[#EXOFFIMVT2019] JUST A DATE – Dina Natasya

JUST A DATE

[Dina Natasya]

 

“Jika kamu ingin satu permintaan, apa yang ingin kamu wujudkan?”

Seorang wanita berjubah hitam tersenyum misterius sembari menatap dalam manik mata seorang Yoon Hyunra. Terlalu banyak sesuatu yang Hyunra inginkan dan sulit untuk mengatakannya. Manusia memang terlahir serakah, mereka semua tidak akan puas pada satu hal dan akan meminta lebih dan lebih.

“Hanya satu permintaan yang akan aku kabulkan.” ucap wanita itu seakan mengetahui isi kepala Hyunra.

“Aku..” lirih Hyunra tidak yakin, “Aku ingin..”

“Hyunra! Yoon Hyunra!”

`           Kedua mata Hyunra terbuka lebar. Ternyata hanya mimpi. Hyunra mengernyit kesal. Mimpinya terasa sangat nyata hingga ia enggan bangun jika lelaki yang lebih tua darinya lima tahun itu tidak menyerukan namanya. Dia adalah Ji Seunghwan, manager Hyunra.

“Ayo segera rapikan make up-mu, sebentar lagi giliranmu tampil!” ucap Seunghwan menarik tangan Hyunra menuju kursi rias dan menyerahkan gadis itu pada sang make up artis.

“Seunghwan-ah, aku barusan bermimpi.” ucap Hyunra sembari menatap Seunghwan  dalam pantulan cermin rias.

“Mimpi yang menyeramkan lagi?” tebak Seunghwan.

Hyunra menggelengkan kepalanya. Mungkin Seunghwan sudah kebal mendengarkan cerita mimpi Hyunra yang akhir-akhir ini menyeramkan seperti ikut berperang di jaman Joseon, bertemu dengan orang berwajah mengerikan, dan dikejar harimau. Tapi kali ini berbeda, seperti ada pertanda baik.

“Yoon Hyunra-ssi, dimohon segera bersiap di belakang panggung.” ucap seorang staff membuka pintu ruang tunggu Hyunra.

“Ok, aku akan segera ke sana.” ucap Hyunra tersenyum ramah.

Setelah dirasa penampilannya telah sempurna, Hyunra bangkit dari duduknya. Berjalan keluar dari ruang tunggu menuju belakang panggung. Hari ini Hyunra akan tampil di acara penghargaan akhir tahun. Hyunra berjalan penuh percaya diri, ia sudah tidak sabar untuk melihat antusias para fans-nya.

Sebuah pemikiran menghentikan langkah Hyunra. Hyunra membalikkan tubuhnya—menatap pintu ruang tunggu yang terbuka.

“Seunghwan-ah, jangan beli makanan untukku nanti.” ucap Hyunra singkat lalu kembali melanjutkan perjalanannya.

Lelaki yang sibuk berkemas di dalam ruang tunggu Hyunra itu hanya terperangah. Terheran dengan perkataan Hyunra. Tumben sekali gadis itu memintanya untuk tidak membeli makanan seusai ia tampil. Biasannya Hyunra akan mengeluh lapar jika tidak ada makanan setelah tampil. Namun Seunghwan hanya mengendikkan bahunya dan mencoba mengerti.

***

“Jika kamu ingin satu permintaan, apa yang ingin kamu wujudkan?”

Lagi. Hyunra teringat tentang perkataan sosok wanita misterius dalam mimpinya. Kini napas gadis itu terengah-engah. Hyunra telah menyelesaikan penampilan special-nya. Dari tempatnya berdiri Hyunra dapat melihat lautan Happy Bong—nama tongkat lightstick fandom Hyunra—yang menyala terang dan mendengar teriakan para fansnya.

“Aku ingin mengakhiri semua ini. Menjadi orang biasa seperti mereka semua yang bisa bersenang-senang.” batin Hyunra dalam senyum tipisnya untuk close up penutup.

Lampu padam. Suara langkah kaki pembawa acara terdengar samar menaiki panggung. Hyunra membungkukkan tubuhnya tanda terima kasih lalu ikut berjalan turun bersama para dancer yang menemaninya menari di atas panggung.

“Kerja bagus Yoon Hyunra!” bangga Seunghwan menyambut Hyunra yang turun dari panggung.

Hyunra tersenyum tipis dan menepuk lengan Seunghwan pelan, “Ayo makan diluar setelah acara ini selesai.”

***

Encore tanda penghujung acara telah usai. Seluruh artis mengucapkan salam perpisahan pada para penggemarnya dan juga teman-teman artis lainnya. Confetti panggung berjatuhan meramaikan acara. Satu demi satu artis turun sembari melambaikan tangan dan membungkukkan badan tanda terima kasih.

