[#EXOFFIMVT2019] WANT TO BE – DREAM

Want To Be

 

Seorang wanita sedang mengayunkan badannya di hadapan cermin yang besar. Bajunya basah, menandakan dia sudah lama melakukan aktivitas yang sedang dia lakukan. Handponenya berdering, tanda bahwa latihannya akan segera berakhir. Dengan langkah yang berat, ia menuju ke arah handphonenya dan menggeser tombol hijau.

“Mengapa kau selalu lambat, menjawab telephone ku, Lee Yu Mi” Lee Yu Mi menjauhkan hadphonenya dari telinga. Lawan bicaranya bicara terlalu keras di kupingnya.

“Maaf, aku sedang sibuk”

“Sibuk menari, maksudmu. Sudah ku bilang”

“Ya aku tahu. Tapi aku sedang tidak menari, sayangku” ujar Yu Mi memotong pembicaraan lawan bicaranya yang menyandang sebagai kekasihnya.

“Kau tidak bohongkan? Aku dapat mendengar suaramu yang seperti sedang kelelahan”

“Tidak sayang”

“Kita akan bertemu di makan siang, sampai jumpa dan jangan terlambat!!”

“Siap pak bos” terdengar cengiran dari lawan bicara Yu Mi. Yu Mi bernafas lega mendengar kekehan kecil dari kekasihnya.

Yu Mi POV

Aku pun bersiap cepat, karna 10 menit adalah waktu untuk makan siang. Aku tidak ingin membuat Ye Jun mengomeliku dan menuduhku yang tidak tidak. Sangking tergesanya diriku, tidak melihat kulit pisang yang aku makan saat sarapan. Aku tergelincir. Aku meringis dan merutuki kebodohanku karna tidak bersih.

Dengan pinganggku yang masih sangat sakit, aku berjalan. Aku menunggu bis. Ye Jun menghubungiku untuk yang ke lima kalinya. Aku mengangkat panggilannya, untuk mengurangi amarahnya.

“Dimana sekarang dirimu” Ye Jun bernada dingin membuktikan bahwa dia sangat marah dan lelah menunggu.

“Aku sudah di bis. Jalanannya sangat macet. Kamu tunggu aku” bohong ku

“Aku akan menunggumu 5 menit lagi, kalau kau tidak datang aku akan pergi.”

“Ya baiklah, 10 menit” kataku yang menawar tentang waktu

Aku bersorak dalam hati, saat bis yang sedang aku tunggu tepat berada di hadapanku. Tidak butuh waktu lama untukku memikir. Aku langsung menaiki tangga dan menempelkan kartuku. Untung saja, jarak antara restaurant tempat kami bertemu berdekatan dengan ruang latihanku.

Aku langsung berlari memasuki restaurant itu, dan celinguk mencari kekasihku. Aku tersenyum saat aku melihat punggung lelaki yang sangat aku kenali. Punggung yang dibalut dengan kemeja coklatnya. Dengan langkah yang pelan aku menuju kursi yang ditempatinya, dan menutup matanya. Lelaki yang kututupi matanya hanya memegang tanganku. Tanpa ku sangka ia menarik lenganku, lalu memelukku.

“Hanya sebentar saja” Aku hanya diam saja dan menepuk punggungnya untuk menyalurkan semangat yang berada dalam hatiku.

“Kau sudah melakukan dengan baik, sayang”

“Aku tahu” ia melepaskan pelukannya dan membawa ku ke kursi yang ada di hadapannya .

“Apakah kau latihan lagi? Kau sangat berkeringat”

“Itu karna aku tadi, berlari dari sini” mendengar alasanku, ia hanya tersenyum miring.

