[#EXOFFIMVT2019] My First Kiss – Nuri Triyana

Judul : My First Kiss
Nama Pena : Nuri Triyana

***

Theme : “Every day is miracle”

“Jika kamu diberikan satu permintaan, apa yang ingin kamu wujudkan?”

***
-My First Kiss-
***

Perkenalkan, namaku Lee Hwon. Usiaku baru menginjak 16 tahun. Aku adalah seorang pelajar dari SMA Hanbyul, tepatnya di kota Seoul. Aku tipikal pelajar yang budiman dan sangat mencintai kedisiplinan, bahkan saking disiplinnya aku, aku sampai tidak sarapan pagi ini karena aku tidak ingin terlambat.

Hari ini, aku bangun terlalu siang, sangat tidak biasa untuk orang sepertiku. Aku bahkan menyalahkan sang Mentari, kenapa bisa dia bersembunyi di balik awan kelabu pagi ini, membuat sekujur tubuhku nyaman dengan belaian selimut hitamku. Ya, pagi ini cukup mendung, membuat jenis orang yang selalu disiplin sepertiku cepat-cepat bersiap seadanya.

‘Terlambat’ maaf-maaf saja. Kata itu tidak ada di dalam kamus seorang Lintang Purnama. Jadi, dengan berat hati yang disertai omelan ibuku, aku melewatkan sarapan yang sudah siap di meja makan pagi ini.

Ibuku mengomel tanpa ampun, karena aku yang lebih memilih untuk tidak sarapan ketimbang terlambat, padahal suara ibuku sudah menyembur menggumamkan kata masih jam 6.30 KST— aku tidak akan terlambat sama sekali. Dan aku hanya berbekal sebuah susu kaleng rasa tawar yang dilemparkan oleh ibuku saat lariku sudah mencapai ambang pintu. Untung-untung saja benda ini tidak mengenai kepala emasku. Itulah ibuku, galak karena perhatian.

Tak apalah hanya berbekal susu kaleng yang sudah penyok ini, yang terpenting aku tidak terlambat. Ya, meskipun datangnya bus jam 7.00 KST, tapi untukku jam 6.30 KST, itu sudah kesiangan. Jadi, sangat tidak cocok untukku bukan? Jika, harus menunggu datangnya bus melewati jam kesianganku.

Kualihkan pandanganku menatap susu kaleng yang baru saja kubuka.”Susu tawar, memang susu yang terbaik.” Ucapku lalu mulai menyeruputi susu yang masih dingin ini.

Bugh! Bruk! Cur!

Sialan! Bahkan bibirku belum menyentuh sedikitpun kaleng yang kupegang. Huwaaaaa, susuku habis, tak tersisa sedikitpun. Seseorang menoyor kepalaku. Sialan memang!

“Aakhh….”

Astaga! Ini sakit. Dan tentu aku meringis, karena seseorang yang menoyor kepala bagian belakangku adalah orang yang bertulang kawat-berotot besi. Kisaran lelaki yang tak pernah menyukai olahraga dan hanya menikmati julukan si Kutu Buku sepertiku benar-benar lemah. Aku tidak bisa mengelak toyorannya yang terasa seperti hantaman batu besar.

Kutolehkan kepalaku menatapnya sesaat, lalu kembali ke posisi awal dengan kepala yang sudah kutundukkan. Aku, tidak berani menatapnya lama-lama. Si pemilik tangan yang selalu kusumpah serapah agar tak lagi menindas orang-orang sepertiku. Matanya melotot, begitu seram namun masih bisa kuakui kalau dia itu … cantik.

Tangan sialan itu, milik seorang Heo Yeonwoo.

Dia wanita yang sangat populer karena kesempurnaan yang dimilikinya. Meskipun dia tomboy, dan selalu menampilkan wajah polos tanpa riasan dengan gaya busananya yang seadanya, dia berhasil meluluhkan hati para lelaki sekelas, ah ralat! Satu sekolahan maksudnya. Ya, kulit putih susu dengan bibir berwarna merah delima alami yang diperindah dengan postur tubuhnya yang melebihi angka 170 cm, tentu akan mencuat perhatian. Dia cantik alami dan limited edition. Sialnya dengan garis besar, dia pemegang gelar si Sabuk Hitam. Jadi, tentu dia memiliki kekuasaan, termasuk kekuasaannya dalam menindas orang-orang sepertiku.

