[#EXOFFIMVT2019] A WHOLE NEW WORLD – Leavendouxr

A WHOLE NEW WORLD

.

Scriptwriter: Leavendouxr

Cast(s): Im Juyeon, Jung Dayoung [OCs]

Genre: half-romance

Rated: T

Duration: Oneshot (1951 words)

.

 

Mereka duduk berhadapan; bertukar cerita mengenai dunia sementara mereka membentuk dunia bersama.

 

 

.

 

 

“Bagaimana dengan Marrakesh?”

 

Timbunan kenangan menyeruak seolah meminta kembali diingat; meminta kembali diulang dengan sekali kedip mata. Jajaran foto polaroid yang masih memenuhi dinding, sisa fail lunak yang berdebu dalam memori kamera, cap pada paspor dan stiker-stiker perjalanan yang ditempel hingga penuh pada permukaan koper. Im Juyeon pikir bahwa seumur hidupnya ia tidak akan bisa menyimpulkan jawaban dari pertanyaan seperti; bagaimana kau menjadi seorang pelancong? Terlalu banyak jawaban masuk akal hingga ia tidak bisa memutuskan satu jawaban pasti yang akurat.

 

Saat ia mulai berpindah dari satu kota ke kota lain, satu negara ke satu negara lain menjauhi kota kelahirannya, pertanyaan pun mulai berganti; bagaimana iklim di negara itu? Bagaimana dengan transportasinya? Bagaimana dengan musim seminya? Di mana kau menginap? Kota apa saja yang kau datangi? Dan apakah kau akan berhenti?

 

Juyeon punya semua jawaban, tidak terkecuali untuk pertanyaan terakhir. Ia tidak akan berhenti―hati, pikiran, suara dan tenaganya menyahut selaras. Ia memang tidak akan berhenti, tapi seharusnya ia memperhitungkan bahwa setiap manusia tidak selalu hidup dalam keberuntungan.

 

“Apa kau mendengarku?”

 

Ia timbul lebih dulu mengikuti teguran dari teman duduknya. Suara bisik lembaran kertas dan buku-buku yang digeser telah menjadi rutinitasnya. Begitu juga dengan eksistensi gadis yang selalu mengisi kursi di hadapannya, mengajaknya berkisah mengenai puluhan perjalanan yang dilakoni. Gadis itu merupakan pegawai perpustakaan yang bekerja dengan shift. Baru-baru ini ia meninggalkan waktu santai seusai shiftnya berakhir dan malah memilih duduk menemani Juyeon―menagih cerita, tentu saja. Nametag yang masih gadis itu kenakan bergerak mengikuti gestur tubuh yang sedang mencoba menyadarkan lamunan Juyeon.

 

Tertulis namanya; ‘Jung Dayoung’.

 

Juyeon menggali lebih dalam memorinya, menyibak lembaran kota untuk menemukan destinasi yang menjadi salah satu kesenangannya, “Lorong-lorong terakota,” ia menyahut kemudian. Dayoung menopang dagunya dengan semangat, “mereka memiliki keindahan yang mencolok melalui lorong-lorong terakota yang seperti tidak ada ujungnya. Aku berputar-putar di Medina, itu seperti gang sempit dan pasar.”

 

Souk?[1]

 

“Iya, pertokoan. Aku membeli beberapa barang. Banyak sekali bumbu masak, keramik dan barang-barang antik. Kudengar memang Medina memiliki nilai historis yang tinggi. Dan kau mau tahu sesuatu yang unik?” gadis di hadapannya berseru antusias ‘ya’ berulang kali hingga Juyeon hampir lupa ingin mengatakan apa, “mereka berteriak dan mencoba menebak dari mana asal turis yang mampir ke dagangan mereka. Mereka menebak aku dari Asia, ada juga yang menyebut Eropa.”

 

Im Juyeon diberkati dengan darah kota Florence mengalir beriringan bersama garis kokoh Asia Timur yang membuat mata sipitnya nyaris sebiru langit, kulit pucat dengan bentuk wajah oriental dan rambut cokelat. Akulturasi Asia dan Eropa yang begitu memesona. “Well, kau memang berdarah Asia dan Eropa. Dan kau menginap di riad[2], ‘kan?”

 

“Tentu saja. Inilah bagian wajibnya. Marrakesh memiliki banyak riad. Riad yang kutempati sangat indah dan nyaman. Dinding-dindingnya berhias keramik yang kutemukan di pasar, warnanya biru dan hijau. Di sana mereka memberiku tajine[3], juga kebab.”

