[#EXOFFIMVT2019] TUAH DI PELUPUK MATA – JAHEBOHU

TUAH DI PELUPUK MATA

 

Bunyi telapak kaki yang bergesekan dengan lantai menyeruak ke dalam telingaku. Suara itu semakin membesar dan datang mendekat. Menghampiri diriku. Mobil-mobilan kayu yang dari tadi aku mainkan, kini hanya aku genggam di tanganku. Telingaku mempertajam fungsinya, pikiranku menerka-nerka siapa yang datang menuju diriku.

“Chisung, papamu sudah datang.”

 

Ah, bibi Kyoung ternyata. Bicara tentang bibi Kyoung, dia wanita yang sangat baik. Aku sudah menganggapnya seperti ibu dan bibi Kyoung juga menganggapku sebagai anak kandungnya. Selama papa bekerja di pasar menjadi kuli panggul, aku dititipkan pada bibi Kyoung. Ketika sore hari, papa akan menjemputku.

 

“Wah, akhirnya,” seruku.

 

Sebelum beranjak berdiri, aku meraba lantai di sekitarku. Mencari tongkat yang membantuku untuk berjalan. Setelah ketemu, barulah aku berdiri dan menuju pintu depan ditemani bibi Kyoung. Tangan kananku sibuk mendorong tongkat, sementara tangan kiriku digenggam oleh bibi Kyoung erat-erat. Sesampainya di pintu depan, bibi Kyoung melepas gandengan tangannya.

 

“Apakah hari ini Chisung nakal, Bi?”

 

Bibirku mengerucut mendengar pertanyaan papa. Baru saja aku hendak melontarkan protes, namun bibi Kyoung mendahuluiku.

 

“Tentu saja tidak. Chisung anak yang baik, Arkam. Sama sepertimu.” Ucapan bibi Kyoung membuatku senyum sumringah.

 

“Ha! Dengarkan itu papa!” sindirku.

 

Kudengar papa tertawa kecil. Ia segera menggendong tubuhku. Seperti biasa, ia menggendongku di punggung kokohnya, tempat dimana aku merasa sangat nyaman berada di sana.

 

“Baiklah, kami pulang dulu, Bi,” ucap papaku.

 

“Sampai jumpa, Bibi Kyoung!” sahutku sembari melambaikan tangan.

 

“Hati-hati!” teriak bibi Kyoung.

 

Tungkai kaki papa yang kekar mulai menapaki jalan beraspal pedesaan. Untuk saat ini suara motor-motor trail milik warga desa masih terdengar di telingaku. Masih banyak pula warga yang berlalu lalang. Sesekali mereka menyapa papa, lalu papa menyapa balik mereka.

 

Tiga puluh menit berlalu. Aku masih setia berada di punggung papa, begitupun papa yang masih sibuk meninggalkan jejak-jejak kakinya di jalanan yang sudah berlumpur nan becek. Suhu bertambah rendah seiring jalanan yang semakin menanjak. Namun rasa dingin tersebut tidak berarti apa-apa bagi kami. Kami sudah terbiasa. Tidak ada suara yang bisa kudengar selain suara jangkrik, daun yang jatuh ke tanah, atau suara ranting kayu yang patah akibat terinjak papa.

 

“Chisung, kau tidur?”

 

Suara papa membuyarkan fokus pendengaranku terhadap sekitar.

 

“Tidak, Pa. Kenapa?”

 

“Kita sudah sampai.”

 

Pintu yang terbuat dari kayu yang telah reyot akibat dimakan usia itupun terbuka. Dapat kuterka melalui suara dari pintu tersebut. Kayunya memuai karena suhu dingin, makanya ukurannya menjadi lebih besar dan bergesekan dengan lantai rumahku yang masih berupa semen.

 

“Chisung, papa ingin bertanya padamu,” kata papa sembari menurunkan tubuhku.

 

“Papa, Chisung ingin menjawab pertanyaan papa,” balasku dengan nada meledek.

 

“Jika Chisung diberi satu permintaan, apa yang Chisung ingin wujudkan?”

 

Bila diilustrasikan, gelembung-gelembung keinginan sedang muncul di atas kepalaku. Aku bimbang memilih yang mana sebagai jawaban yang tepat atas pertanyaan yang sulit ini.

 

“Apa, Chisung? Kenapa kau hanya terdiam?” tanya papaku.

 

“Chisung bingung.”

 

Chisung ingin mama kembali.

Chisung mau dapat melihat.

Chisung berharap bisa sekolah.

Chisung ingin memiliki orangtua yang lengkap.

