[#EXOFFIMVT2019] MIRACLE IN DECEMBER – HAANA

Miracle In December

 

Musim semi baru saja dimulai beriringan dengan terbitnya mentari yang semakin membuat hari menjadi lebih indah. Keindahan itu pun tidak lepas dari bantuan bunga sakura yang bermekaran disepanjang jalan disebuah kota paling sibuk yaitu Seoul, Korea Selatan. Aktivitas manusia pun tak luput dari pemandangan yang membuat hari semakin indah. Terdengar suara merdu dari sebuah rumah minimalis dengan dinding kayu berwarna coklat yang memberikan kesan sederhana namun tampak elegan. Selain itu semakin diperindah dengan suguhan pekarangan rumah yang dihiasi bunga Mugunghwa. Mugunghwa adalah bunga nasional yang banyak tumbuh dikorea.

Suara merdu yang terdengar berasal dari seorang gadis yang sedang menyanyikan lagu kesukaannya untuk menyambut hari yang indah.

“You know I want that…home….”

“You know you got that…home…”

“Seo Yoon-ah, mau sampai kapan kau akan bernyanyi? cepatlah berangkat nanti kau terlambat,” teriak seorang wanita dari luar kamar gadis yang ternyata bernama Seo Yoon itu. Tanpa menjawab perkataan sang wanita yang merupakan ibunya, Seo Yoon langsung bergegas pergi sekolah. Hari ini merupakan hari pertamanya sekolah sebagai murid pindahan. Ia baru saja datang ke Korea beberapa hari yang lalu. Selama perjalanan menuju ke sekolah barunya Seo Yoon tak henti-hentinya tersenyum. Ia teringat akan masa lalunya. Menurutnya korea benar-benar jauh berubah dari apa yang ingat tujuh tahun lalu. Terutama satu bangunan yang menjulang tinggi, yang kini jauh tampak megah dari sebelumnya. Namsan Tower. Begitulah orang menyebutnya.

Gerbang Byul High School sudah terlihat dimata Seo Yoon. Namun ketika satu langkah lagi kakinya mencapai pagar, ia dikejutkan oleh klakson sebuah motor yang membuat ia jatuh karena kaget. Seseorang yang membuat Seo Yoon kaget itu malah langsung masuk tanpa meminta maaf, sehingga membuat Seo Yoon kesal. Tapi ia tidak punya waktu untuk kesal karna malah akan membuatnya terlambat. Hari pertama sekolah cukup melelahkan. Tidak ada hal yang menarik baginya, kecuali kejadian digerbang yang hampir membuat dirinya jantungan. Sepulang sekolah, Seo Yoon melakukan aktifitas yang ia sukai sejak kecil. Ia selalu melakukan bersama kakaknya yaitu melukis dan kakaknyalah yang menjadi objek gambarnya. Namun tujuh tahun terakhir ia tidak lagi memakai kakaknya sebagai objek. Mengingat hal itu, membuat Seo Yoon menitikkan air mata. Itu selalu terjadi ketika ia mulai melukis. Ia sudah lama terpisah dengan kakaknya. Yang kini tinggal diingatannya adalah wajah tersenyum kakaknya sama persis dengan foto yang terdapat di kalung liontin miliknya.

Dilain rumah terdengar suara merdu yang penuh kesedihan berasal dari petikan getar  yang sedang dimainkan oleh seorang  lelaki yang masih memakai seragam sekolahnya. Tujuh tahun terakhir ia selalu menyanyikan lagu yang sama.

“I want you I miss you”
“I need you I love you”
“Yeongwontorok geudae pume”

Laki-laki itu selalu menitikkan air mata ketika melihat foto seorang anak kecil.        Sudah beberapa hari berlalu. Sekolah masih sama. tidak ada hal yang menarik. Dan tidak ada yang membuat Seo Yoon tertarik. Tanpa ia sadari bahwa beberapa hari ini ia telah menjadi pusat perhatian seseorang. Seseorang yang selalu melihatnya dari lantai tiga sekolah. Hanya sekedar memperhatikan tanpa melakukan apa-apa. Ia selalu tersenyum melihat tingkah laku Seo Yoon yang menurutnya mirip seseorang. Namun ia tak berani mendekatinya bahkan hanya untuk menyapa adik kelasnya itu. Tiba-tiba seseorang menghentikan lamunannya.

