[#EXOFFIMVT2019] Say Goodbye – Nindya

Say Goodbye

Ciptaan : Nindya

 

‘Kim Hye Sun’ sebuah nama yang kulihat terukir disebuah batu nisan. Aku menatap langit terlihat gelap, menandakan bahwa hujan akan segera turun. Pandanganku kembali tertuju pada sebuah makam yang masih sangat baru, helaan nafas itu kembali lolos dari mulutku. Tanganku terulur menyentuh batu nisan itu, dengan sangat berhati-hati ku elus pelan batu nisan itu, memperlakukannya seolah yang ku sentuh saat ini adalah kepala seseorang.

“Maaf Hye Sun.” Kalimat maaf terucap beriringan dengan air mata yang jatuh begitu saja dari pelupuk mataku. ‘Aku benar-benar minta maaf…’ Lirihan itu membuatku terisak, rasa sesak dan penyesalan kembali memenuhi  hatiku, sial kejadian demi kejadian itu telah berputar diotak bagaikan sebuah film usang. Ku tatap batu nisan itu dengan sendu, “Apakah ini adalah hukuman yang kau berikan Hye Sun?”

OoO

“Selamat datang ke istana tuan Kim Joo Hyun, jangan lupa aku selalu mencintaimu.”

Joo Hyun tersenyum miris ketika memasuki apartemennya, sebuah bel berupa ucapan selamat datang yang dulu membuatnya sangat bosan, kini membuatnya sadar akan satu hal. Ia telah melakukan kesalahan besar. Joo Hyun mengedarkan pandangan ke seluruh penjuru.

“Joo Hyun, lihatlah aku telah membuatkan omelete kesukaanmu, mari kita makan bersama.” Seorang wanita dengan celemek tengah berdiri dihadapannya, tangannya membawa dua piring berisikan omelete, ketika Joo Hyun akan menyentuh piring itu, wanita itu menghilang begitu saja. Joo Hyun meringis, ia sadar bahwa itu adalah halusinasinya.

“Hhhh” Helaan nafas itu lolos dari bibirnya. Joo Hyun mendudukkan dirinya di sofa, kepalanya terasa berat. Ketika ia ingin menutup mata, telinganya mendengar sayup-sayup suara wanita. “Kim Joo Hyun!” Suaranya terdengar memekik, namun ia enggan membuka matanya. “Hei Kim Joo Hyun!” Wanita itu berteriak kesal, membuat Joo Hyun membuka mata dan ia melihat sosok wanita itu lagi. Wanita itu terlihat menatapnya kesal. “Sudah ku bilang jika habis pergi atau bekerja itu kau harus segera mandi, bukan duduk santai disofa seperti itu.” Gadis itu berujar dengan kesal. “Maaf, aku tak akan melakukannya lagi.” Joo Hyun membalasnya dengan senyuman sendu. “Kau ini selalu saja seperti itu.” Wanita itu berbalik lalu menghilang. Joo Hyun merasakan air matanya telah menetes dari pelupuk matanya. “Aku sangat merindukanmu Kim Hye Sun. Aku berharap, aku dapat bertemu denganmu lagi untuk meminta maaf.” Dalam keheningan, Joo Hyun menangis sendiri dengan rasa bersalah dan rindu yang menyelubungi hatinya, tanpa sadar ia menangis hingga tertidur disofa.

OoO
“Hye Sun.”  Joo Hyun menatap kaget wanita dihadapannya. Hye Sun hanya menatap Joo Hyun dan Ye Ra dengan tersenyum.“Maafkan aku Joo Hyun.”

“Tidak Hye Sun!”  Joo Hyun membuka matanya, ia mengerjapkan matanya. “Aku tertidur disini rupanya.” Joo Hyun bergumam sembari bangun dari posisi tidurnya. “Aishh.” Ia sedikit bergerutu ketika rasa sakit menjalar dipunggungnya, ini pasti akibat dari tertidur disofa. Tangannya terulur mengambil ponsel yang berada dimeja dekatnya. Pukul 07:11 KST. Ia beranjak dari sofa lalu membuka gorden jendela, membiarkan sinar matahari memasuki apartemennya. “Jika Hye Sun tahu aku tidur disofa semalaman, dia pasti akan kembali mengomel.” Joo Hyun terkekeh mengingat bagaimana Hye Sun akan mengomelinya, namun dalam sekejap raut wajahnya berubah, gurat sendu itu kembali tercipta diwajahnya, rasa rindu itu kembali menyapanya.

