[#EXOFFIMVT2019] Two Shooting Stars – Ni Putu Diva

Two Shooting Stars

Ni Putu Diva

“Bener gak sih briefcasenya di sini?”

“Digali aja terus!” Jawab Hyeon kepada adiknya, Beom.

Waktu sudah menunjuk pukul 01.17 pagi, namun kakak-beradik itu masih menunggu hasil dari usaha mereka. Sebuah briefcase yang berisi sertifikat tanah milik sang ayah adalah benda yang sedang dicari-cari oleh mereka. Setelah menggali tiga lubang di bawah pohon kesemek yang telah ditanam oleh kakeknya, mereka akhirnya menemukan briefcase itu.

Dalam perjalanan pulang, mereka hanya terdiam. Beom yang sedang menatap langit tiba-tiba tersenyum dan berkata, “Noona[1], lihat! Ada dua bintang jatuh bersamaan.”

Hyeon mengabaikan perkataannya karena tidak percaya namun tentunya hal tersebut membuat Beom berdoa di dalam hati. “Semoga saja appa[2] dan eomma[3] tidak bercerai.”

Satu rumah makan Korean BBQ dan dua stand makanan tteokbokki[4] sudah terlewati. Itu berarti bahwa di belokan selanjutnya terdapat sebuah rumah kecil yang merupakan tempat tinggal mereka. Tetapi saat tiba di tempat tujuan, Hyeon merasakan ada sesuatu yang tidak benar. “Sejak kapan kita punya pohon kesemek di halaman depan?” Ia bertanya. Beom hanya menggeleng-gelengkan kepala. Saat mereka masuk ke dalam, seluruh perabotan rumah berada di posisi yang berbeda dari biasanya. Mereka terheran tapi mencoba untuk mengabaikan hal tersebut. Mereka tidak dapat menemukan kamar mereka saat hendak mencarinya. Berbagai pertanyaan muncul di dalam pikiran mereka. Karena kebingungan, Hyeon secara tidak sengaja menyenggol sebuah foto dan menjatuhkannya. Pada  frame yang kini telah terpecah belah, terlihat foto pasangan suami istri yang sama sekali bukan orang tua mereka. “Rumah siapa ini?” Batinnya.

“Pencuri! Dasar kau anak-anak nakal! Keluarlah! Keluar!”

Seorang pria datang ke arah mereka dengan amarah. Panik menerkam Hyeon. Serentak tubuh dan pikirannya menarik lengan adiknya lalu berlari sekencang mungkin. Setelah berlari beberapa blok jauh dari pria tersebut, mereka berhenti untuk mengembalikan tenaga. Tiba-tiba Hyeon merasakan tetesan air yang jatuh dari langit, perlahan-lahan menjadi deras. Kakak-beradik itu langsung berlari menuju tempat teduh untuk menghindari hujan.

“Beom, tadi itu bukannya rumah kita, ya?”  Tanya Hyeon.

“Kok HP gua gak ada sinyal 5G-nya sih?”

“Ih! Lu kok malah ngelihatin HP sih?”

“Gua mau nelfon appa sama eomma nih, tapi gak ada kontaknya, padahal udah gua simpen nomernya.”

“Bilang, dong. Sini biar noona aja yang nelfon.”

Aneh. Nomor telfon kedua orang tua mereka gak dapat ditemukan. Saking kesalnya, ia restart HP-nya berkali-kali hingga tak terasa, tetesan air matanya seirama dengan derasnya hujan. Beom menghela nafas melihat kakaknya yang cengeng itu. Ia mendekat lalu memeluk kakaknya karena sejujurnya, ia juga merasakan betapa sedih kakaknya itu.

**********

Sinar matahari pagi menyentuh bulu mata Beom yang membuatnya perlahan-lahan membuka mata. Ia kaget saat melihat ramainya suasana. Ia baru menyadari bahwa semalam ia tertidur di atas tempat duduk umum di sebuah taman. “Oh iya! Noona mana?”

“Sini woy!” Hyeon beteriak. “Mau nyari appa sama eomma, gak?”

Ia langsung bangkit dari tidur dan berlari mengejar kakaknya yang kini sudah beberapa langkah jauh darinya.

“Noona gak mau nunggu gua, ih.”

