Semua tulisan dari Wang Seu Liie Strife

Happy End Life

Judul : Happy End Life

Author : Seu Liie Strife

Main Cast: Kris Wu (EXO-M)
Jung Shiera/Shiera Wu (OC)

Supporting Cast: Park Chanyeol (EXO-K)
Rie Hanaki (OC)
Kim Jongdae/Chen (EXO-M)
Song Ye Eun (OC)

Genre : Married Life, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
ff8
Tok! Tok! Tok!

“Hey, kau tidak sekolah? Cepat bangun!” Pagi ini aku dikejutkan oleh suara ketukan pintu kamarku.

Tok! Tok! Tok!

“Shieraaa!!” Lanjutkan membaca Happy End Life

Behind The Growl Forest

Judul : Behind The Growl Forest

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Kris Wu (EXO-M)
Lee Airin (OC)
Park Chanyeol (EXO-K)
Jung Jenny (OC)

Supporting Cast : ℠ƩΧ◊’s Members

Genre : Fantasy, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Annyeong, aku Lee Airin mahasiswi dari jurusan biologi universitas bergengsi di Seoul. Hari ini, songsaenim benar – benar membuat seisi kelas frustasi karena tugasnya.

“Yaah! Jangan memasang wajah seperti itu..” Seorang gadis di sebelahku mengibaskan tangannya di hadapanku. Dia Jung Jenny. Sahabatku sejak pertama kali masuk ke universitas ini. Dan kami memang tanpa sengaja berada di jurusan yang sama. Tapi untuk soal kelas, kami mengisi jadwal kelas selalu bersamaan. Lanjutkan membaca Behind The Growl Forest

Ordinary Girl become EXtraOrdinary Girl

Judul : Ordinary Girl become EXtraOrdinary Girl

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Wu Yi Fan / Kevin Li / Kris Wu / Kevin Wu (EXO-M)
Kim Ta Rin (OC)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ta Rinn!! Sebenarnya apa maumu eoh? Eomma sudah capek bicara padamu! Melanjutkan kuliah tidak mau, bekerja juga tidak mau! Apa kau mau eomma nikahkan saja, eoh?! Kau tahu kan eomma single parents. Eomma juga perlu dibantu!” Wanita paruh baya itu mengomeli anak semata wayangnya, Kim Ta Rin. Lanjutkan membaca Ordinary Girl become EXtraOrdinary Girl

My Lady_Sequel of My Cool Beauty

Judul : My Lady

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Park Chanyeol / Chanyeol (EXO-K)
Lee Sae Ri (OC)

Supporting Cast : Im Seul Ong (2AM)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Yeobo~ Yeobo~” Lelaki itu berusaha membangunkan gadis yang tengah tertidur di hadapannya. Tangannya terus mengusap kening pemilik dari rambut indah tersebut.

Sebuah kecupan ringan mendarat di kening gadis itu. Tidak kunjung membuka matanya, kini lelaki itu beralih pada bibir gadis itu. Diciumnya berkali – kali bibir merah gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hhng? Apa sih ini? Kok aku seperti dicium berkali – kali? Nugu?” Aku perlahan membuka kelopak mataku.

“Hyaaaaaaa!!!!!!!!! Neoo!!! Apa yang kau lakukan di kamarku?!!!!!!” Ch…Cha…Chanyeol kenapa di sini?!!!! Oh Tuhan!!! Pakaianku…lengkap.. Tu..tubuhku juga tidak sakit dan tidak ada kiss mark! Harusnya tidak terjadi apa – apa.

“Kenapa kau kaget melihatku, yeobo? Aku ini calon suamimu.”

“Kenapa kau bisa masuk?! Appaaa!!! Eommmaaaaa!!!”

“Percuma deh…mereka semua ada di Netherland dengan appa dan eommaku juga.”

“Mwoyaaa?!!!!” Aku langsung terlonjak dan duduk tiba – tiba.

“Netherland? Untuk apa?” Lanjutku.

“Urusan bisnis mereka.” Jawabnya.

“Oh, aku lupa! Skripsimu sudah sampai mana?”

“Bab akhir.”

“Kenapa lama sekali? Aku saja sudah dapat persetujuan dosen pembimbingku.”

“Issshh~~~ Kau kan manajemen! Kalau aku kan kimia..banyak percobaannya juga!”

“Kau mau mengulur pernikahan kita?”

“Apaan sih?! Tidak ada hubungannya!”

Haisshh!! Tiga bulan lagi kami akan lulus. Dan itu berarti, pernikahan kami akan segera dilangsungkan! Eottohkeee~~ Aku tidak menyadari kalau hubunganku dengan si mata besar ini sudah berjalan tiga tahun. Ya, tepat tiga tahun! Karena entah kenapa kami sama – sama mengejar angka 21 sebagai target angka usia kita untuk menikah. Dan umurku ini sudah hampir menginjak angka 21. Begitu juga dengan si mata besar itu.

“Hey, kenapa melamun? Ayo kuantar ke tempat dosenmu itu.” Dibandingkan appa dan eomma, Chanyeol lebih mendorongku untuk segera menyelesaikan skripsiku. Haish! Kenapa dia?!

“Uhhmm.. Aku masih ngantuk~” Rajukku yang kembali membaringkan tubuhku.

“Ri-yyaaa~ Ppalii!” Dia menarik tanganku.

“Sebentar lagi, Yeol..” Gumamku.

“Tidak ada kata sebentar sebentar! Kajja~” Dia kembali menarik tanganku.

“Uuhhmm..aku malass~~”

“Sae Riii~~”

“Mwoga?”

“Haish anak inii~ Apa kau tidak mau menikah denganku?”

“Shireo~” Jawabku menelusupkan wajahku di bantal.

“Mwo?! Apa artinya cincin di jarimu, euhm?”

“Sebagai perhiasan…”

“Yeoboo~! Cepat bangun atau aku menyerangmu!” Aku membalikkan tubuhku dan melihat dia melipat kedua tangannya ke depan dan bersandar di depan lemari bajuku.

“Kau mau pilih yang mana? Kuserang detik ini juga?”

“Hyaaaaa!!! Anniii…annii!!! Ne, aku bangun!” Aku langsung melompat dari tempat tidurku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chakkaman!” Lelaki itu menghalangi pintu dengan tangannya.

“Waee??”

“Ini daftar kegiatanmu dari eomma mu.” Chanyeol memberikan gulungan kertas pada Sae Ri.

Srett!

“Hyaaaa!!! Kenapa panjang sekali, Yeol??”

“Mana kutahu..eommonim hanya menitipkan itu padaku.”

“Fitting baju, salon, pilih kue, meninjau gedung, pilih tema dekorasi gedung, aaaa!!! Masih banyak yang lainnya!”

“I..ini tidak seharian kan, Yeol?” Tanya gadis itu.

“Sepertinya ini daftar sampai mereka berempat pulang.”

“Syukurlah…” Sae Ri pun menghela napas lega.

“Cha! Aku bersiap – siap dulu. Kau tunggu aku ya!” Ujar gadis itu yang kemudian dengan sengaja menginjak kaki Chanyeol dan berjinjit untuk mencium pipi lelaki itu.

“Aa! Yeoboo!!” Chanyeol memegang pipinya dan kakinya sekaligus.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kyaaaaa!! Aku takuuuuttt!!!” Teriakku di dalam mobil saat Chanyeol mengantarku.

“Takut kenapa?”

“Takut skripsiku tidak diterima…” Jawabku lesu.

“Pasti diterima kok. Mana ada dosen yang mau tidak meluluskan mahasiswanya…”

“Jeongmal? Geundae….”

“Apa lagi?”

“Anni eopseo….” Jawabku.

“Semangatlah!” Ujarnya mencubit pipi kiriku.

“Aawwhh! Yeolie kau selalu mencubitku..”

“Mau sampai kapan kau tidak memanggilku ‘oppa’?” Tanyanya.

“Kau tidak pantas dipanggil ‘oppa’. Kalau laki – laki yang pantas dipanggil ‘oppa’ tuh yang keren, berkarisma, mata tajam, dan…”

“Baiklah. Sesukamu..” Potongnya.

“Uuhhmm..kau marah?” Aku meraih lengannya dan memeluknya manja.

“Anni.”

“Bohong…kau marah… Iya kaann~~” Ucapku lagi menunjukkan jurus aegyo ku sambil menunjuk – nunjuk pipinya.

“Anni..aku sedang menyetir, Ri…jangan menggangguku…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mianhae~” Ucap Sae Ri dengan aegyonya. Tapi tidak ada jawaban dari Chanyeol.

“Biasanya selalu ampuh kalau aku ber aegyo.” Batin gadis itu.

“Oppa mianhae~” Ulang Sae Ri yang masih dengan aegyonya. Chanyeol pun hanya menatap lurus ke jalanan di depannya.

“Oppaa~~” Sae Ri mengoyang – goyangkan tangan Chanyeol.

“Ri..kau tidak dengar aku tadi?”

“Uugh!” Gadis itu merengut kesal. Tapi kemudian wajahnya terlihat riang.

“Oppa~”

Chu~ Gadis itu mencium pipi kanan Chanyeol. Sontak Chanyeol langsung menghentikan laju mobilnya dan memarkirkannya di tepi jalan.

“Kenapa berhenti?” Tanyanya.

“Apa yang kau lakukan tadi?” Tanya Chanyeol.

“Minta maaf..hehehe..” Gadis itu menunjukkan deret giginya yang tersusun rapi.

Perlahan rasa kesal Chanyeol memudar, tergantikan senyuman di bibirnya yang dibalas senyuman juga oleh gadis itu.

“Ada buku atau sesuatu yang lebar?” Tanya Chanyeol.

“Ini?” Sae Ri menunjukkan map di tangannya.

“Ya, itu cukup.” Ujar Chanyeol yang menarik wajah Sae Ri, mencium bibirnya. Dan detik itu juga tangan sebelahnya, menutupi wajah mereka berdua dengan map yang dipegang Sae Ri sebelumnya.

“Permintaan maaf diterima.” Ujar Chanyeol lagi yang kemudian mengecup bibir wanita yang ia cintai dan beralih ke keningnya. Lelaki itu kembali menjalankan mobilnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sudah selesai?” Tanya Chanyeol saat aku kembali masuk ke mobilnya.

“Uhm…sepertinya aku akan maju lebih dulu, oppa…”

“Bagus kan?” Ujarnya kemudian yang melempar majalah bisnisnya ke belakang.

“Apanya yang baguss?? Aku deg – deg aaann!!” Teriakku.

“Hhm..lebih deg – deg an mana, denganku atau dengan dosen pengujimu nantinya?” Dia mendekatkan wajahnya padaku. Dan kupastikan, jika aku bergerak sedikit saja, bibirnya mengenai bibirku! Kyaaa!!

“Kyaaa!! Oppa!!” Aku mendorong wajahnya.

“Sudah siang, kajja kita makan.”

“Ne…”

“Tapi nanti ke kantor appa sebentar ya…??”

“Mau apa?”

“Appa tadi menelponku dan menyuruhku memeriksa divisi HRD.”

“Jeongmal?”

“Ne..haish! Malas sekali..”

“Tidak boleh malas..” Ujarku.

“Kalau ada kau, aku tidak malas, yeobo..” Ujarnya mencium punggung tanganku.

“Oppa, tempat makannya aku yang menentukan ya..” Pintaku.

“Ne..” Jawabnya yang mulai melajukan mobilnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yeobo…ini…what kind of restaurant is it?” Tanya Chanyeol.

“Makanan Indonesia.” Jawab Sae Ri terkekeh.

“Dari mana kau tahu tempat ini?”

“Apa kau hidup di zaman batu, eoh? Dari internet dong, oppa..”

Mereka berdua pun masuk ke dalam restaurant itu. Nuansa khas Indonesia terasa kental di sana. Ada pajangan yang berbentuk wayang, ornamen – ornamen candi, kain – kain adat dari tiap daerah di Indonesia, dan masih banyak lainnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nasi dengan rawon satu..lalu..oppa, kau pesan apa?” Tanya Sae Ri pada Chanyeol.

“Molla~ Aku tidak tahu.” Jawabnya.

“Kalau begitu…soto. Soto betawinya satu.”

“What?” Chanyeol terlihat meminta penjelasan gadis yang duduk di hadapannya.

“Minumnya…hhm…orange juice. Oppa apa?” Tanya Sae Ri lagi.

“Hhmm sama saja.” Jawab Chanyeol.

“Berarti orange juicenya dua. Oh! Satu lagi..gado – gadonya satu ya.” Ujar Sae Ri.

“Yeobo, apa yang kau pesankan untukku?” Tanya Chanyeol setelah pelayan pergi.

“Kau pasti akan suka deh, oppa!” Ujar Sae Ri.

“Oh ya, aku juga pesan gado – gado. Nanti kita makan berdua ya, oppa.”

“Apa itu gado – gado?”

“Semacam salads tapi bukan dengan mayonnaise. Tapi dengan bumbu kacang.”

“Bumbu kacang?” Ulang Chanyeol.

“Uhm! Nanti kau coba deh. Aku yakin kau tidak menyesal masuk sini..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Woah! Mashittaaa!” Ujar lelaki di depanku ini.

“Enak kan!” Sahutku saat dia memakan soto betawinya.

“Tapi sepertinya aku jangan terlalu sering makan ini. Bisa – bisa kolesterolku naik, yeobo..”

“Hahaha, kali ini saja, oppa. Mau coba punyaku?”

“Itu yang kau sebut ra…ra…” Dia terlihat mengingat nama makanannya.

“Rawon.” Sambungku menyuapinya makananku.

“Nah! Itu dia yang kumaksud!”

“Enak juga, yeobo..” Ujarnya kemudian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selesai makan, kami langsung menuju kantor calon mertuaku. Chanyeol harus memeriksa semua pekerjaan menggantikan ayahnya. Tidak sekali pun ia melepaskan tanganku dari genggamannya.

“Mau ke ruanganku, yeobo?” Tanyanya.

“Ruanganmu?”

“Ne…aku akan berada di sana setelah wisuda nanti.”

“Boleh…” Aku menyetujuinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hari sudah semakin mendekati malam. Kami bergegas menuju butik untuk gaun pengantinku dan jas yang akan dipakai Chanyeol. Butik itu tetap terbuka 24 jam untuk kami karena butik itu adalah butik langganan eomma dan eommanya Chanyeol.

“Chanyeol oppa!” Kami sama – sama menoleh ke sumber suara saat kami akan memasuki mobil. Seorang wanita? Tsk! Apa hubungannya dengan Chanyeol? Dan…’Oppa’?!! Dia memanggil Chanyeol dengan sebutan ‘oppa’?!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ne..neo…”

Gadis itu langsung memeluk Chanyeol tanpa menyadari Sae Ri yang berdiri di sampingnya.

“Kau lupa padaku?? Yaa! Aku teman SD dan SMP mu! Masa kau tidak mengenaliku? Bahkan kau juga pernah..”

“Ye..Yejin?” Potong Chanyeol.

Wajah Sae Ri langsung berubah sedikit kesal dengan kehadiran wanita itu di hadapannya.

“Oh Tuhan! Kau tidak berubah, oppa!” Kedua tangan gadis itu membingkai wajah Chanyeol.

“Oh, nan jeongmal bogoshipo…” Ujar gadis itu lagi.

Chanyeol langsung melepaskan pelukan gadis itu dari tubuhnya, “Oh ya, Yejin, ini Sae Ri..calon istriku. Yeobo, ini Yejin..temanku waktu di Melbourne.”

“Teman? Yaa! Kau itu…” Sebelum Yejin melanjutkan kata – katanya Chanyeol menatapnya agar gadis itu tutup mulut.

“Arraseo…annyeong…Kim Yejin imnida…”

“Lee Sae Ri imnida…” Jawab Sae Ri.

“Oppa, berapa nomor ponselmu sekarang?” Gadis itu langsung menempel pada bahu kiri Chanyeol dan terlihat melepaskan genggaman Chanyeol pada Sae Ri. Tanpa banyak bicara, Sae Ri pun masuk ke mobil Chanyeol.

“Eottohkee oppa..aku banyak yang mau aku ceritakan padamu…”

“Geundae, aku harus fitting baju dengan Sae Ri. Next time ya!”

“Yaaa~~ Tapi…”

“Okay, bye!” Ujar Chanyeol yang langsung masuk ke mobilnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yeobo~”

“Euhm?”

“Kau marah denganku?”

“Annio.” Jawabku singkat.

“By the way, kau akrab sekali dengan Yejin-ssi. Siapa dia?”

“Temanku..”

“Teman seakrab itu? Hhmm…9 tahun bersamanya..cukup lama sih..”

“Are you jealous with her?”

“Jealous? Anni.” Jawabku ketus.

“Oh c’mon! Kau lebih lama bersamaku.”

“Hanya 6 tahun kau bilang lama?”

“Kita sudah bersama sejak masih bayi, yeobo…”

“Itu tidak terhitung! Kita sama – sama belum bisa berpikir.”

“Jadi, intinya kau ingin bertanya apa hubungan Yejin denganku?” Tanyanya.

“Aku tidak mengatakannya.” Jawabku.

“Tapi itu yang tersirat dari ekspresi wajahmu, yeobo.”

“Menyetirlah dan lihat ke depan. Jangan lihat aku!” Ujarku.

“Kau mau aku jujur soal Yejin?” Aku tidak mau menanggapinya dan memilih menatap luar jendela.

“Well…dia mantan kekasihku.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sungguh! Pernyataan Chanyeol membuatku bagaikan tertusuk belati tepat di jantungku. Mantan kekasih dia bilang? Dan dengan entengnya dia mengatakan hal itu? Pantas saja gadis tadi memeluk Chanyeol dan terlihat ingin menggangguku dan Chanyeol.

“Turunkan aku di sini.”

“Mwo? Kita harus ke butik, yeobo.”

“Lain kali saja. Aku mau belajar di rumah. Untuk persiapan sidang.”

“Geundae…”

“Turunkan aku!”

“Ba..baiklah…kita pulang sekarang. Aku telepon ahjumma dulu.”

“Tidak perlu! Turunkan aku, atau aku melompat!”

“Yeobo….kau…”

“Aku mau pergi lagi mencari buku.”

“Ya sudah, aku antar..”

“Annio! Aku bisa pakai taksi.” Jawabku.

“Yeobo…geundae..”

“Turunkaaaann!!!!” Aku berteriak dan membuatnya memarkirkan mobilnya di pinggir jalan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ternyata benar ya mitos itu…kalau pasangan mau menikah, pasti ada saja halangannya untuk menguji masing – masing insan. Ugh! Seandainya saja aku tidak mengenal siapa itu Kim Yejin, aku tidak akan kesal seperti ini.

‘Yeobo, keluarlah…aku sudah di depan rumah. Kita harus membuat undangan pernikahan kita.’ Aku membaca pesan singkat dari Chanyeol. Tapi aku tidak mau membalasnya. Huh! Tak lama kemudian, ia menelponku. Huuhh! Kesaaall!! Aku kesal dengannya!!!

‘Yeobo, kalau kau tidak keluar, jangan salahkan aku kalau ada kejadian di luar prediksimu.’ Dia kembali mengirimku pesan. Apa yang akan ia lakukan? Paling hanya berteriak – teriak memanggil namaku. Hish!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tidak ada lagi bunyi sms atau pun telepon dari Chanyeol. Aku kemudian memutuskan untuk membaca ulang skripsiku. Tapi konsentrasiku kembali terpecah karena suara petikan gitar. Petikan gitar? Aku bahkan tidak memiliki gitar. Aku menajamkan pendengaranku dari dalam kamar. Tapi kenapa suara petikan gitar itu kian lama mendekat? Anni. Kini berhenti seperti di…ruang tengah?

“Naega nungama gidohan I sungani. Geudae eiin mameul anajulke choenchonehi. Oneuli hanbeonui chance na naedidneun
cheot geoluem.” Suara ini…

“Yaksok halke jalhalgeoyah. Gidaemankeum na yeokshi hangbokhage.”

“Uri dul manui kkum geu cheot geoleum. Nae nuni wae iri nubushyeo hage dwae. Shimjangi wa iri michin deut ddwige hae. Sum gabba ojima naegen neomu sojunghae itjima. Maen coeum ni kkum, ni mal, geu numulboda jinhan. Ddo cheongukui nektaboda dalkomhaetdeon. Yes, you are my baby baby baby, baby baby
baby.” Ini suara Chanyeol?

“Yaksokhae na meomchuji anheulke.Geudaeman bomyeo.” Tunggu! Apa aku tidak salah dengar?

“Nae nuni wae iri nunbsyeo hage hae. Shimjangi wae iri michin deut ddwigehae. Sum gabbao jiman naegen neomu sojunghae itjima.”

“Neomu babo gatdaneun geol nado jal ala
Neo bakke morege dwin ireon naega natseoleo. Jigeum naedidneun cheot geoleumeul. Ddara girl, please come closer. Naui cheongukin geudaeman barabol su itge.” I…in…ini…

“Yakshokae geudaedo naman bomyeo
Naman saranghae.” Ini benar – benar suara Chanyeol.

“Yeobo saranghaeee~~!!” A..aigoo!! Tidak salah lagi ini dia! Tapi bagaimana ia masuk? Memang aku tidak mengunci pintu. Tapi kan aku menggembok pagarnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ckrek! Gadis itu membuka pintu kamarnya. Ia melihat sosok yang tidak asing lagi di matanya. Sosok yang ia cintainya sekaligus sedang membuatnya kesal hingga detik ini.

“Yaaa!!! Kenapa kau di sini?! Bagaimana kau masuk?!” Teriak gadis itu.

“Melompati pagar dan untuk minta maaf padamu.”

“Aku tidak suka dengan semua hal yang berbau romantis!” Ujar Sae Ri ketus.

“Jinja? Tapi kau menerima semua bunga yang kukirimkan secara misterius saat kita SMA. Ingat?” Tanggap Chanyeol.

“Emosiku masih labil!” Balas Sae Ri.

“Fine.. Tapi kau selalu tersenyum saat aku membangunkanmu dengan ciuman beberapa hari yang lalu. Kurasa itu hal yang berbau romantis. Atau… emosimu masih labil, eoh?” Kali ini ucapan Chanyeol mematahkan semua argumen Sae Ri.

“Sana pulang!” Usir Sae Ri.

“Tidak bisa…pintunya kan masih terkunci…”

“Keluar dengan cara yang sama saat kau masuk.”

“Bagaimana kalau aku dihabisi massa karena mengira aku pencuri?”

“Itu salahmu.”

“Ayolah, yeobo…kita harus memesan undangan pernikahan pernikahan kita.”

“Shireo! Menikah saja kau dengan Yejin!” Gadis itu masuk ke kamarnya dan berusaha menutup pintu kamarnya. Tapi pintu itu tidak kunjung tertutup. Berkali – kali ia mencobanya seperti terganjal sesuatu.

“Ukh!” Lelaki itu berusaha menahannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ommo!!” Pekikku saat melihat apa yang mengganjal di pintu kamarku. Chanyeol menahan pintu kamarku dengan telapak kakinya!!

“Kyaaa!! Apa yang kau lakukan, oppa?!!” Aku kembali membuka pintu kamarku. Aku bersimpuh di kakinya dan memeriksa kakinya. Sedikit berdarah dan memerah. Aku kemudian memapahnya ke ruang makan dan mendudukkannya di kursi itu. Kotak P3K aku keluarkan semua isinya untuk mencari obat antiseptik.

“Ini dia!” Seruku. Ah! Kapas! Mana kapas?! Chakkaman! Perban! Obat luka! Manaa siihh??
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Neo micheoso, eoh?!!” Seru Sae Ri saat mengobati Chanyeol, bersimpuh di bawahnya.

“Wae?” Tanya Chanyeol.

“Lihat akibat perbuatanmu ini!”

“Rasa sakit ini tidak seberapa dibandingkan sesaknya aku tidak bisa menemuimu.”

“Sigh! Sejak kapan dia pandai menggombal?” Batin Sae Ri.

“I didn’t love Yejin anymore.” Ujar Chanyeol kemudian.

“Yeobo~” Rajuknya.

“Diam!” Ujar Sae Ri.

Tapi kemudian, lelaki itu membungkuk dan mengangkat wajah Sae Ri dengan jemarinya yang panjang, “Kau mendengar ucapanku tadi, nyonya Park?” Tanyanya yang membuat wajah gadis itu sedikit merona ketika dipanggil dengan nama keluarganya Chanyeol.

Gadis itu menyingkirkan tangan Chanyeol dan kembali dengan gulungan perban untuk kaki Chanyeol.

“Sudah. Pulang sana!” Ujar Sae Ri.

“Aku tidak mau pulang. Kita masih banyak kegiatan, yeobo..”

“Apa yang harus kulakukan agar kau memaafkan aku?” Tanya Chanyeol lagi dengan helaan napasnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hmpft! Aku ingin tertawa terbahak – bahak saat ini. Bukan karena aku gila. Tapi karena ekspresi wajah Chanyeol yang seperti anak kecil yang frustasi ketika ibunya tidak membelikan mainan.

“Yeobo~” Dia menggoyang – goyangkan tanganku.

“Kisseu.”

“Mwo?” Tanyanya heran.

“Waee?? Tidak mau? Ya sudah.” Aku melepaskan tangannya.

“Aaa~ Annii.. Annii..” Ujarnya yang kembali menarik tanganku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ka…kalau dia memintanya tiba – tiba seperti ini kan…canggung juga…” Batin Chanyeol.

“Oh, ayolah Chanyeol! Kau sudah sering menciumnya.” Batin lelaki itu lagi. Ia kemudian mulai mendekatkan wajahnya. Kini hanya tinggal beberapa senti lagi jarak wajahnya dengan gadis yang memejamkan matanya itu.

“Sigh! Aku tidak bisa.” Ujar Chanyeol.

“Mwoo!! Tuh kan kau masih mencintai Yejin!!” Sae Ri menghentakkan kakinya dan meninggalkan Chanyeol.

“Mwo? Annioo…kau memintanya tiba – tiba kan…aku malu juga, yeoboo~~”

“Arrgh! Sudahlah! Kau mencintai Yejin. Pernikahan ini untuk kalian!” Sae Ri berusaha meninggalkan Chanyeol dan melepas tangannya. Tapi kemudian, Chanyeol menarik gadis itu ke dalam pelukannya dan mencium bibirnya lembut dan mengakhiri dengan kecupan ringan di permukaan bibir gadis itu dan juga di keningnya.

“Permintaan maafku diterima?” Tanya Chanyeol. Gadis itu memilih tidak menjawab. Tapi ia memeluknya erat, membenamkan wajahnya pada dada lelaki itu.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku maunya seperti ini…” Ujarku menunjuk model undangan.

“Anniya. Itu terlalu berlebihan, yeobo.”

“Apanya berlebihan. Ini keren menurutku.”

“Keren menurutmu, belum tentu iya denganku.” Jawabnya.

“Hey, undangan seperti ini belum ada yang memakainya!” Jawabku.

“Kalau sudah ada contohnya berarti pernah dipakai seseorang, yeobo..”

“Oh Tuhan!! Kau sudah berapa kali menolak sih oppa?! Pokoknya aku mau ini!”

“Aku menolak karena semua contoh undangan yang kau tunjuk itu berlebihan hiasannya!” Kami bertengkar seolah tidak mempedulikan wedding organizer kami.

“Yaa! Kalau model siluet seperti ini masih jarang, oppa! Pokoknya aku mau iniii!! Aku siluet pink, dan kau hitam!”

“Tsk! Bagaimana caranya ada dua warna siluet dalam satu undangan? Kau ini ada – ada saja, yeobo!”

“Sigh! Kau menyebalkan, oppa!” Aku langsung keluar meninggalkannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Haish! Apa – apaan anak ini? Ternyata sifat egoisnya lebih parah dari yang kukira.” Batin Chanyeol.

“Baiklah, aku pilih yang itu saja. Yang dipilihkan calon istriku. Buat 500 undangan.” Ujar Chanyeol yang kemudian menyerahkan uang muka untuk undangan yang dipilih Sae Ri dan meninggalkan tempat itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Huuh!! Apa – apaan dia?! Egois sekali! Hanya karena masalah undangan sajaaa!! Grrr!!

“Yeobo!” Cih! Dia datang. Ukkh!! Menyebalkan!

“Yeoboo! Chakkamanyeo!” Dia menahan tanganku.

“Apa lagi?” Tanyaku malas.

“Kau mau kemana?”

“Pulang.” Jawabku singkat.

“Fitting bajunya?”

“Malas!” Jawabku ketus sambil melipat kedua tanganku di depan.

“Aku sudah memesannya. Undangan yang kau mau.”

“Jeongmal?” Aku sedikit menarik kedua sudut bibirku membentuk senyuman.

“Ne…”

“Gomawo, oppa~” Ujarku melompat memeluknya.

“Mana hadiah untukku?”

“Mwoga?” Tanyaku. Dia kemudian menunjuk bibirnya.

“Asshh shireoo!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jadi nanti aku maunya gaunnya seperti ini looh..” Aku menggambar desain gaun pengantinku.

“Yeobo…menurutku ini terlalu terbuka..di sininya..aku tidak rela!” Dia menunjukkan dadanya.

“Mwo? Jeongmal?”

“Ne…naikkan satu senti atau dua senti..”

“Ne, baiklah…” Okay kali ini aku ikut mengalah. Hhhmm~~

Saat aku sedang diukur, kulihat Chanyeol tampak sedang menelpon seseorang. Tapi dia menjauh dariku dan bahkan sedikit berbisik bicaranya. Dengan Yejin kah? Sigh!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Please, jangan hubungi aku lagi, Yejin-ah.” Ujar Chanyeol yang sedikit menjauh dari Sae Ri demi menjaga perasaannya.

“Tapi aku rindu denganmu, oppa…”

“Dengar Yejin-ah, aku akan segera menikah. Dan tolong kau lupakan masa lalu kita.”

“Geundae…”

“Carilah pria lain di sana selain aku.”

“Kau bahkan belum memutuskan hubungan kita.”

“Tapi kau sudah memutuskannya sepihak, Yejin-ah!”

“Itu…itu karena..”

“Hhh..okay, aku tidak peduli alasanmu lagi. Tapi yang jelas, aku sudah memiliki wanita yang kucintai. Jangan usik aku lagi.” Ujar Chanyeol.

“Tapi, aku masih mencintaimu, oppa….”

“Cintailah laki – laki lain yang lebih pantas dariku.” Jawab Chanyeol tegas.

“Tidak ada yang lebih pantas selainmu, oppa..”

“Mianhae, aku masih harus fitting jas untuk pernikahanku.” Ujar Chanyeol memutuskan sambungan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ada yang aneh dengannya…apa jangan – jangan dia mendengar percakapanku dengan Yejin?” Batin Chanyeol saat mengantar Sae Ri pulang.

“Yeobo…” Panggil Chanyeol.

“Uhm?”

“Kenapa wajahmu seperti itu?”

“Anni..gwaenchana.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ting! Tong! Ting! Tong!

Aarrghh!! Siapa sih mengganggu istirahatku saja?! Kulihat Chanyeol yang berada di ruang tengah langsung beranjak dari sofanya. Ya, dia lebih sering di rumahku dari pada rumanya di seberang jalan sana. Sesekali ia keluar melihat keadaan rumahnya dari halaman rumahku.

“Sae Ri mana?” Kok suaranya seperti ku kenal ya? Ah! Masa bodoh! Kan sudah ada Chanyeol yang di depan.

Tapi kemudian, kudengar ribut – ribut di depan. Suara Chanyeol yang seperti mencegah sesuatu? Atau seseorang?

“Sae Riii~~!! Yaa!!! Sae Rii!!!” Mwo?! I..ini kan… Kuputuskan untuk keluar.

“Mwoyaa?!!! Oppaaa!!! Seulong oppaaa!!!” Aku melompat dan memeluknya erat. Bahkan ia kini mengangkat tubuhku.

Seulong oppa ini anak dari teman dekatnya appa selain ayahnya Chanyeol. Tapi, dia sudah kuanggap seperti kakakku sendiri. Aku kan anak tunggal, jadi…dari pada aku tidak punya kakak atau adik, lebih baik aku menganggap Seulong oppa ini sebagai kakakku.

“Ehem!” Suara dehaman Chanyeol membuatku turun dari gendongan Seulong oppa.

“Oppaaa~~ bogoshipoo~~ kapan kau datang dari New York?”

“Baru kemarin…hahaha…aah~ nado bogoshipo Saelong.”

“Yaa! Kenapa Saelong?! Aku Sae Ri!” Protesku.

“Bagiku, kau adalah Saelong ku. Tidak akan berubaaah~~”

“Oh ya, oppa..ini Chanyeol, calon suami aku. Dan oppa, ini Seulong oppa.” Aku saling memperkenalkan mereka berdua.

“Ooohh~~ Arraseo! Aku ingat sekarang! Chanyeol ini kan yang waktu it…yaaa!! Sae! Appo yaaa!!” Pekiknya saat aku menginjak kakinya.

“Kajja, kita masuk..” Aku menarik tangan Seulong oppa masuk.

“Sepertinya kau lelah sekali, oppa. Mau minum apa? Sini jaketnya kugantung.” Aku terlihat gembira saat mood maker ku datang. Ya, walau pun Chanyeol juga sih. Tapi kali ini aku kembali kesal dengannya! Huh!

“Ck! Kau ini sok perhatian sekali. Mana ahjumma dan ahjussi?”

“Ke Netherland…aku ditinggal…huwweee~~” Rajukku.

“Kau nakal sih!”

“Iiih, oppa! Aku kan bukan anak kecil lagi!”

“Yeobo, aku bisa pulang sebentar kan?” Tiba – tiba Chanyeol menginterupsi perbincanganku dengan Seulong oppa.

“Ne, oppa…” Jawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tsk! Apa – apaan dia?! Kenapa dia mengatakan ‘ne’ dengan mudahnya? Dasar anak ini! Siapa juga laki – laki ini? Atau lebih tepatnya, ahjussi?” Batin Chanyeol yang memperhatikan Seulong.

“Oppa? Katanya mau pulang?” Tanya Sae Ri.

“Oh, ne. Aku pulang dulu.” Ujar Chanyeol.

“Hati – hati yaa~” Ucap Sae Ri.

“Tsk!”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hhm..sepertinya dia tidak suka dengan kehadiranku di sini..” Seulong oppa berujar sambil menyandarkan punggungnya di sofa.

“Kkk..biarkan saja. Kau lihat? Dia kesal denganmu, oppa!” Ujarku terkekeh.

“Hhh~~ Tidak kuduga dia kembali menghampirimu setelah 9 tahun lamanya kalian terpisah. So dramatic!” Kekehnya.

“Hhh~~~” Aku hanya menghela napas.

“Hey, lebih baik ambil minuman untukku dari pada kau terus menghela napas.”

“Sigh! Ne..ne…kau mau apa?”

“Kau punya Kosta Browne?”

“Apa itu?” Tanyaku.

“Tsk! Itu wine terbaik dari California.”

“Yaaa!! Ini bukan club malam! Lagi pula, kebiasaan minummu itu buruk, oppa!”

“Hahaha..baiklah…baiklah…aku menuruti honey ku ini..kalau begitu air putih saja.”

“Aku bukan honey mu!”

“Ossh God! Kau terlihat lebih kejam saat ini. Ekspresimu sudah kembalikah? Pasti karena Chanyeol!” Aku pun kembali ke sofa untuk memberikan segelas air ini.

“Opppaaa~~!!” Aku menghempaskan tubuhku di samping Seulong oppa dengan bersandar padanya.

“Apa yang ia lakukan padamu?” Tanyanya setelah minum dan melingkarkan lengannya di bahuku.

“Menciummu? Atau kau mendapat lebih darinya, euhm?” Ujarnya yang seperti terdengar bisikkan.

“Nyaaa!! Kau ini!! Kau menyebalkan oppa!”

“Oh, okay..aku mengerti sekarang! Dia menciummu. Am I right?”

“Oppaaa!!” Entah sudah seperti apa rona merah di wajahku ini.

“Kenapa kau mau menikah tidak bilang padaku? Aku tahu dari ahjussi. Dan aku kecewa karena bukan kau langsung yang memberitahuku.”

“Uuhmm…mianhae, oppa…” Ujarku manja padanya. Aku memeluknya dan menelusupkan wajahku pada dadanya sementara ia masih merangkulku.

“Hey, by the way, kau pernah seperti ini dengan Chanyeol?”

Aku mengangkat wajahku saat dia mengusap kepalaku, “Mwo?? Annii..”

“Waee??”

“Aku maluuu~~”

“Tapi kau tidak malu denganku. Kau lupa kalau kita tidak ada hubungan darah? Aku, sama dengan Chanyeol.”