 

Dayoung menggeser tumpukan buku, memandang Juyeon dengar binar yang berbeda, kemudian ia terkekeh pelan, “Aku mendengar banyak hal tentang Marrakesh, tapi baru kali ini melihat seseorang menceritakan perjalanannya dengan sangat datar. Kau lucu sekali.”

 

Bercerita adalah salah satu kesenangannya semenjak ia mulai berkelana. Banyak sekali hal yang bisa ia ulang kepada orang lain seolah mereka merasakan perjalanannya bersama. Satu waktu, Juyeon pernah sangat bersemangat membagi kisahnya. Ketika ia memutar melalui ingatan, perasaan ingin kembali menjelajah langsung memenuhi dada. Namun beberapa waktu belakangan, ia tidak terlalu berminat membuka pengalamannya (atau memang sebenarnya ia sedang menghindari perasaan yang mungkin saja bisa timbul).

 

Pamflet perjalanan ke Yordania menyembul dari balik buku wisata yang baru di angkat Dayoung, seketika gadis itu berseru kecil, “Hei, bagaimana dengan Yordania?”

 

Jung Dayoung mengenal dunia luar melalui penuturan sang ayah dan buku-buku perjanan wisata yang baru ia dapatkan setelah bekerja di perpustakaan. Buku adalah jendela dunianya, tapi ia berpikir bahwa ia tidak bisa terus-menerus melihat keindahan melalui jendela.

 

Pada menit ini ia menyadari bahwa ia kembali mengenal dunia melalui buku dan cerita orang lain. Cerita Im Juyeon yang setiap detiknya selalu ia dengarkan; ia bayangkan sementara kedua matanya fokus pada figur di hadapannya yang bercerita tanpa energi.

 

“Jika kau menyebut Yordania, satu hal yang akan muncul adalah Petra. Dan kau tidak akan melupakan satu tempat lagi―Wadi Rum. Datanglah, Yordania memiliki tangan-tangan hangat seperti cahaya matahari pagi.”

 

“Aku tahu Petra. Tapi belum pernah mencari informasi tentang Wadi Rum. Itu seperti apa?”

 

Juyeon mengingat sejemang, hamparan pasir panas dari arah manapun mata memandang mulai berkelebat di benak. Roda-roda jip yang melindas batuan, pasir halus yang menabrak kulit, sinar matahari yang seolah berada satu jengkal di atas kepala. Ketika ia melanjutkan, suaranya bergetar karena rasa rindu yang membuncah, “Seperti surga yang turun di atas gurun pasir.”

 

Gadis itu memerhatikan paras yang berada lurus di depannya. Setiap gerakan yang dibuat oleh Juyeon, setiap suara yang ditimbulkan, setiap hembusan napas, setiap detil yang berubah darinya tidak pernah luput dari perhatian Dayoung. Ia melihat perubahan sikap yang ditunjukkan Juyeon setelah beberapa kali mereka bertemu dan semuanya ke arah positif. Hanya saja, kadang kala, Juyeon bercerita dengan wajah super datar. Ini bagian lucunya.

 

Pertemuan mereka terbilang biasa saja. Di awali dengan perpustakaan, mereka menjalin hubungan platonik yang sederhana. Tidak ada pembicaraan lain yang mewarnai pertemuan mereka selain cerita-cerita perjalanan yang dilakoni Juyeon. Ada kalanya Dayoung yang bercerita, tentang masa kecilnya, bagaimana ia mengetahui tempat-tempat yang menarik namun belum pernah datang berkunjung.

 

“Bagaimana dengan Australia?”

 

Juyeon tersenyum kecil, mengangguk perlahan, “Tempat apa yang ingin kau ketahui?”

 

“Lembah Yarra,” tanpa sadar ia mencari buku destinasi Australia di atas meja, namun tidak menemukan. Barangkali lupa sudah kembali dibereskan ke dalam rak. “Kudengar itu daerah pedesaan di tepi kota. Sangat indah. Dan ada kebun binatangnya.”