“Udah gua bangunin berkali-kali, elu-nya aja yang gak denger.”

“Terus ini mau ke mana?”

“Menurut lu? Biasanya kalo appa bertengkar sama eomma, appa lari ke mana?”

“Rumah halmeoni[5]?”

“Aduh, anak pintar.” Jawab si kakak dengan sarkas.

Selama perjalanan, percakapan mereka tak ada hentinya. Sampai akhirnya, Beom menyadari ada sesuatu yang tampak berbeda. “Noona. Nyadar gak? Daritadi orang-orang yang lewat style bajunya agak jadul gitu. Ada trend apaan semalem bisa berubah drastis gini?”

Hyeon hanya menatap adiknya dengan kesal, “Lu kira gua mbah gugel apa?”

“Ehehehe, iya ya. Mianhae[6].”

“Kalo dipikir-pikir, iya juga ya.” Kata Hyeon setelah mencerna apa yang dikatakan adiknya. Saat tiba di pintu gerbang rumah nenek, mereka diam sejenak karena takut kalau kejadian semalam terjadi untuk kedua kalinya. Lalu Hyeon memencet tombol bel yang berada di sebelah pagar. Kondisi rumah tersebut terlihat seperti baru, tidak seperti kondisinya beberapa minggu saat mereka terakhir kali berkunjung. Hyeon berpikir bahwa mungkin saja rumah nenek telah direnovasi, tetapi pernyataan tersebut tidak begitu memungkinkan. “Ah, entahlah.”

Tak lama kemudian, seorang ahjumma[7] keluar dengan senyuman yang familiar. “Ada yang bisa saya bantu?” Ahjumma itu menanyakan Hyeon dan Beom yang tampak kebingungan. “Noona. halmeoni kok keliatan lebih muda ya?” bisik Beom. “Halmeoni? Gak yakin gua,” jawab Hyeon. “Iya? Keras-in dikit dong ngomongnya. Maklum udah faktor U.”

“Hah? Eh-em! Enggak kok. Kami hanya ingin meminta semangkuk nasi.” Jawab Hyeon dengan senyuman paksa. “Oh, oke! Tunggu sebentar ya.” Wanita itu kembali masuk ke dalam untuk mengambil apa yang diminta Hyeon.

“Nasi?! Apaan sih noona minta-minta? Masih mending minta ke halmeoni sendiri.”

“Itu tadi halmeoni kok. Kalung pemberian harabeoji[8] dipake. Kalungnya itu cuma ada satu di dunia soalnya harabeoji pernah bilang kalung itu dibuatkan khusus buat halmeoni.” Jawab Hyeon dengan nada rendah.

“Ini ya! Udah imo pakein kimchi[9] di dalemnya. Hati-hati di jalan lho. Jangan sampe kehilangan arah. Nanti jadi tambah kehilangan,” kata si imo[10] dengan ketawa yang sedikit agak garing. “Hehe, iya. Terima kasih banyak, imo. Kami ijin pamit.”

“Bentar! Kamu yang cowok. Mirip banget sama anak imo waktu masih kecil. Kalo kelaparan lagi, nyari makannya ke sini aja ya.”

“Mampus. Dasar fotokopiannya appa.” Hyeon berbisik kepada adiknya dengan jahil.

Setelah pergi dari rumah nenek dan memutuskan untuk beristirahat di taman, Hyeon membuka makanan yang telah dibungkus oleh neneknya tadi  lalu dibagi dua untuk Beom. “Kita dikira anak hilang sama halmeoni.’

“Kok agak tega ya? Masa halmeoni gak inget sama kita sih? Noona yakin tadi bener-bener nenek kita?” Tanya Beom, memastikan apa yang telah dikatakan oleh kakaknya tadi.

“Makanya, kalo sesepuh cerita itu didengerin jangan dipakein dongeng buat tidur!”

“Kita ini sebenarnya lagi di mana? Terus kenapa kok kejadiannya aneh-aneh mulu.”

“Menurut analisis gua nih, kita kayak kembali ke masa lalu gitu. Mustahil tapi kenyataannya emang kayak begini.”

“Korban film fantasi nih, noona?”

“Yah, gak percaya! Menurut lu gimana? Gak ada interpretasi yang lebih akurat.”