“Annii~~ Kau kakakku!” Ucapku manja sambil memeluknya.

“Yaa~ Kau tidak enak dipeluk! Sana, awas!” Dia berusaha melepaskan pelukanku.

“Shireoo~~ Lagi pula, kau tidak mau dipeluk oleh gadis imut dan lucu ini? Cantik juga!”

“Huh! Kau memang cantik. Imut dan lucu. Tapi sayangnya dadamu tidak besar! Hahaha.”

“Yaaa~~!! Kau habis minum alkohol, eoh?!” Aku mendorong wajahnya.

“Hey, bagaimana kalau Chanyeol melihat ini? Dia akan membunuhku!”

“Tidak..tidak akan. Lagi pula, biarkan saja. Aku juga kesal dengannya!” Tukasku.

“Kenapa lagi? Dulu kau sampai tidak ada ekspresi di wajah karena dia tidak ada. Sekarang dia ada di sampingmu, bahkan kalian akan menikah, kau kesal dengannya.”

“Dia selingkuuh!”

“Mwoya? Kau juga selingkuh denganku. Impas kan?”

“Jadi kau statusnya selingkuhanku, oppa?”

“Mungkin. Cha! Kenapa kau bilang dia selingkuh? Wae?”

“Yejin. Kim Yejin, mantannya Chanyeol datang lagi dan seperti ingin mengambil Chanyeol.”

“Aaah~~ Kau cemburu! Kau sungguh menggemaskan, Sae!” Dia mencubit hidungku.

“Annii~ Aku tidak cemburu! Aku kesal dengannya! Dengan Chanyeol yang masih saja meladeninya! Kau tahu, saat kami fitting baju pengantin, Yejin menelponnya. Dan Chanyeol, dia menjauhiku dan berbisik – bisik menelpon Yejin!” Jelasku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Haish! Lebih baik aku segera kembali ke rumah Sae Ri. Aku tidak tenang meninggalkannya dengan ahjussi itu!” Batin Chanyeol. Ia pun melangkahkan kakinya ke rumah gadis pujaannya.

“Iya…menyebalkan sekali kan! Aku kesal oppaaaaa!!!”

“Yeobo….” Chanyeol tidak percaya dengan apa yang ia lihat. Gadis yang akan menjadi istrinya tengah memeluk laki – laki lain, bersandar padanya bahkan bertingkah manja. Gadis itu bahkan tidak mengubah posisinya sama sekali saat Chanyeol datang. Ia masih tetap memeluk lelaki dengan postur tinggi itu.

“Wae?” Tanya Sae Ri.

“I need to talk!” Chanyeol langsung menarik gadis itu.

“Kyaa~ Appoo!!” Chanyeol membawanya ke halaman belakang rumah gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Apa yang kau lakukan?! Kau calon istriku, Ri-yya!”

“Lalu?” Tanyaku.

“Kenapa kau memeluknya? Siapa dia?”

“Dia kan anaknya ahjussi Im! Kau lupa, eoh?”

“I’ve already known that! Geundae…kau memeluknya dan bertingkah manja dengannya? Sebenarnya kau akan menikah denganku atau dengannya?”

“Kau juga begitu dengan Yejin!” Ujarku.

“Mwo? Aku dan Yejin sudah berakhir. Aigoo~ Kenapa kau seperti ini, eoh?”

“Apanya yang ‘seperti ini’?! Aku memang aku! Kenapa? Kau tidak suka, eoh?”

“Aigoo, yeoboo…dinginkan kepalamu. Jangan egois seperti ini.”

“Egois kau bilang? Yaa! Kau yang egois! Kau bisa seenaknya saja menelpon gadis lain di belakangku sementara kita sudah mau menikah! Dan kau…kau melarangku untuk berteman dengan lelaki lain!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Teman? Kau bilang teman? Teman semesra itu? Berpelukan, bertingkah manja, kau sebut itu teman?” Ujar Chanyeol yang terlihat kesal.

“Eoh? Apa mereka bertengkar?” Batin Seulong yang menoleh ke belakang.

“Yaaa!! Kenapa memang kalau aku manja – manja pada Seulong oppa?! See? Kau juga tidak percaya padaku kan, oppa! Kau pikir aku percaya kalau kau dan Yejin sudah tidak ada hubungan?!” Nada bicara Sae Ri meninggi.

“Hhh~!! Give up! So, what do you want now, eoh?” Chanyeol memijat pelipisnya.

“GET OUT FROM HERE NOW!!!” Teriak Sae Ri.

“Ommo!! Waeee??” Seulong tersedak saat mendengar teriakkan Sae Ri di belakang.

“Fine. Dan aku tidak akan menemuimu sebelum kau bisa menenangkan pikiranmu, yeobo.” Ujar Chanyeol yang langsung meninggalkan Sae Ri di belakang.

“Waee?? Kenapa mereka berdua?” Seulong hanya melihat Chanyeol yang melewatinya begitu saja. Lelaki itu segera ke belakang untuk memastikan Sae Ri.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Lututku melemas. Aku sudah tidak bisa berpikir lagi saat kata – kata itu keluar dari mulut calon suamiku sendiri. Aku pun jatuh terduduk di belakang. Menundukkan kepalaku seiring jatuhnya air mataku.

“Hiks…hiks…hiks…pabbo ya~”

“Ommo! Sae! Waee??” Seulong oppa membantuku berdiri.

“Huhuhu..oppa~” Aku memeluknya menangis di bahunya.

“Gwaenchana…cerita pelan – pelan padaku.” Ucapnya mengusap punggungku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Apa yang kau lakukan, Yeol! Tidak seharusnya kau berkata dengan nada tinggi padanya.” Batin Chanyeol di kamarnya. Lelaki itu hanya membaringkan diri menatap langit – langit kamarnya yang terletak di lantai dua.

“Jeongmal pabboyaaa!!!” Lelaki itu melempar bantal yang di dekatnya ke sembarang arah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Dia jahat…hiks…dia jahat padaku, oppa…hiks..hiks..” Aku bercerita sambil memeluk Seulong oppa.

“Wae? Kenapa kau bisa mengatakan hal itu?”

“Dia egois…hiks..hiks…dia boleh berhubungan dengan Yejin tapi dia melarangku berhubungan denganmu…hiks..hiks…”

“Chakkaman. Dari mana kau tahu dia masih berhubungan dengan Yejin?”

“Aku melihat recent callsnya di ponsel dia. Banyak sekali panggilan masuk dari Yejin itu dan hampir setiap hari!” Aku melonggarkan pelukanku pada Seulong oppa.

“Kau tahu isi pembicaraan mereka?” Pelukanku dengan oppa kulepas. Aku pun menggelengkan kepalaku menanggapi pertanyaannya.

“Lalu kenapa kau bilang dia egois?” Tanyanya lagi.

“Begini ya, Sae..bukannya aku membela Chanyeol. Emosinya memuncak mungkin karena dia melihatmu memelukku dan bermanja – manja padaku yang statusnya bukan keluargamu. Kau ini calon istrinya. Menurut pandangannya, bagaimana bisa wanita yang ia cintai bermesraan dengan lelaki lain. Mungkin saja ia menerima telepon dari Yejin untuk mengatakannya dengan tegas pada gadis itu kalau hubungannya denganmu sudah sangat serius. Kau tidak boleh men-judge Chanyeol seperti itu, Sae..”

“Geundae…”

“Sudah..aku tidak mau melihatmu menangis.” Ucapnya menghapus air mataku.

“Aku akan bicara dengannya.” Lanjutnya.

“Oppa…mianhae…” Ujarku.

“Gwaenchana…” Dia tersenyum mengusap kepalaku.

“By the way, kapan kau wisuda?”

“Bulan depan.”

“Baiklah, persiapkan dirimu untuk skripsi. Aku akan ke rumahnya.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ting! Tong!

“Nugu? Sae Ri? Ah! Tidak mungkin.” Batin Chanyeol. Perlahan lelaki itu menuruni anak tangga dan membuka pintu.

“Oh, wae?” Tanya Chanyeol.

“Sepertinya masalah ini harus kuluruskan.” Ujar Seulong.

“Masuk.” Jawab Chanyeol dingin.

“Gamsahamnida..”

“Duduklah, hyung.”

“Entah kau ingat denganku atau tidak…yang jelas ketiga orang tua kita berteman baik. Orang tuamu, orang tua Sae, dan orang tuaku. Aku dan Sae tidak ada hubungan apa – apa. Kau jangan salah paham. Aku…menjadi sandaran Sae saat kau meninggalkannya 9 tahun. Selama itu pula, dia seperti patung berjalan, kurasa. Dia tidak pernah cerita padaku penyebabnya. Tanpa ekspresi sama sekali. Tidak pernah menangis, tidak pernah tertawa, tidak pernah kesal. Aku senang ketika kau datang, raut wajahnya kembali. Terlebih lagi mendengar kalian akan menikah dari Lee ahjussi. Sangat disayangkan kalau kalian bertengkar hebat hanya karena Yejin atau aku. Kurangilah rasa egois kalian masing – masing. Kalian akan menikah… Dan itu sangat sakral, Yeol. Dalam hubungan itu yang terpenting adalah kepercayaan.” Jelas Seulong.

“Tapi dia tidak pernah mempercayaiku, hyung. Selalu curiga denganku dan Yejin.”

“Itu karena dia takut kehilanganmu lagi, Yeol. Dia sangat mencintaimu.” Ujar Seulong lagi.

“So, what should I supposed to do?” Tanya Chanyeol.

“Berbuatlah lebih agresif lagi dengannya. Untuk awal pernikahanmu.”

“Mwoyaa?!!!” Chanyeol terlihat kaget.

“Kemari..” Seulong tampak membisikkan sesuatu pada Chanyeol.

“Mwwooooo?!!!!!” Chanyeol terlihat mematung.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa bulan kemudian. Chanyeol dan Sae Ri diresmikan untuk menjadi seorang alumni. Mereka berdua di wisuda di hari yang sama, jam yang sama dan di gedung yang sama. Hanya saja, deret kursi mereka yang berbeda.

Selesai wisuda, Chanyeol dan Sae Ri tampak mencari kedua orang tua masing – masing.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Haissh~! Eomma dan appa dimana sih?!” Rutukku sambil menghubungi mereka.

“Ri-yya! Sae!!” Aku menoleh. Ternyata eomma dan appa! Aigoo! Ada Seulong oppa juga! Dan…bukankah itu orang tua Chanyeol? Mereka semua memberikan bunga untukku.

“Aigoo!! Menantuku ini…”

“Eommonim, aku masih belum resmi menjadi menantumu..” Jawabku.

“Chanyeol tidak bersamamu, sayang?” Tanya eomma. Aku menggeleng mantap.

“Tsk! Kemana anak itu?!” Kini tuan Park berbicara.

“Chakkaman. Aku cari dulu ya..” Ucapku.

“Aku temani. Kajja.” Sahut Seulong oppa.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Isshh~~ Kemana sih dia??” Gumam Sae Ri.

“Dia tidak ada di sini, Sae…”

“Oppa, bagaimana kalau kita berpencar?”

“Nanti kau sendirian…”

“Gwaenchana…tenang saja. Ponsel dan uang ada di tas ini…” Gadis itu menunjukkan tas tangannya.

“Hhaha dasar! Ya sudah. Aku cari sebelah sini.” Ujar Seulong.

Mereka pun berpencar. Sae Ri langsung mencari Chanyeol diantara teman – temannya, “Permisi, kau lihat Chanyeol?” Tanyanya.

“Oh…di sebelah sana, dengan yang lainnya.” Tunjuknya pada segerombolan pria.

“Ish! Dasar! Kita cari – cari ternyata di sinii…” Gerutu Sae Ri.

Sae Ri pun setengah berlari menujunya, “Op…pa…” Panggilannya melemah saat melihat seseorang menghampiri lelaki itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Huhuhuhu…dasar!! Menyebalkan!! Saat – saat seperti ini dia juga…hiks…hiks..hiks..”

“Apa sih maunya dia?!!!” Aku berlari berlawanan arah.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Eeh?? Kenapa dia?? Kenapa berlari keluar?” Seulong melihat Sae Ri yang keluar sambil menangis.

“Sae!! Sae Ri!! Yaa!!” Seulong berusaha memanggil Sae Ri yang berlari.

“Sae Ri!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tidak kuhiraukan panggilan masuk dari Seulong oppa. Aku terus mengabaikannya saat aku di dalam taksi menuju rumah.

“Oppa mianhae…” Batinku.

“Kau memang menyebalkan, Chanyeeooll!!!”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yeol!” Seru Seulong.

“Apa yang kau lakukan di sini?!” Tanyanya lelaki yang lahir tahun 1986 itu.

“H..hyung…”

Seulong melihat wanita yang di samping Chanyeol yang masih menautkan tangannya di lengan Chanyeol.

“Oohh..astaga! Ada apa dengan kalian berdua?! Sae Ri pergi sambil menangis!” Seulong terlihat frustasi.

“Jinja?!” Chanyeol langsung pergi begitu saja.

“Oppa!” Teriak Yejin yang tidak dihiraukan Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hiks…hiks..menyebalkan! Dia menyebalkan!! Hiks..hiks…” Gadis itu menangis di kamarnya. Menelungkupkan tubuhnya sambil memeluk bantalnya yang kini sudah basah karena air matanya.

“Hiks…hiks..hiks…jahat!! Aku tidak mau lagi mengenalnya…hiks..hiks…”

“Ri-yya…ada Chanyeol di bawah…” Ibunya memanggilnya dari depan pintu kamarnya.

“Ri-yya…”

“Usir saja, eomma..hiks..hiks…”

“Kenapa bicara seperti itu? Chanyeol ingin menemuimu…”

“Aku tidak mau ketemu! Hiks..hiks..hiks..”

Ibu dari gadis itu pun menemui Chanyeol, “Mianhae, Yeol-ah..sepertinya Sae Ri kelelahan. Dia mau istirahat.”

“Ne, gwaenchana ahjumma…”

“Eommonim.” Ralat wanita paruh baya itu.

“Ah, ne…eommonim…” Ujar Chanyeol tersenyum.

“Kalau begitu, aku pulang dulu…eommonim…” Lanjut Chanyeol.

“Ne….hati – hati…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Eomma masuk ya, sayang…”

“Ne, eomma…” Ujarku dengan suara parau.

Eomma kini duduk di tepi ranjangku, mengusap kepalaku, “Ada apa denganmu Chanyeol?” Tanyanya. Aku memilih tidak menjawab dan memalingkan wajahku dari eomma.

“Ri-yya..kau bertengkar dengannya?” Aku masih diam membisu.

“Memang, di setiap pasangan yang mau menikah, pasti selalu bertengkar…entah kenapa itu biasanya terjadi pada mayoritas pasangan. Kalian berdua harus saling mengalah…”

“Kalau aku mengalah untuk wanita lain, tidak apa – apa, eomma?” Tanyaku.

“Maksudmu?”

“Mantannya Chanyeol datang lagi menemui Chanyeol, eomma…” Lirihku.

“Nugu?”

“Yejin itu, eomma… Chanyeol sendiri yang mengatakan padaku kalau Yejin itu mantan kekasihnya. Dan kini ia datang padanya lagi seolah meminta Chanyeol kembali padanya.”

“Sayang, masa lalu kan sudah lewat. Yang harus kau pikirkan itu masa depan. Apa yang akan kalian berdua lakukan saat ini, akan menentukan masa depan kalian. Jangan melihat ke belakang. Lihatlah ke depan, sayang…” Ujar eomma yang masih mengusap kepalaku.

“Eomma sangat ingin….melihat anak tunggal eomma ini menikah…kau ingat kan, umur appa dan eomma tidak lagi muda. Kami sudah berusia 50 an. Apa kau tidak mau membahagiakan kami, Ri-yya?”

“Eomma~~” Aku bangkit memeluknya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Di waktu yang bersamaan, Seulong kembali menemui Chanyeol. Kedua lelaki ini yang memiliki tinggi tubuh nyaris sama, terlibat percakapan serius.

“Masuk, hyung..”

“Tidak perlu.”

“Mwo? Wae?”

“Aku ke sini hanya untuk memperingatkanmu. Kalau kau terus membuat Sae menangis, aku tidak akan segan – segan lagi mengambilnya darimu!” Seulong menunjuk wajah Chanyeol dengan menahan emosinya.

“Aku juga mencintainya. Dan aku bisa merebutnya dengan mudah darimu, karena Sae sangat dekat denganku. Camkan itu!” Seulong menepuk bahu Chanyeol dan kemudian meninggalkannya begitu saja.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Malam hari yang dingin ini aku tidak bisa tidur. Aku berjalan menuju balkon lantai dua. Dari sini aku kembali teringat dengan Chanyeol yang sering berteriak ‘saranghae’ dari balkon kamarnya. Dari balkon ini juga, aku dapat melihat balkon kamarnya. Ah! Kamarnya masih menyala. Kalau mau jujur, aku merindukannya.

Siapa yang bisa kuajak ngobrol malam ini? Seulong oppa? Pasti dia juga sudah tidur pulas di apartmentnya. Samar – samar kudengar ada alunan piano diiringi suara lelaki bernyanyi. Malam – malam seperti ini, suasana hening, sunyi, menambah nuansa sedih dari dentingan piano ini.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“On my way back home. I’m slowly breaking down, just can’t help it. Never once been better off without you. And I, I need you more than ever. Wanted to stay with you forever and ever. Oh, what am I gonna do?” Chanyeol memainkan piano di kamarnya sambil bernyanyi.

“My tears are falling down. And why did we come out today? I’ve come to find one thing and I’m sure that you were my girl just yesterday, but now you’re miles apart.” Suara lelaki itu terdengar sangat sedih bagi gadis yang tengah mendengarnya dari balkon rumahnya. Sae Ri.

“I’m running out of time. Cause soon I gotta find the ways of living without you, I’m losing my sight of path we walked through together.”

“And baby tell me how. Does it have to be right now? You’re all that I’ve got, all I need, so I’m willing to say a thousand words put together, I love you…”

“Now you’re gone far away, you’re so far away from my heart…And I’m so afraid to lose you, baby. Cause I, I need you more than ever, wanted to stay with you forever and ever.”

“Oh what do I have to do? Our world had spun around. But why did we just stop today?”

“It’s hard for me to say, cause I’m sure. That you were my girl just yesterday, but now we’re miles apart.” Suaranya kini berubah serak karena air matanya yang ikut mengalir bersama nyanyiannya.

“I’m running out of time. Cause soon I gotta find the ways of living without you, I’m losing my sight of path we walked through together.”

“And baby tell me how. Does it have to be right now? You’re all that I’ve got, all I need
So I’m willing to say a thousand words put together, I love you.” Dentingan pianonya, membuat Sae Ri juga ikut meneteskan air matanya saat mendengarnya.

“You know I love you, right? Can you hear me?
Are you there? I know it’s been so long. Oh so long. But if you’re out there, here is where you belong…” Gadis itu terisak saat mendengar akhir lagu yang dinyanyikan lelaki itu dari dalam kamarnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Itu…One Thousand Words dari One Way… Kenapa Chanyeol memainkan lagu itu? Apa perasaannya sama dengan lirik lagunya?” Aku menghapus air mataku dari kedua mataku. Tiba – tiba kudengar ponselku di kamar berbunyi. Aku segera ke kamarku dan melihat layar ponselku. Nama Chanyeol tertera di layarku. Kusentuh layar berwarna hijau itu untuk menjawab panggilannya.

“Kau sudah tidur?” Tanyanya. Aku merindukan suara beratnya. Tapi dia terdengar serak. Apa dia juga menangis?

“Yeobo?”

“Belum.” Jawabku singkat.

“Kau menangis?”

“Anni.” Jawabku.

“Kau mau menemaniku? Tapi, kalau kau sudah mengantuk, tidak apa – apa.”

“Ne…” Jawabku lagi.

“Kalau begitu ke balkon lah. Aku juga akan keluar.” Aku menurutinya. Aku melihatnya kini yang sedang berdiri dari balkonnya yang menghadap rumahku. Tunggu! Dia pakai kacamata?

“Kau terlihat nerd.” Ujarku dari ponsel yang menghubungkan pembicaraan kami.

“Jeongmal? Sepertinya penglihatanku sedikit buram. Jadinya aku memakai kacamata.”

“Oh..”

“Mianhae…aku sering membuatmu menangis…” Ujarnya kemudian.

“Anni…itu salahku…aku…yang terlalu curiga padamu..” Jawabku.

“Kenapa…kenapa kau menyanyikan lagu itu…?” Tanyaku lagi.

“Lagu?”

“One thousand words.” Ucapku.

“Kau mendengarnya?”

“Tentu…suasana malam terlalu hening. Aku mendengarnya di sini..”

“Itu….karena aku merasa aku yang sekarang sangat persis dengan lirik lagu itu.” Tanggapnya.

“Mianhae, chagia…” Ucapku.

“Kau benar – benar tidak marah lagi denganku?”

“Anni…” Jawabku lagi.

“Gomawo, yeobo… I love you…”

“I love you too…” Jawabku.

“Kau tidak mau menciumku?”

“Mworago?!”

“Hahaha, aku bercanda yeobo..”

“Jaljayo~” Ucapku kemudian yang berbalik masuk ke dalam rumah setelah dari balkon.

“Have a nice dream, yeobo…” Ujarnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aaaaaaaaaa!!!!! Beberapa hari lagi hari pernikahanku!!! Aaaaaaa!!!!

“Yaa! Kenapa masih baca majalah?”

“Hyaaaa!!” Aku refleks membuat majalah itu menjadi sebuah gulungan dan memukul ke orang itu.

“Aa! Aww! Hey!” Mwoyaa!! Chanyeol!!

“Mianhaee~~”

“Cepat bersiap. Haish yeoboo..aku sampai meng-cancel meeting ku untuk fitting baju kita, tapi kau malah asik – asikkan baca majalah.”

“Arraseooooo~~~” Ujarku melewatinya sambil menginjak kakinya. Ini yang kulakukan kalau aku malas mendengar omelannya.

“Aaaagghh!! Yeoboo!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yeobo…” Panggilnya saat di mobil.

“Uhm?”

“Bicaralah sesuatu..”

“Bicara apa?” Tanyaku.

“Apa saja..”

“Hhmm..aku malas bicara.”

“Waee?”

“Hhh~~ Aku kesal, oppa!”

“Kau kesal kenapa?”

“Aku tidak bisa masak..”

“What?”

“Wae? Kau menyesal?”

“Anni~ Hey, bagaimana kalau kau belajar dengan eomma?”

“Eommonim? Apa eommonim tidak sibuk? Hhmm..eomma selalu saja keluar negeri ikut dengan appa.”

“Anni~ Eomma tidak sibuk. Nanti kita bicara pada eomma.” Ujarnya membelai rambutku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Gadis itu masih terlihat mencoba gaun pengantinnya di ruang ganti bersama dua assistant designernya. Sudah hampir setengah jam gadis itu tidak kunjung keluar.

“Yeoboo~~”

“Chakkamaaann~~” Teriaknya dari dalam.

Tak lama kemudian, gadis itu keluar. Balutan gaun putih pengantin melekat di tubuhnya yang proposional. Potongan gaun pengantin yang sebatas di atas lutut di bagian depan, menjuntai panjang hingga lantai di bagian belakang, terlihat cocok untuk gadis itu. Tak lupa, rangkaian bunga yang melingkar di kepala gadis itu terlihat manis terpasang di kepala calon istrinya. Sang calon mempelai pria pun menatapnya dengan wajah yang tercengang, tidak menduga kalau gaun pengantin itu cocok untuknya.

“Oppa…bagaimana? Jelek yaa?” Tanya Sae Ri yang mematut dirinya di depan cermin yang memantulkan pantulan seluruh tubuhnya yang terbalut gaun pengantin itu.

“Kau sangat cantik.” Puji Chanyeol yang berdiri di belakang gadis itu.

“Jeongmal?”

“Ne..” Jawab Chanyeol.

“Oppa, kau juga keren memakai jas ini.”

“Jinja?”

“Uhm.. Aku suka.”

“Ayo kita menikah sekarang juga.” Chanyeol menggandeng tangan gadis itu.

“Yaaa~~ Oppaa…jangan bercandaa~!” Gadis itu tertawa. Ternyata, sikapnya yang menertawai Chanyeol, membuat lelaki itu mendekatkan wajahnya pada Sae Ri.

“Yaaa~~ Stooopp~~” Gadis itu memundurkan wajahnya dan menyilangkan jarinya di bibir Chanyeol.

“Waee?”

“Tempat umum, tahu! Malu!”

“Kajja, ganti baju lagi. Nanti kotor kalau dipakai untuk photoshoot.”

“Kajja~” Ujar Chanyeol.

“Oppaaa~~ Kau di ruangan sana…” Tunjuk Sae Ri.

“Ah! Oh, aku lupa. Kukira kau juga lupa.” Ujarnya mengerlingkan matanya pada calon istrinya. Ini pun memancing Sae Ri untuk memberinya pukulan kecil pada lengannya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hari ini, kami berangkat menuju suatu daerah yang ditempuh selama 4 jam 20 menit untuk photoshoot. Jinhae, tempat yang kami pilih. Eottohkee~~ Ini melelahkan juga! Sebenarnya photoshoot ini hanya untuk koleksi pribadi kami saja. Sedangkan foto untuk undangan pernikahan, kami menggunakan foto pribadi kami yang diambil secara selca dan sedikit editan.

Kami mengambil tempat di daerah Jinhae, karena kami sudah memilih Indonesia sebagai destinasi honeymoon kami. Terlebih lagi, di musim semi ini, kawasan Jinhae sangaaaaaatt mempesona!

Secara umum kawasan Jinhae adalah salah satu tempat yang paling banyak dikunjungi oleh wisatawan saat musim semi. Pemandangan yang paling menakjubkan dari tempat ini adalah saat bunga Cherry berguguran dan memenuhi
beberapa sudut kota.

Saat bunga bemekaran dan akhirnya jatuh memenuhi jalan-jalan disini, saat itulah momen paling menakjubkan di Jinhae. Itu sebabnya, warga setempat akan menyebutkan sedikitnya 3 hal jika ditanya apa yang menjadi ikon kota ini. Yang pertama adalah pohon cemara yang melambangkan keadilan dan kemakmuran. Kedua, burung camar yang mencerminkan semangat dan progresivitas warga. Lalu yang ketiga adalah bunga yang selain mempercantik kota dengan aroma dan warnanya juga melambangkan warga Jinjahe yang tulus dan rajin.

Sedikitnya ada dua sudut indah di Jinhae saat musim semi tiba dan kami juga akan menggunakan dua tempat ini untuk photoshoot kami. Yang pertama adalah Yeojwacheon. Kawasan ini adalah salah satu sudut terbaik di Jinhae untuk melihat bunga-bunga Cherry berguguran.

Sudut kedua yang tak kalah indahnya adalah jalur kereta api Kyeong-Wha Station. Dan ternyata, kawasan ini cukup penuh juga, hingga fotografer kami harus sibuk mencari lokasi yang paling tepat untuk kami berfoto. Alasan fotografer kami memilih sudut ini karena di tempat ini kita menunggu momen saat kereta api lewat bersamaan dengan bunga Cherry yang berguguran. Karena di titik inilah sarana paling ampuh untuk menunjukkan keindahan Jinhae saat musim semi.

“Yeobo, kiss me.” Chanyeol tiba – tiba menggamit pinggangku.

“Anni, shireo~” Jawabku.

“Ppalii~~ Masa aku terus yang menciummu lebih dulu?”

“Tapi banyak orang, oppa…”

“Waeee??”

“Annii~ Pokoknya tidak mau.”

“Ck! Kau ini…dasar!” Dia terlihat kesal. Tapi kemudian aku berjinjit di dekatnya dan menarik wajahnya. Aku mengecup bibirnya singkat dan buru – buru pergi dari hadapannya.

“Yeoboo~~ Urusan kita belum selesaai! Yaa!” Dia terus memanggilku tapi tidak kuhiraukan. Hahaha.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Menjelang hari pernikahanku, aku dan Chanyeol akan memesan wedding cake.

“Ya sudah siap – siaplah, yeobo…aku akan menjemputmu.” Ujar Chanyeol menelponku.

“Tidak usah…aku yang akan ke sana, oppa…”

“Ke kantorku?” Tanyanya.

“Uhm…”

“Gwaenchanayo?”

“Ne, oppa…”

“Yang benar?”

“Isssh~~ Oppa cerewet ah! Sudah aku mau bersiap.”

“Ne..hati – hati ya.”

“Uhm..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tin! Tin!

“Yaa! Sae, mau kemana?” Saat aku menunggu bus di halte tiba – tiba ada mobil terparkir di hadapanku. Seulong oppa.

“Ke kantor Chanyeol, ahjussi.” Candaku.

“Hey! Ayo masuk. Aku antar.”

“Tidak usah…aku nunggu bus saja.”

“Aku searah dengan kantor Chanyeol. Naiklah.”

“Apa aku tidak merepotkan?”

“Tentu tidak. Ppali.” Jawabnya.

“Gomawooo, ahjussi”

“Aku bukan ahjussi mu!” Aku hanya tertawa.

“By the way, oppa mau kemana?” Tanyaku saat di mobil.

“Aku akan mengurus dokumen – dokumenku untuk ke L.A.”

“Mwo?! Kenapa ke sana??”

“Ya kerja dong…”

“Masa oppa tidak datang ke pernikahanku?”

“Datang kok…aku perginya setelah kalian menikah. Don’t worry, dear…” Dia mengusap kepalaku.

“Yakseo?”

“Ne…yakseo..” Ujarnya menautkan kelingkingnya di kelingkingku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Cha! Sudah sampai…” Ujar Seulong.

“Gomawo ne, oppa…”

“Ne, cheonma…aku pergi dulu ya…”

“Ne, hati – hati…” Jawab Sae Ri. Mobil Seulong pun melaju meninggalkan lobby kantor itu.

“Sae Ri-ssi…” Pemilik nama tersebut menoleh.

“Bisa kita bicara sebentar?” Gadis berambut panjang sebahu itu berdiri di hadapan Sae Ri. Kim Yejin.

“Ne? Ada apa?”

“Lebih baik kita ke coffee shop dekat sini..” Ajaknya yand dituruti Sae Ri.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Apa Sae Ri sudah datang?” Tanya Chanyeol pada meja receptionist.

“Belum, sajangnim…”

“Haish! Kemana anak itu? Tidak mungkin dia menyasar kan?” Batin Chanyeol yang mencoba menelpon Sae Ri. Sayangnya, ponsel gadis itu tidak aktif.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku mencintainya.” Ujar gadis di hadapanku ini.

“Dan aku menyesal meninggalkannya.” Lanjutnya lagi.

“Tapi aku akan segera menikah dengannya. Minggu depan.” Jawabku.

“Tidak bisakah kau merelakannya untukku? Aku sangat mencintainya.”

Perasaannya dengan Chanyeol begitu dalam. Hingga aku bisa merasakan sakitnya dadaku ini.

“Sae Ri-ssi, kita sama – sama wanita. Kau juga pasti melakukan hal yang sama kan denganku, jika kau ada di posisiku? Kau akan melakukan apa pun untuk orang yang kau cintai.” Ujarnya.

“Mianhae, aku masih ada urusan, Yejin-ssi.” Aku memilih untuk beranjak dari cafe itu. Tapi sepertinya Yejin masih mengikutiku.

“Sae Ri-ssi, kuharap kau benar – benar melepaskan Chanyeol.” Ujarnya lagi di belakangku yang sempat membuat langkahku berhenti.

“Tapi aku tidak akan menikahimu jika Sae Ri meninggalkanku, Yejin-ssi.” Tiba – tiba suara berat yang kukenal muncul. Chanyeol!

Dan benar saja, Chanyeol kini menghampiriku dan menggenggam tanganku erat.

“Aku sudah berkali – kali mengatakan padamu, jangan pernah ganggu kami lagi. Selama ini aku belum pernah memohon padamu Yejin-ssi. Aku mohon tinggalkan aku. Dan cari laki – laki di luar sana yang lebih pantas untukmu. Menyerahlah jika kau menginginkan aku. Karena aku dan Sae Ri sudah sangat terikat erat.” Ujar Chanyeol padanya.

“Tapi oppa….”

“Kalau kau memang mencintaiku dan ingin melihatku bahagia, biarkan aku hidup dengan Sae Ri. Hubungan kita kini tidak lebih dari seorang kakak dengan adiknya. Terimakasih karena kau sudah mencintaiku. Tapi aku tidak bisa memberikan lebih untukmu. Permisi.” Potong Chanyeol yang kemudian membawaku pergi dari hadapannya.

“Baik. Jika itu yang kau inginkan, aku akan menurutimu, oppa. Aku sangat berterimakasih padamu karena kau sudah mengajarkan cinta suci padaku.” Ucapannya kembali menghentikan langkahku. Chanyeol menatapku seolah bertanya ‘ada apa?’. Tapi aku hanya terpaku pada satu titik itu.

“Karena aku kalah dari Sae Ri-ssi, maka aku akan ke Perancis hari ini juga.” Aku membalikkan tubuhku dan aku menatapnya. Ia menangis.

Ia kembali berjalan menuju arahku, “Sae Ri-ssi, bolehkah aku memanggilmu dengan sebutan ‘eonni’ dan memelukmu?” Tanyanya.

“Ne…” Jawabku. Detik itu juga dia menangis sejadi – jadinya di bahuku.

“Gwaenchana, Yejin-ah…kau akan menemukan penggantinya dengan segera. Kau itu gadis cantik.” Ujarku mengusap punggungnya.

“Ne, eonni…semoga kau bahagia dengan oppa…” Ucapnya.

“Chanyeol oppa…bolehkah aku memelukmu untuk terakhirnya sebagai adik?” Chanyeol menatapku. Dan aku hanya mengisyaratkan dengan menganggukkan kepalaku. Sedikit sakit saat aku melihatnya memeluk Chanyeol di hadapanku.

“Nan jeongmal gomawo…” Ucapnya kemudian setelah melepaskan pelukannya pada Chanyeol. Entah kenapa aku mulai menangis untuknya.

“Eonni, oppa…aku pergi dulu.” Lanjutnya.

“Yejin-ah…berjanjilah padaku untuk tidak melakukan hal yang aneh – aneh.” Aku menahan tangannya.

“Ne, eonni..” Seulas senyum terukir di bibirnya. Kami hanya menatapnya pergi meninggalkan kami, memperbesar jarak kami dengannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yeobo…” Panggil Chanyeol pada gadis yang duduk di sampingnya di mobil saat menuju tempat pemesanan wedding cake.

“Uhm?”

“Kau sangat murung setelah kejadian tadi.” Ujar Chanyeol.

“Aku…aku mengkhawatirkan Yejin.”

“Why?” Tanyanya.

“Dia telah menemukan cintanya, tapi cinta itu pergi darinya..”

“Jadi kau ingin aku kembali dengannya?”

“Anniii~ Maksudku, pasti dia kini perasaannya sangat terluka…”

“Yeobo, aku tidak meninggalkannya. Tapi dia yang meninggalkanku. Dan detik itu juga perasaanku padam untuknya.”

“Oppaa, kau berjanji untuk tidak meninggalkanku kann?” Sedikit kekhawatiran tersirat di wajah cantik gadis itu. Chanyeol menghentikan mobilnya.

“Kita sudah sampai, yeobo.” Ujar Chanyeol.

“Oppa~ Kau belum jawab pertanyaanku..”

“Untuk apa kau bertanya pertanyaan yang sudah kau ketahui jawabannya? Aku, Park Chanyeol tidak akan pernah meninggalkan Lee Sae Ri untuk selamanya.”

“Kau tidak akan memperlakukanku seperti Yejin kan?” Tanyanya lagi.

“Yeobo, kenapa kau seperti ini? Apa kau tidak percaya padaku?”

“Anni, hanya saja aku…hmmpft!” Ucapannya terhenti setelah Chanyeol membungkam bibir gadis itu dengan ciumannya. Ciuman kasar yang kian melembut itu menghentikan semua ucapan Sae Ri.

“Aku sangat mencintaimu, Ri-yya…tidak ingat kah kau kalau aku frustasi sewaktu kau memeluk Seulong hyung? Aku sangat mencintaimu, dan menyayangimu lebih dari rasa cinta dan sayangku pada diriku sendiri, Park Sae Ri.”

“Park?”

“Ya, Park…Karena minggu depan, namamu akan menjadi Park. Bukan Lee lagi. Dan sampai selamanya, namamu akan menjadi Park Sae Ri. Apa kau juga mencintaiku, euhm?”