“Kau pikir, aku hanya mengenalmu sebulan. Kau pikir, aku tidak tahu kau sedang berbohong. Berhentilah berbohong mulai dari sekarang sebelum kesabaranku habis”

“Bisakah kau hanya mengizinkanku untuk aku latihan menari saja” jawabannya hanyalah gelengan

“Setelah itu, kau akan menjadi idol. Kau tau aku sangat membencinya”

“Tapi kan” saat aku ingin mengeluarkan coletahanku, ia sudah memotong perkataanku.

“Stop, aku disini hanya untuk makan bukan untuk berdebat denganmu”

“Dan satu lagi, segeralah pergi dari ruang latihanmu, sebelum aku hancurkan singgasanamu disana” aku membola saat mendengarkan penuturannya. Seperti itulah,sisi yang membuatku benci dengan dirinya yaitu bertindak semaunya tanpa memikirkan perasaanku.

“Apakah kau mencintaiku”

“Diamlah, sebelum aku mengacaukan restaurant ini” katanya pelan, sambil memotong steak yang sedang ia potong. Aku hanya menghela nafas kasar dan meminumnya. Menyadari aku tidak makan, ia menaruh garpu dan pisau.

“Berhentilah menjadi anak kecil. Kau tahu, kalau aku marah akan menjadi seperti apa. Apakah kau ingin aku menjadi seperti itu?” aku hanyalah mengerucutkan bibirku dan menyesap minum yang berada di dekatku.

Keesokan harinya

Kwang Ye Jun ada urusan di luar negri. Aku bersorak gembira, itu berati aku harus menikmati kebebasanku. Seperti sekarang, aku sedang menunggu teman cerewetku. Dengan tampilan yang sederhana, dan kunciran kuda aku menunggu dirinya. Aku sudah terbiasa menunggu dia yang selalu terlambat.

Dengan bosannya aku menunggu sambil memainkan handphone. Sesekali aku menyesap capucinoku yang tinggal sedikit. Lima belas menit kemudian, sosok yang aku tunggu masuk dari pintu utama. Aku menghela nafas kasar. Aku harus memdinginkan kepalaku.

“Apakah kau menungguku lama” Katanya basa basi sambil menyengir, menampilkan gigi kelincinya

“Aku baru tiba lima menit “ Kataku yang asal bicara. Sedangkan lawan bicaraku ia terbahak bahak

“Mengapa kau mengajak aku untuk bertemu” Kata yang menjadi tujuanku ada disini. Dia hanya menyengir dan melihat sekitar

Ia majukan kepalanya menuju ke arahku

“Apakah kau masih impianmu terwujud” katanya serius

“Apakah ada audisi” Ia mengangguk pelan sambil mengambil kertas dari dalam tasnya.

“Itu adalah audisi dari agensi yang sangat terkenal” aku langsung mengambil brosur itu dan membacanya. Aku sangat gembira mendapatkan kabar ini.

“Kau akan mengikuti audisi ini” katanya yang ku balas dengan anggukan yang antusias

“Apakah tidak apa apa dengan Ye Jun” katanya yang mengajukan kembali pertanyaan kepadaku

“Itu nanti saja dipikirkan”

“Apakah kau gila? Jika dia tahu, dia akan mengurungmu selama sebulan. Apakah kau tidak trauma dengan kejadian itu”

“Kau tidak pernah merasakan apa yang aku rasakan. Sudah lebih dari lima tahun yang lalu, aku sangat menyukai menari dan menyanyi. Impianku adalah menjadi idol. Kau menyuruhku berhenti?”

“Aku tidak pernah menyuruhmu berhenti, hanya saja kekasihmu sangat menentangmu. Kau tidak bisa serakah Yu Na. Kau harus memilih” Aku  terdiam, dia benar. Aku tidak bisa memilih keduanya.

Aku menghembuskan nafas kasar dan menghadap jendela. Ini adalah musim semi. Musim yang paling ku tunggu. Musim yang akan menyambutku menuju impianku.

“Selama kaki ini masih berpijak, disitulah aku tidak akan menyerah pada impianku. Aku yakin, suatu hari Ye Jun akan merestuiku dan menungguku. Sampai hari itu terjadi, aku akan menunggu”

“Semuanya ada di tanganmu. Aku hanya menasihatimu. Agar kau tidak terlalu berharap pada apapun.”

