[#EXOFFIMVT2019] I Wish be Human – Bunny

I Wish be Human

(Bunny)

Malam dimusim dingin ini sama seperti tahun lalu, aku yang selalu menghabiskan malam demi malam dengan setumpuk kertas dan juga laptop dihadapanku mana bisa untuk menikmati salju pertama dengan kekasih? Terkadang aku tertawa sendiri jika membayangkan hal itu, karena aku tau itu hanya ekspetasi yang tidak mungkin terwujud.

Salju pertama ditahun ini telah turun. Pandangan mataku terpikat pada apa yang ada diluar jendela, terlihat banyaknya pasangan kekasih yang berjalan beriringan sambil berpegangan tangan menikmati jalanan yang dihujani butiran putih dingin itu. Sempat terbesit didalam pikiranku untuk mempunyai seorang kekasih. Tapi apa mungkin kekasihku kelak akan menerima kenyataan bahwa aku adalah Vampire ? Yah, aku tau masyarakat disini masih belum bisa menerima jika hidup berdampingan dengan bangsa kami.

Sebenarnya aku tak tau apa masalah dari penolakan tersebut, bahkan bangsa kami saja sudah tidak lagi mengkonsumsi darah manusia. Kami harus menanggung konsekuensinya sendiri, daya tahan tubuh kami berkurang diwaktu siang hari karena tidak meminum cairan berwarna merah itu. Yah tapi sudahlah, kami bangsa Vampire harus menutup identitas kami sepenuhnya.

Tokk.. tokk…

ketukan pintu yang tiba-tiba itu membuatku bangun dari pikiranku, “Iya, siapa?” Tanyaku pada seseorang yang mengetuk diluar pintu. “Ini aku Ahn Hyun Joong.” … “Oh kau Tuan Ahn, masuklah.” Jawabku mengizinkan masuk pria itu.

“Apa kau lelah Ji Eun? Ini aku belikan kopi hangat agar kau semangat lemburnya.” Pria itu tersenyum sambil memberikan kopi hangat padaku. “Terima kasih, tapi kau tidak perlu melakukan ini Tuan Ahn.” … Hyun Joong tersenyum kembali sambil menggaruk leher bagian belakangnya yang tidak gatal, “Hehehe.. aku hanya mengkhawatirkanmu, akhir-akhir ini kau bahkan tidak sempat untuk pulang. Selalu saja menginap dikantor.”

Kami berdua mengobrol lumayan lama dengan ditemani kopi yang katanya bisa membuatku tidak mengantuk. Padahal tidak minum kopi saja aku tidak akan mengantuk. “Ji Eun, apa kau tau bahwa CEO kita ganti?” kata Hyun Joong yang sukses membuat mataku melotot kaget. “Aku tidak tau, apakah itu anak dari Tuan Kim?” tanyaku untuk memastikan.

“Ya kudengar anaknya Tuan Kim, namanya Kim Jae Min.” jawab Ahn Hyun Joong. “Besok kau lihat saja, tadi wanita yang ada di divisiku pada bilang kalau dia tampan.” Sambungnya.

“Akan kulihat.” Balasku diakhiri senyuman.

Paginya, aku baru tau jika pergantian CEO membuat karyawan wanita di kantor datang lebih cepat dari biasanya. “Kau tau, aku tak sabar melihat CEO baru kita.” Ucap salah satu karyawan wanita yang tak sengaja kudengar. Astaga, apa hanya aku yang tidak peduli dengan CEO baru ini. Tak lama kemudian beberapa orang datang dari pintu masuk kantor dengan setelan jas berwarna hitam. Oh ayolah, jangan bilang mereka itu pengawal CEO baru ini. Dia hanya CEO bukan Presiden Korea Selatan.

“Ya kalian semua cepat berkumpul disini!” perintah Sekretaris Gu selaku tangan kanan Tuan Kim terdahulu. Kami pun langsung berkumpul, aku merasa kalo Sekretaris Gu akan memperkenalkan CEO baru ini dan tebakanku benar.

“Perkenalkan beliau adalah Kim Jae Min, putra sulung dari Tuan Kim. Beliau disini menggantikan Tuan Kim sebagai CEO.” Kata Sekretaris Gu. Mataku melirik kearah CEO baru itu, melihatnya keseluruhan, ku akui dia memang tampan.