Gadis itu melingkarkan lengannya pada leher pria itu, “Nado saranghae, oppa..” Ucapnya yang kemudian mengecup bibir lelaki itu singkat.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Hari ini, adalah hari pernikahanku. Hari dimana aku akan melepas masa lajangku. Huwwaaa!! Aku deg – deg aaaan!!

“Sae, aku masuk yaaa~~” Terdengar suara Seulong oppa dari luar kamarku.

“Ne, oppaaa~~”

“Cepatlah…Chanyeol sudah sampai di sana lebih dulu.”

“Mwo?! Jinja yo?!” Tanyaku.

“Ne…ppaliiii~~!!”

“Ri-yya, sudah selesai?” Appa dan eomma masuk.

“Ne, eomma..appa…”

Kami pun menaiki mobil untuk ke tempat pernikahan kami. Pernikahan dengan gaya garden party yang kuinginkan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Gaun pengantinku yang panjang sedikit membuatku kerepotan berjalan saat aku turun dari mobil. Kulihat Chanyeol sudah berdiri di depan sana. Ommooo!!

“Kajja, Ri..” Ujar appa memberikan lengannya untukku. Sedangkan eomma dan Seulong oppa, menuju bangku tamu di deretan depan.

Kini semua mata tertuju padaku yang berjalan dengan appa menuju Chanyeol. Oh! Astaga! Aku ingin pingsan rasanya.

“Kuserahkan putriku, Lee Sae Ri padamu Park Chanyeol.”

Ommoo!! Sudah di samping Chanyeol kah?!! Hey! Kenapa jalannya sebentar sekali? Atau…aku yang pikiranku sempat hilang sesaat tadi?

Kini, tangan Chanyeol pun meraih tanganku dan kami berdiri bersandingan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Silahkan kedua mempelai saling bertukar cincin.” Ucapan itu membuatku kaget. Seseorang pun mengantarkan kotak cincin yang akan segera kami pakai. Chanyeol pun memasangkannya padaku. Tapi, kenapa tanganku tidak berhenti bergetar saat memasangkan cincin di jarinya?! Oh Tuhan…

“Kau gugup?” Kulihat Chanyeol sedikit menunjukkan deret giginya yang sangat putih. Sedangkan aku memilih untuk tidak menjawabnya. Cincin pun terpasang di jarinya.

“Wedding kiss?” Chanyeol bertanya padaku hingga aku menatapnya.

“Eoh?” Kami hanya berkomunikasi dengan kedua mata kami. Dan kini wajah Chanyeol kian mendekat padaku. Entah kenapa aku seperti menahan napasku dan memejamkan mataku. Hanya butuh waktu beberapa detik saja, sesuatu yang lembut dan basah menempel di bibirku. Kedua tangannya melingkari pinggangku membawaku untuk lebih dekat padanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Chanyeol menyudahi ciumannya pada gadis yang kini sudah resmi menjadi istrinya. Ia kemudian berbisik pada gadis itu, “Now, you’re mine. You’re my lady now. I will completely fall into your dazzling lips. I’m the one person who will protect you. So, don’t go away from me.” Bisiknya yang kemudian mencium pipi gadis itu. Gadis itu hanya mengembangkan senyumannya saat mata pria itu menatapnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oooh~~ Pegal sekali kakiku inii~” Malam harinya kami menginap di hotel setelah pernikahan kami.

“Aaah~ Aku lelah..” Dia membuka jasnya dan menghempaskan tubuhnya di ranjang.

“Yaakk! Mandi dulu sanaaa!” Ujarku saat aku duduk di depan meja rias melepaskan satu per satu jepitan tudung pengantinku.

“I’m not hearing youu~~ I’m laying on my bed now~” Ujarnya mengambil bantal.

“Oppaa~~” Dia tidak menjawabku seolah menulikan pendengarannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa, mandiii~~” Ujar gadis itu lagi. Lelaki itu berbaring dengan kaki yang menggantung dari ranjangnya. Gadis itu pun menghampirinya untuk menarik suaminya. Tapi, ia menginjak gaun pengantinnya sendiri hingga ia jatuh tepat di atas Chanyeol.

“Ukh! Ye..yeobo…” Suaminya pun kaget karena ada sesuatu yang menimpanya.

“Mi..mianhae…..” Wajahnya kini merona.

“Kau agresif juga ya, yeobo…” Chanyeol masih memegangi kedua tangan gadis yang ada di atas tubuhnya.

“Yak! Oppa, lepaskan! Sana mandi!”

“Bagaimana aku mau mandi kalau kau menindihku?” Tanyanya.

“Kau yang memegangi tanganku! Dan lepaskan apitan kakimu itu dari bokongku!” Gadis itu mulai panik.

“Euhm?” Chanyeol seolah tidak mendengarnya.

“Oppaaaa!!!!”

“Hh..baiklah aku mandi. Kau juga harus mandi, yeobo.” Chanyeol bangkit dan menggendong tubuh gadis yang masih berbalut gaun pengantin itu ke kamar mandi.

“Yaaa!! Yaa!! Oppaaa!!” Gadis itu meronta.

“Diamlah…kau berteriak seolah – olah aku ini penyamun yang akan memperkosa tawanannya. Oh! Aku lupa, you’re my prisoner of love.” Ujarnya mencium bibir gadis itu.

“Yaa~~ Oppa, masa di kamar mandi siih??” Gadis itu melepaskan ciumannya.

“So what?” Chanyeol menutup pintu kamar mandi tanpa menyalakan lampunya.

“Kyaaaaaa!!! Oppaa!! Oppaaa!! Kyaaaaaa!!!!” Jeritan Sae Ri pun terdengar seiring jatuhnya air dari shower.

THE END

My Cool Beauty

Judul : My Cool Beauty

Author : Seu Liie Strife

Main Cast : Park Chanyeol / Chanyeol (EXO-K)
Lee Sae Ri (OC)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Di salah satu SMA di ibu kota negeri ginseng ini terdapat ‘bunga’ yang tidak dapat disentuh atau didekati siapa pun. ‘Bunga’ tersebut adalah seorang gadis berambut panjang dan indah yang bernama Lee Sae Ri. Siapa lelaki yang tidak memujanya? Tubuh yang proposional, bulu mata yang lentik, mata yang indah, rambut yang terurai panjang, pintar, dan pastinya kaya sangat menarik perhatian lawan jenisnya. Di kalangan wanita sendiri gadis itu populer. Keahliannya dalam bidang olahraga, karya ilmiah, dan sifat baik hatinya sangat disukai. Namun, sayangnya, ‘bunga’ SMA ini selalu tanpa ekspresi. Meski pun begitu, penggemarnya masih tetap setia mengikutinya.

“Sae Ri-ssi, bantu aku yaaa…jebaall..matematika ini sulit sekaliii!” Salah satu temannya memintanya mengajarkan pelajaran yang sangat memeras otak itu.

“Ne, duduklah. Aku akan mengajarimu.” Ujarnya dingin.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kriiiinnggg!!

“Ah! Sudah bel masuk rupanya.” Batinku. Tak lama kemudian, songsaenim pun masuk. Tapi, kali ini ia tidak sendiri. Ia bersama seorang pria. Siapa dia? Murid baru?

“Anak – anak..kali ini songsaenim membawa teman baru untuk kalian. Tolong dengarkan semuanya!”

Dengan tidak peduli, aku membuka bukuku sendiri. Terserah dia mau bilang apa.

“Annyeonghaseo…Park Chanyeol imnida…aku pindahan dari SMA di Busan. BangapSaemnida…”

“Baiklah, Chanyeol, kau duduk di bangku kosong itu.” Bangku kosong? Di sebelahku? Haish!

“Sae Ri-ssi, karena Chanyeol belum memiliki buku pelajaran sekolah ini, kau harus berbagi dengannya.” Ujar songsaenim.

“Ne, songsaenim..” Jawabku patuh.

“Annyeong…bangapSaemnida, Sae Ri-ssi..”

“Hhm..” Jawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kenapa gadis ini? Tidak sopan sekali hanya seperti itu menanggapiku. Perlu diperbaiki nih sifatnya.” Batin Chanyeol.

Pelajaran pertama di kelas sains itu adalah matematika. Semua anak satu per satu diharuskan ke depan untuk mengerjakan soal dari guru mereka di papan tulis.

“Sae Ri-ssi, silahkan maju ke depan.”

“Ne, songsaenim…”

Sae Ri pun maju ke depan dan mulai mengambil spidol white board untuk mengerjakan soal sulit itu. Hanya dalam satu menit, soal itu terjawab oleh gadis itu dengan benar dan tepat.

“Woaah~! Cool beauty itu hebat ya!” Bisik teman – temannya yang menjuluki Sae Ri dengan nama ‘Cool Beauty’.

“Cool beauty? Julukan yang aneh.” Batin Chanyeol.

“Chanyeol-ssi, bagaimana kalau kau mengerjakan soal ini juga?” Gurunya pun kemudian menuliskan soal yang tingkat kesulitannya hampir menyamai yang Sae Ri kerjakan.

Untuk beberapa detik, Chanyeol terdiam memperhatikan deret angka di hadapannya. Tapi kemudian, tangannya ahli menuliskan rumus – rumus.

“Huh! Dia pasti tidak akan bisa.”, Sae Ri meremehkan Chanyeol dalam batinnya.

“Yaa! Tepat sekali, Chanyeol-ssi!”

Prek!! Buku dari tangan Sae Ri terjatuh dari genggamannya saat melihat Chanyeol berhasil mengerjakan soal sulit. Di sekolahnya, belum ada seorang murid pun yang berhasil mengalahkannya atau pun menyamainya.

“Woaahh!! Hebat kau Chanyeol!!”

“Cool beauty ada saingannya!” Seru yang lainnya.

“Diam semuanya. Diam. Kalian kerjakan soal di halaman 257.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Astaga! Ini bencana! Ini bencana! Bencanaaaa!!!” Rasanya aku ingin berteriak!

Kriiinnnggg!! Jam pelajaran usai. Dan kini berganti dengan fisika. Fisika?! Aku harus bisa! Saat pergantian guru, dalam sekejap Chanyeol sudah akrab dengan teman – teman lainnya. Hey! Apa dia mau menyaingiku?

“Hey! Hey! Ada songsaenim!” Aku langsung mengeluarkan buku fisika dari tasku.

“Boleh berdua, kan?”

“Hhm..” Jawabku.

“Sae Ri-ssi…”

“Mwo?”

“Kau marah denganku?” Tanyanya.

“Annio.” Jawabku.

“Anak – anak, kalian kerjakan soal di halaman 349. Dalam waktu 15 menit sudah selesai, dan langsung diperiksa.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Songsaenim, sudah selesai.” Ujar Chanyeol dan Sae Ri bersamaan.

“Ige mwoya?!” Batin Sae Ri.

“Kita samaan.” Ujar Chanyeol tersenyum pada Sae Ri. Walau pun kesal, gadis itu memandang Chanyeol tanpa ekspresi.

“Dia benar – benar menyebalkan!” Batin Sae Ri.

Satu setengah jam pun berlalu, kini semua murid beristirahat. Sae Ri dengan acuh meninggalkan Chanyeol menuju kantin. Dia membeli roti, minuman dan tentunya lolipop, makanan kesukaannya. Dia memilih taman belakang sekolahnya untuk menghabiskan waktu beristirahat dan bersandar pada pohon besar yang rindang.

Sementara itu Chanyeol, dalam sekejab dikerumuni banyak wanita karena kepintarannya. Banyak juga teman laki – lakinya yang mengajaknya main bola atau pun basket. Tapi, semuanya ditolaknya dengan halus.

“Eoh? Kaki perempuan??” Batin Chanyeol saat melihat sepasang kaki yang tidak tertutup semak – semak.

“Oh…dia..” Chanyeol melihat seorang gadis yang tertidur dengan posisi terduduk dengan kepala yang tergolek dan mulutnya yang masih mengulum lolipop.

Lelaki itu kemudian bersimpuh tepat di depan gadis yang tertidur itu. Dia langsung mengeluarkan lolipop yang dikulum gadis itu hingga membuatnya terbangun.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Apa yang kau lakukan?”

“Tidur sambil makan itu tidak bagus loh.” Ujarnya tersenyum padaku dengan lolipopku yang di tangannya.

“Apa urusannya denganmu?” Tanyaku lagi.

“Aku tidak mau merusak citra sekolah ini.” Pernyataannya membuatku mengernyitkan dahi.

“Okay, kalau kau memakan lolipop ini saat kau tertidur, kau tersedak dan mati. Kalau kau mati di dalam sekolah, citra sekolah yang akan rusak. Dan aku kan sudah melihatmu, kalau aku membiarkanmu mati, berarti aku merusak citra sekolah juga.” Jelasnya kemudian. Sial! Dia menyumpahiku mati?!!

Kriiiiinnnggg!! Bel sekolah pun berbunyi. Aku segera ke kelas untuk mengambil kunci lokerku dan menuju ruang loker untuk mengganti baju. Ya, hari ini ada jam olahraga.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yang laki – laki lari marathon, yang perempuan lari palang berintang.” Ujar guru mereka.

“Ne, songsaenim!” Jawab semuanya serempak.

Setelah melakukan peregangan dan pemanasan, mereka pun membagi dua kelompok. Laki – laki di sebelah barat lapangan, perempuan di sebelah timur lapangan.

Mereka bergiliran dalam berlari. Di kedua sisi lapangan terlihat ramai. Seolah menjadi terbagi dua kelompok juga. Di sebelah barat banyak di dominasi oleh perempuan yang ingin melihat Chanyeol berlari. Sedangkan di sebelah timur di dominasi oleh laki – laki yang ingin melihat Sae Ri berlari.

“Kyaaaa!! Chanyeol!! Chanyeooll!! Chanyeol menang!!!”, teriakan siswi – siswi memekakan telinga. Chanyeol hanya sesekali melempar senyum yang mematikan bagi wanita yang melihatnya dan melambaikan tangan bagaikan artis terkenal.

“Sae Ri-yyaa~~ My cool beauty!”

“Sigh! Para serangga ini…”, Sae Ri mengacuhkan teriakan para pria itu yang seperti memujanya. Kini tiba gadis itu untuk berlari. Dia berlari berdua dengan temannya seolah seperti sedang kompetisi.

“Ash! Gawat! Kenapa kakiku?” Batin Sae Ri yang sedikit menggoyang – goyangkan pergelangan kakinya.

“Ready…hana…dul…set…!!”

Sae Ri pun mulai berlari. Palang pertama berhasil di lompatinya. Palang kedua pun sama, ia melompatinya dengan mudah. Saat palang ketiga, kakinya benar – benar sakit dan gadis itu gagal melompatinya hingga terjatuh.

“My cool beauty!!!!” Sontak Chanyeol langsung menoleh dan melihat keramaian di sisi timur lapangan.

“Ada apa?” Tanya Chanyeol pada temannya yang mulai berlarian ke arah timur.

“Cool beauty jatuh!” Ujarnya langsung berlari. Chanyeol pun langsung ikut berlari menghampirinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Assshh!! Appo yaaa!!!” Aku ingin berteriak seperti itu!!

“Haish! Berdarah…” Ucapku pelan.

“Sae Ri-ssi, kajja ke UKS denganku!” Seorang laki – laki menarik tanganku yang masih terduduk memegangi lututku.

“Anni! Denganku saja!”

“Anni! Denganku!”

“Ck! Lepas!” Ujarku menghentakkan tanganku. Aku berusaha berdiri tapi kakiku terus gemetar dan akhirnya..

Grep! Sepasang tangan menahan tubuhku.

“Kajja, kita ke UKS..” Dia menggendongku dengan tersenyum. Mwoyaa!! Apa – apaan ini?!!! Park Chanyeol, si murid baru sekaligus sainganku??!!

“Andwae! Turunkan aku!”

“Jangan banyak bergerak. Darahmu semakin banyak yang keluar nanti.” Ujarnya lagi yang tetap berjalan sambil menggendongku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Uisa-nim, appo..” Ucapku dengan wajah datar saat dokter UKS membersihkan lukaku.

“Kau kenapa bisa sampai jatuh seperti ini?”

“Kakiku keram, uisa-nim.”

“Apa ia tidak apa – apa, uisa-nim?” Tanya Chanyeol. Ah! Aku baru sadar kalau ia masih di sini.

“Ne…hanya luka kecil. Beberapa hari juga sembuh.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Appa…aku minta jemput dong…aku tidak bisa jalan nih..kakiku sakit habis jatuh.” Aku menelpon appa dengan ponselku.

“Ne…aku tunggu yaa..”

Hii..sekolah ternyata sudah sepi! Eottohkee~

“Belum pulang?” Aku menoleh ke belakangku, sumber suaranya. Issh! Chanyeol lagi.

“Aku duduk di sini ya?”

“Terserah.” Jawabku.

“Kenapa belum pulang?” Tanyanya.

“Bukan urusanmu.”

“Memang bukan urusanku sih…tapi, aku hanya bingung, kenapa kau memilih untuk menyendiri? Kau tidak mau membaur dengan lainnya?”

“Dengar ya, Chanyeol-ssi, semuanya tidak ada hubungannya denganmu. Permisi.” Ujarku kemudian. Kebetulan mobil jemputan dari appa sudah datang. Dan aku langsung masuk.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa bulan kemudian, kehidupan sekolah Sae Ri dan Chanyeol pun terlihat seperti saling bersaing. Walau pun Chanyeol sendiri tidak pernah menganggap Sae Ri sebagai saingannya, Sae Ri terus berusaha untuk menjadi yang terbaik. Termasuk dalam kegiatan klubnya. Klub basket.

“Hari ini kita akan pengambilan nilai klub.” Ujar pelatih mereka.

“Ne, songsaenim!”

“Battle one on one!” Pelatih mereka kembali mengingatkan.

“Sae Ri-ssi, Chanyeol-ssi, giliran kalian!”

“Haish! Dia lagi..” Batin Sae Ri.

Bola basket pun di dribble oleh pelatih menuju tengah lapangan, dimana Chanyeol dan Sae Ri sudah bersiap.

“Hana..dul..set!” Peluit pun dibunyikan. Dengan mudah Chanyeol mengambil bola terlebih dahulu. Postur tubuhnya yang jauh melebihi Sae Ri sangat menguntungkannya. Lelaki itu pun men-dribble bola sambil berlari. Namun dengan lihai, Sae Ri yang bertubuh kecil mengambil bola yang sedang dipantulkan oleh Chanyeol sambil berlari.

“Hhaha, gesit juga gadis itu.” Batin Chanyeol saat menyadari bola sudah tidak ada di tangannya.

KLANG! Bola pun masuk ke keranjang.

“1-0..!” Ujar pelatih.

“Oh, jadi begitu polanya..” Chanyeol membatin saat dia mengerti pola penyerangan Sae Ri. Dengan cepat, Chanyeol langsung menyambar bola dari Sae Ri dan berlari men-dribble bola.

KLANG!

“1-1..!” Seru pelatih.

“Sigh! Damn!” Batin Sae Ri. Gadis itu kembali membawa bola dan men-dribblenya. Sesekali ia mengecoh gerakannya untuk Chanyeol.

“Aaa! Aigoo! Dia berhasil melewatiku?!” Chanyeol langsung berlari pada Sae Ri untuk mencegahnya.

Praak! Chanyeol mengalihkan bola basket itu yang hendak masuk ke dalam ring basket dengan tangannya. Namun karena ia langsung melompat dan tidak melihat kaki Sae Ri, keduanya pun terjatuh.

“Woaaaaahhh~~~!!” Seru anak – anak klub basket saat melihat mereka berdua.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Kyaaaaa!!!! Ci..ci..ciuman pertamakuuuu!!! Namja brengseeek!!!

“Sorry~” Dia mengulurkan tangannya untuk membantuku berdiri. Aku tidak menggubris tangannya yang terulur untukku dan segera bangkit.

“Couch, aku izin pulang lebih dulu boleh tidak? Kepalaku terbentur tadi. Sedikit pusing.” Ujarku pada pelatih.

“Ne..istirahatlah yang baik.”

Aku pun mengambil tasku untuk segera pulang. Tapi saat aku ke toilet untuk membasuh wajahku, ternyata banyak yang membicarakan kejadian tadi. Dasar semua lelaki sama saja! Mengambil kesempatan dalam kesempitan!

“Dapat tidak fotonya? Itu foto langka!” Foto? Foto apa?

“Tepat! Ini saat Chanyeol mencium cool beauty! Kyaaa!”

Mwoya?! Fotoku?!

“Eh eh, itu cool beauty!”

“Sae Ri-ssi, kau berpacaran kah dengan Chanyeol?”

“Anni. Lebih baik kalian bakar foto itu. Dan hapus filenya.” Ujarku dingin dan meninggalkan mereka.

“Isshh! Masih sempat – sempatnya tertawa! Seolah tidak ada kejadian apa – apa.” Gerutuku saat melihat Chanyeol yang tertawa bersama teman – temannya.

“Chanyeol itu benar – benar happy virus ya! Kalau kita bersamanya, pasti kita bisa tertawa dan melupakan masalah – masalah kita.” Terdengar pembicaraan para gadis – gadis tentang Chanyeol yang membuatku muak.

“Menurutmu, cocok tidak kalau bersanding dengan cool beauty?” Mwoya?! Kenapa denganku?! Haish!

Hhh~ Lebih baik aku ke ruang lokerku sekarang!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Apa kepalamu masih sakit?”

“Hoah! Ommo!”, Sae Ri hampir terlonjak melihat seorang laki – laki tiba – tiba berada di sampingnya ketika gadis itu baru saja menutup pintu lokernya.

Gadis itu mengabaikan pertanyaan Chanyeol dan berlalu begitu saja.

“Hey, aku bicara padamu.” Chanyeol menahan tangan gadis itu.

“Lepaskan tanganmu.”

“Tidak, sebelum menjawabku.” Gadis itu membisu.

“Oh, ayolah…apa susahnya menjawab ‘iya’ atau ‘tidak’?” Ucapnya lagi.

“Itu tidak ada urusannya denganmu.”

“Jelas ada. Kau jatuh karena aku kan?”

“Sigh!” Sae Ri memilih pergi.

“Hey, kau ini sangat tidak sopan ya!” Chanyeol kembali menarik gadis itu dan memerangkapkan tubuh kecil itu diantara lemari loker dan tubuhnya.

“Apa yang kau mau?”

“Aku hanya butuh jawabanmu. Kenapa kau susah sekali untuk menjawab? Terlalu sulitkah pertanyaanku?”

“Menyingkir dariku.”

“Kau selalu mengubah topik pembicaraan, Sae Ri-ssi.”

“Aku tidak suka denganmu.”

“Bagaimana kalau aku membuatmu suka padaku?”

“Apa – apaan dia?!” Batin gadis itu.

“Well..kau selalu menganggapku sebagai sainganmu kan? Tapi, mulai detik ini, kau harus mengubah persepsimu itu. Karena aku kekasihmu. Bye~!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Mwoyaaa??!!!! Apa dia gila?!! Dia memutuskannya secara sepihak! Aku tidak mauuu!!!!

Oh tidak…a..aku…jadi kekasihnya?!! Haish!! I can’t imagine this! Aaarrgghh!!!!

Aku harus pulang cepat – cepat! Haruuss!!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Saeee~~ Cepat antar bingkisan ini untuk tetangga baru kita.” Eomma menyuruhku saat aku beristirahat. Hhh~ Keterlaluan sekali! Malam – malam begini aku yang disuruh mengantar! Padahal kan, masih ada pelayan lainnya.

“Baiklah! Aku harus latihan ekspresi muka dulu!”

“Annyeonghaseyo..aku Lee Sae Ri, anak dari pemilik rumah di depan anda…ini ada bingkisan dari eomma. Eomma minta maaf tidak bisa mengirim langsung karena sakit…” Aku bicara pada cermin.

Aaahh!! Annii…annii..ekspresimu datar sekali Sae Ri..

“Annyeonghaseyo..ahjumma..”

Ahjumma? Annii..anni..kalau laki – laki yang keluar bagaimana?

“Annyeonghaseyo…ahjussi…”

Ahjussi? Anniii…annii..

“Sae Riiiiii~~~” Eomma kembali memanggilku.

“Neeee eommaaaa~~~”

Aku langsung menuruni anak tangga dan ke ruang tengah mengambil bingkisan itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ting! Tong! Dengan malas, Sae Ri berada tepat di depan rumah bergaya minimalis itu. Rumah tanpa pagar dengan garasi yang cukup untuk dua mobil itu terlihat sepi.

“Apa tidak ada orang?” Batin gadis itu yang kemudian kembali menekan bel rumah itu.

“Ne~” Terdengar sahutan dari dalam.

“Tersenyum..tersenyum…tersenyum…” Batin Sae Ri.

“Annyeonghase…” Gadis itu menghentikan salamnya setelah melihat siapa yang keluar dari dalam rumah itu.

“Siapa, Chanyeol??” Terdengar suara wanita dari dalam.

“Hhmm…sepertinya tetangga kita, eomma…” Jawab Chanyeol.

“Ooh, Sae Ri..!”

“Dia mengenalku?” Batin gadis berambut indah itu.

“Ayo, masuk..” Wanita paruh baya itu mengajak gadis itu masuk.

“Aa, ini..ini dari eomma, ahjumma…” Sae Ri berusaha tersenyum walau pun itu sangat susah untuknya. Bagi gadis itu, ia lebih baik mengerjakan setumpuk soal fisika dari pada harus tersenyum untuk beberapa detik.

“Oh, gamsahamnida…berikan itu pada Chanyeol. Nah, ayo kita mengobrol. Chanyeol…ambil ini..” Sebenarnya saat itu Chanyeol ingin tertawa lepas ketika melihat ekspresi datar Sae Ri, namun ia berusaha menahannya.

“Ne, eomma…” Sahut Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau sudah makan malam?” Tanya ahjumma.

“Ne, sudah ahjumma…”

“Hhh~ Ternyata kau menjadi gadis yang cantik ya saat ini..” Ahjumma itu mengusap kepalaku dan tersenyum padaku.

“Tak kusangka si Ra Euhn itu bisa membesarkanmu seperti ini..” Dia kenal eomma?

“Kenapa dia tidak ke sini?”

“Maksudnya, eomma?” Tanyaku. Ahjumma pun mengangguk.

“Uhm..eomma sakit. Jadinya, beliau yang menyuruhku ke sini. Kalau appa, appa masih di kantor.”

“Oh, arraseo. Appa mu itu memang sedang sibuk – sibuknya dengan suamiku.” Mwoya?! Appa berteman dengan ahjussi?

“Dimana kau sekolah, nak?”

“Dia satu SMA denganku, eomma. Satu kelas juga, dan sebangku.” Terkutuklah kau Chanyeol!!!

“Jeongmal? Dari dulu ya, kalian seperti tidak bisa berpisah.” Dari dulu? Apa maksudnya?

“Kau ingat, Ri-yya, sewaktu ulang tahunmu itu..”

“Ulang tahun?” Aku mengulangi pernyataannya.

“Ne, saat ulang tahunmu yang kelima…kau sungguh menggemaskan! Kau tahu, pipimu itu seperti bakpao dan membuat Chanyeol terus mencubit pipimu.” Hey! Aku tidak ingat ada memori itu.

“Sayangnya, itu pesta ulang tahun kau yang terakhir kita rayakan sebelum kami ke Melbourne.” Apa maksudnya ahjumma ini?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aah!!! Aku ingat sekarang!” Batin gadis itu.

Sae Ri kehilangan ekspresinya karena Chanyeol sendiri. Saat berulang tahun yang kelima, Sae Ri kecil mengenakan gaun berwarna pink dengan sepatu pink. Karena pipinya yang menggemaskan, Chanyeol terus mencubitinya hingga terkadang anak perempuan itu menangis dan berlari pada ibunya.

Karena tugas ayahnya, keluarga Park harus pindah ke Melbourne. Pesta ulang tahun Sae Ri, sekaligus pesta perpisahan antara keluarga Lee dan keluarga Park sebelum ke Melbourne. Saat sedang bermain kembang api, Sae Ri tertawa sangat riang dan belum pernah dilihat oleh Chanyeol sebelumnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kalau kau tertawa, kau sangat jelek! Sangat jelek!” Ucapan itu selalu terngiang di kepalaku. Rasanya aku ingin menangis jika kembali mengingat ucapan itu. Ucapan dari si brengsek Park Chanyeol! Tidak kusangka dia Chanyeol yang membuatku seperti ini.

“Ri-yya, neo gwaenchana?” Ah! Aku masih di rumah keluarga Park. Mungkin aku harus kembali sekarang.

“Ne, ahjumma..sudah malam..aku pulang dulu ya, ahjumma…”

“Baiklah…sampaikan ucapan terima kasihku pada ibumu ya. Dan lekas sembuh. Mungkin aku akan ke sana besok.”

“Ne, ahjumma…” Jawabku.

“Chanyeol, antar Sae Ri..”

“Ah! Annio, ahjumma..aku bisa sendiri..rumahku kan di seberang..”

“Gwaenchana…ppali, Chanyeol!”

“Ne, eomma…”

“Annyeong~” Aku tidak membalas ucapannya dan langsung menutup pagar rumahku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kenapa kau tidak bisa tersenyum seperti dulu, Ri?” Batin lelaki itu yang masih tidak menyadari kesalahannya.

“Hhh…baiklah, Chanyeol! Misimu adalah membuatnya tersenyum dan menyukaimu. That’s not difficult duty!” Batin Chanyeol.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku menyukaimu!” Ini sudah lelaki kelima yang akan kutolak hingga siang ini.

“Maaf aku tidak menyukaimu.” Jawabku datar.

“Sae Ri, berpacaranlah denganku!” Oh Tuhan!! Dan ini akan menjadi yang keenam.

“Tidak.” Jawabku.

“Terima bunga ini, Sae Ri-ssi…”

Well, aku kemudian mengambilnya dan detik itu juga aku membuangnya ke tempat sampah.

“Cool beautyyy~~ Aku tidak akan menyerah!!” Cih! Terserah sajalah!

“Ri-yya, bagaimana kalau aku yang mengatakan kalau aku menyukaimu?” Suara dari belakangku itu langsung menghentikan langkahku.

“Kyaaaa!! Happy viruss!!” Jerit siswi – siswi. Sigh! Membuat gendang telingaku sakit saja!

“Aku menyukaimu, dan aku mencintaimu.” Dia kini tepat di hadapanku dan menggenggam kedua tanganku.

“Gamsahamnida.. Tapi aku tidak menyukaimu dan tidak mencintaimu.” Ujarku sambil melepaskan tanganku.

“Terima! Terima! Terima!” Sigh! Apa – apaan mereka?!!!

“Aku tidak akan melepaskanmu, Ri-yya.”

“Menyingkir dari hadapanku.”

“Annio..”

“Menyingkir.” Aku mengulangi ucapanku.

“Aku tidak mau.”

BUAGH! Aku meninju perutnya dan membuatnya meringis kesakitan.

“Kyaaa!! Happy virus!!” Cih! Itu akibatnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Menyerahlah, Chanyeol…kau tidak akan bisa memiliki cool beauty itu.. Dia milik bersama..” Salah satu temannya membantu lelaki itu berdiri.

“Ne, dia itu juara karate nasional..kau akan mati di tangannya jika nekat.” Sambung lainnya.

“Tidak apa – apa..asal aku mati di tangannya..hahaha..” Jawab Chanyeol.

“Sigh! Kau ini..”

“Kyaaa~~ Andwae yo, happy virus!!” Teriak gadis – gadis.

Dan mulai detik itu, penyerangan Chanyeol untuk Sae Ri dimulai.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Andwaaaeeeeee!!!! Kenapa dia selalu mengikutiku, memberikanku bunga setiap hari, memberikan cokelat, boneka…..aaaaakkkhhh!!!!!” Aku menghempas tubuhku di atas ranjang nyamanku. Bahkan setelah ujian kelulusan pun juga?!!

Haishh!!! Aku ingin lulus dari SMA ini dengan tenang. Tapi malah pengacau itu mengganggu! Baiklah, Ri, setidaknya kau punya kenangan buruk di SMA!

“Ri, cepat siram tanamannya…”

“Eomma, aku lelah…”

“Lelah? Hey, kau tidak melakukan apa – apa setelah kau pulang sekolah tadi…”

“Aduh, eomma..besok saja deh~”

“Yaaa! Sekarang! Kau kan hanya harus menyiram tanaman yang di balkon saja.”

“Haissh~~ Arraseo…eomma~~” Aku bangkit dari ranjangku dan menuju balkon lantai dua. Balkon ini letaknya berdekatan dengan kamarku yang juga di lantai dua. Hey! Aku harus bolak – balik dari kamar mandi ke balkon hanya untuk menyiram tanaman? Haish!

“Eommaa~~ Kalau lantainya banyak air aku tidak mau mengepelnyaaa~~~” Teriakku.

“Kau harus mengepelnya juga! Jangan manja! Semua pelayan eomma beri cuti. Jadi, kau harus mengerjakannya sendiri! Kau kan perempuan, masa kau tidak bisa apa – apa??”

“Aaaaa!!! Ne, eommaa~~”

Sigh! Malas sekali! Masa aku harus menyiram tanaman – tanaman ini?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Seorang laki – laki yang memakai celana selutut dan t-shirt hitam tengah berdiri bersandar pada pembatas balkon kamarnya dengan earphone di telinganya. Tangannya dibiarkan terjuntai dengan kepala tertunduk.

“Hhh~~ Bosan sekali..kalau menunggu pengumuman kelulusan dua minggu, aku harus apa? Tidak melakukan apa – apa di rumah? Appa mengizinkan aku di perusahaan tidak ya?” Lelaki itu mengangkat wajahnya dan saat itu pula ia melihat seorang gadis yang menyiram tanaman.

“Sae Ri?” Gumamnya.

“Ri-yyaaa~~!!” Panggilnya melambaikan tangannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mwoyaaa??!!! Chanyeol?!! Aisshh!! Kenapa juga..argh!!”

Eottohkee~~ Sialnya aku masih harus menyiram bunga – bunga ini!

“Ri-yyaa~~ Saranghaeee~~!!” Kuacuhkan teriakannya padaku seolah aku tidak mendengarnya. Aku kembali masuk untuk mengambil air. Dan aku keluar lagi untuk menyiram tanaman.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kali ini di tangan Chanyeol sudah ada sebuah camera profesional yang siap membidik ke arah Sae Ri. Dia mencari moment yang tepat untuk memotret gadis itu dari kejauhan.

“Sedikit lagi…sedikit lagi..ayo, siram tanaman yang di sebelah kirimu itu, Ri-yya~~ Jadinya aku bisa membidik wajahmu!” Batin Chanyeol.

“Yup! Tepat!” Gumam Chanyeol kemudian.

“Ri-yyaaa~~ Saranghaeee~~ Saranghaeee~~~ Jeongmal saranghaaaeeee~~~”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Ugh!!! Rasanya ingin kulempar wajahnya dengan pot bunga ini! Berisik sekali!! Kalau saja jaraknya dekat, aku akan benar – benar melemparnya dengan pot ini ke wajahnya!

“Apa dia tidak tahu malu?! Banyak yang melihat padanya, tapi dia seakan putus urat malunya.” Batinku.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat menunggu hasil ujian, Chanyeol bekerja di perusahaan ayahnya. Walau pun ia sama sekali tidak berniat untuk mengambil alih perusahaan, ia akan tetap menjadi pewaris tunggal. Karena itu, Chanyeol akan berkuliah di bidang manajemen. Sedangkan Sae Ri, dirinya sudah mempersiapkan akan berkuliah di jurusan kimia.

Hari ini di rumah Sae Ri telah disepakati akan ada pesta merayakan kelulusan putri tunggal mereka sekaligus ulang tahun ke 17 gadis itu bersama keluarga Park.

“Ah! Sudah berapa tahun kita tidak berkumpul seperti ini lagi ya?” Ujar kepala keluarga Park.

“Ne, tiba – tiba saja anakmu sudah menjadi tampan!” Jawab ayah dari Sae Ri menepuk bahu Chanyeol.

“Eomma, aku di belakang saja ya…” Pinta Sae Ri.

“Loh? Ri-yya…waee??”

“Gwaenchana, eomma.” Gadis itu pun ke halaman belakang rumahnya dan duduk di ayunan sofa berwarna gading itu dengan segelas minuman di tangannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Annyeong~” Sigh! Lagi – lagi dia!

“Aku duduk di sini, boleh?”

“Kalau pun aku bilang ‘tidak’, kau akan tetap duduk di tempat itu kan?” Ujarku sarkastik.

“Hahaha..ini untukmu..”

“Eits! Chakkaman!” Dia menjauhkan kado itu dariku.

“Karena ini cukup menguras uang pribadiku, kau harus terus memakainya.” Memakainya? Apa maksudnya?

“Yakseo?” Tanyanya mengulurkan kelingkingnya padaku.