Selama hari itu, yang aku lakukan hanyalah latihan dan merenung. Menatap pada cermin, mengasihani diriku sendiri. Ye Jun sudah sepuluh hari semenjak kepergian, ia tidak pulang bahkan tidak pernah menghubungiku.

Hari ini, aku menuju ke rumah duka untuk bersapa dengan eonni. Dengan membeli bunga lily warna putih kesukaan kakak, aku menyapanya.

“Hai eonni, kau pasti bahagia disana”

“Seperti yang eonni tau, aku dan oppa baik baik saja. Ia sangat mencintaiku, seperti ia mencintaimu dulu.” Kataku yang mulai berkaca kaca memandangi figura didalamnya ada aku dan eonni yang diambil saat eonni kelas empat SD.

“Dia sangat menyayangiku, sampai ia sangat menjagaku. Karna ia sangat takut bahwa akku menyusulmu eonni. Aku yakin, semua ini adalah kecelakaan.”

“Walau aku harus tiada, setidaknya aku sudah berjuang” Aku mengikuti kata kata yang dulu dipesankan eonni kepadaku.

“Aku merindukanmu eonni. Kalau saja kau ada disini, bisakah kau bicara pada oppa bahwa aku harus mewujudkan impianku. Tapi kalau kau masih disini, mungkin aku sedang tidak bersamanya eonni” kataku yang menghapus air mataku.

“Eonni aku harus pulang sekarang. Terima kasih sudah mendengarkan keluh kesahku. Bagaimanapun, kau selalu ada di hatiku. Aku selalu mendoakanmu. Kau akan menjadi bintang di hatiku, eonni. Eonni fighting” Seharusnya akulah yang membutuhkan semangat itu.

“Kau ada di mana?” Pesan dari orang yang membuat kepalaku pecah. Aku menjawab pesannya ‘Aku ke rumah eonni, oppa’

Aku menuruni tangga coklat, yang berada di depan rumah pemakaman. Saat aku ingin menunggu bis, mobil hitam menghampiriku. Tebakan kalian benar, itu Ye Jun. Dengan tanpa penolakan, aku masuk ke dalam mobil mewah itu. Suasana di dalam mobil seperti biasanya, hening dan sunyi. Aku keluar dari mobil, saat mobil sudah berhenti di depan apartementku.

“Gomawo oppa”

Author POV

Saat matahari enggan menampakkan diri, Yu Na sudah pergi dari rumahnya. Dengan dress warna putih dan sepatu converse warna putih menandakan bahwa ia akan menghadiri acara formal. Yu Na memberhentikan taxi, dan menaikinya lalu menuju ke tempat tujuannya.

“Tenang Yu Na, tampilkan yang selama ini kau persiapkan” ia berbicara kepada dirinya sendiri.

Ia memperhatikan sekitar, betapa hebatnya orang lain yang akan menjadi rivalnya. Yu Na menghembuskan nafasnya dan mengabaikan panggilan dari handphonenya yang selalu berdering. Saat nomor panggilan menujukkan dirinya, tanpa lama lama ia berdiri dan masuk ke ruangan horor itu.

Saat ia berdiri bersama dengan sepuluh peserta yang lain. Yu Na terkejut, saat seorang yang sangat ia kenali duduk di bangku juri. Ia menggenggam tangannya dengan erat. Saat tiba namanya di panggil, tepat urutan ke enam dari sepuluh peserta ada di dalamnya. Ia langsung menari, sedangkan Ye Jun yang berada di hadapannya hanya memandang dirinya tanpa tahu apa yang di pikirkannya.