“Sekarang saya adalah CEO kalian, dan saya akan menerapkan peraturan baru. Dari pergantian Sekretaris saya maupun kepala setiap divisi.” Perkataan Kim Jae Min membuat kita semua kaget sekaligus panik. Pergantian katanya? Apa dia tidak tau pengorbananku untuk menjadi sekretaris divisi perencanaan.

Kim Jae Min pun mulai berjalan sambil melihat kertas yang dipegangnya sedari tadi. “Kau, Jo Hye Eun sebagai kepala divisi editor. Kang Jun Ho, kau turun jabatan…” jujur jantungku berdetak lebih cepat, aku terus berdoa sepanjang Jae Min membacakan apa yang ada dikertas itu.

“Dan Song Ji Eun, kau naik jabatan sebagai Sekretaris CEO.” Ucap Jae Min yang membuatku kaget. Tidak, bukan hanya aku tapi semua yang ada diruangan. “Tu…Tuan Kim anda serius?” Tanyaku dengan gagap. “Kenapa? Kau tak mau?”

“Tidak Tuan Kim, saya bersedia.” Ucapku spontan, siapa sangka aku bisa naik jabatan menjadi Sekretaris CEO.

***

Hari ini adalah hari pertamaku menjadi Sekretaris Kim Jae Min. aku berharap dia tidak akan menyulitkanku nantinya. Tapi sepertinya itu berbalik dari harapanku,

“Sekretaris Song.” panggilnya dengan lantang, “Iya Tuan Kim.” Pria itu melihatku secara keseluruhan entah apa yang dipikirkannya, apa aku salah memakai baju?

“Bersiaplah kita akan rapat di Perusahaan Xing.”

“Baik Tuan.” Aku pun langsung bergegas mempersiapkan semuanya. Tidak butuh waktu yang lama, kami sampai di Perusahaan Xing. Rapat berjalan lancar, dan sukses membuatku lelah. Entahlah mungkin aku sudah lama tidak mengkonsumsi darah hewan. Bangsa kami memang tidak lagi meminum darah manusia, tapi kami beralih dengan darah hewan. Kami hanya mengkonsumsi seminggu sekali, dan aku sudah dua minggu tidak mengkonsumsinya.

“Ya, apa kau baik-baik saja Sekretaris Song?”

“Aku bu…tuh minum.” Kataku lemas.

“Kita ke restoranku dulu. Aku sampai lupa jika dia belum makan daritadi.”

Entahlah saat itu aku benar-benar lemah, yang kubutuhkan hanya minum. “Sekretaris Song minumlah ini.” Ucapnya, aku mencoba meminum air mineral tersebut tapi itu tidak tertelan. “Maaf Tuan Kim aku harus ke kamar mandi sebentar.” Ucapku langsung berlari ke kamar mandi. Aku benar-benar membutuhkan darah, siapapun tolong aku.

Brukkk..

“Maaf, aku tidak sengaja.” Kataku kepada orang yang tidak sengaja kutabrak.

“Kau butuh darah? Ini ambillah.” Pria itu memberikanku sebuah kaleng yang bertulisan Jus Stroberi. Tanpa ragu-ragu aku mengambilnya dan meminum minuman itu. tenagaku kembali normal. Baru kali ini aku merasakan darah hewan yang begitu nikmat, “Terima kasih.” Kataku padanya.

“Lain kali siapkan satu di tas.” Balasnya diakhiri Smirk lalu meninggalkanku sendiri.

Aku kembali ke meja Kim Jae Min, apa aku melakukan kesalahan? Kenapa ekpresi diwajahnya berubah. “Tuan Kim, maaf membuatmu menunggu lama.” Ujarku dengan senyuman semanis mungkin. Jae Min menghela napasnya dan berkata, “Kau tau, aku menunggumu disini. Aku takut kau kenapa-kenapa dan ternyata kau malah asik mengobrol dengan pria lain ckck.

Hah, apakah dia cemburu atau apa?

