(don’t) Call Me Daddy ! [part-1]

dont-call-me-daddy

Title     : (don’t) Call Me Daddy !

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Length : Multi chapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

Cover by : Lee Shin Hyo @Cafe Poster Art

(don’t) Call Me Daddy ! [TEASER] | Xiao Hyun's Pen World

 

 

***

Baca lebih lanjut

(don’t) Call Me Daddy ! [TEASER}

dont-call-me-daddy

Title     : (don’t) Call Me Daddy

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau, and Their Children

Other Cast : Find by your self

Rating : PG

Length : Multichapter

Auhtor : Nidhyun (@nidariahs)

Cover by : Leesinhyo @CafePosterArt

***

Mungkin saja ini mimpi. Ya. mungkin saja. mungkin saja kedatangan gadis bernama Ariel –yang ditemuinya di New York—3 tahun kaku itu hanya sebuah mimpi. Mimpi yang panjang, dimana mimpi itu hanya memaksa Luhan untuk berubah menjadi lebih baik. Ya. mungkin saja…

“Kevin! Apa yang kau lakukan dengan tugas kuliahku?! Oh tidak! Aku bisa gila!” Luhan mengerang frustasi saat anak laki-laki yang memiliki wajah persis seperti dirinya itu menumpahkan botol berisi air susu tepat ke permukaan tugasnya yang baru saja di-print.

Luhan buru-buru mendekati Kevin –tidak, tepatnya Luhan mendekati papernya dan langsung menatap sedih tugasnya yang kini hampir tidak bisa diselamatkan.

“Aleyna! Jangan memainkan tepung itu! Kau barus aja mandi! Aleyna!” lagi-lagi Luhan harus berteriak –setengah frustasi kembali—saat mendapati balita seumuran Kevin tengah mengacak-acak tepung terigu di atas meja –bahkan Luhan tidak habis pikir bagaimana bisa anak itu naik ke atas meja dan yang lebih gila Kyungsoo meninggalkan tepung itu disana. Membuat semuanya kacau. Ya kacau…

 

Semua berawal dari kesalahannya 3 tahun silam, saat Luhan, Tao, Yixing, Jongdae, Minseok dan Yifan berlibur ke Amerika, tepatnya ke New York. Saat itu, semua liburan itu adalah mimpi indah. Selain gratis –karena orangtua Junmyeon yang membayar biaya liburan, Luhan juga bisa melepas segala beban penat di kepalanya.

Semua itu tetap indah, meskipun ia sudah memulai pertemuannya dengan gadis bernama Ariel Lau –gadis berdarah Cina yang menetap di Kanada—yang juga tengah berlibur di New York, gadis itu bersama romobongan teman sekelasnya tengah menikmati liburan terakhir mereka sebelum menginjak jenjang bangku universitas.

Tapi sayangnya, dipertemua ketiga dengan Ariel –tepatnya di sebuarclub mewah—justru menjadi musibah bagi Luhan…dan juga gadis itu, mungkin. Luhan tidak tahu bagaimana awalnya, Luhan juga tidak tahu bagaimana ceritanya ia bisa mabuk berat, tidak bertemu teman-temannya, dan yang terburuk Luhan terbangun dan tengah sekamar dengan gadis iru…Ariel.

Semua baik-baik saja, karena Ariel pun tidak lagi mempermasalahkan ‘kecelakaan’ itu, hingga seminggu lalu Aiden Lee –sepupu Luhan—tiba-tiba datang dengan istrinya –Jill Choi—yang meminta…ah! tepatnya mereka memaksa Luhan untuk bertanggung jawab.

Ariel hamil! Tidak, bahkan Ariel datang dengan 2 anak bernama Kevin Lu dan Aleyna Lu. Mereka kembar. Dan yang membuat Luhan tertohok, mereka adalah anak kandung Luhan!

“Ariel bukan memintamu untuk menikahinya, Ariel hanya ingin kau merawat kedua anak kalian. Dia tengah mengikuti audisi teater yang diadakan di Jeju. Hanya 3 bulan. Tidak lama, bukan? Ariel akan pulang seminggu 2 kali ke Seoul,” kata Aiden memberi pengertian.