“Ne…”, jawabku menautkan kelingkingku padanya. Dia pun memberikan kadonya padaku. Dan ternyata itu adalah sebuah kalung dengan bentuk beruang bertahtakan permata – permata kecil.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chanyeol itu nekat sekali anaknya…dia sampai pulang larut demi mendapatkan uang sendiri.. Dia part time di berbagai tempat hingga pulang malam dan terus dilakukannya sejak Ri-yya mengantar bingkisan darimu Euhn!” Tutur ibunya saat kedua orang tua mereka berkumpul.

“Jeongmal? Uang? Untuk apa?” Tanya ibu dari Sae Ri.

“Untuk membelikan kado Ri-yya. Dia tidak mau memakai uang orang tuanya sepeser pun.”

“Aigoo~”

“Bagaimana kalau kita jodohkan saja mereka berdua?” Usul ibu dari Chanyeol.

“Tanpa dijodohkan, mereka sudah terus bersama…coba lihat mereka di belakang..” Ujar tuan Park.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sini kupakaikan.” Aku pun memberikan kalung itu padanya. Sedangkan aku menyibakkan rambutku ke samping.

“Aah~ Yeppuda!” Serunya.

“Gomawo.” Ujarku singkat.

“Saranghae…” Apa – apaan dia? Sigh!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hey, aku sedang menyatakan cinta padamu.”

“Lalu?”

“Kenapa wajahmu datar?”

“Aku harus melompat dengan senang dan harus memelukmu? Begitu?” Tanya Sae Ri acuh.

“Paling tidak kau menciumku?”

“Cih! Buang harapanmu itu!” Lelaki itu hanya tertawa dan tiba – tiba tangannya melingkari di bahu gadis yang duduk di sampingnya.

“Tanganmu!”

“Biar saja…mereka berempat memperhatikan kita…” Ujar Chanyeol.

“Hey… Aku boleh tanya sesuatu tidak?” Tanyanya kemudian.

“Mwo?” Tanya Sae Ri balik.

“Kenapa kau tidak tersenyum seperti dulu?” Gadis itu diam membisu.

“Ri…?”

Tanpa di sadarinya gadis itu mengeluarkan air matanya. Walau pun dengan wajah yang tanpa ekspresi, air matanya itu cukup mewakili perasaan sedihnya.

“Wae?” Tanya Chanyeol lagi.

“Anni, gwaenchana…”

“Tapi kulihat kau tidak baik.” Ujar Chanyeol.

“Anni..” Jawab gadis itu yang hendak pergi.

“Yaa~ Aku belum selesai…” Tangan lelaki bertubuh jangkung itu menahan gadis itu untuk kembali duduk di sampingnya.

“Kau marah denganku?” Tanya Chanyeol lagi dengan tangan yang masih menggenggam tangan Sae Ri seolah takut ia kembali pergi.

“Anni~”

“Lalu?”

“Mianhae, aku mau ke kamar.” Ujar gadis itu beranjak dari tempat duduknya. Dengan cepat lelaki itu ikut berdiri dan menarik gadis itu ke pelukannya.

Sae Ri hanya menggigit bibir bawahnya berusaha tidak terisak. Lelaki yang ada di hadapannya ini membuatnya bingung. Dulu ia mengejeknya jelek tapi kini lelaki itu memeluknya hangat. Seolah tak mau melepaskannya pergi.

“Hiks…hiks…hiks…” Isak tangisnya tak tertahankan lagi. Kini gadis itu menemukan satu ekspresi untuknya. Ekspresi sedihnya keluar begitu saja seiring usapan tangan Chanyeol di kepalanya.

“Wae? Uljimma…” Chanyeol melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah gadis itu dengan tangannya. Jemarinya yang panjang, menghapus air mata itu.

“Wae?” Tanyanya lagi.

“Kau selalu bertanya kenapa! Apa kau tidak menyadari kesalahanmu, eoh?!!! Karena kau! Kau yang membuatku seperti ini! Kau yang membuatku tidak bisa tersenyum! Dan kau tiba – tiba datang, menyuruhku tersenyum kembali dengan semua tingkah konyolmu itu!! Apa kau tidak tahu, eoh?!!!” Lagi. Ekspresi wajah dengan rasa kesal, kecewa, sedih tergambar di wajah cantiknya.

“Karena kau yang mengejekku ‘jelek’!! Kau tahu, itu sangat menyakitkanku!! Dan aku selalu berpikir, tidak ada gunanya tersenyum!!” Gadis itu menunjukkan rasa emosinya yang membuncah dengan memukuli Chanyeol.

“Mianhae, Ri-yya…mianhae…” Sesal Chanyeol.

“Saat itu, kau tersenyum sangat cantik. Dan aku belum pernah melihat senyuman itu sebelumnya. Aku kesal dengan diriku sendiri karena kau tersenyum begitu indah saat aku akan berangkat ke Melbourne. Hingga tanpa sadar, aku mengucapkan kata – kata yang menyakitkan untukmu….mianhae, Ri-yya…” Ujar Chanyeol yang kembali menghapus air mata gadis itu.

Tidak kunjung berhenti menangis, Chanyeol mengangkat dagu gadis itu dengan telunjuknya dan mencium bibirnya. Sontak saja wajah gadis itu langsung bersemu merah.

“Ekspresi itu yang ingin kulihat darimu.” Ujar Chanyeol tertawa dengan mencubit gemas kedua pipi gadis itu.

“Kau jahat..” Kini ekspresi wajah Sae Ri kembali seperti biasa. Tidak ada predikat ‘cool beauty’ lagi baginya di mata Chanyeol.

“Hahaha…Apa aku dimaafkan?” Dengan wajah yang bersemu merah, gadis itu mengangguk.

“Berarti…cool beauty takluk di tangan happy virus! Ckck! Virus yang berbahaya.”

“Yaa! Aku tidak takluk di tanganmu!” Gadis itu menginjak kaki Chanyeol dan menekannya.

“Yaaa~~ Yeoboo~! Ka..ka..kau memakai heels! A..appo yaa!”

“Siapa yang kau panggil ‘yeobo’, eoh?! Uugghh!! Dasaaarrr!!!” Sae Ri menarik – narik rambut Chanyeol.

“Appo~ Ri-yya~ Yeoboo~!!”

Braakk!! Bruukk!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“A…a…astaga!!! Apa yang kalian lakukan di belakaangg?!!!!”

“Mwo?!!!”

“Kyaaaaaa!!!!” Teriakku yang langsung mendorong Chanyeol dari atas tubuhku.

“Eomma?! Appa?!”

“Hahahaha anakku benar – benar sudah beranjak dewasa!! Nice!” What the….ahjussi membela si mata besar ini?!

“Kalian…kalian…eottohkeee~~~”

“Eommaaa~~~ Kita tidak melakukan apa – apa kookk…sungguh!! Yaa! Kau! Kenapa diam saja?!” Ujarku yang kemudian memukul Chanyeol.

“Bagaimana ini, Euhn?? Nikahkan saja mereka segera!”

“Ne…sepertinya harus begitu…”

“Mwo?!! Andwaeeee!!!” Teriakku.

“Paling tidak bertunangan dulu agar mereka berdua ada ikatan.” Haish! Kenapa appa ikut – ikutan?!

“Yaa!! Kau! Lakukan sesuatu!! Eottohkee~~ kenapa diam sajaaa?!! Chanyeol-yyaaa!!” Aku mengguncang – guncangkannya.

“Ya, benar…selama mereka kuliah, bertunangan saja dulu. Baiklah..tanggal berapa baiknya?” Ahjussi ikut menyetujuinya. Mereka berempat pun kembali ke ruang tengah.

Eottohkeee~~~!!!!

“Kau dengar itu, yeobo? Kita akan menikah.”

“Yaaa!!! Kau sengaja membiarkannya?!!” Dia mengangguk.

“Mata besaaaarrrr!!!!!!!” Aku kembali mengacak – acak rambutnya.

THE END

 

Sequel ditunggu yaa 😀

What Is Love_Sequel War, Love, You

Judul : What is Love?

Author : Seu Liie Strife

Main Cast :Wu Yi Fan /Kris(EXO-M)
Kinara Lyvia (OC)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

“Nggh~~”, aku terbangun di suasana pegunungan di kawasan Puncak, Jawa Barat.

“Ehhmm…”, aku mendengar gumamannya. Siapa lagi kalau bukan suamiku, Yi Fan. Oh! Dulu aku memanggilnya Kris. Tapi entah kenapa dia menyuruhku memanggilnya Yi Fan oppa. Hey! Bahkan dia bukan orang Korea kan? Issh!

“Astaga..aku tidak bisa bangun. Aku kan mau mandi..tangannya berat sekali!”

Oh ya, kami baru saja menikah kemarin dan dia mengatakan ingin berbulan madu di Indonesia, negaraku. Tanah kelahiranku. Tapi, berhubung aku menyukai suasana pegunungan yang sejuk, aku merekomendasikan Puncak ini.

“Sayang…kau mau kemana sih? Dari tadi kau gerak – gerak terus.”, suaranya terdengar serak.

“Aku mau mandi, oppa…awas..”

Dia menggaruk – garuk kepalanya, “Hhngg…nanti saja mandinya..masih dingin..”, dia mempererat dekapannya. Rambutnya yang mengenai tengkukku sedikit membuatku bergidik geli.

“Yaah! Tanganmu!”, aku memukul tangannya yang ada di pinggangku yang mulai bergerak nakal.

“Why? Kau tidak mau melanjutkannya?”

“Tidak. Badanku sakit.”, jawabku.

Aku merasa dia mulai menggeser tubuhnya dan bergerak di belakangku.

“Badanmu…sakit?”, tanyanya yang kemudian sedikit menaikkan tubuhnya. Ya, dapat kulihat jelas tubuhnya yang bertelanjang dada.

“Uhm…”, jawabku menarik selimut hingga ke dada. Kyaaa!! Bahkan aku masih naked!

“Kalau begitu, akan kubuat tidak sakit lagi.”, dia mulai menciumiku. Mencium bahuku, leherku, pipiku, beralih ke tulang selangkaku, bahkan kini di bibirku.

“Oppa…sudah…mandi saja…sana…”

“Ayo kita mandi berdua.”, ajaknya.

“Isshh! Dasar mesum! Sana mandi sendiri!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Villa ini sangat nyaman.”, ujarnya yang memelukku dari belakang saat aku selca di taman villa ini.

“Oppa, kau mengagetkanku!”, aku berbalik dan melihatnya yang hanya memakai celana selutut dan t-shirt putihnya. Hey! Dia bahkan bertelanjang kaki menghampiriku yang duduk di atas rumput hijau ini.

“Ayo kita berfoto.”, ujarnya.

“Sejak kapan kau suka selca?”

“Ini semua karena kau, sayang. Kau yang menularkannya padaku.”

“Ck! Kau ini….”

Dia kemudian mengambil ponselku dan mengarahkan camera ponsel itu pada kami.

“Eh, waaiit! Smartphone? Ponselmu yang satu lagi mana?”, tanyanya.

“Hehehe, lowbatt, oppa. Aku tidak bawa chargernya. Aku hanya bawa charger ini…”

“Sigh! Kau ini…”, dia kembali mengarahkan camera ponselnya. Awalnya kami hanya saling menempelkan kepala saja, tapi tiba – tiba beberapa detik sebelum camera itu berbunyi, dia mencium pipiku.

“Oppaa~!”

“Hahaa, nice!”, ujarnya saat melihat hasilnya.

“Mau coba yang lebih ekstrim?”, tanyanya.

“Maksudnya?”

“Lihat cameranya..”, aku pun menurut.

“Sudah nih?”

“Iya, ppali!”, ujarku.

Dia kemudian mengalihkan wajahku dan mencium bibirku.

Klik!

“Yaaa!!”, aku mengambil ponselku dan mengacak – acak rambutnya hingga dia berguling di atas rumput hijau. Di daerah ini, aku masih bisa merasakan embun. Rumput di sini agak basah walau pun tidak hujan.

Saat aku mengelitiki perutnya, dia menggamit pinggangku serta hingga aku terjatuh di atas tubuhnya. Sejenak kami terdiam beberapa detik saling menatap. Tapi kemudian, dia membalikkan tubuhku hingga berada di bawahnya dan menciumku kembali.

Aku kemudian menahan dadanya mencegahnya berbuat lebih, karena ini di luar rumah. Meskipun ini di halamannya, tetap saja aku merasa tidak enak.

“Oppa, aku lapar..cari makan yuk!”

“Kajja, aku juga lapar.”

Dengan mobilku yang aku beli di Indonesia, kami pergi.

“Chagi, mobil ini terasa aneh untukku.”

“Kenapa?”

“Pengemudinya di sebelah kanan. Biasanya kan sebelah kiri.”

“Pabbo! Itu kan di luar negeri. Ini kan di negaraku, Indonesia.”

Sepertinya Yi Fan memang sedikit bingung. Saat mau menyalakan lampu sen, justru yang ia nyalakan malah wiper mobil.

“Asshhh…!! Chagii…!!”, aku hanya tertawa kecil.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa…oppa…kita ke situ sebentar.”, ujarku menunjuk sebuah tempat. Warung kecil yang terbuat dari bambu – bambu.

“Ini tempat apa??”

“Sudah belok sajaaa…”, ujarku.

Hhm, untuk berbelok, Yi Fan harus berhati – hati. Karena, tahu sendiri kan, jalanan di Puncak itu berbelok – belok, tanjakan, dan juga turunan. Warung itu juga terletak setelah tikungan. Jadi, cukup menyulitkan.

Piik! Piik! Mobil pun sudah terkunci. Udara sejuk di sini sangat nikmat untuk dihirup. Meskipun memakai sweater, udara di sini masih saja dingin.

“Kau dingin tidak?”, tanyaku.

“Bagaimana menurutmu kalau tanganku seperti ini, eoh?”, dia memegang tanganku dengan telapak tangannya.

“Kau harus minum – minuman ini. Pasti tubuhmu hangat.”, aku menariknya masuk.

“Aww!”, aku langsung menoleh mendengar bunyi itu. Kulihat Yi Fan yang memegangi keningnya.

“Aduuh..oppa…hati – hati dong…”, ujarku mengusap keningnya yang terantuk pintu yang lebih rendah darinya.

“Ibu, bandreknya dua ya..”, aku memesan minuman.

“Kau pesan apa?”

“Bandrek.”, jawabku.

“Apa itu?”

“Minuman jahe..”, jawabku lagi. Aku duduk di dalam warung tersebut.

“Oppa, sini deh.”, aku memanggil Yi Fan ke belakang.

“Kenapa?”

“Lihat itu…”, aku menunjuk arah bawahku dimana kebun teh terhampar.

“What?! Te..tempat ini…tempat ini di pinggir…”

“Keren kan, oppa!”

“Apanya yang keren?! Kalau jatuh bagaimana?? Sigh! Kau ini..”

“Yaa! Tempat ini kuat kok! Dan ini sudah ada sejak aku SMP, oppa!”

“Zhēn de ma (benarkah)?”, aku mengangguk menanggapinya.

“Permisi..ini pesanannya…”

“Terima kasih..”, ucapku mengambil dua gelas itu.

“Coba deh, oppa.”, ujarku memberikan gelas itu pada suamiku.

“Sini duduk.”, ujarku menepuk bangku di sebelahku yang menghadap ke perkebunan teh.

“Kau pintar memilih tempat dan…kau benar..minuman ini enak.”, ujarnya merangkulku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ayo, oppa…kita cari makanan.”

“Kajja…”

Mereka berdua mencari sebuah restaurant. Dan ternyata ada restaurant yang sudah buka jam sepuluh pagi itu.

“Oppa, kita di sini saja ya…”, ujar Kinara.

“Baiklah..”, mereka berdua memilih tempat saung-semacam beberapa bangunan rumah panggung kecil yang umumnya dibangun di atas kolam ikan yang lesehan, yaitu makan sambil duduk di atas tikar. Makanan biasanya disajikan di atas meja rendah, atau kadang diatas tikar.

“Chagia, aku tidak mengerti makanan – makanan di sini…”

“Kau mau makan ayam atau ikan?”, tanya Kinara.

“Ayam juga boleh.”, ujar lelaki berambut blonde.

“Mau ayam bakar atau goreng?”

“Fries.”, ujarnya.

“Nasi timbel ayam gorengnya satu, nasi timbel ayam bakarnya satu juga. Minumnya…”

“Chagi, aku mau jahe yang tadi.”, jawab Yi Fan cepat.

“Oppa, kau mengerti apa yang kukatakan barusan?”

“Maksudmu aku tidak mengerti bahasa Indonesia? Aigoo, chagia!”

“Baiklah, bandreknya 1, dan juice alpukat 1.”, ujar Kinara lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat menunggu makanan, aku melihat kolam ikan di bawah saung. Melihat ikan berenang kesana kemari. Tiba – tiba saja, Yi Fan yang duduk di depanku, meraih kedua tanganku untuk digenggamnya.

“Kenapa?”

“Tidak..hanya ingin memegang tanganmu saja.”, ucapnya yang kemudian mencium tanganku.

“Wo gaoxing ai ni (aku sangat mencintaimu).”

“Oppa…malu ah…di luar…”, ucapku.

“Kau kan istriku…”

“Uhm…tapi kan…”, dia kemudian beralih ke sebelahku. Memelukku, menyandarkanku di dadanya yang bidang. Tiba – tiba dia menciumku. Ommo! Bagaimana bisa dia senekat ini mencium bibirku di tempat umum seperti ini?!

“Oppaa…sudah…hentikaann…”, aku mendorongnya pelan.

“Chagia…setelah ini kemana lagi?”, tanyanya.

“Hhmm…kemana ya?”

“Ke kamar?”, tanyanya. Demi Tuhan! Wajahnya sekarang benar – benar mesuuumm!!

“Isssh! Kau inii..kenapa kamar, kamar, dan kamar? Dasar muka bantal!”, aku mendorong wajahnya.

“Karena aku bersamamu, Nara..”, dia mendekapku dari belakang dan meletakkan dagunya di bahu kananku.

“Permisi..pesanannya..”

Aku langsung mendorong Yi Fan dariku karena aku malu. Kyaaaa!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mana nasinya? Kau bilang tadi nasi…nasi..sambal?”

“Nasi timbel. Kau tidak lihat, itu nasinya?”

“Mana?”

“Yang terbungkus daun itu.”

“Mwo? Ini? Aigoo!”

“Wait..wait..wait! Kau tidak pakai sendok, Na?”, aku menggeleng.

“Susah kalau pakai sendok.”

“Asshh! Asin sekali! Ini apa sih?”, suamiku langsung buru – buru minum.

“Yaa! Itu alpukatku!”, aku menginterupsinya.

“Eoh? Sorry. Habisnya itu asin sekali.”

“Ahahaha…kau makan ikan asin? Ahahaha..pakai nasi, oppa..biar tidak asin! Ahaha…kau terlalu banyak protes sih…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selama seminggu ini aku akan menghabiskan waktu mengunjungi berbagai tempat dengan Yi Fan, suamiku. Seperti Taman Bunga Melrimba, Danau Lido, tempat kami akan bermain perahu bebek,Wisata Agro Kapol, tempat dimana kami akan berburu strawberry, buah kesukaanku.

Dan karena aku juga suka dengan suasana jungle, kami juga akan mengunjungi Pusat Pendidikan Konservasi Alam, Bodogol (PPKW) WW Bodogol. Di sana akan ada Jungle Treaking, Water Fall Track Gazebo, Jembatan Gantung. Pasti seru!

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Liburan di Indonesia selama seminggu pun berakhir. Kinara dan Yi Fan kini tinggal di rumahnya. Semenjak gadis itu menikah, ia meninggalkan Sica eonni dan Taeng eonni. Tapi, bisnis butik mereka tetap berjalan.

Bunyi alarm waker di pagi hari pun memekakkan telinga. Seorang pria berusaha mengambil waker itu dari nakas dekat ranjangnya meski dengan mata terpejam.

“Hhhmm…jam lima…”, gumamnya yang kemudian memeluk erat wanita di sampingnya yang tidur memunggunginya.

“Chagia…”, tidak ada sahutan darinya.

“Chagia…”, pria yang selalu di panggil Kris itu menelusupkan wajahnya ke leher wanita, menggesek – gesekkan hidungnya yang mancung pada bahu wanita itu hingga tidurnya terusik.

“Uhhmm…oppa…kenapa?”, tanyanya meraih tangan yang melingkar di perutnya.

“Sudah jam lima….”, ujar lelaki itu dengan mata terpejam. Sepertinya ia masih malas untuk membuka kelopak matanya karena semalam ia pulang larut malam demi membayar kerjaannya yang menumpuk saat bulan madu.

“Uhm? Benarkah?”, tanyanya lagi yang kemudian berbalik badan menghadap suaminya.

“Ne..lihat saja di waker..”, jawabnya bergumam.

“Ne…”, jawab wanita itu kemudian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kasihan sekali suamiku ini. Dia masih mengantuk sekali. Hhh..dia memang tipe workaholic, jadinya seperti ini. Dia pulang larut malam mengerjakan kerjaannya di kantor, lalu berangkat pagi – pagi sekali. Hanya simple alasannya, dia tidak mau di cap sebagai atasan tidak bertanggung jawab.

“Sekali ini saja, kubiarkan dia tidur satu jam lagi. Akan kubangunkan nanti jam enam.”, batinku mengusap wajahnya yang tengah tertidur pulas. Aku pun mencium keningnya sebelum aku mandi dan memasak di dapur. Kurapikan kembali selimutnya dan bantalnya agar dia bisa tidur dengan nyaman.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nah! Selesai!”, aku merapikan makanan yang sudah kumasak di meja makan. Jam enam lewat lima menit. Aku akan membangunkannya.

Aku pun membuka pintu kamar dengan hati – hati agar tidak berisik. Karena Yi Fan terkadang pusing jika ia bangun tiba – tiba. Aku pun membuka gordyn jendela, dan beranjak duduk di tepi ranjang kami.

“Oppa…”, dia masih tertidur karena dengkurannya terdengar olehku.

“Oppa….ayo bangun…”, aku mengusap pipinya.

“Oppa…”, aku kali ini menepuk pipinya pelan.

“Hhng..?”

“Ayo bangun..kau harus ke kantor kan?”

“Ne, chagi…”, dia kemudian berbalik badan. Issh..dia malah tidur lagi. Tapi, kasihan juga sih…pasti tidurnya kurang. Aku tidak mau matanya dia nanti akan seperti Tao!

“Oppa..ayo bangun..”, aku berbisik di telinganya.

“Chagia, geli…”, dia menutup telinganya dan berbalik padaku. Dipeluknya pinggangku yang terduduk di sampingnya. Dan kini malah ia memindahkan kepalanya di pangkuanku.

“Ayo bangun. Sudah jam enam lewat loh, oppa..”, aku menelusuri wajahnya berharap ia bangun.

“Mataku berat sekali, chagia…”, dia mengambil tanganku dari wajahnya dan mendekapnya erat.

“Cuti dulu ya..aku takut kau sakit..”

“Aaah..tidak…tidak..”, dia kemudian perlahan membuka matanya dan sedikit merenggangkan ototnya. Aku berinisiatif untuk memijat bahunya.

“Aaah..chagi..kau belajar memijat dari mana? Enak sekali pijatanmu.”

“Ck! Kau ini..sudah, sana mandi..”, ujarnya kemudian.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat Kinara beranjak dari ranjangnya, dengan cepat lelaki itu menahan tangan istrinya, “Cium dulu..”, ujarnya merajuk seperti anak kecil yang meminta permennya.

“Oppa, nanti kau terlambat..”

“Aku tahu…tapi cium aku dulu.”, ujarnya kemudian menahan pintu lemarinya saat Kinara ingin menyiapkan baju untuknya kantor.

“Yi Fan oppa..nanti kau semakin terlambat.”, lelaki itu tidak bergeming dan masih menunggu istrinya.

“Hhh..dasar pemaksa!”, ujarnya yang kemudian berjinjit untuk mencium bibir suaminya.

“Baiklah…kalau begitu, aku akan mandi.”

Saat suaminya mandi, Kinara menyiapkan bajunya juga sarapannya. Sewaktu menuangkan orange juice untuk suaminya, lelaki bertubuh tinggi itu keluar sudah rapi, namun masih belum memakai dasinya. Terlihat ia keluar sambil mengancingkan lengan kemejanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ayo makan.”, ujarku.

“Hhm..kelihatannya enak.”, dia kemudian meminum orange juicenya.

“Na, nanti malam aku…”

“Oppa mau lembur lagi?”, sahutku cepat.

“Ya..kau…apa kau mau ke tempat noona mu?”

“Tidak usah..aku di rumah saja, oppa.”, jawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selesai sarapan, aku kembali ke kamar berniat mengambil dasi suamiku. Tapi ternyata dia ikut masuk. Dan aku memasangkan dasinya walaupun aku harus naik ke ranjangku untuk menyamakan tinggiku dengannya. Ah, tidak! Kini aku lebih tinggi beberapa senti darinya. Hahaha.

“Kau tidak apa – apa sendirian di rumah?”

“I’m okay, oppa…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Wo ai ni…”, ujar Kris merengkuh wajah istrinya yang kini lebih tinggi darinya karena berdiri di atas tempat tidurnya.

Kinara hanya mengalungkan tangannya pada leher suaminya dan mencium keningnya.

“Kiss me, here..”, Kris menunjuk bibirnya. Kinara pun hanya mengecup singkat suaminya.

Wanita itu pun mengantar suaminya ke depan, melambaikan tangannya pada lelaki yang dicintainya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Waktu tak terasa berputar cepat. Usia pernikahan mereka kini menginjak tepat satu tahun. Namun, anak pun mereka belum punya. Tidak ada yang spesial diantara mereka. Bahkan saat anniversary pun Kris tampak sibuk dan hampir melupakan tanggal penting itu. Dia hanya memberi selamat bagi Kinara dan menciumnya. Kinara yang bosan di rumah, dia mulai mengerjakan hal lain di luar butiknya.

“Eonni..aku mau dong tawaran model itu.”, ujar Kinara yang menelpon Jessica. Wanita yang sudah berteman dengannya beberapa tahun lalu, saat dimana munculnya makhluk dari bawah laut. Wanita itu juga sudah dianggapnya seperti kakaknya sendiri.

“Mwo?? Yang benar? Nanti Kris…?”

“Kalau Yi Fan, biar aku yang mengurusnya.”

“Kau bertengkar dengannya?”

“Anni, eonni…aku akan ke tempatmu besok. Besok kau ada pemotretan kan?”

“Ne..kau hanya boleh datang kalau Kris sudah mengizinkanmu. Arraseo?”

“Arra.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kudengar mobilnya datang. Aku pun menyambutnya. Dia terlihat lelah sekali saat turun dari mobilnya.

“Sudah pulang..”, sapaku.

“Ne..”, dia kemudian mencium keningku. Memang ini biasa dilakukan. Tapi entah kenapa hubungan kami terasa hambar. Apa karena belum memiliki anak? Pikiran itu selalu menjadi ganjalan bagiku.

“Oppa, kau mau mandi ya? Kusiapkan airnya ya…”

“Tidak usah…aku saja..kau istirahat saja.”, ujarnya.

Apa dia marah denganku karena kami belum memiliki anak? Apa dia memiliki…tidak..tidak! Aku tidak boleh memikirkan yang aneh – aneh.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selesai mandi, kulihat dia langsung naik ke ranjangnya. Apa dia tidak makan?

“Oppa, kau tidak makan?”

“Aku sudah makan di luar.”, aku kecewa mendengarnya. Benar – benar kecewa. Apa dia tidak mau makan masakanku lagi?

Aku pun ke ruang makan, membereskan semuanya. Semua makanan yang ada harus berakhir di kulkas untuk dipanaskan esok harinya di microwave.

“Oppa…makananku tidak enak lagi ya?”, tanyaku.

“Tidak…aku benar sudah makan di luar tadi..mianhae..”

“Ne..gwaenchana..”

“Uhm…oppa, aku…aku boleh melakukan hal lain selain di rumah?”

“Mwo?”, tanyanya.

“Aku mau mencoba dunia modelling bersama Sica eonni…boleh tidak?”

“Tidak.”, jawabnya cepat.

“Waee?? Aku bosan di rumah terus oppa..aku janji akan tetap mengurus rumah seperti biasa deh.”, dia hanya membisu.

“Lagi pula..kau juga selalu pulang larut malam..”, sambungku.

“Sesukamu lah.”, ujarnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kinar! Kau benar – benar ke sini..Kris mengizinkanmu?”, tanya Sica eonni pagi ini. Aku mengangguk.

Dan bersama Sica eonni, aku akhirnya bisa menjalani aktifitas baruku, di dunia modelling. Dan ternyata, aku bertemu dengan Kwangmin dan Youngmin juga. Karena ada satu wardrobe yang sama – sama kami pakai.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa bulan kemudian, tiba – tiba saja banyak berbagai merk baju yang ingin memakaiku sebagai modelnya. Dan aku tidak menyangka kalau jadwalku semakin padat. Masyarakat juga banyak yang mulai mengenalku. Oleh Sica eonni, aku dimasukkan ke dalam manajemen yang sama dengannya. Ini untuk memudahkanku menerima atau menolak pekerjaan. Tapi, ada satu persyaratan dari manajemen. Status pernikahanku harus disembunyikan. Publik tidak boleh tahu soal ini. Aku merasa bersalah karena aku harus tidak mengakui Yi Fan sebagai suamiku.

Gawatnya, aku kini pulang terlambat ke rumah! Aku pulang lebih malam dari Yi Fan, suamiku. Hyaaa!! Mobilnya sudah adaa!!

“Dari mana saja kau? Ponsel tidak aktif, kau juga tidak mengurus keperluanku!”

“Mianhae, oppa…ponselku mati..”, aku menunduk lesu menunjukkan ponselku yang mati.

“Sigh! Kau ini!”, dia kemudian masuk ke kamar.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku mau kau berhenti dari karirmu.”, Kinara melebarkan kelopak matanya.

“Wa..wae??? Aku bahkan baru…”

“Aku tidak mau tahu! Kau harus berhenti!”

“Oppa kan sudah mengizinkan aku…aku masih ada kontrak, oppa…masih tiga bulan lagi…”

“Putuskan kontrak itu.”

“Oppa…kenapa kau melarangku?”

“Karena kau tidak becus mengurus rumah! Mana janjimu untuk mengurus rumah, eoh? Semakin kau kerja, kau semakin sibuk dan tidak ada waktu mengurus rumah!”, entah kenapa Kris merasa emosinya tersulut.

“Aku tidak mau! Aku mau berhenti setelah kontrakku habis.”

“Nara!”

“O..oppa…kau…kenapa membentakku?”

“Ck!”, Kris hanya berdecak kesal dan tidur.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Seperti biasa, setelah Kris ke kantor, setelah itu aku ke tempat pemotretan baru hari ini di pantai. Kali ini aku akan dipasangkan dengan model pria di outdoor.

“Annyeonghaseyo…hhm..apa di sini lokasi pemotretan untuk majalah fashion itu?”, tanya seorang pria.

“Ne..benar..”

“Ruang gantinya dimana?”

“Oh, ada di van itu…”

Aku pun di make up oleh stylist dan rambutku pun ditata olehnya. Tiba – tiba lelaki yang tadi kini duduk di sebelahku. Rambutnya pun ditata oleh stylistnya.

“Oo? Kita bertemu lagi…”, ujarnya padaku melalui pantulan cermin di hadapan kami. Aku hanya tersenyum menanggapinya.

“Jangan – jangan kau pasanganku ya?”

“Hng?”

“Chundoong imnida..Park Chundoong.”, ujarnya memperkenalkan diri.

“Kinara..Kinara Lyvia..”, ujarku.

“Rasanya…aku pernah melihatmu..tapi dimana ya?”, ujarnya yang terlihat berpikir. Huwaa!! Jangan sampai ia tahu aku yang sebenarnya!

“Perasaanmu saja, mungkin..”, jawabku.

“Kinara…Kinara… Kau bukan orang Korea?”

“Bukan..I’m Indonesian.”

“Tapi kau cantik.”, pujinya.

“Gamsahamnida…”, jawabku. Pujian itu sekarang mulai jarang diucapkan Yi Fan. Aku rindu dengannya.

“Kau masih kuliah?”

“Tidak..aku sudah selesai..”, jawabku.

“Bahasa Koreamu sangat lancar, kau sudah lama tinggal di Seoul?”

“Ne…”, jawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Mereke berdua pemotretan untuk baju musim panas tahun ini. Mereka harus berpose layaknya seperti seorang kekasih.

“Yi Fan, mianhae…”, batin Kinara.

“Lebih dekat lagi, Kinar, Chundoong.”, sang fotografer mengarahkan pose pada mereka.

Sementara itu, di kantornya, diam – diam Kris memantau kegiatan istrinya.

“Mwo?!!! Apa – apaan ini??!!”, Kris merasa emosi melihat foto istrinya dipeluk bahkan digendong oleh lelaki lain.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau kenapa, Kinara? Seperti ada masalah berat yang kau hadapi..”, Chundoong kembali mendekatiku tiap kali aku berusaha menghindarinya.

“Eopseo..”, jawabku.

“Hey, kita bekerja di satu bidang yang sama, di hari dan jam yang sama. Kalau kau ekspresinya tidak bagus, kau juga yang hancur, Kinara. Kau kenapa?”, dia kini menggenggam tanganku.

“Anni…gwaenchana..”, ujarku berusaha melepaskan tangannya. Seandainya saja tiap orang boleh tahu kalau aku sudah memiliki suami, aku akan beritahu lelaki yang dihadapanku ini!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku tahu kau memiliki masalah, Kinara. Setidaknya kau curahkan itu pada orang lain. Jangan memendamnya.”, Chundoong masih menggenggam tangan wanita berambut panjang bergelombang itu.

“Ge..geundae aku…”

Grep! Lelaki itu kini memeluk Kinara, “Menangislah jika kau mau…”

“Bagaimana bisa dia menebakku? Sejujurnya aku memang ingin menangis saat ini…”, batin gadis itu.

Tanpa disadari mereka berdua, ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dengan tatapan geram.

Tiba – tiba…

Sreett!! BUAGH!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kyaaa!! Oppa!!”

Chundoong pun tersungkur ke tanah. Dengan heran dia melihat siapa yang menghajarnya. Seorang pria berambut blonde dengan postur tinggi tegap berdiri dengan menatapnya marah.

“JANGAN PERNAH KAU DEKATI DIA!!”

“Huh! Memangnya siapa kau, huh?!”, balas Chundoong yang kemudian berdiri dan menghapus darah yang keluar dari sudut bibirnya.

“DIA ISTRIKU!!!”, bentak Kris dan menarik tangan istrinya, tidak peduli wanita itu berkali – kali tersandung.

“Huh! Istri? Sejak kapan Kinara menikah, eoh?!!”, ucapan Chundoong menghentikan langkah mereka berdua.

Kris hanya menatap sinis, “Ini! Lihat ini! Dan juga ini!!”, Kris menunjukkan cincin yang melingkar di jarinya, juga jari Kinara.

“O..op..oppa…pemotretannya..”, lelaki itu tetap diam tidak menyahut dan kini memasukkan gadis yang tengah memakai gaun untuk pemotretan itu ke dalam mobilnya yang segera ia lajukan menuju rumahnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Istri? Kinara sudah menikah?”

“Chundoong-ssi, mana Kinara? Ommoo!! Kenapa wajahmu?”, salah satu crew menghampirinya.

“Dia ada urusan mendadak. Dan gaun untuk pemotretannya, masih ia kenakan.”

Dan akhirnya pemotretan untuk sementara dihentikan karena Kinara yang pergi.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku hanya bisa menangis tertunduk saat Yi Fan membawaku pulang. Tidak seharusnya aku seperti ini…hiks…hiks..

Mobil pun telah terparkir di garasi rumah. Ia segera keluar meninggalkanku di mobil.

BRAK! Pintu mobil ia tutup dengan keras. Aku pun langsung menyusulnya ke dalam rumah dengan sedikit menjinjing gaunku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Lelaki itu melonggarkan ikatan dasinya, mepasnya dan membuka kancing atas kemejanya. Menghempaskan dirinya di atas ranjangnya sore itu walau pun dengan kaki yang masih menggantung ke lantai. Menatap langit – langit kamarnya dan kemudian mengusap wajahnya dengan kedua tangannya, berusaha menenangkan dirinya.

Cklek! Pintu kamarnya pun dibuka. Tanpa melihatnya, lelaki itu tahu siapa yang masuk. Istrinya.

“Oppa…mianhae…”, ucapnya terisak. Lelaki itu kemudian merubah posisinya untuk duduk di tepi ranjang.

