tersebut.

“Lepaskan aku!!” Lian berusaha melepaskan tangan Kris yang mencengkeramnya.

“Lian, Tīng wǒ shuō (dengarkan aku)!” Ujar Kris.

“Wǒ bùxiǎng (aku tidak mau)! Lagipula apa yang harus dijelaskan? Itu bukan urusanku, aku tidak peduli! Lepaskan aku!” Tangis Lian.

“Lian, jangan buat aku terlihat seperti orang jahat seperti ini…” Kris menyadari banyak pasangan mata yang mengarah mereka berdua.

“Lepaskan aku!!” Lian menghentakkan tangannya dan pergi dari Kris yang saat itu cengkeramannya terlepas. Belum sempat Lian berlari meninggalkan Kris, Kris kembali menariknya, memeluk pinggang istrinya dan mencium bibirnya di tempat umum. Lian saat itu terkejut dengan tindakan Kris ini.

“Bùyào kū (jangan menangis)…” Kris menghapus air mata yang mengalir di pipi Lian dengan ibu jarinya dan mencium keningnya. “Ayo, kita pulang saja dan kita telepon delivery untuk makan malam kita..” Seolah terhipnotis, Lian yang sebelumnya terlihat enggan bersama Kris, kali ini menurut dengan semua ucapan pria itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Tidurlah… Kau ini sering sekali tidur malam…” Ucapan Kris menghentikan lamunanku. Ia kemudian menaiki ranjangnya dan duduk bersandar pada headboard ranjang kami dengan selimut yang menutupi sebatas pinggang.

“Mau kunyalakan lampunya?” Aku menggeleng.

“Lalu kenapa tidak juga tidur?” Aku menggidikkan bahuku. Aku merasa ada sebuah tangan yang melingkar di belakangku dan merengkuh bahu kiriku. Direbahkannya kepalaku pada dadanya yang bidang. “Duìbùqǐ (maafkan aku), Lian…” Ia mengusap kepalaku bahkan ia mencium puncak kepalaku.

“Untuk apa?” Tanyaku.

“Untuk semuanya.” Jawabnya lagi. Ia kemudian mengusap perutku. Ia melepaskan rangkulannya dan mencium perutku. “Meskipun ini bukan anakku, aku akan merawatnya dan menjaganya layaknya anakku sendiri.” Aku juga merasa sedikit merasa bersalah karena sudah membohongi Kris. Aku membohongi Kris mengatakan kalau anak ini adalah anak Christian. Padahal yang dikandungku adalah darah daging Kris.

“Xièxiè (terima kasih)…” Jawabku singkat.

“Ràng wǒmen shuìjiào (mari kita tidur)…” Kris merebahkan tubuhku dan menata bantalnya agar nyaman untukku. Kenapa dia bisa perhatian seperti ini? Entahlah… perlahan aku mulai menjelajahi alam bawah sadarku dan tertidur.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Ne, appa… Aku akan segera ke sana…” Terlihat seorang pria yang sedang menuruni anak tangga gedung kampusnya dengan sebelah tangannya yang membawa tumpukkan buku.

“Iya… Aku tahu hari ini adalah ulang tahun, eomma…” Ujarnya lagi dengan terburu-buru.

“Aku akan membelikan bunga untuk eomma… Tunggulah aku, app..”

BRUK!!

“Aaaww!!!” Baekhyun memekik keras bersama seseorang yang tanpa sengaja bertabrakan dengannya. Semua buku yang dibawa gadis itu berantakan.

“Appa, nanti kutelepon lagi.” Baekhyun memutus sambungan.

“YAA!!! Apa kau buta, eoh?!!!” Baekhyun menuding seseorang yang baru saja menabraknya.

“HEY!! Seharusnya kau yang lihat jalan!! Kau menuruni tangga kan?! Sedangkan aku naik tangga!”

“Apa hubungannya?!” Baekhyun semakin kesal.

“Kau seharusnya melihat arah jalanmu, pabbo!! Lihat ini! Semuanya berantakkan!!!!” Gadis itu menendang tulang kering Baekhyun setelah sudah membereskan buku-bukunya.

“YAAA!!!! Appoo!!! YAA!! Yeoja gilaa!!!!” Baekhyun meneriaki gadis itu yang kemudian berlari.

“Sigh! Rasakan itu! Dasar mata eyeliner!” Gerutu gadis itu yang bernama Arlyna Lee.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Ponsel gadis itu berbunyi saat dirinya sedang menonton tv di ruang tengah rumahnya. “Yeobseo?”

