[Vignette] For You by bluesheano

bluesheano’s present, 2020

It beats, it breaks, it loves, it aches. For you. Only for you.―Perry Poetry

—oOo—

WordPress : bluesheano | Wattpad : @Ikhsaniaty/ @bluesheano

—oOo—

“Kau sudah mendapatkan bukunya?”

Wendy Son menghela napas, memendarkan pandangan ke setiap barisan buku dalam rak besar perpustakaan fakultas, lalu menyahut, “Aku belum menemukannya.”

Seorang gadis di seberang sana pun berkata lagi, “Maaf aku tidak bisa ikut mengerjakan tugas kelompok bersamamu, Wendy. Aku benar-benar harus pergi mengunjungi ibuku yang sedang sakit keras.”

Dasar pembohong. Batin Wendy sambil memejamkan mata. “Tidak apa-apa. Semoga ibumu lekas sembuh.”

Berbanding terbalik dengan nada bicaranya yang terdengar menyedihkan tadi, si gadis penelepon seketika bersorak ceria; kentara sekali bahwa ia sudah membohongi Wendy, sebab ia enggan untuk mengerjakan bagian dari tugas kelompoknya. “Terima kasih, Wendy. Sampai bertemu di kelas esok hari!”

Wendy tidak mau menyahut lagi. Ia yang pertama mengakhiri sambungan pembicaraan, lalu menjejalkan ponsel pintarnya ke saku sweter biru yang ia kenakan. Pencarian buku yang hendak dipinjamnya pun kembali dilakukan.

Wendy masih berkeliling rak buku dengan perasaan dongkol bukan main. Terbayang sekali bagaimana wajah Seulgi; teman satu kelompoknya itu yang sepertinya sedang merayakan keberhasilannya membohongi Wendy dengan cara meminum minuman keras, atau pergi berkencan dengan kekasihnya―tipikal seorang mahasiswi nakal yang citra buruknya sudah diketahui banyak orang.

Wendy sungguh merasa dunia begitu kejam kepadanya. Bagaimana bisa dosen Cho dengan begitu mudahnya menunjuk Wendy sebagai pasangan kerja kelompok Seulgi di ujian praktik kali ini? Wendy sudah mencoba membicarakannya lagi kepada sang dosen, tetapi dosen paruh baya itu hanya tersenyum dan berkata bahwa Wendy dan Seulgi bisa melakukannya dengan semaksimal mungkin.

Sialan, memang.

Buku yang ia cari akhirnya ditemukan. Wendy tersenyum senang, sedikit berjinjit untuk mengambil buku yang memang terletak cukup tinggi dari jangkauannya, dan setelah ia berhasil mendapatkannya, ia mendengar suara-suara aneh dari dalam perpustakaan. Seperti… orang yang sedang berciuman?

Wendy mematung sesaat, jantungnya mendadak berdebar hebat begitu saja. Wendy sudah berusaha untuk tidak menghiraukannya, tetapi kedua kakinya justru berkhianat dan berjalan mencari dari mana suara tersebut berasal. Dengan sedikit mengendap-endap layaknya seorang pencuri kelas teri, Wendy mengarahkan tungkainya menuju jajaran rak paling ujung; sebab ia yakin sekali suaranya berasal dari sana.

Benar saja, suaranya bahkan semakin jelas meski tetap terdengar pelan dan… penuh kehati-hatian? Sampai Wendy bersembunyi di salah satu rak, menengok sedikit di balik rak tersebut hanya untuk menemukan sosok pemuda yang sangat ia kenali sedang berciuman dengan seorang gadis-entah-siapa-itu di ujung ruang perpustakaan yang sepi pengunjung.

Mata Wendy membulat, detak jantungnya makin meliar, sementara kedua kakinya terasa berubah seperti agar-agar. Wendy buru-buru membalikkan badan dengan wajah memerah saat Sehun menghentikan ciumannya dan menoleh ke arah Wendy berada.

Sehun lantas membentuk jarak antara tubuhnya dan tubuh gadis dalam kungkungannya tersebut. Seringai tipisnya terbentuk, kemudian ia merapikan rambut sang gadis. Tak urung, gadis itu terpana melihat ketampanan hakiki milik seorang Oh Sehun di hadapannya.

“Aku harus pergi sekarang,” kata Sehun, masih merapikan rambut si gadis. “Sampai bertemu nanti?”

“Kau mau mampir ke rumahku?” tawar si gadis dengan nada sensual, Sehun tertawa kecil karenanya.

“Aku akan memberitahumu nanti,” sahut Sehun tenang, sebelum ia melabuhkan kecupan singkat di bibir gadisnya.

Sehun berlalu begitu saja meninggalkan sang gadis dalam keterpanaan luar biasa. Kaki panjangnya melangkah, sembari pandangan mengitari seisi ruang perpustakaan untuk mencari seorang gadis mungil yang tertangkap pandangannya tadi. Demi apa pun, Sehun tidak bisa menyembunyikan senyum gemasnya melihat Wendy seterkejut itu, kemudian pergi meninggalkannya sambil mengumpat pelan.

Beberapa menit berselang, dan Sehun sudah menemukan Wendy Son tengah duduk gelisah di bangku perpustakaan seorang diri. Agaknya itu hasil dari Wendy yang tidak sengaja menangkap Sehun tengah bermesraan dengan seorang gadis.

Buru-buru Sehun menghampirinya, bertepatan dengan Wendy yang mendongak menatapnya, tetapi sesegera mungkin pula gadis itu beranjak dari bangku menuju ke tempat pendataan peminjaman buku.

“Hei, Wendy,” sapa Sehun, setengah berlari ke arah Wendy.