“KENAPA KAU TIDAK MENGAKUI PERNIKAHAN KITA, EOH??!!”, bentak Kris yang kemudian berdiri di hadapan istrinya.

Kinara tidak bisa berkata apa – apa karena ia sadar kalau sikapnya salah. Dia hanya menunduk terisak. Demi menghilangkan rasa bosannya, ia mencari aktifitas di luar sebagai model, namun dengan status pernikahan yang disembunyikan.

“APA YANG KAU INGINKAN, EOH??!!! MENGHABISKAN WAKTU BERDUA DENGAN PRIA TADI??!!”

“Annio…oppa…aku..hiks…aku tahu…hiks..aku salah..hiks..hiks..”, jawabnya dengan air mata yang mengalir.

“AKU SUDAH MELARANGMU!! DAN KAU TIDAK MENURUTINYA!!”

“Ooh! Aku tahu! Kau ingin berselingkuh di tengah – tengah kesibukan kan?!”, tuding Kris.

“Annii! Aku tidak berselingkuh, oppa..”, ujar Kinara.

“Huh! Itu alasanmu kan? Kau bisa seperti ini saat aku sibuk, hah? Kelakuanmu..”

PLAK!! Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri lelaki itu.

“Aku tahu aku salah, oppa…tapi tidak ada sedikit pun niatan aku untuk berselingkuh di belakangmu!”, Kinara menatap lelaki itu dengan kecewa. Hatinya sakit setelah seorang yang dicintainya menudingnya berselingkuh di belakangnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau mau kemana?”, tidak kuhiraukan ucapannya. Aku tidak peduli dengan wajahku yang dengan riasan berantakan. Aku mengambil tissue dan menghapus semuanya. Lalu aku kembali lagi mengambil baju – bajuku.

“YAAA!! AKU BICARA PADAMU, NARA!!”, dia menutup pintu lemari dengan kasar dan nyaris membuatku terjepit.

“Tidak ada urusannya denganmu!”, aku menyeka air mataku dan mendorongnya.

Aku sudah tidak bisa berpikir lagi. Kalau mau hancur, hancurlah semuanya! Aku kembali membawa koperku dan menyeretnya.

“KAU MAU PERGI??!! PERGILAH SESUKAMU!!!”, ucapan itu menghentikan langkahku sejenak.

Aku hanya bisa menggigit bibirku menahan tangisku yang seakan – akan meledak. Lihat, bahkan dia tidak mencegahku kan? Mungkin di matanya aku sudah tidak berguna lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“AAAAARRRGGHH!!!”

PRANG!!

Lelaki itu mengamuk setelah melihat istrinya pergi.

“Kau laki – laki paling tolol di muka bumi ini, Yi Fan!!!”, umpatnya kesal.

“Dengan mudahnya kau mengatakan kata ‘pergi’ padanya. Laki – laki apa kau?!!!!”, batinya lagi.

Pria itu mencoba menelpon istrinya. Namun usahanya sia – sia. Ponselnya tertinggal di kamarnya. Di atas meja riasnya.

Setelah terdiam beberapa saat, dia kemudian menyambar kunci mobilnya dan menjalankan mobilnya menyusuri jalan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku harus kemana? Ke rumah Sica eonni dan Taeng eonni? Tidak mungkin…ah! Dompetku juga tertinggal…bagaimana ini?

“Menyedihkan sekali kau, Kinara!”, batinku.

Di sana sepertinya ada taman kecil. Apa aku di sana saja untuk malam ini? Semoga saja alergi malamku tidak kumat.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nara….dimana kau…”, batin Kris yang sudah mencari sekeliling kompleks perumahannya, juga jalanan besar yang dilalui transportasi umum. Bahkan beberapa shelter, stasiun, juga bandara, sudah dia datangi. Tapi, tetap tidak menemukan keberadaan istrinya.

“Nara….mianhae…jeongmal mianhae…”, batin lelaki itu memukul setir mobilnya.

Lelaki itu terus melajukan mobilnya. Merasa frustasi karena tidak kunjung menemukan wanita yang dicarinya, ia menghentikan mobilnya. Menyandarkan kepalanya pada sandaran kursinya, memejamkan kedua matanya, juga menghembuskan napasnya perlahan.

“Bagaimana kalau alerginya kambuh? Bagaimana kalau sampai ia pingsan?”, berbagai pikiran negatif terlintas di benak lelaki itu. Karena menurutnya, Kinara tidak diperbolehkan untuk berada di udara malam tanpa obat alerginya.

“Nara…”, lelaki itu berkali – kali membenturkan kepalanya ke belakang, pada sandaran jok mobilnya.

Tiba – tiba kedua matanya menangkap sosok yang tak asing baginya. Ia segera mengambil jaketnya di kursi belakang mobilnya, dan membuka savety belt mobilnya.

Piik! Piik! Mobil itu sudah terkunci.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku sudah benar – benar mengantuk. Aku sudah tidak peduli dengan tempat, dan bagaimana aku akan tidur. Saat aku benar – benar akan menjelajahi alam mimpiku, tiba – tiba aku merasa punggungku menghangat dan terasa ada sesuatu yang menempel di kedua bahuku juga berat.

Aku kembali terjaga dan menoleh ke belakangku. Aku langsung berdiri ketika melihat Yi Fan yang berada di belakangku, memelukku yang tengah terduduk di bangku yang terbuat dari semen di taman ini. Dengan kaget, aku mendorongnya menjauhiku.

“Kajjima…”, ujarnya menahan tanganku.

Aku berbalik dan kembali mendorongnya berusaha melepaskan tanganku.

“Lepaskaan!! Lepaskan akuuu!!”, tapi tangannya semakin menggenggam pergelangan tanganku erat.

“Lepaskaaann!!!”

“Tidak!”

“Apa maumu, eoh?! Aku sudah pergi darimu! Kenapa kau kembali mencariku?! Aku tidak mau menemuimu! Lepaasss!!!”

Sekilas, aku melihatnya menatapku dengan mengiba. Seorang Wu Yi Fan bisa seperti ini?

“Mianhae…jeongmal mianhae, Nara-ya…”, dia masih menggenggam tanganku meski pun aku meronta minta dilepaskannya.

Tiba – tiba saja kepalaku terasa berputar. Aku berusaha menjaga keseimbanganku. Oh Tuhan, ada apa denganku?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nara…maafkan aku…”, berkali – kali kata itu terucap dari Kris yang saat ini menjaga Kinara, istrinya di rumah sakit. Tangannya tidak terlepas dari tangan istrinya yang kini terpasang selang infuse.

“Aku mengkhawatirkanmu, Na…bangunlah..ada yang harus kusampaikan padamu…”, batinnya sambil merapikan rambut istrinya dan mengecup keningnya.

Karena kelelahan, lelaki itu tertidur dalam posisi terduduk dengan kepala yang direbahkannya di tepi tempat tidur rumah sakit. Tangannya masih menggenggam tangan istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku terbangun karena mencium aroma obat – obatan. Aku membuka kelopak mataku dan mendapati Yi Fan tertidur dengan tangan yang menggenggam tanganku.

Air mataku mendesak keluar saat melihatnya tertidur seperti ini. Tuhan…aku masih mencintainya..aku tidak mau berpisah dengannya…

Tiba – tiba ia terbangun. Aku segera menghapus air mataku. Mungkin ia terbangun karena mendengarku menangis? Entahlah. Kuharap tidak.

“Nara…kau sudah bangun, chagia..”, aku rindu dengan panggilan itu. Rasanya bahagia sekali bisa mendengar kalimat itu lagi darinya.

“Chagia…mianhae…maafkan aku karena aku membentakmu..”

“Ne..oppa…”, lirihku. Dengan mudahnya aku mengeluarkan kalimat itu karena aku masih mencintainya.

Dia tersenyum padaku dan menciumku, juga menciumi tanganku berkali – kali.

“Kau mau memulainya dari awal? Kita tutup itu semua, dan kita buka lembaran baru lagi.”

“Dengan aegi kita…”, tambahnya. Aegi dia bilang?

“A…e..gi..?”, ulangku dengan mengejanya.

“Ne…kau hamil, Nara..”

Hamil? Aku hamil?? Benarkah itu? Jika ini mimpi, aku berharap waktu akan berhenti sampai di sini saja.

“Nara..? Kau tidak senang dengan kehamilanmu?”, raut wajahnya terlihat kecewa.

“Apa…aku..bermimpi..?”

“Nara…kau tidak bermimpi, chagia..”, dia mencium punggung tanganku.

Sepertinya, mimpi ini terlalu nyata bagiku. Atau aku mengalami de ja vu?

“Kau masih tidak percaya kalau ini bukan mimpi?”, tanyanya.

Tak lama kemudian dia bangkit dari duduknya dan berdiri di sisiku. Sambil tetap menggenggam tanganku, dia mendekatkan wajahnya padaku dan mencium bibirku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Air matanya tidak terkontrol lagi. Keduanya keluar dari kedua pelupuk matanya, mengaliri sudut matanya dan menetes ke sisi kiri kanannya.

“Chagia, uljimma…”, lelaki itu menghapus air matanya.

Wanita yang kini bermarga Wu setelah menikah itu pun ingin duduk. Ia dibantu oleh suaminya sendiri, meski pun ia bisa melakukannya sendiri.

“Oppa…hiks..hiks…boleh aku…memelukmu?”, kedua tangan lelaki itu pun terbuka lebar untuk wanita di hadapannya.

“Peluk aku selama yang kau mau..”, bisik Kris pada Kinara yang kini dipeluknya.

“Tapi…”, Kris menggantungkan kalimatnya dan membuat Kinara melepas pelukannya.

“Jangan memelukku sambil menangis. Aku tidak suka. Karena…”, lagi. Dia menggantungkan kalimatnya.

“Mwo?”, Kinara bertanya dengan ragu.

“Kau jelek…kalau menangis.”, ujarnya lagi menghapus air mata gadis itu dengan ibu jarinya dan mengecup bibir istrinya.

“Yaahh~”, Kinara menepuk paha suaminya dengan kesal.

“Assh..sakit, chagia…”, tangisnya kini berganti dengan tawa saat melihat Kris merajuk padanya. Kinara kemudian memeluk suaminya dan membenamkan wajahnya pada dada suaminya yang bidang.

“Kau bertingkah manja, atau mau mengotori bajuku dengan ingusmu itu, hhm?”

“Oppa~ aku tidak sejorok itu!”, ujarnya mencubit pinggang Kris.

“Ouh! Kau berani mencubitku, chagia?”, dia melepaskan pelukannya dan mengangkat wajah Kinara dengan telunjuknya. Menempelkan keningnya dengan kening istrinya.

“Apa kalau seperti ini, kau masih berani mencubitku, euhm?”, tanyanya lagi sambil menggesek – gesekkan hidungnya pada hidung Kinara. Seulas senyum tercipta dari bibir tipis istrinya yang terlihat menggoda bagi Kris untuk kembali menciumnya.

“Masih berani, euhm?”, tanyanya lagi setelah mencium Kinara. Lelaki itu kembali menciumnya, bahkan kini ia menggigit pelan bibir bawah istrinya, “Masih berani mencubitku?”

“Oppa..ini rumah sakit…”

“So? By the way, bibirmu sedikit kering. Mau kubasahi?”, tanyanya dengan senyum seduktif.

“Annioo..kau mesum!”, Kinara mendorong tubuh Kris menjauhinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Besok nyonya Wu sudah boleh pulang..tapi, ingat, jaga kandunganmu.”, ujar uisa-nim padaku dan Yi Fan yang menemaniku.

“Ne…gamsahamnida, uisa-nim..”, ucap Yi Fan padanya sambil mengantarnya keluar.

“Oppa…aku..aku..aku…”, aku ragu untuk kembali membicarakan masalah ini.

“Waeyo, euhm?”, ucapnya membelai kepalaku.

“Ta…tapi..kau..jangan marah…”

“Kenapa harus marah? Katakan saja…”, ujarnya lagi.

“A..ak..aku..kau…mau menemaniku? Aku..aku mau mengundurkan diri dari manajemen itu, dan aku ingin berhenti. Kau mau menemaniku ke sana?”

“Kau yakin? Aku tidak akan memaksamu kali ini.”

“Uhm..aku yakin, oppa…”

“Baiklah..aku akan mengantarmu..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa hari kemudian, setelah Kinara keluar rumah sakit, Kris mengantarnya ke kantor manajemennya. Pihak manajemen terkejut setengah mati mendengar keinginan Kinara untuk berhenti. Pasalnya, karir wanita itu sedang berada di puncaknya.

“Aku hamil. Jadi, aku tidak mungkin melanjutkannya. Dan juga…aku ingin berada di rumah, untuk suamiku.”

“Kalau begitu, baiklah..dan kau, harus mengadakan konferensi pers sekarang juga. Bawa serta suamimu.”

“Ne…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa…mau kan?? Sekali ini saja..kau harus muncul lagi di media…”, rajukku.

“Oh, astaga..kau tahu, kita pasti nantinya akan memiliki status yang sama seperti Kyuhyun hyung dan Keiko.”, ujarnya.

“Mwo?”, tanyaku.

“Super hero’s couple. Arraseo? Kau tahu kan wajah kita sudah di kenal di mana – mana. Dan kita…sama – sama menghilang dari perburuan media. Lalu tiba – tiba kau muncul lagi dalam keadaan kau hamil, dan juga pernikahan kita yang diam – diam? Astaga, Naraaa~~~”, dia memijat pelipisnya.

“Hhmfft..fu..fu..fuahaha..oops!”, aku kelepasan tertawa di tempat umum. Super hero’s couple katanya. Kkkk..istilah itu membuatku geli!

“Ayolah oppa…sekali iniiiiii saja…”

“Baiklah, jam berapa?”

“Nanti sore, oppa.”

“Well, ayo kita makan dulu.”, ajaknya. Aku mengangguk setuju dan sedikit berlari kecil.

“Yaah! Jangan berlarian. Kau kan tahu, kau hamil.”

“Arraseo, oppa.”, ujarku sambil berjinjit dan bertumpu pada bahunya untuk mencium pipinya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kinara..?”

“Chu..Chun..Chundoong..”

Lelaki itu kemudian menatap lelaki jangkung berambut blonde di sebelah wanita yang bernama Kinara itu. Kris pun menghampirinya.

“O…oh astaga! Apa mereka akan berkelahi lagi?!”, batin Kinara takut.

Tapi ternyata Kris mengulurkan tangannya mengajaknya bersalaman, “Aku minta maaf soal tempo hari.”, ujarnya yang terlihat ‘gentle’. Chundoong pun menyambutnya dengan ramah. Tapi kemudian…

BUAGH!! Tinjuan dilayangkan dari pria bermarga Park itu pada Kris hingga ia terjerembab. Sudut bibirnya mengeluarkan darah.

“Kyaaaa!!”, Kinara hanya bisa berteriak berlari pada suaminya.

“Permintaan maaf diterima. Dan itu, balasan karena kau telah merusak aset terpenting dalam hidupku tempo hari.”, ujar Chundoong mengulurkan tangan untuk membantu Kris berdiri.

“Huh! Gomawo, hyung.”, jawab Kris menyambut tangan Chundoong yang terulur membantunya.

“Ne..berbahagialah dengannya, dan jaga dia.”, ujar Chundoong lagi yang kemudian berlalu.

“Chundoong-ssi…”, panggil Kinara. Lelaki itu pun menghentikan langkahnya tanpa menoleh.

“Mianhamnida…”, ujar Kinara.

Lelaki itu pun kemudian mengibaskan tangannya menandakan dia tidak mempermasalahkannya sebelum pergi meninggalkan tempat itu.

“Semoga kalian bahagia. Selamat tinggal, Kinara…”, batinnya yang jalan berlawanan arah dengan pasangan itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kilatan flash light, microphone yang sudah berjejer rapi di hadapanku, kamera yang siap meliput kami, sudah berada di hadapanku. Tepat jam dua siang ini aku mengadakan konferensi pers.

Di sebelah kiriku sudah duduk suamiku, Yi Fan, yang tentunya membuat pertanyaan besar bagi mereka. Di sebelah kananku ada managerku yang sebentar lagi publik akan tahu kalau ia hanya mantan managerku. Di sebelahnya lagi ada Jessica eonni karena secara tidak langsung dia terlibat dalam masalahku. Dan di sebelah suamiku, terdapat pemilik manajemen tempatku bernaung.

Aku pun menarik napasku panjang, dan membuangnya perlahan. Di balik meja, Yi Fan menggenggam tanganku seolah memberikanku ketenangan. Mungkin wajahku sudah menjadi tegang sekarang. Aku mengalihkan pandanganku padanya. Dan dia menatapku kembali seolah bicara dengan kedua matanya, ‘Semua akan baik – baik saja.’

Pemilik manajemenku membuka konferensi pers kali ini, “Maksud kami memanggil kalian semua ke sini, adalah untuk menginformasikan berita tentang Kinara. Seperti yang kalian ketahui, desas – desus tentang sudah menikahnya Kinara, telah beredar luas. Untuk itu, Kinara akan menjelaskan dan meluruskan masalah ini.”, keheningan pun semakin menjadi saat sajangnim secara tidak langsung, mempersilahkan aku berbicara.

Aku pun kembali menarik napasku panjang, “Aku, Kinara Lyvia…mengakui kebenaran berita itu.”, ujarku. Sontak saja semakin banyak flash light menerpa wajahku. Semakin banyak para wartawan yang berebutan bertanya padaku.

“Tenang…tenang..semuanya tenang! Kinara akan menjelaskan semuanya dan kami akan memberikan kesempatan kalian bertanya.”, ujar managerku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku minta maaf dengan kalian semua…terutama untuk penggemarku yang telah kutipu. Bagi sebagian orang, wajahku tidak asing. Aku adalah orang yang terlibat dalam misi penghancuran Akrid bersama lelaki di sebelah kiriku ini, dan juga Jessica eonni. Aku…sudah menikah dengannya, setahun silam. Dengan lelaki yang akrab dipanggil Kris ini. Dan aku…bisa berada di dunia modelling berkat Sica eonni. Memang dia yang menawarkanku pekerjaan ini. Setelah aku berdiskusi dengan suamiku, ia mengizinkannya. Aku pun mulai bekerja di sini. Namun, karena suatu hal, aku harus merahasiakan status pernikahanku dari kalian semua. Dan aku mulai bekerja dengan status ‘single’ pada diriku. Aku…minta maaf pada kalian semua…aku minta maaf….”, ujar Kinara yang beranjak dari kursinya dan berdiri dengan membungkuk dalam pada media.

“Jangan menangis…jangan menangis…ini salahmu, Kinara. Kau tidak pantas menangis.”, batin wanita itu. Setelah beberapa detik kemudian, wanita itu mengangkat badannya, dan kembali duduk dengan wajah tertunduk. Sebagian rambutnya menutupi wajahnya.

Kris menyadari istrinya tengah menahan tangis. Dia meminta tissue pada crew untuk istrinya. Diberikannya tissue itu sambil berbisik, “Jangan menangis di sini, chagia…”

Sesi pertanyaan pun dibuka untuk para wartawan. Dan langsung ditujukan untuk Jessica, “Jessica-ssi, kenapa anda membantunya mengambil pekerjaan ini? Padahal kita semua tahu, kalau Kris-ssi adalah orang yang mapan. Tanpa Kinara-ssi bekerja pun dia bisa membiayai kehidupannya dengan sangat layak.”

“Itu karena dia hanya ingin mencari aktifitas di luar rumah. Dia mudah sekali bosan. Dan senang untuk mengeksplor dunia baru. Karena itu, aku mencoba menawarkan ini padanya. Dan aku juga memberikan persyaratan pada Kinar. Dia boleh ikut aku, asalkan sudah mendapatkan izin dari suaminya, Kris.”, tutur Jessica.

Pertanyaan berikutnya diberikan untuk Kris, “Kris-ssi, apa anda tidak marah ketika anda tahu kalau istri anda menyembunyikan status pernikahan kalian dari publik? Bukankah itu berarti anda membebaskan istri anda dekat dengan lelaki lain?”, pertanyaan itu benar – benar menohok bagi lelaki berwajah tegas itu. Karena sebelumnya, ia bertengkar dengan Kinara karena lelaki lain.

“Aku mempercayainya. Kalau kalian berpikir, apakah aku cemburu atau tidak? Jawabannya jelas aku cemburu. Tapi aku percaya padanya, karena aku mencintainya. Lagi pula, kami tidak akan terpisah karena Nara sedang mengandung. Anak kami yang pertama.”, ujar Kris.

“Mengandung? Kinara-ssi, apa kau akan melanjutkan karirmu atau bagaimana, Kinara-ssi?”

“Karena aku mengandung, dan kupikir aku pasti akan sibuk dengan anak kami, maka aku….memutuskan untuk mengakhiri karirku.”

“Berhenti? Apa anda tidak sayang dengan karirmu yang sudah cemerlang ini?”

“Annio. Aku memulainya dengan kebohongan. Itu tidak baik. Lebih baik diakhiri semuanya.”, jawab Kinara.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Selesai konferensi pers, Kinara menangis pada Kris, suaminya.

“Oppa, aku salah ya??”

“Annio, kau sudah benar kok..”, ucapnya seraya mengusap kepala wanita itu.

“Lebih baik, kau bercermin sana. Wajahmu jelek sekali!”

“Oppaa~~”

“Ppali. Aku tunggu di sini. Depan toilet.”, ujarnya lagi.

Sambil menunggu istrinya, Kris membuka tabletnya dan menghubungkannya ke dunia maya. Dia melihat cyber news sore ini. Lelaki itu sungguh terkejut melihat headline news sore itu. ‘SEORANG MODEL TERNAMA TEWAS’

Kris pun membuka berita itu. Kedua kelopak matanya melebar membacanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Masa sih?? Yang benar saja! Masa meninggal?”

“Siapa yang meninggal?”, aku mendengarkan percakapan beberapa gadis di toilet wanita ini.

“Iya benar! Nih lihat beritanya!”

“Siapa sih? Kenapa aku penasaran sekali?”, batinku.

“Padahal aku baru melihatnya tadi pagi di sini…”, ujar yang lainnya.

Sigh! Mereka ini sangat membuatku penasaran! Tapi, dari pada Yi Fan menungguku terlalu lama, aku kemudian keluar toilet. Kulihat, wajahnya menegang saat melihatku.

“Oppa, wae? Neo gwaenchana?”, tanyaku.

“Cha…chagi…I..ini..”, ujarnya memberikan tabletnya padaku. Ada apa sih?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kedua mata gadis itu pun membaca artikel dari cyber news tersebut. Air matanya kembali mengalir.

“Chu..Chundoong-ssi…tidak mungkin!! Tidak mungkin dia meninggal, oppa! Apa berita ini bohong?!”, batin wanita itu benar – benar diuji. Baru saja masalahnya selesai, kini ada lagi masalah baru.

Menurut berita, Park Chundoong tewas bunuh diri. Ditemukan beberapa pil penenang di kamar apartmentnya oleh pelayan pribadinya saat akan bertugas membersihkan apartmentnya. Dan pelayan pribadinya, Chundoong sempat bercerita tentang wanita yang dicintainya. Namun, beberapa hari yang lalu, Chundoong kembali bercerita kalau wanita itu telah bersuami.

“Oppa…ini salahku!! Ini salahku, oppa!! Seandainya saja aku jujur dari awal padanya, dia tidak akan bunuh diri!!!! Ini salahkuuu!!!!”, Kinara menangis dan menjerit kencang menutup kedua telinganya berlutut seakan meminta ampun.

“Nara…Nara..ini bukan salahmu, Nara! Ini bukan salahmu!”, Kris memeluknya erat.

“Aku…aku yang membuatnya terbunuh…aku yang membunuhnya…”, ucapnya lagi.

“Tidak, Nara…tidak..kau tidak salah…”

“Hiks..hiks..hiks…Chundoong-ssi meninggal karena aku…”

“Tidak. Itu tidak benar, Nara…”

“Hyung, kenapa kau bertindak bodoh seperti ini?”, batin Kris yang juga turut berduka. Belum kering lebam di wajahnya akibat hantaman tinjunya, kini lelaki yang menghajarnya justru sudah meninggalkan dunia yang fana ini. Baru saja ia berjabat tangan dengan orang tersebut, bahkan berbincang beberapa saat. Rasanya kejadian itu baru saja terjadi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Beberapa bulan kemudian, Kris dan Kinara baru menyambangi makan Chundoong. Kris dan Kinara memang tidak menghadiri upacara pemakaman Chundoong beberapa bulan yang lalu karena sibuk dengan pemulihan mental Kinara yang terus menerus menyalahkan dirinya akibat meninggalnya Chundoong. Wanita yang tengah hamil delapan bulan itu datang bersama suaminya, Kris.

Keadaannya, jauh lebih tegar dari sebelumnya yang hanya bisa menangis setiap harinya karena selalu dihantui perasaan bersalah.

“Chundoong-ssi, mianhae aku baru datang…mianhamnida…tidak seharusnya kau seperti ini, Chundoong-ssi. Seharusnya, kau bisa mencari gadis lain yang lebih baik dariku, Chundoong-ssi.”, batin Kinara.

“Semoga kau tenang di alam sana, Chundoong-ssi…”, Kinara meletakkan beberapa tangkai mawar di atas pusara bertuliskan Park Chundoong tersebut.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hati – hati, chagia…”, Yi Fan membantuku berbaring di kamar.

“Aku bisa sendiri, oppa…”

“Kau itu ceroboh. Mana mungkin aku membiarkanmu.”, ujarnya yang membetulkan posisi bantalku.

“Ish! Menyebalkan!”, gumamku.

“Kau bilang apa tadi?”, ommo! Aku tidak menyadari kalau wajahnya sedekat ini. Haish! Ada apa dengan jantungmu, Kinaraaa!!

“A..an….annio…”, jawabku.

“Ukh!”, aku mengerang kecil merasakan ada pergerakan di dalam perutku. Kedua bayiku ini sangat berat. Dua? Ya, anak kami kembar. Itu hasil USG dari dokter. Bahkan kami menyimpan foto bayi kami saat masih dalam kandungan. Menurut hasil USG, bayi kami ini kembar beda kelamin. Yang satu laki – laki, yang satu lagi perempuan. Ommonaa!!

“Ah! Chagia, kau belum minum susu ya?”

“Uhmm…sepertinya belum, oppa.”

“Baiklah, akan kubuatkan dulu.”, ujarnya.

Selama suamiku di dapur, aku masih memperdengarkan musik klasik pada kandunganku.

Tak lama dia kembali dengan susu cokelat di tangannya. Susu khusus ibu hamil, “Gomawo yo…”

“Ne..”, jawabnya singkat menyerahkan gelas itu padaku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sudah…”, ujar Kinara memberikan gelas kosong padanya.

Kris pun mengambil gelas itu dan kembali menatap istrinya, “Wae? Ada yang kotor di wajahku, oppa?”

“Anni, eopseo…but, your lips are tempting me, chagia…”, ujarnya mengangkat dagu wanita itu yang kemudian mencium bibir istrinya.

“Isssh..apa sih, oppa…!”, dengan wajah yang memerah wanita itu memalingkan wajahnya.

“Hhh~ Well, ini waktunya tidur siang.”, ujar Kris yang kemudian ikut membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya.

“Mwo? Memangnya kau tidak kantor?”

“Cuti untuk beberapa hari ke depan.”

“Hassh~! Kau leader yang aneh!”, Kris hanya menanggapinya dengan tertawa.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sudah sore, aku harus masak.”, batinku yang perlahan turun dari ranjangku agar Yi Fan tidak terbangun.

Hhm..masak apa sekarang? Di kulkas ada apa saja ya? Ooh! Lebih baik aku buat sayur lodeh saja. Yap! Itu sama saja seperti soup, hanya bedanya sedikit bersantan.

Aku pun langsung mempersiapkan bahan – bahan untuk membuat salah satu soup khas Indonesia tersebut.

“Labu, pepaya muda, kacang panjang, wortel, daun melinjo dan melinjonya, kol..huwaaa!! Tidak ada terong ungunyaa!!”, aku baru menyadari kalau tidak ada terong dalam kulkasku. Hash! Sudah lah. Semuanya juga bisa.

Aku pun mulai mengupas bawang merah beberapa siung. Dan langsung menyelupkannya ke dalam panci berisi air tersebut. Setelah bumbu – bumbu yang lain dan melinjo sudah kumasukan, aku mulai mengupas pepaya mudanya.

Kata mama, pepaya muda dan labu, harus dimasukkan terlebih dahulu supaya tidak keras pada saat dimakan. Setelah kupotong dadu, kumasukan pepaya muda dan labu tersebut. Kini aku mulai menyerut wortelnya. Kucuci lagi, dan kumasukkan ke dalam panci. Hiks! Berhubung terong ungunya tidak ada, aku mulai memotong – motong kacang panjang dan kol. Kumasukkan semuanya ke dalam panci dan tidak lupa dengan daun melinjonya.

“Chagia…”

“Huwaaa!”, aku tersentak kaget ketika ada sepasang tangan yang melingkari perutku yang buncit ini.

“Kau ini memang tidak bisa diam ya…”, dengan suara yang masih serak dia bergumam menelusupkan wajahnya di leherku.

“Apa aku membuatmu terbangun?”, tanyaku. Dia menganggukkan kepalanya walau pun masih diletakkannya di bahu kananku.

“Kau tidak ada di sebelahku. Makanya aku bangun.”

“Aku kan masak untukmu, oppa…”

“Harusnya kau bilang padaku.”

“Bagaimana mungkin. Kau kan tidur. Dan kalau kau sudah tidur, kau itu seperti pingsan. Susah dibangunkannya. Kkkk..”

“Aku langsung bangun jika kau menciumku.”

“Aissh~ Kau ini… Awas ah~”, aku sedikit menyikutnya hingga akhirnya ia melepaskan pelukannya dariku.

“Kau buat apa, chagia?”

“Soup untukmu.”

“Soup? Soup pakai santan?”

“Hahaha, ini makanan khas Indonesia.”, jawabku menjulurkan lidahku padanya.

Dia pun melongok ke panci, “Itu seperti pepaya. Tapi…masih putih.”

“Memang.”, jawabku yang kemudian menuang santan di panci.

“Nah! Tinggal menunggu matang.”, ujarku sambil mengaduk – aduk isi panci sementara aku menyiapkan makanan yang lain.

“Oppa, dari pada kau mempersulit gerakku di dapur, lebih baik kau mandi deh. Sana.”, ujarku.

“Kau tidak mau kubantu?”

“Anni..aku bisa sendiri..”, jawabku yang mengambil wadah yang terbuat dari batu.

“Aigoo! Apa lagi itu?? Kau ini hidup di zaman modern, kenapa masih pakai batu?”

“Sssstt!! Ini namanya cobek!”

“Bebek?”

“Cobek, oppaa…cobeeekk!! Dan ini, ulekkannya.”

“Peralatan apa lagi itu?? Astaga! Kau beli di manaa??”, Yi Fan memperhatikannya.

“Import dari Indonesia. Hahaha.”

“Astaga! Ini batu sungguhan, chagi! Ini berat!”

“Ya iya dong oppaaa~~”

“Kupikir ini dari semen atau semacamnya.”

“Anni, kalau semen, itu bahaya. Karena ketika kita mengulek ini semua, semen akan ikut tercampur.”

“Kenapa kau tidak menggunakan blender saja? Kau mau repot seperti ini.”

“Kata mama, kalau pakai blender, vitaminnya larut ke mesin blendernya. Beda kalau pakai ini..”

“Jadi ini ide mendiang mama mu?”, tanyanya yang kujawab dengan anggukan kepalaku.

“Kau tidak pegal?”

“Tidak..aku sudah terbiasa dulu saat di Indonesia dengan mama.”

Sepertinya dia benar – benar terkesima melihatku yang sedang mengulek bumbu – bumbu ikan ini. Terbukti berkali – kali aku memergokinya dengan menatapku dengan mulut yang sedikit terbuka.

“Yaah~! Tutup mulutmu itu, oppa. Bisa – bisa nyamuk bisa masuk ke dalam mulutmu.”

“Oo, aku hanya heran saja.”

“Ahaha…hey, oppa.. Kau tahu, dengan benda ini, aku bisa melakukan sexy dance loh! Aku pernah mencobanya waktu aku pertama kali belajar memakai ini sendirian.”

“Aaa! Jangan…jangan! Bahaya untuk anak kita, chagia!”

“Walau pun sebenarnya aku ingin melihatnya..”, lanjutnya dengan gumaman.

“Apa kau bilang?”

“Annii…anni..”

“Aku mendengarnya loh, oppa..”, dia hanya terdiam dan lebih memilih menghindari tatapanku.

“Well, aku akan melakukannya kalau anak kita sudah di dunia. Kkk…”

“Mwo?? Malam – malam ya.”

“Aku kan masaknya sore..”, jawabku.

“Siapa bilang saat masak? Kau tidak perlu masak. Pakai itu malam – malam dan….”

Haissh! Aku mengerti sekarang arah pembicaraannya! Issh! Dasar mesum!

“Dan apa, eoh?”, aku menarik kerah bajunya dan mengangkat wajahnya dengan gagang spatulaku.

“Wow! Wow! Wow! Kau bisa agresif juga, chagia…”, ujarnya dengan membuat smirk di wajahnya.

“Oppaaaa!!! Sana mandi ah!! Kau membuatku kesal di dapur sini!!”, aku mendorongnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Satu bulan sudah Kinara dan Kris suaminya menunggu kelahiran anak kembarnya. Nampaknya, malam ini adalah malam dimana kebahagiaan mereka berdua terlengkapi.

Rintihan dari wanita itu memenuhi suasana sepi, hening, di kamar yang gelap itu. Di sampingnya, Kris masih tertidur dengan lelapnya.

“Oppa…”, Kinara berusaha membangunkan suaminya. Tapi, sepertinya lelaki itu masih betah menjelajahi alam mimpinya. Ia tertidur pulas dengan terlentang dengan salah satu tangannya berada di bawah bantalnya.

“Oppaa…”, panggil Kinara lagi yang menahan sakit di perutnya. Tangan wanita itu ikut mengguncang – guncang tubuh Kris agar terbangun.

“Oppaaaaaa~~~”, tangan wanita itu mengguncangkan tubuh Kris dengan kasar.

“Hhmmhh…apa sih, chagia?? Masih malam..tidur lagi..”, gumam Kris.

Karena kesal, akhirnya Kinara melakukan sesuatu.

BUGH!!!

“Ukh! Chagia, waeee???”, Kris mengerang dan segera duduk memegangi perutnya yang ditinju istrinya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau masih bertanyaaaaa????!!! Aku mau melahirkan, pabboooo!!!!”, aku menjambak rambut suamiku sendiri. Ashh! Mianhae, oppa. Itu bukan kemauanku. Akh! Rasanya sakit sekaliiii!!

“What?! Ka…ka..kau…mau…

Dia pun segera menyibakkan selimutnya dan keluar kamar setelah menyambar kunci mobilnya dari laci nakas.

“Yaaa!! Yaaa!! Yaaa!! Eoddiga yoo?!!”, ck! Sial! Dia tidak menjawabku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chagi, kajja…”, Kris kembali ke kamar dan menggendong istrinya ke mobil.

Setelah mengunci rumahnya, lelaki itu melajukan mobilnya membelah suasana heningnya malam menuju rumah sakit.

“Oppaa!!! Ppaliii yaaa!!”, Kinara menarik – narik tangan Kris yang memegang kemudi. Sontak saja mobil langsung keluar dari jalurnya.

“Yaa~~ Chagia..chakkamanyo…”, Kris langsung menstabilkan laju mobilnya. Beruntung tengah malam itu tidak ada kendaraan lain hingga mobil tidak menabrak.

“Kyaaaa!!! Oppa!!! Kau lama sekaliiii!!!”, Kinara menarik – narik tangan Kris yang tentunya membuat laju mobil tidak menentu.

“Yaaaa~~!! Chagiaaa..kau mau membunuh kita semua, eoh??”

“Sakiiitt oppaaaa!!!”

“Aku tahu…tunggu sebentar.”

“Hyaaa!! Koe wis tak kandani ora ngertiii!!”, karena rasa kesalnya memuncak, Kinara meracau dengan bahasa Jawanya yang tidak dimengerti suaminya.

“Chagi? Apa yang kau katakan? Bahasa mana yang kau pakai?”

“Cepaaaaaatttt!!!!!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Huwwaaaa!!! Oppaaaaa!!! Sakiiittt!!!”, saat ini Kris menemani istrinya di ruang persalinan.