 

Lengang sekejap. Perlahan-lahan keinginanku yang sekian banyak itu kusingkirkan, menyisakan satu keinginan yang pasti diimpikan oleh semua orang tunanetra. Agak ragu aku menjawab,

 

“Chisung ingin bisa melihat, Pa. Chisung ingin bisa melihat wajah papa, pahlawan sejati Chisung.”

 

Segera aku tenggelam di dekapan papa. Papa memelukku sangat erat sampai aku tidak bisa bernapas. Untungnya tidak lama setelahnya papa segera melepas dekapannya.

 

“Tenang saja, Chisung. Papa yakin kau pasti bisa melihat.” Papa mengelus kepalaku. “Sekarang, tidurlah. Besok kita harus bangun pagi-pagi sekali.”

 

Papa membantuku naik ke dipan. Merebahkan tubuhku.

 

“Kenapa besok harus bangun pagi-pagi, Pa?”

 

“Kita akan pergi ke Seoul.”

 

“Sungguh?” Aku begitu antusias mendengarnya. “Apakah kita ingin bertemu mama?”

 

Jawaban papa berupa sebuah kecupan di keningku.

***

 

Dua minggu sudah kami di Seoul. Ternyata kami bukan hanya datang ke Seoul, kemudian kembali lagi ke desa. Kami menetap. Papa mendapatkan pekerjaan di sini, yaitu sebagai penjaga kasir di toko roti milik adiknya, paman Arno. Untuk sementara paman Arno menyuruh aku dan papa tinggal di rumahnya, jika papa sudah menemukan rumah yang bisa disewakan, barulah kami pindah. Sebenarnya paman Arno juga tidak keberatan, sih, apabila kami tinggal selamanya di rumahnya. Namun papa yang merasa tidak enak karena lagi-lagi harus menyusahkan paman Arno.

 

Aku senang dengan kehidupanku yang baru di Seoul. Banyak hal-hal baru yang kutemui di sini. Di sini aku juga memiliki teman baru, Shena Lee, anak perempuannya paman Arno dan bibi Rennie. Umurnya sebaya denganku. Dia gadis yang baik dan menyenangkan. Aku suka bermain dengannya.

 

Kalau pagi-pagi begini, dia masih sekolah. Maka dari itu, sambil menanti Shena pulang, aku bermain mobil-mobilan kayu-yang wujudnya tak pernah kuketahui-pemberian bibi Kyoung. Aku bermain di tangga yang menuju kamar Shena. Kebetulan di dekat tangga adalah ruang makan. Samar-samar aku mendengar pembicaraan papa dengan wanita yang suaranya agak kukenal. Jelas ini bukan suara bibi Rennie. Suara bibi Rennie lembut dan pelan, sedangkan yang ini tegas dan keras.

 

Aku menuruni dua anak tangga supaya dapat mendengar lebih jelas percakapan dua orang dewasa itu. Ini bukan percakapan biasa, hampir menyerupai keributan.

 

“Setidaknya kembali untuk Chisung, Minrae. Tak apa kau membenciku, tetapi Chisung … Kumohon jangan.” Itu suara papa.

 

“Kau dan anakmu sama saja! Sama-sama payah dan tidak berguna!”

 

Oh, Astaga. Aku ingat siapa pemilik suara ini! Dia wanita yang beberapa hari lalu datang ke toko kue tempat papaku bekerja dan memarahi papaku karena papa mengira wanita itu adalah mamaku.

 

“Minrae, sadarlah! Chisung anakmu juga! Anak kita berdua.”

 

“Dia bukan anakku! Mana mungkin anakku buta. Lagipula aku bukan istrimu! Aku istri seorang Choi Jeffrey. Mengerti?!”

 

“Istri keduanya ‘kan?”

 

“Sialan kau!”

 

Selepas membentak papa, ia pergi meninggalkan rumah ini.

 

“Dasar wanita jahat yang jelek! Aku tidak akan memaafkanmu karena sudah memarahi papaku!”

 

“Chisung?”

 

Ups!

 

Aku menutup mulutku menggunakan kedua tanganku. Sialan, keberadaanku diketahui papa gara-gara aku menggerutu.

 

”Chisung mendengarnya lagi?”

 

“I-iya, Pa. Maafkan Chisung, ya.” Aku menunduk. Merasa bersalah.

 

“Tidak apa, Chisung.”

 

“Pa, wanita itu bukan mama, ‘kan? Iya, ‘kan?” Aku memastikan. Karena yang kutahu, mama itu cantik, baik hati, lembut, penuh kasih sayang, dan cerdas. Dan apa yang ada di wanita tadi adalah kebalikan dari sifat-sifat mama yang sering papa ceritakan.