Kesempurnaan yang dimilikinya, membuat dirinya menjadi tamak. Tak jarang dia mengancam beberapa siswa di sekolahan.
Dia selalu memalaki uang jajan, tidak mengenal Senior ataupun Junior. Ya, dia melakukan itu sekadar untuk menambahi uang jajannya yang kudengar dari orang-orang, jika, dia sangat kekurangan. Dia sosok wanita mandiri memang, tidak pernah meminta uang pada orang tuanya dan selalu menyempatkan bekerja paruh waktu di sebuah minimarket dekat sekolah saat sekolah telah usai. Di luar sekolah si Pekerja Keras, dan di dalam sekolah si Perampas.

Seperti saat ini, dia sedang menatapku garang sembari mengulurkan tangan kanannya tepat di depan wajahku. Sialan! Kenapa harus aku yang menjadi korban pertamanya untuk hari ini.

Aku sadar, jika aku tidak memiliki keberanian seperti anak laki-laki lainnya. Ya, aku terima-terima saja mendapat perlakuan seperti ini. Toh melawan pun akan sia-sia saja. Dengan berat hati, aku rela memberikan sebagian uang jajanku padanya.

Kurogoh saku celanaku lalu memberikannya selembar won yang bernilai seratus ribu. Aku memberikannya dengan tangan yang gemetaran. Aku takut, benar-benar takut. Ibu, tolong aku! Aku ingin pipis.

“Dasar bodoh, cepat berikan!” bentaknya lalu merebut uangku dengan kasar.

“Bisakah kau mengambilnya setengah saja? Aku tidak sempat sarapan pagi ini. Bisakah aku meminta kembaliannya sekarang?” pintaku dengan wajah memelas.

Deg!

Tubuhku tersentak saat netraku mendapati ekspresi wajah Heo Yeonwoo yang menampilkan senyum jahatnya sebagai jawaban atas permintaanku tadi. Namun entah kenapa? Senyuman itu justru terlihat manis, sangat-sangat manis sampai membuatku hanya bisa menenggak air ludah. Tuhan, kenapa bisa Engkau menciptakan wanita dengan rupa seperti itu?

Yak! Sadarlah Lee Hwon! Kenapa pula kau malah mengaguminya. Wanita jahat itu membawa uang seratus ribu won-mu. Uang yang kau kumpulkan tiga harian ini, benda itu sudah lenyap dalam sekejap. Jadi, sadarlah sebelum kau benar-benar menjadi lelaki yang begitu menyedihkan.

“B-baiklah, ambil saja semuanya–”

“Yak! Dasar bodoh. Kau benar-benar ingin menjadi pecundang sejati huh? Sampai-sampai kau rela ditindas seperti ini. Aigooo, aku bahkan mengasihani orang tuamu. Bagaimana bisa mereka memiliki anak tidak berguna sepertimu?”

Ya Tuhan, dia berbicara dengan begitu santainya. Tidak memperhatikan hati lawan bicaranya yang sudah teriris karenanya. Aku bahkan hampir lupa bagaimana caranya untuk bernapas?! Ayah, ibu, maafkan aku, jika, aku merepotkan kalian. Aku memang tidak berguna.

Ya, aku tidak menyangkalnya sama sekali. Sudah terhitung enam belas tahun aku bernapas. Aku tidak pernah melakukan hal yang menyenangkan untuk kedua orang tuaku, kecuali, menjejalkan mereka dengan prestasi peringkat satu yang selalu kudapatkan tiap semesternya.

Aku sering melihat wajah kedua orang tuaku yang penuh akan keputusasaan. Lagi-lagi, melihat tubuhku yang dihiasi luka dan memar akibat penyiksaan teman-temanku sedari sekolah dasar sampai tingkat atas ini. Ya, predikat itu tidak pernah lepas dari diriku, si Pecundang Lee Hwon. Mereka selalu melontarkan panggilan sialan itu padaku. Ucapan yang kadang membuatku memilih untuk mundur dari sekolahan. Namun, aku masih bisa menahannya, bahkan sampai saat ini.