“Uuughhh!!!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Tangis bayi yang terakhir pun terdengar olehku. Napasku terengah – engah saat ini. Aku tidak peduli dengan penampilanku yang kacau saat ini. Aku juga tidak tahu siapa yang lebih dulu lahir. Entah yang perempuan atau yang laki – laki. Tangan Yi Fan tetap setia menggenggam tanganku.

“Chagia, anak pertama kita laki – laki.”

“Jeongmal..hhh?”, tanyaku.

“Ne..dan baru si cantik keluar.”

“Oh..ne..”, jawabku lirih.

“Aku mengurus pembayaran dulu ya..”

“Uhm, oppa…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kilatan flash light banyak menerpa wajah Kris yang baru saja keluar dari luar persalinan saat hendak menuju administrasi rumah sakit.

“Kris-ssi, bagaimana Kinara-ssi? Bagaimana bayinya? Apa jenis kelaminnya?”, tiba – tiba saja sudah banyak media di hadapannya.

“Apa – apaan ini? Darimana mereka tahu? Bahkan aku dan Nara sama – sama tidak membawa ponsel.”, batin Kris.

Kris tetap berjalan dengan diam seribu bahasa. Sesekali ia tersenyum menanggapi mereka semua, “Jeosonghamnida..permisi..”, ucap Kris yang meminta jalan.

“Kris-ssi, apakah Kinara-ssi sudah dipindahkan ke ruang perawatan? Kris-ssi, minta komentarnya..”, banyak wartawan yang memburu beritanya.

“Kris-ssi…Kris-ssi..minta waktu sebentar saja…”

“Mianhamnida…”, ujar Kris tersenyum.

“Kris-ssi..Kris-ssi..”

“Haish! Baiklah, kulayani kalian!”, batin Kris kesal namun mencoba untuk tetap tersenyum.

“Bagaimana Kinara-ssi?”

“Nara baik – baik saja…bayi kami kembar..laki – laki dan perempuan..gamsahamnida..”, ujar Kris yang kemudian kembali berjalan.

“Bisakah kami melihat foto anak kalian?”

“Wah, aku tidak bawa ponsel. Jadinya aku belum memotret anakku…sudah ya..maaf, permisi…”, jawab Kris sambil berjalan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Waeyo?”, Yi Fan saat ini terlihat kesal, lelah dan malas.

“Anni..aku heran..dari mana mereka semua tahu berita ini?”, tanyanya padaku sambil menarik kursi di samping tempat tidur rumah sakit.

“Nugu? Berita apa?”

“Tentangmu yang melahirkan..”

“Hah? Jeongmalayo?”, tanyaku lagi.

“Hhm..bahkan aku tidak membawa ponsel.”

“Mungkin ada orang yang melihat kita lalu meng-update statusnya? Cyber kan cepat sekali menyebarnya.”, jawabku.

“Hhmm..mungkin..hoahmm..aku masih mengantuk sekali, chagia..”, dia menguap dan mengusap matanya.

Tak lama kedua anakku pun didorong oleh dua perawat di dua box bayi yang berbeda.

“Ini nyonya, anak kalian…”, ujar perawat itu ramah.

Aku pun segera menyusui kedua anakku bergantian. Saat aku menyusui bayi laki – lakiku, bayi perempuanku digendong oleh Yi Fan. Begitu pun sebaliknya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Pagi hari menjelang. Ketukan pintu ruang rawat Kinara diketuk seseorang dari luar. Kris pun memeriksanya keluar.

“Oo? Joon hyung?”

“Aku melihatnya di tv. Chukkae yo..”, ujar Joon menyalami Kris.

“Kajja, ke dalam.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mwoo?!! Joon oppaaa!!”, aku langsung menghentikan makanku saat melihatnya masuk. Dan merentangkan tanganku memintanya untuk memelukku. Aaah~~ Sebenarnya, pesonanya masih membuatku sedikit terpikat sih..kkkk..

“Chukkae yo, Ra…perempuan sepertimu bisa melahirkan normal juga ya?? Hahahaha.”, ujarnya yang membalas pelukanku.

“Ehem!”, Yi Fan berdeham di belakang Joon oppa dengan kedua tangan terlipat di dada.

“Aigoo! Anakmu lucu sekali~!”, serunya saat melihat kedua anakku di dalam box bayi.

“Uhm! Lucu kaaan?? Seperti aku..kkk..”

“Chagia, kau tidak melanjutkan makanmu?”, suamiku menginterupsi pembicaraan aku dan Joon oppa.

“Oh, ne yeobo…”, jawabku. Yeobo? Entah kenapa aku biasanya memanggil suamiku dengan sebutan ‘oppa’ kini menjadi ‘yeobo’.

“Joon oppa…mianhae, aku makan ya…”, ujarku.

“Ne, gwaenchana…oh ya, aku di sini mewakili Rain hyung, Siwon hyung, juga G.O hyung. Mereka semua tidak bisa datang karena sibuk. Mereka menitip salam untukmu.”

“Ne…gwaenchana, oppa… Salam saja sudah cukup kok.”, tuturku.

Tiba – tiba saja, pintu ruang rawatku kembali terbuka. Kulihat si Kyu evil dan istrinya, Keiko-chan masuk.

“Kyaaahh~~ Keiko-chaaann~~”

“Kinaar~~”, dia memelukku.

“Oh Kamisama (oh Tuhan)! Anakmu kembar!”, seru Keiko-chan.

“Uhm..hey, kalian tahu dari mana?”

“Tv, infotainment, cyber. Semua sedang membicarakanmu!”, ujarnya.

“Jeongmal?”

“Neeee~~~ Oh! Uhm..Sica eonni dan Taeng eonni ada pemotretan. Jadinya..dia tidak bisa ke sini. Tapi dia menitipkan ini…”, Keiko mengeluarkan paper bag.

“Apa ini? Woaahh!! Baju bayi? Ah! Aku harus mengucapkan terima kasih.”

“Pakai ponselku saja..ini..aku tahu kau tidak bawa ponsel kan?”, aku hanya terkekeh.

“Yeoboseyo~”, suara Sica eonni terdengar.

“Eonniiii~~~”

“Mwo? Kinar!”

“Ne, eonnii… It’s me!”

“Apa Keiko-chan di sana? Taeeengg~~ Sini! Kinar menelpon kita!”, Sica eonni terdengar berteriak.

“Manaaa??? Aku mau bicaraaa..aku mau bicaraaa~~”, itu Taeng eonni!

“Eonni, gomawo yoo hadiahnyaaa~~”

“Itu untuk anakmu, bukan untukmu..hahha.”, Sica eonni tertawa.

“Arra yo..gomawoo…gomawooo~~~”

“Cheonma, Kinar. Kami membelikannya sepasang karena tahu bayimu kembar. Tahu dari statementnya Kris. Hihihi…”

“Ne, eonni, memang kembar…terima kasih bajunya..”

“Ne..ah! Kinar, kami ada pemotretan..salam untuk yang lainnya ne..”, Taeng eonni kemudian menyambung.

“Ne…Sica eonni, Taeng eonni, gomawo yooo…”

“Neeeee~~ bye piee!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Chukkae yo, pabbo yeoja! Kau melahirkan dua anak sekaligus. Hahaa.”

“Isssshh~~ Evil! Sembarangan mengataiku pabbo! Nǐ shǎle (kau bodoh)!”, ujarku. Dia hanya tertawa.

“Bye the way, siapa nama anak kalian?”, Kyuhyun mengusap pipi anakku yang digendong suamiku, Yi Fan.

“Iya nih..siapa?”, sambung Keiko-chan yang ikut mengusap anakku yang kugendong.

“Wu Xiurong, untuk si cantik, dan Wu Xiaoqing, anakku yang tampan ini.”, ujar suamiku.

“Woah! Apa artinya?”, tanya Joon oppa.

“Xiurong artinya kemuliaan yang indah. Xiaoqing artinya anak yang cerdas. Bagaimana menurutmu, hyung?”

“Sounds good! Hey, bagaimana kalau kita foto bersama?”, ujar Joon oppa. Kini ia meletakkan ponselnya di atas sebuah kaleng berisi biskuit sebagai dudukannya dan penyangganya.

Aku pun duduk bersandar di ranjangku menggendong Xiao, anak lelakiku. Dan di sebelah kananku berdiri suamiku Yi Fan dengan menggendong Xiu, anak perempuanku. Sementara Keiko-chan, duduk di tepi ranjang dengan suaminya Kyuhyun di sampingnya. Sedangkan Joon oppa, langsung berdiri di samping suamiku, Yi Fan setelah menyalakan timernya.

Kalau ada yang bertanya padaku, ‘What is love?’ Tentunya aku akan menjawab, cinta adalah sebuah perasaan suci yang mengajarkan banyak hal di dalam hidup seseorang. Karena hal itulah yang terjadi padaku saat ini.

Hidupku lengkap sekarang. Memiliki dua anak, suami yang baik dan perhatian padaku, juga teman – teman yang tidak meninggalkanku. Aku hanya berharap Xiao dan Xiu dapat tumbuh besar sesuai keinginan kedua orang tuanya.

THE END

War, Love, You

Judul : War, Love, You

Author : Seu Liie Strife

Main Cast :Wu Yi Fan /Kris(EXO-M)
Kinara Lyvia (OC)
Lee Chang Seon / Joon (MBLAQ)
Cho Kyuhyun / Kyuhyun (Super Junior)
Shinji Keiko (OC)

Supporting Cast : Jung Ji Hoon / Rain
Choi Siwon / Siwon (Super Junior)
Huang Zi Tao / Tao (EXO-M)
Xi Lu Han / Lu Han (EXO-M)
Kim Jongin / Kai (EXO-K)
Jung Byung Hee / G.O (MBLAQ)
Jo Kwangmin / Kwangmin (Boyfriend)
Jo Youngmin / Youngmin (Boyfriend)
Jung Soo Yeon / Jessica (SNSD)
Kim Tae Yeon / Tae Yeon (SNSD)

Genre : Action, Fantasy, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^

Ditahun modern ini, terjadilah bencana internasional dari berbagai belahan dunia. Jauh di dasar laut terjadi pergeseran patahan lempeng tektonik yang membuat suatu lubang maha dahsyat di bawah laut. Air bah dari laut membanjiri berbagai negara kepulauan di belahan dunia. Bencana alam internasional ini melanda Indonesia, Jepang, Korea, China, Rusia, Thailand, Amerika, dan berbagai negara kepulauan lainnya.

Yang membuat gempar dari bencana alam ini bukan hanya air bah saja. Namun, munculnya berbagai monster dari dalam laut yang ukurannya sangat besar dan susah ditaklukkan dengan kekuatan militer yang dinamai Akrid.

“Mayday! Mayday! Back up! Back up!”

Craassshhh!!!

Sudah banyak korban tewas dari munculnya makhluk – makhluk ini secara serempak dari dalam dasar laut. Di Indonesia misalnya, menurut laporan terakhir, korban yang berjatuhan sudah mencapai 523.000 jiwa. Di China, korban sudah ditemukan 742.000 jiwa. Di Korea Selatan, 20.000 jiwa, di Jepang, 13.479 jiwa. Mereka semua tewas dalam bencana alam terdahsyat sepanjang tahun 2020 ini.

Perwakilan dari berbagai negara pun diturunkan untuk menjalin kerjasama dalam kekuatan militer menggempur Akrid dasar laut itu. Berbagai konferensi tingkat tinggi yang melibatkan beberapa politisi, ahli militer, ahli fisika, ahli kimia, ahli metalurgi, dan beberapa dokter lainnya terlibat dalam hal ini.

Yang dibutuhkan dalam gerakan ini adalah senjata yang lebih canggih untuk menumbangkan beberapa Akrid itu. Sebuah robot raksasa yang dapat dikendalikan manusia – manusia ahli.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kyaaaaaaa!!!!!!!!”, seorang gadis kecil berteriak ketakutan saat ada Akrid dasar laut itu menyerang di perairan utara Jakarta, Indonesia.

Zaapp! Secepat kilat seorang gadis menyambar anak itu dan masuk ke dalam bunker bawah tanah yang sudah dipersiapkan.

“Masuk!! Semua masuk!!”, teriak gadis itu saat mengevakuasi warga untuk masuk ke dalam bunker.

GROAARR!!!

Akrid itu menyerang tak menentu arah dengan mengeluarkan cairan asam dari dalam mulutnya yang dapat mengakibatkan terkontaminasinya lingkungan, terutama perairan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Gege, situasi barat sudah aman. Bagaimana situasi di selatan?”

“Bahaya! Sedang dalam evakuasi!”, ujar lelaki itu dengan alat komunikasinya.

Situasi yang terjadi di China pun sama. Semuanya tampak sibuk mengevakuasi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jangan sampai terlepas dengan keluarga anda! Masuk ke dalam bunker!!”

“Yaaa!!! Neo micheoseo, eoh?!! Masuk kau, anak nakal!!”, seorang petugas kepolisian di Korea menggiring masuk anak – anak yang masih terlihat kagum dengan Akrid itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Get in!! Get in!! Get inside!!”, teriak beberapa crew evakuasi di negeri matahari terbit ini. Negeri yang terkenal dengan bunga sakuranya ini mendapatkan bantuan dari Amerika dalam pengevakuasian.

“Masuk! Kalian akan selamat! Masuk!”, teriak seorang wanita yang juga menjadi tim medis.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setelah keadaan sedikit tenang, perwakilan dari berbagai negara itu mengadakan rapat dadakan dengan fasilitas hologram yang langsung terhubung ke Amerika.

“We need robots to destroy them (kami butuh robot yang dapat menghancurkan mereka, Akrid – Akrid itu).”

” A high tech robotic, with a high tech weapons (robot canggih, dengan senjata canggih).”

“How to combine the human resources with the robots (bagaimana cara menggabungkan tenaga manusia dengan robot)?”, tanya pihak Indonesia.

“With their mind (dengan pikiran mereka). We must connect the human’s mind with the technology from robots (kita harus menghubungkan pikiran manusia dengan teknologi dari robot ciptaan kita).”, jelas pihak Jepang.

“They should be the pilot and co-pilot for controlling the robots (untuk mengendalikan robot itu, dibutuhkan seorang pilot dan ko-pilot).”, pihak Korea pun memberikan pendapatnya.

“Yes, you can say that again (ya, saya setuju)! But (tapi), to control the robots (untuk mengendalikan robot), they should be have the same mind or they have the same experience of their live (mereka harus memiliki pemikiran yang sama atau pengalaman hidup yang sama).”, lanjut pihak Jepang.

“Like a twins (seperti anak kembar)?”, tanya pihak Indonesia.

“Yes (ya). Twins(kembar)! That’s the key (itu kuncinya)! But (tapi), it doesn’t matter if the pilot and co-pilot have the same experience of live (tidak masalah juga jika pilot dan ko-pilotnya juga memiliki pengalaman hidup yang sama). The robots can be controlled (robot itu dapat dikendalikan).”, ujar pihak Jepang.

“Okay, this time is our turn to destroy them (saat ini adalah waktu kita untuk menghancurkan Akrid – Akrid itu).”, ujar pihak Amerika.

Dengan segera, pihak CIA pun diturunkan ke berbagai negara.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Dua orang CIA asal Korea pun diturunkan. Jung Ji Hoon dengan nama panggilan Rain, dan juga Choi Siwon terus memantau. Pihak Korea dan China dipercaya oleh berbagai belahan dunia untuk mengatur tiap perwakilan dari negara – negara kepulauan yang menjadi korban. Rain dan Siwon pun akhirnya mengutus Lee Chang Seon yang dipanggil Joon untuk berada di Indonesia dan mengambil satu perwakilan Indonesia. Jung Byung Hee alias G.O diutus di Korea sendiri. Dan beberapa anggota lainnya di negara – negara lain. Sedangkan di China, Rain dan Siwon mengutus Wu Yi Fan yang dipanggil sebagai Kris.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Saya ingin bertemu dengan Kinara Lyvia. Tim medis di sini.”, ujar Joon berbahasa Indonesia.

“Kinara ada di dalam sedang mengobati pasien.”

Joon pun menemui Kinara di dalam yang tampak sedang membalut lengan korban dengan gulungan perban.

“Maaf, apa anda yang bernama Kinara Lyvia?”

“Ya, ada apa?”, tanya gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku Lee Chang Seon, panggil saja Joon. Aku delegasi dari Korea untuk Indonesia.”, ujarnya mengajakku berjabat tangan. Aku pun menyambutnya walau dengan tanda tanya besar di kepalaku.

“Maksud kedatangan aku ke sini, untuk menjemputmu.”

“Menjemputku? Untuk?”, tanyaku balik.

“To have a war (untuk berperang).”

Perang dia bilang? Kata – kata itu mengingatkanku pada insiden keluargaku.

“Kinara…?”

“Sorry, I can’t (maaf, saya tidak bisa).”, ujarku meninggalkannya.

“Kinara, please. Indonesia mengharapkanmu.”

“Tidak. Aku tidak bisa. Cari saja orang lain.”

“Kau salah satu kandidat terkuat menurut catatan Amerika dan Jepang.”, ujarnya lagi.

“Aku tidak peduli.”, jawabku meninggalkannya.

“Pemenang medali emas olimpiade aikido internasional, peraih emas olimpiade sains dan matematika. Kau sangat kuat, Ra.”

“Tidak! Aku tidak mau!!!”

“Kinara, apa kau tega melihat mereka ini semua? Kau tidak mau membantu mereka?”

“Aku sudah membantunya. Aku masuk ke tim medis ini.”, aku mengacuhkannya.

“Dan ini juga yang kau lakukan untuk tidak mengenang orangtuamu?”, dia mulai meraih tanganku. Jangan menangis, Ra…jangan…

“Tidak bisa adalah alasan orang yang tidak mau tahu. Aku yakin, kedua orang tuamu akan kecewa melihatmu seperti ini, ujarnya.

Plakk!! Aku menamparnya. Tidak peduli dia salah satu delegasi, perwakilan, atau apa lah itu!

“Jangan bicara seolah kau mengerti aku! Jangan bicara seolah kau mengalami hal yang kurasakan!”

“Aku tahu. Sangat tahu. Kau dan aku sama. Keluarga kita sama – sama terbunuh.”

“Ikut denganku, Kinara…”

“Dengar tuan Lee, aku tidak akan pernah mau ikut denganmu! Lupakan soal ini dan cari orang lain saja!”

GROAARR!! DHUAR!!! Tempat yang kami injak seketika bergetar. Akrid itu kembali muncul!

“Kumohon, Kinara. Demi masyarakat Indonesia.”

SPLASSHH!!

“Merunduk!!”, Joon seketika menundukkan kepalaku, tiarap. Dinding rumah sakit seketika membentuk lubang besar karena pengaruh asam dari saliva Akrid itu.

“Evakuasi!!”, teriakku.

“Tidak! Kinara, noo!!!”, tidak kuhiraukan ucapannya. Aku terus berlari menyelamatkan nenek tua itu. Nenek itu terjatuh!

PRAAK!!! DUAKH!!

A..apa itu..?? Sebuah robot? Robot yang melawan Akrid laut itu?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hyung, jam tiga!”, teriak Kwangmin.

“Right!”

BUAKH!! Dengan menghajarnya, Youngmin, kakak kembar Kwangmin menghajar Akrid laut itu.

“Lightning swords! Terima ini keparat!!”, Youngmin langsung mengaktifkan pedang yang ada di tangan kiri dan kanan robot itu.

“Kwang, are you ready?”, tanyanya.

“Yeah!! This is our time!”, ujarnya.

SRINGG!! Pedang bercahaya yang dipadukan dengan roket dari siku robot itu terayun menebas kedua lengan Akrid itu.

“And at last…..EAT THIS!!!”, ujar saudara kembar itu yang langsung mengaktifkan rudal untuk menghancurkan kepala Akrid itu.

DESSHH!! BRAAK!! Berkali – kali robot itu menghajar Akrid itu. Dua pedang kembar, meriam di tangannya, roket peluru dari kedua bahunya digunakan untuk melawan Akrid itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kinaraa!!! Watch out!!!”, yang kulihat Joon yang berlari ke arahku dan menyelamatkanku dan nenek tua yang kutolong.

BRUUKK!!! Seketika Akrid itu tumbang di tangan robot itu.

“Kau…tidak apa – apa?”, aku mengangguk lemah.

“Nenek, apa baik – baik saja?”, tanyanya lagi.

“Iya…”

Dan saat itu juga aku melihat dua orang keluar dari kepala robot itu. Dengan mempergunakan sling besi baja, mereka turun menghampiri kami. Mereka kembar?? Siapa mereka?

“Apa kami terlambat?”, tanya yang berambut pirang.

“Annio. Hampir saja.”, mereka orang Korea? Sama dengan Joon? Aku sedikit mengerti bahasa mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mereka Jo bersaudara. Ini Jo Kwangmin, sebagai co-pilot, dan ini Jo Youngmin, pilotnya. Hanya warna rambutnya lah yang menjadi pembeda mereka. Mobile suite mereka bernama BF.”, Joon memperkenalkan saudara kembar itu pada Kinara.

“Aah! Annyeonghaseyo noona…”, ujar mereka serempak dengan membungkuk hormat.

“A..annyeonghaseyo… Choneun Kinara imnida..”, jawab Kinara.

“Kau bisa berbahasa Korea?”, tanya Joon.

“Sedikit…”

“Jadi bagaimana? Mau berubah pikiran?”, tanya Joon.

“Oh ya, mereka berdua ini adalah pengemudi pertama dari robot yang kami ciptakan. Cukup efektif bukan?”, ujar Joon.

“Hyung, G.O hyung bilang, para kandidat harus di trainee kemampuan bertarungnya.”, ujar Kwangmin.

“Assh…si gorilla itu banyak sekali peraturannya! Tenang saja! Kalau dia, tanpa trainee pun sudah tidak diragukan!”, tanpa sadar Joon merangkul gadis itu.

“Baiklah, nona Kinara, kau akan ikut aku. Dan kalian Jo twins, tetap di sini dan jaga Indonesia! Jakarta ini adalah titik pusat mereka.”, pesan Joon.

“Yes, Sir!”, ujar mereka berdua kompak.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu di Seoul, Rain sudah mendapatkan kandidat baru lagi. Jessica dan Tae Yeon. Kedua wanita ini harus diadu bakat bela dirinya untuk mengatur pola pikir mereka.

“Ready…fight!!”, ujar Rain.

“Yaah!!”

Buagh! Bukk! Traakk!! Dhuakh!! Tendangan, pukulan, dan ayunan tongkat dilayangkan dari kedua gadis ini.

“Wah, kau lemah sekali, Sica!”, ujar Tae Yeon.

“Kau yang lemah, Taeng!”, balasnya.

“Mwo??!! Panggil aku eonni!”, ujar Tae Yeon tak mau kalah.

“Shireo! Kau terlalu centil untuk dipanggil eonni!”

“Mwoyaa??!!!!”

Traakk!!!

“STOP!!!”, perintah Rain yang melihat dari kejauhan.

“Apa – apaan kalian?! Apa dengan otak seperti ini kalian mau bertarung melawan Akrid itu, eoh?! Kalian mau mati konyol sebelum menghajar Akrid itu, eoh?!”, Rain berkata dengan kejam.

“Ini semua karena dia!”, tunjuk Jessica pada Tae Yeon.

“Mwo?! Kok aku? Kau yang salah!”, balas Tae Yeon.

“Kau!”, ujar Jessica.

“Kau!”, balas Tae Yeon tak mau kalah.

“GEUMANHAE!!!!!”, hardik Rain yang membuat kedua wanita itu terdiam.

“Mobile suitee tidak akan kuberikan pada kalian!!”, ujar Rain gusar.

“Oppaaa~~~ Tega sekali kau dengan adikmu!”, ujar Jessica.

“Huh! Aku kakakmu? Kenapa kalau aku kakakmu? Peraturan, tetap peraturan! Kalian tidak mendapat mobile suite jika kelakuan seperti ini! Berpikirlah dewasa! Kau Tae Yeon, kau sepupunya. Kenapa masih seperti ini? Dan kau, Sica! Kelakuanmu, parah!”, ujar Rain meninggalkan mereka berdua.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Xi Lu Han, Huang Zi Tao, kalian bisa ikut dalam pertempuran ini.”, ujar Kris yang mengepalai bagian China.

“Tapi, Ge…kan mobile suitee kita dikendarai tiga orang…”, ujar Tao.

“Kau ikut dengan kita, Kris?”, tanya Lu Han.

“Anni…kalian akan bersama Kai.”, tiba – tiba G.O muncul bersama Kai.

“Jongin!”, seru Tao.

“Yaah~~ Aku lebih tua darimu, Tao…”

“Ahahaha…hyung!”, ralat Tao.

“Hi hyung, kita satu team.”, ujar Kai pada Lu Han.

“Bangapta…”, ujar Lu Han.

“Bagaimana kalau kita latihan sebentar untuk kekompakan kita?”, usul Tao.

“Sounds good!”, ujar Lu Han.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kris, aku perlu bicara denganmu.”, ujar G.O. Kris pun menghampirinya dan bicara empat mata dengan lelaki berkebangsaan China itu.

“Ada apa, hyung?”, tanya Kris kemudian.

“Sebagai satu – satunya kepala delegasi dari China, kau diberi kebebasan memilih co-pilotmu.”

“Maksudnya?”

“Kau bisa memilih antara Joon atau…orang yang dibawa Joon.”

“Hahaha, kita lihat nanti, hyung…”, jawab Kris.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Lu Han, Kai, Tao, ini mobile suite kalian. Robot ini bernama XO. Robot ini bertangan tiga dimana kalian akan berada di tiap tangan mobile suite ini.”, jelas Siwon.

Tiba – tiba saja alarm pendeteksi keberadaannya Akrid berbunyi. Tulisan ‘Jeju Island detected’ tertera pada layar besar tempat dimana banyak mobile suite diperbaiki dan dirancang.

“This is your turn.”, ujar Siwon pada mereka bertiga.

Lu Han, Tao, dan Kai pun dipasangi body armor pada badan mereka sebelum masuk ke dalam XO.

“Lu Han, Tao, Kai, tempat yang kalian pijak dan gerakan kalian akan sesuai dengan gerakan mobile suite kalian. Jika kalian bertiga menggerakkan tangan kanan kalian, maka mobile suite juga akan menggerakkan tangan kanannya juga. Jika kalian kena serangan, maka tubuh kalian juga akan merasakannya dan ikut berdarah. Arraseo?”, ujar Siwon memberitahu mereka bertiga dengan komunikator di telinga mereka masing – masing dari kantor pusat.

“Ne, arraseo!”, jawab mereka bertiga.

“Copying data…transfer data is completed.”, suara dari mesin pemindai data terprogram.

“Xi Lu Han is ready.”, ujar lelaki bermarga Xi itu.

“Huang Zi Tao is ready.”, sambung Tao.

“Kai is ready.”, lanjut Kai.

“Akrid kategori 3. Bersiaplah kalian.”, ujar Siwon.

“Ne!”, jawab mereka serempak.

GROAARR!!! Akrid itu menjulurkan lidahnya.

“Woaappss!!”, mereka bertiga melakukan gerakan melompat, hingga mobile suite yang mereka kendarai pun melompat.

GAAARR!!! BLAARR!!!

“What the hell are you!”, Tao mengumpat kesal.

“Hyung! Itu blast! Watch out!”, ujar Kai.

“Shield is activated.”, Lu Han mengaktifkan perisai pada mobile suite itu.

“Tao, isi missilnya!”, perintah Lu Han.

“Okay!”

“Kai, prediksi gerakannya!”, ujar Lu Han.

Kai pun menyalakan tombol dan dalam layar yang ada dihadapannya langsung muncul beberapa gerakan dari Akrid itu yang menjadi prediksinya.

“35 derajat arah jam 1, 45 derajat jam 7 hyung!”, jawab Kai kemudian.

“Dengan ekor?”, tanya Lu Han.

“Yeah!”

“Hyung, hati – hati. Ekornya memiliki unsur amoniak.”, ujar Tao sambil mendeteksi Akrid itu.

“Missils are ready.”, ujar Tao.

“Right!”

Buagh!! Braaaakkk!!! Duakh!!

GROAAARRR!!!!

“Arrghh!!”, Tao mengerang. Bahunya berdarah. Akrid itu menyerangnya.

“TAO!!”

“I’m okay..I’m okay..”, ujarnya menahan sakit.

“Heeaaahh!!!!! Keparaaat!!”, Kai terlihat kesal. Mereka bertiga pun menggerakkan tangan kiri mereka menahan gerakan Akrid itu, dan mengarahkan tangan kanan mereka satu arah pada kepala Akrid itu hingga pecah.

“Hhh…hhh…hhh…”, mereka bertiga pun terlihat kelelahan.

“Siwon hyung, it’s over..”, ujar Lu Han.

“Kembali ke pusat!”, ujar Siwon kemudian.

“Ne!”

Tapi, tiba – tiba…

Zruuuttt!!! Salah satu kaki dari ditarik oleh ekor Akrid itu.

“Akh! Shit!!”

Alarm mobile suite XO pun berbunyi.

“Red alert. Warning acid plasma detected!”

“Mwo?!! Dia hidup lagi?!!”, Tao berseru.

“Sword activated.”, Kai mengaktifkan pedang.

Buakkhh!! Dhuakkh!!! Traakk!! Triingg!! Sriingg!!

“Lompaaatt!!!”

Bruaakkhh!!

“Tao, cakram!”, ujar Lu Han.

“I can’t hyung! Tanganku kena!”

“Hyung, double attack!”, seru Kai pada Lu Han.

“Nee!”

“Aku akan tahan ini!”, ujar Tao.

Sringg!! Sringg!! Crassshhh!! Ekor Akrid itu pun terputus dari kaki mobile suite XO.

“Pastikan dia mati dulu.”, ujar Lu Han.

“Light blast, hyung.”, saran Tao.

“Okay…”

“Light blast is reloading.”

“Light blast is ready.”

Ziiinngg!! BRAAAKK!!

“Yeah! We won!! Aa..aaww!!”, seru Tao yang kemudian mengerang kesakitan akibat luka di bahunya tadi.

“Aigoo…hahahaha…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sementara itu di pangkalan udara militer Korea, telah mendarat perwakilan dari Jepang, Cho Kyuhyun dan Shinji Keiko, seorang mahasiswi ahli nuklir yang baru saja kehilangan keluarganya secara serempak saat berlibur.

Begitu memijakkan kakinya di pangkalan udara itu, memorynya kembali terulang.

“Tidaaakk!!!! Jangaaann!!!”, teriak gadis itu meringkuk ketakutan dengan menutup kedua telinganya.

Kyuhyun yang sudah berjalan lebih dahulu, kembali berbalik dan menghampiri gadis itu, “Keiko, jangan. Jangan terjebak di masa lalumu.”

“Tidaaakk!!”

Lelaki itu mencengkeram kedua bahu gadis itu, “Keiko..! Keiko, lihat aku! Lihat aku!”, gadis itu pun perlahan mendongakkan kepalanya, dengan menangis.

“Itu semua masa lalu. Jangan lagi kau ingat.”, gadis itu hanya bisa menangis terisak. Karena tidak tega, lelaki itu mendekapnya, dan membawa gadis itu masuk ke dalam.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Pusat pemantauan sudah mengetahui di mana sarang Akrid itu berada.”, ujar Siwon pada Rain.

“Eoddi?”

“Sebuah black hole di pertemuan samudera Pasifik dan samudera Hindia. Dekat perairan Indonesia.”, jawab Siwon lagi.

“Mobile suite yang berjaga di sana adalah BF yang dikendarai oleh Jo twins. Cukup sulit jika mereka bertarung sendirian.”, lanjut Siwon.

“Apa orang dari Indonesia itu sudah datang?”, tanya Rain.

“Belum. Menurut Joon, dia cukup sulit untuk dibujuk karena keluarganya yang tewas mengingatkannya dia kembali.”

“Perwakilan dari Jepang baru saja datang beberapa menit yang lalu bersama Kyuhyun.”

“Panggil mereka berdua kesini.”

“Geundae…kondisi pasangan Kyuhyun masih belum stabil.”

“Brain wash dia. Ini kondisi darurat.”, perintah Rain.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Keiko, boleh aku masuk?”, Kyuhyun berdiri tepat di depan kamar Keiko yang berpintukan besi tebal. Kamarnya berseberangan dengan kamar Kyuhyun karena mereka akan ditempatkan dalam satu mobile suite.

Keiko pun membuka pintunya, “Masuk.”, ujarnya singkat.

“Kau…habis menangis lagi?”

“Annio.”, jawabnya sambil melipat bajunya.

“Keiko, dengar..kita team. Partner. Tidak seharusnya kau tetap menyimpan rasa dukamu.”

“Kau juga merasakannya, Kyu. Dan kau mengerti itu.”

“Aku tidak mengerti apa yang kau rasakan. Aku belum masuk ke dalam pikiranmu. Hanya satu yang bisa membuatku masuk ke dalam pikiranmu. Di dalam mobile suite itu. Tapi kita tidak akan bisa masuk ke dalam sana jika kau seperti ini, Keiko.”

“Persetan dengan mobile suite itu! Kenapa harus ada makhluk itu?! Kenapa harus ada mobile suite?! Semua itu yang membunuh keluargaku!!!”, Keiko berkata dengan wajah yang menahan amarah dan mata yang berkaca – kaca.

“Kau tahu, alasan aku ikut denganmu, agar aku mati dengan cepat dan kembali pada keluargaku!! Aku harus matii!! Matii!!!”, Keiko berteriak histeris.

“Keiko..tidak..kau tidak harus mati..”

“Untuk apa aku di dunia, hah?!! Untuk apaa?!!!!”, teriaknya lagi. Tangan gadis itu tiba – tiba mengambil gunting dari mejanya.

“Keiko, andwae!”, Kyuhyun melarang gadis itu.

“Jangan mendekat!!!”, teriak gadis itu.

“Keiko..kumohon..jangan seperti ini. Jangan sakiti dirimu sendiri.”

“Keiko…”, perlahan Kyuhyun mendekati gadis itu yang terdiam dengan tatapan kosong dengan air mata yang terus mengalir.

“Keiko, jangan biarkan dirimu terpenjara dalam masa lalu. Lihat yang ada dihadapanmu sekarang. Tata hidupmu lagi…”, Kyuhyun mendekatinya dan membuang gunting yang dipegangnya.

Gadis itu menangis histeris, jatuh terduduk dan menatap lantai, “Mama!!! Papa!!!”, jeritnya.

“Gwaenchana…mereka sudah tenang…jangan kau ganggu lagi mereka..”, Kyuhyun memeluknya membiarkan bahunya basah karena air mata gadis itu.

“Hiks..hiks..mama….papa….Keiko ingin bersama kalian…hiks…hiks…”, lelaki itu hanya mengusap kepala gadis itu, seolah memberikan ketenangan untuknya.

“Keiko, jika kau seperti ini terus, Rain hyung akan melakukan brain wash untukmu. Apa kau mau kehilangan memory mereka untuk selamanya?”, gadis itu menggeleng lemah dalam pelukan Kyuhyun.

“Kalau kau tidak mau, kontrol emosimu. Kontrol pikiranmu. Jangan biarkan masa lalu menguasai pikiranmu..”

“Geundae…mama…papa…”

Lelaki itu merengkuh wajah gadis itu, membingkainya dengan kedua tangannya, “Lihat aku, Keiko. Kau…kau pasti bisa melakukan itu. Jika kau melakukannya, bukan berarti kau melupakan papa dan mama mu. Mereka akan selalu ada di hatimu. Menjagamu. Yang kau lakukan adalah fokus di masamu sekarang. Jangan bertindak dengan emosi.”, gadis itu hanya mengeluarkan air matanya saat menatap lelaki di hadapannya.

“Uljimma…”, Kyuhyun mengusap air mata gadis itu.

“Kajja, kita harus bersiap.”, ujar Kyuhyun lagi membantu gadis itu berdiri.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Siwon, bawa dia ke ruang brain wash.”, perintah Rain saat melihat Kyuhyun masuk bersama Keiko. Siwon pun menarik Keiko.

“Andwaee…”, gadis itu meronta.

“Hyung, jangan bawa dia.”, ujar Kyuhyun.

“Tidak bisa! Itu akan berbahaya pada saat simulasi.”, jawab Rain.

“Tidak! Aku bertanggung jawab atas dia!”, ujar Kyuhyun tegas.

Rain pun berbalik pada Kyuhyun, “Kau berani mengabaikan perintah atasanmu? Apa karena kau ini sepupuku?”

“A..anni, hyung..geundae… Keiko sudah mulai bisa mengontrol pikirannya.”

“Bagaimana jika nanti tidak?”, tanya Rain yang membuat Kyuhyun terdiam.