Hyunra tersenyum lebar. Entah kenapa ia tidak sabar untuk menjemput waktu selanjutnya. Sedari tadi sebuah rencana cemerlang seolah sudah terbangun sempurna dibenaknya. Sekarang kedua netra Hyunra mengedar ke seluruh penjuru arah, mencari seseorang diantara banyaknya orang berlalu-lalang.

“Seunghwan manager-nim!” seru Hyunra lantang saat matanya menangkap seorang lelaki yang sedang berdiri di dekat ruang tunggunya.

“Hyunra-ya, ada apa denganmu? Kenapa kau terlihat senang sekali?” heran Seunghwan melipat tangannya di depan dada.

“Aku akan segera ganti baju dan kau harus memikirkan tempat bagus untuk makan nanti.” cercah Hyunra berlari kecil memasuki ruang tunggu miliknya.

Diam-diam Seunghwan mengendikkan bahunya. Aneh sekali artisnya hari ini. Sebenarnya ada acara apa yang Seunghwan lewatkan sampai Hyunra meminta makan diluar. Bukankah sudah tengah malam? Apa gadis itu tidak lelah dan mengantuk setelah sekian lama berlatih untuk performa khususnya?

***

Sunyi. Restoran di lantai pertama apartemen bisa dibilang sepi. Bagaimana tidak sepi jikalau waktu sudah menunjukkan pukul setengah satu dini hari. Hanya ada beberapa orang dan juga seorang artis ternama yang sedang makan bersama manager-nya disisi dekat jendela.

“Hyunra-ya, kenapa tidak dimakan?” tanya Seunghwan memperhatikan Hyunra yang sejak kedatangannya hanya terdiam seribu bahasa dengan bibir mengerucut.

“Sudah kubilang cari tempat makan yang bagus, kenapa disini?” kesal Hyunra mencebikkan sudut bibirnya.

“Ini sudah malam Hyunra-ya, kau tidak lelah jika kita pergi ke tempat lain?” ucap Seunghwan menjelaskan.

“Justru sudah malam aku ingin kita bersantai dan mencari udara segar.” desis Hyunra.

“Diluar dingin, aku tidak mau kau jatuh sakit.” ucap Seunghwan.

Hembusan napas berat lolos dari bibir Hyunra. Wajah gadis itu semakin merengut dan terang-terangan Hyunra menatap Seunghwan dengan tatapan datar. Apa yang ada dipikiran Hyunra kacau balau dengan apa yang Seunghwan lakukan.

Meja tempat Hyunra dan Seunghwan bergetar. Ternyata getaran itu disebabkan oleh ponsel Hyunra. Tertulis nama ibu di ponselnya. Dengan malas Hyunra mengangkat panggilan itu di depan Seunghwan yang sedang dibuat bingung oleh sikapnya.

“Ibu, kalaupun aku hubungi kontak mereka aku tidak akan bisa kencan dengan leluasa jika aku masih menjadi seorang artis.” keluh Hyunra dalam sambungan telepon.

“Berhenti mendesakku menikah, mencari pasangan bukan perkara mudah!” desis Hyunra mengacak rambutnya frustasi.

“Iya aku tahu, ibu tenang saja. Aku akan mulai memikirkannya. Aku ngantuk, aku tutup dulu teleponnya ibu..” ucap Hyunra mengakhiri sambungan telepon.

Hyunra meletakkan kembali ponselnya di meja. Kedua netra gadis itu kembali menelisik netra kecoklatan milik Seunghwan. Kali ini wajah Hyunra lebih tenang. Jika kalian pikir Hyunra menginginkan sesuatu dari Seunghwan maka kalian benar sekali.

“Ji Seunghwan, ayo kencan bersamaku sekarang.” ucap Hyunra serius.

Seunghwan yang saat itu sedang mengunyah makanan seketika langsung tersedak. Raut serius Hyunra berubah menjadi tersenyum geli. Hyunra dengan cepat memberikan segelas air putih pada Seunghwan yang langsung diteguk habis olehnya.

“Kencan? Kau mau membuatku dipecat sebagai managermu oleh direktur perusahaan?!” Seunghwan terkejut bukan main.

“Kalau kau dipecat aku bisa berhenti menjadi artis.” jawab Hyunra santai.

“Tidak! Karirmu sangat penting.” tegas Seunghwan.

Sebuah jurus andalan Hyunra keluar. Gadis itu tersenyum manis sambil mengerjapkan matanya beberapa kali untuk merayu Seunghwan, “Ayolah Seunghwan-ah, kau tadi dengarkan ibuku mendesakku untuk segera cari pasangan dan menikah?”