“Jika kau tidak mau, aku akan melaporkanmu pada orang tuamu dan memaksa mereka agar kau mau menikahi Ariel!” itu bukan Aiden yang mengatakan, Jill Choi. Wanita itu adalah sahabat karib Ariel. Dia sangat marah pada Luhan, bahkan hampir menampar Luhan di pertemuan pertama mereka.

“Kau membuat hidupnya rusak! Kau merusak masa depannya! Dans ekarang kau mau lepas tanggung jawab dari anak kalian?!” kata Jill masih berapi-api.

Tapi yang membuat Luhan terenyuh bukan semua itu, melainkan ucapan Ariel…

“Aku tidak akan memaksamu jika kau tidak mau. Aku juga punya kenalan di Korea, atau mereka bisa pulang ke New York. Aku hanya memberikanmu kesempatan untuk mengenal kedua anakmu lebih dekat. Karena kau tidak yakin, apakah aku akan memberikan eksempatan seperti ini lagi atau tidak…”

 

2015/05/19

[EXOFFI] Days Like Today (chapter 1) – Nidhyun

screenshot_2016-12-05-16-28-19

Title     : Days Like Today

Genre  : AU, Romance, Marriage Life

Main Cast: Lu Han, Ariel Lau (OC)

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

Author : Nidhyun (@nidariahs)

Disclaimer : the story is pure mine. Also published

xiaohyun.wordpress.com

 

***

Luhan terus menggigiti kuku-kuku jarinya. Ia tidak pernah seperti ini sebelumnya, ia belum pernah mengkhawatirkan sesuatu hingga bisa merasakan detak jantungnya sendiri, hingga merasakan tubuhnya sendiri bergetar hebat. Dan satu-satunya alasan ia bisa sekacau ini, adalah seseorang yang berada di dalam ruangan operasi saat ini.

Luhan bahkan meninggalkan dompet dan ponselnya di kantor. Ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukannya ketika ia mendapat pesna singkat bahwa istrinya mengalami kecelakaan dan dilarikan ke rumah sakit. Saat itu, yang menghampiri pikiran Luhan hanyalah kemungkinan paling buruk dan kondisi Ariel –isrtinya—yang bahkan Luhans endiri tidak tahu bagaimana kondisinya yang sebenarnya.

“Apa yang terjadi padanya? Bagaimana dia bisa masuk ke rumah sakit?” ibu Luhan baru saja tiba dan terlihat sama paniknya dengan Luhan.

Seperti bebek dungu, Luhan hanya menggelengkan kepalanya dengan lemah. Luhan tidak tahu bagaimana kondisi Ariel sebenarnya, ia hanya tahu bahwa istrinya mengalami kecelakaan dan harus mendapat beberapa jahitan dan pemeriksaan menyeluruh. Selebihnya, Luhan hanya diminta untuk duduk seperti orang bodoh di lorong rumah sakit sambil menunggu informasi dari dokter.

Dan tepat ketika dokter keluar dari ruang operas, ayahnya lansung mendekat dan menanyakan kondisi menantu tersayangnya –tapi entah bagaimana justru Luhan dutarik oleh sang ibu dan diminta untuk mendengar apa yang dijelaskan oleh dokter mengenai kondisi Ariel.

Luhan tidak terlalu bisa mendnegarkan apa yangdikatakan oleh dokter tersebut, satu-satunya yang Luhan tangkap dari ucapan dokter adalah, kemungkinan istrinya akan mendapat memory sorder –dimana penderitanya akan kehilangan sebagian memorinya yang disebabkan trauma.

Yeah…itu saja sudah lebih dari cukup untuk membuat Luhan terasa seperti dilempari ratusan batu di kepalanya, dan juga dadanya yang seperti berlubang.

 

***

 

“Kalian sempat bertengkar sebelum kecelakaan ini terjadi?” tanya ibu Luhan sambil menata beberapa buah-buahan pemberian kenalan ayah Luhan yang menjenguk ke rumah sakit.

