[#EXOFFIMVT2019] LAST SONG – VIDYAVANORA

• LAST SONG •

Seminggu silam, ketika dokter mengajak Ayah juga Ibunya untuk bicara di ruangan pribadi, Shin Youra tahu waktunya tak lama lagi. Jika Tuhan sudah menakdirkannya untuk berpulang di usia 18 tahun, mau bagaimana lagi? Lagipula sudah cukup banyak tenaga dan uang terbuang demi pulihnya kesehatannya. Tapi, semua seakan sia-sia.

Dirinya kini tak lebih dari seorang pasien yang menggantungkan hidup melalui obat-obatan dan selang-selang aneh yang terhubung dengan tubuh untuk menyalurkan asupan nutrisi. Semenjak kakinya tak lagi mampu untuk digerakkan, Youra bergantung pula pada bantuan orang tua dan seorang butler setia. Ah, dan jangan lupa pada kursi roda pemberian kakaknya yang telah menjadi penopang tubuhnya 1 tahun terakhir.

Teman dekat bukan lagi anak seusia yang berada di satu atap sekolah, melainkan pasien dari berbagai usia dengan beragam penyakit yang diderita, dokter-dokter rupawan yang masih bertahan akan keluh kesah penghuni rumah sakit, perawat yang tak kenal lelah mendampingi sepanjang waktu, juga alat-alat rumah sakit selaku hal utama yang membuatnya masih bisa bertahan hingga detik ini.

“Youra―Ya Tuhan! Aku merindukanmu! Lama sekali aku tidak berkunjung. Maaf, aku benar-benar disibukkan oleh tugas dan pelajaran tambahan.”

Lagipula, pandangan teman sekolahnya mulai berubah perlahan namun pasti. Di mata mereka, ia hanya Shin Youra, si gadis penyakitan yang patut dikasihani yang akan meregang nyawa tak lama lagi. Bukan lagi Shin Youra si gadis murah hati yang selalu dan selalu mendapat prestasi dalam berbagai bidang akademik juga non akademik.

“Jadi, apa kabar?”

Buruk, semakin buruk sejak kau dengan suara berisikmu itu hadir.

.

.

“Aku rasa ini kali terakhir kita menikmati musim gugur bersama.”

“Kenapa?”

“….”

.

.

“Maaf, ya, Eomma[1] baru datang.” Kecupan singkat didapatkan oleh keningnya. Berlanjut ke pipi―kiri dan kanan.

Youra menanggapi dengan sekali anggukan, tanpa mengeluarkan sepatah kata. Tidak berguna. Ibunya tidak akan langsung merespons. Bukan, bukan karena dampak dari usianya Ibunya yang mulai mendekati setengah abad dan menurunkan laju kerja otak untuk merespons.

“Youra ingin sesuatu?”

“S-en-sen-ja.”

Kerutan samar mengiringi senyum manis di bibir. “Hm? Selai?”

Yang didengar oleh Ibunya selalu bukan yang dia maksudkan. “S-sen-ja.”

Keteduhan di sorot mata Ibunya masihlah ada, senyum itu masih melekat pada bibirnya yang dipoles lipstik. Tapi tercipta kilat kesedihan di kedua matanya yang tidak bisa disembunyikan dan yang selalu bisa Youra tangkap.

Youra paling benci sorot iba itu.

Ia benci orang menganggapnya sebagai manusia tak berdaya.

“Maaf, ya, tapi tidak sekarang.”

Shin Youra adalah gadis yang kuat.

“K-ka … pan?”

“Nanti, ya, kalau Youra sudah sembuh.”

Tuhan menyayanginya. Bahkan mungkin lebih menyayangi Youra ketimbang makhluk-makhluk-Nya yang lain. Buktinya, Dia berikan Youra menyakit mematikan yang hampir membuat sekian orang berputus asa dan memilih untuk menyerah, alih-alih berjuang hingga titik darah penghabisan.

Akan tetapi, sesayang apa pun Tuhan padanya―

“Tidak, tidak, Youra jangan menangis. Eomma di sini. Youra harus kuat, Youra harus percaya Tuhan akan memberikan kesembuhan.”

―Tuhan masih enggan memberinya kesembuhan.

▪ ▪ ▪

Sebanyak apa pun Youra mendengar alunan piano itu dari berbagai sumber, entah internet, game piano yang menawarkan ribuan lagu, maupun pertunjukan langsung, ia tidak pernah peduli siapa pencipta hebat melodi itu. Turkish March, When The Love Falls, Kalinka, dan banyak lagi. Entahlah, Youra tidak ingat namanya, meski potongan nadanya masih terpatri dalam ingatan dan tersimpan rapi dalam memori.

Tapi Beethoven dan Yiruma … Youra mengetahui keduanya.

Jika bukan karena Beethoven dan kisah tragisnya dengan kekasih yang tertuang dalam melodi Fur Elise, Youra tidak akan mau berselancar di internet dan menghabiskan waktu untuk mengenal seluk-beluk kehidupannya.