“Chell..” Gadis itu memeriksa layar ponselnya. Nomor Seoul.

“Siapa ini?” Batin Michelle.

“Neo nuguya?” Tanya Michelle.

“Nǐ wàngle wǒ ma (kau melupakanku)?” Michelle terlihat bingung karena orang yang menelponnya ternyata tidak berbahasa Korea.

“Chell, ini aku… Yixing..”

“Shénme (apa)?!” Puteri bungsu keluarga Wu itu langsung menegakkan posisi duduknya.

“How’s your life (bagaimana kabarmu)?”

“Pretty good (cukup baik)..” Jawab Michelle kemudian.

“Kau sibuk hari ini?”

“Bùshì (tidak)…”

“Bisa kita bertemu?” Tanya Yixing.

“Untuk apa?” Michelle sebenarnya kesal dengan Yixing. Karena meskipun mereka berpacaran, tapi nyatanya hubungan mereka menggantung.

“Wǒ…xi…xiǎngniàn nǐ (aku merindukanmu)..” Ujar Yixing terbata-bata.

“Zhēn de ma (benarkah)?”

“Ne.. karena itu… bisakah kita bertemu?” Ujar Yixing lagi.

“Aku tidak bisa kalau sekarang. Mungkin nanti malam bisa.”

“Tadi kau bilang kau tidak sibuk…” Ujar Yixing.

“Ne, tapi aku baru saja melihat jadwalku ternyata aku ada urusan.” Ujar Michelle berkilah.

“Baiklah, kalau begitu…. Nanti malam?” Tanya Yixing.

“Okay..” Jawab Michelle mengakhiri pembicaraan. Gadis itu langsung menelpon Lian melalui ponselnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Haahh… apa yang harus kubeli untuk ulang tahun Michelle besok?” Aku mengetuk-ngetuk meja dengan ujung jariku. Tring! Lampu ponselku menyala. Kulihat ada pesan dari Kris.

 

From : Tiang Listrik

To : You

Nanti jadi kita mencari kado untuk Michelle? Mau dijemput jam berapa?

 

From : You

To : Tiang Listrik

Terserah… Selesai pekerjaanmu saja.

 

From : Tiang Listrik

To : You

Okay, nanti jam satu aku akan menjemputmu. Jangan terlalu banyak melakukan kegiatan di rumah. Istirahat.

From : You

To : Tiang Listrik

Ne…

Saat aku akan kembali ke kamar, ponselku kembali menyala. Kali ini bukan sebuah pesan. Tapi panggilan masuk. Nama yang sudah sangat familiar. Michelle.

“Jiejieeee!!!!!!!” Teriaknya. Aaa!! Ada apa dengan anak ini sampai berteriak seperti ini. Membuatku menjauhkan ponselku dari telingaku.

“Jiejie sedang apa? Dirumah tidak? Aku bisa ke sana tidak?” Tiān nǎ (astaga)! Apa anak ini kerasukan?

“Ka..kau kenapa Chell?” Tanyaku.

“Kyaaaaaa!!!!” Lagi-lagi dia berteriak.

“Michellleee!! Aku bisa tuliiiiii~~~”

“Jiejieeee… Bāng bāng wǒ (tolong aku)!”

“Kau kenapa sih?” Tanyaku heran.

“Aaaaa!!! Yǒurén jiào yīshēng (seseorang panggilkan dokter)!”

“Someone call the doctor!” Ulangku terkekeh mengikuti ucapan Michelle dalam bahasa Inggris. “Tenang saja, Chell… Aku akan menelpon rumah sakit jiwa untukmu. Ahahahaha..”

“Jiejieee~~~ Pokoknya aku mau ke rumahmu!”

“Tidak boleh! Nanti aku tertular gila! Ah iya.. Nanti bayiku juga gila!” Ujarku dengan nada bercanda.

“Jiejieeee~~~ Wait me, there!” Aku hanya menggelengkan kepalaku sambil mengusap perutku yang sudah membuncit. Haah.. Michelle mau ke rumah.. berarti… jam berapa aku nanti pergi? Sudahlah, lebih baik aku menelpon Kris.

Nada sambung pun terdengar. Tak lama suara beratnya menyapaku. “Ya?”

“Michelle mau ke rumah…” Ujarku langsung.

“Really?”

“Iya.. Entahlah.. dia tiba-tiba histeris saat menelponku, dan dia bilang mau ke rumah..”