 

“Maafkan papa, Chisung. Wanita tadi memang mamamu, tapi dia tidak mau mengakuinya. Maafkan papa.”

 

Selama sepuluh tahun hidupku, ini kali pertama aku merasa sangat marah kepada papa.

***

 

Semenjak kejadian hari itu, saat aku tahu bahwa papa selama ini bohong menceritakan segala tentang mama, aku sangat marah kepadanya. Sudah lima hari lamanya aku tidak berbicara dengan papa. Aku masih merasa kesal padanya. Kenapa, sih, papa harus berbohong? pikirku. Padahal kalau papa berkata jujur padaku tentang mama, aku tidak perlu lagi mencari mama, menunggu mama kembali, menanyakan ini itu perihal mama kepada papa.

Pokoknya aku kesal! Saking kesalnya, saat itu aku membanting mobil-mobilan kayuku sehingga membuatnya hancur berkeping.

 

Berbagai upaya telah papa lakukan untuk membujukku agar tidak marah, tapi tidak berhasil. Aku seperti … Ah, entahlah. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu; sedih, marah, benci, dan masih banyak lagi yang tidak kubisa jelaskan sebagai anak berusia sepuluh tahun. Yang kutahu aku marah dengan papa dan aku benci dengan wanita jelek yang sialnya, ialah mama yang selama ini kutunggu, kucari, dan kutanyakan.

 

Hari ini, aku dan papa ke rumah sakit. Sebenarnya aku tidak mau ikut. Aku masih marah dengan papa. Tapi terpaksa aku ikut, pasalnya ini menyangkut tentang impianku selama ini: bisa melihat.

 

“Maafkan aku, tapi belum ada pendonor mata untuk Chisung. Sekali lagi aku minta maaf,” sesal dokter itu.

 

Papa menghela napasnya. Aku sedikit kecewa. Mungkin belum saatnya.

 

“Tidak apa-apa, Dok,” ucap papaku. “Chisung tidak apa-apa’kan belum bisa melihat?”

 

Kepalaku terangguk. Aku masih mogok bicara dengan papa!

 

“Baiklah, kami permisi dulu, Dok. Terima kasih atas waktunya.”

 

“Jangan panggil aku Dok. Jeffrey saja. Lagipula dulu kita saling mengenal ‘kan?” kata dokter yang rupanya bernama Jeffery.

 

Namanya familiar di telingaku. Otakku mulai bekerja lebih keras untuk menggali informasi tentang dokter Jeffery ini. Mengingat-ingat peristiwa yang mungkin berkaitan dengannya.

 

“A-ah, baiklah.” Papaku berucap ragu.

 

Kami keluar ruangan. Papa hendak menggandeng tanganku, aku menepisnya cepat seraya berkata, “aku bisa jalan sendiri, Pa.”

 

Aku berjalan mendahului papa.

 

Walaupun belum ada pendonor mata untukku, setidaknya aku pulang tidak dengan tangan kosong. Aku tahu siapa dokter Jeffery. Dia laki-laki yang disebut-sebut oleh mama kala bertengkar dengan papa di ruang makan rumah paman Arno.

 

***

 

Baru sekitar dua hari lalu dokter Jeffery bilang belum ada pendonor mata untukku. Tapi semalam, dokter Jeffery menghubungi papa, kalau sudah ada pendonor mata yang cocok. Maka dari itu, pagi-pagi sekali aku, papa, paman Arno, bibi Rennie, dan bahkan Shena ke rumah sakit. Aku menjalani serangkaian pengecekan sebelum masuk ke dalam ruang operasi.

Dan, di sinilah aku. Terbaring di ranjang, bersiap di dorong masuk ke dalam ruang operasi. Jantungku berdebar tidak karuan.

 

“Chisung, jangan takut. Papa yakin kau pasti bisa melewatinya! Papa menyayangimu, Chisung!”

 

Seketika aku terhipnotis oleh suara papa yang bagai mantra para cenayang. Mampu membiusku luar biasa ampuh. Jantungku berdetak dalam ritme yang normal. Rasa takut yang merantai tubuhku perlahan sirna.

 

Kemudian aku merasakan ranjang tempatku berbaring didorong. Aku menarik napas dalam-dalam. Baiklah, ini saatnya!

 

***

 

 

Saat-saat yang kunantikan tiba. Perban di mataku akan dibuka dan sampai dimana mimpiku menjadi nyata. Rasanya terlampau menegangkan. Tidak lama lagi hidupku berubah, wujud-wujud benda yang selama ini tak pernah kuketahui bagaimana akan terlihat.