Dan jika bukan karena When The Love Falls-nya yang membuat hati berdesir, Youra tidak akan pernah pula membiarkan diri terlarut dalam melodi ciptaan Yiruma yang lain dan mencari kisah hidup beliau di internet.

Dan jika bukan karena kekasihnya pula, Kang Dae, mungkin Youra tidak akan tahu tentang piano, ia tidak akan bisa menikmati masa tatkala kesepuluh jemarinya menari-nari di atas tuts hitam-putih itu dengan terampil ibaratnya pemain profesional. Tuts itu begitu lembut, ajaib―berbunyi dalam sekali tekan. Dan menghadirkan sejuta rasa jika ditekan secara beruntun, dengan tempo sesuai, dan sesuai pada yang tertera di buku-buku .

“Y-Yi-ruma.”

“Ah, ingin mendengarkan Yiruma lagi?”

Menghanyutkan diri pada melodi When The Love Falls memang sudah menjadi rutinitas harian Youra selama menjalani hari-hari neraka di rumah sakit. Tangannya yang sudah kehilangan fungsi membuatnya tak bisa memutar sendiri musik di ponsel, hingga harus membuat butler-nya turun tangan. Sering kali Youra mencaci diri dalam hati seperti, payah! Memutar musik saja harus dibantu, heh?, atau yang lebih sarkas seperti, ya! Tangan dan kakimu sudah kaku. Lihat saja, tidak lama lagi kau akan mirip patung liberty! Tidak bisa bicara, dan lumpuh.

Wanita yang berada di ambang 30 tahun itu memprogram melodi Yiruma sehingga akan berputar kembali ke awal jika sudah berakhir. Begitu seterusnya. Dan terkadang Youra heran, apa mantra yang Yiruma pakai sehingga ia tidak bosan meski harus mendengar musik itu ratusan kali dalam kurun waktu sehari? (oke, itu berlebihan, tapi Youra memang tidak pernah bosan untuk mendengar).

Sedetik ia memikirkan pianis asal Korea itu, sedetik kemudian sosok yang dulunya sering ia berisiki dengan panggilan Kang Dae-ssi, Kang Dae-ssi, kini singgah di pikiran. Rambutnya yang lurus, mata hitam yang selalu menghadirkan sorot penuh kasih nan lembut, sosok jangkungnya yang membuat Youra sering kali merasa mungil. Kang Dae, kekasihnya yang telah pergi mendahuluinya dua tahun silam.

Selaju musik itu berputar, mendung sudah melingkupi mata Youra. Mendung yang menghadirkan petir dan gemuruh―amarah dan kekecewaan. Yang akan disusul oleh hujan deras berupa linangan air mata dan isakan tanpa henti. Amukan dan racauan sudah lama tertinggal semenjak mulutnya kesulitan mengeluarkan kata-kata. Tapi, air mata senantiasa hadir di kala pikirannya terpaku pada bayang-bayang Kang Dae.

Youra benci berlarut-larut dalam kesedihan dan isak tangis. Tapi, keduanya laksana sahabat yang tetap setia menemani meski Youra berulang kali mengusir.

Dan ia tidak akan bisa berbohong bahwa ia telah melupakan Kang Dae, jika rasa cintanya telah pupus di tengah jalan seperti halnya hubungan mereka yang kandas di tengah jalan akibat permainan kehidupan. Karena dia adalah Kang Dae; sahabatnya, seniornya, tetangganya, dan kekasihnya. Dan betapa besar pengorbanan yang Kang Dae lakukan demi membuat Youra tersenyum meski dirinya ditikam oleh siksaan emosional akibat hubungan buruk kedua orang tua. Youra tak akan pernah lupa. Ia tak akan bisa lupa.

Bahwa Kang Dae―pianis berbakat di sekolahnya yang banyak memenangkan kompetensi hingga ke tingkat nasional, lelaki rupawan yang banyak memikat kaum hawa dengan senyum ramahnya, yang mengenalkan Youra akan keindahan dunia musik―adalah orang yang paling dicintainya. Meski maut memisahkan mereka, dan meski Kang Dae berjuta kali memamerkan senyum muslihat dan berkata baik-baik saja.

“K-Kang D-Dae-ssi ….”

Meski sejatinya, ada ribuan luka yang tertanam di hati Kang Dae-ssi-nya.

.

.

“Mau berjanji untukku?”

“Berjanji apa?”

Mengangkat kelingking. “Untuk tetap bahagia meski aku pergi. Dan masih mau mendengarkan musik-musik yang pernah aku tunjukkan dulu. Janji?”

“… ya, aku berjanji.”

.

.

Youra ingat betul kapan jari kelingkingnya bertaut dengan kelingking Kang Dae, merapalkan janji bahwa ia akan bahagia meski Kang Dae pergi. Tetap mau mendengarkan musik piano dan berkutat dengan hal yang disukainya juga Kang Dae sendiri tanpa membenci barang sedikit pun. Dan untuk tetap bahagia sepeninggal Kang Dae.