“Sudahlah, akan kuantar kau pulang.” Ucapnya dengan kesal. Diperjalanan sangat sunyi tidak ada yang mau memulai pembicaraan, yah malam itu hanya terdengar suara mesin kendaraan yang berlalu lintas. Ketika sampai digerbang rumahku, Jae Min ikut keluar dari mobil bersamaku. Aku tidak berpikir aneh-aneh, mungkin dia ingin memastikan aku benar masuk kedalam rumah. “Tuan Kim, terima kasih atas tumpangannya.” Ucapku sambil membungkuk kepadanya. Jae Min tidak bergeming dia memajukan langkahnya mendekatiku, “Jangan ulangi lagi kesalahan tadi Ji Eun.” Ucapnya berbisik ditelingaku.

Aku mencoba memproses setiap kata yang Ia ucapkan, kesalahan seperti apa yang Jae Min maksud? Apakah karena pria tadi. Aku mencoba tenang, tidak gugup untuk membalas perkataannya. “Baik Tuan Kim.” Aku langsung memutar badan membelakanginya, masuk rumah dengan langkah yang cukup cepat. Jujur saja, melihatnya dengan dekat seperti tadi membuat jantung ini berdetak lebih cepat.

“Aku pulang.” Kataku memasuki rumah, terdapat pertanyaan yang ada dipikiranku setelah melihat beberapa pasang sepatu didepan pintu rumah. Aku mengambil kesimpulan mungkin saja teman Ayah yang sedang berkunjung. Tapi itu salah, ternyata sepatu-sepatu itu bukan milik teman Ayahku tapi calon besan Ayahku.

“Ah, Ji Eun-ah … kau sudah pulang. Cepatlah kesini.” Sambut Ibuku dengan senyuman yang sangat lebar.

“Perkenalkan ini putri kami satu-satunya yang kami ceritakan tadi, Song Ji Eun.” Ujar Ibuku sambil mencubit pelan lenganku agar aku segera memperkenalkan diri kepada sepasang suami-istri paruh baya didepanku.

Aku tersenyum lalu membungkukkan badan kepada mereka. “Wah, dia sangat cantik. Beruntung anak kami dijodohkan oleh Raja Vampire dengan gadis secantik Ji Eun.” Ucap wanita paruh baya itu.

Aku tersenyum, aku tidak mengerti apa yang mereka maksud. Dijodohkan? Apa aku akan dijodohkan dengan bangsa Vampire? Tidak, aku tidak mau anakku akan seperti diriku nantinya. “Maaf aku tidak mengeti. Bisa jelaskan kepadaku?” pintaku kepada mereka.

Semua yang ada diruangan saling bertatapan, mungkin mereka bingung untuk menjelaskan dari mana, sampai pada seorang pria datang dari arah dapur bersama dengan adikku. “Wah, apakah aku melupakan sesi perkenalan?” ucap pria itu. Entah takdir atau bukan, Pria itu ternyata yang menyelamatkanku tadi waktu aku membutuhkan darah.

“Tunggu, sepertinya aku mengenalmu…” ucapnya sambil mengingat wajahku, “Aaah.. kau gadis yang kekurangan darah itu bukan?” sambungnya. Pria itu mulai melangkahkan kakinya mendekatiku, aku mulai memundurkan langkahku bersamaan dengannya yang memajukan langkahnya. “Sepertinya tidak ada alasan bagiku untuk menolak perjodohan ini. Benarkan calon istriku?” ucapnya tepat ditelingaku, sampai-sampai hembusan napasnya saja aku merasakannya.

Aku mencoba mengatur napasku, menstabilkan emosi dalam diriku untuk tidak menendang pria kurang ajar sepertinya. “Maaf, aku izin keluar sebentar.” Ujarku lalu keluar dari rumah.

Duduk diayunan yang ada ditaman menikmati udara malam yang dingin itu bisa membantuku melupakan sedikit kejadian tadi. “Apa hidupku akan seperti ini? Apa tidak ada kesempatan bagiku untuk menikah dengan seorang manusia saja?” gumamku.

“Itu tidak akan mungkin.” Cela pria itu , pria yang tidak ingin kutemui. “Kenapa kau menyusulku?” tanyaku dengan tegas. Pria itu terkekeh, “Siapa yang menyusulmu, aku hanya mencari angin juga sama sepertimu.”

Pria itu menghampiriku, duduk diayunan yang berada tepat disebelahku, “Ji Eun, maaf jika aku mendengar gumamanmu tadi. Tapi, aku akan memberitahumu sebuah rahasia. Bangsa vampire tidak bisa menikah dengan seorang manusia. Yah.. konsekuensinya salah satu dari vampire dan manusia itu akan mati.” Jelasnya diakhiri menatap mataku dengan dalam. Aku tau penjelasannya kali ini benar adanya dan itu bukan karangan.

