[#EXOFFIMVT2019] Save Me – Briliana Dwiky

Save Me

(Briliana Dwiky)

 

Aku hidup sebagai tulang punggung keluarga, kehilangan ayah yang lepas tanggung jawab. Ayah entah hilang kemana, bagai matahari yang terbenam dan lenyap termakan buasnya lautan gelap.

 

Dulu aku hanya pelayan kafe kecil di Daegu, hingga sebuah keadaan yang menuntutku harus mendapatkan uang banyak untuk biaya hidup kami dan uang sekolah kedua saudariku. Pencuri, jalan keluar yang kuambil. Kebiasaan buruk itu aku lakukan sepulang kerja dan itu menakutkan juga melegakan.

 

Sudah 2 tahun, rupiah demi rupiah mengalir direkeningku dan kami hidup dengan sangat layak, Ibu sempat menanyakan uang ini dari mana, tapi kutepis dengan jawaban uang lembur dan pekerjaan paruh waktu lainnya. Hingga suatu ketika, pagi-pagi sekali aku terbangun sebab suara sirine mobil polisi yang terlalu bising. Tiba-tiba pintu kamarku didobrak, muncul dua polisi yang menghampiriku dengan borgolnya yang langsung mengaitkannya di tanganku, dengan rambut yang masih berantakan dan mata bengkak aku diseret keluar oleh mereka, aku berontak dan teriak meminta penjelasan apa yang sebenarnya terjadi, tapi tetap di depan rumah Ibu sudah menangis dengan kedua saudariku, menggeleng tak percaya bahwa anak sulungnya tertangkap polisi dengan sangat memalukan.

 

Tetangga yang berkumpul melihatku dengan sorot kebencian juga beberapa makian yang terlontar tanpa aba-aba. Aku berontak dan berlari kearah Ibu meminta penjelasan, namun ia hanya menggeleng dan menjauh dariku, tiba-tiba seorang Paman menghampiriku menunjukan sebuah rekaman video CCTV dari ponselnya. Sial! Aku tak bisa mengelak lagi, aku mendengus dan membuang muka, kini aku tertangkap basah. Dalam video itu aku melepas tudung hoodie dan masker yang kukenakan tepat sebelum aku pergi. Bodoh! Aku mengumpat berkali-kali dalam batinku, ini sama saja dengan bunuh diri. Tapi, Hei! Lihat, aku hanya mengambil sekantong beras saja, aku bisa membayarnya sekarang. Kini aku mencoba memberi penjelasan pada Ibu tapi ditolak mentah-mentah dan aku beku dengan satu kalimat yang diucapkan Ibu sebelum ia pergi dari kerumunan warga di depan rumahku, “KAMU BUKAN ANAKKU LAGI” tanpa peduli dengan penjelasannku.

 

Aku diseret ke penjara tanpa pembelaan dari siapapun, aku seperti ini karena ingin membahagiakan mereka meski aku tahu caraku salah, aku hanya ingin mereka mengerti bahwa dalam posisiku semuanya tidaklah mudah. Aku setiap malam pulang dengan aroma alkohol yang menjijikkan dan terbius dalam berbagai macam obat terlarang dan itu dapat menenangkanku dari kemelut pikiran yang kacau dan berantakan, kemudian terlelap dan pagi-pagi aku harus sekali kembali bekerja lagi.

 

Sudah 4 tahun aku terkurung dalam jeruji besi yang mengerikan, tumbuh dengan banyak cacian dan hinaan bahkan Ibu selama ini tak pernah mengunjungiku. Malam itu aku dibebaskan, aku berjalan pulang dengan perasaan lega sekaligus cemas apakah Ibu mau menerimaku lagi? Seperti biasa aku menemukan kunci di bawah pot bunga di samping pintu, Ibu masih menginginkanku ternyata, perlahan kubuka dengan sisa keberanianku juga rasa bersalah yang masih menggelantung dibatinku. Kosong juga gelap, tak ada siapapun di sini percuma juga aku berteriak memanggili mereka, mereka sudah pergi meninggalkanku seorang diri lagi tanpa secuil pesan atau bahkan alasan.