“Ia tidak lolos, keluarlah” Ujar Ye Jun dingin, sedangkan juri yang berada di sampingnya terkejut dengan penuturan Ye Jun. Seorang Yu Na bukanlah orang yang biasa, ia adalah orang yang luar biasa. Lantas mengapa seorang Ye Jun yang menjabat sebagai CEO agensi menolak.

“Berikan saya kesempatan” Mohon Yu Na memelas. Ye Jun hanya membuang muka dan mengusir Yu Na dari sana. Yu Na kesal. Ia menunggu Ye Jun, agar berbicara kepada dirinya.

“Ye Jun ah, kita perlu berbicara”

“Apa, aku sedang sibuk”

“Aku ingin menjadi idola, mengapa kamu selalu melarangku?”

“Karna aku tidak ingin, kamu seperti eonnimu. Cukup eonnimu saja”

“Bagaimanapun eonni tidak akan menyesal, dengan keputusan yang pernah dia ambil” kata Yu Na, yang membuat Ye Jun menatap tajam dirinya

“Bagaimana kau tahu, bahwa dia tidak menyesal”

“Alasan aku disini adalah dia oppa. Eonni pernah berpesan sebelum dia meninggalkanku. Walau aku harus kehilangan kaki dan nyawaku, aku akan tetap menjadi seorang idol. Eonni gagal dan eonnni ingin aku yang mewujudkan impiannya”

“Kalau begitu silahkan dan jangan pernah kau berada di hadapanku” Ye Jun meninggalkan Yu Na yang menangis.

Yu Na POV

Sejak hari itu, aku tidak pernah bertemu dengan Ye Jun. Hari ini adalah audisi yang kedua. Aku membuang nafas berat. Meyakinkan diri ku sendiri, bahwa aku akan baik baik saja. Aku memasuki gedung yang sangat besar dan menyapa  orang orang yang berada di sana. Aku terkejut, saat ada seseorang yang menarik tanganku.

“Kau tidak akan mengubah pikiranmu?”

“Sampai kapanpun, aku tidak akan menyesali keputusan yang ku buat, Oppa. Izinkan aku untuk mengejar impianku. Aku bisa menjaga diriku sendiri, dan kamu menjagaku dari jauh. Maafkan aku, Oppa. Aku mencintaimu” Aku melepaskan cekalannya, dan pergi menuju ruang tunggu.

“Apa yang kau takutkan, itulah sumber kekuatanmu”

“Eonni, maafkan aku yang harus membantah Oppa”

Hari ini adalah 7 tahun hari debutku. Aku membawa bunga kesukaan eonni.

“Eonni, hari ini adalah ulang tahun debutku. Bahkan penggemarku bertambah banyak. Kau tahu, CEO berkata, bahwa kami boleh berpacaran. Aku merindukannya eonni”

Aku keluar dari pintu pemakaman, dan melihat seorang lelaki berparas tampan ada di depanku. Aku terkejut, dia hanya menanggapiku dengan tatapan dinginnya. Setelah berpisah 9 tahun yang lalu, kami benar benar tidak berkomunikasi.

“Aku ingin lewat, minggir” katanya dengan nada dingin

“Oppa, ada hal yang ingin aku bicarakan denganmu”

“Aku tidak mengenalmu, nona”

“Oppa”

“Mari kita berpacaran”

“Kau adalah seorang idol”

“Lalu apa salahnya, Oppa”

“Aku membenci seorang idol”

“Tidak, kau membenci dirimu sendiri bukan. Saat itu seharusnya kau dapat mencegahnya, namun kau mendukungnya sampai akhir. Itulah yang kau sesali. Oppa, terima kasih karna selama ini sudah menjaga eonni dan aku. Sejak kematian, appa kami tidak mempunyai siapa siapa. Terima kasih” aku menjijit kakiku untuk mencapai keningnya. Aku mencium lembut keningnya.

“Terima kasih dan maafkan aku” ia menarik tanganku dan mencium lembut bibirku.

“Aku merindukanmu, sampai aku akan gila”

“Aku lebih merindukanmu”

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s