“Hyunjae-ya…” panggil teman dari Hyunjae.

“Yak, Baek Hyunjae. Kau mendengarkanku tidak?,” panggilnya sekali lagi dengan nada tinggi. Barulah panggilan ketiga Hyunjae mendengarnya.

“aah, wae[1]?,” jawab Hyunjae dengan nada datarnya. Hal inilah yang tidak disukai teman-teman Hyunjae. Hyunjae hampir tidak memiliki ekspresi. Ia bahkan diberi gelar pangeran es oleh teman-teman sekelasnya. Hanya beberapa orang yang tahan dengan sikapnya. Salah satunya teman yang sedang mengajaknya bicara saat ini.

“Kulihat akhir-akhir ini kau sering memperhatikan adik kelas kita itu. Apa kau menyukainya?.” tanya temannya dengan rasa penuh curiga. Hyunjae hanya memutar matanya malas tanpa mau menjawab pertanyaan temannya itu. Ia pergi meninggalkan temannya dan membuat temannya merasa kesal. Ia selalu saja begitu. Tiba-tiba saja, tanpa sengaja ada seorang adik kelas menabraknya. Karena pertahanan Hyunjae yang kuat, hanya adik kelasnya yang terjatuh. Ia mengulurkan tangannya kepada adik kelasnya. Pada saat itulah tatapan mata mereka bertemu. Tanpa mereka sadari, jantung mereka berdetak sangat kencang tanpa tahu penyebabnya. Hingga suara teriakan seseorang menyadarkan mereka.

“Seo Yoon-ah, kau tidak apa-apa?,” tanya anak perempuan itu ketika telah mendekati mereka. Seo Yoon berdiri tanpa menerima uluran dari laki-laki yang merupakan kakak kelasnya. Seo Yoon pergi begitu saja tanpa mengatakan maaf kepada kakak kelas itu. Hyunjae masih diam ditempat, ia masih mentralkan detak jantungnya. Entah mengapa rasanya dia pernah melihat mata dan tatapan adik kelasnya itu. Rasanya milik seseorang. Tapi ia tidak begitu yakin.

Berbeda dengan yang dirasakan Hyunjae, Seo Yoon malah merasa kesal. Ia menyadari sesuatu yang membuatnya kesal. Ia baru saja ingat bahwa laki-laki tadi adalah laki-laki yang hampir menabraknya pada hari pertama masuk sekolah. Tatapan matanya sama persis. Itulah pertemuan pertama mereka dan pertemuan terakhir bagi Seo Yoon pada masa kelas satu SMAnya. Karena setelah kejadian itu, ia tidak pernah melihat kakaknya itu. Tidak menarik bagi Seo Yoon untuk mencari tahu tentang kakak kelasnya itu. Hanya saja ia penasaran apakah kakak kelasnya itu tidak ingat siapa dia. Orang hampir mati karena kaget. Mengingatnya saja membuat Seo Yoon merasa kesal kembali.

Beberapa bulan sekolah, akhirnya masa libur tiba. Hari dimana semua orang menantikannya. Apalagi sebentar lagi akan memasuki musim dingin. Menikmati musim dingin dimalam natal merupakan hal yang paling menyenangkan bagi semua orang. Namun tidak untuk seorang perempuan yang sedang menatap keluar jendela rumahnya. Musim dingin dan natal merupakan kenangan terburuk baginya. Namun juga merupakan hal yang paling ia tunggu selama beberapa tahun terakhir. Tiba-tiba panggilan ibunya menyadarkan ia dari lamunannya.

“Seo Yoon-ah, apa kau akan pergi lagi tahun ini,” tanya ibunya.

“Ya ibu, aku merindukan tempat itu,” jawab Seo Yoon sendu.

“Padahal kau bisa pergi kesana setiap malam jika kau mau, jarak rumah kita tidak terlalu jauh,” sambung ibunya lagi.

“Tidak ibu. Aku hanya akan pergi pada malam natal saja,” lanjut Seo Yoon dengan memberikan sedikit senyuman pada ibunya.