OoO

25 September 2019, Gereja Young Nak Presbyterian, Seoul.

            Joo Hyun menatap ragu sebuah bangunan gereja dihadapannya. Hatinya dilema apakah ia harus masuk atau tidak, sudah lama sekali ia tidak pernah menginjakkan kakinya pada tempat peribadatannya ini. “Kau tidak ingin masuk?” Joo Hyun sedikit terkejut ketika seseorang menepuk pundaknya dan bertanya seperti itu padanya. Joo Hyun mendapati seorang lelaki paruh baya dengan pakaian yang serba hitam. “Apa kau pastur disini?” Tanyanya. Lelaki paruh baya itu hanya tersenyum sembari mengggelengkan kepalanya. “Aku hanya makhluk ciptaan Tuhan biasa yang ingin berdoa disini, apa kau ingin berdoa bersamaku?” Tawarnya pada Joo Hyun.

“Tapi sudah lama aku tidak pernah berdoa pada Tuhan, apakah Tuhan akan menerima dan mengabulkan doaku?” Joo Hyun menundukkan kepalanya, ia sedikit pesimis. Lelaki paruh baya itu kembali tersenyum, ia menggenggam salah satu tangan Joo Hyun. “Tuhan selalu mendengarkan semua doa dari semua ciptaannya.” Joo Hyun mengangkat kepalanya, menatap lelaki paruh baya. “Benarkah?” Joo Hyun kembali bertanya. “Tentu saja, jadi mari kita berdoa bersama.” Ajak lelaki paruh baya itu, Joo Hyun pun menurutinya. Kakinya membawa ia masuk ke dalam gereja.

OoO

“Ku lihat tadi kau berdoa sangat lama, jika boleh tahu apa yang kau minta pada Tuhan?” Lelaki paruh baya itu datang menghampiri Joo Hyun yang telah selesai berdoa. Joo Hyun tersenyum kecil. “Aku hanya meminta agar aku bisa bertemu sekali lagi dengan mendiang istriku.” “Tapi ku perhatikan kau berdoa selama sejam penuh, apa kau benar-benar ingin bertemu dengannya?” Joo Hyun menganggukan kepalanya, membenarkan pernyataan lelaki paruh baya disebelahnya. “Mengapa kau sangat ingin bertemu dengan seseorang yang telah tiada?”

Joo Hyun menatap lurus dengan lirih. “Aku telah berbuat satu kesalahan yang fatal untuknya, hingga ia meninggal aku belum sempat berkata maaf dan memberitahu bahwa aku sangat mencintainya.” Tanpa sadar, setetes air mata kembali jatuh dari pelupuk matanya. Lelaki paruh baya itu dapat melihat gurat ketulusan dari mata Joo Hyun, lalu ia pun berkata, “Pejamkan matamu.” Perintah lelaki itu. “Apa?” Joo Hyun menatap lelaki itu dengan bingung. “Pejamkan matamu dan jangan tanya mengapa.” Perintahnya dengan tegas. Joo Hyun yang masih bingung hanya bisa diam sembari memejamkan matanya.

OoO

24 September 2019, apartemen Joo Hyun dan Hye Sun

“Aku dimana?” Joo Hyun mengedarkan pandangannya, ini bukan gereja yang ia tempati. Tunggu, bukankah ini adalah apartemennya? Joo Hyun menatap sekeliling dengan bingung, apa yang terjadi padanya? Mengapa ia bisa berada disini? “Aku merindukanmu Joo Hyun.” Lirihan wanita itu membuat Joo Hyun terkejut, ia mengenali suara itu. Kakinya ia langkahkan untuk mencari suara itu, dan benar saja matanya mendapati seorang wanita tengah duduk sembari memeluk bingkai fotonya dengan wanita itu. “Hye Sun…” Joo Hyun menyebutkan nama itu dengan lirih. Hye Sun tampak menangis sembari memeluk erat bingkai foto. Joo Hyun melangkahkan kakinya mendekati Hye Sun, ia berniat untuk memeluk wanitanya.

“Kau hanya dapat menunjukkan dirimu sekali saja.” Sebuah suara yang menginterupsi pendengarannya, membuat Joo Hyun menghentikan langkahnya. Ia membalikkan badannya, dan terlihat lelaki paruh baya yang bersamanya di gereja tadi. Joo Hyun menatapnya bingung. “Paman? Bagaimana kau bisa berada disini? Lalu apa maksudmu aku hanya dapat menunjukkan diriku sekali?” Joo Hyun memborondongi lelaki paruh baya itu dengan segala pertanyaan yang berada diotaknya.