“Menurut gua nih, kita lagi di dimensi lain.”

“Sebelas-dua belas woy!”

**********

Guk! Guk!

“Noona! Lihat deh itu, anjingnya lucu!” Beom menarik-narik lengan kakaknya untuk memastikannya melihat ke arah yang diinginkan. “Pemiliknya lebih lucu, tuh.” Jawab Hyeon dengan ketawa kecil. Karena kagum, ia melihat si pemilik anjing dari kaki hingga ujung rambut. Ia menemukan hal yang sangat familiar. Briefcase yang dibawa olehnya sangat identik dengan milik ayahnya. “Astaga. Itu appa?!”

“Ngakak! Appa sendiri dibilang lucu kayak-“

“Heh, ayo! Bentar lagi hilang kalo gak dikejar.”

Hyeon dan adiknya mengikuti seseorang yang diduga adalah ayahnya. Setelah berjalan beberapa meter dari taman, orang itu menitipkan hewan peliharaannya di tempat daycare hewan lalu pergi menuju kantor polisi di sekitar area itu. Mereka mengikutinya dengan berwaspada agar tidak ketahuan. Saat orang itu memasukki kantor polisi, dengan menjaga jarak darinya, mereka menguping apa yang sedang dibicarakan.

“Maaf, pak. Untuk dokumen yang bapak inginkan baru bisa diproses besok.”

“Tapi sesuai janji kemarin, dokumennya sudah jadi hari ini.”

“Sebenarnya sudah pak. Hanya saja, bapak baru bisa menandatanganinya besok.” Hyeon sempat mendengar beberapa kalimat dari percakapan tersebut namun ia tidak dapat memahaminya dengan jelas.

**********

“Beom, kamu punya firasat gak kalo dokumen itu bisa jadi sertifikat tanahnya appa?”

Beom menjawab, “Halah mentang-mentang kemarin-“

“Heh! Gua serius. Coba deh nanti malam kita cari dokumennya.”

“Noona, gak main-main lho. Ini tuh kantor polisi.”

Walaupun awalnya Beom tidak setuju dengan rencana kakaknya, pada akhirnya ikut. Malam harinya, mereka kembali ke kantor polisi tersebut. Ada beberapa penjaga di sana dan tentunya, Hyeon sudah memikirkan sebuah rencana. Ia menempatkan target pada  jendela di lantai 2. Ia melemparkan tali­ yang ditemukannya di ruang janitor lalu memanjatnya. Beom hanya tergeleng-geleng melihat kakaknya yang memiliki niat sangat besar hanya untuk menunjukkan bahwa apa yang ia katakana itu benar.

Saat giliran Beom memanjat, tiba-tiba datang seorang wanita dengan rambut pendek menyapanya, “Adeul, hati-hati ya.” Karena terkejut, Beom terjatuh ke semak-semak, “Aduh!”  Hyeon yang mendengar suara itu, mengintip dari atas dan melihat apa yang sedang terjadi. Karena melihat wanita misterius itu berlari ke arah Beom untuk membantunya, ia memutuskan untuk meninggalkan Beom dan melanjutkan misinya lalu perlahan-lahan menarik talinya ke atas dan masuk melalui salah satu jendela yang tidak terkunci. Ia menyalakan senter lalu jalan melalui lorong yang tampak seram dalam keadaan gelap di malam hari. Umumnya, kantor polisi berfungsi selama 24 jam tetapi karena ini adalah sebuah pedesaan yang kecil dan aman, polisi jarang sekali bekerja di malam hari.

Hyeon akhirnya menemukan tangga menuju lantai 1 di mana meja administrasi itu berada. Benar saja, meja tersebut terletak di pojok ruangan namun setelah dicari-cari dokumennya, ia tidak mendapatkan hasil. “Hiks… hiks.” Entah kenapa, ia tiba-tiba merasa emosional. “Ah, sialan!”