“Yak! Kupesankan untukmu, jangan menjadi laki-laki yang pecundang. Beranilah sesekali, astaga kau membuat humorku terbangun Lee Hwon. Dengar yah! Wanita tidak menyukai laki-laki pecundang, aku yakin tidak akan ada perempuan yang mau berkencan denganmu. Kau membuat para wanita kecewa saja.”

Kejujurannya benar-benar menyahat hati. Seakan dianya tega, mengiris hatiku dengan pisau tumpul yang rasa sakitnya berkali lipat kalau kalian rasa.

Senyuman sarkastisnya mengembang dengan kepalanya yang ia geleng-gelengkan—tidak percaya. Ya, mungkin kali pertama ini baginya, berjumpa dengan lelaki sepecundang diriku.

Bremmm!

Suara berhentinya mobil berhasil memberhentikan tawa sarkatis wanita jahat itu. Wajahnya langsung teralih menatap bus yang baru saja menepi. Tanpa ada kata untuk menunggu lagi, kami pun langsung menghambur ke arah mobil bus.

Sesampainya di dalam, aku hanya bisa mematung. Hatiku nyelonos kembali merasakan sakit yang berkali lipat.

Tuhan, apakah hari ini Engkau jadikan sebagai hari untuk mencobaku? Sungguh berat Tuhan. Aku bahkan ingin menangis saat ini juga. Namun, tak apalah. Toh setiap cobaan yang kau berikan selalu membawa kerberkahan. Aku bisa menjadi lebih sabar, dan aku yakin, Engkau memiliki rencana indah setelah cobaan yang kau berikan padaku hari ini.

Semua kursi penumpang sudah penuh. Hanya tersisa satu kursi saja. Dan, aku yakin, kursi itu sudah disiapkan untuk wanita pemilik kekuasaan itu. Heo Yeonwoo.

Lagi, tatapan itu. Bisakah kalian menghentikannya? Tatapan remeh yang kalian berikan selama ini benar-benar menyakitkan. Tawaan kecil yang mereka keluarkan, alih-alih penyiksaanku kembali dimulai. Tawa kecil yang mereka semburkan kembali berhasil menyakiti kedua telingaku. Ibu, aku ingin pulang. Entah kenapa? Aku rasa, hari ini aku sedikit sensitif. Tidak seperti hari-hari biasanya. Aku bisa sabar. namun tidak untuk hari ini.

Kulihat kedua bahu Yeonwoo bergetar. Aku yakin, dia sedang menertawakanku saat ini. Detik kemudian dia berbalik lalu menatapku dengan senyuman khas ejekannya. Kejam namun manis.

“Dasar pecundang …. ”

“Tampan sih tampan, tapi kalau pecundang, ketampanan hanya bisa dijadikan penikmat sesaat …. ”

“Astaga lihatlah wajah bodohnya …. ”

“Lee Hwon seorang pecundang …. ”

“Laki-laki tidak berguna …. ”

Mereka terus melontarkan kalimat-kalimat menyakitkan padaku, membuatku terhanyut dalam pemikiran negatif— yang sepertinya- aku-akan melakukan apa yang kuinginkan. Sampai suara sang Supir menginterupsi, aku terbangun dari lamunanku. “Kita akan berangkat. Duduklah dengan tenang anak-anak.”

Ibu aku takut. Aku takut sepanjang perjalanan mereka akan mengejekku, bu. Teman-temanku lebih menyeramkan daripada Zombie, bu. Kuharap ibu mengerti dengan keputusan yang kubuat secara dadakan ini.

Ibu, aku ingin keluar dari sekolahan saja. Aku sudah lelah, bu. Aku ingin pindah sekolah saja. Dan hari ini, aku ingin membalasnya, ya, sesuai dengan ucapannya tadi, sekali-kali aku harus menjadi sosok pemberani. Sudah saatnya aku bangkit. Aku ingin membalas semuanya, balasan yang akan kulakukan ini, kalian tidak akan pernah melupakannya barang kali sedetikpun.

Tap! Tap! Tap!

Aku melangkah cepat ke arah di mana Yeonwoo berdiri saat ini. Kulihat wajahnya jelas menampilkan kebingungan saat maniknya menatap kelakuanku yang kelewat aneh ini.

Sret! Chu!