“Menikahlah denganku Ji Eun aku akan membahagiakanmu.” Ucapnya yang membuatku tertawa. “Apa kau gila? Pernikahan bukanlah main-main, aku saja tidak tau siapa namamu. Cih.

“Apa!! Kau serius tidak tau siapa aku?” Tanyanya dengan kaget, aku menggelengkan kepala dengan santainya. “Apa kau tidak punya tv? Tidak pernah membaca majalah atau apa hah? Wah, kau hidup dijaman purba ya?”

Cih, Ya! Apa pentingnya itu, memangnya kau actor atau idol hah?”

Ya! Aku adalah Choi Min Hoo. Choi Min Hoo… ingat itu, kalau kau tidak tau sana cari di google saja namaku.” Katanya dengan kesal. Aku terdiam mendengar perkataannya, ya walau aku memang tidak tau, tapi aku pernah mendengar namanya dikantor dari perbincangan para karyawan wanita.

“Sudahlah, intinya kau calon istiriku. Kau harus menjaga jarak dengan CEO mu itu. atau aku akan menghisap darahnya sampai habis.” Ancamnya lalu meninggalakanku.

***

Keesokannya, aku masih saja mengingat ancaman dari Min Hoo, apa yang dikatakannya benar? Bagaimana dia tau Jae Min? ya pertanyaan itulah yang selalu muncul dipikiranku.

“Ji Eun, Song Ji Eun.” Panggil Jae Min,

“Oh, ya Tuan Kim.” Jawabku cepat.

“Hmm… mau menemaniku makan malam?” ajaknya gugup,

“Ah, ya tentu Tuan Kim.”

Diperjalanan seperti biasa sepi tidak ada yang mau memulai percakapan, tapi aku merasa Kim Jae Min hari ini sangat berbeda, sangat terlihat dia begitu gugup seperti ingin mengatakan sesuatu.

Sampai pada tujuan, aku takjub ternyata Jae Min mengajakku direstoran yang sangat ku jumpai, Jihwaja Restaurant.

“Apa kau hanya berdiam didepan restoran Ji Eun?” kata Jae Min yang sudah mulai memasuki restoran. Astaga, aku malu sekali pasti aku terlihat seperti orang yang tidak pernah pergi kerestoran.

“Kenapa restoran ini sepi? Biasanya sangat ramai.” Gemingku yang tanpa disadari terdengar oleh Jae Min.

“Aku membookingnya malam ini.”

“Hah, Jinjja?” (*sungguh)

“Kenapa kau terkejut? Aku memang tidak bisa jika makan direstoran harus banyak orang, lagi pula uangku terlalu banyak jadi tidak ada salahnya untuk membuangnya sedikit.” Ucapnya dengan sombong.

Duduk dan makan bersamanya membuatku menjadi salah tingkah, astaga apa aku benar jatuh cinta dengannya? Dipertengahan saat kita menikmati hidangan, tiba-tiba datang sekelompok orang memainkan alat musik yang romantis.

Kulihat Jae Min berhenti sejenak memakan makanannya, “Ji Eun, mungkin ini terlalu cepat tapi aku memang selalu ingin mengatakannya saat pertama bertemu denganmu, sampai menjadikanmu sebagai sekretarisku . itu karena aku menyukaimu. Song Ji Eun maukah kau menjadi pendampingku?” ucapnya sambil memberikan cincin berlian yang sangat cantik kepadaku.

Aku terdiam, jujur aku mempunyai rasa padanya dan pada akhirnya aku menerima ajakannya untuk menjadi pendampingnya. Malam itu adalah malam yang kuinginkan, bahkan aku berharap malam itu tidak berakhir karena malam itu seakan menghancurkan batas bahwa kita berbeda.

Aku tau ini hanya kebahagian sesaat karena memang kita berdua tidak bisa bersama. Tapi aku sangat berterima kasih, setidaknya aku bisa merasakan cinta seperti manusia. Jika pun yang dikatakan Choi Minhoo itu terjadi salah satu diantara vampire dan manusia akan mati. Maka aku rela jika itu aku, dan berharap lahir kembali menjadi manusia bukan vampire.

___

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s