“Heh, kamu! Ngapain di sini?” Karena saking keras teriakannya, salah satu penjaga menemukannya. “Noona! Noona! Ke sini!” Di sisi lain, Beom sedang melambai-lambaikan tangannya sambil menggenggam selembar kertas. Hal itu sedikit membuat Hyeon bingung, namun tanpa berpikir lebih, ia lari ke arah Beom dan melarikan diri dari penjaga tersebut. Tetapi penjaga itu tidak akan melepaskan mereka begitu saja. “Kebo! Bangun, woy! Tuh anak dua nyuri kertas dari kantor. Mampuslah kita kalo ketauan boss.” Reflek, temannya terbangun dan memanggil penjaga lainnya.

Hyeon dan Beom menyadari bahwa mereka sedang dikejar. Mereka memilih jalanan yang sempit dan bersemak-semak dengan harapan pilihannya akan melambatkan para penjaga tersebut. Hingga akhirnya mereka sampai pada jalan buntu di mana, di bawahnya adalah jurang. “Ahaha! Kena kalian. Begini saja, berikan kami kertas itu dan kami akan anggap kejadian ini tidak pernah terjadi.”

Hyeon yang masih belum tahu apa sebenarnya yang dibawa adiknya merampas kertas itu dan membacanya. Ternyata itulah dokumen yang ia cari-cari. Bingung, ia menatap mata adiknya. “Dari orang yang menolongku tadi.” Beom berbisik. “Itu eomma waktu masih muda.” Lanjutnya.

“Heh! Diam! Bawa sini. Kalau tidak, kalian akan menerima konsekuensinya.”

Tanpa berpikir, Hyeon merobek kertas itu lalu ia hempaskan ke arah para penjaga tersebut. “Itu.” Katanya. Karena merasa puas, ia tersenyum dan mengangkat kedua lengannya ke atas. “Haha! Ha. Ha. Haaa. Aaa!” Batu yang tadi dijadikan pijakannya jatuh ke jurang yang terjal. Secara reflek ia menarik baju adiknya dan mereka pun jatuh ke dalam jurang mengikuti batu itu.

**********

“AAA!”

….

“Noona.”

“Beom.”

“Eh-“

Pemandangan yang sedang mereka tatap saat ini adalah sebuah meja belajar. “Itu punya kita, kan?” Mereka terdiam karena kebingungan. “Beom, kita di rumah.” Mereka bangkit lalu lari keluar ruangan. “Aigoo, cucu-cucuku ini semangat banget buat sarapan. Halmeoni tau kok masakan halmeoni itu lebih enak daripada eomma-mu.”

“Eomeoni..!” Ibunya mengeluh kepada nenek. Ayah mereka, di sisi lain, tertawa kecil sambil membaca koran. “Ayo, sini makan!” Ajak neneknya. Walaupun masih merasa kebingungan, Hyeon dan Beom duduk di meja makan untuk menyantap masakan neneknya.

Hyeon lalu melihat keluar jendela untuk melihat keadaan di luar. Tak sengaja, ia melihat dua bintang jatuh bersamaan, walaupun di pagi hari. “Lho kok?”

“Beom, kayaknya tadi gua liat dua bintang jatuh.”

“Dibilangin kok ngeyel.”

**********

Setelah selesai sarapan, kedua orang tuanya berangkat kerja dan neneknya pergi ke pasar untuk membeli bahan masak. Hyeon kembali masuk ke dalam kamarnya hendak beristirahat. Tanpa melihat jalan, ia merasakan ada hal aneh yang menempel di telapak kakinya. “Sobekan kertas?” Ia mengambil salah satu sobekan kertas tersebut dan membaca kata-kata yang tertulis di atasnya.

“Beom!! Kayaknya gua tau kenapa appa sama eomma gak jadi cerai!”

[1] Sebutan yang digunakan laki-laki untuk memanggil perempuan yang lebih tua.

 

[2] Sebutan “ayah” dalam bahasa Korea

 

[3] Sebutan “ibu” dalam bahasa Korea

 

[4] Makanan tradisional Korean yang berbahan dasar tepung beras

[5] Sebutan “nenek” dalam bahasa Korea

 

[6] “Maaf” dalam bahasa Korea (informal)

 

[7] Sebutan wanita paruh baya dalam bahasa Korea

[8] Sebutan “kakek” dalam bahasa Korea

 

[9] Makanan ciri khas Korea yang difermentasi

 

[10] Sebutan “tante” dari keluarga ayah/pihak laki-laki dalam bahasa Korea

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s