“Kau tidak bisa menjawabnya, eoh?!! Apa kau pikir akan mempertaruhkan jutaan manusia di sana hanya demi anak ini, eoh?!!!”, bentak Rain.

“Dia partnerku! Aku mengerti dia!”, ujar Kyuhyun.

Tiba – tiba saja alarm pendeteksi Akrid itu kembali berbunyi.

“Mayday…mayday!! We need help!!”, Siwon langsung mengambil tindakan.

“Hyung, ini BF!”, ujar Siwon pada Rain.

“Kategori 4…selat sunda!”, ujar Kwangmin.

“Hyung, apa yang harus kita lakukan?”, tanya Siwon.

“Siapkan Twist!”

Twist adalah mobile suite yang akan dipakai oleh Kyuhyun dan Keiko. Kemampuannya adalah pengendali angin. Robot ini dapat terbang hingga akan cepat tiba.

“Dengar kalian berdua, ini bukan simulasi! Ini sungguhan! Jangan sampai terjadi apa – apa!”, perintah Rain pada Keiko dan Kyuhyun.

“Yes, Sir!”, Kyuhyun dan Keiko langsung berlari menuju mobile suite mereka.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Transfering data.”

“Data completed.”

“Left brain syncronized.”, pemantau bagian kiri yang dikendalikan Keiko telah berhasil berkesinambungan.

“Right brain syncronized.”, pemantau bagian kanan yang dikendalikan Kyuhyun juga berhasil.

“Twist is ready.”, ujar Siwon pada Rain.

“Luncurkan!”, ujar Rain.

“Okay, Twist, yang perlu kalian lakukan adalah serangan udara. Mobile suite BF kesulitan karena Akrid ini memiliki sayap. Kalian mengerti?”, ujar Siwon.

“Roger!”, jawab Kyuhyun dan Keiko bersamaan.

Syuunng!! Mobile suite Twist pun terbang melesat menuju lokasi BF di Indonesia.

“Keiko, ingat ucapanku tadi.”, ujar Kyuhyun.

“Ne…”, jawab gadis itu.

“Kau siap? Dalam hitungan 10 kita akan berhadapan dengan makhluk keparat itu.”, ujar Kyuhyun lagi.

“Yeah!”, ujar Keiko.

“Nine…eight…seven…six..five…”

Kyuhyun tampak menyalakan semua tombol penyerangan.

“Keiko, aktifkan shoulder’s rockets.”

“Done!”

“Four…three…”

“Reloading fire…”

“Two..one..”

DRUAKKH!!!! Mobile suite Twist berputar di udara dengan dua pedang di tangannya bersiap merobek Akrid itu yang sedang menyerang mobile suite BF.

Sriing!! Craassshh!!

“Jump!!”, Kwangmin dan Youngmin menghindar serangan Akrid itu.

“BF, kalian serang arah jam sembilan. Twist akan menyerang dari udara.”, ujar Kyuhyun yang kini sudah berada di samping mobile suite BF.

“Okay!”

“Kyu, sayapnya!!”, Keiko langsung menggunakan tangan kirinya yang langsung menggerakkan tangan robot yang mereka kendalikan untuk menahan serangan sayap Akrid itu pada bagian kanan yang dikendalikan Kyuhyun.

“Oh, thanks.”, ujar Kyuhyun.

“Fire blast!!”

“Reloading.”

“Keiko, tahan dengan pedangmu!”

“Kami akan mengalihkan perhatiannya, hyung!”, terdengar suara Youngmin dari balik mobile suitenya.

BUAKH!! BRUAK!!

GROAWR!!! Akrid itu mengaum keras.

“Akh!”, Keiko berteriak saat kakinya terkena cakaran dari Akrid itu.

“Keiko!”

“Gwaenchana yo..”, ujarnya pada Kyuhyun.

“Fire blast is ready.”

“Rasakan ini!!”

DHUAR!! DHUAR!! DHUAR!! Kyuhyun menembakkan senjatanya tepat di jantung Akrid itu berkali – kali hingga Akrid itu mati dan terpental jauh.

Kedua mobile suite itu kembali ke pinggir pantai. Youngmin dan Kwangmin keluar dari mobile suitenya. Begitu juga dengan Kyuhyun dan Keiko. Hanya saja, Keiko harus dipapah karena kakinya yang terkena serangan.

“Siwon hyung, Twist sedikit mengalami kerusakan. Dan BF juga….”

Belum selesai Kyuhyun melanjutkan kalimatnya, Siwon memotongnya, “Kami akan kirim bantuan ke Indonesia.”

“Ne!”, ujar Kyuhyun.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hati – hati…”, ujar Kyuhyun yang membantu Keiko duduk dengan kaki yang terluka. Tim medis pun datang dan Keiko dibawa ke ruang perawatan.

“Maaf, anda silahkan tunggu di luar.”

“Percayakan dia di dalam hyung..dia akan baik – baik saja.”, ujar Youngmin.

“Ne…pasti dia akan ditangani dengan baik.”, sambung Kwangmin.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku tiba di tempat ini. Tempat bedebah ini.

“Kajja…”, Joon membawaku ke dalam.

Sontak saja aku dibuat kagum beberapa saat melihat banyak mobile suite di dalam sini yang sedang diperbaiki dan dibuat.

“Sebelah sini..”

“Aa! Joon hyung sudah datang?”, seorang pria dengan lingkaran hitam dimatanya menyapa lelaki di sebelahku.

“Tao..hey bro! Long time no see!”, ujar Joon yang kemudia merangkul lelaki itu menepuk punggungnya. Namanya Tao? Molla…

“Dia…”, lelaki itu menggantungkan kalimatnya melihatku.

“Partnerku…hhm..Kinara, ini Tao. Tao, ini Kinara..”, ujar Joon memperkenalkanku dengannya.

“Haish! Si otot idiot ini sudah datang rupanya..”

“G.O hyung!”, siapa lagi lelaki mirip gorilla ini?

“Kinara, ini G.O hyung…”, dia mengenalkan lelaki itu padaku.

“Joon, bisa ke ruanganku sebentar?”, tanya pria yang seingatku bernama G.O itu.

“Ra, kau di sini sebentar ya…”, aku mengangguk.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aku memberikan kebebasan pada Kris untuk memilih.”

“Memilih?”, tanya Joon pada G.O.

“Ya. Dia harus memilih antara kau dan Kinara.”

“Bukankah Kinara pasanganku?”

“Annio…ini keputusan dari pusat juga. Amerika.”, tutur G.O.

“Geu…geundae aku dan Kinara sudah…”

“Kompak?”, lanjut G.O.

“Yeah…karena itu…kau juga tahu kan, aku bisa kompak dengannya butuh waktu lama. Bagaimana jika Kris nanti memilih dia?”

“Karena itu…kalian bertiga akan battle.”

“Battle?”

“Ne..untuk menentukan kekuatan kalian. Dan juga…pasangan yang Kris pilih.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat menunggu Joon, aku bercengkerama dengan Tao. Dari perbincangan kami, Tao mengatakan kalau semua teman – teman seperguruannya tewas saat Akrid itu menyerang. Ternyata lebih menyedihkan dari kisahku.

Saat aku sedang berbincang dengan Tao, tiba – tiba datang lagi tiga orang pria menghampiri kami.

Yang satu berwajah imut, yang satu berwajah sadis dengan kulit sedikit gelap dibandingkan lainnya, dan yang satu lagi seperti tiang listrik, tinggi menjulang dengan wajah yang sangat dingin.

“Ternyata kau di sini…kami dari tadi mencarimu, mata panda!”, lelaki berwajah imut itu menunjuk Tao.

“Hyung, we have new crew here!”, ujar Tao.

“Hng? Maksudmu?”

“Kinara, ini Lu Han hyung, ini Kai hyung, dan ini Kris hyung.”, Tao memperkenalkan ketiga lelaki itu padaku. Jadi yang berwajah imut itu bernama Lu Han, yang tinggi menjulang itu Kris, dan yang satu lagi namanya Kai. Hhhmm…aku mengerti sekarang.

“Dia perwakilan dari Indonesia yang dibawa Joon hyung.”, lanjut Tao lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jadi dia yang G.O hyung bilang? Huh! Kupastikan kemampuannya rendah!”, batin Kris.

“Hyung, waeyo?”, tanya Kai pada Kris.

“Anni..gwaenchana…aku mau ke dalam dulu..”, ujar Kris.

“Chakkaman, Kris..!”, G.O mencegahnya.

“Kinara, Joon, Kris, ikut aku.”, ujar G.O.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kenapa hanya kita bertiga?”, tanyaku pada Joon. Dia hanya tersenyum memperlihatkan lesung pipinya dengan tangan yang menggenggam tanganku erat. Kami dibawa ke ruangan khusus.

“Ini ruang ujian.”, ujar Joon.

“Ruang ujian?”, tanyaku.

“Kris, sesuai keputusan..kau bisa memilih antara Joon dan Kinara.”

“Aku tidak mau!”, ujarku. Sontak saja G.O langsung memandangku kesal.

“Ssst..jangan membantahnya, Ra..”

“Tapi…aku..”

“Kenapa, nona? Takut bertarung?”, Kris menyindirku.

“Kris!”

“Wah..wah..wah…kau membelanya? Hebat kau, hyung!”

“GEUMANHAE!!”, aku tersentak kaget ketika G.O berteriak.

“Kau…Kinara..! Kau lawan Kris!”, aku melebarkan kelopak mataku.

“Ganti bajumu!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kinara…”, gadis itu menoleh saat seorang pria memanggilnya.

“Kalau kau tidak bisa melawannya, biar aku yang melawannya.”, ujar Joon.

“Aku bisa…”, jawab gadis itu tersenyum.

“Kinara…aku..aku tidak mau kau memaksakan diri…”

“Tidak Joon..ini memang harus kulakukan…”, lelaki itu langsung memeluk gadis yang di hadapannya. Memeluk erat seolah tidak mau melepaskannya.

“Saranghae~”, bisik lelaki itu yang masih mendekap tubuh gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
A..apa?! ‘Saranghae’ dia bilang?! Ba..bagaimana bisa?? Hey, kami baru bersama empat hari di camp Jakarta. Dan dia mengatakan hal ini?

“Selama ini…tidak ada orang yang kulindungi setelah kakakku meninggal. Tapi kini…saat aku bertemu denganmu, aku sangat ingin melindungimu. Karena aku mencintaimu.”, aku hanya mampu terdiam mendengar penuturannya.

“Aku tidak berharap kau menjawab perasaanku sekarang, Ra…tapi niatku untuk melindungimu, jangan kau anggap sebagai omong kosong.”, dia melepaskan pelukannya dan menatapku dalam. Aku tidak melihat kebohongan terpancar dari manik matanya.

“Aku mencintaimu…”, ujarnya mendekatkan wajahnya denganku. Ti…tidak! Aku tidak diciumnya kan?!!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Lelaki itu mencium kening gadis di depannya. Mengusap sebelah pipinya dan tersenyum padanya.

“Aku akan selalu membelamu, dan melindungimu tanpa kau minta.”, ujarnya.

Gadis itu menunduk dan berkata, “Aku…sejak kau datang…aku memang merasa aman di dekatmu…apakah aku diberi kesempatan untuk berpikir?”

“Tentu saja….apa yang kau katakan? Aku bukan seorang diktator seperti yang kau bayangkan.”, ujar lelaki itu mengacak rambut gadis itu dengan tersenyum.

“Geundae…bolehkah aku memanggilmu, ‘oppa’? Joon oppa?”

“Anything for you….”, gadis itu memeluk lelaki itu.

“Maafkan aku…aku belum bisa membalas perasaanmu, oppa…”, batin Kinara.

“Cha! Kau harus bersiap – siap jika kau mau menghadapi manusia itu. Aku akan menunggumu di sini.”, ujar Joon pada Kinara.

“Tunggu ya…”

“Ppali ya!”, ujar Joon yang langsung memasukkan gadis itu ke kamarnya untuk berganti baju.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“I’m ready.”, ucapku saat berhadapan dengan Kris di depanku.

“Cih! Kau berani rupanya?”, dia merendahkanku? Lihat nanti!

“Kinara, kau hanya perlu fokus!”, ujar Joon oppa di belakangku. Yeah…fokus.. Fokus menghajar pria brengsek ini!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kris dan Kinara bertarung dengan tangan hampa. Mereka berdua benar – benar mengandalkan kemampuan fisik mereka. Secara fisik, tubuh Kris jauh lebih tinggi dari Kinara yang hanya sebahu lelaki itu.

“Majulah…aku tidak mungkin menyerang wanita lebih dulu.”

“Dalam pertandingan, tidak ada wanita atau pun lelaki. Yang ada bagaimana cara untuk menang!”, Kinara benar – benar maju lebih dulu saat Kris sudah siap dengan posisi kuda – kudanya menerima serangan dari lawannya.

Buagh! Dhuakh! Tinjuan dari gadis itu dengan mudah ditangkis oleh Kris. Tubuhnya yang lebih tinggi, memudahkannya untuk menghalau semua serangannya.

Brukk! Dengan mudah, Kinara dijatuhkan oleh Kris.

“Kinara!!”, Joon bergumam khawatir.

“Hanya sebatas itu kemampuanmu, nona? Aku tidak akan mengalah sekali pun kau wanita.”, jelas sekali Kris terlihat menantangnya. Kinara pun melompat ke belakang dengan bersalto.

“Jangan pikir aku ini lemah, tuan!”, ujar Kinara yang melompat dan menggunakan dinding sebagai pijakannya dan menendang Kris. Tendangannya berhasil mengenai pelipis pria itu.

“Oops! Maaf!”, ucap Kinara yang seperti merasa bersalah.

“Huh! Boleh juga!”, ujar Kris.

Buagh! Dhuakh! Drak!

“Ugh!”, perut gadis itu terkena tendangan lelaki tinggi itu.

“Apa itu sakit?”, tanyanya. Keringat pun membasahi tubuh keduanya. Meskipun gadis itu menguncir satu rambutnya tinggi, tetap saja peluh masih membanjiri tubuhnya dan membuat rambutnya sedikit berantakan.

Sreett!! Deshh!! Kinara menggunakan tendangan bawah yang tidak diduga Kris sebelumnya hingga lelaki itu terjatuh. Sebelum lelaki itu bangun, Kinara membelit kaki lelaki itu dengan kakinya dan menguncinya juga menahan tangannya.

“Menyerah sekarang, euhm?”

“Hahaha…tidak semudah itu.”, dengan ringannya, tubuh Kris berbalik dan melompati gadis itu dengan menggunakan tubuh gadis itu sebagai pijakan. Gadis itu pun kehilangan keseimbangannya dan melompat ke belakang menjauhi Kris.

“Dasar pecundang!”, Kinara berlari dan bersiap menendang Kris dengan berpijak pada dinding. Belum sempat kaki itu menendang dagunya, Kris menahannya dengan kedua tangannya hingga tubuh gadis itu terbalik. Beruntung Kinara memiliki keseimbangan yang cukup, ia menahan tubuhnya sendiri agar tidak terjatuh.

“Teknik yang sama, nona! Kau tidak bisa mengelabuiku!”

Bruakh!!

“Akh!”, Kinara sedikit mengerang saat Kris membantingnya di atas matras. Matras itu seolah tidak berfungsi menjadi bantalannya. Dengan cepat, Kinara menggunakan kakinya untuk membelit lengan Kris dan menjatuhkannya ke samping.

“Cukup!”, perintah G.O.

“Joon, giliranmu!”, ujar G.O lagi.

“Ne…”, Joon pun maju setelah sesaat sebelumnya memberikan handuk pada Kinara untuk menyeka keringatnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kali ini serangan Kris pada Joon lebih brutal.

Buakh!! Dhuakh!!

“Jangan sombong kau!”, ujar Joon.

Buakh! Druakh! Desshh!! Dengan tinjuannya, Joon berhasil menjatuhkan Kris.

Kris melompat menghindari serangan Joon dan berbalik menahan tangan lelaki itu. Tidak hilang akal, Joon menggunakan kakinya untuk menjatuhkan Kris.

Bruukk!! Pria jangkung berambut blonde itu pun terjatuh.

Sreet! Buakh! Dhuakh!

“CUKUP!”, tiba – tiba Rain menghentikan pertarungan. Di belakangnya bukan Siwon. Melainkan salah satu penemu dari Jepang.

“G.O, kau akan pairing dengan Joon. Dan kau Kris, akan berpasangan dengan Kinara.”

“Ta..tapi…”

“Keputusan ini dibuat oleh penemu mobile suite. Jika kalian menggabungkan kekuatan yang sama, tidak ada gunanya. Kalian harus saling mengisi.”, ujar Rain.

“Kinara, Joon, kalian memang kompak, namun kemampuan kalian sama. Mobile suite yang akan dikendalikan menjadi tidak efektif.”

“Yah, untuk itu, untuk membangun kekompakkan antara kau dan Kinara, hanya kalian yang bisa.”

Tanpa permisi, Kinara langsung keluar ruangan. Joon pun menyusulnya. Tapi, gadis itu tidak berhasil ditemukan oleh Joon.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sicaa~ Wait! Ponselmu ketinggalan.”, aku melihat ada seorang gadis yang bermain roller blade. Di belakangnya ada seorang gadis lagi yang berlari mengejarnya.

“Awaasss!! Minggirrr!! Huwwaa!!”

Brukk!

“Aww!”, pekikku.

“Hyaaa!! Neo gwaenchana??”

“Tuh kan! Apa kubilang! Jangan main roller blade di dalam sini! Kalau ketahuan Rain oppa, kau bisa dimarahi habis – habisan.”

“Hey, neo gwaenchana?”, gadis yang memakai roller blade itu menepuk bahuku.

“Eeh?? Ne..”, jawabku.

“Kau…kau yang dari Indonesia itu ya?”, hey! Aku terkenal? Hahaha.

“Kinara imnida..”

“Jessica imnida…Sica..dan ini, Tae Yeon. Panggil saja dia Taeng.”, ujarnya padaku.

“Hey, bagaimana kalau ke kamar kita saja? Kita mengobrol? Kelihatannya kau habis menangis..”, aku pun menurut.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Waah…ternyata kau lebih muda dari kami ya??”

“Ne…boleh tidak kalau aku memanggil kalian dengan ‘eonni’?”

“Tentu saja boleh! Kau ini tidak seperti Sica yang tidak mau memanggilku seperti itu!”

“Yaah~ Kita kan hanya beda beberapa bulan, Taeng!”

“Haish~ Sudahlah…jangan diperpanjang. Bisa bisa mobile suite menjauhi kita. Hey, anak manis, kenapa kau sedih sekali?”, tanya Tae Yeon.

“Aku…aku dipasangkan dengan Kris…”

“What?! Dengannya?!”, ujar Tae Yeon dan Jessica bersamaan. Kinara mengangguk.

“Chakkaman! Berarti Joon oppa dengan G.O oppa?”

“Mungkin…”

“Astagaaa!!! Ini bahaya! Ini bahaya!! Bagaimana bisa kau satu mobile suite dengan Kris sementara kau dengannya sama sekali tidak kompak!”

“Makanya itu, eonni…aku harus bagaimana?”, lirih Kinara.

“Hhmm….hanya kalian berdua yang bisa menyelesaikannya. Pacaran misalnya?”, ujar Jessica.

“Yaah!! Itu tidak mungkin, Sica!”, Tae Yeo menjitak kepala Jessica.

“Aww! Appo yaa!”

“Bagaimana kalau saling curhat?”, usul Tae Yeon kemudian.

“Tidak mungkin juga, eonni…aku membenci dia, dan dia membenciku.”, jawab Kinara juga.

“Haish..Taeng, dia juga bukan wanita! Mana mau lelaki curhat!”, ujar Jessica.

“Hhm..iya juga sih.. Hhm..lalu..bagaimana ya??”, Tae Yeon kelihatan berpikir.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Alarm kemunculan Akrid kembali berbunyi. Kali ini dua Akrid sekaligus dengan kategori 4 di perairan Kalimantan Indonesia.

“Kyu, ayo!”, ujar Keiko.

“Tidak bisa, Keiko. Kakimu masih sakit!”, Kyuhyun melarangnya.

“Tapi Kwangmin dan Youngmin tidak mungkin bisa sendirian!”

“Kalau kita memaksakan diri, percuma saja!”, ujar Kyuhyun.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Dengan pesawat jet besar, mobile suite yang dikendarai Joon dan G.O pun datang. Mobile suite yang bernama BLAQ, sebuah robot berwarna hitam dengan kemampuan gerakan yang super cepat.

“BF, bertahanlah. Kami akan mencapai posisi kalian.”, ujar Joon pada Kwangmin dan Youngmin yang sedang melawan Akrid.

SHHUUTT! SHHUUT!! Roket misil dari tangan mobile suite BLAQ mengenai bahu Akrid dari belakang. Akrid itu menoleh dan membalas serangan pada BLAQ.

SRIINGG!! Mobile suite BF juga menyerang dengan pedang kembarnya dari belakang.

TRAAAKK!!! Akrid dapat mematahkan serangan BF.

SHHUUTT!! SHUUT!! BLAQ kembali menyerang Akrid. Akrid yang pasif tiba – tiba ikut menyerang BLAQ dan BF.

“We need help!!”, G.O menghubungi kantor pusat.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Turunkan Flower dan XO! Ini Akrid besar!”, ujar Rain.

“Ne!”, Siwon kemudian memberikan panggilan pada Tae Yeon dan Jessica. Juga pada Lu Han, Tao, dan Kai.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Tae Yeon, Jessica, segera bersiap menuju Flower!”

“Hah?! Langsung?”, tanya Jessica eonni.

“Ppali ya!!”, ujar Taeng eonni.

“Kinar, kami harus bersiap. Kau…”

“Gwaenchana eonni..aku mau keluar saja..”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ppalii! Ppali! Ppalii!!”, kulihat Tao, Lu Han, dan Kai berlarian. Apa mereka juga ikut?

“Sebenarnya sih harusnya kita tenang – tenang saja. XO kan bisa teleport.”, hah? Mobile suite nya bisa teleport? Keren sekali!

Hhhm..aku ingin lihat bagaimana mobile suite aku nantinya. Apa aku bisa lihat dari dekat ya?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Woaah!! Keren sekali mobile suite ini!”, batin Kinara kagum. Gadis itu tengah melihat sebuah robot raksasa berwarna merah dengan gambar naga dengan sayap yang lebar di dada mobile suite itu. Tulisan ‘dragon’ terpatri di dada kiri mobile suite itu.

Kinara berdiri tepat di bawah mobile suite itu. Bahkan tinggi gadis itu tidak mencapai mata kaki mobile suite itu. Bisa dibayangkan betapa tinggi dan besarnya Dragon.

“Awaasss!!!”

KLAANKK!!! Sebuah mesin penggergaji besi terjatuh dengan kondisi masih menyala.

“A..aku masih hidup..”, batin gadis itu.

“Yaaa!!! Apa yang kau lakukan di sini?!!! Apa kau gila, eoh?!!! Berkeliaran di sini!! Apa kau mau aku laporkan pada Rain hyung, eoh?!”, seorang pria memarahinya.

“K..Kris?”, gumam Kinara.

“Cepat bangun! Kau pikir, kau tidak berat, eoh?!”, gadis itu baru menyadari jika ia duduk tepat di atas tubuh lelaki itu.

“Du..Duìbùqǐ (maafkan aku)…Xièxiè…”, ucap gadis itu.

“Aa! Sigh!”, lelaki itu mengerang sakit di kepalanya.

“Ka..kau terluka?”, tanya Kinara.

“Menurutmu apa kalau kepalaku berdarah?”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Mana kotal P3K?”, tanyaku saat di kamarnya.

“Entahlah…”

“Haish! Kau ini…tunggu sini!”, aku beranjak ke kamarku yang ada di seberang kamarnya.

Aku pun kembali ke kamarnya yang masih dengan pintu yang terbuka. Sama sepertiku, kamarnya juga berpintukan besi tebal seolah kamar itu menjelma sebagai brankas.

“Tahan sedikit ya…”

“Maksudmu, aku akan menjerit kesakitan, begitu?”

“Hhm..kalau begitu maumu.”, jawabku membersihkan darah di kepalanya dan memberikan antiseptik di pelipisnya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
BLAM!

“Hah?! Astaga!!”, dia terlihat kaget mengabaikan rasa sakit di pelipisnya.

“Why?”, tanya Kinara.

“Kita terkunci.”

“What?!!!”

Kris berusaha membuka pintu besi itu hingga otot – otot di lengannya terlihat jelas. Namun, pintu itu masih tetap tidak terbuka.

“Haish! Pintu ini sering sekali seperti ini!”, gerutunya.

“Sering seperti ini?!”

“Ne..makanya kuletakkan ganjalan pintu.”

“Magnet! Pintu ini besi kan? Pakai magnet untuk menariknya.”

“Harus sebesar apa magnet itu kalau pintunya seperti ini?”

“Jadi kita harus terkurung di sini?”, tanya Kinara lirih.

“Tidak akan kekurangan bahan makanan.”

Kris meraih ponselnya dan berusaha menelpon keluar. Tapi tidak ada yang menjawab lantaran sibuk dengan kemunculan Akrid.

“Bagaimana jika aku tidak bisa keluar? Bagaimana kalau tiba – tiba muncul Akrid besar di sini? Bagaimana jika aku tidak bisa bernapas?”, berbagai pikiran negatif selalu muncul di benak Kinara.

Kelemahan gadis itu adalah mudah panik. Dan ini selalu berimbas pada pernapasannya yang sering sesak.

“Tidak…aku tidak mau mati konyol! Tidak! Aku tidak mau…hhh…hhh…”, gadis itu mulai sesak memegangi dadanya kesulitan bernapas.

“Kau..kau baik – baik saja?”, gadis itu tidak menjawab. Dia masih sulit bernapas.

“Kinara…?”

“Hhh…hhh…hhh…”, Kris memeriksa denyut nadinya.

“Astaga! Kenapa dia?”, batin Kris.

“Kinara…kau dengar aku?? Hey, apa yang terjadi denganmu?”, Kris ikut bersimpuh di depan gadis itu.

“Kinara..! Hey! Jangan membuatku bingung!”

Kris pun menggendong gadis itu, membaringkannya di tempat tidurnya. Kepalanya diberikan ganjalan bantal yang tinggi.

“Kinara…hey…”, tatapan gadis itu hanya menuju satu arah saja.

Kris akhirnya memutuskan untuk memberikan bantuan pernapasan buatan untuk gadis itu. Tangannya menelusup ke bawah leher gadis itu, memastikan posisi lehernya yang lurus agar oksigen masuk.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Flower shuriken!”, Tae Yeon dan Jessica masih terlibat pertarungan melawan Akrid di Indonesia dalam mobile suite yang bernama Flower.

“Twins swords!”, Kwangmin dan Youngmin juga menyerang Akrid.

“Thunder attack!!”, Joon dan G.O tak mau kalah.

“LIGHT BLAST!!”, Tao, Kai, dan Lu Han juga bergerak dalam mobile suite XO nya.

Seketika kedua Akrid itu musnah.

“Haissh! Melelahkan sekali ya, Taeng!”, ujar Jessica yang terengah – engah.

“Uhm…dasar! Merepotkan saja makhluk itu!”, sambung Tae Yeon.

“Kalian…baik – baik saja?”, Kyuhyun keluar sambil mendorong kursi roda Keiko.

“Keiko-chaan!”, Jessica dan Tae Yeon langsung menghampiri gadis itu.

“Minggir, evil!”, Jessica langsung mendorong Kyuhyun.

“Yaah! Aku ini lebih tua dari kalian!”

“Don’t care!”, jawab Jessica dan Tae Yeon bersamaan.

“Kami baik – baik saja…geundae…aku khawatir jika nantinya akan muncul Akrid yang lebih besar.”, ujar G.O.

“Maksudnya, hyung?”, tanya Kyuhyun.

“Ada kemungkinan, Akrid yang muncul adalah kategori 5 yang jauh lebih besar. Meskipun kita melawannya dengan 5 mobile suite itu tidak akan mudah. Seandainya saja Kris dan Kinara sudah bisa bertugas, tugas kita akan jauh lebih ringan.”, jelas G.O.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kinara…kau sudah baikkan?”, tanya Kris.

“Pintunya…pintunya..”

“Tenanglah…kita akan baik – baik saja..”

“Ta..tapi kalau..pintu itu..mati..kita..pintu..”

“Nara..hey…! Tenang..kau harus tenang..kau tidak bisa seperti ini…”, Kris memegang kedua bahu gadis itu erat.

“Dengar…kita…kau, aku bisa keluar dari sini. Jadi, aku minta kau jangan panik.”, ujarnya lagi.

“Kinara, kau mengerti?”, gadis itu hanya merespon dengan menganggukkan kepala.

Kris pun kembali menelpon keluar. Dilihatnya, gadis itu terlihat seperti orang ketakutan, duduk meringkuk di tepi ranjang lelaki itu. Kris kemudian ikut duduk di samping gadis itu sambil berusaha menelpon. Dia merangkul gadis itu dengan tangan kirinya dan mendekatkannya pada tubuhnya sementara tangan kanannya memegang ponselnya.

“Yeoboseyo…kami terkurung. Bisakah kalian membuka pintu di sini?”

“Ne…baiklah…”, ujar Kris lagi yang kemudian memutus sambungan teleponnya.

“Takut…aku takut….aku takut…”, gadis itu bergumam.

“Jangan takut. Kita akan segera keluar dari sini.”, ujar Kris membiarkan dadanya menjadi sandaran bagi gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hyung, mereka bersarang di sini..kita harus menyerangnya di sini.”, Siwon menunjukkan peta keberadaan Akrid pada layarnya.

“Tenaga akan kurang jika penyerangan hanya dilakukan 5 mobile suite.”, Rain berpikir.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Takut…aku takut…”

“Kinara, ada aku. Jangan takut..”, Kris menggenggam kedua tangan gadis itu.

“Takut….mama….”, Kris memeluk gadis itu, mengusapnya dan memberikan ketenangan untuknya.

“Aku di sini…jangan takut…”, berkali – kali Kris mendoktrin pikiran gadis itu.

KLANK! KLANK! Pintu besi itu sudah terbuka.

“Kinara, lihat…pintu sudah terbuka..”, Kris menunjuk suatu arah.

Gadis itu langsung keluar dan menuju kamarnya yang ada di seberang. Karena ketakutan, ia sampai lupa menutup pintu kamarnya, hingga Kris bisa masuk dan menutupnya sedikit.

Gadis itu menekuk lututnya, merapatkan hingga dadanya, membenamkan kepalanya diantara kedua lututnya. Kris pun menghampirinya dan menyentuh kepalanya.

“Kyaaa!!”, secepat kilat, gadis itu menepisnya.

“Hey, ini aku…Kris..”, ucapnya. Ia tidak menyangka gadis yang kekuatannya nyaris menyamainya, ternyata serapuh ini.

“Hiks…hiks…hiks….”, gadis itu menangis.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Entah kenapa aku menjadi paranoid sendiri. Aku cemas dan selalu waspada. Tapi, dengan lelaki ini, justru aku membiarkannya di dekatku.

“Kinara, lihat aku!”, tangannya membingkai wajahku untuk menatapnya. Tapi aku hanya bisa memejamkan mataku menangis.

“Lihat aku, Nara..please.”

“Ketakutan menguasaimu. Buang itu jauh – jauh atau kau tidak bisa mengendalikan Dragon bersamaku.”

“Aku tidak bisa…aku aaa!!!”

“Nara…Nara… Tidak bisa adalah kata – kata bagi orang yang tidak mau mengerti dan tidak mau mencari solusinya. Kau bisa Nara! Kau bisa!”, ucapannya..hampir mirip ucapan Joon oppa.

“Kinara, Kris, kalian bersiap – siap.”, aku mendengar pemberitahuan itu. Bagaimana mungkin aku masuk Dragon sementara aku seperti ini.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Bawa dia, Siwon.”

“Hyung, mau dibawa kemana Kinara?”, tanya Kris pada Rain saat melihat Kinara yang masih dengan tatapan kosong dibawa Siwon.

“Penjernihan pikiran.”, jawab Rain singkat.

“Andwae! Hyung, kenapa kau melakukan itu?!”

“Akrid banyak muncul di perairan Indonesia. Kalian berdua harus ke sana. Tapi karena Kinara tidak memungkinkan, dia harus…”

“Hyung! Kenapa kau selalu menggunakan cara itu? Dulu Keiko juga. Dan sekarang Kinara? Kau….sigh!”, Kris meninggalkan Rain begitu saja dan menyusul Kinara yang dibawa oleh Siwon.

Tapi, terlambat! Kinara sedang dalam proses brain wash.

“Andwaeee!!! Buka!! Buka!!”, Kris menggedor – gedor kaca tebal itu. Percuma, karena ruangan itu kedap suara. Sedangkan Kris hanya bisa menatap Kinara dari luar.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Siapa pria ini? Kenapa dia menatapku seperti ini?”, pikiran itu terus berada di benakku.

“Kinara….”

Kenapa dia tahu namaku? Siapa dia?

“Jangan mencampuri pikirannya dengan masa lalu.”, tiba – tiba lelaki yang menggunakan name tag bernama Choi Siwon ini bicara pada lelaki di hadapanku.

“Kinara, ini Kris. Partnermu di dalam mobile suite Dragon. Arraseo?”, jelasnya.

Kris. Jadi namanya Kris.

“Arraseo, Siwon oppa…”, ujarku.

“Kajja, pergilah kalian berdua.”

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Dia benar – benar tidak mengingatku. Kupastikan dia benar – benar lupa masa lalunya.”, batin Kris.

“Aku Wu Yi Fan.”, ujar Kris.

“Eoh? Bukankah kau…Kris?”, tanyanya.

“Wu Yi Fan adalah nama asliku. Kau bisa aikido, Nara?”, Kris memanggil gadis itu dengan nama yang hanya dia yang memanggilnya.

“Nara…biasanya orang – orang selalu memanggilku dengan Ra, atau Kinar. Aikido…aku memang bisa aikido. Dari mana lelaki ini tahu?”, batin Kinara.

“Nara…??”

“Euhm?”

“Nothing.”, ujarnya lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Aku dan dia kini memasuki ruangan mobile suite kami, Dragon. Rasanya, aku seperti de ja vu.

“Awaasss!!!!”

KLANK! KLANK! RRRRRR!!

A..astaga! Dari mana datangnya gergaji besi ini?

“Kau tidak apa – apa, Nara?”, aku menoleh dan aku baru menyadari kalau aku duduk di atas tubuh Kris. Aku seperti pernah mengalami ini.

“Gwaenchana…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Left brain is syncronized.”

“Right brain is syncronized.”

“Dragon is ready.”

Kedua sisi mobile suite yang dikendalikan Kris dan Kinara sudah aktif.

“Nara, kau sudah siap?”, tanya Kris.

“Wait! Aku mau coba ini..sepertinya jariku sakit.”, Kinara menggerakkan jari – jari tangan kirinya yang juga menggerakkan jari – jari tangan kiri Dragon.

“High five?”, tanya Kinara pada Kris. Kris pun menggerakkan tangan kanannya pada tangan kiri Kinara yang membuat Dragon seolah bertepuk tangan.

“Dragon is launching.”

SYUUTT!! Dragon meluncur ke udara dan mengembangkan sayap apinya.

“Dragon, Akrid kategori 4 muncul di perairan Bali. Segera meluncur ke sana!”

“Copy!”, ujar Kinara dan Kris bersamaan.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Woaah!! Besar sekali Akridnya! Selama ini aku hanya melihat Akrid kategori 3.”, ujarku.

“Kau melihat Akrid?”, tanya Kris. Aku terdiam saat mendengar pertanyaan Kris.

Tiba – tiba saja semua kejadian terlintas di benakku. Mama yang meninggal, pantai, Akrid, Joon oppa, dan bahkan…Kris. Kris pernah menjadi partnerku bertarung.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Aaakkhh!!!!”, gadis itu menjerit dan menggerakkan tangan kirinya yang berisi lightning fire.

“Nara!! Jangan, Nara!!”, Kris melihat arah tangan Kinara yang terhubung dengan tangan kiri Dragon, mengarah ke pemukiman.

“Jangan!! Jangan bunuh kami!!”, teriak Kinara yang tetap mengarahkan tangannya.

“Lightning fire is reloading..”

“Nara!!”

“Mayday! Mayday! Left brain is under trouble! We need help!”, ujar Kris.

Dengan segera, mobile suite BLAQ dan Twist tiba.

“Fire blast!!”, Twist mulai penyerangan pada Akrid.

“Thunder attack!!”, Blaq menyerang.

Sementara Dragon, hanya berdiri di belakang tanpa melakukan apa – apa. Sistem konektifitas dimantikan dari pusat hingga robot itu mati total. Kinara pun terjatuh lemas dari tempatnya.