Lelaki paruh baya itu hanya menatap Joo Hyun biasa. “Tuhan mengabulkan permintaanmu.” “Permintaanku?” Joo Hyun semakin bingung. Lelaki paruh baya itu menganggukan kepalanya. “Kau meminta pada Tuhan untuk dapat bertemu dengan mendiang istrimu sekali untuk meminta maaf bukan? Ini adalah saatnya.” Jelas lelaki paruh baya itu. Joo Hyun hanya dapat terdiam termenung, pandangannya kembali ia arahkan ke Hye Sun. Wanita itu menangis tersedu. “Aku membutuhkanmu saat ini Kim Joo Hyun…” Lirih Hye Sun memilukan, membuat hati Joo Hyun semakin sakit, ia tidak tahu bahwa selama ini istrinya menangis seperti ini.

“Lalu apa maksudmu aku hanya dapat menunjukkan diriku sekali saja?” Joo Hyun kembali sadar bahwa pertanyaannya ada yang belum dijawab. “Kau hanya dapat menunjukkan dirimu sekali untuk meminta maaf pada istrimu, namun kau tidak dapat mengubah takdir.” Jelas lelaki paruh baya. “Maksudmu Hye Sun akan tetap meninggal pada hari ini?” Lelaki paruh baya itu kembali menganggukan kepalanya. Joo Hyun hanya terdiam memandangi Hye Sun dengan lirih. “Apa tidak ada cara agar aku dapat menyelamatkannya?” Joo Hyun bertanya tanpa menatap lelaki paruh baya. “Ada satu cara.” Ujarnya. Joo Hyun menatap serius, “Apa itu?” “Kau gantikan Hye Sun untuk meninggal pada hari ini.” Joo Hyun terdiam merenung.

Hye Sun tampak menyeka air matanya, tangannya mengambil ponsel yang berada diatas meja kecil dekatnya. Ia hanya menghela nafas dengan gurat kesedihan diwajah ketika ponselnya tidak menunjukkan notifikasi dari Joo Hyun. Dengan lemas, jarinya mengetikkan sesuatu untuk dikirimkan pada Joo Hyun. ‘Joo Hyun, bisakah kau pulang cepat malam ini? Aku begitu merindukanmu.’ Send. Joo Hyun yang melihat pesan itu hanya bisa menitikkan air matanya, ia begitu menyesal pada saat itu tidak langsung menuruti kemauan Hye Sun.

Hye Sun menatap jam dinding yang berada diruang keluarga. “Hhhh.” Lagi-lagi helaan nafas yang lolos dari bibirnya, sudah dua jam ia menunggu Joo Hyun namun lelaki itu belum menunjukkan dirinya. Ia kembali menghidupkan ponselnya, dan tidak ada satupun balasan dari pesannya. Hye Sun beranjak dari tempatnya, ia berjalan menuju kamarnya, mengambil jaket lalu memakainya. Ia berniat untuk jalan-jalan malam sendiri. Joo Hyun yang terus memperhatikan Hye Sun hanya dapat terdiam, matanya memandang lirih Hye Sun.

Hye Sun berjalan seorang diri menyusuri jalanan Seoul yang masih ramai. Ia hanya tersenyum miris ketika matanya menangkap sepasang lelaki dan wanita berjalan bersama dengan mesra. Ketika ia tengah menyusuri jalan, matanya menangkap sesosok manusia yang tidak asing, ia menghentikan langkahnya, menunggu orang itu berjalan mendekat ke arahnya. “Hahaha kau ini membuatku gemas saja.” Joo Hyun tertawa sembari mencubit gemas Ye Ra, sementara Ye Ra hanya tertawa menanggapi perlakuan Joo Hyun.

Joo Hyun yang masih tertawa kembali menatap lurus, dan langkahnya seketika terhenti ketika matanya menangkap seseorang. “Hye Sun.” Ye Ra yang mendengar ucapan Joo Hyun awalnya merasa bingung, dan ketika ia mengikuti arah pandang Joo Hyun, ia ikut terkejut, reflek Joo Hyun melepaskan tautan tangannya dengan Ye Ra. Kim Hye Sun, wanita itu hanya diam menatap lelaki dihadapannya dengan pandangan memancarkan rasa sakit, sedih, dan kecewa. Ye Ra, teman dekat Joo Hyun semasa SMA. Sementara Ye Ra, wanita yang berada disamping Joo Hyun ikut terkejut, badannya terasa bergetar, ia tidak tahu harus berbuat apa saat ini.