Luhan masih membaringkan kepalanya di atas ranjang saat menyahuti ibunya, “Begitulah. Kami…memang sempat berdebat beberapa hari sebelumnya,” Luhan tidak ingin menceritakan masalah ini lebih jauh meskipun ibunya yang menanyakannya.

Sang ibu pun mendesah panjang mendengar jawaban Luhan, “Ini sudah hari ke-3 dan Ariel belum membuka matanya. Lain kali, cobalah menggunakan kepala dingin saat menghadapi pertengkaran apapun. Paham?”

Luhan hanya mengangguk singkat. Kemudian ia pun menggerakkan tangannya ke arah tangan Ariel yang terlihat pucat itu. Penyesalan lagi-lagi daang terlambat, bukan? Luhan benar-benar ingin memina maaf sekarang.

 

***

 

Ariel tidak tahu kenapa ia bisa berada di rumah sakit, dengan segala perlengkapan medis dan juga beberapa orang yang menatapnya khawatir dan menungguinya di sini. Tidak. Yang lebih buruk dari itu adalah, teman semasa kuliahnya yang sama sekali tidak dekat dengannya dan hanya menjadikan Ariel sebagai secret admirer-nya, tiba-tiba saja mengaku menjadi suaminya.

Ya. Suami katanya. Ariel dan Luhan sudah menikah selama setahun dan…

Yang benar saja?!

Yang Ariel ingat terakhir kali adalah, proses administrasinya untuk kepindahan kuliahnya. Ia sudah bertekad untuk mengambil jurusan pariwisata dan berniat menjadi guide ataupun menjadi penulis yang belajar bahasa asing secara tertata lewat jurusannya ini.

Ariel bahkan tidak ingat apakah ia sudah menyelesaikan proses kepindahannya atau belum. Ia juga tidak yakin apakah ia sudah berpamitan dengan benar dengan teman-teman di kampus lamanya. Tapi Ariel mendapati situasi sangat kacau saat ini : ia telah menikah, dan ia menikah dengan seseorang yang dikaguminya diam-diam, dan jika melihat tanggal hari ini, ini adalah tiga tahun ke depan semenjak ingatan Ariel yang terakhir.

“Kau tidak mau makan sesuatu?” tanya suaminya –jika mereka memang benar telah menikah—dengan lembut.

Jujur saja, ini membuatnya sangat merinding. Lelaki itu sangat dingin terhadapnya ketika mereka masih kuliah bersama. Bahkan daia pernah tidak mendengarkan Ariel bicara jika mereka ada di satu kelompok tugas. Dia juga punya kekasih dan…ini sama sekali tidak lucu. Ariel benar-benar merasa asing dan tidka nyaman dengan keberadaan Luhan di sini.

“Ariel?” panggilnya yang membuat Ariel secara refleks mengalihkan pandangannya. Ia gugup setengah mati. Bahkan saat kuliah saja Ariel tidak berani lama-lama menatap wajahnya, dan sekarang Ariel justru diperhatikan dengan cara yang…entahlah, ini menggelikan.

“A-aku…aku tidak lapar,” Ariel sedikit menggaruk kepalanya. Astaga, Ariel sepertinya sudah lama tidak keramas. Rambutnya benar-benar lengket. Ia pun menarik rambutnya ke depan dan mencium aromanya yang…eugh! Apakah Ariel sama sekali tidak berkeramas beberapa hari ini?

“Kenapa? Rambutmu terasa tidak nyaman?” Ariel menepis pelan tangan Luhan yang hendak menyentuhnya. Ia selalu merasa tidak benar dengan situasi ini. Ia jauh lebih terbiasa dengan Luhan yang tak acuh terhadapnya daripada Luhan yang seperti ini.

Luhan terdiam beberapa saat. Ia selalu merasakan nyeri di dadanya tiap kali Ariel menolak semua yang ia lakukan padanya. Ariel memang bukan gadis manja, bahkan sejak mereka berpacaran, Ariel tetaplah di gadis sok mandiri yang terlihat berkarisma. Meskipun setelah menikah Ariel justru tidak sungkan menunjukkan perasaannya.