Kang Dae mengangkat jari kelingking, dan memberi isyarat lewat senyum supaya Youra mengaitkan jemari kelingkingnya dengan milik Kang Dae. Dan dilanjut dengan Kang Dae yang bercerita tentang asal mula pinky promise atau janji kelingking yang merupakan legenda asal Jepang. Yang disebut oleh warga negeri Sakura dengan sebutan Yubikiri. Dan Kang Dae juga mengatakan bahwa ia mendengar kisah ini dari saudara kembarnya, Jung Hee, selaku satu-satunya orang di keluarganya yang suka dengan legenda-legenda kuno.

Di musim gugur, di mana dunia sekitar penuh daun-daun jingga yang berceceran dan udara dingin yang membawa berita bahwa ia akan menjadi awal mula musim dingin nan mencekam. Di musim gugur itu, Kang Dae bermain piano untuknya. Hanya untuknya, Shin Youra, sekali lagi ia tegaskan. Bukan untuk juri atau Papa-Mama yang duduk bersandingan di bangku penonton, bukan pula untuk teman satu sekolah yang menantikan permainan sempurna. Melainkan untuk Youra, kekasihnya.

Fur Elise yang disusul oleh Marriage d’Amour, lagu yang masuk dalam list musik favorit Youra.

Krieeett. Jika ditulis, mungkin begitulah bunyi derit pintu kamar itu. Dan, deg, ketika matanya menangkap siapa si pelaku pembukaan pintu. Hatinya berdenyut nyeri melihat wajah orang itu, yang dalam sedetik langsung buram akibat genangan air di mata Youra.

Langkahnya seakan disengaja lambat, lengkungan sabit di bibirnya seperti sengaja diprogram untuk dipoles dalam jangka waktu lama. Dan dia membuka dua tangan, menarik lembut Youra ke dalam pelukan hangat. Kalimat-kalimat permohonan maaf terdengar sayup-sayup, seperti suara imajinasi yang biasa berkelebat dalam kepala Youra. Tapi Youra sadar ini bukan mimpi. Dan orang ini, Kang Dae, yang entah bagaimana bisa hadir di rumah sakit ini. Tanpa wujud fisik hancur lebur sebagaimana rupanya selepas kecelakaan yang merenggut nyawanya.

Youra membiarkan stok air matanya terkuras dan membasahi bahu Kang Dae.

▪ ▪ ▪

“Kau masih suka melihat senja, rupanya.”

Dan di antara sekian dokter yang menangani, Kakak, Ayah, dan Ibu, hanya Kang Dae satu-satunya yang mau menyanggupi keinginan Youra untuk pulang ke rumah dan menikmati senja dengan duduk di hadapan grand piano, di satu ruangan luas dengan jendela-jendal besar yang berjajar dan menampilkan langsung pemandangan di mana semburat senja kemerahan mulai tampak di ufuk barat.

Kang Dae memberinya kecupan singkat si puncak kepala.

Marriage d’Amour?”

Youra memberi anggukan persetujuan. Meski ia cinta pada When The Love Falls milik Yiruma, yang satu ini juga kesukaannya. Dada dan kepala Youra mendadak berdenyut nyeri. Ada yang mulai tidak beres, Youra tahu. Tapi tak apa. Setidaknya, ia ingin kembali pada Tuhan dengan kebahagiaan dari lubuk hati terdalam.

Di atas kursi roda, di samping Kang Dae yang duduk di kursi yang dulu selalu Youra duduki, Youra terhanyut oleh kehangatan melodi itu. Perasaannya berangsur tenang. Ada kebahagiaan yang membuncah meski kini kinerja jantungnya seakan memburuk seiring berjalannya waktu.

Ssarangheyo[2],” ucap Youra dengan lirih. Dengan air mata yang sudah merembes di kedua pipi.

Tuhan, tolong, sebentar lagi.

Napasnya mulai tak beraturan. Kacau, sekacau suara-suara panggilan Kang Dae yang berbaur dengan Marriage d’Amour itu. Youra mengulas senyum terbaiknya. Atau, senyum terakhirnya untuk Kang Dae.

Kang Dae merengkuh tubuhnya. Memberikan kecupan di kening berkaki-kali. Youra tahu sensasi hangat ini lain. Youra merasa rengkuhan lembut ini seakan mengatakan, ini bukan Kang Dae kekasihmu. Dan Youra masih menolak untuk percaya.

Youra menahan jerit tatkala sakit tak tertahan menerjang tubuhnya. Suara riuh dari Ibu, Ayah, pelayan, dan sosok Kang Dae yang mulai diragukannya bercampur menjadi satu dan terdengar mulai menjauh dari pendengaran Youra. Matanya mulai terpejam, tak lagi kuat untuk sekadar terbuka dan menikmati rona kemerahan dari luar jendela.  Youra merasa sudah saatnya ia berhenti berjuang, sudah saatnya ia merelakan semuanya.

Dan Youra melihat tanda lahir itu di leher sosok yang ia percayai sebagai Kang Dae.

“J-Jung Hee ….”

Tidak sepantasnya Youra terlupa akan kemiripan Kang Dae dan saudara kembarnya.

[1] Eomma (Bahasa Korea) : Ibu

[2] Sarangheyo (Bahasa Korea) : Aku mencintaimu

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s