Hye Sun mengukir senyumnya, tidak, itu bukanlah senyum yang baik-baik saja. Hye Sun merasa matanya telah memanas saat ini, namun ia menyakinkan dirinya untuk tidak menunjukkan kelamahannya disini. “Maaf Joo Hyun.” Hye Sun mengatakannya dengan menatap Joo Hyun dalam. Joo Hyun tidak mengerti, mengapa Hye Sun meminta maaf? Bukankah ia yang seharusnya meminta maaf disini? “Maaf karena aku telah gagal menjadi istri untukmu. Aku seharusnya bisa membuatmu bahagia denganku, namun nyatanya aku telah gagal karena kau merasa bosan denganku.” Hye Sun menghela nafasnya sejenak, dadanya semakin sesak, air matanya memaksa ingin keluar dari pelupuk matanya, namun ia menahannya dengan mengepalkan tangannya, membuat kuku-kukunya menancap di telapak tangannya. “Maaf karena kau harus mencari kebahagiaan lain.” Hye Sun mengatakannya dengan sedikit lirih. Tanpa mengucapkan apa-apa lagi, Hye Sun membalikkan badannya dan berjalan cepat menjauh. Joo Hyun dimasa itu hanya dapat terdiam, otaknya terasa buntu, ia tidak tahu harus bagaimana. Sementara sosok Joo Hyun yang sebenarnya, ia berlari mengejar Hye Sun. Hye Sun sudah menangis sejadi-jadinya, ia menutup mulutnya sendiri sembari menyeka air matanya yang terus berjatuhan. Lampu penyebrangan jalan sedang merah saat itu, ketika Hye Sun ingin menyebranginya, Joo Hyun berniat untuk menariknya, namun tiba-tiba lelaki paruh baya itu kembali muncul dihadapannya. “Jika kau yang mengalami kecelakaan saat ini, maka kau akan menggantikan takdir Kim Hye Sun, yang artinya kau akan meninggal.” Ujar lelaki paruh baya mengingatkan. “Aku tidak peduli.” Joo Hyun melewatinya begitu saja, ia bergumam ‘Aku ingin menunjukkan diriku saat ini dihadapan Hye Sun.’

“Hye Sun.” Hye Sun menolehkan kepalanya ketika suara itu memasuki telinganya, ia melihat Joo Hyun tengah berlari ke arahnya, lalu tiba-tiba Joo Hyun mendorong tubuh Hye Sun, membuat wanita itu terjatuh ke pinggir jalan, dan BRAKK. Sebuah mobil menghantam Joo Hyun dengan kencang. “Kim Joo Hyun!” Hye Sun berteriak histeris, orang-orang mulai mengerubungi Joo Hyun. “Joo Hyun.” Hye Sun bersimpuh disamping Joo Hyun, ia memeluk erat Joo Hyun. “Joo Hyun kumohon bertahanlah.” Hye Sun menatap Joo Hyun lirih dengan air matanya yang bercucuran, darah segar itu terus mengalir dari kepala Joo Hyun. Joo Hyun menggenggam tangan Hye Sun, membuat Hye Sun menatapnya dengan lirih. “Kim Hye Sun, maafkan aku. Maaf karena selama pernikahan kita, aku belum bisa membahagiakanmu. Maaf jika aku telah banyak menyakitimu dan membuatmu menangis.” Joo Hyun mengucapkannya dengan sangat lirih. “Tidak Joo Hyun, kau tidak boleh pergi, kau harus tetap bertahan.” Hye Sun masih terus menangis. Joo Hyun menatap Hye Sun lembut. “Ingatlah ini Kim Hye Sun, perihal perubahan sikapku akhir-akhir ini, itu bukan salahmu melainkan itu salahku, jadi jangan pernah menyalahkan dirimu sendiri.” Joo Hyun mengatakannya dengan sedikit tersendat, kepalanya terasa sangat nyeri. “Kau tidak boleh pergi Joo Hyun.” Hye Sun terus berujar tidak boleh pergi. Joo Hyun mencoba mengeratkan genggamannya pada Hye Sun. “Aku… san… gat… me—mencintaimu Kim Hye Sun.”

END

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s