Luhan pun mendengus pelan dan menundukkan kepalanya. Ia seperti menghadapi Ariel yang dikenalnya di bangku kuliah dulu, bukan Ariel istrinya yanga kan mengkhawatirkan dan mengatur Luhan mengenai banyak hal. Ia seperti menghadapi orang lain dan…meskipun ia mencoba menyemangati dirinya bahwa smeua baik-baik saja, tapi ia tahu bahwa dirinya sama sekali tidak baik-baik saja.

“Ma-maaf…”

Luhan mendongak dan menjamah manik mata Ariel yang akhirnya mau menatap langsung matanya, “Ya?” Luhan tidak tahua pa yang membuat gadis itu merasa bersalah, tapi ia tidak ingin membuat Ariel merasa tidak nyaman lebih jauh.

“Kau…terlihat sama sekali tidak baik-baik saja. Aku…aku tidak terbiasa. Maaf, jika aku benar-benar melupakan sebagian kenanganku, terutama tentang tiga tahun ke belakang yang mungkin…seharusnya itu menjadi kenangan paling penting, terutama untuk kita.”

Luhan pun mengangguk pelan dan memaksakan seulas senyum tertarik di wajahnya, meskipun sebenarnya ia tidak baik-baik saja, tapi engetahui Ariel mengkhawatirkannya justru membuatnya semakin tidak nyaman. Toh, ini bukan keinginan Ariel untuk melupakan sebagian memorinya, ini juga bukan salah Ariel jika ia merasa canggung dan bingung karena ingatan terakhirnya justru ketika mereka bahkan sama-sama masih menjadi sepasang manusia asing yang hanya mengenal nama satu sama lain.

“Tidak apa-apa. Kita kembalikan ingatanmu secara perlahan saja, oke?” perlaha, Luhan pun menyentuh punggung tangan Ariel dan menggenggamnya. Hangat. Ia masih merasakan kehangatan yanga kan terajut secara otomatis ketika ia menyentuh Ariel.

Kali ini Ariel tidak menolak, tapi ia juga tak membalas semua perlakuan Luhan. Yeah, sejak dulu, Ariel memang terkenal dengan sifat kentaranya saat tidak menyukai sesuatu. Dan dengan jelas, Luhan bisa kembali melihat tatapan dingin Ariel terhadapnya.

Ternyata hukuman yang diberikan Ariel jauh lebih menyakitkan.

Karena…yeah, terlepas dari memori Ariel jauh lebih menyakitkan dari yang ia duga.

 

***

 

Ariel kembali menggerakkan kakinya perlahan, mengikuti setiap intruksi yag diberikan oleh perawat yang membantunya melakukan terapi berjalan. Ariel koma selama beberapa hari, dan karena luka dari kecelakaannya terbilang cukup parah, beberapa syaraf di tubuh Ariel terganggu dan ia harus melakukan terapi selama beberapa waktu sebelum ia bisa keluar dari rumah sakit.

Ariel masih bisa merasakan sakit di sekujur tubuhnya, terutama di kakinya. Ia hampir tidak bisa menahan berat tubuhnya sendiri dan…ini sangat buruk. Saat kecil, Ariel pernah mengalami kecelakaan yang sama parahnya dan membuat kaki kananya mengalami retak tulang. Itu salah satu kenangan terburuknya, dan sekarang waktu seolah terulang dan semua ketakutan yang sempat terkubur menjadi kenangan itu seolah kembali menguar dan memenuhi perasaan Ariel.

“Tidak apa-apa, kau pasti bisa,” Luhan tersenyum dan menahan Ariel yang hampir terjatuh –meskipun tangannya berpegang pada pegangan besi di samping kanan kirinya.