“Terus?” tanya Seunghwan polos.

“Iya aku mau kau yang jadi pasanganku. Kau belum punya kekasih kan? Mana mungkin kau bisa punya waktu buat kencan selama menjadi manager-ku?” jelas Hyunra gemas sendiri.

Seunghwan terdiam. Apa yang dikatakan Hyunra memang benar adanya. Sejak menjadi seorang manager dari idol seperti Yoon Hyunra, Seunghwan dibuat sibuk mengikuti dan memantau setiap kegiatan gadis itu. Bahkan untuk pulang ke rumah saja hanya ketika jadwal Hyunra longgar. Dan selama ini Seunghwan tinggal di satu apartemen dengan Hyunra namun berbeda kamar.

“Diammu berarti iya. Ayo kita jalan keluar, aku sudah bosan ada disini.” tukas Hyunra bangkit dari duduknya dan berjalan keluar.

***

Derap langkah kecil menyusul ujung dari panjangnya jembatan yang membentang. Yoon Hyunra berteriak senang saat Seunghwan membawanya ke Haneul Park, sebuah taman di daerah Mapo-gu, Seoul. Taman yang hidup dengan kemewahan dan panorama kota Seoul. Lama rasanya Hyunra tidak jalan-jalan keluar di malam hari.

Hyunra terus berlari kecil menyusuri jembatan seperti anak ayam yang lepas dari kandangnya. Namun seseorang tiba-tiba menarik tangan Hyunra dari belakang, membuat gadis itu hampir jatuh terjengkal jika orang itu tidak menahan bahunya.

“Kau harus memakai syal agar tidak terserang flu.” ucap Seunghwan penuh perhatian sembari melilitkan syal rajut bewarna cokelat ke leher Hyunra.

Mendapat perlakuan tak terduga dari Seunghwan membuat tubuh Hyunra membeku. Perlahan pipi gadis itu merona. Seperti inikah rasanya kencan sungguhan? Hati dibuat berdebar tak karuan disertai dengan perasaan senang. Bukan seperti kencan dalam drama yang dipenuhi dengan kegelisahan jika berbuat salah.

Hyunra masih memperhatikan Seunghwan yang sibuk mencari sesuatu di dalam tas ranselnya, “Pakai juga sarung tangan agar tanganmu tetap hangat.”

Tangan Hyunra menghindar dari tangan Seunghwan yang hendak memakaikan sarung tangan untuknya, “Genggam tanganku, berikan kehangatan yang kau miliki untukku. Ayo saling berbagi kehangatan.”

“Kau mau membuat skandal? Kamera paparazzi bisa mengintai kita kapan saja tak peduli aku managermu, mereka bekerja untuk membuat gosip.” cercah Seunghwan.

Tak mengindahkan perkataan Seunghwan, Hyunra justru menggenggam tangan besar lelaki itu dan mengajaknya untuk melanjutkan langkah. Hyunra hanya ingin bersenang-senang sekarang. Melepas semua penat dan mencoba menikmati keputusan yang ia ambil.

“Masa bodoh dengan semua masalah yang akan datang, kalaupun besok ada berita tentang malam ini aku akan mengakuinya dan mengakhiri kontrak yang bulan depan akan dibicarakan bersama direktur.” ucap Hyunra acuh.

“Hyunra-ya..” lirih Seunghwan.

“Ayo segera naik mini bus. Sekarang aku hanya ingin berkencan denganmu bukan membahas tentang pekerjaan.” tukas Hyunra menarik tangan Seunghwan memasuki mini bus.

***

Pesona kota Seoul semakin terpancar di atas tangga. Semua panorama indah yang dimiliki kota Seoul dapat terlihat jelas. Lampu warna-warni di Sungai Han, Menara Namsan Tower yang megah, dan indahnya gemerlap malam. Kedua mata Hyunra berbinar dibuat terpesona dengan pemandangan di depannya.

“Seunghwan-ah, tadi aku bermimpi.” ucap Hyunra memecah keheningan yang tercipta sejak perdebatan kecil mereka di jembatan.

“Kau sudah mengatakan itu Hyunra-ya.” ucap Seunghwan mengingatkan.

“Aku bermimpi ada seorang wanita yang datang kepadaku dan memintaku untuk menyebutkan satu permintaan yang pasti akan dia kabulkan.” cerita Hyunra antusias.

“Terus apa yang kau minta?” tanya Seunghwan menyimak cerita Hyunra.

“Sebenarnya aku belum mengatakannya, tapi aku tahu apa yang kuinginkan sekarang.” ucap Hyunra menghadapkan badannya menatap Seunghwan.

