[#EXOFFIMVT2019] MY DESTINY – LAYLYJIM

MY DESTINY

by LAYLYJIM

Hari senin yang cerah, hari dimana semua siswa kembali bersekolah. Kim Rina sedang berjalan menuju halte bus terdekat dari rumahnya. Sekitar pukul 06.30 (KST), dia berangkat dari rumahnya. Jarak halte bus dari rumahnya hanya sekitar 200 meter. Sebenarnya Kim Jin So, kekasihnya akan menjemputnya namun tiba-tiba Jin So secara sepihak menggagalkan rencananya dengan alasan Jin So harus mengantar ibunya ke rumah sakit untuk pemeriksaan rutin setiap minggunya, untuk memeriksakan penyakit gagal ginjalnya. Jadi Jin So harus berangkat lebih awal untuk mengantar ibunya. Tapi Rina berpikir mungkin Jin So akan menjemputnya lain waktu.

Sekitar 5 menit kemudian, bus yang dia tunggu sudah tiba. Rina pun masuk ke dalam bus, lalu menempelkan kartunya dan mencari tempat duduk favoritnya, yaitu ada di belakang dan tepat di dekat jendela. Beberapa menit kemudian, bus berhenti karena lampu merah. Saat bus berhenti, Rina tidak sengaja melihat mobil yang sepertinya sama persis seperti mobil milik Jin So yang berada tepat di sebelah bus yang ditumpanginya. Terdapat seorang perempuan dan laki-laki yang sedang bermesraan di mobil tersebut, dengan memicingkan matanya dia melihat laki-laki itu sepertinya Jin So, kekasihnya. Tetapi bus pun kembali melaju setelah lampu berubah menjadi hijau, dan dia belum sempat melihat secara seksama siapa sebenarnya laki-laki yang berada di mobil tadi. Di dalam lubuk hatinya, dia yakin kalau itu pasti bukan Jin So.

Bus berhenti di halte bus dekat sekolahnya, Rina pun turun dari bus dan berjalan menuju sekolahnya yang hanya berjarak 100 meter dari halte bus. Sesampainya di sekolah, dia bergegas menuju kelasnya karena sebentar lagi bel masuk akan berbunyi. Ada hal yang kurang mengenakkan terjadi saat ia hampi sampai di kelasnya. Beberapa siswi terlihat jelas sedang memandang dan membicarakannya. Dia hanya terus berjalan tanpa memperdulikan mereka.

“Dia masih tidak sadar ya?. Padahal kekasihnya selingkuh dengan siswi sekolah sebelah”

“Mungkin dia sudah termakan cintanya”

“Hahaha… kalau aku jadi dia, aku bakalan ketemu perempuan itu dan menjambak rambutnya”

Rina tidak habis pikir dengan yang mereka katakan, tidak mungkin Jin So akan melakukan hal seperti itu.

“Hai sayang”

Dia hafal betul dengan suara itu. Ya, dia adalah Jin So. Jin So selalu memanggilnya dengan kata ‘sayang’ tanpa peduli situasi dan kondisi. Dia pun tersenyum saat Jin So memanggilnya tadi, seolah-olah sirna semua ucapan siswi yang sempat membuatnya kesal tadi.

“Aku tadi masih harus pergi ke rumah sakit, jadi kita tidak bisa berangkat bersama,” ucapnya sambil memanyunkan mulutnya. Kalau sudah seperti ini, mau tidak mau Rina harus memaafkan kekasihnya.

“Ya, santai So. Yasudah sana masuk kelas. Udah hampir bel masuk”

“Nanti jam istirahat, kita makan siang bersama, oke?”

“Ya. Sudah sana masuk kelas”

“Sampai jumpa sayang”

Tidak lupa sebelum menuju kelasnya, Jin So terlebih dahulu mengacak-acak rambut Rina hingga kusut. Rina hanya tersenyum melihat tingkah laku kekasihnya, dia merasa semua ucapan siswi tadi adalah salah. Buktinya Jin So ternyata masih memperlakukannya dengan manis. Setelahnya Jin So benar-benar pergi meninggalkannya. Dia masuk ke dalam kelas saat bel masuk berbunyi.

Guru Kim masuk kelas. Choi Min Jae, sang ketua kelas mempersiapkan semua siswa untuk memberi hormat pada guru Kim.