 

Yarra Valley. Juyeon lupa kapan ia berkunjung ke sana, yang tersisa di ingatannya bagaimana alam seolah bersenda-gurau di bawah langit biru Lembah Yarra. Garis pedesaan dengan jalan menanjak dan hawa dingin, pemandangan padang rumput luas, kebun buah Rayner dan Healesville Sanctuary. Ia tersenyum konyol, “Seperti pedesaan pada umunya. Di sana cukup dingin. Dan menurutku yang menarik adalah anggurnya. Lembah Yarra memiliki tempat pembuatan anggur, teh, dan cokelat. Juga Healesville Sanctuary, kebun binatangnya.”

 

“Ups, tunggu, aku melihat wajahmu berseri-seri. Aku yakin ada sesuatu yang lebih menarik dari pada anggur. Wanita, hm?” Dayoung menggoda, Juyeon salah tingkah.

 

Sudah bukan rahasia lagi (atau lebih tepatnya Juyeon keceplosan bercerita) saat ia menetap di suatu tempat untuk jangka waktu tertentu, ia mudah sekali jatuh cinta dengan gadis-gadis lokal. Dan pesona yang dimiliki Im Juyeon mampu membuat gadis-gadis ‘jatuh terjerembab’.

 

Barangkali Dayoung telah jatuh, tapi tidak ingin mengaku.

 

“Anak pemilik kebun buahnya cantik sekali. Namanya Everret. Tapi, yah, ternyata dia baru saja menikah.”

 

Dayoung menutup mulutnya, menahan tawa. Lebih dari satu menit. Juyeon menahan jengkel.

 

Well, bisa kita lanjutkan?”

 

“Hei, aku baru saja ingin menggodamu.”

 

“Mari mulai dengan sesuatu di benua Eropa.”

 

Gadis itu mengetuk meja dengan ujung kuku. Menurut perhitungannya, tatap muka hari ini merupakan pertemuan ke delapan mereka; dengan tiga kali pertemuan yang dihiaskan kecanggungan, ketegangan dan Juyeon yang lebih banyak diam―seperti sedang mengawas ujian pengawai negeri, sementara Dayoung harus kuat-kuat menahan kacang dari si pria.

 

Pada hari di mana mereka bertemu, Juyeon begitu keras. Seolah ia benar-benar pernah menjadi orang yang bahagia di satu waktu, kemudian terhempaskan menjadi orang paling menyedihkan di kemudian waktu. Gerakannya selalu meleset, mengambil buku secara acak dan tergesa kembali ke tempatnya hanya untuk membongkar lembaran. Entah untuk apa, entah mencari apa. Selang beberapa lama ia terpaku, kadang kala melamun ke arah mana saja, seolah menitip kerinduan pada sesuatu yang tidak bisa ia dapatkan. Dan Dayoung mengerti bahwa Juyeon tidak mudah didekati.

 

Di pertemuan ketiga mereka, saat Dayoung menegurnya untuk pulang karena perpustakaan telah sepi dan harus tutup, Juyeon berdiri dengan kasar. Menggebrak meja. Menggeser bukunya marah. Dayoung berkelit dengan mudah, baru benar-benar bisa menyentuh bahu lebar Juyeon ketika pria itu menjadi tenang dan menangis tanpa sadar.

 

Wajah gadis itu melunak mendengar Juyeon meminta untuk melanjutkan pembicaraan mereka, maka dengan senyum tulus penuh kehati-hatian, Dayoung menjawab, “Florence. Ceritakan padaku tentang Florence atau Firenze.”

 

Juyeon tidak menyembunyikan rasa senang, cenderung merasa begitu rindu ketika ia mulai bercerita sembari membayangkan kota tempat ibunya dilahirkan, “Piazza Della Repubblica. Alun-alun kota yang dulunya wilayah ghetto[4] tapi kemudian menjadi sangat hidup. Dengar-dengar, dulu di sana pernah menjadi tempat berdirinya sebuah kuil pemujaan zaman Romawi. Ada tempat yang aku suka di sana. Caffè Donnini 1984.

 

“Lalu tempat apa lagi yang kau sukai?”

 

“Aku suka semua tentang Florence. Palazzo Vecchio, Basilica Santa Maria Novella, Duomo Di Firenze, Piazalle Michelangelo. Masih banyak lagi.”

 

“Kau ingin kembali ke sana?”

 

Im Juyeon selalu memiliki jawaban atas segala pertanyaan. Meski ia sadar bahwa Dayoung melempar pertanyaan retoris, tapi Juyeon akan tetap menjawab. Setiap kenangan selalu minta terulang. Ia bisa dengan senang hati mengabulkan keinginan dalam dirinya. Namun untuk kali ini, ia tidak bisa.

