[#EXOFFIMVT2019] Spring Breeze – Endina Artha

Spring Breeze

by Endina Artha

Tuk

 

Suara pensil mekanik yang terantuk meja membuat kesadaranku kembali sepenuhnya. Mengerjap beberapa kali, mencoba beradaptasi dengan sisa cahaya lampu di meja belajar yang masih berpijar sementara matahari sudah tinggi. Jam di dinding sudah menunjukkan pukul sepuluh. Dan sialnya selalu tumpukan buku dan lembar soal-soal evaluasi yang menyapa pertama kali. Barangkali wajah ibuku yang bisa kunikmati. Namun nyatanya itu tidak pernah benar-benar terjadi. Terakhir kali aku melihat semburat hangat di sudut bibirnya saat aku duduk di tingkat satu sekolah dasar. Setelah aku beranjak dewasa, aku tidak bisa mengharapkan apa pun lagi.

Ya, kau bisa menyebut hidupku menyedihkan.

Aku tidak akan mengelak, asal kau tahu.

Masih dengan segenap kantuk yang tak berujung, aku meregangkan badanku yang terasa kaku dan mati rasa. Sekarang hari Minggu. Aku tahu. Oleh karenanya aku berani mengambil jatah tidur lebih panjang sebelum berkutat lagi dengan semua catatan lusuhku.

Jangan membayangkan bahwa aku akan berkencan dengan lelaki incaranku atau berjalan-jalan santai sambil menikmati udara segar musim semi di taman kota. Jangan mengharapkan hal manis apa pun. Aku tidak memiliki hidup yang seperti itu. Buang saja jauh-jauh ekspektasimu kalau kau berpikir demikian.

Hidupku itu membosankan. Aku saja sampai benci dan muak. Padahal aku masih berusia tujuh belas. Tapi tak sedetik pun bisa leluasa menghirup udara di sekeliling. Yang ada di agenda harianku hanya belajar dan belajar. Saraf-saraf di otakku sudah menjerit, mengeluh kepadaku. Tapi sorot menuntut dari mata ibuku tidak butuh jeritan itu. Dia hanya ingin hasil tertinggi dalam skala persen.

Bagaimana?

Tertarik menggantikan hidupku?

Aku punya banyak uang yang bercecer di rekening dan dompet. Kau bisa menghabiskannya sambil menonton grup idola favoritmu sampai gila.

Ah, benar.

Perkenalkan, namaku Choi Soo Jin. Yah, kau bisa memanggilku dengan sebutan apa pun. Aku sama sekali tidak keberatan. Tidak peduli, lebih tepatnya.

Orang tuaku adalah direktur sebuah perusahaan brand kosmetik terkenal di Korea. Itulah mengapa aku tidak pernah merasa kekurangan akan materi. Beruntung sekali, karena mereka tidak akan membiarkanku kelaparan barang sedetik. Berbeda dengan orang kurang beruntung di luar sana yang tidak memiliki cukup lembaran won di kantong untuk semangkuk sup labu.

Barangkali kau berpikir hidupku tinggal duduk manis sambil menikmati hasil memulung kedua orang tuaku di sebuah sofa empuk dengan sekotak besar popcorn di pangkuan. Iya, itu memang benar. Tapi tidak gratis. Aku harus membarternya dengan otak serta impianku. Bahkan mungkin seluruh ragaku.

Kau tahu? Nilai evaluasi dan peringkatku harus memuaskan. Belum lagi harus mengikuti segala macam olimpiade untuk menambah nilai akademik di laporan akhirku. Aku sering dianggap sebagai orang yang maniak belajar atau orang biasa menyebutnya studyholic. Padahal aku sama sekali tidak merasa seperti itu. Aku melakukannya hanya karena aku harus melakukannya. Bukan karena aku menginginkannya.

“Kau harus belajar untuk mendapatkan nilai terbaik dan lulus dengan hasil memuaskan. Jangan melakukan hal-hal yang tidak berguna seperti ini. Kau tidak akan jadi hebat hanya karena kau suka menyanyi.”

Bibirku tersenyum masam. Dengusan kecil keluar begitu saja dari mulutku. Aku ingat betul dengan kalimat yang diucapkan oleh ibuku saat akan naik ke kelas tiga sekolah dasar. Saat itu aku sedang berlatih paduan suara untuk acara pementasan kelulusan murid-murid kelas enam. Dan tanpa sepengetahuanku, ibu sudah berunding dengan pihak sekolah untuk mengeluarkanku dari grup paduan suara.