 

Kudengar kedua adikku sudah lulus sekolah dan Ibu mengajaknya pindah, mereka baru saja satu tahun meninggalkan Daegu dan pergi ke Seoul. Kini hari sudah berganti bulan, aku mencoba mencari pekerjaan dan itu sangatlah susah sebab aku mantan narapidana, cibiran dari tetangga sudah lama menusuk pikiranku tapi aku memilih abai. Tutup mata, tutup telinga.

 

***

 

“Han Yoora,” samar terdengar ditelingaku dan mata ini perlahan terbuka, seseorang berpakaian serba putih sudah berdiri disampingku. Aku mengamati sekitar, aku berada di ruangan dengan nuansa putih juga, apa aku berada di surga? Ah tidak, manusia sepertiku tak pantas berada disana. Bau antibiotik menyeruak masuk dalam indera penciumanku, benar ini ruangan rumah sakit aku menghela napas lega menyadarinya.

 

“Han Yoora, kamu sudah bangun?” tanya seseorang yang sedari tadi masih berdiri disampingku. Tunggu, apa ini benar-benar di surga? Makhluk setampan ini menanyaiku? Apa dia malaikat? Apa aku sudah mati? Ribuan tanya tanpa antri menyerbu pikiranku.

“Kamu malaikat? Papan itu, daftar dosaku?” tanyaku tiba-tiba. Makhluk tampan itu terkekeh dan dengan cepat menggelengkan kepalanya. Aku masih menikmati tiap lekuk garis wajahnya, terbentuk tegas dan sempurna. Lesung pipinya mampu membuatku tak berkedip menatapnya.

 

“Saya Park Nam Zuu dokter yang akan menangani sakitmu,” dokter tampan itu tersenyum lagi dan seperti magnet yang menarik besi, melihat senyumnya aku pun ikut tersenyum.

 

Sakit? Ah iya, HIV berhasil menyerang dan menghancurkan sel CD4-ku yang seharusnya melawan infeksi sistem kekebalan tubuh. Sudah 1 tahun sejak aku jadi pencuri dan pecandu narkoba, aku didiagnosa positif terkena AIDS. Aku menjalani terapi ART (Antiretroviral) diam-diam, memang ini tidak bisa menyebuhkan tapi bisa membantuku bertahan hidup lebih lama. Aku merasakan ini seperti karma yang mengutuk hidupku yang sudah kuhabiskan dengan segala hal yang buruk dan bodoh, tapi menjadi pencuri tetap kulalukan sebab aku punya kebutuhan baru lagi, biaya untuk terapi dan sudah 4 tahun sejak di penjara aku semakin lemah karena tak bisa menjalani terapi dan ini memperburuk keadaan.

 

“Jangan terlalu capek dan banyak pikiran, tadi kamu pingsan di jalan untung masih ada orang baik membawamu kesini,” ucapnya sambil memeriksa kantong infusku.

 

“Dokter tahu sakit saya?” tanyaku penuh kecemasan.

 

“Kamu udah 2 hari nggak sadar dan hasil test darah baru saja keluar, kamu positif AIDS dan untuk terapi sudah sangat terlambat,” ia mengelus pundakku dan tersenyum.

 

“Iya, saya tahu dan itu adalah kutukan untuk hidup saya yang penuh dosa,” jawabku lirih.

 

***

Semakin hari aku semakin dekat dengan dokter muda nan tampan itu, menghabiskan masa terapiku 3 minggu yang harus kujalani karena kondisi tubuhku yang mulai mudah lelah. Entah apa yang membuatku memberikannya sebuah kepercayaan yang luar biasa, aku menceritakan kehidupan kelamku, kehidupan yang sudah hampir kukubur hidup-hidup kini kugali lagi. Dia mendengarkan tanpa menghakimiku dan menerima semua alasanku. Puncak dari tangis ini adalah rasa rindu pada Ibu, aku ingin sebelum mati meminta maaf padanya dan sebuah tawaran menakjubkan aku terima, Nam Zuu menawarkan diri untuk membantu mencari Ibu dan aku mengangguk mantap.