Aku menarik kepalanya kasar lalu menempelkan benda lembek kepunyaanku dengan miliknya. Ya, benar sekali. Aku menciumnya agar dia bisa merasakan apa yang namanya ‘Malu’.

“Woahhhh …. ”

Ckckckck, kenang-kenangan untukmu Heo Yeonwoo sekaligus bangsamu. Ingatlah! Jika, kau pernah dicium oleh lelaki tak berguna sepertiku. Rasakan dan terimalah ejekan yang akan kau terima sebentar lagi.

Cepat-cepat kutarik kepalaku dari posisi nyaman ini. Kulihat wajah Yeonwoo menampilkan raut tak percayanya. Dia kelewat terkejut sampai mematung seperti ini. Kulirik sekilas keadaan bus, mereka juga sama terkejutnya dengan Heo Yeonwoo, bahkan pak Supir ikut tertegun sampai-sampai lupa untuk menjalankan mobil ini.

Ini kesempatanku untuk kabur. Cepat Lee Hwon lari!

Cepat-cepat aku berbalik lalu bergegas meninggalkan bus ini. Aku masih sayang nyawa. Aku yakin, jika, aku masih tetap tinggal, Heo Yeonwoo pasti akan membunuhku tanpa ampun.

Aku berlari kencang, sangat-sangat kencang untuk menghindari wanita itu. Selamat tinggal penderitaan, dan selamat datang kebahagiaan.

“Haahahahah …. ”

Tawaan renyah dari dalam bus bahkan masih bisa kudengar, meskipun sudah beberapa meter aku meninggalkan jejakku di sana. Pelarianku terhenti saat telingaku bergerak-gerak kecil mengindahkan bunyi kepergian bus sialan itu.

Aku berbalik untuk menatap kepergian bus tersebut. Inikah rasanya penuh kemenangan? Benar-benar terasa manis ternyata. Tuhan terima kasih, akhirnya tepat enam ribu hari ini, aku merasakan kebahagiaan yang luar biasa. “Rasakan Heo Yeonwoo! Dengan begitu, kau akan malu sepanjang hidupmu. Memberikan ciuman pertamamu pada lelaki pecundang sepertiku.”

Aku kembali berbalik lalu melangkah dengan seretan yang begitu santai. Bebanku sudah hilang bersamaan ciuman pertamaku yang juga hilang. Aku tidak menyesal dengan apa yang kulakukan tadi. Terlihat gila memang, toh tidak ada cara lain untuk membalas semua perlakuannya padaku selama ini.

Kutatap langit yang masih saja berwarna kelabu. Angin dingin yang lewat tanpa permisi bahkan tidak mendinginkan tubuhku sama sekali. Apakah masih terbawa perasaan jaya, karena tadi? Tuhan, terima kasih.

Kurentangkan kedua tanganku untuk menikmati hembusan angin yang menyegarkan ini. Membiarkannya mencubiti semua permukaan kulitku, apalagi di sekitar wajah tampanku. Aku menikmatinya dengan penuh suka cita. Sekali lagi, terima kasih Tuhan.

Inilah yang dikatakan, “Tuhan tidak akan memberi sedih tanpa rencana bahagia selanjutnya.” Pada nyatanya, keinginanku yang datang secara mendadak terlaksana. Memang, ya, bahagia itu indah pada waktunya.

Aku … merasakannya saat ini. Menang di atas penderitaan seorang Heo Yeonwoo.

“Segar sekali rasanya,” ujarku saking menikmati suasana, bahkan kedua mataku mulai terpejam dengan sendirinya, “ternyata membolos enak juga.” Sungguh keajaiban, ya.

Aku bisa membalas dendam dan membolos diwaktu yang sama.

Ya, benar sekali. Keajaiban Tuhan datang kapan saja. Dan keajaiban berupa ‘keberanian’ untukku datang hari ini.

Ibu, aku berjanji, ini adalah bolosan pertama dan terakhirku. Aku akan menjadi anak yang pemberani dan lebih budiman lagi setelah ini.

“YAK! LEE HWON …!”

Mataku spontan terbuka. Aku terkejut bukan main. Kedua kakiku langsung berlari tanpa kusuruh. Sialan! Heo Yeonwoo mengejarku.

FINISH

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s