Ariel buru-buru mengalihkan pandangan matanya. Ia sama sekali tidak terbiasa dengan sikap Luhan yang seperti ini. Meskipun jantungnya berdegup kencang sekali, tapi ia tidak merasa senang karena…Luhan baginya hanyalah orang lain. Ariel jauh lebih mengharapkan teman-teman yang dikenalnya, ataupun orang tuanya lah yang berada di sini, bukan Luhan yang dalam memori Ariel, justru adalah kekasih orang lain dan selalu dingin terhadapnya.

Ariel pun kembali berjalan dan sedikit menyeret kakinya agar bisa terus melangkah hingga ke ujung. Ia sungguh muak dengan semua perintah perawat yang terus memintanya berjalan. Ariel benar-benar merasa kesakitan, dan wanita itu jsutru terus saja mengoceh di dekatnya.

“Bisakah dia beristirahat dulu setelah ini? Dia sepertinya cukup kesulitan,” suara Luhan berhasil mengalihkan perhatian Ariel. Lelaki itu terlihat membicarakan sesuatu dengan perawat wanita yang menyebalkan itu, kemudian berjalan ke arah Ariel dan membantunya untuk duduk di kursi roda.

Ariel tidak terlalu memerhatikan apa yang dibicarakan si perawat, tapi Luhan sepertinya mendengarkan dengan seksama, karena lelaki itu menyahuti semua perkataan si perawat terhadap mereka berdua –meksipun Ariel lebih fokus pada kakinya yang kesakitan.

“Kau baik-baik saja? Kau ingin minum?” tanya Luhan sebelum mendorong kursi roda Ariel. Ariel yang agak linglung hanya mengangguk dan dengan buru-buru, Luhan langsung memberikan sebotol air mineral ke arah Ariel. Yang membuat Ariel tersentuh, adalah semua sikap perhatian Luhan terhadapnya. Dia bukan hanya berbicara dengan lembut terhadap Ariel, dia juga membuka tutup botol dengan telaten dan memberikannya padaAriel dnegan hati-hati. Mantan pacarnya saja tidak pernah seperti itu….

Ah, benar. Mantan pacarnya.

Ini pasti kurang ajar sekali. Tapi Ariel sangat ingat, mantan kekasihnya sempat menghubunginya sebelum Ariel pindah kuliah. Ariel tidak terlalu ingat e-mail apa yang dikirimkan lelaki itu, tapi satu-satunya yang ia ingat, Ariel menjanjikan sesuatu pada lelaki itu.

“Kau butuh sesuatu yang lain?” suara Luhan kembali membuyarkan lamunan Ariel. Dan Ariel hanya menggeleng pelan, sedikit memberikan senyum untuk meyakinkannya.

“Baiklah, kita ke kamar sekarang—“

“Luhan,”

Luhan kembali berjongkok di hadapan Ariel, “Kenapa? Apa ada yang kau butuhkan? Kakimu sakit?”

Ariel menggeleng pelan. Ia tidak yakin apakah ia bisa menanyakan inia tau tidak, tapi…”Apakah kau selalu seperti ini padaku saat menjalani pernikahan kita? Atau…apakah kita pernah berpacaran? Tapi…bagaimana bisa…”

Luhan menyembunyikan kepalan tangan kanannya. Ia pun tersenyum dan menghela napas, berharap sisa luka yang terus menggerayanginya juga bisa ikut berhembus bersama dengan napasnya.

“Kau ingin aku ceritakan kisah cinta kita yang paling manis?” goda Luhan dengan setengah bercanda. Tapi detik berikutnya, Luhan menyesali candaannya –Ariel terlihat menegang, “Ah, maksudku…akan kuceritakan. Kita ke kamar dulu, oke?”

“Dan…Luhan, aku juga ingin tahu bagaimana bisa kau putus dari pacarmu. Bukankah kalian sangat saling mencintai?”