“Kau yakin akan bertemu dengannya?. Sudahlah Seo Yoon, mungkin dia memang sudah pergi jauh,” ucap ibunya dengan penuh keyakinan. Seo Yoon hanya diam tidak menyahuti perkataan ibunya. Sungguh didalam hati terdalamnya ia juga tidak begitu yakin. Apalagi ia terus melakukan ini selama tujuh tahun terakhir. Namun masih ada secercah harapan dihatinya. Sebagian dirinya masih berharap. Ia akan terus datang kesana walaupun tidak pernah mendapatkan apa yang dia inginkan.

Malam ini Seo Yoon tampak cantik dengan balutan celana jins putih dan sweater berwarna biru senada dengan sepatu yang ia gunakan. Tak lupa juga jaket yang tengah melindunginya diudara yang sangat dingin ini. Senyuman diwajahnya kian membuat Seo Yoon tampak sempurna. Malam ini adalah malam pertama natal.  Malam pertama natal biasanya orang-orang menghabiskan waktu bersama keluarga tercinta. Namun tidak dengan Seo Yoon. Ia selalu datang ketempat ini. Ia hanya berkeliling untuk mengamati orang-orang sekitar yang berbagi kasih dengan orang tercinta. Suasana yang dingin tidak membuat ia  pergi ketempat yang lebih hangat. Ia lebih menikmati pemandangan dari atas puncak bangunan yang sangat cantik itu. Namsan Tower. Salah satu monumen di Korea Selatan yang menjadi favorit setiap orang yang konon katanya apabila meletakkan gembok cinta disana, cinta mereka akan abadi. Begitu juga bagi Seo Yoon. Setiap kali datang kesini ia akan selalu merindukan sosok itu. Sosok yang pernah menjadi malaikat pelindungnya. Ia tidak begitu yakin apakah sosok itu masih hidup dan mencarinya seperti yang ia lakukan saat ini. Berbekal keyakinan dari hatinya Seo Yoon tetap menunggunya. Ia melepaskan kalung yang dipakainya dan membuka kalung tersebut. Terlihat foto dua orang anak kecil yang tersenyum sangat bahagia. Foto itu dipercantik dengan pemandangan Namsan Tower sebagai backgroundnya. Tanpa bisa dicegah air matanya turun begitu saja.

Tiba-tiba ia merasakan tepukan dipundaknya. Seo Yoon menoleh kebelakang, ia cukup merasa kaget dengan kehadiran seseorang yang cukup ia kenal. Ah tidak, dia hanya tau sekilas saja. Dengan mengembangkan senyuman seseorang itu duduk disamping Seo Yoon tanpa meminta izin.

“Apa kau menunggu seseorang?,” tanyanya tanpa menoleh kepada Seo Yoon. Seo Yoon tidak menjawab pertanyaan itu. Laki-laki itu menghela napas dan kembali berkata,

“Jika kau yakin, teruslah berusaha. Aku percaya orang itu pasti kembali.” Seo Yoon mengerutkan keningnya setelah mendengarkan perkataan laki-laki tersebut. Laki-laki itu berdiri dan kembali tersenyum, ia membelai pucuk kepala Seo Yoon dan kemudian beranjak pergi meninggalkan Seo Yoon. Seo Yoon yang tampak kebingungan dengan perkataan laki-laki itu kembali kaget setelah perlakuan laki-laki tersebut.

Waktu berlalu sangat cepat dan libur musim dingin pun berakhir. Aktivitas sekolah telah dimulai kembali. Begitu juga dengan Seo Yoon, ia kembali melakukan rutinitas sehari-harinya. Tanpa ia sadari, ia sudah duduk dibangku kelas tiga. Seo Yoon menghabiskan waktu istirahatnya ditaman belakang sekolah sambil melakukan aktifitas yang ia sukai yaitu melukis. Ia terlalu asyik melukis tanpa menyadari ada seseorang yang sedang memandanginya.

“Gambarmu bagus, aku jadi teringat seseorang,” ucap laki-laki yang sudah lama melihat aktifitas Seo Yoon. Seo Yoon cukup kaget akan kedatangan laki-laki itu. Seo Yoon juga sepertinya tidak berniat menyahuti perkataan laki-laki itu.

“Bagaimana kabarmu, setelah terakhir kita bertemu malam natal waktu itu?,” laki-laki itu kembali bertanya pada Seo Yoon. Seo Yoon kembali tidak menjawab dan lebih memilih melanjutkan aktifitas melukisnya.

“Maaf,” lanjut laki-laki itu yang membuat aktifitas Seo Yoon terhenti. Seo Yoon mengerutkan kening mendengar perkataan laki-laki itu.