“Aish~ Anak itu…”

“Jadi kita bagaimana? Apa mau malam saja?” Tanyaku.

“Jangan! Kau tidak boleh keluar malam!”

“Lalu kapan??”

“Kau bilang padanya kalau kau tidak bisa lama-lama..”

“Aku tidak enak hati…” Ujarku.

“Kenapa kau tidak enak hati? Dia adikmu kan?”

“Tapi….tetap saja kan…”

“Ya sudah, nanti aku saja yang bicara. Aku akan pulang lebih awal.”

“Ta..tapi pekerjaanmu?”

“Baik-baik saja. Orang yang dari perusahaan Papa bisa diandalkan untuk proyek ini.”

“Papa?” Tanyaku.

“Kau tidak tahu kalau aku dan Papa sedang mengerjakan proyek?”

“Bùshì (tidak)..”

“Sudahlah, kujelaskan juga kau tidak akan mengerti. Sepertinya kau keberatan perutmu itu.”

“Kriisss!!” Aku mengerucutkan bibirku. Ya, walaupun aku tahu kalau dia tidak bisa melihatku sih…

“Sudah dulu, aku sedang mempelajari berkas untuk aku tanda tangani. Setelah itu aku langsung pulang.”

“Kris… belikan aku sesuatu…”

“What’s that?” Tanyanya.

“Ayam goreng..”

“Ck, bisakah kau tidak memakan makanan fastfood?” Tanyanya.

“Pleasee….” Ujarku lirih.

“Chicken isn’t my style. So, I will not buy it for you!”

“Kriss~~” Rajukku.

“Yang lain saja, Lian…”

“Tidak mau! Huh! Kalau kau tidak mau membelikan, aku juga bisa beli dari delivery order dari rumah!” Aku langsung mematikan ponselku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Lian membuka pintu rumahnya dan dilihatnya seorang Michelle yang langsung menghambur ke pelukannya.

“Aaaa…” Lian sedikit memundurkan tubuhnya agar tidak mengenai kandungannya.

“Jiejieee… dia… diaaa… Kyaaaa~~~”

“Masuk dulu, baru kau cerita…” Ujar Lian.

Setelah memberikan minum dan duduk dengan nyaman di sofa, Michelle baru menceritakannya.

“Yixing menelponku, jie… Dia minta bertemu..”

“Lalu, kau kenapa kau tidak bertemu dengannya?”

“Aku masih kesal karena dia menggantung hubungan kita!”

“Lalu kau tidak mau bertemu dengannya?”

Michelle menggelengkan kepalanya. “Aku akan bertemu dengannya kok…”

“Zhēn de ma (benarkah)? Shénme shíhou (kapan)?” Tanyaku lagi.

“Nanti malam…”

“Waaa!! Itu bagus!” Ucap Lian antusias.

“Wait, Lay bilang mau melamar Michelle tepat saat ulang tahunnya, tapi kenapa ini sehari sebelum ulang tahunnya?” Batin Lian.

“Jiejie… Why?” Lian menggelengkan kepalanya.

Lama mereka mengobrol, Kris pun pulang. Lian membukakan pintu setelah mendengar suara mobil yang terparkir di pelataran parkir yang bisa memuat empat mobil tersebut.

“Michelle sudah datang?” Tanyanya.

“Sudah.. di dalam..” Ujar Lian yang membawakan tas laptop milik Kris dan juga jas yang sudah dibuka pria itu. Pria itu berjalan sambil membuka dasinya dan melepaskan satu kancing kemejanya.

“Oh, kau di sini?” Ujar Kris.

“Gege tumben sekali pulang siang…”

“Ne… Kau sudah lama?”

“Lumayan…” Jawab Michelle.

“Dalam rangka apa kau kemari?” Tanya Kris.

“Urusan wanita!” Ujar Michelle.

“Oh… Sebenarnya sebentar lagi kita mau pergi.. Kau bagaimana?” Tanya Kris.

“Kalian mau kemana?” Tanya Michelle.

“Mau jalan-jalan berdua…”

“Chell, aku tinggal dulu tidak apa kan?” Tanya Lian. “Aku mau siap-siap… lagi pula kan ada Kris..” Ujar Lian lagi.

“Tapi sepertinya aku langsung pulang saja deh.. aku kan juga harus bersiap-siap untuk nanti malam.”

“Nanti malam memangnya ada apa?” Tanya Kris.

“Yixing mengajakku bertemu..”Ujar Michelle.

