[#EXOFFIMVT2019] Seratus Hari Menjadi Pembohong – Ulfa Zulia

Seratus Hari Menjadi Pembohong

Ulfa Zulia

 

Sudah hampir pukul setengah delapan. Aku menyambar tas hitamku yang tampak menggembung, berharap kakek tidak menyadarinya. Lalu cepat-cepat memakai sepatu dan mengambil mantel musim dingin. “Kakek, aku pergi sekolah dulu. Kakek baik-baik di rumah, ya,” pesanku kepada kakek yang sedang menonton acara televisi pagi hari kesukaannya. Layar televisi kami yang sudah buram menampilkan tayangan tentang proses penyelamatan hewan-hewan yang butuh pertolongan. Aku menutup pintu, kemudian bergegas pergi.

Hari ini cuaca di distrik Dong, salah satu distrik di kota Daejeon, terasa sangat dingin. Aku berjalan terus kearah utara. Menyusuri jalan semen yang lebarnya hanya satu meter. Setelah memastikan bahwa aku sudah berada agak jauh dari rumah, aku membuka tas dan mengambil beberapa pakaian. Ini bukan pakaian tambahan yang aku persiapkan untuk menahan rasa dingin, tetapi ini adalah pakaian yang sebenarnya akan aku pakai pada hari ini. Sebuah hoodie abu-abu kusam dan celana panjang hitam. Aku langsung mengenakan pakaian itu tanpa melepas seragam sekolahku dan kembali mengenakan mantel.

Sebelum aku menuju ke tempat tujuanku yang sebenarnya, aku singgah terlebih dahulu disebuah sekolah, yaitu Daejeon Dongsin Science High School. Salah satu sekolah menengah atas di kota Daejeon. Sebenarnya bukan singgah, aku hanya akan berdiri tak jauh dari gerbang sekolah itu dan sekedar mengamati para siswa-siswi yang tengah bergegas masuk ke dalam area sekolah.

“Yaaa! Ji Sangwoo!” Seseorang memanggil namaku sesaat aku hendak melangkah pergi. Dia berlari kearahku. Aku menghentikan langkah dan diam menunggunya. “Sangwoo! Sedang libur hari ini?” tanya Lee Jae Hyun sambil membetulkan letak tasnya yang agak miring. Nafasnya terengah-engah karena habis berlari. “Aku tidak libur,” jawabku. Aku melihat jam di dinding sekolah, sudah pukul tujuh lewat lima puluh menit, sepuluh menit lagi aku sudah harus sampai. “Jae Hyun, aku duluan. Nanti aku terlambat,” lanjutku. Aku sungguh tidak ingin terlambat.

“Oke, Jum’at ini seperti biasa, jam lima sore di halte bus yang biasa itu, yaa.” Jae Hyun mengingatkan. Sebenarnya aku tidak perlu diingatkan, karena aku akan selalu ingat. “Ya, tunggu saja aku disana. Aku pergi dulu.” Aku melanjutkan perjalanan.

Annyeonghaseo, Ahjumma[1],” ucapku kepada seorang wanita yang aku jumpai pertama kali di tempat tujuanku. Dia adalah Bibi Shin, pemilik toko tempat aku bekerja.

Annyeonghaseo anakku, Sangwoo-ya.” Bibi membalas salamku sambil tersenyum lebar, kemudian aku bergegas masuk ke dalam toko, melepas mantel dan langsung mengambil posisi di belakang mesin kasir. Benar, ini adalah tempat tujuanku yang sebenarnya. Lalu untuk apa aku memakai seragam sekolah ini? Aku memakai ini agar kakek percaya bahwa aku pergi bersekolah.

Tidak, jangan berpikir yang aneh-aneh dulu. Aku bukan seorang anak bandel yang sedang bolos sekolah. Aku sungguh sangat ingin bersekolah. Hanya saja, sejak kedua orangtuaku bercerai setahun yang lalu dan pergi meninggalkanku beserta kakek, mau tidak mau akulah yang harus bekerja untuk mendapatkan uang. Dan juga, kakek terkena tuberkulosis sejak berbulan-bulan yang lalu dan pengobatannya membutuhkan biaya.

Seragam sekolah ini kudapatkan dari Bibi Shin. Saat itu, pada tujuh Januari−hari ulang tahunku, aku melihat Bibi Shin sedang mengemas sebuah kotak, setelah kutanya apa isinya, ternyata adalah seragam sekolah dan buku-buku pelajaran anaknya saat SMA dulu, entah mengapa saat itu aku langsung bertanya apakah aku boleh memilikinya. Bibi Shin tidak bertanya apapun dan langsung memberikan kotak itu kepadaku. Aku merasa sangat senang. Setidaknya aku bisa belajar melalui buku-buku ini.