“Maaf untuk kejadian dua tahun lalu ketika aku hampir menabrakmu,” ucap laki-laki itu yang membuat Seo Yoon mengerti.

“Lupakan saja Baek Hyunjae-ssi, aku juga sudah melupakannya,” jawab Seo yoon membalas perkataan laki-laki itu yang ternyata adalah seniornya dulu yang hampir membuatnya jantungan. Hyunjae tertawa mendengar perkataan Seo Yoon.

“Santai saja berbicara padaku Seo Yoon-ah, aku adalah seniormu,” sahut Hyunjae. Seo Yoon memutar bola matanya malas dan kembali berkata,

“Kau bukan lagi seniorku,” jawab Seo Yoon sambil beranjak pergi. Pertemuan dan percakapan mereka berakhir begitu saja. Tanpa Seo Yoon sadari, mata Hyunjae tampak berkaca-kaca melihat kepergian Seo Yoon.

Waktu kembali berlalu sangat cepat. Hari kelulusan yang ditunggu telah tiba. Semua siswa Byul High School tampak begitu senang. Terlihat banyak karangan bunga yang menghiasi perkarangan sekolah. Orangtua murid juga tampak meramaikan acara kelulusan tersebut. dari kejauhan terlihat Seo Yoon yang sedang melambaikan tangan kepada orangtuanya yang baru saja datang. Hari itu benar-benar hari paling bahagia bagi Seo yoon meskipun masih ada yang kurang baginya.

Tahun ini adalah natal terakhir yang akan dinikmatinya sebelum ia pindah. Ia masih ingin menunggu sekali lagi. Natal ini adalah natal penentu bagi Seo Yoon untuk mengakhiri semua yang pernah ia lakukan selama 9 tahun terakhir. Ia benar-benar berharap natal kali ini memberikan kebahagiaan untuknya. Dengan senyuman lebar yang menghiasi wajahnya, ia melangkahkan kaki dengan semangat menuju tempat paling di indah di Korea menurutnya. Namsan Tower tempat penuh cerita bagi kenangan masa lalunya. Ia kembali duduk dibangku ia selalu ia duduki selama sembilan tahun terakhir. Sambil menunggu salju turun malam ini ia kembali mengambil kalungnya. Ia tersenyum, namun bukan senyum kesedihan melainkan senyum kebahagian. Dia sudah ikhas untuk semuanya. Ia yakin malaikat pelindungnya pasti baik-baik saja. Ia mendongakkan kepala keatas menatap langit yang sudah menjatuhkan salju kebumi untuk memperindah malam natal. Ia kembali tersenyum dan memejamkan matanya. Setelah ini dia benar-benar akan pergi. Namun, ketika dia membuka mata, ia dikejutkan dengan seseorang yang tengah berdiri didepan dengan memegang kalung yang sama seperti miliknya. Laki-laki itu tersenyum dengan mata yang berkaca-kaca. Ia cukup kaget dengan kedatangan tiba-tiba laki-laki itu. Yang membuat dirinya lebih kaget adalah kalung yang menjuntai didepan wajahnya dan tanpa ia hendaki air matanya mengalir begitu saja setelah melihat kalung itu. Laki-laki itu langsung menarik Seo Yoon kedalam pelukannya.

“Maaf, aku datang terlambat Seo Yoon-ah,” ucap laki-laki itu tanpa disahuti oleh Seo Yoon yang tengah menangis.

“Maaf malaikatmu tidak pernah menyadari keberadaanmu. Maafkan Hyunjae tercinta mu ini adikku,” lanjut laki-laki yang ternyata bernama Hyunjae yang merupakan kakak kelasnya.

Begitulah akhirnya. Tanpa mereka sadari takdir sering kali mempermainkan mereka. Mereka begitu dekat namun tak pernah saling menyapa ataupun berbicara untuk saling mengenal. Mereka hanya memadang dari kejauhan karena takut akan takdir yang sudah digariskan. Malam natal dibulan Desember tepatnya di tempat paling indah dan dihiasi dengan turunya salju telah terjadi keajaiban. Pertemuan kakak dan adik yang sudah lama terpisah. Menjadi momen terindah bagi keduanya. Mereka sebut ini sebagai Miracle In December.

[1] Wae = mengapa

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s