Menurutmu, apa yang bisa aku cerna kala itu?

Tidak ada. Sungguh.

Aku hanya seorang anak kecil yang tidak tahu apa-apa.

Aku tidak mengerti apa pun tentang ucapannya. Aku juga tidak mengerti kenapa ibu melakukan itu padaku. Yang kutahu, ibu tidak suka melihatku menyanyi. Ibu tidak ingin aku debut dan meraih mimpiku sebagai seorang penyanyi hebat. Bahkan hingga sekarang, aku tidak bisa melatih pita suaraku lagi. Sudah jauh-jauh hari aku berusaha mengucapkan salam perpisahan pada impianku tersebut. Lagipula, aku hanya akan menjadi maneken di balik kursi pewaris yang sangat membosankan dan memusingkan.

Cukup. Aku tidak ingin berbasa-basi lebih banyak tentang keluarga dan segala aturan yang harus kupenuhi. Kurasa kau pun sudah hampir meneteskan liur karena mengantuk.

Sekarang ususku minta bekerja. Perutku perlu diisi. Aku tidak ingat kapan terakhir kali aku makan dengan benar. MSG adalah kawan terbaikku sejauh ini. Dia selalu ada saat aku butuh. Jadi, kuputuskan untuk membawa satu cup ramyun dari lemari persediaanku.

Aku mendekati cermin di meja rias sambil memeluk ramyun-ku yang berharga. Kupandang sesaat penampakan diriku yang masih acak-acakan dalam balutan piama bermotif beruang. Kantung mata yang menghitam tidak bisa kuabaikan begitu saja. Apa aku sudah benar-benar berubah menjadi zombie sekarang?

Pantas saja teman-teman selalu memberikan tatapan kasihan padaku. Karena aku terlihat begitu menyedihkan. Aku seperti orang yang menuhankan nilai sebagai acuan hidup. Sampai lupa caranya bersenang-senang dan bahagia. Aku harus berkencan saat usiaku sudah tujuh belas tahun. Seperti sekarang. Setidaknya sekali saja. Aku juga ingin melakukannya seperti kebanyakan orang. Anjingku saja sudah punya pacar. Keterlaluan kalau aku sampai tidak punya!

Aku melangkah gontai menuju dapur setelah sempat membasuh muka. Menyeduh ramyun-ku tanpa semangat. Mengabaikan pelayan yang berniat membantuku. Setelah selesai aku segera beranjak, masuk ke kamar.

Alih-alih menikmati, aku malah hanya menyuapkan sesumpit ramyun begitu duduk bersila di karpet berbulu lembut yang dibeli ibu saat pulang dari Rusia. Kupastikan harganya bisa untuk bertahan hidup mahasiswa yang tinggal di asrama selama beberapa bulan ke depan.

Kuabaikan ramyun kebanggaanku hingga mengembang percuma terkena udara. Jemariku sibuk menggoreskan rumus-rumus rumit pada kertas belapis banyak yang sengaja kupakai untuk menghitung.

Aku menghela singkat. Soal-soal olimpiade matematika sukses membuat aliran darahku melipir hingga ubun-ubun. Setetes cairan hangat lolos dari indra pembauku, mengotori jawaban yang susah payah kukerjakan sampai ingin mengumpat. Berdiri terburu, aku meraih kotak tisu di nakas, lalu menyeka cairan kental merah yang rutin keluar setiap hari. Terlebih ketika sedang begadang dan lelah dengan bimbingan yang dijadwalkan oleh ibu.

Itu bukan pemandangan langka. Aku sering mengalaminya, seolah sudah masuk dalam agenda wajib.

Konsentrasiku terbelah lagi saat ponselku berdering. Aku bersumpah untuk mengutuk siapa pun yang menganggu waktu khidmatku. Jemariku lantas berhenti. Menjeda kembali ritual harianku saat baru memasuki butir kelima dari seratus soal esai.

“Hm, ada apa?”

Aku menempelkan ponsel di telinga tanpa peduli nama yang tertera di layar, sedang bahuku menjadi penyangganya.

“Selamat ulang tahun!”

Suara serak berat di seberang tiba-tiba berujar dengan nada ceria.

Oke, mari lupakan soal kutukanku.