“Beri hormat”

Serentak semua siswa di kelas 3-1 membungkuk hormat, memberi salam pada guru Kim. Lalu guru Kim menyuruh siswa untuk duduk kembali.

“Baiklah, hari ini kita akan membahas materi baru, yaitu tentang ‘Dimensi Tiga (Bangun ruang)’. Silahkan buka buku kalian pada halaman 34”

Semua siswa mengeluarkan buku matematika dan mengikuti instruksi dari guru Kim. Rina yang malas untuk membuka buku, berencana untuk menjahili Cho Do Woon, teman karibnya.

“Woon..woon”

“Ada apa Rin?. Begadang lagi, ya?”

Dowoon sudah hafal betul dengan perilaku Rina, seperti saat ini, Rina terlihat malas untuk belajar. Ada dua kemungkinan Rina bisa mengantuk, yang pertama mungkin Rina begadang semalam membuat video menyanyi untuk mengikuti audisi sebagai penyanyi, dan yang kedua mungkin Rina tidak mengerti dan tidak terlalu tertarik untuk belajar.

“Enggak kok. Aku tidur tepat waktu tadi malam”

“Baguslah, terus kenapa kamu terlihat mengantuk sekarang?”

“Do Woon, aku ingatkan kamu satu hal penting. Jika aku mengantuk seperti sekarang, itu berarti aku tidak mengerti dengan penjelasan dan pelajaran yang guru terangkan,” Rina agak mengecilkan suaranya agak tidak terdengar guru Kim. Sebenarnya tempat duduk mereka berada di pojok kanan paling belakang, jadi jika mereka bicara ataupun tidur kemungkinan besar tidak akan ketahuan, namun jika terlalu lama bicara atau tidur ya pasti akan ketahuan.

“Aku pasti ingat dengan yang kamu ucapkan. Aku sudah hafal semua tentang perilaku dan gerak-gerikmu. Aku menghafalnya seperti rumus matematika”

“Ah..terserah kamu menyebutnya dengan sebutan apa saja.Yang penting kamu harus ingat itu”

“Jangan tidur, nanti ketahuan guru Kim, nanti dihukum lari keliling lapangan sepuluh kali”

“Ya, aku tahu. Ada permen?”

Do Woon lantas mengeluarkan sesuatu pada saku seragamnya, Rina gembira saat    Do Woon mengeluarkan tiga permen karet cokelat kesukaannya. Kalau seperti ini Rina tidak jadi untuk memejamkan matanya.

“Awas loh ya, jangan tidur”

“Ya..ya cerewet”

Rina mengambil permen itu dari tangan Do Woon dan memakan satu permen karet rasa cokelat kesukaannya. Sambil mendengarkan penjelasan guru Kim, Rina mengunyah permen karet itu hingga Do Woon memperingatinya untuk tidak terlalu mengunyah permen karetnya agar tidak ketahuan oleh guru Kim. Tidak lama setelah itu, Rina bertanya pada     Do Woon tentang audisi, karena Do Woon adalah informannya ketika ada audisi baru di salah satu agensi. Mengingat ayahnya adalah salah satu pemilik agensi terbesar di Korea Selatan, jadi Do Woon banyak mendapatkan informasi dari ayahnya tentang audisi yang akan diadakan di suatu agensi. Terhitung sudah lima kali, dia mengikuti audisi namun masih gagal. Padahal dia memiliki suara yang lumayan bagus, bahkan dia pernah mewakili sekolah dalam kontes menyanyi yang diikuti lebih dari dua ratus peserta. Dan hebatnya dia berhasil mendapatkan juara pertama di kontes menyanyi yang diadakan setiap tahunnya. Mungkin masih belum saatnya dia bisa lolos dan dapat debut sebagai solois wanita.

Do Woon selalu menyemangatinya walaupun berkali-kali dia gagal. Do Woon yang selalu berada di sampingnya saat mengikuti audisi, menemaninya saat membuat video menyanyi untuk persyaratan audisi, dan selalu menenangkannya jika dia tidak terima dengan hasil audisi. Do Woon juga berpesan padanya bahwa ‘Kegagalan adalah kesuksesan yang tertunda,’ dia selalu ingat ucapan Do Woon.