Aku ingat sekali saat aku menunjukkan seragam-seragam itu kepada kakek, kakek begitu terharu dan mengatakan bahwa aku harus bersekolah dengan baik. Padahal aku belum mengatakan apa-apa. Kemudian aku tersadar, sepertinya aku melakukan sesuatu yang salah, seharusnya aku tidak menunjukkan seragam-seragam itu. Kakek mungkin berpikir ada orang yang bersedia membiayai sekolahku, entah siapapun itu. Kakek bahkan berencana untuk bekerja di kebun tetangga demi mencukupi kebutuhan sehari-hari karena kakek tahu tentunya aku tidak bisa bekerja jika harus bersekolah. Aku menolak keras keinginan itu dan langsung mengatakan bahwa jam sekolahku hanya sampai siang hari dan kemudian setelah itu aku akan bekerja di toko Bibi Shin. Untungnya, kakek langsung percaya.

Akhirnya, setiap pagi aku terpaksa mengenakan seragam sekolah tersebut yang kebetulan ukurannya cocok denganku. Sesungguhnya aku ingin sekali mengatakan hal yang sebenarnya kepada kakek, namun disisi lain aku tidak sanggup menerima tatapan kekecewaan setelah menyaksikan betapa bahagianya kakek saat mengetahui bahwa aku akan bersekolah kembali.

Aku bekerja dari jam delapan pagi hingga jam setengah lima sore. Upahnya tidak banyak, namun cukup untuk membiayai kebutuhan kami sehari-hari serta untuk membayar obat-obatan kakek, terkadang aku menyisihkan beberapa ribu won untuk ku tabung.

Tidak terasa jam kerjaku sudah berakhir, aku merapikan meja kasir dan berpamitan dengan bibi. Lalu bergegas menuju halte tempat aku dan Jae Hyun berjanji akan bertemu. Ternyata Jae Hyun sudah berada disana.

“Sudah lama?” tanyaku. Jae Hyun menggeleng. “Aku sudah mencatat semua yang ada di papan tulis dengan baik, khusus untuk kau pelajari. Seperti biasa, nanti ajari aku. Hehe.” Jae Hyun menyodorkan buku catatan matematika miliknya. Aku membukanya, tampaklah tulisan Jae Hyun yang kukenal sejak bertahun-tahun yang lalu.

Kami adalah teman sebaya sejak kecil. Rumah kami berdekatan, namun beberapa tahun kemudian Jae Hyun dan keluarganya memutuskan untuk pindah, namun masih di distrik yang sama. Karena itulah kami masih berteman baik hingga sekarang. Jae Hyun masih melanjutkan sekolah ke tingkat SMA, sedangkan aku tidak. Jae Hyun tahu bahwa aku sangat tertarik dengan matematika, sementara kelemahannya adalah matematika. Jadi, setiap Jum’at sore, kami sepakat untuk selalu bertemu di halte bus ini. Jae Hyun meminjamkan buku catatan matematikanya kepadaku untuk kemudian kupelajari dirumah. Dan saat Minggu pagi, aku akan berkunjung kerumahnya dan mengajarinya.

Bus yang ditunggu Jae Hyun akhirnya tiba. Jae Hyun beranjak. Aku memperhatikan Jae Hyun hingga bus itu membawanya pergi. Sesaat kemudian aku menyadari ada sesuatu berbentuk persegi berwarna ungu persis di bekas tempat kerumunan orang-orang yang akan menaiki bus barusan. Tidak ada siapapun selain aku disini sehingga aku tidak bisa bertanya. Aku berdiri dan mengambil benda persegi itu yang ternyata adalah sebuah dompet. Ada beberapa ratus ribu won disana dan selembar foto hitam putih yang menampilkan sepasang suami istri berusia lanjut. Dilihat dari kondisi lembarannya, sepertinya foto ini sudah berumur cukup lama. Setelah kuperhatikan lagi, terdapat seperti bekas terbakar di bagian pinggir sebelah kanannya. Aku tidak ingin ambil pusing dengan itu.