Tubuh Luhan sempat menegang dengann pertanyaan Ariel itu. Tentu saja Luhan yang tiga tahun lalu, Luhan yang ada pada ingatan Ariel adalah seorang pemuda yangs sudah memiliki kekasih dan sangat setia pada kekasihnya. Tidak sulit untuk menceritakan bagaimana akhir dari kisah cintanya…

Tapi yang memalu dada Luhan, adalah fakta bahwa…mantan kekasihnya itu lah yang membuat pertengkaran hebat mereka dimulai…

 

20161005 PM1000

 

***

(Lay Birthday Project) Naration

img_20160928_191134

Naration | Zhang Yi Xing & Wang La Yi

Written by Nidhyun (@nidariahs)

Inspired from Kdrama : Signal

 

***

Zhang Yi Xing kecil hanya mengenal ibunya. Zhang Yi Xing kecil hanya tahu menangis dan ketakutan saat sang ibu mulai berteriak, merusak semua barang yang ada di rumah kecil mereka, kemudian wanita yang harus dipanggil ‘ibu’ oleh Yixing itu akan mengutu ayahnya yang beberapa bulan lalu pergi dengan seorang wanita lain –entah siapa, Yixing tidak mengenalnya. Dan sejak hari itu, ibunya masuk ke rumah sakit, dan semua orang mengatakan bahwa ia sakit meskipun ibu Yixing terlihat sangat sehat.

Baca lebih lanjut

Comfortable

poster comfortable

Title     : Comfortable

Genre  : Romance

Main Cast: Cho Ahreum | Oh Sehun

Other Cast : Find by yourself

Rating : T

The fiction by Nidhyun (@nidariahs)

xiaohyun.wordpress.com

***

If somebody loves me
I’m happy with it
even if you don’t care about me
it’s okay, I’m okay

You don’t have to try it
so you wont regret it

I will relieve my heart
for a moment
for me

Now my heart will be comfortable
I also feel comfortable
you also feel comfortable
everything will be comfortable

(Comfortable by One ft Simon D & Gray)

 

***

 

Dulu, saat pertama kali Sehun untuk memutuskan merajut kisah cinta pertamanya dengan seorang murid perempuan yang kelasnya bersebelahan dengannya, ia hanya tahu bahwa semua itu hanya hubungan sepasang kekasih –berbagi cinta, merajut kasih, berbagi tangis, dan saling menemani, saling menggenggam menghadapi hari demi hari yang dinaungi oleh kata ‘bersama’. Percayalah, Sehun masih sangat muda saat itu. 17 tahun. Sehun yang 17 tahun itu hanya tahu bagaimana cara bermain basket, cara berjuang untuk mendapatkan nilai yang mencukupi untuk lulus dari sekolah, cara bermain bersama teman-temannya, juga cara untuk menghabiskan waktu bersama kekasihnya yang menjadi nomor satu di sekolah, nomor lima di Seoul, dan nomor 10 di Korea.

Tapi semua berlalu terlalu cepat. Sehun tidak mempersiapkan apapun untuk dirinya hari ini, untuk dirinya yang berusia 25 tahun.

Baca lebih lanjut

#1 All I Ask

ryeowook_1453339505_ryeowook3

Title     : All I Ask

Genre  : Romance

Main Cast: Ariel Lau | Lu Han | Bae Sa Hyun | Oh Se Hun as EXO Sehun

Other Cast : Find by yourself

Rating : PG

The fiction by Nidhyun (@nidariahs)

***

Reloaded – 1 
Reloaded – 2 (It Happens To Be That Way)
Reloaded – Confession

Baca lebih lanjut

[Lu’s Birthday] Reloaded – It’s Strange With You (end)

maxresdefault (1)

“Aku meragukanmu?” air mata Ariel mulai pecah, “Aku menjalani hubungan ini setahun lebih, dan kau bilang aku meragukanmu?” Ariel pun menyeka air matanya kasar, “Aku bahkan menyewa flat di Korea meskipun pelatihan bahasa Koreaku sudah selesai, dan kau bilang aku meragukanmu?” Ariel tersenyum kecut, “Miris sekali hidupku. Aku menghabiskan waktu dengan pria yang bahkan tidak bisa mengerti perasaanku.” Ariel pun langsung menarik kakinya dari tempat itu. Ariel tidak tahu apa yang baru saja ia lakukan. Ia brengsek. Ia menyalahkan dirinya. Dan Ariel terus menangis menyesali semua sikapnya.