 

***

 

“Yoora, minggu ini aku ada jadwal operasi mendadak, kita ke Seoulnya diundur dua hari setelah operasi gimana, nggak apa-apa?” ia bertumpu pada lututnya mencoba menyamai pandanganku yang terduduk di bangku taman rumah sakit ini.

 

“Hmm.. Arasseo,” jawabku dengan sedikit senyum yang kupaksakan.

 

Gomawo, nanti sampai di Seoul aku ajak ke Lotte World naik bianglala, mau?” dia kembali dengan senyum yang tak bisa ku bohongi keindahannya.

 

Aku hanya mengangguk, bukan balasan perkataan lagi yang kuterima namun sebuah kecupan lembut berhasil mendarat di keningku dan berakhir dengan senyumnya yang mematikan. Sialnya pipiku kini merona karena malu.

 

***

 

Bibirku menciptakan garis kurva yang lebar, kaca mobil sengaja kubuka dan angin dengan cepat menyentuh wajahku, aku memilih memejam dan menikmatinya dengan senyum yang sedari tadi masih bertengger di bibirku.

 

Tanpa basa-basi, tiba di Lotte World aku langsung berlari menyeretnya menuju bianglala meski sesekali ia melarangku berlari tapi kuabaikan. Antrian mengular di loket wahana tersebut dan kini tiba giliranku, aku masuk di keranjang berwarna orange dengan sedikit variasi biru dan kuning. Dia mendekapku dan diam dalam putaran bianglala yang kita nikmati, kini kita sudah berada di puncak bianglala aku melepas dekapannya dan memilih maju pada sandaran jendela yang memperlihatkan pemandangan kota Seoul dari sini, tapi tiba-tiba ada sesuatu yang mengalir dari hidungku, aku mencoba memeriksa dan kudapati darah sudah mengalir segar dari hidung mungil ini, aku mencoba menyekanya dengan syal yang menggantung di leherku dan melihat gerak-gerikku yang mencurigakan Nam Zuu mencoba menarik wajahku menghadapnya dan melihat itu dia mulai panik.

 

“Minum obat dulu, ya,” ucapnya dan bergegas mencari obat dalam tasnya, aku menarik tangannya dan menggeleng menolak.

 

“Kamu harus sembuh, kamu nggak mau hidup lebih lama bersamaku?” serunya, matanya menusuk tajam menatapku, ada kilatan air mata yang mulai merembas di matanya.

 

“Nam Zuu, aku sudah lelah aku nggak kuat, banyak wanita yang jauh lebih dan lebih baik dari aku yang menyanyangimu, aku..” dia memotong kalimatku.

 

“Tapi aku cuma sayang kamu, Yoora. Kamu harus kuat, tujuan kamu kesini buat nyari Ibu, kamu harus sehat saat bertemu Ibu nanti, kamu mau Ibu tambah sedih ngeliat anaknya ini menghampirinya dengan wajah pucat dan mata sayu seperti ini?” tegasnya. Aku menggeleng dan menerima obat yang diberikannya.

 

Setelah turun dari bianglala, Nam Zuu langsung membawaku keluar dari Lotte World dia mengemudikan sedannya menuju pasar tradisional terbesar di Seoul untuk mencari Ibu, ia tak ingin membuang-buang waktu.

 

“Udah kamu istirahat aja, tidur. Jendelanya nggak usah dibuka, polusi. Kamu sih tadi pakai mangap-mangap segala, kumannya masuk semuakan jadinya,” protes Nam Zuu.

 

“Siap, kapten,” balasku memberi hormat. Ia kembali tersenyum dan mengelus surai kehitamannku.

 

***

 

Ini hari ketiga di Seoul dan aku belum menemukan Ibu, aku lelah, sedih dan hampir putus asa tapi Nam Zuu masih tetap semangat mencarinya.

“Mau es krim?” tanya Nam Zuu padaku yang masih bersandar pada tiang listrik dengan selembaran foto Ibu dan kedua saudariku yang kudekap. Aku hanya mengangguk mau.

 

“Tunggu disini, jangan kemana-mana nanti ilang,” ucapnya kemudian pergi meninggalkanku.