“Apa?” tanya Seunghwan penasaran.

“Dirimu, Ji Seunghwan.” ucap Hyunra tersenyum manis.

DEG!

Jawaban Hyunra seolah pukulan keras yang menghantam hati Seunghwan. Membuat hati lelaki itu merasakan perasaan asing yang sulit dijelaskan dalam kata. Perasaan kalut dan juga senang. Perasaan yang menyentuh jantungnya untuk berpacu cepat. Perasaan yang membuatnya bingung.

“Aku tahu kau yang kuinginkan karena kau yang membuyarkan mimpiku tadi. Kurasa kedatanganmu saat itu adalah jawabannya. Dan aku semakin yakin saat ibuku secara kebetulan menghubungiku dan membahas pasangan tepat aku sedang bersamamu.” jelas Hyunra mencairkan suasana.

“Tapi aku terlalu sempurna untukmu.” lirih Seunghwan.

Hyunra menggeleng pelan, “Kau yang membuatku sempurna, Seunghwan-ah. Kau yang mengatur jadwal keseharianku, kau yang menjagaku dengan baik, dan kau yang selalu memperhatikanku.” Hyunra menjeda ucapannya sejenak lalu tersenyum tulus, “Kini saatnya aku yang membuatmu sempurna. Mengembalikan semua perhatiamu padaku dan merawatmu dengan baik.”

“Tidak, Hyunra. Tidak secepat ini untuk memutuskan.” tegas Seunghwan.

Hyunra terkekeh pelan. Ia menggenggam tangan Seunghwan erat. Manis sekali lelaki di depannya ini. Hyunra suka sikap dewasa Seunghwan yang berhati-hati. Seunghwan yang penuh dengan pemikiran matang dan sikap lembut.

“Ayo sebut kencan ini sebagai awal dari keseriusan hubungan kita. Kita masih punya banyak waku untuk memikirkan masa depan. Membangun usaha bersama, membeli rumah di pedesaan atau kawasan elit, dan memikirkan berapa anak yang kau inginkan.” ucap Hyunra.

Sebuah sentilan kecil menghantam jidat Hyunra. Wajah Seunghwan memerah mendengar ucapan terakhir Hyunra. Bagaimana bisa gadis itu berpikir sejauh itu. Sementara Hyunra hanya tertawa geli melihat perubahan raut wajah Seunghwan.

Oppa, kisseu juseyo.. (Kakak, cium aku).” Hyunra ber-agyeo sembari memejamkan matanya dan menunjuk bibirnya yang tersenyum manis.

Diam-diam Seunghwan bergidik geli melihat wajah konyol Hyunra. Bertahun-tahun menjadi manager seorang Yoon Hyunra, Seunghwan baru menyadari bahwa gadis itu adalah sesuatu. Sesuatu yang membuat Seunghwan tanpa sadar terus memperhatikan dan menjaga gadis itu lebih dari tugasnya sebagai manager. Seperti sekarang, Seunghwan yang rela menuruti permintaan kencan konyol dari gadis itu.

“Ok, aku tahu semua ini masih membingungkan di pikiranmu. Tapi akan kupastikan kita akan hidup bahagia selamanya. Dan aku akan menemukan keajaiban baru setiap hari di sampingmu.” kesal Hyunra tersadar dari tingkah menggelikannya.

“Keajaiban?” heran Seunghwan.

“Iya, keajaiban menjadi istri Ji Seunghwan dan ibu dari putra Ji Seunghwan.” ucap Hyunra sebelum kabur menutupi rasa malunya.

Ucapan Hyunra lagi dan lagi membuat Seunghwan seperti orang bodoh. Namun sedetik kemudian Seunghwan menggelengkan kepalanya. Raut wajahnya berubah panik ketika netranya menangkap Hyunra berlari di atas tangga yang tertutup salju.

“Ya! Yoon Hyunra! Kau bisa jatuh jika terus berlari!” seru Seunghwan khawatir.

Dengan cepat Hyunra membalikkan badannya, menatap Seunghwan penuh senyuman, “Aku yakin kau juga mencintaiku, Ji Seunghwan.”

Sebuah kehangatan menyambar tangan Hyunra. Seunghwan menggenggam tangan gadis itu erat dan tersenyum tipis, “Tentu saja, kau yang merebut semua perhatianku bertahun-tahun hingga tidak ada waktu untuk berkencan.”

“Jadi kau menyebut malam ini kencan?” girang Hyunra.

Seunghwan mengangguk, “Hmm, untuk membuatmu bahagia.”

***

Pip~ Pip~ Pip~

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s