 

Sampai di lilitan terakhir dan perbanku sudah terbuka semua. Aku membuka mataku perlahan-lahan. Kebahagiaanku tidak dapat kusembunyikan. Bersamaan dengan mataku yang telah terbuka lebar, bibirku menerbitkan seulas senyuman.

 

Beberapa orang yang berdiri di sisi ranjangku menatapku dengan berbagai ekspresi yang kali pertama kulihat.

 

Di antara orang-orang ini, ada satu orang yang menarik perhatianku. Laki-laki bertubuh tinggi, memakai jas berwarna putih, memiliki dua titik cacat di pipinya, dan tangannya yang menggenggam perban. Laki-laki itu menangis. Ia segera memelukku erat-erat.

 

“Gyul, kau hidup!” serunya.

 

Aku menatapnya bingung.

 

“Maaf, Paman. Namaku Chisung, bukan Gyul,” ucapku hati-hati.

 

Dia melepaskan pelukannya. Menyeka air matanya.

 

“Mata istriku kini berada di dalam tubuhmu, Chisung. Tolong jaga baik-baik.”

 

“Dokter Jeffery?! Paman dokter Jeffery, ya?!” Aku sedikit berteriak.

 

“Iya, Chisung.”

 

Dokter Jeffery memelukku lagi. Kali ini aku membalas pelukannya. Astaga, ternyata benar perkiraanku.

 

“Terima kasih, dokter Jeffery! Chisung amat senang bisa melihat.”

 

“Sama-sama, Chisung. Aku juga berterima kasih padamu. Karena berkatmu, aku merasakan Gyul kembali hidup, meski di dalam matanya yang sekarang menjadi matamu.”

 

Iya, pendonor mata itu ternyata bibi Gyul, istri pertama dokter Jeffery. Ia meninggal bunuh diri akibat dihasut oleh mamaku, istri kedua dokter Jeffery. Cih, memang wanita jelek yang jahat! Dia bukan mamaku yang kumiliki hanya papa.

 

Eh, omong-omong, apakah papa ada di sini?

 

Aku menatap satu persatu wajah para orang dewasa ini.

 

“Hai, Chisung. Ini bibi Rennie,” kata satu-satunya wanita di ruangan ini.

 

Kalau dia bibi Rennie, maka laki-laki di sampingnya adalah ….

“Hai, Chisung. Aku Arno. Pamanmu yang paling tampan.”

 

“Papa mana?” tanyaku.

 

“Dia sedang membeli sesuatu untukmu. Tunggu saja,” ucap bibi Rennie.

 

“Chisung ingin melihat papa! Ayo kita tunggu di depan!” ajakku.

 

Mereka saling bertatapan.

 

“Ayolah!” paksaku.

***

Kami-aku dan bibi Rennie-berada di dekat pintu rumah sakit. Aku duduk di kursi roda, sibuk mengamati pemandangan di luar sambil menanti papa. Aku sudah tidak sabar ingin melihat pahlawanku.

 

“Bibi, papa itu tampan atau tidak? Lebih tampan papa, paman Arno, atau dokter Jeffery? Papa tinggi atau pendek? Papa seperti apa, sih?”

 

Belum sempat bibi Rennie menjawab pertanyaanku, tiba-tiba beberapa lelaki dewasa masuk ke rumah sakit. Mereka membopong satu laki-laki yang tubuhnya bersimbah darah dan penuh luka. Tangan laki-laki yang dibopong itu menggenggam sebuah … Mungkin balok kayu? Atau mobil-mobilan kayu yang terpercik darah?

 

“Kasihan sekali,” ucapku tak sadar.

 

Rombongan orang itu melewatiku dan bibi Rennie. Kami terdiam. Aku menengadah, menatap bibi Rennie yang terkejut. “Bibi kenapa?”

 

Tidak menjawab, bibi memelukku seraya menangis. “Laki-laki yang penuh luka itu … Papamu, Chisung.” Bibi Rennie menangis.

 

Aku memang ingin melihat wajah tampan papa ….

 

Aku memang mau memandang bibir yang selalu mengucapkan kalimat penenang ….

 

Aku berharap menatap punggung kokoh, tempat ternyamanku ….

 

Aku memang mau memperhatikan tangan yang selalu membelai kepalaku ….

 

Tapi bukan seperti ini.

 

“Bisakah Chisung kembali buta?”

 

 

 

TAMAT

 

 

 

 

 

 

 

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s