Aku menurunkan ponsel, meneliti sebentar layar pipih tersebut sebelum kembali kutempelkan di telinga. Tidak ada perubahan berarti dari air mukaku.

Ulang tahun, ya? Ck, aku saja lupa kalau hari ini berulang tahun.

“Oh,” balasku, tidak menaruh minat.

Kudengar lelaki itu segera melayangkan ocehan yang sudah bisa kutebak. Setiap tahun selalu begitu. Jadi aku tidak merasa terkejut meski berusaha dikejutkan.

Dia Park Jae Kyung, Si Peringkat Satu yang akan segera debut di salah satu agensi besar. Orang yang paling peduli dengan hidup dan cita-citaku.

Persisnya, lelaki itu menaruh hati padaku sejak lama. Bukannya kepedean. Itu memang benar. Dia pernah mengungkapkan perasaannya sendiri di malam saat salju pertama turun setelah pulang dari les piano. Dengan setangkai mawar putih yang beberapa kelopaknya telah gugur dan terselip pada kumpulan buku not balok miliknya.

“Hei, reaksi macam apa itu?” cibirnya. Aku memilih melanjutkan aktifitasku, sementara di sana kudengar dia mengesah, lalu berdeham, “Turunkan dulu pensilmu.”

Otomatis ujung pensilku stagnan, mendadak patah saat aku menekannya. Aku menelan liurku yang kering. Dia selalu tahu apa yang kukerjakan.

“Cepat turun. Aku sudah di depan. Hari ini kita akan bersenang-senang,” tutur Jae Kyung. Tersirat maklum dan khawatir yang terselip dari nada bicaranya meski terdengar begitu ceria.

Aku hampir mengatakan sesuatu sebelum pintu kamarku terbuka lebar. Menampilkan seseorang yang tak kuharapkan berdiri sambil menenteng tas kerja di ambang pintu. Setidaknya untuk hari ini, aku tidak ingin bertemu dengan siapa pun yang menjadi penyebab perubahan perilakuku.

“Tetap di tempat. Besok sudah masuk ujian tengah semester. Aku tidak mau melihat satu pun coretan merah di lembar jawabanmu. Kalau bisa, nilaimu harus berada di atas Jae Kyung. Mengerti?”

Setelah berkata demikian, pintu kamarku kembali tertutup rapat. Nyaris tanpa celah.

Dia ibuku.

Kau sekarang tahu, kan, apa yang kurasakan?

Jujur saja, aku tidak butuh lagi ucapan ulang tahun atau semacamnya. Aku bahkan tidak berharap ada semangkuk sup rumput laut yang tersaji di meja, karena aku memiliki alergi. Tapi, bukankah ini keterlaluan? Hari ini ulang tahunku. Dan ibuku malah sibuk mengurusi nilai—yang kuyakini tidak berpengaruh ketika sudah bekerja.

Hei, apakah dia tidak tahu bagaimana teririsnya perasaanku saat ini? Tidakkah dia tahu? Bukan itu yang seharusnya ia lakukan pada anak yang sudah mendamba kehangatan sejak lama.

“Sudah kuperingatkan berapa kali?! Jangan ada satu soal pun yang salah! Ke mana otakmu saat mengerjakan ini?!” Suara itu semakin meninggi, seiring dengan selembar kertas yang dilempar ke wajahku.

“Ibu,” cicitku. Berusaha menahan cairan di pelupuk mata yang bergumul sebab sesak menekan dada.

“Kau pikir nilai seperti ini bisa dipertanggungjawabkan?”

“Ibu, aku hanya salah dua soal. Kenapa mempermasalahkannya sampai seperti ini?” Kupikir saat itu ibu memang sedang kelelahan setelah kunjungannya ke luar negeri. Tetapi aku menyadari bahwa kemarahannya bukan perihal lelah, melainkan takut reputasinya akan kalah. Mungkin sangat memalukan baginya memiliki anak yang tidak bisa mengerjakan soal dengan benar.

“Apa kau bilang? Hanya dua soal katamu? Kau bisa saja salah lebih dari ini karena terlalu menyepelekan!”

Kalimat itu sudah cukup menyakitiku. Tapi rasa sakitnya kian meradang ketika lembut tangan yang dulu menimangku, menjadi sebab panas di pipi yang sudah berderaian.

“Aku tahu. Aku akan memperbaikinya lagi,” sambil menahan isakan aku berujar parau.