Bel jam istirahat sudah berbunyi sedari tadi, tetapi Rina masih tertidur pulas dengan headset yang dipasang di kedua telinganya. Dia sudah tertidur sejak ada jam kosong. Semalam dia rela begadang hanya membuat video menyanyinya untuk audisi yang akan dia ikuti selanjutnya. Do Woon sudah mencoba membangunkannya, tapi dia tidak bisa dibangunkan. Do Woon hanya khawatir jika Rina tidak makan siang, nanti Rina akan jatuh sakit. Di sisi lain, dia juga merasa kasihan jika dia membangunkan Rina.

Jin So tiba-tiba datang dan menyuruhnya untuk pergi, tapi lebih tepatnya Jin So mengusirnya untuk meninggalkan mereka berdua di kelas.

“Kau jangan coba-coba untuk mendekati Rina,” ucap Jin So sebelum dia mengusir  Do Woon keluar dari kelas.

“Padahal aku hanya ingin membangunkannya”batin Do Woon

Jin So menelisik setiap jengkal wajah Rina, wajah yang putih bersih dengan bibir mungil merahnya berhasil memikat hatinya. Dia jatuh cinta pada kesempurnaan yang dimiliki Rina. Dia mengelus rambut Rina, hingga Rina pun terbangun.

“Ayo kita makan siang,” ajak Jin So sesaat setelah Rina bangun dari tidurnya.

“Sebentar lagi So, aku lelah. Tadi malam aku begadang”

“Kamu pasti sibuk menyiapkan video untuk audisimu, kan?.” Kali ini nada bicara    Jin So lebih tinggi dari biasanya, menandakan bahwa Jin So sedang marah.

“Apa yang kamu katakan tadi?”

“Berhenti untuk mengikuti audisi-audisi tidak jelas itu. Sekarang kamu harus fokus untuk bisa masuk universitas Seoul”

“Menyanyi adalah bakatku, kamu tidak bisa melarangku untuk mengikuti audisi. Aku harus menggapai cita-citaku sebagai penyanyi”

“Apa gunanya kamu menjadi penyanyi?. Seharusnya kamu membanggakan orang tuamu dengan bisa masuk universitas Seoul”

“Jangan ikut campur urusanku,” Rina meninggalkan Jin So dan berjalan ke arah kantin untuk makan siang.

Sesampainya di kantin, Do Woon melambaikan tangannya agar Rina menghampiri    Do Woon yang sedang menikmati makan siang. Do Woon melihat Rina yang seperti tidak semangat. Dia bisa tebak bahwa Rina sedang ada masalah. Dia pun bertanya, dan Rina mulai menceritakan kejadian tadi padanya. Jin So melarang Rina untuk mengikuti audisi menyanyi. Jin So ingin Rina belajar sungguh-sungguh agar bisa masuk universitas Seoul. Dia hanya bisa menenangkan sahabatnya dan menyuapi makan siang, karena Rina masih belum makan siang. Takut nanti Rina jatuh sakit, dia pun menyuapi Rina walaupun banyak siswa yang memperhatikan mereka.

“Aku malu, Woon”

“Jika aku tidak menyuapimu, kamu tidak akan makan Rin”

Terpaksa Rina harus menuruti kemauan Do Woon. Tapi Do Woon benar juga, dia mungkin tidak akan makan jika tidak disuapi oleh sahabatnya itu. Memegang sendok saja sudah malas, apalagi harus menghabiskan jatah makan siangnya.

 

3 bulan kemudian

Semua siswa kelas dua belas disibukkan dengan berbagai ujian.Sebentar lagi ujian kelulusan, dan sekolah sudah mulai memberikan pelajaran tambahan agar bisa membantu siswa dalam mengerjakan soal-soal ujian nanti.

Hari ini, Rina diantar  Jin So ke tempat les. Rina sudah berkali-kali menolak untuk pergi ke tempat les namun karena desakan dan paksaan dari orang tuanya dan juga Jin So, terpaksa dia harus pergi ke tempat les. Dia berpikir orang tuanya nanti hanya membuang-buang uang untuk membiayai lesnya, karena dia ingin menjadi penyanyi bukan menjadi sarjana kedokteran yang diimpikan ayahnya. Dia punya cita-cita sendiri dan harus diwujudkan.