 

“Aku ingin. Tapi tidak akan bisa.”

 

Di pertemuan ketiga mereka, ketika jam dinding mulai terarah lurus pada pukul lima sore yang seharusnya Dayoung sudah selesai beberes perpustakaan dan menguncinya, mereka justru terlibat dalam obrolan yang sama sekali tidak pernah Dayoung sangka. Perpustakaan tampak gaduh, buku berserakan. Dan tersangka pembuat porak-poranda, beringsut sembari menundukkan wajahnya.

 

Enam bulan lalu, ketika pendakian di tebing memanggil namanya, Juyeon turut serta. Ketika salah satu pijakannya rompal, Juyeon tahu bahwa ia dan teman-temannya telah salah mengebor tebing. Ia bahkan lupa bahwa ini bukan cara yang baik. Ia nyaris sampai, mencoba menggapai sebuah batu yang tidak jauh di atas kepala, ia lagi-lagi lupa bahwa salah satu temannya sempat mengebor titik yang tidak jauh dari sana. Titik batuan yang tidak cukup kuat untuk menahan pegangannya.

 

Batuan dalam tangannya longsor. Roboh bersama kerikil batu tebing berujung runcing yang langsung tertuju padanya. Darah menyiprat. Juyeon kehilangan kendali seusai berteriak sangat keras. Pijakannya terlepas, tubuhnya bergelayut terbawa tali yang melilit pinggang hingga menubruk sisi tebing yang lain. Ia selamat.

 

Kedua matanya tidak. Pecahan batu tebing mengambil penglihatannya.

 

Semua itu merubah Juyeon, tapi tidak pernah membuatnya membenci perjalanan. Malah satu waktu, ia menceritakan keindahan pegunungan Aladaglar dengan garis senyum tulus. Kali ini Juyeon membisu cukup lama. Bagi seorang pelancong, yang biasa menguliti budaya tiap wilayah melalui indera, Juyeon merasa ini pukulan telak.

 

“Im Juyeon, jika kau diberikan satu permintaan, apa yang ingin kau wujudkan?”

 

Ekspresinya tidak berubah. Cenderung berpikir; tidak terlalu fokus, tidak terlalu lengah. Hanya sedikit kosong. Barang kali menyusun isi pikiran; ingin menjawab apa, ingin meminta apa. Ia memulai dengan nada yang tenang, “Aku ingin memiliki kesempatan. Aku menghabiskan banyak waktu untuk memandangi garis wajah kota-kota lain hingga lupa di mana aku memulai hidup. Melalui kebutaan, aku kembali pada kotaku. Negaraku. Dan di sinilah aku―di Seoul-ku.”

 

Ia berhenti hanya untuk menarik napas, gugup sekali, “Apa kautahu? Setiap hari rasanya seperti keajaiban. Aku bahkan tidak berpikir untuk tetap bisa menceritakan perjalananku setelah apa yang terjadi.”

 

Jantungnya berdebar keras. Inilah yang ia tunggu-tunggu. Inilah yang beberapa waktu belakangan mengusik hatinya, “Tidak ada yang bisa kupikirkan selain datang kemari, duduk dan mengabulkan permintaanmu. Aku senang bisa bertemu denganmu. Juga selalu memikirkan; betapa menyenangkan jika bisa pergi bersamamu.”

 

Terdengar sangat tulus. Hangat, menyentuh relung hati. Saling melepas senyum, Dayoung dengan senang hati menunjukkan letak jemarinya pada Juyeon yang meraba meja; mencari pasangannya. Jemari bertaut, napas lega terbuang dan rona merah menjalar.

 

“Mari ikut bersamaku mengelilingi Korea Selatan sebanyak lima puluh kali setelah aku mendapat kesempatanku nanti.”

 

Dayoung mengetatkan genggaman, memanjat doa dalam bisu. Tanpa mereka sadari, mereka duduk berhadapan; bertukar cerita mengenai dunia sementara mereka membentuk dunia baru. Bersama.

.

.

-fin.

[1] Pertokoan.

[2] Rumah tradisional yang diubah menjadi penginapan dan dikelola oleh penduduk lokal.

[3] Makanan khas Berber dengan bahan utama daging yang dimasak dalam pot tanah liat selama 4 jam.

[4] Wilayah kumuh yang biasanya menjadi tempat pelacuran, dll.[#EXOFFIMVT2019]

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s