Aku kehilangan harapan. Aku ingin menyerah. Aku sepenuhnya mengalah atas mimpiku.

Sungguh, aku tidak bisa mengenali ibuku lagi. Percakapan di malam saat aku baru saja menerima hasil ulanganku kembali terngiang. Aku tidak mungkin melupakannya.

Dia berubah. Ibuku berubah. Menjelma menjadi orang yang dingin dan penuh ambisi.

Aku merapatkan rahang, menekan bibir bawahku hingga nyeri. Kelenjar di mataku sudah bekerja terlalu keras, hingga menumpahkan hasil kerjanya di kedua pipiku. Buku-buku jariku kian memutih, seiring kepalan tangan yang kian mengerat.

“Soo Jin, kau… baik-baik saja?”

Suara Jae Kyung menginterupsi pendengaranku. Cukup terkejut, kujauhkan sedikit ponselku dari telinga. Sesegera mungkin memelankan isakanku yang mungkin terdengar olehnya. Aku bahkan sudah lupa kalau sambungan teleponku belum terputus.

Kuhapus sisa air mataku, lalu berjingkat mendekati jendela, mendapati sosok Jae Kyung yang berdiri tepat di bawah jendela kamarku dengan sisa kekhawatiran di wajah.

“Jae Kyung…”

Aku menarik napas panjang, mengembuskannya bersama sakit yang mendera. Namun tetap kutarik paksa sudut bibirku hingga membentuk lengkungan perih yang menawan. Sebab, lelaki di bawah sana membuatku berani menyemai harapan baru. Aku bersumpah, tidak ingin terjerat di jalan yang seharusnya tidak pernah kulalui. Aku ingin melampaui batasku sendiri. Aku ingin menghidupkan hidupku sendiri.

Kutarik napasku sekali lagi.

“… aku ingin makan tteokbokki.”

Semburat manis yang tadinya membeku kaku, perlahan pudar, berganti rona merah yang menyembul ramah. Kau tahu, itu adalah kata-kata andalan ketika aku ingin melakukan sesuatu tanpa mengatakannya sekaligus. Sejauh ini, hanya Jae Kyung yang mampu memahamiku.

Kulihat lelaki itu mengulum senyum sumir. Kepalanya membuat anggukan kecil. Lalu tanpa kusangka, dia mendongak, menatapku dengan hangat seperti biasa.

Di saat seperti ini, aku baru menyadari bahwa kadar menawannya telah bertambah.

***

Netraku terpejam. Menikmati belai siliran angin musim semi di tepian sungai Han. Mengeratkan genggaman pada ujung jaket Jae Kyung yang berkibar saat putaran roda sepeda semakin cepat.

“Kau suka?” tanya Jae Kyung, sedikit berteriak. Sementara kepalaku telah mengangguk antusias, “Tentu saja!” dengan teriakan yang berhasil mengundang gelak lucu dari lelaki tersebut.

Begitu manis, pikirku.

Bibirku mengembang. Binar di mata kupersilakan mengambil tempat. Menikmati mambang sempurna di ujung barat.

Aku merasa beruntung.

Teruntuk hari ini, aku ingin sekali berterima kasih. Setidaknya, aku berhasil membuat keputusanku sendiri. Berani meyakinkan diriku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Bahwa tidak ada yang salah menaburkan segenggam harapan baru demi meraih mimpiku kembali. Aku ingin menguji diriku. Melampaui batas-batas yang telah ditentukan. Merebut kebebasanku dan mencintai diriku lebih banyak.

Selama ini aku tidak pernah sekalipun diberi kesempatan untuk mengutarakan keinginanku. Mengutarakan rasa sakitku yang tertindas keterbatasan. Lalu semuanya hanya akan berakhir dengan perih yang lebih dalam.

Aku tidak ingin hidup seperti itu lagi.

Di kehidupan selanjutnya, aku ingin menjadi manusia bebas yang berani mewujudkan mimpi tanpa dibatasi mimpi orang lain. Tanpa terpaku pada nilai evaluasi yang memuakkan.

Persetan dengan semua itu.

Aku berhak membuat keputusan atas hidupku. Berhak mengatur atas segala keinginanku. Berhak bahagia atas impian dan harapanku. Berhak mendapatkan diriku seutuhnya.

Tanpa dikekang. Dan terkekang.

 

 

SELESAI

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s