“Yixing? Oh… Akhirnya kau dihubungi dia ya… Dia menghubungimu tiba-tiba apa kau tidak curiga?”

“Maksud gege?”

“Bisa saja dia menghubungimu minta bertemu tapi ternyata ingin memutuskan hubungan?” Seketika itu juga, Lian memukul bahu Kris dari belakang. “Aww!! Apa yang kau lakukan?”

“Kalau kau mau bicara, pikirkan dulu perasaan orang!” Ujar Lian. Michelle terlihat murung. Padahal sebelumnya ia sangat ceria.

“Benar juga, kata gege…” Batin Michelle.

“Michelle, tidak usah didengar ucapannya Kris… Kau harus tampil cantik malam ini..”

“Jiejie, aku pulang ya… gege, aku pulang..” Ujar Michelle lesu.

“Lihat kau sekarang? Tsk! Bisa-bisanya kau seperti itu pada adikmu sendiri! Huh! Aku tidak mau pergi denganmu!” Brakk!! Lian membanting pintu kamar. Kris hanya menghela nafasnya dan menyesali ucapannya pada adiknya. Padahal sebenarnya ia ingin mengerjai adiknya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Dengan malas-malasan Michelle bersiap karena Yixing menjemputnya. Gadis itu terlihat enggan untuk menuruni anak tangganya dan menemui Yixing yang sudah menunggu di bawah ditemani oleh kedua orang tua Michelle. Namun akhirnya gadis yang hanya dengan menggunakan baju lengan panjang berwarna hitam dengan luaran berwarna putih dan dikombinasi dengan celana jeans, Michelle menuruni tiap anak tangga. Di bahunya terdapat tas berwarna cokelat yang menggantung.

Sesuai dengan penampilan Michelle, Yixing juga tanpa sengaja memakai pakaian bertemakan casual. Hanya dengan t-shirt berwarna putih dengan jaket berwarna hitam dengan celana jeans, pria itu menemui Michelle. Setelah berpamitan dengan kedua orang tua Michelle, mereka pun pergi.

“Kita kemana?” Tanya Michelle.

“Nanti saja kau lihat.” Michelle hanya menurut.

Yixing yang malam itu menjemput Michelle dengan supirnya, hanya terlihat melihat layar ponselnya sementara Michelle hanya melihat kearah luar jendela mobilnya. Ternyata mobil itu mengantar mereka ke daerah Sungai Han.

Sungai Han atau yang kerap disebut dengan Hangang river adalah sungai yang mengalir melewati Seoul dan bergabung dengan sungai Imjin hingga akhirnya bermuara ke Laut Kuning. Di sepanjang sungai Han ini terdapat bermacam-macam café yang menjadi tempat muda mudi di Korea. Mereka mengunjungi café yang paling populer-Seonyu Café-yang berada di dekat jembatan Yanghwa. Café ini terletak di sisi barat jembatan dengan menu ala western dan oriental.

Bersantai di Seonyu Café mereka mencicipi masakan-masakan barat dan melihat dari kejauhan beberapa landmark kota seperti taman Seonyudo, jembatan Seonsan dan beberapa panorama lain. Dari titik ini juga mereka bisa sambil melihat National Assembly Building, jembatan Dangsan Cheolgyo dan kawasan Yeouido.

Tidak puas berjalan-jalan di satu tempat, Yixing kembali mengajak Michelle untuk menghabiskan malam dengan singgah di Outlook Cafe Gureum yang letaknya cukup tinggi hingga mereka berdua dapat melihat jembatan Banpo dan Hangang dari sudut ini. Dari Outlook Cafe Gureum kita bisa sambil melihat pertunjukan air mancur pelangi yang dihelat di jembatan Banpo.  Namun, satu hal yang membuat Michelle heran adalah tidak adanya pengunjung dalam café ini. Café ini sangatlah ternama. Hal yang mustahil bagi café ini untuk kekurangan pengunjung.

“Gege, apa café ini tutup? Kok tidak ada orang?” Tanya Michelle.

“Café ini buka. Kalau café ini tutup tidak mungkin ada pekerjanya, bukan?” Ujar Yixing.

“Aku ke toilet dulu, ya..” Ujar Yixing. Michelle hanya mengangguk menikmati minumannya.