“Belajar yang rajin ya,” ujar Jin So  sambil mengacak-acak rambut Rina

“Hem..”

“Sampai bertemu nanti, telepon aku jika sudah selesai”

Rina hanya mengangguk-anggukan kepalanya.

2 jam kemudian.

Bosan, Rina sedang merasakan hal itu sekarang. Dia sudah berkali-kali menelpon    Jin So untuk menjemputnya, namun Jin So belum menerima panggilan telepon darinya. Daripada harus menunggu Jin So yang tidak datang untuk menjemputnya, dia menelpon     Do Woon untuk menjemputnya.

Beberapa menit kemudian, Do Woon tiba di tempat les. Dia segera menghampiri Rina setelah memarkirkan sepeda motornya. Sahabatnya terlihat kesal dan marah. Dia mengajak Rina untuk makan di restoran yang terletak dekat dengan tempat les.

Ternyata Rina kesal karena Jin So tidak menjemputnya, jika sudah kesal seperti ini biasanya Rina akan menghabiskan banyak makanan. Do Woon sudah tahu jika Rina akan banyak menghabiskan makanan, jadi dia sudah siap merogoh isi dompetnya dalam-dalam.

 

Sesampainya di rumah..

Rina terkejut karena orang tuanya yang menatapnya dengan tatapan marah. Dua kameranya sudah hancur.

“Berhenti untuk mengikuti audis-audisi tidak jelas itu. Fokuslah untuk belajar agar bisa menjadi seoarng dokter nanti”

“Ini hidupku, aku berhak memilih ayah”

“Oh begitu. Pergi dan jangan pernah injakkan kakimu di rumah ini lagi”

Tanpa basa-basi lagi Rina mengemasi barang-barangnya dan pergi meninggalkan rumahnya. Dia berjalan menuju halte bus untuk pergi ke rumah Do Woon. Air matanya meluncur tanpa bisa tertahan lagi untuk keluar. Kenapa semua hidupnya diatur oleh ayahnya?. Padahal dia memiliki jalan hidupnya sendiri, bukan menjadi dokter tapi menjadi penyanyi.

Do Woon terheran-heran melihat Rina yang berada di hadapannya dengan tas besar yang digendongnya dan air mata yang tidak berhenti keluar dari pelupuk matanya. Do Woon menyuruhnya untuk masuk agar Rina lebih tenang.

 

Beberapa tahun kemudian…

Do Woon sedang menonton sebuah konser di ‘Olympic Gymnastic Hall’. Bersama dengan semua penonton yang menyebutkan nama idolanya. Do Woon sesekali tersenyum melihat kini seseorang yang tengah berada di atas panggung itu sudah berhasil meraih cita-citanya. Meskipun bukan menjadi solois wanita, tapi dia sudah bahagia sekali karena akhirnya cita-cita nya tercapai.

Tidak ada lagi larangan dari orang tuanya untuk menjadi penyanyi, dan sudah sejak lama dia kembali ke rumah. Bagaimana kabar kekasihnya?. Ternyata dia hanya ingin hartanya saja bukan cinta dan rasa sayang yang tulus darinya. Dia ketahuan berselingkuh di belakangnya. Orang yang saat ini menggantikan posisi kekasihnya adalah Cho Do Woon.   Do Woon menyatakan cinta padanya saat dia diterima di agensi milik ayah Do Woon.

Setelah Rina selesai tampil, dia kembali ke backstage untuk bertemu Do Woon. Dia sangat merindukan Do Woon karena sudah sejak lama mereka tidak bertemu sejak dia diterima di agensi ayah Do Woon.

“Aku merindukanmu Woon”

Do Woon tersenyum mendengar kata-kata itu, dia langsung memeluk erat sahabat yang telah resmi menjadi kekasihnya. Rindu yang terpendam sejak lama sekarang sudah terbayar. Pelukan hangat yang seakan-akan membuat kerinduan itu hilang.

Rina melepas pelukannya, “Terimakasih karena sudah menemaniku selama ini,” lalu Rina memeluknya kembali, melepas semua rasa kerinduannya pada seseorang yang telah menemaninya dari bawah hingga sukses seperti sekarang.

Foot note: backstge: belakang panggung

TAMAT

 

 

 

 

 

 

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s