Di sisi lain, Luhan justru terpekur ketika melihat air mataAriel membelah kedua pipinya sebelum Ariel pergi dari tempat itu –meninggalkan Luhan dengan dadanya yang berdentum dengan sangat keras. Luhan ingat ketika ia membuat Haneul menangis, dan dengan air mata yang hanya menggumpal di pelupuk matanya, Luhan berjanji tidak akan membuat perempuan mana pun menangis lagi. Tapi hari ini, seolah melanggar janjinya sendiri dan menelan semua ludahnya yang telah ia jatuhkan ke tanah, Luhan membiarkan keegoisannya sekali lagi mengukir air mata untuk seorang perempuan.

Baca lebih lanjut

[Lu’s Birthday] Reloaded – Confession

maxresdefault (1)

“Jadi, Hyung jatuh cinta lagi padanya?”

“Tentu saja,” Luhan sedikit tersenyum sambil mengangkat gelas Americano-nya, “Aku akan jatuh cinta lagi pada Haneul jika aku tidak mencintai Ariel.”

Sehun pun tertawa keras mendengar jawaban Luhan, “Ah…Hyung dan Ariel tidak bisa dipisahkan rupanya. Aku jadi ingin cepat-cepat punya kekasih,” ujar Sehun yang dibalas senyuman oleh Luhan.

“Seseorang yang kubutuhkan sudah ada pada Ariel, bonusnya kami saling mencintai. Meskipun dia ceroboh, tertutup, dan misterius, tapi aku pikir itu tidak menjadi masalah. Aku tidak butuh siapapun selain dia untuk saat ini.”

Sehun mengangguk setuju, “Kai juga berkata begitu. Semenyebalkan apapun seorang Ariel, tapi Ariel tipe yang selalu mudah dirindukan.”

Baca lebih lanjut

[Lu’s Birthday] Reloaded – 2 (It Happens To Be That Way)

maxresdefault (1)

“Apa menurumu aku putus saja dengan Luhan? Maksudku…sejak awal, aku sebenarnya tidak bermaksud untuk berpacaran. Aku tidak suka berpacaran lama-lama tapi akhirnya kampi putus dan memiliki kenangan singkat yang berakhir buruk. Aku agak buruk untuk menyerap memori hitam, dan aku tidak siap jika memori hitam itu adalah Luhan. Dan lagi…Luhan sepertinya tidak berpikir untuk menikah dalam waktu dekat ini. Padahal, aku menerimanya dulu karena kupikir dia memiliki rencana untuk menikah. Ah! Harusnya aku mendekati laki-laki Indonesia saja! Mereka semua selalu berpikiran matang bahkan meskipun mereka baru berusia 25 tahun!” pekik Ariel dengan nada frustasi –dan semua kesadarannya langsung kembali ketika Emma memukul kepala Ariel dengan sangat keras.

Baca lebih lanjut

[Lu’s Birthday] Reloaded – 1

maxresdefault (1)

Dulu, saat Luhan masih berstatus sebagai mahasiswa semester kedua kedokteran di Universitas Nasional Seoul, Luhan pikir ia tidak bisa memulai sebuah hubungan percintaan semacam berpacaran, atau yang lain. Well, salahkan mantan kekasihnha yang begitu Luhan cintai, lalu kemudian menorehkan kepahitan ketika hubungannya harus berakhir dengan pertengkaran hebat seusai ujian akhir semester Luhan. Tadinya, ia ingin memberi kejutan pada gadis itu, sekaligus merayakan kenerhasilan nilainya yang mencapai target. Tapi ternyaya Luhan justru disambut dengan kata ‘putus’ juga rasa bersalah karena telah membuat gadis yang pernah ia cintai itu menangis.

Luhan begitu sibuk sampai tidak tahu kesulitan kekasihnya.

Luhan terlalu berkutat dengan kuliahnya sehingga ia luoa bahwa ada seseorang yang membutuhkan dirinya.

Baca lebih lanjut