Tiba-tiba aku merasa sangat ingin mengembalikan dompet ini. Si pemilik dompet pasti sangat membutuhkan uang-uang ini. Karena aku paham bagaimana rasanya tidak memiliki uang. Masalahnya adalah aku benar-benar tidak tahu siapa sang pemilik dompet. Mungkin seorang kakek atau nenek. Akhirnya aku memutuskan untuk pergi ke kantor polisi. Mengapa ke kantor polisi? Aku beranggapan bahwa si pemilik pasti mulai akan bertanya kesana, berharap ada yang menemukan dan mengantarkannya. Aku memilih berjalan kaki karena sedang tidak ingin mengeluarkan uang. Akan cukup melelahkan sepertinya, tetapi membayangkan betapa bahagianya nanti saat si pemilik bisa mendapatkan uangnya kembali sudah cukup membuatku senang.

Dua puluh menit kemudian akhirnya aku sampai di sebuah kantor polisi. Mereka menanyakan maksud kedatanganku, dan aku diarahkan ke sebuah ruangan untuk dimintai keterangan. Saat diminta untuk menunjukkan dompet yang kutemukan, aku agak sedikit panik saat mencarinya di dalam tasku, setelah mengeluarkan seluruh isi tas akhirnya aku menemukannya. Ternyata benda itu berada di dasar tas. Bikin cemas saja. Proses pembuatan keterangan tidak berlangsung lama. Setelah semuanya selesai, aku mengemasi barang-barangku dan bergegas pulang.

Ternyata hari sudah gelap dan turun hujan. Cuaca yang sangat dingin membuat setiap tulangku terasa ngilu, padahal aku sudah memakai pakaian berlapis-lapis. Tiba-tiba aku teringat kakek. Kakek pasti cemas saat menyadari aku belum sampai kerumah, karena biasanya aku sudah berada dirumah sebelum hari gelap. Aku memutuskan untuk berlari menerobos hujan. Kurasakan seluruh pakaianku telah basah.

***

Paginya, aku merasakan seluruh bagian tubuhku terasa sakit. Aku meraba keningku. Panas. Sepertinya aku terkena demam. Hari ini hari Sabtu, untunglah aku libur bekerja pada hari ini dan juga Minggu. Aku sakit selama berhari-hari. Pada hari Minggu Jae Hyun mendatangi rumahku dan bertanya mengapa aku tidak datang kerumahnya pada hari itu untuk mengajarinya matematika. Setelah mengetahui keadaanku, Jae Hyun mengangguk maklum dan meminta izin untuk mengambil kembali buku catatan matematikanya karena dia akan menggunakannya pada hari Senin.

Sudah empat hari aku berada di rumah. Pada saat itu kakek begitu mencemaskanku, merawatku setiap hari, hingga pada hari ke lima aku merasakan badanku sudah kembali segar. Aku terharu atas perhatian kakek.

Siang itu, aku mendengar suara pintu diketuk. Aku menghela nafas, mungkin Bibi Shin yang datang dan ingin memarahiku karena tidak datang untuk bekerja selama berhari-hari. Aku membuka pintu dan langsung mendapati Bibi Shin disana. Aku langsung pasrah. Apakah aku akan diberhentikan mulai hari ini? Entahlah. Kusadari ada orang lain disamping Bibi Shin. Dua orang berwajah ramah dengan pakaian berpotongan bagus. Perkiraanku, usia mereka berkisar sekitar empat puluh tahun. Sepertinya pasangan suami istri.

“Sangwoo-ya! Bibi mencemaskanmu. Bibi menunggumu setiap pagi tetapi kamu tidak kunjung datang. Kamu baik-baik saja?” Bibi menyentuh pundakku. Ekspresinya terlihat cemas.

“Aku tidak apa-apa, Bi. Maafkan aku karena telah membuat bibi cemas. Aku sakit selama beberapa hari,” jawabku. Aku merasa agak sedikit bersalah karena telah membuatnya cemas.

“Begitu rupanya. Kalau bibi tahu, bibi pasti akan menjengukmu, Sangwoo.”

“Tidak apa-apa, Bi. Aku sudah baik-baik saja sekarang,” jawabku sungguh-sungguh.

Bibi Shin melirik dua orang yang ada di sampingnya. “Sangwoo-ya, saat dalam perjalanan kerumahmu, bibi bertemu dengan kedua orang ini, mereka mengatakan ingin bertemu denganmu. Ah, silahkan, ini adalah Sangwoo.” Bibi Shin mempersilahkan kedua orang itu. Aku bingung. Siapa kedua orang ini?