Saat Michelle menikmati minumannya, tiba-tiba kedua mata gadis itu dikejutkan oleh pertunjukan air mancur yang berwarna-warni dari jembatan Banpo tersebut. “Sekarang kan bulan Maret. Bukannya pertunjukkan ini bulan April hingga Oktober?” Batin Michelle. Tak hanya itu, terdapat banyak balon yang diterbangkan dari bawah. Melihat banyak balon yang terbang, Michelle mendekati jendela café tersebut dan melihat ke bawah meskipun tidak jelas.

“Apa malam ini ada acara ya?” Gumam Michelle.

“Aku tidak tahu, kau suka dengan semua ini atau tidak..” Suara itu mengagetkan gadis itu hingga ia menoleh.

“Maksud gege?”

“Kau suka tidak?” Tanya Yixing.

“Suka, itu indah..” Ujar Michelle yang kembali melihat pada air mancur warna-warni itu.

Yixing yang berdiri di samping gadis itu kemudian meraih tangan Michelle dan menautkan kelima jarinya pada Michelle.

“Gege, wèishéme (kenapa)?” Tanya Michelle.

“Duìbùqǐ (maafkan aku)…” Ucap Yixing. Saat itu juga Michelle teringat dengan ucapan Kris yang mengatakan kalau Yixing akan mengakhiri hubungan mereka.

“Hey, kenapa kau menangis?” Tanya Yixing bingung, mengusap air mata gadis itu.

“Hiks… Kalau gege mau kita selesai, aku akan menerimanya..” Isaknya.

“Aku tahu, selama ini aku memang tidak layak untuk gege. Masih banyak wanita lain di luar sana yang lebih baik dari aku.” Ucap Michelle di sela tangisannya.

“Yaaahh… Memang aku ingin mengakhiri ini semuanya…. Aku lelah…” Ujar Yixing yang masih menggenggam sebelah tangan Michelle. Sebelah tangannya, masuk ke dalam saku celananya dan merogoh sesuatu dari dalam sakunya.

“Aku ingin mengakhiri masa pacaran kita….” Michelle hanya menangis dan menundukkan kepalanya.

Tlek! Sebuah kotak berwarna merah terbuka di depan gadis itu. “Aku mau kita memasuki masa berkeluarga. Aku ingin kau menjadi pendamping hidupku selamanya hingga akhir hayatku. Aku ingin kau menjadi seorang ibu dari anak-anakku kelak. Will you marry me, Michelle Wu?”

“Aku tidak meminta jawabanmu dari tangisan, Chell..” Yixing menghapus air mata gadis itu.

“Gege… kau yang sudah membuatku seperti ini..” Rajuk Michelle.

“Duìbùqǐ (maafkan aku)…” Ujar Yixing lagi.

“Kenapa tidak dipasangkan? Gege niat tidak sih?”

Yixing hanya tertawa kecil sambil memasangkan cincin itu melihat tingkah Michelle yang dari dulu tidak berubah.

“Wǒ huì bǎohù nǐ wǒ de lìliàng (aku akan melindungimu dengan kekuatanku)… Wǒ de àirén (sayangku)..” Batin Yixing yang kemudian memeluk Michelle dan mencium keningnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Pesta pertunangan Yixing dan Michelle pun dilakukan dua hari kemudian dengan mengundang banyak kolega dan rekan bisnis kedua orang tua mereka dan juga teman-teman mereka sendiri.

“Hyaaa~~~ Eonni! Haah~~ Kenapa kau tidak sekalian menikah sajaa?? Kenapa harus ada pesta pertunangan?” Ujar Arlyna. Arlyna Lee adalah adik kelas Michelle saat masih SMA. Namun, hingga kini mereka masih menjalin komunikasi dengan baik.

“Menikah? Kami akan segera menikah. Tapi mungkin tahun depan..”

“Wae??” Tanya Arlyna.

“Karena Yixing gege harus ke Indonesia…”

“Untuk apa?” Tanya Arlyna lagi.

“Untuk perjalanan bisnisnya…”

“Lalu kau hubungan jarak jauh? Huwwaaa!! Berapa lama?”

“Yaaaa sekitar lima bulan..” Ucap Michelle.

“Micheeellleee~~~” Lian yang saat itu datang, menghampiri gadis yang menggunakan dress berwarna biru itu.

“Jiejie? Kris gege mana?”

“Di depan sama Daddy..”

“Eonni, dia siapa?” Tanya Arlyna.

“Dia kakak iparku..” Ujar Michelle.

“Annyeonghaseyo…” Sapa Arlyna.

“Ah, annyeong…” Sapa Lian balik.