Gadis itu tidak menggubris. Pandangannya terarah lurus ke layar komputer yang sedang digunakan untuk memasukkan data peminjaman bukunya.

“Kau mau mengerjakan tugas?”

Wendy tidak menjawab. Sehun tidak merasa kesal, justru malah semakin gemas ingin memeluk tubuh mungil itu.

“Sudah selesai,” kata petugas perpustakaan seraya menyerahkan buku pinjaman kepada Wendy.

“Terima kasih.” Wendy tersenyum, membungkuk singkat dan kembali melajukan tungkai meninggalkan perpustakaan. Sehun dengan senantiasa mengikutinya dari belakang.

“Perlu kutemani?” tawar Sehun, yang kini menyejajarkan langkahnya di samping si gadis Son.

“Tidak perlu,” sahut Wendy tak acuh.

“Hm… biasanya kau selalu memintaku untuk menemanimu,” kata Sehun sambil menahan senyum.

“Tidak perlu,” ulang Wendy, terdengar penuh penekanan. “Lebih baik kau kembali saja ke perempuanmu itu,” katanya. Dalam hati ia berharap semoga tidak ada air mata yang jatuh menyusuri pipinya, atau Sehun akan semakin menempel padanya dan menanyainya banyak hal.

Inilah risiko ketika kau berteman dengan seorang berengsek yang memiliki banyak perempuan di sana-sini, dan kau dengan tidak terduganya malah ikut mengagumi pesona si pemuda, sampai-sampai kau jatuh sejatuh-jatuhnya hingga berdarah-darah. Sangat tidak lucu.

“Kau cemburu, ya?” tanya Sehun, sambil mencekal lengan Wendy agar tidak menghindarinya.

Wendy tidak balas menatap mata si pemuda, malah memerhatikannya dinginnya ubin koridor seraya menahan napas sejenak.

“Aku dan gadis tadi tidak pacaran, kok. Hanya teman…?” katanya, lebih seperti bertanya di akhir kalimat.

“Aku tidak peduli.” Wendy memaksakan seulas senyum. Harinya sudah kacau berkat Kang Seulgi, dan kini, dunianya benar-benar hancur setelah melihat pemuda di depannya asyik bercumbu di perpustakaan tadi. Sungguh kombinasi yang memilukan.

“Ah… sepertinya kau butuh teman, ya?” kata Sehun, sangat tidak ada korelasinya dengan pernyataan Wendy tadi.

“Aku cuma butuh sendirian untuk menyelesaikan tugasku,” sahut Wendy, melepaskan cekalan tangan Sehun.

“Baiklah, bagaimana kalau kau mengerjakannya di kafe saja? Tenang, aku akan menemanimu,” ujar Sehun, bersiap melangkah dan merangkul pundak Wendy, tetapi dengan cepat Wendy menghindarinya.

“Apa-apaan?” kata Wendy terkejut. “Urus saja masalahmu, Bajingan!” umpat Wendy, mengundang tawa renyah Sehun mengudara.

Sehun memang sudah terbiasa mendengar beragam makian Wendy yang ditujukan kepadanya. Iya, Sehun memang berengsek. Sehun memang bajingan, tetapi bukannya marah, Sehun justru menikmati setiap kali Wendy memakinya demikian.

Aneh, bukan?

“Bagaimana dengan cokelat marshmallow panas dan kue muffin di sore yang dingin ini?” tawar Sehun, merangkul bahu Wendy. Tidak peduli gadis itu bersikeras menyingkirkan tangannya sampai kembali mengumpatinya.

“Dasar bajingan! Lepaskan tangan menjijikkanmu dariku!” gerutu Wendy tak tahan, Sehun tersenyum lebar.

“Ah… gadisku ini pandai sekali memakiku. Lidahmu sungguh sudah terlatih, ya?” puji si pemuda Oh, lalu tangannya yang bebas mengusak gemas puncak kepala si gadis mungil. “Omong-omong, karena Seulgi tidak bisa membantumu mengerjakan tugas―biarpun jauh, aku bisa mendengar obrolanmu tadi di telepon, maka aku akan menraktirmu membeli cokelat panas sepuasnya.”

Apa? Sehun mendengarnya? Ugh, sialan!

Wendy selalu saja berakhir seperti ini. Ia selalu saja kembali bersama dengan Sehun, di mana pun dan kapan pun. Padahal Wendy sudah cukup banyak menerima rasa sakit yang kerap kali ia sembunyikan, tatkala ia menemukan Sehun sedang bersama dengan gadis yang ia kencani. Wendy akan tersenyum palsu, lalu menghilang dari kerumunan orang hanya untuk membiarkan dirinya menangis di antara suara kucuran air keran di toilet perempuan.

Wendy selalu memperingati dirinya sendiri untuk tidak jatuh ke dalam pesona yang dikuarkan Sehun, tetapi sayangnya, Wendy tidak bisa melawan. Ia sudah terlalu jatuh terperosok pada pesona pemuda itu. Tak peduli sekuat apa pun usaha Wendy untuk membenamkan sugesti dalam kepalanya, bahwa Sehun hanyalah teman paling berengsek yang ia miliki.

“Cokelat marshmallow panas spesial untuk seorang gadis secantik dirimu,” kata Sehun, saat dua cokelat panas pesanan mereka sudah tiba di meja, dan Sehun menyodorkan milik Wendy sambil tersenyum manis.

Ah… kalau sudah begini, rasa-rasanya Wendy ingin lenyap saja dari peredaran Bumi, daripada terus melihat senyuman manis itu di hadapannya.[]

***

gak tahu nulis apaan ini :””

One thought on “[Vignette] For You by bluesheano”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s