“Perkenalkan, Nak. Saya Hana, dan ini suami saya, Yeon. Kamu ingat dompet ungu yang kamu temukan dan kamu antarkan ke kantor polisi? Itu adalah dompet saya. Kamu pasti sudah melihat isinya, kan?” tanya Nyonya Hana.

 

Aku tertegun, apakah…apakah uang di dalamnya tidak ada?

 

Dia melanjutkan, “Kamu ingat selembar foto yang ada di dalamnya? Itu adalah foto almarhum kedua orangtua saya yang sangat berharga. Ceritanya sangat panjang mengapa lembaran foto tersebut bisa menjadi benda yang sangat berharga bagi saya. Hati saya sempat hancur saat mengetahui bahwa foto itu hilang. Namun, untunglah saya bisa mendapatkan foto itu kembali. Semua ini karena kamu. Terimakasih, Sangwoo.” Suara Nyonya Hana bergetar. Kulihat matanya sedikit berkaca-kaca.

Aku mengangguk dan tersenyum. Senang karena dompet tersebut bisa kembali lagi ke pemiliknya.

Kemudian Nyonya Hana mengeluarkan sesuatu dari dalam tasnya, sebuah buku. Sedetik kemudian aku langsung mengenalinya, itu buku catatanku. Catatan matematikaku. “Buku ini tertinggal di kantor polisi. Mereka berkata ini milikmu. Saya meminta agar bisa membawanya dan menyerahkannya langsung kepadamu sekaligus berterimakasih. Petugas disana memberi kami alamatmu.” Perlahan tangannya menyerahkan buku itu kepadaku. Aku menerimanya dan langsung memeluk buku tersebut sambil merutuki kecerobohanku.

“Kamu ingin berkuliah di KAIST?” Tuan Yeon bertanya. Aku terkejut atas pertanyaan yang tiba-tiba ini. “Bagaimana anda bisa tahu kalau saya ingin berkuliah disana, Tuan?” Tanyaku.

“Maafkan kami, mungkin ini agak sedikit lancang. Kami membaca beberapa tulisan di bagian belakang buku catatan matematikamu, nak.”

Ah, terkadang aku menuliskan tentang mimpi-mimpiku disana. “Tidak apa apa, Tuan,” jawabku. Kemudian hening selama beberapa saat. Kulihat Bibi Shin dan kedua orang itu saling melihat satu sama lain.

“Sangwoo.” Akhirnya Nyonya Hana berkata. ”Apakah kamu ingin bersekolah kembali?”

Apa? Tentu saja. Bisa melanjutkan sekolah adalah mimpiku sejak berbulan-bulan yang lalu. Namun, dengan keadaan seperti ini, tentu saja aku harus mengubur impianku itu untuk sementara.

“Kami bersedia membiayai sekolahmu hingga perguruan tinggi, Sangwoo. Kami harap kamu tidak menolaknya. Ini adalah balasan atas kebaikanmu.”

Aku mematung selama beberapa saat. Berusaha mencerna perkataan Nyonya Hana barusan. Aku tidak salah dengar, kan?

Namun, ada hal yang pertama kali terlintas di benakku.

Jika aku bersekolah, hal yang akan terjadi selanjutnya adalah, aku dan kakek akan kelaparan.

Sambil menguatkan hatiku, akhirnya aku bersuara, “Terimakasih atas tawarannya, Nyonya. Saya sangat menghargainya. Tetapi… sepertinya saya tidak bisa menerima tawaran tersebut, karena−”

“Karena kamu harus bekerja. Benarkan, Sangwoo? Nak, kami sudah mengetahui beberapa hal tentangmu dan kakekmu dari Bibi Shin. Jangan khawatir, Sangwoo. Mengenai biaya hidup sehari-hari, kita bisa mendiskusikannya nanti. Kamu tidak perlu khawatir,” ujar Tuan Yeon.

Itu cukup membuatku lega.

“Bagaimana, Sangwoo?” Nyonya Hana membuyarkan lamunanku.

Inikah saatnya? Aku mengambil nafas panjang.

“Saya mau, Nyonya.”

Wajah keduanya terlihat lega sekaligus senang.

Aku menunduk. Rasanya aku ingin menangis. Percakapan siang ini masih terasa seperti mimpi bagiku.

Aku teringat akan kalender di kamarku yang sudah kusilang angka-angkanya sejak tujuh Januari. Hari ini, tujuh belas April, sepertinya aku tidak akan menyilang kalender lagi. Karena kebohonganku kepada kakek telah berakhir.

[1] Selamat Pagi, Bibi.

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s