“Oh, jiejie.. ini adik kelasku…” Ujar Michelle memperkenalkan Arlyna.

“Arlyna Lee imnida…” Arlyna mengulurkan tangannya.

“Lian Wu imnida…” Balas Lian.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Saat sedang menikmati hidangan yang ada, aku meminta pada Kris untuk bergabung bersama Michelle dan juga temannya Arlyna. Tapi ternyata, Kris malah mau ikut denganku. Alasannya karena di sana juga ada Yixing juga Baekhyun. Sejak kapan dia jadi dekat dengan mereka berdua?

“Kris, itu Baekhyun di sana… Kau temani saja dia..”

“Apa aku salah menemani istriku sendiri?” Oh Tuhan! Ucapannya…. Well, aku cukup merona karena ucapannya. Beruntung dia tidak melihatnya karena aku memalingkan wajahku.

Kami pun bergabung. Tapi ternyata Baekhyun menelponku. “Noona, kau dimana?”

“Aku sedang bersama Michelle dan Lay… Oh, temannya Michelle juga…”

“Kalau begitu, aku ke sana ya..”

“Ya sudah, cepat ke sini..”

“Who?” Tanya Kris padaku.

“Baekhyun..” Ujarku yang kemudian menyimpan ponselku dalam tas kecilku. Tak lama, Baekhyun pun menghampiriku.

“Noona, kau tiba-tiba menghilang sihh..”

“Siapa yang menghilang? Kau saja yang sibuk dengan makanan…” Cibirku.

“AAAA!!!!!! YEOJA GILAAA!!!!” Teriak Baekhyun. Aku sontak kaget mendengarnya hingga aku terhentak.

“IGE MWOYA?!!!” Arlyna tak kalah kagetnya. Oh Tuhan! Apa mereka berdua ini sangat hobi berteriak?!!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Sudah…sudah… Kau tidak baik marah terus…” Michelle menasehati Arlyna yang selalu memunggungi Baekhyun.

“Iya… Nanti lama-lama kau bisa jatuh cinta loh dengannya…”

“Tidak akan!” Ucapnya.

Di saat yang sama, Baekhyun yang terlihat kesal pun juga memunggungi Arlyna.

“Haaahh~~ Kau ini sangat seperti anak kecil…” Ujar Yixing.

“Kau tahu, hyung? Kakiku ini masih sakit sampai sekarang! Mungkin tulangku retak karena yeoja gila itu!”

“Jangan berlebihan… Kalau tulangmu retak, mana mungkin kau bisa sampai sini..” Ujar Kris datar.

“Aku setuju dengan gege..” Ujar Yixing.

“Ish! Kalian ini!”

“Huwaaaa!!” Lian terdorong seseorang hingga dirinya tanpa sengaja menabrak Arlyna yang punggungnya juga menabrak Baekhyun.

“Lian! Kau tidak apa-apa?” Kris langsung menarik lengan istrinya.

“I’m okay..”

“Tsk! Kau ini punya mata tidak sih?!!!” Baekhyun berbalik dan mengatakan kata-kata tajam pada Arlyna.

“Yaakk!! Aku juga tidak sengaja, pabbo! Kau pikir aku mau bertabrakan padamu untuk kedua kalinya?!! Sangat MENJIJIKAN tahu!” Ujar Arlyna menekankan pada kata ‘menjijikan’ pada Baekhyun.

“Apa kau bilang?!! Kau…!!!”

“SHUT UP!!!” Kris berteriak pada kedua orang itu. Beruntung mereka semua berada di belakang hingga tidak ada tamu yang terganggu akibat teriakan Kris.

“Sudahlah, lebih baik kalian menikah saja sana!” Ujar Yixing dan Michelle bersamaan.

“SHIREO!!” Jawab Baekhyun dan Arlyna bersamaan.

Sambil mengusap perutnya, Lian bergumam. “Anakku, jangan kau tiru mereka berdua ini yaa…”

THE END

[Drabble] Family…

Gambar

 

Title           : My Family…

Author       : Fadila Setsuji Hirazawa

Genre         : Family

Length        : Drabble

Cast            : Luhan (EXO-M) & f(x)

Note           : disini semua member f(x) usianya saya buat lebih muda daripada Luhan. Hanya untuk kebutuhan cerita saja. Karena itu, mohon pengertiannya untuk semua readers >..<

~Happy Reading~

.

.

.

“AKU SUDAH TIDAK TAHAN!!!” Lanjutkan membaca [Drabble] Family…