“Nara! Nara, bangun Nara!”, Kris menepuk – nepuk pipi gadis itu.

Karena tidak merespon, Kris menggunakan lengannya untuk bantalan gadis yang tergolek lemah itu. Setelah Akrid mati, Kris menggendong Kinara keluar mobile suite.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nara…bangunlah..”, Kris terus menggenggam tangan gadis itu.

“Apa yang terjadi dengannya?”, tiba – tiba Kyuhyun dan Keiko masuk.

“Brain wash.”, jawab Kris lemah.

“Dan kau tidak mencegahnya?”, tanya Kyuhyun.

“Sudah. Tapi…terlambat.”

“Ra!!”, Joon tiba – tiba masuk dan memeluk tubuh gadis itu yang masih tak sadarkan diri. Seolah tak peduli dengan tangan gadis itu yang masih digenggam oleh Kris.

“Kau! Kau ikut aku, brengsek!!”, Joon menunjuk wajah Kris kesal.

“Oppa…apa Kinara seperti ini karena memorynya kembali?”, tanya Keiko pada Kyuhyun. Belakangan ini, lelaki yang terkenal karena ulah evilnya itu menyuruh gadis berdarah Jepang itu memanggilnya dengan sebutan ‘oppa’.

“Ya…memang brain wash bisa menormalkan pikiran. Tapi sangat bahaya jika memorynya tiba – tiba kembali teringat olehnya. Karena itu, saat itu, aku menolak kau untuk di brain wash.”, jelas Kyuhyun.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“PUAS KAU MEMBUATNYA SEPERTI INI, EOH??!!”, Joon menghardik Kris.

“Sudah kuduga, kau tidak becus menjaganya!! Dan kau malah membuatnya seperti ini!!”

“Mianhae.”

“Hanya itu?!!! Dengar Kris, aku tidak akan membiarkan Kinara dekat denganmu, lebih dari seorang partner!! Dan kau… Jauhi dia!!”

“Aku tidak bisa.”, jawab Kris yang membuat Joon geram.

“Pikiranku terhubung dengan Nara. Dan aku sadar, dia tidak sekuat kelihatannya. Aku akan melindunginya.”

“Cih! Melindunginya? Yang bisa melindunginya hanya aku!”, ujar Joon.

“Huh! Tapi sayangnya, Nara akan terus selalu bersamaku.”, ujar Kris sengit.

“Neo…!!!”

“Cukup! Hentikan!”, G.O muncul melerai.

“Apa yang kalian lakukan, eoh?!”, G.O membentak kedua lelaki itu.

“Memalukan kalian! Sangat memalukan! Di sini, sudah ada 6 mobile suite. Seharusnya kita bekerja sama untuk menghabisi Akrid itu! Bukan berkelahi seperti ini!! Kita satu tim!!”, G.O terlihat marah.

“Kalian berkelahi hanya karena satu wanita?!! Childish sekali kalian!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ngh…”, aku terbangun di sebuah ruangan.

“Kinaraaa..akhirnya kau siuman juga!”, aku menoleh. Ternyata Jessica eonni. Di sebelahnya ada Taeng eonni dan….siapa ini? Wanita ini terlihat seperti boneka.

“Annyeong…Keiko imnida..aku pairingnya Kyuhyun oppa dalam Twist.”

“Annyeong…Kinara imnida.”, ujarku.

Cklek! Kulihat seorang pria memasuki ruang rawatku. Kris.

“Ayo kita makan, Taeng. Keiko, kau juga yuk.”, Sica eonni sepertinya sengaja meninggalkanku.

Dia menarik bangku, kemudian duduk di bangku dekat tempat tidurku itu, “Kau sudah sadar..”, aku hanya mengangguk.

“Maafkan aku.”, ujarnya. Ommo! Dia menggenggam tanganku? Tunggu…tunggu! Kenapa aku berdebar seperti ini?!

“Karena aku…kau…”

“Hentikan. Aku tidak mau mendengarnya. Aku tidak mau mengingatnya.”, aku memotong pembicaraannya.

“Maafkan aku…”, ucapnya lagi menyatukan tanganku diantara kedua tangannya.

“Aku bertemu Joon hyung tadi. Dia sangat mengkhawatirkanmu.”

“Joon oppa…”

“Kau ingin bertemu?”

“Nanti saja…”, jawabku.

“Kalau begitu, istirahatlah lagi. Aku akan di sini.”, ucapnya mengusap kepalaku, menyingkirkan rambut kecilku dari keningku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
GROOAWWRR!!! GRROOAAAWWRR!!!

Suara Akrid itu terus terdengar olehku dan Kris saat kami di rumah sakit. Kami diperintah untuk tidak ikut dalam misi ini karena kondisiku.

“Aku ingin ikut, Kris!”

“Tidak bisa, Nara!”

“Tidak!! Aku harus ke sana!”, aku mencabut selang infuseku dan berlari.

“Nara!! Nara!!”, tidak kuhiraukan panggilan Kris.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Nara, wait!!”, Kris menahan tangan gadis itu.

“Kalau kau mau mencegahku, aku tidak akan berhenti, Kris!”

“Tidak…aku akan ikut denganmu. Tapi kumohon, kau harus ingat ini. Jangan lagi kau terperangkap di masa lalu.”, gadis itu mengangguk.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Shadow punch!!”, mobile suite XO yang dikendalikan Tao, Kai, dan Lu Han menyerang Akrid ini.

“Butterfly shield!!”, mobile suite Flower milik Jessica dan Tae Yeon juga membantu.

“Twins swords!!”, BF milik Kwangmin dan Youngmin menyerang.

“Thunder attack!!!”, BLAQ yang dikendalikan Joon dan G.O mulai mengarahkan tangan mobile suite itu pada Akrid.

“Baiklah…Keiko, shoulder’s rocket!!”, Kyuhyun mengaktifkan serangan bersama Keiko dengan mobile suite Twist.

“Rocket activated.”

SHUUT!! SHUUT!! DHUAR!! DHUAR!! Begitu banyaknya serangan yang dilakukan, tapi Akrid ini masih berdiri tegap.

GROAAWWR!!!! SPLASH!!

Alarm penanda bahaya dalam mobile suite XO berbunyi. Mobile suite itu terkena cairan asam.

“Bertahan!!!”, seru Lu Han.

“Heahh!!!”

GROAWR!!! CRASHH!!

“Kyaaaa!!!”

Flower pun terkena serangan.

BRUAKH!! DRRUAKKHH!! Berkali – kali mobile suite Flower dihempaskan dan terlempar.

“Sicaa!!”, Tae Yeon berteriak saat melihat sayatan dari pinggang hingga perut Jessica.

“Gwaenchana, Taeng.”

BRAAKKH!!! Akrid itu juga menyerang Twist.

“Oppaa!!”, Keiko berteriak.

“Daijoubu (aku baik – baik saja).”, jawab lelaki yang dilumuri banyak darah di kepalanya.

DESSSHH!! BRUAKKHH!!! ZRAAATT!!!

BLAQ juga dihempaskannya dan bahkan diinjak oleh Akrid itu.

“Twins swords!!!”, BF berusaha mengalihkan perhatian Akrid itu dari BLAQ.

DHUAR!! DHUAR!! Akrid itu mengeluarkan api pada BF.

“Snow flower!!”, mobile suite Flower menyemprotkan salju pada api yang dikeluarkan Akrid hingga api itu tidak sampai mengenai BF.

“Thunder attack!!” BLAQ menyerang.

ZRREEETT!! Mobile suite itu terseret jauh.

SHUUTT!! SHUUT!! Beberapa bola api mengenai Akrid itu dari belakang hingga Akrid itu menoleh. Akrid ini adalah Akrid kategori 5, kategori terbesar.

“Dragon?!”, Kyuhyun melihat dari balik kepulan asap. Mobile suite berwarna merah itu masih berada di udara dengan sayap apinya.

“Mwo?!! Dragon?!”

“Kau siap, Nara?”, ujar Kris.

“Uhm!”

GROAAWRR!!

BRUAGHH!!! DHUAR!! Akrid itu menyerang Dragon tapi serangan itu berhasil dihindari.

“Woah! Gerak refleksmu bagus, Nara!”, puji Kris.

“Jangan banyak bicara. Hadapi yang dihadapanmu, nappeun!”

“What?! Kau bilang aku nappeun?!”

GROAWR!!!

“Iya, memang kenapa?”

“Aku tidak terima!”, Kris berkata pada Kinara dengan melayangkan tinjuan tangan kanannya ke udara yang juga menggerakkan tangan kanan Dragon.

BUAGH!

“Kyaaa!! Kris! Jeongmal pabbo, yaa! Lihat ke depan!!”

“Tidak perlu! Aku sudah tahu!”

BRUAGH!!! Lagi – lagi Kris menggerakkan tangan kanannya yang langsung mengenai Akrid.

“Twist sword!”

“Twins swords!

“Lighting blast!”

“Thunder attack!”

“Flower shuriken!!”

“Fire blast!!!”

Keenam mobile suite itu menyerang Akrid itu bersamaan. Mobile suite BF dan Twist menyerang dengan menusuk Akrid sedangkan yang lainnya meledakkan Akrid itu.

“Kita harus memastikannya mati, Na..”, ujar Kris.

“Ne, bagaimana kalau dari atas?”

“Dari atas?”

“Kepalanya. Itu titik kelemahannya. Kau lihat cahaya merah itu?”

“Ne?”

“Itu titik lemahnya.”

“Right!”

“Fire flying wings!”, Kris mengaktifkan sayap api Dragon.

“Fire sword!”, Kinara mengeluarkan pedang di tangan kiri Dragon.

“Reloading fire blast.”

“Kau mengisi blast?”, tanya Kinara.

“Ne..sentuhan terakhir setelah kau menghujamnya.”

SYUUT!! Dragon terbang tinggi dan berputar.

“Fire blast is ready.”

“Eat this!!! For my family!!”, Kinara menghujam cahaya merah Akrid itu dengan pedang apinya.

GROAWWRRR!!!!

“Fire blast!!!”, Kris mulai menembaki Akrid itu bersamaan dengan ayunan pedang apinya.

“Habiskan amunisi, Kris!”

“Yeah!”

“FLY!!!”, Kris dan Kinara langsung mengaktifkan sayap apinya untuk mengudara.

DHUAR!! DHUAR!! DHUAR!! Akrid itu meledak dan mati.

“Mission accomplished!”, seru Kris.

“Dragon! Kalian mengabaikan perintah kami?! Kembali ke pangkalan militer!”

“Yes Sir!”

“Sepertinya Rain hyung marah.”, ujar Kris lagi. Kinara hanya menggidikkan bahunya.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Kini semua pilot dan co-pilot dikumpulkan di pangkalan militer Indonesia. Aku dan Kris, Kyuhyun dengan Keiko-chan, Sica eonni dan Taeng eonni, Kwangmin dan Youngmin, juga Tao yang bersama Lu Han dan Kai. Tidak tertinggal juga Joon oppa dan G.O.

“Oppa~”, aku memeluk Joon oppa.

“Oppa..lenganmu..”, aku melihat lengannya tergantung dibahunya.

“Sedikit bergeser posisinya.”, ujarnya santai.

“Kau tidak apa – apa kan?”

“I’m okay, oppa.”, aku tersenyum padanya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Berbagai perwakilan dari beberapa negara mengucapkan rasa terima kasihnya pada kalian. Kalian akan mendapatkan imbalan atas usaha yang telah kalian lakukan saat ini.”, Rain memberikan pengumuman.

“Selain itu, kalian juga akan dikembalikan ke daerah masing – masing dengan jaminan kelayakan hidup bagi kalian.”

“Kembali? Berarti semua yang ada di sini akan terpisah – pisah.”, batin Kinara.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Setahun. Setelah setahun aku menjalani kehidupan normalku. Dengan imbalan yang diberikan pada saat misi menyelesaikan Akrid itu, aku join usaha dengan Sica eonni dan Taeng eonni membuat butik besar di Seoul. Ya, itu hanya usaha sampinganku saat aku meneruskan kuliah S2 ku sih.

“Sicaaa, Kinaaaarr!! Lihat ini!”, Taeng eonni berlarian dari luar.

“Waeyo?”, tanyaku dan Sica eonni bersamaan.

“Undangan! Undangan!”

“Hah? Undangan apa??”, tanyaku.

“Huwaaaa!!! Evil?! Si evil menikah?!!”, Sica eonni berteriak di sampingku membuatku sedikit menjauh.

“Yaa! Eonni, pelankan suaramu!”, ujarku.

“Dengan Keiko-chan? Kyaaaa!! Dasar si evil itu! Pintar saja mencari perempuan cantik!”, celetuk Sica eonni kemudian.

“Kinar, kau dan Kris bagaimana?”, Taeng eonni menyenggol bahuku.

“Apa sih, eonni! Kami tidak ada apa – apa.”, jawabku.

“Masa siihh???”, Sica eonni mendesakku.

“Anni!”

“Kau datang kan besok malam? Siapa tahu saja kau bertemu dengan Kris mu itu.”, Taeng eonni lagi – lagi mengusiliku.

“Sepertinya…besok malam aku ada kuliah, eonn..tapi, kuusahakan datang.”, ujarku lagi.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hahaha, evil hyung menikah. Wow! That’s miracle!”, batin pria jangkung dalam mobilnya sepulang kerja. Ya, selama setahun dia kembali menjalankan bisnis ayahnya dengan uang yang ia terima.

Tiba – tiba saja ada dua motor besar mencegah lajunya mobil Kris. Dua orang pria turun dari motor itu, berjalan menuju mobil silver pria itu.

“Sigh! Apa lagi ini?”, Kris membuka savety beltnya dan keluar.

“Remember us?”, tanya salah satunya. Kris hanya mengerutkan dahinya berpikir.

Mereka pun membuka helmnya bersamaan.

“Youngmin? Kwangmin?”

“Long time no see, hyung!”

“Hahaha! Kupikir kalian anak berandalan.”

“By the way, apa kau tidak menyadari ban mobilmu bocor, eoh?”, tanya Youngmin.

“Jeongmal?”, Kris langsung melihat kondisi bannya.

“Assh! Kau benar!”, Kris membuka bagasinya dan mengeluarkan peralatan mengganti ban.

“Mau kita bantu, hyung?”, tawar Kwangmin.

“Kalau tidak merepotkan.”

“No problem!”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jadi kalian masih melanjutkan kuliah kalian?”

“Ne…saat itu kan kami masih SMA, hyung!”, ujar Kwangmin.

“Hahaha, hebat! Anak SMA bisa mengendalikan mobile suite.”

“Terpaksa.”, jawab Youngmin.

“Lalu, selain kuliah, apa yang kalian lakukan?”

“Kwangmin dan aku jadi…model.”

“Apa wajah kalian kemudian terkenal gara – gara peperangan itu? Hahha.”

“Ya, sepertinya begitu. Hahaha.”, kelakar Youngmin sambil membantu Kris mengganti bannya.

“Dimana kalian tinggal?”

“Daerah Gangnam-gu.”

“Woah! Jinja! Aku juga daerah itu.”

“Hahaha, kita bisa sesekali ke sana!”, ujar Kwangmin.

“By the way, kau sudah tahu kalau Kyuhyun hyung akan menikah?”

“Tahu…besok kan?”

“Ne…apa kau datang, hyung?”

“Pasti. Aku akan datang.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Ra~!”

“Mwo?! Joon oppa!”

“Apa yang kau lakukan di sini?”, tanya Joon.

“Mencari buku.”

“Jeongmal bogoshipo~”, ujar lelaki itu memeluk Kinara.

“Hahaha, nado oppa…kau…terlihat keren memakai jas ini!”, gadis itu menepuk – nepuk kedua bahu lelaki itu.

“Jeongmal?”

“Uhm!”

“Hey, bagaimana kalau kita ke cafe dulu?”

“Ayo! Setelah aku beli buku ya…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Saat di cafe, ternyata Kris juga berada di cafe yang sama dengan Joon dan Kinara.

“Nara…”, terlihat gadis itu sangat senang bersama Joon. Tertawa lepas, bahkan sesekali memukulnya ringan.

“Aaa~”, ujar Joon yang menyuapi Kinara. Gadis itu membuka mulutnya.

“Makan punyamu sendiri!”, Joon membalikkan sendok itu pada mulutnya sendiri.

“Oppa jahaaat!”, gadis itu memukul lelaki itu yang terlihat tertawa puas mengerjai gadis dihadapannya.

“Kau terlihat gembira bersamanya…”, batin Kris yang kemudian keluar cafe itu mengurungkan niatnya untuk makan.

^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Oppa? Waeyo?”, tanyaku saat melihat Joon oppa yang tiba – tiba tertegun melihat arah belakangku. Aku pun menoleh untuk memastikannya. Tidak ada siapa – siapa.

“Oppa?”, aku menjentikkan jariku di hadapannya.

“Eoh?”

“Wae??”

“Anni…eopseo…”, ujarnya kemudian yang melanjutkan makannya. Kenapa tiba – tiba dia berubah?
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Selama setahun, perasaanmu padanya tidak berubah ya, Nara…”, batin Kris.

“Huh! Bodohnya kau, Kris! Kau sungguh bodoh kalau terus mengharapkan gadis itu berpaling padamu!”, batin lelaki itu lagi.

Lelaki itu memarkirkan mobilnya di dekat sungai Han. Tidak bergeming dari tempat duduknya di balik setir mobilnya. Mengambil sesuatu dari laci dashboardnya. Sebuah kotak kecil berwarna merah. Dibukanya cincin itu, memperlihatkan sebuah cincin emas putih dengan berlian di atasnya.

Tlek! Kotak itu kembali tertutup rapat dan kembali ia simpan di dalam laci mobilnya.

“Benar – benar bodoh! Kau hancur karena seorang gadis. Sejak kapan seorang gadis berhasil menguasai pikiranmu, Yi Fan?!”, batin lelaki itu terlihat menentang.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Hatchi! Hatchi!”

“Aasshh!! Kenapa hanya memakai bedak saja kau bersin, Kinar?”, Sica eonni memoles wajahku.

“Sentuhan terakhir! Warna lipstick yang menggoda.”, Taeng eonni ikut mendadani aku.

“Eottohkeeee~~~~”, teriakku.

“Ssstt! Kau diam saja! Tidak ada yang boleh menentang seorang Tae Yeon di rumah ini! Ingat ya, kita bertiga di rumah ini, so, kau sebagai maknae, harus nurut!”

“Eonnii…wajahku terasa tebal!”, ujarku.

“Tebal apanya? Pabbo!”, ujar Taeng eonni.

“Done!”, ujar mereka berdua.

Kini aku terbalut chocolate sleeveless dress. Sebuah dress berwarna cokelat tanpa kerah dan hanya sebatas dada yang dipadukan dengan silver stiletto heels, sepatu berhak tinggi berwarna silver dengan tali yang terpasang dikedua kakiku. Untuk kalungnya, Sica eonni memakaikan Amethyst Array, sebuah kalung berwarna cokelat terang yang bersusun melingkar di leherku. Dan tas yang kubawa adalah tas tangan berbentuk diamond yang berwarna senada dengan dress yang kupakai. Rambutku di gulung ke atas dan diberikan penjepit rambut bertaburan krystal yang berbentuk bunga.

“Eonni, apa ini tidak berlebihan?”

“Hey, Kinar…kau itu mau ke pesta pernikahan. Lihat kami…lebih total darimu kan?”

“Kalian kan cantik, tinggi juga. Sedangkan aku?”

“Karena itu, kau pakai heels. Lihat wajahmu..cantik kan?”

Kedua mataku dibuat lebih kecil dengan eyeliner yang dipakaikan oleh Sica eonni dimataku. Dibuat sedikit panjang garis mataku.

“Kau itu cantik, Kinar! Kenapa tidak percaya diri?”, Taeng eonni menegapkan tubuhku.

“Cha! Busungkan dadamu! Asshh! Sepertinya kau terlalu banyak main dengan Tao dan Kai. Kau jadi seperti anak laki – laki!”

“Annii~!”

“Atau Kris yang merubahmu? Sigh! Berani sekali dia! Kau harus jadi wanita lagi!”

“Eonni…ini tidak ada hubungannya dengan Kris!”, protesku.

“Kajja, kita berangkat.”

“Hu..huwaa..”, aku kurang biasa menggunakan high heels ini. Hiks.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Musik yang mengalun, para tamu yang sebagian terlihat menikmati hidangan, sebagian lagi terlihat menyalami Kyuhyun dan Keiko. Aku datang bersama Sica eonni dan Taeng eonni.

“Aku suka pesta dengan tema seperti ini. Pintar juga si evil itu memilih tema!”, celetuk Taeng eonni.

“Sudahlah, kita ke mereka berdua dulu…”, ujar Sica eonni.

Aku, Tao, Keiko, dan juga Kyuhyun punya cara berjabat tangan yang hanya diketahui oleh kita berempat.

“Yaah! Evil! Chukkaee!”, ujarku menjabat tangannya. Tapi tanpa ia duga, aku meremasnya kencang hingga dia kesakitan.

“Aww…aww..appo! Kau itu…masih saja melakukan cara itu.”, protesnya.

“Memangnya kenapa? Tidak boleh?”, aku menjulurkan lidahku.

“Yaah! Kau juga kenapa ikut – ikutan mereka tidak memanggilku dengan sebutan ‘oppa’?”

“Keiko-chaaan…aku takut!”, aku pura – pura bersembunyi di balik Keiko yang tertawa.

“Hey, Kinar…kau terlihat cantik sekali! Mau bertemu Kris, euhm?”, tanya Keiko.

“Haish! Kalian ini..ada apa dengan otak kalian??”

“Aa! Rain hyung, Siwon hyung! Kalian datang!”, ujar Kyuhyun.

“Tentu, kami tidak melupakan kalian.”, ujar lelaki itu.

“Raa~!”

“Joon oppa!”

“Hey Kinar, lebih baik kau berdansa dengan Kris di sana.”, tunjuk Kyuhyun pada satu arah. Aku menoleh dan kulihat lelaki berambut blonde itu berdiri dengan gelas di tangannya dan terlihat memegang ponselnya.

“Kau saja yang berdansa, sana!”

“Tentunya aku bersama Keiko-chan!”, sigh! Pasangan ini buat aku iri saja!”

“Taeng, aku lapar. Ayo kita makan.”, ujar Sica eonni yang terdengar olehku.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Would you mind to dance with me?”, aku terkejut saat aku sedang meminum orange juiceku, Joon oppa menghampiriku, mengulurkan tangannya padaku.

“My pleassure…”, ujarku menyambut tangannya.

“Oppa, tapi aku kurang bisa dansa..terlebih lagi klasik..”, ujarku.

“Aku akan mengajarimu.”, ujarnya yang kemudian menggamit pinggangku. Tangan sebelahnya lagi kini tertaut pada sebelah tanganku.

“Oppa, kau tahu, aku sangat berterima kasih padamu karena sudah melindungiku. Berperan sebagai kakakku.”, ujarku.

“Ne…padahal aku tidak menganggapmu sebagai adikku loh.”

“Oppa…jangan mulai lagi! Kau itu genit sekali!”

“Hahaha….bagaimana hubunganmu dengan Kris?”, tanyanya sambil berdansa denganku. Aku hanya menggeleng.

“Arah jam sembilan, dia terus memperhatikan kita.”

“Maksudmu?”

“Wu Yi Fan.”

“Kris?”, tanyaku.

“Hhm…siapa lagi memang?”

“Hhh…”, aku hanya menghela napas.

“Kau tidak sadar, kalian itu sama – sama egois. Salah satu dari kalian harus ada yang mengalah. Jujurlah dengan perasaan kalian.”, ucapnya.

“Aku kan wanita, oppa!”

“Hhh…kau ini…”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Sreett!

“Kau lanjutkan dengannya ya, aku lelah.”, ujar Joon pada Kinara.

“Yaah! Oppa!”, gadis itu kaget saat menyerahkan tangannya pada pria berambut blonde itu. Pada Kris.

“Hyung….kau…”

“Aku mau cari minuman. Gantikan aku ya.”, ujar Joon pada Kris.

Kaku. Itulah suasana mereka berdua saat ini. Meskipun kedua tangan mereka saling bertautan, wajah mereka seperti terlihat tegang.

“Sigh! Kris, you’re so clumsy!”, batin lelaki itu.

“Kajja…”, lelaki itu kemudian mengajak gadis itu terlebih dahulu untuk berdansa.

“Aah! Maaf!”, tanpa sengaja gadis itu menginjak kaki lelaki itu.

“Kau tidak bisa berdansa?”

“Iya..maaf..”, ujar Kinara menunduk.

“Kau mau menyudahinya?”

“Apa kau takut kakimu terinjak lagi olehku?”, Kinara berusaha mencairkan suasana.

“Hahaha, mungkin karena sepatumu itu sangat menyakitkan untukku jika terinjak.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jadi kau benar – benar melanjutkan S2 mu itu?”

“Jadi maksudmu aku main – main dengan ucapanku?”, tanyaku balik.

“Eoh? Bukannya begitu…”

“Lalu?”

“Kupikir kau menikah…”

“Menikah? Hahaha dengan siapa?”

“Joon hyung? Bisa saja kan?”, aku hanya menanggapinya dengan tertawa.

“Kenapa tertawa?”, tanyanya.

“Lucu saja…kau mengira aku dengan Joon oppa, sementara yang lainnya mengira denganmu.”

“Maksudmu?”

Oo! Celaka! Sepertinya ucapanku sudah menjurus!

“Ba..bagaimana kehidupanmu setelah setahun silam?”, ujarku buru – buru mengalihkan pembicaraan.

“Buruk.”

“Why?”, tanyaku.

“Tidak apa – apa…”

“Kau ini aneh!”, ujarku mendorong bahunya, tertawa.

Tiba – tiba saja ponselku berbunyi. Nama Sica eonni tertera di layar ponselku.

“Waeyo, eonni?”

“Kau sudah pulang ya?”

“Belum..aku masih di sini, eonni…eonni dimanaa??”

“Aku sudah pulang sama Taeng. Habisnya kita sudah mencari – carimu tidak ada, kami pikir kau sudah pulang.”

“Eonniii…kau meninggalkanku!”

“Mianhae…kau pulang dengan Joon oppa saja.”

“Hh..ya sudah!”

Piipp!

Aaa!! Siaal!! Ponselku mati! Sigh!! Benar – benar deh hari ini!
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“What?! Kau masih di sana?? Aku sudah pulang dari tadi dengan G.O hyung.”

“Aaaa!! Balik lagi dong, oppaaaa..”, rajukku.

“Chakkaman! Ini ponselnya siapa? Ini bukan nomormu.”

“Memang bukan. Ini punya Kris.”

“Kenapa tidak pulang dengannya saja?”

“Oppa…aku..tidak mungkin kan..”, aku sedikit melirik ke arah Kris dengan ekor mataku. Tapi dia terlihat cuek memandang lampu – lampu jalanan dari balkon gedung ini.

“Ya sudah, menginap di sana. Menumpang pada pengantin baru itu.”

“Haah! Oppaa! Masa aku ganggu mereka sih??”

“Aku lelah, Ra…mana Kris? Aku akan bicara padanya.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Yeoboseyo?”, ujar Kris.

“Aku tahu kau sebenarnya menunggu kesempatan ini kan?”, tanya Joon.

“Eoh?”

“Antar Kinara pulang…apa kau tidak mau menggunakan kesempatan ini? Kau harus mengalah, Kris.”, ujar Joon lagi.

“Arraseo…”, jawab Kris.

“Sepertinya Kris enggan mengantarku..”, batin Kinara.

“Kalau perlu, kau jalan – jalan dulu dengannya sebelum mengantarnya pulang.”

“Ne…”, ujar Kris lagi mematikan ponselnya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kau mau pulang sekarang? Aku akan mengantarmu.”

“Kau dipaksa Joon oppa ya?”, tanyaku.

“Hhmm…tidak..”

“Aku merepotkanmu?”

“Tidak, Nara..”, ujarnya lagi.

“Kajja, aku antar kau pulang.”, ujarnya yang kemudian melepaskan jasnya dan menutup kedua bahuku dengan jasnya. Dia juga menggandeng tanganku saat dia berjalan di depanku.

“Silahkan..”, ujarnya membukakan pintu mobil untukku.

“Kau sudah seperti pelayanku saja, Kris!”, dia hanya tertawa menanggapiku.

Tring! Tring!

Hah? Apa itu yang jatuh?

“Kris, ada yang jatuh…itu apa??”, aku langsung mengambil benda itu. Sebuah cincin?

“Cincin?”, tanyaku padanya.

“Oh..itu..hhm..aku..”, kenapa Kris terlihat kikuk sekali? Ini baru pertama kali kulihat.

“Waeyo?”, tanyaku lagi.

“Hhh…dari dulu aku ingin memberikan benda itu pada seseorang.”

“Lalu, kenapa tidak kau kasih saja?”, tanyaku. Dia kemudian meraih cincin yang kupegang. Dia kini meraih tangan kiriku dan memasangkan cincin itu di jariku.

“Kris, apa maksudmu?”

Dia menarikku ke dalam pelukannya dan berkata, “Aku ingin memberikannya padamu. Aku ingin kau yang memakai itu untukku. Wǒ xūyào nǐ, Nara (aku membutuhkanmu, Nara). Aku membutuhkanmu untuk melengkapi hidupku selamanya.”
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Jatuh sudah air mata yang sedari tadi ditahan oleh gadis itu mendengar penuturan Kris yang memeluknya. Gadis itu kemudian membalas pelukan lelaki itu.

“Hey, kenapa menangis? Kau tidak suka?”, Kris sedikit membungkuk untuk menatap wajah gadis yang dicintainya.

Kinara pun menggeleng pelan, menunduk dan menangis, “Wǒ hěn xiǎngniàn nǐ (aku merindukanmu), Kris…hiks…hiks..”, ujarnya pelan.

“Aku juga….jangan menangis…”, ujarnya menghapus air mata yang telah mengalir ke pipi gadis itu.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sudah sampai…Nara..?”, gadis itu tertidur di dalam mobilnya. Wajahnya terlihat damai, tenang, dan selalu terlihat cantik dimata lelaki yang mengantarnya pulang.

Kris hanya tersenyum melihat gadis itu yang tengah tertidur. Mengusap pipinya yang terlihat mulus dan putih. Tiba – tiba saja, ada godaan tersendiri dalam diri lelaki itu untuk mencium gadis yang tengah tertidur ini. Dengan hati – hati, ia menghapus jaraknya dengan gadis itu, mendekatkan wajahnya pada Kinara.

“Hng…Aww!!”, gadis itu terbangun dan tanpa sengaja keningnya dengan kening Kris beradu.

“Naraaaaa~~”, Kris memegangi keningnya.

“Aaduuhh…sakiiitt…”, keluh gadis itu.

“Aku lebih sakit!”, ujar Kris.

“Kau kenapa?”

“Hah? Kau malah bertanya padaku? Kau bangun tiba – tiba, keningku sakit!”

“Kenapa…keningmu juga?? Kau mau macam – macam denganku ya?!”

“Memangnya kenapa, eoh?”

“Uugghh!! Menyebalkaaaann!!”, Kinara memukuli Kris berkali – kali.

“Yaahh~~Yaahh~~Kau tidak bisa lagi memukuliku, nyonya Wu.”, Kris memegangi kedua tangan Kinara.

“Eoh? Kapan namaku berubah, hah?!”

“Setelah kau akan menikah denganku nanti! Hhaha.”

“Menyebalkan!”

“Tapi kau sampai menangis untukku, orang yang menyebalkan bagimu ini. Hhahaha.”, gadis itu hanya menggembungkan kedua pipinya kesal. Dan Kris semakin gemas melihat tingkah Kinara dan mencium bibir gadis itu.

THE END

Cook For Me

Judul : Cook For Me

Author : Seu Liie Strife

Cast : Kim Jongin/Kai (EXO-K)
Park Youra (OC)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Instagram: @seu_liie

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
Semester baru, kelas baru, teman baru, baju baru, sepatu baru, semuanyaaaa baruuu!!! Oh! Aku lupa memperkenalkan diri. Aku Park Youra, siswi kelas tiga di SMA ini dengan jurusan sains.

“Youra, kali ini kau bawa bekal lagi?”

Yang baru saja memanggilku, teman dekatku sekaligus teman sebangku aku. Namanya Kim Ran Ki.

“Tentu saja! Bekal yang sehat dan enak!”, ucapku. Perlu kalian ketahui, aku sangat terobsesi menjadi ahli gizi seperti mendiang eommaku dulu. Ya, aku anak piatu. Tiga tahun silam, kami sekeluarga berlibur. Namun sayangnya, kami kecelakaan. Appa, eomma, dan aku masuk rumah sakit dengan kritis. Namun, hanya eomma lah yang tidak terselamatkan. Karena itulah, untuk melampiaskan rasa sedihku, aku selalu bertekad ingin menjadi seperti eomma. Mencoba menu – menu baru yang sehat dan juga bergizi.

Lanjutkan membaca Cook For Me

Spell The Magic On You_Sequel Being Mine

Judul : Spell The Magic On You (Sequel Being Mine)

Author : Seu Liie Strife

Cast : Cho Kyuhyun (Super Junior)
Cho Han Yeol (OC)
Park Chanyeol (EXO-K)
Hatano Yuurika (OC)

Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Kalian hati – hati selama di Indonesia….”, pesan aboeji dan eommonim. Ya, kedua mertuaku.

“Jangan sampai sakit..”, ujar Chanyeol oppa mengacak rambutku.

“Yaaa~~ Oppaa~~”, aku menyingkirkan tangannya dari kepalaku.

“Aku mengkhawatirkanmu…”, ujarnya memelukku.

“Anni, oppa…I’ll be okay..”, jawabku tersenyum membalas pelukannya.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Sebenarnya kita ke mana oppa? Jawa? Kalimantan? Sumatera? Sulawesi? Bali? Atau Irian?”, tanyaku berturut – turut pada suamiku.

Lanjutkan membaca Spell The Magic On You_Sequel Being Mine

Being Mine

Judul : Being Mine

Author : Seu Liie Strife

Cast : Cho Kyuhyun (Super Junior)
Park Han Yeol (OC)
Park Chanyeol (EXO-K)
Kim Youra (OC)
Kim Noura (OC)
Lee Ji Eun (IU)
Genre : Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Jeosong hamnida, tuan muda, anda harus keluar dari rumah anda ini…”, ujar pria paruh baya yang bermarga Jung yang merupakan utusan dari ayah lelaki itu.

“Yaaa!!! Bagaimana mungkin?!!”, teriak lelaki itu.

“Ini, ini surat wasiat dari sajangnim…dan ini…semua hal yang akan dibutuhkan nona muda untuk melanjutkan kuliah S1 nya…”, ujar lelaki paruh baya itu menyerahkan koper dan beberapa dokumen.
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Andwae!! Andwae!! Ini tidak benar!!”, ujar lelaki itu gusar.

Lanjutkan membaca Being Mine

Mission To Save You

Judul : Mission To Save You

Author : Seu Liie Strife

Cast: Choi Siwon (Super Junior)
Nagisa Miyaki (OC)
Jung Ji Hoon / Rain
Kim Jongin / Kai
Jung Yong Jae (OC)
Ginger Alexa (OC)
Grondy Meoni (OC)
Genre : Action, Thriller, Romance

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : SeuLieOctaviani

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^Seu Liie Strife^^^^^^^^^^^^^^^
“Choi Siwon, kau adalah agent rahasia yang paling bisa diandalkan. Kau akan ditugaskan untuk mengawal kedatangan Kojiro Miyaki beserta anaknya, Nagisa Miyaki. Ingat, kawal mereka dengan ketat. Karena Kojiro Miyaki adalah menteri lingkungan dari Jepang, kau harus melindunginya dengan baik.”, ujar seorang pria yang duduk di kursinya dengan bersandar. Rain, adalah seorang pemimpin dari dinas rahasia yang memiliki banyak agent rahasia yang berbakat.

Lanjutkan membaca Mission To Save You

Black Pearl

Judul : Black Pearl

Author : Seu Liie Strife

Genre : Romance

Cast : Xi Luhan (EXO-M)
Kim Lissa/Pearl (OC)
Jung Byung Hee (Mblaq)

Facebook : Hikari Keyheart Kurosaki

Twitter : @SeuLieOctaviani

Pin : 24D7E4E6
^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^^
Norak, culun, aneh, dihina, rok semata kaki, baju yang tidak sesuai dengan roknya, berkacamata tebal, membawa buku banyak di tangannya. Itulah yang terlihat dari seorang gadis keturunan Korea-Australia yang bernama Kim Lissa ini di sebuah universitas ternama di Korea.

Lanjutkan membaca Black Pearl