 

Aku melihat punggungnya yang semakin jauh meninggalkanku dan dari arah berlawanan segerombolan remaja berjalan melewatiku, aku bergegas membagi selembaran ini mungkin saja salah satu dari mereka mengenali saudariku. Aku tak begitu memperhatikan wajahnya satu persatu, namun ada harap yang begitu besar saat mereka pergi membawa selembaran itu.

 

Chogiyo?” sapa seorang gadis dengan setelan kaos kuning dan rok selutut padaku.

 

Ne,” aku menoleh, melihatnya membawa totebag yang dijinjing dan sebelah tangannya memegang kertas yang terpampang jelas ilustrasi wajahnya.

 

Eonni, naneun Yuzi,” ia menyerahkan kertas itu padaku, alih-alih menerimanya aku langsung memeluknya dan menangis haru dalam pelukan masing-masing.

 

Tepat pukul 6 sore, kami tiba disebuah perumahan sedehana tepatnya di Jung-gu. Sebuah ruangan dua petak yang menampung mereka bertiga ini cukup bersih, foto wisuda kedua saudariku terpajang dengan senyum manis mereka, sedikit nelangsa karena tak ada satupun sesuatu tentangku disini. Aku masih sibuk meneliti tiap sudut isi ruangan utama ini dan figura berukuran 4R berdiri tegak di sana dan menarik minatku mendekatinya. Sebuah ruangan kecil berukuran 1,5 M x 2 M ini menyimpan fotoku dengan seorang wanita setengah baya tersenyum lebar menggendongku, kini haru kembali menyelimuti hatiku, jelas ini kamar ibu.

 

“Yoora,”

 

Aku menoleh, Ibu sudah berdiri di depan pintu kamar ini dengan wajah kaget, aku berlari dan mencium kakinya meminta maaf untuk semua kesalahan yang menyakiti Ibu selama ini, aku menangis sejadi-jadinya Ibu ikut terduduk, menarik tubuhku untuk kembali tegap menatapnya.

 

“Yoora nggak salah, hanya saja Ibu nggak bisa memahamimu. Ibu minta maaf telah menempatkanmu dalam keadaan yang sangat sulit dikeluarga kita,” ucap Ibu masih dengan linangan air mata menatapku.

 

“Yoora minta maaf, Yoora salah banyak sama Ibu, Yoora sudah mencoreng nama baik Ibu dan keluarga kita, Yoora…” aku tak bisa lagi meneruskan kalimat ini, dadaku sudah sesak aku memeluk Ibu dan menangis dalam dekapan tangan yang masih sama hangatnya saat memelukku. Kulepaskan pelukan ini kemudian menatapnya yang juga menagis, kuusap air matanya dan tersenyum lirih.

 

“Yoora janji selama sisa hidup Yoora, Yoora nggak akan bikin Ibu kecewa lagi,” seketika tubuh ini terasa berat yang kudengar terakhir kali hanya teriakan Ibu yang meminta tolong dan bayangan Nam Zuu juga kedua saudariku yang berlari menghampiri kami sebelum semuanya berubah gelap.

 

***

 

Saat aku membuka mata, Ibu duduk di sampingku menatapku dan menggenggam erat tangan ini. Baru kali ini saat aku kembali sadar aku tersenyum, mereka kini ada disampingku Ibu, Yuzi, Hana, dan Nam Zuu mereka hadir saat aku mulai putus asa akan jalan hidupku yang berantakan, mereka seperti cahaya yang kembali menerangi hidupku yang telah sekian lama tertutup asap pekat yang menyesakkan.

 

Aku percaya bahwa setiap hari ada keajaiban yang dapat mengubah hidupmu meski itu kecil, namun akan sangat berdampak baik pada masa depanmu nanti. Aku tak bisa bayangkan jika saat itu aku benar-benar putus asa dan kemudian tak bertemu Yuzi, aku tak bisa bayangkan jika dokter yang menanganiku saat itu bukan Nam Zuu dan yang terpenting aku sudah bisa melihat mereka tersenyum menatapku dan meminta maaf atas keburukan dan kesalahanku selama ini, itu sangat membuat sisa hidupku berharga. Aku sudah mewujudkan salah satu dari ratusan keajaibanku saat ini dan aku percaya everyday is miracle.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s